Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN PENDAHULUAN

LUKA BAKAR (COMBUSTIO)

A. Definisi atau Deskripsi Penyakit


Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan adanya kontak
dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi (moenadjat, 2005).

B. Pathway (etiologi, tanda dan gejala, kemungkinan komplikasi, diagnosa keperawatan, NIC & NOC)

Bahan Kimia Termis Radiasi Listrik/Petir

LUKA BAKAR

Pada Wajah Di Ruang Tertutup Kerusakan Kulit

Kerusakan Mukosa Keracunan Gas CO

Oedema Laring CO Meningkat Hb

Obstruksi Jalan Nafas Hb Tidak Mampu


Mengikat O2

Gagal Nafas
Hipoxia Otak

MK: Jalan Nafas Tidak


Efektif

Gangguan Jaringan Traumatik Kerusakan Penguapan Meningkat


Integritas Kulit Pertahanan
Premier
Pembuluh Darah Kapiler
Kerusakan Persepsi Pembentukan Meningkat
Sensori Oedema Pertahanan Primer
Tidak Adekuat
Ekstravasasi Cairan (H2O,
Kerusakan Penurunan
Elektrolit, Proein)
Integritas Kulit Ambang Batas Resiko Infeksi
Nyeri
Cairan Intravaskuler Menurun
Nyeri Akut

Hipovolemik Dan
Hemokonsentrasi

Kekurangan Volume Cairan


ETIOLOGI:
1. Luka bakar karena api 4. Luka bakar karena air panas
2. Luka bakar karena bahan kimia 5. Luka bakar karena listrik
3. Luka bakar karena radiasi 6. Luka bakar karena suhu rendah (frost bite)

MANIFESTASI KLINIS :
Grade I :
Jaringan rusak hanya epidermis saja, Klinis ada rasa nyeri, warna kemerahan, Adanya hiperalgisia,
Akan sembuh ± 7 hari.
Grade II :
Grade II a
Jaringan luka bakar sebagian dermis, Klinis nyeri, warna lesi merah/kuning, Klinis
lanjutan terjadi bila basah, Sembuh memerlukan waktu 7 – 14 hari.
Grade II b
Jaringan rusak sampai dermis dimana hanya kelenjar keringat saja yang masih utuh, Klinis
nyeri, warna lesi merah/kuning, Waktu sembuh kurang lebih 14 – 12 harI,Hasil kulit pucat,
mengkilap, kadang ada sikatrik.
Grade III
Jaringan yang seluruh dermis dan epidermis, Klinis mirip dengan grade II hanya kulit
bewarna hitam/kecoklatan, Tes jarum tidak sakit, Waktu sembuh lebih dari 21 hari, Hasil
kulit menjadi sikratrik hipertrofi.

Klasifikasi :
Luka bakar ringan/ minor : Luka bakar dengan luas < 15 % pada dewasa, Luka bakar dengan luas < 10 %
pada anak dan usia lanjut, Luka bakar dengan luas < 2 % pada segala usia (tidak mengenai muka, tangan,
kaki, dan perineum.
Luka bakar sedang : Luka bakar dengan luas 15 – 25 % pada dewasa, dengan luka bakar derajat III kurang
dari 10 %, Luka bakar dengan luas 10 – 20 % pada anak usia < 10 tahun atau dewasa > 40 tahun, dengan
luka bakar derajat III kurang dari 10 %, Luka bakar dengan derajat III < 10 % pada anak maupun dewasa
yang tidak mengenai muka, tangan, kaki, dan perineum.
Luka bakar berat : Derajat II-III > 20 % pada pasien berusia di bawah 10 tahun atau di atas usia 50 tahun,
Derajat II-III > 25 % pada kelompok usia selain disebutkan pada butir pertama, Luka bakar pada muka,
telinga, tangan, kaki, dan perineum, Adanya cedera pada jalan nafas (cedera inhalasi) tanpa
memperhitungkan luas luka bakar, dan disertai trauma lainnya.

Diagnosa & Intervensi Diagnosa & Intervensi


3. Kekurangan Volume cairan 1. Resiko Infeksi
NOC : keseimbangan cairan tercapai NOC : Keparahan Infeksi
NIC : Manajemen cairan NIC : Perlindungan Infeksi,
Pemantauan cairan Identifikasi Resijo
Manajemen cairan/elektrolit
2. Kerusakan Integritas Kulit
4. Nyeri akut NOC: Integritas jaringan
NOC: Nyeri akut berkurang. NIC : Perawatan luka & Monitor
NIC : Pemberian analgesik TTV
Manajemen medikasi
Manajemen nyeri
Pemeriksaan Penunjang
1. Hitung darah lengkap : Hb (Hemoglobin) turun menunjukkan adanya pengeluaran darah yang
banyak sedangkan peningkatan lebih dari 15% mengindikasikan adanya cedera, pada Ht
(Hematokrit) yang meningkat menunjukkan adanya kehilangan cairan sedangkan Ht turun dapat
terjadi sehubungan dengan kerusakan yang diakibatkan oleh panas terhadap pembuluh darah.
2. Leukosit : leukositosis dapat terjadi sehubungan dengan adanya infeksi atau inflamasi.
3. GDA (Gas Darah Arteri) : untuk mengetahui adanya kecurigaaan cedera inhalasi. Penurunan
tekanan oksigen (PaO2) atau peningkatan tekanan karbon dioksida (PaCO2) mungkin terlihat pada
retensi karbon monoksida.
4. Elektrolit serum : kalium dapat meningkat pada awal sehubungan dengan cedera jaringan dan
penurunan fungsi ginjal, natrium pada awal mungkin menurun karena kehilangan cairan, hipertermi
dapat terjadi saat konservasi ginjal dan hipokalemi dapat terjadi bila mulai diuresis.
5. Natrium urin : Lebih besar dari 20 mEq/L mengindikasikan kelebihan cairan, kurang dari 10
mEqAL menduga ketidakadekuatan cairan.
Penatalaksanaan luka bakar :
 Intubasi : Tindakan intubasi dikerjakan sebelum edema mukosa menimbulkan manifestasi
obstruksi. Tujuan intubasi mempertahankan jalan nafas dan sebagai fasilitas pemelliharaan jalan
nafas.
 Krikotiroidotomi :Bertujuan sama dengan intubasi hanya saja dianggap terlalu agresif dan
menimbulkan morbiditas lebih besar dibanding intubasi. Krikotiroidotomi memperkecil dead
space, memperbesar tidal volume, lebih mudah mengerjakan bilasan bronkoalveolar dan pasien
dapat berbicara jika dibanding dengan intubasi.
 Pemberian oksigen 100% : Bertujuan untuk menyediakan kebutuhan oksigen jika terdapat
patologi jalan nafas yang menghalangi suplai oksigen. Hati-hati dalam pemberian oksigen dosis
besar karena dapat menimbulkan stress oksidatif, sehingga akan terbentuk radikal bebas yang
bersifat vasodilator dan modulator sepsis.
 Perawatan jalan nafas
 Penghisapan sekret (secara berkala)
 Pemberian terapi inhalasi

DAFTAR PUSTAKA

Moenadjat, Y. (2005). Luka Bakar Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Muttaqin, A. & Sari, K. (2013). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen. Jakarta:
Salemba Medika.

Nurarif, A. H & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
dan Nanda NIC-NOC Edisi Revisi Jilid 2. Yogyakarta: Penerbit Mediaction