Anda di halaman 1dari 4

Romo Van Lith dan Perjuangan Membebaskan Kolonialisme

Jumat, 23 September 2016 Romo van Lith mendapat gelar kehormatan Satya Lencana
Kebudayaan adalah tanda penghargaan yang dikeluarkan dan diberikan kepada warga
negara Republik Indonesia yang telah berjasa dalam bidang kebudayaan. Sedangkan Romo van
Lith sendiri bukanlah orang Indonesia. Apa yang membuatnya begitu penting sehingga pantas
mendapatkan gelar tersebut?

“…bangunlah suatu dunia dimana semua bangsa hidup dalam damai dan
persaudaraan…” -Ir. Soekarno-

Semua pihak pasti sepakat dengan kutipan diatas, bahwa kita harus bergotong royong
menciptakan dunia yang damai, penuh kasih dan persaudaraan. Sebetulnya agak idealis ketika
kita berusaha mewujudkan keindahan dunia sebagaimana yang diungkapkan dalam kutipan
diatas, tetapi ada suatu tempat dimana dunia yang seperti itu terbangun begitu kokoh dan nyata.
Dunia itu terdapat di SMA Pangudi Luhur Van Lith. Mari kita berdiam sejenak untuk melihat
kebelakang tentang fenomena ini.

Romo Fransiskus Josephus Gregorius van Lith, SJ. (Dari Muntilan Merajut Indonesia)

Franciscus Georgius Josephus Van Lith atau seringkali disingkat sebagai Van Lith (lahir
17 Mei 1863), adalah seorang imam Yesuit asal Oirschot, Belanda yang meletakkan dasar karya
Katolik di Jawa. Namanya dikenal karena mampu menyelaraskan ajaran agama Katolik Roma
dengan tradisi Jawa sehingga bisa diterima oleh masyarakat Jawa. Van Lith tiba di
Indonesia untuk pertama kalinya di Semarang tahun 1896. Pastur muda itu menghabiskan
setengah tahun pertamanya untuk belajar bahasa Jawa. Ia berkeyakinan untuk menyampaikan
kabar baik Kerajaan Allah kepada orang Jawa, ia harus menjadi sahabat mereka. Dan untuk itu,
ia harus lebih dulu memahami bahasa dan budaya Jawa.1

Apa yang dijalankan Romo Van Lith, tidak langsung berjalan mulus. Ia banyak mendapat
tentangan, salah satunya dari Romo Hoevenaars, SJ. Kalau Romo Hoevenaars menerjemahkan
‘Kitab Suci’ cukup menggunakan bahasa Jawa ‘ngoko’, Romo Van Lith menterjemakannya
dengan citarasa Jawa ‘inggil’. Romo van Lith sangat memahami filosofi manusia Jawa yang
menempatkan hubungan manusia dengan Tuhan pada tataran yang sangat tinggi. Serendah-
rendahnya kedudukan seorang Jawa, dalam setiap doanya selalu menyebut Tuhan dengan
ungkapan dan bahasa yang agung dan halus.

Pemikirannya tentang penyebaran agama Katolik yang menitik beratkan pada pendekatan
kebudayaan ini telah membuat banyak sahabatnya di Jesuit kebingungan, heran serta kesal.
Selain membutuhkan waktu yang lama, apa yang dilakukan Romo Van Lith dianggap melenceng

1
http://tidarheritage.org/id/2016/02/18/misi-jowo-romovanlith/ (diakses pada 13 September 2016)
dari seharusnya misi dijalankan. Romo Hoevenaars menyakini betul bahwa penyebaran agama
Katolik harus mengalami peningkatan secara jumlah dan dilakukan secepat mungkin, sedangkan
Romo Van Lith berkeyakinan biarlah orang melihat kehadiran Kerajaan Allah melalui kehadiran
dirinya, entah orang mau ikut atau tidak bukanlah masalah buatnya, karena baginya ia hanyalah
sarana yang diberikan Tuhan.2

Romo Van Lith sendiri akhirnya berusaha menaklukkan hati rakyat Jawa dengan jalan
kebudayaan, jalan yang jauh sebelumnya telah ditempuh oleh wali songo. Mungkin Romo Van
Lith juga belajar dari cara wali songo dalam mendapatkan hati orang Jawa ketika itu. Ia tidak
peduli berapapun jumlahnya orang yang akan dibaptis karena baginya jumlah bukanlah hal yang
substansial untuk menyebarkan agama Katolik. Mengawalinya dengan belajar Bahasa Jawa
selama 1 tahun, Romo Van Lith menyadari betul betapa orang Jawa sulit menerima ajaran baru
dalam kehidupannya. Orang Jawa ketika itu masih sangat tertutup dan takut, apalagi dengan
melihat Romo Van Lith sebagai orang Belanda. Namun, lambat laun ajarannya mulai mengalami
peningkatan, kecerdasan Romo Van Lith dalam mengkombinasikan ajaran Kristus dengan
budaya Jawa melalui kesenian tradisional Jawa (music gamelan, pertunjukkan wayang, hingga
penafsiran Kitab Suci berbahasa Jawa). Perilaku Romo Van Lith nampaknya terlalu halus
bahkan jauh lebih halus daripada orang Jawa itu sendiri. Barulah ada muridnya yang pertama
bernama Barnabas Sarikromo (merupakan Katekis pertama di Bumi Nusantara) dilanjutkan
dengan dibaptisnya 173 orang di Muntilan, Jawa Tengah.

Pribumi dan Kesetaraan

Kebijakan kolonial Belanda dalam usaha menguasai daerah jajahan dinilai sangat
ekstrem, terutama dalam pengendalian tenaga kerja, selain untuk mengelola komoditas utama
berupa rempah, juga untuk pembangunan infrasturktur besar-besaran, yang ingin mengubah
Hindia Belanda menjadi industri rempah terbesar di Asia. Pembukaan pendidikan murah untuk
pribumi juga dipandang sebagai langkah cerdas dari pemerintah kolonial untuk memperoleh
tenaga administrasi murah, dengan dalih pencerdasan, hingga menyebabkan tingginya
permintaan tenaga pengajar pada saat itu. Peluang ini ditangkap oleh Romo Van Lith sebagai
cara meningkatkan kesejahteraan pribumi melalui pendidikan dan melakukan penyebaran agama.
Diluar itu, Romo Van Lith sudah sangat mencintai Jawa, ia tidak lagi berpikir mengenai
penyebaran agama, yang sebelumnya menjadi misi utama Romo Van Lith di Jawa. Romo Van
Lith pun, mulai mendirikan sekolah untuk guru, berupa RC Kweekschool dan Normaalschool
yang bertujuan mendidik masyarakat pribumi (anak-anak Jawa) untuk menjadi guru SD. Di
tahun ini juga romo van Lith memperkenalkan konsep asrama dalam pendidikan, yang mungkin
saja menjadi yang pertama yang ada di Indonesia. Pemerintah Belanda ketika itu, tidak bisa
membendung niat Romo Van Lith, karena ternyata konsep pendidikan yang dia tawarkan justru

2
Catatan Harian Pribadi Romo Van Lith (1896-1926)
membantu pemerintah dalam menjalankan kebijakan tenaga kerja terdidik dengan biaya murah.
Karena lulusan yang dihasilkan sekolah ini tidak seluruhnya menjadi guru, ada yang menjadi
karyawan bea cukai, ada yang menjadi pegawai pengecekan barang di kantor pemerintah, bahkan
ada yang menjadi pengawas pemasaran komoditi perkebunan. Jabatan-jabatan elit ini nampaknya
menarik masyarakat pribumi dalam proses “peningkatan status sosial”. Pola pengajaran Romo
Van Lith ini digandrungi masyarakat Jawa ketika itu, bagaimana tidak dengan biaya yang bisa
dibayarkan kapanpun, dan bisa diukur sesuai penghasilan, seseorang bisa mendapatkan
pendidikan Bahasa yang terdiri dari 3 bahasa (Jawa, Belanda, Inggris), ilmu hitung, ilmu sosial,
dan beberapa ilmu bantu, ditambah pendidikan informal yang mengembangkan ilmu-ilmu yang
dapat langsung diterapkan di dunia nyata. Model pendidikan Romo Van Lith ini diyakini
membebaskan masyarakat pribumi dari perbudakan pengetahuan yang hanya menitik beratkan
pada kondisi fisik manusia tanpa memperhatikan kemampuan intelektual. Menurut laporan yang
ditulis oleh salah seorang pejabat kolonial ketika angka kesejahteraan masyarakat sekitar naik
setidaknya 15% dari angka sebelumnya.3

Perjuangan Romo Van Lith dalam membebaskan belenggu perbudakkan di Jawa tidak
hanya dilakukkan melalui jalan pendidikan. Romo Van Lith juga merintis pembangunan rumah
sakit di Muntilan, meskipun hanya terdiri dari bilik bambu dan kasur kayu tanpa busa. Rumah
sakit ini kemudian menjadi oase kesehatan di tengah kesulitan memperoleh kehidupan sehat di
Jawa. Pembangunan Rumah Sakit ini awalnya ditentang oleh banyak pihak, padahal Romo Van
Lith melihat ini sebagai kesempatan menyehatkan lingkungan sekitar. Ia pun mengingatkan
pemerintah kolonial untuk memperbaiki bangunan. Akhirnya pada 1952, pemerintah
menyerahkan subsidi untuk memperbaiki serta meningkatkan fasilitas rumah sakit. Hanya saja
kedatangan pemerintah Jepang memporak-porandakan apa yang sudah dirintis Romo Van Lith
dibidang kesehatan ini.

Romo Van Lith dan Warisan Pendidikan Kelas Dunia

Peran Romo Van Lith dalam mempersiapkan pendidikan yang layak bagi kaum pribumi
memang tidak dapat dipisahkan dari penyebaran agama Katolik. Terlepas dari persebaran agama
Katolik, Romo Van Lith telah mengangkat derajat, pandangan serta kesejahteraan masyarakat
pribumi.

Romo Van Lith berhasil membebaskan Indonesia dari belenggu kolonialisme, melalui
pendidikan Romo Van Lith mengajak masyarakat Jawa menyadari betul prinsip-prinsip hidup
melalui keselarasan budaya yang ia terapkan. Romo Van Lith memberikan gambaran kecil
bahwa nyatanya kita tidak sebodoh yang orang Eropa bayangkan. Kita sanggup menjadi diri kita
sendiri, kita mampu mengembangkan sayap-sayap kita secara luas tanpa takut dikekakang.

Pendidikan asrama dengan mengutamakan pengembangan karakter manusia dalam


memaksimalkan potensi individunya menjadi senjata utama Romo Van Lith. Subyek

3
Museum Misi Muntilan 2010.
pengembangannya tentu saja pada manusia, guru yang menurut orang Jawa diartikan di gugu lan
ditiru, dirubahnya menjadi pendamping, tidak ada sebutan guru di dalam konteks pendidikan
Romo Van Lith. Sebisa mungkin sedini mungkin siswa diajarkan menemukan kebenaran ilmu
melalui riset dan penelitian, tanpa meninggalkan warisan kebudayaan. Rutinitas kehidupan
harian bersama menjadi kekuatan kolektif unik ditengah individualisme yang semakin nyata
dirasakan. Keberpihakan pada masyarakat kecil, miskin, tersingkir dan difabel, seolah menjadi
nafas dalam merangkul kehidupan dunia yang semakin terisolir. Romo Van Lith menjawab
tantangan dunia dalam menegakkan HAM tidak hanya untuk tujuan kemanusiaan melainkan
mengembalikan eksistensi manusia sebagai pribadi untuk dirinya sendiri, namun juga sebagai
pribadi untuk sesamanya. Dan tentu saja, mengedepankan kasih untuk semua golongan dan
kelas.

Hingga saat ini pola pendidikan Romo Van Lith sudah ditiru oleh banyak sekolah, ini
membuktikan komitmen Romo Van Lith dalam membebaskan kolonialisme tidak hanya berhenti
semasa hidupnya melainkan terus dipupuk dan dilanjutkan bahkan dikembangan menjadi
semakin sempurna, demi terciptanya Indonesia baru yang lebih cerdas. Semoga terus
menginspirasi dan bisa menghasilkan murid-murid berkualitas seperti IJ Kasimo, Frans Seda,
Yos Sudarso, Cornelius Simanjutak serta siapapun yang bisa berjuang untuk Indonesia.

Terimakasih Romo, salam muridmu.

Tulisan ini dibuat sebagai bentuk apresiasi atas penghargaan Gelar Kehormatan Satya Lencana
Kebudayaan yang diterima 23 September 2016 lalu.

Stanisclaus Costca Rheyno Anugrah Perdana

Van Lith Angkatan 2009