Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

PERCOBAAN II

PERTUMBUHAN

OLEH

NAMA : KHUSNUL KHOTIMAH

STAMBUK : F1D1 15 035

KELOMPOK : III (TIGA)

ASISTEN : NYOMAN ADRINI

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Aspirin dapat disintesis dari asam salisilat dan asam asetat anhidrat dengan

dibantu dengan asam fosfat. Aspirin memilik keguanaan untuk meringankan rasa

saki, terutama sakit kepala, sakit gigi dan nyerti otot serta menurunkan demam.

Aspirin yang sekarang sedang dikembangkan ini memiliki efek antikoagulan dan

dapat digunakan dalam dosis rendah dengan waktu lama untuk mencegah serangan

jantung Aspirin adalah zat sintetik pertama di dunia dan penyebab utama

perkembangan industri farmateutikal. Bayer mendaftarkan Aspirin sebagai merek

dagang pada 6 Maret 1899. Felix Hoffmann bukanlah orang pertama yang berusaha

untuk menciptakan senyawa Aspirin ini. Sebelumnya pada tahun 1853, seorang

ilmuwan Perancis bernama Frederick Gerhardt telah mencoba untuk menciptakan

suatu senyawa baru dari gabungan asetil klorida dan sodium salisilat. Aspirin dijual

sebagai obat pada tahun 1899 setelah Felix Hoffmann berhasil memodifikasi asam

salisilat, senyawa yang ditemukan dalam kulit kayu dedalu.

Sintesis aspirin merupakan suatu proses dari esterifikasi. Esterifikasi

merupakan reaksi antara asam karboksilat dengan suatu alkohol membentuk suatu

ester. Aspirin merupakan salisilat ester yang dapat disintesis dengan

menggunakan asam asetat (memiliki gugus COOH) dan asam salisilat (memiliki

gugus OH). Asam salisilat dicampur dengan asam asetat anhidrat, menyebabkan

reaksi menghasilkan aspirin dan asam asetat, yang merupakan produk sampingan.
Sejumlah kecil asam sulfat umumnya digunakan sebagai katalis. Berdasarkan uraian

diatas maka dilakukan percobaan pembuatan aspirin.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari percobaan pembuatan aspirin adalah

1. Bagaimana teknik pembuatan aspirin dari asam salisilat dan anhidrat asetat ?
2. Bagaimana reaksi-reaksi yang terjadi dalam pembuatan aspirin ?

C. Tujuan

Tujuan dari percobaan pembuatan aspirin adalah

1. Dapat mengetahui pembuatan aspirin dari asam salisilat dan anhidrat asetat.
2. Dapat mengetahui reaksi-reaksi yang terjadi dalam pembuatan aspirin.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Aspirin merupakan antitrombotik yang bekerja dengan cara mengasetilisasi

secara ireversibel enzim siklooksigenase (COX-1) sehingga menghambat perubahan

asam arakidonat menjadi prostaglandin yang seterusnya akan membentuk tromboksan

A2 (TXA2). Dengan dihambatnya TXA2, maka agregasi trombosit tidak dapat terjadi.

Karakteristik pasien hipertensi yang diberi aspirin berdasarkan usia dan jenis kelamin

dapat dilihat pada Tabel 2. Penelitian ini menunjukan bahwa pasien hipertensi yang

diberi aspirin (Beatrix, 2014).

Aspirin bersifat antipiretik dan analgesik karena merupakan kelompok

senyawa glikosida, aspirin yang merupakan nama lain dari asam asetil salisilat dapat

disintesis dari asam salisilat, yaitu mereaksikannya dengan anhidrida asetat, hal ini

dilakukan pertama kali oleh Felix Hofmann dari perusahaan Bayer, Jerman. Karena

saat itu antipiretik dan analgesik sangat keras terhadap sistem pencernaan. Ester

dihasilkan apabila asam karboksilat dipanaskan bersama alkohol dengan bantuan

katalis asam. Katalis ini biasanya adalah asam sulfat pekat. Terkadang juga digunakan

gas hidrogen klorida kering, tetapi katalis-katalis ini cenderung melibatkan ester-ester

aromatik (yakni ester yang mengandung sebuah cincin benzen) (Clark, 2007).

Aspirin dihidrolisis menjadi asam salisilat di dalam sistem gastrointestinal dan

sirkulasi darah (dengan waktu paruh aspirin 15 menit) (Chyka et al., 2007. asam

salisilat, waktu paruh dalam plasma dalam dosis terapetik menjadi 2‐4,5 jam, namun

dalam dosis yang berlebihan (overdosis) waktu ini dapat lebih panjang, antara 18

sampai 36 jam (Ijaz et al., 2003). Jadi dapat dikatakan bahwa waktu paruh asam
salisilat ini terkait dengan dosis. Semakin tinggi dosis aspirin yang diminum, maka

waktu paruh asam salisilat juga semakin panjang. Karena aspirin segera dihidrolisis

sebagai salisilat di dalam tubuh, maka salisilat inilah yang bertanggungjawab

terhadap terjadinya intoksikasi (Miladiyah, 2012).

Asam salisilat yang lebih dikenal sebagai aspirin lebih sering digunakan

sebagai (a) analgesik, untuk menghilangkan nyeri simptomatik dan nyeri berintensitas

rendah yang berkaitan dengan sakit kepala dan kelainan muskuloskeletal, seperti

osteoartritis atau artritis reumatois; (b) antipiretik dan (c) obat anti-platelet untuk

pencegahan infark miokard dan bentuk-bentuk tertentu dari stroke iskemik

(Yudhowibowo et al., 2011). Asam salisilat yang lebih dikenal aspirin adalah obat

analgesik, antipiretik serta obat anti-inflamasi non steroit (AINS) yang sangat luas

digunakan dan digolongkan dalam obat bebas (Rinidar, 2014).

Pada pembuatan aspirin, reaksi yang terjadi adalah reaksi esterifikasi. Ester

merupakan turunan asam karboksilat yang gugus – OH dari karboksilnya diganti

dengan gugus – OR dari alkohol. Ester dapat dibuat dari asam dengan alkohol, atau

dari anhidrida asam dengan alcohol. Suatu ester asam karboksilat ialah suatu senyawa

yang mengandung gugus -CO2R dengan R dapat berbentuk alkil maupun aril.

Alkohol dengan asam karboksilat dan turunan asam karboksilat membentuk ester

asam karboksilat. Reaksi ini disebut reaksi esterifikasi. (Fessenden & Fessenden,

1986).

B. Pembahasan
Aspirin mempunyai nama dagang asetilsalisilat merupakan molekul obat yang

memiliki efek analgesic (mengurangi rasa sakit), antipiretik (menurunkan suhu tubuh

dan intiiflamasi (mengobati peradangan). Selain itu aspirin memiliki efek antipletelet

yaitu bekerja menghambat tromboksan yang bersama platelet dapat menghambat

peredaraan darah sehingga pada dosis rendah dan dalam jangka waktu yang lama

digunakan untuk mencegah stroke dan serangan jantung.


Aspirin adalah turunan senyawa asam salisilat yang adapat disintesis melalui

reaksi esterifikasi. Asam salisilat diturunkan pada ahidrida asam asetat sehingga

terjadi subtitusi gugus hidroksi (-OH). Pada asam salisilat dengan gugus asetil

(-OCOCH3) pada anhidrida asetat. Sebagai katalis, digunakan asam fosfat. Reaksi ini

akan menghasilkan aspirin sebagai produk utama dan asam asetat sebagai produk

sampingan.
Pembuatan aspirin ini dilakukan dengan 3 tahap, yaitu : pembentukan aspirin,

rekristalisasi aspirin (pemurnian aspirin), dan uji kemurnian aspirin. Pada proses

pembentukan aspirin, pertama-tama dicampurkan 3 gram asam salisilat, 6 ml asetat

anhidrat, dan 5-6 tetes asam fosfat didalam erlenmeyer. Setelah itu, erlenmeyer

digoyang-goyangkan agar kedua bahan dapat tercampur dengan maksimal.


Praktikum kali ini bertujuan untuk membuat aspirin dari asam salisilat

direaksikan dengan anhidrida asam asetat. Pada perlakuan pertama, asam salisilat

direaksikan dengan anhidrida asam asetat dan ditambahkan sekitar 5 tetes asam

fosfat. Penambahan asam fosfat dimaksudkan agar reaksi berjalan dalam suasana

asam. Setelah direaksikan, asam salisilat larut, akan tapi kelarutannya belum

sempurna, sehingga harus dilarutkan terlebih dahulu diluar dengan menggunakan Hot
Plate agar selama proses reaksi bisa berjalan dengan cepat. Kemudian campuran

yang berisi asam salisilat tersebut dipanaskan pada suhu tertentu hingga campuran

berwarna bening kembali. Setelah itu larutan yang dihasilkan disimpan pada suhu

ruang agar dapat terbentuk suatu kristal, campuran larutan ditambahkan dengan air

dan didinginkan, bila perlu didinginkan dengan menggunakan es agar proses

pengkristalan campuran begitu cepat. Setelah pendinginan selesai, maka kristal

aspirin terbentuk, warna dari kristal aspirin tersebut yakni warna putih kristal.
Setelah proses penyaringan selesai, kristal aspirin di reksristalisasi dengan

menggunakan larutan campuran etanol dan aquades jika tidak larut maka harus

dilakukan pemanasan agak larut sempurna.setelah dikeringkan, Kristal aspirin kering

didapatkan. Kristal Aspirin yang didapatkan yaitu sebesar 13 gr am sedangkan Kristal

aspirin menurut teori yaitu 5,202 gram sehingga didapatkan persen rendamen sebesar

210,9 %

V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan pada percobaan ini dapat disimpulkan

bahwa :
1. Peroses pembuatan aspirin dibuat dengan cara mereaksikan anatara asam salisilat,

anhidrat dan asam fosfat , yang mana asam fosfat berfungsi sebagai katalis.
2. Rekasi yang terjadi dalam pembuatan aspirin adalah reaksi esterifikasi.

B. Saran
Saran yang dapat diberikan pada percobaan pembuatan aspirin yaitu,

praktikan harus lebih kompak lagi jangan hanya sebagian saja yang bekerja.

DAFTAR PUSTAKA
Clark. 2007. Pengantar Kimia, EGC, Jakarta

Fessenden. 1994. Dasar-Dasar Kimia Organik Jilid 1, Erlangga, Jakarta.

ICK. B.L., Mongan. A.E., Memah. M. 2014. Perbandingan Nilai Agregasi Trombosit
Pada Pasien Hipertensi Yang Diberi Aspirin Dan Tidak Diberi Aspirin Di
Rsup. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jurnal E-Biomedik (Ebm). 2(2).

Miladiyah. I., 2012. Therapeutic Drug Monitoring (TDM) pada Penggunaan Aspirin
sebagai Antireumatik. TDM Penggunaan Aspirin. 4(2).

Rinidar, T. Armansyah, Putri, T.A., 2014. Potensi Ekstrak Air Daun Sernai (Wedelia
Biflora) Sebagai Antipiretik Pada Mencit (Mus Musculus) Dibandingkan
Para Amino Fenol Dan Asam Salisilat. Jurnal Medika Veterinaria . 8(2).
ISSN : 0853-1943 147.