Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

PBF PT. DOS NI ROHA

DI SUSUN OLEH

AYUANDIRA HARMIN

MEYFI A MAMADOA

JOSUA KOIREWA

PROGRAM STUDI D III FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)


MUHAMMADIYAH MANADO

2016-2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga kami dapat
melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) serta dapat menyelesaikan
laporan Praktek Kerja Lapangan ini. Laporan ini disusun guna melengkapi
salah satu prasyarat dalam menyelesaikan PKL bagi Mahasiswa Program
Studi DIII Farmasi STIKES Muhammadiyah Manado dalam meningkatkan
peran serta mahasiswa.

Laporan ini disusun berdasarkan apa yang telah mahasiswa lakukan


pada saat PKL di PBF PT. Dos Ni Roha dimulai dari tanggal 11-17 Desember
2017.

Dalam penyusunan laporan ini, kami menyadari bahwa selesainya


laporan ini tidak terlepas dari dukungan, semangat serta bimbingan dari
berbagai pihak, baik bersifat moril maupun materil. Oleh karena itu, kami
ingin menyampaikan ucapan terima kasih antara lain kepada semua pihak
yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu.

Laporan PKL ini disusun dengan sebaik-baiknya, namun masih


terdapat saran dan kritik yang sifatnya membangun dari semua pihak sangat
diharapkan. Tidak lupa harapan kami, semoga laporan PKL ini dapat
bermanfaat bagi pembaca serta dapat menambah ilmu pengetahuan bagi
kami.

Manado, 14 Desember 2017

Kelompok 7

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang........................................................................................... 1
1.2. Tujuan Praktek Kerja Lapangan................................................................. 2
1.3. Manfaat Praktek Kerja Lapangan .............................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................... 3
2.1. Pedagang Besar Farmasi (PBF) .................................................................. 3
2.2. Tugas dan Fungsi yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan ........... 4
2.3. Tujuan PBF ................................................................................................ 6
2.4. Pelayanan Farmasi di PBF ......................................................................... 6
BAB III TINJAUAN KHUSUS PBF PT. DOS NI ROHA................................................ 10
3.1. Sejarah PBF PT. Dos Ni Roha ................................................................... 10
3.2. Visi dan Misi PBF PT. Dos Ni Roha ........................................................... 10
3.3. Logo PBF PT. Dos Ni Roha ....................................................................... 11
3.4. Principal................................................................................................... 11
3.5. Kegiatan PBF PT. Dos Ni Roha ................................................................. 12
3.5.1. Pengadaan....................................................................................... 12
3.5.2. Penerimaan ..................................................................................... 12
3.5.3. Penyimpanan .................................................................................. 13
3.5.4. Distribusi ......................................................................................... 14
3.5.5. Pencatatan, Pelaporan, dan Pemusnahan ...................................... 15
BAB IV PEMBAHASAN ........................................................................................... 16
4.1. Kegiatan PKL yang dilakukan ................................................................... 16
BAB V PENUTUP..................................................................................................... 18
5.1. Kesimpulan .............................................................................................. 18
5.2. Saran ....................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 20

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1……………………………………………………………………………………………………....13

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Salah satu faktor penting dalam membangun sumber daya manusia yang
berkualitas adalah kesehatan, maka ketersediaan obat-obatan yang bermutu
sangat diperlukan untuk menunjang dan meningkatkan derajat yang
kesehatan masyarakat. Obat bukan merupakan komoditi biasa karena obat
digunakan untuk menyelamatkan jiwa (life saver), memulihkan (restore),
atau memelihara (preserve) kesehatan seseorang. (Wulandari widya dkk,
2014)

Pedagang Besar Farmasi (PBF) sebagai salah satu mata rantai


pendistribusian obat dan perbekalan farmasi merupakan aktor penting dalam
menjaga mutu kualitas obat, PBF juga merupakan bagian dari pelaku
pembangunan kesehatan, penyelenggaraan yang meliputi upaya dan kegiatan
yang menyangkut dasar manusia yang sangat berharga yakni hidup dan
kesejahteraan. Suatu jaringan distribusi obat yang baik harus
menyelenggarakan sistem jaminan kualitas, sehingga obat yang
didistribusikan terjamin mutu, khasiat, keamanan, dan keabsahannya sampai
ke tangan konsumen. Sistem ini dilakukan sejalan dengan sistem Quality
Assurance yang telah dilakukan industri farmasi dalam menjalankan
kegiatannya. Jaringan distributor obat, yakni PBF harus menjamin bawa obat
yang didistribusikan mempunyai izin edar, dengan kondisi penyimpanan
yang sesuai dan terjaga mutunya, serta selalu dimonitor termasuk selama
transportasi serta terhindar dari kontaminasi. Untuk dapat terlaksananya
jaringan distribusi yang baik, maka harus diperhatikan aspek-aspek yang
penting, antara lain manajemen mutu, personil, bangunan dan peralatan,
dokumentasi, dan inspeksi diri.(Wulandari widya dkk, 2014)

Praktek kerja lapangan di PBF bagi mahasiswa DIII Farmasi merupakan


program pendidikan bagi calon ahli madya farmasi agar memiliki gambaran
mengenai kondisi dan situasi yang nyata pada PBF dengan segala

1
permasalahan yang akan dihadapi dengan mengamati dan mempelajari cara
dari pengadaan, penyimpanan, hingga penjualan ke pelayanan farmasi,
sehingga mahasiswa memiliki tambahan pengetahuan dan pengalaman secara
langsung kegiatan di PBF.

1.2. Tujuan Praktek Kerja Lapangan

Setelah mengikuti kegiatan praktek kerja lapangan ini mahasiswa


diharapkan mampu:

1. Melaksanakan kegiatan penerimaan barang


2. Menyimpan barang di gudang berdasarkan standar Cara Penyimpanan
Obat yang Baik.
3. Mengeluarkan barang sesuai dengan dokumen permintaan pesanan.

1.3. Manfaat Praktek Kerja Lapangan

Manfaat praktek kerja lapangan mahasiswa program studi D3 farmasi di


PBF adalah:

1. Mahasiswa mampu melaksanakan kegiatan penerimaan produk jadi.


2. Mahasiswa mampu menyimpan barang di gudang berdasarkan standar
penyimpanan CDOB.
3. Mahasiswa mampu mengeluarkan barang sesuai dengan dokumen
permintaan yang diminta
4. Mampu mengetahui cara distribusi sesuai CDOB di PBF.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pedagang Besar Farmasi (PBF)

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1148/MENKES/PER/VI/2011 tentang Pedagang Besar Farmasi menjelaskan
bahwa Pedagang Besar Farmasi, yang selanjutnya disingkat PBF adalah
perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk pengadaan,
penyimpanan, penyaluran obat atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun


2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian Pasal 1 ayat 12 yang berbunyi Pedagang
Besar Farmasi adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin
untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran perbekalan farmasi dalam
jumlah besar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam peraturan tersebut juga memberikan batasan terhadap beberapa


hal yang berkaitan dengan kegiatan Pedagang Besar Farmasi yaitu batasan
mengenai :

a. Perbekalan Farmasi adalah perbekalan yang meliputi obat, bahan


obat dan alat kesehatan.
b. Sarana pelayanan kesehatan adalah apotik, rumah sakit, atau unit
kesehatan lainnya yang ditetapkan Menteri Kesehatan, toko obat dan
pengecer lainnya.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatn No. 34 Tahun 2014 tentang


pedagang besar farmasi menjelaskan tentang setiap PBF dapat mendirikan
PBF Cabang. PBF Cabang adalah cabang PBF yang telah memiliki
pengakuan untuk melakukan pengadaan, penyimpanan, penyaluran obat atau
bahan obat dalam jumlah besar sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan. Setiap PBF dan PBF Cabang harus memiliki apoteker penanggung

3
jawab yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan ketentuan pengadaan,
penyimpanan dan penyaluran obat dan bahan obat.

Pedagang Besar Farmasi wajib memenuhi persyaratan yang telah


ditentukan, yaitu:

a. Berbadan hukum berupa perseroan terbatas atau koperasi;


b. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
c. Memiliki secara tetap apoteker Warga Negara Indonesia
sebagai penanggung jawab;
d. Komisaris/dewan pengawas dan direksi/pengurus tidak pernah
terlibat baik langsung atau tidak langsung dalam pelanggaran
peraturan perundang-undangan di bidang farmasi dalam kurun
waktu 2 (dua) tahun terakhir;
e. Menguasai bangunan dan sarana yang memadai untuk dapat
melaksanakan pengadaan, penyimpanan dan penyaluran obat
serta dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi
PBF;
f. Menguasai gudang sebagai tempat penyimpanan dengan
perlengkapan yang dapat menjamin mutu serta keamanan obat
yang disimpan; dan
g. Memiliki ruang penyimpanan obat yang terpisah dari ruangan
lain sesuai CDOB.(PERMENKES RI, 2014)

2.2. Tugas dan Fungsi yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan

1. Tugas PBF

PBF berkewajiban untuk melakukan pengadaan, penyimpanan


dan penyaluran perbekalan farmasi dalam jumlah kecil maupun dalam
jumlah besar sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Pedagang besar farmasi dapat menyalurkan perbekalan farmasi ke
apotek, rumah sakit atau unit pelayanan kesehatan lainnya, toko obat
dan pengecer lainnya yang ditetapkan oleh Menteri
Kesehatan.(PERMENKES, 2011)

4
2. Fungsi PBF
Adapun fungsi PBF antara lain:
a. PBF berkewajiban mengadakan perbekalan farmasi yang
memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan menteri.
b. Melakukan penyimpanan dan mendistribusikan perbekalan
farmasi ke PBF, Apotek, Toko Obat, Rumah Sakit, Klinik dan
lain-lain.
c. PBF hanya menyalurkan obat keras kepada PBF, Apotek, dan
Rumah Sakit serta institusi yang diizinkan berdasarkan surat
pesanan yang ditandatangani Apoteker pengelola apotek atau
Apoteker penanggung jawab instalasi Farmasi Rumah Sakit,
atau Apoteker penanggung jawab PBF, atau Apoteker
penanggung jawab unit yang diizinkan oleh menteri.
d. Melaksanakan dokumentasi pengadaan, penyimpanan dan
penyaluran secara tertib di tempat usahanya mengikuti
pedoman teknis yang ditetapkan oleh menteri.
e. Meningkatkan ketersediaan obat, sediaan farmasi yang
bermutu, aman dan berkhasiat dengan pelayanan yang
profesional.
f. Memenuhi kebutuhan obat-obatan dan alkes, sekaligus
mencegah penyalahgunaan obat-obatan.
(PERMENKES, 2011)

5
2.3. Tujuan PBF
Adapun tujuan PBF antar lain :
a. Sebagai sarana distribusi farmasi bagi industri-industri
farmasi
b. Sebagai saluran distribusi obat-obatan yang bekerja aktif ke
seluruh tanah air secara merata dan teratur guna memperbaiki
pelayanan kesehatan.
c. Untuk membantu pemerintah dalam mencapai tingkat
kesempurnaan penyediaan obat-obatan untuk pelayanan
kesehatan.
d. Sebagai aset atau kekayaan nasional dan lapangan kerja.
(PERMENKES, 2011)

2.4. Pelayanan Farmasi di PBF


Aktivitas perusahaan menentukan besar kecilnya pendapatan dari
perusahaan tersebut. Kegiatan utama PBF adalah memasarkan obat-obatan
yang diproduksi oleh berbagai pabrik. Daerah pemasaran dari perusahaan
adalah kota dan daerah di luar kota. Obat-obatan yang dipasarkan adalah
berbagai produk yang dihasilkan oleh perusahaan mitra. Kompetensi farmasi
di PBF antara lain:

a. Melakukan pekerjaan kefarmasian dalam pengadaan, produksi,


distribusi dan pelayanan sediaan farmasi.
b. Melakukan kegiatan pendistribusian meliputi penerimaan pesanan,
penyaluran obat dari gudang, pengiriman obat kepada pihak yang
memerlukan dan menyalurkan obat kepada unit-unit penerima
yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
c. Menjaga mutu atau keabsahan obat, sehingga obat-obatan yang
sampai ke tangan konsumen adalah obat yang aman dan dapat
digunakan sesuai tujuan pengobatan.
d. Mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan profesional.

6
e. Mempunyai kemampuan untuk mengelola sumber daya (manusia,
fisik, anggaran) dan informasi, juga harus dapat dipimpin dan
memimpin orang lain. (PERMENKES, 2011)

Suatu distributor hendaknya mempunyai Standar Operasional


Prosedur (SOP) yang menerangkan secara jelas bermacam-macam kegiatan
operasional yang dapat mempengaruhi kualitas produk atau aktifitas
distribusi seperti, prosedur penerimaan pesanan, prosedur pengiriman,
penyimpanan, pembersihan dan perawatan bangunan (termasuk pest control),
pencatatan kondisi penyimpanan dan pengiriman, pengamanan stok termasuk
pencatatan produk pelanggan, obat kembalian, cara penanganan recall dan
sebagainya. Beberapa kegiatan operasional tersebut antara lain:

1. Perencanaan

Perencanaan merupakan proses pemilihan jenis, jumlah dan harga


perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, untuk
menghindari dari kekosongan obat. Tujuan dari perencanaan obat adalah
untuk mendapatkan jenis dan jumlah obat yang sesuai dengan kebutuhan
menghindari terjadinya stock out (kekosongan) obat dan meningkatkan
penggunaan obat secara rasional. Hal ini dikarenakan perencanaan
merupakan hal penting dalam pengadaan obat. Apabila dalam perencanaan
lemah maka akan mempengaruhi dan mengakibatkan kekacauan siklus
manajemen secara keseluruhan mulai dari pemborosan dalam penganggaran,
membengkaknya biaya pengadaan dan penyimpanan, serta tidak tersalurnya
obat hingga rusak atau kadaluwarsa. (BPOM, 2003)

7
2. Pengadaan

Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang


telah direncanakan sebelumnya. Hal ini terkait dengan tujuan dari pengadaan
barang yaitu memperoleh obat yang dibutuhkan dengan harga layak, mutu
baik, pengiriman obat terjamin tepat waktu, serta proses berjalan lancar
dengan tidak memerlukan waktu dan tenaga yang berlebihan. (BPOM, 2003)

3. Penyimpanan

Penyimpanan adalah suatu kegiatan pengalaman terhadap obat-obat yang


diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik atau kimia
dan mutunya tetap terjamin. Tujuan penyimpanan adalah agar obat yang
tersedia di gudang farmasi pedagang besar farmasi mutunya dapat
dipertahankan. (BPOM, 2003)

4. Distribusi

Cara Distribusi Obat yang Baik, yang selanjutnya disingkat CDOB adalah
cara distribusi/penyaluran obat dan/atau bahan obat yang bertujuan untuk
memastikan mutu sepanjang jalur distribusi/penyaluran sesuai persyaratan
dan tujuan penggunaannya. Prinsip-prinsip Cara Distribusi Obat yang Baik
(CDOB) berlaku untuk aspek pengadaan, penyimpanan, penyaluran termasuk
pengembalian obat dan/atau bahan obat dalam rantai distribusi (BPOM,
2012).

8
Pedagang Besar Farmasi hanya dapat melaksanakan penyaluran obat keras
kepada :

a. Pedagang Besar Farmasi lainnya berdasarkan surat pesanan yang


ditandatangani oleh penanggung jawab PBF.
b. Apotek berdasarkan surat pesanan yang ditandatangani oleh
Apoteker Pengelola Apotek.
c. Rumah sakit berdasarkan surat pesanan yang ditandatangani oleh
Apoteker Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit.
d. Instalasi lain yang diizinkan MENKES (PERMENKES, 2011).

5. Dokumentasi

Semua dokumentasi hendaknya dilaksanakan secara baik dengan maksud:

a. Untuk menjamin pelaksanaan pengadaan dan distribusi sesuai


ketentuan perundang-undangan.
b. Untuk menjamin penyediaan data dan informasi yang akurat dan
aktual pada pemesanan, penerimaan, keadaan stok, penyaluran, dan
sebagainya.
c. Untuk menjaga tingkat stok pada kondisi yang dapat menjamin
kelancaran pelayanan.
d. Untuk menjamin penerimaan produk yang benar meliputi jumlah,
identitas, kualitas.
e. Untuk menjamin penyimpanan yang tepat yang tidak akan
mempengaruhi mutu dan mampu memberi perlindungan terhadap
kehilangan, pencurian, kebakaran, dan sebagainya.
f. Untuk melakukan dokumentasi yang benar dan lengkap serta
mencatat semua kegiatan yang dilaksanakan dalam pengelolaan
pengadaan dan penyaluiran obat. (BPOM, 2003)

9
BAB III
TINJAUAN KHUSUS PBF PT. DOS NI ROHA

3.1. Sejarah PBF PT. Dos Ni Roha

PT. Dos Ni Roha adalah salah satu perseroan leading-supplier dalam


bidang obat-obatan dan alat-alat kesehatan (alkes), makanan, minuman, alat-
alat kecantikan, dan lain-lain. Dos Ni Roha dalam bahasa Batak berarti
bersepakat. Sejak berdiri pada tanggal 16 September 1963 di Jakarta, sampai
saat ini PT. Dos Ni Roha memiliki 32 cabang dan 13 cabang yang tersebar di
seluruh Indonesia, salah satunya adalah PT. Dos Ni Roha Cabang Manado
yang dipimpin oleh Bapak Fortise Manalu.(Anonym, 2009)

Lokasi PT. Dos Ni Roha Cabang Manado ini, sebelumnya berada di Jl.
17 Agustus No. 6 Manado, namun setelah keluarnya peraturan bahwa tidak
boleh ada gudang di tengah kota, PBF ini berpindah lokasi ke Jl. Tiram No. 9
Manado tepatnya di kairagi, Manado.(Anonym, 2009)

3.2. Visi dan Misi PBF PT. Dos Ni Roha

Visi:

“Menyediakan Solusi Kelas Dunia untuk Distribusi & Rantai Suplai


Produk Kesehatan & Konsumen di Wilayah.”

Misi:

1. Untuk menerapkan dan mencapai standar Good Distribution


Practice yang didukung oleh teknologi mutakhir

2. Untuk menyediakan layanan yang disesuaikan dan sangat inovatif

3. Memberikan manajemen yang solid dan profesional untuk


memaksimalkan nilai mitra bisnis kami

10
4. Untuk memperkuat daya saing dan kepemimpinan pasar bisnis
kami. (Anonym, 2009)

3.3. Logo PBF PT. Dos Ni Roha

Gambar 3.1 Logo PT. Dos Ni Roha

3.4. Principal

PT. Dos Ni Roha dalam pengadaannya, bekerja sama dengan banyak


principal antara lain berdasarkan produk ethical, medical/laboratory, OTC,
consumer, kosmetik/salon.

Produk ethical meliputi principial PT. Bayer Indonesia, PT. Medikon


Prima LAB, PT. Bernofarm, PT Gracia Pharmindo, PT Novartis; Produk
medical/laboratory meliputi principal BIO-RAD, PT. B. Braun Medical,
ABX SA; Produk OTC dan consumer meliputi principal PT. SSLHI, PT
Johnson & Johnson, PT. Medikon Prima LAB, PT. Gratia Husada Farm, PT.
Henson Farma, PT. Afiat Industri, PT. Bernofarm, PT. Nutrindo Jaya Abadi,
PT. Pondan Pangan Makmur, PT. Wyeth Indonesia, PT. Dynea Indria; produk
salon dan kosmetika meliputi principial L’oreal Matrix, L’oreal Professional
dan Mustika Ratu. (Anonym, 2009)

11
3.5. Kegiatan PBF PT. Dos Ni Roha

3.5.1. Pengadaan

Semua barang yang terdapat di PBF Dos Ni Roha cabang Manado


dikontrol oleh suatu sistem yang berasal dari PBF Dos Ni Roha Pusat,
sehingga setiap pengeluaran dan jumlah barang yang tersedia di PBF Dos Ni
Roha cabang Manado dapat diketahui dengan mudah. Pengadaan di PBF Dos
Ni Roha cabang Manado terbagi atas 2 jenis pengadaan, yaitu pengadaan
bulanan dan pengadaan manual. Pada pengadaan bulanan, PBF Dos Ni Roha
pusatakan langsung mengirimkan barang ke PBF Dos Ni Roha cabang
Manado. Hal ini berdasarkan pada produk-produk fast moving yang memang
sudah diketahui kebiasaan pembeli menurut data-data sebelumnya dan untuk
pengiriman barang menggunakan transportasi laut dan udara.
Sedangkanpadapengadaan manual PBF Dos Ni Roha cabang Manado akan
mengirimkan surat permintaan melalui email kepada PBF Dos Ni Roha Pusat.
PBF Dos Ni Roha cabang Manado saat ini belum mengadakan sediaan
Psikotropika.

3.5.2. Penerimaan

Proses penerimaan merupakan proses yang harus dilewati setelah


proses pengadaan. Setelah obat melewati pengadaan otomatis maupun
pengadaan non otomatis obat diterima oleh kepala logistik sebanyak ± 2
minggu setelah proses pengadaan. Dalam proses penerimaan, selanjutnya
barang akan diperiksa oleh petugas gudang. Hal-hal yang harus diperhatikan
dalam proses penerimaan adalah fisik barang, nomor batch, dokumen yang
dikirimkan, dan jumlah produk. Apabila ditemukan ketidaksesuaian oleh
petugas gudang maka akan dilaporkan pada kepala logistik. Jika ada barang
yang kurang atau ada kerusakan terhadap barang yang diterima maka akan
dilakukan klaim terhadap pihak yang bersangkutan, baik pihak principal
ataupun pihak ekspedisi.

12
Setelah pemeriksaan selesai kemudian diserahkan ke administrasi
logistic untuk dilakukan entry barang yang masuk. Barang yang sudah
masukakan diletakkan di dalam gudang logistik yang dilakukan pencatatan
terlebih dahulu oleh petugas gudang dan melakukan penembahan barang
masuk di kartu stelling. Hal ini dilakukan agar tidak ada selisih antara jumlah
fisik barang dengan jumlah di computer maupun di kartu stelling.

3.5.3. Penyimpanan

Penyimpanan perbekalan kesehatan di PBF Dos Ni Roha cabang


Manado, disesuaikan dengan principal, abjad, bentuk sediaan, serta First In
First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO). Pertama-tama barang
disusun sesuai principal nya, sehingga barang-barang dari principal yang
sama akan diletakkan berdekatan. Khusus untuk produk-produk yang mudah
pecah, diletakkan di rak-rak bagian bawah untuk mencegah jatuhnya produk-
produk tersebut.

Untuk golongan perkusor, penyimpanannya diletakkan terpisah. Setiap


barang disertai kartu stelling yang berwarna sesuai dengan jenis barang yakni
merah untuk golongan obat keras, biru untuk golongan obat bebas terbatas,
dan putih untuk alkes. Kartu stelling berfungsi seperti hal kartu stok, dimana
setiap pengeluaran dan pemasukan barang akan ditulis pada kartu stelling,
sehingga dapat dikatakan sebagai alat control fisik barang digudang. Untuk
jangka waktu tertentu terkadang dilakukan stok opname, yaitu penyesuaian
data di kartu stelling dengan stok fisik dan data di system setiap 6 bulan.

PBF Dos Ni Roha menyimpan obat, ambient dalam gudang cool room, atau
tempat penyimpanan yang memiliki fasilias Air Conditioner (AC) agar
menjaga produk dari kerusakan karena suhu. Untuk obat yang suhunya
<25◦C, ambient 30◦C. Sedangkan untuk reagen-reagen disimpan dalam cool
storage atau lemari pendingin dengan suhu 2-8◦C.

Tata letak penyimpanan obat di Gudang PBF Dos Ni Roha cabang


Kota Manado masih belum maksimal karena banyaknya barang yang masuk

13
dan belum diletakkan di tempat yang sesuai karena keterbatasan tempat.
Sistem penyimpanan obat yang sesuai abjad juga belum terlaksana secara
maksimal.

3.5.4. Distribusi

PBF Dos Ni Roha cabang Kota Manado mendistribusikan produk-


produk ke apotek,toko obat, rumah sakit, dan PBF yang memiliki surat izin/
diakui pemerintah. PBF Dos Ni Roha cabang Kota Manado mendistribusikan
produk-produk tidak hanya di wilaya Manado maupun Sulawesi Utara, tetapi
juga sampai ke Gorongtalo dan Maluku Utara yang pendistribusiannya
menggunakan jasa ekspedisi serta surat izin lintas provinsi yang berlaku 1
bulan setelah dilakukan.

Sebelum dilakukan pendistribusian oleh PBF Dos Ni Roha cabang


Kota Manado, maka perlu adanya proses pemesaran oleh pelanggan terlebih
dahulu yaitu melalui kunjungan salesman, pesanan atau order langsung dari
pelanggan dengan surat pesanan terlampir, telpon/ faximili/ jaringan internet
(website, email). Setelah surat pesanan diterima, terlebih dahulu harus dicek
keabsahan surat pesanan tersebut oleh bagian administrasi penjualan/ Office
Sales Administratian (OSA). Masih ada piutang atau tidak, apabila piutang
jatuh tempo lama maka akan ditagih terlebih dahulu, apabila tidak ada piutang
maka akan langsung dilayani.

Bagian inkaso akan mengecek proses pembuatan faktur terlebih


dahulu, selanjutnya apabila outiet tidak ada hutang maka dapat dicek faktur,
surat pesanan yang akan yang akan diposes dan siap dibuatkan faktur.
Kemudian data/ SP di input ke komputer untuk menjadi faktur oleh bagian
order entry, kemudian faktur akan tercetak. Faktur yang jadi akan dicatat
dibuku pemesanan dengan mencatat kode faktur dan nama outlet, kemudian
faktur akan di staples barsama SP. Kemudian faktur masuk ke bagian admin
logistik. Faktur yang masuk akan dicek oleh bagian admin logistik. Faktur
tersebut terdiri dari 4 rangkap. Pengiriman produk untuk region Sulawesi
Utara disesuaikan dengan jadwal pengirimannya. Sedangkan untuk luar kota

14
pengirimannya disesuaikan dengan jumlah barang yang akan dikirim. Bagi
outlet yang pembayarannya kurang bagus maka dipending sampai yang
bersangkutan membayar baru dilayani.

3.5.5. Pencatatan, Pelaporan, dan Pemusnahan

Pencatatan dan pelaporan di PBF Dos Ni Roha Kota Manado meliputi


golongan obat perkursor, non perkursor dan alat kesehatan. Pelaporannya
masih mengikuti laporan triwulan, dilaporkan secara elektronik dengan e-
report sedangkan untuk pelaporan precursor suda terdiri secara elektronik
melalui e-napza pada tiap bulan. Untuk pelaporan alat kesehatan (Alkes)
dilakukan satu tahun sekali oleh Asisten Apoteker Penanggung Jawab
(AAPJ) secara manual dan dikirim ke Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas
Kesehatan Kota, dan BPOM.

Pelaporan barang expired, akan dibuatkan berita acara dan di


informasihkan kepada pusat atau principal untuk pengurusan pruduk expired,
apakah dikirim ke pusat/ pabrik untuk diretur dan dimusnakan disana atau
dimusnahkan di Manado sesuai keputusan BPOM. Jika pusat memutuskan
untuk mengirimkan kembali produk expired atau rusak ke pusat, maka akan
dipending ulang dan dikumpulkan untuk dikirim kembali ke pusat untuk
dimusnahkan disana, dan PBF Dos Ni Roha cabag Kota Manado mendapat
produk produk baru dengan retur produk. Atau keputusan pusat bahwa
produk expired dan rusak dimusnahkan di kota Manado, maka akan dibuatkan
berita acara denga tembusan ke Dinas Kesehatan dan BPOM, dan pimpinan
pusat PBF Dos Ni Roha dan saksi lainya yang bekerja di PBF Dos Ni Roha
Kota Manado.

15
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Kegiatan PKL yang dilakukan

Pedagang Besar Farmasi (PBF) sebagai salah satu mata rantai


pendistribusian obat dan perbekalan farmasi merupakan aktor penting dalam
menjaga mutu kualitas obat, PBF juga merupakan bagian dari pelaku
pembangunan kesehatan, penyelenggaraan yang meliputi upaya dan kegiatan
yang menyangkut dasar manusia yang sangat berharga yakni hidup dan
kesejahteraan.

Praktek kerja lapangan kali ini, dilakukan di Pedagang Besar Farmasi


PT. Dos Ni Roha dimana PBF ini merupakan salah satu PBF cabang yang
ada di Manado. PBF PT. Dos Ni Roha tidak hanya menyalurkan obat-obatan
tetapi juga ada Alat Kesehatan dan juga kosmetika.

Alur pendistribusian di PBF PT. Dos Ni Roha yaitu, pelanggan


mengorder barang (via telepon, fax, email, e-katalog, dan sales man),
selanjutnya dientry oleh Operation Procedur (OP). Khusus obat dan prekusor
harus memiliki surat pesanan atau SP yang diverifikasi oleh Apoteker
penanggung jawab. Selanjutnya barang yang telah dientri oleh OP, dilakukan
rilisan di kredit kontrol bagi pelanggan yang memiliki piutang. Hal ini
bertujuan untuk mengecek apakah pelanggan memiliki piutang yang jatuh
tempo atau tidak. Jika tidak terjadi masalah, maka pemesanan dapat
difakturkan. Setelah rilisan di kredit kontrol, maka faktur di cetak oleh admin.
Untuk psikotropika dan Obat-Obat Tertentu (OOT) faktur diberikan kepada
apoteker penanggung jawab untuk mengambil barang. Setelah barang
disiapkan oleh pihak gudang, selanjutnya dibawa ke checker disertai dengan
faktur. Pada saat barang telah di verifikasi di checker, terjadi serah terima
antara pihak checker dengan pihak ekspedisi, checker menyerahkan barang
dan di verifikasi kembali oleh ekspedisi untuk mencocokkan antara barang

16
dengan pesanan yang ada di faktur. Selanjutnya pihak ekspedisi mengemas
barang dan barang siap diantarkan sesuai dengan pelanggan.

Sistem pendistribusian PBF PT. Dos Ni Roha yaitu disalurkan ke


Instansi Pemerintah (dinkes), Instalasi farmasi Rumah Sakit, Apotek, Klinik
Kesehatan, Toko Obat, Modern Market dan ada juga disalurkan ke beberapa
tok kosmetik, serta penyaluran barang keluar Provinsi.

Seluruh kegiatan PKL yang dilaksanakan di PBF ini, selalu di awasi


dan dibimbing oleh pembimbing dari pihak PBF yang juga sebagai
p]enanggungjawab PBF PT. Dos Ni Roha. Pada hari pertama PKL hal yang
dilakukan adalah ditugaskan menulis obat-obatan sesuai dengan principal,
kemudian diurutkan sesuai abjad, lalu bentuk sediaan.

Beberapa kegiatan yang juga dilakukan selama PKL, antara lain :


Mengatur dan mengurutkan stok obat dan produk-produk kosmetik; menulis
dan menyesuaikan stok obat pada kartu stelling; menyiapkan produk sesuai
dengan faktur yang diterima, kemudian diletakkan diregion-region
pendistribusiannya masing-masing.

17
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Beberapa hal yang dapat disimpulkan setelah melaksanakan PKL di PBF
PT. Dos Ni Roha, yaitu bahwa :
1. PBF PT. Dos Ni Roha cabang Manado mendistribusikan
barang/produk tidak hanya di Provinsi Sulawesi Utara, tetapi
juga ada 2 Provinsi yaitu Provinsi Gorontalato dan Provinsi
Maluku Utara
2. Penyimpanan perbekalan kesehatan di PBF Dos Ni Roha cabang
Manado, disesuaikan dengan principal, abjad, bentuk sediaan,
serta First In First Out (FIFO) dan First Expired First Out
(FEFO).
3. Semua barang yang terdapat di PBF Dos Ni Roha cabang
Manado dikontrol oleh suatu sistem yang berasal dari PBF Dos
Ni Roha Pusat

5.2. Saran
5.2.1. Saran kepada institusi
1. Diharapkan agar kedepannya, waktu PKL lebih lama lagi
sehingga dilakukan lebih maksimal dan wawasan yang didapatkan
lebih banyak.
2. Pembimbing PKL dari pihak institusi agar lebih giat untuk
mengontrol mahasiswa selama PKL berlangsung dan memberikan
bimbingan untuk kemajuan mahasiswa
3. Menyediakan modul atau panduan yang mendukung kegiatan
PKL

18
5.2.2. Saran kepada PBF PT. Dos Ni Roha
1. Perlunya Penambahan tempat penyimpanan digudang untuk
kosmetika
2. Untuk terus meningkatkan kerja sama yang sudah terjalin baik
antara Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES)
Muhammadiyah Manado Prodi DIII Farmasi dengan p]ihak PBF
agar selalu bertahan untuk tahun selanjutnya

19
DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 2005. Manajemen Farmasi. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press.

Anonym, 2009. Service. Diakses pada: http://www.dosniroha.com

BPOM RI. 2012. Peraturan Kepala BPOM RI NOMOR


HK.03.1.34.11.12.7542 Tahun 2012 Tentang Pedoman Teknis
Cara Distribusi Obat yang Baik. Jakarta : BPOM RI

BPOM RI. 2003. Peraturan Kepala BPOM RI NOMOR


HK.00.05.3.2522. Tahun 2003 Tentang Penerapan Pedoman
Cara Distribusi Obat yang Baik. Jakarta : BPOM RI

Depkes RI. 2009. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian .Jakarta
: DEPKES RI

Menkes RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 34 Tahun 2014 Tentang Perubahan Nomor
1148/MENKES/PER/VI/2011 Tentang Pedagang Besar
Farmasi. Jakarta : Menkes RI

Menkes RI. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 1148/MENKES/PER/VI/2011 tentang Pedagang Besar
Farmasi. Jakarta : Menkes RI

Wulandari widya dkk, 2014. Laporan Praktek Kerja Lapangan di PBF


PT. Sapta Sari Tama Banjarmasin. Diakses pada:
https://id.scribd.com/doc/230653012/laporan-pkl-PBF-sapta-
sari-tama-BJM

20
21