Anda di halaman 1dari 15

CANCER CERVIX

A. KONSEP DASAR
1. Definisi
Kanker serviks adalah penyakit akibat
tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai
akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang
tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di
sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997).
Carcinoma servik adalah pertumbuhan
baru yang ganas terdiri dari sel-sel epithelia
yang cenderung menginfiltrasi jaringan
sekitarnya dan menimbulkan metastasis
(Dorland, 1998).
Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks)
adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam
leher rahim/serviks (bagian terendah dari
rahim yang menempel pada puncak
vagina.Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun.Sebanyak
90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10%
sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang
menuju ke dalam rahim.
Kanker servik menempati urutan pertama di dunia (Sjamjuhidayat,
2005).Kanker servik adalah keganasan nomor tiga paling sering dari alat
kandungan dan menempati urutan kedelapan dari keganasan pada perempuan di
Amerika (Yatim F, 2005).

2. Klasifikasi pertumbuhan sel akan kanker serviks


Mikroskopis
1) Displasia
Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis. Displasia
berat terjadi pada dua pertiga epiderm hampir tidak dapat dibedakan dengan
karsinoma insitu.
2) Stadium karsinoma insitu
Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan
epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa.Karsinoma insitu yang tumbuh
didaerah ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan
endoserviks.
3) Stadium karsionoma mikroinvasif
Pada karksinoma mikroinvasif, disamping perubahan derajat pertumbuhan sel
meningkat juga sel tumor menembus membrana basalis dan invasi pada
stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana basalis, biasanya tumor ini
asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker.
4) Stadium karsinoma invasif
Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar
dan bentuk sel bervariasi.Petumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior
atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu jurusan forniks posterior
atau anterior, jurusan parametrium dan korpus uteri.

Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks


 Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kool, tumbuh kearah vagina dan
dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi kedalam vagina, bentuk
pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan.
 Pertumbuhan endofilik, biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh progesif
meluas ke forniks, posterior dan anterior ke korpus uteri dan parametrium.
 Pertumbuhan nodul, biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambatlaun
lesi berubah bentuk menjadi ulkus.

Makroskopis
1) Stadium preklinis
Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa
2) Stadium permulaan
Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum
3) Stadium setengah lanjut
Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio
4) Stadium lanjut
Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti ulkus
dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah.

3. Stadium kanker serviks


International Federation of Ginecology and Obstetrics Stagging System for
Cervical Cancer (FIGO) pada tahun 2000 menetapkan suatu sistem stadium
kanker sebagai berikut:

Stadium Karakteristik
Tingkat 0 Selaput basal masih utuh: disebut juga carcinoma ekstra
epitel (carcinoma in situ)
Tingkat 1 Carcinoma terbatas pada cervix

Tingkat 1a Carcinoma micro invasive


Proses telah menembus selaput basal tapi tidak lebih dari
3mm dengan diameter permukaan < 7mm dan tidak terdapat
sel ganas di pembuluh darah / limfe
Tingkat 1b Proses masih terbatas pada portio tapi sudah terjadi sel tumor
ganas yang lebih jauh dari 1a
Tingkat 2 Menyebar ke 2/3 bagian atas vagina dan pada uterus
Tingkat 2 a Proses sudah menyebar ke vagina dalam batas 2/3 proximal
sedangkan parametrium masih bebas dari proses
Tingkat 2b Proses sudah meluas sampai parametrium tapi belum masuk
dinding panggul
Tingkat 3 Kanker telah menyebar ke dinding pelvic1/3 bagian bawah
vagina
Tingkat 3a Proses sudah meluas 1/3 distal vagina proses parametria
tidak meluas mencapai dinding panggul
Tingkat 3b Proses sudah mencapai dinding pada panggul dan tidak
terdapat daerah terbebas antara portio dan proses pada
dinding panggul tersebut.
Tingkat 4 Ca. telah menyebar ke organ lain.
Tingkat 4a Proses telah mencapai mukosa rectum dan atau vu / sudah
keluar dari panggul kecil, metastasis juga belum terjadi
Tingkat 4b Terjadi metastasis jauh

Klasifikasi TNM
T : Tumor Primer
TIS : Karsinoma in situ (ca. Inpraivafive)
TI : Berbatas tegas pada portio :perluasan pada korpus uteri tidak
menjadi persoalan.
T1a : Ca. Infasiv yang hanya bisa dipastikan dengan histology
T1b : Secara klinis sudah diketahui adanya keganasan.
T2 : Proses sudah keluar dari portio tapi tidak mencapai dinding panggul
1/3 distal vagina.
T2a : Parametrium sudah bebas dari proses
T2b : proses sudah meluas ke parametrium
T3 : Proses sudah meluas ke 1/3 distal vagina/dinding panggul dan tidak
ada daerah bebas antara dinding panggul dan portio (adanya
hidronefrosis/ginjal tidak berfungsi, oleh status diureter dinyatakan T3 walau
proses local masih dalam batas-batas < T3)
T4 : Proses mencapai mukosa rectum / vu / proses sudah keluar dari
panggul kecil (pembesaran uterus saja yang keluar dari panggul kecil tidak
dapat dimasukkan ke T4.
T4a : Proses mencapai mukosa rectum &/ rectum (dinyatakan secara
histologik)
T4b : Proses sudah keluar dari panggul kecil.
N : Kelenjar limfe dibawah arteri iliaka komunis
Nx : Tdak mungkin dinyatakan adanya kelainan pada kelenjar limfe ; Nx
menjadi Nx (+) / Nx (-), jika secara histologi dapat dinyatakan adanya sel tumor
ganas / tidak pada kelenjar.
No : Tidak ditemukan kelainan pada kelenjar limfe dengan cara diagnostik
yang ada, teraba masa kelenjar yang tidak dapat digerakkan pada dinding
panggul dan terdapat daerah bebas antara masa tersebut dengan tumor pada
portio.
M : Metastasis jauh
Mo : Tidak terdapat metastasis jauh
M1 : Terdapat metastasis jauh termasuk kelenjar limfe diatas percabangan
arteri iliaka komunis.

Pembagian menurut Broders / Grading


Tingkat 1 : Bila lebih dari 75% sel-selnya berdeferensiasi baik.
Tingkat 2 : 50-75% sel-selnya berdeferensiasi baik.
Tingkat 3 : 25-50% sel-selnya berdeferensiasi baik
Tingkat 4 : 0-25% sel-selnya berdeferensiasi baik.

4. Etiologi
Terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa Human Papilloma Virus
(HPV) sebagai penyebab neoplasia servikal.Karsinogenesis pada kanker
serviks sudah dimulai sejak seseorang terinfeksi HPV yang merupakan faktor
inisiator dari kanker serviks yang menyebabkan terjadinya gangguan sel
serviks.
Ada bukti lain yaitu onkogenitas virus papiloma hewan; hubungan infeksi
HPV serviks dengan kondiloma dan atipik koilositotik yang menunjukkan
displasia ringan atau sedang; serta deteksi antigen HPV dan DNA dengan lesi
servikal.HPV tipe 6 dan 11 berhubungan erat dengan diplasia ringan yang
sering regresi.HPV tipe 16 dan 18 dihubungkan dengan diplasia berat yang
jarang regresi dan seringkali progresif menjadi karsinoma insitu.Infeksi Human
Papilloma Virus persisten dapat berkembang menjadi neoplasia intraepitel
serviks (NIS).
Seorang wanita dengan seksual aktif dapat terinfeksi oleh HPV risiko-tinggi
dan 80% akan menjadi transien dan tidak akan berkembang menjadi NIS. HPV
akan hilang dalam waktu 6-8 bulan. Dalam hal ini, respons antibodi terhadap
HPV risiko-tinggi yang berperan.Dua puluh persen sisanya berkembang
menjadi NID dan sebagian besar, yaitu 80%, virus menghilang, kemudian lesi
juga menghilang.Oleh karena itu, yang berperan adalah cytotoxic T-
cell.Sebanyak 20% dari yang terinfeksi virus tidak menghilang dan terjadi
infeksi yang persisten. NIS akan bertahan atau NIS 1 akan berkembang
menjadi NIS 3, dan pada akhirnya sebagiannya lagi menjadi kanker invasif.
HPV risiko rendah tidak berkembang menjadi NIS 3 atau kanker invasif, tetapi
menjadi NIS 1 dan beberapa menjadi NIS 2.Infeksi HPV risiko-rendah
sendirian tidak pernah ditemukan pada NIS 3 atau karsinoma invasif.
Berdasarkan hasil program skrining berbasis populasi di Belanda, interval
antara NIS 1 dan kanker invasif diperkirakan 12,7 tahun dan kalau dihitung dari
infeksi HPV risiko-tinggi sampai terjadinya kanker adalah 15 tahun. Waktu
yang panjang ini, di samping terkait dengan infeksi HPV risiko-tinggi persisten
dan faktor imunologi (respons HPV-specific T-cell, presentasi antigen), juga
diperlukan untuk terjadinya perubahan genom dari sel yang terinfeksi.Dalam
hal, ini faktor onkogen E6 dan E7 dari HPV berperan dalam ketidakstabilan
genetik sehingga terjadi perubahan fenotipe ganas.
Oncoprotein E6 dan E7 yang berasal dari HPV merupakan penyebab
terjadinya degenerasi keganasan. Oncoprotein E6 akan mengikat p53
sehingga TSG p53 akan kehilangan fungsinya. Sementara itu, oncoprotein E7
akan mengikat TSG Rb. Ikatan ini menyebabkan terlepasnya E2F yang
merupakan faktor transkripsi sehingga siklus sel berjalan tanpa kontrol.

5. Faktor resiko
Menurut Rasjidi (2009), terdapat 2 kategori faktor resiko dari Ca Serviks, antara
lain:
FAKTOR RESIKO YANG TELAH DIBUKTIKAN
a. Hubungan seksual dan usia
Karsinoma serviks diperkirakan sebagai penyakit yang ditularkan secara
seksual.Beberapa bukti menunjukkan adanya hubungan antara riwayat
hubungan seksual dan risiko penyakit ini.
Sesuai dengan etiologi infeksinya, wanita dengan partner seksual yang
banyak dan wanita yang memulai hubungan seksual pada usia muda akan
meningkatkan risiko terkena kanker serviks. Karena sel kolumnar serviks
lebih peka terhadap metaplasia selama usia dewasa maka wanita yang
berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun akan berisiko terkena kanker
serviks lima kali lipat. Keduanya, baik usia saat pertama berhubungan
maupun jumlah partner seksual, adalah faktor risiko kuat untuk terjadinya
kanker serviks.
b. Karakteristik partner
Sirkumsisi pernah dipertimbangkan menjadi faktor pelindung, tetapi
sekarang hanya dihubungkan dengan penurunan faktor risiko.Studi kasus
kontrol menunjukkan bahwa pasien dengan kanker serviks lebih sering
menjalani seks aktif dengan partner yang melakukan seks berulang kali.
Selain itu, partner dari pria dengan kanker penis atau partner dari pria yang
istrinya meninggal terkena kanker serviks juga akan meningkatkan risiko
kanker serviks.
c. Riwayat ginekologis
Walaupun usia menarke atau menopause tidak mempengaruhi risiko
kanker serviks, hamil di usia muda dan jumlah kehamilan atau manajemen
persalinan yang tidak tepat dapat pula meningkatkan risiko.
d. Dietilstilbesterol
Hubungan antara clear cell adenocarcinoma serviks dan paparan DES
in utero telah dibuktikan.
e. Agen infeksius
Mutagen pada umumnya berasal dari agen-agen yang ditularkan
melalui hubungan seksual seperti Human Papilloma Virus (HPV) dan
Herpes Simpleks Virus Tipe 2 (HSV 2) (Benedet 1998; Nuranna 2005).
f. Virus Herpes Simpleks
Walaupun semua virus herpes simpleks tipe 2 (HPV-2) belum
didemonstrasikan pada sel tumor, teknik hibridisasi insitu telah
menunjukkan bahwa terdapat HSV RNA spesifik pada sampel jaringan
wanita dengan displasia serviks. DNA sekuens juga telah diidentifikasi pada
sel tumor dengan menggunakan DNA rekombinan. Diperkirakan, 90%
pasien dengan kanker serviks invasif dan lebih dari 60% pasien dengan
neoplasia intraepitelial serviks (CIN) mempunyai antibodi terhadap virus.
g. Merokok
Saat ini terdapat data yang mendukung bahwa rokok sebagai penyebab
kanker serviks dan hubungan antara merokok dengan kanker sel skuamosa
pada serviks (bukan adenoskuamosa atau adenokarsinoma).Mekanisme
kerja bisa langsung (aktivitas mutasi mukus serviks telah ditunjukkan pada
perokok) atau melalui efek imunosupresif dari merokok.Bahan karsinogenik
spesifik dari tembakau dapat dijumpai dalam lendir dari mulut rahim pada
wanita perokok.Bahan karsinogenik ini dapat merusak DNA sel epitel
skuamosa dan bersama infeksi HPV dapat mencetuskan transformasi
keganasan.

FAKTOR RESIKO YANG DIPERKIRAKAN


a. Kontrasepsi oral
Risiko noninvasif dan invasif kanker serviks telah menunjukkan
hubungan dengan kontrasepsi oral.Bagaimanapun, penemuan ini hasilnya
tidak selalu konsisten dan tidak semua studi dapat membenarkan perkiraan
risiko dengan mengontrol pengaruh kegiatan seksual.Beberapa studi gagal
dalam menunjukkan beberapa hubungan dari salah satu studi, bahkan
melaporkan proteksi terhadap penyakit yang invasif. Hubungan yang
terakhir ini mungkin palsu dan menunjukkan deteksi adanya bias karena
peningkatan skrining terhadap pengguna kontrasepsi. Beberapa studi lebih
lanjut kemudian memerlukan konfirmasi atau menyangkal observasi ini
mengenai kontrasepsi oral.
b. Diet
Diet rendah karotenoid dan defisiensi asam folat juga dimasukkan
dalam faktor risiko kanker serviks. Dimana defisiensi asam folat dapat
meningkatkan resiko terjadinya dysplasia ringan dan sedang, serta mungkin
meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks pada wanita yang
makanannya rendah beta karoten (vitamin C dan vitamin E) dan retinol
(vitamin A)
c. Etnis dan faktor social
Wanita di kelas sosioekonomi yang paling rendah memiliki faktor risiko
lima kali lebih besar daripada wanita di kelas yang paling tinggi. Hubungan
ini mungkin dikacaukan oleh hubungan seksual dan akses ke sistem
pelayanan kesehatan. Di Amerika Serikat, ras negro, hispanik, dan wanita
Asia memiliki insiden kanker serviks yang lebih tinggi daripada wanita ras
kulit putih. Perbedaan ini mungkin mencerminkan pengaruh sosioekonomi.
d. Pekerjaan
Sekarang ini, ketertarikan difokuskan pada pria yang pasangannya
menderita kanker serviks.Diperkirakan bahwa paparan bahan tertentu dari
suatu pekerjaan (debu, logam, bahan kimia, tar, atau oli mesin) dapat
menjadi faktor risiko kanker serviks.

6. Patofisiologi
Terlampir

7. Manifestasi Klinis
Perubahan prekanker pada serviks biasanya tidak menimbulkan gejala dan
perubahan ini tidak terdeteksi kecuali jika wanita tersebut menjalani pemeriksaan
panggul dan Pap smear.Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang
abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan di sekitarnya.
Pada saat ini akan timbul gejala berikut:
o Perdarahan vagina yang abnormal, terutama diantara 2 menstruasi, setelah
melakukan hubungan seksual dan setelah menopause
o Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak)
o Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna pink, coklat,
mengandung darah atau hitam serta berbau busuk.
Gejala dari kanker serviks stadium lanjut:
o Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan
o Nyeri panggul, punggung atau tungkai
o Dari vagina keluar air kemih atau tinja
o Patah tulang (fraktur).

8. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan berikut:
1. Pap smear
Pap smear dapat mendeteksi sampai 90% kasus kanker serviks secara
akurat dan dengan biaya yang tidak terlalu mahal.Setiap wanita yang telah aktif
secara seksual atau usianya telah mencapai 18 tahun, sebaiknya menjalani Pap
smear secara teratur yaitu 1 kali/tahun.Jika selama 3 kali berturut-turut
menunjukkan hasil yang normal, Pap smear bisa dilakukan 1 kali/2-3tahun. Hasil
pemeriksaan Pap smear menunjukkan stadium dari kanker serviks:
o Normal
o Displasia ringan (perubahan dini yang
belum bersifat ganas)
o Displasia berat (perubahan lanjut yang
belum bersifat ganas)
o Karsinoma in situ (kanker yang terbatas
pada lapisan serviks paling luar)
o Kanker invasif (kanker telah menyebar ke
lapisan serviks yang lebih dalam atau ke
organ tubuh lainnya).
2. Biopsi
Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan
panggul tampak suatu pertumbuhan atau luka pada serviks, atau jika Pap
smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker.
3. Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)
4. Tes Schiller
Serviks diolesi dengan larutan yodium, sel yang sehat warnanya akan berubah
menjadi coklat, sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau
kuning.
Untuk membantu menentukan stadium kanker, dilakukan beberapa pemeriksan
berikut:
o Sistoskopi - Sigmoidoskopi

o Rontgen dada - Skening tulang dan hati


o Urografi intravena - Barium enema.
5. Tes IVA
Tes visual dengan menggunakan larutan asam cuka (asam asetat 2%) dan
larutan iosium lugol pada serviks untuk melihat perubahan warna yang terjadi
setelah dilakukan olesan.Tujuannya untuk melihat adanya sel yang mengalami
dysplasia.IVA memiliki sensitivitas sampai 96% dan spesifisitas 97%, sehingga
dapat menjadi salah satu metode skrining yang efektif untuk kanker serviks.
9. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan lesi prekanker pada serviks tergantung kepada beberapa faktor
berikut:
o Tingkatan lesi (apakah tingkat rendah atau tingkat tinggi)
o Rencana penderita untuk hamil lagi
o Usia dan keadaan umum penderita.
Lesi tingkat rendah biasanya tidak memerlukan pengobatan lebih lanjut,
terutama jika daerah yang abnormal seluruhnya telah diangkat pada waktu
pemeriksaan biopsi.Tetapi penderita harus menjalani pemeriksaan Pap smear dan
pemeriksaan panggul secara rutin.
Pengobatan pada lesi prekanker bisa berupa:
 Kriosurgeri (pembekuan)
 Kauterisasi (pembakaran, juga disebut diatermi)
 Pembedahan laser untuk menghancurkan sel-sel yang abnormal tanpa
melukai jaringan yang sehat di sekitarnya
 LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau konisasi.
Setelah menjalani pengobatan, penderita mungkin akan merasakan kram
atau nyeri lainnya, perdarahan maupun keluarnya cairan encer dari vagina.
Pada beberapa kasus, mungkin perlu dilakukan histerektomi (pengangkatan
rahim), terutama jika sel-sel abnormal ditemukan di dalam lubang
serviks.Histerektomi dilakukan jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil
lagi.

Pengobatan untuk kanker serviks


Pemilihan pengobatan untuk kanker serviks tergantung kepada lokasi dan
ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita dan rencana
penderita untuk hamil lagi.
1. Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling
luar), seluruh kanker seringkali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah
ataupun melalui LEEP. Dengan pengobatan tersebut, penderita masih bisa
memiliki anak. Karena kanker bisa kembali kambuh, dianjurkan untuk
menjalani pemeriksaan ulang dan Pap smear setiap 3 bulan selama 1 tahun
pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika penderita tidak memiliki rencana
untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani histerektomi. Pada kanker invasif,
dilakukan histerektomi dan pengangkatan struktur di sekitarnya (prosedur ini
disebut histerektomi radikal) serta kelenjar getah bening. Pada wanita muda,
ovarium (indung telur) yang normal dan masih berfungsi tidak diangkat.
Operasi
 Operasi Wentheim dan limfatektomi untuk stadium I dan II
 Operasi Schauta, histerektomi vagina yang radikal

2. Terapi penyinaran
Terapi penyinaran (radioterapi) efektif untuk mengobati kanker invasif yang
masih terbatas pada daerah panggul.Pada radioterapi digunakan sinar
berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan
pertumbuhannya.
Ada 2 macam radioterapi:
 Radiasi eksternal : sinar berasar dari sebuah mesin besar
Penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit, penyinaran biasanya dilakukan
sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6 minggu.
 Radiasi internal : zat radioaktif terdapat di dalam sebuah kapsul dimasukkan
langsung ke dalam serviks.
Komplikasi radiasi
 Kerentanan kandungan kencing
 Diarrhea
 Perdarahan rectal
 Fistula vesico atau rectovaginalis
Kapsul ini dibiarkan selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat di rumah
sakit.Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1-2 minggu.
Efek samping dari terapi penyinaran adalah:
o iritasi rektum dan vagina
o kerusakan kandung kemih dan rektum
o ovarium berhenti berfungsi.
3. Kemoterapi
Jika kanker telah menyebar ke luar panggul, kadang dianjurkan untuk
menjalani kemoterapi.Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk
membunuh sel-sel kanker.
Obat anti-kanker bisa diberikan melalui suntikan intravena atau melalui
mulut.Kemoterapi diberikan dalam suatu siklus, artinya suatu periode
pengobatan diselingi dengan periode pemulihan, lalu dilakukan pengobatan,
diselingi dengan pemulihan, begitu seterusnya.
Tujuan pengobatan kemoterapi tegantung pada jenis kanker dan fasenya
saat didiag nosis.Beberapa kanker mempunyai penyembuhan yang dapat
diperkirakan atau dapat sembuh dengan pengobatan kemoterapi. Dalam hal
lain, pengobatan mungkin hanya diberikan untuk mencegah kanker yang
kambuh, ini disebut pengobatan adjuvant. Dalam beberapa kasus, kemoterapi
diberikan untuk mengontrol penyakit dalam periode waktu yang lama
walaupun tidak mungkin sembuh.Jika kanker menyebar luas dan dalam fase
akhir, kemoterapi digunakan sebagai paliatif untuk memberikan kualitas hidup
yang lebih baik.
Kemoterapi secara kombinasi telah digunakan untuk penyakit metastase
karena terapi dengan agen-agen dosis tunggal belum memberikan
keuntungan yang memuaskan. Contoh obat yang digunakan pada kasus
kanker serviks antara lain CAP (Cyclophopamide Adrem ycin Platamin), PVB
(Platamin Veble Bleomycin) dan lain –lain
4. Terapi biologis
Pada terapi biologis digunakan zat-zat untuk memperbaiki sistem kekebalan
tubuh dalam melawan penyakit.Terapi biologis dilakukan pada kanker yang
telah menyebar ke bagian tubuh lainnya.Yang paling sering digunakan adalah
interferon, yang bisa dikombinasikan dengan kemoterapi.
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Data pasien :
Identitas pasien, usia, status perkawinan, pekerjaan jumlah anak, agama,
alamat jenis kelamin dan pendidikan terakhir.
2. Keluhan utama: pasien biasanya datang dengan keluhan intra servikal dan
disertai keputihan menyerupai air.
3. Riwayat penyakit sekarang :
Biasanya klien pada stadium awal tidak merasakan keluhan yang
mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul
keluhan seperti : perdarahan, keputihan dan rasa nyeri intra servikal.
4. Riwayat penyakit sebelumnya :
Data yang perlu dikaji adalah:
Riwayat abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat operasi
kandungan, serta adanya tumor.
5. Riwayat keluarga yang menderita kanker.
6. Keadaan Psiko-sosial-ekonomi dan budaya:
7. Ca. Serviks sering dijumpai pada kelompok sosial ekonomi yang rendah,
berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitas makanan atau gizi yang dapat
mempengaruhi imunitas tubuh, serta tingkat personal hygiene terutama
kebersihan dari saluran urogenital.
8. Data khusus:
1. Riwayat kebidanan; paritas, kelainan menstruasi, lama,jumlah dan
warna darah, adakah hubungan perdarahan dengan aktifitas, apakah
darah keluar setelah koitus, pekerjaan yang dilakukan sekarang
2. Pemeriksaan penunjang
Sitologi dengan cara pemeriksaan Pap Smear, kolposkopi, servikografi,
pemeriksaan visual langsung, gineskopi.

POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI


Aktivitas dan istirahat
Gejala:
- Kelemahan atau keletihan akibat anemia
- Perubahan pada pola istirahat dan kebiasaan tidur pada malam hari
- Adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas dan
keringat malam
- Pekerjaan atau profesi dengan penajaman karsinogen lingkungan dan tingkat
stres tinggi

Integritas ego
Gejala: faktor stres, merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan,
keyakinan religius atau spiritual, masalah tentang lesi cacat, pembedahan,
menyangkal diagnosis dan perasaan putus asa.

Eliminasi
Pengkajian meliputi: perubahan pada pola defekasi, perubahan eliminasi urinalis,
misalnya nyeri.

Makanan dan minuman


Kebiasaan yang muncul biasanya terdapat kebiasaan diet yang buruk.

Neurosensori
Gejala: pusing, sinkope.

Nyeri atau kenyamanan


Gejala: adanya nyeri dengan derajat yang bervariasi (ringan-sedang-berat).

Seksualitas
Gejala: perubahan pada pola respon seksual, keputihan (jumlah, karakteristik,
bau), perdarahan sehabis senggama.
PEMERIKSAAN FISIK
a. Rambut: rontok karena efek kemoterapi
b. Conjunctiva: anemis, ikterik
c. Wajah: pucat
d. Abdomen: distensi
e. Vagina: keputihan berbau, warna merah, perdarahan merah tua, berbau dan
kental
f. Serviks: terdapat nodul
PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium: Hb turun, leukosit meningkat, trombosit meningkat.
b. Patologi anatomi: untuk memeriksa keganasan
c. Pemeriksaan diagnostic: Pap smear, kalposkopi, IVA
(Doengoes, 2000)

B. Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan perfusi jaringan (anemia) b/d perdarahan intraservikal
2) Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra
servikal
3) Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d mual
4) Cemas b.d terdiagnose c.a serviks sekunder akibat kurangnya
pengetahuan tentang Ca. Serviks dan pengobatannya.

C. Intervensi Keperawatan
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d perdarahan cervikal
Tujuan:Setelah diberikan perawatan selama 1 X 24 jam diharapkan perfusi
jaringan membaik
Kriteria hasil:
a. Warna kulit, konjunctiva tidak pucat
b. Mukosa bibir basah dan kemerahan
c. Ektremitas hangat, tidak sianosis, CRT < 3 detik
d. Hb 11-15 gr %
e. Tanda vital 110-130 / 70 - 80 mm Hg, Nadi : 60 - 100 X/mnt, S : 36-370C,
RR : 16 - 20 X/mnt

Intervensi:
Intervensi Rasional
1. Awasi tanda-tanda vital, kaji 1. Indicator keadekuatan perfusi
pengisian kapiler, warna kulit, sistemik dan kebutuhan
membrane mukosa, dasar kuku cairan/darah
2. Inspeksi pembalut perineal,
perhatikan warna, jumlah, dan 2. Perkiraan kehilangan darah, serta
bau. Timbang pembalut dan menentukan kebutuhan
bandingkan dengan berat penggantian darah atau cairan
kering, bila pasien mengalami
perdarah hebat
3. Tinggikan kepala tempat tidur 3. Meningkatkan ekspansi paru dan
sesuai indikasi memaksimalkan oksigenasi untuk
kebutuhan seluler. Catatan:
kontraindikasi bila ada hipotensi
4. Kaji untuk respon verbal 4. Dapat mengindikasikan gangguan
melambat, mudah terangsang, fungsi serebral karena hipoksia
agitasi, bingung 5. Vasokonstriksi menurunkan
5. Catat keluhan rasa dingin, sirkulasi perifer.
pertahankan suhu lingkungan
dan tubuh hangat

Kolaborasi 6. Mengidentifikasi defisiensi dan


6. Awasi pemeriksaan kebutuhan pengobatan/respon
laboratorium, misalnya: Hb/Ht terhadap terapi
dan jumlah SDM, GDA
7. Menggantikan kehilangan darah,
7. Berikan cairan IV dan transfuse mempertahankan volume sirkulasi
PRC sesuai indikasi. Awasi dan perfusi jaringan
terjadinya komplikasi atau efek
transfusi

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d sensasi


mual
Tujuan: Setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam, kebutuhan nutrisi klien
terpenuhi
Kriteria hasil:
a. Tidak terjadi penurunan berat badan
b. Porsi makan yang disediakan habis.
c. Keluhan mual dan muntah berkurang

Intervensi:
Intervensi Rasional
1. Kaji riwayat nutrisi, termasuk 1. Mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
makanan yag disukai klien, menduga kemungkinan
intervensi
2. Observasi dan catat masukan
makanan 2. Mengawasi masukan kalori atau
kualitas kekurangan konsumsi
3. Timbang berat badan tiap hari makanan

3. Mengawasi penurunan berat


4. Observasi dan catat keluhan badan atau efektifitas intervensi
mual/muntah, flatus dan gejala
lain yang berhubungan 4. Gejala GI dapat menunjukkan efek
anemia pada organ
5. Berikan makanan sedikit tapi
sering 5. Makan sedikit dapat menurunkan
kelemahan dan meningkatkan
pemasukan juga mencegah
Kolaborasi distensi gaster
6. Konsul dengan ahli gizi
6. Membantu dalam membuat
rencana diet untuk memenuhi
7. Berikan diet halus, menghindari kebutuhan
makanan panas, pedas atau
terlalu asam sesuai indikasi 7. Menghindarkan klien dari makanan
yang bisa meningkatkan asam
8. Berikan suplemen nutrisi, misal: lambung
ensure, isocal

8. Meningkatkan masukan protein


dan kalori

3. Nyeri b.d proses desakan pada jaringan intra servikal


Tujuan: Setelah dilakukan tindakan 1 X 24 jam, nyeri berkurang
Kriteria hasil:
a. Klien dapat menyebutkan cara-cara mengurangi nyeri yang dirasakan
b. Klien mengungkapkan nyeri berkurang
c. Ekpresi muka dan tubuh rileks
Intervensi:
Intervensi Rasional
1. Tentukan riwayat nyeri, misal: 1. Menentukan intervensi yang tepat
lokasi nyeri, frekuensi, durasi, untuk menurunkan nyeri
dan intensitas (skala 0-10)
2. Ajarkan teknik relaksasi nafas 2. Meningkatkan relaksasi otot dan
dalam dan distraksi meningkatkan rasa kontrol
3. Pertahankan tirah baring bila 3. Pasien dengan nyeri tidak
diindikasikan. terkontrol bisa menyebabkan
4. Berikan kompres hangat. resiko jatuh
4. Meningkatkan sirkulasi pada otot
kolaborasi untuk relaksasi dan mengurangi
5. Berikan obat sesuai indikasi ketegangan

5. Mengurangi nyeri, dan


meningkatkan kenyamanan

4. Resiko infeksi b.d pembedahan


Tujuan:Setelah diberikan tindakan selama 3 x 24 jam resiko infeksi dapat
dihindari.
Kriteria hasil:
a. Tidak ada tanda-tanda infeksi(rubor, kalor, dolor, tumor dan
fungsiolaesa),
b. Luka sembuh tepat waktu tanpa komplikasi

Intervensi:
Intervensi Rasional
1. Menjaga kebersihan sekitar 1. Mencegah kontaminasi
luka dan lingkungan klien, silang/penyebaran organisme
rawat luka dengan teknik infeksius.
aseptic
2. Monitor tanda-tanda infeksi 2. Mengetahui ada atau tidak tanda-
pada daerah luka tanda infeksi
3. Anjurkan klien untuk mobilisasi 3. Untuk mempercepat penyembuhan
fisik secara aktif luka
4. Kolaborasi dengan medis
untuk memberikan antibiotik 4. Mencegah infeksi

5. Gangguan integritas kulit b.d tindakan pembedahan


Tujuan: setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam,
integritas kulit dapat dipertahankan
Kriteria hasil:
- Kulit bersih, tidak ada tanda-tanda infeksi, proses penyembuhan luka
tepat waktu

Intervensi:
Intervensi Rasional
1. Jaga kebersihan kulit 1. Mencegah transmisi
2. Pertahankan hidrasi adekuat mikroorganism
3. Kaji kulit terhadap efek 2. Elastisitas kulit tetap terjaga
samping kanker 3. Efek merah, gatal-gatal dapat
4. Jelaskan pada pasien untuk terjadi di area luka
tidak menggaruk 4. Mencegah iritasi
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito L. J. 2001. Diagnosa keperawatan. Jakarta: EGC


Doengoes, M E. 2000.Rencana Askep pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC
Melva. 2008. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Kanker Leher Rahim
pada Penderita yang Datang Berobat di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun
2008. Medan: Sekolah Pascasarjana Universitas
Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC
Rasjidi, Imam. 2009. Epidemiologi Kanker Serviks. Indonesian Journal of Cancer
Vol. III, No.3.
Winkjosastro, Hanifa. 2005.Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo