Anda di halaman 1dari 15

PERENCANAAN SSC DAN DA PADA IPLT

Oleh:
Joni Hermana
Jurusan Teknik Lingkungan ITS, Surabaya-60111

1. Umum
Lumpur tinja pada prinsipnya berasal dari akumulasi residu mikroorganisma yang
dihasilkan dari penguraian limbah tinja (black water) dalam septic tank yang
berlangsung selama 2 – 5 tahun, sesuai dengan umur perencanaannya. Karakteristik
lumpur tinja ini berbeda dengan lumpur yang berasal dari IPAL umumnya, karena
komposisi bahan organik yang terkandung di dalamnya adalah bukan berasal dari
pencemar organik yang berasal dari air limbah yang belum terolah, tetapi utamanya
berasal dari mikroorganisma sendiri yang dalam hal ini direpresentasikan sebagai TVSS
(total volatile suspended solids). Sebagian besar mikroorganisma yang berada dalam
septic tank telah mengalami proses pencernaan (digestion) melalui fase endogenous
karena tertumpuk secara permanen di dalam bak septic tank. Artinya lumpur yang
berada di bagian bawah septic tank telah mengalami proses stabilisasi/mineralisasi
secara anaerobic yang diakibatkan oleh (1) tidak adanya mekanisme pengadukan dalam
septic tank sehingga mikroorganisma yang berada dalam dasar bak septic tank tidak
akan mampu mendapatkan makanan segar (black water), (2) terjadinya proses
endogenous, dalam hal ini mikroorganisma menguraikan cadangan organik dirinya
sehingga mengalami penyusutan dalam volume serta terjadi proses konversi dari
organik menjadi anorganik (mineralisasi).

Karena itu, pengolahan lumpur tinja lebih fokus pada upaya:


1. Memisahkan air limbah (zat padat terlarut, dissolved solids atau TDS) dari
padatannya (zat padat tersuspensi atau TSS), agar cairan yang masih
mengandung bahan pencemar organik dapat diolah secara khusus dengan
menggunakan sistem pengolahan air limbah.

1
2. Melakukan pengolahan pada padatan (TSS) yang berhasil dipisahkan, dengan
cara mengupayakan agar padataan yang mayoritas terdiri dari mikroorganisma
yang sedang mengalami mineralisasi aman dibuang ke lingkungan.

Secara teknis, proses stabilisasi padatan yang mengandung banyak mikroorganisma


dapat dilakukan dengan berbagai alternatif. Mikroorganisma akan mengalami kematian
akibat (Gambar 1):
1. Suhu yang tinggi, melalui pemanasan agar mikroorganisma tidak mampu
bertahan
2. Waktu yang cukup lama untuk membiarkan mikroorganisma tanpa makanan,
disebut juga proses pengeraman (digestion)
3. Ultraviolet, yang berasal dari sinar matahari, apabila terpapar cukup lama akan
menyebabkan kematian mikroorganisma
4. Kekeringan/kelembaban, pengaturan kadar air dalam padatan akan
mempengaruhi kemampuan survival mikroorganisma.
Total Biomassa

Waktu

Gambar 1. Tingkat survival mikroorganisma dalam perjalanan waktu

Selama ini proses yang paling banyak digunakan untuk menstabilisasi padatan adalah
dengan proses no. 2 yaitu pengeraman (digestion), caranya dilakukan dengan
menggunakan Tanki Imhoff. Tanki Imhoff merupakan reaktor yang berfungsi ganda.
Bagian atas reaktor berfungsi sebagai pemisah antara padatan (TSS) dan cairan (TDS)
dari lumpur tinja, sedangkan bagian bawah tanki berfungsi sebagai pengeram lumpur

2
yang telah berhasil dipisahkan. Alternatif proses lainnya jarang digunakan karena
berbagai alasan. Misalnya untuk pengaturan suhu sulit untuk dipraktekkan karena
kebutuhan energi untuk pembakaran yang jelas tidak akan ekonomis disamping
diperlukan konstruksi pemanasan yang tidak sederhana. Alternatif no 3 dan no 4
dianggap kurang estetis karena proses ini mengandalkan sinar matahari untuk
mendapatkan sinar ultra violet serta angin untuk mengeringkan padatan atau
mengurangi kelembaban padatan. Artinya, padatan ini harus dijemur atau dipaparkan
secara langsung dibawah sinar matahari dan diangin-angin. Walaupun lebih ekonomis
dan sederhana, pilihan ini tidak pernah diterapkan terutama pada daerah dengan 4
musim karena intensitas cahaya matahari yang terbatas dan durasinya tidak
berlangsung sepanjang tahun. Sementara untuk negara tropis seperti Indonesia, pilihan
alternatif 3 dan 4 adalah merupakan opsi yang sangat menarik untuk dipertimbangkan
karena kemudahan dalam pengoperasiannya.

Dengan berkaca pada pengalaman bahwa operator di Indonesia kesulitan dalam


memahami OM Tanki Imhoff, maka pada saat dilakukan rehabilitasi IPLT Kota Surabaya
tahun 1998-99, dilakukan perencanaan oleh ITS Surabaya dengan menggunakan
metoda proses alternatif 3 dan 4, yaitu proses penyinaran dan pengeringan sinar
matahari, dengan membangun SSC (Solids Separation Chamber) dan DA (Drying Area)
sebagai alternatif pengganti Tanki Imhoff. Metoda ini

2. Prinsip Kerja Proses SSC dan DA

Prinsip kerja SSC dan DA, sebagai alternatif pengganti Tanki Imhoff, sangat sederhana
karena hanya mengandalkan proses fisik untuk pemisahan padatan dari cairan
lumpurnya, serta proses sinar matahari untuk desinfeksi dan angin untuk proses
pengurangan kelembaban atau pengeringan.

- SSC (Solids Separation Chamber)


Fungsi: Memisahkan fraksi padatan (TSS) dari fraksi cairan dalam lumpur tinja,
secara fisik. Lumpur tinja yang dihamparkan secara merata di atas media SSC akan

3
mengalami pemisahan, antara padatan di bagian bawah dan cairan di bagian atas.
Disamping itu, sebagian carian dapat terpisah dari lumpur tinja melalui proses
perembasan media SSC sehingga kemudian dapat disalurkan bersama cairan yang
telah dipisahkan di bagian atas lumpur tinja, untuk diolah bersama lebih lanjut
dalam unit IPAL. Sementara padatan yang telah mengalami penirisan akan
dikeringkan lebih lanjut di unit DA. Padatan yang terakumulasi ini pada dasarnya
sudah cukup kering, karena dalam hal ini dipisahkan dalam waktu 5-10 hari tapi
belum cukup kering untuk diaplikasikan untuk pembuangan lingkungan.

- DA (Drying Area)
Drying area, merupakan proses pengeringan padatan lumpur yang sudah setengah
kering dan sekaligus proses desinfeksi mikroorganisma yang masih terkandung
dalam lumpur melalui sinar matahari (ultra violet). Proses pengeringan ini pada
dasarnya dihitung berdasarkan koefisien laju kematian mikroorganisma, yang
apabila dihitung berada pada kisaran

3. Kriteria Perencanaan
Seperti telah disinggung di atas, prinsip penggunaan SSC dan DA adalah sebagai
alternatif pengganti Tanki Imhoff, yang berfungsi sebagai pemisah padatan dan
sekaligus pengeringan dan desinfeksinya sehingga aman untuk dibuang ke lingkungan.
Rangkaian unit pengolahan IPLT di bawah ini adalah rangkaian contoh penggunaan SSC
dan DA dalam suatu IPLT (Gambar 2

4
Kolam Kolam Kolam
Anaerobik Fakultatif Anaerobik

Supernatan/carian

Lumpu SSC Badan Air Penerima


r Tinja
Endapan Padatan

Drying
Hanggar
Area Kompos

Gambar 2. Diagram aliran penggunaan SSC dan DA pada sebuah IPLT

3.1. Kriteria Perencanaan SSC


Perencanaan SSC idealnya dilakukan dengan menggunakan pendekatan empiris, artinya
melalui percobaan dengan menggunakan kolom pengendapan. Namun apabila tidak
memungkinkan, maka kriteria desain adalah sebagai berikut:
• Tebal lapisan pasir (cm): 20 – 30
• Tebal lapisan kerikil (cm): 20 – 30
• Waktu pengisian oleh truk tinja sekitar 5 hari, dengan tinggi lumpur tinja
di atas pasir 30 – 50 cm.
• Waktu pengeringan (hari): 5-12 (untuk pengendapan, penirisan, dekantasi
sampai tampak memadat dan cukup kering sehingga siap untuk
dipindahkan)

3.1.1. Contoh Perhitungan Perencanaan dan Skenario Operasional SSC


1. Misalkan Q desain lumpur tinja: 10 m3/hari;
2. Rencana pengisian lumpur tinja ke dalam bak SSC: 5 hari;
3. Rencana proses stabilisasi lumpur tinja yang terendapkan di dalam bak SSC selama
12 hari;
4. Rencana pengurasan/pengambilan lumpur terendapkan yang sudah menjadi cake
dari dalam bak SSC ke dalam bak Drying Area: 3 hari;

5
5. Dengan waktu tunggu selama 15 hari tersebut, maka dibutuhkan tambahan bak
SSC sebanyak 3 bak ekstra, sehingga total bak SSC adalah 4 bak. Perhitungannya
adalah 1 bak mengisi 5 hari, waktu operasional sampai bak kosong kembali perlu
15 hari, sehingga diperlukan 3 bak ekstra @ 5 hari untuk pengisian lumpur tinja
selama 15 hari. Sehingga bak SSC yang pertama akan kembali diisi dengan siklus
waktu 15 hari, atau setelah bak keempat terisi penuh.
6. Asumsi yang digunakan dalam menetapkan laju pengendapan lumpur tinja di
dalam SSC adalah 20%/hari, sehingga Q lumpur terendapkan di dalam SSC adalah
20% x 10 m3/hari = 2 m3/hari;
7. Dengan operasi waktu pengisian adalah 5 hari, maka volume endapan total dalam
SSC ini adalah 2 m3/hari x 5 hari = 10 m3. Apabila ketinggian maksimum endapan
lumpur adalah 50 cm, maka luas bak SSC adalah (10 m3/0,5m =) 20 m2.
8. Skema pengisian lumpur tinja dan debit lendapan di dalam SSC:
Hari ke-1: Pengisian lumpur tinja 10 m3/hari, 20% mengendap, jadi yang
terendapkan 2 m3/hari; tinggi endapan = 0,1 m
Hari ke-2: Pengisian lumpur tinja 10 m3/hari, 20% mengendap, jadi yang
terendapkan 4 m3/hari; tinggi endapan = 0,2 m
Hari ke-3: Pengisian lumpur tinja 10 m3/hari, 20% mengendap, jadi yang
terendapkan 6 m3/hari; tinggi endapan = 0,3 m
Hari ke-4: Pengisian lumpur tinja 10 m3/hari, 20% mengendap, jadi yang
terendapkan 8 m3/hari; tinggi endapan = 0,4 m
Hari ke-5: Pengisian lumpur tinja 10 m3/hari, 20% mengendap, jadi yang
terendapkan 10 m3/hari; tinggi endapan = 0,5 m
Jadi volume lumpur yang terendapkan dalam zone pengendapan SSC (di bagian
bawah bak SSC) selama 5 hari pengisian lumpur tinja ke dalam bak SSC adalah 10
m3 dan tinggi total endapan 0,5 m.

6
Tabel 1. Contoh operasional harian SSC pada IPLT

SSC Waktu (hari)


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
Bak 1:
Pengisian
Stabilisasi
Pengurasan
Bak 2:
Pengisian
Stabilisasi
Pengurasan
Bak 3:
Pengisian
Stabilisasi
Pengurasan
Bak 4:
Pengisian
Stabilisasi
Pengurasan

3.1.2. Hasil Perencanaan SSC


1. Jumlah bak SSC sebanyak 4 bak
2. Volume per bak SSC adalah 10 m 3, maka dimensi dari setiap bak SSC tersebut adalah
:
- Ketinggian supernatan : 0,5 m;
- Ketinggian lumpur terendapkan : 1,0 m;
- Ketebalan media : 0,25 m;
- Freeboard : 0,3 m;
- Kedalaman total: 2,05 m;
- Panjang : 6,75 m (luas permukaan = 20 m2);
- Lebar : 3,0 m.
- Agar proses pengumpulan cairan yang merembas dengan baik, maka
direncanakan panjang zona pengendapan : 2,5 m;
3. Zone pengendapan (settling zone) didesain dengan dasar turunan dengan
kemiringan sekitar 30o.

7
4. Beberapa unit pelengkap unit SSC:
• Zone inlet, berupa baffle 3 sekat yang dilengkapi dengan screen stainless steel
dan grease trap untuk proses skimming lemak/kotoran.
• Tangga untuk operasional pengambilan lumpur hasil pengeringan.
• Pintu air untuk pengurasan/pengambilan/pengaliran supernatan.
• Baffle untuk zone outlet sebagai penampung supernatan sebelum dialirkan ke
unit pengolahan biologi. Sebaiknya Baffle dibuat secara dinamis, agar dapat
diatur ketinggiannya untuk dapat melimpahkan supernatan sesuai dengan
ketinggian yang diperlukan.
• Atap penutup dari bahan polycarbonate untuk pelindung proses pengeringan
terutama pada saat musim hujan.

3.2.3. Gambar Contoh Perencanaan SSC


Denah dan potongan SSC pada IPLT dapat dilihat dalam Gambar 3.

8
9
10
Gambar 3. Denah dan Potongan SSC IPLT

11
3.2. Detail Perencanaan Drying Area
3.2.1. Kriteria Perencanaan DA
Perencanaan Drying Area dilakukan dengan menggunakan kriteria desain berikut:

Drying Area konvensional berbentuk persegi panjang

waktu pengeringan cake pd DA = 7 - 15 hari ≈ 7 hari

waktu pengambilan cake matang = 1 hari

ketebalan cake = 10 - 30 cm ≈ 12 cm

tebal lapisan pasir = 15 - 30 cm ≈ 20 cm

Kadar air (P) = 20 %

Kadar solid (Pi) = 80 %

3.2.2. Data Perencanaan


Vol. lumpur 5 hari pengisian SSC tiap bak SSC = 10,0 m3

Volume solid = 80 % x Volume lumpur

= 8,00 m3

Volume air = Volume lumpur - volume solid

= 2,00 m3
3.2.3. Hasil Perencanaan
Direncanakan 1 unit Drying Area menampung cake dari 2 bak SSC

Estimasi cake pada unit Drying Area (1 bed/1 bak)

Volume lumpur kering (cake) dari 1 SSC : 8.00 m3

Direncanakan ketebalan cake = 0.11 m

Maka kebutuhan lahan per bak drying area = 72.73 m2 ~ 73 m

Lebar bak = 5.00 m

Panjang bak = 14.60 m ~ 15 m

Freeboard = 0.10 m
1 Unit Drying Area direncanakan terdiri dari 2 bak supaya dapat dilakukan operasional secara
bergantian

12
3.2.4. Gambar Perencanaan
Denah dan potongan Drying Area IPLT dapat dilihat dalam Gambar 4.

13
14
Gambar 4. Denah dan Potongan Drying Area IPLT

15