Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Penyakit HIV/AIDS merupakan penyakit yang sudah lama muncul dan
merupakan penyakit yang penularannya sangat cepat. Karena kecepatannya,
penyakit ini sudah menjangkiti seluruh negara di dunia khususnya negara
berkembang. Oleh karena itu badan khusus kesehatan dunia WHO (World
Health Organization) mengadakan deklarasi UNGASS (United Nation
General Assembly Special Session) yang menghasilkan sebuah program
bahwa tiap Negara harus memperhatikan proses perawatan yang komprehensif
dalam perawatan keluarga termasuk dalam penyediaan pelayanan kesehatan
dan memantau pengobatan HIV/AIDS. Selain itu WHO juga bekerjasama
dengan UNAIDS (United Nation Joint Programme on HIV AIDS) untuk
menyediakan obat antiretroviral bagi seluruh penduduk di Negara berkembang
dan kemungkinan dua kali lipat di negara miskin (cit Dedy, 2006).
Kasus pertama AIDS dilaporkan pada tahun 1981 di California, sedangkan
penyebabnya baru ditemukan pada akhir 1984 oleh Robert Gallo dan Luc
Montagner (Sudoyo, 2006).
Menurut data Family Health International (FHI), presentase yang
memiliki resiko tinggi terjangkit HIV/AIDS di Indonesia antara lain,
pengguna narkoba (34%), WPS (Wanita Penjaja Seks) (7%), pelanggan WPS
(31%), partner group berisiko tinggi (12%), waria (1%), gay (8%), dan lain-
lain (7%). Jika terus berlanjut, maka diperkirakan pada tahun 2020 jumlah itu
akan meningkat menjadi 2,3 juta orang, 46 persen di antaranya adalah
pengguna narkoba suntik. Oleh karena itu, masyarakat dan pemerintah
Indonesia perlu bekerja sama melakukan penanganan secara cepat,
membangun dan mengelola sistem jangka panjang, serta memperbaiki sistem
pelayanan kesehatan dan distribusi yang lemah. Perawat sebagai mitra bagi
dokter dan tenaga kesehatan lainnya perlu memiliki pengetahuan tentang
HIV/AIDS dan penatalaksanaannya sebagai bentuk tuntutan masyarakat agar

1
penderita dan penyebaran HIV/AIDS dapat tertangani secara komprehensif
(Depkes, 2008).

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa definisi HIV/AIDS ?
2. Bagaimana Etiologi HIV/AIDS ?
3. Bagaimana patofisiologi virus HIV ?
4. Bagaimana manifestasi klinik penyakit HIV/AIDS?
5. Apa saja yang menjadi komplikasi HIV/AIDS ?
6. Bagaimana pemeriksaan penunjang HIV/AIDS?
7. Bagaimana tata laksana HIV/AIDS ?

1.3 TUJUAN
Tujuan penulisan dari makalah ini untuk memenuhi salah satu syarat penilaian
mata kuliah Ilmu Penyakit Dalam dan membantu mahasiswa dan pembaca
untuk memahami HIV/AIDS dan mempelajari lebih dalam tentang penyakit
HIV/AIDS melalui pendekatan proses keperawatan secara komprehensif.

2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP TEORI HIV/AIDS


2.1 DEFENISI HIV/AIDS
Human immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang dapat
menyebabkan Aids. Virus ini ditemukan oleh seorang ilmuan perancis,
Montagnier (Institute Pasteur, Paris 1983), yang mengisolasi virus dari seorang
penderita dengan gejala limfadenopati, sehingga pada waktu itu dinamakan
Lymphadenophaty Associated Virus (LAV) (Tjokronegoro,2003). HIV adalah
golongan virus retro, yaitu virus yang memasukkan materi genetik kedalam sel
tuan rumah ketika terinfeksi dengan cara yang berbeda (retro), yaitu RNA menjadi
DNA dan kemudian menyatu kedalam sel DNA, membentuk pro-virus dan
melakukan replikasi (Riono, 1999)
Acquired immune deficiency Syndrome (AIDS) suatu penyakit retrovirus
yang disebabkan oleh HIV dan ditandai dengan imunosupresi bera yang
menimbulkan infeksi oportunistik, neoplasma sekunder dan manifestasi
neurologgis (Vinay Kumar, 2007). HIV telah ditetapkan menjadi agen penyakit
Acquired immune Deficiency syndrome (AIDS).
HIV adalah jenis parasit obligat yaitu virus yang hanya dapat hidup dalam
sel atau media hidup. Seorang pengidap HIV lambat laun akan jatuh ke dalam
kondisi AIDS, apalagi tanpa pengobatan. Umumnya keadaan AIDS ini ditandai
dengan adanya berbagai infeksi baik akibat virus, bakteri, parasit maupun jamur.
Keadaan infeksi ini yang dikenal dengan infeksi oportunistik (Zein, 2006).

2.2 Etiologi dan Patogenesis


Human Immunodeficiency Virus (HIV) dianggap sebagai virus penyebab
AIDS. Virus ini termaksuk dalam retrovirus anggota subfamili lentivirinae. Ciri
khas morfologi yang unik dari HIV adalah adanya nukleoid yang berbentuk
silindris dalam virion matur. Virus ini mengandung 3 gen yang dibutuhkan untuk
replikasi retrovirus yaitu gag, pol, env. Terdapat lebih dari 6 gen tambahan

3
pengatur ekspresi virus yang penting dalam patogenesis penyakit. Satu protein
replikasi fase awal yaitu protein Tat, berfungsi dalam transaktivasi dimana produk
gen virus terlibat dalam aktivasi transkripsional dari gen virus lainnya.
Transaktivasi pada HIV sangat efisien untuk menentukan virulensi dari infeksi
HIV. Protein Rev dibutuhkan untuk ekspresi protein struktural virus. Rev
membantu keluarnya transkrip virus yang terlepas dari nukleus. Protein Nef
menginduksi produksi khemokin oleh makrofag, yang dapat menginfeksi sel yang
lain (Brooks, 2005).

Gambar 2.1. Struktur anatomi HIV (TeenAIDS, 2008).


Gen HIV-ENV memberikan kode pada sebuah protein 160-kilodalton (kD)
yang kemudian membelah menjadi bagian 120-kD(eksternal) dan 41-kD
(transmembranosa). Keduanya merupakan glikosilat, glikoprotein 120 yang
berikatan dengan CD4 dan mempunyai peran yang sangat penting dalam
membantu perlekatan virus dangan sel target (Borucki, 1997).
Setelah virus masuk dalam tubuh maka target utamanya adalah limfosit
CD4 karena virus mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4. Virus

4
ini mempunyai kemampuan untuk mentransfer informasi genetik mereka dari
RNA ke DNA dengan menggunakan enzim yang disebut reverse transcriptase.
Limfosit CD4 berfungsi mengkoordinasikan sejumlah fungsi imunologis yang
penting. Hilangnya fungsi tersebut menyebabkan gangguan respon imun yang
progresif (Borucki, 1997).
Setelah infeksi primer, terdapat 4-11 hari masa antara infeksi mukosa dan
viremia permulaan yang dapat dideteksi selama 8-12 minggu. Selama masa ini,
virus tersebar luas ke seluruh tubuh dan mencapai organ limfoid. Pada tahap ini
telah terjadi penurunan jumlah sel-T CD4. Respon imun terhadap HIV terjadi 1
minggu sampai 3 bulan setelah infeksi, viremia plasma menurun, dan level sel
CD4 kembali meningkat namun tidak mampu menyingkirkan infeksi secara
sempurna. Masa laten klinis ini bisa berlangsung selama 10 tahun. Selama masa
ini akan terjadi replikasi virus yang meningkat. Diperkirakan sekitar 10 milyar
partikel HIV dihasilkan dan dihancurkan setiap harinya. Waktu paruh virus dalam
plasma adalah sekitar 6 jam, dan siklus hidup virus rata-rata 2,6 hari. Limfosit T-
CD4 yang terinfeksi memiliki waktu paruh 1,6 hari. Karena cepatnya proliferasi
virus ini dan angka kesalahan reverse transcriptase HIV yang berikatan,
diperkirakan bahwa setiap nukleotida dari genom HIV mungkin bermutasi dalam
basis harian (Brooks, 2005).
Akhirnya pasien akan menderita gejala-gejala konstitusional dan penyakit
klinis yang nyata seperti infeksi oportunistik atau neoplasma. Level virus yang
lebih tinggi dapat terdeteksi dalam plasma selama tahap infeksi yang lebih lanjut.
HIV yang dapat terdeteksi dalam plasma selama tahap infeksi yang lebih lanjut
dan lebih virulin daripada yang ditemukan pada awal infeksi (Brooks, 2005).
Infeksi oportunistik dapat terjadi karena para pengidap HIV terjadi
penurunan daya tahan tubuh sampai pada tingkat yang sangat rendah, sehingga
beberapa jenis mikroorganisme dapat menyerang bagian-bagian tubuh tertentu.
Bahkan mikroorganisme yang selama ini komensal bisa jadi ganas dan
menimbulkan penyakit (Zein, 2006).

5
2.3 Patofisiologi
HIV masuk kedalam tubuh
Menginfeksi sel yg mempunyai molekul CO4
(limfosit T4, Monosit, Sel dendrit, Sel Langerhans)
Mengikat molekul CO4
Memiliki sel target dan memproduksi virus
Sel Limfosit T4 hancur
Imunitas tubuh menurun
Infeksi Opurtunistik

Sistem Pernafasan Sistem Pencernaan Sistem Integumen Sistem Neurologis


Peradangan pd infeksi Peristaltik Peradangan Kulit Infeksi Ssp
Jaringan paru jamur Diare Kronis Timbul Lesi Bercak kesadaran,
Putih kejang, nyeri
Sesak Demam Peradangan Cairan output
Mulut bibir kering gatal, nyeri, bersisik Perubahan
proses berpikir
Gangguan sulit menela, mual Gangguan Citra Tubuh
Pertukaran gas
Suhu
Intake Kurang Kekurangan cairan, gangguan Eliminasi

2.4 Cara Penularan


HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang
berpotensial mengandung HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air
susu ibu (KPA, 2007c).
Penularan HIV dapat terjadi melalui berbagai cara, yaitu : kontak seksual,
kontak dengan darah atau sekret yang infeksius, ibu ke anak selama masa
kehamilan, persalinan dan pemberian ASI (Air Susu Ibu). (Zein, 2006)

6
1. Seksual
Penularan melalui hubungan heteroseksual adalah yang paling dominan dari
semua cara penularan. Penularan melalui hubungan seksual dapat terjadi selama
senggama laki-laki dengan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki. Senggama
berarti kontak seksual dengan penetrasi vaginal, anal (anus), oral (mulut) antara
dua individu. Resiko tertinggi adalah penetrasi vaginal atau anal yang tak
terlindung dari individu yang terinfeksi HIV.
2. Melalui transfusi darah atau produk darah yang sudah tercemar dengan virus
HIV.
3. Melalui jarum suntik atau alat kesehatan lain yang ditusukkan atau tertusuk ke
dalam tubuh yang terkontaminasi dengan virus HIV, seperti jarum tato atau pada
pengguna narkotik suntik secara bergantian. Bisa juga terjadi ketika melakukan
prosedur tindakan medik ataupun terjadi sebagai kecelakaan kerja (tidak sengaja)
bagi petugas kesehatan.
4. Melalui silet atau pisau, pencukur jenggot secara bergantian hendaknya
dihindarkan karena dapat menularkan virus HIV kecuali benda-benda tersebut
disterilkan sepenuhnya sebelum digunakan.
5. Melalui transplantasi organ pengidap HIV
6. Penularan dari ibu ke anak. Kebanyakan infeksi HIV pada anak didapat dari
ibunya saat ia dikandung, dilahirkan dan sesudah lahir melalui ASI.
7. Penularan HIV melalui pekerjaan: Pekerja kesehatan dan petugas laboratorium.
Terdapat resiko penularan melalui pekerjaaan yang kecil namun defenitif, yaitu
pekerja kesehatan, petugas laboratorium, dan orang lain yang bekerja dengan
spesimen/bahan terinfeksi HIV, terutama bila menggunakan benda tajam (Fauci,
2000).
Tidak terdapat bukti yang meyakinkan bahwa air liur dapat menularkan
infeksi baik melalui ciuman maupun pajanan lain misalnya sewaktu bekerja pada
pekerja kesehatan. Selain itu air liur terdapat inhibitor terhadap aktivitas HIV
(Fauci,2000).
Menurut WHO (1996), terdapat beberapa cara dimana HIV tidak dapat ditularkan
antara lain:

7
1. Kontak fisik
Orang yang berada dalam satu rumah dengan penderita HIV/AIDS, bernapas
dengan udara yang sama, bekerja maupun berada dalam suatu ruangan dengan
pasien tidak akan tertular. Bersalaman, berpelukan maupun mencium pipi, tangan
dan kening penderita HIV/AIDS tidak akan menyebabkan seseorang tertular.
2. Memakai milik penderita
Menggunakan tempat duduk toilet, handuk, peralatan makan maupun peralatan
kerja penderita HIV/AIDS tidak akan menular.
3. Digigit nyamuk maupun serangga dan binatang lainnya.
4. Mendonorkan darah bagi orang yang sehat tidak dapat tertular HIV.

2.5 Gejala Klinis


Menurut KPA (2007) gejala klinis terdiri dari 2 gejala yaitu gejala mayor
(umum terjadi) dan gejala minor (tidak umum terjadi):
Gejala mayor:
a. Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan

b. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan

c. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan

d. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis

e. Demensia/ HIV ensefalopati


Gejala minor:
a. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
b. Dermatitis generalisata

c. Adanya herpes zoster multisegmental dan herpes zoster berulang

d. Kandidias orofaringeal

e. Herpes simpleks kronis progresif

f. Limfadenopati generalisata

g. Retinitis virus Sitomegalo

8
Menurut Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER)
(2008), gejala klinis dari HIV/AIDS dibagi atas beberapa fase.
a. Fase awal
Pada awal infeksi, mungkin tidak akan ditemukan gejala dan tanda-tanda infeksi.
Tapi kadang-kadang ditemukan gejala mirip flu seperti demam, sakit kepala, sakit
tenggorokan, ruam dan pembengkakan kelenjar getah bening. Walaupun tidak
mempunyai gejala infeksi, penderita HIV/AIDS dapat menularkan virus kepada
orang lain.
b. Fase lanjut
Penderita akan tetap bebas dari gejala infeksi selama 8 atau 9 tahun atau lebih.
Tetapi seiring dengan perkembangan virus dan penghancuran sel imun tubuh,
penderita HIV/AIDS akan mulai memperlihatkan gejala yang kronis seperti
pembesaran kelenjar getah bening (sering merupakan gejala yang khas), diare,
berat badan menurun, demam, batuk dan pernafasan pendek.
c. Fase akhir
Selama fase akhir dari HIV, yang terjadi sekitar 10 tahun atau lebih setelah
terinfeksi, gejala yang lebih berat mulai timbul dan infeksi tersebut akan berakhir
pada penyakit yang disebut AIDS.

2.6 Komplikasi
a. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis,
peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi,
dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat.
b. Neurologik
 Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human
Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan
kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan
isolasi sosial.

9
 Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia,
ketidakseimbangan elektrolit, meningitis/ensefalitis. Dengan efek : Sakit
kepala, Malaise, Demam, Paralise, Total/Parsial.
 Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler, hipotensi sistemik, dan
maranik endokarditis.
 Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human
Immunodeficienci Virus (HIV)
c. Gastrointestinal
 Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma,
dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia,
demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.
 Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma, sarcoma Kaposi, obat illegal,
alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,
demam atritis.
 Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal
yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri
rectal, gatalgatal dan siare.
d. Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza,
pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek, batuk, nyeri,
hipoksia, keletihan, gagal nafas.
e. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena
xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa
terbakar, infeksi skunder dan sepsis.
f. Sensorik
 Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
 Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan
pendengaran dengan efek nyeri.

10
2.7 Pencegahan
Menurut Muninjaya (1998), tiga cara untuk pencegahan HIV/AIDS adalah
Puasa (P) seks (abstinensia), artinya tidak (menunda) melakukan hubungan seks,
Setia (S) pada pasangan seks yang sah (be faithful/fidelity), artinya tidak
berganti-ganti pasangan seks, dan penggunaan Kondom (K) pada setiap
melakukan hubungan seks yang beresiko tertular virus AIDS atau penyakit
menular seksual (PMS) lainnya. Ketiga cara tersebut sering disingkat dengan
PSK.
Bagi mereka yang belum melakukan hubungan seks (remaja) perlu
diberikan pendidikan. Selain itu, paket informasi AIDS untuk remaja juga perlu
dilengkapi informasi untuk meningkatkan kewaspadaaan remaja akan berbagai
bentuk rangsangan dan rayuan yang datang dari lingkungan remaja sendiri
(Muninjaya, 1998).
Mencegah lebih baik daripada mengobati karena kita tidak dapat
melakukan tindakan yang langsung kepada si penderita AIDS karena tidak adanya
obat-obatan atau vaksin yang memungkinkan penyembuhan AIDS. Oleh karena
itu kita perlu melakukan pencegahan sejak awal sebelum terinfeksi. Informasi
yang benar tentang AIDS sangat dibutuhkan agar masyarakat tidak mendapat
berita yang salah agar penderita tidak dibebani dengan perilaku yang tidak masuk
akal (Anita, 2000).
Peranan pendidikan kesehatan adalah melakukan intervensi faktor perilaku
sehingga perilaku individu, masyarakat maupun kelompok sesuai dengan nilai-
nilai kesehatan. Pengetahuan kesehatan akan berpengaruh kepada perilaku sebagai
hasil jangka menengah (intermediate impact) dari pendidikan kesehatan.
Kemudian perilaku kesehatan akan berpengaruh pada peningkatan indikator
kesehatan masyarakat sebagai keluaran (outcome) pendidikan kesehatan.
(Notoadmodjo, 2007)
Paket komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang masalah AIDS
adalah salah satu cara yang perlu terus dikembangkan secara spesifik di Indonesia
khususnya kelompok masyarakat ini. Namun dalam pelaksanaannya masih belum
konsisten (Muninjaya, 1998).

11
Upaya penanggulangan HIV/AIDS lewat jalur pendidikan mempunyai arti yang
sangat strategis karena besarnya populasi remaja di jalur sekolah dan secara
politis kelompok ini adalah aset dan penerus bangsa. Salah satu kelompok sasaran
remaja yang paling mudah dijangkau adalah remaja di lingkungan sekolah (closed
community) (Muninjaya, 1998).

2.8 Penatalaksanaan
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan
Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human
Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan :
a. Melakukan abstinensi seks/melakukan hubungan kelamin dengan pasangan
yang tidak terinfeksi.
b. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir
yang tidak terlindungi.
c. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status
Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya.
d. Tidak bertukar jarum suntik, jarum tato, dan sebagainya.
e. Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.
f. Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terapinya yaitu:
a. Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik,
nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk
mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus
dipertahankan bagi pasien di lingkungan perawatan kritis.
b. Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap
AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus
(HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk
pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien
dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 >
500 mm3

12
c. Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan
menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya.
Obat-obat ini adalah :
 Didanosine
 Ribavirin
 Diedoxycytidine
 Recombinant CD 4 dapat larut
d. Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon,
maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang
proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan
terapi AIDS.
e. Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-
makanan sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang
mengganggu fungsi imun
f. Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T
dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

B. ASUHAN KEPERAWATAN HIV/AIDS


1. Pengkajian
a. Riwayat Penyakit
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun.
Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun
sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya
kelenjar timus. Pada lansia, atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan
terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya
fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia aplastik, kanker adalah beberapa penyakit
yang kronis, keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor
penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan
hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes :

13
 Kerusakan Respon Imun Seluler (Limfosit T )
Terapi Radiasi, Defisiensi Nutrisi, Penuaan, Aplasia Timik, Limpoma,
Kortikosteroid, Globulin Anti Limfosit, Disfungsi Timik Congenital.
 Kerusakan Imunitas Humoral (Antibodi)
Limfositik Leukemia Kronis, Mieloma, Hipogamaglobulemia Congenital,
Protein- Liosing Enteropati (Peradangan Usus)
b. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)
 Aktifitas/Istirahat
Gejala : Mudah Lelah, Intoleran Activity, Progresi Malaise, Perubahan Pola
Tidur.
Tanda : Kelemahan Otot, Menurunnya Massa Otot, Respon Fisiologi Aktifitas
(Perubahan TD, Frekuensi Jantung dan Pernafasan ).
 Sirkulasi
Gejala : Penyembuhan yang Lambat (Anemia), Perdarahan Lama pada Cedera.
Tanda : Perubahan TD Postural, Menurunnya Volume Nadi Perifer,
Pucat/Sianosis, Perpanjangan Pengisian Kapiler.
 Integritas dan Ego
Gejala : Stress berhubungan dengan Kehilangan, Mengkuatirkan Penampilan,
Mengingkari Diagnosa, Putus Asa,dan sebagainya.
Tanda : Mengingkari, Cemas, Depresi, Takut, Menarik Diri, Marah.
 Eliminasi
Gejala : Diare Intermitten, Terus–Menerus, Sering Dengan atau Tanpa Kram
Abdominal, Nyeri Panggul, Rasa Terbakar Saat Miksi
Tanda : Feces Encer Dengan atau Tanpa Mucus atau Darah, Diare Pekat dan
Sering,
Nyeri Tekan Abdominal, Lesi atau Abses Rectal, Perianal, Perubahan Jumlah,
warna, dan Karakteristik Urine.
 Makanan/Cairan
Gejala : Anoreksia, Mual Muntah, Disfagia
Tanda : Turgor Kulit Buruk, Lesi Rongga Mulut, Kesehatan Gigi dan Gusi yang
Buruk, Edema

14
 Hygiene
Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS
Tanda : Penampilan tidak rapi, Kurang Perawatan Diri.
 Neurosensoro
Gejala : Pusing, Sakit Kepala, Perubahan Status Mental, Kerusakan Status Indera,
Kelemahan Otot, Tremor, Perubahan Penglihatan.
Tanda : Perubahan Status Mental, Ide Paranoid, Ansietas, Refleks Tidak Normal,
Tremor, Kejang, Hemiparesis, Kejang.
 Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri Umum / Local, Rasa Terbakar, Sakit Kepala, Nyeri Dada Pleuritis.
Tanda : Bengkak Sendi, Nyeri Kelenjar, Nyeri Tekan, Penurunan Rentan Gerak,
Pincang.
 Pernafasan
Gejala : ISK Sering atau Menetap, Napas Pendek Progresif, Batuk, Sesak pada
Dada.
Tanda : Takipnea, Distress Pernapasan, Perubahan Bunyi Napas, adanya Sputum.
 Keamanan
Gejala : Riwayat Jatuh, Terbakar, Pingsan, Luka, Transfuse Darah, Penyakit
Defisiensi Imun, Demam Berulang, Berkeringat Malam.
Tanda : Perubahan Integritas Kulit, Luka Perianal/Abses, Timbulnya Nodul,
Pelebaran Kelenjar Limfe, Menurunya Kekuatan Umum, Tekanan Umum.
 Seksualitas
Gejala : Riwayat berprilaku Seks Beresiko Tinggi, Menurunnya Libido,
Penggunaan Pil Pencegah Kehamilan.
Tanda : Kehamilan, Herpes Genetalia
 Interaksi Sosial
Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh Diagnosis, Isolasi, Kesepian, adanya
Trauma AIDS
Tanda : Perubahan Interaksi
 Penyuluhan / Pembelajaran

15
Gejala : Kegagalan dalam Perawatan, Prilaku Seks Beresiko Tinggi,
Penyalahgunaan Obat-obatan IV, Merokok, Alkoholik.
c. Pemeriksaan Diagnostik
 Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostik yang sebagian masih bersifat
penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis
Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit
serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
1. Serologis
 Tes antibody serum
Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif,
tapi bukan merupakan diagnosa.
 Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV).
 Sel T limfosit
Penurunan jumlah total.
 Sel T4 helper.
Indikator system imun jumlah <200>.
 T8 (sel supresor sitopatik).
Rasio terbalik (2:1) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper (T8 ke T4)
mengindikasikan supresi imun.
 P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV ) )
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi.
 Kadar Ig.
Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal.
 Reaksi rantai polimerase.
Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.
 Tes PHS.
Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif.
2. Budaya

16
Histologis, pemeriksaan Sitologis Urine, Darah, Feces, Cairan Spina, Luka,
Sputum, dan Sekresi, untuk Mengidentifikasi adanya infeksi : Parasit, Protozoa,
Jamur, Bakteri, Viral.
3. Neurologis
EEG, MRI, CT Scan Otak, EMG (Pemeriksaan Saraf)
4. Tes Lainnya
 Sinar X dada
Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya
komplikasi lain
 Tes Fungsi Pulmonal
Deteksi awal pneumonia interstisial
 Skan Gallium
Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia lainnya.
 Biopsis
Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi
 Brankoskopi / pencucian trakeobronkial
Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru
 Tes Antibodi
Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system
imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut.
Antibody terbentuk dalam 3–12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6–12
bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak
memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan
mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah
memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic.
Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi
tentang uji–kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor
darah atau plasma. Tes tersebut, yaitu :
1. Tes Enzym – Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)
Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human
Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi

17
hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnya terdapat antibody
Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.
2. Western Blot Assay
Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan
seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV)
3. Indirect Immunoflouresence
Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas.
4. Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA )
Mendeteksi protein dari pada antibody.

2. DIAGNOSA
1. Kekurangan volume cairan
2. Resiko Infeksi
3. Hipertermia
4. Gangguan Citra Tubuh

3. Rencana Tindakan Keperawatan


No Diagnosa Noc Nic Rasional
1 Kekurangan Setelah dilakukan Mandiri a. Indikator
Volume tindakan keperawatan a. Kaji turgor tidak langsung
Cairan selama 3x24 jam kadar kulit,membran dari status
elektrolit normal mukosa, dan cairan.
Kriteria Hasil : rasa haus
Terpenuhinya b. Pantau
kebutuhan cairan masukan oral b. Mempertahan
secara adekuat dan kan
a. Defekasi kembali memasukkan keseimbangan
normal, maksimal cairan cairan,
2x sehari sedikitnya mengurangi
2500 ml/hari rasa haus,

18
c. Hilangkan melembabkan
makanan yang mukosa.
potensial c. Mungkin
menyebabkan dapat
diare, yakni mengurangi
yang pedas/ diare.
makanan
berkadar lemak d. Meningkatkan
tinggi, kacang, asupan nutrisi
kubis, susu. secara
d. Berikan adekuat.
makanan yang a. Mengurangi
membuat insiden muntah,
pasien menurunkan
berselera. jumlah
keenceran feses
Kolaborasi
mengurangi
a. Berikan obat-
kejang usus dan
obatan sesuai
peristaltik.
indikasi :
b. Mewaspadai
antiemetikum,
adanya
antidiare atau
gangguan
antispasmodik.
elektrolit dan
b. Pantau hasil
menentukan
pemeriksaan
kebutuhan
laboratorium.
elektrolit.
c. Berikan
c. Diperlukan
cairan/elektrolit
untuk
melalui selang
mendukung
makanan atau
volume
IV.
sirkulasi,

19
terutama jika
pemasukan oral
tidak adekuat.

2 Resiko Setelah dilakukan Mandiri a. Deteksi dini


Infeksi tindakan terhadap
a. Pantau adanya
keperawatan infeksi
infeksi :
selama 3x24 jam penting untuk
demam,
resiko infeksi tidak melakukan
mengigil,
terjadi tindakan
diaforesis,
Kriteria Hasil : segera. Infeksi
batuk, nafas
a. Daya tahan lama dan
pendek, nyeri
tubuh berulang
oral atau nyeri
meningkat memperberat
menelan.
b. Mengurangi kelemahan
b. Ajarkan pasien
terjadinya pasien.
atau pemberi
resiko infeksi b. Berikan
perawatan
deteksi dini
tentang
terhadap
perlunya
infeksi.
melaporkan
c. Peningkatan
kemungkinan
SDP dikaitkan
infeksi.
dengan infeksi
c. Pantau jumlah sel
d. Memberikan
darah putih dan
informasi data
diferensial.
dasar,
d. Pantau tanda-
peningkatan
tanda vital
suhu secara
termasuk suhu.
berulang-
e. Awasi
ulang dari
pembuangan

20
jarum suntik demam yang
dan mata pisau terjadi untuk
secara ketat menunjukkan
dengan bahwa tubuh
menggunakan bereaksi pada
wadah proses infeksi
tersendiri. ang baru
dimana obat
Kolaborasi
tidak lagi
dapat secara
a. Beriakan
efektif
antibiotik atau
mengontrol
agen
infeksi yang
antimikroba,
tidak dapat
misal :
disembuhkan.
trimetroprim
e. Mencegah
(bactrim atau
inokulasi yan
septra), nistasin,
g tak
pentamidin atau
disengaja dari
retrovir.
pemberi
perawatan.

Menghambat
proses infeksi.
Beberapa
obat-obatan
ditargetkan
untuk
organisme
tertentu, obat-
obatan lainya

21
ditargetkan
untuk mening
katkan fungsi
imun
3 Hipertermi Setelah dilakukan a. Pantau adanya a. Menghindari
tindakan keperawatan tanda-tanda resiko yang
selama 3x24 jam kejang dan fatal akibat
pasien menunjukkan hidrasi peningkatan
suhu tubuh dalam b. Pantau TTV suhu tubuh
rentang normal (36,5- c. Lepaskan b. Mengetahui
37,5 C) pakaian yang perkembangan
Kriteria Hasil : berlebih pasien
a. Suhu tubuh normal d. Gunakan c. Mengurangi
(36,5-37,5 C) kompres produksi
b. TTV normal dingin/hangat panasyang
c. Warna kulit sesuai kenaikan berlebih
kemerahan (norma) suhu tubuh d. Menuunkan
d. Tidak mengalami e. Anjurkan cairan suhu tubuh
distres pernafasan, per oral yang e. Menhindai
gelisah, atau letargi adekuat dehidrasi
f. Kolaborasikan akibat
pemberian peningkatan
antipiretik, suhu tubuh
sesuai indikasi f. Menrunkan
suhu tubuh
4 Gangguan setelah dilakukan a. Kaji mekanisme a. Mengetahui
Citra Tubuh tindakan keperawatan koping klien koping yang
selama 3x24 jam b. Bina hubungan dipergunakan
pasien menunjukkan saling percaya klien dalam
konsep diri yang baik. dengan klien menghadapi

22
Kriteria Hasil : c. Beri masalahnya
a. Klien dapat kesempatan untuk
menerima klien untuk menentukan
keadaannya mengunkapkan tindakan yang
b. Klien tidak malu perasaannya akan diberikan
bergaul d. Berikan b. Kepercayaan
c. Klien tidak merasa motivasi pada akan dapat
rendah diri klien bahwa menyebabkan
masalah kulit klien kooperatif
yang diderita atas tindakan
akan dapat yang dilakukan
diatasi dengan c. Menunjukkan
kesadaran klien penerimaan dan
untuk berobat memudahkan
e. Berikan untuk belajar
alternatif dan untuk
pemecahan mas mengetahui
alah keadaan
psikologi sklien
d. Meningkatkan
kepercayaan
diri klien dan
merangsang
klien untuk
menuntaskan
pengobatan
yang harus
dilakukan
e. Memudahkan
klien untuk
beradaptasi

23
terhadap
keadaan yang
dialaminya saat
ini

4. Implementasi dan Evaluasi


No Diagnosa Implementasi Evaluasi
1 Kekurangan a. Mengkaji turgor kulit,membran S : pasien
volume cairan mukosa, dan rasa haus mengatakan diare
b. Memantau masukan oral dan berkurang
memasukkan cairan sedikitnya O : pasien tampak
2500 ml/hari tidak lemas lagi
c. Menganjurkan tidak makan A : masalah
makanan yang potensial sebagian teratasi
menyebabkan diare, yakni yang P: intervensi tetap
pedas/ makanan berkadar lemak
tinggi, kacang, kubis, susu.
d. Menganjurkan pasien memakan
makanan yang membuat pasien
berselera.

Kolaborasi
a. Melakukan pemberian obat-
obatan sesuai indikasi :
antiemetikum, antidiare atau
antispasmodik.
b. Memantau hasil pemeriksaan
laboratorium.

24
c. Meberikan cairan/elektrolit
melalui selang makanan atau
IV.
2 Resiko Infeksi a. Memantau adanya infeksi : S : Psien
demam, mengigil, diaforesis, mengatakan
batuk, nafas pendek, nyeri oral mengerti untuk
atau nyeri menelan. mencegah tidak
b. Mengajarkan pasien atau terjadi inkesi HIV
pemberi perawatan tentang O : pasien tampak
perlunya melaporkan lebih baik
kemungkinan infeksi.
c. Memantau jumlah sel darah
putih dan diferensial.
d. Memantau tanda-tanda vital
termasuk suhu.

Kolaborasi
Memberiakan antibiotik atau agen
antimikroba, misal : trimetroprim
(bactrim atau septra), nistasin,
pentamidin atau retrovir
3 Hipertermia a. Memantau adanya tanda-tanda S : pasien
kejang dan hidrasi mengatakan sudah
b. Memantau TTV tidak demam
c. Melepaskan pakaian yang O : TTV pasien
berlebih Normal
d. Menganjurkan kompres
dingin/hangat sesuai kenaikan
suhu tubuh
e. Menganjurkan cairan per oral
yang adekuat

25
f. Berkolaborasikan pemberian
antipiretik, sesuai indikasi

4 Gangguan Citra a. Mengkaji mekanisme koping S : pasien


Tubuh klien mengatakan lebih
b. Menbina hubungan saling nyaman dengan
percaya dengan klien keadaanya
c. Memberikan kesempatan klien O : pasien tampak
untuk mengunkapkan bersih
perasaannya
d. Berikan motivasi pada klien
bahwa masalah kulit yang
diderita akan dapat diatasi
dengan kesadaran klien untuk
berobat
e. Berikan alternatif
pemecahan masalah

26
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan


dari gejala dan infeksi atau biasa disebut sindrom yang diakibatkan oleh
kerusakan sistem kekebalan tubuh manusia karena virus HIV, sementara HIV
(Human Immunodeficiency Virus ) merupakan virus yang dapat melemahkan
kekebalan tubuh pada manusia.
Virus HIV menular melalui enam cara penularan, yaitu : Hubungan
seksual dengan pengidap HIV/AIDS,Ibu pada bayinya, Darah dan produk darah
yang tercemar HIV/AIDS, Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril, Alat-alat
untuk menoleh kulit, dan Menggunakan jarum suntik secara bergantian.
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan
Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human
Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan : Melakukan abstinensi
seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak terinfeksi,
Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir
yang tidak terlindungi, Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang
yang tidak jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya, Tidak
bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya, Mencegah infeksi kejanin /
bayi baru lahir.

3.2 Saran

Berdasarkan pembahasan diatas, disarankan agar kita tetap selalu berusaha


menjaga kesehatan tubuh kita dari ujung rambut sampai ujung kaki agar kita
terhindar dari segala jenis penyakit yang dapat merugikan tubuh. Karena jika kita
sudah sakit, apapun yang kita kerjakan pasti tidak akan maksimal. Seperti kalimat
dalam pepatah mengatakan mencegah lebih baik daripada mengobati. Jadi sudah
seharusnya kita menjaga kesehatan kita. Kalau bukan kita, siapa lagi.

27
DAFTAR PUSTAKA

Dianawati, Ajen. 2003. Pendidikan seks untuk remaja. Jakarta : Kawan Pustaka
Djaerban, Zubairi. 2000. membidik AIDS : Ikhtiar memahamiHIV dan ODHA.
Yogyakarta : Galang press Yogyakarta
Granich., Reyben dan Jonathan Mermin. 2003. Ancaman HIV dan Kesehatan
Masyarakat. Yogyakarta : INSIST PRESS
Harahap, W, Syaiful. 2000. pers meliput AIDS. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan

Herlman, T. Heather.2012. NANDA International Diagnosis Keperawatan :


Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC
Muningjaya,A.A.Gde. 1998. AIDS di Indonesia : Masalah dan Kebijakan
Penanggulangannya. Jakarta : EGC
Reid, Elizabeth.1995. HIV&AIDS Interkoneksi Global. Jakarta : Yayasan Obor
Indonesia
Smeltzer , Bare, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah , Brunner dan
suddart, Edisi 8, Jakarta, EGC
Padila. S.Kep.NS.2012. Keperawatan Medikal Bedah. Numed. Yogyakarta
Yatim, Irawan, Danny. 2006. Dialog Seputar Aids. Jakarta : PT Gramedia
Widiasarana Indonesia

28