Anda di halaman 1dari 15

Kasus Kala II Persalinan

Tanggal 03 April 2014 pukul 04.00 seorang ibu dating ke rumah bidan
Nira dengan mengeluh mules sejak kemarin pukul 21.00 dan keluar lender dan
darah dari jalan lahir.
Hasil anamnesa bidan : ibu Alya berusia 26 tahun hamil anak pertama belum
pernah keguguran. Ibu mengatakan bahwa mules yang dirasakan semakin kuat.
HPHT tanggal 01 Juli 2013, haid teratur siklus 28 hari. Gerakan janin masih
dirasakan, ANC di Bidan dan Dokter dengan hasil normal, ibu makan terakhir
pukul 18.00 dengan nasi satu piring, sayur bayam dan ayam goring, minum
terakhir susu pukul 20.00, bak terakhir pukul 03.00 bab terakhir kemarin pukul
17.00.
Hasil pemeriksaan bidan : konjungtiva merah muda, TD 120/80, Nadi
90x/menit, R: 24x/menit, suhu 37,2°C, TFU 32 cm, di fundus teraba bokong,
punggung kanan, pada bagian bawah teraba kepala sudah masuk pap,
penurunan dengan perlimaan 2/5, DJJ 144x/menit, regular, his 3x/10 menit lama
>40 detik kuat. Hasil periksa dalam pukul 04.30 : vulva vagina tidak ada kelainan,
tampak keluar lender darah dari jalan lahir, Effaccement 100% pembukaan 6 cm,
ketuban utuh, presentasi kepala, posisi ubun-ubun kecil kanan depan, penurunan
kepala di station 0, tidak ada bagian kecil yang teraba, molase 0. Assessment
bidan G1P0A0 inpartu aterm kala I fae aktif, janin tunggal hidup. Catat
pemeriksaan alam pada partograf.
Pemeriksaan kembali dilakukan 4 jam kemudian. Ibu merasa kesakitan
kadang menjerit. TD 130/80 mmHg, nadi 94x?menit, suhu 37,4°C, his 4x/10menit
lama >40 detik kuat, DJJ 152x/menit terdengar teratur. Hasil periksa dalam :
vulva vagina tidak ada kelainan, effaccement 100% pembukaan lengkap,
ketuban dipecahkan warna jernih presentasi belakang kepala, posisi ubun-ubun
kecil kanan didepan, penurunan kepala di station +4, tidak ada bagian kecil yang
teraba, molase 0. Assessment bidan G1P0A0 inpartu aterm kala 2, janin tunggal
hidup. Catat pemeriksaan dalam partograf.
Bidan menjelaskan kepada ibu dan keluarga tentang kemajuan persalinan
lalu mempersiapkan pertolongan persalinan. Jika ibu merasa ingi meneran, bantu
ibu untuk mengambil posisi yang nyaman untuk meneran. Beri semangat dan
anjurkan ibu untuk memulai meneran sesuai dengan dorongan alamiahnya.
Persilahkan keluarga ibu untuk membantu dan mendukung usahanya. Member
minum pada ibu dan teruskan memantau DJJ setiap 5 menit. Pastikan bahwa ibu
beristirahat di antara kontraksi.
Bidan menolong kelahiran bayi setelah kepala tampak 5-6 cm di introtus
vagina, satu tangan melkukan penekanan yang mengendaikan tetapi tidak
menghambat janin untuk keluar, tangan yang lain support perineum untuk
mencegah kepala terdorong keluar terlalu cepat sehingga dapat merusak
perineum. Lahirnya kepala dilanjutkan dengan lahirnya bahu, badan dan tungkai.
Bayi lahir pukul 08.20, bayi langsung menangis, keadaan umum baik, jenis
kelamin laki-laki.

Pertanyaan :
1. Dari kasus diatas, kapan ibu mulai dikatakan berada dalam kala II
persalinan ? Apa pengertian Kala II Persalinan ?
2. Jelaskan mengenai perubahan fisiologis pada ibu bersalin. Apakah klien
kasus diatas mengalami perubahan tersebut?

1
3. Memantau DJJ tetap harus dilakukan pada kala II. Apa saja yang harus
dievaluasi pada kala II untuk memnatau kesejahteraan ibu dan janin ?
4. Jelaskan bagaimana bentuk asuhan fisik pada ibu bersalin, apakah bian
Nira sudah melakukannya ?
5. Sebutkan bentuk dukungan bidan pada ibu dan keluarga pada kala II
persalinan ?
6. Jelaskan bagaimana persiapan pertolongan persalinan ?
7. Jelaskan mengenai amniotomi ? kenapa pada kasus diatas dilakukan
amniotomi ?
8. Jelaskan mengenai episiotomy ? kenapa pada kasus diatas tidak
dilakukan episiotomi ?
9. Jelaskan mengenai manajemen pada saat kelahiran ?

2
KALA II PERSALINAN

1.1 Pengertian Kala II Persalinan


Persalinan kala II dimulai dengan pembukaan lengkap dari servik dan
berakhir dengan lahirnya bayi. (Pusdiknakes, 2001; 54)
Gejala utama persalinan kala II adalah (Manuaba, 1998; hal 165-166):
a. His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan durasi 50
sampai 100 detik.
b. Menjelang akhir kala I ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran
cairan secara mendadak.
c. Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan
mengejan, karena tertekannya fleksus Franken houser.
d. Kedua kekuatam, his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi
sehingga terjadi :
- Kepala membuka pintu
- Subocciput bertindak sebagai hipomoglion berturut-turut lahir ubun-
ubun besar, dahi, hidung dan muka, dan kepala seluruhnya.
e. Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar, yaitu
penyesuaian kepala pada punggung.
f. Setelahputarpaksiluarberlangsung,
makapersalinanbayiditolongdenganjalan:
- Kepaladipegangpadaos occiput dan di bawahdagu,
ditarikcuramkebawahuntukmelahirkanbahudepan,
dancuramkeatasuntukmelahirkanbahubelakang.
- Setelahbahulahir, ketiakdikaitmelahirkansisabadanbayi.
- Bayilahirdiikutiolehsisa air ketuban.
g. Lamanyakala II untukprimigravida 50 menitdan multigravida 30 menit.
Tanda-tandabahwakala II persalinansudahdekatilah(Pusdiknakes, 2001;
54):
 Ibumerasainginmeneran
 Perineum menonjol
 Ibukemungkinanmerasainginbuang air besar
 Vulva vagina dan sphincter anus membuka
 Jumlahpengeluaran air ketubanmeningkat

1.2 Perubahan Fisiologis pada Ibu Bersalin


1. Tekanan darah
Tekanan darah dapat meningkat lagi sampai 25 mmHg selama kontraksi
selama kala dua. Upaya mendorong pada ibu juga memengaruhi tekanan
darah, menyebabkan tekanan darah meningkat dan kemudian menurun
dan pada akhirnya berada sedikit di atas normal.Oleh karena itu,
diperlukan evaluasi tekanan darah dengan cermat di antara
kontraksi.Rata-rata peningkatan tekanan darah 10 mmHg di antara
kontraksi ketika ibu telah mendorong merupakan hal yang normal.
2. Denyut nadi
Frekuensi denyut nadi ibu bervariasi pada tiap kali upaya
mendorong.Secara keseluruhan, frekuensi nadi meningkat selama kala
dua persalinan disertai takikardi yang nyata ketika mencapai puncak pada
saat pelahiran.

3
3. Suhu
Peningkatan suhu tertinggi terjadi pada saat pelahiran dan segera
setelahnya peningkatan normal adalah 1-2 oF (0,5 - 1 oC)
4. Pernafasan
Pernafasan sama seperti pada kala satu persalinan yaitu sedikit
peningkatan frekuensi pernapasan masih normal selama persalinan dan
mencerminkan peningkatan metabolisme yang terjadi. Sehingga sulit
untuk memperoleh temuan yang akurat dalam hal pernapasan karena
frekuensi dan irama pernapasan dipengaruhi oleh rasa senang, nyeri,
rasa takut, dan penggunaan teknik pernapasan.Terjadi hiperventilasi yang
memanjang adalah temuan abnormal dan dapat menyebabkan alkalosis
sehingga amati pernapasan ibu dan bantu ia mengendalikannya untuk
menghindari hiperventilasi yang panjang, yang ditandai oleh rasa
kesemutan pada ekstremitas dan perasaan pusing.
5. Metabolisme
Peningkatan metabolisme yang terus menerus berlanjut sampai kala dua
disertai upaya mendorong pada ibu menambah aktivitas otot-otot rangka
untuk memperbesar peningkatan metabolisme
6. Gastrointestinal
Penurunan motilitas lambung dan absorpsi yang hebat berlanjut sampai
kala 2.Biasanya mual dan muntah pada transisi mereda selama kala 2
persalinan, tetapi dapat terus ada pada beberapa ibu. Muntah, ketika
terjadi, normalnya hanya sesekali. muntah yang konstan dan menetap
kapan saja selama persalinan merupakan hal yang abnormal dan
mungkin merupakan indikasi komplikasi obstetri, seperti rupture uterus
atau toksemia.
7. Ginjal
Perubahan ini sama seperti pada kala 1 persalinan. Poliuria sering terjadi
selama persalinan.kondisi ini dapat diakibatkan peningkatan lebih lanjut
curah jantung selama persalinan dan kemungkinan peningkatan laju
filtrasi glomerulus dan aliran plasma ginjal. Poliuria menjadi kurang jelas
pada posisi terlentang karena posisi ini membuat aliran urine berkurang
selama kehamilan. Sehingga kandung kemih harus sering dievaluasi
(setiap 2 jam) untuk mengetahui adanya distensi juga harus dikosongkan
untuk mencegah:
a. Obstruksi persalinan akibat kandung kemih yang penuh, yang akan
mencegah penurunan bagian presentasi janin.
b. Trauma pada kandung kemih akibat penekanan yang lama, yang
akan menyebabkan hipoterimia kandung kemih dan retensi urin.
Sedikit proteinuria (renik, +1) umum ditemukan pada sepertiga sampai
setengah jumlah wanita bersalin.Sehingga lebih sering terjadi pada Ibu
primipara atau yang mengalami anemia, atau yang persalinannya lama.
Proteinuria +2 dan lebih adalah data yang abnormal sehingga untuk
mengindikasikan preeklampsi.
8. Hematologi
Perubahan ini sama seperti pada kala I persalinan.Hemoglobin akan
meningkat 1,2mg/100ml selama persalinan dan kembali seperti sebelum
persalinan pada hari pertama postpartum, asalkan tidak ada kehilangan
darah yang abnormal.

4
Waktu koagulasi darah akan berkurang dan terjadi peningkatan sel
plasma. Sel – sel darah putih secara progesif akan meningkat selama
kala I persalinan sebesar 5000-15.000 WBC pada pembukaan lengkap
Kenaikan ini akan mengurangi resiko perdarahan pascapartum pada
kehamilan normal.
Gula darah akan berkurang, dan menurun drastis pada kasus persalinan
yang sulit. Kemungkinan besar disebabkan karena peningkatan kontraksi
uterus dan otot – otot tubuh.
9. Perubahan pada Uterus dan Organ Dasar Panggul
a) Kontraksi dorongan otot-otot persalinan
His adalah kontraksi otot-otot rahim pada persalinan. Pada his
persalinan, walaupun his tersebut merupakan suatu kontraksi dari otot
rahim yang fisiologis akan tetapi pada his persalinan, kontraksi yang
muncul bertentangan dengan kontraksi fisiologis lainnya dan bersifat
nyeri. Nyeri ini mungkin disebabkan oleh anoksia dari sel-sel otot saat
kontraksi, tekanan pada ganglia dalam serviks dan segmen bawah
oleh serabut-serabut otot yang berkontraksi, regangan dari serviks
karena kontraksi, atau regangan dan tarikan pada peritoneum ketika
kontraksi.Kontraksi rahim bersifat otonom, tidak dipengaruhi oleh
kemauan dan dari luar misalnya rangsangan oleh jari-jari tangan
dapat menimbulkan kontraksi.Kontraksi uterus terjadi karena otot-otot
rahim bekerja dengan baik dan sempurna dengan sifat kontraksi yang
simetris, fundus dominan, kemudian diikuti dengan relaksasi.
Pada waktu kontraksi, otot-otot rahim menguncup sehingga
menjadi tebal dan menjadi lebih pendek.Kavum uteri menjadi lebih
kecil serta mendorong janin dan kantong ke arah segmen bawah
rahim dan serviks. Sifat-sifat lain dari his adalah sebagai berikut:
1. Involunter
2. intermiten
3. terasa sakit
4. terkoordinasi dan simetris
5. terkadang dapat dipengaruhi dari luar secara fisik, kimia, psikis
Pacemaker adalah pusat koordinasi his yang berada pada uterus
di sudut tuba dimana gelombang his berasal.Dari sini gelombang his
bergerak ke dalam dan ke bawah dengan kecepatan 2 cm tiap detik
mencakup seluruh otot-otot uterus.His yang sempurna mempunyai
kekuatan paling tinggi di fundus uteri, disebut fundus dominan. Oleh
karena serviks tidak mempunyai otot-otot yang banyak, maka pada
setiap his terjadi perubahan pada serviks: tertarik, mendatar
(effacement), serta membuka (dilatasi)
b) Serviks
Pada kala II, serviks sudah menipis dan dilatasi maksimal.Saat
dilakukan pemeriksaan dalam, porsio sudah tidak teraba dengan
pembukaan 10 cm.
c) Uterus
Saat ada his, uterus teraba sangat keras karena keselruhan ototnya
berkontraksi. Proses ini akan efektif hanya jika his bersifat fundal
dominan, yaitu kontraksi didominasi oleh otot-otot fundus yang
menarik otot bawah rahim ke atas sehingga akan menyebabkan
pembukaan serviks dan dorongan janin ke bawah secara alami.

5
d) Pergeseran Organ Dasar Panggul
Keadaan segmen atas dan segmen rahim pada persalinan.Sejak
kehamilan lanjut, uterus dengan jelas terdiri atas dua bagian yaitu
segmen atas rahim yang dibentuk oleh korpus uteri dan segmen
bawah rahim yang terjadi isthmus uteri.Dalam persalinan, perbedaan
antara segmen atas rahim dan segmen bawah rahim lebih jelas
lagi.Segmen atas memegang peranan yang aktif karena
berkonsentrasi dan dindingnya bertambah tebal dengan majunya
persalinan.Segmen bawah rahim memegang peranan pasif dan makin
tipis dengan majunya persalinan karena diregang.
Jadi secara singkat, saat persalinan segmen atas berkontraksi,
menjadi tebal, dan mendorong anak keluar. Sementara itu, segmen
bawah dan serviks mengadakan relaksasi, dilatasi, serta menjadi
saluran yang tipis dan teregang yang nantinya akan dilalui bayi.
Kontraksi otot rahim mempunyai sifat yang khas sebagai berikut.
1. Setelah kontraksi, otot tersebut tidak berelaksasi kembali ke
keadaan sebelum kontraksi, tetapi menjadi sedikit lebih pendek
tonusnya walaupun sebelum kontraksi. Kejadian ini disebut
retraksi. Dengan retraksi ini, maka rongga rahim mengecil dan
anak secara perlahan didorong ke bawah dan tidak naik lagi ke
atas setelah his hilang. Akibat reaksi ini, segmen atas makin tebal
dengan majunya persalinan apalagi setelah bayi lahir.
2. Kontraksi tidak sama kuatnya, tetapi paling kuat di daerah fundus
uteri dan berangsur berkurang ke bawah. Kontraksi yang paling
lemah terjadi pada segmen bawah rahim.
Tanda fisik dini pada persalinan kala II adalah sebagai berikut.
1. Ketuban pecah spontan.
2. Tekanan rektum, sensasi ingin defekasi selama kontraksi.
3. Muntah.
4. Bercak atau keluar cairan merah terang dari vagina.
5. Garis ungu memanjang dari anus mencapai bokong.
6. Perlambatan DJJ pada puncak kontraksi.
Tahap lanjut kala II adalah sebagai berikut.
1. Perineum mengembung, vagina melebar, dan anus mendatar.
Sering kali ibu membuka anusnya saat meneran selama kontraksi.
2. Bagian presentasi tampak dan terus berlanjut selama kontraksi.
Pada kasus diatas dapat disimpulkan bahwa klien mengalami perubahan
terutama pada Tanda-Tanda Vital.
1. Tekanan darah
 Peningkatan dari 120/80 di kala I menjadi 130/80 di kala II.
2. Nadi
 Peningkatan dari 90x/menit di kala I menjadi 94x/menit di kala II, normal
tidak takikardi.
3. Respirasi
 Peningkatan dari 24x/menit menjadi 26x menit. Terjadi peningkatan
resprasi tapi hanya sedikit dibanding kala I
4. Suhu
 Peningkatan dari 37,2oC pada kala I menjadi 37,4oC pada kala II. Terjadi
peningkatan suhu yang relatif sedikit.

6
5. His
 Peningkatan frekuensi his dari 3x/10 menit pada kala I menjadi 4x/10
menit pada kala II, dengan lama his sama antara kala I dan II yaitu >40
detik kuat.

1.3 Memantau Kesejahteraan Ibu dan Janin


 Pemantauan Ibu
1. Kontraksi
His atau kontraksi harus selalu dipantau selama kala II persalinan karena
selain dorongan meneran pasien, kontraksi uterus merupakan kunci dari
proses persalinan. Beberapa kriteria dalam pemantauan kontraksi uterus
pada kala II.
a. Frekuensi lebih dari 3 kali dalam 10 menit
b. Intensitas kontraksi kuat
c. Durasi lebih dari 40 detik
2. Tanda-tanda kala II
Bidan harus dapat mengidentifikasi keadaan pasien mengenai tanda-
tanda yang khas dari kala II yang tepat. Kepastian dari diagnosis
persalinan kala II sangat menentukan proses persalinan kala II itu sendiri.
Beberapa kriteria pada pasien sudah dalam persalinan kala II.
a. Merasa ingin meneran dan biasanya sudah tidak bisa menahannya
b. Perineum menonjol
c. Merasa seperti ingin buang air besar
d. Lubang vagina dan sfingter ani membuka
e. Jumlah pengeluaran air ketuban meningkat (jika ketuban sudah
pecah).
3. Tanda vital
Pemeriksaan tanda vital pada pasien sangat perlu dilakukan dengan
frekuensi pemeriksaan yang meningkat jika dibandingkan pada kala I
persalinan. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah mendeteksi kemungkinan
adanya penyulit persalinan. Tekanan darah diperiksa setiap 15 menit
dengan waktu pemeriksaan diantara dua kontraksi. Hasil yang didapat
adalah adanya kenaikan sistol 10 mmHg di rata-rata dan nilai ini normal.
Tanda vital lainnya seperti suhu, nadi dan pernapasan diperiksa setiap
jam.
4. Kandung kemih
Pemantauan kandung kemih selama kala II persalinan merupakan dari
pemantauan pada kala I persalinan. Selama kala I bidan harus berusaha
sedapat mungkin agar pasien padat berkemih secara alamiah. Namun
jika ditemukan adanya distensi pada kandung kemih, bidan perlu
mempertimbangkan untuk melakukan pemasangan kateter.
Beberapa pertimbangan bidan untuk melakukan pemasangan kateter
pada pasien kala II.
a. Ketidaknyamanan bagi pasien.
Selama tindakan pemasangan kateter, pasien pasti akan merasakan
ketidaknyamanan yang mungkin akan dapat mempengaruhi
semangatnya dalam meneran, namun jika kandung kemih memang
benar-benar dalam keadaan meneran, namun jika kandung kemih
memang benar-benar dalam keadaan distensi dan kemungkinan akan
mangganggu proses kelahiran janin maka bidan harus mengambil

7
keputusan yang tepat dengan pemberian informasi yang tepat kepada
pasien dan keluarga.
b. Apakah kandung kemih memang perlu untuk dikosongkan
Sebelum mengosongkan kandung kemih, lakukan pengkajian dengan
kriteria sebagai berikut.
1) Apakah kandung kemih distensi?
2) Apakah pasien sudah berkemih dalam 2 jam terakhir?
3) Kapan dan jenis intake cairan apakah yang masuk sejak
terakhir berkemih?
c. Peningkatan risiko infeksi kandung kemih akibat tindakan
pemasangan kateter.
d. Apakah bidan mengantisipasi komplikasi yang mungkin terjadi,
misalnya perdarahan segera setelah lahir atau distorsia bahu.
Penatalaksanaan kedua komplikasi tersebut agar pasien benar-benar
memiliki kandung kemih yang kosong sehingga waktu tidak terbuang
percuma untuk mengosongkan kandung kemih jika pertolongan
terhadap penyulit memang benar-benar dilakukan.
5. Hidrasi
Pemberian hidrasi pada kala II didasarkan pada perubahan fisiologi pada
pasien kala II yang mengalami peningkatan suhu sehingga akan
mengeluarkan lebih banyak keringat. Keadaan ini semakin bertambah jika
ruangan tidak dilengkapi dengan pendingin ruangan. Kondisi kekurangan
cairan akibat berkeringat semakin meningkat pada primigravida karena
lama kala II lebih panjang daripada multigravida. Tindakan hidrasi dalam
kondisi ini menjadi sangat vital jika keadaan pasien pada akhir kala I
lemah, sehingga pasien perlu mendapatkan suplai energi berupa
minuman yang manis.
6. Kemajuan persalinan dan upaya meneran
Kriteria kemajuan persalinan hasil dari upaya mendorong pasien yang
efektif adalah sebagai berikut.
a. Menonjolan perineum
b. Pembukaan anus
c. Mekanisme persalinan
d. Pada tahap selanjutnya semakin terlihatnya bagian terbawah janin di
jalan lahir.
Upaya meneran pasien dipantau keefektifannya secara terus-menerus
dengan menggunakan indicator kemajuan di atas.
Bimbingan cara meneran yang sudah diajarkan oleh bidan pada waktu-
waktu sebelumnya bisa tidak dapat dilaksanakan oleh pasien karena
berbagai hal. Dalam kondisi ini bidan sebaiknya jangan menyalahkan apa
yang dilakukan oleh pasien karena hal ini akan mempengaruhi kondisi
psikologis dan semangat pasien. Untuk mengoreksinya, bidan cukup
memberikan instruksi yang sederhana namun mudah untuk diikuti oleh
pasien. Menunjukkan kemajuan persalinan berupa semakin terlihatnya
kepala janin setiap kali pasien berhasil melakukan dorongan yang efektif
dengan menggunakan cermin akan dangat membantu meningkatkan
semangat pasien.

8
7. Integritas perineum
Dalam memantau perineum, bidan mengidentifikasi elastisitas perineum
beserta kondisi pasien serta TBJ (taksiran berat janin) untuk membuat
keputusan dilakukannya episiotomi.
8. Kebutuhan dan jenis episiotomi
Indikasi utama untuk melakukan episiotomi adalah adanya gawat janin,
diharapkan dengan memperluas jalan lahir akan dapat mempercepat
proses kelahiran sehingga tindakan resusitasi pada bayi dapat segera
dilakukan.
Beberapa pertimbangan mengenai keputusan untuk melakukan
episiotomi adalah sebagai berikut.
a. Keyakinan bidan mengenai, apakah lebih baik dilakukan episiotomy
atau membiarkan perineum robek jika kelahiran dengan perineum
utuh tidak memungkinkan.
b. Kebutuhan terhadap ruang untuk melakukan intervensi dan
manipulasi yang diperlukan, pertimbangan ini terjadi pada kasus
malpresentasi dan malposisi janin.
c. Pengendalian diri pasien. Jika pasien dapat mengendalikan diri
dengan baik dan dapat melaksanakan intruksi bidan mengenai teknik
meneran yang benar, bidan dapat mempertimbangkan untuk tidak
melakukan episiotomi. Namun jika pasien sudah menunjukan
ketidakmampuannya untuk mengendalikan diri sejak dari awal
persalinan, maka sebaiknya bidan sudah merencanakan rujukan
untuk melakukan episiotomi.

 Pemantauan Janin
1. Saat Bayi Belum Lahir
a. Frekuensi Denyut Jntung Janin
Aspek yang dipantau pada janin sebelum lahir adalah frekuensi
denyut jantung janin, karena inilah satu-satunya indikator yang
menunjukkan kesejahteraan janin dalam uterus. Denyut jantung
janin diperiksa setiap 30 menit dan hasilnya dituliskan dalam
partograf.
b. Bagian terendah janin
Bidan sangat perlu untuk melakukan pemantauan terhadap
bagian terendah janin, hal ini berkaitan dengan posisi ubun-ubun
kecil jika janin dengan presentasi kepala, letak muka, atau ubun-
ubun besar yang mengindikasi kemungkinan akan ada kesulitan
dalam proses kelahiran kepala.
Pemantauan molase harus dilakukan untuk menilai apakah
proses penyesuaian kepala janin dengan jalan lahir berlangsung
baik.
c. Penurunan bagian terendah janin.
Pemantauan ini berkaitan dengan proses kemajuan perssalinan
mulai dari penurunan sampai dengan lahirnya kepala.
Penurunan kepala yang lambat disertai dengan frekuensi denyut
jantung janin abnormal yang mengindikasi adanya lilitan tali
pusat (jika kondisi ini belum teridentifikasi melalui pemeriksaan
USG pada kunjungan kehamilan).

9
2. Saat bayi sudah lahir
a. Penilaian sekilas sesaat setelah bayi lahir
Sesaat setelah bayi lahir bidan melakukan penilaian sekilas
untuk menilai kesejahteraan bayi secara umum. Aspek yang
dinilai adalah warna kulit dan tangis bayi, jika warna kulit
kemeraan dan bayi dapat menangis spontan maka ini sudah
cukup untuk dijadikan data awal bahwa bayi dalam kondisi baik.
b. Menit pertama kelahiran
Pertemuan SAREC di Swedia tahun 1985 menganjurkan
penggunaan parameter penilaian bayi baru lahir dengan cara
sederhana yang disebut nilai SIGTUNA (SIGTUNA SCORE),
sesuai nama tempat terjadinya konsensus. Penilaian cara ini
digunakan terutama untuk tingkat pelayanan kesehatan dasar
karena hanya menilai dua parameter yang penting namun cukup
mewakili indikator kesejahteraan bayi baru lahir.
Sesaat setelah bayi lahir bidan memantau 2 tanda vital bayi
sesuai dengan SIGTUNA skor, yaitu upaya bayi untuk bernafas
dan frekuensi jantung (dihitung selama 6 detik, hasil dikalikan 10
sama dengan frekuensi jantung satu menit).
Cara menentukan SIGTUNA skor :
 Nilai bayi sesaat setelah lahir (menit pertama) dengan
kriteria penilaian seperti pada tabel.
 Jumlah skor yang di dapat
 Kesimpulan dari total SIGTUNA skor :
4 = asfiksia ringan atau tidak asfiksia
2-3 = asfiksia sedang
1 = asfiksia berat
0 = bayi lahir mati/ fresh stillbirth
Skor
2 1 0
kriteria
Pernapasan Teratur Megap-megap Tidak ada
Denyut jantung >100 <100 Tidak ada

3. Menit ke 5 sampai 10
Segera setelah bayi lahir, bidan mengobservasi keadaan bayi
dengan berpatokan pada APGAR skor dari 5 menit hingga 10
menit.

1.4 Asuhan Fisik pada Ibu Bersalin


Tindakan Deskripsi dan Keterangan
Memberikan dukungan Kehadiran seseorang untuk :
terus menerus kepada ibu  Mendampingi ibu agar merasa nyaman
 Menawarkan minum, mengipasi dan memijat
ibu
Menjaga kebersihan diri  Ibu tetap dijaga kebersihannya agar
terhindar infeksi
 Bila ada darah lendir atau cairan ketuban
segera dibersihkan
Mengipasi dan masase Menambah kenyamanan bagi ibu
Memberikan dukungan Untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu,

10
mental dengan cara :
 Menjaga privasi ibu
 Penjelasan tentang proses dan kemajuan
persalinan
 Penjelasan tentang prosedur yang akan
dilakukan dan keterlibatan ibu
Mengatur posisi ibu Dalam memimpin mengedan dapat dipilih posisi
berikut :
 Jongkok
 Menungging
 Tidur miring
 Setengah duduk
Posisi tegak ada kaitannya dengan berkurangnya
rasa nyeri mudah mengedan, kurangnya trauma
vagina dan perineum dan infeksi
Menjaga kandung kemih Ibu dianjurkan untuk berkemih sesering mungkin.
tetap kosong Kandung kemih yang penuh dapat menghalangi
turunnya kepala ke dalam rongga panggul.
Memberikan cukup minum Memberi tenaga dan mencegah dehidrasi.
Memimpin mengedan Ibu dipimpin mengedan selama his, anjurkan
kepada ibu untuk mengambil napas. Mengedan
tanpa diselingi bernafas, kemungkinan dapat
menurunkan pH pada arteri umbilikus yang dapat
menyebabkan denyut jantung tidak normal dan nilai
Apgar rendah.
Bernafas selama Minta ibu untuk bernafas selagi kontraksi ketika
persalinan kepala akan lahir. Hal ini menjaga agar perineum
meregang pelan dan mengontrol lahirnya kepala
serta mencegah robekan.
Pemantauan denyut Periksa DJJ setelah setiap kontraksi untuk
jantung janin memastikan janin tidak mengalami bradikardi
(<120). Selama mengedan yang lama, akan terjadi
pengurangan aliran darah dan oksigen ke janin.
Melahirkan bayi  Menolong kelahiran kepala
o Letakkan satu tangan ke kepala bayi
agar defleksi tidak terlalu cepat
o Menahan perineum dengan satu
tangan lainnya bila diperlukan
o Mengusap muka bayi untuk
membersihkan dari kotoran
lendir/darah
 Periksa tali pusat
o Bila lilitan tali pusat terlalu ketat,
diklem pada dua tempat kemudian
digunting di antara kedua klem
tersebut, sambil melindungi leher
bayi
 Melahirkan bahu dan anggota seluruhnya
o Tempatkan kedua tangan pada sisi

11
kepala dan leher bayi
o Lakukan tarikan lembut ke bawah
untuk melahirkan bahu depan
o Lakukan tarikan lembut ke atas untuk
melahirkan bahu belakang
o Selipkan satu tangan anda ke bahu
dan lengan bagian belakang bayi
sambil menyangga kepala dan
selipkan satu tangan lainnya ke
punggung bayi untuk mengeluarkan
tubuh bayi seluruhnya
o Pegang erat bayi agar jangan
sampai jatuh
Bayi dikeringkan dan Setelah bayi lahir segera dikeringkan dan diselimuti
dihangatkan dari kepala dengan menggunakan handuk atau sejenisnya,
sampai seluruh tubuh letakkan pada perut ibu dan berikan bayi untuk
menetek.
Merangsang bayi  Biasanya dengan melakukan pengeringan
cukup memberikan rangsangan pada bayi
 Dilakukan dengan cara mengusap-usap
pada bagian punggung atau menepuk
telapak kaki bayi
Menurut Rohani dkk ( 2011 ; 40 ) Asuhan fisik yang dibutuhkan oleh ibu bersalin
diantaranya:
1. Menjaga kebersihan diri
a. Menganjurkan ibu membasuh sekitar kemaluannya sesudah
BAK/BAB dan menjaganya agar tetap bersih dan kering. Hal ini dapat
menimbulkan kenyamanan dan relaksasi serta menurunkan risiko
infeksi, karena dengan adanya kombinasi Antara bloody show,
keringat, cairan amnion, larutan untuk pemeriksaan vagina, dan juga
feses dapat membuat ibu bersalin merasa tidak nyaman.
b. Mandi di bak/shower dapat menjadi sangat menyegarkan dan
menimbulkan rasa santai, dan merasa sehat. Jika fasilitas tidak
memungkinkan, mandi di tempat tidur juga bisa menimbulkan efek
menyegarkan.
2. Berendam
Air telah dihubungkan dengan suatu perasaan sejahtera selama barabad-
abad yang lalu. Ketertarikan terhadap air dalam proses persalinan dan
kelahiran bayi kini telah berkembang.
Beberapa wanita memilih untuk menggunakan kolam hanya untuk
berendam pada kala I dan beberapa wanita memilih untuk melahirkan di
dalam air, dan yang lainnya telah memberikan komentar tentang berapa
rileksnya mereka selama berada di dalam air.
Berendam dapat menjadi tindakan pendukung dan kenyamanan
yang paling menenangkan. Diperlukan bak yang cukup dalam agar air
dapat menutup abdomen ibu. Hal ini merupakan suatu bentuk hidroterapi
dan kegembiraan yang akan meredakan dan membantu kontraksi pada
ibu bersalin.

12
3. Perawatan mulut
Ibu yang sedang ada dalam proses persalinan biasanya napasnya
berbau, bibir kering dan pecah-pecah, tenggorokan kering terutama jika
dalam persalinan selama beberapa jam tanpa cairan oral dan tanpa
perawatan mulut. Hal ini menimbulkan rasa tidak nyaman dan tidak
menyenangkan bagi orang disekitarnya. Hal di atas dapat dihindari jika
ibu mampu mencerna cairan selama persalinannya.
Perawatan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
a. Menggosok gigi : ibu bersalin harus diingatkan untuk membawa sikat
dan pasta gigi ke rumah sakit/rumah bersalin untuk digunakan selama
persalinan
b. Mencuci mulut : dengan pemberian produk pencuci mulut sebagai
tindakan untuk menyegarkan napas
c. Pemberian gliserin : untuk menghindarkan terjadinya kekeringan pada
bibir, dapat digunakan gliserin dengan cara mengusapkannya.
d. Pemberian permen untuk melembabkan mulut dan tenggorokan,
untuk mencegah aspirasi sebaiknya anjurkan untuk mengonsumsi
permen lollipop.
4. Pengipasan
Ibu yang sedang dalam proses persalinan biasanya banyak
mengeluarkan keringat, bahkan pada ruang persalinan dengan control
suhu terbaik pun mereka akan mengeluh berkeringat pada beberapa
waktu tertentu. Tempat persalinan yang tidak menggunakan pendingin
akan menyebabkan perasaan tidak nyaman dan sangat
menyelengsarakan ibu. Oleh karena itu, gunakan kipas atau bisa juga
dengan kertas atau lap yang dapat digunakan sebagai pengganti kipas.

1.5 Bentuk Dukungan Bidan pada Ibu dan Keluarga pada Kala II Persalinan
lima kebutuhan seorang wanita dalam persalinan, ialah :
• Asuhan fisik dan psikologis
• Kehadiran seorang pendamping secara terus-menerus
hasil penelitian telah memperlihatkan efektifnya dukungan fisik, emosional
dan psikologis selama persalinan dan kelahiran. dalam Cochrane
Database, suatu kajian ulang sistematik dari 14 jam percobaan-
percobaan yang melibatkan 5000 wanita memperlihatkan bahwa
kehadiran seorang pendamping secara terus menerus selama persalinan
dan kelahiran akan menghasilkan:
1. kelahiran dengan bantuan vakum dan forceps semakin sedikit atau
berkurang
2. seksio sesarea untuk membantu kelahiran menjadi berkurang
3. skor Apgar <7 lebih sedikit
4. lamanya persalinan yang semakin pendek
5. kepuasan ibu yang semakin besar dalam pengalaman melahirkan
mereka
• Pengurangan rasa sakit
Metode mengurangi rasa sakit :
1. sederhana
2. efektif
3. biayanya rendah
4. risikonya rendah

13
5. membantu kemajuan persalinan
6. hasil kelahiran bertambah baik
7. bersifat sayang ibu
pendekatan untuk mengurangi rasa sakit, menurut Varney’s Midwifery:
1. adanya seorang yang dapat mendukung dalam persalinan
2. pengaturan posisi
3. relaksasi dan latihan pernafasan
4. istirahat dan privasi
5. penjelasan mengenai proses/kemajuan/prosedur yang akan
dilakukan
6. asuhan diri
7. sentuhan
• Penerimaan atas sikap dan perilakunya
• Informasi dan kepastian tentang hasil persalinan yang aman
Asuhan sayang ibu pada kala II adalah sebagai berikut:
1. Anjurkan agar ibu selalu didampingi oleh keluarganya selama proses
persalinan dan kelahiran bayinya.
Alasannya adalah hasil persalinan yang baik ternyata erat hubungannya
dengan dukungan dari keluarga yang mendampingi ibuselama proses
persalinan.
2. Anjurkan keluarga ikut terlibat dalam asuhan.
3. Memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan keluarganya
dengan menjelaskan tahapan dan kemajuan persalinan atau kelahiran
bayi pada mereka.
4. Tentramkan hati ibu dalam menghadapi dan menjalani kala II persalinan.
Lakukan bimbingan dan tawarkan bantuan jika diperlukan.
5. Bantu ibu untuk memilih posisi yang aman saat meneran.
6. Anjurkan ibu untuk meneran hanya bila ada dorongan kuat dan spontan
untuk meneran. Jangan menganjurkan untuk meneran berkepanjangan
dan menahan napas. Pada saat pembukaan sudah lengkap, anjurkan ibu
beristirahat diantara dua kontraksi.
Alasannya meneran secara berlebihan menyebabkan ibu sulit bernapas
sehingga terjadi kelelahan yang tidak perlu dan meningkatkan risiko
asfiksia pada bayi.
7. Anjurkan ibu untuk minum selama kala II persalinan.
Alasan: ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi selama proses
persalinan dan kelahiran bayi. Cukupnya asupan cairan dapat mencegah
ibu mengalami hal tersebut.
8. Berikan rasa aman dan semangat, serta tentramkan hatinya selama
proses persalinan berlangsung.

14
LAMPIRAN

Pertanyaan

1. Untuk mencegah ibu dehidrasi, apakah ibu boleh di beri cairan isotonik?
(Rahayu bella)
Ibu boleh di berikan cairan isotonik karena minuman isotonik mudah di
serap dan memberikan energi yang dibutuhkan saat persalinan atau bisa
juga membuat sendiri dengan mencampurkan air putih dengan perasaan
lemon.
2. Kenapa kalau tanda vital di periksa 15 menit sekali ? alasan ? (febri )
Maih sama dengan fase aktif yaitu dilakukan 4 jam sekali jika ibu
mempunyai tekanan darah yang normal. Namun jika ibu mengalami
keluhan-keluhan dan jika penolong mempunyai waktu untuk melakukan
pemeriksaan namun jika tidak sempat untuk melakukan pemeriksaan bisa
di lakukan di kala IV namun jika ibu mengalami PEB atau PER maka
mungkin bisa dilkukan pemeriksaan tekanan darah selama 15 menit
secara berkala.
3. Ketidak nyamanan mual muntah pada kala II , kenapa di saat kala II ibu
mengalami mual muntah padahal metabolisme mengalami
peningkatan.(amalia)
Jadi pada kala II ibu mengalami mual muntah bukan karena metabolisme
yang meningkat namun karena mortilitas lambung dan sistem pencernaan
yang mengalami penurunan atau proses pencernaan yang melambat.
4. Jika persalinan ibu bisa mengeluarkan feses, bagaimana asuhan bidan
terhadap pengeluaran feses ? jika bayi terkena feses maka apa yang
akan terjadi ?
Biasanya ibu mengeluarkan feses tidak bersamaan dengan bayi namun
jika ibu mengeluarkan feses maka bidan harus langsung memersihkan
feses tersebut.
5. Penatalaksanaan mual muntah pada ibu bersalin pada kala II ? hubungan
Ph dengan DJJ ?asuhan yang di berikan bidan jika ibu mengalami mual
muntah pada kala II ibu bisa di berikan asupan makanan ringan dan juga
di beri minum air putih atau teh manis.

15