Anda di halaman 1dari 9

STRATEGI MEMBANGUN KEMITRAAN

A. Strategi Kemitraan
1. Pendahuluan
Kemitraan dalam lingkungan masyarakat Indonesia,
merupakan sesuatu hal yang tidak asing untuk diterapkan, karena
bangsa ini sudah mengenal kemitraan sejak berabad- abad lamanya
meskipun dalam skala yang sederhana, seperti gotong royong,
sambat sinambat, partisipasi, mitra cai, mitra masyarakat desa hutan,
mitra lingkungan dll.
Dalam manajemen modern, baik dalam pengembangan
sumberdaya manusia maupuan pengembangan kelembagaan/usaha,
kemitraan merupakan salah satu strategi yang biasa ditempuh untuk
mendukung keberhasilan implementasi manajamen modern.
Kemitraan tidak sekedar diterjemahkan sebagai sebuah kerjasama,
akan tetapi kemitraan memiliki pola, memiliki nilai strategis dalam
mewujudkan keberhasilan suatu lembaga dalam menerapkan
manajemen modern.
Kemitraan dalam implementasi manajemen modern
kesepahaman pengelolaan program, kesepahaman strategi
pengembangan program antar lembaga yang bermitra merupakan
faktor utama yang pertama kali harus menjadi perhatian. Oleh
karenanya diantara lembaga yang bermitra harus ada pelaku utama
kegiatan, sebagai lembaga/orang yang bertanggungjawab terhadap
keberhasilan program (kegiatan). Kekurangan dan kelebihan yang
dimiliki oleh masing-masing lembaga/orang itulah yang dimitrakan
sebagi wujud kerjasama untuk saling menutupi, saling menambah,
dan saling menguntungkan (mutualisme). Kemitraan dapat dilakukan
dalam transfer teknologi, transfer pengetahuan/keterampilan, transfer
sumberdaya (manusia), transfer cara belajar (learning exchange),
transfer modal, atau berbagai hal yang dapat diperbantukan sehingga
terpadu dalam wujud yang utuh.
2. Konsep dan keutungan kemitraan
Dalam rangka merespon berbagai perubahan yang terjadi
akibat berbagai kekurangan yang dimiliki masing-masing
organisasi/lembaga. Organisasi harus secara agresif mencari solusi
manajemen yang lebih baik terutama untuk meningkatkan kinerja dan
mempertahankan keuntungan kompetitif dengan menerapkan konsep-
konsep manajemen modern seperti; total quality manajemen (TQM),
bussiness process reenginering (BPR). Pada satu sisi TQM dan BPR
memerlukan investasi waktu dan biaya yang besar namun apabila
dipadukan kedua hal itu dalam sebuah kemitraan akan menwarkan
hasil yang cepat dangan biaya yang lebih murah (dapat ditekan).
Berdasar kepada konstruksi itulah kemitraan menjadi lebih
dominan dalam sebuah organisasi modern sekalipun, dalam dunia
global, komunikasi tanpa sekat, daya saing tingkat tinggi sulit sekali
bagi sebuah organisasi untuk tidak melakukan kemitraan dengan
organisasi lainnya. IBM, Microshop, Toyota, Honda, General Motor
Co, Bell Telephone, Telkom, Petronas dll, semua organisasi besar
seperti itu melakukan kemitraan dengan berbagai pihak ada yang
bermitra di antara perusahaan sejenis, ada yang bermitra dengan
pemerintah, bermitra dengan perusahaan tidak sejenis tapi memiliki
daya dukung, atau bermitra dengan pihak masyarakat (organisasi
masyarakat sekalipun). Untuk mencari definisi yang tepat tentang
kemitraan adalah hal yang sangat sulit, karena kemitraan seperti yang
telah diuraikan terdahulu memiliki beragam makna bagi banyak orang
bagi banyak organisasi/lembaga, (Mc Gregor & Palmer 1997). Konsep
kemitraan memiliki cakupan yang sangat luas meliputi perilaku, sikap,
nilai- nilai dan teknik (Bresnen & Marshal 2000).

3. Keunggulan dalam konsep kemitraan


Mencermati konsep kemitraan yang telah dibahas, keunggulan
kemitraan, sebagaimana pada ko-operasi (kerjasama) terletak pada
kepercayaan. Kepercayaan sebagai sisi utuh yang ada dalam
kehidupan manusia merupakan sisi strategis dalam membangun
keberhasilan individu/orang, masyarakat maupun organisasi. Jepang
sebagai negara maju dan modern, keberhasilan pembangunannya
karena mampu meletakkan kepercayaan pada posisi yang paling
utama dalam manajemen pembangunannya. Sehingga kepercayaan
seperti sebuah idiologi yang selalu terpatri dalam setiap perilaku
masyarakat Jepang. Keberhasilan peradaban (civilaztion) di Eropa
karena mampu meletakkan kepercayaan pada setiap landasan
pembangunan manusia (human development), sehingga Eropa
menjadi bangsa yang pertama mampu membangun peradaban
modern. Islam sebagai rahmatan lil alamin yang disebarkan Nabi
Muhammad, s.a.w. pertama kali berhasil menyebarkan ideologinya
karena dengan berbekal kepercayaan. Bangsa Arab memeluk Islam
karena percaya bahwa Muhammad adalah utusan.

4. Pola dan Strategi kemitraan


Berdasar pada konsep kemitraan dan keuntungan serta
keunggulan kemitraan ada beberapa strategi dan pola yang
ditawarkan. Strategi yang ditawarkan dalam kemitraan seyogyanya
mengandung unsur saling memerlukan, saling menguntungkan dan
saling memperkuat. Ketiga unsur tersebut dibangun atasa dasar
kepercayaan yang berlandaskan; keadilan, kejujuran dan kebijakan.
Oleh karena itu strategi pertama adalah strategi komitmen visi jangka
panjang sedangkan strategi kedua adalah strategi implementasi misi,
atau strategi kesepakatan terhadap sasaran dan tujuan berasama.
Kedua strategi itu bisa dibangun melalui berbagai pola seperti;
a. Pola asuh, pola ini dibangun atas dasar misi pengasuhan dari
yang besar kepada yang kecil, (besar modal, besar sumberdaya
manusia, besar teknologi dll), dari yang kuat kepada yang lemah
namun pada posisi kebutuhan yang sama, tetapi tetap pada
landasan saling menguntungkan, saling memerlukan dan
memperkuat.
b. Pola inti plasma, adalah pola hubungan kemitraan antara
kelompok mitra dengan perusahaan mitra di mana kelompok
mitra bertindak sebagai plasma inti.
Plasma Plasma
Perusahaan Inti

Plasma Plasma

Perusahaan/lembaga mitra membina kelompok mitra dalam :


1) penyediaan sumberdaya (dana, teknologi, lahan dll)
2) pemberian bahan (bahan ajar dll)
3) pemberian bimbingan teknis manajemen usaha, manajemen
pengelolaan, dan manajemen produksi,
4) peroleh, penguasaan dan peningkatan teknologi,
5) bantuan lain seperti efisiensi dan produktivitas.

B. Kemitraan Dalam Kesehatan


Bangsa indonesia merupakan negara yang sedang berkembang yang
mempunyai banyak permasalahan yang membutuh penyelesaian yang
melibatkan semua komponen masyarakat, salah satu penyebab yang
menyebabkan lambatnya berbagai permasalahan adalah masih
sangat rendahnya pendidikan masyarakat terhadap permasalahan
yang terjadi disekitar mereka, sebagai suatu perbandingan
permasalah penyakit malaria sudah dilakukan pencegahan.
Masalah kesehatan adalah tanggung jawab bersama setiap
individu,masyarakat,pemerintah dan swasta.Pemerintah dalam hal ini
Departemen Kesehatan memang merupakan sektor yang paling
depan dalam bertanggung jawab(leading sector) ,namun dalam
mengimplementasikan kebijakan dan program ,intervensi harus
bersama-sama dengan sektor lain ,baik pemerintah maupun
swasta.Dengan kata lain sektor kesehatan seyogyanya merupakan
pemrakarsa dalam menjalin kerjasama atau kemitraan (partnership)
dengan sektor-sektor terkait. (Notoadjmojo,2003)
Kemitraan pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong
royong atau kerjasama dari berbagai pihak, baik secara individual
maupun kelompok. Menurut Notoatmodjo (2003), Kemitraan adalah
suatu kerja sama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok
atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan
tertentu.
Sedangkan menurut Depkes (2006) dalam promosi
kesehatan Onlinemengemukana bahwa Kemitraan adalah hubungan
(kerjsama) antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan,
keterbukaan dan saling menguntungkan (memberikan manfaat).
Adapun unsur-unsur kemitraan adalah :
a. Adanya hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih
b. Adanya kesetaraan antara pihak-pihak tersebut
c. Adanya keterbukaan atau kepercayaan (trust relationship) antara
pihak-pihak tersebut
d. Adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan atau
memberi manfaat.
Menurut Ansarul Fahruda, dkk (2005), untuk membangun sebuah
kemitraan, harus didasarkan pada hal-hal berikut :
a. Kesamaan perhatian (common interest) atau kepentingan,
b. Saling mempercayai dan saling menghormati
c. Tujuan yang jelas dan terukur
d. Kesediaan untuk berkorban baik, waktu, tenaga, maupun sumber
daya yang lain.
Adapun prinsip-prinsip kemitraan adalah:
a. Persamaan atau equality,
b. Keterrbukaan atau transparancy dan
c. Saling menguntungkan atau mutual benefit.
Untuk mengembangkan kemitraan di bidang kesehatan secara
konsep terdiri 3 tahap yaitu tahap pertama adalah kemitraan lintas
program di lingkungan sektor kesehatan sendiri, tahap kedua
kemitraan lintas sektor di lingkungan institusi pemerintah dan yang
tahap ketiga adalah membangun kemitraan yang lebih luas, lintas
program, lintas sektor. lintas bidang dan lintas organisasi yang
mencakup :
a. Unsur pemerintah,
b. Unsur swasta atau dunia usaha,
c. Unsur lsm dan organisasi masa
d. Unsur organisasi profesi.
Hal ini sejalan seperti di kemukakan oleh WHO (2000) untuk
membangun kemitraan kesehatan perlu diidentifikasi lima prinsip
kemitraan yaitu:
a. Policy-makers (pengambil kebijakan)
b. Health managers
c. Health professionals
d. Academic institutions
e. Communities institutions

1. Dasar Pemikiran Kemitraan dalam Kesehatan


Kesehatan adalah hak azasi manusia, merupakan investasi, dan
sekaligus merupakan kewajiban bagi semua pihak.
Masalah kesehatan saling berkaitan dan saling mempengaruhi dengan
masalah lain, seperti masalah pendidikan, ekonomi, sosial, agama,
politik, keamanan, ketenagakerjaan, pemerintahan, dll.
Karenanya masalah kesehatan tidak dapat diatasi oleh sektor
kesehatan sendiri, melainkan semua pihak juga perlu peduli terhadap
masalah kesehatan tersebut, khususnya kalangan swasta.
Dengan peduli pada masalah kesehatan tersebut, berbagai pihak
khususnya pihak swasta diharapkan juga memperoleh manfaat,
karena kesehatan meningkatan kualitas SDM dan meningkatkan
produktivitas.
Pentingnya kemitraan (partnership) ini mulai digencarkan oleh WHO
pada konfrensi internasional promosi kesehatan yang keempat di
Jakarta pada tahun 1997.
Sehubungan dengan itu perlu dikembangkan upaya kerjsama yang
saling memberikan manfaat. Hubungan kerjasama tersebut akan lebih
efektif dan efisien apabila juga didasari dengan kesetaraan.

2. Tujuan Kemitraan dan Hasil yang Diharapkan


Tujuan umum :Meningkatkan percepatan, efektivitas dan efisiensi
upaya kesehatan dan upaya pembangunan pada umumnya.
a. Tujuan khusus :
1) Meningkatkan saling pengertian;
2) Meningkatkan saling percaya;
3) Meningkatkan saling memerlukan;
4) Meningkatkan rasa kedekatan;
5) Membuka peluang untuk saling membantu;
6) Meningkatkan daya, kemampuan, dan kekuatan;
7) Meningkatkan rasa saling menghargai;

3. PerilakuKemitraan:
Adalah semua pihak, semua komponen masyarakat dan unsur
pemerintah, Lembaga Perwakilan Rakyat, perguruan tinggi, media
massa, penyandang dana, dan lain-lain, khususnya swasta.

4. Prinsip, Landasan dan Langkah Dalam Pengembangan Kemitraan


a. 3 prinsip, yaitu : kesetaraan, dalam arti tidak ada atas bawah
(hubungan vertikal), tetapi sama tingkatnya (horizontal);
keterbukaan dan saling menguntungkan.
b. 7 saling, yaitu : saling memahami kedudukan, tugas dan fungsi
(kaitan dengan struktur); saling memahami kemampuan masing-
masing (kapasitas unit/organisasi); saling menghubungi secara
proaktif (linkage); saling mendekati, bukan hanya secara fisik tetapi
juga pikiran dan perasaan (empati, proximity); saling terbuka,
dalam arti kesediaan untuk dibantu dan membantu (opennes);
saling mendorong/mendukung kegiatan (synergy); dan saling
menghargai kenyataan masing-masing (reward).
c. 6 langkah : penjajagan/persiapan, penyamaan persepsi,
pengaturan peran, komunikasi intensif, melakukan kegiatan, dan
melakukan pemantauan & penilaian.
5. Peran Dinas Kesehatan dalam Pengembangan Kemitraan di Bidang
Kesehatan
Beberapa alternatif peran yang dapat dilakukan, sesuai keadaan,
masalah dan potensi setempat adalah :
a. Initiator : memprakarsai kemitraan dalam rangka sosialisasi dan
operasionalisasi Indonesia Sehat.
b. Motor/dinamisator : sebagai penggerak kemitraan, melalui
pertemuan, kegiatan bersama, dll.
c. Fasilitator : memfasiltasi, memberi kemudahan sehingga kegiatan
kemitraan dapat berjalan lancar.
d. Anggota aktif : berperan sebagai anggota kemitraan yang aktif.
e. Peserta kreatif : sebagai peserta kegiatan kemitraan yang kreatif.
f. Pemasok input teknis : memberi masukan teknis (program
kesehatan).
DAFTAR PUSTAKA

Alan Barker, (2003), How to be Better at Managing People, Jakarta, Gramedia


Anwar Prabu, (2000), Manajemen Sumber Daya Manusia, Bandung, Rosda SK.
Mentan No. 940/KPTS/01210/1097, Pedoman Kemitraan Usaha Pertanian
Tingkat kepercayaan dan hubungan kemitraan, http://digilib.petra.ac.id
Depkes RI, 2006, Kemitraan Dan Peran Serta, promosi kesehatan online, mailto:
webmaster@ promokes.qo.id.
Fahrudda, Ansarul,dkk, 2005, Paguyuban Penderita TB Paru Kec. Sumberjambe
Kab. Jember (Suatu Model Peningkatan Penemuan Penderita TB dan Pengawas
Minum Obat Berbasis Masyarakat), Laporan supervise PTO-East Java, Surabaya.
Notoatmodjo, Soekidjo, 2003, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta,
Jakarta.
WHO, 2000, Chalenges And Opportunities For Partnership In Health
Development, Geneva