Anda di halaman 1dari 57

1

HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS DENGAN STIGMA TERHADAP ORANG DENGAN HIV/AIDS PADA SISWA KELAS XI SMAN 9 KOTA JAMBI TAHUN 2017

Karya Tulis Ilmiah

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Pendidikan Diploma III

Akademi Kebidanan Jakarta Mitra Sejahtera Jambi

Diploma III Akademi Kebidanan Jakarta Mitra Sejahtera Jambi Diajukan oleh : ANA SAPLINDA BD 2014 003

Diajukan oleh :

ANA SAPLINDA

BD 2014 003

PROGRAM STUDI DIPLOMA III

AKADEMI KEBIDANAN JAKARTA MITRA SEJAHTERA

JAMBI 2017

1

2

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Salah satu tujuan Millenium Development Goals (MDGs) yang belum tercapai yaitu memerangi (Human Imunodeficiency Virus) HIV dan (Acquired Immuno deficiency Syndrome) AIDS. Pencapaian target MDGs terkait HIV/AIDS tahun 2015 sulit dicapai oleh Indonesia karena dalam lima tahun terakhir jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia terus bertambah (Wardah, 2013). Sejak pertama ditemukan penyakit HIV/AIDS berbagai respons seperti ketakutan, penolakan, stigma dan diskriminasi telah muncul bersamaan dengan terjadinya epidemik. Stigma dan diskriminasi telah tersebar secara cepat, menyebabkan terjadinya kecemasan dan prasangka terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Penyakit HIV/AIDS tidak saja menjadi fenomena biologis atau medis, akan tetapi juga telah menjadi fenomena sosial di masyarakat (Sosodoro et al, 2009). Data menyebutkan bahwa dari sekitar 40 juta penduduk dunia yang telah terinfeksi HIV, lebih dari 95%-nya berada di negara berkembang, dan anak-anak muda saat ini telah menjadi bagian dari pandemik AIDS, dengan adanya data yang menyebutkan bahwa lebih dari setengah kasus baru yang terinfeksi HIV adalah remaja dengan usia 15-24 tahun. Hal ini diperkuat oleh perkiraan WHO, 50% dari seluruh kasus terinfeksi adalah anak muda, atau dengan kata lain 7000 anak muda (umur 15-25 tahun) terinfeksi setiap harinya, dan 30% dari 40 juta ODHA yang terinfeksi seluruh dunia berada dalam kelompok usia 15-24 tahun. Mayoritas anak muda yang terinfeksi tidak tahu bahwa dia sebenarnya telah terinfeksi, dan anak muda yang terlibat hubungan seks, hanya sedikit yang tahu apakah pasangannya telah terinfeksi HIV atau tidak (Sosodoro et al, 2009).

2

3

Meskipun semua golongan usia beresiko tertular HIV tetapi remaja

dan dewasa berusia 15-25 tahun lebih beresiko tertular. Menurut WHO

dan the Join United Nations Program on HIV/AIDS, remaja lebih beresiko

tertular HIV sebagai akibat kurangnya informasi (knowledge), terlibat

dalam beresiko, dan kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan

terutama mengenai kesehatan reproduksi (Thanavanh, 2013).

Di Indonesia, HIV AIDS pertama kali ditemukan di provinsi Bali

pada tahun 1987. Hingga saat ini HIV AIDS sudah menyebar di 386

kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia (Kemenkes RI, 2014).

Menurut laporan perkembangan HIV/AIDS di Indonesia Triwulan IV

(Oktober-Desember) Tahun 2016 jumlah kumulatif infeksi HIV yang

dilaporkan dari tahun 2005 sampai dengan Desember 2016 sebanyak

232,323 orang dan jumlah kumulatif AIDS dari tahun 1987 sampai dengan

Desember 2016 sebanyak 86.780 orang ( Kemenkes RI, 2017).

Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Jambi sejak pertama kali

ditemukan pada tahun 1999 hingga tahun 2016 jumlah yang terinfeksi HIV

sebanyak 606 orang dan 445 orang dengan AIDS, jadi jumlah kumulatif

HIV/AIDS sebanyak 1051 orang. Berdasarkan wilayah kelurahan pada

tahun 2016, penemuan HIV/AIDS terbanyak dapat dilihat pada tabel

berikut ini :

Tabel 1.1 Data Penemuan HIV/AIDS Januari s/d Desember Tahun 2016 Berdasarkan Wilayah Kelurahan

No

Kelurahan

Jumlah

1

Danau Sipin

3

2

Telanaipura

6

3

Jambi Timur

17

4

Jambi Selatan

6

5

Pal Merah

18

6

Pasar Jambi

7

7

Alam Barajo

32

8

KotaBaru

4

9

Jelutung

8

 

Jumlah

103

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Jambi

3

4

Bedasarkan data Dinas Kesehatan Kota Jambi bahwa kasus

HIV/AIDS terbanyak kedua di wilayah Pal Merah, maka penulis

melakukan penelitian ke sekolah yang berada di wilayah Pal Merah yaitu

dengan siswa terbanyak berada di SMA N 9 Kota Jambi dengan jumlah

siswa sebanyak 883 orang (Dispen Provinsi Jambi, 2016).

Berdasarkan surevey yang dilakukan penulis di SMA N 9 Kota

Jambi pada bulan Maret 2017, bahwa jumlah siswa dapat dilihat dalam

tabel berikut ini :

Tabel 1.2 Data siswa di SMA N 9 Kota Jambi Bulan Maret 2017

No

Kelas

Jurusan

Siswa

Jumlah

1

XII

IPA

120

278

IPS

158

2

XI

IPA

119

306

IPS

187

3

X

MIA

132

299

IPS

167

 

Total

883

Terlihat pada tabel diatas jumlah siswa terbanyak adalah siswa

kelas XI yang berjumlah 306 orang, sehingga peneliti melakukan survey

awal yaitu wawancara kepada 10 siswa mengenai HIV/ADS. Dari hasil

wawancara yang dilakukan penulis, diketahui bahwa pengetahuan tentang

HIV/AIDS dari 10 siswa hanya 4 siswa yang mengetahui tentang

HIV/AIDS dan selebihnya tidak mengetahui, serta 7 diantara mereka tidak

menerima ODHA dan sisanya menerima ODHA di lingkungan mereka.

Penelitian Brendan (2006) mengungkapkan bahwa pengetahuan

tentang cara penularan HIV merupakan prediktor (prediksi) adanya stigma

terhadap ODHA, hal ini juga sama dengan hasil penelitian yang dilakukan

Dias (2006). Penelitian yang dilakukan di Botswana oleh Letamo (2001)

mengungkapkan bahwa 68% dari pelajar yang diteliti tidak mau membeli

sayuran dari seorang pedagang sayuran yang mengidap HIV/AIDS, dan

4

5

54% menolak diajar oleh guru yang terinfeksi HIV, hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan siswa mengenai cara penularan HIV. Kurangnya informasi yang benar mengenai HIV/AIDS dan penularannya disebabkan karena dianggap bahwa membicarakan hal yang berbau sexual dianggap tabu menyebabkan adanya halangan (barrier) bagi anak muda untuk melindungi dirinya sendiri dari perilaku beresiko tinggi terjadinya penularan HIV (Agrawal, 2002). Penelitian yang dilakukan Ahwan (2012) dilakukan pada masyarakat basis anggota Nahdlatul Ulama (NU) Bangil mengungkapkan bahwa salah satu faktor pemicu tindakan stigmatisasi terhadap ODHA adalah kurangnya pengetahuan /informasi yang diperoleh masyarakat NU Bangil mengenai HIV/AIDS. Kurangnya pengetahuan mengenai HIV/AIDS ini menyebabkan masyarakat memiliki kesimpulan-kesimpulan yang tidak sesuai dengan pengetahuan mengenai HIV/AIDS yang sebenarnya. Terdapat beberapa pemahaman yang keliru mengenai HIV/AIDS, seperti HIV/AIDS bisa menular melalui kontak sosial seperti bersalaman, makan bersama, menghirup udara disekitar ODHA, dan lain- lain. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan berhubungan erat dengan berkembangnya stigma ODHA. Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk membuat suatu karya tulis ilmiah yang berjudul Hubungan Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dengan Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS pada Siswa Kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017”.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada Hubungan antara Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dengan Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS pada Siswa kelas XI SMAN 9 Kota Jambi Tahun 2017?”.

5

6

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum Diketahuinya Hubungan Pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS pada Siswa kelas XI SMA

N 9 Kota Jambi Tahun 2017.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya pengetahuan tentang HIV/AIDS pada siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017

b. Diketahuinya stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS pada siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017

c. Diketahuinya Hubungan Pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS pada siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Siswa Sebagai dorongan bagi siswa agar lebih mempelajari pendidikan tentang HIV/AIDS untuk meningkatkan pengetahuan mengenai HIV/AIDS dan sebagai panduan belajar bagi siswa agar menjauhi penyakitnya bukan penderita penyakit HIV/AIDS.

2. Bagi Tempat Penelitian SMA N 9 Kota Jambi Sebagai bahan masukan bagi pihak sekolah dalam memberikan informasi dan penyuluhan usaha kesehatan sekolah (UKS) tentang pentingnya pengetahuan mengenai HIV/AIDS.

3. Dinas Pendidikan Sebagai bahan masukan dinas pendidikan dalam membuat kebijakan yang berkaitan dengan sekolah serta dapat digunakan sebagai acuan dalam memperbaiki kebijakan sekolah.

6

7

4. Bagi Dinas Kesehatan Kota Jambi Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan program promotif dan preventif dengan melakukan upaya pendidikan kesehatan pada remaja dalam pencegahan HIV/AIDS secara dini.

5. Bagi Institusi Pendidikan Semoga penelitian ini bisa di ambil manfaatnya sebagai referensi atau sebagai langkah awal untuk melakukan penelitian lebih detil lagi dimasa mendatang.

6. Bagi Peneliti Merupakan pengalaman yang sangat berharga serta menambah informasi yang benar tentang pengetahuan HIV/AIDS dan menyikapi ODHA.

7. Bagi Peneliti Lain Semoga penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi dan data tambahan untuk menambah bahan atau referensi untuk penelitian selanjutnya dengan variabel berbeda.

E. Ruang Lingkup Penelitian ini merupkan penelitian survey analitik dengan desain cross sectional yang mengkaji hubungan antara variabel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma terhadap ODHA. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI yang berjumlah 306 orang dengan sampel penelitian berjumlah 73 orang, dengan teknik pengambilan sampel yaitu Stratified Random Sampling. Penelitian ini dilakukan pada 20 Juli 2017. Pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat dan bivariat.

7

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

Landasan Teori HIV/AIDS

1.

a. Pengertian HIV/AIDS HIV merupakan singkatan dari Human Immuno Deficiancy Virus, yaitu virus atau jasad renik yang sangat kecil yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Di dalam tubuh manusia terdapat sel- sel darah putih yang berfungsi untuk melawan dan membunuh bibit atau kuman penyakit yang masuk kedalam tubuh manusia, sehingga manusia tidak jatuh sakit. Inilah yang disebut sistem kekebalan yang merupakan daya tahan tubuh seseorang (Kemenkes, 2012). AIDS adalah sebutan untuk kondisi tubuh seseorng yang sistem kekebalan tubuhnya telah sangat rusak, akibat serangan HIV, sehingga berbagai gejala penyakit ditemukan dalam tubuhnya. AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yaitu pada kondisi ini tubuh telah sangat parah kehilangan sistem kekebalannya, sehingga segala jenis kuman virus dan bibit penyakit dapat menyerang tubuh tanpa dapat dilawan (Kemenkes, 2012).

b. Sejarah HIV/AIDS 1) Sejarah Penemuan Kasus HIV/AIDS Pertama di Dunia Menurut Ardhiyanti et al (2015), di dunia pada tahun 1981, Michael Gottlieb, seorang dokter muda University of California di Los Angeles (UCLA), mempunyai beberapa orang pasien yang sedang menderita sejenis pneumonia yang jarang terjadi, yaitu Pneumocytis Carinii Pneumonia (PCP). PCP sebelumnya hanya ditemukan diantara pasien penderita kanker yang mengalami penekanan sistem imun dalam tubuhnya, biasanya karena

8

9

pemakaian kemoterapi. Beberapa orang pria lainnya muncul di UCLA, juga menunjukkan gejala-gejala PCP disamping demam tinggi yang aneh, kehilangan berat badan dan gejala tak biasa lainnya yang berkaitan dengan menurunnya daya imun tubuh seperti candidiasis (semacam infeksi jamur) di mulut. Gottlieb mengaharapkan bahwa orang-orang itu akan sembuh, ternyata dia keliru. Semua pasien itu kemudian meninggal semua. Gottlieb adalah dokter pertama yang melaporkan adanya rentetan gejala yang aneh ini pada literatur medis. Pada saat itu, sindrom tersebut belum mempunyai nama. Barulah beberapa tahun kemudian sindrom itu diberi nama AIDS. Selanjutnya para peneliti menyimpulkan bahwa kasus AIDS yang paling pertama kalinya di Amerika Serikat, sesungguhnya terjadi pada seseorang pria belasan tahun di St.Louis. Sekalipun asal mula HIV masih belum dapat dipastikan, banyak pihak yang menduga bahwa strain virus yang asli berasal dari monyet simpanse di Afrika. Para ahli telah menemukan sejenis virus yang mirip HIV pada seekor monyet Afrika Barat. Menurut sebuah hipotesis yang menarik tetapi belum dapat dibuktikan, para ahli menduga bahwa virus itu mulanya masuk kedalam tubuh manusia sebagai akibat sampingan dari percobaan-percobaan Malaria mulai tahun 1920-an hingga 1950-an. Pada percobaan tersebut, manusia disuntik dengan darah monyet dan simpanse yang kemungkinan mengandung virus yang ternyata kelak berubah menjadi HIV. Tujuan dari eksperimen ini sebenarnya adalah untuk melihat apakah parasit Malaria didalam tubuh binatang-binatang tersebut bisa menulari tubuh manusia. Pada tahun 1981, kurang dari 100 orang yang meninggal akibat AIDS di AS. CDC meramalkan bahwa pada akhir tahun 1994, sejumlah 415.000 hingga 535.000 orang akan terdiagnosis sebagai penderita AIDS dan sejumlah 330.000 hingga 385.000

9

10

orang meninggal karenanya. Menjelang tahun 1989, AIDS dan infeksi HIV telah menjadi penyebab kematian kedua di AS pada pria usia 25-44 tahun, yakni sebesar 14% dari semua kematian dalam golongan umur tersebut. Menjelang tahun 1990, setiap 12 menit seorang mati akibat AIDS di Amerika Serikat. Pada tahun itu, 10 juta penduduk dunia diperkirakan telah terinfeksi HIV dan menjelang tahun 2000, Badan Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa sekitar 40 juta orang di seluruh dunia akan terinfeksi HIV dan 10 juta sudah menderita AIDS. Setiap tahun, 1.500 hinga 2.000 bayi dilahirkan di Amerika Serikat dengan membawa HIV dalam darahnya. AIDS telah menjadi penyebab kematian terutama pada usia 1-4 tahun di kalangan keturunan kulit hitam khusunya di Kota New York. Jumlah kasus AIDS dan kematian masih diperkirakan meningkat selama tahun 90-an. Dokter-dokter pada tahun 1980-an juga mulai mengamati adanya penderita dikalangan pria muda dengan sejenis kanker sel darah yang langka yaitu Sarkoma Kaposi, demikian pula PCP. Pasien-pasien ini dan mereka yang pernah ditangani oleh Gottlieb memiliki satu persamaan yaitu gay. Oleh karena itulah sindrom tanpa nama itu segera diberi julukan “gay palgue” atau “gay cancer”. Kritikus sosial menuduh pemerintah bertindak lambat terhadap epidemi ini karena adanya prasangka buruk terhadap pria gay. Menurut jurnalis Randy Shuts, Negara tidak peduli akan AIDS sebelum orang-orang tenar seperti antara lain bintang film Rock Hudson, desainer Perry Ellis dan koreografer Mochael Bennett mengidap dan meninggal karena AIDS. Sejak meninggalnya Rock Hudson, penyakit yang tadinya dianggap sebagai “sampar kaum gay” atau “gay plague” ternyata dapat menyerang heteroseksual, terutama orang-orang yang menggunakan jarum suntik, mitra seksnya, bayi dan ibu terinfeksi, dan penderita hemophilia (yang mendapat transfusi

10

11

darah yang tercemar HIV). Jelas bahwa virus ini tidak mengenal apakah tubuh yng diserangnya milik seorang gay, heteroseks atau bayi baru lahir.

2) Sejarah Penemuan Kasus HIV/IDS Pertama di Indonesia Menurut Ardiyanti et al (2015), kasus AIDS di Indonesia pertama kali ditemukan dan diidentifikasi pada seorang laki-laki asing di Bali yang kemudian meninggal pada April 1987. Pada juni 1988 di tempat yang sama juga ditemukan orang Indonesia pertama menjadi perhatian terutama oleh kalangan tenaga kesehatan, dari hasil pemeriksaan darah yang dilakukan pada sekitar tahun 1990 di berbagai ibukota provinsi di Indonesia menujukkan bahwa infeksi HIV telah menyebar ke berbagai provinsi meskipun prevelensinya masih rendah. Pemeriksaan sekitar 10.500 darah donor yang diperiksa hasilnya ternyata negatif. Gejala-gejala meningkatnya infeksi HIV di Indonesia mulai nyata ketika pemeriksaan darah donor pada tahun 1992/1993 menunjukkan HIV positif pada 2 diantara 100.000 donor darah yang kemudian meningkat menjadi 3 per 100.000 donor darah pada tahun 1994/1995. Hampir semua provinsi di Indonesia telah melaporkan infeksi HIV. Meskipun prevalensi HIV secara umum masih rendah, tetapi Indonesia digolongkan sebagai negara dengan tingkat epidemi yang terkonsentrasi (concentrated level epidemic) karena terdapatnya kantong-kantong epidemi dengan prevelensi yang lebih dari 5% dari sub-populasi tertentu. Pada tahun 1999 terjadi fenomena baru dalam penularan HIV/AIDS yaitu infeksi HIV mulai terlihat pada penyalahgunaan Napza suntik, penularan HIV diantara penyalahgunaan Napza suntik terjadi sangat cepat karena penggunaan jarum suntik bersama. Pada tahun 1999, 18% dari para penyalahgunaan Napza yang dirawat di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta

11

12

yang terinfeksi HIV dan meningkat menjadi 40% pada tahun 2000 di Kampung Bali di Jakarta 90% dari penyalahgunaan Napza suntik terinfeksi HIV. Secara umum dapat dikatakan bahwa sejak tahun 1996 sampai dengan tahun 2002 terjadi peningkatan kasus hampir 17,5%. Pada tahun 1996 hanya 2,5% dari kasus AIDS melalui Napza suntik, dan pada tahun 2002 sudah hampir 20%. Dalam 16 tahun terakhir sampai dengan akhir tahun 2002 telah dilaporkan sebanyak 1.016 kasus AIDS. Jumlah yang tercatat tersebut sebenarnya jauh lebih kecil dari prevalensi yang sesungguhnya, karena adanya fenomena gunung es. Pada tahun 2002 data Stratanas Penanggulangan HIV/AIDS 2003-2007 diperkirakan jumlah orang yang terinfeksi HIV berkisar antara 90.000-130.000 orang. Sedangkan data terbaru diperoleh dari laporan Ditjen PP dan PL Kemerdekaan RI, jumlah kumulatif kasus AIDS di Indonesia menurut jenis kelamin sampai dengan akhir juni 2011 sebanyak 26.483 kasus dimana kasus ini paling banyak ditemukan dan pada jenis kelamin laki-laki (19.139 kasus) dan pada kelompok umur 20-49 tahun (23.225 kasus). Hal ini tentu menjadi hal yang memprihatinkan mengingat kelompok umur ini merupakan usia produkif.

c. Gejala Klinis HIV/AIDS Menurut Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER) 2008 dalam Ardhiyanti (2015):

1) Fase awal

a) Tidak ditemukan gejala dan tanda-tanda infeksi

b) Kadang-kadang ditemukan gejala mirip flu, seperti: demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, ruam dan pembengkakan kelenjar getah bening

c) Dapat menularkan virus kepada orang lain

12

13

2) Fase lanjut

a) Penderita bebas dari gejala infeksi selama 8 atau 9 tahun atau

lebih

b) Penderita mulai memperlihatkan gejala yang kronis, seperti:

pembesaran kelenjar getah bening (gejala khas), diare, berat badan menurun, demam, batuk dan pernafaasan pendek.

3) Fase akhir

a) Terjadi sekitar 10 tahun atau lebih

b) Gejala yang berat mulai timbul

c) Berakhir pada penyakit AIDS

d. Cara Penularan Virus HIV/AIDS Menurut Katiandagho (2015), HIV terdapat dalam darah dan cairan tubuh seseorang yang telah tertular, walaupun orang tersebut belum menunjukkan keluhan atau gejala penyakit. HIV hanya dapat ditularkan apabila terjadi kontak langsung dengan cairan tubuh atau darah. Tiga cara penularan HIV/AIDS adalah sebagai berikut :

1) Hubungan seksual, baik secara vaginal, oral maupun anal dengan seorang pengidap. Ini adalah cara yang paling umum terjadi, meliputi 80-90% dari total kasus sedunia. Lebih mudah terjadi penularan apabila terdapat penyakit kelamin seperti herpes genitalis, sifilis, gonorea, klamidia, kankroid, dan trikomoniasis.

2)

Kontak langsung dengan darah/produk darah/jarum suntik:

a) Transfusi darah/produk darah yang tercemar HIV, resikonya sangat tinggi sampai lebih dari 90%

b) Pemakaian jarum tidak steril/pemakaian bersama jarum suntik dan sempritnya pada para pecandu narkotik suntik. Risikonya sekitar 0,5-1%

c) Penularan lewat kecelakaan tertusuk jarum pada petugas kesehatan risikonya kurang dari 0,5%

13

14

3) Secara vertikal, dari Ibu hamil pengidap HIV kepada bayinya, baik selama hamil, saat melahirkan ataupun setelah melahirkan. Risikonya sekitar 25-40%.

d. Pencegahan Penularan HIV/AIDS Menurut Promosi Kesehatan Kemenkes RI (2012), ada 3 cara pencegahan penularan HIV (termasuk ABCDE), yaitu:

1) Pencegahan penularan melalui hubungan seksual (ABC)

a) A = Abstinence = puasa, yaitu tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Hubungan seksual hanya dilakukan melalui pernikahan yang sah.

b) B = Be faithful = setia pada pasangan, yaitu jika telah menikah, melakukan hubungan seksual hanya dengan pasangannya saja (suami atau istri sendiri). Tidak melakukan hubungn seksual

diluar nikah.

c) C = using Condom = menggunakan kondom, yaitu bagi salah

satu pasangan suami istri yang telah terinfeksi HIV agar tidak menularkan kepada pasangannya. 2) Pencegahan penularan melalui darah (termasuk DE)

a) D = Drugs = tidak menggunakan narkoba, karena saat sakaw (gejala putus obat) tidak ada pengguna narkoba yang sadar akan kesterilan jarum suntik, apalagi ada rasa kekompakan untuk memakai jarum suntik yang sama secara bergantian, dan menularkan HIV dari pecandu yang telah terinfeksi kepada pecandu lainnya.

b) E = Educative = memberikan informasi dari sumber yang kompeten melalui penyuluhan, seminar, pelatihan, dan lain- lain.

c) Mewaspadai darah yang diperlukan untuk transfusi, pastikan telah dites bebas HIV.

14

15

3) Pencegahan penularan dari ibu kepada anak Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melaui rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan adalah sebesar 25-45%. Risiko ini semakin besar jika ibu telah masuk ke kondisi AIDS. Risiko dapat diturunkan jika dilakukan:

a) Intervensi berupa pemberian obat antiretroviral (ARV) kepada selama masa kehamilan (biasanya mulai usia kehamilan 36 minggu);

b) Kemudian ibu melakukan persalinan secara bedah (Caesar); dan

c) Ibu memberikan susu formula sebagai pengganti ASI, karena ASI ibu yang mengidap HIV mengandung virus (HIV).

e. Pembagian Stadium HIV/AIDS

Menurut Nursalam (2007), ada empat pembagian stadium , yaitu:

1) Stadium pertama: HIV Infeksi dimulai dengan masuknya HIV dan terjadinya perubahan serologis, ketika antibodi terhadap virus ini berubah dari negatif berubah menjadi positif. Rentang waktu sejak virus HIV masuk ke dalam tubuh sampai tes antibodi terhadap HIV menjadi positif disebut window period. Lama window period antara satu sampai tiga bulan, bahkan ada yang dapat berlangsung sampai enam bulan. 2) Stadium kedua : Asimtomatik (tanpa gejala) Asimtomatik berarti didalam organ tubuh terdapat HIV tetapi tubuh tidak menunjukkan gejala-gejala. Keadaan ini berlangsung rata-rata selama 5-10 tahun. Cairan tubuh pasien HIV/AIDS yang tampak sehat ini sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain.

15

16

3) Stadium ketiga Pembesaran kelenjar limfe secara menetap dan merata (Persistent Generalized Lymphadenopathy), tidak hanya muncul pada satu tempat saja, dan berlangsung lebih dari satu bulan. 4) Stadium keempat: AIDS Keadaan ini disertai adanya bermacam-macam penyakit, antara lain penyakit konstitusional, penyakit syaraf, dan penyakit infeksi sekunder.

2. Stigma

a. Pengertian Stigma Secara etimologis, konsep “stigma” berasal dari kata Yunani yang mengacu pada tato. Ini umumnya memiliki dua makna yaitu tanda-tanda fisik dan sekuler yaitu tanda aib, diskredit, atau kekejian (Mbonu, 2009). Stigma adalah bentuk prasangka (prejudice) yang mendiskreditkan atau menolak seseorang atau kelompok karena mereka dinggap berbeda dengan diri kita atau kebanyakan orang (Ardhiyanti et al, 2015). Stigma adalah suatu ancaman, sifat atau karakteristik bahwa masyarakat menerima ketidaknyamanan yang sangat tinggi. Mendapat ancaman membuat seseorang menerima stigmatisasi (Katiandagho, 2015). Stigma adalah tindakan memberikan label sosial yang bertujuan untuk memisahkan atau mendeskreditkan seseorang atau sekelompok orang dengan cap atau pandangan buruk. Dalam prakteknya, stigma mengakibatkan tindakan diskriminasi, yaitu tindakan tidak mengakui atau tidak mengupayakan pemenuhan hak-hak dasar individu atau kelompok sebagaimana selayaknya sebagai manusia yang bermartabat (Kementrian Kesehatan RI, 2012).

b. Tipe Stigma Stigma dapat terjadi secara eksternal maupun internal. Stigma eksternal mengacu pada pengalaman nyata yang dialami ODHA berupa

16

17

diskriminasi, sedangkan stigma internal adalah persepsi diri negatif dan ketakutan terhadap kemungkinan diskriminasi. Stigma internal mengakibatkan ODHA membentuk pertahanan diri untuk menghindarkannya dari stigma eksternal, berupa menutupi status HIV dan tidak berkeinginan untuk mencari pertolongan yang tepat (Mbonu et al, 2009). Tipe stigma menurut model modifikasi dari Mitchell Weiss membagi stigma ke dalam dua tipe yaitu :

1)

Orang yang Terstigma (People who are stigmatised) Orang yang terstigma terdiri dari:

a) Anticipated stigma (Stigma yang dirasakan)

b) Internalised stigma (Stigma diri)

c) Experienced Stigma (Diskriminasi yang dialami)

2)

Orang yang Menstigma (Stigmatisers)

a) Enacted Stigma (Diskriminasi yang dilakukan)

b) Ketakutan

c) Symbolic Stigma (Stigma dalam perkumpulan)

d) Perceived stigma (Sikap)

Berdasarkan jurnal penelitian stigma Holzemer et al (2007) membagi stigma pada ODHIV dan ODHA dalam beberapa komponen yaitu:

1)

Kekerasan verbal (Verbal abuse)

2)

Kekerasan verbal yaitu perilaku verbal yang merugikan ODHA. Bentuk dari kekerasan verbal adalah memberikan ejekan, hinaan, menyalahkan ODHIV dan ODHA. Persepsi diri yang negatif (negative self perception) Persepsi diri yang negatif yaitu evaluasi diri yang negatif berdasarkan status HIV nya. Bentuk dari persepsi diri yang negatif adalah ODHIV dan ODHA merasa malu terhadap penyakitnya, merasa tidak berharga, merasa sebagai pembawa masalah dan perasaan tidak pantas sebagai manusia.

17

18

3)

Pengabaian dalam pelayanan kesehatan (Healthcare neglect)

4)

Pengabaian dalam pelayanan kesehatan (Healthcare neglect) yaitu pengabaian baik di rumah sakit maupun klinik. Bentuk dari pengabaian ini adalah dengan tidak memberikan perawatan yang sama seperti pasien lainnya atau tidak diperbolehkan mengakses pelayanan kesehatan berdasarkan status HIV nya. Pengucilan/isolasi sosial (Social isolation)

5)

Pengucilan/isolasi sosial adalah membatasi hubungan sosial atau memutuskan hubungan dengan ODHA. Bentuk dari pengucilan ini adalah tidak memiliki teman akibat mengetahui status HIV nya, orang- orang mengakhiri hubungan dengan pengidap HIV, dan menyalahkan pengidap HIV akibat statusnya. Ketakutan terhadap penularan (Fear of contagion)

6)

Ketakutan terhadap penularan adalah segala perilaku menunjukkan ketakutan untuk berdekatan atau melakukan kontak langsung dengan ODHA atau benda yang digunakan ODHA karena khawatir tertular. Bentuk dari perilaku ini adalah pemisahan peralatan makan, tidak boleh makan bersama, saat batuk atau bersin, dan ketakutan untuk mengobrol. Stigma di tempat kerja (Workplace Stigma). Stigma di tempat kerja adalah pemutusan akses kerja atau peluang kerja berdasarkan status HIV seseorang. Bentuk stigma di tempat kerja adalah dipecat dari tempat kerja karena staus HIV, tidak diberikannya peluang untuk mengembangkan karier.

c. Dampak Stigma Menurut Phulf (dalam Hermawati, 2012) hasil penelitian menemukan ada beberapa akibat dari stigma yaitu:

1) Stigma sulit mencari bantuan 2) Stigma membuat semakin sulit memulihkan kehidupan karena stigma dapat menyebabkan erosinya self-confidence sehingga menarik diri dari masyarakat

18

19

3) Stigma menyebabkan diskriminasi sehingga sulit mendapatkan akses pekerjaan 4) Masyarakat bisa lebih kasar dan kurang manusiawi 5) Keluarganya menjadi lebih terhina dan terganggu. Selain itu beberapa jurnal yang membahas mengenai stigma dan diskriminasi menyatakan bahwa stigma dan diskriminasi mengakibatkan kecemasan dan ketakutan ODHA untuk membuka statusnya. Hal ini dikemukakan oleh Busca dalam literatur review yang berjudul Chalenging Stigma and Discrimination in Southeast Asia, Duffy dalam jurnal berjudul Suffering, Shame, and Silence: The Stigma of HIV/AIDS, Holzemer dalam jurnal berjudul Managing AIDS Stigma serta review paper yang dikeluarkan oleh UNDP yang berjudul HIV Related Stigma and Discrimination in Asia. Populasi rawan pun merasa takut untuk menjalani tes diagnostik disebabkan oleh ancaman stigma dan diskriminasi. Hal ini menjadikan penghalang bagi ODHA dan populasi rawan untuk menjangkau ketersediaan pelayanan kesehatan.

d. Pengaruh Stigma dan Upaya Pencegahan Stigma HIV dan AIDS Stigma mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan ODHA. Mereka bisa kehilangan dukungan sosial, kehilangan pekerjaan, pengucilan, penganiayaan, bahkan kesulitan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. Karena itu, stigma merupakan hambatan utama dalam pencegahan primer dan sekunder HIV dan AIDS dan berakibat meningkatkan kesakitan dan kematian (Holzemer et al, 2007). Upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk penghapusan stigma adalah: (Kemenkes, 2013) 1) Memberikan dukungan psikososial. 2) Testimoni ODHA maupun keluarganya mengenai pengalaman mereka hidup dengan HIV atau hidup dengan orang yang positif HIV. 3) Pengawasan bahasa (language watch) dengan melakukan “survei mendengarkan” untuk mengidentifikasi kata-kata yang menstigma

19

20

yang sering digunakan dalam masyarakat (di media maupun lagu-lagu populer). 4) Community walk untuk mengidentifikasi titik stigma di masyarakat Pertunjukan drama berdasarkan kisah nyata. 5) Pameran gambar sebagai titik fokus untuk memulai diskusi mengenai stigma.

e. Hasil Pengukuran Stigma

Dalam penelitian ini stigma diukur menjadi dua kategori, yaitu:

1. Tinggi: bila skor total ≥ 15 (median)

2. Rendah: bila skor total < 15 (median) (Azwar, 2011). Apabila hasil skor presentase stigma dikatakan rendah maka disimpulkan bahwa stigma terhadap ODHA pada siswa dikatakan baik, karena semakin rendah stigma maka semakin baik. Begitu juga sebaliknya, apabila hasil skor presentase stigma tinggi, maka dapat disimpulkan bahwa stigma terhadap ODHA pada siswa buruk (Arikunto, 2006). Pengukuran stigma menggunakan skala Likert dengan kuesioner berupa pernyataan:

Favorable (+) 1) Skor 4 = Sangat Setuju (SS) 2) Skor 3 = Setuju (S) 3) Skor 2 = Tidak Setuju (TS)

4) Skor 1 = Sangat Tidak Setuju (STS) Unfavorable (-) 1) Skor 1 = Sangat Setuju (SS) 2) Skor 2 = Setuju (S) 3) Skor 3 = Tidak setuju (TS) 4) Skor 4 = Sangat Tidak Setuju (STS)

20

21

3. ODHA

Definisi ODHA Dalam Bahasa Inggris otang yang terinfeksi HIV/AIDS itu disebut PLWHA (People Living with HIV/AIDS), sedangkan di Indonesia kategori ini diberi nama ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) dan OHIDA (Orang yang hidup dengan HIV/AIDS) baik keluarga serta lingungannya. ODHA atau orang dengan HIV/AIDS merupakan orang yang menderita HIV/AIDS yang secara fisik sama dengan kita yang tidak menderita HIV/AIDS. Mereka pada umumnya memiliki ciri-ciri yang sama seperti orang yang sehat sehingga tidak dapat diketahui apakah seseorang itu menderita HIV/AIDS atau tidak (Ardhiyanti et al, 2015). Perilaku terbentuk di dalam diri seseorang terdiri dari dua faktor utama yakni: stimulus merupakan faktor dari luar diri seseorang tersebut (faktor eksternal), dan respons merupakan faktor dari dalam diri orang yang bersangkutan (faktor internal). Faktor eksternal atau stimulus adalah faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, maupun non-fisik dalam bentuk sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Sedangkan faktor internal yang menentukan seseorang itu merespons stimulus dari luar adalah perhatian, pengamatan, persepsi, motivasi, fantasi, sugesti, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010).

a.

Pengetahuan

4.

a. Pengertian Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu pengindraan sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda (Notoatmodjo,

2014).

21

22

b. Tingkatan Pengetahuan Pengetahuan mempunyai 6 tingkatan sebagai berikut (Notoatmo djo, 2014) :

a) Tahu (Know) Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.

b) Memahami (Comprehension) Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterprentasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.

c) Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.

d) Analisis (Analysis) Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen- komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.

e) Sintesis (Sinthesis) Sintesis menunjuk suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen- komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formula-formulasi yang telah ada.

22

23

f) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku dimasyarakat.

c. Sumber Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2010) pengetahuan sepanjang sejarah dapat

dikelompokkan menjadi dua berdasarkan cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran, yaitu:

1) Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan

a) Cara coba-coba saalah (Trial dan Error) Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan dan bahkan mungkin sebelum adanya peradapan yang dilakukan dengan menggunakan kemungkinan yang lain sampai masalah dapat dipecahkan.

b) Cara kekuasaan atau otoriter Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan. Prinsip ini adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang punya otoriter, tanpa terlebih dahulu membuktikan kebenarannya, baik

berdasarkan fakta empiris maupun berdasarkan masa lalu.

c) Berdasarkan pengalaman pribadi Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapkan pada masa lalu.

d) Melalui jalan pikiran Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikiran, baik melalui induksi maupun

23

24

deduksi. Apabila proses pembuatan kesimpulan itu melalui pernyataan-pernyataan khusus kepada yang umum dinamakan induksi, sedangkan deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan umum kepada yang khusus. 2) Cara modern dalam memperoleh pengetahuan Cara ini disebut “metode penelitian ilmiah” atau lebih populer disebut metodologi penelitian. Cara penelitian yang dewasa ini kita kenal sebagai metodologi penelitian ilmiah.

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah (Notoatmodjo, 2010):

1. Pendidikan Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah yang berlangsung seumur hidup.

2. Media masa/informasi Informasi yang diperoleh dari pendidikan formal dan non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate inpact) sehingga menghasilakan perubahan atau peningkatan pengetahuan.

3. Sosial budaya dan ekonomi Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh seseorang tanpa melalui

penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuan walaupun tidak melakukannya.

4. Lingkungan Lingkungan sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulangi kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu.

24

25

5. Usia Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan makin bertambah pula daya tangkap dan pola pikir, sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin membaik.

e. Pengukuran Pengetahuan Pengetahuan tentang kesehatan dapat diukur berdasarkan jenis

penelitiannya, kuantitatif atau kualitatif (Notoatmodjo, 2014). Hasil ukur pengetahuan dalam penelitian ini yaitu:

1)

Jika responden menjawab benar diberi kode 1

2)

Jika responden menjawab salah diberi kode 0

Kategori pengetahuan:

a) Kurang Baik, bila skor jawaban <76% dari skor total

b) Baik, bila skor jawaban 76-100% dari skor total (Arikunto, 2006).

3.

Remaja

a. Definisi remaja Menurut WHO, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun, menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam usia 10-18 tahun dan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah (Kemenkes RI,

2015).

b. Masa Remaja Menurut Margiyati dan Marmi (2013), masa perkembangan remaja dimulai dengan masa puber, yaitu umur kurang lebih antara 12-14 tahun. Masa puber atau masa permulaan remaja adalah suatu masa saat perkembangan fisik dan intelektual berkembang sangat cepat. Pertengahan masa remaja adalah suatu masa yang lebih stabil untuk

25

26

menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan perubahan permulaan remaja, kira-kira berumur 18 tahun - 20 tahun ditandai dengan transisi untuk mulai bertanggung jawab, membuat pilihan dan berkesmpatan untuk mulai menjadi dewasa. Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu: Folicle- Stimuating Hormone (FSH), dan Luteinizing Hormone (LH). Pada anak perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan progestron. Pada anak laki-laki, Luteinizing Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut diatas mengubah sistem biologis seorang anak. Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, dan lain-lain. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara otot, dan fisik lainnya yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone. Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja. Pada umumnya masa remaja dapat dibagi dalam dua periode yaitu:

1) Periode Masa Puber usia 12-18 tahun a) Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Cirinya: anak tida suka diperlakukan seperti anak kecil lagi, dan anak mulai bersikap kritis. b) Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya:

mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya, memperlihatkan penampilan, sikapnya tidak menentu atau plin- plan, dan suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib.

26

27

c) Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa

pubertas ke masa adolesen. Cirinya: Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi psikologinya belum tercapai sepenuhnya, proses kedewasaan jasmaniah pada tremaja putri lebih awal dari remaja pria. 2) Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun

Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:

a) Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis

b) Mulai menyadari akan realitas

c) Sikapnya mulai jelas tentang hidup

d) Mulai nampak bakat dan minatnya

Dengan mengetahui berbagai tuntutan psikologis perkembangan remaja dan ciri-ciri usia remaja, diharapkan para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya.

27

28

B. Kerangka Teori

Pengalaman

Fasilitas

Sosio-Budaya

28 B. Kerangka Teori Pengalaman Fasilitas Sosio-Budaya Bagan 2.1 Kerangka teori Persepsi Pengetahuan Keyakinan

Bagan 2.1

Kerangka teori

Persepsi

Pengetahuan

Keyakinan

Keinginan

Motivasi

Niat

Sikap

PerilakuPengetahuan Keyakinan Keinginan Motivasi Niat Sikap Eksternal Internal Respons Sumber: Notoatmodjo (2010) 28

Keyakinan Keinginan Motivasi Niat Sikap Perilaku Eksternal Internal Respons Sumber: Notoatmodjo (2010) 28

Eksternal

Keyakinan Keinginan Motivasi Niat Sikap Perilaku Eksternal Internal Respons Sumber: Notoatmodjo (2010) 28

Internal

Keyakinan Keinginan Motivasi Niat Sikap Perilaku Eksternal Internal Respons Sumber: Notoatmodjo (2010) 28

ResponsPengetahuan Keyakinan Keinginan Motivasi Niat Sikap Perilaku Eksternal Internal Sumber: Notoatmodjo (2010) 28

Sumber: Notoatmodjo (2010)

28

29

C. Hipotesis Menurut Notoatmodjo (2012), untuk mengarahkan kepada hasil penelitian maka dalam perencanaan penelitian perlu dirumuskan jawaban sementara dari penelitian. Jawaban sementara dari suatu penelitian ini biasanya disebut hipotesis. Jadi, hipotesis didalam suatu penelitian berarti jawaban sementara penelitian, patokan duga, atau dalil sementara, yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut. Setelah melalui pembuktian dari hasil penelitian maka hipotesis ini dapat benar atau salah, dapat diterima atau ditolak. Berdasarkan definisi diatas, hipotesis dalam penelitian ini adalah:

Ha : Ada hubungan antara pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS pada siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017. H0 : Tidak ada hubungan antara pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS pada siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017.

29

30

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah survei analitik dengan rancangan

cross sectional. Rancangan cross sectional adalah suatu penelitian yang

dilakukan untuk mempelajari dinamika korelasi antara variabel sebab atau

resiko, dan akibat, yang terjadi pada objek penelitian yang diukur atau

dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2010).

B. Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan

antara antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya, atau antara variabel

yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti

(Notoatmodjo, 2012).

Bagan 3.1

Kerangka Konsep

Variabel Independen

Variabel Dependen

PENGETAHUAN

TENTANG

HIV/AIDS

STIGMA TERHADAP ODHA

PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS STIGMA TERHADAP ODHA C. Variabel Penlitian Variabel penelitian adalah segala

C. Variabel Penlitian

Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang

hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010).

30

31

Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka macam-macam variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi:

1. Variabel Independen (bebas) Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor, antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel Independen dalam penelitin ini adalah pengetahuan tentang HIV/AIDS.

2. Variabel Dependen (terikat) Variabel ini sering disebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel Dependen dalam penelitian ini adalah stigma terhadap ODHA.

D. Definisi Operasional Definisi operasional adalah ukuran tentang batasan variabel yang dimaksud atau tentang apa saja yang diukur oleh variabel yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2012).

31

32

Tabel 3.1 Definisi Operasional

 

Definisi

Alat

   

Variabel

Operasional

Ukur

Skala

Hasil Ukur

Pengetahuan

Segala sesuatu

Kuesioner

Ordinal

1. Kurang Baik:

yang diketahui

bila skor jawaban <76% dari skor total

oleh siswa

sebagai

responden

2. Baik: bila skor jawaban 76- 100% dari skor total (Arikunto,

2006).

bekaitan dengan

HIV/AIDS

Stigma

Pandangan

Kuesioner

Ordinal

1. Tinggi

buruk atau

(menolak):

negatif terhadap

bila skor total ≥ 15 (median)

orang lain.

2. Rendah (menerima):

bila skor total < 15 (median) (Azwar, 2011)

E. Lokasi dan Waktu Penelitian Tempat penelitian dilakukan di SMA N 9 Kota Jambi pada tanggal 20 Juli 2017.

32

33

F. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karekteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010). Berdasarkan pengertian ini bahwa dapat disimpulkan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi pada bulan Maret 2017 sebanyak 306 siswa. 2. Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2010). Dalam penelitian ini teknik sampel yang digunakan ialah Probablity Sampling, pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik pengambilan sampel yang dipilih yaitu Stratified Random Sampling yaitu pengambilan anggota sampel secara acak sederhana dengan cara pengundian berdasarkan strata atau perkelas. Adapun rumus penarikan sampel dapat diuraikan sebagai berikut :

n =

N.z² p.q

d² (N-1) + z². p.q

Keterangan:

n

= Perkiraan besar sampel

N

= Perkiraan besar populasi = 306

= nilai standar normal untuk α = 0,05 (1,96)

p

= perkiraan proporsi (50%) = 0,5

q

= 1 p (100% - p )

d

= Tingkat kesalahan yang dipilih (10%) = 0,1

33

34

Penyelesaian rumus:

= 306 (1,96)² (0,5) (0,5)

(0,1)² (306 1) + (1,96)² (0,5) (0,5)

= 306 (3,8416) (0,5) (0,5)

(0,01) (305) + 3,8416 (0,5) (0,5)

= 293,8824

3,05 + 0,9604

= 293, 8824 4,0104 = 73,28
= 293, 8824
4,0104
= 73,28

73

Jadi, jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 73 responden. Perhitungan untuk sampel setiap kelas menggunakan rumus:

n i =

N i

N

X n

Keterangan:

n i = Jumlah sampel per kelas

N i = Jumlah siswa per kelas

N = Jumlah populasi keseluruhan

n = Jumlah sampel keseluruhan

34

35

Tabel 3.2

Jumlah Sampel Setiap Kelas XI SMA N 9 Kota Jambi

No

Kelas

Jumlah

Jumlah Sampel

 

1 IPA 1

XI

40

9,54 = 10

 

2 IPA 2

XI

40

9,54 = 10

 

3 IPA 3

XI

39

9,30 = 9

 

4 IPS 1

XI

38

9,07 = 9

 

5 IPS 2

XI

38

9,07 = 9

 

6 IPS 3

XI

39

9,30 = 9

 

7 IPS 4

XI

35

8,35 =8

 

8 IPS 5

XI

37

8,83 = 9

 

Total

 

Responden

73 Sampel

Kriteria sampel :

a. Kriteria Inklusi

1)

Siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi

2)

Bersedia menjadi responden

3)

Dapat diajak berkomunikasi dan kooperatif

b. Kriteria Ekslusi

1)

Siswa yang tidak lengkap mengisi kuesioner

G. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik penelitian data yang digunakan oleh peneliti

adalah data primer dan data sekunder yaitu sebagai berikut :

1. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber data pertama atau

tangan pertama di lapangan. Sumber data ini mengunakan kuesioner.

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui studi pustaka, media

internet atau laporan data yang diperoleh dari berbagai sumber.

35

36

H. Instrumen Penelitian Menurut Sugiyono (2010) instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian . Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti, dengan demikian jumlah instrumen yang akan digunakan untuk penelitian akan tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Alat ukur atau instrumen penelitian yang dapat diterima sesuai standar adalah alat ukur yang telah memenuhi uji validitas dan realibilitas data. Kuesioner untuk penelitian terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan realibilitas dengan karakteristik seperti sejenis diluar lokasi penelitian.

1. Uji Validitas Menurut Notoatmodjo (2012), validitas adalah suatu indeks yang menunjukan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur. Dalam penelitian ini alat ukurnya yaitu kuesioner. Untuk mengetahui apakah kuesioner yang disusun tersebut mampu mengukur apa yang hendak diukur, maka perlu diuji korelasi antara skors (nilai) tiap-tiap item (pertanyaan) dengan skors total kuesioner tersebut. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang seharusnya hendak diukur. Instrumen dikatakan valid jika r hitung (0,544) > r tabel maka pernyataan tersebut valid, sedangkan jika r hitung (0,544) < dari pada r tabel maka pernyataan tidak valid. Uji Validitas dilakukan di SMA N 8 Kota Jambi pada tanggal 17 Juli 2017. Berdasarkan hasil uji validitas dari 30 item pernyataan yang terdiri dari 20 pernyataan tentang pengetahuan dan 10 item pernyataan tentang stigma. Diperoleh hanya 10 item tentang pengetahuan yang valid dan pernyataan stigma hanya 6 item yang valid. Pernyataan yang tidak valid dalam hasil uji validitas ini tidak dipakai dan tidak diganti karena 16 item yang valid telah mewakili semua pernyataan.

36

37

2. Uji Realibitas Realiabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius, mengarahkan responden memilih jawaban-jawaban tertentu. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya, maka berapa kalipun diambil tetap akan sama hasilnya (Arikunto, 2010). Berdasarkan uji realibilitas diperoleh koefisien sebesar 0,866 untuk skala pengetahuan tentang HIV/AIDS dan 0,859 untuk skala stigma terhadap ODHA termasuk dalam kategori tinggi atau reliabel.

I. Langkah-langkah Penelitian

1. Mengajukan judul

2. Pengambilan data awal dan survei awal di Dinas kesehatan Kota Jambi

3. Pengambilan data awal dan survei awal di Dinas Pendidikan Provinsi Jambi

4. Pengambilan data awal dan survei awal di SMA N 9 Kota Jambi

5. Penyusunan proposal

6. Seminar proposal

7. Pelaksanaan penelitian

8. Penyusunan KTI

9. Ujian KTI

10. Pengumpulan KTI

J. Pengolahan dan Analisis Data 1. Pengolahan Data

a. Editing (Penyuntingan Data) Menurut Notoatmodjo (2012), secara umum editing adalah merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isi formulir atau kuesioner tersebut :

37

38

1)

Apakah lengkap, dalam arti kata semua jawaban sudah terisi

2)

Apakah jawaban atau tulisan masing-masing pertanyaan cukup jelas

3)

atau terbaca Apakah jawabannya relevan dengan pertanyaannya

4) Apakah jawaban-jawaban pertanyaan kuesioner dengan jawaban pertanyaan yang lainya

b. Coding (Memberi Kode) Coding adalah mengklasifikasikan jawaban dari para respoden ke

dalam kategori (Saryono, 2011). Dalam pengkodean penelitian ini sebagai berikut :

1)

Pengetahuan

a) Pengetahuan Kurang Baik diberi kode 1

b) Pengetahuan Baik diberi kode 2

2)

Stigma

a) Stigma Tinggi diberi kode 1

b) Stigma Rendah kode 2

c. Scoring (memberi nilai) Scoring adalah memberikan penilaian terhadap item-item yang perlu diberi penilaian atau skor.

1)

Pengetahuan Jika responden menjawab dengan benar diberi skor 1 Jika responden menjawab dengan salah diberi skor 0 Kategori pengetahuan:

c) Kurang Baik, bila skor jawaban <76% dari skor total

d) Baik, bila skor jawaban 76-100% dari skor total

2)

Stigma Penghitungan scoring stigma dilakukan dengan menggunakan skala Likert yang pengukurannya sebgai berikut:

Favorable (+) Skor 4 = Sangat Setuju (SS) Skor 3 = Setuju (S)

38

39

Skor 2 = Tidak Setuju (TS) Skor 1 = Sangat Tidak Setuju (STS) Unfavorable (-) Skor 1 = Sangat Setuju (SS) Skor 2 = Setuju (S) Skor 3 = Tidak setuju (TS) Skor 4 = Sangat Tidak Setuju (STS) Kategori stigma:

a) Tinggi, skor total ≥ 15 (median)

b) Rendah, skor total < 15 (median)

d. Tabulating Tabulating adalah pekerjaan membuat tabel. Jawaban-jawaban yang telah diberi kode kemudian dimasukkan ke dalam tabel.

e. Data Entry (memasukkan data) Hasil penelitian dalam bentuk coding dimasukkan ke dalam program pengolahan data.

f. Cleaning (Pembersihan Data) Pengcekan kembali untuk melihat kemungkinanan adanya kesalahan- kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.

2. Analisis Data Menurut Sugiyono (2010) analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Setelah semua data terkumpul, maka peneliti melakukan analisis data melalui beberapa tahap. Pertama, memeriksa kelengkapan data responden dan memastikan semua jawaban terisi. Setelah itu mengklasifikasi data dengan menggunakan teknik komputerisasi SPSS, yaitu menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat. Metode statistik untuk analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

39

40

a. Analisis Univariat Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendiskripsikan karakteristik setiap varibel penelitian. Pada penelitian ini, adapun data dengan metode analisis univariat digunakan untuk menganalisa variabel independen yaitu pengetahuan tentang HIV/AIDS dan variabel dependen adalah stigma terhadap ODHA.

b. Analisa Bivariat Suatu proses untuk menganalis hubungan antara variabel untuk melihat hubungan antara variabel independen yaitu pengetahuan tentang HIV/AIDS dan variabel dependen yaitu stigma terhadap ODHA. Uji statistik yang digunakan adalah Chi-Square. Uji Chi- Square digunakan untuk menganalisa hubungan kategori dengan kategori. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan stigma terhadap ODHA digunakan taraf signifikan yaitu α (0,05):

1) Apabila p ≤ 0,05 = Ho ditolak, berarti ada hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma terhadap ODHA pada siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi tahun 2017. 2) Apabila p > 0,05 = Ho diterima atau gagal menolak Ha, berarti tidak ada hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma terhadap ODHA pada siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi tahun

2017.

40

41

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian SMA N 9 Kota Jambi terletak di Jalan Berdikari Kelurahan Pal

Merah Lama Kota Jambi, dengan luas tanah yaitu 10001m. Batas wilayah SMA N 9 Kota Jambi adalah :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kel. Sijenjang

2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kel. Tanjung Lumut

3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Muaro Jambi

4. Sebelah Barat berbatasan dengan Muaro Jambi

SMA N 9 Kota Jambi adalah Sekolah yang akreditasi A yang dikepalai oleh bapak Drs.Anwar Musaddad, dengan guru sebanyak 47orang, tata usaha 12 orang, petugas kebersihan 4 orang, dan petugas keamanan 3 orang. Sementara jumlah siswa sebanyak 883 orang. Kegiatan belajar mengajar di SMA N 9 Kota Jambi menggunakan sisitem Kurikulum 2013.

B. Kualitas Data Sumber penelitian ini diperoleh melalui hasil pembagian kuesioner langsung terhadap siswa SMA N 9 Kota Jambi sebanyak 73 responden untuk mengetahui “Hubungan Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dengan Stigma Terhadap Orang dengan HIV/AIDS Pada Siswa Kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017”. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dan dibantu oleh dua orang teman mahasiswi DIII Akademi Kebidanan Jakarta Mitra Sejahtera serta dibantu oleh Guru Bimbingan Konseling SMA N 9 Kota Jambi sebagai fasilitator antara peneliti dengan siswa SMA N 9 Kota Jambi. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 20 Juli 2017.

41

42

C. Penyajian Hasil Penelitian

1. Analisis Univariat

a. Gambaran Pengetahuan tentang HIV/AIDS

Gambaran

jawaban

responden

tentang

pengetahuan

HIV/AIDS dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini.

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Mengenai Pengetahuan Tentang HIV/AIDS pada Siswa Kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017 (n=73)

No

Pernyataan

Benar

Salah

 
 

f

%

f

%

1

HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh

67

91,8

6

8,2

2

AIDS merupakan istilah yang menunjukkan yang sudah terinfeksi HIV

19

26,0

54

74,0

3

AIDS Mmelemahkan dan merusak sistem pertahanan tubuh

61

83,6

12

16,4

4

HIV muncul setelah terinfeksi AIDS

20

27,4

53

72,6

5

Virus HIV terdapat dam darah,cairan vagina, air mani, dan air susu ibu

63

86,3

10

13,7

6

Dengan menghindari hubungan seksual sebelum nikah dapat mencegah penularan

46

63,0

27

37,0

7

Memakai jarum suntik secara bergantian oleh pecandu narkoba dapat menularkan

27

37,0

46

63,0

8

Saling setia pada pasangan dapat mengurangi resiko tertular HIV

43

58,9

30

41,1

9

Hubungan seks tidak aman, jarum suntik bergantian,transfusi darah dapat menularkan

62

84,9

11

15,1

10

Virus HIV dapat menularkan dari ibu

8

11,0

65

89,0

hamil ke bayi dalam kandungannya

42

43

Berdasarkan tabel diatas dari 73 responden, mayoritas

responden yaitu sebanyak 67 responden (91,8%) mengetahui HIV

adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan sebagian

besar yaitu sebanyak 65 responden (89,0%) tidak mengetahui virus

HIV dapat menularkan dari ibu hamil ke bayi dalam

kandungannya.

Pengetahuan tentang HIV/AIDS ada dua kategori yaitu

pengetahuan kurang baik dan baik. Kategori pengetahuan kurang

baik diperoleh jika skor hasil <76% (menjawab pernyataan ≤ 7

pernyataan benar) dan pengetahuan baik jika hasil <76-100%

(menjawab ≥ 8 pernyataan benar). Sehingga hasil distribusi

frekuensi pengetahuan tentang HIV/AIDS dapat dilihat pada tabel

4.2 berikut ini :

Tebel 4.2 Distribusi frekuensi pengetahuan tentang HIV/AIDS pada siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017

NO

Pengetahuan

Frekuensi

Presentase

 

(%)

1

Kurang Baik

57

78,1

2

Baik

16

21,9

 

Total

73

100

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa dari 73 responden

sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang baik yaitu

sebanyak 57 orang (78,1%) dan 16 responden (21,9%) memiliki

pengetahuan baik.

b. Gambaran Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS

Gambaran jawaban responden mengenai stigma terhadap

orang dengan HIV/AIDS dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini:

43

44

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Mengenai Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS pada Siswa Kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017

 

(n=73)

 

No

Pernyataan

SS

S

TS

STS

 

f

%

f

%

f

%

f

%

1

Menghindari hubungan seks sebelum menikah dapat mencegah penularan HIV/AIDS

23

31,5

50

68,5

0

0

0

0

2

Orang dengan HIV tidak terlihat menyeramkan dan menakutkan

10

13,7

63

86,3

0

0

0

0

3

Seorang anak positif HIV layak memperoleh kesempatan pendidikan

0

0

48

65,8

25

34,2

0

0

4

HIV/AIDS adalah hukuman bagi perilaku menyimpang

2

2,6

62

84,9

9

12,3

0

0

5

ODHA patut dikarantina/isolasi dari lingkungannya

9

12,3

64

87,7

0

0

0

0

6

Seorang wanita HIV positif yang mengandung harus digugurkan

27

37,0

45

61,6

1

1,4

0

0

Berdasarkan tabel diatas diketahui sebagian besar

responden sebanyak 64 responden (87,7%) mengatakan setuju

ODHA patut dikarantina/isolasi dari lingkungannya dan 62

responden (84,9%) mengatakan setuju HIV/AIDS adalah

hukuman bagi perilaku menyimpang.

44

45

Sehingga kategori stigma pada penelitian ini ada dua

kategori yaitu tinggi (skor total ≥ median) dan rendah (skor total

< median) dengan nilai median 15. Jadi distribusi frekuensi

stigma dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut ini :

Tebel 4.4 Distribusi Fekuensi Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS Siswa Kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017

NO

Stigma

Frekuensi

Presentase

 

(%)

1

Tinggi

47

64,4

2

Rendah

26

35,6

 

Total

73

100

Berdasarkan tabel diatas diketahui dari 73 responden,

mayoritas responden menstigma tinggi Orang dengan

HIV/AIDS sebanyak 47 responden (64,4%) dan sebanyak 26

responden (35,6%) menstigma rendah Orang dengan

HIV/AIDS.

c. Analisis Bivariat

1) Analisis Hubungan pengetahuan tentang HIV/AIDS

dengan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS

Analisis hubungan pengetahuan responden tentang

HIV/AIDS dengan stigma terhadap orang dengan

HIV/AIDS dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut ini :

45

46

Tebel 4.5 Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS pada Siswa Kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017

Kurang

Stigma

Tinggi

Rendah

Total

Pengetahuan

Baik

F

43

14

57

%

36,7

20,3

57,0

 

Baik

F

4

12

16

 

%

10,3

5,7

16,0

Total

F

47

26

73

%

47,0

26,0

100,0

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa dari 73 responden mayoritas

sebanyak 43 responden (36,7%) berpengetahuan kurang baik mengenai

tentang HIV/AIDS dan 14 responden (20,3%) menstigma tinggi Orang

dengan HIV/AIDS. Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi-Square

diperoleh nilai Continuity Correction 0,001 < 0,05 yang artinya ada

hubungan.

D. Pembahasan

1. Gambaran Pengetahuan tentang HIV/AIDS pada siswa kelas XI

SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017

Berdasarkan hasil analisis data didapatkan bahwa secara umum

pengetahuan siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi tentang HIV/AIDS

berada dalam kategori kurang baik yaitu sebanyak 57 responden (78,1%)

dan sebanyak 16 responden (21,9%) berada pada kategori baik. Kesalahan

dalam menjawab instrumen pengetahuan tentang HIV/AIDS terbanyak

pada pernyataan virus HIV dapat menularkan dari ibu hamil ke bayi dalam

kandungannya, hal ini disebabkan karena kurangnya informasi yang benar.

Penyebab banyaknya responden yang berpengetahuan kurang baik

disebabkan ada dua faktor yaitu informasi dan pengalaman. Informasi dan

pengalaman ini didapatkan dari pendidikan formal maupun non formal.

46

47

Bagi siswa yang pernah mengikuti seminar penyuluhan tentang HIV/AIDS memiliki informasi atau pengetahuan yang lebih luas dibandingkan siswa yang tidak pernah mengikuti seminar penyuluhan tentang HIV/AIDS sebelumnya. Sehingga informasi dan pengalaman mempengaruhi tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang. Hal ini sejalan dengan penelitian Sudikno (2011), menunjukkan presentase pengetahuan HIV/AIDS pada remaja dengan kategori kurang masih cukup besar, yaitu 48,9 persen. Presentase remaja yang mampu menjawab dengan benar pengetahuan HIV/AIDS hanya sebesar 0,3 persen lebih kecil dibandingkan hasil penelitian KPA. Pengetahuan responden dipengaruhi oleh beberapa faktor yang melatar belakanginya. Seperti yang diungkapkan oleh Notoatmodjo (2010) bahwa pengetahuan dipengaruhi oleh: pendidikan, sosial ekonomi, informasi, intruksi verbal, pengalaman/pekerjaan, dan budaya. Ditinjau dari pendidikan dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, dimana konsep pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti didalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan/perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik dan matang pada individu, kelompok atau masyarakat. Sumber informasi juga turut memberikan kontribusi terhadap tinggi rendahnya pengetahuan responden tentang HIV/AIDS. Sumber informasi yang tepat dan lebih banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Dengan demikian perlunya upaya pihak sekolah untuk bekerjasama dengan pihak kesehatan atau pihak lain yang kompeten untuk memberikan pendidikan kesehatan tentang HIV/AIDS, agar semakin menambah informasi yang benar tentang HIV/AIDS serta menambah pengetahuan siswa yang lebih luas.

47

48

2. Gambaran Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS pada siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017 Berdasarkan hasil analisis data didapatkan secara umum bahwa sebanyak 47 responden (64,4%) siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi memiliki stigma yang tinggi terhadap ODHA dan 26 responden (35,6%) memiliki stigma yang rendah terhadap ODHA. Apabila hasil skor presentase stigma dikatakan rendah maka disimpulkan bahwa stigma terhadap ODHA pada siswa dikatakan baik, karena semakin rendah stigma maka semakin baik. Begitu juga sebaliknya, apabila hasil skor presentase stigma tinggi, maka dapat disimpulkan bahwa stigma terhadap ODHA pada siswa buruk. Masih tingginya stigma terhadap ODHA disebabkan karena ketakutan terhadap penularan, seperti berdekatan atau melakukan kontak langsung dengan ODHA atau benda yang digunakan ODHA, pemisahan peralatan makan bersama, saat batuk atau bersin, dan ketakutan untuk mengobrol. Hal ini terjadi karena mereka khawatir akan tertular. Hasil ini sejalan dengan beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa masih banyak ditemukan adanya stigma ODHA di kalangan remaja diseluruh dunia. Sebagai contoh dapat terlihat dalam sebuah penelitian pada remaja kota pengidap HIV yang mengikuti prosedur pengobatan anti retroviral di Amerika Serikat, disebutkan bahwa 50% dari pasien yang diteliti kadang-kadang harus melewatkan kewajiban minum obatnya karena takut kalau kawan-kawannya atau keluarganya sampai tahu statusnya sebagai penderita HIV. Mereka merasa bahwa kawan-kawanya akan mengejek bila sampai terbuka statusnya sebagai penderita HIV dan akan didiskriminasi oleh anggota keluarga yang lain. Pada sebuah penelitian lain di Botswana, disebutkan bahwa ada lebih dari 68% pelajar yang diteliti tidak mau membeli sayuran dari seorang pedagang sayuran yang mengidap HIV/AIDS, dan 54%-nya malah menolak diajar oleh seorang guru yang terinfeksi HIV.

48

49

Penelitian yang dilakukuan Ahwan (2012) pada masyarakat basis anggota Nahdlatul Ulama (NU) Bangil mengungkapkan bahwa salah satu faktor pemicu tindakan stigmatisasi terhadap ODHA adalah kurangnya pengetahuan/informasi yang diperoleh masyarakat NU Bangil mengenai HIV/AIDS. Kurangnya pengetahuan mengenai HIV/AIDS ini menyebabkan masyarakat memiliki kesimpulan-kesimpulan yang tidak sesuai dengan pengetahuan mengenai HIV/AIDS yang sebenarnya. Terdapat bebarapa pemahaman yang keliru mengenai HIV/AIDS, seperti HIV/AIDS bisa menular melalui kontak sosial seperti bersalaman, makan bersama, menghirup udara disekitar ODHA, dan lain-lain. Sejak pertama ditemukan HIV/IDS menyebabkan berbagai respon seperti penolakan, ketakutan, stigma dan diskriminasi yang menyebabkan terjadinya kecemasan dan prasangka terhadap ODHA (Frederikson, 2007). Salah satu kendala dalam pengendalian HIV/AIDS adalah adanya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Herek dan Aptiono (1999) mengungkapkan bahwa timbulnya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA disebabkan oleh faktor resiko penyakit ini yang berkaitan dengan perilaku seksual yang menyimpang, seks bebas, dan penyalahgunaan narkotika. Pemahaman yang yang keliru ini menyebabkan timbulnya stigmatisasi terhadap ODHA. Faktor penyebab stigmatisasi lain menurut Ahwan adalah mitos yang berkembang dimasyarakat dan pandangan agama. Agama memilik pengaruh yang kuat terhadap cara pandang dan pola perilaku manusia, atas nama agama bisa dijadikan sebagai justifikasi dan kegitimasi untuk memberikan sikap dan tindakannya, salah satunya stigmatisasi dalam hal apapun, justru agama mengajarkan tentang nilai- nilai kasih sayang kepada sesama manusia. Dengan demikian perlunya upaya bagi semua pihak terutama sekolah dan pihak kesehatan lain untuk memberikan pendidikan serta pengetahuan yang memadai kepada masyarakat terutama siswa sebagai intelektual muda agar tidak adanya stigma terhadap ODHA.

49

50

3. Hubungan Pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS pada siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017 Berdasarkan hasil analisis data sebanyak 57 responden siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi (78,1%) berpengetahuan kurang baik dan memiliki stigma yang tinggi terhadap ODHA. Dalam penelitian pada siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017 terdapat hubungan yang signifikan antara variabel pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan variabel stigma terhadap ODHA. Hal ini dapat dilihat dari nilai Continuity Correction 0,001 < 0,05 berarti Ho ditolak yang artinya ada hubungan antra pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS pada siswa kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017. Masih rendahnya pengetahuan membuat stigma terhadap ODHA tinggi. Semakin tinggi pengetahuan seseorang bahwa semakin rendah stigma orang terhadap ODHA. Ketidaktahuan tentang cara penularan HIV/AIDS menyebabkan munculnya stigma terhadap ODHA, seperti ketakutan terhadap penularan serta pengucilan terhadap ODHA. Hal ini sejalan dengan penelitian Parut (2016) terdapat hubungan korelasi negatif yang sangat kuat antara pengetahuan dan stigma terhadap ODHA pada siswa kelas XI SMKN VI Surabaya, semakin rendah pengetahuan mengenai HIV/AIDS, semakin tinggi stigma terhadap ODHA, dengan nilai α = 0,00(<0,005), Confident Interval 95% yang berarti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan stigma terhadap ODHA pada siswa kelas XI SMKN VI Surabaya. Hal ini sejalan juga dengan penelitian Sosodoro (2009) mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan stigma terhadap ODHA, dengan nilai Odds Ratio crude 3,37 yang berarti bahwa stigma terhadap ODHA ditemukan 3,37

50

51

kali lebih banyak pada pelajar yang mempunyai tingkat pengetahuan HIV/AIDS yang rendah daripada pelajar yang mempunyai tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS yang tinggi. Adanya hubungan antara pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan stigma terhadap ODHA ini, sejalan dengan hasil dari berbagai penelitian di seluruh dunia yang menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan terhadap ODHA berhubungan dengan berkembangnya stigma terhadap ODHA. dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa pengetahuan tentang cara penularan HIV merupakan prediksi adanya stigma ODHA, dan menekankan pentingnya pendidikan HIV/AIDS untuk menghilangkan stigma. Hal ini juga mendukung hasil dari suatu penelitian di Portugis yang menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan tentang cara penularan HIV dengan stigma ODHA. Demikian juga dengan hasil penelitian di Botswana yang menggambarkan bahwa kekurangpahaman cara penularan HIV sering menimbulkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Menurut Notoatmodjo (2010) perilaku terbentuk didalam diri seseorang terdiri dari dua faktor utama yakni: stimulus merupakan faktor dari luar diri seseorang tersebut (faktor eksternal), dan respons merupakan faktor dari dalam diri orang yang bersangkutan (faktor internal). Faktor eksternal atau stimulus adalah faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, maupun non-fisik dalam bentuk sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Sedangkan faktor internal yang menentukan seseorang itu merespons stimulus dari luar adalah perhatian, pengamatan, persepsi, motivasi, fantasi, sugesti, dan sebagainya. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku pada siswa yaitu pihak sekolah bekerjasama dengan instansi terkait yang kompeten dengan memberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS baik secara langsung maupun tidak lngsung secara rutin dan berkesinambungan dengan menggunakan media yang komunikatif.

51

52

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dengan judul “Hubungan Pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS pada Siswa Kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017”, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Pengetahuan tentang HIV/AIDS pada Siswa Kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017 dalam kategori kurang baik sebanyak 57 responden

(78,1%).

2. Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS pada Siswa Kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017 dalam kategori tinggi sebanyak 47 responden (64,4%).

3. Hubungan Pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan Stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS pada Siswa Kelas XI SMA N 9 Kota Jambi Tahun 2017 berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi-Square diperoleh nilai Continuity Correction 0,001 < 0,05 yang artinya ada hubungan pengetahuan dengan stigma.

B. Saran

Berbagai keterbatasan dan kekurangan selama jalannya penelitian, maka penulis memberikan saran sebagai berikut :

1. Bagi Responden Diharapkan pada siswa meningkatkan pengetahuan dalam mencari informasi tentang HIV/AIDS dengan mengikuti penyuluhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dan dari berbagai media baik media cetak maupun elektronik sehingga para siswa memiliki wawasan yang luas tentang HIV/AIDS.

52

53

2. Bagi Institusi

a. SMA N 9 Kota Jambi Diharapkan pihak sekolah bekerjasama dengan institusi kesehatan untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada siswanya khususnya mengenai HIV/AIDS agar siswanya berpengetahuan baik tentang HIV/AIDS.

b. AKBID Jakarta Mitra Sejahtera Diharapkan institusi menambah referensi tentang HIV/AIDS di perpustakaan sebagai bahan bacaan dan referensi.

3. Bagi Peneliti selanjutnya

Diharapkan penelitian selanjutnya mengembangkan variabel dan instrumen penelitian sehingga diperoleh hasil penelitian yang

bervariasi.

53

54

DAFTAR PUSTAKA

Agrawal, L. 2002. Multiple determinanst are involved in HIV coreceptor use as demonstrated by CCR4/CCL22 interaction in peripheral blood mononuclear cells (PBMCs). Journal of Leukocyte Biology. 72(5): 1063-1074.

Ahwan, Zainul. 2012. Stigma dan diskriminasi HIV/AIDS pada ODHA di masyarakat basis anggota Nahdlatul Ulama Bangil. Journal Ydharta, 6(1):1-5.

Ardhiyanti,Yulrina et al. 2015. Bahan Ajar AIDS Pada Asuhan Kebidanan. Yogyakarta. Deepublish.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Kebidanan Teknik analisis Data. Jakarta. Rineka Cipta.

2010. Manajemen Penelitian. Jakarta. Rineka Cipta.owards peoplewith HIV/AIDS.

Azwar, S. 2011. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Jakarta. Pustaka Belajar.

Brendan, G, Maughan-Brown. 2006. Attitudes towards people with HIV/AIDS:Stigma and its determinants amongst young adults in Cape Town, South Afric. South African Review of sociology. 37(2): 87-165.

Dias et al. 2006. Aids related stigma and attitude toward AIDS-infected people among adolescents. AIDS Care. 18(3): 208-214.

Frederikson, J and Kanabus. 2007. A HIV/AIDS Stigma and Discrimination. Available on http://www.avert.org/aidsstigma.htm

Harek, GM, Capitano, JP and Widaman, KF. HIV-Related Stigma and Knowledge in The United States: Prevelence and Trends, 1991-1999, American Journal of Public Health.

54

55

Hermawati, P. 2011. Hubungan Persepsi ODHA Terhadap Stigma HIV/AIDS Masyarakat dengan Interaksi Sosial Pada ODHA. Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta.

Hidayat, Aziz Alimul. 2011. Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisis Data. Jakarta. Salemba Medika.

Holzemer et al. 2007. Countries. In Press.

A Conceptual Model of HIV/AIDS Stigma from Five African

Katiandagho, Desmon. 2015. Epidemiologi HIV-AIDS. Manado. IN MEDIA.

Kemenkes RI. 2014. Situasi dan Analisis HIV AIDS. Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

2015. Situasi Kesehatan Reproduksi Remaja. Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI.

2017.

Laporan Perkembangan HIV-AIDS & PIMS di Indonesia. Ditjen

Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.

Letamo, G. 2001. HIV/AIDS Related Stigma and Discrimination among Adolescent in Botswana. African Population Studies.

Margiyati dn Marmi. 2013. Pengantar Psikologi Kebidanan.Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Mbonu et al. 2009. Stigma of People with HIV/AIDS in Sub-Saharan Africa: A lieratur Review. Jurnal of Tropical Medicine. Volume 2009.

Notoatmodjo. 2010.Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.

2012a. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta. Rineka

Cipta.

55

56

2012b .Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta. Rineka cipta.

2014. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.

Nursalam dan Kurniawati. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta.Salemba Medika.

Pusat Promosi Kesehatan RI. 2012. Buku Petunjuk Penggunaan Media KIE Versi Pekerja dan Mahasiswa “Aku Bangga Aku Tahu”. Kementrian Kesehatan RI. Jakarta.

2013. PedomanPpembinaan dan Penyuluhan Kampanye Pencegahan HIV-

AIDS “Aku Bangga Aku Tahu”. Kementrian Kesehatan RI. Jakarta.

Saryono, 2011. Metodologi Penelitian Kebidann DII, DIV, S1 dan S2. Yogyakarta. Nuha Medika.

Sing, S. 2002. Knowledge, attitude, the perceived risks of infection and sources of information about HIV/AIDS among pregnant woman in a urban population of Delhi. Journal Communicable Diseases. 34(1): 23-34.

Sosodoro, Ossie et al. Hubungan Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dengan Stigma Orang dengan HIV/AIDS di Kalangan Pelajar SMA. Berita Kedokteran Masyarakat . Vol.25, No.4, Desember 2009.

Sudikono, et al. Pengetahuan HIV dan AIDS Pada Remaja di Indonesia (Analisis Data Riskesdas 2010). Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol. 1 No. 3, Agustus 2011 : 145

154.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif ,Kualitatif,dan R&D. Bandung. Alfabeta

Thanavanh, B. 2013. Knowledge,attitudes and practices regarding HIV/AIDS among male high school students in Lao Peoples’s Democratic Repuplic. Journal of The International AIDS Society. 16: 1-7

56

57

Wardah, Fathiyah. 2013.

Tiga Target MDG Indonesia Sulit dicapai 2015.

dalam VOA Indonesia 15 Februari 2013.

57