Anda di halaman 1dari 10

FINANCIAL CONTROL

PENGENDALIAN KEUANGAN

PENDAHULUAN

Fungsi pengendalian (controlling) adalah fungsi terakhir dari proses manajemen.Fungsi ini
sangat penting dan sangat menentukan pelaksanaan proses manajemen.Pengendalian ini
berkaitan erat sekali dengan fungsi perencanaan dan kedua fungsi ini merupakan hal yang
saling mengisi,karena :
1. Pengendalian harus terlebih dahulu direncanakan.
2. Pengendalian baru dapat dilakukan jika ada rencana.
3. Pelaksanaan rencana akan baik,jika pengendalian dilakukan dengan baik.
4. Tujuan baru dapat diketahui tercapai dengan baik atau tidak setelah pengendalian atau
penilaian dilakukan.

Penendalian (controlling) ini oleh para penulis didefinisikan sebagai berikut :

Earl P.Strong
controlling is the process of regulating the various factors in an enterprise according to the
requirement of its plans. Artinya :
pengendalian adalah proses pengatur an berbagai faktor dalam suatu perusahaan,agar
pelaksanaan sesuai dengan ketetapan-ketetapan dalam rencana.

Harold Koontz
control is the measurement and correction of the performance of subordinates in order to
make sure that enterprise objectives and the plans devised to attain then are accomplished.
Artinya :
Pengendalian adalah pengukuran dan koreksi kinerja bawahan,agar rencana-rencana yang
telah dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan dapat terselenggara.
Tujuan pengendalian :
1. Supaya proses pelaksanaan dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari
rencana.
2. Melakukan tindakan perbaikan (corrective),jika terdapat penyimpangan-
penyimpangan (deviasi).
3. Supaya tujuan yang dihasilkan sesuai dengan rencana.

Dengan demikian pengendalian bukan hanya untuk mencari berbagai kesalahan,tetapi


berusaha untuk menghindari terjadinya kesalahan serta dapat memperbaiki
kesalahan.Pengendalian diharapkan juga agar pemanfaatan semua unsur manajemen
(6M),efektif dan efisien.

DEFINISI PENGENDALIAN KEUANGAN

Umpan Balik Mekanik Versus Respon Perilaku


Perhatian utama pada subsistem pengendalian keuangan adalah perilaku dari orang yang ada
dalam perusahaan, bukan perusahaannya. Untuk alasan itu pengendalian keuangan dapat
dipahami dengan baik dengan memberi penekanan pada pentingnya asumsi keperilakukan.
Tidak semua bentuk pengendalian concern pada perilaku manusia. Mechanical applications
of control, seperti alat pengatur panas yang mengntrol suhu ruangan, memberi tekanan
pada mechanical feedback daripadabehavioral responses. Tentu saja, peralatan mekanik dan
elektrik juga dapat digunakan untuk mempengaruhi perilaku manusia. Selain itu tujuan
pengendalian adalah untuk mempengaruhi manusia. Jadi subsistem pengendalian
keuangan ultimately premised pada asumsi keperilakuan.
Secara umum pengendalian didefinisikan sebagai inisiatif pilihan karena kepercayaan bahwa
probabilitas mendapatkan hasil yang diinginkan akan meningkat. Dalam pengendalian
finansial, inti dari hasil yang diinginkan adalah behavioral events dan beraplikasi pada
masalah keuangan. Pengendalian didasarkan pada konsep kepercayaan dan probabilitas.

Extending Traditional Concepts (Perluasan Konsep-konsep Tradisional)


Konsep pengendalian akuntansi tradisional telah mengasumsikan bahwa pembuatan
informasi akuntansi adalah langkah terakhir dari peranan akuntan. Dalam pendekatan
keperilakuan terhadap desain dan pelaksanaan financial system subsystem, pembuatan
informasi dipandang sebagai langkah lebih intermediate daripada langkah terakhir.
Ketika membuat sistem pengendalian yang sesuai dengan informasi akuntansi yang akurat
dan andal, maka harus memperhatikan tujuh faktor berikut:
1. Melibatkan anggota yang akan menyelesaikan tanggung jawabnya dengan segenap
kemampuan dan penuh integritas
2. Menghindarkan fungsi-fungsi yang incompatible dengan pemisahan tugas dan
tanggung jawab
3. Menjelaskan otoritas yang berhubungan dengan posisi mereka sehingga kebenaran
transaksi dapat dievaluasi
4. Menetapkan metode yang sistematik untuk memberi keyakinan bahwa transaksi
dicatat secara akurat
5. Menjamin bahwa dokumentasi telah memadai
6. Perlindungan aset dengan merancang prosedur untuk membatasi akses terhadap aset
7. Merancang pengecekan independen untuk meningkatkan akurasi.

PENGENDALIAN TERPADU (COMPREHENSIVE CONTROL)


Pengendalian sistem yang komprehensif sebenarnya merupakan kesatuan subsistem formal
yang mendukung proses administratif. Untuk menjadi formal, subsistem pengendalian must
be structurd in advance and designated as a process appropriate to the achievement of a
specific objective. Untuk menjadi komprehensif, sistem pengendalian harus mencakup
aktivitas perencanaan, operasi, dan fungsi timbal balik.
Perencanaan
Proses perencanaan dalam organisasi juga ditandai dengan istilah perilaku penetapan
tujuan. Aspek-aspek terpenting dari proses penetapan tujuan adalah dasar dari organisasi dan
komunikasi. Masalah-masalah pokok dari perencanaan, dapat menjadi kunci pengendalian
yang efektif.Suatu perencanaan yang terlalu terknis atau terlalu logis dapat menimbulkan
suatu kerusakan pada pengendalian bagi mereka yang kurang waspada, karena tidak ada
perhatian yang utuh pada implikasi pengendalian terhadap implementasi rencana.Pada
kondisi seperti ini, pengendalian membutuhkan sesuatu untuk dapat beroperasi sebagai suatu
rangkaian pembatasan bagi fungsi perencanaan.
Operasi
Batasan dari operasi mengacu pada pelaksanaan aktifitas-aktifitas organisasi, termasuk di
dalamnya provisi atas jasa pelayanan dan produksi produk yang sama pentingnya dengan
menjaga fungsi operasi. Pengendalian operasi merupakan suatu proses implementasi atas
rencana-rencana manajemen. Di berbagai organisasi, pengendalian pengoperasian merupakan
tanggung jawab manajer pemilik, yaitu mereka yang ahli dalam mengendalikan
pengoperasian lewat sesuatu yang tidak formal dan berfokus pada manusia.Organisasi yang
lebih kompleks dan lebih besar dituntut untuk lebih memformalkan pengendalian operasi
guna menjamin suatustandar yang efektif dan meningkatkan efiseiensi operasi.
Umpan Balik
Umpan balik dalam organisasi berasal dari sumber formal dan informal yang disusun dari
komunikasi non-verbal.Suatu rancanangan yang formal dan sistematis dikumpulkan untuk
koleksi dan penyaringan umpan balik.Hal ini membutuhkan variabel-variabel yang dapat
diidentifikasi, ukuran-ukuran yang definitif, dan aktifitas pengumpulan data.Pengukuran
dapat dihasilkan secara internal, pengukuran juga dapat diperoleh dari sumber-sumber
eksternal perusahaan. Proses umpan balik dalam subsistem pengendalian keuangan jarang
bisa dipahami. Dalam aplikasi manajemen, keberadaan faktor manusia dan kompleksitas dari
motivasi manusia mendukung pernyataan bahwa hubungan antara umpan balik dan tindakan-
tindakan berikutnya masih diwarnai dengan ketidakpastian dan kerumitan.
Interaksi Pengendalian
Perencanaan, operasi, dan aktifitas-aktifitas umpan balik telah diidentifikasi sebagai tiga
aspek dari proses administrasif yang sangat didukung oleh rancangan pengendalian terpadu.
Suatu organisasi dapat menciptakan kumpulan yang besar jika menghubungkan sub-
subsistem pengendalian secara baik guna mendukung perencanaan, operasi, dan fungsi
umpan balik.Logikanya, perencanaan lebih dahulu ada dibandingkan dengan operasi dan
ukuran umpan balik berasal dari rencana-rencana operasi serta tujuan-tujuan yang
diterapkan.Bagaimanapun juga, logika yang sederhana ini tidak sesuai untuk kondisi yang
kompleks.Manipulasi atas ukuran-ukuran umpan balik dapat menjadi lebih diutamakan
dibandingkan dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai.Sebagai konsekuensinya, ukuran-
ukuran umpan balik lebih menekankan pada operasi dan bukannya pada hal-hal yang bersifat
evaluasi terhadap operasi itu sendiri.

FAKTOR-FAKTOR KONTEKSTUAL
Context dapat menjadi bagian yang sangat penting agar sukses dalam merancang dan
melaksanakan sistem pengendalian keuangan. Context merujuk pada kumpulan karakteristik
yang mengukur setting empiris dimana sistem pengendalian akan ditetapkan. Proses
identifikasi faktor contextual yang kritis seperti ukuran, stabilitas lingkungan, motivasi laba,
dan process factors, sangatlah subyektif dan tidak kekal.
Ukuran
Ukuran dapat dipandang sebagai suatu peluang dan suatu hambatan.Ukuran dipandang
sebagai peluang jika berfungsi sebagai pemberi manfaat ekonomi dan bukan sebagai strategi
pengendalian.Ukuran dapat menjadi suatu hambatan jika pertumbuhan ekonomi
menyebabkan terjadinya eliminasi terhadap strategi pengendalian.Ketika ukuran menjadi
sesuatu yang penting dalam melakukan pembatasan konteks, ukuran juga banyak dikaitkan
dengan variabel-variabel lainnya.Kondisi ini membuat ukuran tidak dapat memisahkan diri
menjadi satu variabel saja.Hal ini membuatnya menjadi tidak mungkin untuk mengisolasi
setiap faktor tunggal, seperti ukuran, sebagai sesuatu yang dominan.
Stabilitas Lingkungan
Desain pengendalian dalam lingkungan yang stabil dapat berbeda dari desain
pengendalian dalam lingkungan yang selalu berubah.Stabilitas dalam lingkungan eksogen
dapat dinilai dari kekuatan gerakan yang secara eksternal menghasilkan produk-produk yang
memerlukan suatu tanggapan.Derajat stabilitas lingkungan dapat ditingkatkan dengan
memilih alat yang tepat terhadap perubahan lingkungan.Suatu lingkungan eksogen yang
stabil diasumsikan dalam banyak pembahasan sistem biaya standard dan analisis hubungan
atas varians biaya.Asumsi ini memunculkan fakta yang terpisah antara operasi yang
sementara dengan lingkungan bisnis yang menuntut adanya perubahan secara terus menerus.
Motif Keuangan
Keberadaan dari motif keuangan tentunya bukanlah penghalang untuk menggunakan
ukuran-ukuran penilaian akuntansi terhadap produktivitas. Pada sisi lain, jelas bahwa system
pengendalian dan didasarkan pada motif dan ukuran-ukuran profitabilitas sering kali tidak
dapat diterjemahkan secara langsung pada konteks nirlaba (nonprofit). Ukuran-ukuran laba
adalah penting dan meskipun sulit dapat menjadi indikator dari keberhasilan.
Faktor-faktor Proses
Suatu faktor proses penting dalam pegendalian biaya-biaya yang tidak dapat dihindari dan
biaya-biaya untuk melakukan rekayasa adalah biaya variable. Strategi pengendalian biaya
untuk proses strategi biaya variable sering kali berbeda dalam hal substansi dengan startegi
pengendalian biaya yang disesuaikan, seperti aplikasi biaya tetap.

PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN RANCANGAN
Pengendalian telah didefinisikan sebagai "sebuah inisiatif dipilih karena diyakini bahwa
peluang mendapatkan hasil yang diinginkan akan meningkat". Untuk meningkatkan
probabilitas keberhasilan, desainer akan berusaha untuk menentukan hubungan sebab-akibat
diyakini hadir di lingkungan, sehingga memungkinkan mereka untuk mengantisipasi
konsekuensi logis yang menghasilkan bentuk penerapan kontrol atau set kontrol.
Antisipasi terhadap Konsekuensi Logis
Antisipasi terhadap konsekuensi logis merupakan komponen-komponen inti dalam
mendesain pengendalian. Kondisi ini merupakan hal yang penting bagi seorang manajer
keuangan yang terbiasa untuk membuat pertimbangan berdasarkan pada apakah hasil itu
adalah baik atau buruk.
Relevansi dengan Teori Agensi
Teori keagenan memfasilitasi antisipasi terhadap konsekuensi logis dengan menyediakan
kerangka kerja untuk memahami dan memprediksi perilaku selanjutnya. Agen adalah orang
yang terlibat oleh prinsipal untuk melaksanakan tugas-tugas yang ditunjuk oleh prinsipal
tersebut. agen diperbolehkan untuk memiliki satu set tujuan yang berbeda dari prinsipal.
Teori agensi menyangkut persoalan “biaya” dimana suatu pendelegasian dengan asumsi
keputusan-keputusan tertentu bersifat tidak jelas atau dipengaruhi secara bersama-sama agar
menjadi tidak nyata.
Pengelolaan Perubahan
Pengelolaan perubahan adalah sesuatu yang penting dalam menentukan rancangan-
rancangan pengendalian. Para manajer melaksanakan pengendalian untuk mencapai tujuan-
tujuan yang sering kali dihadapkan pada satu atau lebih dilemma bisnis. Pengendalian yang
ada dalam perusahaan mungkin tidak berfungsi sebaik yang mereka pernah mereka lakukan,
tetapi manajer mungkin takut bahwa perubahan dalam pengendalian biaya akan lebih dalam
hal gangguan status quo dari nilai manfaat potensial

Di Indonesia, FINANCIAL CONTROL lebih dikenal dengan SISTEM PENGENDALIAN


INTERN, yang mana merupakan manajemen baku yang diterapkan di dalam proses keuangan
(financial process). Adapun Financial Control ini dimaksudkan untuk memastikan
keakuratan (accuracy), kesesuaian waktu dan kelengkapan data serta penerapan kebijakan
dan peraturan perusahaan.

Financial Control juga dapat mencegah atau bahkan menangkap terjadinya kesalahan atau
ketidakwajaran transaksi ( Errornous and inappropriate transaction ).
Standar ini melibatkan semua pihak yang ada didalam dalam hal penerapan prosedur, kontrol
terhadap sistem informasi.
Tujuan akhir (Goal) dari penerapan Financial Control yang tangguh adalah untuk mendorong
dan mempromosikan untuk pencapaian tujuan dengan cara :

1. Menyediakan data yang dapat dihandalkan


2. Melindungi asset dan catatan perusahaan
3. Mengukur tingkat efisiensi operasional perusahaan
4. Mendorong para pihak untuk taat kepada peraturan dan kebijakan perusahaan.

Pihak-Pihak Yang Terkait dan Peranannya

Manajemen Puncak ( Top Management ) : bertanggungjawab merancang, mengembangkan


dan mempertahankan sistem pengendalian yang layak dan sistem pengendalian biaya yang
efektif ( effective cost control ). Yang bertanggung jawab di tingkat ini adalah
seorang FINANCIAL CONTROLLER.

Manajemen Devisi, Bagian, dan Unit : bertanggungjawab untuk melaksanakan sistem


pengendalian dengan cara yang paling efektif sesuai dengan opersional yang ada di
divisi/bagian/unitnya.

Internal Auditor : bertanggungjawab sebagai pemeriksa independen ( Independent


Checker ) di dalam perusahaan. Internal Auditor melaksanakan tugasnya dengan cara
menilai, dan melaporkan tingkat keakuratan catatan keuangan, dan juga terkait dengan
kepatuhan terhadapat sistem dan kebijakan per divisi, bagian dan unit. Internal Auditor juga
memberikan saran atau rekomendasi kepada pihak manajemen puncak mengenai tingkat
keefektifan opersional perusahaan.

Financial Controller atau sering cuma disebut Controller saja, adalah jenjang puncak
tertinggi dari tingkat jabatan dibidang Accounting dan Keuangan. Memiliki Fungsi, tugas dan
tanggung jawab serta kewenangan tertinggi di bagian Accounting dan Keuangan.

Perusahaan yang sadar akan pentingnya Pengendalian Keuangan, sudah tentu


membutuhkan seorang Financial Controller.
Tuagas, Peranan dan Tanggung Jawab Utama Financial Controller

Tugas dan tanggung jawab seorang controller yang utama yaitu memilih dan menentukan
metode akuntansi yang digunakan, memonitoring dan audit internal, mengawasi proses
pelaksanaan akuntansi keuangan, mengawasi pelaksanaan akuntansi manajemen dan
mengawasi pelaksanaan perpajakan perusahaan.

Dalam menentukan metode akuntansi seorang controller harus memilih metode yang paling
mampu untuk mewujudkan tujuan perusahaan. Yaitu membuat pendapatan dan laba
perusahaan menjadi tinggi dan segala kewajiban menjadi rendah. Dengan tidak melanggar
aturan hukum yang berlaku.

Dalam monitoring dan audit internal tidak hanya sebatas pemeriksaan laporan keuangan
semata. Audit internal juga harus memastikan strategi, prosedur, dan kebijakan perusahaan
telah diimplementasikan dengan benar, dalam wilayah administrasi dikhususkan hanya untuk
kepatuhan tertib administrasi dan tertib menggunakan metode akuntansi yang telah
ditentukan. Dengan meminimalisir kemungkinan pencurian, penggelapan, segala kecurangan
dan penyelewangan lainnya, sistim pengendalian intern berjalan sesuai yang diinginkan.

Proses pelaksanaan akuntansi keuangan adalah yang terpenting diantara semua proses
keuangan karena dari proses ini pemilik perusahaan dapat mengetahui apakah perusahaan
berprospersi efektif atau tidak, menghasilkan laba atau malah rugi, termasuk memperoleh
gambaran sudah berapa jauh perusahaan meningkat atau berapa besar aset yang didapat
perusahaan setelah beroperasi sekian lama. Dalam mengawasi hal ini dapat dilihat dari satu
set laporan keuangan (financial statement) yang mungkin diselesaikan dalam bulanan,
kwartalan, atau tahunan untuk dipergunakan oleh berbagai pihak di dalam maupun diluar
perusahaan (misal: kreditur, investor, dan pemegang saham).
Seorang controller juga bertanggung jawab atas kepastian laporan pajak dan pembayarannya
dilakukan tepat waktu.Dan juga bertanggung jawab memberikan nasihat kepada CEO dan
CFO mengenai strategi dan perencanaan pajak perusahaan.

Ciri dan tugas tanggung jawab seorang controller adalah sebagai berikut :

1. Controller harus merupakan seorang eksekutif staff, berfungsi sebagai pengembang suatu
organisasi, sistem perkiraan, kebijaksanaan, catatan dan prosedur yang akan menyediakan
data yang dapat dianalisa didipresentasikan oleh para pimpinan fungsional serta pengambilan
keputusan untuk mencapai sasaran dan tujuan perusahaan.

2. Controller harus mengerti jenis-jenis data dan laporan-laporan yang dibutuhkan oleh para
pemimpin agar dapat mengelola sistem sesuai dengan rencana.

3. ontroller harus bisa mengkomunikasikan sedemikian rupa data, informasi-informasi,dan


fakta-fakta agar dapat berguna, dan dimengerti oleh mereka yang membuthkan.

4. Controller harus mampu menerjemahkan fakta-fakta dan data statistik kedalam arah tujuan
dan hubungan-hubungannya.

5. Controller harus cermat dalam penelitian dan pelaporannya dan juga harus memiliki
kesanggupan dan penilaian terhadap masa yang akan datang.

6. ontroller harus dapat membuat analisa tepat pada waktunya, karenanya controller harus
bisa mengembangkan dan menyediakan informasi secepatnya karena kondisi perusahaan
yang bersifat dinamis selalu berubah ubah.

7. Controller harus mengadakan tindak lanjut terhadap penelitian dan interpretasinya.

8. Controller harus bisa diandalkan oleh para pimpinan dengan menyediakan informasi yang
cermat, cepat, disertai perilaku sikap ingin membantu.

9. Controller harus jujur dan tidak memihak.

10. Controller harus sanggup menjual ide kemampuan analisis dan fungsi totalnya.

11. Controller juga harus membatasi dirinya, karena kemampuan pimpinan merupakan suatu
yang paling penting dalam usaha.
Kesimpulan dan saran
seorang controller memiliki kemampuan teknis yang dapat menjalankan tugas perencanaan
yang telah dilimpahkan kepadanya, mengawasi dan mengarahkan staffnya, selain itu dia juga
harus memiliki integritas dan kemampuan untuk berkomunikasi agar berhasil dalam
tugasnya. Dia harus seorang yang jujur, wajar, dan tulus dalam menghadapi apapun.
Controller juga harus mampu bekerja sama dengan orang-orang pada semua tingkatan,
mengahargai ide-ide dan pendapat orang lain, dan memiliki kemampuan dalam mengambil
keputusan agar mencapai tujuan.