Anda di halaman 1dari 7

REFERAT ETIKA KEDOKTERAN

Press Release Rekam Medik Publik Figur


A. Definisi
Press Release atau siaran pers adalah suatu informasi dalam bentuk
sebuah berita yang dibuat oleh Public Relations suatu
organisasi/perusahan dalam kasus ini dari seorang publik figure itu sendiri
dalam bentuk tulisan atau rekaman yang disampaikan kepada media
masa seperti surat kabar, radio, atau televise untuk dipublikasikan
(soemirat et al., 2012).
Rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen
tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan
pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien (UU praktik kedokteran
nomer 29 tahun 2004 pasal 46 ayat 1)
Publik figur terdiri dari kata publik dan figur, public sendiri artinya
orang banyak (umum) atau semua orang yang datang menonton.
Sedangkan figure sendiri memiliki arti tokoh yang menjadi perhatian.
Tokoh public berarti mereka yang menjadi panutan di masyarakat luas
(KBBI, 2016)
B. Prevalensi dan Epidemiologi
Banyak terjadi pada kalangan artis dan pejabat. Dimana untuk tahun
2017 ini ada kasus terdakwa korupsi yang didesak untuk membuka rekam
medis. Karena pejabat tersebut seringkali mangkir pada penyelidikan
KPK.
C. Etiologi
Kebanyakan press release disebabkan karena ada desakan dari publik
untuk mengetahui fakta yang sebenarnya mengenai penyakit yang diderita
seorang public figure.
D. Dilema Etika
 Perspektif Medis
Dalam perspektif medis kegunaan dari RM yang paling utama
adalah communication dan information, yang dimaksud adalah RM bisa
dijadikan alat komunikasi yang paling efektif antar dokter dalam
menentukan suatu diagnosis atau terapi lanjutan untuk tiap-tiap pasien
yang dikunjungi. Selain itu ada fungsi Administration, maksudnya adalah
RM berguna sebagai bukti tertulis atas segala pelayanan, perawatan, dan
pengobatan pasien dari awal berkunjung hingga pengobatan selesai di
rumah sakit tersebut. Legal, melindungi pasien, rumah sakit, dokter
ataupun tenaga kesehatan lainnya terhadap hukum. Bila pada akhirnya
terdapat suatu tuntutan dari pasien kepada dokter ataupun rumah sakit,
data dan keterangan yang diambil dari DM tentu dapat diterima oleh semua
pihak. Jika data dari RM terisi lengkap maka RM akan menolong semua
yang terlibat dan dapat menunjukkan apakah tuntutan tersebut benar
adanya atau tidak. Financial, sebagai dasar di dalam penghitungan biaya
pembayaran pelayanan medik pasien. Hal ini dapat memudahkan bagian
administrasi untuk menghitung semua biaya tanpa harus menanyakan ke
dokter atau perawat terlebih dahulu apa saja pengobatan dan jasa lainnya
yang telah diberikan karena semua rincian data ada di RM.
Research dan Education, RM dapat dijadikan sumber informasi untuk
penelitian serta pendidikan. Banyak sekali penelitian yang membutuhkan
dan melibatkan data klinik pasien yang telah direncanakan terlebih dahulu.
Maka dari itu alangkah baiknya RM dibuat selengkap-lengkapnya agar
mempermudah memperoleh informasi yang akurat berdasarkan RM
saja. Documentation, RM dapat menjadi sumber ingatan yang harus
didokumentasikan serta sebagai bahan pertanggungjawaban dan
laporan. Statistics, RM bisa digunakan sebagai dasar analisis, studi,
evaluasi terhadap mutu pelayanan yang diberikan kepada pasien. Baik
buruknya pelayanan yang diberikan oleh suatu rumah sakit tercermin dari
catatan yang ditulis dalam RM sehingga hal ini tentu dapat dipakai sebagai
bahan evaluasi tiap pelayanan kesehatan (Amir dan Hanifah, 2012).
Namun urgensi press release dalam segi medis masih perlu ditinjau
ulang dimanakah sisi positifnya jika hal tersebut dilakukan dari segi medis.
Harus melalui persetujuan pasien untuk keperluan klarifikasi kepada pihak
media atau dari kepolisian sebagai barang bukti dan sebagainya.
RM dapat dibuka hanya untuk kepentingan pasien sendiri,
permintaan aparat hukum dalam rangka menegakkan hukum, atas
permintaan pasien sendiri atau berdasarkan ketentuan perundang-
undangan. Yang pertama jika memang itu karena permintaan pasien sendiri
hal tersebut tidak melanggar hukum apapun karena itu adalah hak pasien
(UU praktik kedokteran nomer 29 tahun 2004 pasal 48)
Rekam medis dapat dimanfaatkan utuk keperluan alat bukti dalam
proses penegakan hokum, disiplin kedokteran, dan kedokteran gigi dan
penegakan etika kedokteran dan etika kedokteran gigi (Depkes RI nomer
269 pasal 13, 2008)
 Perspektif Sosio, Ekonomi, dan Budaya
Sebagai publik figur setiap tindakan sosial yang mereka lakukan akan
menjadi sorotan media massa. Setiap tindakan dan perilaku yang ia
tunjukan kepada publik kelak akan diminta pertanggungjawabkan juga oleh
publik. Media massa hanyalah fasilitas untuk publik mencari tahu akan
publik figurnya masing-masing. Merupakan hal wajar jika setiap artis atau
pejabat selalu menjadi topik yang ditunggu-tunggu dalam sebuah
pemberitaan karena publik ingin tahu sejauh mana dia berkontribusi kepada
masyarakat. Namun kenyataannya sekarang tindakan sosial yang
sebenarnya dilakukan oleh tiap publik figur tidak sesuai dengan tindakan
sosial yang seharusnya dilakukan oleh tiap publik figur. Sebagai contoh
banyak artis terjerat kasus perselingkuhan, perceraian, dan
penyalahgunaan narkoba sedangkan pejabat banyak melakukan tindakan
tidak disiplin dan bermoral rendah seperti tidak menghadiri rapat, tindak
korupsi dll. Press release rekam medis publik figur mungkin salah satu dari
kemauan publik atau media massa untuk terus menyorot mereka para
publik figur. Pemilik RM yakni juga termasuk dari salah satu publik figur mau
tidak mau harus menggunakan “hak pasien” untuk membuka rahasia
medisnya ke khalayak umum mungkin dengan salah satu alasan mencari
kebenaran atas tuduhan terhadap dirinya. Misal ada seorang artis yang
terlihat membuncit disaat konser nya. Publik ingin tahu ada apa sebenarnya
dengan fisik penyanyi tersebut, apakah karena hamil atau ada penyebab
lain. Karena penyanyi merasa terdesak dengan tuduhan yang tidak benar
maka penyanyi tersebut sebagai “pasien” dari salah satu dokter kebidanan
harus mengizinkan dokter untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi
melalui rekam medis yang ada sehingga dapat menapis atau malah
membenarkan dugaan yang beredar. Atau juga karena tersandung kasus
korupsi dan public figure tersebut tidak menghadiri persidangan karena
beralasan sakit, disini pihak kepolisian dapat meminta surat rekam medis
kepada rumah sakit dan dapat menyampaikan press release untuk
menyampaikan kebenaran.
 Perspektif Islami
Press release rekam medis yang akan dibahas kali ini jelas sangat
bertentangan dalam pandangan islam. Hal ini sama saja mempublikasikan
dan membuka rahasia bahkan aib seseorang ke khalayak umum. Seperti
yang sudah dijelaskan sebelumnya rekam medis bukan hanya sekedar
tulisan dan informasi mengenai penyakit seseorang, namun jauh lebih
penting dan rahasia daripada itu. Dalam rekam medis menganut berbagai
macam rahasia pasien, terutama dalam hal penyakit yang sedang diderita
oleh pasien. Beberapa penyakit bahkan dapat mempengaruhi kehidupan
seseorang baik di lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja ataupun
hubungan dengan kerabat dekat jika sampai diketahui oleh orang lain. Jika
itu sampai terjadi maka seorang dokter ataupun pelayanan kesehatan yang
melakukan hal tersebut termasuk tindakan khianat atau tidak amanah.
Berikut adalah hukum baik dari Al- Quran maupun Al-hadits mengenai
perbuatan khianat dan melanggar amanah :
· Al-Ghazali : “menyebarkan rahasia hukumnya haram karena hal tersebut
mengingkari dan merendahkan hak kawan. Membocorkan rahasia
termasuk perbuatan khianat”
· HR. Imam Bukhari : “Tidak ada iman bagi yang tidak ada amanah padanya
(menjaga amanah), dan tidak ada agama bagi yang tidak ada janji baginya
(memenuhi janji)”.
Pada topik pembahasan ini bisa jadi dari pihak rumah sakit itu sendiri
atau adanya oknum tertentu yang membuat atau memaksa pihak rumah
sakit untuk mengadakan press release. Dalam islam Sikap ini dinamakan
tajassus yaitu mencari-cari kesalahan orang lain atau memata-matai.
Berikut adalah hukum yang menjelaskan larangan bersikap tajassus :

· Q.S. Al-Hujurat [12] : ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan


berprasangka, karena sesungguhnya, sebagian tindakan berprasangka
adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”.
· HR Imam Bukhari dan Imam Muslim : Rasulullah SAW bersabda “Berhati-
hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk
adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita
kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling
membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah
yang bersaudara.
E. Pendapat anda terkait solusi/penyelesaian dilema etik
Dari ketiga sudut pandang tersebut maka saya akan memberikan
pendapat satu-satu. Pada masalah dilihat dari sisi medis maka perlu
diperhatikan bahwa pentingnya untuk informed concent tentang apapun
yang akan dilakukan atau tindakan yang akan dilakukan seorang dokter.
Karena jika kita sebagai seorang dokter sudah menjelaskan dan meminta
persetujuan dari pasien maka kita akan terlindungi jika nanti terdapat
kecelakaan yang tidak diinginkan atau penuntutan karena
menyebarluaskan tentang rekam medis. Dan disini kita sebagai seorang
medis harusnya tetap berusaha untuk menjaga kerahasiaan rekam medis
pasien sesuai dengan yang dituliskan pada peraturan kementrian
kesehatan serta undang-undang tentang praktik kedokteran. Dan juga
mengerti apa saja yang dapat menggugurkan kewajiban dalam menjaga
kerahasiaan rekam medis, seperti jika diperlukan oleh pihak kepolisian
untuk kepentingan hokum.
Lalu dari sudut pandang ekono-sosio kultural dapat dilihat bahwa
sebagai seorang public figure seharusnya tetap menjaga nama baik dan
patuh terhadap hukum. seorang dokter harus tetap menomor satukan
sumpah Hipocrates serta KODEKI seperti yang sudah disebutkan isinya
sebelumnya. Jaga lah kerahasiaan pasien jika itu bukan karena kemauan
pasien itu sendiri kecuali jika hendak dijadikan sebagai kebutuhan
penegakkan hukum yang diminta oleh aparat hukum.
Dari sudut pandang ketiga mengenai agama keislaman jika press
release yang dimaksud hanya untuk mencari-cari kesalahan orang lain dan
bertujuan menjatuhkan image dari seorang publik figur itu merupakan sifat
tercela atau disebut tajassus. Seperti yang sudah dijelaskan pada bab
sebelumnya sudah ada Quran dan Hadits yang melarang sikap tersebut.
Tentu sebagai seorang dokter kita harus menyikapi hal tersebut dengan
tepat. Karena rahasia medis merupakan amanah dari kepercayaan seorang
pasien kepada kita. Jangan lah kita seorang dokter menjadi pribadi yang
khianat karena selain akan merusak image kita sebagai dokter yang mulia
namun juga sifat tersebut dibenci oleh Allah SWT.
F. Kesimpulan
Sebagai seorang dokter hendaknya memegang teguh prinsip kode
etik kedokteran khususnya mengenai hubungan dokter dengan pasien
dalam kasus ini yaitu menjaga rahasia medis. Rahasia medis dalam bentuk
Rekam Medis merupakan hak pasien, mau disebarkan atau disampaikan
kepada keluarga atau kerabatnya atau bahkan khalayak umum merupakan
hak otorisasi pasien. Dalam segi islam pun hal ini termasuk sikap amanah
yang harus diemban tiap dokter. Menjaga rahasia medis merupakan tugas
yang besar bagi seorang dokter baik dalam segi hukum, medis, sosial
budaya ataupun keagamaan.