Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

1
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.2.1 Bagaimana struktur dan konstruksi sebuah bangunan tradisional Bali?
1.2.2 Bagaimana pondasi untuk bangunan tradisional Bali ?
1.2.3 Bagaimana dengan dinding pemisah untuk bangunan tradisional Bali?
1.2.4 Atap apa saja yang digunakan untuk bangunan tradisional Bali ?
1.2.5 Bahan apa saja yang dapat digunakan untuk bangunan tradisonal Bali ?

1.3 . Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut :
1.3.1 Untuk mengetahui struktur konstruksi sebuah bangunan tradisional Bali
1.3.2 Untuk mengetahui pondasi bangunan tradisional Bali
1.3.3 Untuk mengetahui pemisah bangunan tradisional Bali
1.3.4 Untuk mengetahui atap apa yang digunakan bangunan tradisional Bali
1.3.5 Untuk mengetahui bahan apa yang digunakan bangunan tradisional Bali

2
BAB II
PEMBAHASAN

1.2.1 STRUKTUR DAN KONTRUKSI

Struktur utama bangunan tradisional pada umumya adalah struktur rangka yang
tersusun atas tiang-tiang kayu dengan balok (lambang dan sineb), canggahwang (skoor),
sunduk, dsb. Bagian atas tiang terhubung dengan balok lambang dan sineb yang merupakan
penyangga atap. Bagian ini meneruskan beban atap ke pondasi. Untuk menciptakan ruang
yang stabil, maka struktur rangka ini harus memenuhi empat persyaratan utama yaitu
kesetimbangan, kestabilan geometris, kekakuan dan kekuatan.
Konstruksi rangka di bagian tengah menerapkan prinsip-prinsip portal sederhana
dengan bantuan canggahwang sebagai pengaku hubungan tiang dengan balok. Selain
canggahwang, papan-papan parba juga merupakan pengaku hubungan tiang dan balok
sekaligus menjaga bentuk ruang tetap siku dan stabil. Fungsi parba ini setara dengan dinding
geser pada bangunan modern.
Prinsip-prinsip portal tidak berlaku secara mutlak karena konstruksi bangunan masih
pula menggunakan sistem-sistem penjaga kestabilan yang lain seperti sunduk, lait, purus, dsb.
Bangunan yang memiliki balai-balai dilengkapi dengan sunduk yang juga berfungsi sebagai
pengaku tetapi dengan konstruksi fleksibel dengan sistem baji/lait. Pada hubungan antara
tiang dengan sendi terdapat purus yang menciptakan hubungan stabil sekaligus lentur antara
tiang ke sendi yang akan menyalurkan beban ke pondasi.
Perletakan untuk bangunan yang dilengkapi balai-balai merupakan perletakan
rol,sedangkan tiang-tiang lainnya merupakan perletakan sendi. Hubungan antar tiang yang
memakai balai-balai, menggunakan sunduk yang dilengkapi lait, dimana sunduk berfungsi
purus dan lubang terdapat pada saka. Coakan pada sunduk menjadi pengikat
struktur.Hubungan tiang dengan lambang sineb memakai purus rangkap, sedangkan antara
balok pamentang (balok tarik) dengan tadapaksi dihubungkan oleh konstruksi dukung netral
berupa kencut, yang sebenarnya hanya merupakan ornamen, karena tadapaksi tidak menerima
beban tekan akibat beban bidang-bidang atap yang diteruskan oleh pemade(balok tekan) dan
pemucu (jurai luar) dan balok tadapaksi/pamentng (balok tarik). Bentuk kencut yang ceking
merupakan ekspresi ornamental untuk menggambarkan bahwa batang tersebut tidak
menerima beban sama sekali (nol).

3
Perkembangan hubungan tiang dengan balok selanjutnya tidak hanya menggunakan
canggahwang, tetapi dengan adanya pengaruh barat, hubungan ini dilengkapi ornament
estetika berupa kapu-kapu, palm, ataupun tiang bergaya corinthians

1.2.2 Pondasi untuk bangunan tradisional Bali

Meskipun tipologi bangunan tradisional di Bali bentuk dan fungsinya beragam tetapi
memiliki konsep struktur yang serupa. Pondasi sebagai penyangga struktur utama berupa
pondasi setempat dari pasangn batu disebut jongkok asu. Jongkok asu ini meneruskan beban
yang diterima dari tiang dan sendi di atasnya ke tanah untuk menjada bangunan tetap berdiri
dengan tegak. Hubungan antara tiang bangunan, sendi dan jongkok asu dibuat tidak kaku,
tetapi berfungsi tumpu. Jika terjadi pergerakan akibat gempa atau getaran tanah, hubungan ini
akan turut bergerak dan akan menciptakan daya redam untuk meminimalisir akibat buruk
gerakan tanah yang terjadi.

Untuk menghindari kelembaban, maka di sekeliling bangunan dibuat pasangan batu


untuk menjaga timbunan tanah yang menciptakan ketinggian bangunan sesuai dengan yang
dikehendaki. Pondasi keliling ini ridak menerima beban atap ataupn meneruskan beban dari
tiang, tetapi berfungsi untuk menjaga urugan tanah sekalifus menyangga dinding yang
berfungsi sebagai pemisah ruangan. Secara struktural antara pondasi jongkok asu dan pondasi
keliling penyangga dinding tidak berhubungan secara langsung

Dalam proses pembangunan, pondasi jongkok asu dibuat terlebih dahulu lengkap
dengan struktur di arasnya berypa rangka bangunan dan rangka atap. Setelah rangka atap
selesai dibuat, maka pada bagian ujung sudut terluar kolong diberi sepat gantung. Tegak lurus
ke bawah tepat di titik jatuhnya sepat gantung ini merupakan ujung terluar pondasi keliling
yang dibuat belakangan setelah struktur tengah hingga rangka atap berdiri tegak. Secara
umum, sistem struktur pondasi ini berlaku untuk semua bangunan, baik itu bale meten, bale
dangin, bale dauh, dan paon, serta bangunan Bali pada umumnya

4
1.2.3 Dinding pemisah untuk bangunan tradisional Bali

Dalam arsitektur tradisional Bali, dinding atau tembok hanya berfungsi sebagai
pemisah ruang. Dinding-dinding tidak berfungsi sebagai struktur penyangga, karena itu
Strukturnya pun terpisah dari struktur utama bangunan. Pondasi keliling bangunan hanya
berfungsi untuk menyangga beban dinding dan menjaga tanah urugan peninggian lantai.
Fungsi dinding yang hanya berfungsi untuk pembatas ruangan (partisi) diperlihatkan
dengan memberi jarak antara tin dengan dinding dan antara dinding dengan bagian kolong
bangunan. Dengan melepaskan semua bagian dinding baik secara visual, maka jelas terlihat
Fungsi masing-masing elemen struktur dan konstruksi bangunan yang bekerja secara
fungsional. Dengan demikian maka setiap elemen tersebut dapat diperbaiki tanpa harus
mengganggu elemen yang lainnya.
Jarak yang tercipta antara dinding dengan atap bangunan menciptakan celah
yangberfungsi sebagai ventilasi. Dengan adanya celah yang berfungsi ventilasi, maka tidak
ada lagi dibuat lubang pada dinding bangunan. Pada beberapa bangunan Bali ada yang
sengaja dibuat tertutup seluruhnya, ada yang dibuat tertutupsebagian, dan ada pula yang
teruka sama sekali. Bagian yang ditutup adalah bagian yang berlawanan dengan arah natah
sedangkanyang terbuka adalah bagian yang menghadap natah, menciptakan ruang yang
mengalir (continuous space) dan longgar terbuka ke arah natah.
Dinding bangunan yang dibuat setelah rangka bangunan utama selesai, berjarak
atapak ngandang (satu telapak kaki lurus dan menyilang) dalam sikut tradisional Bali. Ukuran
ini jika diterjemahkan ke dalam metrik kurang lebih 35cm. Jarak ini adalah jarak bersih dari
pinggir sendi ke pinggir dinding pemisah.
Selain ke dinding-dinding pada bangunan, terdapat pula dinding yang mengelilingi
kompleks bangunan sekaligus menjadi batas lahan sebuah rumah. Dinding yang mengelilingi
areal pekarangann ini dikenal sebagai tembok penyengker. Pada salah satu sisi yang dianggap
baik, tembok dilubangi sebagai pintu masuk pekarangan, tembok penyengker memiliki
panjang uang membutuhkan penguat pada beberapa titiknya untuk menjaganya tetap tegak.
Dalam arsitektur Tradisional Bali pilar-pilar penguat utama tembok penyengker terletak pada
sudut-sudut pertemuan dua dinding yang disebut paduraksa.
Di dalam lontar arsitektur, empat pilar pada empat sudut pertemuan dinding diberi nama,
antara lain :
1.Sri/sari raksa untuk pilar yang berposisi di kaja kangin/ timur laut

5
2.Aji raksa raksa untuk pilar yang berposisi di kelod kangin/tenggara Rudra raksa
raksa untuk pilar yang berposisi di kelod kauh/barat daya Kala raksa raksa untuk pilar
yang berposisi di di kaja kauh/barat laut. Selain keempat pilar yang
memiliki istilah seperti di atas, masih dimungkinkan untuk menambah pilar-pilar
penguat diantara dua pilar sudut. Pilar-pilar ini meskipun secara fisik sama
denganyang di sudut, tidak memiliki istilah secara khusus hanya disebut sebagai
lelengen.

1.2.4 Atap bangunan tradisional Bali

Bangunan rumah di bali berupa bentuk-bentuk geometris sederhana, demikian pula


atapnya. Secara umum bentuk atap rumah bali adalah limasan, kampiah (pelana), bah
pondok. Varian bentuk atap lainnya yang berkembang belakangan merupakan kombinasi dari
bentuk-bentuk tersebut.
Atap limasan memiliki struktur utama berupa pemade dan pemucu yang pada bagian
puncaknya disatukan oleh dedeleg (balok nok memanjang) atau petaka (nok bujur
sangkar/titik). Pada bidang-bidang diantara pemade dan pemucu disertai dengan usuk (iga-
iga) bambu. Usuk bambu diikat atau dijepit menyatu dengan pemade dan pemucu
membentuk satu bidang datar dengan ikatan tali bambu atau tali ijuk membentukk suatu
struktur bidang. Beban utama atap disangga oleh pemade dan pemucu. Susunan antara pasak-
pasak kayu dan juga tali ikatan apit-apit, selain berfungsi struktural juga berfungsi estetis.
Kepala pasak apit-apit seringkali dihiasi dengan ornamen tapuk manggis.
Bangunan dapur dengan atap pelana memberi ruang bagi asap dan panas ruangan
mengalir keluar melalui celah atap. Bentuk atap ini memiliki struktur serupa dengan limasan,
pemade dan pemucu menjadi penyangga utama beban atap. Perbedaannya adalah pada bagian
lebar bangunan, tidak semua bidang ditutup oleh atap tetapi hanya sebagian, untuk membuat
lubang ventilasi keluarnya asap dan panas, dan menciptakan ventilasi silang.
Konstruksi atap bangunan merupakan pelengkung tiga sendi dengan sendi masing-
masing terletak pada petaka/dedeleg, dan pada titik-titik hubungan dengan konstruksi portal.
Konstruksi puncak bangunan menyerupai konstruksi payung yang menyatukan semua elemen
pembentuk konstruksi atap ke tengah. Konstruksinya sangat sederhana berupa purus dan
lubang tanpa pasak. Penyelesaian struktur dan konstruksi sederhana, jujur dan indah
menyiratkan mutu penciptanya.

6
Struktur bidang atap diperkuat dengan penggunaan bahan alang-alang sebagai bahan
penutup. Alang-alang diikatkan pada jalon, kemudian dipasang pada usuk. Hubungan ikatan
alang-alang dengan usuk menggunakan tali bambu yang diatur sehingga puntiran-puntiran
dan sisipan-sisipan tali rapi membentuk elemen estetis tersendiri sebagaimana juga berlaku
pada garis-garis horizontal ikatan alang-alang di atas usuk
.
1.2.5 Bahan bangunan tradisonal Bali

a) Jineng
Batu bata sebagai batu buatan dan batu alam dari berbagai jenis dipasang dalam
keadaan telanjang untuk bebaturan atau tembok. Kayu, bambu, alang-alang dan bahan
lainnya juga dipasang telanjang menampakkan warna alam sebagai warna aslinya. Untuk
penampilan serupa itu pengadaan bahan mengutamakan pemilihan warna, tekstur dan
proporsi untuk keindahan komposisinya. Pengadaan bahan untuk bebaturan, pondasi, dan
tembok yang menggunakan batu alam mengambil jenis-jenis batuan setempat. Desa yang
memiliki kali yang berbatu basalt menggunakan batu basalt. Untuk desa di bukit kapur atau
sekitarnya, menggunakan batu karang / limestone. Desa di sekitar lokasi yang menghasilkan
batu padas, menggunakan batu padas.
Penggunaan bahan atap juga menggunakan bahan-bahan yang dihasilkan di
sekitarnya. Di pegunungan penghasil bambu memakai sirap bambu, di pantai yang banyak
perkebunan kelapa menggunakan daun kelapa. Di bukit atau di daratan tegal alang-alang,
perumahan dan bangunan-bangunan lainnya menguunakan alang-alang sebagai penutup
atapnya. Alang-alang sebagai bahan penutup atap yang terdapat di sebagian besar wilayah
pedesaan di Bali merupakan bahan yang banyak disukai, sedangkan bambu digunakan untuk
iga-iga.
b) Bale Dangin
Bale dangin yang masih tradisional pada umumnya menggunakan penutup atap dari
alang-alang, sedangkan pendukung penutup atap yang terdiri atas rangkaian iga-iga/rusuk,
terbuat dari bahan bambu. Langit-langit yang mengikat iga-iga pada puncak atap
memakaibahan kayu jenis ketewel/kayu nangka. Lambang sineb sebagai pengikat dan
pemersatu saka, menggunakan batang kelapa/seseh , sedangkan pemantang dan saka pada
bale dangin menggunakan bahan kayu, untuk jenis kayu yang digunakan disesuaikan dengan
fungsi bangunannya. Dinding pada bale dangin yang masih tradisional sebagian besar masih
menggunakan bahan batu bata halus (batu gosok). Pondasi/jongkok asu sebagai bagian kaki

7
yang letaknya di bawah, meggunakan susunan batu alam sedangkan bebaturan-nya
menggunakan batu bata.
c) Bale Dauh
Bale dauh memakai bahan anyaman bambudengan dimensi anyaman yang besar
(tidak seperti gedeg) sehingga terdapat pori-pori yang memungkinkan terjadinya sirkulasi
udara (meskipun relatif kecil. Pada Bale Dauh yang telah mengalami modernisasi, dinding
bangunan terbuat dari pasangan batu bata. Tiang bangunan yang bersifat struktural memakai
bahan kayu yang tidak terlalu sulit untuk didapatkan di lingkungan desa dimana Bale Dauh
tersebut berada. Elemen – elemen pendukung struktur tiang, seperti misalnya sineb
lambang,canggah wang dan bale-bale juga memakai bahan kayu dan seseh (batang kelapa),
kecuali untuk alas bale-bale (galar) memakai bahan bambu. Lantai bangunan umumnya
masih tetap menggunakan lantai tanah. Pada Bale Dauh yang teah mengalami modernisasi
telah beralih pada pemakaian bahan semen dan tegel. Pada dinding batur Bale Dauh memakai
bahan batu kali, sendi-sendi yang merupakan media penerusan bahan bangunan (hubungan
dengan tiang/saka) terbuat dari bahan batu padas, dan beberapa diantaranya ada yang
menggunakan bahan batu kali.

Contoh – contoh tanaman yang dipergunakan untuk bahan bangunan tradisional Bali :

1. kayu Cendana (Santalum album L.)

Kayu cendana (Santalum album L.) berwarna coklat dengan tekstur kayu yang agakhalus.
Arah serat yang lurus atau bergelombang dan memiliki permukaan licin dan agak mengkilap.
Kayu cendana termasuk kedalam jenis kayu kelas istimewa. Sebab selain memiliki struktur
kayu yang sangat kuat, juga memiliki aroma kayu yang sangat harum. Kayu cendana sangat
disakralkan oleh masyarakat Bali, dimana kayu cendana ini digunakan dalam pembuatan
pelinggih karena kayu ini menghasilkan aroma yang sangat wangi, sehinngga kayu ini bagus
untuk digunakan di tempat-tempat suci. Selain digunakan dalam pembuatan pelinggih, kayu
cendana ini juga dapat digunakan dalam pembuatan pratima, dimana kayu ini merupakan
peragan dari bhatara Paramasiwa. Dalam klasifikasi kayu menurut orang Bali, kayu cendana
ini termasuk golongan kayu prabu, artinya kayu ini biasanya digunakan untuk membuat
langit-langit dalam suatu pelinggih.

8
2. Kayu Cempaka (Michelia champaca L).

Kayu cempaka (Michelia champaca L.) merupakan jenis kayu yang awet dan sangat kuat.
Arah serat kayu cempaka ini lurus dan agak bergelombang. Kayu ini memiliki minyakakan
menghasilkan aroma yang khas sehingga kayu ini akan beraroma harum. Kayu cempaka
banyak digunakan dalam pembuatan pelinggih karena kayu ini memiliki aroma yang wangi.
Kemudian bunga dari bunga ini biasanya digunakan untuk keperluan upacara keagamaan.
Selain itu, kayu cempaka ini merupakan kayu peragan bhatara Siwa. Biasanya yang
diguanakan adalah jenis cempaka kuning, dan kayu yang pohonnya yang sudah usianya lebih
dari 10 tahun. Menurut klasifikasi kayu menurut masyarakat Bali, kayu cempaka ini termasuk
kayu golongan arya, artinya kayu ini biasanya digunakan dalam membuat ”lambang atau ige-
ige”

3. kayu majegau (Dysoxylum caulostachyum Miq.)

Jenis kayu majegau (Dysoxylum caulostachyum Miq.) merupakan kayu yang tidak kalah
penting yang diguankan dalam pembuatan pelinggih. Dimana kayu ini banyak digunakan
karena kayu ini memiliki aroma yang sangat wangi. Kayu ini digolongkan kedalam jenis
kayu Demung. Dimana kayu ini biasanya digunakan untuk membuat sesaka. Kayu majegau
ini dalam pembuatan pretima, merupakan peragan dari Sadasiwa

4. Kayu jati (Tectona grandis L.)


Kayu jati (Tectona grandis L.) berdasarkan sifatnya termasuk kedalam kayu istimewa.
Selain memiliki serat yang sangat padat. Kayu ini juga tidak mudah terserang rayap atau
hama lainnya karena sel-sel penyusun kayu jati memiliki zat tanin yang berfungsi sebagai
bahan pengawet. Kayu jati ini apabila sudah tua akan berwarna coklat muda, apabila telah
lama terkena sinar matahari dan terpapar oleh udara, maka warnanya akan berubah menjadi
sawo matang. Kayu jati digunakan karena memiliki struktur kayu yang sangat kuat, sehingga
kokoh untuk menopang bangunan. Kayu jati ini termasuk golongan kayu patih, artinya kayu
ini biasanya digunakan dalam pembuatan saka

9
5. Kayu nangka (Artocarpus integra merr.) dan Kayu sentul (Sandoricum koetjape)

Kayu nangka (Artocarpus integra merr.) memiliki struktur yang sangat kuat dan tidak
terlalu berat seperti kayu jati, umumnya berwarna kuning dengan tekstur yang agak kasar
dengan arah serat yang lurus. Permukaan kayu yang licin dan mengkilap. Kayu nangka
banyak digunakan dalam pembuatan bale pesarean dan juga biasanya digunakan dalam
membuat langit-langit (kayu prabu). Sama halnya dengan kayu jati dan kayu nangka, kayu
sentul (Sandoricum koetjape)juga banyak digunakan dalam pembuatan bale pesarean,
mengingat kayu ini memiliki struktur yang kuat dan tahan terhadap serangan rayap. Kayu
sentul ini digolongkan kedalam golongan kayu pangalasan.

6.kayu wangkal (Abizia procera Roxb.)

Kayu wangkal (Abizia procera Roxb.) ini memiliki struktr kayu yang sangat kuat,tahan
lama, dan memiliki serat yang lurus. . Kayu wangkal digolongkan kedalam kayu prabu, dan
digunakan dalam membuat langit-langit atau atap.

7.kayu juwet (Syzygium cumini Linn.)

Kayu juwet (Syzygium cumini Linn.) memiliki struktur yang sangat kuat dan memiliki serat
yang lurus. Kayu juwet termasuk kedalam golongan kayu mantri dan digunakan dalam
membuat lambang atau ige-ige. Kayu ini biasanya dipakai untuk bahan bangunan dapur
(paon)
8. kayu klampuak (Syzygium zollingeriamun (Miq.) Amsh.)

Kayu klampuak (Syzygium zollingeriamun (Miq.) Amsh.) merupakan jenis kayu yang
banyak digunakan karena kayu ini memiliki struktur yang sangat kuat. Memiliki trakea dan
memiliki serat yang lurus. Kayu klampuak termasuk golongan jenis kayu patih dimana
digunakan dalam membuat saka atau tiang penyangga.

9. Alang-alang Imperata cylindrica(L.)

Filosofi alang-alang dalam ajaran hindu banyak di kaitkan dengan pemuteran mandara
giri. Para Dewa dan Asura bekerja sama memutar Mandara giri, dimana Hyang Ananta Boga
dan hyang Besuki melilit Mandara giri, dan sebagai penopangnya adalah Badawang Nala. Di
symbolkan dalam wujud Padmasana. Setelah keluar Amerta nya dilarikan oleh Daitya Kala
Rau (Rawi), tapi ketahuan dewi Ratih di panahlah kepalanya dengan Senjata Cakra oleh
Dewa Wisnu. Dari situ ada cerita bulan Kepangan (Bulan caplokkala rawu).Sebelum sempat

10
diambil oleh Ida Hyang Wisnu, sempat menetes sedikit kerumput alang-alang, terus dijilati
oleh para naga/ular sehingga ular bisa berumur panjang dan lidahnya tersayat (terbelah) oleh
alang-alang. Maka dari itu alang-alang juga di sebut tanaman panjang umur atau tanaman
suci yang merupakan menjadi bahan penting dalam beberapa upacara keagamaan hindu.Di
Bali, daun alang-alang yang dikeringkan dan dikebat dalam berkas-berkas digunakan sebagai
bahan atap rumah dan bangunan lainnya. Serat halus dari malai bunganya kadang-kadang
digunakan sebagai pengganti kapuk, untuk mengisi alas tidur atau bantal. Dalam bangunan
tradisional bali alang-alang banyak di gunakan sebagai bahan atap bangunan suci atau
pelinggih.

10. Bambu

Bambu merupakan tanaman yang paling sering di gunakan dalam upacara keagamaan
hindu di bali. Pada bangunan Kerangka atapnya menggunakan kayu dan bambu khususnya
untuk iga-iga-nya. Bambu bila telah di anyam juga sering digunakan untuk dinding-dinding
bangunan dan pagar pembatas rumah.Dari semua jenis kayu yang digunakan oleh masyarakat
Bali dalam pembuat bangunan, kayu yang digunakan adalah kayu dari pohon kelas dikotil.
Hal ini jika dipandang secara anatomi, batang dikotil dapat mengalami pertumbuhan primer
maupun pertumbuhan sekunder. Sehingga batang ini memiliki diameter yang besar dan kuat
dinding sel penyusunnya mengalami penebalan, baik penebalan primer dengan pektin
maupun penebalan sekunder dengan zat lignin. Selain itu pada batang dikotil susunan berkas
pengangkutnya teratur dan membentuk lingkaran dengan tipe berkas kolateral terbuka.

11
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

12
DAFTAR PUSTAKA

http://dokumen.tips/documents/2016/01/arsitektur-tradisional-bali-html
http : //id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_Bali
http://www.lamudi.co.id/journal/3-ciri-khas-arsitektur-di-bali/

http://penebar-swadaya.net/blog/filosofi-arsirtektur-bali/

http://balikami.blogspot.co.id/2011/01/arsitektur-tradisional-bali.html

13