Anda di halaman 1dari 28

AFTERCARE PATIENT:

BRONKOPNEUMONIA

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Kesehatan Anak
RST dr. Soedjono Tingkat II Magelang

Disusun Oleh :
SABRINA
1420221127

Pembimbing :
Letnan Kolonel dr.Roedi Djatmiko. Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL’VETERAN’
JAKARTA
2016
LEMBAR PENGESAHAN

AFTERCARE PATIENT
BRONKOPNEUMONIA

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Kepanitraan Klinik Departemen Penyakit Anak
RST dr. Soedjono Tingkat II Magelang

Disusun Oleh :
SABRINA
1420221127

Telah Disetujui dan Disahkan oleh:


Dokter Pembimbing

Letkol CKM dr. Roedi, Sp.A


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG


Penyakit infeksi di Indonesia yang banyak menimbulkan kematian adalah
penyakit infeksi saluran pernafasan baik itu pernafasan atas maupun bawah, yang
bersifat akut atau kronis. Infeksi saluran nafas akut (ISPA) ialah infeksi akut yang
dapat terjadi disertai tempat disepanjang saluran nafas dan adneki selnya (telinga
tengah, cavum pleura, dan paraanalisis). (Ngastiyah,2005)
World Health Organitation (WHO) tahun 2005 menyatakan Propotional
Mortality Ratio (PMR) balita akibat pneumonia di seluruh dunia sekitar 19% atau
berkisar 1,6 -2,2 juta dan sekitar 70% terjadi di negara- negara berkembang
terutama di Afrika dan Asia Tenggara. Pada tahun 2006, Indonesia menduduki
peringkat ke-6 di dunia untuk kasus pneumonia pada balita dengan jumlah
penderita mencapai 6 juta jiwa.
Menurut hasil penelitian Johnson, dkk di Afrika Barat, dari 323 kasus
pneumonia pada balita ditemukan 127 (39,3%) bronkopneumonia, 39 (12,1%)
lobar pneumonia, dan 23 (7,1%) bronkopneumonia dan lobar pneumonia.
Berdasarkan data WHO penyakit saluran pernafasn akut salah satu penyumbang
dari banyak penyebab kesakitan dan kematian. Pada tahun 2000 di El Salvador,
Incidence Rate (IR) ISPA 252 per 1000 penduduk 2 dengan proporsi 52% pada
umur dibawah 5 tahun. IR pneumonia dan bronkopneumonia 44,7 per 1.000
penduduk dengan proporsi 38,3% pada umur dibawah 1 tahun.
Infeksi saluran nafas bawah yang di dalamnya termasuk bronkopneumonia
masih menjadi masalah kesehatan di negara berkembang maupun maju.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, penyakit
saluran nafas bawah merupakan penyakit penyebab kematian kedua di Indonesia.
Laporan WHO tahun 2000 menyebutkan, penyebab kematian akibat infeksi
adalah infeksi saluran akut termasuk influenza dan pneumonia. Infeksi batuk rejan
ditemukan pula sebagai komplikasi penayakit saluran nafas lainnya, terbesar
ditemukan pada kasus (23,5%). Mengingat infeksi saluran nafas bagian bawah ini
bertanggungjawab atas 28,9% kematian anak balita ( medistra hospital.com).
Diketahui bahwa bronkopneumonia menempati urutan kesepuluh setelah
faringitis dan campak dengan presentase sebesar 1,53% ( tahun 2000 hanya
1,04%) dengan jumlah 3,37. Pada tahun 2001 presentasi meningkat menjadi
1,61% setelah bronkitis akut (Badan Litbang Kesehatan, 2001).
Bronkopneumonia adalah salah satu jenis pneumonia yang mempunyai pola
penyebaran berbecak, teratur, dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam
bronchi dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya (Smeltzer &
Suzanne C, 2002:572).
Bronchopneumonia adalah suatu peradangan paru yang disebabkan oleh
bermacam - macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur, dan benda asing
(Ngastiyah, 2005). Sedangkan Bronchopneumonia adalah bronkiolus terminal
yang tersumbat eksudat, kemudian menjadi bagian yang terkonsolidasi atau
membentuk gabungan di dekat lobules, disebut juga pneumonia lobaris ( Whaley
& Wong, 2000). Bronkopneumonia berasal dari kata bronchus dan pneumonia
berarti cabang tenggorokan yang merupakan lanjutan dari trachea dan pneumonia
berarti peradangan pada jaringan paru - paru dan juga cabang tenggorokan
(broncus) (Arif Mansjoer, 2000) Gangguan pada sistem pernapasan merupakan
penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Infeksi pada saluran pernapasan jauh
lebih sering terjadi dibandingkan dengan infeksi pada sistem organ tubuh lain dan
berkisar dari flu biasa dengan gejala-gejala serta gangguan yang relatif ringan
sampai pneumonia berat. ( Sylvia A Price,2005 ).
BAB II
LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH

II.IDENTITAS PASIEN DAN KELUARGA


II.I Identitas Pasien
Nama : An. EP
Jenis kelamin : Laki-Laki
Umur : 10 bulan
Berat Badan : 6,5 Kg
Alamat : Candi Mulyo, Magelang
MRS : 26 Januari 2016
II.I.2 Identitas Kepala Keluarga
Nama : Tukino
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Karet RT 01 RW 03 Bulurejo, Magelang
Pendidikan : SD
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta

II.2 PROFIL KELUARGA YANG TINGGAL SATU RUMAH

Tabel 1. Daftar anggota keluarga kandung


No. Nama Usia Pend. Pekerjaan Hubungan Status Keteterangan
Keluarga Perkawinan Kesehatan
1. Tukino 32 SD Wiraswata Kepala KAWIN Gastritis
thn Keluarga
2. Katimatul 31 SLTP Ibu Rumah Istri KAWIN Sehat
Arifah thn Tangga
3. Indira 8 SD Pelajar Anak BELUM Sehat
Oktavia tahun Kandung KAWIN
4 Eko P. 10 - - Anak BELUM Sehat
bulan Kandung KAWIN
5. Solekah 60 SD Ibu Rumah Mertua KAWIN Hipertensi
thn Tangga
6. Rawam 28 SMA Wiraswasta Adik BELUM Sehat
tahun Kandung KAWIN

Genogram Keluarga

Keterangan :

Laki-laki
Pasien
Perempuan

Gambar 1. Genogram keluarga pasien

II.3. RESUME PENYAKIT DAN PENATALAKSANAAN YANG


DILAKUKAN KEPADA PASIEN
II.3.1 Hasil rekam medis pasien :
Didapatkan keterangan melalui alloanamnesis dengan ayah dan ibu pasien
pada hari Selasa tanggal 26 Januari 2016 pukul 09.30 WIB (hari ke-1
perawatan).

Keluhan Utama
Sesak

Keluhan tambahan
Tidak ada

Riwayat Penyakit Sekarang


Sejak tiga hari sebelum masuk rumah sakit, pasien terlihat sesak.
Pasien tampak sesak secara terus-menerus dan bertambah parah.. Sesak
tidak dipengaruhi oleh perubahan posisi. Sesak timbul tanpa didahului
kegiatan fisik tertentu. Sesak tidak disertai keluhan napas berbunyi, biru di
daerah bibir dan ujung jari, merintih, sering kencing, sering lapar ataupun
sering haus, riwayat lekas lelah ketika aktivitas, dan riwayat nyeri dada
yang menyebabkan tidur pada satu posisi tertentu. Pasien juga batuk
berdahak sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, dahak berwarna
kekuningan, kental, tidak berbau, dan tidak ada darah pada dahak pasien.
Pasien sering mengalami batuk sebelumnya. Keluhan batuk tidak
didahului faktor pencetus seperti aktivitas, emosi, pajanan terhadap bulu
binatang, cuaca, asap rokok ataupun debu. Batuk kadang disertai muntah,
muntah berisi makanan, muntah sebanyak ± 2 kali dalam satu hari. Pasien
juga mengalami demam 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Ibu pasien
mengukur suhu pasien dan didapatkan suhu tubuh pasien 380C. Demam
terus-menerus terjadi sepanjang hari disertai menggigil. Demam tidak
disertai kejang, penurunan kesadaran, meracau, dan mengigau. Pasien
diberikan obat Paracetamol sirup sebanyak 1 sendok takar setiap kali
demam. Demam turun ketika diberi Paracetamol. Pasien juga mengalami
penurunan nafsu makan. Buang air besar dan buang air kecil pasien dalam
batas normal.
Dalam keluarga pasien, tidak ada yang memiliki keluhan serupa
dengan pasien. Tidak ada orang sekitar yang memiliki riwayat batuk lama.
Ayah pasien seorang perokok. Ayah pasien sudah merokok sejak 15 tahun
yang lalu.
3 hari sebelum 1 hari sebelum
masuk rumah sakit masuk rumah sakit
pasien mengalami sesak dan batuk
sesak, batuk bertambah parah,
berdahak, dan batuk berdahak
muntah warna kekuningan

2 hari sebelum
masuk rumah sakit
pasien demam
dengan suhu 38ºC

.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Riwayat rhinitis alergi

RIWAYAT KEHAMILAN
Selama mengandung pasien, ibu pasien tidak pernah mengalami
demam, keputihan, perdarahan, dan penyakit tertentu lainnya seperti TORCH,
serta tidak mengonsumsi obat-obatan selain vitamin dan tablet penambah
darah yang diberikan oleh dokter. Ibu pasien melakukan pemeriksaan kehamilan
secara rutin di rumah sakit 1 bulan sekali dengan dokter spesialis kebidanan.

RIWAYAT KELAHIRAN
Tempat kelahiran : Rumah Sakit!
Ditolong oleh : Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan
Cara persalinan : Normal
Masa gestasi : Cukup bulan (39 minggu)
Keadaan bayi setelah lahir : Langsung menangis, kulit berwarna merah,
gerakan aktif, tidak biru, dan tidak kuning.
Berat badan lahir : 3100 gram
Panjang badan lahir : 47 cm
Kelainan bawaan : tidak ada

RIWAYAT TUMBUH KEMBANG


Pertumbuhan gigi pertama : 9 bulan
Psikomotor
 Tengkurap : 3 bulan
 Duduk : 6 bulan
 Berdiri : 11 bulan
 Berjalan : 12 bulan
 Bicara : 12 bulan
*Kesan: perkembangan sesuai usia anak

RIWAYAT MAKANAN
Usia (bulan) ASI/PASI Buah/Biskuit Bubur Susu Nasi Tim
0-2 ASI
2-4 ASI
4-6 Susu Formula Buah pisang
600 cc/hari
6-8 Susu Formula Buah pisang, Bubur Susu
600 cc/hari pepaya, jeruk,
Biskuit Regal
8-10 Susu Formula Buah pisang, Bubur Susu
600 cc/hari pepaya, jeruk,
Biskuit Regal
10-12 Susu Formula Buah pisang, Bubur Susu Nasi Tim
600 cc/hari pepaya, jeruk,
Biskuit Regal

Jenis Makanan Frekuensi dan Jumlah

Nasi 7 hari/minggu, 3x/hari, @ 1 sendok nasi

Sayur 7 hari/minggu, 3x/hari, @ 1 sendok sayur

Daging 2 hari/minggu, 3x/hari, @ 1 potong

Telur Jarang

Ikan 3 hari/minggu, 3x/hari

Tahu 2 hari/minggu, 3x/hari, @ 1 potong

Tempe 2 hari/minggu, 3x/hari, @ 1 potong

Susu Formula 7 hari/minggu, 5 x/hari, @ 120 cc

RIWAYAT IMUNISASI
Vaksin Usia
BCG 2 bulan - - -

Hepatitis B Baru Lahir 1 bulan 6 bulan -

D.P.T 2 bulan 4 bulan 6 bulan -

Polio Baru Lahir 2 bulan 4 bulan 6 bulan

Campak 9 bulan - - -

RIWAYAT KELUARGA
Corak reproduksi ibu/keadaan anak
P1A0
No Tanggal Lahir Jenis Hidup Lahir Abortus Keterangan
(umur) Kelamin Mati
1. 27 maret 2015 Perempuan √ - - Belum sekolah
(10 bulan)

Anggota keluarga lain yang serumah


Tidak ada

Masalah dalam keluarga


Tidak ada masalah dalam keluarga

Rumah milik
Milik sendiri

Keadaan rumah
Rumah memiliki ventilasi dan mendapat pencahayaan yang cukup
melalui jendela. Kamar mandi menggunakan kloset duduk dan bak mandi
dikuras setiap minggu. Rumah disapu dan dipel setiap hari. Sampah dibuang ke
tong sampah di depan rumah setiap hari dan diangkut oleh petugas kebersihan.
Air yang digunakan sehari-hari adalah air PAM.

Keadaan lingkungan rumah


Rumah berada di dalam kompleks perumahan yang bersih, tidak
rawan banjir, terdapat saluran air yang cukup besar dan tidak tersumbat,
tempat pembuangan sampah tertutup. Lokasi tidak dekat dengan pasar
ataupun tempat pembuangan akhir. Disekitar rumah tidak ada yang sedang
membangun rumah. Tidak ada polusi udara.

I. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan tanggal : 26 Januari 2016 (hari ke 1 perawatan)
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda-tanda Vital
 Nadi : 132 x/menit, isi cukup, irama reguler, ekual
di
keempat ekstremitas
 Pernafasan : 68 x/menit, tipe pernapasan abdomino-
torakal
 Suhu : 38.4C (per axilla)

Antropometri :
Berat badan : 7.4 kg
Tinggi badan : 57 cm
Lingkar kepala : 36 cm
Lingkar lengan atas : 11 cm
Lingkar dada : 40 cm
Lingkar perut : 46 cm

Status gizi (Berdasarkan WHO)


BB terhadap Umur : z score 0 s/d -2
TB terhadap Umur : z score -2 s/d -3
BB terhadap TB : z score-1 s/d 2 (kesan gizi baik)

Status Generalis
Kepala
UUB : Datar
Bentuk : Bulat, simetris
Rambut : Hitam, lurus, distribusi merata, tidak
mudah dicabut
Mata : Palpebra tidak edema, konjungtiva tidak
anemis,
sklera tidak ikterik, kornea jernih, refleks
cahaya
positif kanan dan kiri, pupil isokor, kotoran
mata
tidak ada.
Telinga : Bentuk normal, simetris, liang lapang,
serumen
tidak ada.
Hidung : Bentuk normal, septum tidak deviasi,
pernafasan
cuping hidung tidak ada, sekret tidak ada.
Mulut : Bibir tidak kering, sianosis tidak ada, lidah
tidak
kotor, faring hiperemis, tonsil T1-T1
hiperemis,
koplik spot tidak ada.

Leher
Tidak ada kelainan bentuk leher, kelenjar getah, bening tidak teraba.
Trakea berada di tengah, tidak ada deviasi. Tidak teraba massa lainnya.

Toraks
Bentuk normochest, tidak ada venektasi, tidak ada sikatriks, tidak terlihat
massa maupun diskolorasi. Pergerakan dada simetris saat statis dan
dinamis. Terdapat retraksi.

Paru
Inspeksi : Pergerakan dada simetris kanan dan kiri
Palpasi : Fremitus suara meningkat kanan dan kiri
Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : Suara nafas vesikular di seluruh lapang
paru, , tidak ada
wheezing, terdapat ronki basah sedang
nyaring.

Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat


Palpasi : Iktus kordis teraba sela iga IV garis
midklavikula
sinistra, thrill tidak ada
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : Bunyi jantung I-II regular, tidak ada
murmur, tidak
ada gallop.

Abdomen
Inspeksi : Membuncit, tidak ada lesi, tidak terlihat
penonjolan
massa.
Palpasi
 Dinding perut : Supel, tidak nyeri tekan
 Hati : Tidak teraba pembesaran
 Limpa : Tidak teraba pembesaran
 Ginjal : Tidak teraba, ballotement (-)
Perkusi : Timpani pada abdomen
Auskultasi : Bising usus normal

Anus
Normal

Alat Kelamin Perempuan


Tidak ada kelainan

Ekstremitas
Ekstremitas superior dan inferior, sinistra dan dekstra tidak tampak
deformitas, akral teraba hangat, gerakan aktif dan tidak terbatas, eutrofi,
normotonus, tidak ditemukan adanya edema ataupun sianosis, tidak ada
jari tabuh, turgor kulit baik, capillary refill time< 2 detik.

II. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium Darah (04mei 2015)
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hematologi Lengkap 9.6
Hemoglobin 28.7 12 – 16 g/dL
Hematokrit 4.3 37 - 47%
Eritrosit 15550 4,3 – 6,0 juta/μL
Leukosit 354000 4800 – 10600 /μL
Trombosit 68.1 150.000 – 400.000 /μL
MCV 26 80 – 96 fL
MCH 35 27 – 32 pg
MCHC 32 – 36 g/dl

III. RESUME
Pasien An. EP, laki-laki, usia 10 bulan, BB 7.4 kg, datang dengan keluhan sesak
sejak 3 hari dan disertai dengan batuk. Pasien batuk berdahak warna dahak
kekuningan dan nafsu makan berkurang, batuk kadang disertai muntah. Keluhan
lain tidak ada. 2 hari sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami demam
dengan suhu 380C. Pasien minum obat Paracetamol sirup dan demam turun
kemudian naik lagi. Pada pemeriksaan fisik tampak sakit sedang, compos mentis,
, nadi 134 x/menit, pernafasan 68 x/menit, dan suhu 38,10C. Pemeriksaan toraks
palpasi fremitus suara paru kanan dan kiri meningkat, auskultasi terdapat ronkhi
basah sedang nyaring pada kedua lapang paru.

IV. DIAGNOSIS BANDING


 Rhinitis
 Bronkiolitis
 Faringitis

V. DIAGNOSIS KERJA
Bronkopneumonia

VI. ANJURAN PEMERIKSAAN


- Oksimetri
- Spirometri
- Pemeriksaan kultur
- Analisa gas darah

VII. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa :
Kebutuhan cairan : IVFD D5 ¼ NS 500cc/24 jam
Atasi infeksi : Inj Cefotaxim 3 x 250 mg i.v
Atasi Demam : Inj. Norages 75 mg (KP), sanmol
drop 3x0.8 ml
Atasi sesak : Fartolin 1 ml 3x1/ hari
Nacl 1 ml

Non Medikamentosa :
Makan lunak 700 kal
Edukasi :
- Mengajarkan cara cuci tangan yang baik dan benar kepada
orangtua pasien.
- Kontrol setelah pasien boleh pulang dari rumah sakit
- Menyarankan jika memungkinkan agar pasien diberikan imunisasi
Hib dan PCV
- Menyarankan agar ayah pasien berhenti merokok
- Mengurangi paparan polusi udara

VIII. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

IX. FOLLOW UP
Tanggal S O A P
27/1/2016 Batuk kering Kesadaran: compos Bronkopneumonia - IVFD D5 ¼ NS
Pilek mentis 500cc/24 jam
Tidak muntah KU: sakit sedang -Inj Cefotaxim 3 x
N: 119 x/menit 250mg i.v
P: 46 x/menit -Inj. Norages 75 mg
S: 36,50C (KP), sanmol drop
Kepala: normocephal, 3x0.8 ml
rambut hitam, distribusi
merata -Fartolin 1 ml + Nacl
Mata: konjungtiva tidak ml 3x1/ hari
anemis, sklera tidak
ikterik - Makan lunak
THT: normosepta, sekret 1600 kal
tidak ada, faring tidak
hiperemis, tonsil T1-T1
Mulut: bibir tidak kering,
tidak ada sianosis
Leher: tidak ada
pembesaran KGB
Toraks: simetris, terdapat
retraksi kanan dan kiri
Cor: bunyi jantung I-II
normal, tidak ada murmur
dan gallop
Pulmo: fremitus suara
meningkat kanan dan kiri,
suara nafas vesikular,
ronkhi basah sedang
nyaring, tidak ada
wheezing
Abdomen: supel, bising
usus normal, tidak teraba
pembesaran hepar dan
lien, tidak nyeri tekan
Ekstremitas: akral hangat,
tidak sianosis, CRT<3
detik
28/02/2015 Batuk Kesadaran: compos Bronkopneumonia - IVFD D5 ¼ NS
berdahak mentis 500cc/24 jam
KU: sakit sedang -Inj Cefotaxim 3 x
N: 110 x/menit 250mg i.v
P: 42 x/menit -Inj. Norages 75 mg
S: 37.80C (KP), sanmol drop
Kepala: normocephal, 3x0.8 ml
rambut hitam, distribusi
merata -Fartolin 1 ml + Nacl
Mata: konjungtiva tidak ml 3x1/ hari
anemis, sklera tidak
ikterik - Makan lunak
THT: normosepta, sekret 1600 kal
tidak ada, faring tidak
hiperemis, tonsil T1-T1
Mulut: bibir tidak kering,
tidak ada sianosis
Leher: tidak ada
pembesaran KGB
Toraks: simetris, terdapat
retraksi kanan dan kiri
Cor: bunyi jantung I-II
normal, tidak ada murmur
dan gallop
Pulmo: fremitus suara
meningkat kanan dan kiri,
suara nafas vesikular,
ronkhi basah sedang
nyaring, tidak ada
wheezing
Abdomen: supel, bising
usus normal, tidak teraba
pembesaran hepar dan
lien, tidak nyeri tekan
Ekstremitas: akral hangat,
tidak sianosis, CRT<3
detik
29/01/2016 Batuk Kesadaran: compos Bronkopneumonia - Infus aff
berdahak mentis - ambroxol ¼ tab +
KU: sakit sedang sanmol 0.7 mg
N: 100 x/menit - Pulv 3 x 1 p.o
P: 38 x/menit
S: 360C - Pasien boleh pulan
Kepala: normocephal,
rambut hitam, distribusi
merata
Mata: konjungtiva tidak
anemis, sklera tidak
ikterik
THT: normosepta, sekret
tidak ada, faring tidak
hiperemis, tonsil T1-T1
Mulut: bibir tidak kering,
tidak ada sianosis
Leher: tidak ada
pembesaran KGB
Toraks: simetris, retraksi
tidak ada
Cor: bunyi jantung I-II
normal, tidak ada murmur
dan gallop
Pulmo: fremitus suara
meningkat kanan dan kiri,
suara nafas vesikular,
ronkhi basah sedang
nyaring, tidak ada
wheezing
Abdomen: supel, bising
usus normal, tidak teraba
pembesaran hepar dan
lien, tidak nyeri tekan
Ekstremitas: akral hangat,
tidak sianosis, CRT<3
detik

II.3.2 Hasil kunjungan rumah pasien :


Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis pada tanggal 4 Februari Januari
2016
1. KeluhanUtama : tidak ada
2. KeluhanTambahan : tidak ada
3. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat Rhinitis Alergi
4. Riwayat Penyakit Keluarga: (-)
5. PemeriksaanFisik :
a. Keadaan umum : baik
b. Kesadaran : compos mentis
c. Tanda Vital
a) Tensi : (tidak diperiksa)
b) RR : 24 x/menit
c) Nadi : 92 x/menit
d) Suhu : 36.5 ºC
6. Pembinaan
1. Menjelaskan tentang penyakit DBD (definisi, gejala yang ditimbulkan,
tindakan promotif dari DBD, gejala yang harus diwaspadai oleh orang
tua, serta kebersihan lingkungan)
2. Memberikan edukasi mengenai DBD kebersihan lingkungan.
7. Faktor pendukung
 Orang tua pasien memahami dengan baik apa yang dijelaskan mengenai
penyakit DBD beserta edukasi
 Orang tua mempunyai keinginan untuk meningkatkan kualitas
kesehatan
8. Faktor penghambat
 Usia pasien masih 8 bulan, dan belum mengerti tentang pentingnya
kesehatan dan kebersihan lingkungan.
9. Indikator keberhasilan
 Pasien dan orang tua pasien dapat mengerti tentang penyakit DBD dan
dapat menerapkan tindakan-tindakan preventif DBD (seperti menjaga
kebersihan lingkungan setempat) dan mengerti gejala-gejala DBD
yang harus diwaspadai.
II.4 IDENTIFIKASI FUNGSI – FUNGSI KELUARGA
II.4.1 Fungsi Biologis
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki penyakit herediter dan
penyakit menular.

II.4.2 Fungsi Psikologi


Pasien tinggal bersama ayah, ibu, dan kakanya, neneknya dan
pamannya hidup secara rukun. Komunikasi antar anggota keluarga pun
terjalin baik. Apabila ada masalah, dibicarakan secara musyawarah.

II.4.3. Fungsi Ekonomi


Ayah bekerja sebagai wiraswasta. Ibu sebagai ibu rumah tangga
Dilihat dari segi ekonomi, keluarga ini tergolong memiliki penghasilan
cukup cenderung menengah kebawah.
II.4.4 Fungsi Pendidikan
Pendidikan terakhir bapak adalah SD dan Ibu pasien ialah SLTP.
Pasien saat ini belum bersekolah mengingat usianya masih bayi,.
Dilihat dari pendidikan keluarga pasien, keluarga pasien dapat mengerti
dan memahami dengan baik tentang edukasi DBD yang dijelaskan.

II.4.5 Fungsi Religius


Pasien dan seluruh anggota keluarga memeluk agama Islam,
keluarga menjalankan ibadah agama secara rutin. Ibu pasien mengaku
sering mengikuti pengajian yang diadakan setiap seminggu sekali.

II.4.6.Fungsi Sosial Budaya


Hubungan pasien dan keluarganya sangat baik di lingkungan
dan dikenal baik oleh masyarakat sekitar rumahnnya. Aktif dalam
berbagai kegiatan social yang diselenggarakan di lingkungan rumahnya.
Pasien dan keluarganya juga saling membantu dengan tetangga sekitar.

II.5 POLA KONSUMSI PASIEN


Pola makan pasien 3x/hari dengan lauk pauk (ikan, telur, daging, ayam),
sayur-sayuran, masih diberikan ASI ditambah dengan cerelac.

II.6 IDENTIFIKASI FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


KESEHATAN
1. Faktor Perilaku
Pola makan pasien kadang tidak teratur.
2. Faktor Non-Perilaku
Sarana pelayanan kesehatan di sekitar rumah cukup dekat, jarak
dari rumah ke pelayanan kesehatan seperti dokter umum dan apotik
kurang lebih 1 km. Sedangkan jarak dari rumah ke rumah sakit besar
seperti RST Soedjono agak jauh. Perjalanan dari rumah untuk ke
rumah sakit harus memakai kendaraan, karena berjarak cukup jauh.

II.7 IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH


Pasien tinggal di daerah pedesaan bersama keluarganya. Kawasan
tempat tinggal pasien merupakan kawasan cukup layak untuk ditempati.
Rumah terdiri atas 3 kamar tidur, terdapat 1 ruang tamu, 1 ruang makan, 1
dapur, 1 kamar mandi dan teras. Lantai rumah berupa keramik, dinding
berupa tembok dan atap rumah ditutupi dengan genting. Ventilasi rumah
kurang baik, karena kamar pasien beserta oranguanya yang berada di
paling belakang memiliki ventilasi yang kecil dan 1 kamar diisi berdua
dengan kakanya. Kebersihan dan kerapihan rumah cukup terjaga dengan
baik. Sumber air minum, mandi dan mencuci dari air PAM. Disekitar
rumah terdapat tempat pembuangan sampah akhir yang diangkut setiap
seminggu 3x. Keluarga pasien ini memiliki alat elektonik seperti ; televisi,
kulkas, kompor gas serta memiliki 1 kendaraan motor.

Denah rumah
WC DAPUR
TEMPAT
MAKAN
KAMAR KAMAR
II III
KAMAR I RUANG
TAMU
WARUNG
TERAS

DIAGRAM REALITA PADA KELUARGA


Diagram 1. Diagram realita yang ada pada keluarga
Genetik

Status
Yankes Kesehatan perilaku

- 1 praktek - Proteksi diri terhadap


dokter umum gigitan nyamuk yang
- RST kurang peduli
Magelang lingkungan

- Kebersihan lingkungan
yang kurang terjaga.

II.8.TABEL PERMASALAHAN
Tabel 2. Permasalahan dan Penyelesaian pada Pasien
Permasalahan Penyelesaian
- Kurangnya pengetahuan orang tua Menjelaskan mengenai penyakit
pasien tentang tindakan preventif DBD, penyebab, gejala klinis,
DBD dan gejala-gejala emergensi penatalaksanaan dan pencegahan
DBD DBD

II.9.PEMBINAAN DAN HASIL KEGIATAN


Tabel 3. Jadwal pembinaan dan hasil kegiatan
Tanggal Kegiatan yang dilakukan Keluarga Hasil kegiatan
yang
terlibat
24 - Menjelaskan tentang Ayah, ibu, Memahami apa
Februari penyakit demam berdarah dan nenek yang teah dijelaskan
2016 dengue (DBD) (definisi, tentang penyakit
etiologi, gejala klinis) DBD
- Menjelaskan tentang
gejala emergensi yang -Memahami apa
harus diketahui orang tua yang telah
di rumah. dijelaskan dan dapat
- Memberikan edukasi mengaplikasikannya
kepada pasien dan orang sehingga dapat
tua pasien tentang membawa anak
bagaimana mencegah berobat ke
penyakit DBD dengan pelayanan
cara menjaga kebersihan kesehatan sesegera
rumah ataupun lingkungan mungkin.
sekitar, melakukan - Memahami apa
proteksi diri (dengan cara yang telah
menggunakan lotion anti dijelaskan dan
nyamuk) dan melakukan menerapkan dalam
penyemprotan dengan kehidupan seharii-
obat anti nyamuk terutama hari
jika musim hujan tiba.
BAB III
KESIMPULAN

III.1 KESIMPULAN PEMBINAAN KELUARGA


Hasil pembinaan keluarga dilakukan pada tanggal 24 Februari 2016. Dari
pembinaan keluarga tersebut didapatkan hasil sebagai berikut :
a. Tingkat pemahaman
Pasien dan orangtuanya dapat memahami penjelasan yang diberikan
tentang demam berdarah dengue, meliputi gejala, etiologi dan
penatalaksanaannya dirumah
b. Faktor pendukung :
Orangtua pasien dapat memahami dan menangkap penjelasan yang
diberikan. Sikap orangtua pasien yang kooperatif dan menangkap
penjelasan yang diberikan.
c. Faktor penghambat :
Usia pasien masih 8 bulan, dan belum mengerti tentang pentingnya
kesehatan dan kebersihan makanan.
d. Indikator keberhasilan
 Pasien sudah tidak menunjukan gejala dan keadaan membaik.
 orang tua dan pasien mengerti tentang edukasi yang diberikan
 orangtua pasien dapat menerapkan penatalaksanaan dan
pencegaham dirumah
Kesimpulan dari hasil binaan keluarga ini adalah pemahaman
terhadap pembinaan yang dilakukan cukup baik, serta sikap seluruh
anggota keluarga yang kooperatif sehingga mempunyai keinginan untuk
mengubah perilaku yang tidak baik bagi kesehatan ditemukannya faktor
penyulit yang dapat menghambat binaan yang diberikan.
III.2. Saran
1. Diharapkan pasien dapat mengatur pola makannya dan tidak jajan
sembarangan di sekitar lingkungannya.
2. Diharapkan orangtua pasien dapat menjaga kebersihan makanan sehari-hari
3. Dapat menerapkan hidup bersih dan sehat untuk meningkatkan kualitas
kesehatan
4. Melaporkan kejadian tersebut, agar dilakukan pengasapan.