Anda di halaman 1dari 11

PROPOSAL PENELITIAN

EVALUASI SISTEM PENYALIRAN TAMBANG PADA KOLAM


PENGENDAPAN TAMBANG BATUBARA PT. CARITAS ENERGI
SOROLANGGUN, JAMBI.

MULKI GEMPI MALINDO


RENCANA DAFTAR ISI

BAB
I PENDAHULUAN ...........................................................................
1.1. Latar Belakang Masalah .........................................................
1.2. Tujuan Penelitian ....................................................................
1.3. Batasan Masalah .....................................................................
1.4. Tahapan Kegiatan Penelitian ..................................................
1.5. Manfaat Hasil Penenlitian .......................................................
II TINJAUAN UMUM ........................................................................
2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah..............................................
2.2. Tambang di Sorolanggun ........................................................
2.3. Iklim dan Curah Hujan............................................................
2.4 Keadaan Geologi. ....................................................................
2.5. Cadangan,Kualitas, dan Sasaran Produksi Batubara di Sorolanggun
2.6. Tahapan Kegiatan Penambangan ............................................
2.7. Kondisi Sistem Penyaliran Prebench .....................................

III DASAR TEORI ...............................................................................


3.1. Siklus Hidrologi (Hydrological Cycle) ...................................
3.2. Pengertian Sistem Penyaliran Tambang .................................
3.3. Metode Penyaliran Tambang ..................................................
3.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhu Sistme penyaliran
Tambang .................................................................................
3.5. Sumuran ..................................................................................
3.6. Pompa ....................................................................................
3.7. Kolam Pengendapan ..............................................................

IV HASIL PENELITIAN .....................................................................


4.1. Metode Pelaksanaan Penelitian...............................................
4.2. Sistem Penyaliran Tambang ...................................................
4.3. Kondisi Daerah Penelitian ......................................................
4.4. Curah Hujan ............................................................................
4.5. Daerah Tangkapan Hujan .......................................................
4.6. Koefisien Limpasan ................................................................
4.7. Debit Air Limpasan.................................................................
4.8. Sumuran ..................................................................................
4.9. pompa dan pipa .......................................................................
4.10. kolam pengendapan ................................................................

V PEMBAHASAN ..............................................................................
5.1. Sistem Penyaliran Tambang di Sumuran Utama ....................
5.2. jumlah air yang masuk ke Sumuran ........................................
5.3. Kajian Sumuran ......................................................................
5.4. Pengunaan Pompa dan Pipa ....................................................
5.5. Kajian Kolam Pengendapan ....................................................

VI KESIMPULAN DAN SARAN........................................................


6.1. Kesimpulan .............................................................................
6.2. Saran .....................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................
LAMPIRAN ..............................................................................................

1.1.Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:
a. Menghitung jumlah air yang masuk ke lokasi penambangan.
b. Menghitung jumlah pompa yang digunakan untuk pengeringan pada sumuran A.
c. Menghitung jumlah pompa yang digunakan untuk penstabilan elevasi air pada
sumuran B.
d. Menghitung dimensi sumuran A’.
e. Melakukan evaluasi terhadap kolam pengendapan tambang.

1.2. Batasan Masalah


Batasan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
a. Penelitian hanya terfokus pada lokasi sumuran A, sumuran B dan kolam
pengendapan yang dekat dengan lokasi penambangan.
b. Kajian teknis ini dilakukan berdasarkan kondisi di lapangan pada saat penelitian
dilakukan.
c. Perhitungan volume sumuran tergantung pada debit air limpasan yang berasal
dari air hujan dan debit air yang dialirkan pompa dari sumuran batubara jadi air
tanah diabaikan karena potensinya sangat rendah.
d. Pengkajian sistem penyaliran tambang didasarkan pada pertimbangan aspek teknis.
1.3.Tahapan Kegiatan Penelitian
Di dalam melaksankan penelitian ini, penulis menggabungkan antara studi pustaka
dengan data-data/observasi lapangan. Dari keduanya didapat pendekatan penyelesaian
masalah. Adapun urutan pekerjaan penelitian yaitu:
1. Studi litelatur
Studi litelatur dilakukan dengan mencari bahan-bahan pustaka yang menunjang, yang
di peroleh dari:
a. PT Caritas Energi Sorolanggun, Jambi.
b. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala
c. Internet
2. Orientasi lapangan
Maksud dari orientasi lapangan adalah melakukan pengamatan secara langsung
terhadap permasalahan yang akan dibahas yaitu topografi daerah penelitian, kondisi
daerah penambangan, sistem penambangan yang digunakan, serta kondisi penyaliran
saat itu.
3. Pengambilan data lapangan
Pengambilan data di lapangan dilakukan setelah studi litelatur dan orientasi di lapangan
selesai dilakukan. Data yang diambil berupa data primer dan data sekunder. Data
primer adalah data yang diambil dilapangan dari pengukuran atau pengamatan lapangan
seperti debit pompa aktual, jalur pipa, jumlah pompa, luas daerah tangkapan hujan,
kolam pengendapan aktual. Data sekunder adalah data yang diambil dari literatur atau
laporan perusahaan seperti data curah hujan, peta situasi tambang, data spesifikasi
pompa dan pipa, peta kesampaian daerah.
4. Pengolahan dan analisis data
Data curah hujan diolah menjadi intensitas curah hujan kemudian untuk menentukan
debit air limpasan. Berdasarkan rumus Manning, dapat ditentukan dimensi saluran
terbuka yang digunakan untuk mengalirkan air limpasan ke sumuran.
5. Pembuatan draft
Membuat laporan sementara dari lapangan yang dilakukan di lapangan sebagai syarat
selesainya penelitian di lapangan.
1.4.Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini dapat digunakan PT Caritas Energi sebagai bahan pertimbangan untuk
menentukan jumlah pompa yang digunakan untuk mengeringkan pada sumuran A dan jumlah
pompa yang digunakan pada sumuran B, serta untuk mengetahui dimensi kolam pengendapan
dan jadwal pengerukan pada kolam pengendapan.

2. Dasar Teori

2.1 Motode Penyaliran Tambang


Air dalam jumlah yang besar merupakan permasalahan besar dalam pekerjaan
penambangan, baik secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap
produktivitas. Sumber air yang masuk ke lokasi penambangan, dapat berasal dari air
permukaan tanah maupun air bawah tanah.
Air permukaan tanah merupakan air yang terdapat dan mengalir di permukaan tanah.
Jenis air ini meliputi, air limpasan permukaan, air sungai, rawa atau danau yang terdapat di
daerah tersebut, air buangan (limbah), dan mata air. Sedangkan air bawah tanah merupakan
air yang terdapat dan mengalir di bawah permukaan tanah. Jenis air ini meliputi air tanah dan
air rembesan.

Penanganan masalah air dalam suatu tambang terbuka dapat dibedakan menjadi dua
yaitu :
1. Mine Drainage
a. Metode Siemens
b. Metode Pemompaan Dalam (Deep Well Pump)
c. Metode Elektro Osmosis
d. Small Pipe With Vacuum Pump
e. Metode Kombinasi dengan Lubang Bukaan Bawah Tanah
f. Metode Pemotongan/Penggalian Air Tanah
2. Mine Dewatering,
a. Sistem Kolam Terbuka
b. Cara Saluran Terbuka
c. Sistem Adit
3.4 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Sistem Penyaliran Tambang
3.4.1 Curah Hujan rencana
3.4.2 Periode Ulang Hujan
3.4.3 Intensitas curah hujan ( I )
3.4.4 Daerah Tangkapan Hujan
3.4.5 Air Limpasan

3.4. Sumuran
3.5. Pompa
1. Reciprocating Pump
2. Centrifugal Pump
3. Axial Pump

3.1.1. Julang (Head)


Dalam pemompaan dikenal istilah julang (head), yaitu energi yang diperlukan
untuk mengalirkan sejumlah air pada kondisi tertentu. Semakin besar debit air yang
dipompa, maka head juga akan semakin besar. Head total pompa untuk mengalirkan
sejumlah air seperti yang direncanakan dapat ditentukan dari kondisi instalasi yang akan
dilayani oleh pompa tersebut, sehingga julang total pompa dapat dituliskan sebagai
berikut:
 v2 
Ht h s h p h f   ...…………..……..............................……….( 3.6)
 2g 
Keterangan:
Ht = head total pompa (m).
hs = head statis pompa (m).
hp = beda head tekanan pada kedua permukaan air (m).
hf = head untuk mengatasi berbagai hambatan pada pompa dan pipa (m), meliputi head
gesekan pipa, serta head belokan dan lain-lain.
v2
= head kecepatan (m).
2g
3.1.2. Head statis (hs)
Merupakan head pompa akibat perbedaan tinggi antara muka air di sisi keluar dan di
sisi isap. Secara matematis didapat dengan menggunakan rumus :
h s t 2 t1 ...……………………...................................................…….( 3.7)
Keterangan:
hs = Head statis pompa (m)
t2 = Elevasi air pada sisi keluar (m)
t1 = Elevasi air pada sisi isap (m)
3.1.3. Head kecepatan(hv)
Head kecepatan adalah head yang dibutuhkan pompa untuk mengatasi kecepatan
aliran air/fluida di dalam pipa. Head kecepatan dinyatakan dengan persamaan:
v2
Hv  ...…………………...............….............................................( 3.8)
2g
Keterangan:
Hv = Velocity head (m)
v2 = Kecepatan aliran fluida (air) dalam pipa (m/detik)
g = Gaya gravitasi (9,8 m/detik )
3.1.4. Head kerugian
Head kerugian adalah head yang digunakan untuk mengatasi kerugian-kerugian terdiri
dari head kerugian gesek di dalam pipa-pipa, head kerugian gesek di dalam belokan-belokan,
head kerugian karena pembesaran atau pengecilan pipa, dan sebagainya. Head kerugian
gesek di dalam pipa merupakan kerugian karena gesekan air dengan pipa, maka besarnya
tergantung dari kecepatan aliran air, panjang pipa dan diameter dalam pipa yang digunakan.
 10,66Q 1,85 
Hf   1,85 4,85   xL ..................................................................(3.9)
 C xD  
Keterangan:
C = Koefisien kekasaran pipa
L = Panjang pipa ( m )
D = Diameter dalam pipa (m)
Q =Laju aliran (m3/s)
3.1.5. Debit aktual pemompaan
Debit aktual pemompaan yaitu debit air yang dikeluarkan secara nyata di ujung
pembuangan pipa dengan menggunakan alat flowbar. Alat ini berfungsi mengukur debit air
yang dikeluarkan pada pipa pembuang pada saat pipa dihidupkan,perkiraan debit pemompaan
aktual dapat dilakukan percobaan. (gambar 3.4)
Gambar 3.3.
Pengukuran Debit Pompa dengan Metode Discharge5)

Langkah kerja metode ini yaitu dengan membuat alat ukur berbentuk “L” seperti
terlihat pada (Gambar 3.3). Sisi yang pendek berukuran 300 mm dan sisi yang lebih panjang
merupakan panjang kekuatan air (X) dinyatakan dalam satuan mm. Debit pompa diukur
dengan meletakkan sisi L yang panjang pada bagian atas pipa ketika air mengalir keluar dari
pipa. Lalu pastikan sisi yang pendek menyentuh aliran air. Kemudian catat panjang X (Tabel
3.4) menampilkan hubungan antara panjang X dan diameter pipa (D) yang menentukan besar
debit pompa).

Ukuran Kolam Pengendapan


Luas kolam pengendapan dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
A = Q total/v……………………………………..(3.10)
Keterangan :
A = Luas kolam pengendapan (m2)
Q total = Debit air yang masuk kolam pengendapan (m3/detik)
v = Kecepatan pengendapan (m/detik)
Kecepatan pengendapan dapat dihitung dengan menggunakan rumus “Stokes” dan
hukum “Newton”. Hukum “Stokes” berlaku bila padatanya kurang dari 40%, sedangkan bila
persen padatan lebih dari 40% berlaku hukum “Newton”
Hukum Stokes
g  D 2  p  a 
V  ………………………… .........................…….(3.11)
18
Keterangan :
V = kecepatan pengendapan partikel (m/detik)
g = percepatan gravitasi (m/detik2)
p = berat jenis partikel padatan

a = berat jenis air (kg/m3)


 = kekentalan dinamik air (kg/mdetik)
D = diameter partikel padatan (m)
Hukum Newton

 4 xgxD xp  a  
0,5

V   ………………………........................….(3.12)
 3 xFgxa 
Keterangan :
V = kecepatan pengendapan partikel (m/detik)
g = percepatan gravitasi (m/detik2)
p = berat jenis partikel padatan

a = berat jenis air (kg/m3)


D = diameter partikel padatan (m)
Fg = nilai koefisien tahanan
Sedangkan untuk menentukan dimensi dari kolam pengendapan, seperti panjang,
lebar dan ke dalaman ditentukan dengan melihat spesifikasi alat yang digunakan untuk
merawat kolam pengendapan tersebut.

3.7.4. Perhitungan Prosentase Pengendapan


Perhitungan Prosentase pengendapan ini bertujuan untuk mengetahui apakah kolam
pengendapan
yang akan dibuat dapat berfungsi untuk mengendapkan partikel padatan yang terkandung
dalam air limpasan tambang. Aliran air pada kolam pengendapan digambarkan seperti pada
gambar 3.6.
Waktu yang dibutuhkan oleh partikel untuk mengendap dengan kecepatan (v m/s)
sejauh (h) adalah:

tv = h/v (detik).......................................................................................(3.13)

Keterangan:
tv = waktu pengendapan partikel (menit)
v = kecepatan pengendapan partikel (m/detik)
h = Kedalaman Saluran (m)
jika:
Q
vh  total ……………………………............................................…(3.14)
A
Keterangan :
Vh = kecepatan mendatar partikel (m/detik)
Qtotal = Debit aliran yang masuk ke kolam pengendapan ( m3/detik)
A = Luas permukaan saluran (m2)
Waktu yang dibutuhkan partikel untuk keluar dari kolam pengendapan dengan
kecepatan vh adalah :
th = P/vh (detik)……………………...........................................….(3.15)
Keterangan :
P = Panjang kolam pengendapan
Dalam proses pengendapan ini partikel mampu mengendap dengan baik jika tv tidak
lebih besar dari th. Sebab, jika waktu yang diperlukan untuk mengendap lebih kecil dari
waktu yang diperlukan untuk mengalir ke luar kolam atau dengan kata lain proses
pengendapan lebih cepat dari aliran air maka proses pengendapan dapat terjadi.
Prosentase pengendapan, yaitu :
waktu yang dibutuhkan air keluar
= x100% ……..(3.17)
waktu yang dibutuhkan air keluar  waktu pengendapan 
Dari perumusan di atas, dapat disimpulkan bahwa semakin besar ukuran partikel
maka semakin cepat proses pengendapan serta semakin besar pula prosentase partikel yang
berhasil diendapkan.

Sumber: Tedi agung cahyadi, 2007


Gambar 3.5.
Aliran Air di Kolam Pengendapan
Keterangan :
L = Lebar kolam pengendapan (m)
Vh = Kecepatan mendatar partikel (m/s)
V = Kecepatan pengendapan (m/s)
h = Kedalaman kolam pengendapan (m)
P = Panjang kolam pengendapan (m)