Anda di halaman 1dari 49

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mata kuliah Kerja Praktik di Program Studi D3 Teknik Sipil Politeknik
Negeri Banyuwangi (Poliwangi) yang merupakan sarana untuk latihan
mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di saat
perkuliahan. Selain itu melalui Kerja Praktik akan diperoleh gambaran yang jelas
tentang berbagai hal yang berkaitan dengan berbagai masalah bidang Teknik Sipil
di tempat Kerja Praktik. Dalam mencapai usaha di atas, tentunya tidak lepas dari
peran serta berbagai pihak, baik dari kalangan kampus dan dunia industri serta
semua instansi terkait.
Hotel berasal dari kata hostel, konon diambil dari Bahasa perancis kuno.
Bangunan ini sudah disebut-sebut sejak akhir abat ke-17. Di Indonesia, kata Hotel
selalu dikonotasikan sebagai bangunan penginapan yang cukup mahal. PT. Maju
Mapan Bangun Indo beralamat di Komplek Ruko Kebun Jeruk Permai Blok B
No.5 Jakarta Barat. Perusahaan ini berdiri pada tanggal 17 Mei 1993. PT. Maju
Mapan Bangun Indo merupakan suatu perusahaan yang berkecimpung dalam
bidang kontraktor. Dalam kesempatan ini PT. Maju Mapan Bangun Indo
membangun suatu Hotel di daerah Denpasar-Bali yaitu Hotel Hyatt Regency.
Showroom yang akan dibangun dengan dana mencapai 1,3miliar dan berlokasi di
Jl. Danau Tamblingan Sanur kota Denpasar-Bali tersebut direncanakan berlantai 3
(tiga). Hotel tersebut nantinya akan sangat mencolok sebab bangunan tersebut
menjadi pusat penginapan wisata yang mengutamakan pemandangan yang indah.
Proyek Pembangunan Hotel Hyatt Regency ini dapat mempelajari metode
pelaksanaan pekerjaan strukur. Ruang lingkup yang diikuti adalah pekerjaan pada
basement, dalam pekerjaan basement disana sudah mencapai pekerjaan pelat
lantai dan sudah ke tahap pekerjaan pada lantai 2 (dua), dalam pekerjaan yang
berada pada lantai 2 (dua) ini lingkup pekerjaannya cukup banyak yaitu metode
pelaksanaan pekerjaan kolom, metode pelaksanaan pekerjaan balok dan metode
pelaksanaan pekerjaan pelat.
Berdasarkan latar belakang di atas pada kesempatan Kerja Praktik yang
dilaksanakan di Proyek Pembangunan Hotel Hyatt Regency diangkat judul

1
“Pelakasaan Pekerjaan Balok dan Pelat pada Pembangunan Proyek Hotel Bali
Hyatt Regency PT. Maju Mapan Bangun Indo”.

1.2 Rumusan Masalah


Hal utama yang ingin dikaji melalui pelaksanaan Kerja Praktik ini, yakni
ingin mengetahui :
Bagaimana proses pelaksanaan pekerjaan struktur atas pada pembangunan
Bali Hotel Hyatt Regency yang terdiri dari balok dan pelat lantai.

1.3 Tujuan
Adapun tujuan melaksanakan Kerja Praktik ini yaitu :
Untuk mengetahui proses pelaksanaan pembangunan Bali Hotel Hyatt
Regency

1.4 Batasan Masalah


Sesuai dengan tujuan Kerja Praktik, maka perlu adanya batasan yang
bertujuan untuk memfokuskan bagian yang akan dibahas. Adapun batasannya
yakni :
1. Tidak membahas tentang manajemen konstruksi pada pembangunan Bali
Hotel Hyatt Regency
2. Membahas pelaksanaan pada area Hotel khususnya pada pekerjaan balok
dan pelat.
3. Tidak membahas mengenai rencana anggaran biaya (RAB) pada
pembangunan Bali Hotel Hyatt Regency
4. Hanya membahas metode pelaksanaan pekerjaan balok dan pelat

1.5 Manfaat
Kerja Praktik memberikan manfaat terutama bagi mahasiswa, bagi pihak
Perguruan Tinggi, dan bagi Perusahaan antara lain :
1. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat mengaplikasikan dan meningkatkan ilmu yang di
peroleh di bangku perkuliahan, serta mahasiswa akan menumbuhkan rasa

2
tanggung jawab profesi di dalam dirinya melalui Kerja Praktik dan akan
mendapatkan pengetahuan yang tidak ada di bangku perkuliahan.

2. Bagi Perguruan Tinggi


Terjalinnya kerjasama bilateral antara Politeknik Negeri
Banyuwangi dengan perusahaan yang bersangkutan dan juga dapat
meningkatkan kualitas lulusanya melalui pengalaman Kerja Praktik.
3. Bagi Perusahaan
Perusahaan akan mendapatkan bantuan tenaga dari mahasiswa dan
kritikan – kritikan yang membangun serta mengetahui perkembangan
teori terbaru yang berkaitan dengan bidang Teknik Sipil pada khususnya
di dalam dunia kerja yaitu Dunia Konstruksi pada umumnya.

3
(Halaman Sengaja Dikosongkan)

4
BAB 2
GAMBARAN UMUM
PT. MAJU MAPAN BANGUN INDO

2.1 Sejarah PT. MAJU MAPAN BANGUN INDO


PT. Maju Mapan Bangun Indo didirikan oleh Ong OnggoTjandra Setiawan
pada tanggal 17 Mei 1993. Berawal dari seorang spesialis pembangunan
perumahan, Dalam dua dekade ini PT. Maju Mapan Bangun Indo telah
mendapatkan banyak pengalaman berharga dan meningkatkan kualitas, baik
dalam teknik konstruksi, bahan dan sebagainya. Karena itu sekarang PT. Maju
Mapan Bangun Indo telah berkembang pesat. Saat ini, proyek PT. Maju Mapan
Bangun Indo sudah berkembang menjadi proyek berskala besar seperti
pembangunan Hotel, pemangunan rumah sakit, pembangunan restoran, dan
sebagainya.( PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)
PT. Maju Mapan Bangun Indo dikenal sebagai perusahaan yang memiliki
hasil yang memuaskan pelanggan karena kecepatan, akurasi, dan kerapihannya.
PT. Maju Mapan Bangun Indo berbasis di Jakarta Barat. Meski hanya berbasis di
Jakarta rengtang proyek yang di tangani sangat luas sampai menjangkau luar jawa
contohnya : Bali, Maluku, Riau, dan Bengkulu.( PT. Maju Mapan Bangun Indo,
2017).

2.1 Struktur Organisasi dan Manajemen Proyek


Organisasi adalah tim yang terdiri dari kesatuan yang dibutuhkan untuk
mencapai sebuah tujuan yang disepakati bersama, maka dari itu di dalam sebuah
proyek diperlukan sebuah organisasi proyek yang mewadahi pelaksanaan
pengerjaan sebuah proyek mulai dari tahap perencanaan awal hingga proses akhir
suatu proyek.
Agar pelaksanaan pekerjaan dapat teratur dan berjalan lancar, maka dalam
pelaksanaan di lapangan dibuat uraian pekerjaan (job description) sehingga
masing-masing unsur dapat mengetahui tugasnya dengan jelas dan tidak ada tugas
yang tumpang tindih antar pihak yang terkait. Dibawah ini adalah skema
hubungan kerja pengelola proyek.

5
1. Owner
Owner atau pemilik adalah seorang atau instansi yang memiliki proyek
atau pekerjaan dan memberikannya kepada pihak lain yang mampu
melaksanakannya sesuai dengan perjanjian kontrak kerja. Untuk
merealisasikan proyek, owner memiliki kewajiban pokok yaitu menyediakan
dana untuk membiayai proyek. Yang bertindak selaku pemilik dalam proyek
ini adalah PT. Wyncor Bali. Adapun tugas dan kewajiban sebagai berikut:
a. Menyiapkan gambar design konsultan perencana yang dipakai sebagai
acuan didalam proses pelelangan harga,
b. Menyiapkan biaya perencanaan dan persiapan jadwal pelaksanaan
pekerjaan proyek (schedule),
c. Mengadakan proses pelelangan untuk penunjukan kontraktor,
d. Membuat surat perintah kerja (SPK),
e. Pemberian tugas kepada kontraktor atau melaksanakan pekerjaan proyek,
f. Memberikan tugas kepada manajemen Konstruksi (MK) untuk meninjau
pekerjaan di lapangan atas mandat dari Owner,
g. Owner dapat menginstruksikan apabila ada penambahan / pengurangan
pekerjaan (pekerjaan tambah kurang),
h. Memonitor pekerjaan agar proyek selesai tepat waktu,
i. Dapat memutuskan hubungan kerja apabila kontraktor pelaksana tidak
dapat melaksanakan kewajiban berdasarkan surat perjanjian kontrak
(bilamana waktu yang ditentukan tidak dipenuhi oleh kontraktor).
2. Structure Design Consultants
Structure Design Consultants adalah perusahaan yang ditunjuk oleh
owner yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam merancang segala
sesuatu yang berhubungan dengan rancangan bangunan. Dalam proyek ini
perencanaan struktur yang dikerjakan oleh PT. Duta Tangkas Rekayasa
untuk merencanakan desain awal sampai akhir.
3. Main Contractor
Main Contractor atau kontraktor utama adalah pihak yang diserahi tugas
untuk melaksanakan pembangunan proyek oleh owner melalui prosedur
pelelangan. Kontraktor pada pembangunan proyek ini adalah PT. Maju
Mapan Bangun Indo yang mempunyai tugas dan kewajiban sebagai berikut:

6
a. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan peraturan dan syarat-syarat
yang telah ditetapkan dalam dokumen kontrak.
b. Membuat gambar kerja (shop drawing) sebelum memulai pelaksanaan
pekerjaan.
c. Membuat dokumen tentang pekerjaan yang telah dilaksanakan dan
diserahkan kepada owner.
d. Membuat hasil pekerjaan berupa laporan kemajuan proyek.
e. Mengasuransikan pekerjaan dan kecelakaan kerja bagi tenaga kerja.
f. Melaksanakan dan menyelesaikan seluruh pekerjaan yang telah
ditetapkan oleh dokumen kontrak.
g. Melakukan perbaikan atas kekurangan atau kerusakan pekerjaan akibat
kelalaian selama pelaksanaan pekerjaan di lapangan yang tidak sesuai
dengan dokumen kontrak.
h. Menyerahkan hasil pekerjaan setelah pekerjaan proyek selesai berupa
Berita Acara Serah Terima pekerjaan (BAST) ke-1.
i. Menyelesaikan tanggung jawab selama masa pemeliharaan
j. Menyerahkan hasil pekerjaan selama masa pemeliharaan yang
dituangkan kedalam dokumen Berita Acara Serah Terima (BAST) ke-2.

2.2 Unsur Organisasi Pelaksanaan Proyek


Berikut ini adalah struktur organisasi Pt. Maju Mapan Bangun Indo
Bangunan Gedung dalam pembangunan proyek Hyatt Regency yang dapat
dilihat pada Gambar 2.1:

7
STRUKTUR ORGANISASI PROYEK HYATT REGENCY

Gambar 2.1. Struktur Organisasi (Data dari PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)
8
2.3.1 Tugas dan Wewenang
Berikut adalah Tugas dan Wewenang masing-masing koordinator yang
ada di Proyek Hotel Hyatt Regency :

1. Manajer Divisi II
Bertanggung jawab terhadap pemegang saham di wilayah II, tugas pokok
yaitu mengelola dan mengkoordiansi seluruh proyek secara professional
sehingga anggaran, program kerja dan sasaran proyek dapat tercapai (Data
Kontraktor PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)

2. Manajer Proyek (Project Manager)


Project Manager adalah wakil dari perusahaan atau kontraktor yang
memimpin sebuah proyek yakni meliputi jalannya suatu pekerjaan,
mengevaluasi hasil dari pekerjaan dan membandingkan dengan pelaksanaan
proyek yang kemudian disusun dalam suatu format laporan pekerjaan dari
awal hingga akhir pelaksanaan proyek.
Berikut tugas Project Manager secara lebih jelas:

a. Memimpin perencanaan dan pelaksanaan proyek


b. Melakukan koordinasi mengenai jadwal proyek secara keseluruhan
c. Memastikan bahwa semua rencana proyek telah selesai
d. Memenuhi setiap persyaratan kualitas dan waktu sesuai dengan
perencanaan bisnis sebelumnya
e. Melakukan perencanaan dan penjadwalan dalam rangka pencapaian
target proyek dengan sukses
f. Memberikan arahan dan dorongan kepada para anggota tim kerja
g. Mengembangkan dan menyajikan laporan mengenai proyek kepada
klien
h. Melakukan pemantauan proyek secara terus-menerus
i. Membuat laporan secara terperinci mengenai kemajuan proyek, jadwal,
anggaran, resiko sampai solusi
j. Melaporkan hasil kinerja mengenai pencapaian proyek
(Data Kontraktor PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)

9
3. Site Engineer
Site Engineer merupakan wakil dari pimpinan proyek yang bertugas
membantu pimpinan proyek dalam mengendalikan jalannya proyek di
lapangan. Dan Site Engineer juga bisa disebut Kasi Engineer.
a. Menyeleksi dan menyimpan semua data dan dokumen yang
diperlukan.
b. Mereview juklak.
c. Melaksanakan kegiatan seleksi supplier, sub kontraktor, dan mandor.
d. Melaksanakan maintenance alat berat.
e. Membuat contract review pekerjaan tambah kurang
(Data Kontraktor PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)
4. Keuangan dan Administrasi
Tugas bagian Keuangan dan Administrasi adalah sebagai berikut:

a. Memonitoring dan melaksanakan pengelolaan keuangan proyek secra


efisien dan efektif.
b. Menyajikan informasi tentang proses pencairan tagihan proyek.
c. Melaksanakan pembayaran kepada subkontraktor, suplier dan lain-lain
sesuai dengan komitmen yang telah disepakati, termasuk pelaksanaan
sebagai wajib pungut pajak.
d. Menyediakan sistem informasi/laporan keuangan proyek kepada kantor
pusat dan unit kerja terkait lainnya.
e. Mengupaya peningkatan efisiensi dan efektifitas biaya di proyek.
f. Menjadi seorang personalia yang dapat memutuskan suatu
permasalahan pegawai / karyawan.
(Data Kontraktor PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)
5. Pengendalian Mutu (Quality Control)
Berikut tugas quality control secara lebih jelas :

a. Melaksanakan pengendalian mutu material :


 Menyelenggarakan pengujian mutu material secara sampling.
 Melaksanakan pemeriksaan spesifikasi material dan campuran bahan
yang digunakan.
 Menyajikan rekomendasi hasil pengujian mutu material ke Kasi

10
Teknik.
 Melaksanakan Factory Inspektion mutu metode kerja.
b. Melaksanakan pengendalian mutu metode kerja :
 Pemeriksaan metode kerja aktual dibandingkan dengan rencana kerja
shop drawing.
 Melakukan perbandingan metode kerja dengan proyek lain.
 Menyajikan rekomendasi hasil pengujian mutu metode kerja ke Kasi
Teknik.
c. Melaksanakan pengendalian mutu hasil pekerjaan :
 Mengorganisasi mutu hasil pekerjaan
 Mengorganisasi pemeriksaan mutu hasil pekerjaan pada setiap tahap
pekerjaan dibanding kan dengan mutu yang diharapkan.
 Mengajukan rekomendasi hasil pengujian mutu pekerjaan ke Kasi
Teknik.
(Data Kontraktor PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)
6. Engineering
Tugas dan kewajibannya, antara lain:
a. Melaksanakan kegiatan review terhadap gambar Struktur dan memberi
masukan kepada Kepala Seksi Teknis (KST).
b. Membuat gambar-gambar kerja (Shop Drawing) tepat waktu.
c. Menyajikan metode kerja pekerjaan Struktur secara efektif dan efisien.
d. Menyajikan data-data pekerjaan (Struktur) tambah dan kurang sebagai
bahan seksi komersial.
e. Menyajikan data-data teknis/spesifikasi pekerjaan Struktur.
f. Mengajukan dasar perhitungan Struktur atas perubahan akibat metode
kerja.
(Data Kontraktor PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)
7. Safety, Health And Environment Plan (SHE)
Safety, Health And Environment Plan (SHE) adalah orang yang menjamin
agar dalam pelaksanaan proyek tidak terjadi kecelakaan dan penyakit akibat
kerja, menjamin produktifitas tidak terganggu, menuju kondisi nol kecelakaan
(zero accident).

11
Tugas dari seorang SHE yaitu:
a. Merumuskan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) diseluruh
pelaksanaan pekerjaan proyek, beserta upaya penegakan/
pelaksanaannya bagi seluruh organ proyek.
b. Melaksanakan tertib administrasi berkaitan dengan penerapan K3.
c. Menyelenggarakan evaluasi K3 secara berkala
d. Melaksanakan Sistem Manajemen Mutu Wika, OHSAS 18001-2007,
ISO 14001-2004, SMK3 dan sistem manajemen mutu lainnya yang
dikembangkan perusahaan.
e. Melaksanakan pembinaan bawahan yang menjadi tanggung jawabnya
sesuai dengan arah perkembangan perusahaan.
(Data Kontraktor PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)
8. Supervisor
Pelaksana mempunyai wewenang dan tanggung jawab mengenai masalah-
masalah teknis dilapangan serta mengkoordinasi pekerjaan-pekerjaan yang
menjadi bagiannya.
Tugas dan kewajibannya, antara lain:
a. Menyimpan dan membaca gambar kerja dengan baik
b. Melaksanakan pekerjaan dengan konsisten sesuai dengan rencana mutu
proyek (instruksi kerja), speksifikasi teknis dari pelanggan, dan gambar
kerja yang diterimanya dengan mengarahkan tukang/sub kontraktor dan
pekerjanya hingga didapat pekerjaan yang bermutu, tepat waktu, dan
biaya yang seefisien mungkin,
c. Terlaksananya pembinaan terhadap bawahan yang menjadi tanggung
jawabnya sesuai dengan arah perkembangan perusahaan.
d. Mengendalikan kemajuan pekerjaan, serta melakukan koordinasi
pekerjaan mingguan sesuai dengan prosedur.
(Data Kontraktor PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)

12
9. Surveyor
Surveyor adalah orang yang mengadakan pengukuran di lapangan dengan
menggunakan alat theodolit maupun water pass untuk menentukan as-as
bangunan proyek yang akan dikerjakan.
Uraian tugas surveyor adalah :
a. Membuat as-as dan panduan pengukuran di lapangan berdasarkan
ukuran-ukuran, dimensi, dan bentuk yang sesuai dengan gambar bestek
maupun shop drawing.
b. Melaksanakan pemeriksaan ulang terhadap as-as / panduan pengukuran
yang ada.
c. Melaksanakan perawatan dan menajaga keamanan peralatan yang
dipergunakan.
d. Melakukan deteksi terhadap penyimpangan pengukuran akibat
kesalahan pekerjaan di lapangan sekaligus mengusulkan alternatif
solusi penyelesaian ke Seksi Design dan Planing.
e. Melakukan deteksi dan melaporkan ke Design dan Planing mengenai
ketidakcocokan satu gambar dengan yang lain baik bentuk maupun
dimensi.
f. Menghitung ketinggian elevasi cor kolom beton agar pas untuk
menaruh balok dan plat lantai, kesalahan dalam pekerjaan ini dapat
menyebabkan adanya bobok beton atau cor ulang untuk menambah
ketinggia kolom.
g. Pengecekan kedataran elevasi balok lantai agar sesuai dengan gambar
rencana.
h. Marking perletakan stek besi tulangan struktur diatasnya.
i. Marking perletakan void dan lobang lift gedung agar berada tepat pada
posisi rencana.
j. Membuat as elevasi bangunan tiap lantai, dibuat dengan cara membuat
garis pinjaman dengan ketinggian 1,05 m dari lantai gedung.
(Data Kontraktor PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)

13
10. Commercial
Tugas dan kewajibannya, antara lain:
a. Melaksanakan evaluasi, perhitungan ulang volume pekerjaan dan harga
satuan pekerjaan.
b. Memeriksa dan mengevaluasi opname pekerjaan mandor maupun sub
kontraktor.
c. Menghitung dan memproses pekerjaan tambah dan kurang.
d. Mengendalikan biaya, baik biaya langsung atau biaya tidak langsung.
(Data Kontraktor PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)
11. Production
Tugas dan kewajibannya, antara lain:
a. Menyusun rencana kerja rinci sesuai target produksi yang sudah
ditetapkan, termasuk rencana pendayagunaan sumber daya yang
menjadi tanggung jawabnya.
b. Menyelenggarakan produksi sesuai dengan jadwal, spesifikasi, mutu
dan biaya yang telah direncanakan.
c. Mengelola pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana kerja, metode
kerja dan gambaran kerja, termasuk pengkoordinasian dengan seluruh
sub kontraktor.
d. Melaksanakan pekerjaan konstruksi sesuai dengan rencana kerja,
metode kerja dan gambaran kerja termasuk pengkoordinasain dengan
seluruh subkontraktor.
(Data Kontraktor PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)
12. Pengadaan dan Peralatan (DANLAT)
Tugas dan kewajiban danlat adalah sebagai berikut :
a. Tersedianya informasi perkembangan bahan, material dan peralatan
sesuai dengan spesifikasi, penggunaan, mutu dan harga dengan syarat
pembayaran yang menguntungkan perusahaan.
b. Tersedianya informasi mengenai sumber daya alat baik dari segi
spesifikasi, kondisi dan tarif sewa serta mobilisasi dan demobilisasinya.
c. Tersajinya kebutuhan jumlah, spesifikasi, kondisi, pendayagunaan
bahan, material, peraltan bantu serta subkontraktor.

14
d. Penyusunan rencana pembelian bahan, material, pengadaan peralatan
bantu serta pemakaian subkontraktor.
e. Penyelenggaraan pembelian bahan, peralatan dan material.
(Data Kontraktor PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)
13. Security
Security / Keamanan proyek mendukung lancarnya suatu proyek,
sehingga tidak semua orang dapat keluar masuk proyek.
Tugas dan kewajiban security adalah sebagai berikut :
a. Mengawasi orang-orang yang keluar masuk proyek,
b. Mengawasi barang-barang yang keluar masuk proyek,
c. Menjaga ketertiban dan keamanan didalam maupun sekitar proyek,
d. Mengantisipasi gangguan pencurian material, alat dan fasilitas lain di
lingkungan proyek.
(Data Kontraktor PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)

14. Mandor
Mandor merupakan pihak yang membantu kontraktor dalam pelaksanaan
proyek.
Adapun tugas mandor adalah:
a. Memimpin pelaksanaan suatu pekerjaaan yang meliputi semua
pekerjaaan di lapangan berdasarkan bagian masing-masing.
b. Mengawasi dan memberi pengawasan kepada pekerja yang di bawahi
agar target yang sudah ditetapkan dapat tercapai.
c. Bertanggung jawab langsung kepada kontraktor pelaksana.
(Data Kontraktor PT. Maju Mapan Bangun Indo, 2017)

15
2.3 Data Pembimbing Lapangan

Nama : Ardiyan Permana, ST

TTL : Jakarta, 22 juli 1985

Jabatan : Site Engineer

No. Telepon : 0821-5489-2430

16
BAB 3
HASIL KERJA PRAKTIK

3.1 Waktu dan Tempat Kegiatan


3.1.1 Tempat Kegiatan

Kerja Praktik dilaksanakan pada pembangunan proyek Bali Hotel Hyatt


Regency oleh PT. Maju Mapan Bangun Indo yang berada di Jl. Danau
Tamblingan, Sanur, kota Denpasar, Bali. Untuk lebih jelasnya lokasi proyek
dapat dilihat pada Gambar 3.1.`

Lokasi Proyek Hotel


Hyatt Regency

Gambar 3.1 Lokasi Proyek


(Google maps, 2017)

3.1.2 Waktu
Sesuai dengan peraturan akademik Politeknik Negeri Banyuwangi bahwa
waktu pelaksanaan Kerja Praktik di jadwalkan mulai tanggal 25 juli sampai 10
september 2016. Selama pelaksanakan Kerja Praktik mahasiswa diharuskan sudah
berada dilokasi Kerja Praktik serta mengikuti aturan yang telah diterapkan
dilapangan oleh perusahaan yakni PT. Maju Mapan Bangun Indo. Waktu
pelaksanaan Kerja Praktik yang dimulai pada hari Senin sampai hari Sabtu yang
bertempat di proyek Bali Hotel Hyatt. Jadwal kegiatan Kerja Praktik dapat dilihat
pada Tabel 3.1

17
Tabel. 3.1 Jadwal Kegiatan Kerja Praktik
Juli Agustus September
Minggu ke- Minggu ke- Minggu ke-
NamaKegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Orientasi
Studi lapangan
Studi literature
Proses Pelaksanaan
Menyusun laporan
Seminar Hasil
Sumber : Hasil Pengolahan, 2017

: Pelaksanaan Kegiatan Kerja Praktek


Keterangan :
1. Orientasi meliputi pengenalan mahasiswa kerja praktek dengan staff
kantor dan staff di lapangan/proyek dan pembacaan gambar kerja sebagai
dasar untuk studi langsung lapangan agar mengetahaui secara detail proses
pekerjaan yang sedang berlangsung.
2. Studi lapangan adalah proses studi secara langsung dilokasi proyek, disana
mahasiswa kerja praktek dapat melihat pekerjaan yang sedang berlangsung
dan dapat mencoba interview kepada pekerja di lapangan dan ikut
membantu mengawasi proses pelaksanaan pekerjaan.
3. Studi literatur meliputi studi analisa atau metode yang dipilih mahasiswa
kerja praktek sebagai sumber materi pelaporan kerja praktek.
4. Menyusun laporan adalah menyusun laporan hasil kerja praktek selama
berada dilapangan.

18
3.2 Informasi Data Proyek
Berikut ini beberapa informasi mengenai proyek dimana kami
melaksanakan kegiatan Kerja Praktik :
Nama Proyek : Hotel Bali Hyatt Regency
Alamat Proyek : Jl. Danau Tamblingan, Sanur, kota
Denpasar, Bali
Nama Pemilik (Owner) : PT. Wynncor Bali
Fungsi Bangunan : Hotel
Nama Kontraktor : PT. Maju Mapan Bangun Indo
Nama Konsultan : PT. MPP International Developerment
Nama Konsultan MEP : PT. Metakom Pranata
Lingkup Pekerjaan : Pekerjaan Struktur
Waktu Pelaksanaan : 420 Hari Kalender atau 14 Bulan, sampai
31 Desember 2017.
Nilai Kontrak + PPN : Rp. 1.300.000.000,-

3.3 Hasil Kerja Praktik


Bali Hotel Hyatt merupakan proyek milik PT Wynncor Bali yang di
Kontraktori oleh PT. Maju Mapan Bangun Indo yang memiliki 3 lantai untuk
Hotel. Dalam pembangunan gedung yang sangat luas dan memiliki lantai yang
sangat banyak, hal yang perlu diperhatikan adalah pada konstruksi bangunan
tersebut yakni pada Strukturnya. Laporan Kerja Praktik ini membahas metode
pelaksanaan pekerjaan kolom, pelat, dan balok pada lantai 2 .
Pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan merupakan realisasi dari
perencanaan yang telah dituangkan dalam gambar dan Rencana Kerja Struktur
(RKS) yang telah disepakati oleh owner dan konsultan perencana, maka perlu
adanya koordinasi pelaksanaan pekerjaan yang diatur secara teliti agar tercipta
pelaksanaan dan pekerjaan yang efektif dan efisien.

19
3.3.1 Peralatan di Proyek
Pada proyek Hotel Hyatt Regency terdapat beberapa peralatan
untukmempermudah pekerjaan. Peralatan di proyek tersebut antara lain sebagai
berikut :
A. Bar Cutter
Bar cutter merupakan alat pemotong besi tulangan sesuai dengan
ukuran yang diinginkan. Bar cutter terdiri dari dua macam yaitu :
1. Bar Cutter Listrik adalah mesin pemotong besi yang digerakkan oleh
tenaga listrik. Bar cutter Listrik dapat digunakan untuk memotong
hingga 5 lonjor besi sekaligus.
2. Bar Cutter Manual adalah alat ini dioperasikan secara manual oleh
pekerja untuk memotong baja tulangan tambaan di lokasi pemasangan
tulangan (lapangan).
Pada pekerjaan proyek Hotel Hyatt Regency Bar Cutter yang digunakan
adalah jenis listrik dapat dilihat pada Gambar 3.2.

Gambar 3.2. Mesin Bar Cutter Jenis Listrik


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
B. Bar Bender
Bar bender alat/mesin yang digunakan untuk membengkokan besi
tulangan dengan berbagai macam sudut yang direncanakan. Alat ini dapat
digunakan untuk menekuk besi ulir dengan diameter yang sesuai dengan
kapasitas mesin dapat dilihat pada Gambar 3.3.

20
Cara kerja alat ini adalah besi yang akan dibengkokan dimasukan ke antara
poros tekan dan kemudian diatur sudutnya. Setelah besi sudah sesuai dengan
sudutnya, tekan pedal penggerak mesin untuk membengkokkan besi. Roda
pembengkok akan berputar sesuai dengan sudut dan pembengkokan yang
diinginkan. Bar Bender dapat mengatur sudut pembengkokan tulangan
dengan mudah dan rapi.

Gambar 3.3. Mesin Bar Bender


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
C. Mesin Las
Mesin las merupakan alat yang digunakan untuk menyambung logam satu
dengan yang lainnya. Pengelasan adalah teknik penyambungan logam dengan
cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa
penekanan dan menghasilkan sambungan yang continue. Proses
penyambungan pada mesin las menggunakan tenaga listrik sebagai sumber
panas. Mesin las biasanya digunakan pada pekerjaan pembesian kolom untuk
melekatkan tulangan sepatu dengan tulangan utama, sengkang, maupun
tulangan ties (pengikat) dapat dilihat pada Gambar 3.4. persiapan yang
dilakukan sebelum proses pengelasan adalah pemilihan jenis las yang akan
digunakan, persiapan sisi yang akan di las dan jenis posisi pengelasan.
Menurut PBI 1971 sambungan las harus berbentuk las ujung. Sumbu-
sumbu batang pada masing-masing pihak dari sambungan harus terletak pada
satu garis lurus. Sambungan lewatan tidak boleh dipakai pada batang tulangan
dengan diameter lebih dari 30 mm dan panjang sambungan lewatan 15 cm.
Adapun yang dilakukan di Proyek Bali Hotel Hyatt menggunakan pengelasan

21
busur listrik dengan menggunakan elektroda-elektroda, yaitu dimana oleh
panas akibat loncaran listrik antara ujung-ujung batang dan elektroda, ujung
batang tersebut dan ujung elektroda akan meleleh dan kedua lelehan
membentuk sambungan yang erat.

Gambar 3.4. Mesin Las


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
D. Bekisting
Bekisting atau formwork adalah sebuah alat yang digunakan untuk
mencetak beton. Bentuk dan ukuran bekisting dapat berbeda-beda tergantung
dari perencanaan. Bekisting terdiri dari 2 macam antara lain :
1. Bekisting konvensional yakni Bekisting yang menggunakan kayu
sebagai alat utamanya. Pelepasan kayu bekisting dilakukan dengan
melepas bagian bekisting satu per satu setelah beton mencapai kekuatan
yang cukup. Pada umumnya bekisting kayu digunakan untuk satu kali
pakai.
2. Bekisting Knock Down yakni Bekisting yang terbuat dari pelat baja dan
besi hollow. Penggunaan Bekisting Knock Down membutuhkan biaya
yang lebih mahal dibanding dengan bekisting konvensional, akan tetapi
pada penggunaan jangka panjang, bekisting knock down lebih awet
sehingga dapat menekan biaya untuk bekisting.
Pada pekerjaan kolom, balok dan pelat Proyek Bali Hotel Hyatt metode
bekisting yang digunakan adalah metode Bekisting Knock Down yang dapat
dilihat pada Gambar 3.5.

22
Gambar 3.5a. Bekisting Balok dan Pelat
(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
E. Theodolite
Theodolite merupakan suatu alat yang dirancang untuk pengukuran sudut
vertical dan horizontal. Dimana sudut-sudut tersebut berperan dalam penentuan
jarak mendatar dan jarak tegak di dua buah titik lapangan dapat dilihat pada
Gambar 3.6.

Gambar 3.6. Theodolite


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
F. Waterpass/Pesawat Penyipat Datar
Merupakan salah satu alat pengukuran yang digunakan khusus untuk
menentukan beda tinggi antara titik-titik. Acuan yang digunakan ialah Mean
Sea Level (MSL) atau referensi lokal dan menentukan elevasi/peil untuk lantai,
balok, dll yang membutuhkan elevasi berdasarkan ketinggian titik yang
direncanakan. Selain itu juga dapat digunakan untuk mengecek ketebalan lantai

23
saat pengecoran dan untuk pembuatan marking pada kolom/dinding sebagai
acuan pekerjaan lain dapat dilihat pada Gambar 3.7.

Gambar 3.7. Waterpass


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
G. Total Station
Total Station adalah alat pengukur sudut yang sudah dilengkapi dengat alat
pengukur jarak yang bekerja dengan sistem elektrolis atau dengan kata lain
total station adalah theodolit yang sudah dilengkapi dengan EDM (electric
distance meter). Untuk total station kedua fungsi ini sudah terintegrasi menjadi
satu kesatuan. Operasionalisasi total station prinsipnya sama dengan theodolit
pada umumnya, bedanya hanya pada tayangan angka bacaan lingkaran
horizontal dan penggerak halusnya, tidak mempunyai limbus dapat dilihat pada
Gambar 3.8.

Gambar 3.8. Total Station


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)

24
H. Air Compresor
Merupakan alat penghasil atau penghembus udara bertekanan tinggi yang
digunakan untuk membersihkan kotoran-kotoran yang dapat mengurangi mutu
dan daya lekatan tulangan pada beton seperti debu-debu, potongan-potongan
kawat bendrat dan serbuk kayu. Alat ini digunakan setelah proses pekerjaan
pembesian selesai dapat dilihat pada Gambar 3.9.

Gambar 3.9. Air Compresor


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
I. Concretce Vibrator
Concrete Vibrator adalah alat yang digunakan untuk menggetarkan adonan
beton pada saat pengecoran agar beton dapat mengisi seluruh ruangan area
yang akan dicor sehingga tidak terdapat rongga udara pada saat beton sudah
mengeras dan apabila terdapat rongga udara pada saat pengecoran maka beton
akan mengeropos dan hal ini dapat menyebabkan berkurangnya mutu atau
kualitas dari beton itu sendiri dapat dilihat pada Gambar 3.10.

Gambar 3.10. Concrete Vibrator


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)

25
J. Bucket
Bucket adalah tempat pengangkutan ready mix dari truck mixer sampai ke
tempat pengecoran. Pada bagian ujung corong bucket ini terdapat selang atau
yang biasa disebut pipa tremie. Pipa treime adalah pipa yang digunakan untuk
mengatur tinggi jatuh beton pada saat pengecoran. Penggunaan bucket ini
digunakan apabila daerah yang akan dicor sudah tidak dapat dijangkau
menggunakan concrete pump. Kapasitas daya tampung bucket adalah 0,8 m3
dan berat 300 kg. Alat ini biasanya digunakan dalam proses pengecoran kolom
dapat dilihat pada Gambar 3.11.

Gambar 3.11. Bucket


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)

Gambar 3.12. Detail Bucket


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)

26
K. Pompa Beton Kodok
Pompa beton merupakan alat untuk menaikkan, memindahkan dan
menyalurkan beton ready mix dari truk mixer ke titik pengecoran. Untuk
pengecoran di atas 5 m3, alat ini sangat disarankan untuk digunakan karena
selain menghemat waktu dan tenaga, penggunaan alat ini juga menjamin
bahwa kualitas beton ready mix tetap terjaga hingga tercetak. Alat ini biasanya
digunakan dalam proses pengecoran balok dan pelat dapat dilihat pada
Gambar 3.13.

Gambar 3.13. Pompa Beton Kodok


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
L. Concrete Pump
Concrete Pump adalah truk yang dilengkapi dengan pompa dan lengan
untuk memompa campuran beton ready mix ke tempat yang sulit di jangkau.
Untuk pengecoran lantai yang lebih tinggi dari panjang lengan concrete pump
dapat dilakukan dengan cara di sambung dengan pipa secara vertikal sehingga
mencapai ketinggian yang diinginkan, pipa dan lengan ini dapat di pasang
kombinasi vertikal dan horisontal atau miring. Sehingga pemompaan
merupakan cara yang fleksibel pada lokasi yang sulit untuk memindahkan
campuran beton ke sembarang tempat pada bidang pengecoran. Resiko
segregasi sangat kecil dan merupakan cara yang paling cepat dibandingkan
dengan pembawaan material beton dengan cara lainnya dan yang perlu
diperhatikan yaitu nilai slumptest dapat dilihat pada Gambar 3.14.

27
Gambar 3.14. Concrete pump
(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
M. Mixer Truck
Mixer Truck digunakan untuk mengangkut campuran beton yang
dihasilkan batching plant ke tempat pengecoran. Kapasitas Mixer Truck
sebesar 7,5 m3. Dalam pengecoran struktur kolom, balok dan pelat pihak
pengawas PT. Raya Bumi Nusantara Permai (Owner) memesan dari PT.
Anugerah Beton Indonesia. Lihat pada Gambar 3.15.

.
Gambar 3.15. Mixer Truck
(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)

3.3.3 Pekerjaan Balok


Balok adalah batang horizontal dari rangka struktural yang memikul
beban tegak lurus sepanjang beban tersebut (berasal dari dinding, pelat, dan atap
bangunan) dan menyalurkan beban pada kolom struktural yang ada dibawahnya.

28
Selain itu balok juga berfungsi sebagai pengekang dari struktur kolom satu ke
yang lain.
Dapat dijelaskan secara detail melalui Gambar 3.16 untuk pelaksanaan
pekerjaan balok dibawah ini :

Mulai

Pembersihan Area

Fabrikasi Besi Fabrikasi Bekisting

Pekerjaan Bekisting

NO

CEK

Pemasangan Besi

NO
CEK

Pengecoran

Perawatan Selesai

Gambar 3.16. Flow Chart Pelaksanaan Pekerjaan Balok.


Dari diagram alur pelaksanaan pekerjaan balok/flowchart tersebut perlu
didetailkan secara baik terkait teknis pelaksanaannya agar mempermudah proses
pengerjaan dilapangan, maka terdapat beberapa hal yang dikerjakan selama
pembuatan balok pada lantai 2 area mall, antara lain :
A. Persiapan
1. Menyiapkan gambar pembesian sebagai acuan dalam membuat kerangka
balok.

29
2. Menyiapkan besi beton sesuai dalam shop drawing. Besi beton yang akan
digunakan pastikan bebas dari kawat, minyak, oli, atau segala hal yang
dapat mengganggu daya rekat beton.
3. Menyiapkan tower crane sebagai media pengangkut material dari daerah
pabrikasi ke lokasi pemasangan.
B. Pabrikasi
Pada pekerjaan balok, pemotongan dan pembengkokan besi dilakukan sesuai
kebutuhan. Pemotongan besi menggunakan alat yang disebut dengan Bar Cutter,
sedangkan untuk pembengkokan besi dengan alat yang disebut dengan Bar
Bender. Kemudian di pindahkan menggunakan Tower Crane dari pabrikasi ke
tempat perakitan tulangan balok yang berada diatas bekisting yang sudah jadi
dapat dilihat pada Gambar 3.17 dan Gambar 3.18.

Gambar 3.17. Tulangan sengkang Gambar 3.18. Tulangan utama


yang diambil dari pabrikasi yang diambil dari pabrikasi
(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017) (Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)

C. Pemasangan Bekisting Balok


Pekerjaan bekisting balok merupakan satu kesatuan dengan pekerjaan
bekisting pelat, karena dilaksanakan bersamaan. Pembuatan panel bekisting balok
harus sesuai dengan gambar kerja. Dalam pemotongan plywood harus cermat dan
teliti agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan luasan pelat atau balok yang
akan dibuat. Untuk pembesian balok di rangkai di atas alas bekisting balok.
Terdapat beberapa tahapan dalam pembekistingan balok antara lain :

30
1. Scaffolding dengan jarak masing-masing 100 cm disusun berjajar sesuai
dengan kebutuhan dilapangan.
2. Memperhitungkan ketinggian Scaffolding balok dengan mengatur base
jack atau u-head jack nya.
3. Pada u-head dipasang balok girder sejajar dengan arah cross brace dan
diatas girder dipasang balok suri tiap jarak 50 cm dengan arah
melintangnya, kemudian dipasang bodeman (plywood) sebagai alas balok
yang dapat dilihat pada Gambar 3.19.
4. Ketinggian balok dicek sesuai dengan elevasi dari lantai bawahnya dengan
mengukur dari marking kolom lantai bawahnya.
5. Memasang dinding bekisting balok dan dikunci dengan siku yang dipasang
di atas suri-suri.

Gambar 3.19. Proses pemasangan bekisting balok pada lantai 2


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
D. Pembesian balok
Tahap pembesian balok adalah sebagai berikut :
1. Memasukkan tulangan utama kedalam bekisting balok dengan jumlah
sesuai gambar shop drawing yang meliputi tulangan tumpuan dan
lapangan.
2. Tulangan sengkang dimasukan kedalam tulangan utama dan diatur
jaraknya sesuai ketentuan kemudian diikat dengan kawat bendrat atau
dapat dilihat pada Gambar 3.20.
3. Memasukkan tulangan pinggang kedalam tulangan sengkang.

31
4. Memberi beton decking dibawah tulangan balok maupun samping kanan-
kiri yang bertujuan untuk memperoleh selimut beton dari balok tersebut.

Gambar 3.20. Proses pembesian balok pada lantai 2


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
E. Pengecekan Tulangan Balok dan Bekisting
Setelah pemasangan bekisting dan pembesian balok selesai, tahap yang
dilakukan selanjutnya adalah pemeriksaan/checklist untuk tulangan atau pada
Gambar 3.21. Beberapa komponen yang diperiksa untuk balok adalah : diameter
dan jumlah tulangan utama, diameter jarak, dan jumlah sengkang, ikatan kawat,
dan beton decking. Sedangkan untuk bekisting balok meliputi : dimensi dari balok
tersebut, papan bekisting yang sudah tertutup rapat oleh lakban.
Demikian juga pengecekan yang dilakukan oleh tim Surveyor, adapun yang di
cek yakni dalam hal ketinggian balok yang di ukur dari pelat lantai dibawahnya
sehingga tinggi dari pada balok tersebut bisa sesuai dengan shop drawing.

Gambar 3.21. Checklist pembesian balok


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)

32
F. Pengecoran Balok
Adapun tahap-tahap pekerjaan pengecoran balok adalah sebagai berikut:
1. Persiapan pengecoran
Pembersihan area kerja diantaranya mengambil sisa-sisa bendrat dan
pembersihan menggunakan compresor. Hal ini dimaksudkan agar area
yang akan dikerjakan bersih dari bahan-bahan yang dapat mengurangi
kualitas dari beton tersebut dan juga melakukan ciping yang berfungsi
untuk menyambungkan dan beton lama kemudian diberi bonding agent
sebagai perekat beton untuk menyatukan cor lama dan cor baru.
2. Pelaksanaan Pengecoran Balok
Pengecoran dilakukan dengat bantuan alat berat yang meliputi concrete
pump, pompa kodok, truck mixer, waterpass dan vibrator. Concrete pump
dilakukan dengan cara disambung secara vertikal sehingga mencapai ke
lokasi yang akan di cor, pipa dan lengan ini dapat di pasang vertikal dan
horizontal. Sehingga pemompaan ini merupakan cara yang fleksibel untuk
mengecor balok karena mudah dipindahkan. Mutu beton yang digunakan
adalah fc’ 30 MPa dengan nilai test slump 9 cm dan masuk dalam True
Slump.
a) Dilakukan uji test slump serta pengambilan benda uji 3 sampel yang
nantinya akan diuji di laboratorium dapat dilihat pada Gambar 3.22.

Gambar 3.22. Proses slump test


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
b) Ready mix yang dibawa oleh truck mixer dituangkan ke dalam
concrete pump yaitu untuk menaikkan ready mix keatas lantai.

33
c) Selama proses pengecoran berlangsung pemadatan beton
menggunakan vibrator. Hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan
rongga-rongga udara serta untuk mencapai pemadatan yang maksimal
yang dapat dilihat pada Gambar 3.23.

Gambar 3.23. Proses pengecoran untuk lantai 2


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
d) Mengukur kedataran/kerataan pelat lantai menggunakan alat waterpass
sehingga tebal pelat sesuai dengan rencana yang dilakukan oleh tim
surveyor.
1. Pembongkaran Bekisting Balok
Pembongkaran dilakukan sesuai dengan PBI 1971, dimana bagian struktur
yang di bongkar cetakannya harus dapat memikul berat sendiri dan beban-beban
pelaksanaannya. Pembongkaran ini ditentukan oleh hasil benda uji yang telah di
test pada laboratorium atau yang disetujui oleh owner/wakil pemberi tugas.
Adapun untuk Proyek Bali Hyatt Regency terdapat tahapan pembongkaran yaitu 7
hari dasar pada formwork balok dan pelat dengan penumpu ditinggalkan, 14 hari
penumpu pada pelat, 21 hari Penumpu pada balok dapat dilihat pada Gambar
3.24.

34
Gambar 3.24. Hasil dari pengecoran balok.
(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
2. Perawatan Beton untuk Balok (Curing)
Proses perawatan balok dilakukan agar penguapan dapat diminimalisir.
Menurut PBI 1971 proses curing minimal 14 hari. Sedangkan di Proyek Hotel
Hyatt Regency perawatan dilakukan terus menerus selama 7 hari setelah
pengecoran selesai karena selama 7 hari sudah memenuhi kuat tekan beton yang
disyaratkan. Adapun yang dilakukan di dengan cara menyiram beton balok
dengan air setelah proses pengecoran.

3.3.4 Pekerjaan Pelat


Pelat adalah struktur tipis yang dibuat dari beton bertulang dengan bidang
yang arahnya horizontal dan beban yang bekerja tegak lurus pada bidang struktur
tersebut. Ketebalan bidang pelat ini relative sangat kecil dibandingkan dengan
panjang/lebar bidangnya. Pelat beton bertulang ini sangat kaku dan arahnya
horizontal sehingga pada bangunan gedung pelat berfungsi sebagai
diafragma/unsur pengaku horizontal yang sangat bermanfaat untuk ketegaran
balok.
Pelat beton berfungsi sebagai lantai pada bangunan bertingkat. Ujung pelat
beton diikat oleh balok atau sebagai tumpuannya. Didalam ilmu struktur,
ketebalan pelat beton yang berfungsi sebagai lantai minimal 12cm. Untuk di
Proyek Hotel Hyatt Regency tulangan untuk pelat lantai menggunakan tulangan
wiremesh dengan diameter 6mm karena mengingat luasan proyek ini sangat luas

35
sehingga tulangan ini yang digunakan sehingga dapat mempercepat proses
pekerjaan dibandingkan menggunakan tulangan konvensional.
Dapat dijelaskan secara detail melalui Gambar 3.25. untuk pelaksanaan
pekerjaan pelat dibawah ini :
Mulai

Pembersihan Area

Fabrikasi Besi Fabrikasi Bekisting

Pekerjaan Bekisting

NO
CEK

Pemasangan Besi

NO
CEK

Pengecoran

Perawatan Selesai

Gambar 3.25. Flow Chart Pelaksanaan Pekerjaan Pelat

Dari diagram alur pelaksanaan pekerjaan pelat/flowchart tersebut perlu


didetailkan secara baik terkait teknis pelaksanaannya agar mempermudah proses
pengerjaan dilapangan, maka terdapat beberapa hal yang dikerjakan selama
pembuatan pelat pada lantai 2 area Hotel antara lain :
A. Persiapan
1. Menyiapkan gambar pembesian sebagai acuan dalam membuat kerangka
pelat.

36
2. Menyiapkan besi beton sesuai dalam shop drawing. Besi beton yang akan
digunakan pastikan bebas dari kawat, minyak, oli, atau segala hal yang
dapat mengganggu daya rekat beton.
B. Pabrikasi Besi
Pada pekerjaan pelat, pemotongan dan pembengkokan besi dilakukan sesuai
kebutuhan. Pemotongan besi menggunakan alat yang disebut dengan Bar Cutter,
sedangkan untuk pembengkokan besi dengan alat yang disebut dengan Bar
Bender.
Pembesian pelat dilakukan/dirakit di lapangan diatas bekisting yang sudah
jadi. Proyek Hotel Hyatt Regency menggunakan wiremesh roll dengan kode M6
atau berdiameter 6mm dapat dilihat pada Gambar 3.26 dan Tulangan
ayam/korset pada Gambar 3.27.

Gambar 3.26. Wiremesh / M6 Gambar 3.27. Tulangan ayam/ korset


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017) (Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)

C. Pembuatan Bekisting Pelat


Pekerjaan bekisting pelat merupakan satu kesatuan dengan pekerjaan
bekisitng balok, karena dilaksanakan bersamaan. Pembuatan panel bekisting
pelat harus sesuai dengan gambar kerja. Dalam pemotongan plywood harus
cermat dan teliti agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan luasan pelat atau
balok yang akan dibuat. Untuk pembesian pelat wiremesh di rangkai di atas alas
bekisting pelat.
Terdapat beberapa tahapan dalam pemasangan bekisting pelat antara lain :
1. Memasang Scaffolding dengan jarak masing-masing 100cm disusun
berjajar sesuai dengan kebutuhan dilapangan

37
2. Memperhitungkan ketinggian Scaffolding balok dengan mengatur base
jack atau u- head jack nya.
3. Pada u-head dipasang balok girder sejajar dengan arah cross brace.
4. Diatas perancah dipasang balok suri tiap jarak 50 cm dengan arah
melintangnya dapat dilihat pada Gambar 3.28.
5. Memasang pasangan plywood sebagai alas pelat lantai
6. Perakitan tulangan dengan jarak 10 cm antar sengkang dapat dilihat pada
Gambar 3.29
7. Memasang lakban pada sambungan plywood yang bertujuan untuk
mencegah kebocoran pada saat proses pengecoran.

Gambar 3.28. Proses penyetelan Gambar 3.29. Proses perakitan


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017) tulangan.
(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)

D. Pembesian pelat wiremesh


Tahap pembesian pelat adalah sebagai berikut :
1. Untuk pembesian pelat dilakukan langsung diatas bekisting pelat yang
sudah siap. Besi tulangan dan wiremesh diangkat menggunakan tower
crane dan dipasang diatas bekisting pelat.
2. Ukur terlebih dahulu luas lahan yang akan dipasang wiremesh kemudian
memotongnya sesuai dengan kebutuhan bidang yang akan dicor.
3. Meletakkan wiremesh diatas bekisting pelat (lapis pertama) dan pada
setiap sisi wiremesh diberi overlap kurang lebih 15cm-30cm dapat dilihat
pada Gambar 3.30.

38
Gambar 3.30. Proses pemasangan besi wiremesh
(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
4. Letakan beton decking antara tulang bawah pelat dan bekisting alas pelat.
Pasang juga tulangan kaki ayam/korset antara untuk tulangan atas dan
bawah pelat yang bertujuan untuk mengatur ketebalan pelat yakni 12cm
dapat dilihat pada Gambar 3.31.
5. Memasang besi ulir D10 diatas tulangan balok kemudian meletakkan
wiremesh kemBali diatas tulangan tersebut (lapis kedua).

Gambar 3.31. Proses pemasangan beton decking dan korset


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
E. Pengecekan Tulangan Pelat dan Bekisting
Setelah pemasangan bekisting dan pembesian balok selesai, tahap yang
dilakukan selanjutnya adalah pemeriksaan/checklist untuk tulangan atau pada
Gambar 3.32. Beberapa komponen yang diperiksa untuk balok adalah :
diameter dan jumlah tulangan utama, diameter jarak dan jumlah sengkang,

39
ikatan kawat, dan beton decking. Sedangkan untuk bekisting balok meliputi :
papan bekisting yang sudah tertutup rapat oleh lakban.
Demikian juga pengecekan yang dilakukan oleh tim Surveyor, adapun yang
di cek yakni dalam hal ketinggian pelat yang di ukur dari pelat lantai
dibawahnya sehingga tinggi dari pada balok tersebut bisa sesuai dengan shop
drawing atau pada Gambar 3.33.

Gambar 3.32. Checklist pembesian dan bekisting


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)

Gambar 3.33. Pengecekan ketinggian pelat oleh tim Surveyor


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)

F. Pengecoran Pelat
Adapun tahap-tahap pekerjaan pengecoran pelat adalah sebagai berikut:
1. Persiapan pengecoran
Pembersihan area kerja diantaranya mengambil sisa-sisa bendrat dan
pembersihan menggunakan compresor. Hal ini dimaksudkan agar area yang

40
akan dikerjakan bersih dari bahan-bahan yang dapat mengurangi kualitas
dari beton tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.34 dan juga melakukan
ciping yang berfungsi untuk menyambungkan dan beton lama kemudian
diberi bonding agent sebagai perekat beton untuk menyatukan cor lama dan
cor baru.

Gambar 3.34. Proses pembersihan area yang akan di cor


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
2. Pelaksanaan Pengecoran Pelat
Pengecoran dilakukan dengat bantuan alat berat yang meliputi concrete
pump, pompa kodok, truck mixer, waterpass dan vibrator. Concrete pump
dilakukan dengan cara disambung secara vertikal sehingga mencapai ke
lokasi yang akan di cor, pipa dan lengan ini dapat di pasang vertikal dan
horizontal. Sehingga pemompaan ini merupakan cara yang fleksibel untuk
mengecor pelat karena mudah dipindahkan. Mutu beton yang digunakan
adalah fc’ 30 MPa dengan nilai test slump 9 cm dan masuk pada True Slump.
a) Dilakukan uji test slump serta pengambilan benda uji 3 sampel yang
nantinya akan diuji di laboratorium dapat dilihat pada Gambar 3.35.

41
Gambar 3.36. Proses slump test
(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
b) Ready mix yang dibawa oleh truck mixer dituangkan ke dalam concrete
pump yaitu untuk menaikkan ready mix keatas lantai.
c) Selama proses pengecoran berlangsung pemadatan beton menggunakan
vibrator. Hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan rongga-rongga
udara serta untuk mencapai pemadatan yang maksimal yang dapat
dilihat pada Gambar 3.37.

Gambar 3.37. Proses pengecoran untuk lantai 2 area mall.


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
d) Mengukur kedataran/kerataan pelat lantai menggunakan alat waterpass
sehingga tebal pelat sesuai dengan rencana yang dilakukan oleh tim
surveyor.
G. Pembongkaran Bekisting Pelat
Pembongkaran dilakukan sesuai dengan PBI 1971, dimana bagian struktur
yang di bongkar cetakannya harus dapat memikul berat sendiri dan beban-beban

42
pelaksanaannya. Pembongkaran ini ditentukan oleh hasil benda uji yang telah di
test pada laboratorium atau yang disetujui oleh owner/wakil pemberi tugas.
Adapun untuk Proyek Hotel Hyatt Regency terdapat tahapan pembongkaran yaitu
7 hari dasar pada formwork balok dan pelat dengan penumpu ditinggalkan, 14 hari
penumpu pada pelat, 21 hari Penumpu pada balok dapat dilihat pada Gambar
3.38.

Gambar 3.38. Hasil dari pengecoran Pelat.


(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)
H. Perawatan Beton untuk Pelat (Curing)
Proses perawatan balok dilakukan agar penguapan dapat diminimalisir.
Menurut PBI 1971 proses curing minimal 14 hari. Sedangkan di Proyek Hotel
Hyatt Regency perawatan dilakukan terus menerus selama 7 hari setelah
pengecoran selesai karena selama 7 hari sudah memenuhi kuat tekan beton yang
disyaratkan. Adapun yang dilakukan di dengan cara menyiram beton balok
dengan air setelah proses pengecoran selesai.

3.4 Kendala yang Dihadapi Proyek


Dalam suatu proyek pasti ada sebuah hambatan atau kendala yang dihadapi,
baik dari internal maupun eksternal. Maka dari itu perlu adanya pengendalian
proyek agar proyek dapat berjalan dengan lancar.
Adapun kendala yang dihadapi proyek Hotel Hyatt Regency antara lain :
1. Keterlambatan datangnya material sehingga dapat menyebabkan
keterlambatan pelaksanaan pekerjan.

43
2. Banyaknya perubahan dari segi perencanaan dan gambar dari pihak
Owner yang menyebabkan banyaknya perubahan yang terjadi dilapangan
yang menghambat progress pekerjaan.
3. Beberapa pekerja mudah melalaikan perlengkapan K3 walapun sudah
ditegur oleh bagian SHE yang sangat berbahaya jika terjadi kecelakaan di
proyek.
Dengan adanya kendala diatas, maka muncul solusi-solusi untuk
menanggulangi kendala tersebut. Adapun solusi yang dilakukan antara lain :
1. Dalam proses pemesanan dan pengiriman material yang dilakukan oleh
pihak kontraktor seharusnya lebih awal sehingga dapat mengantisipasi
keterlambatan pendatangan material.
2. Dibutuhkannya ketepatan perencanaan agar tidak terjadi perubahan yang
dapat menghambat progress pekerjaan.
3. Menambah jumlah personil SHE yang dapat mengawasi para pekerja
disetiap area dan memberi sanksi kepada pekerja yang melanggar
sehingga dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja.

3.5 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)


Ketidak sadaran dan tidak disiplinnya para pekerja menjadi penyebab
beberapa pelanggaran dalam penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
sehingga terjadi kecelakaan kerja. Pada pelaksanaan pekerjaan di proyek Hotel
Hyatt Regency banyak ditemukan pelanggaran K3 padahal perlengkapan K3
sudah cukup baik di proyek ini. Sebagai contohnya pelanggaran tidak
menggunakan APD yaitu body hearnes dalam mengerjakan bekisting di tepi
bangunan yang dapat dilihat pada Gambar 3.39. ada juga pekerja yang tidak
menggunakan helm pada saat bekerja padahal perlengkapan K3 sudah disediakan
oleh pihak SHE.

44
Gambar 3.39. Pekerja yang tidak memakai perlengkapan APD.
(Dokumentasi Kerja Praktik, 2017)

3.6. Rencana Judul Tugas Akhir


Dalam suatu proyek permasalahan yang sering terjadi yaitu pada saat
pengecoran. Dimana saat pengecoran biasanya beton tidak tercampur merata pada
pekerjaan pelat dan balok, sehingga dalam kejadian tersebut ingin mengangkat
judul ”Tinjauan Kekuatan Struktur Pelat dan Balok Pada Pembangunan Proyek
Hotel Hyatt Regency”.

45
(Halaman Ini Sengaja Dikosongkan)

46
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pada proyek Hotel Hyatt Regency mutu beton yang digunakan adalah fc’ 30
MPa pada area Hotel untuk balok dan pelat. Adapun dari hasil pelaksanaannya
dapat disimpulkan bahwa :
Pekerjaan Balok dan pelat ini tidak bisa terpisahkan dalam proses pekerjaan
mulai awal sampai akhir. Proses pengecoran balok dan pelat ini menggunakan alat
bantu Concrete Pump, adapun penggunaannya dalam lapangan tergantung dari
kondisi di lapangan, bisa memakai Concrete Pump dengan mutu beton fc’ 30
MPa untuk area Hotel. Tetapi sering mengalami kendala yaitu interval kedatangan
truk mixer yang lama dan pipa tremi yang digunakan sempat tersumbat sehingga
perlu dibersihkan terlebih dahulu dan mengakibatkan banyak menyita waktu.
Sedangkan Pembongkaran bekisting balok dan pelat ditentukan oleh hasil
benda uji yang telah di test pada laboratorium independent atau yang disetujui
oleh owner/wakil pemberi tugas. Adapun untuk proyek Hotel Bali Hyatt Regency
terdapat tahapan pembongkaran yaitu 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari.
Sedangkan yang digunakan sesuai RKS (Rencana Kerja dan Syarat-syarat) adalah
7, 14, 21 hari. Perawatan (curing) dilakukan minimal selama 7 hari setelah
pengecoran selesai dengan cara menyiram dengan air.

4.2 Saran
1. Proses dan metode pelaksanaan setiap pekerjaan sebaiknya diperhatikan
dan diawasi dengan baik serta teliti.
2. Beton yang membutuhkan perawatan (curing) dirawat sebaik mungkin
dan pelepasan/pembongkaran harus sesuai dengan umur beton yang
ditentukan agar beton menjadi maksimal.
3. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) perlu diperhatikan dalam setiap
pekerja, fungsinya untuk menghindari kecelakan yang tidak di inginkan
pada pekerja (zero accident).

47
4. Dalam melakukan pekerjaan, sebaiknya penggunaan alat pelindung diri
(APD) perlu diperhatikan lagi karena masih banyak pekerja yang
melakukan pelanggaran.
5. Dibutuhkannya ketepatan perencanaan agar tidak terjadi perubahan yang
dapat menghambat progress pekerjaan.

48
DAFTAR PUSTAKA

Ervianto, Wulfram.I. (2005). Manajemen Proyek Konstruksi.Yogyakarta :


Penerbit Andi.
PBI 1971 (Peraturan Beton Bertulang Indonesia)

Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS). teknis pekerjaan struktur atas, Proyek
Gresik Icon Mall and Apartment : PT. Ketira Engineering Consultants.

Sajekti, Amien (2009). Metode Kerja Bangunan Sipil. Yogyakarta : Graha Ilmu
SNI 03-2847-2002 (Beton)

Wangsadinata, Wiratman, dkk.1971. Peraturan Beton Bertulang Indonesia.


Jakarta : Dinas PU dan Tenaga Listrik.

49