Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN MENINGIOMA

DI RUANG 15 RS. dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Disusun untuk memenuhi tugas profesi


Departemen Bedah Ruang 15 RSUD dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:
CICIK KURNIAWATI

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KADIRI
TAHUN 2018
UNIVERSITAS KADIRI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


STATUS TER AKREDITASI BAN-PT
Program Studi : 1. Ners, 2. Ilmu Keperawatan (S.1), 3. Kebidanan (D.III), Bidan Pendidik (D.IV)
Sekretariat : Jl. Selomangleng No. 1 Kediri Telp. (0354) 775074/771846, Fax (0354) 775074

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL KASUS
Asuhan Keperawatan Pada Dengan Meningioma Di Ruang 15 Rumah Sakit Saiful
Anwar Malang Tahun 2018

TANGGAL PENGAMBILAN KASUS


-01-2018

MAHASISWA

CICIK KURNIAWATI
NPM. 17640690

PEMBIMBING INSTITUSI PEMBIMBING KLINIK / CI

…………………………………….. ……………………………………
BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Definisi

Meningioma adalah tumor pada meningen, yang merupakan selaput pelindung yang
melindungi otak dan medulla spinalis. Di antara sel-sel meningen itu belum dapat dipastikan
sel mana yang membentuk tumor tetapi terdapat hubungan erat antara tumor ini dengan villi
arachnoid. Tumbuhnva meningioma kebanvakan di tempat ditemukan banyak villi arachnoid.
Pada orang dewasa menempati urutan kedua terbanyak. Dijumpai 50% pada konveksitas dan
40% pada basis kranii. Selebihnya pada foramen magnum, fosa posterior, dan sistem
ventrikulus. Meningioma dapat timbul pada tempat manapun di bagian otak maupun medulla
spinalis, tetapi, umumnya terjadi di hemisphere otak di semua lobusnya (2).
Kebanyakan meningioma bersifat jinak (benign). Meningioma malignant jarang
terjadi. Menigioma merupakan neoplasma intrakranial nomer dua terbanyak. Lebih sering
dijumpai pada wanita daripada pria, terutama pada golongan umur antara 50-60 tahun dan
tetapi tidak tertutup kemungkinan muncul pada masa kanak-kanak atau pada usia yang lebih
lanjut, dan memperlihatkan kecenderungan untuk ditemukan pada beberapa anggota di satu
keluarga. Paling banyak meningioma tergolong jinak (benign) dan 10 % malignant.
Perbandingan antara wanita dan laki-laki adalah 3 : 2, namun ada pula sumber yang
menyebutkan 7 : 2 (3).
Tumor ini mempunyai sifat yang khas yaitu tumbuh lambat dan mempunyai
kecendrungan meningkatnya vaskularisasi tulang yang berdekatan, hyperostosis tengkorak
serta menekan jaringan sekitarnya. Tumor otak yang tergolong jinak ini secara histopatologis
berasal dari sel pembungkus arakhnoid (arakhnoid cap cells) yang mengalami granulasi dan
perubahan bentuk. Patofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum jelas.
Kaskade eikosanoid diduga memainkan peranan dalam tumorogenesis dan perkembangan
edema peritumoral (3).

2. Klasiikasi
WHO mengembangkan sistem klasifikasi untuk beberapa tumor yang telah diketahui,
termasuk meningioma. Tumor diklasifikasikan melalui tipe sel dan derajat pada hasil biopsi
yang dilihat di bawah mikroskop. Penatalaksanaannya pun berbeda-beda di tiap derajatnya
(4).
a. Grade I
Meningioma tumbuh dengan lambat . Jika tumor tidak menimbulkan gejala, mungkin
pertumbuhannya sangat baik jika diobservasi dengan MRI secara periodic. Jika tumor
semakin berkembang, maka pada akhirnya dapat menimbulkan gejala, kemudian
penatalaksanaan bedah dapat direkomendasikan. Kebanyakan meningioma grade I diterapi
dengan tindakan bedah dan observasi lanjut.
b. Grade II
Meningioma grade II disebut juga meningioma atypical. Jenis ini tumbuh lebih cepat
dibandingkan dengan grade I dan mempunyai angka kekambuhan yang lebih tinggi juga.
Pembedahan adalah penatalaksanaan awal pada tipe ini. Meningioma grade II biasanya
membutuhkan terapi radiasi setelah pembedahan 7.
c. Grade III
Meningioma berkembang dengan sangat agresif dan disebut meningioma malignant
atau meningioma anaplastik. Meningioma malignant terhitung kurang dari 1 % dari seluruh
kejadian meningioma. Pembedahan adalah penatalaksanaan yang pertama untuk grade III
diikuti dengan terapi radiasi. Jika terjadi rekurensi tumor, dapat dilakukan kemoterapi.
Meningioma juga diklasifikasikan ke dalam subtype berdasarkan lokasi dari tumor (5):
1. Meningioma falx dan parasagital (25% dari kasus meningioma). Falx adalah selaput yang
terletak antara dua sisi otak yang memisahkan hemisfer kiri dan kanan. Falx cerebri
mengandung pembuluh darah besar. Parasagital meningioma terdapat di sekitar falx.
2. Meningioma Convexitas (20%). Tipe meningioma ini terdapat pada permukaan atas otak.
3. Meningioma Sphenoid (20%). Daerah Sphenoidalis berlokasi pada daerah belakang mata.
Banyak terjadi pada wanita.
4. Meningioma Olfactorius (10%). Tipe ini terjadi di sepanjang nervus yang
menghubungkan otak dengan hidung.
5. Meningioma fossa posterior (10%). Tipe ini berkembang di permukaan bawah bagian
belakang otak.
6. Meningioma suprasellar (10%). Terjadi di bagian atas sella tursica, sebuah kotak pada
dasar tengkorak dimana terdapat kelenjar pituitary.
7. Spinal meningioma (kurang dari 10%). Banyak terjadi pada wanita yang berumur antara
40 dan 70 tahun. Akan selalu terjadi pada medulla spinalis setingkat thorax dan dapat
menekan spinal cord. Meningioma spinalis dapat menyebabkan gejala seperti nyeri
radikuler di sekeliling dinding dada, gangguan kencing, dan nyeri tungkai.
8. Meningioma Intraorbital (kurang dari 10%). Tipe ini berkembang pada atau di sekitar
mata cavum orbita.
9. Meningioma Intraventrikular (2%). Terjadi pada ruangan yang berisi cairan di seluruh
bagian otak.

Gambar 1. Lokasi Umum Meningioma

3. Etiologi
Para ahli tidak memastikan apa penyebab tumor meningioma, namun beberapa teori
telah diteliti dan sebagian besar menyetujui bahwa kromoson yang jelek yang meyebabkan
timbulnya meningioma. Para peneliti sedang mempelajari beberapa teori tentang
kemungkinan asal usul meningioma. Di antara 40% dan 80% dari meningiomas berisi
kromosom 22 yang abnormal pada lokus gen neurofibromatosis 2 (NF2). NF2 merupakan gen
supresor tumor pada 22Q12, ditemukan tidak aktif pada 40% meningioma sporadik. Pasien
dengan NF2 dan beberapa non-NF2 sindrom familial yang lain dapat berkembang menjadi
meningioma multiple, dan sering terjadi pada usia muda. Disamping itu, deplesi gen yang lain
juga berhubungan dengan pertumbuhan meningioma (6).
Kromosom ini biasanya terlibat dalam menekan pertumbuhan tumor. Penyebab
kelainan ini tidak diketahui. Meningioma juga sering memiliki salinan tambahan dari platelet
diturunkan faktor pertumbuhan (PDGFR) dan epidermis reseptor faktor pertumbuhan (EGFR)
yang mungkin memberikan kontribusi pada pertumbuhan tumor ini. Sebelumnya radiasi ke
kepala, sejarah payudara kanker, atau neurofibromatosis tipe 2 dapat risiko faktor untuk
mengembangkan meningioma. Multiple meningioma terjadi pada 5% sampai 15% dari
pasien, terutama mereka dengan neurofibromatosis tipe 2. Beberapa meningioma memiliki
reseptor yang berinteraksi dengan hormon seks progesteron, androgen, dan jarang estrogen.
Ekspresi progesteron reseptor dilihat paling sering pada meningioma yang jinak, baik pada
pria dan wanita. Fungsi reseptor ini belum sepenuhnya dipahami, dan demikian, sering kali
menantang bagi dokter untuk menasihati pasien perempuan mereka tentang penggunaan
hormon jika mereka memiliki sejarah suatu meningioma. Meskipun peran tepat hormon
dalam pertumbuhan meningioma belum ditentukan, peneliti telah mengamati bahwa kadang-
kadang mungkin meningioma tumbuh lebih cepat pada saat kehamilan (6,7)

4. Patofisiologi dan Faktor Risiko


Tempat predileksi meningioma adalah di ruang kranium supratentorial ialah daerah
parasagital. Yang terletak di Krista sphenoid, paraselar dan baso-frontal biasanya gepeng atau
kecil bundar. Bilamana meningioma terletak pada infratentorial, kebanyakan didapati di
samping medial os petrosum di dekat sudut serebelopontin (7,8)
Para ahli tidak memastikan apa penyebab tumor meningioma, namun beberapa teori
telah diteliti dan sebagian besar menyetujui bahwa kromoson yang jelek yang meyebabkan
timbulnya meningioma. Selain itu Meningioma memiliki reseptor yang berhubungan dengan
hormone estrogen, progesterone, dan androgen, yang juga dihubungkan dengan kaknker
payudara. Hal ini dibuktikan dengan adanya perubahan ukuran tumor pada fase lutheal siklus
haid dan kehamilan. Ekspresi progesteron reseptor dilihat paling sering pada jinak
meningiomas, baik pada pria dan wanita. Fungsi reseptor ini belum sepenuhnya dipahami,
dan demikian, sering kali menantang bagi dokter untuk menasihati pasien perempuan mereka
tentang penggunaan hormon jika mereka memiliki sejarah suatu meningioma. Meskipun
peran tepat hormon dalam pertumbuhan meningioma belum ditentukan, peneliti telah
mengamati bahwa kadang-kadang mungkin meningioma tumbuh lebih cepat pada saat
kehamilan (9).
Selain peningkatan usia, faktor lain yang dinilai konsisten berhubungan dengan risiko
terjadinya meningioma yaitu sinar radiasi pengion; factor lingkungan berupa gaya hidup dan
genetik telah dipelajari namunnya perannya masih dipertanyakan. Faktor lain yang telah
diteliti yaitu penggunaan hormone endogen dan eksogen, penggunaan telepon genggam, dan
variasi genetik atau polimorfisme. Faktor lain yang dinilai berperan adalah keadaan penyakit
yang sudah ada seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan epilepsi; pajanan timbale, pemakaian
pewarna rambut; pajanan gelombang micro atau medan magnet, merokok; trauma kepala; dan
alergi (9).

5. Manifestasi Klinis dan Diagnosis


Gejala meningioma dapat bersifat umum (disebabkan oleh tekanan tumor pada otak
dan medulla spinalis) atau bisa bersifat khusus (disebabkan oleh terganggunya fungsi normal
dari bagian khusus dari otak). Secara umum, meningioma tidak bisa didiagnosa pada gejala
awal (9).
Gejala umumnya seperti (9): Sakit kepala, dapat berat atau bertambah buruk saat
beraktifitas atau pada pagi hari; Perubahan mental; Kejang; Mual muntah; Perubahan visus,
misalnya pandangan kabur.
Gejala dapat pula spesifik terhadap lokasi tumor (5):
 Meningioma falx dan parasagittal : nyeri tungkai
 Meningioma Convexitas : kejang, sakit kepala, defisit neurologis fokal, perubahan status
mental
 Meningioma Sphenoid : kurangnya sensibilitas wajah, gangguan lapangan pandang,
kebutaan, dan penglihatan ganda.
 Meningioma Olfactorius : kurangnya kepekaan penciuman, masalah visus.
 Meningioma fossa posterior : nyeri tajam pada wajah, mati rasa, dan spasme otot-otot
wajah, berkurangnya pendengaran, gangguan menelan, gangguan gaya berjalan,
 Meningioma suprasellar : pembengkakan diskus optikus, masalah visus
 Spinal meningioma : nyeri punggung, nyeri dada dan lengan
 Meningioma Intraorbital : penurunan visus, penonjolan bola mata
 Meningioma Intraventrikular : perubahan mental, sakit kepala, pusing

Gambar 2. Meningioma Gambar 3. Meningioma

Gambar 4. Meningioma Gambar 5. Meningioma


MR angiografi (scan MRI pembuluh darah) atau arteriogram (X-ray dari pembuluh
darah) dapat digunakan untuk merencanakan embolisasi, prosedur untuk memblokir
pembuluh darah di tumor. Digunakan untuk tumor yang memiliki suplai darah yang luas,
embolisasi dapat membantu untuk mengurangi perdarahan selama operasi. Jaringan hanya
dapat diperoleh melalui biopsi atau bedah eksisi (10).
Meningioma dapat tumbuh di mana saja di sepanjang meningen dan dapat
menimbulkan manifestasi klinis yang sangat bervariasi sesuai dengan bagian otak yang
terganggu. Sekitar 40% meningioma berlokasi di lobus frontalis dan 20% menimbulkan gejala
sindroma lobus frontalis. Sindroma lobus frontalis sendiri merupakan gejala ketidakmampuan
mengatur perilaku seperti impulsif, apati, disorganisasi, defisit memori dan atensi, disfungsi
eksekutif, dan ketidakmampuan mengatur mood (5).

6. Pemeriksaan Penunjang Radiologi


CT-scan kontras dan CT-scan tanpa kontras memperlihatkan paling banyak
meningioma. Tanpa kontras gambaran meninioma 75% hiperdens dan14,4% isodens.
Gambaran spesifik dari meninioma berupa enchancement dari tumor dengan pemberian
kontras. Meninioma tampak sebagai masa yang homogen dengan densitas tinggi, tepi bulat
dan tegas. Dapat terlihat juga adanya hiperostosis kranialis, destruksi tulang, udem otak yang
terjadi sekitar tumor, dan adanya dilatasi ventrikel (9).
Pemeriksaan foto polos kepala sebagai penunjang penyakit meningioma masih
memiliki derajat kepercayaan yang tinggi. Gambaran yang sering terlihat plak yang
hyperostosis, dan bentuk sphenoid , dan pterion (9).
Kalsifikasi tanpa adanya tumor pada foto polos kepala dapat menunjukkan hasil false-
negatif pada meningioma. Banyak pasien dengan meningioma otak dapat ditegakkan secara
langsung dengan menggunakan CT atau MRI (9).
a. Computed Tomography (CT scan)
CT-scan kontras dan CT-scan tanpa kontras memperlihatkan paling banyak
meningioma. Tampak gambaran isodense hingga hiperdense pada foto sebelum kontras, dan
gambaran peningkatan densitas yang homogen pada foto kontras. Tumor juga memberikan
gambaran komponen kistik dan kalsifikasi pada beberapa kasus. Udem peritumoral dapat
terlihat dengan jelas. Perdarahan dan cairan intratumoral sampai akumulasi cairan dapat
terlihat (11).
CT-scan memiliki kelebihan untuk menggambarkan meningioma. Invasi sepanjang
dura serebri sering muncul akibat provokasi dari respon osteoblas, yang menyebabkan
hyperostosis. Gambaran CT-scan paling baik untuk menunjukkan kalsifikasi dari
meningioma; dapat dilihat pada gambar-gambar berikut. The CT nature of the calcification
may be nodular, fine and punctate, or dense. Penelitian histologi membuktikan bahwa proses
kalsifikasi > 45% adalah meningioma (5).

Gambar 6.
Meningioma otak. CT-scan nonkontras menunjukkan meningioma fossa media. Massa
kalsifikasi melekat pada anterior tulang petrous kanan. Terlihat kalsifikasi berbentuk cincin
dan punctata. Tidak terlihat adanya edema (5).

Gambar 7.
Dua kasus berbeda. A, B. CT-scan menunjukkan kalsifikasi meningioma dari lobus parietal.
C, D. CT-scan nonkontras potongan axial menunjukkan massa kalsifikasi yang homogeny
melekat pata tulang parietal kanan. Jaringan lunak tumor banyak terlihat pada bagian
posterior. Penyebab kalsifikasi minor lain pada hemispere serebri kiri disebabkan oleh
penyakit parasit. Gambaran MRI potongan coronal T2 menunjukkan deposit kalsium (seperti
bintang) yang dikelilingi jaringan solid. Pada kasus ini tidak terlihat edema (5).
CT-scan efektif menunjukkan hyperostosis, destruksi tulang, erosi pada perlekatan dura.
Hiperostosis sering terlihat 15-20% pada pasien. Lihat gambar berikut (5).

Gambar 8.
Meningioma otak. Gambaran CT-Scan tanpa zat kontras menunjukkan sebuah meningioma
maligna di lobus frontal yang muncul seperti massa dengan densitas tinggi. Kavitas kistik
bisa berupa nekrosis tumor, perdarahan yang lama, degenaratif kistik atau CSF yang terjebak.
Edema dan pergeseran Midline ke bagian kiri anterior juga dapat terlihat (5).

Gambar 9.
Meningioma otak. CT-Scan tanpa kontras menunjukkan meningioma maligna di lobus frontal.
Dapat terlihat peningkatan densitas dan massa yang homogen dan perselubungan yang
berbentuk cincin (5).

Gambar 10.
Meningioma otak. Meningioma maligna pada lobus frontal. CT-scan pada frontal internal
cerebri dan gambaran diploic menunjukkan erosi dan infiltrasi tulang. CT-scan dapat
menunjukkan perdarahan tumor akut dan pelebaran pembuluh darah pada kalvarium (5).
Massa yang homogeny dengan densitas yang sama mengelilingi otak dapat 25-33% adalah
meningioma. Densitas meningioma lebih tinggi disbanding otak. Meningioma dapat
menimbulkan edema yang luas, necrosis dan jarang terjadi perdarahan. Edema tidak terjadi
pada 50% pasien karena pertumbuhan yang lambat, tetapi dapat meluas. Edema lebih
dominan terjadi di lapisan white matter, dan mengakibatkan penurunan densitas. Lihat gambar
berikut (5).
Gambar 11.
Meningioma otak. CT-scan nonkontras menunjukkan isodensitas sphenoid-wing meningioma.
Fissura Sylvii kiri kolaps sebagian (5).

Gambar 12.
Meningioma Otak. CT-scan menunjukkan meningioma isodensitas spenoid. Massa
meningioma terlihat setelah diberi injeksi zat kontras secara intravena. Zat kontras pada CT-
Scan akan menunjukkan tumor dengan densitas sedang sampai kuat; dapat dilihat pada
gambar-gambar dibawah (5).

Gambar 13.
Meningioma Otak. Meningioma pada lobus parietal. CT-scan dengan kontras menunjukkan
lingkaran, peningkatan desitas, dan massa unilobus. Perlekatan massa pada bagian dura
serebral, sehingga adanya terlihat edema yang jelas pada otak (5).
Gambar 14.
Meningioma otak. Meningioma lobus parietal. Injeksi pada arteri meningeal media
menunjukkan adanya perkumpulan tumor. Vaskularisasi yang meningkat dapat di lihat di
posterior dari massa. Vena drainase tidak terlihat.
Periperal kistik dapat mengakibatkan cairan serebrospinal terperangkap yang dapat dilihat
pada gambaran berikut (5).

Gambar 15.
Meningioma otak. Tentorium posterior meningioma dengan potongan coronal pada CT-scan
dengan zat kontras. Terdapat massa yang berbatas tegas dengan peningkatan densitas di
sepanjang tentorium. Penumpukan cairan serebrospinal, edema subtle, hemodensitas, dan
dilatasi ventrikel. Komponen-kompenen kistik pada meningioma dapat terlihat di dalam
tumor atau antara tumor dengan jaringan otak, oleh karena itu disebut CSF yang terjebak (5).
b. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI merupakan pencitraan yang sangat baik digunakan untuk mengevaluasi
meningioma. MRI memperlihatkan lesi berupa massa, dengan gejala tergantung pada lokasi
tumor berada. Kelebihan MRI dalam memberikan gambaran meningioma adalah resolusi 3
dimensi. Kemampuan MRI untuk membedakan tipe dari jaringan ikat, kemampuan
multiplanar, dan rekonstruksi 3D. Dapat dilihat pada gambar berikut (11).
Gambar 16.
Meningioma Parasagital. A. MRI nonkontras potongan sagital T1 menunjukkan massa dural
yang padat dengan invasi dan kompresi terhadap korteks parietal. B. MRI dengan zat kontras
potongan sagittal T1 menunujukkan perlekatan sebagian tumor. C. Potongan Koronal T2
menunjukkan massa padat yang menunjukkan jaringan padat. Gambaran ini menunjukkan
meningioma fibroblastik. D. MRI potongan axial T1 dengan zat kontras menujukkan
hiperintensitas yanr terletak di sumsum tulang (11).

Gambar 17.
A. Nonkontras angio-MRI lateral menunjukkan oklusi sinus sagital ssuperior akibat invasi
oleh meningioma. B. MRI rekonstruksi menunjukkan obstruksi vena-venas sagital dan
memperlihatkan tumor dalam 3D (11).
MRI dapat memperlihatkan vaskularisasi tumor, pembesaran arteri, dan invasi sinus venos,
dan hubungan antara tumor dengan dengan sekeliilingnya.Kelebihan lain dapat melihat area
juxtasellar dan fossa posterior dan kadang dapat menunjukkan hubungan penyebaran penyakit
melalui CSF. Kemampuan multiplanar adalah kemampuan untuk memvisualisasikan kontak
tumor dengan meningen, kapsul tumor, dan kontras pada meningeal dapat memperjelas
tumor. Dapat dilihat pada gambar berikut (12,13,14).

Gambar 18.
Meningioma otak. MRI nonkontras menunjukkan meningioma parasagital. Gambaran
homogen menunjukkan massa yang bulat dengan kapsul tipis. Tumor terletak pada dura
sagitalis kiri. Massa tampak mendorong trigonum ventrikel (11).

Gambar 19.
Meningioma otak. MRI nonkontras potongan axial menunjukkan paarasagital meningioma.
Gambar T1 menunjukkan homogenitas, panjang T1 dan massa dilapisi kapsul. Tumor melekat
pada falx serebri bagian kiri. Massa terlihat disepanjang girus serebri (11).

Gambar 20.
Meningioma multiple: A. Sagittal T1 menunjukkan fossa posterior dan meningioma parietal.
B Gadolinium pada Sagittal T1 menunjukkan pengkontrasan massa. C. T2 coronal
menunjukkan penampilan intensitas rendah dari massa posterior setelah embolisasi
endovaskular (11).
Gambar 21.
Maligna dan multiple meningioma. Seorang lelaki kulit putih, 47 tahun dibedah dengan
Gamma Knife karena meningioma conveks, diikuti dengan pembedahan micro untuk
mengangkat tumor pada tahun 2001. A, B. 4 tahun yang lalu -Desember 2005- MRI
menunjukkan sebuah massa sisa di paretal dan occipital. Sinus sigmoid kiri tersumbat. C, D.
Sebuah meningioma kecil pada frontal kanan juga dioperasi radiologi pada waktu yang sama.
Edema dan peningkatan intensitas setelah injeksi gadolinium (11).
c. Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi dapat memberikan gambaran lokasi dari intratumoral hemorrhage,
perubahan kista yang terdapat di bagian dalam dan luar massa tumor, kalsifikasi, invasi
parenkim oleh meningioma malignan, dan massa lobus atau multi lobules yang hanya dapat
digambarkan dengan ultrasonografi (15).
d. Angiografi
Umumnya meningioma merupakan tumor vascular. Dan dapat menimbulkan
gambaran “spoke wheel appearance”. Selanjutnya arteri dan kapiler memperlihatkan
gambaran vascular yang homogen dan prominen yang disebut dengan mother and law
phenomenon (15).
Magnetic resonance angiography (MRA and MRV) merupakan pemeriksaan
penunjang yang berkembang dari ilmu angiografi klasik, yang belakangan ini merupakan alat
diagnostik yang kuat untuk mengetahui embolisasi dan perencanaan untuk operasi. Agiografi
masih bisa digunakan jika terjadi embolisasi akibat tumor (15).
Meningioma mendapat asupan makanan oleh meningeal branches dari arteri carotid
internal dan external. Basal meningiomas pada anterior dan fossa cranial media dan
meningioma pada tulang sphenoid umumnya mendapat vaskularisasi dari arteri carotid
interna. Meningioma supratentorial divaskularisasikan dari arteri carotid interna dan eksternal
(15).
Angiografi dapat menunjukkan peta distribusi arterial yang berguna untuk persiapan
preoperasi embolisasi. Lihat gambar berikut (15).
Gambar 22.
Meningioma Otak. Parasellar meningioma. Angiograpi proyeksi lateral dari arteri carotid
menunjukkan mutipel tumor yang opak dengan dikelilingi pembuluh darah. Terlihat carotid
supraclinoid sirkumferensial (15).

7. Penatalaksanaan
Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan pertama.
Beberapa faktor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor ini antara lain lokasi
tumor, ukuran dan konsistensi, vaskularisasi dan pengaruh terhadap sel saraf, dan pada kasus
rekurensi, riwayat operasi sebelumnya dan atau radioterapi. Lebih jauh lagi, rencana operasi
dan tujuannya berubah berdasarkan faktor resiko, pola, dan rekurensi tumor. Tindakan operasi
tidak hanya mengangkat seluruh tumor tetapi juga termasuk dura, jaringan lunak, dan tulang
untuk menurunkan kejadian rekurensi (16).
Pengobatan standar untuk pasien dengan meningioma atipikal atau anaplastik adalah
reseksi bedah saraf. Dengan pendekatan ini, kontrol lokal berkisar antara 50% dan 70%,
tergantung pada status reseksi. Sebuah seri atau studi lebih kecil telah menunjukkan bahwa
radioterapi pasca operasi pada populasi pasien ini dapat meningkatkan harapan hidup, yang
diterjemahkan ke dalam kelangsungan hidup secara keseluruhan. Namun, meningioma
dikenal sebagai tumor radioresisten, dan radiasi dosis 60 Gy atau lebih tinggi telah
ditunjukkan diperlukan untuk kontrol tumor (17).
Rekomendasi WHO untuk Meningioma Grade I (18):
1. Pembedahan adalah pengobatan utama untuk pasien yang bukan kandidat untuk elektif.
Reseksi tumor lengkap dikaitkan dengan tingginya tingkat harapan hidup bebas penyakit.
2. Radioterapi dapat dipertimbangkan dalam kasus lokasi tumor tidak mungkin untuk
dioperasi (seperti sinus cavernous meningioma), tumor yang tidak dapat direseksi, gejala
penyakit sisa, atau tumor berulang. Diagnosis radiologi mungkin cukup dalam kasus ini.
Rekomendasi WHO untuk Meningioma Grade II dan III (18):
3. Pengobatan standar operasi ditambah radioterapi. Radioterapi biasanya diberikan dengan
dosis 54-60 Gy, dalam 1,8-2,0 Gy per fraksi.
4. Pasien dengan tumor selektif mungkin menjadi kandidat untuk radiosurgery stereotactic.
5. Terapi sistemik lainnya dapat dipertimbangkan untuk tumor yang tidak dapat direseksi
atau berulang dalam sebuah uji klinis.
Rencana Preoperatif
Pada pasien dengan meningioma supratentorial, pemberian antikonvulsan dapat segera
diberikan, deksametason diberikan dan dilindungi pemberian H2 antagonis beberapa hari
sebelum operasi dilaksanakan. Pemberian antibiotik perioperatif digunakan sebagai
profilaksis pada semua pasien untuk organisme stafilokokkus, dan pemberian cephalosporin
generasi III yang memiliki aktifitas terhadap organisem pseudomonas, serta pemberian
metronidazol (untuk organisme anaerob) ditambahkan apabila operasi direncanakan dengan
pendekatan melalui mulut, sinus paranasal, telinga, atau mastoid (13).
Klasifikasi Simptom dari ukuran reseksi pada meningioma intracranial (13):
 Grade I : Reseksi total tumor, perlekatan dural dan tulang abnormal
 Grade II : Reseksi total tumor, koagulasi dari perlekatan dura
 Grade III : Reseksi total tumor, tanpa reseksi atau koagulasi dari perlekatan dura atau
mungkin perluasan ekstradural (misalnya sinus yang terserang atau tulang yang hiperostotik)
 Grade IV : Reseksi parsial tumor
 Grade V : Dekompresi sederhana (biopsy)

Radioterapi
Radiasi memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan meningioma. Sekitar
4% dari semua meningioma diinduksi radiasi. Menariknya, ini biasanya tidak disertai dengan
mutasi gen NF2. Sering tumor ini berasal dari pinggiran lapangan terpancar. Bukti untuk
radiasi yang berasal dari setidaknya empat sumber (19):
1. Korban tumor yang telah menerima radiasi pada mata atau leher memiliki insiden yang
signifikan pembentukan meningioma di situs tersebut 20 tahun kemudian.
2. Sebuah studi kohort pada pasien yang diikuti di Israel yang memiliki medan radiasi
rendah untuk kurap kulit kepala telah mengembangkan beberapa meningioma 20 dan 30
tahun kemudian.
3. Korban di pinggiran ledakan bom atom menjadi menderita meningioma sebagai efek
radiasi tertunda bertahun-tahun kemudian.
4. Bukti epidemiologis menunjukkan bahwa mulut penuh gigi yang di x-ray yang
dihubungkan dengan insiden lebih besar untuk meningioma.
Ada kebutuhan untuk bekerja yang lebih tepat pada efek dari radiasi pada
pembentukan meningioma (19).
Penggunaan external beam irradiation pada meningioma semakin banyak dipakai
untuk terapi. External beam irradiation dengan 4500-6000 cGy dilaporkan efektif untuk
melanjutkan terapi operasi meningioma reseksi subtotal, kasus-kasus rekurensi baik yang
didahului dengan operasi sebelumnya ataupun tidak. Pada kasus meningioma yang tidak dapat
dioperasi karena lokasi yang sulit, keadaan pasien yang buruk, atau pada pasien yang menolak
dilakukan operasi, external beam irradiation masih belum menunjukkan keefektifitasannya.
Teori terakhir menyatakan terapi external beam irradiation tampaknya akan efektif pada kasus
meningioma yang agresif (atyppical, malignan), tetapi informasi yang mendukung teori ini
belum banyak dikemukakan (13).
Efektifitas dosis yang lebih tinggi dari radioterapi harus dengan pertimbangan
komplikasi yang ditimbulkan terutama pada meningioma. Saraf optikus sangat rentan
mengalami kerusakan akibat radioterapi. Komplikasi lain yang dapat ditimbulkan berupa
insufisiensi pituitari ataupun nekrosis akibat radioterapi (13).
Radiasi Stereotaktik
Terapi radiasi tumor menggunakan stereotaktik pertama kali diperkenalkan pada tahun
1960an menggunakan alat Harvard proton beam. Setelah itu penggunaan stereotaktik
radioterapi ini semakin banyak dilakukan untuk meningioma. Sumber energi yang digunakan
didapat melalui teknik yang bervariasi, yang paling sering digunakan adalah sinar foton yang
berasal dari Co gamma (gamma knife) atau linear accelerators (LINAC) dan partikel berat
(proton, ion helium) dari cyclotrons. Semua teknik radioterapi dengan stereotaktik ini dapat
mengurangi komplikasi, terutama pada lesi dengan diameter kurang dari 2,5 cm. Steiner dan
koleganya menganalisa pasien meningioma yang diterapi dengan gamma knife dan
diobservasi selama 5 tahun. Mereka menemukan sekitar 88% pertumbuhan tumor ternyata
dapat dikontrol. Kondziolka dan kawan-kawan memperhitungkan pengontrolan pertumbuhan
tumor dalam 2 tahun pada 96 % kasus. Baru-baru ini peneliti yang sama melakukan studi
dengan sampel 99 pasien yang diikuti selama 5 hingga 10 tahun dan didapatkan pengontrolan
pertumbuhan tumor sekitar 93 % kasus dengan 61 % massa tumor mengecil. Kejadian defisit
neurologis baru pada pasien yang diterapi dengan stereotaktik tersebut kejadiannya sekitar 5
% (13).
Kemoterapi
Modalitas kemoterapi dengan regimen antineoplasma masih belum banyak diketahui
efikasinya untuk terapi meningioma jinak maupun maligna. Kemoterapi sebagai terapi ajuvan
untuk rekuren meningioma atipikal atau jinak baru sedikit sekali diaplikasikan pada pasien,
tetapi terapi menggunakan regimen kemoterapi (baik intravena atau intraarterial cis-platinum,
decarbazine (DTIC) dan adriamycin) menunjukkan hasil yang kurang memuaskan (DeMonte
dan Yung), walaupun regimen tersebut efektifitasnya sangat baik pada tumor jaringan lunak.
Laporan dari Chamberlin pemberian terapi kombinasi menggunakan cyclophosphamide,
adriamycin, dan vincristine dapat memperbaiki angka harapan hidup dengan rata-rata sekitar
5,3 tahun. Pemberian obat kemoterapi lain seperti hydroxyurea sedang dalam penelitian.
Pertumbuhan sel pada meningioma dihambat pada fase S dari siklus sel dan menginduksi
apoptosis dari beberapa sel dengan pemberian hydroxyurea. Dan dilaporkan pada satu kasus
pemberian hydroxyurea ini memberikan efek pada pasien-pasien dengan rekurensi dan
meningioma yang tidak dapat direseksi. Pemberian Alfainterferon dilaporkan dapat
memperpanjang waktu terjadinya rekurensi pada kasus meningioma yang agresif. Dilaporkan
juga terapi ini kurang menimbulkon toksisitas dibanding pemberian dengan kemoterapi (13).
Pemberian hormon antogonis mitogen telah juga dilakukan pada kasus dengan
meningioma. Preparat yang dipakai biasanya tamoxifen (anti estrogen) dan mifepristone (anti
progesteron). Tamoxifen (40 mg/m2 2 kali/hari selama 4 hari dan dilanjutkan 10 mg 2
kali/hari) telah digunakan oleh kelompok onkolologi Southwest pada 19 pasien dengan
meningioma yang sulit dilakukan reseksi dan refrakter. Terdapat pertumbuhan tumor pada 10
pasien, stabilisasi sementara pertumbuhan tumor pada 6 pasien, dan respon minimal atau
parsial pada tiga pasien (13).

8. Prognosis
Pada umumnya prognosa meningioma adalah baik, karena pengangkatan tumor yang
sempurna akan memberikan penyembuhan yang permanen. Pada orang dewasa survivalnya
relatif lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak, dilaporkan survival rate lima tahun adalah
75%. Pada anak-anak lebih agresif, perubahan menjadi keganasan lebih besar dan tumor dapat
menjadi sangat besar. Pada penyelidikan pengarang-pengarang barat lebih dari 10%
meningioma akan mengalami keganasan dan kekambuhannya tinggi (14).
Untuk tumor ini, teknik bedah dan pendekatan mungkin memerlukan reevaluasi, dan
pengobatan alternatif atau terapi multimodal memerlukan investigasi lebih lanjut (20).
Sejak 20 tahun lalu meningioma dipandang sebagai tumor jinak, dan bila letaknya
mudah dapat diangkat seluruhnya. Degenerasi keganasan tampak bila ada invasi dan
kerusakan tulang tumor tidak berkapsul pada saat operasi invasi pada jaringan otak. Angka
kematian (mortalitas) meningioma sebelum operasi jarang dilaporkan, dengan kemajuan
teknik dan pengalaman operasi para ahli bedah maka angka kematian post operasi makin
kecil. Diperkirakan angka kematian post operasi selama lima tahun (1942–1946) adalah 7,9%
dan (1957–1966) adalah8,5%. Sebab-sebab kematian menurut laporan-laporan yang terdahulu
yaitu perdarahan dan edema otak (14).
PATHWAY
Riwayat trauma kepala, faktor genetik,
Paparan bahan kimia yg bersifat karsinogenik

Abnormalitas sel otak

TUMOR OTAK/MENINGIOMA

Mengganggu fungsi spesifikasi Masa dalam otak bertambah


bagian otak tempat tumor
Penekanan jaringan otak Obstruksi sirkulasi cairan
Timbul manifestasi klinis terhadap sirkulasi darah dan serebrospinal dari ventrikel
sesuai fokal tumor O2 lateral

Penurunan suplai O2 ke Hidrochepalus


jaringan otak akibat obstruksi
sirkulasi otak

Hipoksia Cerebral Kerusakan jaringan di daerah


otak

Kompensasi takipnea Perubahan Akumulasi Perpindahan cairan intravaskular


Perfusi Jaringan CO2 di cerebral ke jaringan serebral
Ketidakefektifan Cerebral
Pola Nafas ↑ volume intrakranial

Nyeri Akut ↑ TIK

Kompensasi (butuh waktu berhari-


hari sampai berbulan-bulan) dengan
cara:
1. ↓ Volume darah intracranial
2. ↓ Volume cairan cerebrospinal
3. ↓ kandungan cairan intra sel
4. Mengurangi sel-sel parenkim
Tindakan Pembedahan
Kraniotomi/Trepanasi EDH

Prosedur invasif Perdarahan otak Prosedur anastesi

Penekanan pada susunan saraf pusat

Luka insisi buruk Trauma jaringan ↓ aliran darah ke otak Penekanan pusat Penekanan pada sistem
(stimulasi nyeri) pernapasan kardiovaskuler
Kerusakan Gangguan ↓ suplay O2 ke otak
Mengaktivasi reseptor Integritas Kulit metabolisme Penurunan kerja Penurunan cardiac
nyeri Hipoksia jaringan organ pernafasan output (COP)
Port d’entry bakteri ↑ Asam laktat
Merangsang thalamus & Penurunan dan Penurunan ekspansi Suplai darah berkurang
korteks serebri Resiko Infeksi Odema otak perubahan frekuensi paru
napas Penurunan aliran darah
Muncul sensasi nyeri Gangguan Perfusi Ketidakadekuatan
Jaringan suplai O2
Gangguan Rasa Gangguan Perfusi
Nyaman: Nyeri Ketidakefektifan Pola Jaringan
Napas
Pemendekan rambut kepala (mencukur)
Penuruna refleks batuk
Perubahan kondisi fisik
Penumpukkan lendir/sekret
Gangguan Body Image
/Citra Tubuh Ketidakefektifan
Bersihan Jalan Napas
DAFTAR PUSTAKA

1. Mardjono M, Sidharta P. Dalam: Neurologi klinis dasar. Jakarta: Fakultas Kedokteran


Universtas Indonesia, 2003; Hal 393-4.

2. Harsono. Tumor Otak. Dalam : Buku Ajar Neurologi Klinis Edisi pertama. Yogyakarta:
UGM Press, 1999; 201-201.

3. Wonoyudo, Tri Astuti. Peran CT Scan Pada Diagnosis Tumor Otak. Cermin Dunia
Kedokteran, 1992;77:12-18.

4. Markam, Soemarmo. Tumor Serebri, Dalam: Neurologi Praktis. Jakarta: Widya Medika,
2002; Hal.137-47.

5. Luhulima JW. Menings. Dalam: Anatomi susunan saraf pusat. Makassar: Bagian
Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, 2003.

6. Anonymous. Image of Meninx. Tanpa Tahun; (online), (http://www. American Society of


Oncology, diakses tanggal 25 November 2011).

7. Anonymous. Focusing in Tumor: Meningioma. American Brain Tumor Association


2006;4:1-12.

8. Fyann E, Khan N, Ojo A. Meningioma. In: SA Journal of Article Radiology. SA: Medical
University of Southern Africa,2004:3-5.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
I. Pengkajian
Data Subjektif :
Identitas Pasien dan Penanggung Jawab, Nama, Jenis kelamin, Usia, Status, Agama,
Alamat, Pekerjaan, Pendidikan, Bahasa, Suku bangsa, Dx Medis, Sumber biaya
Riwayat keluarga
Genogram
Keterangan genogram
Status kesehatan
Status kesehatan saat ini
- Keluhan Utama (saat MRS dan saat ini)
- Alasan MRS dan perjalanan penyakit saat ini
- Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya
Status kesehatan masa lalu
- Penyakit yang pernah dialami
- Pernah dirawat
- Alergi
- Kebiasaan (merokok/kopi/alcohol atau lain – lain yang merugikan kesehatan)
Riwayat penyakit keluarga
Diagnosa Medis dan Therapi
Dikaji berdasarkan 14 kebutuhan dasar menurut Virginia Handerson, yaitu
 Bernafas : Dikaji apakah pasien mengalami gangguan pernafasan, sesak, atau batuk, serta ukur
respirasi rate.
 Makan
Dikaji apakah klien menghabiskan porsi makan yang telah disediakan RS, apakah pasien
mengalami mual atau muntah ataupun kedua-duanya.
 Minum
Dikaji kebiasaan minum pasien sebelum dan saat berada di RS, apakah ada perubahan (lebih
banyak minum atau lebih sedikit dari biasanya).
 Eliminasi (BAB / BAK)
Dikaji pola buang air kecil dan buang air besar.
 Gerak dan aktifitas
Dikaji apakah pasien mengalami gangguan/keluhan dalam melakukan aktivitasnya saat
menderita suatu penyakit (dalam hal ini adalah setelah didiagnosa mengalami alergi) atau saat
menjalani perawatan di RS.
 Rasa Nyaman
Dikaji kondisi pasien yang berhubungan dengan gejala-gejala penyakitnya, misalnya pasien
merasa nyeri di perut bagian kanan atas (dikaji dengan PQRST : faktor penyebabnya,
kualitas/kuantitasnya, lokasi, lamanya dan skala nyeri)
 Kebersihan Diri
Dikaji kebersihan pasien saat dirawat di RS
 Rasa Aman
Dikaji apakah pasien merasa cemas akan setiap tindakan keperawatan yang diberikan
kepadanya, dan apakah pasien merasa lebih aman saat ditemani keluarganya selama di RS.
 Sosial dan komunikasi
Dikaji bagaimana interaksi pasien terhadap keluarga, petugas RS dan lingkungan sekitar
(termasuk terhadap pasien lainnya).
 Pengetahuan
Dikaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya yang diderita saat ini dan terapi yang
akan diberikan untuk kesembuhannya.
 Rekreasi
Dikaji apakah pasien memiliki hobi ataupun kegiatan lain yang ia senangi.
 Spiritual
Dikaji bagaimana pendapat pasien tentang penyakitnya, apakah pasien menerima penyakitnya
adalah karena murni oleh penyakit medis ataupun sebaliknya.
Data Objektif
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
- Tingkat kesadaran CCS, Tanda-tanda vital, Keadaan fisik, Kepala dan leher, Dada, Payudara
dan ketiak, Abdomen, Genitalia, Integument, Ekstremitas, Pemeriksaan neurologist
Pengkajian saraf cranial :
Olfaktori (penciuman), Optic (penglihatan), Okulomotor(gerak ekstraokular mata,dilatasi
pupil) Troklear(gerak bola mata ke atas ke bawah), Trigeminal(sensori kulit
wajah,pergerakan otot rahang), Abdusens(gerakan bola mata menyamping),
Fasial(ekspresi fasial dan pengecapan). Auditori(pendengaran),
Glosofaringeal(pengecapan,kemampuan menelan,gerak lidah), Vagus(sensasi
faring,gerakan pita suara), Aksesori(gerakan kepala dan bahu) Hipoglosal(posisi lidah)
Pemeriksaan ROM AKTIF & PASIF
Pemeriksaan Penunjang
 Arterigrafi atau Ventricolugram ; untuk mendeteksi kondisi patologi pada sistem
ventrikel dan cisterna.
 CT – SCAN ; Dasar dalam menentukan diagnosa
 Radiogram ; Memberikan informasi yang sangat berharga mengenai struktur, penebalan
dan klasifikasi; posisi kelenjar pinelal yang mengapur; dan posisi selatursika.
 Elektroensefalogram (EEG) ; Memberi informasi mengenai perubahan kepekaan neuron.
 Ekoensefalogram ; Memberi informasi mengenai pergeseran kandungan intra serebral
 Sidik otak radioaktif ; Memperlihatkan daerah-daerah akumulasi abnormal dari zat
radioaktif. Tumor otak mengakibatkan kerusakan sawar darah otak yang menyebabkan
akumulasi abnormal zat radioaktif.

II. Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan perfusi cerebral
2. Nyeri akut
3. Resiko cidera
4. Gangguan mobilitas fisik
5. Ansietas
6. Resiko kekurangan nutrisi

III. Rencana tindakan


1. Nyeri akut
 Tujuan :Setelah diberikan askep selama …..x24 jam,diharapakan nyeri yang dirasakan pasien
berkurang dengan ,kriteria hasil:
- Klien melaporkan nyeri berkurang/terkontrol,
- Wajah pasien tidak meringis
 Intervensi :
- Teliti keluhan nyeri: intensitas, karakteristik, lokasi, lamanya, faktor yang memperburuk dan
meredakan. (Nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus dijelaskan oleh pasien.
Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat
penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi
yang diberikan).
- Observasi adanya tanda-tanda nyeri non verbal seperti ekspresi wajah, gelisah,
menangis/meringis, perubahan tanda vital. (Merupakan indikator/derajat nyeri yang tidak
langsung yang dialami).
- Instruksikan pasien/keluarga untuk melaporkan nyeri dengan segera jika nyeri timbul.
(Pengenalan segera meningkatkan intervensi dini dan dapat mengurangi beratnya serangan).
- Berikan kompres dingin pada kepala. (Meningkatkan rasa nyaman dengan menurunkan
vasodilatasi).
Kolaborasi
- Berikan analgesik sesuai indikasi atau program medis. (Menurunkan nyeri).
2. Gangguan perfusi cerebral
 Tujuan :setelah diberikan askep selama ….x24 jam,diharapkan gangguan perfusi jaringan
berkurang/hilang, dengan kriteria hasil:
- Pasien dapat mempertahankan tingkat kesadaran biasa/perbaikan.kognisi,dan fungsi
motorik/sensorik
- Tanda-tanda vita stabil
 Intervensi :
- Tentukan faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu, yang dapat menyebabkan
penurunan perfusi dan potensial peningkatan TIK. (Untuk menentukan pilihan intervensi
yang tepat).
- Catat status neurologi secara teratur, badingkan dengan nilai standar. (Mengkaji adanya
kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial adanya peningkatan TIK).
- Kaji respon motorik terhadap perintah sederhana. (Mengukur kesadaran secara keseluruhan).
- Pantau tekanan darah. (Normalnya,autoregulasi mempertahankan aliran darah otak yang
konstan pada saat fluktasi tekanan darah sistemik).
- Evaluasi : pupil, keadaan pupil, catat ukuran pupil, ketajaman pnglihatan dan penglihatan
kabur. (Gangguan penglihatan yang dapat diakibatkan oleh kerusakan mikroskopik pada otak
,mempunyai konskuensi terhadap keamanan dan akan mempengaruhi intervensi).
- Pantau suhu lingkungan sesuai indikasi. (Demam dapat mencerminkan kerusakan
hipotalamus .selanjutnya akan terjadi peningkatan TIK).
- Pantau intake, output, dan ukur berat badan sesuai indikasi. (Bermanfaat sebagai indicator
dari total cairan tubuh yang terintegrasi dengan perfusi jaringan).
- Perhatikan adanya gelisah meningkat, tingkah laku yang tidak sesuai. (Petunjuk nonverbal
ini mengindikasikan adanya peningkatan TIK).
- Hindari /batasi penggunaan restein. (Restein mekanik dapat menanbah respons melawan
yang akan meningkatkan TIK).
- Tinggikan kepala pasien 15-45 derajat sesuai indikasi yang dapat ditoleransi. (Meningkatkan
aliran balik vena dari kepala,sehingga akan mengurangi kongesti dan edema atau resiko
terjadi peningkatan TIK).
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah dan tidak
nafsu makan.
 Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama ….x24 jam, diharapkan Kebutuhsn
nutrisi dapat terpenuhi ,dengan criteria hasil:
- Nutrisi klien terpenuhi
- Mual berkurang sampai dengan hilang.
 Intervensi
- Hidangkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan hangat. (Makanan yang hangat
menambah nafsu makan).
- Kaji kebiasaan makan klien. (Jenis makanan yang disukai akan membantu meningkatkan
nafsu makan klien).
- Ajarkan teknik relaksasi yaitu tarik napas dalam. (Tarik nafas dalam membantu untuk
merelaksasikan dan mengurangi mual).
- Timbang berat badan bila memungkinkan. (Untuk mengetahui kehilangan berat badan).
Kolaborasi
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin. (Mencegah kekurangan karena
penurunan absorsi vitamin larut dalam lemak).