Anda di halaman 1dari 29

DAFTAR ISI

Halaman
Daftar isi 1
BAB 1 PENDAHULUAN 2
1.1 Latar Belakang 2
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan Penulisan 3
1.4 Metode Penulisan 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4
2.1 Pembiayaan Pelayanan Kesehatan di Puskesmas 4
2.2 Jaminan Kesehatan Nasional 5
BAB 3 ANALISIS SITUASI 15
3.1 Gambaran umum 15
3.2 Gambaran Khusus 18
BAB 4 PEMBAHASAN 22
BAB 5 PENUTUP 27
5.1 Kesimpulan 27
5.2 Saran 27
DAFTAR PUSTAKA 29

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1
Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan perseorangan

(UKP) tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk

mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Puskesmas

bertugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di

wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat.1

Puskesmas dalam melakukan pelayanan kesehatan yang memadai tentu membutuhkan

sumber dana atau pembiayaan serta pengelolaan yang baik. Salah satu upaya untuk menjamin

pelayanan kesehatan seluruh masyarakat Indonesia adalah dengan Jaminan Kesehatan Nasional

(JKN). JKN resmi diterapkan oleh Presiden RI pada tanggal 1 Januari 2014 menggunakan

mekanisme Asuransi Kesehatan Sosial yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan

Kesehatan (BPJS). Diharapkan nantinya seluruh masyarakat dapat terlindungi dalam sistem

asuransi tersebut. Cakupan JKN akan diperluas secara bertahap sehingga pada tahun 2019 akan

tercapai jaminan kesehatan semesta atau universal health coverage.2

Puskesmas Lubuk Kilangan merupakan puskesmas yang telah menggunakan sistem JKN

dalam pembiayaan pelayanan kesehatannya. Dari data puskesmas didapatkan dari total seluruh

penduduk 50.032 orang di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan yang telah menjadi peserta

JKN adalah sebanyak 25.012 orang pada Desember 2017.3 Penulis merasa tertarik untuk

mengetahui lebih lanjut tentang pembiayaan puskesmas serta pengelolaan jaminan pelayanan

kesehatan masyarakat yang dilaksanakan di puskesmas Lubuk Kilangan.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana pembiayaan pelayanan kesehatan di Puskesmas Lubuk Kilangan?

1.3 Tujuan Penulisan

2
1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui pembiayaan pelayanan kesehatan di Puskesmas Lubuk Kilangan.

1.3.2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penulisan makalah pribadi ini yaitu:

a. Mengetahui sumber dan penggunaan dana di Puskesmas Lubuk Kilangan.

b. Mengetahui pelaksanaan sistem jaminan kesehatan nasional di Puskesmas Lubuk Kilangan.

c. Mengetahui kendala dalam pengelolaan jaminan pelayanan kesehatan masyarakat di

Puskesmas Lubuk Kilangan.

1.4 Metode Penulisan

Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan pustaka yang merujuk pada berbagai

literatur, serta laporan tahunan Puskesmas Lubuk Kilangan tahun 2017.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pembiayaan Pelayanan Kesehatan di Puskesmas

Pembiayaan pelayanan kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan oleh

pemerintah dan masyarakat untuk menyediakan dan memanfaatkan berbagai upaya kesehatan
3
yang diperlukan oleh perseorangan, keluarga, kelompok atau masyarakat. Biaya pelayanan

kesehatan ditinjau dari segi penyedia layanan dapat dibedakan menjadi dua yaitu biaya bagi

penyedia jasa pelayanan kesehatan dalam menyediakan berbagai upaya kesehatan dan biaya bagi

pemakai jasa pelayanan kesehatan dan memanfaatkan pelayanan tersebut. Dari segi jenis

pelayanan kesehatan yang diselenggarakan maka biaya pelayanan kesehatan dibedakan menjadi

dua yaitu biaya pelayanan kedokteran yang bertujuan mengobati penyakit dan pemulihan

kesehatan penderita serta biaya pelayanan kesehatan masyarakat yang bertujuan mencegah

penyakit dan memelihara serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.4

Pelayanan kesehatan di Puskesmas tidak akan dapat berjalan jika tidak terdapat

pembiayaan. Untuk itu, berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat

yang menjadi tanggung jawab puskesmas, perlu ditunjang dengan tersedianya pembiayaan yang

cukup. Sumber pendanaan di Puskesmas berdasarkan PMK No 75 tahun 2014 yaitu didapatkan

dari1:

1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD);

2. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN);

a. dana dekonsentrasi

Dana dekonsentrasi diberikan kepada provinsi. Dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk

menunjang pelaksanaan program di puskesmas.

b. dana alokasi khusus (DAK) fisik dan non fisik (BOK)

c. dana dari pemanfaatan dana kapitasi jaminan kesehatan nasional

4
Mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan tentang Penggunaan Dana Kapitasi Jaminan

Kesehatan Nasional untuk Jasa Pelayanan Kesehatan dan Dukungan Biaya Operasional pada

Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Milik Pemerintah Daerah.

d. alokasi dana desa (ADD)

3. Sumber-sumber lain yang sah, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, seperti

sumber dana berasal dari masyarakat contohnya donator, Corporate Social Responsibility

(CSR).5

2.2. Jaminan Kesehatan Nasional

Jaminan Kesehatan Nasional dimaksudkan untuk menghapuskan hambatan finansial bagi

masyarakat dalam menjangkau pelayanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu. Asuransi

kesehatan sosial atau JKN memiliki beberapa keuntungan. Pertama, memberikan manfaat yang

komprehensif dengan premi terjangkau. Kedua, asuransi kesehatan sosial menerapkan prinsip

kendali biaya dan mutu. Itu berarti peserta bisa mendapatkan pelayanan bermutu memadai

dengan biaya yang wajar dan terkendali, bukan “terserah dokter” atau terserah “rumah sakit”.

Ketiga, asuransi kesehatan sosial menjamin sustainabilitas (kepastian pembiayaan pelayanan

kesehatan yang berkelanjutan). Keempat, asuransi kesehatan sosial memiliki portabilitas,

sehingga dapat digunakan di seluruh wilayah Indonesia. Oleh sebab itu, untuk melindungi

seluruh warga, kepesertaan asuransi kesehatan sosial/ JKN bersifat wajib.2

Pemerintah berkewajiban menyediakan fasilitas kesehatan seperti puskesmas yang

tersebar di seluruh Indonesia. Puskesmas mempunyai peran strategis dan keunggulan dalam

mendukung terlaksananya JKN dibandingkan dengan praktik dokter, dan klinik swasta. Hal ini

disebabkan karena puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan

5
kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama.

Fungsi ini mempunyai makna bahwa puskesmas bertanggung jawab terhadap kesehatan

masyarakat di wilayahnya, tidak hanya menunggu sampai masyarakat menjadi sakit (kuratif

saja), tetapi juga upaya preventif dan promotif.6

Jaminan Kesehatan Nasional diatur dalam beberapa undang-undang. Undang-Undang

No. 40 Tahun 2004 mengamanatkan, bahwa program jaminan sosial wajib bagi seluruh

penduduk termasuk jaminan kesehatan melalui suatu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

(BPJS). Undang-Undang No. 24 Tahun 2011 juga menetapkan, jaminan sosial akan

diselenggarakan oleh BPJS, yang terdiri atas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

Khusus untuk program jaminan kesehatan yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan,

implementasinya telah dimulai sejak 1 Januari 2014. Program tersebut selanjutnya disebut

sebagai program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tujuan program Jaminan Kesehatan

Nasional adalah untuk memberikan perlindungan kesehatan dalam bentuk manfaat pemeliharaan

kesehatan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap

orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah.7,8

Semenjak diberlakukannya sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), tidak dibenarkan

adanya pemungutan biaya tambahan kepada masyarakat, terutama di Fasilitas Kesehatan Tingkat

Pertama (FKTP). Namun, dana yang diberikan berupa Dana Kapitasi, yaitu besaran pembayaran

per-bulan yang dibayar dimuka kepada FKTP berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpa

memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan.7,8

2.2.1. Prinsip Penyelenggaraan

Dalam pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Badan Penyelenggara

Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) mengacu pada prinsip-prinsip sebagaimana

6
diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial

Nasional (SJSN) dan Peraturan Menteri Kesehatan No.28 Tahun 2014, yaitu 7,9:

1. Kegotongroyongan

Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), prinsip gotong royong berarti peserta

yang mampu membantu peserta yang kurang mampu, peserta yang sehat membantu yang sakit.

Hal ini terwujud karena kepesertaannya bersifat wajib untuk seluruh penduduk.

2. Nirlaba

Dana yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS

Kesehatan) adalah dana amanah yang dikumpulkan dari masyarakat secara nirlaba bukan untuk

mencari laba (for profit oriented). Tujuan utamanya adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya

kepentingan peserta.

3. Keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas.

Prinsip manajemen ini mendasari seluruh kegiatan pengelolaan dana yang berasal dari

iuran peserta dan hasil pengembangannya.

4. Portabilitas

Prinsip portabilitas jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang

berkelanjutan kepada peserta sekalipun mereka berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam

wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

5. Kepesertaan bersifat wajib

7
Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta sehingga dapat

terlindungi. Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat, penerapannya tetap

disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah, serta kelayakan

penyelenggaraan program.

6. Dana Amanah

Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana titipan kepada badan

penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk

kesejahteraan peserta.

7. Hasil pengelolaan dana Jaminan Sosial

Dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesar-besar

kepentingan peserta.

2.2.2. Kepesertaan

Peserta dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) meliputi9:

a. Peserta adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan

di Indonesia, yang telah membayar iuran atau yang iurannya dibayar pemerintah.

b. Peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terdiri atas 2 kelompok yaitu:

c. Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan adalah fakir miskin dan orang tidak

mampu.

2. Peserta bukan Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan kesehatan adalah:

1) Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya;

2) Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya;

3) Bukan Pekerja dan anggota keluarganya;

4) Penerima pensiun.

8
5) Bayi baru lahir dari:

a. Peserta pekerja bukan penerima upah

b. Peserta bukan pekerja

c. Peserta pekerja penerima upah untuk anak keempat dan seterusnya harus didaftarkan

selambat-lambatnya 3x24 jam hari kerja sejak yang bersangkutan dirawat atau sebelum pasien

pulang (bila pasien dirawat kurang dari 3 hari). Jika sampai waktu yang telah ditentukan

pasien tidak dapat menunjukkan nomor identitas peserta JKN maka pasien dinyatakan sebagai

pasien umum.

Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) akan diberikan nomor identitas tunggal oleh

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan).

Bagi peserta Askes sosial dari PT. Askes (Persero), jaminan pemeliharaan kesehatan

(JPK) dari PT. (Persero) Jamsostek, program Jamkesmas dan TNI/POLRI yang belum

mendapatkan nomor identitas tunggal peserta dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Kesehatan (BPJS Kesehatan), tetap dapat mengakses pelayanan dengan menggunakan identitas

yang sudah ada.9

Selain PBI dan pekerja, masyarakat juga dapat mendaftarkan secara mandiri ke dalam

program JKN ini dengan anggaran biaya premi sebesar Rp 25.500 per bulan per orang untuk

kelas 1; Rp 51.000 untuk kelas 2; Rp 80.000 untuk kelas 3. Pembagian kelas ini hanya

membedakan ruangan rawat ketika memerlukan rawat inap.

2.2.3.Fasilitas Kesehatan

Fasilitas kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan untuk peserta JKN

terdiri atas fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan fasilitas kesehatan rujukan tingkat

lanjutan (FKRTL). FKTP yang dimaksud adalah9:

9
1. Puskesmas atau yang setara,

2. Praktik Dokter,

3. Praktik dokter gigi,

4. Klinik Pratama atau yang setara,

5. Rumah Sakit Kelas D Pratama atau yang setara.

Sedangkan FKTRL meliputi:

1. Klinik utama atau yang setara,

2. Rumah Sakit Umum,

3. Rumah Sakit Khusus.

2.2.4. Pelayanan Kesehatan

Setiap peserta mempunyai hak mendapat pelayanan kesehatan meliputi9:

a. Pelayanan kesehatan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) dan Rawat Inap Tingkat Pertama

(RITP),

b. Pelayanan kesehatan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL), Rawat Inap Tingkat Lanjutan

(RITL);

c. Pelayanan gawat darurat; dan

d. Pelayanan kesehatan lain yang ditetapkan oleh menteri.

Pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang, efektif dan efisien. Pelayanan

kesehatan dilakukan berjenjang dimulai dari pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pelayanan

kesehatan tingkat kedua hanya bisa diberikan atas rujukan dari pelayanan kesehatan tingkat

pertama. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga hanya bisa diberikan atas rujukan dari pelayanan

kesehatan tingkat kedua atau pertama, kecuali pada keadaan gawat darurat, kekhususan

10
permasalahan kesehatan pasien, pertimbangan geografis, dan pertimbangan ketersediaan

fasilitas.9

Jika permasalahan kesehatan pasien sudah bisa ditangani di faskes tingkat pertama,

faskes tingkat lanjut wajib merujuk balik pasien ke faskes tingkat pertamanya, disertai dengan

jawaban dan tindak lanjut yang harus dilakukan. Kasus medis yang menjadi kompetensi FKTP

harus diselesaikan secara tuntas di FKTP, kecuali terdapat keterbatasan SDM, sarana dan

prasarana di FKTP.9

2.2.5. Prosedur Pelayanan

Tata Cara Mendapatkan Pelayanan Kesehatan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

(FKTP) yaitu9:

a. Setiap peserta harus terdaftar pada FKTP yang telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan

untuk memperoleh pelayanan.

b. Menunjukan nomor identitas peserta JKN.

c. Peserta memperoleh pelayanan kesehatan pada FKTP.

d. Jika diperlukan sesuai indikasi medis peserta dapat memperoleh pelayanan rawat inap di

FKTP atau dirujuk ke FKRTL.

2.2.6 Manfaat Jaminan Kesehatan

Manfaat yang dijamin JKN terdiri dari:

a. Pelayanan kesehatan di FKTP yang merupakan pelayanan kesehatan non-spesialistik

b. Manfaat pelayanan promotif dan preventif

c. Manfaat pelayanan Kebidanan dan Neonatal

11
d. Pelayanan alat kesehatan, seperti kaca mata, protesa gigi, alat bantu dengar, protesa alat gerak,

korset tulang belakang, collar neck, dan alat kesehatan lainnya yang diberikan sesuai ketentuan

tertentu.

2.2.7 Pendanaan

Sumber pendanaan dalam penyelenggaraan JKN berasal dari9:

1. Iuran Peserta PBI dibayar oleh Pemerintah.

2. Iuran Peserta Bukan PBI:

a. Pekerja Penerima Upah dibayar oleh Pekerja dan Pemberi Kerja.

b. Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja dibayar oleh peserta yang bersangkutan.

2.2.8. Mekanisme Pembayaran ke Fasilitas Kesehatan

BPJS Kesehatan akan membayar Puskesmas dengan sistem kapitasi. Untuk Fasilitas

Kesehatan rujukan tingkat lanjutan, BPJS Kesehatan membayar dengan sistem paket INA

CBG’s. Puskesmas harus dapat mengelola dana kapitasi tersebut sebaik-baiknya, sehingga disatu

pihak dapat memenuhi kebutuhan peserta Jaminan Kesehatan Nasional dan di pihak lain tetap

memberikan keuntungan bagi puskesmas.8

Besaran dana yang didapatkan suatu pelayanan kesehatan berupa kapitasi dan non

kapitasi10.

a. Tarif Kapitasi adalah besaran pembayaran perbulan yang dibayar di muka oleh BPJS

Kesehatan kepada FKTP berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpa memperhitungkan

jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan.

b. Tarif Non Kapitasi adalah besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada FKTP

berdasarkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan.

12
Berdasarkan PERMENKES No. 52 Tahun 2016, tarif kapitasi di FKTP adalah sebagai

berikut10:

a. puskesmas atau fasilitas kesehatan yang setara sebesar Rp3.000,00 (tiga ribu rupiah) sampai

dengan Rp6.000,00 (enam ribu rupiah);

b. rumah sakit Kelas D Pratama, klinik pratama, praktik dokter, atau fasilitas kesehatan yang

setara sebesar Rp8.000,00 (delapan ribu rupiah) sampai dengan Rp10.000,00 (sepuluh ribu

rupiah); dan

c. praktik perorangan dokter gigi sebesar Rp2.000,00 (dua ribu rupiah).

Besaran tarif kapitasi yang diterima oleh FKTP ditentukan melalui proses seleksi dan

kredensial yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

dan/atau Asosiasi Fasilitas Kesehatan dengan mempertimbangkan sumber daya manusia,

kelengkapan sarana dan prasarana, lingkup pelayanan, dan komitmen pelayanan. Berdasarkan

hal tersebut, besar kapitasi bagi puskesmas atau fasilitas kesehatan yang setara yakni10:

a. kapitasi sebesar Rp3.000,00 (tiga ribu rupiah) per peserta per bulan apabila tidak memiliki

dokter dan tidak memiliki dokter gigi;

b. kapitasi sebesar Rp3.500,00 (tiga ribu lima ratus rupiah) per peserta per bulan apabila

memiliki dokter gigi dan tidak memiliki dokter;

c. kapitasi sebesar Rp4.500,00 (empat ribu lima ratus rupiah) per peserta per bulan apabila

memiliki 1 (satu) orang dokter, tetapi tidak memiliki dokter gigi;

d. kapitasi sebesar Rp5.000,00 (lima ribu rupiah) per peserta per bulan apabila memiliki 1 (satu)

orang dokter dan memiliki dokter gigi;

e. kapitasi sebesar Rp5.500,00 (lima ribu lima ratus rupiah) per peserta per bulan apabila

memiliki paling sedikit 2 (dua) orang dokter, tetapi tidak memiliki dokter gigi; dan

13
f. kapitasi sebesar Rp6.000,00 (enam ribu rupiah) per peserta per bulan apabila memiliki paling

sedikit 2 (dua) orang dokter, dan memiliki dokter gigi.

Berdasarkan PERMENKES No. 21 tahun 2016 mengenai penggunaan dana kapitasi

jaminan kesehatan, dana kapitasi yang diterima dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Kesehatan dimanfaatkan seluruhnya untuk11:

1. pembayaran jasa pelayanan kesehatan; dan

2. dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan.

Besaran alokasi ditetapkan setiap tahun dengan Keputusan Kepala Daerah atas usulan

Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan Alokasi untuk

pembayaran jasa pelayanan kesehatan sekurang-kurangnya 60% dengan mempertimbangkan11:

a. kebutuhan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai;

b. kegiatan operasional pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai target kinerja di bidang

upaya kesehatan perorangan;dan

c. besar tunjangan yang telah diterima dari Pemerintah Daerah.

Sementara itu, alokasi untuk pembayaran dukungan biaya operasional pelayanan

kesehatan ditetapkan sebesar selisih dari besar dana kapitasi dikurangi dengan besar alokasi

untuk pembayaran jasa pelayanan kesehatan.11

Pembayaran klaim non Kapitasi pelayanan JKN oleh BPJS Kesehatan di FKTP milik

Pemerintah Daerah dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku. Besaran dana masing-masing klaim

mengikuti aturan yang tercantum dalam Permenkes No. 52 Th 2016 tentang Standar Tarif

Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaran Program Jaminan Kesehatan. Pembayaran klaim

non kapitasi di FKTP milik Pemerintah Daerah meliputi10:

a. pelayanan ambulan;

14
b. pelayanan obat program rujuk balik;

c. pemeriksaan penunjang pelayanan program rujuk balik;

d. pelayanan skrining kesehatan tertentu termasuk pelayanan terapi krio untuk kanker leher

rahim;

e. rawat inap tingkat pertama;

f. pelayanan kebidanan dan neonatal yang dilakukan oleh bidan atau dokter, sesuai kompetensi

dan kewenangannya;

g. pelayanan keluarga berencana di FKTP

BAB 3

ANALISIS SITUASI

3.1 Gambaran Umum

15
3.1.1 Keadaan Geografis

Wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan terletak di Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota

Padang yang terdiri dari 7 kelurahan dengan luas wilayah +85,99 km2.Tujuh kelurahan tersebut

terdiri dari:

a. Kelurahan Batu Gadang: 19.29 km2


b. Kelurahan Indarung: 52.1 km2
c. Kelurahan Padang Besi: 4.91 km2
d. Kelurahan Bandar Buat: 2.87 km2
e. Kelurahan Koto Lalang: 3.32 km2
f. Kelurahan Baringin: 1.65 km2
g. Kelurahan Tarantang: 1.85 km2

Kondisi daerah ini terdiri dari 40% dataran rendah dan 60% dataran tinggi. Curah hujan ±

471 mm/bulan dan temperatur antara 28o-30o C. Batas wilayah Kecamatan Lubuk Kilangan

adalah:

a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Lubuk Kilangan


b. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Solok
c. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Lubuk Begalung
d. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Bungus Teluk Kabung

16
Gambar 3.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Kilangan Tahun 20173

3.1.2 Keadaan Demografi


Berdasarkan data pada tabel 3.1, diketahui jumlah penduduk Kecamatan Lubuk Kilangan

adalah sebanyak 50.032 jiwa dengan jumlah KK 10. 707, RT sebanyak 171 dan RW sebanyak 44

dengan rata-rata anggota keluarga 4 orang serta kepadatan penduduk 489/km².3

Tabel 3.1 Jumlah Penduduk Kecamatan Lubuk Kilangan Tahun 2017

No Kelurahan Jumlah KK Jumlah Jiwa RT RW

1 Bandar Buat 2.743 14.359 43 11


2 Padang Besi 1.610 6.797 20 4
3 Indarung 2.632 11.069 44 12
4 Koto Lalang 1.550 6.480 31 8
5 Batu Gadang 1.489 6.480 21 5
6 Baringin 244 2.277 5 2

17
7 Tarantang 439 2.460 7 2

Jumlah 10.707 50.032 171 44

Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Lubuk Kilangan 2017

Pada tabel 3.1 tampak bahwa penyebaran penduduk di Kecamatan Lubuk Kilangan yang

paling banyak, yaitu terdapat pada kelurahan Bandar Buat dengan jumlah penduduk 14.359 jiwa

dalam 2.743 kepala keluarga. Jumlah penduduk paling sedikit terdapat pada kelurahan Baringin

dengan jumlah penduduk 2.277 jiwa dalam 244 kepala keluarga. 3

3.2 Gambaran Khusus

3.2.1 Pembiayaan Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Lubuk Kilangan

Berdasarkan informasi dari Bendahara Puskesmas Lubuk Kilangan, sumber dan

penggunaan dana di puskesmas tersebut dapat dibagi menjadi tiga sumber, yaitu dari APBD,

Biaya Operasional Kesehatan, dan JKN.

1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

Dana APBD merupakan dana yang berasal dari Pemerintah Daerah, dana ini ditujukan

untuk keperluan operasional puskesmas seperti untuk pembiayaan rekening listrik, telepon, air,

dan jasa Cleaning Service.

Mekanisme pembiayaan dari dana APBD ini adalah pembayaran tagihan awal dibayar

oleh pihak puskesmas kemudian dibuat surat pertanggungjawaban ke Pemerintah Kota (Pemko)

dalam hal ini diwakili oleh DKK agar dapat diganti. Rata-rata bantuan APBD di Puskesmas

Lubuk Kilangan adalah ±30 juta rupiah pertahun. 3

Pemerintah daerah dapat memberikan bantuan berupa inventaris puskesmas dengan cara

mengajukan rencana kegiatan anggaran (RKA) yang diserahkan lewat DKK ke pemerintah kota

Padang yang bila disetujui DPR berupa DIPA (daftar isian penggunaan anggaran) dana tersebut

diturunkan lagi lewat DKK.


18
2. Biaya Operasional Kesehatan (BOK)

Biaya operasional kesehatan didapatkan dari APBN. BOK merupakan bantuan

pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mendukung operasional puskesmas dalam

rangka pencapaian program kesehatan prioritas nasional. Pemanfaatan dana BOK diprioritaskan

pada kegiatan promotif dan preventif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. 12 Di

puskesams Lubuk Kilangan, dana BOK digunakan untuk seluruh kegiatan UKM (upaya

kesehatan masyarakat) esensial dan juga UKM pengembangan.

Kegiatan UKM tersebut diantaranya kesehatan lingkungan, kesehatan ibu dan anak,

promosi kesehatan, pengendalian penyakit menular dan tidak menular, gizi, imunisasi, UKS

(Unit Kesehatan Sekolah), serta Unit Kesehatan Gigi Sekolah. Selain UKM yang dijadikan

prioritas, sebagian dana BOK di puskesmas Lubuk Kilangan juga digunakan untuk pembiayaan

dalam berbagai kegiatan manajemen puskesmas. Lokakarya mini, pembiayaan jasa narasumber

dalam pelatihan kader dan pertemuan lintas sektor, konsumsi dalam pelatihan dan pertemuan

tersebut, semuanya diambil dari dana BOK. Pada tahun 2017, alokasi anggaran dana BOK

puskesmas Lubuk Kilangan adalah sebesar Rp447.000.000,00. Pada akhir 2017, anggaran

tersebut telah dicairkan seluruhnya untuk membiayai keperluan puskesmas yang menggunakan

dana BOK sebagai sumbernya. Pada tahun 2018, alokasi anggaran dana BOK di puskesmas

Lubuk Kilangan meningkat dibanding tahun 2017. Alokasi dana yang diajukan adalah sebesar

Rp503.000.000,00.13

Kementerian Kesehatan menetapkan sejumlah kegiatan yang dijadikan prioritas melalui

petunjuk teknis setiap tahunnya dan mewajibkan puskesmas mengalokasikan penggunaan dana

minimal 60% untuk upaya kesehatan prioritas, 40% digunakan untuk program pengembangan

puskesmas dan konsumsi lokakarya mini. Jumlah anggaran BOK berbeda tiap puskesmas

19
tergantung pada jumlah penduduk, akses pelayanan daerah, dan jumlah keluarga miskin. Dana

BOK diberikan kepada puskesmas melalui Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.12

3. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Dana JKN meliputi tarif kapitasi dan non kapitasi yang perlu dilakukan klaim. Non

kapitasi meliputi pelayanan kebidanan (persalinan dan pasca persalinan), pemeriksaan IVA,

pelayanan keluarga berencana, protesa gigi, dan lain-lain. Dana kapitasi JKN sebanyak 60%

digunakan untuk pelayanan kesehatan, 40% digunakan untuk biaya operasional yang meliputi

alat kesehatan, bahan medis habis pakai, serta biaya operasional lainnya seperti belanja barang.

Contoh alat alat kesehatan seperti timbangan, mikrotoise, spuit, tensimeter, glukocheck dan lain-

lain. Biaya operasi lainnya digunakan untuk keperluan belanja barang seperti pembelian laptop,

komputer, printer, alat tulis kantor, sabun dan lain-lain.11

3.2.2 Pelaksanaan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) di Puskesmas Lubuk Kilangan

Sistem JKN merupakan jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh

manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan

yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh

pemerintah. Sistem JKN telah diterapkan di seluruh Indonesia sejak tanggal 1 Januari 2014,

termasuk Puskesmas Lubuk Kilangan.9

Puskesmas Lubuk Kilangan telah memasukan sistem JKN ke dalam sistem pembiayaan

pelayanan kesehatan setiap bulan dan tahun. Sistem JKN diterapkan oleh Puskesmas Lubuk

Kilangan dengan pembiayaan pelayanan kesehatan per kapita. Bagi pengguna BPJS yang telah

memilih Puskesmas Lubuk Kilangan sebagai FKTP, maka anggaran dana dari BPJS disalurkan

sebesar Rp. 6.000,-/ peserta setiap bulannya.

20
Anggaran dana tersebut dipergunakan untuk semua pasien yang telah menjadi anggota

BPJS. Walaupun pasien hanya berkonsultasi sampai mendapatkan tindakan emergensi maupun

non emergensi tetap di kenakan Rp. 6.000,00/peserta. Sedangkan untuk ruangan atau hal-hal

lainnya dapat berbeda-beda sesuai dengan kelas dari BPJS yang dipilih.

Tabel 3.2 Jumlah peserta jaminan kesehatan Puskesmas Lubuk Kilangan Tahun 2017

Bulan Jumlah Peserta


Januari 26.336
Februari 26.464
Maret 26.471
April 26.395
Mei 26.394
Juni 26.264
Juli 26.213
Agustus 26.714
September 26.081
Oktober 26.088
November 25.922
Desember 25.012
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Lubuk Kilangan tahun 2017

Berdasarkan tabel 3.2, data kepesertaan JKN di Puskesmas Lubuk Kilangan pada akhir

tahun 2017 sebanyak 25.012 orang peserta. Dari tabel tersebut terlihat perubahan jumlah peserta

dari bulan ke bulan. Hal ini disebabkan oleh adanya kelahiran bayi, meninggalnya peserta,

peserta tidak berdomisili lagi di wilayah kerja puskesmas dan hal lainnya yang menyebabkan

masuk dan keluarnya peserta JKN seperti peserta yang mengganti FKTP-nya ke fasilitas

kesehatan lain. Dengan jumlah 25.012 peserta tersebut, maka puskesmas Lubuk Kilangan

berhak mendapatkan dana kapitasi BPJS sebesar Rp150.072.000,- yang digunakan untuk

pelayanan kesehatan masyarakat yang berobat di puskesmas Lubuk Kilangan.3

21
BAB 4

PEMBAHASAN

Puskesmas Lubuk Kilangan menerima tiga sumber dana yang berbeda, yaitu dari dana

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Biaya Operasional Kesehatan (BOK), serta

dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

22
Dana APBD merupakan dana yang berasal dari Pemerintah Daerah (Pemko Padang) yang

ditujukan untuk keperluan rutin puskesmas dan pelayanan kesehatan warga kota Padang. Dalam

pelaksanaannya di Puskesmas, penyaluran dana dari pemerintah daerah dinilai sudah cukup baik.

Biaya Operasional Kesehatan (BOK) merupakan dana bantuan operasional yang diprioritaskan

pada kegiatan promotif dan preventif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat seperti

Posyandu, Unit Kesehatan Sekolah, Unit Kesehatan Gigi Sekolah, Promosi Kesehatan dan lain-

lain di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan. Dana yang diberikan disesuaikan dengan

kebutuhan puskesmas dan luasnya cakupan kerja puskesmas. Dana ini diberikan oleh pemerintah

pusat secara rutin. Setiap kegiatan yang akan dilaksanakan harus tercantum jelas berapa target

yang akan dicapai serta adanya laporan setelah kegiatan tersebut selesai.

Dalam pelaksanaanya, alokasi dana BOK di puskesmas Lubuk Kilangan mengalami

peningkatan dari tahun sebelumnya, yakni 447.000.000,- pada tahun 2017 menjadi 503.000.000,-

pada tahun 2018. Penambahan dana BOK diberikan sesuai dengan program yang akan

dilaksanakan oleh puskesmas dalam satu periode. Setiap kegiatan yang akan dilaksanakan harus

tercantum jelas berapa target yang akan dicapai serta adanya laporan setelah kegiatan tersebut

selesai, biaya operasional dapat diganti oleh Dinas Kesehatan Kota dengan menyerahkan surat

pertanggungjawaban sebelum tanggal 10 bulan depannya.

Sumber dana lainnya berupa dana dari JKN yang meliputi tarif kapitasi dan non kapitasi

(sistem klaim). Dana kapitasi puskesmas Lubuk Kilangan adalah 6.000,- rupiah/peserta.

Anggaran tersebut sesuai dengan ketetapan standar tarif pelayanan kesehatan dimana kapitasi

Rp. 6.000,- diberikan bagi FKTP yang memiliki paling sedikit 2 orang dokter dan memiliki

dokter gigi. Dalam hal ini, puskesmas Lubuk Kilangan memiliki 2 orang dokter dan 2 orang

23
dokter gigi, sehingga puskesmas Lubuk Kilangan layak mendapatkan anggaran kapitasi Rp.

6.000,-/peserta.

Dana kapitasi tersebut digunakan dengan proporsi 60% jasa pelayanan kesehatan dan

sisanya untuk biaya operasional lainnya (untuk pembelian obat, alat kesehatan, dan lain-lain).

Hal ini telah sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 21 Tahun 2016 pasal 3 yang

menyatakan jasa pelayanan kesehatan di FKTP ditetapkan sekurang-kurangnya 60% dari total

penerimaan dana kapitasi JKN, dan sisanya dimanfaatkan untuk dukungan biaya operasional

pelayanan kesehatan.

Dana non kapitasi meliputi pelayanan kebidanan (persalinan dan pasca persalinan),

pelayanan keluarga berencana, protesa gigi, dan lain-lain. Dana ini akan cair apabila pihak

puskesmas melakukan klaim sesuai jenis tindakan yang telah dilakukan kepada pasien. Klaim

tersebut diajukan kepada BLUD (Badan Layanan Umum Daerah). Apabila dana telah cair, maka

dana akan dimasukkan langsung ke dalam rekening puskesmas Lubuk Kilangan.

Penyaluran dana kapitasi sejak Juni 2014 adalah secara langsung dari BPJS ke Puskesmas

Lubuk Kilangan rutin setiap bulannya. Namun sejak tahun 2016, penyaluran dana dari BPJS

disalurkan melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Hal ini sesuai dengan PMK No. 28

tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional yang

menyatakan bahwa pengelolaan dan pemanfaatan dana FKTP BLUD baik kapitasi dan non-

kapitasi sepenuhnya berdasarkan ketentuan BLUD. Dalam hal ini, puskesmas Lubuk Kilangan

selaku FKTP BLUD melaporkan apa saja yang dibutuhkan ke BLUD yang selanjutnya akan

dikonfirmasi dan penyediaannya tergantung BLUD. Seperti halnya dana non kapitasi, maka dana

kapitasi yang sesuai jumlah penduduk terdaftar di FKTP puskesmas Lubuk Kilangan akan

dicairkan oleh BLUD kepada puskesmas setiap bulan melalui rekening puskesmas.

24
Puskesmas Lubuk Kilangan telah membuat laporan dan evaluasi pada setiap pengeluaran

yang berasal dari tiga sumber dana di atas. Laporan tersebut nantinya akan

dipertanggungjawabkan oleh Kepala Puskesmas kepada berbagai pihak terkait. Dana yang

berasal dari Pemda dan BOK akan dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Kota, untuk selanjutnya

secara berjenjang akan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi dan ke pusat. Sementara dana

JKN akan dilaporkan ke BPJS setiap tahun.

Sistem JKN diselenggarakan oleh BPJS dan telah diterapkan di seluruh Indonesia sejak

tanggal 1 Januari 2014 dan juga sudah dilaksanakan di puskesmas Lubuk Kilangan. Jumlah

peserta JKN berubah-ubah setiap bulannya. Hal ini diduga dikarenakan banyaknya peserta yang

mengajukan perpindahan karena kesalahan alamat pendaftaran atau memang berniat berpindah

ke/dari dokter keluarga/klinik. Selain itu adanya penambahan dan pengurangan peseta yang

terjadi karena kelahiran dan kematian yang terjadi setiap bulannya. Ketidakstabilan jumlah

peserta ini mungkin dinilai wajar dan tidak mengganggu kinerja Puskesmas.

Total jumlah peserta JKN terakhir pada Desember 2017 di wilayah kerja Puskesmas

Lubuk Kilangan adalah 25.012 orang atau sekitar 49,9 % dari total 50.032 orang di Kecamatan

Lubuk Kilangan. Jumlah ini dinilai masih jauh dari target pemerintah yaitu seluruh penduduk

Indonesia telah menjadi peserta JKN pada tahun 2019. Namun pencapaian ini sulit dinilai oleh

pihak Puskesmas, mengingat adanya kemungkinan peserta JKN di wilayah kerja Puskesmas

Lubuk Kilangan yang sudah terdaftar kependudukannya di wilayah Lubuk Kilangan namun lebih

memilih meregistrasikan pengobatan di pelayanan kesehatan lainnya dan ekonomi sebagian

penduduk yang berada sedikit diatas batas miskin, sehingga tidak bisa dimasukan ke dalam PBI

dan juga tidak mampu mendaftarkan semua anggota keluarga sebagai non-PBI. Selain itu dari

jumlah 25.012 orang tersebut juga bukan hanya terdiri dari penduduk wilayah Lubuk Kilangan

25
saja, akan tetapi ada penduduk yang bertempat tinggal di luar wilayah Lubuk Kilangan namum

nmendaftarkan FKTPnya di puskesmas Lubuk Kilangan. Oleh karena itu, pencapaian

kepesertaan JKN ini sulit dinilai oleh pihak puskesmas. Data detail mengenai hal tersebut hanya

ada pada BPJS selaku badan yang mewadahi JKN.

Selain itu, karena sistem JKN cenderung baru, masyarakat masih banyak yang belum

mengetahui tentang sistem JKN. Puskesmas sendiri sudah melakukan sosialisasi kepada

masyarakat mengenai JKN seperti di meja administrasi atau secara langsung kepada pasien yang

ingin bertanya. Oleh karena itu diperlukan sosialisasi yang lebih luas lagi kepada masyarakat,

mengingat target pemerintah pada tahun 2019 seluruh penduduk Indonesia sudah 100% tercover

oleh asuransi kesehatan JKN ini. Sosialisasi dapat dilakukan di luar gedung seperti di posyandu

ketika kegiatan UKM imunisasi sedang berlangsung. Di waktu tersebut, petugas puskesmas

dapat memberikan informasi mengenai JKN sekaligus meluruskan persepsi bahwa puskesmas

bukan hanya sarana untuk berobat saja, tetapi juga berperan dalam kegiatan promotif dan

preventif.

BAB 5

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diperoleh pada penulisan makalah ini yaitu:

26
1. Sistem pembiayaan kesehatan di Puskesmas Lubuk Kilangan berasal dari tiga sumber dana

yaitu dari APBD, BOK, dan JKN.

2. Penggunaan dana di Puskesmas Lubuk Kilangan dilakukan sesuai dengan sasaran dari setiap

sumber dana yang telah diberikan.

3. Penerapan Jaminan Kesehatan Nasional dinilai relatif berjalan lancar namun masih ada

beberapa kendala.

4. Kendala dalam pengelolaan pelayanan jaminan kesehatan di Puskesmas Lubuk Kilangan

meliputi masih rendahnya peserta JKN yang terdaftar di puskesmas dibandingkan dengan

jumlah penduduk Lubuk Kilangan, masih banyaknya masyarakat yang berobat ke puskesmas

Lubuk Kilangan walaupun puskesmas bukan FKTP tempat mereka terdaftar, serta masih

kurangnya pengetahuan masyarakat khususnya mengenai JKN.

5.2 Saran

Saran yang dapat diberikan yaitu sebagai berikut:

1. Diperlukan pendataan ulang kepesertaan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Lubuk

Kilangan baik yang terdaftar di puskesmas Lubuk Kilangan maupun yang terdaftar di FKTP

lain.

2. Peningkatan sosialisasi mengenai JKN dan mekanisme berobatnya kepada masyarakat

terutama di luar gedung, sehingga masyarakat dapat berobat ke FKTP tempat mereka

terdaftar.

3. Peningkatan kunjungan peserta sehat dengan menambah kegiatan promotif preventif serta

sosialisasi kepada masyarakat bahwa berkunjung ke puskesmas tidak hanya untuk berobat

akan tetapi juga bisa untuk konsultasi dengan petugas.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. PMK No 75 tahun 2014 tentang Kebijakan Dasar
Puskesmas. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 2014

2. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan


Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
2013.

28
3. Puskesmas Lubuk Kilangan. Laporan Tahun 2017. Padang: Puskesmas Lubuk Kilangan.
2017.

4. Budi HS. Hubungan antara Sistem Pembiayaan dengan Kualitas Pelayanan di Puskesmas
Slogohimo Wonogiri. Tesis. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. 2010.

5. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. PMK No 39 tahun 2016 tentang Pedoman


Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI. 2016.

6. Sukoharjo. Puskesmas di Era Jaminan Kesehatan Nasional.


http://dkk.sukoharjokab.go.id/read/puskesmas-di-era-jaminan-kesehatan-nasional-jkn. 2014.
Diunduh tanggal 20 Oktober 2017 (22.30 WIB).

7. Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 40 tahun


2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. 2004.

8. Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun


2011. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. 2011

9. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. PMK No. 28 Th 2014 ttg Pedoman Pelaksanaan
Program Jaminan Kesehatan Nasional. Jakarta: Kementrian Kesehatan. 2014.

10. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. PMK No. 52 Th 2016 tentang Standar Tarif
Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaran Program Jaminan Kesehatan. Jakarta :
Kementerian Kesehatan. 2016.

11. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. PMK No. 21 Th 2016 ttg Penggunaan Dana
Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional pada Fasilitas Pertama Milik Pemerintah Daerah.
Jakarta : Kementerian Kesehatan. 2016.

12. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. PMK No. 71 Th 2016 ttg Petunjuk Teknis
Penggunaan Dana Alokasi Khusus Nonfisik Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2017.
Jakarta : Kementerian Kesehatan. 2016.

13. Puskesmas Lubuk Kilangan. Laporan Tahunan BOK 2017. Padang: Puskesmas Lubuk
Kilangan. 2017.

29