Anda di halaman 1dari 29

BAB 1

Di era globalisasi dan pasar bebas WTO (World Trade Organization) dan GATT

(General Agreement on Tariffs and Trade) yang akan berlaku tahun 2020 mendatang,

kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan dalam

hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara yang harus dipenuhi oleh

seluruh negara anggota, termasuk Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut serta

mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia dibuat Undang-undang Republik

Indonesia No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pada BAB XII Kesehatan Kerja Pasal 164

ayat (1) menyatakan bahwa upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar

hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan

oleh pekerjaan. Serta dalam Undang-undang Republik Indonesia No.13 tahun 2003 tentang

ketenaga kerjaan yang berbunyi, “Upaya meningkatkan derajat kesehatan para pekerja

dengan cara pencegahan kecelakaan akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja,

promosi kesehatan kerja, pengobatan, dan rehabilitasi”.1,2,3

International labor Organization (ILO) melaporkan bahwa satu pekerja meninggal

setiap 15 detik akibat kecelakaan di tempat kerja atau sakit akibat kerja. Setiap 15 detik

terdapat sekitar 160 kecelakaan kerja di dunia. Di Indonesia sendiri, dilaporkan bahwa selama

kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir kasus kecelakaan kerja meningkat. Dari 96.314 kaus

kecelakaan kerja di Tahun 2009, meningkat mencapai 103.285 kasus kecelakaan kerja di

Tahun 2013. BPJS Ketenagakerjaan, yang semula dikenal dengan nama PT Jamsostek

mencatat, di Indonesia tidak kurang dari 9 orang meninggal dunia akibat kecelakaan di

tempat kerja setiap harinya dimana angka kematian akibat kerja di Inggris sebagai

pembanding, hanya mencapai angka 2 orang per harinya. Karena tingginya angka kecelakaan

kerja ini, maka diperlukan upaya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja atau sakit

akibat kerja.1,4

1
Pekerjaan dapat menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan bagi para pekerjanya dan

risiko pekerjaan masuk dalam sepuluh urutan terbanyak penyebab penyakit dan kematian. Berbagai

permasalahan kesehatan yang dapat timbul pada pekerja seperti resiko penyakit tidak menular

dan penyakit menular yang tinggi, dan munculnya penyakit tidak menular akibat kerja.

Permasalahan ini menyadarkan pentingnya upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit

akibat kerja guna mewujudkan produktivitas kerja.5,6

Sesuai dengan pernyataan Kepmenkes Nomor 128/MENKES/SK/II/2004 tentang

kebijakan dasar puskesmas adalah puskesmas merupakan unit pelaksana teknis Dinas

Kesehatan Kabupaten/Kota dan bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pembangunan

kesehatan di wilayah kerjanya. Pada bab 4 disebutkan untuk tercapainya visi pembangunan

kesehatan tersebut, dilakukan upaya kesehatan termasuk di dalamnya Upaya Kesehatan Kerja

mengingat tingginya risiko kesehatan dan keselamatan kerja bagi pekerja dan adanya amanat

dalam Undang-undang untuk menreapkan kesehatan kerja di tempat kerja.7

Salah satu bentuk upaya kesehatan kerja puskesmas adalah dibentuknya Pos Upaya

Kesehatan Kerja (Pos UKK). Pos UKK merupakan bentuk upaya kesehatan bersumberdaya

masyarakat (UKBM) yang memberikan pelayanan kesehatan dasar (primary health care) bagi

masyarakat pekerja, terutama pekerja informal. Pos UKK diperlukan untuk memberikan pelayanan

kesehatan yang meliputi peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan pengobatan sederhana bagi

masyarakat pekerja yang berisiko terpajan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja sehingga mereka

mampu menolong dirinya sendiri.8

Kecamatan Pauh di kota Padang terdiri dari 9 kelurahan. Dari sembilan kelurahan

tersebut, terdapat beberapa jenis usaha kecil dan menengah berupa usaha kuliner, bengkel,

konveksi, dan lain-lain. Jumlah total UMKM di Kecamatan Pauh sebanyak 135 unit dengan

total lebih 400 pekerja. Sektor penyumbang total terbanyak adalah dari usaha kuliner, yaitu

2
sekitar 42%. Dari 9 kelurahan, kelurahan Koto luar merupakan kelurahan yang memiliki

pekerja usaha kecil dan menengah terbanyak.9

Puskesmas Pauh merupakan salah satu fasilitas layanan primer untuk masyarakat di

Kecamatan Pauh. Sesuai dengan Permenkes No 75 tahun 2014, Puskesmas Pauh memiliki

program wajib dan program pengembangan. Salah satu program pengembangannya adalah

program UKK. Di wilayah kerja Pauh belum terbentuk kegiatan pos UKK. Idealnya, kegiatan

pos UKK terdapat satu di setiap kelurahan.9

Program upaya kesehatan kerja di wilayah kerja Puskesmas Pauh, seperti promosi

kesehatan kerja dan upaya preventif tidak dapat dilaksanakan sesuai harapan. Berdasarkan

permasalahan tersebut, penulis tertarik untuk mengetahui penerapan upaya pencegahan

kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di Puskesmas Pauh.

1.1 Batasan Masalah

1.1.1 Bagaimana pelaksanaan program UKK di Puskesmas Pauh?

1.1.2 Bagaimana upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di

Puskesmas Pauh?

1.1.3 Masalah apa saja yang ditemui dalam pelaksanaan progam UKK di Puskesmas Pauh?

1.2 Tujuan Penulisan

1.2.1 Tujuan Umum

Mengetahui program UKK di wilayah kerja Puskesmas Pauh.

1.2.2 Tujuan Khusus

a) Untuk mengetahui pelaksanaan program UKK di Puskesmas Pauh.

b) Untuk mengetahui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di

Puskesmas Pauh.

c) Untuk mengetahui masalah dan upaya mengatasi masalah yang ditemui dalam

pelaksanaan progam UKK di Puskesmas Pauh.

3
1.3 Metode Penulisan

Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan pustaka yang merujuk kepada berbagai

literatur dan diskusi dengan penanggung jawab program UKK di Puskesmas Pauh.

4
BAB 2

2.1 Pengertian Kesehatan Kerja

Pengertian Kesehatan Kerja menurut joint ILO/WHO Committee 1995 ialah

penyelenggaraan dan pemeliharaan derajat setinggi-tingginya dari kesehatan fisik, mental

dan sosial tenaga kerja di semua pekerjaan, pencegahan gangguan kesehatan tenaga kerja

yang disebabkan kondisi kerjanya, perlindungan tenaga kerja terhadap resiko faktor-faktor

yang mengganggu kesehatan, penempatan dan pemeliharaan tenaga kerja di lingkungan

kerja sesuai kemampuan fisik dan psikologisnya, dan sebagai kesimpulan ialah penyesuaian

pekerjaan kepada manusia dan manusia kepada pekerjaannya. 1

Sedangkan menuurt Kemenkes RI (2007), Kesehatan kerja adalah suatu layanan untuk

peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan (fisik, mental, dan sosial) yang setinggi-

tingginya bagi pekerja disemua jabatan, pencegahan penyimpangan kesehatan yang

disebabkan oleh kondisi pekerjaan, perlindungan pekerja dari risiko akibat faktor yang

merugikan kesehatan, penempatan dan pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja

yang adaptasi antara pekerjaan dengan manusia dan manusia dengan jabatannya.10

2.2 Kecelakaan Kerja

2.2.1 Pengertian Kecelakaan Kerja

Menurut Departemen Tenaga Kerja RI, kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang

tiba-tiba atau yang tidak disangka-sangka dan tidak terjadi dengan sendirinya akan tetapi ada

penyebabnya. Heinrich (1980) berpendapat bahwa kecelakaan kerja merupakan kejadian

yang tidak terencana dan tidak terkendali akibat dari suatu tindakan atau reaksi suatu objek,

bahan, orang, atau radiasi yang mengakibatkan cidera atau kemungkinan akibat lainnya. Pada

Laporan Bulanan Kesehatan Pekerja (LBKP), kecelakaan kerja ialah semua kecelakaan yang

terjadi pada pekerja yang berhubungan dengan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi

5
dalam perjalanan berangkat kerja dari rumah menuju tempat kerja, dan pulang ke rumah

melalui jalan biasa atau wajar dilalui.11,12

2.2.2 Klasifikasi dan Penyebab Kecelakaan Kerja

Banyak standar referensi penerapan yang digunakan berbagai oleh perusahaan, salah

satunya adalah standar Australia AS 1885. Berikut adalah pengelompokan jenis cidera dan

keparahannya11:

a) Cidera fatal (fatality)

Kematian yang disebabkan oleh cidera atau penyakit akibat kerja .

b) Cidera yang menyebabkan hilang waktu kerja (Loss Time Injury)

Suatu kejadian yang menyebabkan kematian, cacat permanen, atau kehilangan hari

kerja selama satu hari kerja atau lebih.Hari pada saat kecelakaan kerja tersebut terjadi tidak

dihitung sebagai kehilangan hari kerja.

c) Cidera yang menyebabkan kehilangan hari kerja (Loss Time Day)

Semua jadwal masuk kerja yang mana karyawan tidak bisa masuk kerja karena cidera,

tetapi tidak termasuk hari saat terjadi kecelakaan.Juga termasuk hilang hari kerja karena

cidera yang kambuh dari periode sebelumnya.Kehilangan hari kerja juga termasuk hari pada

saat kerja alternatif setelah kembali ke tempat kerja.Cidera fatal dihitung sebagai 220

kehilangan hari kerja dimulai dengan hari kerja pada saat kejadian tersebut terjadi.

d) Tidak mampu bekerja atau cidera dengan kerja terbatas (Restricted duty)

Jumlah hari kerja karyawan yang tidak mampu untuk mengerjakan pekerjaan rutinnya

dan ditempatkan pada pekerjaan lainsementara atau yang sudah di modifikasi. Pekerjaan

alternatif termasuk perubahan lingungan kerja pola atau jadwal kerja.

e) Cidera dirawat di rumah sakit (Medical Treatment Injury)

6
Kecelakaan kerja ini tidak termasuk cidera hilang waktu kerja, tetapi kecelakaan kerja

yang ditangani oleh dokter, perawat, atau orang yang memiliki kualifikasi untuk memberikan

pertolongan pada kecelakaan.

f) Cidera ringan (first aid injury)

Cidera ringan akibat kecelakaan kerja yang ditangani menggunakan alat pertolongan

pertama pada kecelakaan setempat, contoh luka lecet, mata kemasukan debu, dan lain-lain.

g) Kecelakaan yang tidak menimbulkan cidera (Non Injury Incident)

Suatu kejadian yang potensial, yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja atau penyakit

akibat kerja kecuali kebakaran, peledakan dan bahaya pembuangan limbah.

Kecelakaan di tempat kerja dapat terjadi akibat berbagai faktor, yaitu faktor manusia

yang dipengaruhi oleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap, faktor material yang memiliki

sifat dapat memunculkan kesehatan atau keselamatan pekerja, faktor sumber bahaya, serta

faktor yang dihadapi seperti perawatan mesin yang kurang baik sehingga mesin tidak dapat

bekerja sempurna. Faktor-faktor tersebut berperan terhadap mekanisme kecelakaan yang

terjadi seperti jatuh dari ketinggian, tertabrak oleh objek yang bergerak, terpajan oleh suara

keras tiba-tiba, kontak dengan listrik, kontak tunggal dengan bahan kimia, dan mekanisme

lainnya yang semua tersebut terjadi saat melakukan pekerjaan.13

2.3 Penyakit Akibat Kerja

2.3.1 Pengertian Penyakit Akibat Kerja

Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja,

bahan, proses maupun lingkungan kerja. Penyakit akibat kerja merupakan gangguan

kesehatan baik jasmani maupun rohani yang ditimbulkan karena aktivitas kerja atau kondisi

yang berhubungan dengan pekerjaan.Sedangkan penyakit akibat hubungan kerja merupakan

7
penyakit yang timbul akibat banyak faktor dan faktor pekerjaan merupakan salah satu faktor

yang menyebabkan timbulnya penyakit.11,13

2.3.2 Penyebab Penyakit Akibat Kerja

Pada umumnya faktor penyebab penyakit akibat kerja dapat dikelompokkan dalam 5

golongan:13

a) Golongan fisik : suara (bising), radiasi, suhu (panas/dingin), tekanan yang sangat tinggi,

vibrasi, penerangan lampu yang kurang baik.

b) Golongan kimiawi : bahan kimiawi yang digunakan dalam proses kerja, maupun yang

terdapat dalam lingkungan kerja, dapat berbentuk debu, uap, gas, larutan, awan atau

kabut.

c) Golongan biologis : bakteri, virus atau jamur.

d) Golongan fisiologis / ergonomis : biasanya disebabkan oleh penataan tempat kerja dan

cara kerja.

e) Golongan psikososial : lingkungan kerja yang mengakibatkan stress.

Adapun penyakit akibat kerja antara lain penyakit paru dan saluran nafas seperti

penyakit silikosis, asbestosis, bisnosis,antrakosis, dsb, penyakit kulit, kerusakan

pendengaran, gejala punggung sendi, kanker, penyakit pembuluh darah, penyakit hati,

masalah neuropsikiatrik, serta penyakit yang tidak diketahui penyebabnya.13,15

Elemen pokok dalam mengidentifikasi penyakit akibat kerja ialah terdapat hubungan

antara pajanan yang spesifik dengan penyakit dan terdapat fakta bahwa frekuensi kejadian

penyakit pada populasi pekerja lebih tinggi daripada masyarakat umum.11

2.3.3 Pencegahan Penyakit Akibat Kerja

Penegakkan diagnosis penyakitakibat kerja dilakukan melalui pendekatan sistematis.

Tidak hanya mengandalkan pada pendekatan klinis namun harus menggunakan gabungan

dari pendekatan epidemiologis dan pendekatan klinis.Terutama digunakan apabila terdapat

8
gangguan kesehatan pada sekelompok pekerja sangat memerlukan pendekatan epidemiologis

dan pendekatan klinis digunakan untuk menegakkan diagnosis klinis pada tiap pekerja.Perlu

dilakukan identifikasi pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama bekerja di tempat kerja,

pajanan yang diidentifikasi tersebut harus bersesuaian dengan penyakit yang ditimbulkan

baik jenis pajanan maupun jumlah pajanan yang dapat menimbulkan efek berbahaya. Selain

itu, identifikasi faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi serta kemungkinan penyebab

lain tetap perlu dilakukan. Setelah semua informasi didapatkan, penegakan diagnosis

penyakit tergolong penyakit akibat kerja dapat diputuskan.12

Berikut ini beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam mencegah penyakit kerja,

diantaranya:16

a) Memakai alat pelindung diri secara benar dan teratur.

b) Mengenali resiko pekerjaan dan cegah upaya tidak terjadi lebih lanjut.

c) Segera akses tempat kesehatan terdekat apabila terjadi luka yang berkelanjutan.

d) Selain itu terdapat pula beberapa pencegahan lain yang dapat ditempuh seperti berikut

ini:

1) Pencegahan Primer (Health Promotion):

a) Perilaku kesehatan.

b) Faktor bahaya di tempat kerja.

c) Perilaku kerja yang baik.

d) Olahraga.

e) Gizi.

2) Pencegahan Sekunder (Specifict Protection):

a) Pengendalian melalui perundang-undangan.

b) Pengendalian administratif/organisasi: rotasi/pembatas jam kerja.

c) Pengendalian teknis: subtitusi, isolasi, alat pelindung diri (APD).

9
d) Pengendalian jalur kesehatan imunisasi.

3) Pencegahan Tersier:

a) Pemeriksaan kesehatan pra-kerja.

b) Pemeriksaan kesehatan berkala.

c) Pemeriksaan lingkungan secara berkala.

d) Surveilans.

e) Pengobatan segera bila ditemukan gangguan pada pekerja.

f) Pengendalian segera ditempat kerja.

Dalam pengendalian penyakit akibat kerja, salah satu upaya yang wajib dilakukan

adalah deteksi dini, sehingga pengobatan bisa dilakukan secepat mungkin. Dengan demikian,

penyakit bisa pulih tanpa menimbulkan kecacatan. Sekurang-kurangnya, tidak menimbulkan

kecacatan lebih lanjut. Pada banyak kasus, penyakit akibat kerja bersifat berat dan

mengakibatkan cacat.

2.4 Pusat Kesehatan Masyarakat

2.4.1 Pengertian Pusat Kesehatan Masyarakat

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.75 tahun 2014, Pusat Kesehatan Masyarakat

yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat

pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk mencapai derjat

kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.17

2.4.2 Fungsi Pusat Kesehatan Masyarakat

Puskesmas berperan sebagai penyelanggara upaya kesehatan untuk meningkatkan

kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar memperoleh

derjat kesehatan yang optimal. Puskesmas juga memiliki fungsi sebagai pusat penggerak

10
pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat, serta

pusat pelayanan kesehatan strata pertama.11

2.4.3 Upaya Kesehatan Puskesmas

Upaya kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas terdiri dari:11

a. Upaya Kesehatan Wajib

Merupakan upaya kesehatan yang wajib dilaksanakan oleh seluruhpuskesmas untuk

mendukung pencapaian standar pelayanan minimal kabupaten/kota bidang kesehatan. Upaya

ini terdiri dari pelayanan kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana, pelayanan

pengobatan, pelayanan kesehatan lingkungan, pelayanan promosi kesehatan, laboratorium

sederhana, pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit, pencatatan dan pelaporan.

b. Upaya Kesehatan Pengembangan

Merupakan upaya kesehatan yang kegiatannya memerlukan upaya bersifat inovatif,

disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan dan potensi sumber daya yang tersedia.

Upaya Kesehatan Pengembangan adalah Upaya Kesehatan Sekolah, Upaya Kesehatan

Olahraga, Upaya Kesehatan Kerja, Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut, Upaya Kesehatan Jiwa,

Upaya Kesehatan Lansia, dan sebagainya.

2.5 Upaya Kesehatan Kerja

Upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan

terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh

pekerjaan.Pengelola tempat kerja wajib menaati standar kesehatan kerja dan menjamin

lingkungan kerja yang sehat. Di samping itu, pengelola tempat kerja wajib bertanggung

jawab atas kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan kerja sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan.13

11
2.5.1 Pengertian Upaya Kesehatan Kerja

Berdasarkan buku Pedoman Pelaksanaan kesehatan kerja di Puskesmas, upaya

kesehatan kerja merupakan salah satu kegiatan upaya pengembangan Puskesmas dalam

rangka memberikan perlindungan kesehatan kerja bagi masyarakat pekerja di wilayah kerja

Puskesmas. Bentuk nyata dari kegiatan tersebut meliputi pelayanan kesehatan pada masyakat

pekerja yang berada di wilayah kerja Puskesmas terdiri dari bentuk upaya peningkatan

kesehatan, pencegahan penyakit akibat kerja, penyembuhan penyakit dan pemulihan

kesehatan.12

2.5.2 Tujuan dan Sasaran Upaya Kesehatan Kerja

a) Tujuan Umum

Meningkatkan kemampuan pekerja untuk menolong dirinya sendiri sehingga terjadi

peningkatan status kesehatan dan peningkatan produktifitas kerja melalui upaya kesehatan

kerja.

b) Tujuan Khusus

1) Peningkatan kemampuan masyarakat pekerja dalam upaya peningkatan kesehatan,

pencegahan penyakit akibat kerja, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.

2) Peningkatan keselamatan kerja dengan mencegah pemajanan bahan-bahan yang

dapat membahayakan lingkungan kerja dan masyarakat serta penerapan prinsip-

prinsip ergonomik.

3) Peningkatan pelayanan kesehatan bagi tenaga kerja informal dan keluarganya yang

belum terjangkau pelayanan kesehatan kerja. Meningkatkan kemitraan melalui

kerjasama lintas program, lintas sektor dan LSM dalam upaya kesehatan kerja.17

Sasaran dalam pelaksanaan Upaya Keselamatan dan kesehatan kerjadapat dibagi

menjadi :

a. Sasaran langsung

12
Sebagai sasaran langsung dari upaya kesehatan kerja di Puskesmas adalah

masyarakat pekerja di sektor kesehatan, antara lain: Puskesmas, Balai Pengobatan,

Laboratorium Kesehatan, Pos UKK dan Jaringan dokter perusahaan bidang kesehatan kerja.

b. Sasaran tidak langsung

Sasaran tidak langsung diberikan kepada masyarakat pekerja formal maupun pekerja

informal.18

2.5.3 Ruang Lingkup Upaya Kesehatan Kerja

Ruang lingkup upaya kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara

pekerja dengan pekerja dan lingkungan kerjanya baik secara fisik maupun psikis dalam cara /

metode kerja, proses kerja dan kondisi kerja yang bertujuan untuk:

a. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja di semua lapangan

pekerjaan yang setinggi tingginya baik secara fisik, mental maupun kesejahteraan

sosialnya.

b. Mencegah gangguan kesehatan masyarakat pekerja yang diakibatkan olehkeadaan/

kondisi lingkungan kerja.

c. Memberikan perlindungan bagi pekerja dalam melakukan pekerjaanya dari kemungkinan

bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.

d. Menempatkan dan memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan yang sesuai

dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjaan.18

2.5.4 Penyelenggaraan UKK di Puskesmas

Strategi yang dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan diselenggarakannya Upaya

Kesehatan Kerja ini dapat berupa:11

a) Dikembangkan secara terpadu dan menyeluruh dalam pola yankes puskesmas bagi

pekerja dan keluarganya.

13
b) Dilakukan melalui pelayanan paripurna, yang menekan pada pelayanan kesehatan kerja,

keselamatan kerja, kesehatan keselamatan kerja.

c) Dilakukan melalui peran serta aktif masyarakat pekerja melalui pendekatan PKMD.

Dalam menyelenggarakan Upaya Kesehatan Kerja di Puskesmas kegiatan yang dapat

dilakukan yaitu :11,13

1) Identifikasi masalah:

a) Pemeriksaan kesehatan

Dengan dilakukannya pemeriksaan awal, pemeriksaan berkala, dan perhatian khusus

pada organ tubuh yang mungkin terkena penyakit akibat kerja.

b) Pemeriksaan kasus

Merupakan pemeriksaan terhadap penderita yang datang berobat ke puskesmas atau

yang dirujuk oleh kader kesehatan.

c) Peninjauan tempat kerja

Untuk menentukan bahaya akibat kerja dan masalah yang dihadapi di tempat kerja(

fisik, kimia, biologis, fisiologi).

2) Kegiatan pencegahan (preventif):

a) Penyuluhan kesehatan/latihan mengenai bahaya penyakit akibat kerja, latihan tata

kerja yang benar dan cara menghindar bahaya akibat kerja (bahaya bahan kimia dan

zat-zat lainnya).

b) Kegiatan ergonomik bertujuan untuk mencapai kesesuaian antara alat kerja dengan

pekerjaan agar tidak terjadi stress fisik akibat kerja.

c) Kegiatan monitoring mengenai bahaya akibat kerja yang dilakukan oleh anggota

kelompok kerja yang dilatih untuk mendeteksi pencemaran zat kimia, pestisida, dll.

d) Perbaikan mesin / alat kerja yang ditujukan pada industri kecil dan pada

pemaparan/pencemaran karena bahan-bahan produksi.

14
e) Pemakaian alat pelindung yang disesuaikan dengan jenis pekerjaan dan bahaya yang

dihadapi serta

f) dilakukan untuk mencegah penyakit dan kecelakaan akibat kerja.

3) Kegiatan pengobatan (kuratif):

a) Pendekatan sistem organ tubuh (pengobatan yang pada organtubuh yang terkena)

b) Pendekatan jenis pernapasan (exposure)

Dengan cara menetapkan jenis pernapasan yang dialami pekerja serta kemungkinan

akibat patologinya.

c) Pengobatan secara spesifik ditujukan untuk mengatasi bahaya akibat kerja.

4) Kegiatan pemulihan (rehabilitatif):

a) Bertujuan untuk memulihkan fungsi alat tubuh yang cidera akibat penyakit dan

kecelakaan kerja.

b) Mengidentifikasi kasus yang membutuhkan pemulihan dan merujuknya ke RS atau

pusat rehabilitasi.

5) Kegiatan rujukan:

a) Rujukan medik(kasus yang tidak ditanggulangi oleh puskesmas untuk

pengobatan lebih lanjut).

b) Rujukan kesehatan ditujukan terhadap pencemaran lingkungan (ke Balai Teknis

Kesehatan Lingkungan (BTKL), Pusat Laboratorium Kesehatan Departemen

Kesehatan, Balai Hiperkes Depnaker.18

2.6 Pos Upaya Kesehatan kerja

Pos UKK merupakan wadah dari serangkaian upaya pemeliharaan kesehatan pekerja

yang terencana, teratur dan berkesinambungan yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk

masyarakat pekerja. Pos UKK merupakan bentuk upaya kesehatan bersumber daya

15
masyarakat (UKBM) yang memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat pekerja

terutama pekerja formal.15

Menurut Depkes RI (2006), Pos UKK diperlukan karena: 1) makin meningkatnya

jumlah pekerja dan sebagian besar belum mendapatkan pelayanan kes ehatan kerja yang

memadai, serta masih banyak tempat kerja yang belum melaksanakan kesehatan kerja; 2)

beberapa penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pekerja banyak mengalami penyakit

akibat kerja dan kecelakaan kerja yang dapat menurunkan produktivitas kerja; dan 3) Pos

UKK diperlukan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi peningkatan

kesehatan, pencegahan penyakit dan pengobatan sederhana bagi masyarakat pekerja yang

berisiko terpajan oleh pekerjaan dan lingkungan kerjanya sehingga mereka mampu menolong

dirinya sendiri.13

2.6.1 Dasar Hukum Pembentukan Pos UKK

a) Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 28 ayat (1) tentang hak untuk memperoleh pelayanan

kesehatan.

b) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja.

c) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.

d) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan BAB XII Kesehatan Kerja.

e) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.

f) Keputusan Menteri Kesehatan 128 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat

Kesehatan Masyarakat.

g) Keputusan Menteri Kesehatan 1758 Tahun 2003 tentang Standar Pelayanan Kesehatan

Dasar.

h) Kementerian Tenaga Kerja tentang kewajiban melapor PAK/PAHK.13

2.6.2 Tujuan Pembentukan Pos UKK

Tujuan pembentukan Pos UKK ini adalah:13

16
a) Tujuan Umum

Mewujudkan masyarakat pekerja yang sehat dan produktif.

b) Tujuan Khusus

1) Meningkatnya pengetahuan masyarakat pekerja tentang kesehatan kerja.

2) Meningkatnya kemampuan masyarakat pekerja, untuk menolong dirinya sendiri.

3) Meningkatnya pelayanan kesehatan kerja yang dilaksanakan oleh kader,

masyarakat pekerja dan tenaga kesehatan yang terlatih kesehatan kerja.

4) Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat pekerja terhadap

risiko dan bahaya akibat kerja yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

5) Meningkatnya dukungan dari pengambil kebijakan terhadap Pos UKK.

6) Meningkatnya peran aktif lintas program dan lintas sector terkait dalam

penyelenggaraan Pos UKK.

2.6.3 Persyaratan Pembentukan Pos UKK

a) Ada kelompok pekerja yang membutuhkan pelayanan kesehatan kerja.

b) Ada keinginan masyarakat pekerja membentuk Pos UKK.

c) Ada kesediaan masyarakat pekerja menjadi kader Pos UKK.

d) Ada tempat yang memadai untuk dijadikan Pos UKK yang dilengkapi dengan papan

nama Pos UKK, untuk melakukan kegiatan.

e) Tersedianya pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dan pertolongan pertama

pada penyakit (P3P).

f) Tersedianya contoh alat pelindung diri (APD) untuk pekerja sesuai dengan jenis

pekerjaannya.

g) Timbangan badan dan alat pengukur tinggi badan.

h) Meja, kursi, tempat tidur, dan lemari obat.

i) Adanya buku pencatatan dan pelaporan.

17
j) Adanya buku panduan dan media penyuluhan alat tulis.13

2.6.4 Tahap-Tahap Pembentukan Pos UKK

Pembentukan Pos UKK melalui tahap-tahap sebagai berikut:13

1) Pertemuan tingkat desa bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat pekerja

terhadap pentingnya kesehatan bagi pekerja dengan melibatkan perangkat desa, pekerja,

pengusaha, lintas sector terkait, LSM, dan lain-lain

2) Survey mawas diri bertujuan untuk melakukan identifikasi masalah kesehatan pekerja.

3) Musyawarah Masyarakat Desa bertujuan untuk menetapkan prioritas masalah dan

menetapkan rencana pemecahan masalah.

4) Pelatihan Kader Pos UKK bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan

kader dalam pelayanan kesehatan kerja.

5) Pembentukan Pos UKK bila langkah 1-4 sudah dilakukan.

6) Pembinaan Pos UKK.

2.6.5 Kader Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK)

Kader Pos Upaya Kesehatan Kerja (UKK) adalah pekerja, sukarela, yang bertugas

meningkatkan kesehatan diri dan kelompoknya. Persyaratan yang harus dipenuhi sebagai

kader UKK adalah dipilih dari dan oleh masyarakat pekerja, bisa baca tulis, tinggal di

lingkungan tempat bekerja, mau, mampu bekerja sukarela, mempunyai waktu, sudah dilatih

dan paham prinsip kesehatan kerja.13

2.6.6 Peran Kader Pos UKK

Peran kader pos UKK antara lain:13

a) Melakukan identifikasi masalah kesehatan di lingkungan kerja dan sumber daya

pekerja.

b) Menyusun rencana pemecahan masalah kesehatan di lingkungan kerja.

18
c) Melaksanakan kegiatan kesehatan di lingkungan kerja melalui promosi tentang

kesehatan kerja.

d) Menjalin kemitraan dengan berbagai pihak dalam upaya kesehatan di lingkungan kerja.

e) Melakukan pelayanan kesehatan kerja dasar, yakni upaya pelayanan yang diberikan

pada masyarakat pekerja secara minimal dan paripurna (peningkatan kesehatan kerja,

pencegahan dan penyembuhan penyakit akibat kerja dan penyakit akibat hubungan

kerja serta pemulihan PAK dan PAHK).

f) Melaksanakan kewaspadaan dini terhadap berbagai risiko dan masalah kesehatan

pekerja

g) Melaksanakan rujukan ke puskesmas

h) Pencatatan dan pelaporan.

2.6.7 Fungsi kader pos UKK

Setelah terlatih sebagai kader UKK, ada 13 (tiga belas) tugas pokok dan fungsi

(tupoksi) yang harus dijalankannya secara optimal, antara lain:13

1) Pertemuan Tingkat Pekerja (PTP): mengadakan sosialisasi upaya kesehatan kerja di

tempat kerja, merencanakan pelaksanaan survey mawas diri dan musyawarah

masyarakat pekerja

2) Survey Mawas Diri (SMD): pengenalan, pengumpulan, pengkajian masalah kesehatan

pekerja untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat pekerja mengenai kesehatan kerja

3) Musyawarah Masyarakat Pekerja (MMP): mengenal masalah kesehatan dan keselamatan

kerja, dengan pekerja, keluarga pekerja, petugas puskesmas, aparat pemerintah.

4) Membentuk Pos UKK: menentukan pengurus Pos UKK, jadwal kegiatan, rencana kerja

tahunan, target, pembiayaan, lokasi dekat tempat kerja

5) Perencanaan UKK: menentukan masalah kesehatan kerja berdasarkan hasil SMD,

menentukan prioritas masalah, perkiraan biaya, jadwal, rencana, dan target kegiatan

19
6) Penyuluhan UKK: materi tentang gizi, PHBS, kebersihan lingkungan, potensi, risiko

bahaya, penggunaan APD (alat pelindung diri), pengolahan limbah, penyakit dan

kecelakaan akibat kerja

7) Pemeriksaan Kesehatan, P3K DAN P3P: membantu petugas kesehatan, pemeriksaan

kesehatan umum, pengadaan dan pengelolaan kartu kunjungan, formulir status kesehatan

pekerja, membuat daftar penyakit akibat kerja, pemberian obat bebas pada penyakit

ringan

8) Upaya Rujukan: merujuk segera pasien kecelakaan, dan penyakit berat yang tidak bisa

tertangani.

9) Pencatatan Pelaporan: membuat laporan hasil pelaksanaan kegiatan pelayanan

10) Kerjasama Lintas Sektoral: pertemuan berkala dengan anggota pos UKK, pertemuan

ruitn teratur dengan petugas, kunjungan rumah kepada pekerja, membantu kesulitan

pekerja

11) Mengelola Sumber Keuangan UKK: mengatur sumber pemasukan dan pengeluaran Pos

UKK

12) Membantu Pemberdayaan Ekonomi Pekerja: integrasi kegiatan ekonomi yang

menguntungkan, pembentukan dan pengelolaan dana simpan pinjam (koperasi),

pemberiaan kredit modal usaha, penyediaan alatkesehatan kerja.

13) Membina Kemampuan Diri: meningkatkan pengetahuan melalui pelatihan dan

penataran, pertemuan rutin anggota UKK, kunjungan lapangan, melaksanakan kegiatan

secara kontinyu.

20
BAB 3

ANALISIS SITUASI

3.1 Gambaran Umum Puskesmas Pauh

3.1.1 Keadaan Geografis

Puskesmas Pauh terletak di Jalan Irigasi Pasar Baru Kelurahan Cupak Tangah

Kecamatan Pauh, berjarak sekitar + 8 Km dari pusat kota sebelah timur Kota Padang.

Wilayah kerja Puskesmas Pauh membentang pada 00 58’ Lintang Selatan, 1000 21’ 11’ Bujur

Timur, ketinggian 10 - 1.600 m dari permukaan laut dan terdiri dari 60 % dataran rendah dan

40 % dataran tinggi, curah hujan + 384.88 mm/tahun, temperatur antara 280 - 310 C. Jumlah

kelurahan sebanyak 9 Kelurahan yang terbagi menjadi 52 RW dan 176 RT dengan luas

wilayah + 146,29 Km2, adapun batas wilayah wilayah kerja Puskesmas Pauh adalah sebagai

berikut :

a. Sebelah timur berbatas dengan Kabupaten Solok.

b. Sebelah barat berbatas dengan Kecamatan Padang Timur dan Kecamatan Kuranji.

c. Sebelah utara berbatas dengan Kecamatan Koto Tangah.

d. Sebelah selatan berbatas dengan Kecamatan Lubuk Kilangan dan Kecamatan Lubuk

Begalung.3

Batas wilayah tersebut dapat juga kita lihat melalui peta wilayah kerja seperti terlihat

pada gambar dibawah ini :

21
KEC. KOTO TANGAH

U LAMBUNG BUKIT
KAB. SOLOK

KEC. KURANJI

LIMAU MANIS
KAPALO KOTO

CUPAK
TANGAH
BINUANG KP.
DALAM
LIMAU MANIS SELATAN

KEC. PADANG
TIMUR
PISANG KOTO LUAR
KEC. LUBUK KILANGAN
PIAI TANGAH
KEC. LUBUK
BEGALUNG

Gambar 3.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Pauh


Sumber: Laporan tahunan Puskesmas Pauh 2016
3.1.2 Keadaan Demografi

Peningkatan jumlah penduduk yang besar , penyebaran penduduk yang tidak merata

serta pertumbuhan penduduk yang tinggi akan berdampak kepada peningkatan pelayanan

kesehatan dan kondisi kesehatan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS)

diperoleh data kependudukan sebagai berikut :

Tabel 3.1 Jumlah Penduduk menurut Kelurahan3


No Kelurahan Penduduk KK RW RT
1 Pisang 9.062 1.799 7 23
2 Binuang Kampung Dalam 6.345 1.067 5 18
3 Piai Tangah 4.102 835 4 12
4 Cupak Tangah 9.830 3.234 6 21
5 Kapalo Koto 8.878 2.176 4 15
6 Koto Luar 8.255 1.651 6 25
7 Lambung Bukit 3.579 720 4 13
8 Limau Manis Selatan 10.620 2.086 8 31
9 Limau Manis 7.777 1.901 8 18
Jumlah 68.448 15.467 52 176
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh tahun 2016

Berdasarkan data di atas jumlah Penduduk Kecamatan Pauh adalah sebanyak 68.448

jiwa dengan jumlah KK 15.467, RT sebanyak 176 dan RW 52 dengan kepadatan penduduk

468/km².

22
3.1.3 Kondisi Sosial Budaya dan Ekonomi

Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Pauh sebagian besar beragama Islam. Warga non

muslim, umumnya adalah kaum pendatang dari luar propinsi. Di tengah perbedaan suku,

agama dan budaya, aktifitas sosial dan peribadatan penduduk berjalan dengan baik.

Mata pencaharian penduduk beraneka ragam, mulai dari bertani, buruh, pedagang,

wiraswasta, pegawai swasta, pegawai negeri, ABRI dan lain-lain. Pekerjaan sebagai buruh

umumnya adalah buruh pabrik dan industri rumah tangga yang terdapat di beberapa

kelurahan. Aktifitas perekonomian dalam lingkungan menengah ke bawah, juga berjalan

sangat dinamis.

Tabel 3.2 Jenis UKK di masing-masing kelurahan di Kecamatan Pauh


Jenis UKK Lb. Koto Pisan Binua Lm. Lm. Kepal Cupa Piai Juml
Bukit Luar g ng Mani Mani a k Tang ah
s s Sl Koto Tang ah
ah
Industri 1 3 3 3 4 2 1 4 3 24
Makanan
Industri 2 5 2 3 1 6 4 7 3 33
Minuman
Bengkel 2 2 - 1 1 1 5 - - 11
Penjahit/Ko 2 11 2 1 1 2 5 1 6 30
nveksi
Perabot - 3 1 1 - - - 1 1 9
Batu Merah 1 - - - - 1 - - - 1
Usaha 2 - - 1 - - - 1 - 5
Ternak
Salon - 3 1 - - - - 3 - 7
Kelompok 1 - - - 1 - 1 - - 3
Tani
Dll 5 1 1 1 1 - 1 1 1 12
Sumber: Laporan tahunan Puskesmas Pauh 2016

3.2 Pelayanan Upaya Kesehatan Kerja di Puskesmas Pauh

Pelayanan Upaya Kesehatan Kerja di Puskesmas Pauh merupakan salah satu Program

Unit Kesehatan Masyarakat - Pengembangan (UKM-P) di Puskesmas Pauh. Kegiatan

program kesehatan kerja Puskesmas Pauh terdiri dari dua agenda utama yaitu agenda dalam

gedung dan agenda luar gedung. Agenda dalam gedung dilakukan sesuai dengan jam

23
pelayanan yang ada di puskesmas Pauh. Agenda luar gedung UKK puskesmas Pauh belum

ada terlaksana. Baik pembuatan Pos UKK atau pun adanya pembinaan wilayah.

Pada Puskesmas Pauh penanggungjawab kegiatan UKK ada 2 orang Pembina tiap

wilayah. Sedangkan untuk pelaksaannya sendiri dilakukan bersama dengan lintas program

seperti Kesling, Promkes, ataupun PTM.

Rekapitulasi pekerja sakit yang dilayani di Puskesmas Pauh dapat dilihat pada tabel

berikut:

Tabel 3.3 Kasus Penyakit akibat kerja dan kecelakaan akibat kerja di wilayah kerja
puskesmas Pauh tahun 2016
Uraian Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agus Sep Okt Nov Des
Penyakit 89 80 82 83 94 92 94 101 102 115 116 107
umum
Diduga 5 4 6 5 6 4 6 8 10 7 10 10
PAK
PAK 3 2 2 2 2 2 2 3 3 3 6 3
KAK - - - - - - - - - - - -
Jumlah 97 86 90 90 102 98 102 112 115 125 132 120

Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh tahun 2016

Pada tabel 3.2 dapat dilihat tidak banyak ditemukan kasus penyakit akibat kerja di

wilayah Puskesmas Pauh selama tahun 2016. Sedangkan untuk kecelakaan akibat kerja tidak

ada ditemukan di wilayah Puskesmas Pauh pada tahun 2016.

24
BAB 4

PEMBAHASAN

Upaya kesehatan kerja termasuk kepada upaya kesehatan masyarakat pengembangan

dengan tujuan memberikan perlindungan kesehatan kerja dan pencegahan penyakit akibat

kerja bagi masyarakat pekerja di wilayah kerja Puskesmas. Upaya kesehatan kerja mencakup

kegiatan pelayanan, pendidikan dan pelatihan serta penelitian di bidang kesehatan melalui

upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit termasuk pengendalian faktor resiko,

penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan termasuk pemulihan kapasitas kerja.3

Program UKK (Upaya kesehatan kerja) ini sudah ada di Puskesmas Pauh baik UKK (Upaya

kesehatan kerja) di luar maupun dalam gedung.

Program upaya kesehatan kerja Puskesmas Pauh terdiri dari dua agenda utama yaitu

agenda dalam gedung dan agenda luar gedung. Agenda dalam gedung berupa peningkatan

kesehatan melalui penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan kerja dan pemulihan bagi

pekerja di Puskesmas Pauh serta penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan bagi

pekerja yang mendapatkan kecelakaan atau penyakit akibat kerja di wilayah kerja Puskesmas

Pauh. Agenda luar gedung berupa kegiatan peningkatan kesehatan dan pencegahan

kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja pada tempat-tempat kerja di wilayah kerja

Puskesmas Pauh.

Pos UKK adalah salah satu bagian program dari upaya kesehatan di Puskesmas Pauh.

Sesuai dengan data pada Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2016, belum terbentuk

satupun pos UKK di tempat-tempat kerja di Puskesmas Pauh. Kegiatan UKK yang sudah

terlaksana masih hanya dalam bentuk kegiatan dalam gedung, serta penyuluhan di beberapa

tempat kerja.

Pelaksana penyuluhan UKK terdiri dari petugas Kesling, petugas Promkes, petugas

PTM (penyakit tidak menular), petugas HIV, dokter, dan dokter gigi. Dari hasil diskusi

25
dengan pemegang program sebelumnya, pembentukan pos UKK di wilayah kerja Puskesmas

Pauh pada tahun 2016, masih belum dapat terwujud. Hal ini dikarenakan pemegang program

masih bingung dengan tugas dan fungsinya, pemegang program sudah pernah mengusahakan

untuk pergi ke perusahaan seperti “AIA dan BATAKO” tapi dari pihak perusahaan tidak

terbuka, mungkin dikarenakan tidak adanya surat tugas dari puskesmas, lalu para pekerja

enggan menyisihkan waktunya untuk menjadi kader UKK sehubungan dengan pekerjaannya

yang diupah per jam, para pekerja merasa rugi jika waktu bekerja mereka jadi berkurang.

Beberapa perusahaan atau tempat kerja juga mempunyai program kesehatan mereka sendiri

seperti pemeriksaan medis berkala, yang menyebabkan perusahaan pekerja merasa belum

perlu dibentuknya pos UKK di tempat mereka. Kegiatan UKK pada tahun 2016 hanya dalam

bentuk penyuluhan pada masing-masing tempat kerja. Pembinaan dan penyuluhan yang

hanya dilakukan setahun sekali, ditambah dengan belum adanya data konkrit mengenai

pembentukan pos UKK di tahun 2017 ini menyebabkan pencatatan dan pelaporan program

UKK Puskesmas Pauh kurang berjalan.

Kegiatan dalam gedung, yakni penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan bagi

pekerja dilakukan sesuai dengan prosedur pelayanan di Puskesmas Pauh sudah berjalan

dengan baik. Pelayanan untuk kecelakaan dan penyakit akibat kerja sama saja dengan

pelayanan penyakit umum lainnya. Namun apabila diagnosis pasien mengarah ke penyakit

akibat kerja maka dokter yang menangani langsung melaporkan ke bagian UKK.

26
BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Pelaksanaan program Upaya Kesehatan Kerja di Puskesmas Pauh belum berjalan dengan

optimal. Program Upaya Kesehatan Kerja ini terdiri dari Upaya Kesehatan Kerja dalam dan

luar gedung. Pelaksanaan Upaya Kesehatan Kerja luar gedung belum terlaksana dengan baik

sedangkan Pelaksanaan Upaya Kesehatan Kerja dalam gedung disesuaikan dengan pelayanan

puskesmas biasa. Masalah pelaksanaan program Upaya Kesehatan Kerja di Puskesmas Pauh

secara umum adalah tidak adanya kesadaran masyarakat pekerja akan pentingnya Upaya

Kesehatan Kerja yang diadakan di puskesmas, belum ada kesediaan masyarakat pekerja

untuk menjadi kader Pos UKK dan banyak para pekerja yang lebih memilih berobat ke bidan

terdekat, maupun keklinik terdekat daripada kepuskesmas serta belum optimalnya pencatatan

dan pelaporan mengenai upaya kesehatan kerja di puskesmas Pauh.

5.2 Saran

1. Melanjutkan dan mengoptimalkan kegiatan luar gedung berupa penyuluhan dan

pembinaan berupa edukasi kepada pekerja formal ataupun informal di wilayah kerja

Puskesmas Pauh

2. Membuat pos UKK (Upaya Kesehatan Kerja) dan kader-kadernya untuk program Upaya

Kesehatan Kerja luar gedung

3. Mengoptimalkan pelaksanaan, pencatatan, maupun pelaporan kegiatan dalam gedung

yang masih kurang baik.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Alli, BO. Fundamental principles of Occupational Health and Safety, 2nd edition, ILO,
Geneva. (2008)

2. Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang

Kesehatan. 2009

3. Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia. Undang-undang No.13 Tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan. 2003

4. BPJS Ketenagakejaan. Program JKK Perlindungan Terhadap Pekerja. Departemen K3

FKM UI. Depok. 2014

5. Departemen Kesehatan RI, Direktorat Bina Kesehatan Kerja, Direktorat Jenderal Bina

Kesehatan Masyarakat 2007. Strategi Nasional Kesehatan Kerja di Indonesia. Jakarta.

2007

6. Badan Pusat Statistik. www.bps.go.id diunduh pada tanggal 1 Januari 2018

7. Mentri Kesehatan Republik Indonesia. Kemenkes No. 128/MENKES/SK/II/24 tentang

kebijakan dasar puskesmas.

8. Depkes RI. Pedoman Pelaksanaan Upaya Kesehatan Kerja di Puskesmas. Jakarta; 2006.

9. Puskesmas Pauh. Laporan Tahunan Kesehatan Pekerja Puskesmas Pauh 2016. Padang:

Puskesmas Pauh; 2016.

10. Kemenkes RI. Pedoman Manajemen Kesehatan dan keselamatan Republik Indonesia.

Jakarta; 2007.

11. Bradaningsih L, Enny ZK. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. UNS. 2014;1-21.

12. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Bulanan Kesehatan Pekerja.

Kemenkes [serial online] 2018. Tersedia dari: URL: www.kemkes. go.id.

13. Agus Y. Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sebagai Upaya Pencegahan

Kecelakaan Kerja. 2010.

14. Buchari. Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja. 2007;1-21.

28
15. Depkes RI. Pos Upaya Kesehatan Kerja Edisi ke Empat. Jakarta; 2006.
16. Depkes RI. Pedoman Pelaksanaan Upaya Kesehatan Kerja di Puskesmas. Jakarta; 2009.

17. Permenkes RI. Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta; 2014.

18. Depkes RI. Pedoman Pelaksanaan Upaya Kesehatan Kerja di Puskesmas. Jakarta; 2004

29