Anda di halaman 1dari 51

FILSAFAT MODERN, KONTEMPORER, DAN

POSTMODERNISME
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu
Dosen: Dr. Jaka Isgiyarta, M.Si, Ak, CA.

Disusun Oleh :
1. Bintang Andini 12030117410016
2. Habsyah Fitri Aryani 12030117410037
3. Rizky Ridhasyah 120301174100
4. Ronia Tambunan 12030117410043

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb
Puji Syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang senantiasa memberikan rahmat serta karunian-Nya. Sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah yang berjudul “Filsafat Modern, Kontemporer, dan
Postmodern” ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Filsafat
Ilmu yang diampu oleh Dr. Jaka Isgiyarta,M.Si. Akt, CA.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya. Penulis juga menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini
masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis menerima saran dan kritik
yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan.
Akhir kata, penulis mengucapkan banyak-banyak terima kasih
kepada semua pihak yang turut membantu dan menyelesaikan makalah
ini.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Semarang, 04 Desember 2017

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Modern selalu vis a vis tradisional. Maksud kalimat tersebut bahwa
“modern” muncul bukan tanpa alasan, kata itu muncul dari sejarah yang panjang
dan menggemparkan, muncul sebagai symbol antithesis, perlawanan,
pemberontakan, dan penolakan terhadap yang lampau dan tradisional.
Dalam peradaban Yunani dan Arab abad pertengahan ada sebagian
kelompok yang menyebut diri sebagai kelompok modern sebagai simbol resistensi
generasi tua yang di dalam tradisi Arab disebut sebagai mutaakhirun yang artinya
sama dengan modern. Ada beberapa kriteria pemikiran yang bisa disebut
“modern”. Pada umumnya kriteria modern itu adalah apabila ada sesuatu yang
baru, lain dengan biasanya, berada dan bahkan bertentangan dengan kebiasaan-
kebiasaan, tradisi atau adat istiadat termasuk adat keagamaan.
Modern adalah apabila ada gerakan atau dinamika untuk menolak atau
meninggalkan hal-hal yang dianggap sebagai masa lalu dan menganut hal-hal
yang dianggap baru. Pada zaman modern ada periode yang disebut Renaissance
(“kelahiran kembali”).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan filsafat Modern ?
2. Bagaimana perkembangan filsafat Kontemporer?
3. Bagaimana filsafat Postmodern ?
4. Bagaimana pandangan Islam terhadap filsafat modern kontemporer,
dan postmodern
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui perkembangan filsafat modern
2. Untuk mengetahui perkembangan filsafat kontemporer
3. Untuk mengetahui perkembangan ilmu filsafat postmodern
4. Untuk mengetahui siapa saja filsuf muslim yang muncul filsafat
modern, kontemporer, dan postmodern
BAB II

I. FILSAFAT MODERN
Pada umumnya kriteria modern itu adalah apabila ada sesuatu yang baru,
lain dengan biasanya, berada dan bahkan bertentangan dengan kebiasaan-
kebiasaan, tradisi atau adat istiadat termasuk adat keagamaan. Modern adalah
apabila ada gerakan atau dinamika untuk menolak atau meninggalkan hal-hal
yang dianggap sebagai masa lalu dan menganut hal-hal yang dianggap baru. Pada
zaman modern ada periode Renaissance (kelahiran kembali).
A. Filsafat Renaissance
1. Niccolo Machiavelli ( 1469 - 1527 )
Machiavelli lahir tahun 1469 di Florence, Italia dan meninggal tahun
1527 pada umur 58 tahun. Semasa hidupnya, Machiavelli menulis beberapa
buku, yaitu The Prince (Sang Pangeran) 1513, The Discourses upon the
Firts Ten Books of Titus Livius (Pembicaraan terhadap Sepuluh Buku
Pertama Titus Livius) 1932, The Art of War (Seni Berperang) 1520, A
History of Florence (Sejarah Florence), La Mandragola (suatu drama
kadang-kadang masih dipertanggungjawabkan orang).
2. Francis Bacon ( 1561 - 1626 )
Francis Bacon adalah tokoh peletak dasar bagi metode induksi modern
dan menjadi pelopor yang mensistematisasi secara logis prosedur ilmiah.
Seluruh filsafatnya bersifat praktis, yaitu untuk menjadikan manusia
menguasai kekuatan-kekuatan alam dengan perantaraan penemuan-
penemuan ilmiah. Semboyan Bacon yang terkenal adalah Knowledge is
power. Engan ilmu manusia dapat menundukkan alam.
3. Blaise Pascal ( 1623 - 1662 M )
Blaise Pascal berasal dari Prancis. Minat utamanya filsafat dan agama,
sedangkan hobinya yang lain adalah matematika dan geometri proyektif.
Bersama Pierre de Fermat menemukan teori tentang probabilitas. Pada
awalnya minat riset Pascal lebih banyak dari pada bidang ilmu pengetahuan
dan ilmu terapan. Terbukti, saat itu dia telah berhasil menciptakan mesin
penghitung yang dikenal pertama kali. Pascal dikenal sebagai orang jenius
yang religius dan filosofis yang tak tertandingi pada zamannya.
4. Thomas Hobbes ( 1588 1679 M )
Masterpiece Hobbes merupakan filsafat politik umum pertama yang
besar dan komprehensif. Karya Hobbes tersebut sebagai upaya untuk
menjustifikasi absolutisme penguasa pada saati itu. Ia berusaha meletakkan
fondasi teoritis bagi pemerintahan yang absolut secara umum, baik monarki,
kediktatoran, maupun parlemen.
B. Filsafat Modern
Pada zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari
kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri
manusia sendiri. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan
adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Sebaliknya aliran
empirisme menyakini pengalamanlah umber pengetahuan itu, baik yang batin
maupun yang indriawi. Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba
memadukan kedua pendapat berbeda itu.
1. Rene Descartes ( 1596 - 1650 )
Descartes biasa dikenal sebagai Cartesius. Ia adalah seorang filsuf dan
matematikawan Prancis. Karyanya yang terpenting adalah Discours de la
methode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641). Tokoh
rasionalisme ini beranggapan bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam
pikiran. Decrates menerima 3 realitas atau substansi bawaan yang sudah ada
sejak lahir, yaitu realitas pikiran (res cogitan), realitas perluasan (res
extensa, “extention”) atau mater, dan Tuhan (sebagai wujud yang seluruhnya
sempurna, penyebab sempurna dari kedua realitas itu).
2. Baruch de Spinoza ( 1632 - 1677 )
Karya utama Spinoza adalah Ethics. Secara umum, buku Spinoza
tersebut menggunakan metode Cartesian dan berusaha membuat hipotesis
mengenai kehidupan ini bahwa ada dan hanya satu substansi dengan banyak
sifat yang tak terbatas jumlahnya. Dalam konteks ini, manusia dan Tuhan
adalah satu substansi meski berbeda. Inilah yang membuat sebagian orang
bisa menerima tapi tidak sedikit yang mampu memahami pemikiran filsafat
Spinoza karena memang membingungkan.
3. Leibniz ( 1646 - 1716 )
Leibniz termasuk pengagum sekaligus pengkritik Descartes. Baginya,
dia khawatir tentang kehidupan dan bagaimana menjalani hidup. Tetapi
berbeda dengan Spinoza yang kesepian, ia justru termasuk orang yang kaya
raya dan dipuja. Leibniz juga dikenal sebagai penemu kalkulus bersama
Newton.
4. John Locke ( 1632 - 1704 )
John Locke adalah tokoh pembawa gerbong aliran empirisme dalam
filsafat. Yakni, sebuah aliran yang mengimani bahwa semua pikiran dan
gagasan manusia berasal dari sesuatu yang didapat melalui indra atau
pengalaman. Locke sering disebut sebagai tokoh yang memberikan titik
terang dalam perkembangan psikologi. Teori yang sangat penting darinya
adalah tentang gejala kejiwaan adalah bahwa jiwa itu pada saat mula-mula
seseorang dilahirkan masih bersih bagaikan sebuah “tabula rasa”.
5. David Hume ( 1711 -1776 )
Pada David Hume aliran empirisme memuncak. Empirisme
mendasarkan pengetahuan bersumber pada pengalaman, bukan rasio. Hume
memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Dua hal dicemati
oleh Hume adalah “substansi” dan “kausalitas”. Hume tidak menerima
“substansi”, sebab yang dialami manusia hanya kesan-kesan saja tentang
beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan.
Kesan adalah hasil pengindraan langsung atas realitas lahiriah, sedang
gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan.
6. George W. F. Hegel ( 1770 - 1831 M )
Di masa kecilnya, ia sering membaca literatur, surat kabar, esai
filsafat, dan tulisan-tulisan tentang berbagai topik lainnya. Masa kanak-
kanaknya yang rajin membaca mungkin disebabkan oleh ibunya yang luar
biasa progresif dan aktif mengasuh perkembangan intelektual anak-anaknya.
7. Immanuel Kant ( 1724 – 1804 M )
Filsafat kritisnya bertujuan untuk menjembatani pertentangan antara
kaum rasionalisme dan kaum empirisme. Pengetahuan yang dihasilkan oleh
kaum rasionalisme tercermin dalam putusan yang bersifat analistik-apriori
yaitu suatu bentuk putusan di mana predikat sudah termasuk dengan
sendirinya ke dalam subjek. Sedangkan kaum empirisme, putusan bersifat
sintetik-apriori, yaitu di mana predikat belum termasuk ke dalam subjek.
Kant memadukan keduanya dalam bentuk putusan sintetik-apriori, yaitu
suatu ptusan yang bersifat umum universal dan pasti, dengan tiga bidang
sebagai tahapan yang harus dilalui yaitu indriawi, akal dan rasio. Bagi Kant,
pengetahuan adalah produk dan konstruksi akal pikiran manusia, bukan
hasil penampakkan.

a) Kritik Akal Murni, pengetahuan manusia penuh dengan keterbatasan


yang mengilhami Kant dalam melihat realitas, yang selalu memiliki hal
yang empiris dan transedental
b) Kritik Akal Praktis, bagian ini berbicara mengenai moral yakni cabang
filsafat yang melalui kegiatannya dengan pertanyaan-pertanyaan untuk
membantu kita menjadi orang yang lebih baik.
c) Kritik Penimbangan, berkaitan dengan estetika mengenai keindahan,
rasa estetik yang dialami dari suatu objek yang dinilai indah harus tanpa
kepentingan.

8. Soren Kierkegaard ( 1818 – 1855 M )

Inti pemikiran filsafat Kierkegaard selain mendasarkan pada individu


juga ingin menegaskan jalan hidupnya pada ajaran agama Kristen yang
dibedakannya dengan ironi yang besar dan kerap menyindir dari keyakinan
lunak dan pegangan sosial Kristen.

Menurut Kierkegaard, eksistensi manusia memiliki tiga tahap yaitu :


1. Tahap Eksistensi Estetis, orientasi hidup manusia sepenuhnya
diarahkan untuk mendapatkan kesenangan. Manusia dikuasai oleh
naluri-naluri seksual, prinsip-prinsip kesenangan yang hedonistik, dan
bertindak menurut suasana hati (mood).
2. Tahap Eksistensi Etis, individu mulai menerima kebajikan-kebajikan
moral dan memilih untuk mengikatkan diri padanya. Manusia dalam
tahap ini melawan segala penyimpangan ketidakadilan dan kezaliman
yang menentang keluhuran nilai-nilai kemanusiaan.
3. Tahap Religius, tahap ini tidak menggunakan pertimbangan-
pertimbangan rasional, tidak dibutuhkan alasan-alasan ilmiah, yang
diperlukan hanyalah keyakinan subjektif berdasarkan iman. Manusia
religius hidup dalam Tuhan hanya mengikuti jalan Tuhan dan tidak lagi
terikat pada nilai-nilai kemaanusiaan yang bersifat universal (etis)
maupun tuntutan pribadi dan masyarakat.

9. Karl Marx ( 1818 – 1883 M )

Karl Marx lahir di Trier, Jerman tahun 1818, dari keluarga ruhaniwan
Yahudi. Marx lebih dikenal sebagai seorang tokoh sejarah ekonomi, ahli
filsafat dan aktivis revoluisoner yang mengembangkan teori mengenai
sosialisme yang kemudian dikenal dengan Marxisme sebagai seorang
perintis sosiologi. Pemikiran Marx sangat kompleks, berikut ini diuraikan
pemikirannya yang sangat penting :

a. Materialisme Historis dan Materialisme Dialektis

Materialisme historis merupakan pandangan ekonomi terhadap


sejarah untuk menunjukkan sikapnya yang bertentangan dengan filsafat
idealisme. Dalam filsafat materialisme diebutkan adanya anggapan dasar
bahwa kenyataan berada diluar persepsi manusia, demikian juga diakui
adanya kenyataan objektif sebagai penentu terakhir ide. Konsep
materialisme dialektis, Marx datang dengan pendapatnya yang ingin
menjadikan dialektika tersebut sebagai dialektika materi, yaitu bahwa
dialektika terjadi di dunia nyata atau dunia materi.

b. Teori Kelas

Marx berpandangan bahwa sejarah masyarakat manusia merupakan


sejarah perjuangan kelas. Menurutnya, perkembangan pembagian kerja
dalam kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda: kelas yang
terdiri atas orang yang menguasai alat produksi yang dinamakan kaum
borjuis, yang mengeksploitasi kelas yang terdiri dari orang yang tidak
memiliki alat produksi, yaitu kaum proletar.

c. Teori Nilai

Teori ini terdiri dari empat subteori, yaitu :

1. Teori tentang nilai 3. Teori tentang nilai lebih


pekerjaan
4. Teori tentang laba
2. Teori tentang nilai tenaga
kerja

d. Mode of Production
Mode of production adalah kombinasi kekuatan –kekuatan
produksi ( tenaga buruh, mesin, bangunan, materi dan tanah), relasi sosial
dan teknik produksi ( kepemilikan, kekuasaan, aset-aset produktif
masyarakat) dan relasi-relasi kelas-kelas sosial.

e. Base and Superstructure

Teori tentang basis dan bangunan atas berarti bahwa struktur-


struktur kekuasaan politis dan ideologis ditentukan oleh struktur
hubungan hak milik, jadi oleh struktur kekuasaan dibidang ekonomi.

f. Alienasi

Pandangan Marx tentang alienasi dibentangkan dalam karyanya


Economic and Philosophical Manuscripts of 1844. Alienasi merupakan
proses konkretisasi hakikat batin manusia yang kemudian menjadi barang
mati, dan menceraikan manusia yang satu dengan yang lain. Menurut
Marx, bekerja seharusnya merupakan perealisasian diri manusia sehingga
bekerja pasti menggembirakan dan memberikan kepuasan.

10. Frieddrich Nietzsche (1844 – 1900 M)


Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang “kebenaran” atau
dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme. Ia memprovokasi dan
mengkritik kebudayaan barat di zamannya yang sebagian besar dipengaruhi
oleh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan (keduanya mengacu pada
paradigm kehidupan setelah kematian, sehingga menurutnya anti dan
pesimis terhadap kehidupan).
a. Menyingkap “The Death of God”
Dalam konteks ini Tuhan tidak lagi mampu untuk berperan sebagai
sumber dari semua aturan moral atau teleologi. Kematian Tuhan adalah
sebuah cara untuk mengatakan bahwa manusia tidak lagi mampu
mempercayai tatanan kosmis apa pun yang seperti itu karena mereka
sendiri tidak lagi mengakuinya. Kematian Tuhan kata Nietzsche, akan
membawa bukan hanya kepada penolakan terhadap keyakinan kosmis
atau tatanan fisik, tetapi juga kepada penolakan terhadap nilai – nilai
mutlak itu sendiri - kepada penolakan terhadap keyakinan akan suatu
hukum moral yang objektif dan universal, yang mengikat semua
individu. Cara itu membawa pada nihilism, dan inilah yang diusahakan
Nietzsche untuk menemukan suatu pemecahan dengan mengevaluasi
kembali dasar – dasar dari nilai – nilai manusia.
b. Jejak Filsafat Friedrich Nietzsche
Dua penerimaan terpenting atas karya Nietzsche di masa mutakhir
ini semuanya berlangsung di dalam konteks yang biasa disebut sebagai
pemikiran potstrukturalis Prancis dan dalam konteks berakhirnya
strukturalisme. Sementara dalam karya Foucault, konsep Nietzsche
tentang genealogi adalah mendapatkan perhatian. Sedangkan dalam
karya Derrida, yang mendapat perhatian adalah dekonstruksi Nietzsche
terhadap ide tentang kebenaran serta sejarah metafisika.

c. Nietzsche: Culture, Power, dan Truth


Bagi Nietzsche, tragedy bukanlah sekedar produk kebudayaan,
tetapi produk “impuls – impuls seni dari alam” yang mendasari
kebudayaan. Upaya Nietzsche untuk mendasarkan kebudayaan pada
kekuatan – kekuatan yang non-kultural, serta upaya untuk mendasarkan
kebudayaan pada bentuk – bentuk yang paling tak refleksif sperti adat
istiadat. Nietzsche melanjutkan kajiannya tentang sejarah moral – moral
alamiah, nonteologis, dalam kaitannya dengan pembedaaan antara baik
dan buruk serta baik dan jahat. Gagasan tentang kehidupan dan
kekuasaan itu memberi Nietzsche suatu basis biologis bagi kreativitas
yang menggantikan basis filosofis alamiah sebelumnya.
d. “Mazhab” Nihilisme
Dalam pemikiran Nietzsche, narasi besar yang keambrukannya
mengawali kondisi postmodern adalah kristianits. Kematian Tuhan
mengakibatkan pula putusnya korelasi kosmologis di dalam ide tentang
Tuhan; yakni penyelenggaraan ilahi. Dipihak lain, Nietzsche
merumuskan manusia-unggul beserta hubungan kosmologinya; yakni
suatu yang tanpa akhir, dunia yang berlangsung abadi. Nietzsche adalah
pemikir tentang pelbagai akhir, dan dalam hal ini seharusnya dipahami,
terutama dan pertama-tama, sebagai alhir dari interpretasi duniawi
Kristen bagi seluruh kaitan sosial, psikis, dan filosofinya.

11. Schopenhauer (1788 – 1860)


Bagi Schopenhauer, dunai fenomena itu adalah dunia ilusi. Sejauh
kita menganggap diri kita sebagai bagian dunia tersebut, kita tidak
mengetahui realitas mendalam yang mendasarinya, realitas noumena,
benda dalam dirinya sendiri. Kehendak bagi Schopenhauer tidak khas
bagi agen manusia. Kehendak hanya ada pada yang Esa dan ia mendasari
segala sesuatu. Mengikuti Empat kebenaran mulia buddhisme,
Schopenhauer bersikeras bahwa segenap kehidupan adalah penderitaan.
Menurutnya penderitaan disebabkan oleh keinginan, dankita dapat
mengurangi penderitaan seperti yang diajarkan Buddhis dengan
menyudahi keinginan tersebut.
12. Edmund Husserl (1859 – 1938)
Edmund adalah filsuf Jerman keturunan yahudi. Edmund menjadi
pelopor filsafat fenomenologi. Fenomena atau fenomenologi memiliki arti
“gejala semua atau lawan bendanya sendiri (penampakan)”. Menurut
pengikut fenomenologi, satu fenomena tidak selalu harus dapat diamati
dengan indra. Sebab fenomena dapat juga dilihat atau ditilik secara ruhani,
tanpa melewati indra, fenomena tidak perlu suatu peristiwa.
a. Filsafat Fenomenologi
Husserl memahami fenomenologi sebagai analisis deskriptif dan
introspeksi mengenai kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan
pengalaman langsung. Sebagai metode, fenomenologi membentangkan
langkah –langkah yang harus diambil sehingga sampai pada fenomena
yang murni. Sebagai filsafat, fenomenologi memberi pengetahuan yang
perlu dan esensial mengenai apa yang ada. Fenomenologi dapat
dijelaskan sebagai metode kembali kepada benda itu sendiri, dan
desebabkan benda itu merupakan objek kesadaran langsung bentuk
murni.
b. Metode Fenomenologi
Keputusan harus ditunda, atau dikurung dulu untuk memahami fenomena.
Pengetahuan yang ktia miliki tentang fenomena itu harus kita tanggalkan
atau lepaskan dulum agar fenomena itu dapat menampakkan dirinya
sendiri. Menurut filsafat fenomenologi yang diajukan Husserl, usaha untuk
mencapai hakikat segala sesuatu itu melalui reduksi atau penyaringan yang
terdiri dari:
1) Reduksi Fenomenologi: harus menyaring pengalaman – pengalaman
dengan maksud mendapat fenomena dalam wujud semurni-murninya.
Kita harus melepaskan benda – benda itu dari pandangan – pandangan
lain: agama, adat, ilmu pengetahuan, dan ideologi. Kalau berhasil, kita
akan sampai pada fenomena yang sebenarnya.
2) Reduksi Eidetis: menyaring atau penempatan dalam tanda kurung
sebagai hal yang bukan eidos atau intisari atau hakikat gelaja atau
fenomena. Hasil reduksi eidetis ialah kita sampai pada hakikat sesuatu.
Inilah penegrtian yang sejati dan murni.
3) Reduksi Transendental: semua yang tidak ada hubungannya dengan
kesadaran murni harus dikurungkan. Dari objek itu akhirnya orang
sampai pada apa yang ada pada subjek sendiri. Dengan kata lain,
fenomenologi itu diterpkan karena subjeknya sendiri, pada
perbuatannya, dan pada kesadaran yang murni.
Basis filosofi Husserl ialah bahwa dunia yang tampak ini tidak
memberi kepastian, kita perlu mencarinya dalam erlebnisse; pengalaman
yang sadar.
C. FILSAFAT ISLAM MODERN
1. Muhammad Arkoun
a. Latar Belakang sosial dan Intelektual
Mohammded Arkoun lahir pada 1 Februari 1928 di Tourirt-Mimoun, kabilia,
Aljazair. Kabilia merupakan daerah pegunungan berpenduduk Berber, terletak di
sebelah timur Aljir. Berber adalah penduduk yang tersebar di Afrika bagian utara.
Bahasa yang dipakai adalah bahasa non-Arab (‘ajamiyah). Setelah Aljazair
ditaklukan bangsa Arab pada tahun 682, pada masa kekhalifahan Yazid bin
Muawiyah, dinasti Umayah, banyak penduduknya yang memeluk Islam. Bahkan
di antara mereka banyak yang ikut dalam berbagai pembebasan Islam, seperti
pembebasan Spanyol bersama Toriq Bin Ziyad.
Kehidupan Arkoun yang mengenal berbagai tradisi dan kebudayaan
merupakan faktor penting bagi perkembangan pemikirannya. Sejak mudanya
Arkoun secara intens akrab dengan tiga bahasa: Kabilia, Perancis dan Arab.
Bahasa kabilia biasa dipakai dalam bahasa keseharian, bahasa Perancis digunakan
dalam bahasa sekolah dan urusan administratif, sementara bahasa Arab digunakan
dalam kegiatan-kegiatan komunikasi di mesjid.
b. Pendidikan dan Pengalaman
Setelah tamat sekolah dasar, Arkoun melanjutkan ke sekolah menengah di
kota pelabuhan Oran, kota utama Aljazair bagian barat. Sejak 1950 sampai 1954
ia belajar bahasa dan sastra Arab di universitas Aljir, sambil mengajar di sebuah
sekolah menengah atas di al-Harrach, di daerah pinggiran ibu kota Aljazair. Tahun
1954 sampai 1962 ia menjadi mahasiswa di Paris. Tahun 1961 Arkoun diangkat
menjadi dosen di Universitas Sorbonne Paris.Ia menggondol gelar doktor Sastra
pada 1969. Sejak 1970 sampai 1972 Arkoun mengajar di Universitas Lyon.
Kemudian ia kembali sebagai guru besar dalam bidang sejarah pemikiran Islam.

c. Kerangka Proyek Kritik Akal Islam Arkoun


Mohammed Arkoun memiliki “proyek kritik atas akal Islam” dimana
metode historis modern menempati peran sentralnya. Proyek ini terkandung dalam
bukunya yang paling fundamental, Pour de la raison islamique, (Menuju Kritik
Akal Islam). Buku ini, yang semula akan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab
dengan judul “naqdu al-‘aqli al-Islmiy”, kemudian diterjemahkan dengan judul
“tarikhiyyatu al-Fikri al-Arabiy al-Islamiy” (Historitas Pemikiran Arab Islam).
Menurut Luthfi Assyaukany, karya tersebut bisa mewakili pemikiran Arkoun
secara keseluruhan, meskipun ia masih mempunyai banyak karya lain.
Metode yang ditempuh Arkoun dalam buku ini adalah metode historisisme.
Historisisme berperan sebagai metode rekonstruksi makna melalui cara
penghapusan relevensi antara teks dengan konteks. Melalui metode historisisme,
yang mewujud dalam bentuk “kritik nalar islami”, teks-teks klasik didekonstruksi
menuju rekonstruksi (konteks). Bila metode ini diterapkan pada teks-teks agama,
apa yang diburu Arkoun adalah makna-makna baru yang secara potensial
bersemayam dalam teks-teks tersebut.

Menurut pengakuannya, istilah “kritik akal” dalam bukunya itu tidaklah


mengacu pada pengertian filsafat, melainkan pada kritik sejarah. Ketika
mendengar kata kritik akal, orang memang tidak gampang melupakan karya
filosof besar Immanuel Kant, Critique of pure Reason dan Critique of Practical
Reason, dan karya Sartre, Critique of Dialectical Reason. Tetapi, kata Arkoun,
belakangan Francois Furet menggunakan istilah tersebut untuk tujuan penelitian
sejarah. Berbeda dengan Kant dan Sartre, Furet adalah seorang sejarawan. Ia
berusaha memikirkan (ulang secara kritis tentunya) seluruh tumpukan literatur
sejarah mengenai revolusi perancis. Revolusi Perancis adalah peristiwa sejarah
yang amat kompleks serta mempunyai pengaruh yang begitu besar, sebegitu rupa
sehingga darinya lahir banjir bandang literatur komentar, interpretasi yang
beragam dan bahkan bertentangan. Menurut Arkoun keadaan ini bisa
dibandingkan dengan peristiwa turunnya wayhu Al-Qur’an yang telah melahirkan
sekian banyak literatur, yang selain beragam juga kadang saling bertentangan satu
sama lain. Ia menegaskan: Peristiwa itu (Revolusi Perancis) telah merangsang
lahirnya komentar serta teori yang begitu luas serta teori yang begitu luas sejak
dua ratus tahun lampau hingga sekarang (1789-1989). Keadaan ini dapat kita
bandingkan dengan apa yang terjadi pada kita dengan teks Al-Qur’an.

2. Isma’il Razi al-Faruqi


a. Sejarah dan Latar Belakang ar-Razi
Al Faruqi melalui pendidikan dasarnya di College des Freres, Lebanon
sejak 1926 hingga 1936. Pendidikan tinggi ia tempuh di The American
University, di Beirut. Gelar sarjana muda pun ia gapai pada 1941.
Lulus sarjana, ia kembali ke tanah kelahirannya menjadi pegawai di
pemerintahan Palestina, di bawah mandat Inggris selama empat tahun,
sebelum akhirnya diangkat menjadi gubernur Galilea yang terakhir.
Namun pada 1947 provinsi yang dipimpinnya jatuh ke tangan Israel,
hingga ia pun hijrah ke Amerika Serikat.
b. Pemikirannya
Ilmuwan yang ikut membidani berbagai kajian tentang Islam di
berbagai negara --Pakistan, India, Afrika Selatan, Malaysia, Mesir,
Libya, dan Arab Saudi-- ini sangat terkenal dengan konsep integrasi
antara ilmu pengetahuan (umum) dan agama. Dalam keyakinan
agamanya, ia tidak melihat bahwa Islam mengenal dikotomi ilmu.
Karena, katanya, ilmu dalam Islam asalnya dan bersumber pada nash-
nash dasarnya, yakni Alquran dan Hadis.
"Bukan seperti sekarang, saat dunia Barat maju dalam bidang ilmu
pengetahuan, namun kemajuan itu kering dari ruh spiritualitas. Itu tak
lain karena adanya pemisahan dan dikotomi antara ilmu pengetahuan
dan agama," kilahnya.
Gagasan-gagasan cerah dan teorinya untuk memperjuangkan proyek
integrasi ilmu, yang ia kemas dalam bingkai besar 'Islamisasi ilmu
pengetahuan', itu dituangkan dalam banyak tulisan, baik di majalah,
media lainnya, dan juga buku. Lebih dari 20 buku, dalam berbagai
bahasa, telah ditulisnya, dan tak kurang dari seratus artikel telah
dipublikasikan. Di antara karyanya yang terpenting adalah: A
Historical Atlas of the Religion of The World (Atlas Historis Agama
Dunia), Trialogue of Abrahamic Faiths (Trilogi Agama-agama
Abrahamis), The Cultural Atlas of Islam (Atlas Budaya Islam), Islam
and Cultural (keduanya telah di Indonesiakan).
Baginya, sistem khilafah (kekhalifahan Islam) adalah bentuk
negara Islam yang paling sempurna. "Khilafah adalah prasyarat mutlak
bagi tegaknya paradigma Islam di muka bumi. Khilafah merupakan
induk dari lembaga-lembaga lain dalam masyarakat. Tanpa itu,
lembaga-lembaga lain akan kehilangan dasar pijaknya," tegasnya.
Dengan terbentuknya khilafah, jelasnya, keragaman tidak
berarti akan lenyap. Dalam pandangannya, khilafah tetap bertanggung
jawab melindungi keragaman. Bahkan, khilafah wajib melindungi
pemeluk agama lain, seperti Kristen, Yahudi dan lain sebagainya. "Tak
ada paksaan dalam Islam," katanya. Menurutnya, negara-negara Islam
yang ada saat ini akan menjadi provinsi-provinsi federal dari sebuah
khilafah yang bersifat universal yang harus senantiasa diperjuangkan.
Dalam bidang perbandingan agama, kontribusi pemikiran Al Faruqi tak kecil.
Karyanya A Historical Atlas of Religion of the World, oleh banyak kalangan
dipandang sebagai buku standar dalam bidang tersebut. Dalam karya-karyanya
itulah, ia selalu memaparkan pemikiran ilmiahnya untuk mencapai saling
pengertian antarumat beragama, dan pemahaman intelektual terhadap agama-
agama lain. Baginya, ilmu perbandingan agama berguna untuk membersihkan
semua bentuk prasangka dan salah pengertian untuk membangun persahabatan
antara sesama manusia.

II. FILSAFAT KONTEMPORER


“Tidak ada hal yang sempurna dalam dunia ini”. Barangkali ungkapan tersebut
tepat dan perlu dihadirkan dan direfleksikan dalam ilmu filsafat. Sebab, bila kita
menelusuri jejak pemikirian filsafat mulai abad klasik, pertengahan, dan modern,
ternyata ada kelemahan dan kekurangan di satu sisi serta kelebihan dan
kesempurnaan di sisi lain. Filsafat modern, yang konon katanya, sudah lebih
sempurna ternyata masih ada sisi kurangnya hingga akhirnya muncul pemikiran
baru dalam arus pemikiran yang disebut pemikiran filsafat kontemporer.

Blanshard, dalam “The Encylcopedia of Philosophy” (vol. 8, 322-324),


menilai banyak pemikiran dan filsuf modern gagal mencapai kebijaksanaan
sebagai inti diskursus filsafat. Kegagalan tersebut, kata Blanshard, disebabkan
setidaknya karena dua alasan. Pertama, karena penilaian terhadap wisdom didasari
perasaan (feelings) dan kedua penilaian itu didasari oleh intuisi yang sulit
dipertahankan dengan argumentasi logis. Namun dalam kenyataannya, filsafat
barat justru mengalami pengalaman buruk tatkala hanya mengikuti rasio dan
menghindari intuisi. Gejala postmodernisme yang menginterupsi keabsolutan
rasio dan munculnya perenialisme merupakan bukti ketidakberdayaan rasio dalam
menghadapi kebenaran. Hal ini disebabkan karena dunia yang luas hampir tak
mungkin ditangkap dengan indera atau rasio saja. Maka dari itu Landerson Beck
memberikan batasan dan kesimpulan dalam mengartikan wisdom, yaitu
“Kebijaksanan itu adalah pengetahuan tentang tindakan untuk mencapai kebaikan
tertinggi dalam segala aspek”.

Bertolak belakang dari pemikiran diatas, maka selanjutnya pengkajian


mengenai pemikiran filsafat barat abad kontemporer adalah William James,
Michel Foucault, Martin Heidegger dan Karl Popper, Bertrand Russell, Jean-Paul
Sartre, Albert Camus, Jurgen Habermas, Richrad Rorty, J. Derrida, dan Mazhab
Frankfurt.

1. William James
Tokoh ini dilahirkan di Newyork tahun 1842 dan meninggal pada tahun
1910. James, selain menyebut teori filsafatnya sebagai “pragmatisme”, dapat
pula disebut sebagai “Radical Empirisme”. Pragmatisme bermakna bahwa
aliran pemikiran ini mengajarkan bahwa yang benar ialah apa saja yang
membawa manfaat praktis bagi hidup seseorang. Pengalaman pribadi,
kebenaran mistik, semuanya bisa diterima sebagai kebenaran, asalkan
membawa akibat praktis yang bermanfaat. Sedangkan “Radical Emprisme”,
adalah sesuatu empirisme yang tidak menerima suatu unsur dalam bentuk
apapun jika tidak dialami secara langsung.
a. Kebenaran Pragmatis
Dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909), James
mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang bersifat tetap,
yang berdiri sendiri, dan terlepas dari segala logika akal. Sebab
pengalaman kita yang berjalan terus, dan segala yang kita anggap benar
dalam perkembangan pengalaman itu akan senantiasa berubah. Oleh
karena itu tidak ada kebenaran yang mutlak, yang ada adalah kebenaran-
kebenaran “plural”, yaitu apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman
khusus yang setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya. James
menolak mentah-mentah apa yang dikatakan oleh filsafat tradisional yang
mengatakan bahwa kebenaran itu bersifat “monistik” (tunggal).
b. Pragmatisme dan Etika
Menurut James, terdapat hubungan yang erat antara konsep
pragmatism mengenai kebenaran dan sumber kebaikan. Selama ide itu
berkerja dan menghasilkan hasil-hasil yang memuaskan, maka ide itu
bersifat benar (true). Suatu ide benar apabila dapat memberikan
keuntungan kepada manusia dan dapat dipercayai tersebut membawa kea
rah kebaikan (good).
c. Kepercayaan Religius menurut James
Menurut James dalam bermacam-macam pengalaman kehidupan,
manusia mempunyai hubungan dengan suatu Zat yang lebih (a more).
Manusia merasakan di sekitarnya ada sesuatu yang simpatik dan
memberinya dukungan. Ia menunjukkan sikap bersandarnya kepada Zat
tersebut dalam sembahyang dan doa. Rasa tentang adanya zat yang lebih
“The More” membawa ke arah ketenangan, kebahagiaan, dan ketentraman,
selain itu hal ini merupakan pengalaman yang universal.
2. John Dewey
Ia dilahirkan di Burlington pada tahun 1859 dan meninggal pada tahun
1952. Dewey adalah seorang pragmatis, namun ia lebih suka menyebut
sistemnya dengan istilah instrumentalis. Menurutnya, tujuan filsafat ialah
untuk mengatur kehidupan dan aktivitas manusia secara lebih baik, untuk di
dunia dan sekarang. Tegasnya, tugas filsafat yang utama ialah memberikan
garis-garis pengarahan bagi perbuatan dalam pernyataan hidup. Oleh karena
itu, filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang
tidak ada manfaatnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman (expirience),
dan menyelidiki serta mengolah pengalaman itu secara aktif kritis.
a. Konsep Dewey tentang Pengalaman dan Pikiran.
Pengalaman (experience) adalah satu kata kunci dalam filsafat
instrumentalisme. Kunci filsafat Dewey adalah “mengenai” (about) dan
“untuk” (for) pengalaman sehari-hari. Pengalaman adalah keseluruhan
drama manusia dan mencakup segala proses “saling mempengaruhi” (take
and give) antara organisme yang hidup dalam lingkungan sosial dan fisik.
Ia juga tidak menampik bahwa pengalaman bukan satu-satunya jalan bagi
manusia dalam mengungkap rahasia alam. Dalam perjalanan pengalaman
seseorang, pikiran selalu muncul untuk memberikan arti dari sejumlah
situasi-situasi yang terganggu oleh pekerjaan diluar hipotesis atau
membimbing kepada perbuatan yang akan dilakukan.
b. Dewey dan Pendidikan Progresif.
Dewey memandang bahwa tipe dari pragmatismenya diasumsikan
sebagai sesuatu yang mempunyai jangkauan aplikasi dalam masyarakat.
Pendidikan dipandang sebagai wahana yang strategis dan sentral dalam
upaya kelangsungan hidup di masa depan. Pendidikan bahwa pendidikan
harus mampu membekali anak didik sesuai dengan kebutuhan yang ada
pada lingkungan sosialnya.
c. Analisis Kritis atas Kekuatan dan Kelemahan Pragmatisme.
1) Kekuatan Pragmatisme
a) Kemunculan pragmatis sebagai aliran filsafat dalam kehidupan
kontemporer khususnya di Amerika Serikat. Telah membawa
kemajuan yang pesat baik dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
b) Pragmatisme telah berhasil mendorong berpikir yang liberal, bebas
dan menyangsikan segala yang ada.
c) Sesuai dengan coraknya yang sekuler, maka pragmatism tidak
mengakui adanya sesuatu yang sakral atau mitos.
2) Kelemahan Pragmatisme.
a) Karena pragmatisme tidak mau mengakui sesuatu yang bersifat
metafisika, maka secara tidak langsung pragmatism telah
mengingkari sesuatu yang transcendental.
b) Karena sifatnya dalam menerima ilmu yang bersifat praktis, maka
pragmatisme menciptakan pola pikir masyarakat yang materialistis.
c) Masyarakat akan berkerja dan beraktifitas tanpa mengenal batas
waktu untuk hanya sekedar memenuhi kebutuhannya sehingga
membentuk sifat individualistis.

Seandainya Dewey masih hidup dan menyaksikan masyarakat Amerika


menganut ilmu filsafat mereka, maka yang terjadi adalah penduduk akan
mengarah ke pola kehidupan yang dehumanisme dan atheisme.

3. Michel Foucault
Memiliki nama lengkap Paul-Michel Foucault. Lahir di Paris 1926 dan
wafat pada tahun 1984. Ia termasuk salah seorang filsuf yang berpengaruh di
Perancis, terutama pada saat Perang Dunia II terjadi. Ia mengembangkan ilmu
filsafat yang pada umumnya cenderung tidak searah dengan arus utama
filsafat. Filsafat yang secara garis besar mengarah kepada pemikiran mencari
teori rasional mengenai wisdom, filsafat Foucault justru menggagas teori
tentang rezim kebenaran dan teori yang berhubungan dengan antara kekuasaan
dan kebenaran. Daripada menyusun teori tentang subjektivitas konstitutif, ia
justru mengeksplorasi praktik-praktik diskursif serta wujud-wujud kekuasaan
yang membentuk subjek. Ia menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sumber
bagi strategi, pergulatan, dan konflik demi kekuasaan. Sehingga ia dipandang
sebagai contributor terhadap teori kebudayaan dan teori sosial dalam bidang
kedokteran, psikologis, sistem penjara, dan karya tentang riwayat seksualitas.
a. Arkeologi Foucault
Karya awalnya berkaitan dengan kebudayaan modernitas yang
menjelaskan perbedaan antara bentuk kebudayaan modern dan pra-modern
terutama dalam konsep ilmu kedokteran. Ia juga menyampaikan gagasan
mengenai “penyakit kebisuaan pada penderita gangguan jiwa” di dalam
sebuah dunia dapat menggantikan posisi penyakit kusta sebagai “kematian
yang telah tiba”. Foucault juga menggagas bahwa penangangan medis juga
harus memberikan ruang bagi penderita penyakit agar bisa menjadi dokter
untuk dirinya sendiri, sehingga dianggap bahwa tubuh pasien adalah
subjek tatapan yang berdaulat dari sang dokter. Melalui gagasannya ini, ia
memgembagkan pendekatan kepada ilmu yang menekankan otonomi
diskursus atau formasi-formasi yang diskursif beserta kaidah regulasi yang
mendukung.
b. Genealogy of Knowledge
Foucault menggunakan gagasan bahwa model-model pengetahuan
berkaitan erat dengan meluapnya berbagai kekuatan. Ia kemudian
mengembangkan pemikiran bahwa pasangan kekuatan-pengetahuan
merupakan sesuatu yang dramatis mengekspresikan terikatnya diskursus
secara erat pada relasi antara kekuasaan dan kekuatan. Filsuf ini juga
menyampaikan bahwa terdapat 2 bentuk masyarakat yang berbeda yang
didominasi oleh kekuasaan yang sangat berlainan yaitu pertama,
masyarakat pra-modern yang memiliki konsep kedaulatan yuridiko-politis,
maksudnya adalah masyarakat ini menyelenggarakan praktik-praktik
publik untuk memperbarui kedaulatan dan hukum yang keropos.
Sedangkan yang kedua adalah masyarakat modern, dimana konsep
kedaulatannya didukung oleh “hokum yang digeneralisasikan” karena
adanya bentuk kekuasaan yang baru sehingga menjangkau setiap bagian
tubuh sosial.
c. Kilas Balik Filsafat Foucault.
Ia sangat menaruh minat pada “cara manusia memproblematisasikan
siapa diri mereka, apa yang mereka lakukan, dan beserta didunia mana
mereka hidup”. Ia mengarahkan perhatian pada hubungan antara manusia
dengan dunianya, sehingga menciptakan arah problematisasi etis pada
zaman kuno awal dan zaman kuno akhir.
4. Martin Heidegger
Lahir di Jerman dalam masa hidup tahun 1889-1976. Ia adalah seorang
professor sekaligus diangkat menjadi rektor di Universitas Marburg, Jerman
karena keterlibatannya dalam partai Nazi yang pada saat itu dikuasi oleh Adolf
Hitler. Namun belakangan diketahui bahwa ia sangat menyesal telah
berkontribusi dalam partai tersebut, sehingga ia memutuskan keluar dalam
periode tertentu dan mengasingkan diri ke desa terpencil sampai akhir
hayatnya.
Filsafat Heidegger dianggap sebagai prestasi monumental dan termasuk
filsafat paling kuat sehingga masih berpengaruh hingga saat ini. Ia
menyelidiki arti dari eksistensi yang khas, makna suatu kekekalan, tempat
manusia di dunia dan tempat manusia diantara orang lain sebagai individu.
Karya awalnya dapat dipahami dalam dua aspek penting, yaitu pertama
bagaimana ia menjelaskan pikiran dan tubuh, subjek dan objek, pemisahan
linguistik atas kesadaran, serta pengalaman dan pemikiran. Kedua, filsafatnya
sebagian besar adalah mencari autentisitas yang dapat dipahami dengan
penjelasan tertentu sebagai suatu keutuhan.
Menurutnya, manusia itu terbuka bagi dunianya dan sesamanya.
Kemampuan seseorang untuk bereksistensi dengan hal-hal diluar dirinya
karena memiliki kemampuan seperti kepekaan, pengertian, pemahaman, dan
pembicaraan. Untuk mencapai tingkat manusia yang utuh, manusia ahrus
merealisasikan segala pontensinya (meski dalam kenyataannya seseorang itu
tidak dapat merealisasikan semua itu) dan tetap berusaha sekuat tenaga serta
mampu mempertanggungjawabkan potensi yang belum diaktualisasi.
Sehingga akhirnya membentuk kaidah wisdom.
Kenyataannya, memang manusia akan mampu berkembang jika dia
berusaha dalam membangun dunianya. Totalitas dan dialektika manusia dunia
itu mengandung implikasi bahwa keberadaan manusia dan perkembangan
manusia tidak dapat lepas dari perkembangan dunia. Ia juga menjadi
fenomenal karena gagasannya mengenai konsep suasana hati (mood). Mood
ini dapat mengatur dunia manusia, serta sebagai tolak ukur manusia dapat
memahami siapa dirinya dan hakikat dirinya.
5. Karl R. Popper
Lahir di Austria dalam masa hidup 1902 sampai 1994. Ia dikenal sebagai
filsuf yang sangat berpengaruh di bidang sains maupun politik. Sedemikian
berpengaruhnya, bahkan peraih nobel di bidang kedokteran, Sir Peter
Medewar, mengungkapkan bahwa Popper tidak ada duanya dalam filsuf ilmu
terbesar yang pernah ada. Popper juga dikenal sebagai orang yang ahli dalam
matematika dan astronomi teoritis. Bukunya yang telah diterjemahkan dalam
Bahasa Indonesia dengan judul “Masyarakat Terbuka dan Musuh-musuhnya”
yang merupakan hasil terjemahan buku aslinya, diterbitkan Pustaka Pelajar
Yogyakarta tahun 2002, mampu menjatuhkan teori-teori para filsuf besar
seperti Heraclitus, Plato, Aristoteles, Hegel dan Karl Marx.
Diawali dengan teori normatif bahwa manusia bisa salah, Poper
merumuskan sebuah bentuk masyarakat yang cocok dalam meminimalisasi
penderitaan dan memaksimalkan kebebasan individu dalam sebuah
masyarakat yang ia sebut sebagai masyarakat terbuka (open society) sehingga
ini adalah cikal bakal terbentuknya konsep liberalism.
6. Bertrand Russell
Lahir di Inggris pada tahun 1872 hingga wafat pada tahun 1970. Ia adalah
seorang filsuf dan ahli matematika ternama di Britania Raya. Ia juga dikenal
sebagai agnostic. Russell juga menolak keras penggunaan senjata nuklir dan
persolaan perang Vietnam karena ia hidup dalam masa perang Dunia Pertama.
Bukunya berjudul “Sejarah Filsafat Barat da Kaitannya dengan Kondisi Sosio
Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang” yang diterjemahkan dari buku
aslinya oleh penerbit Pustaka Pelajar Jogjakarta tahun 2002, merupakan
karyanya yang paling sukses.
Dalam buku tersebut, Russell membahas persoalan-persoalan sejarah
filsafat dengan sejarah sosial, politik dan kemasyarakatan. Dengan data yang
cukup valid, ia membahas sosok filsuf yang sangat berpengaruh dan
mempunyai kontribusi besar dalam peradaban manusia dan mengurai secara
rinci ide-ide dasar, pemikiran-pemikiran, dan pengaruhnya terhadap
masyarakat dan para filsuf berikutnya.
7. Jean Paul Sartre
Lahir di Prancis tahun 1905 dan wafat tahun 1980. Berasal dari keluarga
cendikiawan dan dididik dalam lingkungan yang agamis, namun dalam
perkembangan usia dan pemikirannya ia justru tidak menganut agama apapun
dan tidak percaya Tuhan. Pernah diberi hadiah Nobel Sastra tahun 1964,
namun ia menolak. Ia juga tidak menikah semasa hidupnya.
Ia adalah filsuf yang mengembangkan aliran eksistensialisme.
Menurutnya, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi. Manusia tidak
memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya tidak lebih dari hasil
kalkulasi pengalaman di masa lalu. Dengan demikian, menurutnya satu-
satunya landasan wisdom adalah kebebasan manusia. Ia meninggalkan salah
satu karya yang berjudul “Ada dan Ketiadaan”. Kebebasan dan tanggung
jawab personal diri manusia yang tak kenal kompromi, merupakan jantung
silsafat Sartre.
Baginya, manusia atau keadaan kebebasan untuk membentuk diri adalah
dengan kemauan dan tindakan. Sehingga konsep eksistensi mendahului esensi.
“Ada terlebih dahulu” baru kemudian “dicari tujuannya”. Kehidupan manusia
sendiri bahkan tidak mengandung arti sama sekali atau pada suatu waktu tidak
masuk akal. Melalui pandangannya ini, Sastre semakin berbelok kea rah jalur
politik dan pembelaan konsep Marxisme yang sesuai dengan prinsip
eksistensialis.
8. Albert Camus
Lahir di Aljazair tahun 1913 dan meninggal tahun 1960 akibat kecelakaan
mobil. Menurut catatan sejarah, filsuf Prancis ini memiliki pribadi sangat unik
dan menakjubkan, yaitu tiada hari yang dilalui tanpa resah dan menulis. Ia
dikenal sebagai sosok kritis untuk menyelami pemikiran filosofisnya, namun
juga dapat membuat orang tertawa dan menangis. Ia adalah teman dari Jean
Paul Sastre.
Tepat pada Perang Dunia ke II dimulai ia menampilkan gagasan bahwa
manusia mulai menghadapi kehidupan yang absurd, maksudnya adalah suatu
perspektif metafisik, suatu kesadaran atas konfrontasi antara diri kita sendiri
dengan tuntutan kita pada rasionalitas dan keadilan di satu sisi, dan sebuah
alam semesta yang acuh tak acuh pada sisi lain. Menurutnya, manusia
menghabiskan banyak energi untuk mendorong sebuah beban menantang
kesia-siaan dan rasa frustasi.
Atas dasar tersebut pertanyaan filsafat yang muncul dari Camus adalah,
apakah kehidupan itu adalah sesuatu yang berharga dan harus dijalani, atau
sebaliknya kita harus bunuh diri?. Jawabannya adalah ya kita harus
bersemangat. Karena mau tidak mau kita harus menerima absurditas
kehidupan tanpa perlu banyak memikirkannya. Melalui novel karyanya The
Stranger, terlihat jelas bahwa ada tokoh protagonis yang diceritakan tidak
membuat pertimbangan moral dalam hidup, menerima apa adanya karakter
sahabat meskipun menjijikkan, tidak tergoyahkan atas kematian sosok ibu dan
pembunuhan kepada seseoarang yang dilakukan sendiri.
9. Jurgen Habermas
Lahir di Jerman tahun 1929 dan masih hidup hingga saat ini. Ia merupakan
profesor filsafat untuk Universitas Frankfurt, Jerman. Dia mengembangkan
sistem teori ilmu berpikir yang diabdikan untuk menunjukkan kemungkinan
sebuah penalaran, emansipasi dan komunikasi logis-kritis yang terdapat dalam
institusi liberal modern. Setiap orang seharusnya bisa mengambil posisi setuju
atau tidak setuju terhadap statement-statement mengenai dunia dan cara
sebuah dunia dipahami, baik statement itu berkaitan ataupun tidak berkaitan
dengan dunia alamiah, masyarakat, ataupun antar statement itu sendiri.
Melalui pandangannya, rasio praktis (yaitu rasio yang berkaitan dengan
persoalan dan norma-norma sosial serta praktik-praktik etis serta bagaimana
keduanya dapat dipertanggungjawabkan), yang dinilai, sudah tak layak lagi
dianggap sebagai modernitas. Ia juga mengemukakan bahwa manusia dapat
mengorientasikan dirinya sendiri terhadap dunia-dunia yang diciptakannya
(dunia eksternal alamiah ataupun lingkungan yang sistematis) yang disebut
oleh Habermas sebagai suatu sistem, dan dunia sosialitas yang diciptakan
antar masyarakat melalui komunikasi yang ia sebut sebagai dunia kehidupan.
10. Richard Rorty
Lahir di Amerika tahun 1931 dan meninggal dunia pada tahun 2007. Ia
lahir di lingkungan yang “reformis, kiri, dan antikomunis”. Pada lingkungan
seperti itulah sifat patriotism, pemerataan-ekonomi, antikomunis dan
pragmatisme ala Dewey hidup berdampingan secara alami. Rorty merupakan
filsuf yang mengajukan sebuah konsep tentang filsafat politik, mengenai
liberalism. Rorty memberikan sebuah pandangan baru mengenai liberalism. Ia
berusaha untuk berfilsafat tentang filsafat.
Rorty mengklaim bahwa dirinya adalah seorang borjuis-liberal-romantik,
ia percaya pada reformasi, pertumbuhan keadilan ekonomi dan kebebasan
warga negara. Kunci dari agenda politiknya adalah persaudaraan seluruh umat
manusia. Rorty bersikap skeptis terhadap radikalisme, pemikiran politis yang
berusaha mencari sebab-sebab sistematis tersembunyi, yang menyebabkan
ketidakadilan dan eksploitasi, dan berangkat dari titik tolak itu mengajukan
perubahan mendasar untuk menyelesaikan ketidakberesan itu.
Secara garis besar ia mengemukakan tidak ada seorangpun baik warga
negara masyarakat, pemimpin politik, cendikiawan, akan menggunakan
“hukum alam dan Tuhan untuk melegitimasi setiap aspek kehidupan
bermasyarakat”. Hal yang menggerakkan seluruh aspek manusia liberal adalah
“harapan bahwa hidup akan berubah semakin bebas, makin kaya baik dalam
bentuk barang maupun pengalaman, tidak hanya untuk keturunan kita, tapi
untuk keturunan semua orang.
11. Paul Feyerabend
Lahir di Austria tahun 1924 dan meninggal dunia tahun 1994. Ia membuat
tesis doktornya dibawah bimbingan Karl Popper. Karya terbesar yang ia miliki
adalah “Againts Method” yang ditulis tahun 1975. Pada awalnya sebagai
murid Popper, ia mendukung teori falsifikasi, namun akhirnya dia berbalik
menjadi seorang yang menentang Popper.
Menurut Popper, setiap teori harus melalui proses falsifikasi untuk
menemukan teori yang benar. Bila suatu teori dapat ditemukan titik lemahnya,
maka teori tersebut akan gugur. Sedangkan menurut Feyerabend tidaklah
demikian. Feyerabend berpendapat bahwa untuk menemukan teori yang benar,
maka suatu teori tidaklah harus dicari kesalahannya “falsifikasi”, melainkan
teori tersebut harusnya dikembangkan. Melalui karyanya Againts Method, ia
menyampaikan bahwa tidak ada satupun metode rasional yang dapat diklaim
sebagai metode ilmiah yang paling sempurna. Metode ilmiah yang selama ini
diagung-agungkan ilmuan hanyalah ilusi semata. Penerapan satu metodologi
misalnya emperis atau rasionalisme milik Popper, justru akan menghambat
perkembangan ilmu pengetahuan.
12. Jacques Derrida
Lahir di sebuah daerah dekat Aljazair, tahun 1930 dan meninggal dunia
tahun 2004. Ia meninggal dunia karena penyakit kanker dan ia pernah
mendapat gelar doctor honoris causa dari Universitas Cambridge. Ia dianggap
sebagai seorang filsuf pendiri ilmu atau paham dekonstruktivisme, sebuah
ajaran yang menyatakan bahwa semua hal di konstruksi oleh manusia,
termasuk bahasa.
Dimasa saja menurutnya, pelajaran pertama mengenai dekonstruksi adalah
tidak sesuatu yang dapat ditotalisasikan tanpa melibatkan signifikansi, atau
ada sesuatu yang terabaikan, atau suatu aspek yang tereduksi, terlewatkan, dan
terdiamkan. Maksudnya adalah, agar kita dapat terbuka pada sesuatu hal dan
responsif terhadap yang lain. Yang lain disini memiliki makna jelas akan
memiliki kondisi yang berbeda pada tiap kasus, misalnya kasus gender.
Menurut Derrida, interpretasi (eksekusi/pelaksaan) tak dapat dinilai benar
atau salah, namun kuat atau lemah. Interpretasi tidaklah dipilih oleh subjek,
namun memaksakan dirinya sendiri kepada suatu subjek. Bahkan ketika kita
membaca suatu teks, kita selalu memasuki wilayah dimana adanya konflik
antara kekuatan-kekuatan yang telah mendahului subjektivitas pembaca
sehingga akan mempengaruhi orang lain.
13. Mazhab Frankfurt
Mazhab Frankfurt adalah sebuah nama yang diberikan kepada kelompok
filsuf yang memiliki afiliasi dengan Institut Penelitian Sosial di Frankfurt,
Jerman dan pemikir-pemikir lainnya yang dipengaruhi oleh mereka. Penamaan
mazhab sendiri adalah bentuk retrospektif dan para filsuf tidak pernah
menamai mereka sebagai sebuah kelompok atau mazhab. Mazhab ini memiliki
ketertarikan utama kepada paham Marxisme yang dapat diaplikasikan dalam
berbagai cara yang dikembangkan atau diperluas, tidak secara sempit seperti
aplikasi yang diterapkan oleh kebanyakan orang zaman dahulu. Menurut
mereka, paham Marxisme dapat dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat
menjawab tantangan zaman setelah Jerman mengalami perubahan total pasca
Perang Dunia I dan meningkatnya politik Nazi.
Patut dicatat bahwa pimikir utama Mazhab ini adalah orang-orang
beragama Yahudi, dan memang merupakan korban utama Fasisme Nazi.
Generasi teoritikus Kritik Mazhab Frankfurt membuat sumbangan-sumbangan
penting dalam bidang yang terkait dengan kemungkinan-kemungkinan subjek
manusia yang rasional, yaitu individu yang bertanggungjawab atas masyarakat
dan sejarah mereka sendiri. Mereka mengembangan “teori kritis” yang secara
umum dipakai sebagai istilah kode bagi Marxisme Kritis dan Marxisme
Hegelian.

KONTEMPORER PANDANGAN ISLAM


1. Asghar Ali Engineer
a. Biografi
Asghar Ali Engineer lahir di Salumbar, Rajasthan, pada 10 Maret
1939. Ayahnya, Shaikh Qurban Hussain, adalah seorang ulama di
komunitas Muslim Dawoodi Bohra, sebuah cabang dari tradisi Isma’ili
dalam Islam Syi’ah. Komunitas Dawoodi Bohra pada masa awal
perkembangannya sempat mengalami persekusi baik dari komunitas
Sunni maupun Syiah arus utama, sebelum kemudian mereka
bermigrasi ke India dan aktif dalam dunia perdagangan dan proyek-
proyek komunitas dan filantropis, seperti pembangunan sekolah,
rumah sakit, perumahan dan fasilitas umum lainnya, seminar dan
berbagai program pendidikan komunitas, serta promosi kesenian dan
arsitektur Islam. Dalam konteks inilah Engineer tumbuh. Sedari kecil,
Engineer juga menekuni studi Islam dari berbagai aspeknya.
b. Islam dan Teologi Pembebasan menurut Asghar Ali Engineer
Dalam kajian sejarah Islam dan teologi pembebasan, kita dapat melihat
pokok-pokok pemikiran Engineer dalam salah satu karyanya Islam and
Its Relevance to Our Age (1987). Di sini, sebagaimana diungkapkan
oleh para pengkaji karya Engineer dan Engineer sendiri, kita juga
dapat melihat pengaruh Marxisme dalam analisa Engineer mengenai
sejarah Islam dan konsepsinya tentang teologi pembebasan. Menurut
Engineer, kedatangan Islam di jazirah Arab merupakan sebuah momen
yang revolusioner. Perlu diingat, bahwa terdapat banyak kontradiksi
dalam masyarat Arab pra-Islam waktu itu: di satu sisi, masyarakat
Arab pra-Islam memiliki tradisi kesusastraan dan perdagangan yang
kuat, namun, di sisi lain, terdapat perbagai penindasan atas berbagai
kelompok dalam masyarakat tersebut – seperti perempuan, kelas
bawah dan para budak. Yang revolusioner dari ajaran Nabi Muhammad
adalah tuntutan-tuntutannya yang bersifat egalitarian: seruan atas
tatanan sosial yang egaliter baik dalam ritual (seperti shalat dan zakat),
kehidupan sosial (penghapusan perbudakan secara perlahan-lahan),
ekonomi-politik (penentangan atas akumulasi kekayaan dan monopoli
ekonomi oleh sejumlah pedagang besar yang bersifat eksploitatif) dan
hubungan antar agama (dengan para penganut agama lain).
Tetapi, seruan revolusioner yang universal dari Al-Qur’an ini juga
tidak melupakan konteks sosial masyarakat Arab pra-Islam waktu itu:
penghapusan perbudakan misalnya, dilakukan secara gradual. Di sini,
kita dapat melihat sebuah pola pembacaan yang menarik dari Engineer:
ada unsur teologis dan transedental dari sejarah munculnya Islam,
namun ia tidak menegasikan atau menafikan peranan manusia dalam
membuat sejarah itu. Pembacaan ‘materialis’ atas sejarah Islam ini
juga mempengaruhi rumusan Engineer mengenai teologi pembebasan.
Engineer memulai pembahasannya mengenai sejarah sosial berbagai
variasi teologi pembebasan dalam Islam. Saya menyebutnya sebagai
‘sejarah sosial’ karena Engineer tidak hanya membahas pemikiran
berbagai aliran teologis dalam Islam namun juga berusaha
mengaitkannya dengan konteks sosial-politik di mana aliran atau
mazhab tersebut muncul. Sejumlah aliran teologi yang dibahas oleh
Engineer antara lain adalah Mu’tazilah, Qaramitah dan Khawarij.
Singkat kata, dalam eksplorasinya atas sejarah awal Islam dan
sejarah sosial teologi pembebasan dalam Islam, Engineer berusaha
menunjukkan beberapa hal. Pertama, ada tradisi dan kesinambungan
sejarah teologi pembebasan dari masa awal Islam hingga sekarang.
Kedua, pembacaan ‘materialis’ dan ‘sejarah sosial’ atas masyarakat
Islam membantu kita lebih memahami potensi ide-ide egalitarian dalam
Islam dan relevansinya bagi masyarakat modern – tanpa memahami
konteks sejarah ini, tentu kita akan merasa aneh melihat pembahasan
atas aliran Mu’tazilah yang rasional dan aliran Khawarij yang ekstrimis
dalam satu tarikan napas. Ketiga, dan yang paling utama, Engineer
kemudian menawarkan rumusannya atas teologi pembebasan dalam
Islam: dalam pertentangan antara kaum Mustakbirin (penindas) dan
Mustadh’afin (tertindas), maka agama harus berpihak kepada mereka
yang tertindas demi mewujudkan tatanan sosial yang egaliter dan bebas
dari eksploitasi.
2. Farid Essack
a. Biografi dan Pemikirannya
Ia adalah salah satu tokoh Islam Kontemporer yang tidak bosan-
bosan menyerukan renaissance dalam paradigma pemikiran Islam.
Dengan titik pemikiran terfokus pada Hermeneutika Qur’an, Esack
menawarkan Teologi Pembebasan bagi ketidakadilan. Dengan
keberanian yang dimilikinya, ia sangat meyakini bahwa Kitab Suci Al-
Qur’an adalah sebuah wahyu yang memberikan pemihakan kepada
kelompok lemah atau mustadh’afin. Maka segala hal yang berkaitan
dengan Al-Qur’an harus berpihak kepada kaum mustadh’afin,
setidaknya menolak ketidakadilan. Komitmen membangun sebuah
masyarakat egaliter, berkeadilan, berkesetaraan, dan tanpa rasialisme
primordial harus menjadi barometer baku dalam setiap penafsiran teks-
teks suci.
Esack adalah model intelektual organik untuk memakai kategori
Antonio Gramsci yang berani berhadapan dengan realitas. Dengan
meminjam istilah Karl Marx, Esack adalah tipe intelektual yang
memahami dunia untuk mengubahnya. Ia termasuk dalam avant garde
pemberangusan rezim apartheid di Afrika Selatan. Bersama kawan-
kawan se-perjuangannya, mereka melawan otoritarianisme pemerintah
kolonial dalam mengatur negara. Namun bersama kawan-kawan
muslim se-idenya, ia tak hanya melawan rezim penguasa, namun juga
terpaksa melawan umat Muslim lain yang berideologi literal dan
konservatif. Gagasannya tentang Teologi Pembebasan yang sama
sekali baru dalam dunia Islam, khususnya di Afrika Selatan, ditentang
oleh ulama-ulama sepuh di negara tersebut. Menurut mereka, ide
tersebut sama saja dengan menafikan Islam sebagai Dien al-Haqq,
pemegang kebenaran eksklusif.
Farid Esack lahir pada tahun 1959 dalam asuhan seorang ibu yang
menjalani hidup sebagai single parent. Ayahnya hilang ketika ia masih
berumur dua minggu. Ibunya bekerja sebagai pencuci di tempat
pencucian (laundry) untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang
berjumlah enam orang.

III. FILSAFAT POSTMODERN

A. Pengertian Postmodernisme
Postmodernisme pertama kali digunakan pada tahun 1930-an oleh
Frederico de Onis untuk menyebutkan gerakan kritik di bidang sastra, khususnya
sastra Prancis dan Amerika Latin. Onis menyebut tahap modernisme awal antara
tahun 1896-1905 dan tahap postmodernisme antara tahun 1905-1914 sebagai
“periode intemezzo” atau pertengahan, dan modernitas yang lebih tinggi
kualitasnya – dalam tahap ultramodern antara tahun 1914-1932. Pengertian
postmodern, yaitu :
1. Sejarawan Arnold Toynbee (1947) mengartikan postmodern sebagai
masa yang ditandai perang, gejolak sosial, revolusi yang menimbulkan
anarki, runtuhnya rasionalisme dan pencerahan.
2. Rudolf Panwitz (1947) menyebutkan “manusia postmodern” sebagai
manusia yang sehat, kuat, nasionalis, dan religius yang muncul dari
nihilisme Eropa.
3. Peter Drucker (1957) memperkenalkan postmodern untuk menyebutkan
adanya perkembangan baru dalam bidang ekonomi yang sudah memasuki
zaman pascaindustri/pascakapitalis, dan revolusi gelombang ketiga.
4. Irving Hole (1960-an) menyebut sastra kontemporer/postmodern berbeda
dengan sastra modern. Menurutnya, sastra postmodern menunjukkan
kemerosotan yang disebabkan lemahnya para pembaru dan kekuatan
penerobosnya. Baginya, sastra postmodern harus meninggalkan model
modern-klasik, dan orang bebas menangkap dan mengapresiasikan
kualitas-kualitas khas dari sastra baru. Kemudian sastra postmodernisme
baru menunjukkan prestasinya yang penting yaitu pada saat berhasil
menjembatani perbedaan antara kebudayaan elite (high culture) dengan
kebudayaan massa (pop culture).
5. Daniel Bell (1980) postmodernisme sebagai kian berkembangnya
kecenderungan-kecenderungan yang saling bertolak belakang, bersamaan
dengan makin terbebasnya daya-daya instigual dan kian membubungnya
kesenangan dan keinginan yang akhirnya membawa logika modernisme ke
kutub terjauhnya.
6. Frederic Jameson (1984) mengartikan postmodern sebagai logika kultural
yang membawa tranformasi dalam suasana kebudayaan umumnya. Ia
mengkaitkan tahapan-tahapan modernisme dengan kapitalisme monopoli,
sedang postmodernisme dengan kapitalisme pasca perang dunia kedua.
Menurutnya, postmodernisme muncul berdasarkan dominasi teknologi
reproduksi dalam jaringan global kapitalisme multinasional kini.
7. Jean Baudrillard (1983) beranggapan bahwa jika modernisme ditandai
oleh eksplosi (komodifikasi, mekanisasi, teknologi, dan pasar), maka
masyarakat postmodern ditandai oleh implosi (ledakan ke dalam), yakni
peleburan segala batas, wilayah dan perbedaan antara budaya universal
dan budaya partikular, penampilan dan kenyataan, dan beberapa posisi
biner lainnya. Kalau modernitas disebut sebagai proses meningkatnya
diferensiasi bidang-bidang kehidupan beserta fragmentasi sosial dan
alienasinya, postmodernitas ditafsirkan sebagai proses de-diferensiasi dan
implosi peleburan segala bidang.
Postmodernisme diperkenalkan dalam bidang filsafat dan ilmu
pengetahuan pada tahun 1970-an oleh Jean Francois Lyotard, yang mengartikan
sebagai ketidakpercayaan terhadap segala bentuk narasi besar; penolakan filsafat
metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran yang mentotalisasi –
seperti Hegelianisme, Liberalsime, Marxisme, dan isme-isme lainnya.
Postmodernisme, sambil menolak pemikiran yang totaliter, juga “menghaluskan
kepekaan terhadap perbedaan dan memperkuat kemampuan toleransi terhadap
kenyataan yang tak terukur.” Prinsipnya bukanlah homologi para ahli, melainkan
paralogi para pencipta.
Pemikiran Lyotard berkisar tentang posisi pengetahuan di abad ilmiah kita,
khususnya tentang cara ilmu dilegitimasikan melalui “narasi besar” seperti
kebebasan, kemajuan, emansipasi, kaum proletar, dan sebagainya. Dengan
pandangan inilah, Lyotard membawa “postmodernisme” ke dalam medan diskusi
filsafat lebih luas. Sejak saat itu segala kritik atas pengetahuan universal, atas
tradisi metafisik, fondasionalisme maupun atas modernisme, diidentikkan dengan
“postmodern”. Oleh sebab itu, “postmodernisme” di bidang filsafat dan ilmu
pengetahuan memang ambigu; ia menjadi sekadar istilah yang memayungi hampir
segala bentuk kritik atas modernisme, meskipun satu sama lain berbeda. Dengan
demikian, istilah postmodernisme dipahami sebagai “segala bentuk refleksi kritis
atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.”

B. Konteks Sosial yang Melahirkan: “Penyimpangan” Modernisme


Modernisme berkaitan dengan bentuk-bentuk kebudayaan yang ditandai
dengan rasionalisme, positivisme, empirisme, industri, dan kecanggihan
teknologi. Menurut Chris Barker dalam Ali Maksum, dengan ciri-ciri tersebut,
modernisme menyuguhkan suatu keadaan yang selalu berubah dan tidak pasti.
Selain itu, juga selalu menjanjikan pada kita untuk membawa perubahan ke dunia
yang lebih mapan di mana urusan materi atau kebutuhan jasamani akan terpenuhi,
tidak akan ada lagi kelaparan dan kekurangan material. John Naisbitt dalam Ali
Maksum, juga mengatakan bahwa teknologi tak henti-hentinya menawarkan
penyelesaian kilat. Teknologi berikrar akan membuat kehidupan menjadi lebih
baik, membuat kita lebih pintar, meningkatkan kinerja kita, dan membuat kita
bahagia.
Barker telah menjelaskan bahwa akal dapat mendemistifikasi dan
menyingkap dunia, mengalahkan agama, mitos, dan takhayul. Dalam filsafat dan
wacana teoritis mengenai modernitas, “akal” dinobatkan sebagai sumber
kemajuan dalam pengetahuan dan masyarakat. Peran pemikiran pencerahan bagi
kemajuan hidup manusia adalah mendorong perkembangan ilmu-ilmu, pendidikan
universal, kebebasan politik dan keadilan.
Meskipun demikian, modernisme memiliki sisi gelap yang dapat
menyebabkan kehidupan manusia kehilangan disorientasi. Para pemikir, seperti
Max Horkheimer, Adorno, dan Herbert Marcuse – yang tergabung dalam Mazhab
Frankfurt, mengkritik bahwa pencerahan bukannya melahirkan kemajuan, tetapi
justru memunculkan penindasan dan dominasi. Akal mengarah bukan pada
pemenuhan kebutuhan material atau pencerahan filosofis, melainkan pada kontrol
dan perusakan. Teori kritis ingin membebaskan manusia dari pemanipulasian para
teknokrat modern.
Sisi gelap modernisme, menurut Anthony Giddens menimbulkan
berkembang biaknya petaka bagi umat manusia:
a. Penggunaan kekerasan dalam menyelasaikan sengketa.
b. Penindasan oleh yang kuat atas yang lemah.
c. Ketimpangan sosial yang kian parah.
d. Kerusakan lingkungan hidup yang kian memprihatinkan.

Produk akhir yang menimbulkan petaka, dipicu oleh:


a. Kapitalisme liberal yang mensyaratkan kompetisi tiada akhir akan
pertarungan pasar.
b. Industrialisme yang mensyaratkan inovasi tiada henti untuk memenangkan
persaingan pasar bebas.
c. Lemahnya kekuatan negara di dalam mengemban tugas minimalnya untuk
menciptakan tertib sosial yang aman, rukun, damai, dan adil.

Pada taraf praktis, terdapat konsekuensi buruk modernisme:


a. Krisis ekologi
b. Pola hubungan masyarakat jadi tidak manusiawi
c. Timbulah disorientasi moral-religius yang menyebabkan meningkatnya
kekerasan, keterasingan, depresi mental, dan disorientasi hidup.
d. Persaingan bebas.
e. Militerisme.
f. Bangkitnya kembali tribalisme, atau mentalitas yang mengunggulkan suku
atau kelompok sendiri.
Krisis sains modern menyadarkan ilmuwan untuk merevisi asumsi-asumsi
yang mendasari bangunan sains modern. Thomas Kuhn mengatakan bahwa pada
masa tertentu ilmu normal mendominasi aktivitas ilmiah. Tetapi seiring dengan
perkembangan dan perubahan, ilmu normal tidak dapat lagi menjelaskan
perkembangan yang terjadi. Inilah yang kemudian melahirkan krisis ilmu
pengetahuan. Krisis ini menjadi cikal bakal terjadinya revolusi ilmiah. Menurut
Kuhn, revolusi ilmiah pertama-tama menyentuh wilayah paradigma, yaitu cara
pandang terhadap dunia dan contoh-contoh prestasi atau praktik ilmiah konkret.
Krisis metode ilmiah dan lahirnya revolusi digambarkan tahap-tahapnya:
Tahap I: paradigma ilmiah membimbing dan mengarahkan aktivitas ilmiah dalam
masa ilmu normal. Ilmuwan menjabarkan dan mengembangkan paradigma
sebagai model ilmiah. Selama menjalani aktivitas, para ilmuwan menjumpai
berbagai fenomena yang tidak dapat dijelaskan dengan paradigma yang
digunakan, yang dinamakan anomali atau krisis. Anomali adalah suatu keadaan
yang memperlihatkan adanya ketidakcocokan antara kenyataan dengan paradigma
yang dipakai.
Tahap II: menumpuknya anomali menimbulkan krisis kepercayaan para ilmuwan
terhadap paradigma. Paradigma mulai diperiksa dan dipertanyakan. Para ilmuwan
mulai keluar jalur dari ilmu normal.
Tahap III: para ilmuwan bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang lama
sembari memperluas dan mengembangkan suatu paradigma tandingan yang
dipandang bisa memecahkan masalah dan membimbing aktivitas ilmiah
berikutnya. Proses peralihan dari paradigma lama ke paradigma baru inilah
dinamakan revolusi ilmiah.

Paradigma I ANOMALI/ Paradigma II


Ilmu Normal KRISIS Revolusi Ilmiah
C. Filsuf Awal Postmodernisme
Filsafatnya Soren Kierkegaard menunjukkan awal mula tumbangnya
modernisme dan munculnya postmodernisme, menentang rekonstruksi-
rekonstruksi rasional dan masuk akal yang menentukan keabsahan kebenaran
ilmu. Kriteria kebenaran yang berlaku bagi dunia modern adalah yang rasional
dan objektif. Namun Kierkegaard justru berpendapat sebaliknya, bahwa
kebenaran itu bersifat subjektif. Pendapat tentang “kebenaran subjektif”
menekankan pentingnya pengalaman dan relativitas yang dialami oleh individu-
individu.
Horkheimer dan Adorno menegaskan bahwa “rasionalitas pencerahan
adalah logika dominasi dan penindasan.” Disinyalir bahwa di dalam rasionalitas –
melalui sains – yang membawa misi untuk menguasai alam, terkandung hasrat
untuk mengendalikan dan menguasai umat. Mereka juga mengungkapkan dilema
rasionalitas dengan pernyataan seperti ini: “Akal pencerahan telah mengubah
rasionalitas menjadi irasionalitas dan penipuan karena ia memberangus cara-cara
berpikir yang lain dan mengaku sebagai satu-satunya dasar kebenaran.” Bukan
efek pencerahan yang diragukan, tetapi juga klaim terhadap kebenaran yang
bersifat universal pun ditolak.
Nietzsche menolak pengetahuan yang mengandung kebenaran yang
berlaku bagi siapa saja, dimana saja, dan kapan saja, karena pengetahan itu bukan
persoalan penemuan sejati, melainkan perkara konstruksi interpretasi-interpretasi
tentang dunia yang dianggap benar. Kebenaran juga bukan merupakan
sekumpulan fakta karena yang mungkin dilakukan hanyalah interpretasi dan
“dunia bisa diinterpretasikan dalam cara-cara yang tak terbatas jumlahnya.”
Keraguannya untuk mengakui universalitas pengetahuan dapat ditelusuri ke masa
sebelumnya sampai pada kaum skeptis.
Nietzsche menaruh perhatian besar terhadap kebudayaan modernitas.
Pandangannya terhadap kebudayaan modernitas bersifat reduksionis. Ia melihat
modernitas sebagai peningkatan kondisi dekadensi di mana tipe-tipe tinggi
dilevelkan oleh rasionalisme, liberalisme, demokrasi, dan sosialisme dan di mana
insting mengalami penurunan tajam. Menurutnya, nihilisme adalah kondisi di
mana “nilai-nilai tertinggi mendevaluasi dirinya sendiri.” Nietzsche memaparkan
dalam bukunya, dalam kaitannya dengan budaya barat, yang berarti Tuhan telah
mati. Secara singkat, nilisme tak lain adalah “kondisi postmodern”, yakni
berakhirnya segala metanarasi.
Ucapan Nietzsche mengenai Tuhan sudah mati, mengawali perang
melawan setiap bentuk jaminan kepastian yang sudah mulai pudar. Jaminan
kepastian yang pertama adalah Tuhan sebagaimana yang diwariskan oleh Kristen.
Jaminan kepastian lainnya, model-model Tuhan seperti ilmu pengetahuan, prinsip-
prinsip logika, rasio, sejarah, dan kemajuan. Dengan ucapannya tersebut ia
berpandangan bahwa tidak ada lagi kebenaran yang absolut. Manusia harus bebas
dari segala makna absolut yang menjamin dirinya dan dunianya. Manusia sendiri
yang harus menciptakan dunia dan memberikan nilai. Nilai ini tidak mengandung
kebenaran mutlak dan tata dunia moral.
Edmund Husserl mengatasi persoalan “subjek-objek” dengan cara
membongkar secara efektif paham tentang “subjek epistemologis” dan “dunia
objektif.” Dalam pencarian menganai persoalan epistemologi dan tentang ilmu
dan keilmiahan, ia menemukan fondasi absolut pengetahuan yang murni, yakni
dalam subjetivitas trasedental. Dunia objektif merupakan penafsiran tertentu atas
dunia pengalaman hidup sehari-hari yang mengatasi dan mendahului kategori-
kategori objektivistik maupun subjektivistik.
Martin Heidegger sangat kritis terhadap filsafat modern tentang manusia.
Manusia bukanlah segumpal substansi berpikir yang sadar diri, atau makhluk
yang kerjanya memikirkan dan merumuskan hal ihwal; tetapi manusia adalah
dasein, ia “ada dalam dunia.” Universalisme, representasionalisme, dualisme, dan
dialektika adalah pilar-pilar filsafat modern yang dirobohkannya. Fokus filsafat
Heidegger terletak pada dua tema:
a. Anti-Cartesianisme, yakni penolakan dualisme pikiran-tubuh, dan
pembedaan antara subjek dan objek.
b. Pencarian terhadap autentisitas, atau apa yang mungkin lebih tepat
dilukiskan sebagai ‘kepunyaan sendiri’, yang dapat dimengerti dengan
penjelasan tertentu, sebagai keutuhan. Pencarian terhadap autentisitas akan
membawa kita ke dalam persoalan-persoalan abadi tentang hakikat diri
dan arti kehidupan.
Kritik-kritik tersebut dapat dipahami sebagai gerakan untuk menuntut agar
narasi-narasi universal atau metanaratif memberi jalan pada lokalitas. Setiap
pengetahuan memiliki ruang kompetensinya sendiri.

D. Teoretisi Postmodernisme
1. Francouis Lyotard
Postmodernisme itu seperti intensifikasi dinamisme, upaya tak henti-
hentinya untuk mencari kebaruan, ekperimentasi dan revolusi kehidupan terus-
menerus. Lyotard mengatakan, “Marilah kita perangi totalitas...marilah kita
hidupkan perbedaan.” Ilmu pengetahuan postmodern bukanlah semata-mata
menjadi alat penguasa; ilmu pengetahuan postmodern memperluas kepekaan kita
terhadap pandangan yang berbeda dan memperkuat kemampuan kita untuk
bertoleransi atas pendirian yang tak mau dibandingkan.

2. Michel Foucault
a) Discourse, Power, and Knowledge
Foucault memang tidak secara tegas menolak pemikiran dari Nietzsche
mengenai keuniversalan pengetahuan, namun dari pandangannya ia menolak
tentang “wacana yang bersifat diskontinu. Pandangan diskontinuitasnya ini
merupakan salah satu aspek dari gugatannya terhadap tema-tema modern.
Beberapa asumsi pemikiran pencerahan “klasik” yang ditolak oleh
Foucault:
1) Pengetahuan itu tidak bersifat metafisis, transedental atau universal, tetapi
khas untuk setiap waktu dan tempat.
2) Tidak ada pengetahuan menyeluruh yang mampu menangkap karakter
“objektif” dunia, tetapi pengetahuan itu selalu mengambil perspektif.
3) Pengetahuan tidak dilihat sebagai cara pemahaman yang netral dan murni,
tetapi selalu terikat dengan rezim-rezim kekuasaan.
4) Pengetahuan sebagai wacana tidak muncul sebagai evolusi sejarah yang
konstan, melainkan bersifat kontinu.
Foucault menentang gagasan bahwa ada perpisahan yang jelas, pasti dan
final antara pemikiran pencerahan dan pasca-pencerahan, atau antara modern dan
pasca-modern. Ia ingin membongkar keterkaitan antara kesadaran, refleksi diri
dan kebebasan. Skeptisisme epitemologis telah membuat ia menyejajarkan
pengetahuan dan subjektivitas dengan kekuasaan, karenanya menganggap segala
bentuk kemajuan/pencerahan selalu saja sebagai tanda-tanda kian meningkatnya
bentuk kontrol atas kesadaran dan perilaku individu.
Hal yang inspiratif bagi postmodernisme adalah sikapnya dalam
memahami fenomena modern yang bernama “pengetahuan.” Ilmu-ilmu sosial dan
ilmu pengetahuan adalah agen-agen kekuasaan itu. Kekuasaan itu tidak selalu
negatif-represif melainkan juga positif-produktif. Hal menarik dari Foucault
adalah pengertiannya yang spesifik tentang “kekuasaan” itu. Baginya kekuasaan
bukanlah soal intensi individu, rezim ataupun kelas sosial tertentu, bukan pula
soal relasi produksi atau eksploitasi, melainkan jaringan relasi yang anonim dan
terbuka.
Foucault menguatkan kecenderungan pluralisme pemaknaan sejarah di
kalangan postmodernis. Jasa lain dari Foucault bagi postmodernisme: ia
menampilkan Otherness secara lebih konkret dan grafis, dengan analisis-
analisisnya atas pihak-pihak yang dalam modernitas biasanya dianggap tidak
normal dan tidak lazim.

b) Arkeologi Foucault
Karya awal Foucault berkaitan dangan kebudayaan modernitas. Karyanya
dilihat sebagai refleksi kritis atas perbedaan antara bentuk-bentuk kebudayaan dan
pra-modern dan modern. Faucault mengawali gagasannya tentang “arkeologi
kebisuan penderita kegilaan” dalam karyanya berjudul Madness and Civilization
(1961), di dalam suatu dunia di mana penderita kegilaan menggantikan penyakit
kusta sebagai kematian “yang telah tiba.”
Karya yang kedua berjudul Birth of the Clinic (1963), Foucault
menjalankan suatu “arkeologi tatapan medis.” Munculnya karya ini karena adanya
masalah pergeseran konsepsi ilmu kedokteran, dari yang berfokus pada kesehatan
dan yang masih menyediakan ruang bagi pasien untuk menjadi dokter bagi dirinya
sendiri pada abad ke 18, menuji konsepsi ilmu kedokteran yang berfokus pada
normalitas dimana tubuh pasien menjadi subjek tatapan yang berdaulat dari sang
dokter di dalam tatanan klinis rumah sakit modern. Berdasarkan kedua bukunya
tersebut ia mempersoalkan terbentuknya domain baru rasionalitas – ilmu
psikologi dan ilmu kedokteran modern – serta domain perbatasan yang diacu oleh
kedua ilmu tersebut: kegilaan dan kematian.
Karya The Order of Things: An Archaeology of The Human Sciences
(1996) terdapat tiga domain: kehidupan, kerja, dan bahasa. Menurut Foucault juga
terdapat tiga episteme berbeda-beda yang saling mendukung: masa renaissance,
periode klasik, dan abad ke-19. Dalam karya keempat dengan judul The
Archeology of Knowledge (1969), Faocault mencoba menjelaskan pengandaian
metodologis yang melatari karya-karya awalnya. Pendekatannya adalah dengan
menekankan otonomi diskursus atau formasi-formasi diskursif beserta kaidah-
kaidah atau regularitas yang menopangnya. Pendekatan ini mengesampingkan
tentang genesis dikursus dan hanya memusatkan perhatian pada soal kaidah-
kaidah formasi tersebut.

c) Genealogy of knowledge
Gagasan tentang genealogi muncul sejak pidato inagurasi Foucault.
Gagasan ini muncul demi melengkapi analisis tentang aspek diskursus yang mirip
sistem dengan suatu analisis tentang bagaimana aspek itu terbentuk. Akan tetapi,
genealogi di sini lantas menggantikan arkeologi. Sedangkan, decentring radikal
yang hakiki dalam pemikirannya tidak ditinggalkan. Tugas genealogi kekuasaan
sesungguhnya adalah menganalisis silsilah pengetahuan.
Menurut Foucault, pembedaan Nietzsche antara asal-usul dan silsilah
adalah pembedaan antara presentasi sejarah sebagai terbentangnya suatu gagasan
secara jelas serta sebagai fenomena yang murni kebetulan. Selain itu, ia juga
menggunakan gagasan Nietzsche tentang kemunculan (emergence) untuk
menunjukkan bahwa mode-mode pengetahuan memiliki pertalian erat dengan
meluapnya pelbagai kekuasaan. Oleh karena itu, Foucault sampai pada gagasan
tentang pasangan kekuasaan-pengetahuan (power-knowledge): suatu pasangan
yang secara dramatis mengekspresikan terikatnya diskursus secara erat pada relasi
antara kekuatan dan kekuasaan, maupun mengekspresikan kapasitas produktif
kekuasaan untuk menciptakan diskursus.

d) Kilas Balik Filsafat Foucalt


Foucault dalam karyanya Use of Pleasure menjelaskan ada beberapa gerak
kembali ke arkeologi. Namun yang dibahas olehnya adalah kelanjutan dari
arkeologi problematisasi dan bukannya mengenai diskursus lainnya. Ia tidak
mengonsentrasi diri pada kaidah internal atau regularitas formasi diskursif.
Namun, kini mengarahkan perhatian pada hubungan antara manusia dan dunia.
Foucault menaruh minat pada cara “manusia memproblematisasi siapa diri
mereka, apa yang mereka lakukan beserta dunia di mana mereka hidup.”
Pengarahan arkeologi menuju “problematisasi” ini lebih merupakan suatu
peralihan hermeneutis dalam pemikirannya mengenai kebudayaan.

3. Jacques Derrida
Buah pikiran Derida tentang deskontruksi yang merupakan salah satu
konsep kunci postmodernisme. Dekonstruksi secara etimologis berarti mengurai,
melepaskan, dan membuka. Pengertian dekonstruksi adalah sebuah metode
pembacaan teks secara interpretatif atau suatu hermeneutik dengan cara radikal.
Berbeda dari hermeneutik normal yang mencoba merekonstruksi kembali isi asli
sebuah makna atau suatu jaringan makna, dekonstruksi justru meninggalkan usaha
rehabilitasi seperti itu. Alih-alih menampilkan kehadiran makna asli sebuah teks,
dekonstruksi justru mengandaikan ketidakhadiran makna primordial seperti itu.

4. Richard Rorty
Menurut Rorty, filsafat telah menuju ke titik kebuntuan. Oleh karena itu,
perlu dilakukan penelitian ulang terhadap filsafat. Dalam bukunya berjudul
“epistemology centered philosophy.” Epistemologi didefinisikan sebagai
pencarian yang dirintis oleh Descartes untuk menemukan hal-hal yang istimewa
dalam wilayah kesadaran yang merupakan batu penjuru kebenaran.
Dengan demikian epistemologi merupakan fondasi kenyataan, dan Rorty
berusaha membuktikan, bahwa pencarian macam itu keliru, sebab mendasarkan
diri pada asumsi bahwa filsafat alam. Ia dengan anti-foundasionalismenya ingin
mengakhiri relasi “dunia objektif” dan “dunia subjektif” pengetahuan, dan
menggantinya dengan dunia yang sepenuhnya mandiri menanti subjek yang akan
membuat representasi mental tentangnya.
Rorty memusnahkan epistemologi dengan memakai istilah hermeneutik.
Menurutnya istilah itu bukan suatu disiplin, metode alternatif bagi epistemologi,
ataupun program riset, melainkan suatu ungkapan pengharapan bahwa ruang
kultural yang disisakan oleh kesudahan epistemologi tidak akan terisi.
Kekosongan ini adalah ketiadaan fondasi atau kerangka permanen.

5. Jean Baudrillard
Baudrillard memiliki sumbangan besar tehadap perkembangan teori sosial
postmodernisme. Karya awalnya menitikberatkan pada masalah ekonomi yang
dipengaruhi oleh perspektif Marxian. Perbedaannya yaitu Marxian lebih
memfokuskan pada produksi, sedangkan dirinya memfokuskan pada konsumsi.
Objek konsumsi adalah sesuatu yang diorganisir oleh tatanan produksi atau
perluasan kekuatan produktif yang diorganisir.
Kaum kapitalis menciptakan sistem komunikasi yang disebut kode untuk
mendukung masyarakat agar memanfaatkan hasil produksi yang sebesar-besarnya.
Kode dikomunikasin melalui sistem pemasaran dan iklan yang gencar. Melalui
kode ini, masyarakat dapat terstratifikasi sesuai dengan apa yang mereka
konsumsi dan membedakan dari masyarakat lain berdasarkan objek yang
dikonsumsi. Dengan demikian menurut Baudrillard, masyarakat seperti hidup
dalam simulasi yang dicirikan dengan ketidakbermanaan. Ia memfokuskan pada
kritik dan banyak perhatian yang dicurahkan pada persoalan kode dan kontrolnya
atas apa yang berlangsung ditengah masyarakat.

6. Fredric Jameson
Jameson mengadopsi posisis Marxis untuk mengembangkan teori sosial
budayanya. Ia menggunakan pola berpikir Marxis yang menjelaskan epos historis
yang baru (pascamodernisme), yang menurutnya bukan modification dari
kapitalisme, melainkan ekspansi darinya. Periode historis yang ada sekarang ini
bukanlah keterputusan, melainkan kelanjutannya.

C. Teori: Logika Kultural Kapitalisme Akhir


Periode Late Capitalism yang dipakai Jameson dipinjam dari periodesasi
yang dibuat oleh Mandel, yang membagi perkembangan kapitalisme menjadi 3
fase:
1) Kapitalisme pasar
2) Monopoli (imperialisme)
3) Modal multinasional
Periode terakhir ini bukan hanya konsisten dengan analisis Marx, namun bahkan
diklaim sebagai fase kapitalisme yang paling murni karena fase ini merupakan
ekspansi luar biasa dari kapital ke wilayah-wilayah yang belum dikomodifikasi.
a) Kritik terhadap Postmodernisme
Habermas berpendapat postmodern hanyalah lanjutan dari modernitas
yang belum selesai, karena itu pemikir postmodern tidak dapat menyatakan diri
melampaui modernitas itu. Kritik Habermas terhadap postmodernisme:
1) Pemikir postmodernis kurang tegas mebedakan apakah mereka meciptakan
teori yang serius (ilmiah) atau mengarang sastra.
2) Habermas merasa bahwa argumen pada postmodernisme sarat dengan
sentimen normatif, namun sentimen mereka itu disembunyikan dari
pembaca.
3) Habermas mengkritik postmodernisme sebagai perspektif yang gagal
“membedakan fenomena dan praktik yang terjadi pada masyarakat
modern.”
4) Pemikir postmodern dituduh mengabaikan praktik kehidupan dunia.
a) Postmodernisme dan Kritik Pembangunan
Pemikiran-pemikiran postmodernisme dapat digunakan untuk
menganalisis diskursus terhadap tantangan pembangunan. Postmodernisme telah
menyumbangkan perkembangan teori kritik terhadap teori pembangunan dan
modernisasi dari perspektif yang sangat berbeda dengan teori-teori kritik
sebelumnya.
Menurut Foucault, sumbangan terbesar postmodernisme terhadap kritik
pembangunan merupakan suatu diskursus yang menyiratkan penguasaan negara
maju terhadap negara terbelakang. Menurutnya, diskursus pembangunan adalah
alat untuk mendominasi. Sedangkan, sumbangan terbesar postmodernisme
terhadap teori dan perubahan sosial adalah membuat teori itu lebih sensitif
terhadap relasi kekuasaan dan dominasi menyadarkan kita bagaimana relasi
kekuasaan teranyam di setiap aspek kehidupan.
b) Kilas Balik Postmodernisme
Postmodernisme menurut Derida dan Lyotard, merupakan antitesis dari
modernisme. Beberapa istilah yang digunakan dalam dua aliran tersebut:
MODERNISME POSTMODERNISME
Sentralisasi Desentralisasi
Pertarungan kelas Pertarungan etnis
Konstruksi Dekonstruksi
Kultur Sub-kultur
Hermeneutis Nihilisme
Budaya tinggi Budaya rendah
Hierarki Anarki
Industri Pasca-industri
Teori Paradigma
Kekuatan negara Kekuatan bersama
Agama Sekte-sekte
Legitimasi Delegitimasi
Konsensus Dekonsensus
Budaya tradisional Liberalisme
Kontinuitas Diskontinuitas
Postmodernisme dibagi menjadi 2 aliran besar:
1) Postmodernisme epistemologis, memahami kembali posisi dan otoritas
filsafat, rasionalitas, dan kebenaran secara agak lain.
2) Postmodernisme empiris, lebih diorientasikan pada hal-hal yang bersifat
dampak nyata dari kemodernan.
c) Relevansi Postmodernisme bagi Kehidupan Masa Kini
Hal menarik dan bisa diterima dari apa yang ditawarkan oleh
pascamodernisme. Lepas dari sah atau tidaknya keberadaan pascamodernisme,
kenyataannya dia ada atau tidaknya keberadaannya harus diakui. Soal membawa
manfaat atau tidak, kita tidak bisa menilai dari satu segi saja, sebab selalu saja ada
dua sisi: baik dan buruk. Tentunya, itu telah menambah perbendaharaan kita
tentang pengetahuan.
POSTMODERNISME PANDANGAN ISLAM
1. Hasan Hanafi
a. Biografi dan Setting Sosial Hasan Hanafi
Hasan Hanafi lahir pada 13 Februari 1935 di Kairo, Mesir di dekat
Benteng Salahuddin, daerah Perkampungan Al-Azhar. Perkampungan ini
dekat dengan Universitas Al-Azhar dimana tempat ini merupakan tempat
bertemunya para mahasiswa muslim dari berbagai dunia. Tradisi keilmuan
berkembang disana sejak lama. Meskipun lingkungan sosialnya dapat
dikatakan tidak terlalu mendukung. Menurut sejarah dan kebudayaan kota
Mesir telah dipengaruhi oleh peradaban-peradaban besar sejak masa
Fir’aun, Romawi, Bizantium, Arab, Mamluk da Tukri dan bahkan Eropa
Modern. Hasan Hanafi adalah filusuf hukum Islam serta guru Besar
Fakultas Filsafat Universitas kairo.
Hasan hanafi sekolah di sekolah dasar, selesai tahun 1948. Melanjutkan ke
Madrasah Tsanawiyah “Khalil Agha” kairo selesai tahun 1952.mulai di
tsanawiyah inilah, ia mulai aktif mengikuti diskusi-diskusi al-ikhwan al-
muslimun. Dari kegiatannya ini pemikirannya mulai berkembang. Setelah
Tsanawiyah Ia melanjutkan studi di Departemen Filsafat Universitas kairo
selesai pada tahun 1956 sebagai Sarjana muda. Setelah itu Hanafi
melanjutkan studi di Universitas Sorbonne Prancis dengan mengambil
konsentrasi pada kajian pemikiran Barat pra-Modern dan Modern.
Menyelesaikan program master dan doktornya pada tahun 1966, dengan
tesis Les Methodes d’Exegeses: Essei sur La Science des Fondament de
La Conprehension Ilmu Ushul Fiqh dan desertasi berjudul L’Exegese de
La Phenomenologie, L’etat actuel de la Methode Phenomenologie et
sonapplication au Phenomene Religiux.
b. Pemikiran Hasan Hanafi
Basis sosial Hasan Hanafi adalah kondisi obyektif dunia Islam pada
umumnya yang masih mempresentasikan diri dengan simbol-simbol
keterbelakangan kemiskinan kebodohan dan sebagainnya, sebagai musuh
internal umat. Sementara kapitalisme global dengan sejumlah tawaran-
tawaran entetisnya berupa proyek rasionalisasi dan sistem pengorganisasi
sosial yang bersifat absolut sebagai penggolongan kebebasan manusia
yang bersifat tunggal dan hegemonik. Realitas ini menghadapakan timur
pada situasi yang dilematis. Di satu sisi dihadapkan pada situasi untuk
menerima kapitalisme global dengan segala implikasinya sebagai
keniscayaan sejarah , sementara di sisi lain, kondisi obyektif dunia timur
(Islam) masih diselimuti problem internal berupa ketidaksiapan sosiologis
maupun epistimologis sebagai basis kebudayaannya.
Hasan Hanafi dalam karyanya yang berjudul at-turats wa at-Tajdid
dirumuskan kedalam 3 bagian yang saling berhubungan. Pertama adalah
rekonstruksi tradisi Islam dengan melakukan interpretasi kritis dan kritik
historis yang mencerminkan “apresiasi terhadap hasanah klasik”. Kedua
rekonstruksi ulang terhadap batas-batas kultural Barat melalui pendekatan
kritis yang tercermin dalam “sikap kita terhadap barat”. Yang ketiga adalah
upaya membangun sebuah teori interpretasi al-Quran yang mencakup
dimensi kebudayaan dari agama dalam skla global yang memposisikan
islam sebagai fondasi ideologis bagi kemanusiaan (sikap kita terhadap
realitas).
Menurut Hanafi dari sekian banyak kitab suci yang di turunkan
oleh Alloh swt hanya al-Quarna lah yang bisa di jamin keasliannya saat
ini. Hanafi juga sepakat dengan ulama terdahulu hanafi menyatakan
bahwasanya Alloh swt menurunkan al-Quran secara vertikal kepada nabi
Muhammad melalui malaikat Jibril. Dalam proses vertikal ini Malaikat
dan Nabi Muhammad bertindak sebagi Passive transmiters. Keduanya
bertindak sebagai sebagai record sepenuhnya, sehingga wahyu alloh
bersifat verbatim.
Hanafi menginginkan penafsiran al-Quran menjadi sumber rujukan
utama dalam bidang keilmuan lainnya seperti filsafat, fiqih, tasawuf ushul
fiqih dll. Penafsiran klasik tidak pernah tuntas dan tafsir ini hanya terjebak
pada orientasi metodologis dari disiplin ilmu klasik islam. Dalam
penafsiran ini al-Quran lebih banyak digunakan sebagai justifikasi atas
posisi keilmuan lain daripada memahaninya secara sunggung-sungguh. al-
Quran dipaksakan untuk menguatkan posisi ilmu yang lain. Orientasi tafsir
klasik menurut hasan hanafi mempunyai 3 kelemahan. Pertama penafsiran
ini lebih bersifat teosentris daripada antroposentris. Kedua, berujukan
kepada lingkup islam klasik, dan yang terakhir tidak pernah dimulai
dengan mengkritik.
Hal ingin diwujudkan Hanafi dalam pemikirannya adalah
merekonstruksi peradaban dengan menunjukan pada sumber-sumbrnya,
atau reinterprtasi wahyu itu sendiri yang mendasarkan kepada realitas
kehidupan kontemporer masyarakat. Hanafi menggunakan hermeneutika
sebagai alternatif metode interpretasi teks atas

Hanafi juga menambahkan pendapatnya secara jelas bahwa ia


menyatakan keluar dari tradisionalisme (taklidisme) dan tidak mengikuti
jejak para salaf ash-shalih.Hasan Hanafi secara tegas mengajak kepada
kita untuk mengalih fokus kajian dari Alloh swt dan Rosul, yang menjadi
pusat kajian ilmu kalam dalam pengetahuan tradisional, menuju manusia
yang sekarang sbagai objek kajian.
Hasan Hanafi dan Kiri Islam
Makna kata “kiri” disini adalah nama ilmiah, sebuah istilah ilmu
politik yang berarti resistensi dan kritisisme dan menjelaskan jarak anatara
realitas dan idealitas. Ia juga istilah ilmu-ilmu kemanusiaan secara umum.
Kata Kiri Islam sendiri muncul secara spontan. Penamaan itu pun setelah
meliahat realitas yang berkembang dalam masyarakat khususnya umat
islam yang kehidupannya terkotak-kotak seperti antara penguasa dan
rakyat, kaya dengan yang miskin, atasan dengan bawahan, dll. Kiri Islam
berada pada posisi yang dikuasai, si miskin, terpinggirkan. [18]Kiri Islam
berada pada pihak yang terkotak-kotak di bawah, mengambil hak-hak
kaum miskin yang terenggut oleh orang-orang kaya, memperkuat orang-
orang yang lemah menjadi umat yang super, menjadikan manusia tidak
hidup terkotak-kotak menjadikan manusia sama tingginya. Dalam bahasa
ilmu politik, kiri berarti perjuangan dan kritisisme.
2. Harun Nasution
a. Biografi
Harun Nasution lahir pada hari Selasa 23 September 1919 di
Pemantang Siantar, Sumatera Utara. Bapaknya adalah seorang kadi
(penghulu) setempat. Menurut penuturannya, sang ayah sering membaca
kitab kuning berbahasa Melayu, suka berkunjung atau berdiskusi dengan
banyak orang yang mengetahui agama. Sang ayah menikah dengan ibunya
yang semarga. Padahal dalam hukum adat itu adalah terlarang. Tetapi
ayahnya melarang adat. Akibatnya ayahnya perlu membayar denda dan
akhirnya pergi ke Pemantangsiantar. Disana lah ia dilahirkan. Ia menjadi
anak keempat dari lima bersaudara. Awalnya ia disurūḥ oleh orang tuanya
untuk masuk sekolah Belanda, HIS. Di rumah, ia belajar ngaji dan menulis
bahasa ‘Arab di sekolah (HIS). Meskipun sekolah umum tapi pelajaran
menulis ‘Arab diberikan, karena masyarakat pada masa itu masih
menggunakan tulisan ‘Arab Melayu.
b. Pemikiran Harun Nasution
Harun Nasution dikenal umum sebagai seorang cendikiawan muslim
yang sangat rasional dan liberal. Dalam ceramahnya, Harun selalu
menekankan agar kaum muslim Indonesia berfikir secara rasional. Ia juga
mengajurkan sepatutnya kita dapat meniru SyĪ’aħ yang sudah berfikir
rasional. Karena pemikirannya ini banyak kalangan yang menolak, tetapi
ada juga yang memberi apresiasi. Ia merasa heran mengapa umat Islām
harus saklekpadahal ajaran Islām memberikan ruang yang begitu luas
kepada umat muslim untuk bisa berinovasi. Menurutnya ajaran Islām yang
qaṭ’iyyaħ cuma sedikit, seperti Tuhan itu ada dan Esa, keharaman riba dan
memakan daging babi serta khamr. Sedangkan sisanya adalah ayat-ayat
yang masih bersifat dzann’iy dilalah bahkan kalau ḥadĪṡ masih ada yang
bersifat dzann’iy al-wurud. Untuk itu, menurutnya semua aspek –bukan
hanya aspek fikiħ- dalam Islām masih banyak yang bisa kita inovasi tanpa
merubah esensi ajarannya. Ia memberi contoh, dalam bidang akidah pun
ada yang bersifat dzann’iy dilalah dan dzann’iyal-wurud seperti perihal
rukun iman keenam. Karena menurutnya Alqurān tidak menyebutkan kada
dan kadar. Beliau juga setuju dengan sistem penyatuan kelas antara laki-
laki dan perempuan. Karena menurutnya tidak ada dalil yang secara
terang-terangan melarang itu. Bahkan mengenai hukum waris ia setuju
dengan pendapat Munawir Syadzali.
Harun menyatakan bahwa keadaan statis yang melanda di tubuh
umat muslim saat ini ialah karena merasa terikat pada ajaran-ajaran bukan
dasar yang dihasilkan oleh zaman silam (ijtihād). Sebagai gantinya
diperlukan ajaran bukan dasar (ijtihād) baru dengan menimbulkan
penafsiran baru dari ajaran dasar yang terdapat dalam Alqurān dan hadits
yang disesuaikan dengan tuntutan zaman.
3. Munawir sazali
a. Biografi
Munawir Sjadzali lahir di Karanganom, sebuah desa di wilayah
Klaten, Jawa Tengah pada 7 November 1925. Ia lahir dari keluarga
miskin dan menjalani kehidupan yang sulit pada masa kecilnya
bersama tujuh orang saudaranya. Ayahnya bernama Abu Aswad Hasan
Sjadzali atau yang lebih dikenal dengan nama Mughaffir adalah
seorang alim tetapi tidak punya keahlian atau keterampilan lain di luar
pengetahuan agama sehingga tidak mempunyai mata pencarian yang
tetap. Berbekal kebun kelapa warisan yang tidak begitu luas ia
menghidupi istri dan delapan anaknya secara pas-pasan.
Munawir menempuh pendidikan dasar di Solo (1937-1940), kemudian
melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren Manba‘-u al-‘Ulum
pada tahun 1943.Setelah selesai menamatkan pendidikannya di
Manba‘-u al-‘Ulum, Munawir sempat mengajar di sekolah rakyat
Muhammadiyah di Salatiga dan Gunungpati, daerah Semarang. Ia juga
sempat aktif dan menjadi tokoh dalam Gerakan Pemuda Islam
Indonesia (GPII), sebuah organisasi kepemudaan yang saat-saat awal
kemerdekaan bernaung di bawah partai politik Masyumi. Selain itu ia
juga tergabung dalam barisan Hizbullah yang dahulu memang banyak
menghimpun para pemuda santri dalam perjuangan kemerdekaan RI.
b. Pemikiran Munawir
Menurut dia, sistem politik adalah suatu konsepsi yang berisikan
antara lain, ketentuan-ketentuan tentang siapa sumber kekuasaan
negara; siapa pelaksana kekuasaan tersebut; apa dasar dan bagaimana
cara untuk menentukan kepada siapa wewenang melaksanakan
kekuasaan itu diberikan; kepada siapa pelaksana kekuasaan itu
bertanggung jawab dan bagaimana bentuk tanggung jawab tersebut.
Pertanyaan tentang sistem politik ini begitu penting untuk
dikemukakan karena ia merupakan kata kunci bagi pertanyaan yang
bisa muncul kemudian, yaitu apakah dalam ajaran Islam terdapat
sistem politik yang bisa memunculkan suatu sistem yang baku dan
dapat dijadikan patokan pengambilan format kenegaraan bagi umat
Islam.
Alquran sebagai kitab suci umat Islam, di dalamnya terdapat
sejumlah ayat yang mengandung petunjuk dan pedoman bagi manusia
dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Di antara ayat-ayat tersebut
mengajarkan tentang kedudukan manusia di bumi dan tentang prinsip-
prinsip yang harus diperhatikan dalam kehidupan kemasyarakatan
seperti prinsip-prinsip musyawarah atau konsultasi, ketaatan pada
pemimpin, keadilan, persamaan, dan kebebasan beragama. Tetapi baik
Alquran maupun Sunnah Rasul tidak mengajarkan sistem
pemerintahan tertentu yang harus dianut oleh umat Islam. Nabi wafat
tanpa memberikan petunjuk tentang bagaimana seharusnya umat Islam
menentukan siapa pemimpin atau kepala negara mereka, tentang
bagaimana mengatur hubungan kekuasaan antara kepala negara dan
rakyat, tentang batas kekuasaan, dan masa jabatan kepala negara, dan
tentang dapat atau tidaknya kepala negara dibebaskan dari jabatannya.
Berdasarkan kenyataan sejarah tersebut, Munawir kelihatannya
setuju bahwa sistem politik yang baku itu sebenarnya tidak ada dalam
Islam. Islam hanya memberikan prinsip-prinsip dan tata nilai bagi
setiap Muslim dalam menjalankan suatu negara dan pemerintahan.
Ketika menyusun tesis ilmiah untuk memperoleh gelar kesarjanaan
pada Georgetown University, Washington DC 1959, melalui
penelitiannya yang berjudul Indonesia’s Muslim Political Parties and
Their Political Concept ia berkesimpulan bahwa agama Islam tidak
mempunyai preferensi terhadap suatu sistem politik tertentu; dan di
dalam Islam hanya terdapat seperangkat tata nilai etika kenegaraan.
DAFTAR PUSTAKA

Maksum, Ali. 2014. Pengantar Filsafat. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.