Anda di halaman 1dari 6

IKAN KERAPU CANTANG

(Epinephelus sp)

Nama : Andi Alpidia Nur


Nim : 1522010142

Budidaya Perikanan A
Politeknik Pertanian Negeri Pangkep
2015
Deskripsi ikan kerapu cantang (Epinephelus sp)

Perekayasaan hibridisasi ikan kerapu antara ikan kerapu macan betina dan
kerapu kertang jantan telah menghasilkan satu varietas baru yang secara
morfologis mirip dengan kedua spesies induknya, sedangkan partumbuhannya
lebih baik daripada ikan kerapu macan dan kerapu kertang itu sendiri.

1. Klasifikasi Kerapu Cantang

Filum : Chordata

Subfilum : Vertebrata

Kelas : Chondrichthyes

Subkelas : Ellasmobranchii

Ordo : Percomorphi

Subordo : Percoidea

Famili : Serranidae

Genus : Epinephelus

Spesies : Epinephelus sp

2. Habitat dan Tingkah Laku


Ikan kerapu macan hidup di kawasan terumbu karang yang terdapat di
perairan-perairan dangkal hingga 100 m dibawah permukaan air laut. Selain
perairan yang berkarang, tempat tenggelamnya kapal menjadi rumpon yang
nyaman bagi ikan kerapu. Ikan tersebut akan berdiam dalam lubang-lubang
karang atau rumpon dengan aktifitas yang relatif rendah.
daerah penyebaran kerapu macan meliputi Afrika Timur sampai dengan
pasifik barat daya. Di Indonesia kerapu macan banyak ditemukan di perairan
pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Buru, dan Ambon. Salah satu indikator
adanya kerapu ini adalah wilayah karang yang bentangannya cukup luas.
Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas, sehingga potensi sumber
daya dan pengembangan kerapu macan sangat besar. Ikan kerapu ini hidup di
perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 – 3 m, setelah menginjak
dewasa (burayak) berpindah ke perairan yang lebih dalam yakni kedalaman
7 – 40 m, biasanya perpindahan ini terjadi pada siang dan sore hari.

3. Siklus Hidup Kerapu Cantang


Siklus hidup kerapu cantang hampir sama seperti jenis ikan kerapu
lainnya, yakni bersifat protogini dimana pada tahap perkembangan mencapai
dewasa dari yang mulanya berkelmin betina akan berubah menjadi jantan.
Fenomena perubahan jenis kelamin ini sangat erat hubungannya dengan
aktivitas pemijahan, umur dan indeks kelamin. Perubahan ini berlangsung
setelah ikan betina berukuran di atas 3 kg sedangkan pada ikan jantan
berukuran di atas 5 kg (Ramadhani, 2010).

4. Kebiasaan Makan
Ikan kerapu termasuk ikan karnivora yang buas dan rakus, hidup
menyendiri atau kelompok-kelompok kecil pada perairan terumbu karang dan
beberapa di daerah estuaria serta menyukai naungan sebagai tempat
bersembunyi. Pada stadia larva sampai juvenil, makanannya adalah
zooplankton dari jenis Rotifer, Acaria, naupli Artemia, Copepode dan jenis
lainnya, sedangkan dari stadia juvenil sampai fingerling adalah udang
jambret, udang rebon, ikan-ikan kecil dan jenis Crustacea lainnya.
Selanjutnya ikan-ikan muda dan dewasa, jenis makanan yang disukai adalah
ikan, udang dan cumi-cumi yang berukuran 10-25% ukuran tubuhnya. Ikan
kerapu mencari makan dengan jalan menyergap mangsanya dari tempat
persembunyian dan setelah itu kembali lagi
Ikan kerapu mempunyai kebiasaan makan pada pagi hari sebelum matahari
terbit dan menjelang matahari terbenam. Di alam kerapu mencari makan
sambil berenang diantara batu-batu karang, lubang atau celah-celah batu yang
merupakan tempat persembunyiannya. Kerapu tidak pernah mau mengambil
atau mengkonsumsi pakan yang diberikan apabila sudah sampai ke dasar,
meskipun kerapu dalam keadaan lapar. Biasanya kerapu berdiam di dasar dan
tidak akan menyergap pakan yang diberikan jika mereka sudah kenyang
5. Hama dan penyakit
 Tumbuhan air

Lumut dapat mengganggu sirkulasi air di keramba jaring apung,


sehingga akan menghalangi arus air yang masuk yang berakibat berkurangnya
suplai oksigen. Penanggulangan yang dapat dilakukan adalah dengan
melakukan pembersihan secara berkala dengan menggunakan alat berupa
mesin semprot (compressor).

 Ikan liar

Ikan liar sebagai kompetisi ikan kerapu dalam mendapatkan makanan


di dalam keramba. Semakin banyak ikan liar di sekitar keramba maka ikan
budidaya sulit dalam mendapatkan makanan.

 Parasit
Menurut Puja dkk, (2001) parasit yang menyerang ikan kerapu
antara lain : Monogenia(termasuk golongan Playtheminthes) yang
menyerang kulit, Diplectanum sp (sejenis cacing pipih
golongan Trematoda) menyerang
insang, Isopoda (golongan Crustacea) yang menyerang pangkal lidah
dan insang, Cryptocaryon irritans dan Trichodina sp
(golonganProtozoa) yang menyerang kulit, insang dan sirip.
 Bakteri
Ikan yang terserang bakteri menunjukkan gejala antara lain nafsu
makan berkurang, terjadi kelesuan, pembusukan pada sirip, mata
menonjol dan terjadi pengumpulan cairan pada perut. Bakteri yang
biasa menyerang ikan kerapu bebek antara lain : Vibrio sp,
Pateurellia spdan Pseudomonas sp. Kematian yang timbul dari
serangan bakteri biasanya tidak terjadi secara massal dan berlangsung
secara bertahap dan terus-menerus.

6. Teknik Pembesaran Kerapu Cantang

a) Penyediaan Benih
Benih kerapu di alam susah didapat (Akbar, 2002), akan tetapi
benih kerapu yang diproduksi dari hatchery dapat memenuhi
kebutuhan untuk budidaya ikan di Indonesia. Sepanjang induk kerapu
dapat bertelur setiap bulan maka benih ikan kerapu akan tersedia
sepanjang tahun.
b) Penebaran Benih
Kondisi benih yang lemah selama transportasi akan mudah
terserang penyakit. Selama transportasi, benih mendapatkan banyak
stress akibat perlakuan yang tidak sesuai. Penanganan benih dapat
dilakukan dengan cara aklimatisasi/penyesuaian suhu dan waktu
penebaran harus disesuaikan dengan lingkungan perairan (Sutarmat
dkk., 2004).
Sebelum ditebar, biasanya benih di grading sesuai dengan umur, berat,
besar dan jenis ikan yang sama. Peebaran benih sebaiknya dilakukan
pad pagi hari, karena pada sore hari ikan bisa mulai makan dan juga
mempunyai waktu yang cukup untuk beradaptasi pada tempat yang
baru sebelum malam (Sutarmat dkk., 2004).
c) Pemberian Pakan
Pakan ikan kerapu bisa menggunakan pelet dan pakan rucah. Ikan
rucah digunakan sebagai pakan agar tidak kesulitan dalam
mendapatkan pakan secara kontinyu(terus-menerus). Kualitas ikan
rucah yang jelek ditandai dengan ikan yang membusuk, bau yang
tidak sedap dan ikan yang telah teroksidasi sebaiknya tidak digunakan
sebagai pakan (Sutarmat dkk., 2003).
Kualitas ikan rucah yang jelek menyebabkan masalah kurangnya
nutrisi ikan rucah. Hal penting yang harus dilakukan adalah memilih
ikan rucah yang memiliki nutrisi cukup bagi ikan, seperti lemuru dan
teri yang mempunyai enzim theaminase yang dapat
merusak theamine(Vit. B1). Jika pemberian pakan secara terus
menerus hanya memakai jenis ikan tersebut maka kerapu akan
menderita kekurangan Vit. B1.
d) Pengelolaan Kualitas Air dan Jaring
Kualitas air baik secara langsung maupun tidak langsung
mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan
pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan yang dibudidayakan
(Rizal, 2010 dalam Septian, 2013). Di dalam air laut jaring cepat
tersumbat dengan lumpur dan penempelan organisme lain seperti alga
dan kepiting. Jaring harus sering diganti dan dicuci untuk menjaga
agar sirkulasi air berjalan lancar. Ini adalah salah satu cara
pengeloalan untuk menjaga kesehatan ikan khususnya mencegah
penyakit yang disebabkan parasit.
Jarak waktu penggatian jaring tergantung dari kondisi perairan tempat
pemeliharaan. Pada jaring dengan mata yang kecil lebih cepat terjadi
penyumbatan (Budidarma, 2011). Pencucian jaring dilakukan saat
jarig sudah terlihat kotor, pada waktu yang sama dilakukan monitoring
pertumbuhan ikan dengan cara menimbang berat badan ikan (Zulkifli,
1999)
IKAN KERAPU CANTANG
(Epinephelus sp)

Oleh Kelompok 5 :
Andi Alpidia Nur
Amriadi
Alprianus Viktor Saputra

Budidaya Perikanan A
Politeknik Pertanian Negeri Pangkep
2015