Anda di halaman 1dari 13

A.

Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan fisik bentuk dan gait tubuh
Menurut Kretschmer, bentuk tubuh terdiri atas :

a. Astenikus (ektomorf) adalah bentuk tubuh yang panjang-panjang, kurus,


toraks sempit dan gepeng, skapula kelihatan menonjol, otot kelihatan
kecil, biasanya berwatak pesimis, sering termenung, mudah tersinggung,
senang mengasingkan diri. Mempunyai kecenderungan untuk mengidap
penyakit ulkus peptikum, tirotoksikosis, kolitis ulserosa, tbc, skizofrenia.
b. Atletikus (mesomorf) adalah bentuk tubuh yang seimbang seperti atlit,
tegap, otot-otot berkembang baik. Biasanya bersifat tenang tidak terlalu
ramah, cenderung menderita hipertensi.
c. Piknikus (endomorf) adalah bentuk tubuh pendek, gemuk, bulat, perut
besar. Umumnya bersifat ramah, mudah bergaul, senang tertawa.
Cenderung menderita DM, batu empedu, aterosklerosis, psikosis manik
depresif.

Gaya berjalan/ gait tubuh adalah suatu proses kompleks yang dipengaruhi
oleh sejumlah mekanisme tubuh dan merupakan hasil dari kerjasama dari
berbagai jenis refleks.

2. Pemeriksaan fisik fungsi sensori & motorik


1)Pemeriksaan neurosensorik
a. Gangguan penglihatan (kabur/ tidak jelas), sinar terang dapat
menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer,
kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat / merasa diruang gelap
(katarak), tampak lingkaran cahaya / pelangi sekitar sinar, kehilangan
penglihatan perifer, fotfobia (galukoma akut) bahan kaca mata /
pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.
b. Tanda : pupil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berwarna,
peningkatan air mata.
c. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menggunakan oftalmaskop untuk
mengetahui adanya cupping dan atrofi diskus optikus. Diskus optikus
menjadi lebih luas dan dalampada glaukoma akut primer, karena
anterior dangkal, Aqueus humor keruh dan pembuluh darah menjalar
keluar dari iris.
d. Pemeriksaan lapang pandang perifer, pada keadaan akut lapang pandang
cepat menurun secara signifikan dan keadaan kronik akan menurun
secara bertahap.
e. Pemeriksaan melalui inspeksi, untuk mengetahui adanya inflamasi mata,
sklera kemerahan, kornea keruh, dilatasi pupil, sedang yang gagal
bereaksi terhadap cahaya (Indriana N. Istiqomah, 2004)

2) Pemeriksaan motoric
Pemeriksaan sistim motorik sebaiknya dilakukan dengan urutan
urutan tertentu untuk menjamin kelengkapan dan ketelitian
pemeriksaan.
Setiap ekstremitas diperiksa dan dinilai dengan skala berikut yang
digunakan secara internasional :

RESPON SKALA
Kekuatan normal 5
Kelemahan sedang 4
Kelemahan berat (antigravity) 3
Kelemahan berat (not antigravity) 2
Gerakan trace 1
Tak ada gerakan 0
1. Pengamatan
a. Gaya berjalan dan tingkah laku.
b. Simetri tubuh dan ektremitas.
c. Kelumpuhan badan dan anggota gerak, dan lain-lain.
2. Gerakan volunteer
Yang diperiksa adalah gerakan pasien atas permintaan pemeriksa,
misalnya:
a. Mengangkat kedua tangan pada sendi bahu.
b. Fleksi dan ekstensi artikulus kubiti.
c. Mengepal dan membuka jari-jari tangan.
d. Mengangkat kedua tungkai pada sendi panggul.
e. Fleksi dan ekstensi artikulus genu.
f. Plantar fleksi dan dorso fleksi kaki.
g. Gerakan jari- jari kaki.
3. Palpasi otot
a. Pengukuran besar otot.
b. Nyeri tekan.
c. Kontraktur.
d. Konsistensi (kekenyalan).
e. Konsistensi otot yang meningkat terdapat pada:
- Spasmus otot akibat iritasi radix saraf spinalis, misal:
meningitis, HNP
- Kelumpuhan jenis UMN (spastisitas)
- Gangguan UMN ekstrapiramidal (rigiditas)
- Kontraktur otot
d. Konsistensi otot yang menurun terdapat pada:
- Kelumpuhan jenis LMN akibat denervasi otot.
- Kelumpuhan jenis LMN akibat lesi di “motor end plate”
4. Perkusi otot
b. Normal : otot yang diperkusi akan berkontraksi yang bersifat
setempat dan berlangsung hanya 1 atau 2 detik saja.
c. Miodema : penimbunan sejenak tempat yang telah diperkusi
(biasanya terdapat pada pasien mixedema, pasien dengan gizi
buruk).
d. Miotonik : tempat yang diperkusi menjadi cekung untuk beberapa
detik oleh karena kontraksi otot yang bersangkutan lebih lama dari
pada biasa.
5. Tonus otot
e. Pasien diminta melemaskan ekstremitas yang hendak diperiksa
kemudian ekstremitas tersebut kita gerak-gerakkan fleksi dan
ekstensi pada sendi siku dan lutut. Pada orang normal terdapat
tahanan yang wajar.
f. Flaccid : tidak ada tahanan sama sekali (dijumpai pada
kelumpuhan LMN).
g. Hipotoni : tahanan berkurang.
h. Spastik : tahanan meningkat dan terdapat pada awal gerakan, ini
dijumpai pada kelumpuhan UMN.
i. Rigid : tahanan kuat terus menerus selama gerakan misalnya pada
Parkinson.
6. Kekuatan otot
j. Pemeriksaan ini menilai kekuatan otot, untuk memeriksa kekuatan
otot ada dua cara:
1) Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau
badannya dan pemeriksa menahan gerakan ini.
2) Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan
pasien dan ia disuruh menahan.
k. Cara menilai kekuatan otot:
1) 0 : Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot, lumpuh total.
2) 1 : Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan
gerakan pada persendiaan yang harus digerakkan oleh otot
tersebut.
3) 2 : Didapatkan gerakan,tetapi gerakan ini tidak mampu
melawan gaya berat (gravitasi).
4) 3 : Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat.
5) 4 : Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula
mengatasi sedikit tahanan yang diberikan.
6) 5 : Tidak ada kelumpuhan (normal)

3. Pemeriksaan keseimbangan
Untuk memeriksa gangguan keseimbangan ada beberapa tes yang bisa
dilakukan, yaitu :
1. Tes Romberg Pasien yang memiliki gangguan propioseptif masih
dapat mempertahankan keseimbangan menggunakan kemampuan
sistem vestibular dan penglihatan. Pada tes romberg, pasien diminta
untuk menutup matanya. Hasil tes positif bila pasien kehilangan
keseimbangan atau terjatuh setelah menutup mata. Tes romberg
digunakan untuk menilai propioseptif yang menggambarkan sehat
tidaknya fungsi kolumna dorsalis pada medula spinalis. Pada pasien
ataxia (kehilangan koordinasi motorik) tes romberg digunakan
untuk menentukan penyebabnya, apakah murni karena defisit
sensorik/propioseptif, ataukah ada gangguan pada serebelum.
Pasien ataxia dengan gangguan serebelum murni akan
menghasilkan tes romberg negatif.
Untuk melakukan tes romberg pasien diminta untuk berdiri dengan
kedua tungkai rapat atau saling menempel. Kemudian pasien
disuruh untuk menutup matanya. Pemeriksa harus berada di dekat
pasien untuk mengawasi bila pasien tiba – tiba terjatuh. Hasil
romberg positif bila pasien terjatuh. Pasien dengan gangguan
serebelum akan terjatuh atau hilang keseimbangan pada saat berdiri
meskipun dengan mata terbuka.
2. Tes Tandem Walking Tes lain yang bisa digunakan untuk
menentukan gangguan koordinasi motorik adalah tes tandem
walking. Pasien diminta untuk berjalan pada satu garis lurus di atas
lantai dengan cara menempatkan satu tumit langsung di antara
ujung jari kaki yang berlawanan, baik dengan mata terbuka atau
mata tertutup.
3. Finger to nose test Gangguan pada serebelum atau saraf – saraf
propioseptif dapat juga menyebabkan ataxia tipe dismetria.
Dismetria berarti hilangnya kemampuan untuk memulai atau
menghentikan suatu gerak motorik halus. Untuk menguji adanya
suatu dismetria bisa dilakukan beberapa pemeriksaan, salah satunya
adalah finger to nose test. Pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan
pasien dalam kondisi berbaring, duduk atau berdiri. Diawali pasien
mengabduksikan lengan serta posisi ekstensi total, lalu pasien
diminta untuk menyentuh ujung hidungnya sendiri dengan ujung
jari telunjuknya. Mula – mula dengan gerakan perlahan kemudian
dengan gerakan cepat, baik dengan mata terbuka dan tertutup.

4. Pemeriksaan reflek
a) Refleks fisiologis
1) Biseps
a. Stimulus : ketokan pada jari pemeriksa yang ditempatkan
pada tendon m. Biseps brachii, posisi lengan setengah ditekuk
pada sendi siku.
b. Respons : fleksi lengan pada sendi siku.
c. Afferent : n. musculucutaneus (C5-6)
d. Efferenst : idem
2) Triseps
a. Stimulus : ketukan pada tendon otot triseps brachii, posisi
lengan fleksi pada sendi siku dan sedikit pronasi.
b. Respons : extensi lengan bawah disendi siku
c. Afferent : n. radialis (C 6-7-8)
d. Efferenst : idem
3) KPR
a. Stimulus : ketukan pada tendon patella
b. Respons : ekstensi tungkai bawah karena kontraksi m.
quadriceps emoris.
c. Efferent : n. femoralis (L 2-3-4)
d. Afferent : idem
4) APR
a. Stimulus : ketukan pada tendon Achilles
b. Respons : plantar fleksi kaki karena kontraksi m. gastrocnemius
c. Efferent : n. tibialis ( L. 5-S, 1-2 )
d. Afferent : idem
5) Periosto-radialis
a. Stimulus : ketukan pada periosteum ujung distal os radii,
posisi lengan setengah fleksi dan sedikit pronasi
b. Respons : fleksi lengan bawah di sendi siku dan supinasi
karena kontraksi m. brachioradialis
c. Afferent : n. radialis (C 5-6)
d. Efferenst : idem
6) Periosto-ulnaris
a. Stimulus : ketukan pada periosteum proc. styloigeus
ulnea, posisi lengan setengah fleksi & antara pronasi – supinasi.
b. Respons : pronasi tangan akibat kontraksi m. pronator
quadratus
c. Afferent : n. ulnaris (C8-T1)
d. Efferent : idem

b) Refleks patologis
1) Babinski
a. Stimulus : penggoresan telapak kaki bagian lateral dari posterior
ke anterior.
b. Respons : ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan (fanning) jari
– jari kaki.
2) Chaddock
a. Stimulus : penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral, sekitar
malleolus lateralis dari posterior ke anterior.
b. Respons : seperti Babinski
3) Oppenheim
a. Stimulus : pengurutan crista anterior tibiae dari proksimal ke
distal
b. Respons : seperti Babinski
4) Gordon
a. Stimulus : penekanan betis secara keras
b. Respons : seperti Babinski
5) Schaeffer
a. Stimulus : memencet tendon achilles secara keras
b. Respons : seperti Babinski
6) Gonda
a. Stimulus : penekukan ( planta fleksi) maksimal jari kaki keempat
b. Respons : seperti Babinski
7) Hoffman
a. Stimulus : goresan pada kuku jari tengah pasien
b. Respons : ibu jari, telunjuk dan jari – jari lainnya berefleksi
8) Tromner
a. Stimulus : colekan pada ujung jari tengah pasien
b. Respons : seperti Hoffman

5. Pemeriksaan Visus

Pemeriksaan visus merupakan pemeriksaan fungsi mata. Gangguan penglihatan


memerlukan pemeriksaan untuk mengetahui sebab kelainan mata yang
mengakibatkan turunnya visus. Visus perlu dicatat pada setiap mata yang memberikan
keluhan mata.

Pemeriksaan visus dapat dilakukan dengan menggunakan Optotype Snellen,


kartu Cincin Landolt, kartu uji E, dan kartu uji Sheridan/Gardiner. Optotype Snellen
terdiri atas sederetan huruf dengan ukuran yang berbeda dan bertingkat serta disusun
dalam baris mendatar. Huruf yang teratas adalah yang besar, makin ke bawah makin
kecil. Penderita membaca Optotype Snellen dari jarak 6 m, karena pada jarak ini mata
akan melihat benda dalam keadaan beristirahat atau tanpa akomodasi. Pembacaan
mula-mula dilakukan oleh mata kanan dengan terlebih dahulu menutup mata kiri.
Lalu dilakukan secara bergantian. Tajam penglihatan dinyatakan dalam pecahan.
Pembilang menunjukkan jarak pasien dengan kartu, sedangkan penyebut adalah jarak
pasien yang penglihatannya masih normal bisa membaca baris yang sama pada kartu.
Dengan demikian dapat ditulis rumus:

V =D/d

Keterangan:
V = ketajaman penglihatan (visus)

d = jarak yang dilihat oleh penderita

D = jarak yang dapat dilihat oleh mata normal

Pada tabel di bawah ini terlihat visus yang dinyatakan dalam sistem desimal, Snellen
dalam meter dan kaki.

Data Penggolongan Visus dalam Desimal

Data Penggolongan Visus

Dengan Optotype Snellen dapat ditentukan tajam penglihatan atau kemampuan


melihat seseorang, seperti :
1. Bila visus 6/6 maka berarti ia dapat melihat huruf pada jarak 6 meter, yang oleh
orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 6 meter.

2. Bila pasien hanya dapat membaca pada huruf baris yang menunjukkan angka 30,
berarti tajam penglihatan pasien adalah 6/30.

3. Bila pasien hanya dapat membaca huruf pada baris yang menunjukkan angka 50,
berarti tajam penglihatan pasien adalah 6/50.

4. Bila visus adalah 6/60 berarti ia hanya dapat terlihat pada jarak 6 meter yang oleh
orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 60 meter.

5. Bila pasien tidak dapat mengenal huruf terbesar pada kartu Snellen maka dilakukan
uji hitung jari. Jari dapat dilihat terpisah oleh orang normal pada jarak 60 meter.

6. Bila pasien hanya dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang diperlihatkan
pada jarak 3 meter, maka dinyatakan tajam 3/60. Dengan pengujian ini tajam
penglihatan hanya dapat dinilai sampai 1/60, yang berarti hanya dapat menghitung jari
pada jarak 1 meter.

7. Dengan uji lambaian tangan, maka dapat dinyatakan visus pasien yang lebih buruk
daripada 1/60. Orang normal dapat melihat gerakan atau lambaian tangan pada jarak 1
meter, berarti visus adalah 1/300.

8. Kadang-kadang mata hanya dapat mengenal adanya sinar saja dan tidak dapat
melihat lambaian tangan. Keadaan ini disebut sebagai tajam penglihatan 1/~. Orang
normal dapat melihat adanya sinar pada jarak tidak berhingga.

9. Bila penglihatan sama sekali tidak mengenal adanya sinar maka dikatakan
penglihatannya adalah 0 (nol) atau buta total. Visus dan penglihatan kurang dibagi
dalam tujuh kategori. Adapun penggolongannya adalah sebagai berikut:

a. Penglihatan normal
Pada keadaan ini penglihatan mata adalah normal dan sehat

b. Penglihatan hampir normal

Tidak menimbulkan masalah yang gawat, akan tetapi perlu diketahui penyebabnya.
Mungkin suatu penyakit masih dapat diperbaiki.

c. Low vision sedang


Dengan kacamata kuat atau kaca pembesar masih dapat membaca dengan cepat.

d. Low vision berat

Masih mungkin orientasi dan mobilitas umum akan tetapi mendapat kesukaran pada
lalu lintas dan melihat nomor mobil. Untuk membaca diperlukan lensa pembesar kuat.
Membaca menjadi lambat.

e. Low vision nyata

Bertambahnya masalah orientasi dan mobilisasi. Diperlukan tongkat putih untuk


mengenal lingkungan. Hanya minat yang kuat masih mungkin membaca dengan kaca
pembesar, umumnya memerlukan Braille, radio, pustaka kaset.

f. Hampir buta

Penglihatan kurang dari 4 kaki untuk menghitung jari. Penglihatan tidak bermanfaat,
kecuali pada keadaan tertentu. Harus mempergunakan alat nonvisual.
g. Buta total

Tidak mengenal rangsangan sinar sama sekali. Seluruhnya tergantung pada alat indera
lainnya atau tidak mata. Di bawah ini ditunjukkan tabel penggolongan keadaan tajam
penglihatan normal, tajam penglihatan kurang (low vision) dan tajam penglihatan
dalam keadaan buta.