Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

Tonsilitis Folikularis

Pembimbing :

dr. Arsi Widyastriastuti, Sp.A

Disusun Oleh :

Mahdi Yusuf

201620401011106

SMF ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT BHAYANGKARA KEDIRI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

FAKULTAS KEDOKTERAN

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas

rahmatNya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus stase Ilmu Kesehatan Anak

dengan topik “Tonsilitis Folikularis”.

Laporan ini disusun dalam rangka menjalani kepaniteraan klinik bagian

Ilmu Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Tidak lupa penulis

ucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam

penyusunan laporan kasus ini, terutama kepada dr. Arsi Widyastriastuti, Sp.A

selaku dokter pembimbing yang telah memberikan bimbingan kepada penulis

dalam penyusunan dan penyempurnaan laporan kasus ini. Tidak lupa pula, penulis

juga mengucapkan terima kasih kepada dr.Nieken Susanti, Sp.A, M.Biomed dan

dr. Taufik Raffendi, Sp.A atas ilmu yang beliau berikan kepada penulis.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan kasus ini masih jauh dari

sempurna, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis

harapkan. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dalam bidang

kedokteran khususnya Bagian Ilmu Kesehatan Anak.

Kediri, Januari 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................. 2

Daftar Isi........................................................................................................... 3

BAB I Laporan Kasus ..................................................................................... 4

BAB II Pembahasan ......................................................................................... 17

Daftar Pustaka .................................................................................................. 23

3
BAB I
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : An. SA Nama ibu : Ny. H
Usia : 6 th 8 bln Usia : 30 th
Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : IRT
BB : 18 kg Pendidikan : Strata 1
Masuk RS : 21-12-17 pukul 21.00
Alamat : Dusun Takat, KampungBaru, Nganjuk

ANAMNESIS (Heteroanamnesis)
1. Keluhan utama : Panas badan
2. RPS : Ibu pasien mengatakan bahwa pasien panas badan tiba-tiba sudah 2
hari ini. Panas sumer-sumer terus menerus, panas badan disertai nyeri saat
menelan. Terasa mual dan hari ini muntah 4 kali, , badan terasa lemas dan
nafsu makan berkurang. Pasien mengeluh batuk (+) dan pilek (+) sejak 2
hari ini. BAK dan BAB lancar, mencret (-).
3. RPD : Riwayat TB Paru 3 tahun lalu (+). Riwayat alergi makanan/obat (-
). Riwayat sakit thypoid (+), gastritis (-), DHF (-), malaria (-), asma (-),
kejang (-).
4. RPK : Tidak ada keluarga dirumah yang sakit seperti pasien..
5. RPSos : Bapak dari pasien tidak merokok, lingkungan rumah tidak
berpolusi jauh dari jalan utama kendaraan, pasien suka beli jajanan di luar
rumah.
6. Riwayat Pengobatan : sanmol (+) Lagesil (+)
7. Riwayat Kehamilan dan persalinan : Kontrol rutin ke bidan saat
kehamilan, riwayat muntah berlebihan (-), riwayat hipertensi (-),
perdarahan (-) atau keadaan patologi lainnya (-). Anak ke-1, perempuan,
cukup bulan, SptB, berat badan lahir 3000 gram, langsung menangis.

4
8. Riwayat Gizi : Dari lahir minum ASI sampai usia 2 tahun. MPASI mulai
diberikan saat usia 6 bulan. Pasien makan 2-3x/hari namun sedikit
porsinya.
9. Riwayat Imunisasi :
Imunisasi Frekuensi Usia
Hepatitis B 3 0, 1, 6 bulan
Polio 5 0, 2, 4, 6, booster 18 bulan
BCG 1 2 bulan
DTP 4 2, 4, 6, booster 18 bulan
Campak 2 9, booster 24 bulan
MMR 1 15 bulan

5
PEMERIKSAAN FISIK

PEMERIKSAAN AWAL DI IGD (21 Desember 2017, jam 21.00)

Pemeriksaan Umum

- Keadaan umum : Cukup

- Kesadaran : Komposmentis

- Tanda vital :

 Nadi : 106x/ menit

 RR : 22 x/ menit

 Suhu : 37,7° C

 BB : 18 kg

Kepala/Leher

Mata : Anemis -/-, ikterus -/-, edema palpebral (-)

Cekung -/-, konjungtiva hiperemi (-/-)

Mulut : Pucat (-), sianosis (-),lidah kotor (-), mukosa bibir basah,

faring hiperemis (-), tonsil hiperemi +/+, tonsil T2/T2 +

detritus (+)

Leher : Pembesaran KGB (-)

Thorax

Pulmo : Ronkhi (-/-), wheezing (-/-) , vesikuler +/+

Cor : S1/S2 tunggal, gallop (-), murmur (-)

Abdomen

Bising usus (+) normal, soefl, hepar dan lien tidak teraba, NT (-), timpani

seluruh lapangan abdomen

Ekstremitas Akral hangat, kering, merah, CRT < 2 detik, edema -/-

9
Riwayat terapi di IGD
 IVFD D5 ½ NS 1400cc/24jam
 Inj Ondancentron 3 x 2 mg
 P.O Puyer Cetirizin 1/3 / Ambroxol 1/3 3x 1
 P.O Eritromisin 3x200 mg
 Jam 00.15 pasien merasakan gatal dan kemerahan di tangan dan kaki lalu
diberikan Inj. Diphenhiramin ½ amp dan Puyer Cetirizin

PEMERIKSAAN PENUNJANG YANG DILAKUKAN DI IGD


- DL
- UL
- Swab Tenggorok

10
PEMERIKSAAN SAAT PASIEN di R. Melati (23 Desember 2017 14.00)

PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan Umum

- Keadaan umum : Cukup

- Kesadaran : Komposmentis, GCS E4V5M6

- Tanda vital :

 Nadi : 100x/ menit

 RR : 20 x/ menit

 Suhu : 36,,2° C

 BB : 18 kg

Kepala dan leher

Kulit dan wajah : wajah dalam batas normal

Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik

Hidung : pernapasan cuping hidung (-)

Lidah dan bibir : sianosis (-) bibir normal, lidah kotor (-), faring hiperemis

(-), tonsil hiperemi +/+, tonsil T2/T2, detritus (-)

Leher : tidak ada pembesaran KGB

Thorax Pulmo :

-Inspeksi : retraksi suprasternal (-)

-Palpasi : Pergerakan dinding dada simetris

-Perkusi : suara sonor lapang paru dextra dan sinistra

Ves +/+ Rh - - Wh - -
- - - -
Auskultasi:

11
Thorax Cor :

-Inspeksi : ictus kordis tidak tampak

-Palpasi : ictus kordis tidak kuat angkat, thrill (-)

-Perkusi : Batas jantung dbn

-Auskultasi : S1/S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen :

Inspeksi : Perut datar

Auskultasi : Bising usus (+) normal

Palpasi : Soefl (+), nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

Perkusi : Timpani, turgor kulit normal

Ekstremitas : Akral hangat, kering, merah, CRT < 2 detik, edema -/-

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Darah Lengkap (21-12-17) Swab Tenggorok (21-12-17) Urin Lengkap (21-12-17)


 RBC 4,95 x 106 ul - Tidak Ditemukan bakteri - SG 1.015
 Hb 13,5 g/dl Pool Correl Basil - PH 6,5
- Ditemukan Bakteri - Leu (-)
 Hct 38,2% - Nit (-)
diplococcus dan Batang
 PLT 272 x 103 ul Gram Negatif - Pro (-)
 WBC 12,7 x 103 ul - Glu (-)
 Neu 82,8 % - Ket (-)
 Lym 9,3 % - Ery (-)
Sedimen :
 Mon 4,6 % Eritrosit (-)
 Eos 2,5 % Leukosit (-)
 Bas 0,8 % Kristal : Ca Phospat 0-
 LED 18 /jam 1/lpk
Epitel (-)
Lain-lain (-)

Diagnosis

Problem List

An. SA, 6 th 8 bln Tonsil hiperemi, T2/T2

Febris Detritus

12
Nyeri tenggorokan

Nausea

Vomiting

Batuk

Pilek

Initial Diagnosis

 Tonsilitis Folikularis dd Tonsilitis Difteri

Perencanaan/Planning

Planning Diagnosis:

DL (sudah dilakukan)

Swab Tenggorokan (Sudah Dilakukan)

ASSESMENT :

OF Hari ke-3 Tonsilitis Folikularis dd Susp.Tonsilitis Difteri

PLANNING TERAPI:

 Infus D5 ½ NS 1500cc/24jam

 Injeksi Ondancentron 2x3mg k/p

 Puyer Cetirizin/Ataroc 2x1

 Ambroxol 3x1

 Eritromisin 3x300 mg

 Cobazim 3x1

 Sanbe Kid 2x1

 Diet Nutrimilk Drink 5 cangkir per hari

13
Planning Monitoring

1. Monitoring keluhan (demam, nyeri tenggorokan, muntah, batuk, pilek)

2. Vital Sign (N, RR, t)

3. Pemeriksaan Fisik (Tonsil)

Planning Edukasi

1. Menjelaskan kepada keluarga tentang penyakit pasien, bahaya penyakit,

pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan, terapi yang akan diberikan

dan pencegahan penyakit.

2. Setelah KRS orang tua diminta kontrol, untuk mengetahui perkembangan

kesembuhan dari pasien, dan mencegah perburukan dari penyakitnya.

3. Langkah promotif/preventif: asupan nutrisi tetap diberikan sama seperti

keadaan anak saat sehat dan mengurangi makanan yang banyak

mengandung pengawet, pemanis buatan, dan pewarna makanan,

kebersihan perorangan, kebersihan lingkungan, higiene mulut yang baik,

mengurangi jumlah polusi udara disekitar tempat tinggal. Mengajak anak

untuk aktif berolahraga seperti diajak berjalan saat pagi hari, untuk

meningkatkan daya tahan tubuh anak.

14
FOLLOW UP

TGL Subjektif Objektif Assessment Planning


23-12-17 Panas (-), nyeri Keadaan umum: cukup Tonsilitis Planning Tx :
tenggorokan Kesadaran: Komposmentis, Folikularis
 Infus KaEn 3B
berkurang, mual GCS E4V5M6
1500cc/24jam
(-), muntah (-), Tanda vital :
batuk (+) pilek (+)  Nadi : 100x/ menit  Puyer ambroxol 3x1
berkurang, BAB  RR : 20x/ menit
 Puyer cetirizine/ataroc
cair 2x (+)  Suhu : 36,0 ° C
2x1
Kepala/Leher: a/i/c/d -/-/-/-
Tonsil merah muda, Tonsil  Puyer cobazim 3x1
T2/T2 detritus (-)
 Probio Kid 2x1 Cth
Thorax: retraksi dinding
dada (-), stridor (-)  Cefixime 2x75 mg

vesikuler/vesikuler+,  Sirup Zink 1x1 Cth


ronchi, wheezing
 Diet TK/LH/TS
- - - -
 Diet Nutrimilk Drink 5
- - - -
cangkir per hari
Abdomen: flat ,soefl, NT (-)
hepar-lien tidak teraba besar
Ekstremitas: akral hangat
(+), CRT <2 detik , edema -/-
24-12-17 Panas (-), nyeri Keadaan umum: cukup Tonsilitis Planning Tx :
tenggorokan (-), Kesadaran: Komposmentis, Folikularis KRS
mual (-), muntah (- GCS E4V5M6
- Puyer cobazim 3x1
), batuk (-) pilek (- Tanda vital :
- Probio Kid 2x1 Cth
) BAB (-)  Nadi : 100x/ menit
 RR : 20x/ menit - Puyer Cefixime 2x75 mg
 Suhu : 36,6 ° C - Diet Nutrimilk Drink 5
Kepala/Leher: a/i/c/d -/-/-/-

15
Tonsil merah muda, Tonsil cangkir per hari
T2/T2 detritus (-)
-
Thorax: retraksi dinding
dada (-), stridor (-)
vesikuler/vesikuler+,
ronchi, wheezing

- - - -

- - - -

Abdomen: flat ,soefl, NT (-)


hepar-lien tidak teraba besar,
BU (+)
Ekstremitas: akral hangat
(+), CRT <2 detik , edema -/-

16
BAB II

PEMBAHASAN

Melaporkan kasus An.SA, perempuan, 6 tahun 8 bulan dengan keluhan


panas badan tiba-tiba. Panas badan sumer-sumer dan terus menerus. Panas disertai
nyerimenelan. Mengeluh mual dan muntah hari ini sudah 4 kali. Sudah 2 hari ini
panas disertai batuk dan pilek, nafsu makan menurun. BAK dan BAB lancar, tidak
ada mencret.
Sebelumnya pasien tidak pernah sakit seperti ini. Pasien pernah mengidap
penyakit Tuberkulosis 3 tahun yang lalu dan pernah sakit Thypoid. Pasien tidak
mempunyai riwayat alergi makanan/obat. Bapak dari pasien tidak merokok,
lingkungan rumah tidak berpolusi jauh dari jalan utama lalu lalang kendaraan,
pasien suka beli jajanan di luar rumah.
Dari riwayat prenatal, pasien merupakan anak pertama, berjenis kelamin
perempuan, lahir cukup bulan, berat badan lahir 3000 gram, lahir secara normal
pervaginam dan langsung menangis. Dari lahir Dari lahir minum ASI sampai usia
2 tahun. MPASI mulai diberikan saat usia 6 bulan. Pasien makan 2-3x/hari
namun sedikit porsinya. Riwayat perkembangan dan pertumbuhan baik. Menurut
keterangan ibu pasien, pasien melakukan imunisasi lengkap.
Dari pemeriksaan fisik awal di IGD didapatkan suhu 37,7°C, tonsil
hiperemis, tonsil T2/T2, dan tampak detritus. Pemeriksaan laboratorium
menunjukan adanya leukositosis. Hasil pemeriksaan Urin Lengkap tidak
ditemukan adanya kelainan, dan dari pemeriksaan Swab Tenggorokan tidak
didapatkan Pool Correl Basil dan ditemukan bakteri Diploccocus dan Batang
Gram Negatif.
Data Follow up mulai tanggal 23-12-17 menunjukan bahwa pasien juga
mengalami BAB cair 2 kali yang keluar cukup banyak, terdapat ampas, dan tidak
ada lendir ataupun darah. Pemeriksaan fisik di ruangan didapatkan tonsil
hiperemis dan detritus sudah hilang namun masih dirasakan nyeri telan, batuk (+),
pilek (+), tidak didapatkan nyeri tekan pada perut, akral hangat, turgor kulit
kembali cepat, dan CRT< 2 detik.

17
Penegakan Diagnosa
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik awal, kemungkinan
diagnosa adalah tonsilitis akut. Menurut Soepardi tahun 2007, Tonsilitis adalah
peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Cincin
Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut
yaitu tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsil faucial), tonsil lingual
(tonsil pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring atau
Gerlach’s tonsil). Beberapa tanda yang menunjukan tonsilitis termasuk :
- Tonsil hiperemi dan bengkak
- Ada selaput kuning atau putih yang menutupi tonsil
- Throaty voice
- Nyeri tenggorokan
- Rasa tidak nyaman atau nyeri pada saat menelan
- Pembesaran kelenjar getah bening pada leher
- Fever
Pada pasien telah ditemukan nyeri tenggorokan, nyeri pada saat menelan,
fever, pemeriksaan fisik ditemukan tonsil yang hiperemi serta bengkak (tonsil
T2/T2) didapatkan bercak-bercak putih pada tonsil dimana pasien dapat
didiagnosis mengalami tonsilitis.
Tonsilitis dimulai saat kuman masuk ke tonsil melalui kriptanya secara
aerogen yaitu droplet yang mengandung kuman terhisap oleh hidung kemudian
nasofaring terus masuk ke tonsil maupun secara foodborn yaitu melalui mulut
masuk bersama makanan.
Tonsil dibungkus oleh suatu kapsul yang sebagian besar berada pada fosa
tonsil yang terfiksasi oleh jaringan ikat longgar. Tonsil terdiri dari banyak
jaringan limfoid yang disebut folikel. Setiap folikel memiliki kanal (saluran) yang
ujungnya bermuara pada permukaan tonsil. Muara tersebut tampak oleh kita
berupa lubang yang disebut kripta. Saat folikel mengalami peradangan, tonsil
akan membengkak dan membentuk eksudat yang akan mengalir dalam saluran
lalu keluar dan mengisi kripta yang terlihat sebagai kotoran putih atau bercak
kuning. Kotoran ini disebut detritus. Detritus sendiri terdiri atas kumpulan
leukosit polimorfonuklear, bakteri yang mati dan epitel tonsil yang terlepas.

18
Tonsilitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsilitis folikularis. Tonsilitis
akut dengan detritus yang menyatu lalu membentuk kanal-kanal disebut tonsilitis
lakunaris.

Detritus dapat melebar dan membentuk membran semu (pseudomembran)


yang menutupi tonsil. Adanya pseudomembran ini menjadi alasan utama tonsilitis
akut didiagnosa banding dengan angina Plaut Vincent, angina agranulositosis,
tonsilitis difteri, dan scarlet fever.

Menurut Udayan et al pada tahun 2017, penyebab tersering pada tonsilitis


akut adalah virus, namun pada beberapa kasus tonsilitis akut yang lebih sering
menyebabkan adalah karena bakteri terutama oleh group A beta-hemolytic
Streptococcus pyogenes (GABHS).
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pasien diagnosis yang
mungkin pada pasien adalah suspect tonsilitis folikularis et causa bacterial
infection.
Dari data Follow up mulai tanggal 23-11-17 menyebutkan bahwa pasien
mengeluh BAB cair 2 kali. Pemeriksaan fisik ditemukan BU normal, tidak ada
nyeri tekan pada perut, dan tidak ditemukan tanda-tanda dehidrasi. Berdasarkan
hal ini kemungkinan pasien mengalami efek samping dari penggunaan obat
eritromisin. Sebab jika melihat dari gejala yang timbul, BAB hanya muncul
dengan frekuensi kurang dari 3 kali dalam 24 jam, lalu setelah di follow up lagi
pada tanggal 24 dengan pemberian golongan antibiotic yang lain, konsistensi dan
frekuensi kembali normal.
Menurut Hawkyard dkk, eritromisin selain mempunyai efek antimikroba,
juga memiliki efek yang lain bila saat dikonsumsi. Fungsi eritromisin sebagai
agen prokinetik juga telah diselidiki untuk berbagai gangguan motilitas usus.
Guarino et al (2014) mendefinisikan GEA sebagai penurunan konsistensi
tinja (lembek atau cair) dan peningkatan frekuensi (biasanya 3 atau lebih dalam 24
jam), dengan atau tanpa demam atau muntah.

19
Penatalaksanaan Tonsilitis Folikularis
Antibiotik
Analisis Cochrane terbaru dari tahun 2013 dalam penelitian Klaus Stelter

(2014) menunjukkan efektivitas antibiotik yang berbeda pada tonsilitis. Penisilin,

khususnya pada anak-anak dan remaja, menunjukkan manfaat terbesar dan juga

biaya yang terendah. Cephalosporin lebih efektif pada anak di bawah usia 12

tahun dan untuk tonsilitis rekuren, karena dapat membasmi lebih banyak strain

streptokokus. Makrolida dan klindamisin pada anak-anak akan membangkitkan

lebih banyak efek samping dengan khasiat yang sama dan oleh karena itu hanya

diberikan untuk penderita yang alergi Penisilin. Dosis Penisilin V oral 15-

30mg/kgbb/hari terbagi dalam 3 dosis selama 10 hari atau Benzatin Penisilin G

dosis tunggal 600.000 IU (<30kg) 1.200.000 IU (>30kg) atau Amoksisilin

50mg/kgbb/hari terbagi dalam 3 dosis selama 6 hari. Cephalosporin yang sering

digunakan adalah Cefixime dengan dosis 8mg/kgbb/hari dosis tunggal atau

terbagi dalam 2 dosis.

Satu keuntungan dari antibiotik makrolida modern adalah durasi

pengobatan yang jauh lebih singkat, yang seharusnya meningkatkan kepatuhan.

Seperti sebelumnya, durasi terapi standar yang direkomendasikan dengan

Penisilin untuk infeksi streptokokus akut adalah 10 hari.

Terapi Suportif
Analgesik
Obat antiinflamasi non steroid telah berhasil digunakan sebagai analgesik
pada anak-anak selama lebih dari 40 tahun . Untuk tonsilitis akut, Ibuprofen
menunjukkan kemanjuran tertinggi dengan efek samping minimal dibandingkan
dengan Parasetamol dan asam asetilsalisilat (ASA). Keuntungan lain Ibuprofen
adalah durasi kerja yang lebih lama 6-8 jam berbeda dengan Parasetamol. Kisaran
terapeutik kedua zat itu sama besar pada dosis yang benar dan potensi

20
keamanannya sebanding. Namun, dalam kasus overdosis dengan parasetamol,
kerusakan hati jauh lebih sulit diobati. Sebagai perbandingan, ASA menunjukkan
efek samping gastrointestinal yang lebih signifikan dan tidak boleh digunakan
untuk tonsilitis akut dengan kemungkinan tonsilektomi berikutnya karena
penghambatan agregasi platelet.
Diklofenak dan ketorolac pada anak-anak memiliki lebih sedikit docking
sites dan dimetabolisme lebih cepat, itulah sebabnya mengapa dosisnya harus
disesuaikan (dosisnya lebih tinggi daripada orang dewasa). Metamizol tidak
dianjurkan sebagai analgesik pilihan pertama atau kedua pada anak-anak karena
risiko agranulositosis yang ada di literatur dunia (Klaus Stelter, 2014).
Pada pasien ini lebih dianjurkan Paracetamol sebagai analgesiknya dengan
dosis 10mg/kgbb/x. Paracetamol tersebut juga dapat digunakan sebagai
antipiretik.
Terapi dari IGD juga memberikan Ondansetrone. Ondansetrone dapat
diberikan sebagai antiemetik agents.

Pencegahan Tonsilitis
- Rajin sikat gigi setelah makan dan sebelum tidur
- Berkumur dengan obat kumur antiseptik
- Menghindari makanan yang berpengawet. Pengawet pada makanan akan
sulit dicerna oleh enzim pencernaan mulut dimana folikelnya dapat
menyumbat kripta tonsil. Di dalam kripta tonsil terdapat debris, leukosit,
antibodi, sehingga dapat terjadi peradangan dalam tonsil.
Komplikasi

• Peritonsilitis

Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus
dan abses.

• Abses Peritonsilar (Quinsy)

21
Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil.Sumber infeksi
berasal dari penjalaran tonsillitis akut yang mengalami supurasi,
menembus kapsul tonsil dan penjalaran dari infeksi gigi.

• Abses Parafaringeal

Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah bening
atau pembuluh darah.Infeksi berasal daridaerah tonsil, faring, sinus
paranasal, adenoid, kelenjar limfe faringeal, os mastoid dan os petrosus.

• Abses Retrofaring

Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring.Biasanya terjadi


pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih
berisi kelenjar limfe.

• Kista Tonsil

Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan


fibrosa dan ini menimbulkan kista berupa tonjolan pada tonsil berwarna
putih dan berupa cekungan, biasanya kecil dan multipel.

Diagnosis Banding pada kasus ini adalah

Clue and Cue Problem List Initial Diagnosis Planning Dx

- An. MA, 4th 7bln - Nyeri - Tonsilitis DL, Swab

- Febris tenggorokan folikularis Tenggorokan

- Nyeri tenggorokan - Tonsilitis Difteri

- Nyeri telan

-Nausea

-Vomiting

- Tonsil hiperemi,

T2/T2

22
- Detritus

23
DAFTAR PUSTAKA

American Academy of Otolaryngology - Head and Neck Surgery. 2017.


Tonsilitis. Available from: http://www.entnet.org/content/tonsillitis

American Academy of Pediatrics. 2007. Tonsilitis. Available from:


https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/ear-nose-
throat/Pages/Tonsillitis.aspx

Hammouda, Mostafa. 2009. Chronic Tonsillitis Bacteriology in Egyptian


Children Including Antimicrobial Susceptibility. Department of ENT,
Department of Medical Microbiology and Immunology, Faculty of
Medicine, Cairo University and Department of Pediatrics, Research Institute
of Ophthalmology. Giza, Egypt, Australian Journal of Basic and Applied
Sciences, 3(3): 1948-1953

Fachruddin,Darnila, Abses Leher Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga


Hidung Tenggorokkan, editor Soepardi EA, Iskandar N, Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, edisi keenam, Jakarta, 2007:
185-8.

Rerksuppaphol S, Rerksuppaphol L. 2013. Randomized study of ondansetron


versus domperidone in the treatment of children with acute gastroenteritis. J
Clin Med Res. 2013 Dec;5(6):460-6

Roggen, Inge, et al. 2013. Centor criteria in children in a paediatric emergency


department: for what it is worth. BMJ Open 2013;3:e002712

Udayan, et al. 2017. Tonsillitis and Peritonsillar Abscess. Medscape Available


from: https://emedicine.medscape.com/article/871977-overview

24