Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS

LUKA TUSUK
Diajukan guna memenuhi tugas dan melengkapi syarat dalam menempuh program
pendidikan profesi dokter

Oleh :
Ayu Intan Purnama W (30101206771)
Muhammad Dhiya Rahadian (30101206667)
Rima Wulansari (30101206717)

Pembimbing :
Dr. dr. Setyo Trisnadi, SH, Sp. KF

KEPANITERAAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2017
BAB I
LATAR BELAKANG

Luka tusuk merupakan luka yang diakibatkan oleh benda atau alat berujung runcing dan
bermata tajam atau tumpul yang terjadi dengan suatu tekanan tegak lurus atau serong dengan
permukaan tubuh. 1

Beberapa bulan lalu di kota Jakarta, terjadi perampokan dimana pelakua melukai korban
menggunakan pisau dengan motif dendam kepada pemilik toko. Banyak saksi mengatakan, sering
melihat pelaku membeli barang di toko sembako korban. Tapi pada hari-hari sebelum kejadian,
pelaku sudah jarang terlihat berbelanja di toko korban. Pada saat kejadian korban keluar dari toko
dan akan mengantarkan anaknya pergi sekolah. Tiba-tiba pelaku menghadangnya dengan
menodongkan sebilah pisau dan menusuknya dengan 11 tusukan, dan korban pun jatuh tersungkur.
Setelah menusuk korban, maka pelaku naik ke lantai 3 dan bertemu dengan istri korban. Lalu
terjadi perkelahian dengan istri korban. Akibat dari perkelahian tersebut, istri korban terkena
tusukan di perut dan pelaku pun terkena tusukan di mata kanan.

Di negara Amerika, kematian akibat luka tusuk merupakan kasus pembunuhan terbesar
kedua setelah pembunuhan menggunakan senjata api. Tercatat pada tahun 2011 kasus pembunuhan
dengan senjata api terjadi 8.583 kasus dan penggunaan pisau terjadi 1.694 kasus.

Hampir semua dokter pernah dipanggil ketika seseorang menderita luka. Apakah korban
hidup atau mati, cedera ringan atau berat, apakah penyebab sebuah kecelakaan, pembunuhan atau
bunuh diri, pemeriksaan yang dilakukan dokter tersebut mungkin memiliki kepentingan
medikolegal. Tentu saja perhatian kedokteran forensik banyak terfokus pada patologi trauma yang
disebabkan oleh luka itu sendiri, dan seorang dokter harus melakukan pemeriksaan yang teliti
bukan hanya untuk mengobati, tapi juga untuk mengantipasi adanya komplikasi medikolegal,
bahkan apabila jika muncul di kemudian hari. Hasil penemuan berdasarkan pemeriksaan yang teliti
kemudian dibuat menjadi Visum et Repertum untuk kepentingan medikolegal. Bukan hanya
memeriksa dan merekam dengan teliti semua penemuan dan yang didapatinya tetapi juga
memberikan pendapat tentang hubungan sebab akibat, karena pemeriksaan yang menyeluruh akan
menentukan proses hukum dipengadilan nanti.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI

Luka tusuk merupakan luka yang diakibatkan oleh benda atau alat berujung runcing dan
bermata tajam atau tumpul.1 Luka tusuk terjadi oleh alat yang memiliki ujung. Kedalaman luka
tusuk di dalam tubuh dapat lebih besar daripada ukuran luka di kulit. Akhir dari tusukan pada kulit
biasanya lancip, tanpa memar dan abrasi. Alat yang digunakan pada luka tusuk kebanyakan adalah
pisau, yang juga dapat membuat luka irisan. Alat atau senjata lain yang membuat luka yaitu
pedang, pisau dapur, pisau lipat. Penggaris, obeng, pecahan gelas, garpu, bolpoin dan pensil pun
dapat membuat luka tusukan.2

Obeng dapat menyebabkan luka tusuk

Dibutuhkan sebuah kekuatan dalam menusuk untuk menembus kulit, semakin lancip maka
semakin mudah akan menembus. Saat ujung pisau sudah menembus kulit, maka bagian lainnya
akan mengiris bagian tubuh dengan mudah. Selama tidak bersentuhan dengan tulang, pisau mudah
masuk kedalam tanpa kekuatan yang berlebih.

Faktor-faktor yang mempengaruhi berapa besar kekuatan yang dibutuhkan senjata untuk
penetrasi ke dalam tubuh, yaitu :

 Ketajaman ujung senjata: ujung senjata yang tajam akan semakin mudah menembus kulit.
 Kecepatan tusukan: semakin cepat tusukan, besar gaya yang didorong akan semakin lebih
mudah untuk menembus kulit.
 Apakah pakaian masih dipakai: pakaian dapat meningkatkan tahanan terhadap penetrasi.
 Apakah tulang telah terluka: kulit melakukan sedikit perlawanan terhadap penusukan oleh
pisau yang tajam, tapi penetrasi pada jaringan-jaringan yang lebih padat akan
membutuhkan kekuatan yang lebih besar.3

Luka Tusuk
Panah merah merupakan sisi
tumpul pisau dan panah biru
merupakan sisi lancip pisau

Alat yang memiliki titik atau ujung dapat menyebabkan luka tusuk. Tidak harus memiliki
tepi pisau yang tajam. Tetapi dibutuhkan kekuatan yang cukup untuk menembus elastisitas kulit.3

KARAKTERISTIK LUKA
Pada luka tusuk, panjang luka pada kulit dapat sama, lebih kecil ataupun lebih besar
dibandingkan dengan lebar pisau. Kebanyakan luka tusuk akan menganga bukan karena sifat
benda yang masuk tetapi sebagai akibat elastisitas dari kulit. Pada bagian tertentu pada tubuh,
dimana terdapat dasar berupa tulang atau serat otot, luka itu mungkin nampak berbentuk seperti
kurva. Panjang luka penting diukur dengan cara merapatkan kedua tepi luka sebab itu akan
mewakili lebar alat. Panjang luka di permukaan kulit tampak lebih kecil dari lebar alat, apalagi
bila luka melintang terhadap otot.Bila luka masuk dan keluar melalui alur yang sama maka lebar
luka sama dengan lebar alat. Tetapi sering yang terjadi lebar luka melebihi lebar alat kerena tarikan
ke samping waktu menusuk dan waktu menarik. Demikian juga bila alat/pisau yang masuk
kejaringan dengan posisi yang miring.
Bentuk dan ukuran dari luka tusuk di kulit tergantung pada jenis pisau, arah dorong, gerakan
pisau saat menusuk, pergerakan korban saat ditusuk, dan keadaan elastisitas kulit. Ketajaman alat
dapat menentukan batas luka, tepinya dapat tajam dan teratur, kulit terkelupas, memar ataupun
bergerigi.2
Bagian-bagian pisau :
 Grip
 Guard
 Ricasso
 Back
 Spine
 Edge
 Point

Terbentuknya luka tusukan dapat dipengaruhi oleh seberapa dalam pisau yang ditusukkan
dan apa ada bagian dari poros atau kontak kulit yang tertembus. Jika pisau ditusukan dengan kuat
ke dalam tubuh sampai bagian guard pada pisau, maka bentuk guard pada pisau dapat terlihat di
kulit. Jika pisau ditusukan sampai Ricasso , luka dapat membentuk persegi pada kedua ujungnya.

Bentuk tusukan luka di kulit tidak hanya dapat ditentukan oleh bentuk pisau , tetapi juga
ditentukan oleh sifat-sifat kulit. Luka tusuk berbentuk panjang dan tipis saat kulit dalam keadaan
tegang, dan dapat lebih luas lagi saat kulit berelaksasi.

Garis Langer juga dapat mempengaruhi bentuk luka. Garis Langer adalah pola dari serat
elastis dalam lapisan dermis kulit, yang kira-kira sama antara individu satu dan yang lainya
individu . Ahli bedah plastik memanfaatkan dari pola serat ini untuk menghilangkan bekas luka .
Jika seseorang ditusuk di garis ini , yaitu tegak lurus dengan serat , serat akan memisahkan tepi
luka , menciptakan luka yang terbuka . Luka tusukan yang sejajar dengan garis Langer akan
menghasilkan luka seperti celah sempit. Antara dua ekstrem luka miring .

Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi bentuk luka yaitu bentuk dan ukuran senjata yang
digunakan, arah dorongan, gerakan senjata pada luka, gerakan korban yang ditusuk, dan keadaan
elastisitas kulit. Bentuk luka merupakan gambaran yang penting dari luka tusuk karena karena hal
itu akan sangat membantu dalam membedakan berbagai jenis senjata yang mungkin telah
dikumpulkan oleh polisi dan dibawa untuk diperiksa. Daerah tepi luka dapat memberikan
informasi ketajaman senjata yang digunakan. Senjata yang tumpul misalnya akan membuat tepi
luka mengalami abrasi. Pinggir luka dapat menunjukan bagian yang tajam (sudut lancip) dan
tumpul (sudut tumpul) dari pisau berpinggir tajam satu sisi. Pisau dengan kedua sisi tajam akan
menghasilkan luka dengan dua pinggir tajam.

Bentuk luka juga tergantung seberapa banyak bagian pisau (senjata) yang masuk ke dalam
tubuh, oleh karena itu penting mengetahui berbagai kemungkinan bentuk senjata yang digunakan.

Perlu diingat bahwa benda lain yang dapat menembus tubuh, seperti pahat, obeng atau
gunting, akan menyebabkan perbedaan bentuk luka yang kadang-kadang berbentuk segi empat
atau, yang lebih jarang, berbentuk satelit.
Selain kekhususan senjata yang digunakan, sifat ke-elastisan kulit dan arah tusukan terhadap
serabut elastis juga mempengaruhi bentuk luka. Apabila arah tusukan membentuk sudut yang
tegak lurus dengan distribusi serabut elastis tubuh yang sesuai dengan Langer‟s line. Hal ini akan
menyebabkan tepi luka akan melebar dan cetakan luka tidak sesuai dengan senjata yang
digunakan.

Gambar di atas menunjukan luka tusuk pada beberapa tempat, menggunakan pisau yang sama tetapi
memiliki variasi ukuran luka yang berbeda.

Gambar B menunjukkan luka yang tegak lurus dengan garis Langer, dan gambar C menujukkan luka yang searah
dengan garis Langer.
Bentuk Luka tusuk tergantung dari lokasi luka dan bentuk penampang alat penyebab luka.
Pada alat-alat tubuh parenkim dan tulang, bentuk luka tusuk sesuai penampang alat penyebabnya.
Pada kulit atau otot
a. Alat pisau:
 Arah sejajar serat elastis otot: bentuk luka seperti celah
 Arah tegak lurus serat elastisotot: bentuk luka menganga.
 Arah miring terhadap serat elasisotot: bentuk luka asimetris
b. Alat ganco/lembing bentuk luka seperti celah bila luka didaerah pertemuan serat
elastis/otot, maka bentuk luka bulat (sesuai dengan penampang alat)
c. Alat penampang segitiga atau segiempat bentuk luka bintang berkaki tiga atau
empat.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk luka tusuk, salah satunya adalah reaksi
korban saat ditusuk atau saat pisau ditarik keluar, hal tersebut dapat menyebabkan lukanya menjadi
tidak begitu khas. Atau manipulasi yang dilakukan pada saat penusukan juga akan mempengaruhi.
Beberapa pola luka yang dapat ditemukan :

1. Tusukan masuk, yang kemudian dikeluarkan sebagian, dan kemudian ditusukkan


kembali melalui saluran yang berbeda. Pada keadaan tersebut luka tidak sesuai
dengan gambaran biasanya dan lebih dari satu saluran dapat ditemui pada jaringan
yang lebih dalam maupun pada organ.
2. Tusukan masuk kemudian dikeluarkan dengan mengarahkan ke salah satu sudut,
sehingga luka yang terbentuk lebih lebar dan memberikan luka pada permukaan
kulit seperti ekor.
3. Tusukan masuk kemuadian saat masih di dalam ditusukkan ke arah lain, sehingga
saluran luka menjadi lebih luas. Luka luar yang terlihat juga lebih luas
dibandingkan dengan lebar senjata yang digunakan.
4. Tusukan masuk yang kemudian dikeluarkan dengan mengggunakan titik terdalam
sebagai landasan, sehingga saluran luka sempit pada titik terdalam dan terlebar
pada bagian superfisial. Sehingga luka luar lebih besar dibandingkan lebar senjata
yang digunakan.
5. Tusukan diputar saat masuk, keluar, maupun keduanya. Sudut luka berbentuk
ireguler dan besar.
ANATOMI LUKA TUSUK

a. Luka Tusuk Pada Kepala dan Leher


Luka tusukan pada kepala dan leher jarang terjadi. Luka tusuk pada leher dapat
menyebabkan kematian yang cepat oleh karena perdarahan, emboli udara atau asfiksia yang
disebabkan karena perdarahan jaringan lunak yang hebat dengan tekanan kompresi di trakea
dan pembuluh darah di leher.

Korban dapat meninggal karena terpotongnya arteri karotis, vena jugularis, faring, dan
trakhea. Terpotongnya arteri karotis dapat menyebabkan perdarahan yang banyak atau dapat
menyebabkan thrombus yang menyumbat arteri cerebralis. Terpotongnya vena jugularis
dapat menimbulkan embuli udara yang dapat menyumbat arteri pulmonalis. Terpotongnya
trachea dapat menyebabkan aspirasi darah kedalam paru – paru.

Luka tusukan pada trakhea


Kematian jangka panjang mungkin terjadi karena selulitis, atau terjadi akibat
trombosis pada arteri dengan emboli dan infark pada serebral. Jika ada kasus dimana ada
luka tusuk pada kepala dan leher, maka wajib dilakukan untuk foto sinar-X untuk melihata
apakah ada emboli udara. Dalam luka tusuk pada leher, pisau tidak hanya melukai pembuluh
darah besar, tetapi juga trakhea, dengan tampak hasil perdarahan hebat sampai ke bronkus.

Luka tusuk pada otak juga jarang ditemui. Sebagian besar tusukan terjadi pada mata
atau daerah temporal karena tulang pada daerah tersebut sangat tipis dibandingkan tulang
kepala yang lain. Luka tusukan pada otak tidak terlalu membahayakan, korban masih dapat
berlari dan menghindar dari pelaku. Kematian dalam kasus seperti itu terjadi karena
perdarahan intrakranial atau infeksi. Pada hasil otopsi, ukuran luka tengkorak yang
dihasilkan oleh senjata yang ditusukkan, hasilnya sama dengan ukuran senjata yang
digunakan. Perdarahan yang terjadi pada luka tusukan otak mungkin dapat mengenai
subdural, subarachnoid, intraserebral, atau kombinasi dari ketiganya.

b. Luka Tusuk di Dada


Luka tusukan yang paling bahaya terletak di daerah dada kiri. Seseorang akan
cenderung menusuk dada sebelah kiri. Selain itu, jika seseorang berniat untuk membunuh
maka orang tersebut akan menusuk pada dada sebelah kiri, hal ini karena sebagaian besar
jantung terletak di dada sebelah kiri sehingga orang tersebut berfikir korban akan lebih cepat
mati.

Bunuh diri dengan luka


tusuk pada dada kiri

Luka tusukan pada dada akan mengakibatkan cedera pada jantung yang sangat
mengancam jiwa. Jarang sekali kematian disebabkan oleh luka pada tusukan di paru-paru.
Luka tusukan pada dada kanan biasanya melukai ventrikel kanan, aorta, ataupun atrium
kanan. Dan pada dada kiri biasanya melukai ventrikel kanan. Sebagian besar kematian
disebabkan kombinasi dari hematothorax, perdarahan eksternal, dan hemoperikardium. Luka
tusuk yang mengenai arteri koroner dapat sangat cepat menimbulkan kematian. Pada luka
tusuk, kerusakan pada atrium dapat lebih serius dibandingkan kerusakan dari ventrikel
karena otot ventrikel masih dapat berkontraksi, sehingga dapat memperlambat atau
mengakhiri pendarahan. Luka tusuk jantung biasanya ditemukan di depan dada dan
menembus ke belakang. Sebagian besar luka tusuk pada dada kiri juga dapat melubangi paru-
paru . Beberapa orang masih dapat bertahan pada luka tusukan jantung.

Luka tusukan dari paru-paru, menyerupai seperti tusukan pada jantung, biasanya
tertusuk pada bagian depan dada, jarang dari sisi samping, dan hanya sesekali dari sisi
belakang. Kebanyakan luka tersebut berkaitan dengan luka tusuk pada jantung. Kematian
pada luka tusukan paru-paru biasanya terjadi perdarahan besar karena hematothoraks.
Pneumotoraks pun juga dapat terjadi tetapi tidak secepat hematothoraks.Luka tusuk pada
bagian dada yang lebih rendah dapat menimbulkan cedera tidak hanya pada jantung dan
paru-paru, tetapi juga dapat melukai organ perut. Luka tusukan fatal pada perut biasanya
melukai hepar ataupun pembuluh darah utama, seperti aorta, vena cava, iliaka, atau
pembuluh mesenterika. Kadang-kadang pada luka perut kematian tidak terjadi secara
langsung tetapi korban biasanya mati karena robeknya usus sehingga terjadi peritonitis.

c. Luka Tusuk Pada Tulang Belakang


Luka tusukan pada tulang belakang juga jarang ditemui. Seperti pada luka tusukan
kepala, pisau yang digunakan dapat pecah dan ditemukan pecahannya di tulang belakang.
Cedera pada medula spinalis dapat menyebabkan kelumpuhan.

d. Luka Tusuk Pada Abdomen


Dapat menimbulkan kerusakan pada hepar, lien, gaster, pankreas, renal, vesika
urinaria, usus sehingga dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak. Luka tusuk lebih
sering terjadi pada kuadran atas dari abdomen dibandingkan dengan kuadran bawah.
Kematian tidak terjadi secara langsung pada luka tusuk di abdomen. Faktanya baru beberapa
hari bahkan sampai beberapa minggu luka tusuk dapat menyebabkan kematian.
Luka Tusuk pada Abdomen

Tampak omentum keluar dari dalam


Abdomen

e. Luka Tusukan Pada Ekstremitas


Luka tusuk pada ekstremitas dapat menyebabkan kematian juga. Tusukan dapat
mengenai pembuluh darah ekstremitas seperti arteri femoralis. Dalam hampir semua kasus
ini, korban ditikam saat mengkonsumsi alkohol dan tidak sadar kalau sedang mengalami
luka tusukan. Sehingga, mereka terus berjalan walaupun perdarahan hebat sedang terjadi dan
pada akhirnya korban kehabisan darah dan mati. Luka tusukan pada ekstremitas atas
seringkali terjadi karena korban mencoba menangkis tusukan dari lawan. Jarang sekali
menangkis menggunakan ekstremitas bawah.

CARA KEMATIAN

1. Pembunuhan
Sebagian besar kematian akibat luka tusuk terjadi karena pembunuhan. Dalam pembunuhan
tersebut , beberapa luka biasanya banyak tersebar di tubuh. Luka tusuk sering gagal untuk
menembus ke dalam organ dan tidak terlalu mengancam jiwa. Luka yang melibatkan dada
dan perut dapat mengancam jiwa.

Ciri luka tusuk pada pembuhan :

 Lokasi disembarang tempat, juga di darah – daerah yang tidak mungkin dijangkau
tangan sendiri
 Jumlah luka dapat satu atau lebih
 Adanya tanda – tanda perlawanan dari korban yang mengakibatkan luka tangkis
 Tidak ditemukan luka tusuk percobaan ( tentative stabs )
2. Bunuh diri
Bunuh diri dengan metode menusuk diri jarang ditemukan. Ketika seseorang memutuskan
untuk menusuk diri mereka sendiri, orang tersebut biasanya akan membuka kancing atau
membuka pakaian di mana daerah tersebut akan ditusuk. Luka tusuk yang paling sering
melibatkan dada bagian tengah dan kiri dan jumlahnya menyebar, dengan banyak luka
dengan penetrasi minimal. Luka tusukan bunuh diri mempunyai variasi dalam ukuran dan
kedalamannya, dan berakhir dengan satu atau dua luka tusukan di dinding dada maupun ke
organ internal.

Ciri luka tusuk pada bunuh diri :

 Lokasi pada daerah – daerah yang ada alat tubuh penting dan dapat dicapai oleh
tangan korban sendiri , misalnya dada, perut
 Jumlah luka yang mematikan biasanya satu
 Ditemukan luka tusuk percobaan disekitar luka utama, bergerombol dan dengan
kedalaman yang berbeda – beda
 Tidak ditemukan luka tangkis
 Bila pada daerah yang ada pakaiannya, maka pakaian akan disingkirkan lebih dahulu
 Kadang – kadang tangan yang memegang senjata mengalamicadaveric spasme
3. Kecelakan

Pada kasus tertentu hasil pemeriksaan luka tusuk kadang – kadang dapat membantu
menentukan alat atau benda penyebab luka yaitu, bila luka tusuk dibagian tubuh yang
bentiknya stabil, misalnya dada dan ditemukan beberapa alat yang dicurigai sebagai
penyebab luka, ditemukan patahan ujung senjata peneyebab luka .

Pedoman :

a. Panjang luka adalah ukuran maksimal dari lebar senjata.


b. Dalam luka adalah ukuran maksimal dari panjang luka.
PENYEBAB KEMATIAN

Sebab-sebab kematian pada luka tusuk dibagi menjadi dua, yaitu langsung dan tidak
langsung. Pada kematian langsung biasanya terjadi perdarahan, kerusakan organ tubuh yang
penting (jantung,hepar,pembuluh darah besar, dsb), dan emboli udara. Pada kematian tidak
langsung biasanya terjadi karena sepsis atau infeksi.

Penyebab kematian paling sering pada kasus pembunuhan yang disebabkan oleh luka tusuk
adalah perdarahan hebat pada pembuluh darah besar. Cepat atau tidaknya kematian tergantung
pada jumlah pembuluh darah yang terluka, dan juga jenis pembuluh darah apa saja yang terkena
(arteri atau vena). Perdarahan arteri dari pembuluh darah besar bisa mengakibatkan kematian yang
relatif cepat. Kehilangan darah lebih dari 1 liter dari pembuluh darah besar dapat berakibat fatal.
Namun beberapa liter darah mungkin juga dapat hilang dari pembuluh vena yang lebih kecil
sebelum kematian terjadi. Dalam luka tusuk pada bronkus, dapat terjadi perdarahan kecil yang
terakumulasi pada rongga dada dan rongga perut.

Ketika terjadi tusukan pada leher, juga harus dipertimbangkan penyebab kematian seperti
aspirasi darah dan emboli udara. Terpotongnya trakhea dapat menyebabkan aspirasi darah ke
dalam paru-paru. Kehilangan darah dari pembuluh darah yang kecil(misalnya pada pembuluh
darah pada kelenjar tiroid) mungkin cukup untuk menyebabkan aspirasi. Dalam luka terbuka pada
pembuluh darah vena jugularis, udara dapat masuk ke pembuluh darah ketika tubuh berada dalam
posisi tegak. Terpotongnya vena jugularis dapat menimbulkan emboli udara yang dapat
menyumbat arteria pulmonalis. Jika ada udara yang terangkut ke ventrikel kanan melalui aliran
darah, emboli udara dapat terjadi, yang dapat menyebabkan kematian.

Kematian karena tamponade jantung dan kegagalan proses regulasi sentral jarang terjadi.
Tamponade jantung terjadi setelah darah mengalir dari jantung atau pembuluh darah besar yang
berdekatan tidak dapat keluar dari perikardium.

ASPEK MEDIKOLEGAL

Dalam melakukan pemeriksaan terhadap korban hidup atau meninggal yang menderita luka
akibat kekerasan, pada hakikatnya dokter diwajibkan untuk dapat memberikan kejelasan mengenai
jenis luka yang terjadi, jenis kekerasan/senjata atau benda yang menyebabkan luka, dan derajat
luka.
Pada penentuan luka secara medikolegal seperti pada tindakan bunuh diri, pembunuhan atau
kecelakaan dapat ditentukan dengan mengumpulkan semua data pemeriksaan korban. Aspek yang
harus diperhatikan dalam kasus bunuh diri dan pembunuhan :

a) Bunuh diri

Pada pemeriksaan luka dengan teliti sering didapatkan satu atau lebih luka lebih dangkal dan
berjalan sejajar disekitar luka utama, luka tersebut adalah “luka percobaan.” Selain dada dalam hal
ini daerah jantung maka pada daerah perut yang biasanya di daerah lambung, adalah merupakan
daerah – daerah yang sering dipilih korban untuk kasus – kasus bunuh diri. Dengan adanya senjata
yang tergenggam erat “cadaveric spasm” hampir dapat ditentukan dengan pastikan bahwa korban
telah melakukan bunuh diri.

b) Pembunuhan

Jumlah luka umumnya lebih dari satu, tidak mempunyai lokasi atau tempat khusus,
seringkali didapati luka-luka yang didapat sewaktu korban mengadakan perlawanan - “luka
perlawanan”.
BAB III
KESIMPULAN

Luka tusuk merupakan jejas pada tubuh yang diakibatkan oleh penusukan benda yang
memiliki ujung tajam tajam pada tubuh. Luka tusuk memiliki arti medikolegal yang penting,
karena berdasarkan data yang ada sebagian besar kasus luka tusuk merupakan kasus percobaan
pembunuhan. Oleh karena itu, seorang dokter yang baik tidak hanya memberi pengobatan terhadap
luka namun melakukan pemeriksaan secara teliti untuk antisipasi adanya aspek medikolegal yang
akan timbul dan jika diperlukan dokter harus membuat Visum et Repertum (VeR). Dokter
memeriksa dan merekam dengan teliti semua penemuan dan yang didapatinya dan memberikan
pendapat tentang hubungan sebab akibat, dalam pemeriksaan, interpretasi luka harus berdasarkan
penemuan dan tidak boleh dipengaruhi oleh keterangan pasien atau keluarga karena akan
menentukan proses hukum dipengadilan nanti.
Dalam melakukan pemeriksaan terhadap korban hidup atau meninggal yang menderita luka
akibat kekerasan, pada hakikatnya dokter diwajibkan untuk dapat memberikan kejelasan mengenai
jenis luka yang terjadi, jenis kekerasan/senjata atau benda yang menyebabkan luka, dan derajat
luka.
BAB III
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS KORBAN

Identitas Umum
▫ Nama : Ahmad Abdul Hadi
▫ Jenis kelamin : Laki - laki
▫ Umur : empat puluh tiga tahun
▫ Panjang badan : 165 cm
▫ Berat badan : tidak diukur
▫ Warna kulit : sawo matang
▫ Ciri rambut : warna hitam, bergelombang, pendek
▫ Keadaan gizi : status gizi baik
KEPOLISIAN DAERAH JAWA TENGAH
BIDANG KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA SEMARANG
Jl. Majapahit No. 140, Semarang

PRO JUSTITIA

VISUM ET REPERTUM
Nomor : VER / 37 / X / 2017/ Biddokkes

Atas permintaan tertulis dari Kepala Kepolisian Resor Demak melalui suratnya tanggal 19 Oktober
2017 Nomor : B/3462/K/2017/Reskrim yang ditandatangani oleh TRI AGUNG SURYOMICHO
pangkat AKP NRP 77090327 dan diterima tanggal 19 Oktober 2017, pukul 10.00 WIB maka
dengan ini saya, AKBP dr. Ratna Relawati Sp. KF, Msi. Med, sebagai dokter yang bekerja di RS.
Bhayangkara Semarang Biddokkes Polda Jateng, menerangkan bahwa pada tanggal 19 Oktober
2017, Jam 10.00 WIB, di RSI NU Demak telah melakukan pemeriksaan luar dan dalam terhadap
seorang jenazah, yang berdasarkan surat permintaan tersebut di atas bernama ABDUL HADI bin
H. ASNAWI umur 45 tahun, jenis kelamin laki-laki, alamat Ds. Poncol Rt 01 Rw 01 Ds.
Krajanbogo Kec. Bonang Kab. Demak, Korban diduga meninggal dunia akibat Pembunuhan -----
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

HASIL PEMERIKSAAN : -----------------------------------------------------------------------------


Dari pemeriksaan luar dan dalam atas tubuh jenazah tersebut diatas ditemukan fakta-fakta sebagai
berikut : --------------------------------------------------------------------------------------------
A. FAKTA YANG BERKAITAN DENGAN IDENTITAS JENAZAH : ---------------------
1. Identitas Umum Jenazah : -------------------------------------------------------------------------
 Jenis kelamin: laki-laki ------------------------------------------------------------------------
 Umur: Kurang lebih empat puluh tahun ------------------------------------------------------
 Panjang badan: seratus enam puluh lima sentimeter---------------------------------------
 Warna kulit: sawo matang---------------------------------------------------------------------
 Ciri rambut: gelombang, warna hitam.-------------------------------------------------------
 Keadaan gizi: kesan gizi cukup---------------------------------------------------------------
2. Identitas Khusus Korban---------------------------------------------------------------------------
a. Tatto: tidak ada-----------------------------------------------------------------------------------
b. Jaringan parut: tidak ada-----------------------------------------------------------------------
c. Cacat fisik: tidak ada----------------------------------------------------------------------------
d. Tahi lalat : terdapat tahi lalat pada leher kiri terletak lima sentimeter sebelah kiri garis
tengah tubuh, sepuluh sentimeter dibawah garis mendatar yang melewati kedua mata.
Warna coklat kehitaman, diameter nol koma lima sentimeter dan terdapat tiga helai
rambut yang tumbuh.
e. Pembungkus jenazah: terdapat lima buah kassa, kassa pertama melingkari kepala, kassa
kedua melingkari pergelangan tangan kanan dan kiri, kassa ketiga melingkari lutut kanan
dan kiri, kassa keempat melingkari pergelangan kaki kanan dan kiri, kassa kelima
melingkari jari jempol kaki kanan dan kiri-------------------------------------------
f. Pakaian : tidak ada-------------------------------------------------------------------------------
g. Perhiasan: tidak ada------------------------------------------------------------------------------
h. Lain-lain: tidak ada-------------------------------------------------------------------------------
B. FAKTA YANG BERKAITAN DENGAN WAKTU TERJADINYA KEMATIAN
 Lebam mayat: terdapat lebam mayat di tengkuk, punggung, pinggang, bokong, tungkai atas,
warna merah keunguan, hilang dengan penekanan---------------------------------------
 Kaku mayat: terdapat kaku mayat di kelopak mata, rahang, anggota gerak atas, anggota gerak
bawah, sulit dilawan-----------------------------------------------------------
 Pembusukan: tidak terdapat tanda-tanda pembusukan-----------------------------------------

C. FAKTA DARI PEMERIKSAAN TUBUH BAGIAN LUAR---------------------------------


1. Permukaan Kulit Tubuh : -----------------------------------------------------------------------
a. Kepala ---------------------------------------------------------------------------------------------
- Daerah berambut: rambut kepala berwarna hitam, tumbuh lebat bergelombang---
- Wajah: ---------------------------------------------------------------------------------------
- terdapat sebuah luka lecet di pipi kanan menyerupai huruf “v”, titik atas pertama
terletak empat sentimeter dari garis tengah tubuh, lima sentimeter di bawah garis yang
melalui kedua mata. Titik atas kedua terletak dua sentimeter disebelah kanan titik atas
luka pertama. Titik bawah luka terletak tiga sentimeter dibawah titik luka atas
pertama, lima sentimeter dari garis tengah tubuh. Panjang luka empat koma lima
sentimeter, lebar nol koma enam sentimeter, berbatas tegas, tepi tidak rata, warna
merah kecoklatan--------------------------------------------------------------------------------
- terdapat sebuah luka terbuka di pipi kanan menyerupai garis, titik atas luka terletak
delapan sentimeter dari garis tengah tubuh, tiga sentimeter dibawah garis yang
melewati kedua mata, titik bawah luka terletak lima sentimeter dibawah garis yang
melewati kedua mata, panjang luka dua koma lima sentimeter. Lebar luka nol koma
satu sentimeter, batas tegas, tepi rata, tidak terdapat jembatan jaringan, dasar luka
berupa jaringan ikat-----------------------------------------------------------------------------

b. Leher: -------------------------------------------------------------------------------------------------
- terdapat sebuah luka yang mendapat perawatan empat jahitan pada sisi kanan leher.
Titik atas luka lima belas sentimeter dibawah garis yang melalui kedua mata, sepuluh
sentimeter sebelah kanan garis tengah tubuh. Titik bawah luka sembilan belas
sentimeter dibawah garis yang melalui kedua mata, tiga belas sentimeter sebelah
kanan dari garis tengah tubuh. Sebelum luka dibuka, panjang enam sentimeter.
Setelah luka dibuka, panjang dua sentimeter, lebar satu sentimeter, dalam tiga
sentimeter. Garis batas luka teratur dan simetris, tepi rata, kedua sudut luka runcing.
tebing rata terdiri atas jaringan kulit, jaringan ikat, otot, tulang, dasar luka tidak bisa
ditentukan karena menembus rongga. Tidak terdapat jembatan jaringan. Disekitar
garis batas luka tidak terdapat memar-------------------------------
d. Bahu: tidak ada kelainan-----------------------------------------------------------------------
e. Dada: tidak ada kelainan-----------------------------------------------------------------------
f. Punggung : tidak ada kelainan -----------------------------------------------------------------
g. Perut : tidak ada kelainan-----------------------------------------------------------------------
h. Bokong : Tidak ada kelainan-------------------------------------------------------------------
- Dubur : Tidak ada kelainan-----------------------------------------------------------------
- Lingkaran dubur : Tidak ada kelainan-----------------------------------------------------
- Liang dubur : Tidak ada kelainan----------------------------------------------------------
i. Anggota gerak :----------------------------------------------------------------------------------
- Anggota gerak atas : ------------------------------------------------------------------------
- Kanan : tidak ada kelainan------------------------------------------------------------------
- Kiri : -------------------------------------------------------------------------------------------
- Terdapat sebuah luka di lengan atas bagian belakang yang telah mendapat perawatan
lima jahitan, titik teratas luka terletak lima belas sentimeter diatas tonjolan belakang
siku. Titik terbawah luka terletak dua sentimeter diatas tonjolan belakang siku.
Bentuk luka lurus, panjang luka sebelas sentimeter, lebar luka nol koma dua
sentimeter----------------------------------------------------------------------------------------
- Terdapat sebuah luka di lengan bawah bagian belakang, bentuk menyerupai huruf
“u”. titik terbawah luka delapan sentimeter dibawah garis mendatar yang melalui
tonjolan belakang siku. Panjang luka sebelas sentimeter, lebar satu sentimeter, dalam
nol koma lima sentimeter, batas tegas, tepi rata, tebing rata, terdiri atas jaringan kulit,
jaringan otot, dasar luka otot, tidak terdapat jembatan jaringan. Disekitar luka tidak
terdapat memar----------------------------------------------------------------------------------
- Anggota gerak bawah :---------------------------------------------------------------------------
- Kanan: terdapat sebuah luka lecet pada lutut bentuk tidak teratur, panjang nol koma
lima sentimeter, lebar nol koma lima sentimeter, batas tidak tegas, warna kemerahan,
perabaan kasar------------------------------------------------------------------
- Kiri: terdapat beberapa luka lecet pada tungkai bawah, luka terbesar pada lutut kiri
bagian depan, bentuk tidak teratur, panjang satu koma lima sentimeter, lebar satu
sentimeter, batas tidak tegas, warna kemerahan, perabaan kasar, luka terkecil pada
punggung kaki, bentuk tidak teratur, panjang nol koma lima sentimeter, lebar nol koma
lima sentimeter, batas tidak tegas, warna kemerahan, perabaan kasar---------

2. Bagian Tubuh Tertentu: ------------------------------------------------------------------------


a. Mata:-----------------------------------------------------------------------------------------------
- Alis mata: berwarna hitam------------------------------------------------------------------
- Bulu mata: berwarna hitam lurus-----------------------------------------------------------
- Kelopak mata: tidak ada kelainan----------------------------------------------------------
- Selaput kelopak mata: tampak pucat-------------------------------------------------------
- Selaput bening mata: tampak lingkar penuaan -------------------------------------------
- Selaput biji mata: tidak ada kelainan------------------------------------------------------
- Manik mata: bentuk bulat, diameter nol koma lima sentimeter, kanan sama dengan
kiri.--------------------------------------------------------------------------------------------
- Pelangi mata: hitam, terdapat lingkaran putih pada pelangi mata---------------------
b. Hidung: -------------------------------------------------------------------------------------------
- Bentuk hidung: tidak ada kelainan---------------------------------------------------------
- Permukaan kulit hidung: tidak ada kelainan----------------------------------------------
- Lubang hidung: tidak ada kelainan--------------------------------------------------------
c. Telinga: -------------------------------------------------------------------------------------------
- Bentuk telinga: tidak ada kelainan---------------------------------------------------------
- Permukaan daun telinga: tidak ada kelainan----------------------------------------------
- Lubang telinga: tidak ada kelainan--------------------------------------------------------
d. Mulut: --------------------------------------------------------------------------------------------
- Bibir atas: berwarna kebiruan--------------------------------------------------------------
- Bibir bawah: berwarna kebiruan-----------------------------------------------------------
- Selaput lendir mulut: berwarna kebiruan--------------------------------------------------
- Lidah: berwarna kebiruan-------------------------------------------------------------------
- Gigi geligi: ------------------------------------------------------------------------------------
- Gigi rahang atas: -----------------------------------------------------------------------------
o Kanan : tidak lengkap; jumlah tujuh buah; gigi graham belakang ketiga tidak ada--
o Kiri : tidak lengkap; jumlah tujuh buah; gigi seri pertama tidak ada; gigi geraham
belakang ketiga ada.-----------------------------------------------------------------------
- Gigi rahang bawah:
o Kanan :lengkap; jumlah delapan buah; gigi geraham belakang ketiga ada.-
o Kiri : lengkap; jumlah delapan buah; gigi geraham belakang ketiga ada.---
- Langit-langit mulut: tidak ada kelainan------------------------------------------------
e. Alat Kelamin-------------------------------------------------------------------------------------
- Pelir: tidak ada kelainan-------------------------------------------------------------------
- Kantong buah pelir: teraba dua buah biji pelir-----------------------------------------
- Lain-lain: tidak ada kelainan-------------------------------------------------------------
FAKTA DARI PEMERIKSAAN TUBUH BAGIAN DALAM---------------------------------
1. Rongga Kepala :----------------------------------------------------------------------------------
a) Kulit kepala bagian dalam: tidak ada kelainan--------------------------------------------
b) Tulang tengkorak: tidak ada kelainan------------------------------------------------------
c) Selaput keras otak: terdapat pelebaran pembuluh darah pada selaput keras otak----
d) Selaput lunak otak: tidak ada kelainan-----------------------------------------------------
e) Otak besar : permukaan licin, perabaan lunak, panjang dua puluh sentimeter, lebar
enam belas sentimeter, berat seribu seratus lima puluh gram. Pada pengirisan tidak ada
kelainan --------------------------------------------------------------------------------------------
f) Otak kecil : permukaan licin, perabaan lunak, panjang tiga belas sentimeter, lebar enam
sentimeter, tebal dua sentimeter, berat seratus lima puluh gram. Pada pengirisan tidak
ada kelainan ----------------------------------------------------------------------------------------
g) Batang otak : permukaan licin, perabaan lunak, panjang tujuh sentimeter, lebar tiga
sentimeter, tebal satu koma lima sentimeter, berat dua puluh lima gram. Pada
pengirisan tidak ada kelainan --------------------------------------------------------------------
2. Leher bagian dalam : --------------------------------------------------------------------------------
 Otot leher bagian dalam
 terdapat sebuah resapan darah pada otot leher sisi kanan, bentuk tidak teratur, dengan
ukuran panjang tiga koma lima sentimeter, lebar dua koma lima sentimeter.----------
 terdapat resapan darah hamper pada seluruh otot leher bagian dalam sisi belakang,
bentuk tidak teratur.---------------------------------------------------------------------------
 terdapat jendalan darah pada hampir seluruh otot leher bagian dalam sisi belakang.-
 Tenggorokan : tidak tampak buih halus ---------------------------------------------------
 Kerongkongan : tampak sisa makanan ----------------------------------------------------
 Pembuluh darah besar leher: tampak kosong---------------------------------------------
 cincin tulang rawan : tidak ada kelainan---------------------------------------------------
3. Rongga Dada : -------------------------------------------------------------------------------------
 Dinding rongga dada : tidak ada kelainan-------------------------------------------------
 Tulang-tulang iga : tidak ada kelainan -----------------------------------------------------
 Rongga dada : terdapat perlengketan pada dinding rongga dada bagian dalam------
 Paru :--------------------------------------------------------------------------------------------
 Paru Kanan : terdapat tiga baga, warna pucat, permukaan rata, perabaan seperti
spons, tepi tumpul, dengan ukuran panjang dua puluh empat sentimeter, lebar
tujuh belas sentimeter dan tinggi empat sentimeter, berat dua ratus delapan puluh
gram. Pada pengirisan tidak terdapat buih halus.------------------------------
 Paru Kiri: terdapat dua baga, warna pucat, pemukaan rata, perabaan seperti
spons, tepi tumpul, dengan ukuran panjang dua puluh dua sentimeter, lebar
delapan belas sentimeter dan tinggi lima sentimeter, berat dua ratus lima puluh
gram. Pada pengirisan tidak terdapat buih halus --------------------------------------
 Jantung : Tampak perlemakan pada permukaan jantung, panjang dua belas senti meter,
lebar sembilan sentimeter, tebal lima sentimeter, berat dua ratus tiga puluh gram,
cairan kandung jantung warna kuning jernih, jumlah cairan sepuluh koma lima mililiter
a. Selaput pembungkus jantung: tidak ada kelainan.-----------------------------------------
b. Jantung kanan : katup serambi bilik kanan terdiri dari tiga daun katup, lingkar katup
sepuluh koma lima sentimeter, tidak ada kelainan, tebal otot jantung kanan nol koma
lima sentimeter. Katup pembuluh nadi paru terdiri dari tiga daun katup, tidak ada
kelainan -----------------------------------------------------------------------------------------
c. Jantung kiri : katup serambi bilik kiri terdiri dari dua daun katup, lingkar
katup serambi bilik kiri sembilan koma lima sentimeter, tidak ada kelainan, tebal otot
jantung kiri satu koma lima sentimeter. Katup pembuluh nadi utama terdiri dari tiga
daun katup, lingkar katup tujuh koma lima sentimeter, tidak ada kelainan---------------
4. Rongga Perut : ------------------------------------------------------------------------------
 Dinding perut bagian dalam : tidak ada kelainan-------------------------------------
 Tirai usus : tidak ada kelainan----------------------------------------------------------
 Usus halus : tampak pucat, tidak ada kelainan----------------------------------------
 Usus besar : tampak pucat, tidak ada kelainan---------------------------------------
 Usus buntu : tampak pucat, tidak ada kelainan--------------------------------------
 Hati : warna merah gelap, permukaan licin, perabaan kenyal, tepi tajam, panjang
dua puluh delapan sentimeter, lebar sembilan belas koma lima sentimeter, tebal
lima koma lima sentimeter, berat seribu empat ratus gram. Pada pengirisan tidak
ada kelainan-----------------------------------------------------------------------------------
 Limpa : limpa tampak melisut, warna cokelat keunguan, perabaan kenyal, panjang
sebelas sentimeter, lebar sembilan sentimeter, tebal dua koma lima sentimeter, berat
empat ratus gram. Pada pengirisan tidak ada kelainan----------------------------------
 Lambung : Permukaan licin, perabaan kenyal, panjang lengkung besar tiga puluh
lima sentimeter, panjang lengkung kecil lima belas sentimeter, lebar sebelas
sentimeter, tebal satu koma lima sentimeter, berat empat ratus gram. Lambung
terdapat sisa makanan yang belum tercerna----------------------------------------------
 Pankreas: permukaan licin, perabaan lunak, panjang dua puluh delapan sentimeter,
lebar empat sentimeter, tebal satu koma lima sentimeter, berat seratus sepuluh gram.
Pada pengirisan tidak ada kelainan--------------------------------------------------------
 Ginjal :-----------------------------------------------------------------------------------------
 Ginjal kanan : selaput pembungkus ginjal mudah dilepas, warna merah
kehitaman, permukaan licin, perabaan kenyal, panjang sebelas sentimeter,
lebar tujuh sentimeter, tebal satu koma lima sentimeter, berat seratus gram.
Pada pengirisan tidak ada kelainan ---------------------------------------------------
 Ginjal kiri : selaput pembungkus ginjal mudah dilepas, warna merah
kehitaman, permukaan licin, perabaan kenyal, panjang dua belas sentimeter,
lebar tujuh sentimeter, tebal dua sentimeter, berat seratus gram. Pada
pengirisan tidak ada kelainan----------------------------------------------------------
5. Rongga Panggul : ---------------------------------------------------------------------------
 Kandung kemih : tidak ada kelainan-------------------------------------------------
 Prostat : tidak ada kelainan------------------------------------------------------------
C. FAKTA DARI PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk menambah fakta-fakta yang diperlukan, saya mengambil sampel dari jenazah untuk
pemeriksaan :---------------------------------------------------------------------
1. Pemeriksaan histopatologi anatomi: telah diambil sampel dari jaringan kulit leher, otot
leher bagian dalam, otot jantung, paru kanan, ginjal kanan, limpa, pankreas --
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
KESIMPULAN : ------------------------------------------------------------------------------------------

Berdasarkan fakta-fakta yang saya temukan dari pemeriksaan jenazah tersebut, maka saya
simpulkan bahwa telah diperiksa jenazah dengan jenis kelamin laki-laki, umur antara empat puluh
sampai lima puluh tahun, warna kulit sawo matang. Dari pemeriksaan luar ditemukan dua buah
luka akibat kekerasan tajam pada pipi kanan, leher bagian kanan, lengan atas kiri sisi belakang,
lengan bawah kiri sisi belakang, ditemukan beberapa luka akibat kekerasan tumpul berupa
beberapa luka lecet pada tungkai bawah kiri dan sebuah luka lecet pada lutut kanan. Dari
pemeriksaan dalam ditemukan tanda-tanda perdarahan hebat, hal tersebut dapat menyebabkan
kematian dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium patologi anatomi ---------------------------
--------------------------------------------------------------------------

PENUTUP: -------------------------------------------------------------------------------------------------

Demikian keterangan tertulis ini saya buat dengan sesungguhnya, dengan mengingat sumpah pada
waktu menerima jabatan sebagai dokter----------------------------------------------------------

Semarang, 19 Oktober 2017

Dokter yang memeriksa

dr. Ratna Relawati, Sp. KF, MSi.Med


LAMPIRAN FOTO
DAFTAR PUSTAKA

1. Apuranto, H dan Hoediyanto. 2010. Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal, Surabaya
: Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Unair.
2. Dmaio, Vincent J., Dimaio, Dominick. 2001. Forensic Pathology 2nd edition. London :
CRC Press LLC.
3. Sheperd, Richard. 2003. Simpson’s Forensic Medicine 12th Edition. London : Arnold.
4. Tsokos, Michael. 2008. Forensic Pathology Reviews. Volume 5.
Berlin,Germany;HumanaPress:139-149
5. Shkrum M.J. , Ramsay D.R. 2007. Forensic Pathology Of Trauma. Totowa : Humana Press.
6. Knight B. 1996. Forensic Pathology. 2nd edition. London : Amold.
7. Pal Singh V, Sharma B.R, Harish D, Vij Krishan. A Critical Analysis of Stab Wound On
The Chest A Case Report. JIAFM, 2004; 26(2).