Anda di halaman 1dari 28

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Stroke atau cedera serebrovaskular (CVA) merupakan suatu gejala kehilangan
fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak. Stroke
merupakan masalah neurologic primer yang menjadi penyebab kematian ketiga di
dunia, dengan laju mortalitas 18% sampai 37% untuk serangan stroke awal dan
sebesar 62% untuk serangan stroke lanjutan. Penyakit ini mengakibatkan kerusakkan
fungsi kognitif dan efek psikologi lainnya. Apabila kerusakkan terjadi pada lobus
frontal maka kapasitas belajar, memori atau fungsi intelektual kortikal yang lebih
tinggi akan rusak. Disfungsi ini ditunjukkan dengan lapang perhatian menurun,
kesulitan dalam pemahaman,lupa dan kurang motivasi yang menyebabkan pasien stres
dalam program rehabilitasi mereka. Masalah psikologi lain juga ditunjukkan oleh
pasien ini diantaranya emosi yang labil,bermusuhan, frustasi dendam dan kurang kerja
sama.(Kim,2013)
Prevalensi Stroke berdasarkan diagnosis nakes dan gejala tertinggi terdapat di
Sulawesi Selatan (17,9%), DI Yogyakarta (16,9%), Sulawesi Tengah (16,6%),
diikuti Jawa Timur sebesar 16 per mil. Terjadi peningkatan prevalensi
stroke berdasarkan wawancara (berdasarkan jawaban responden yang pernah
didiagnosis nakes dan gejala) juga meningkat dari 8,3 per1000 (2007) menjadi
12,1 per1000 (2013) (Riskesdas, 2013).
Terjadinya serangan stroke berulang pada penderita stroke umumnya
dipicu dari stres psikologis pasien yang merasa menyerah terhadap penyakit dan
kondisi tubuhnya yang mengalami kecacatan atau kelumpuhan jangka panjang
pasca stroke, sehingga penderita tidak dapat melakukan aktivitas dan berperan seperti
sebelumnya. Stres merupakan masalah umum yang terjadi dalam kehidupan umat
manusia dalam menyatakan bahwa stres yang ada saat ini adalah sebuah atribut
kehidupan modern. Hal ini dikarenakan stres sudah menjadi bagian hidup yang tidak
bisa terelakkan. Baik di lingkungan sekolah, kerja, keluarga, atau dimanapun, stres
bisa dialami oleh seseorang. Stres juga bisa menimpa siapapun termasuk anak-anak,
remaja, dewasa, atau yang sudah lanjut usia. Dengan kata lain, stres pasti terjadi pada
siapapun dan dimanapun. Yang menjadi masalah adalah apabila stres itu banyak
dialami oleh seseorang, maka dampaknya adalah membahayakan kondisi fisik dan
mentalnya.(Lumban Gaol,2016)
1
Stres merupakan salah satu faktor resiko yang berada pada urutan terbawah
sebagai faktor paling berpengaruh terhadap terjadinya stroke. Hasil studi dari berbagai
penelitian menunjukkan bahwa stres merupakan salah satu faktor utama pemicu
hipertensi, yang merupakan faktor terbesar penyebab terjadinya serangan stroke.
Fakta inilah yang menjadi salah satu alasan bahwa stres perlu mendapatkan perhatian
khusus dari setiap penderita stroke. (Gabriela,2012)
Didalam studi yang dilakukan Wang (2014) menunjukkan prevalensi
terjadinya stroke yang sangat tinggi pada seseorang yang mempuyai penyakit
hipertensi arterial maupun pre hipertensi.Dalam penelitian ini Wang meyampaikan
bahwa hiipertensi arterial ini dipicu oleh adan kolesterol yang tiggi dalam darah
sehingga akan melahirkan suatu kondisi yang disebut intracranial stenosis dan
extracranial stenosis. Kolesterol yang tinggi ini dipicu oleh kondisi stress yang akan
diakibatkan oleh muculnya hormon kelenjar adrenal yang cukup tinggi dalam
pembuluh darah. Hormone tersebut berbahan dasar lipid. Di dalam pembuluh darah
hormone tersebut tidak dapat di metabolisme oleh tubuh, sehingga hormon tersebut
disimpan di dalam lapisan endotel. Hal inilah yang mengakibatkan munculnya
intracranial stenosis dan extracranial stenosis. Etnis yang paling sering terkena
adalah ras Asia pada umumnya, tidak terkecuali di Indonesia.
Tingginya insidensi stres di Indonesia juga merupakan alasan mengapa stres
harus diprioritaskan penanganannya sebab pada tahun 2008 tercatat sekitar 10
% dari total penduduk Indonesia mengalami gangguan mental atau stres.
(Gabriela,2012).Salah satu penanganan yang dapat dilakukan adalah penerapan
Spiritual Emotional Freedom Therapy/Emotional Freedom Therapy untuk mengurangi
stress psikologis pasien stroke yang diawali dengan hipertensi. Dalam penelitian Teti
dkk (2013) EFT menunjukkan penurunan tekanan darah yang diakibatkan oleh
munculnya zat metenfekalin, dinorfin dan beta endorphin yang menstimulasi reseptor
opioid. Pencegahan ini digunakan bagi pasien yang mengalami stroke tahap awal
supaya tidak terjadi serangan berulang, yang mengakibatkan kematian atau kecacatan.

1.2. Tujuan
1.2.1. Menjelaskan tentang definisi dan teori stress
1.2.2. Menjelaskan tentang Piskopatologi stress
1.2.3. Menjelaskan tentang Klasifikasi, bentuk dan penyebab stress
1.2.4. Menjelaskan tentang Stress pada pasien stroke

2
1.2.5. Menjelaskan tentang SEFT( Spritual Emotional Freedom Technique) pada
penderita stroke

BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1. Konsep Stres

2.1.1. Definisi Stres

3
Kata “stres” bisa diartikan berbeda bagi tiap-tiap individu. Sebagian
individu mendefinisikan stres sebagai tekanan, desakan atau respon emosional. Para
psikolog juga mendefinisikan stres dalam berbagai bentuk. Stres bisa mengagumkan,
tetapi bisa juga fatal. Semuanya tergantung kepada para penderita.
Lazarus dan Folkman, 1984 dalam Schnedeirman (2005) menyatakan, stres
psikologis adalah sebuah hubungan antara individu dengan lingkungan yang dinilai oleh
individu tersebut sebagai hal yang membebani atau sangat melampaui kemampuan
seseorang dan membahayakan kesejahteraannya. Stres juga bisa berarti ketegangan,
tekanan batin, tegangan, dan konflik yang berarti:
1. Satu stimulus yang menegangkan kapasitas-kapasitas (daya) psikologis atau
fisiologis dari suatu organisme.
2. Sejenis frustasi, di mana aktifitas yang terarah pada pencapaian tujuan telah diganggu
oleh atau dipersukar, tetapi terhalang-halangi. Peristiwaini biasanya disertai oleh
perasaan was-was kuatir dalam percapaian tujuan.
3. Kekuatan yang diterapkan pada suatu sistem, tekanan-tekanan fisik dan psikologis
yang dikenakan pada tubuh dan pada pribadi.
4. Satu kondisi ketegangan fisik atau psikologis disebabkan oleh adanya persepsi
ketakutan dan kecemasan.
Menurut Robert S. Fieldman (1989) dalam Gaol (2016) stress adalah suatu
proses yang menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam,
menantang, ataupun membahayakan dan individu merespon peristiwa itu pada level
fisiologis, emosional, kognitif dan perilaku. Peristiwa yang memunculkan stress dapat
saja positif (misalnya: merencanakan perkawinan) atau negatif (contoh: kematian
keluarga). Sesuatu didefinisikan sebagai peristiwa yang menekan (stressfull event) atau
tidak,bergantung pada respon yang diberikan oleh individu.
Stres adalah stimulus atau situasi yang menimbulkan distres dan menciptakan
tuntutan fisik dan psikis pada seseorang. Stres membutuhkan koping dan adaptasi.
Sindrom adaptasi umum atau Teori Selye, menggambarkan stres sebagai kerusakan yang
terjadi pada tubuh tanpa mempedulikan apakah penyebab stres tersebutpositif atau
negatif. Respons tubuh dapat diprediksi tanpa memerhatikan stresor atau penyebab
tertentu (Schnedeirman,2005)
Menurut Hans Selye dalam Gaol (2016) stress adalah respon tubuh yang sifatnya
nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Bila seseorang telah mengalami stres
mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak
4
lagi dapat menjelaskan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut distres. Pada
gejala stres, gejala yang dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan somatik
(fisik), tetapi dapat pula disertai keluhan- keluhan psikis. Tidak semua bentuk stres
mempunyai konotasi negatif, cukup banyak yang bersifat positif, hal tersebut dikatakan
eustress
Stress adalah suatu tuntutan yang mendorong organisme untuk beradaptasi atau
menyesuaikan diri. Sedangkan stressor adalah suatu sumber stress maka penulis dapat
menyimpulkan tentang definisi stres di atas yaitu: stres adalah suatu keadaan yang
membebani atau membahayakan kesejahteraan penderita, yang dapat meliputi fisik,
psikologis, sosial atau kombinasinya.
2.1.2. Tahap-Tahap Stres

Menurut Hans Selye, 1950 dalam Gaol (2016) stress adalah respon tubuh yang
bersifat non-spesifik terhadap setiap tuntutan beban di atasnya. Selye memformulasikan
konsepnya dalam General Adaptation Syndrome (GAS). GAS ini berfungsi
sebagai respon otomatis, respon fisik, dan respon emosi pada seorang individu. Selye
mengemukakan bahwa tubuh kita bereaksi sama terhadap berbagai stressor yang tidak
menyenangkan, baik sumber stress berupa serangan bakteri mikroskopi, penyakit karena
organisme, perceraian ataupun kebanjiran. Model GAS menyatakan bahwa dalam
keadaan stress, tubuh kita seperti jam dengan system alarm yang tidak berhenti sampai
tenaganya habis. Respon GAS ini dibagi dalam tiga fase, yaitu :
1. Reaksi waspada (alarm reaction stage)
Adalah persepsi terhadap stresor yang muncul secara tiba-tiba akan munculnya
reaksi waspada. Reaksi ini menggerakkan tubuh untuk mempertahankan diri. Diawali
oleh otak dan diatur oleh sistem endokrin dan cabang simpatis dari sistem saraf
autonom. Reaksi ini disebut juga reaksi berjuang atau melarikan diri (fight-or-flight
reaction).
2. Reaksi Resistensi (resistance stage)
Adalah tahap di mana tubuh berusaha untuk bertahan menghadapi stres
yang berkepanjangan dan menjaga sumber-sumber kekuatan (membentuk tenaga baru
dan memperbaiki kerusakan). Merupakan tahap adaptasi di mana sistem endokrin dan
sistem simpatis tetap mengeluarkan hormon-hormon stres tetapi tidak setinggi pada
saat reaksi waspada.
3. Reaksi Kelelahan (exhaustion stage)

5
Adalah fase penurunan resistensi, meningkatnya aktivitas para simpatis dan
kemungkinan deteriorasi fisik. Yaitu apabila stresor tetap berlanjut atau terjadi stresor
baru yang dapat memperburuk keadaan. Tahap kelelahanditandai dengan dominasi
cabang parasimpatis dari ANS. Sebagai akibatnya, detak jantung dan kecepatan nafas
menurun. Apabila sumber stres menetap, kita dapat menngalami ”penyalit
adaptasi” (disease of adaptation), penyakit yang rentangnya panjang, mulai dari reaksi
alergi sampai penyakit jantung, bahkan sampai kematian.
2.1.3. Sumber Stres

Stresor adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan menghasilkan reaksi
stres, misalnya jumlah semua respons fisiologik nonspesifik yang menyebabkan
kerusakan dalam sistem biologis. Stres reaction acute (reaksi stres akut) adalah gangguan
sementara yang muncul pada seorang individu tanpa adanya gangguan mental lain yang
jelas, terjadi akibat stres fisik dan atau mental yang sangat berat, biasanya mereda
dalam beberapa jam atau hari. Kerentanan dan kemampuan koping (coping capacity)
seseorang memainkan peranan dalam terjadinya reaksi stres akut dan keparahannya.
Empat variabel psikologik yang dianggap mempengaruhi mekanisme
respons stres
1. Kontrol: keyakinan bahwa seseorang memiliki kontrol terhadap stresor yang
mengurangi intensitas respon stres
2. Prediktabilitas: stresor yang dapat diprediksi menimbulkan respons stres yang
tidak begitu berat dibandingkan stresor yang tidak dapat diprediksi.
3. Persepsi: pendangan individu tentang dunia dan persepsi stresor saat ini dapat
meningkatkan atau menurunkan intensitas respon stres.
4. Respons koping: ketersediaan dan efektifitas mekanisme mengikat ansietas, dapat
menambah atau mengurangi respon stres.

Sumber stres yang dapat menjadi pemicu munculnya stres pada individu yaitu:
1. Stressor atau Frustrasi Eksternal (Frustrasi = kekecewaan yang
mendalam).
Stressor eksternal : berasal dari luar diri seseorang, misalnya perubahan bermakna
dalam suhu lingkungan, perubahan dalam peran keluarga atau sosial, tekanan dari
pasangan.

6
2. Stressor atau Frustrasi Internal
Stressor internal : berasal dari dalam diri seseorang, misalnya demam, kondisi seperti
kehamilan atau menopause, atau suatu keadaan emosi seperti rasa bersalah).
2.1.4. Tipe Kepribadian yang Rentan Terkena Stres
Beberapa tipe kepribadian yang rentan menderita gangguan stres adalah:
(Sumadi,2008)
1. Ambisius, agresif dan kompetitif (suka akan persaingan)
2. Kurang sabar, mudah tegang, mudah tersinggung dan marah
3. (emosional)
4. Kewaspadaan berlebihan, kontrol diri kuat, percaya diri berlebihan
5. (over convidence)
6. Cara bicara cepat, bertindak serba cepat, hiperaktif, tidak dapat diam
7. Bekerja tidak mengenal waktu (workholic)
8. Pandai berorganisasi, memimpin dan memerintah (otoriter)
9. Lebih suka bekerja sendirian bila ada tantangan
10. Kaku terhadap waktu, tidak dapat tenang (tidak rileks) dan serba tergesa-gesa.
11. Mudah bergaul (ramah), pandai menimbulkan perasaan empati dan bila tidak
tercapai maksudnya mudah bersikap bermusuhan
12. Tidak mudah dipengaruhi, kaku (tidak fleksibel)
13. Bila berlibur pikirannya ke pekerjaannya, tidak dapat santai.
14. Berusaha keras untuk dapat segala sesuatunya terkendali.
2.1.5. Gejala Stres
Menurut Robert S. Fieldman (1989) dalam Schnedeirman (2005) stress adalah
suatu proses yang menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam,
menantang, ataupun membahayakan dan individu merespon peristiwa itu pada level
fisiologis, emosional, kognitif dan perilaku
Taylor (1991) dalam Schnedeirman (2005) menyatakan, stress dapat
menghasilkan berbagai respon. Berbagai peneliti telah membuktikan bahwa
respon-respon tersebut dapat berguna sebagai indikator terjadinya stres pada individu,
dan mengukur tingkat stres yang dialami individu. Respon stres dapat terlihat dalam
berbagai aspek, yaitu
1. Respon fisiologis, dapat ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, detak jantung,
detak nadi, dan sistem pernapasan.

7
2. Respon kognitif, dapat terlihat lewat terganggunya proses kognitif individu, seperti
pikiran menjadi kacau, menurunnya daya konsentrasi, pikiran berulang, dan pikiran
tidak wajar.
3. Respon emosi, dapat muncul sangat luas, menyangkut emosi yang mungkin
dialami individu, seperti takut, cemas, malu, marah, dan sebagainya.
4. Respon tingkah laku, dapat dibedakan menjadi fight, yaitu melawan situasi yang
menekan, dan flight, yaitu menghindari situasi yang menekan.
Gejala–gejala lain yang dapat dilihat dari orang yang sedang mengalami
stres antara lain cemas, depresi, makan berlebihan berpikiran negatif, tidur berlebihan,
diare, konstipasi atau sembelit,kelelahan yang terus menerus, sakit kepala, kehilangan
nafsu makan, marah,tegang,mudah tersinggung,gatal-gatal,alergi,merokok,nyeri
persendian, berdebar-debar dan sesak napas.Apabila seseorang mengalami satu atau lebih
dari gejala-gejala di atas, maka kemungkinan orang tersebut mengalami stres.
Stres juga dapat dilihat dari perubahan-perubahan yang terjadi pada anggota
tubuh, diantaranya:
1. Rambut
Warna rambut yang semula hitam pekat, lambat laun mengalami perubahan warna
menjadi kecoklat-coklatan serta kusam. Ubanan (rambut memutih) terjadi sebelum
waktunya, demikian pula dengan kerontokan rambut.
2. Mata
Ketajaman mata seringkali terganggu misalnya kalau membaca tidak jelas karena
kabur. Hal ini disebabkan karena otot-otot bola mata mengalami kekenduran atau
sebaliknya sehingga mempengaruhi fokus lensa mata.
3. Telinga
Pendengaran seringkali terganggu dengan suara berdenging (tinitus).

4. Daya pikir
Kemampuan bepikir dan mengingat serta konsentrasi menurun. Orang menjadi
pelupa dan seringkali mengeluh sakit kepala pusing.
5. Ekspresi wajah
Wajah seseorang yang stres nampak tegang, dahi berkerut, mimik nampak serius,
tidak santai, bicara berat, sukar untuk senyum atau tertawa dan kulit muka kedutan (tic
facialis).
6. Mulut dan bibir terasa kering sehingga seseorang sering minum.
8
Selain daripada itu pada tenggorokan seolah-olah ada ganjalan sehingga ia sukar
menelan, hal ini disebabkan karena otot-otot lingkar di tenggorokan mengalami
spasme (muscle cramps) sehingga serasa “tercekik”.
7. Kulit
Pada orang yang mengalami stres reaksi kulit bermacam- macam, pada kulit dari
sebahagian tubuh terasa panas atau dingin atau keringat berlebihan. Reaksi lain
kelembaban kulit yang berubah, kulit menjadi lebih kering. Selain daripada itu
perubahan kulit lainnya adalah merupakan penyakit kulit, seperti munculnya eksim,
urtikaria (biduran), gatal-gatal dan pada kulit muka seringkali timbul jerawat
(acne) berlebihan; juga sering dijumpai kedua belah tapak tangan dan kaki
berkeringat (basah).
8. Sistem Pernafasan
Pernafasan seseorang yang sedang mengalami stres dapat terganggu misalnya nafas
terasa berat dan sesak disebabkan terjadi penyempitan pada saluran pernafasan mulai
dari hidung, tenggorokan dan otot-otot rongga dada. Nafas terasa sesak dan berat
dikarenakan otot-otot rongga dada (otototot antar tulang iga) mengalami spasme
dan tidak atau kurang elastis sebagaimana biasanya. Sehingga ia harus mengeluarkan
tenaga ekstra untuk menarik nafas. Stres juga dapat memicu timbulnya penyakit asma
(asthma bronchiale) disebabkan karena otot-otot pada saluran nafas paruparu juga
mengalami spasme.
9. Sistem Kardiovaskuler
Sistem jantung dan pembuluh darah atau kardiovaskuler dapat terganggu faalnya
karena stres. Misalnya, jantung berdebar-debar, pembuluh darah melebar (dilatation)
atau menyempit (constriction) sehingga yang bersangkutan nampak mukanya merah
atau pucat. Pembuluh darah tepi (perifer) terutama di bagian ujung jari-jari tangan atau
kaki juga menyempit sehingga terasa dingin dan kesemutan. Selain daripada itu
sebahagian atau seluruh tubuh terasa “panas” (subfebril) atau sebaliknya terasa
“dingin”.
10. Sistem Pencernaan
Orang yang mengalami stres seringkali mengalami gangguan pada sistem
pencernaannya. Misalnya, pada lambung terasa kembung, mual dan pedih; hal ini
disebabkan karena asam lambung yang berlebihan (hiperacidity). Dalam istilah
kedokteran disebut gastritis atau dalam istilah awam dikenal dengan sebutan
penyakit maag. Selain gangguan pada lambung tadi, gangguan juga dapat terjadi pada
9
usus, sehingga yang bersangkutan merasakan perutnya mulas, sukar buang air besar
atau sebaliknya sering diare.
11. Sistem Perkemihan.
Orang yang sedang menderita stres faal perkemihan (air seni) dapat juga terganggu.
Yang sering dikeluhkan orang adalah frekuensi untuk buang air kecil lebih sering dari
biasanya, meskipun ia bukan penderita kencing manis (diabetes mellitus).
12. Sistem Otot dan tulang
Stres dapat pula menjelma dalam bentuk keluhan-keluhan pada otot dan tulang
(musculoskeletal). Yang bersangkutan sering mengeluh otot terasa sakit (keju) seperti
ditusuk-tusuk, pegal dan tegang. Selain daripada itu keluhan-keluhan pada tulang
persendian sering pula dialami, misalnya rasa ngilu atau rasa kaku bila menggerakan
anggota tubuhnya. Masyarakat awam sering mengenal gejala ini sebagai
keluhan”pegal-linu”.
13. Sistem Endokrin
Gangguan pada sistem endokrin (hormonal) pada mereka yang mengalami stres
adalah kadar gula yang meninggi, dan bila hal ini berkepanjangan bisa mengakibatkan
yang bersangkutan menderita penyakit kencing manis (diabetes mellitus); gangguan
hormonal lain misalnya pada wanita adalah gangguan menstruasi yang tidak teratur
dan rasa sakit (dysmenorrhoe).
2.1.6. Stres Berdasarkan Jenis Kelamin
1. Stres pada Wanita
Fluktuasi estrogen dalam tubuh wanita dapat membuat parasaannya
berubah-ubah. Selama periode stres, kadar estrogen menurun. Kelenjar adrenalin
menghasilkan hormon stres lebih banyak dari pada estrogen. Selama fase ini, ketika
kadar estrogen menurun, terjadi pembentukan plak pembuluh darah yang
meningkatkan resiko terjadinya peyakit jantung. Setelah mencapai masa menopouse,
kadar estrogen pada wanita menurun hingga 80%. Ini adalah masa titik balik yang
penting pada kehidupan wanita. Banyak perubahan besar yang terjadi seperti muka
kemerahan dan terasa panas, masa tulang yang rendah hingga mengalami osteoporosis.
Selain itu estrogen melindungi sistem jantung dan pembuluh darah sampai pada masa
menopouse. Setelah menopouse, wanita menjadi rentan terhadap masalah jantung,
yang kemungkinan sama dengan pria.
2. Stres pada Laki-Laki

10
Penurunan kadar testosteron berpengaruh pada stres fisik dan psikologis.
Testosteron adalah hormon yang memberi tanda maskulinitas pada pria, seperti
rambut, suara yang berat, dan figur tubuh.Testosteron berkaitan dengan dominan pria.
Hormon ini juga berkaitan dengan pola pikir sifat mereka dengan wanita. Cara mereka
belajar, rasionalitas, dan keengganan untuk menunjukkan perasaannya merupakan ciri
khas pria. Kedua jenis kelamin ini memang benar- benar berbeda, baik secara fisik
maupun mental.
2.1.7. Jenis Stres
Jenis-jenis Stres menurut Gaol (2016) mengkategorikan jenis stres menjadi
dua, yaitu:
1. Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan
konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan
juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan
adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.
2. Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif,
dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan
juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran
(absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan
kematian. Dalam hal ini, gejala stres yang akan dibahas adalah gejala stres yang
bersifat distress, sebagai akibat dari sebuah stres akut yang berkepanjangan dihitung
mulai dari 3 bulan pasca kejadian (stressor) muncul.
Berdasarkan konsep yang diperkenalkan Cannon tersebut, “the fight-or-flight
response”, stres diartikan sebagai respons tubuh terhadap sesuatu hal. Cannon menyatakan
bahwa stres adalah sebagai ganguan homeostasis yang menyebabkan perubahan pada
keseimbangan fisiologis yang dihasilkan dari adanya rangsangan terhadap fisik maupun
psikologis. Namun seiring dengan kemajuan ilmu pengetahun dan bertambahnya penelitian
tentang stres, berbagai teori tentang stres pun bermunculan.(Lumban Gaol, 2016).
Walaupun teori stres terus berkembang dari masa ke masa, tetapi secara fundamental teori
stres hanya digolongkan atas tiga pendekatan. Tiga pendekatan teori stres tersebut menurut
Lumban Gaol (2016) adalah:
a. Stres model stimulus (rangsangan)
Stres model stimulus menjadi terkenal pada tahun 1940 dan 1950. Kemudian pada
tahun 1960-an, para ahli psikologi menjadi tertarik untuk menkaji konsep stres yang
ditinjau dari pengalaman psikologis. Sebenarnya, perkembangan teori stres model

11
stimulus berawal dari temuan para peneliti terhadap prajurit militer yang sedang
melaksanakan tugas perang. Tugas kemiliteran ini pun dianggap sebagai penyebab
stres yang menyebabkan semakin membu- ruknya kesehatan para militer tersebut.
Kondisi kesehatan yang memburuk itu disebabkan oleh adanya rangsangan atau
stimulus yang datang dari luar diri mereka. Rangsangan tersebut merupakan situasi
peperangan yang akan dihadapi. Mereka membayangkan bahwa situasi peperangan
yang akan terjadi adalah sangat berbahaya. Alhasil, karena mereka banyak memikirkan
hal tersebut kesehatan mereka pun cenderung memburuk.
Stres model stimulus merupakan model stres yang menjelaskan bahwa stres itu
adalah variabel bebas (independent) atau penyebab manusia mengalami stres. Atau
dengan kata lain, stres adalah situasi lingkungan yang seseorang rasakan begitu
menekan dan individu tersebut hanya menerima secara langsung rangsangan stres
tanpa ada proses penilaian. Penyebab-penyebab stres tersebut berperan dalam
menentukan seberapa banyak stres yang akan mungkin diterima. Oleh karena itu,
tekanan yang berasal dari situasi-situasi lingkungan bisa bertindak sebagai penyebab
dan penentu pada gangguan-ganguan kesehatan apabila terjadi dalam kurun waktu yang
sering dan dengan jumlah yang berbahaya. Adapun situasi-situasi yang memungkinkan
menjadi pemicu terjadinya stres adalah beban kerja, kepanasan, kedinginan, suara
keributan, ruangan yang berbau menyengat, cahaya yang terlalu terang, lingkungan
yang kotor, ventilasi yang tidak memadai, dan lain sebagainya.
Bartlett (1998) dalam (Lumban Gaol, 2016) menegaskan bahwa stres stimulus
lebih memfokuskan pada sumber- sumber stres dari pada aspek-aspek lainnya. Sumber
stres tersebut dikenal dengan istilah “stressor”. Sebenarnya, stressor hanya mem-
berikan rangsangan dan mendorong sehing- ga terjadi stres pada seseorang. Stressor
berperan sebagai pemicu stres pada individu. Menurut Lumban Gaol (2016), sumber
stres (stressor) dapat dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu
1) Life events (peristiwa-peristiwa kehidupan) berfokus pada peranan perubahan-
perubahan kehidupan yang begitu banyak terjadi dalam waktu yang singkat
sehingga meningkatkan kerentanan pada penyakit. Suatu peristiwa kehidupan bisa
menjadi sumber stres terhadap seseorang apabila kejadian tersebut membutuhkan
penyesuaian perilaku dalam waktu yang sangat singkat. Ketika seseorang gagal
berurusan (menyesuaikan) dengan situasi atau perubahan-perubahan yang secara
ekstrem tesebut, maka timbullah dampak buruk, misalnya perasaan cemas.
2) Chronic strains (ketegangan kronis) merupakan kesulitan-kesulitan yang konsis-
ten atau berulang-ulang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ketegangan kronis bisa

12
memengaruhi terhadap kesehatan manusia termasuk fisik maupun psikologis. Hal
tersebut dikarenakan ketegangan kronis yang terus berlanjut dan menjadi ancaman
kepada seseorang.
3) Daily Hassles (permasalah sehari-hari) adalah peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi
dalam kehidupan sehari-hari yang memer- lukan tindakan penyesuaian dalam sehari
saja.
b. Stres model response (respons)
Stres model respons dikembangkan oleh Hans Selye. Selye adalah ahli yang
dikenal luas karena penelitian dan teorinya tentang stres yang berkaitan dengan aspek
fisik dan kesehatan. Selye mengganti defenisi stres tersebut menjadi respons seseorang
terhadap stimulus yang diberikan. Selye menekankan bahwa stres merupakan reaksi
atau tanggapan tubuh yang secara spesifik terhadap penyebab stres yang mana
memengaruhi kepada seseorang. Hasil stres itupun meliputi perubahan kondisi psikis,
emosional, dan psikologis. Dengan demikian, perpaduan antara sumber stres dan hasil
stres mengarahkan pada pengertian bahwa stres tidak bisa dipisahkan dari reaksi tubuh
terhadap sumber-sumber stres yang ada. Oleh karena itu, stres respons dapat
disimpulkan sebagai reaksi tubuh secara jasmaniah terhadap sumber-sumber stres yang
ada atau rangsangan yang menyerang tubuh.
c. Stres model transactional (transaksional)
Stres model transaksional berfokus pada respons emosi dan proses kognitif yang
mana didasarkan pada interaksi manusia dengan lingkungan. Atau dengan kata lain,
stres model ini menekankan pada peranan penilaian individu terhadap penyebab stres
yang mana akan menentukan respons individu tersebut.
Lazarus dan Folkman adalah tokoh yang terkenal dalam mengembangkan
teori stres model transaksional. Lazarus dan Folkman (1984) menyatakan bahwa stres
adalah hubungan antara individu dengan lingkungannya yang dievaluasi oleh sese-
orang sebagai tuntutan atau ketidakmampuan dalam mengahadapi situasi yang
membahayakan atau mengancam kesehatan (Lumban,Gaol,2016).
Dengan kata lain, stres adalah hasil dari terjadinya transaksi antara individu
dengan penyebab stres yang melibatkan proses pengevaluasian (Dewe, O’Driscoll, &
Cooper, 2012) dalam Lumban Gaol (2016). Selain itu, sumber stres merupakan kejadian
atau situasi yang melebihi kemampuan pikiran atau tubuh saat berhadapan dengan
sumber stres tersebut. Ketika situasi tersebut memberikan rangsangan, maka individu
akan melakukan appraisal (penilaian) dan coping (penanggulangan). Oleh karena itu,

13
stres bisa berlanjut ke tahap yang lebih parah atau sedikit demi sedikit semakin
berusaha seseorang berurusan dengan sumber stres.
2.2. Stres Pada Pasien Stroke
2.2.1. Pengertian Stroke
Menurut Satyanegara, et al (2010) menyatakan bahwa Serangan otak atau stroke
merupakan gangguan suplai darah otak secara mendadak sebagai akibat oklusi pembuluh
darah parsial atau total, atau akibat pecahnya pembuluh darah otak .Stroke merupakan
kondisi kegawat daruratan medik. Semakin lama penangan stroke, maka akan banyak
terjadi kerusakan sel saraf dan tentunya berdampak pada kondisi fisik klien yang mengarah
pada kecacatan (Pinzon, et al, 2010).
Stroke didefenisikan sebagai defisit (gangguan) fungsi sistem saraf yang terjadi
mendadak dan disebabkan oleh gangguan peredaran darah di otak" Stroke terjadi akibat
gangguan pembuluh darah di otak, baik berupa tersumbatnya pembuluh darah otak atau
pecahnya pembuluh darah di otak. Otak yang seharusnya mendapat pasokan oksigen dan
zat makanan menjadi terganggu.Sehingga memunculkan sel saraf (neuron) dan
rnemunculkan gejala stroke (Pinzon dkk 2010).
Stroke adalah penyebab kematian nomor tiga (setelah penyakit jantung dan kanker)
dan penyebab kecacatan nomor satu di seluruh dunia. Stroke merupakan serangan otak
mendadak akibat kurangnya suplai darah ke otak sehingga dapat mengakibatkan kematian
atau kelumpuhan sebelah bagian tubuh. Berbagai dampak pasca-stroke adalah depresi,
kepikunan, gangguan anggota gerak, nyeri, epilepsi, tulang keropos dan gangguan
menelan. Oleh sebab itu sangat diperlukan penanganan yang bersifat individul sesuai
kondisi pasien (Pinzon, dkk 20 I 0).
2.2.2. Gejala Stroke
Seseorang dengan gangguan vaskuler pada susunan saraf pusat dapat menunjukkan
beberapa gejala diantaranya adalah gejala TIA (Transient Ischemic Attact) merupakan
difisit neorologis yang dapat sembuh dalam 24 jam (durasi rata-rata 10 menit setelah itu
gejala menghilang). Gejala selanjutnya adalah difisit ischemic neurologis yang bersifat
reversible dimana TIA yang berlansung lebih 24 jam tetapi dapat sembuh dengan
sempurna, dan gejala klinik stroke yang sempurna yang menyebabkan seseorang
mengalami defisit permanen, tingkat penyembuhan dengan kecacatan sampai dengan
kematian. Gejala yang tampak pada stroke sangat tergantung pada pembulu darah yang
terkena (Hudak & gallo, 2010).
2.2.3. Penatalaksanaan
14
Pada penatalaksanaan stroke dibagi menjadi 3 tahapan dimulai dari:
a. Pre Hospital
Penatalaksanaan pada pre rumah sakit dibutuhkan reaksi cepat dan tepat dalam
menangani stroke. Kewaspadaan kejadian stroke dengan penganalan tanda dan gejala
stroke sangat diperlukan karena hampir 95% pasien stroke dimulai sejak dirumah atau
luar rumah sakit. Hal ini penting diketahui oleh masyarakat luas terutama petugas
kesehatan professional (Dokter, Perawat, Paramedic, Call Center, Emergency Medical
Center, dan Petugas Gawat Darurat) untuk mengenal stroke dan perawatan penanganan
kedaruratan pada pasien stroke (AHA, 2014).
b. Intra Hospital
Tahap intra hospital pada dasarnya mempunyai 4 tujuan utama yaitu; perbaikan
aliran darah cerebral (reperfusi), pencegahan trombosis berulang, perlindungan syaraf,
dan perawatan supportif. Pada penatalaksanaan yang harus diobservasi secara intensive
tahap hospital adalah oksigenasi, kadar glukosa dan aliran darah adekuat. Reperfusi
dapat dilakukan dengan activator plasminogen jaringan intra vena (IV). Jika ada
indikasi pemberian trombolitik seperti rtPA (tissue plasminogen activator) di IGD rumah
sakit harus dilakukan observasi dan pemantauan (hudak et al, 2012).
c. Pasca hospital
Pada tahap ini dibutuhkan tindakan pencegahan, rehabilitasi dan pendidikan
kesehatan (AHA, 2014).
1) Pencegahan
Stroke dapat dicegah dengan memodifikasi faktor risiko, terutama rokok, diet
lemak, rendah garam, alkohol dan pengunaan obat-obatan penurun kolesterol.
Control tekanan darah penting dilakukan karena berhubungan dengan iskemik
stroke. Penurunan tekanan darah yang terlalu cepat dapat memperburuk iskemia
pada regio dimana sirkulasi cerebri sudah berkurang, oleh karena itu waspadai
pengunaan obat antihipertensi (Gingsberg, 2008).
2) Rehabilitasi
Lingkungan sangat berperan penting dalam penyembuhan pasien stroke
berhubungan keberadaan pasien seperti hidrasi, temperature dan glukosa darah.
Tatalaksana lain yang sesuai keluhan seperti sulit menelan dan pencegahan terhadap
trombolitik vena. Fisioterapi yang berkesinambungan dapat membantu kemandirian
aktifitas pasien (Gingsberg, 2008). Peran perawat adalah pencegahan komplikasi
yang diakibatkan oleh stroke. Intervensi yang efektif untuk pengobatan stroke akan

15
membantu menurunkan kematian dan mengurangi morbiditas pasien yang pernah
mengalami stroke (hudak et al, 2012).
3) Pendidikan kesehatan
Intervensi pendidikan pada masyarakat sangat penting hal ini terbukti dan
banyak berhasil dengan sempurna pada penderita stroke iskemik dalam terapi
fibrinolitik. Pemberian layanan kesehatan rumah sakit dan layanan informasi pada
masyarakat untuk mengembangkan system efektifitas perawatan stroke. Tujuan
perawatan stroke adalah meminimalkan cidera otak dan memaksimalkan
kesembuhan pasien (AHA, 2010).
Sebagai perawat harus memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga
mengenai faktor risiko dan mengajarkan individu mengenali tanda dan gejala stroke.
Layanan rumah sakit perlu menggunakan program yang menjangkau komunitas
mengenai pencegahan stroke. Program layanan rumah sakit harus dibangun melalui
kesadaran masyarakat mengenai tanda dan gejala seperti mati rasa, kelemahan di
wajah, lengan, dan tungkai, konfusi, kesulitan bicara atau memahami, masalah
pengelihatan, pusing, kehilangan keseimbangan atau sakit kepala berat. Sebagai
petugas gawat darurat mampu mengidentifikasi, memindahkan pasien ke rumah
sakit terdekat yang mempunyai layanan stroke lengkap mulai diagnosis sampai
pemulangan (hudak et al, 2012).
2.2.4. Stres pada penderita stroke
Perubahan yang terjadi dalam hidup seseorang sesudah terkena stroke membawa dampak
secara luas dalam arti fungsi fisik, mental maupun sosial dalam hidupnya terganggu sehingga
dapat menyebabkan stress. Paderita akan melakukan penyesuaian diri terhadap kondisi yang ada.
Penyesuaian diri dari seseorang. yang mengalami stres berbeda-beda pada setiap orang ada yang
positif maupun negativ. Hal tersebut terjadi karena setiap orang mempunyai apresiasi dan tingkatan
toleransi terhadap stres yang berbeda. Stres sebagai akibat penyesuaian pada keadaan yang baru
akibat serangan stroke dapat berupa stres fisik maupun psikologis. Hal yang paling ditakuti oleh
penderita stroke adalah bahwa hampir selalu penderita yang terserang stroke akan mengalami
kecacatan, yakni lumpuh, pikun serta gangguan-gangguan lain seperti sulit bicara dan sulit
melakukan aktivitas. Penyakit ini dapat mengubah seseorang yang tadinya kuat dan tampak tak
kenal takut menjadi lemah dan sangat bergantung pada bantuan orang lain (Sembiring, 2010)
Menurut Brian. J Sharley (2003) bahwa dari sisi psikologi stroke dapat membuat
penderitanya merasakan rendah diri dan tidak berguna akibat dari kecacatannya. Perasaan rendah
diri tidak berguna dan gangguan psikologis lainya dapat dihindari jika seseorang mampu
menyesuaikan diri dengan keadaan dan realitas yang ada. Penderita stroke yang mengalami stress
akan memilih mekanisme penyesuian diri terhadap stressor yang dialami dengan usaha kognitif dan

16
tingkah laku individu untuk menguasai, mengurangi atau mentoleransikan tuntutan-tuntutan yang
melebihi kemampuan individu yang disebut dengan coping stress (Folkan dan Lazarus, 1988).
Coping harus dipandang sebagai proses bukan tujuan, proses ini meliputi tindakan tingkah laku dan
kognitif. Tujuan umum dari tindakan perilaku coping adalah untuk menghilangkan ketidak
seimbangan antara tuntutan dan individu agar seimbang lagi(Sembiring, 2010)
Stres dapat pula muncul pasca serangan akut stroke berupa penolakan diri, rendah
diri, marah, depresi, dan dihantui bayang-bayang kegagalan fungsi dan kematian. Stres
pada pasien dan keluarga umumnya disebabkan karena kecemasan dan ketidaktahuan
tentang kondisi penyakitnya. Kondisi ini akan lebih berat jika pasien tidak mendapat
dukungan dari keluarga. Secara klinis, stres sampai dengan depresi pada stroke fase akut
sering dikaitkan dengan lesi yang terjadi, sedangkan depresi sesudah fase akut cenderung
sekunder akibat reaksi keadaan fisik. Proporsi depresi pasca stroke 3 minggu sampai 3
bulan adalah 35 %, di mana 71,4% merupakan depresi minor dan 28,6% depresi mayor
Keadaan stress yang berkepanjangan jika tidak diatasi akan mengarah pada gangguan jiwa
yang lebih parah (Tutik, Hariyati, Sumarwati, & Handiyani, 2004)
Stroke juga sering terjadi pada penderita yang sama. Terjadinya serangan stroke
berulang pada penderita stroke umumnya dipicu dari piskologis pasien yang merasa
menyerah terhadap penyakit dan kondisi tubuhnya yang mengalami kecacatan atau
kelumpuhan jangka panjang pasca stroke, sehingga penderita tidak dapat melakukan
aktivitas dan berperan seperti sebelumnya. Rendahnya motivasi dan harapan sembuh
penderita serta kurangnya dukungan keluarga sangat berpotensi menimbulkan beban dan
berujung pada stres (Adientya & Handayani, 2012)
2.3. Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT)
2.3.1. Definisi
Spiritual Emosional Freedom Technique (SEFT) adalah salah satu varian dari cabang
ilmu baru yang dinamai Energy Psychology. Selain itu, SEFT adalah gabungan antara
Spiritual power dan Energy Psychology (Zainuddin, 2012). SEFT merupakan teknik terapi
menggabungkan sistem energi tubuh dengan metode tapping pada 18 titik kunci di
sepanjang 12 jalur energi tubuh. Metode tapping menggunakan jari untuk menyentuh titik
energi dengan jumlah denyut dan urutan tertentu bersamaan dengan afirmasi positif ,
beberapa teknik relaksasi dan visualisasi. SEFT merupakan pengembangan dari metode
EFT yang dikenalkan oleh seorang psikolog asal U.S yaitu Gary Craig.
Terapi SEFT merupakan terapi yang sangat mudah untuk dilakukan. Proses belajar
sangat cepat, tanpa obat-obatan, dan tanpa melakukan prosedur diagnosis yang rumit.

17
Hanya menggunakan ketukan ringan (tapping) hanya pada 18 titik kunci di sepanjang 12
energy tubuh, dan efek penyembuhan dapat langsung dirasakan secara instant (one minute
wonder). Selain untuk penyembuhan baik fisik maupun emosi, juga dapat digunakan untuk
meningkatkan prestasi dan kedamaian hati (Riyanto, 2002).
Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) bekerja dengan prinsip yang kurang
lebih sama dengan akupuntur dan akupressur. Ketiga teknik ini berusaha merangsang
titik-titik kunci di sepanjang 12 jalur energi (energi meridian) tubuh yang sangat
berpengaruh pada kesehatan kita (Zainuddin, 2012).
SEFT ditemukan efektif dilakukan pada beberapa kasus penyakit dan atau gangguan,
antara lain yaitu :
1. Addictive Cravings (food, cigarettes, alcohol, drugs)
2. Allergies
3. Anxiety and panic attacks
4. Anger
5. Compulsions and obsessions
6. Depression and sadness
7. Dyslexia
8. Enhancing self-image
9. Fears and phobias
10. Grief and loss
11. Guilt
12. Insomnia
13. Negative memories
14. Pain and symptom
15. managementPhysical healing
16. Enhancing peak performance (sports, public speaking)
17. Post traumatic stress disorder
18. Sexual abuse issues, etc
19. Relief of pain, e.g. migrainearthritis etc

2.3.2. Cara melakukan SEFT


a. Versi lengkap
SEFT terdiri dari 3 tahap:
1. The Set-Up
The set-up bertujuan untuk memastikan agar aliran energi tubuh kita
terarahkan dengan tepat. Langkah ini untuk menetralisir "psychological
Reversal" atau "perlawanan psikologis". The Set-up terdiri dari 2 aktivitas,
yang pertama adalah mengucapkan kalimat seperti di atas dengan penuh
rasa khusyu', ikhlas dan pasrah sebanyak 3 kali. Dan yang kedua adalah
sambil mengucapkan dengan penuh perasaan, kita menekan dada kita,
tepatnya di bagian "Sore Spot" (titik nyeri = daerah di sekitar dada atas yang

18
jika ditekan terasa agak sakit) atau mengetuk dengan dua ujung jari di
bagian "Karate Chop". Setelah menekan titik nyeri atau mengetuk karate
chop sambil mengucapkan kalimat Set-Up seperti di atas, kita melanjutkan
dengan langkah kedua, "The Tune-In" (Zainuddin, 2012.).
2. The Tune-In
Masalah fisik, kita melakukan tune-in dengan cara merasakan rasa sakit
yang kita alami, lalu mengarahkan pikiran kita ke tempat rasa sakit,
dibarengi dengan hati dan mulut kita berdoa. Masalah emosi, kita
melakukan "Tune-In" dengan cara memikirkan sesuatu atau peristiwa
spesifik tertentu yang dapat membangkitkan emosi negative yang ingin kita
hilangkan. Ketika terjadi reaksi negatif (marah, sedih, takut, dsb) hati dan
mulut kita berdoa. Bersamaan dengan Tune-In ini kita melakukan langkah
ketiga (Tapping). Pada proses inilah kita menetralisir emosi negatif atau rasa
sakit fisik (Zainuddin, 2012).
3. The Tapping
Tapping adalah mengetuk ringan dengan dua ujung jari pada titik-titik
tertentu di tubuh kita sambil terus Tune-In. Titik-titik ini adalah titik-titik
kunci dari "The Major Energy Meridians", yang jika kita ketuk beberapa
kali akan berdampak pada ternetralisirnya gangguan emosi atau rasa sakit
yang kita rasakan. Karena aliran energi tubuh berjalan dengan normal dan
seimbang kembali (Zainuddin, 2012).

Berikut ini adalah titik-titik tersebut:


19
a. Cr = Crown,
Pada titik di bagian atas kepala
b. EB = Eye Brow,
Pada titik permulaan alis mata
c. SE = Side of the Eye,
Di atas tulang di samping mata
d. UE = Under the Eye,
2 cm di bawah kelopak mata
e. UN = Under the Nose,
Tepat di bawah hidung (Zainuddin, 2012)
f. Ch = Chin,
Di antara dagu dan bagian bawah bibir
g. CB = Collar Bone,
Di ujung tempat bertemunya tulang dada, collar bone dan tulang
rusuk pertama
h. UA = Under the Arm,
Di bawah ketiak sejajar dengan puting susu (pria) atau tepat di
bagian tengah tali bra (wanita)
i. BN = Bellow Nipple,
2,5 cm di bawah putting susu (pria) atau di perbatasan antara
tulang dada dan bagian bawah payudara
j. IH = Inside of Hand,
Di bagian dalam tangan yang berbatasan dengan telapak tangan
k. OH = Outside of Hand,
Di bagian luar tangan yang berbatasan dengan telapak tangan
l. Th = Thumb,
Ibu jari di samping luar bagian bawah kuku
m. IF = Index Finger,
Jari telunjuk di samping luar bagian bawah kuku
n. MF = Middle Finger,
Jari tengah samping luar bagian bawah kuku
o. RF = Ring finger,
Jari manis di samping luar bagian bawah kuku
p. BF = Baby finger,
Di jari kelingking di samping luar bagian bawah kuku
q. KC = Karate Chop
Di samping telapak tangan, bagian yang kita gunakan untuk
mematahkan balok saat karate
r. GS = Gamut Spot,
Di bagian antara perpanjangan tulang jari manis dan tulang jari
kelingking
9 gamut procedure (gerakan untuk merangsang otak):
1. Menutup mata
2. Membuka mata
3. Mata digerakkan dengan kuat ke kanan bawah
4. Mata digerakkan dengan kuat ke kiri bawah
5. Memutar bola mata searah jarum jam
6. Memutar bola mata berlawanan arah jarum jam
20
7. Bergumam dengan berirama selama 3 detik
8. Menghitung 1,2,3,4,5
9. Bergumam lagi selama 3 detik
Setelah menyelesaikan 9 gamut procedure, langkah terakhir adalah
mengulangi lagi tapping dari titik pertama hingga ke-17 (berakhir
di karate chop). Dan diakhiri dengan mengambil nafas panjang dan
menghembuskannya, sambil mengucap rasa syukur (Zainuddin,
2012).
b. Versi inti
The Set-Up, lalu dilanjutkan The Tune-In beserta kata pengingatnya atau doa:
"saya ikhlas, saya pasrah" disertai sebagian langkah ketiga (the Tapping), mulai
dari titik pertama (the Crown) hingga titik ke 9 (Below Nipple). Cukup sampai
di situ dan akhiri dengan tarik nafas panjang dan hembuskan (Zainuddin,
2012).

21
2.3.3. Spiritual Emotional Freedom Techniques /SEFT Pada Pasien Stroke
Stroke saat ini masih menjadi masalah kesehatan utama. Stroke menimbulkan
dampak pada aspek fisik, psikis sosial dan kultural. Menurut Brian. J Sharley 2003 dalam
(Sembiring, 2010) bahwa dari sisi psikologi stroke dapat membuat penderitanya merasakan rendah
diri dan tidak berguna akibat dari kecacatannya. Pada pasien pasca stroke, depresi merupakan
gangguan emosi yang paling sering ditemukan. Sekitar 15%-25% pasien stroke dalam
komunitas menderita depresi. sedangkan yang sedang dirawat di rumah sakit, sekitar 30%-
40% menderita depresi. Gangguan depresi dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya.
Ia dapat pula mecetuskan, memperlambat penyembuhan atau memperberat penyakit fisik.
Selain itu, depresi dapat pula meningkatkan beban ekonomi.
Perasaan rendah diri tidak berguna dan gangguan psikologis lainya dapat dihindari jika
seseorang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan dan realitas yang ada. Stressor yang muncul
dalam dunia stroke harus disiasati dengan berbagai cara penanggulan stress yaitu dengan coping
stress, satunya adalah dengan menggunakan SEFT.
SEFT merupakan salah satu terapi komplementer yang dapat digunakan untuk
menurunkan tingkat depresi. Keefektifan SEFT terletak pada pengabungan antara Spiritual
Power dengan Energy Psychology. Spiritual Power memiliki lima prinsip utama yaitu
ikhlas, yakin, syukur, sabar dan khusyu. Energy Psychology merupakan seperangkat

22
prinsip dan teknik memanfaatkan sistem energi tubuh untuk memerbaiki kondisi pikiran,
emosi dan perilaku (Astuti, Yosep, & Susanti, 2015)
SEFT adalah teknik pemberdayaan diri yang menggabungkan 15 macam teknik
terapi (termasuk kekuatan spiritual) yang diproses oleh Ahmad Faiz Zainuddin sehingga
menghasilkan sintesa sebuah teknik pemberdayaan diri yang sederhana tetapi efektif untuk
mengatasi berbagai macam masalah fisik (seperti sakit kepala berkepanjangan, nyeri
punggung, asma, alergi, mudah capek, hingga penyakit kronis seperti diabetes, darah tinggi
dan lainnya) dan emosi (seperti trauma, depresi, kecanduan rokok, phobia, stress,
insomnia, malas, bosan, gugup, galau, cemas, tidak percaya diri, maksimalkan potensi dan
kekuatan yang ada dalam diri setiap individu, meningkatkan kinerja untuk mencapai peak
performance, membersihkan emosi negatif untuk meraih kedamaian hati dan menciptakan
hubungan yang harmonis dengan orang lain secara cepat, mudah dan universal)
(Anggorowati, 2014)

SEFT ini gabungan dari 15 macam teknik psikoterapi yang ada, mulai dari terapi
Gestald, EMDR, NLP, sistematis, pshycoanalisa, logo terapy, sedhona, ercksonian,
provocative, suggestion, creative visual, relakasasi meditasi, energy, powerfull dan loving
kidness (Anggorowati, 2014)
Beberapaa penelitian membuktikan efektifitas SEFT diantaranya : pada pasien
stroke (Rohimah, 2014) latihan ROM + SEFT mampulebih cepat kekuatan otot pasien
hemiparese akibat stroke iskemik dari pada ROM tanpa SEFT. Penelitian (Anggorowati,
2014), SEFT mampu menghilangkan kecanduan pada perokok, (Astuti et al., 2015) SEFT
mampu menurunkan tingkat depresi pada ibu rumah tangga dengan HIV/AIDS. Penelitian
(Rifky, Setiyawan, & Windyastuti, 2016) SEFT mampu meningkatkan pemenuhan spiritual
pasien stroke yang dirawat di rumah sakit. Selanjutnya (Budianto & Psikologi, 2015)
SEFT mampu mengurangi frekuensi kekambuhan pada pasien dengan keluhan migren.
Penelitian (Susanti, 2015) diketahui terapi SEFT dapat menurunkan tekanan darah pada
pasien hipertensi. Penelitian (Verasari, 2014) Terapi Spritual Emotion Freedom Technique
(SEFT) diketahui dapat menurunkan insomnia pada remaja residen NAPZA.
Langkah-langkah SEFT dalaam menyelesaikan gangguan emosional dan fisik pada
pasien Stroke (SEFT, 2011)
A. Tahap persiapan
1. Posisikan pasien dalam kondisi yang nyaman

23
2. Mengukur hemodinamik (tekanan darah, pernafasan, dan denyut jantung).
3. Meminta pasien mengatakan masalah yang sedang dirasakan dan memunculkan
pikiran positif. Bila sudah melakukannya, kemudian membuat kalimat afirmasi
dari masalah yang sedang dirasakan.
4. Mengetuk titik carate chop atau dapat juga mengetuk sore spot sambil
mengucapkan kalimat afirmasi sebanyak 3 kali. Misalnya, masalah yang dirasakan
adalah cemas karena takut penyakit stroke yang diderita tidak sembuh. Kalimat
yang digunakan seperti “ya Allah (sesuai keyakinan masing-masing), walaupun
saya merasa cemas karena takut apabila penyakit stroke yang saya derita tidak
sembuh, saya menerima dengan ikhlas dan saya pasrahkan kepadamu ”.
B. Tahap putaran
1. Putaran pertama, lakukan ketukan ringan minimal 7-8 kali di titik meridian sambil
mengucapkan kata-kata afirmasi. Urutan ketukan ringan dan afirmasi yang harus
dilakukan adalah:
a. Pada titik di bagian atas kepala (Cr = Crown,) sambil mengucapkan kata-kata
afirmasi yaitu: “ya Allah (sesuai keyakinan masing-masing), walaupun saya
merasa cemas karena takut apabila penyakit yang saya derita tidak sembuh,
saya menerima dengan ikhlas dan saya pasrahkan kepadaMu ”.
b. Pada alis mata (Eye Brow/EB), sambil mengucapkan kata-kata afirmasi yaitu:
“ya Allah (sesuai keyakinan masing-masing), walaupun saya merasa cemas
karena takut apabila penyakit yang saya derita tidak sembuh, saya menerima
dengan ikhlas dan saya pasrahkan kepadaMu ”.
c. Di samping mata (Side of the Eye/SE), sambil mengucapkan kata-kata
afirmasi yaitu: “ya Allah (sesuai keyakinan masing-masing), walaupun saya
merasa cemas karena takut apabila penyakit yang saya derita tidak sembuh,
saya menerima dengan ikhlas dan saya pasrahkan kepadaMu ”.
d. Dua sentimeter dibawah kelopak mata (Under the Eye/UE), sambil
mengucapkan kata-kata afirmasi yaitu: “ya Allah (sesuai keyakinan masing-
masing), walaupun saya merasa cemas karena takut apabila penyakit yang saya
derita tidak sembuh, saya menerima dengan ikhlas dan saya pasrahkan
kepadaMu ”.
e. Tepat di bawah hidung (Under the Nose/UN), sambil mengucapkan kata-kata
afirmasi yaitu: “ya Allah (sesuai keyakinan masing-masing), walaupun saya
merasa cemas karena takut apabila penyakit yang saya derita tidak sembuh,
saya menerima dengan ikhlas dan saya pasrahkan kepadaMu ”.
f. Di bawah dagu dan bagian bawah bibir (Chin/Ch), sambil mengucapkan kata-
kata afirmasi yaitu: “ya Allah (sesuai keyakinan masing-masing), walaupun

24
saya merasa cemas karena takut apabila penyakit yang saya derita tidak
sembuh, saya menerima dengan ikhlas dan saya pasrahkan kepadaMu ”.
g. Di ujung tempat bertemunya tulang dada dan tulang rusuk pertama (Collar
Bone/CB), sambil mengucapkan kata-kata afirmasi yaitu: “ya Allah (sesuai
keyakinan masing-masing), walaupun saya merasa cemas karena takut apabila
penyakit yang saya derita tidak sembuh, saya menerima dengan ikhlas dan
saya pasrahkan kepadaMu ”.
h. Di bawah ketiak sejajar dengan putting susu pria atau di tengah perbatasan
antara tulang dada dan bagian bawah payudara ( Under the Arm/UA), sambil
mengucapkan kata-kata afirmasi yaitu: “ya Allah (sesuai keyakinan masing-
masing), walaupun saya merasa cemas karena takut apabila penyakit yang saya
derita tidak sembuh, saya menerima dengan ikhlas dan saya pasrahkan
kepadaMu ”.
i. Ibu jari di samping luar / bawah kuku (Thumb/ Th), sambil mengucapkan kata-
kata afirmasi yaitu: “ya Allah (sesuai keyakinan masing-masing), walaupun
saya merasa cemas karena takut apabila penyakit yang saya derita tidak
sembuh, saya menerima dengan ikhlas dan saya pasrahkan kepadaMu ”.
j. Jari telunjuk samping luar bagian bawah kuku (Index Finger/IF), sambil
mengucapkan kata-kata afirmasi yaitu: “ya Allah (sesuai keyakinan masing-
masing), walaupun saya merasa cemas karena takut apabila penyakit yang saya
derita tidak sembuh, saya menerima dengan ikhlas dan saya pasrahkan
kepadaMu ”.
k. Jari tengah samping luar di bawah kuku (Middle Finger/MF), sambil
mengucapkan kata-kata afirmasi yaitu: “ya Allah (sesuai keyakinan masing-
masing), walaupun saya merasa cemas karena takut apabila penyakit yang saya
derita tidak sembuh, saya menerima dengan ikhlas dan saya pasrahkan
kepadaMu ”.
l. Jari kelingking samaping luar/ dibawah kuku (Baby Finger/BF), sambil
mengucapkan kata-kata afirmasi yaitu: “ya Allah (sesuai keyakinan masing-
masing), walaupun saya merasa cemas karena takut apabila penyakit yang saya
derita tidak sembuh, saya menerima dengan ikhlas dan saya pasrahkan
kepadaMu ”.
m. Selanjutnya lakukan sembilan prosedur gamut sambil tetap mengetuk-ngetuk
titik gamut dengan kepala tegak dan menatap kedepan. Prosedurnya adalah
sebagai berikut:
1. Menutup mata
2. Membuka mata
25
3. Mengerakan bola mata ke kanan bawah
4. Menggerakan bola mata kiri ke kiri bawah
5. Memutar bola mata searah jarum jam satu kali
6. Memutar bola mata berlawanan jarum jam
7. Bersenandung
8. mengitung dengan cepat: satu, dua, tiga, empat, lima
9. bersenandung lagi
n. Pasien diminta menarik nafas dan hembuskan sebanyak 3 kali
o. Pasien diberikan air minum
2. Putaran kedua dan ketiga mengetuk titik yang sama tetapi tidak mengetuk titik
gamut
C. Tahap evaluasi
1. Meminta pasien untuk merasakan kembali emosi yang dirasakan pada saat sebelum
dilakukan SEFT. Kemudian bandingkan sebelum dan sesudah dilakukan SEFT.
2. Mengukur hemodinamik (tekanan darah, pernafasan, dan denyut jantung).

26
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Stroke atau cedera serebrovaskular (CVA) merupakan suatu gejala kehilangan fungsi
otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak. Stroke merupakan
masalah neurologic primer yang menjadi penyebab kematian ketiga di dunia. stroke dapat
membuat penderitanya merasakan rendah diri dan tidak berguna akibat dari kecacatannya.
Serangan stroke ini di masyarakat sering dianggap bencana karena umumnya menimbulkan
kegagalan fungsi seperti lumpuh dan sulit berkomunikasi. Gejala-gejala stroke yang dapat
terjadi adalah lumpuh separuh badan, kesemutan, mulut mencong, bicara pelo, sulit
memahami pembicaraan orang, makan mudah tersedak, penglihatan terganggu, dan masih
banyak lagi yang bisa timbul akibat stroke Gejala-gejala tersebut akan berdampak pada
stress pasca stroke.
Stres pasca serangan akut stroke berupa penolakan diri, rendah diri, marah,
depresi, dan dihantui bayang-bayang kegagalan fungsi dan kematian. Oleh karena itu
perlu manajemen yang sesuai dalam menangaani sters paasca stroke. salah satunya
adalah SEFT (Spiritual Emotional Freedom Techniques) adalah serangkaian metode
yang berorientasi pada sistem energi tubuh, untuk melepaskan individu dari gangguan
emosional dan fisik. Emosi negatif yang dialami oleh individu umumnya diawali
dengan representasi internal yang buruk. Kondisi ini berlanjut oleh gangguan pada
sistem energi tubuh. SEFT sangat efektif untuk merestorasi sistem energi tubuh.
Manfaat SEFT dapat mengatasi Stress, Depresi, Cemas & Marah, Phobia dan
ketakutan, Relationship problems, kesedihan yang mendalam & berbagai kasus yang
muncul pasca stroke.
3.2 Saran
Setelah membaca makalah ini, terutama para perawat, diharapkan dapat menerapkan
intervensi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Techniques)pada pasien pasca stroke.

27
DAFTAR PUSTAKA

Adientya, G., & Handayani, F. (2012). STRES PADA KEJADIAN STROKE. JURNAL
NURSING STUDIES, 1, 183–188.
Anggorowati, P. (2014). Evaluasi hasil metode terapi spiritual emotional freedom technique
( seft) bagi pecandu rokok. UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH.
Retrieved from http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/26386/1/Prapti
Anggorowati-FDK.pdf
Astuti, R., Yosep, I., & Susanti, R. D. (2015). terhadap Penurunan Tingkat Depresi Ibu Rumah
Tangga dengan HIV Effect of Intervention Spiritual Emotional Freedom Technique toward
Decrease The Level of Depression Housewife with HIV, 3(April 2015), 44–56.
Budianto, Z., & Psikologi, P. (2015). EFEKTIVITAS SPRITUAL EMOTIONAL FREEDOM
TECHNIQUE ( SEFT ) UNTUK MENGURANGI FREKUENSI KEKAMBUHAN PADA
PASIEN PENYAKIT MIGRAIN. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 3(2), 215–248.
https://doi.org/10.22219/jipt.v3i2.3530
Rifky, I., Setiyawan, & Windyastuti, E. (2016). PENGARUH SEFT (SPIRITUAL EMOTIONAL
FREEDOM TEHNIQUE) TERHADAP DIMENSI KEBUTUHAN SPIRITUAL PADA
PASIEN. Retrieved from http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/files/disk1/33/01-gdl-
ikhwanrifk-1621-1-artikei-3.pdf
Rohimah, S. (2014). EFEKTIFITAS LATIHAN ROM DENGAN LATIHAN ROM + SEFT
TERHADAP KEKUATAN OTOT PASIEN STROKE DI V RSUD TASIKMALAYA.
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada, 12(1), 28–40.
SEFT. (2011). Terapi SEFT : Teknik SEFT. Retrieved October 13, 2017, from
https://terapiseft.com/teknik-seft/
Sembiring, A. (2010). COPING STRESS PADA INSAN PASCA STROKE YANG
MENGIKUTI KLUB STROKE DI RUMAH SAKIT JAKARTA. Jurnal Psikologi, 8(1).
Susanti, D. (2015). PENGARUH SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT)
TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAUH KOTA PADANG. Repositori Universitas
Andalas.
Tutik, R., Hariyati, S., Sumarwati, M., & Handiyani, H. (2004). KESIAPAN PASIEN STROKE
DAN KELUARGA DALAM MERENCANAKAN PERILAKU ADAPTIF. Jurnal
Keperawatan Indonesia, 8, 13–17.
Verasari, M. (2014). EFEKTIVITAS TERAPI SPRITUAL EMOTION FREEDOM
TECHNIQUE (SEFT) TERHADAP PENURUNAN INSOMNIA PADA REMAJA
SEBAGAI RESIDEN NAPZA. Jurnal Sosio-Humaniora, 5(1).

28