Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) sampai saat ini masih merupakan masalah
kesehatan masyarakat di Provinsi Riau yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Penyakit ini sangat potensial untuk terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) dan merupakan
ancaman bagi masyarakat luas. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah
satu masalah kesehatan masyarakat yang jumlah penderitanya semakin meningkat dan
penyebaranya semakin luas.1
Jumlah kasus DBD di provinsi Riau yang dilaporkan pada tahun 2015 sebanyak 3.261
orang (IR =51,4 per 100.000 penduduk) dan angka kematian sebanyak 20 orang (CFR=
0,61%).1

Gambar 1. IR(Incidence Rate) DBD per 100000 penduduk menurut kab/kota di Provinsi Riau
tahun 20151
Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa pada tahun 2015, angka kesakitan yang tidak
memenuhi indikator Propinsi dan Nasional adalah Kab. Meranti, Kab. Bengkalis, Kota
Dumai, Kab. Kuantan Singingi, dan Kab. Siak. Khusus untuk Kota Pekanbaru, angka
kesakitannya sudah memenuhi indicator Propinsi (IR < 50 per 100.000 penduduk), tetapi
belum memenuhi indikator Nasional (IR < 49 per 100.000 penduduk). Sedangkan Kab/Kota
yang lain sudah memenuhi indikator angka kesakitan Propinsi dan Nasional.1
Angka kesakitan DBD di Provinsi Riau semakin meningkat sejak tahun 2012. Pada
tahun 2015 terjadi peningkatan angka kesakitan DBD sebanyak 13,17 per 100.000 penduduk
dibandingkan pada tahun 2014.Sedangkan untuk angka kematian DBD di Provinsi Riau
mengalami penurunan pada tahun 2015 ini jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya,
dimana CFR tahun 2015 (0.61%) sedangkan tahun 2014 (1,44%).1

Gambar 2. IR (Insidence Rate) kasus DBD Provinsi Riau dari tahun 2011-2015

Manajemen tatalaksananya kasus DBD relatif sederhana dan murah serta tidak ada
pengobatan khusus. Terapi yang dilakukan berupa manajemen cairan. Tepat pemberian cairan
dan tepat waktu diberikan dapat menyelamatkan nyawa pasien. Terdapat tiga guideline yang
dikeluarkan oleh WHO mengenai klasifikasi dan tatalaksana DBD yaitu tahun 1997, 2009
dan yang terbaru 2011. Belum adanya guidelines nasional yang diusulkan mengenai
tatalaksana DBD di Indonesia sehingga tatalaksana DBD masih mengikuti salah satu dari
guideline yang dikeluarkan WHO.2
BAB II
LAPORAN KASUS

I.1 Identitas Pasien


Nama : Tn. N
Umur : 19 Tahun
Masuk RS : 25-02-2017, Pukul 22.30 WIB via IGD
No.RM : 021327
Pekerjaan : pegawai honorer
Alamat : Jl. Manggis

Autoanamnesis dan Alloanamnesis


Diberikan oleh :Pasien dan ibu kandung pasien

I.2 Anamnesis
KU : Demam sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS)
RPS :
Sejak ±3 hari SMRS pasien demam, demam muncul mendadak, sepanjang hari terus-
menerus, menggigil(-), berkeringat dingin(-). Pasien meminum obat demam kemudian
keluhan demam turun lalu naik kembali. Pasien mengeluhkan nyeri sendi seluruh
tubuh. Pasien juga mengeluhkan nafsu makan menurun (+), frekuensi ± 1x/hari,
makan roti saja porsi sedikit, nyeri perut pada ulu hati (+), mual (+), muntah (+),
muntah setiap kali makan, isi muntah berupa makanan dan air, muntah darah (-), nyeri
menelan (-). Batuk (-), flu (-), nyeri telinga (-). Gusi berdarah (-), perdarahan dari
hidung (-), bintik-bintik merah pada lipatan siku (-). BAB normal, BAK normal,
warna kuning jernih, frekuensi 4-5x/hari, menggigil (-), berkeringat (-)
Sejak ±2 hari SMRS pasien mengeluh gusi berdarah sewaktu menggosok gigi,
perdarahan dari hidung (-). BAB cair berisi ampas 1 kali pagi tadi SMRS.
• Riwayat berpergian jauh tidak ada dalam 2 minggu terakhir.
RPD :
Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya, riwayat luka yang
sulit sembuh sebelumnya tidak ada
RPK :
Tidak ada keluarga mengeluhkan keluhan yang sama dengan pasien, riwayat DM(-),
hipertensi (-), asma (-), alergi obat(-)

Keadaan Perumahan dan Tempat Tinggal


Rumah permanen, ada penampungan air hujan di sekitar rumah yg tidak tertutup
Sumber air minum adalah air galon
Sumber MCK adalah air sumur
Warga sekitar tempat tinggal pasien sering menderita demam berdarah
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : tampak lemas
Kesadaran : komposmentis
Vital sign
TD : 113/54 mmHg
Nadi : 90x/menit, isian kuat, reguler
Nafas : 20x/menit
Suhu : 38,6°C
Status gizi
TB : 176 cm
BB : 70 kg
Status gizi menurut IMT : berat badan ideal
Kulit : anemis (-), ikterik (-), sianosis (-), petechie (-), rumpleed test (-)
Mata kanan/kiri :
Konjungtiva : tidak anemis
Sklera : tidak ikterik
Refleks cahaya : (+/+)
Pupil : isokor, 2mm/2mm
Mata : cekung (-/-)
Telinga kanan/kiri
Liang telinga : secret/pus tidak ada
Hidung : dbn
Mulut
Bibir : kering
Selaput lendir : basah
Palatum : utuh
Lidah : kotor (-)
Gigi : karies (+)
Faring : hiperemis (-/-), Tonsil T1/T1
Leher
Pembesaran kelenjar getah bening : tidak teraba

Thoraks
Inspeksi : bentuk dan gerakan dinding dada simetris, retraksi (-)
Palpasi : fremitus kanan=kiri normal
Perkusi : sonor seluruh lapangan paru
Auskultasi : suara nafas vesikuler, suara nafas tambahan tidak ada, bunyi jantung
normal
Abdomen
Inspeksi : bentuk datar, simetris
Palpasi : supel, nyeri tekan (+) pada epigastrium, hepar teraba 2 jari di bawah
arcus costae, konsistensi kenyal, tepi tumpul, lien tidak teraba, turgor
kulit baik
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) normal
Ekstremitas : akral panas, CRT <2”, udem(-), kulit lembab, uji tourniquet (+)

1.4 Pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan darah rutin tanggal 25/02/2017
Hb : 14,7 gr/dl
Ht : 44vol%
Trombosit : 62000/mm3
Leukosit : 3170/mm3
Pemeriksaan kimia darah tanggal 25/02/2017
GDS : 70 mg/dl
Pemeriksaan immunoserologi
IgG : positif
IgM : negatif
1.5 Resume
Tn.N 19 tahun datang dengan keluhan demam sejak ± 3hari SMRS sepanjang hari,
demam turun sedikit setelah minum obat demam kemudian naik kembali. Pasien mual
dan muntah berisi makanan dan air, nafsu makan menurun. Sejak ± 2 hari SMRS
pasien juga mengeluhkan gusi berdarah sewaktu menggosok gigi. BAB cair berisi
ampas 1 kali pagi tadi SMRS.

I.6 Daftar masalah


- Demam
- Trombositopeni
- Leukopeni
I.5 Diagnosis kerja : DBD grade II

I.6 Penatalaksanaan
Tatalaksana awal IGD :
- Tirah baring
- IVFD RL 36 tpm makro
- Paracetamol tab 3x500 mg
- Omeprazole tab 1x20 mg
- Kie pasien disarankan sering dan banyak minum

Gizi
- Diet makanan lunak

Prognosis
- Quo ad vitam : Bonam
- Quo ad functionam : Bonam

- Follow Up Selama Di Bangsal


Tanggal Perjalanan penyakit Terapi
26-02-2017 S  demam (+),bintik-bintik merah pada Tirah baring
lengan (-), nafsu makan menurun, nyeri IVFD RL 33 tpm
ulu hati (+), mual (+) muntah (-), gusi PCT tab 4x 500 mg
berdarah (-),batuk (-), pilek (-), BAK Omeprazole tab 1x20 mg
normal, BAB (-) Diet makanan biasa 1700 kkal
O  KU : tampak sakit sedang, kesadaran Anjuran minum sering dan
komposmentis, TD 110/50 mmHg, nadi : banyak
98x/i (isian kuat, reguler), nafas 20x/i, Cek ulang Hb, Ht, Plt serial per
suhu 38ºC 24 jam

Mata : cekung (-/-), konjungtiva anemis


(-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor,
reflex cahaya (+/+)

Mulut : basah,
Thorax : dbn
Abdomen
Inspeksi : distensi (-)
Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium
(+)minimal, hepar teraba 2 jari di bawah
arcus costae dan lien tidak teraba
Auskultasi : BU (+) normal
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2”,
Lab darah rutin
Hb : 13,7 gr/dl
Ht : 41vol%
Trombosit : 45000/mm3
Leukosit :2960/mm3

A: DBD grade II dalam masa pemulihan


(demam hari ke-4)

27-02-2017 S  demam (-), mimisan (-), bintik-bintik Tirah baring


merah pada lengan (-), nafsu makan IVFD RL 33 tpm
menurun, nyeri ulu hati (+), mual (+) PCT tab 4x500 mg
muntah (-), gusi berdarah (-), batuk (-), Omeprazole tab 1x20 mg
pilek (-),BAK normal, BAB belum ada Diet makanan biasa 1700 kkal
O  KU : tampak sakit sedang, kesadaran Anjuran minum sering dan
komposmentis, TD 110/63 mmHg, nadi : banyak
73x/i (isian kuat, reguler), nafas 20x/i, Cek ulang Hb, Ht, Plt serial per
suhu 37,3 C 24 jam

Mata : cekung (-/-), konjungtiva anemis


(-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokhor,
reflex cahaya (+/+)

Mulut : basah,
Thorax : dbn
Abdomen
Inspeksi : distensi (-)
Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium
(-), hepar teraba 1/3-1/3 dan lien tidak
teraba
Auskultasi : BU (+) normal
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2”,
Lab darah rutin
Hb : 14,6 gr/dl
Ht : 43,3vol%
Trombosit : 18000/mm3
Leukosit :3200/mm3
A: DBD grade 2 dalam masa pemulihan

28-02-2017 S  demam (-), mimisan (-), bintik-bintik Tirah baring


merah pada lengan (-), nafsu makan mulai IVFD RL 33 tpm
membaik, nyeri ulu hati (+), mual (+) PCT tab 4x500 mg
muntah (-), gusi berdarah (-), BAK Omeprazole tab 1x20 mg
normal, BAB 1x, konsistensi lunak tidak Diet makanan biasa 1700 kkal
berdarah, batuk (-), pilek (-), nyeri Anjuran minum sering dan
menelan (-) banyak
O  KU : tampak sakit sedang, kesadaran Cek ulang Hb, Ht, Plt serial per
komposmentis, TD 115/60 mmHg, nadi : 24 jam
58x/i (isian kuat, reguler), nafas 20x/i,
suhu 38 ºC

Mata : cekung (-/-), konjungtiva anemis


(-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokhor,
reflex cahaya (+/+)

Mulut : basah,
Thorax : dbn
Abdomen
Inspeksi : distensi (-)
Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium
(+), hepar teraba 1/3-1/3 dan lien tidak
teraba
Auskultasi : BU (+) normal
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2”,
Lab darah rutin
Hb : 15,1 gr/dl
Ht : 45,1vol%
Trombosit : 20000/mm3
Leukosit :6860/mm3
A: DBD grade 2 dalam masa pemulihan

01-03-2017 S  demam (-), mimisan (-), bintik-bintik Tirah baring


merah pada lengan (-), nafsu makan mulai IVFD RL 33 tpm
membaik, nyeri ulu hati minimal, mual PCT tab 3x500 mg (k/p)
minimal, muntah (-), gusi berdarah (-), Omeprazole tab 1x20 mg
BAK normal, BAB lancar konsistensi Diet makanan biasa 1700 kkal
lunak tidak berdarah, batuk (-), pilek (-), Anjuran minum sering dan
nyeri menelan (-) banyak
O  KU : tampak sakit sedang, kesadaran Cek ulang Hb, Ht, Plt serial per
komposmentis, TD 115/60 mmHg, nadi : 24 jam
58x/i (isian kuat, reguler), nafas 20x/i,
suhu 36 ºC
Mata : cekung (-/-), konjungtiva anemis
(-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokhor,
reflex cahaya (+/+)

Mulut : basah,
Thorax : dbn
Abdomen
Inspeksi : distensi (-)
Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium
(+), hepar teraba 1/3-1/3 dan lien tidak
teraba
Auskultasi : BU (+) normal
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2”,
Lab darah rutin
Hb : 15,5 gr/dl
Ht : 46,7vol%
Trombosit : 39000/mm3
Leukosit :6300/mm3
A: DBD grade 2 dalam masa pemulihan

02-03-2017 S  demam (-), mimisan (-), bintik-bintik Pasien boleh pulang


merah pada lengan (-), nafsu makan mulai IVFD RL aff
membaik, nyeri ulu hati minimal, mual PCT tab 3x500 mg (k/p)
minimal, muntah (-), gusi berdarah (-), Omeprazole tab 1x20 mg
BAK normal, BAB lancar konsistensi Diet makanan biasa
lunak tidak berdarah, batuk (-), pilek (-),
nyeri menelan (-)
O  KU : tampak sakit sedang, kesadaran
komposmentis, TD 115/60 mmHg, nadi :
58x/i (isian kuat, reguler), nafas 20x/i,
suhu 36 ºC,

Mata : cekung (-/-), konjungtiva anemis


(-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokhor,
reflex cahaya (+/+)

Mulut : basah,
Thorax : dbn
Abdomen
Inspeksi : distensi (-)
Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium
(+), hepar teraba 1/3-1/3 dan lien tidak
teraba
Auskultasi : BU (+) normal
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2”,
Lab darah rutin
Hb : 15,4 gr/dl
Ht : 44,7vol%
Trombosit : 104000/mm3
Leukosit :7100/mm3
A: DBD grade 2 dalam masa pemulihan

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
Demam Berdarah Dengue adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot/ atau nyeri sendi yang disertai
leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis hemoragik. Masa inkubasi
virus dengue antara 3-14 hari (umumnya 5-8 hari) setelah gigitan nyamuk penular virus
tersebut. Virus ini ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti (di daerah urban) dan Aedes
albopictus (di daerah rural dan urban).2,3,4
Virus dengue termasuk virus RNA rantai tunggal dalam genus Flavivirus, keluarga
Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm yang terdiri dari asam
ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x106. Terdapat empat jenis serotype virus
dengue yakni: DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Semuanya dapat ditemukan pada berbagai
daerah di Indonesia. Di Indonesia, pengamatan virus dengue di beberapa rumah sakit
menunjukkan bahwa keempat serotype ditemukan dan bersirkulasi sepanjang tahun, Serotipe
DEN-3 merupakan serotype yang dominan dan banyak berhubungan dengan kasus berat.2,3,4

2. Patogenesis

Patogenesis DBD masih kontroversial. Dua teori yang banyak dianut adalah hipotesis
infeksi sekunder (secondary heterologous infection theory) dan hipotesis immune
enhancement. Menurut hipotesis infeksi sekunder, akibat infeksi sekunder oleh tipe virus
dengue yang berbeda, respon antibodi anamnestik pasien akan terpicu dan menyebabkan
kenaikan titer tinggi IgG antidengue. Replikasi virus dengue mengakibatkan terbentuknya
kompleks virus-antibodi yang selanjutnya mengaktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a
dan C5a menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya
cairan ke ekstravaskular. Hal ini terbukti dengan peningkatan kadar hematokrit (Ht),
penurunan natrium (Na) dan terdapatnya cairan dalam rongga serosa. Pada pasien dengan
syok berat, volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari 30% dan berlangsung selama
24-48 jam dan bila tidak ditangani secara adekuat, akan menyebabkan asidosis dan anoksia
yang dapat berakibat fatal. 2,3,4

Hipotesis immune enhancement menjelaskan menyatakan secara tidak langsung bahwa


mereka yang terkena infeksi kedua oleh virus heterolog mempunyai risiko berat yang lebih
besar untuk menderita DBD berat. Antibodi heterolog yang telah ada akan mengenali virus
lain kemudian membentuk kompleks antigen-antibodi yang berikatan dengan Fc reseptor dari
membran leukosit terutama makrofag. Sebagai tanggapan dari proses ini, akan terjadi sekresi
mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah,
sehingga mengakibatkan keadaan hipovolemia dan syok. 2,3,4

3. Perjalanan Penyakit

Setelah masa inkubasi, penyakit ini diikuti oleh tiga fase, yaitu febris, kritis, dan
recovery (penyembuhan)2

Gambar 3. Perjalanan penyakit infeksi dengue2

1. Fase Febris

Pasien akan mengeluh demam yang mendadak tinggi. Kadang-kadang suhu tubuh sangat
tinggi hingga 40o C dan tidak membaik dengan obat penurun panas. Fase ini biasanya akan
bertahan selama 2-7 hari dan diikuti dengan muka kemerahan, eritema, nyeri seluruh tubuh,
mialgia, artralgia, dan nyeri kepala. Beberapa pasien mungkin juga mengeluhkan nyeri
tenggorokan atau mata merah (injeksi konjungtiva). Sulit untuk membedakan dengue dengan
penyakit lainnya secara klinis pada fase awal demam. Hasil uji torniquet positif pada fase ini
meningkatkan kemungkinan adanya infeksi dengue. Demam juga tidak dapat dijadikan
parameter untuk membedakan antara kasus dengue yang gawat dan tidak gawat. Oleh karena
itu, memperhatikan tanda-tanda peringatan (warning signs) dan parameter lain sangat penting
untuk mengenali progresi ke arah fase kritis. Warning signs meliputi nyeri abdomen, muntah
persisten, akumulasi cairan, perdarahan mukosa, pembesaran hati >2 cm dan dari
labolatorium peningkatan Ht dengan penurunan trombosit.2

Manifestasi perdarahan ringan seperti petekie dan perdarahan membran mukosa


(hidung dan gusi) dapat terjadi. Petekie dapat muncul pada hari-hari pertama demam, namun
dapat juga dijumpai pada hari ke-3 hingga hari ke-5 demam. Perdarahan vagina masif pada
wanita usia subur dan perdarahan gastrointestinal (hematemesis, melena) juga dapat terjadi
walau lebih jarang. Bentuk perdarahan yang paling ringan, uji torniquet positif, menandakan
adanya peningkatan fragilitas kapiler. Pada awal perjalanan penyakit 70,2% kasus DBD
mempunyai hasil positif. Hati sering ditemukan membesar dan nyeri dalam beberapa hari
demam. Pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit. Pada
sebagian kecil dapat ditemukan ikterus. Penemuan laboratorium yang paling awal ditemui
adalah penurunan progresif leukosit, yang dapat meningkatkan kecurigaan ke arah dengue.2

2. Fase Kritis

Akhir fase demam merupakan fase kritis pada DBD. Pada saat demam mulai cenderung
turun dan pasien tampak seakan-akan sembuh, maka hal ini harus diwaspadai sebagai awal
kejadian syok. Saat demam mulai turun hingga dibawah 37,5-38 oC yang biasanya terjadi
pada hari ke 3-7, peningkatan permeabilitas kapiler akan terjadi dan keadaan ini berbanding
lurus dengan peningkatan hematokrit. Periode kebocoran plasma yang signifikan secara klinis
biasanya terjadi selama 24-48 jam. Leukopenia progresif disertai penurunan jumlah platelet
yang cepat merupakan tanda kebocoran plasma. Derajat kebocoran plasma dapat bervariasi.
Temuan efusi pleura dan asites secara klinis bergantung pada derajat kebocoran plasma dan
volume terapi cairan. Derajat peningkatan hematokrit sebanding dengan tingkat keparahan
kebocoran plasma.2

Keadaan syok akan timbul saat volume plasma mencapai angka kritis akibat kebocoran
plasma. Syok hampir selalu diikuti warning signs Terdapat tanda kegagalan sirkulasi: kulit
teraba dingin dan lembab terutama pada ujung jari dan kaki, sianosis di sekitar mulut, pasien
menjadi gelisah, nadi cepat, lemah, kecil sampai tak teraba. Saat terjadi syok berkepanjangan,
organ yang mengalami hipoperfusi akan mengalami gangguan fungsi (impairment), asidosis
metabolik, dan koagulasi intravaskular diseminata (KID). Hal ini menyebabkan perdarahan
hebat sehingga nilai hematokrit akan sangat menurun pada keadaan syok hebat.

Pasien yang mengalami perbaikan klinis setelah demam turun dapat dikatakan menderita
dengue yang tidak gawat. Beberapa pasien dapat berkembang menjadi fase kritis kebocoran
plasma tanpa penurunan demam sehingga pada pasien perlu dilakukan pemeriksaan
laboratorium untuk mengetahui adanya kebocoran plasma.2

3. Fase Penyembuhan (Recovery)

Jika pasien dapat bertahan selama 24-48 jam saat fase kritis, reabsorpsi gradual cairan
ekstravaskular akan terjadi dalam 48-72 jam. Keadaan umum pasien membaik, nafsu makan
kembali, gejala gastrointestinal berkurang, status hemodinamik meningkat, dan diuresis
normal. Beberapa pasien akan mengalami ruam kulit putih yang dikelilingi area kemerahan
disekitarnya dan pruritus generalisata. Bradikardia dan perubahan elektrokardiografi juga
sering ditemukan pada fase ini. Hematokrit akan stabil atau lebih rendah karena efek dilusi
yang disebabkan reabsorpsi cairan. Jumlah leukosit biasanya akan meningkat segera setelah
demam turun, namun trombosit akan meningkat kemudian. Pemberian cairan pada fase ini
perlu diperhatikan karena bila berlebihan akan menimbulkan edema paru atau gagal jantung
kongestif.2

4. Diagnosis

Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik

Anamnesis harus meliputi: (1) Onset demam/penyakit, (2) Jumlah intake oral, (3) Warning
signs (4) Diare, (5) Perubahan status mental/kejang/ketidaksadaran, (6) Urin output
(frekuensi,volume, dan waktu terakhir kencing), (7) Riwayat keluarga atau tetangga yang
mengalami DBD, riwayat bepergian ke daerah endemis, kondisi penyerta (bayi, kehamilan,
obesitas, diabetes mellitus, hipertensi), bepergian ke hutan dan berenang di air terjun
(mengarahkan leptospirosis, tipus, malaria), riwayat penggunaan narkoba dan seks bebas
(HIV serokonversi akut).2

Sedangkan pemeriksaan fisik harus meliputi: (1) Status mental, (2) Status hidrasi, (3)
Status hemodinamik, (4) Takipnoe/pernapasan asidosis/efusi pleura, (5) Nyeri
abdomen/hepatomegali/asites, (6) Ruam dan manifestasi perdarahan, (7) Uji torniquet.2

Pemeriksaan laboratorium meliputi kadar hemoglobin (Hb), kadar hematokrit (Ht), jumlah
trombosit, dan hapusan darah tepi untuk melihat adanya limfositosis relatif disertai gambaran
limfosit plasma biru (sejak hari ke-3). Jumlah leukosit normal, tetapi biasanya menurun
dengan dominasi sel neutrofil. Pada akhir demam, jumlah leukosit, dan sel neutrofil bersama-
sama menurun sehingga jumlah sel limfosit secara relatif meningkat. Penurunan jumlah
trombosit menjadi <100.000/µl. Pada umumnya trombosit terjadi sebelum ada peningkatan
hematokrit dan terjadi sebelum suhu turun. Jumlah trombosit<100.000/µl biasanya ditemukan
antara hari sakit 3-7. Pemeriksaan trombosit perlu diulang sampai terbukti bahwa jumlah
trombosit dalam batas normal atau menurun. Peningkatan kadar hematokrit (>20%) yang
menggambarkan hemokonsentrasi selalu dijumpai pada DBD, merupakan indikator yang
peka akan terjadinya perembesan plasma sehingga perlu dilakukan pemeriksaan hematokrit
secara berkala. Nilai hematokrit juga dipengaruhi oleh penggantian cairan dan perdarahan.

Pada DBD yang disertai manifestasi perdarahan atau kecurigaan terjadinya gangguan
koagulasi, dapat dilakukan pemeriksaan hemostasis (PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer, atau
FDP). Pemeriksaan lain yang dapat dikerjakan adalah albumin, SGOT/SGPT,
ureum/kreatinin. Pada foto toraks (DBD derajat III/IV dan sebagian besar derajat II)
didapatkan efusi pleura, terutama di hemitoraks sebelah kanan. Pemeriksaan foto toraks
sebaiknya dilakukan dalam posisilateral dekubitus kanan. Asites dan efusi pleura dapat pula
dideteksi dengan pemeriksaan USG.2,4

Pemeriksaan antigen dan antibodi virus untuk membuktikan etiologi DBD, dapat
dilakukan uji diagnostik melalui pemeriksaan isolasi virus, pemeriksaan serologi atau biologi
molekular. Di antara tiga jenis uji etiologi, yangdianggap sebagai baku emas adalah metode
isolasi virus. Namun, metode ini membutuhkan tenaga laboratorium yang ahli, waktu yang
lama (lebih dari 1±2 minggu), serta biaya yang relatif mahal. Pemeriksaan yang saat ini
banyak digunakan adalah pemeriksaan serologi, yaitu dengan mendeteksi IgM dan IgG-anti
dengue.2,4

Pada infeksi primer, antibodi IgM dapat terdeteksi pada hari kelima seelah onset
penyakit, yakni setelah jumlah virus dalam darah berkurang. Kadar IgM meningkat dengan
cepat dan mencapai puncaknya dalam 2 minggu dan menurun hingga tak terdeteksi lagi
setelah 2-3 bulan. Antibodi IgG muncul beberapa hari setelah IgM dan pada infeksi primer,
produksi IgG lebih rendah dibandingkan IgM, namun dapat bertahan beberapa tahun dalam
sirkulasi, bahkan seumur hidup. Sedangkan pada infeksi sekunder, kadar IgG meningkat
lebih banyak dibandingkan IgM dan muncul sebelum atau bersamaan dengan IgM. IgG
merupakan antibodi predominan pada infeksi sekunder. Salah satu metode pemeriksaan
terbaru adalah pemeriksaan antigen spesifik virus dengue, yaitu antigen nonstructural protein
1 (NS1). Dengan metode ELISA, antigen NS1 dapat terdeteksi dalam kadar tinggi sejak hari
pertama sampai hari ke 12 demam pada infeksi primer dengue atau sampai hari ke 5 pada
infeksi sekunder dengue. Pemeriksaan ini juga dikatakan memiliki sensitivitas dan
spesifisitas yang tinggi (88,7% dan 100%). Oleh karena itu, WHO menyebutkan pemeriksaan
deteksi antigen NS1 sebagai uji dini terbaik untuk pelayanan primer.2,4

Diagnosis DBD dapat ditegakkan secara klinis dan laboratoris. Berdasarkan kriteria
WHO 1997, diagnosis DBD secara klinis dapat ditegakkan bila semua hal di bawah ini
terpenuhi4:

1. Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari biasanya bifasik.

2. Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan berikut: uji bendung positif; petekie,


ekimosis, atau purpura; perdarahan mukosa; hematemesis, dan melena.
3. Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/ ml).

4. Terdapat minimal 1 tanda kebocoran plasma sebagai berikut: Peningkatan hematokrit


>20% dibandingkan standar. Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan
dibandingkan dengannilai hematokrit sebelumnya. Tanda kebocoran plasma seperti: efusi
pleura, asites, hipoproteinemia, dan hiponatremia.

Terdapat 4 derajat spektrum klinis DBD (WHO, 1997), yaitu:


1. Derajat 1: Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan
adalah uji torniquet.

2. Derajat 2: Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit dan perdarahan lain.

3. Derajat 3: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi
menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut kulit dingin
dan lembab, tampak gelisah.

4. Derajat 4: Syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.

Sedangkan menurut WHO 2009, berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik


dan/atau darah lengkap dan hematokrit, diagnosis DBD ditegakkan dengan melihat fase
penyakit (febris, kritis, atau penyembuhan), menentukan adanya warning signs, hidrasi, dan
status hemodinamik pasien, serta apakah pasien memerlukan rawat.

Kriteria sugestif untuk mengetahui kasus tersangka DBD adalah pasien tinggal atau baru
bepergian dari daerah endemis dengue, adanya riwayat demam lebih dari tiga hari, jumlah
leukosit rendah atau menurun, dan/atau trombositopenia uji torniquet positif.
Gambar 4. Kriteria Diagnosis DBD WHO 20092

5. Penatalaksanaan

Tidak ada terapi yang spesifik untuk DBD. Prinsip terapi utama adalah terapi suportif.
Pemeliharaan cairan sirkulasi merupakan hal terpenting dalam penanganan kasus DBD.
Asupan cairan, terutama melalui oral, harus dipertahankan. Jika tidak bisa, maka diperlukan
suplemen cairan melalui jalur intravena.

Menurut WHO 2009, berdasarkan manifestasi klinis dan kondisi lainnya, pasien dapat
dibagi tiga kategori: rawat jalan (kelompok A), membutuhkan penanganan di rumah
sakit/rawat inap (kelompok B), dan membutuhkan penanganan emergensi atau urgensi
(kelompok C).2

Kelompok-A

Pasien yang termasuk dalam kelompok ini adalah yang dapat dimotivasi untuk minum
secara adekuat, masih dapat berkemih setidaknya sekali tiap enam jam, dan tidak mempunyai
warning signs, khususnya saat demam mereda. Pasien rawat jalan harus diobservasi setiap
hari untuk mencegah progresi hingga melewati periode kritis. Pasien dengan Ht stabil dapat
dipulangkan setelah dirawat dan diberikan edukasi untuk segera kembali ke rumah sakit
apabila warning signs muncul. Apabila warning signs muncul maka tindakan selanjutnya
adalah2:

1. Memotivasi minum oral rehydration solution (ORS), jus buah, dan cairan lain yang
mengandung elektrolit dan gula mengganti cairan yang hilang akibat demam.

2. Memberikan parasetamol bila pasien merasa tidak nyaman akibat demam. Interval
pemberian parasetamol sebaiknya tidak kurang dari enam jam.

Petugas kesehatan harus setiap hari memantau temperatur, asupan dan keluaran cairan,
urin output (volume dan frekuensi), warning signs, tanda perembesan plasma atau
perdarahan, hematokrit, jumlah leukosit, dan trombosit.

Kelompok-B

Pasien harus dirawat inap untuk observasi ketat, khususnya pada fase kritis. Kriteria rawat
pasien DBD adalah2:

1. Adanya warning signs


2. Terdapat tanda dan gejala hipotensi: dehidrasi, tidak dapat minum, hipotensi postural,
berkeringat sedikit, pingsan, ekstremitas dingin.

3. Perdarahan

4. Gangguan organ: ginjal, hepar (hati membesar dan nyeri walaupun tidak
syok),neurologis, kardiak (nyeri dada, gangguan napas, sianosis).

5. Adanya peningkatan Ht, efusi pleura, atau asites

6. Kondisi penyerta: hamil, DM, hipertensi, ulus peptikum, anemia hemolitik,

7. over weight/ obese, bayi, dan usia tua

8. Kondisi sosial: tinggal sendiri, jauh dari pelayanan kesehatan tanpa transpor memadai.

Apabila pasien memiliki warning signs maka hal yang harus dilakukan adalah: Periksa
Ht sebelum pemberian cairan. Berikan larutan isotonik seperti normosalin 0,9%,RL. Mulai
dari 5-7 ml/kg/jam selama 1-2 jam, lalu kurangi menjadi 3-5 ml/kg/jam selama 2-4 jam, dan
kurangi lagi menjadi 2-3 ml/kg/jam atau kurang sesuai respon klinis. Nilai kembali status
klinis, ulangi Ht. Bila Ht sama atau meningkat sedikit, lanjutkan dengan jumlah sama (2-3
ml/kg/jam) selama 2-4 jam. Bila tanda vital memburuk dan Ht meningkat drastis, tingkatkan
pemberian cairan 5±10 ml/kg/jam selama 1-2 jam. Nilai kembali status klinis, ulang Ht, dan
periksa kecepatan cairan infus berkala.

Berikan volume intravena minimum untuk menjaga perfusi dan urin output 0,5
ml/kg/jamselama 24-48 jam. Kurangi jumlah cairan infus berkala saat kebocoran plasma
berkurang, yakni saat akhir fase kritis. Hal ini bisa diketahui dari urin output dan/atau asupan
minumcukup dan Ht menurun.2

Pasien dengan warning signs harus diobservasi hingga fase kritis lewat. Parameter yang
harus dimonitor adalah tanda vital dan perfusi perifer (tiap 1-4 jam hingga lewat fase kritis),
urin output (tiap 4-6 jam), Ht (sebelum dan setelah pemberian cairan, selanjutnya tiap 6-12
jam), glukosa darah, dan fungsi organ sesuai indikasi.Pada pasien tanpa warning signs, hal
berikut harus dilakukan: Motivasi minum. Jika tidak bisa, mulai infus intravena dengan NS
0,9% atau RL dengan atau tanpa dekstrosa dengan dosis pemeliharaan. Untuk pasien obesitas
atau overweight digunakan dosis sesuai berat ideal. Berikan volume minimum untuk
memelihara perfusi dan urin output selama 24-48 jam. Pasien harus dimonitor: temperatur,
asupan dan keluaran cairan, urin output (volume dan frekuensi), warning signs, hematokrit,
leukosit, dan trombosit. Pemeriksaan laboratoriumlain dapat dilakukan sesuai indikasi.2
Kelompok-C
Pasien membutuhkan tatalaksana emergensi dan urgensi apabila mengalami DBD berat
untuk memudahkan akses intensif dan transfusi darah. Resusitasi cairan dengan kristaloid
isotonik secepatnya sangat penting untuk menjaga volume ekstravaskular saat periode
kebocoran plasma atau larutan koloid pada keadaan syok hipotensi. Pantau nilai Ht sebelum
dan sesudah resusitasi. Tujuan akhir resusitasi cairan adalah meningkatkan sirkulasi sentral
dan perifer (takikardia berkurang, tekanan darah dan nadi meningkat, ekstremitas tidak pucat
dan hangat,dan CRT <2 detik) dan meningkatkan perfusi organ (level kesadaran membaik,
urin output >0,5ml/kg/jam, asidosis metabolik menurun).2
Gambar-5. Penatalaksanaan DBD dengan syok terkompensasi2
Gambar-6. Penatalaksanaan perdarahan pada DBD4
Gambar-7. Penatalaksanaan DBD dengan syok hipotensi2

Indikasi Pulang Pasien DBD


Pasien dapat pulang apabila memenuhi semua kriteria berikut:

Klinis: Bebas demam selama minimal 48 jam dan terdapat perbaikan ststus klinis (keadaan
umum baik, nafsu makan makan membaik,status hemodinamik stabil, urine output normal,
tidak ada gangguan pernapasan)

Laboratoris: Peningkatan jumlah trombosit, Hematokrit stabil tanpa cairan intravena2

Pencegahan DBD

Pencegahan DBD yang paling efektif dan efisien sampai saat ini adalah
kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus. Singkatan dari 3M,
adalah5:
1. Menguras/membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air
seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari
es dan lain-lain;

2. Menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain
sebagainya;

3. Mengubur, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki
potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD.

Adapun yang dimaksud dengan Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan seperti:
1. Menaburkan bubuk larvasida (lebih dikenal dengan abate) pada tempat penampungan
air yang sulit dibersihkan;
2. Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk;
3. Menggunakan kelambu saat tidur;
4. Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk;
5. Menanam tanaman pengusir nyamuk;
6. Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah;
7. Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi
tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

Pengasapan (fogging) bukan strategi yang utama dalam mencegah demam berdarah
dengue ( DBD). Fogging tidak dilakukan secara rutin, hanya dilakukan saat terjadi kasus di
suatu wilayah, sehingga daerah di sekitarnya melakukan fogging untuk memberantas nyamuk
sebagai vektor penyakit DBD.5

Lavitrap merupakan alat sederhana yang digunakan untuk memerangkap telur nyamuk dan
mengembangkannya menjadi larva. Setelah masa tertentu, larva akan dibuang ke tanah kering
hingga mati. Penggunaan larvitrap sangat dianjurkan mengingat biayanya lebih ringan dan
ramah lingkungan. Cara ini diterapkan untuk membunuh telur-telur yang telah berkembang
menjadi jentik. Alat ini dapat dibuat dengan memanfaatkan bahan daur ulang, seperti botol air
mineral bekas.6 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Meranti akan mengerahkan 3 ribu
lebih Lavritrap plus gerakan 3M secara massal untuk membasmi jentik-jentik nyamuk pada
HUT ke 66 IDI, Sabtu (12/11/2016) mendatang.
Caranya sederhana dimulai dengan potong botol bekas menjadi dua bagian. Ambil
bagian atas botol yang telah terpotong, kemudian lepas tutupnya. Tempelkan saringan di
ujung botol atas. Saringan dapat terbuat dari kawat strimin, sisa kelambu, atau alat lain.
Rongga-rongga yang diciptakan tidak boleh terlalu longgar maupun terlalu sempit. Lubangi
tutup botol, kemudian tautkan kembali pada tempatnya, sehingga saringan dapat menempel
sempurna. Masukkan bagian atas botol yang sudah dibelah tadi dalam posisi terbalik ke
bagian bawah botol. Isi air hingga sebatas tutup botol. Agar mengundang nyamuk masuk ke
dalam botol, tambahkan sedikit gula jawa dicampur ragi/yeast. Kemudian, tempelkan plastik
hitam, bisa berupa kresek, hingga menutupi area di sekeliling botol. Kedua cara terakhir ini
dilakukan berdasarkan sifat alami nyamuk yang menyukai tempat gelap dan air yang agak
manis. Letakkan di sudut ruangan yang disukai nyamuk. Biarkan selama 2-7 hari, setelah itu
ambil dan periksa jentik nyamuk. Buang ke tanah jentik nyamuknya agar mati dan lavitrap
bisa diisi ulang serta digunakan kembali. 6
DAFTAR PUSTAKA

1. Profil Kesehatan Provinsi Riau 2015. Dinas Kesehatan Provinsi Riau.


Pekanbaru;Agustus 2016

2. Dengue Guidlines For Diagnosis, Treatment, Prevention and Control, TDR. New
Edition 2009. World Health Organization

3. 2010 Interim Guidlines on Fluid Management of Dengue Fever and Dengue


Hemorrhagic Fever. The Technical Working Group on the 2010 PPS Interim
Guidelines on fluid Management of DF/DHF. New York: 2010

4. Suhendro. Demam berdarah dengue. Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam. Jilid IV. Edisi
IV. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta, Juni 2006; 1731-5.

5. Menkes: Dibanding Fogging, PSN 3M Plus Lebih Utama Cegah DBD. Kemenkes RI ;
2016. http://depkes.go.id/article. [03 November 2017]

6. Alat Sederhana Itu Bernama Lavitrap (Perangkap Nyamuk Sederhana dan Murah)
http://dinkes.inhilkab.go.id/article. [03 November 2017]