Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Pendidikan Kimia (JPK), Vol. 1 No.

1 Tahun 2012 ISSN 2337-9995


Program Studi Pendidikan Kimia jpk.pkimiauns@ymail.com
Universitas Sebelas Maret

UPAYA PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR KIMIA


MATERI KOLOID MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE TGT (TEAMS GAMES TOURNAMENT) DILENGKAPI
DENGAN TEKA-TEKI SILANG BAGI SISWA KELAS XI IPA 4
SMA NEGERI 2 BOYOLALI PADA SEMESTER GENAP
TAHUN AJARAN 2011/2012

Luluk Fajri1*, Kus Sri Martini2, Agung Nugroho C.S.2


1
Mahasiswa S1 Pendidikan Kimia PMIPA, FKIP, UNS Surakarta, Indonesia
2
Dosen Pendidikan Kimia PMIPA, FKIP, UNS Surakarta, Indonesia

Keperluan korespondensi, HP : 085647342949, email : luluk_elbarca@rocketmail.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan proses dan hasil belajar pada
materi koloid dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament
(TGT) dilengkapi dengan Teka-Teki Silang. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas
(Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dengan tiap siklus terdiri
atas tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa
kelas XI IPA 4 SMA Negeri 2 Boyolali yang berjumlah 28 siswa. Sumber data berasal dari guru
dan siswa. Teknik pengumpulan data adalah dengan tes dan nontes (observasi, kajian
dokumen dan angket). Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) Penerapan metode pembelajaran Teams
Games Tournament (TGT) yang dilangkapi dengan TTS dapat meningkatkan kualitas proses
belajar pada materi koloid. Hal ini dapat dilihat dari keaktifan siswa pada siklus I dan II.
Presentase keaktifan siswa pada siklus I 60,72% dan 71,43% pada siklus II. (2) Penerapan
model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) yang dilangkapi dengan TTS dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada materi koloid. Dalam penelitian ini, hasil belajar yang
dimaksud adalah ketuntasan belajar dan afektif siswa. Pada siklus I, persentase ketuntasan
belajar siswa 64,29% dengan rata-rata nilai 72,3 dan pada siklus II persentase ketuntasan
belajar siswa menjadi 89,29% dengan rata-rata nilai 76,1. Sedangkan untuk aspek afektif,
ketercapaian rata-rata indikator adalah 64,29% pada siklus I dan 75% pada siklus II.

Kata kunci: TGT, teka-teki silang, keaktifan, prestasi belajar

PENDAHULUAN Prestasi belajar adalah cermin dari


Dalam proses belajar mengajar pengetahuan, keterampilan, dan sikap
pemilihan dan penggunaan metode di mana dalam KTSP sering disebut
yang tepat dalam menyajikan suatu sebagai kemampuan kognitif, afektif,
materi dapat membantu siswa dalam dan psikomotor [1].
mengetahui serta memahami segala Kurikulum yang saat ini sedang
sesuatu yang disajikan guru, sehingga diterapkan dan dikembangkan oleh
melalui tes hasil belajar dapat diketahui pemerintah adalah Kurikulum Tingkat
peningkatan prestasi belajar siswa. Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP
Melalui pembelajaran yang tepat, siswa adalah kurikulum operasional yang
diharapkan mampu memahami dan disusun dan dilaksanakan di masing-
menguasai materi ajar sehingga dapat masing satuan pendidikan. KTSP terdiri
berguna dalam kehidupan nyata. Salah dari tujuan pendidikan tingkat satuan
satu indikator keberhasilan proses pendidikan, struktur dan muatan
belajar mengajar dapat dilihat dari kurikulum tingkat satuan pendidikan,
prestasi belajar yang dicapai siswa. kalender pendidikan dan silabus [2].

Copyright © 2012 89
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 1 No. 1 Tahun 2012 Hal. 89-96

KTSP bukan hanya model pengembangan fisik serta psikologis


pengembangan kurikulum, tetapi juga peserta didik [3].
model pengelolaan atau manajemen Mata pelajaran kimia merupakan
pengembangan kurikulum. KTSP mata pelajaran wajib bagi siswa SMA,
merupakan Pengembangan Kurikulum khususnya jurusan IPA. Mata pelajaran
Berbasis Sekolah (PKBS). ini perlu diajarkan untuk tujuan yang
Pengembangan kurikulum disini lebih khusus yaitu membekali peserta
mencakup kegiatan merencanakan, didik pengetahuan, pemahaman dan
mengimplementasikan dan sejumlah kemampuan yang
mengevaluasi kurikulum. Pada KTSP, dipersyaratkan untuk memasuki jenjang
guru diberi kesempatan untuk pendidikan yang lebih tinggi serta
mengembangkan indikator mengembangkan ilmu dan teknologi.
pembelajarannya sendiri. Hal ini tidak menutup kemungkinan
Keberhasilan proses belajar akan adanya kesulitan bagi siswa
mengajar merupakan hal utama yang dalam mengikuti proses pembelajaran
didambakan dalam melaksanakan kimia. Bagi siswa SMA N 2 Boyolali,
pendidikan di sekolah. Komponen khususnya pada kelas XI IPA pelajaran
utama dalam kegiatan belajar mengajar kimia merupakan pelajaran yang sulit
adalah siswa dan guru, dalam hal ini dan terkadang membosankan.
siswanya yang menjadi subyek belajar. Dari hasil observasi di kelas,
Oleh karena itu, paradigma dalam kegiatan belajar mengajar,
pembelajaran yang berpusat pada guru interaksi guru dan siswa hanya berjalan
hendaknya dirubah menjadi dari satu arah, yakni dari guru saja. Hal
pembelajaran yang berpusat pada ini mengakibatkan kurangnya minat dan
siswa atau Student Centered Learning motivasi siswa dalam mengikuti
(SCL). pembelajaran kimia. Selain itu hasil
Namun pada kenyataannya, saat belajar siswa masih rendah. Hal itu
ini masih banyak pendidik yang belum dapat dilihat dari prestasi kognitif siswa
menerapkan pembelajaran yang pada materi koloid tahun pelajaran
mengacu pada KTSP. Pembelajaran 2010/2011, masih ada beberapa siswa
Teacher Centered Learning (TCL) yang belum mencapai kriteria
masih banyak mendominasi dalam ketuntasan yaitu kira-kira 50%,
proses pembelajaran di kelas. sedangkan nilai batas ketuntasan dari
Akibatnya siswa menjadi kurang kreatif tiga tahun terakhir ini yakni 62, 65, dan
dalam memecahkan masalah, tahun sekarang 70.
partisipasi rendah, kerja sama dalam Dari data hasil wawancara
kelompok tidak optimal, kegiatan dengan guru mata pelajaran kimia pada
belajar mengajar tidak efisien dan pada tanggal 27 Januari 2012, metode yang
akhirnya hasil belajar menjadi rendah. digunakan dalam proses pembelajaran
Peraturan pemerintah kimia yaitu metode konvensional atau
memberikan arahan tentang perlunya ceramah dan pemberian tugas.
disusun dan dilaksanakan delapan Metode ceramah ini kurang efektif
standar nasional pendidikan. Namun dalam memicu keaktifan siswa,
yang terjadi di SMA N 2 Boyolali masih disamping juga menyebabkan
ada yang belum terlaksana sesuai kebosanan dan kejenuhan pada diri
dengan delapan standar nasional siswa. Sebenarnya, karakteristik dari
tersebut. Sedangkan dalam proses siswa SMA N 2 Boyolali khusunya
pembelajaran pada satuan pendidikan siswa kelas XI IPA 4 adalah siswa yang
harus diselenggarakan secara aktif, namun karena metode yang
interaktif, inspiratif, menyenangkan, digunakan tidak terlalu bervariasi,
menantang, memotivasi peserta didik sehingga menyebabkan siswa banyak
untuk berpartisipasi aktif, serta yang tidak aktif.
memberikan ruang yang cukup bagi Sedangkan hasil wawancara
prakarsa, kreativitas, dan kemandirian dengan siswa kelas XI IPA di SMA N 2
sesuai dengan bakat, minat dan Boyolali tahun ajaran 2011/2012

Copyright © 2012 90
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 1 No. 1 Tahun 2012 Hal. 89-96

diketahui bahwa menurut mereka kimia On Acheivment, Retension, And


merupakan pelajaran yang sulit. Selain Attitudes Of Economic Education
itu penggunaan media jarang sekali Student” menyimpulkan bahwa hasil
digunakan dan tidak ada variasi metode dari penggunaan metode TGT dalam
pembelajaran, sehingga siswa bosan pembelajaran lebih baik daripada
dengan pembelajaran yang itu-itu saja. metode ceramah [9].
Materi koloid marupakan materi Penggunaan metode kooperatif
pelajaran kimia yang diberikan di kelas tipe Teams Games Tournament (TGT)
XI IPA SMA semester genap. Materi ini dari beberapa penelitian digunakan
berisi materi-materi yang sifatnya pada pokok bahasan perbedaan unsur,
banyak hafalan. Penyajian materi koloid senyawa dan campuran, ikatan kimia
dengan melibatkan siswa aktif dalam dan hidrokarbon [10-12]. Metode ini
bermain bersama dalam kelompoknya belum banyak digunakan pada materi
diharapkan mampu memberi kontribusi koloid, sehingga mendorong peneliti
pada peningkatan motivasi siswa untuk untuk mengetahui sejauh mana
selalu belajar berprestasi. keberhasilan metode kooperatif tipe
Berangkat dari berbagai TGT (Teams Games Tournament) jika
permasalahan di atas, dapat diterapkan pada materi koloid dalam
disimpulkan bahwa salah satu upaya membantu siswa memahami
penyebab rendahnya prestasi belajar mata pelajaran kimia. Pada jurnal yang
kimia adalah karena proses belajar berjudul “Reviewing for Exam: Do
mengajar masih berpusat dari guru. Crossword Puzzle Help in the Succes
Oleh karena itu, dibutuhkan peran guru of Student Learning?” menyatakan
untuk memberikan motivasi dan bahwa teka-teki silang efektif untuk
memperkenalkan materi kimia dengan belajar siswa [13]. Mengacu dari jurnal
lebih menarik sehingga siswa akan di atas maka untuk melengkapi
termotivasi dalam mempelajari kimia. pembelajaran dengan menggunakan
Ada dua faktor yang mempengaruhi metode kooperatif tipe Teams Games
keberhasilan belajar siswa, yaitu faktor Tournament (TGT) digunakan media
internal dan eksternal. Metode Teka-Teki Silang dalam penelitian ini.
pembelajaran yang dipilih merupakan
salah satu faktor eksternal yang METODE PENELITIAN
menunjang keberhasilan siswa. Penelitian ini merupakan
Upaya dalam meningkatkan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom
kualitas belajar siswa SMA N 2 Boyolali Action Research) yang dilaksanakan
salah satunya dapat ditempuh dengan dalam dua siklus, dengan tiap siklus
metode pembelajaran kooperatif. terdiri atas perencanaan tindakan,
Metode tersebut dipilih karena pelaksanaan tindakan, observasi dan
mempunyai keunggulan berdasarkan refleksi. Rancangan solusi yang
hasil penelitian ilmiah yang telah dimaksud adalah tindakan berupa
dilakukan yaitu pembelajaran dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe
menggunakan metode kooperatif dapat Teams Games Tournament (TGT)
meningkatkan aktivitas, interaksi, dilengkapi dengan Teka-Teki Silang.
motivasi dan prestasi belajar dalam Supaya diperoleh hasil yang maksimal
pembelajaran kimia [4-6]. mengenai cara penerapan
Pada penelitian ini digunakan pembelajaran tersebut, maka dalam
metode kooperatif tipe Teams Games penerapannya digunakan tindakan
Tournament (TGT). Dalam berbagai siklus dalam setiap pembelajaran,
penelitian dapat disimpulkan maksudnya adalah cara penerapan
penggunaan metode kooperatif tipe pembelajaran kooperatif tipe Teams
Teams Games Tournament (TGT) dapat Games Tournament (TGT) dilengkapi
meningkatkan keaktifan dan motivasi dengan Teka-Teki Silang pada siklus
belajar siswa pada pembelajaran kimia pertama sama dengan yang diterapkan
[7-8]. Pada jurnal yang berujudul “The pada siklus kedua, hanya saja refleksi
Effect Of Teams-Games-Tournament terhadap setiap pembelajaran berbeda

Copyright © 2012 91
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 1 No. 1 Tahun 2012 Hal. 89-96

tergantung pada fakta dan interpretasi penentuan validitas menggunakan


data yang ada. formula Gregory [15]. Setelah dilakukan
Subjek penelitian ini adalah siswa uji coba angket yang masing-masing
kelas XI IPA 4 SMA Negeri 2 Boyolali terdiri dari 40 soal dan 20 soal, untuk
tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah angket afektif diperoleh CV sebesar
28 siswa. Sumber data berasal dari 0,95 dan untuk angket keaktifan
guru dan siswa. Teknik pengumpulan diperoleh CV sebesar 0,9 dinyatakan
data adalah dengan tes dan nontes valid. (2) uji reliabilitas, untuk
(observasi, kajian dokumen dan mengetahui tingkat reliabilitas
angket). Instrumen pembelajaran digunakan rumus alpha [16]. Hasil uji
meliputi silabus dan RPP. Instrumen coba angket yang masing-masing
pengambilan data yang meliputi terdiri dari 40 soal dan 20 soal, untuk
instrumen penilaian kognitif, afektif dan angket afektif diperoleh reliabilitas 0,84
keaktifan siswa. Teknik analisis dan untuk angket keaktifan diperoleh
instrumen kognitif menggunakan: (1) uji reliabilitas 0,76 dinyatakan reliabel
validitas, penentuan validitas tes dengan reliabilitas tinggi.
menggunakan formula Gregory [14]. Teknik analisis data berupa
Setelah dilakukan uji coba dari 30 soal analisis deskriptif kualitatif. Analisis
tes siklus I diperoleh CV sebesar 0,857 dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
dan pada 30 soal tes siklus II diperoleh dimulai setelah berakhirnya siklus. Hal
CV sebesar 0,933. (2) uji reliabilitas, ini penting karena akan membantu
digunakan formula Richardson (KR-20) observer dalam mengembangkan
[15]. Hasil uji coba reliabilitas, pada 30 penjelasan dari kejadian atau situasi
soal tes siklus I diperoleh reliabilitas yang berlangsung di dalam kelas yang
0,741 dan pada 30 soal tes siklus II diteliti. Data-data dari hasil penelitian di
diperoleh reliabilitas sebesar 0,788 lapangan diolah dan dianalisis secara
sehingga instrumen dinyatakan kualitatif. Teknik analisis kualitatif
memiliki reliabilitas tinggi. (3) taraf mengacu pada model analisis Miles
kesukaran, ditentukan atas banyaknya dan Huberman yang dilakukan dalam
siswa yang menjawab benar butir soal tiga komponen yaitu 1) reduksi data, 2)
disbanding jumlah siswa yang penyajian data, dan 3) penarikan
mengikuti tes [16]. Setelah dilakukan uji kesimpulan dan verifikasi [17].
coba dari 30 soal tes siklus I, 23 soal Teknik validitas data yang
tergolong mudah, 7 soal tergolong digunakan dalam penelitian ini adalah
sedang dan 0 soal tergolong sukar. teknik triangulasi yaitu teknik
Sedangkan pada uji coba 30 soal tes pemeriksaan data yang memanfaatkan
siklus II, 20 soal tergolong mudah, 9 sesuatu yang lain diluar data itu, yaitu
soal tergolong sedang dan 1 soal observasi [18]. Teknik triangulasi
tergolong sukar. (4) daya pembeda metode dilakukan dengan
item, ditentukan dari proporsi tes mengumpulkan data tetap dari sumber
kelompok atas yang dapat menjawab data yang berbeda-beda. Dalam
dengan benar butir item yang penelitian ini peneliti menggunakan
bersangkutan dikurangi proporsi tes metode pengumpulan data melalui
kelompok bawah yang dapat menjawab teknik observasi, wawancara, kajian
dengan benar butir item tersebut [16]. dokumen atau arsip, angket dan tes
Setelah dilakukan uji coba dari 30 soal prestasi.
tes siklus I, 10 soal diterima baik, 6 soal Prosedur dan langkah yang
diterima baik dan diperbaiki, 5 soal digunakan dalam melaksanakan
diperbaiki dan 9 soal tidak dipakai. penelitian ini mengikuti model yang
Sedangkan hasil uji coba dari 30 soal dikemabngkan oleh Kemmis dan
tes siklus II, 14 soal diterima baik, 4 McTaggart dalam Kasbolah, K (2001:
soal diterima dan diperbaiki, 3 soal 63-65) yaitu berupa model spiral.
diperbaiki dan 9 soal tidak dipakai. Perencanaan Kemmis menggunakan
Teknik analisis angket afektif dan sistem spiral reflektif diri yang dimulai
keaktifan menggunakan (1) uji validitas, dengan rencana tindakan (planning),

Copyright © 2012 92
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 1 No. 1 Tahun 2012 Hal. 89-96

tindakan (acting), pengamatan pembelajaran. Berdasarkan data


(observing), dan refleksi (reflecting) tersebut target keaktifan siswa siklus I
[19]. dan siklus II telah terpenuhi.
Sedangkan data peningkatan prestasi
HASIL DAN PEMBAHASAN belajar siswa untuk aspek afektif dapat
Data yang diperoleh dalam dilihat pada Tabel 2.
penelitian ini adalah proses dan hasil
belajar, yang dimaksud proses disini Tabel 2. Ringkasan Hasil Prestasi
adalah keaktifan siswa sedang hasil Belajar Siswa untuk Aspek
belajar yaitu aspek kognitif dan aspek Afektif
afektif pada materi koloid. Dalam Presentase
Siklus Kriteria
penelitian ini soal tes kognitif dan (%)
angket, baik angket afektif maupun Sangat Baik 17,86
angket keaktifan diberikan pada setiap Baik 46,43
Siklus I
akhir siklus, akhir siklus I dan akhir Kurang Baik 32,14
siklus II. Keaktifan diukur dari beberapa Tidak Baik 0
aspek, yakni aspek oral activities, Sangat Baik 25
aspek visual activities, aspek listening Siklus Baik 50
activities dan aspek writing activities. II Kurang Baik 25
Data penelitian mengenai keaktifan Tidak Baik 0
siswa secara ringkas disajikan dalan
Tabel 1. Untuk aspek afektif siswa diukur
dalam beberapa aspek, yaitu aspek
Tabel 1. Ringkasan Hasil Keaktifan minat, aspek sikap, nilai, konsep diri
Siswa dan moral. Dalam penelitian ini prestasi
Siklus Kriteria Presentase (%) belajar siswa untuk aspek afektif pada
Sangat Aktif 14,29 siklus I memiliki target 60% kriteria baik
Aktif 46,43 dan 70% kriteria baik pada siklus II.
Siklus I
Kurang Aktif 32,14 Aspek afektif kriteria baik merupakan
Tidak Aktif 7,14 penjumlahan dari kriteria sangat baik
Sangat Aktif 17,86 dan baik. Berdasarkan Tabel 3
Aktif 53,57 tersebut, pada siklus I aspek afektif
Siklus II
Kurang Aktif 28,57 kriteria baik sebesar 64,29%.
Tidak Aktif 0 Sedangakan pada siklus II sebesar
75%. Peningkatan aspek afektif siswa
Dalam penelitian ini pada siklus I dari siklus I dan siklus II meningkat
memiliki target 60% untuk keaktifan sebesar 10,71%. Dari capaian siklus I
tinggi pada siklus I dan keaktifan tinggi dan II, keduanya sudah memenuhi
pada siklus II 70%. Perolehan keaktifan target yang ditetapkan. Sedangakan
kriteria tinggi yaitu sebesar 60,72% untuk prestasi belajar siswa untuk
pada siklus I dan siklus II sebanyak aspek kognitif disajikan pada Tabel 3.
71,43%. Keaktifan kriteria tinggi
merupakan penjumlahan dari keaktifan Tabel 3. Ringkasan Hasil Prestasi
kriteria sangat aktif dan aktif. Belajar Siswa untuk Aspek
Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat Kognitif
bahwa presentase jumlah siswa yang Presenta
Presenta
memiliki keaktifan tinggi meningkat se Siswa
Aspek se Siswa
sebesar 10,71%. Semua aspek pada yang
yang Siklus yang
keaktifan siswa mengalami peningkatan Tidak
Dinilai Tuntas
karena guru lebih mengintensifkan Tuntas
(%)
pendampingan bagi siswa yang belum (%)
aktif agar terdorong untuk lebih berani Ketunt Siklus I 64,29 35,71
menyampaikan pendapat atau asan
Siklus II 89,29 10,71
menanggapi jawaban dalam kegiatan Belajar

Copyright © 2012 93
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 1 No. 1 Tahun 2012 Hal. 89-96

Dalam penelitian ini prestasi Tournament (TGT) yang dilangkapi


belajar siswa untuk aspek kognitif pada dengan TTS dapat meningkatkan
siklus I memiliki target 60% dan 70% kualitas proses belajar pada materi
pada siklus II. Setelah proses koloid siswa kelas XI IPA 4 SMA N 2
pembelajaran selesai pada siklus I, Boyolali tahun ajaran 2011/2012. Hal ini
ketuntasan belajar siswa telah dapat dilihat dari keaktifan siswa pada
mencapai target yang ditetapkan siklus I dan II. Presentase keaktifan
dengan KKM sebesar 70. siswa pada siklus I 60,72% dan 71,43%
Dari hasil siklus I masil diperlukan pada siklus II.
tindakan lebih lanjut untuk memperbaiki Penerapan model pembelajaran
pembelajaran agar ketuntasan belajar Teams Games Tournament (TGT) yang
siswa dapat ditingkatkan. Oleh karena dilangkapi dengan TTS dapat
itu dilakukan serangkaian perencanaan meningkatkan hasil belajar siswa pada
untuk siklus II. Pada siklus II, guru materi koloid siswa kelas XI IPA 4 SMA
menginformasikan kepada siswa N 2 Boyolali tahun ajaran 2011/2012.
bahwa kegiatan pembelajaran untuk Dalam penelitian ini, hasil belajar yang
pertemuan selanjutnya masih dimaksud adalah peningkatan
menggunakan metode yang sama. ketuntasan belajar dan prestasi afektif
Guru juga menyarankan kepada siswa siswa. Pada siklus I, persentase
untuk mencari sumber lain agar dapat ketuntasan belajar siswa 64,29%
menjawab soal dengan baik dan guru dengan rata-rata nilai 72,3 dan pada
mengintensifkan pendampingan bagi siklus II persentase ketuntasan belajar
siswa yang kurang aktif. Pada akhir siswa menjadi 89,29% dengan rata-rata
siklus II diadakan tes siklus II yaitu nilai 76,1. Sedangkan untuk aspek
berupa angket keaktifan, angket afektif afektif, ketercapaian rata-rata indikator
dan angket balikan siswa. Dari hasil tes adalah 64,29% pada siklus I dan 75%
siklus II, siswa yang mencapai pada siklus II.
ketuntasan sebesar 89,29%. Hasil ini
telah melebihi target yang ditetapkan UCAPAN TERIMA KASIH
yaitu 70%. Untuk aspek keaktifan Penulis menyadari bahwa
sebesar 71,43%. Sedangkan untuk terselesaikannya skripsi ini tak lepas
aspek afektif sebesar 75%. Dari hasil dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu
yang telah diperoleh pada siklus II, penulis ingin mengucapkan terima
semuanya telah mencapai target yang kasih kepada Ibu Is Imanah, S.Pd.
diharapkan sehingga pelaksanaan selaku guru mata pelajaran kimia SMA
tindakan dicukupkan sampai siklus II. Negeri 2 Boyolali yang telah
Dari hasil tersebut dapat diketahui menginjinkan peneliti untuk
bahwa secara keseluruhan penelitian mengadakan penelitian di kelas
penerapan pembelajaran kooperatif tipe tersebut.
Teams Games Tournament (TGT)
dilengkapi dengan Teka-Teki Silang DAFTAR RUJUKAN
pada materi koloid siswa kelas XI IPA 4
SMA Negeri 2 Boyolali tahun ajaran [1] Wiyono, B.B. (2000). Gaya
2011/2012 dapat dikatakan berhasil Kepemimpinan Kepala
karena pada akhir penelitian, kriteria Sekolah dan Semangat Kerja
keberhasilan yang ditetapkan dapat Guru dalam Melaksanakan
terpenuhi yakni dapat meningkatkan Tugas Jabatan Kepala
kualitas proses belajar yaitu keaktifan Sekolah Dasar. Jurnal Filsafat,
siswa dan hasil belajar siswa yaitu Teori dan Praktik
prestasi belajar siswa. Kependidikan. IKIP Malang,
Malang. Diperoleh 25 Februari
KESIMPULAN 2012, dari
Dari hasil penelitian, maka dapat http://www.malang.ac.id.
disimpulkan yaitu: (1) Penerapan
metode pembelajaran Teams Games

Copyright © 2012 94
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 1 No. 1 Tahun 2012 Hal. 89-96

[2] BSNP. (2006). Panduan Pemisahan Campuran Kelas


Penyusunan Kurikulum Tingkat VII D SMP Negeri 2 Kemalang
satuan Pendidikan Jenjang Klaten. Skripsi Tidak
Pendidikan Dasar dan Dipublikasikan, Universitas
Menengah. Jakarta : Badan Sebelas Maret, Surakarta.
Sandar Nasional Pendidikan.
[8] Aristia, Susi. (2011). Pembelajaran
[3] _____. (2007). Panduan Kooperatif GI (Group
Penyusunan Kurikulum Tingkat Investigation) Berbantuan
satuan Pendidikan Jenjang Modul Elektronik Untuk
Pendidikan Dasar dan Meningkatkan Motivasi dan
Menengah. Jakarta : Badan Hasil Belajar Stokiometri Siswa
Sandar Nasional Pendidikan. Kelas XB SMA Negeri 1
Tawangsari. Skripsi Tidak
[4] Muti’ah. (2007). Penggunaan Model Dipublikasikan, Universitas
Pembelajaran Kooperatif Sebelas Maret, Surakarta.
Dengan Pendekatan Strategi
Pemecahan Masalah untuk [9] Van Wyk, M.M. (2007). The Effect of
Mengatasi Kesalahan Teams-Games-Tournament on
Konseptual pada Mata Kuliah Acheivment, Retension, and
Kimia Dasar I. Skripsi Tidak Attitudes of Economic Education
Dipublikasikan, Universitas Student. EABR & ETLC
Mataram, Mataram. Diperoleh Conference Proceedings.
25 Februari 2012, dari University of the Free State.
http://www.scribd.com. South Africa. Diperoleh 25
Februari 2012, dari http://
[5] Nauli, Rahmat. (2007). Upaya www.cluteinstitute.com.
Peningkatan Interaksi dan
Hasil Belajar Siswa SMA [10] Rahayu, Yosefina Nina. (2007).
Melalui Belajar Kooperatif Penerapan Model
dengan Menggunakan Media Pembelajaran Kooperatif TGT
Peta Konsep dan Alat Peraga. (Teams Games Tournament)
Jurnal Pendidikan Matematika dan Remedi dengan
dan Sains. Universitas Negeri Memperhatikan Modalitas
Medan. Medan. Diperoleh 25 Belajar Siswa Kelas VII SMPN
Februari 2012, dari http:// 18 Malang Tahun Ajaran
isjd.pdii.lipi.go.id. 2006/2007 dalam Mata
Pelajaran IPA Materi Pokok
[6] Lago, R.G.M. (2007). Influence of Perbedaan Unsur, Senyawa,
Cooperative Learning on dan Campuran. Skripsi Tidak
Chemistry Students Dipublikasikan, Universitas
Achievment, Self-efficacy and Negeri Malang, Malang.
Attitude. Liceo Journal of
Higher Education Research. [11] Afifah, I.R. (2007). Penerapan
Liceo de Cagayan Universito. Model Pembelajaran TGT
http://www.liceo.edu.ph. (Teams Games Tournament)
Diakses tanggal 25 Februari dan Program Remidi dengan
2012. Memperhatikan Modalitas
Belajar pada Materi Ikatan
[7] Titisari, Ratna. (2010). Upaya Kimia Kelas X di SMAN 12
Peningkatan Keaktifan dan Malang. Skripsi Tidak
Prestasi Belajar Siswa dengan Dipublikasikan, Universitas
Menggunakan Metode STAD Negeri Malang, Malang.
(Student Teams Achievment [12] Prasetyaningsih, Ika. 2010.
Division) pada Pokok Bahasan Pengaruh Penerapan Model

Copyright © 2012 95
JPK, Jurnal Pendidikan Kimia Vol. 1 No. 1 Tahun 2012 Hal. 89-96

Pembelajaran Kooperatif Tipe


TGT (Teams Games
Tournament) terhadap
Aktivitas dan Prestasi Belajar
Kimia Siswa Kelas X SMA
Negeri 1 Nglames pada Pokok
Bahasan Hidrokarbon. Skripsi
Tidak Dipublikasikan,
Universitas Negeri Malang,
Malang.

[13] Davis, T.M., Shepherd, B., &


Zwiefelhofer, T. (2009).
Reviewing for Exam: Do
Crossword Puzzle Help in the
Succes of Student Learning.
The Journal of Effective
Teaching. University of
Wisconsin, River Falls.
www.insightjournal.net. Diakses
tanggal 25 Februari 2012.

[14] Gregory, R.J. (2007). Physical


Testing History, Principles, and
Applications. United states of
America: Pearson.

[15] Dahar, R.W. (1989). Teori-teori


Belajar. Jakarta: Erlangga

[16] Depdiknas. (2009). Analisis Butir


Soal. Jakarta: Direktorat
Pendidikan Menengah Umum
Depdiknas.

[17] Miles, M. B. & Huberman, A .M.


(1995). Analisis Data Kualitatif.
Jakarta: UI Press.

[18] Moleong, L.J. (1995). Metodologi


Penelitian Kualitatif. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.

[19] Kasboelah, Kasihani. (2001).


Penelitian Tindakan Kelas.
Malang: Universitas Negeri
Malang.

Copyright © 2012 96