Anda di halaman 1dari 7

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

KELOMPOK KHUSUS LANSIA


DI RW 02 DUSUN GINTUNGAN DESA GOGIK
KABUPATEN SEMARANG

Oleh :
M. Muzaffar Ali Ridho
070116B039

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
UNGARAN
2017
A. TINJAUAN LITERATUR
1. Lansia
a. Pengertian lansia
Manusia lansia adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis,
fisik, kejiwaan dan sosial, perubahan akan memberikan pengaruh pada seluruh aspek kehidupan,
termasuk kesehatan. Kesehatan lansia perlu mendapatkan perhatian khusus dengan tetap
dipelihara dan ditingkatkan agar selama mungkin dapat hidup secara produktif sesuai dengan
kemampuannya, sehingga lansia dapat ikut serta berperan aktif dalam pembangunan (Mubarak,
2009). Lanjut usia adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindarkan dan sebagai makhluk
hidup yang terbatas (Depkes RI, 2010). Dapat disimpulkan bahwa usia lanjut adalah proses
penuaan secara alami yang tidak dapat dihindari dan menyebabkan perubahan secara fisik,
biologi, psikologis dan sosial.
b. Klasifikasi umur lansia
Menurut organisasi WHO dalam Bandiyah (2009) lanjut usia meliputi :
a. Usia pertengahan (middle age) adalah kelompok yang berusia 45—59 tahun
b. Usia lanjut (elderly) adalah kelompok usia antara 60—74 tahun
c. Usia lanjut (old) kelompok usia 76-90 tahun ke atas
d. Usia sangat lanjut (very old) kelompok usia 90 tahun keatas

c. Karakteristik lansia
Menurut Budi Anna Keliat, (1999) dalam Maryam (2008), lansia memiliki karakteristik
sebagai berikut yaitu:
a. berusia lebih dari 60 tahun.
b. kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sakit, dari kebutuhan
biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaptif hingga kondisi maladaptif.
c. lingkungan dimana tempat tinggal lansia yang bervariasi.
d. Tipe Lansia
Beberapa tipe lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup, lingkungan, fisik, mental,
sosial dan ekonomi (Nugroho, 2000 dalam Maryam 2008):
a. Tipe arif bijaksana
Tipe yang dapat menyesuaikan sesuai perkembangan zaman dengan rendah hati, ramah
dan sederhana serta bisa menjadi panutan.
b. Tipe mandiri
Mengganti pekerjaan yang hilang dengan yang baru, misal pensiun diusia tua.
c. Tipe tidak puas
Konfilk lahir dan batin yang menentang proses penuaan. Merasa mudah tersinggung,
pemarah dan tidak menerima dirinya pada saat masa tua.
d. Tipe pasrah
Menerima dan menunggu nasib baik dengan berserah diri pada Tuhan dengan cara
memperdalam beribadah sesuai dengan kepercayaan dan melakukan pekerjaan apa saja.
e. Tipe bingung
Tipe ini pada lansia merasa kaget sehingga kehilangan kepribadian, sering merasa minder
dengan mengasingkan diri, pasif serta acuh.
e. Tugas dan perkembangan Lansia
a. Mempersiapkan diri dengan keadaan atau kondisi yang menurun.
b. Mempersiapkan diri untuk pensiun.
c. Membentuk kepribadian baik dengan orang lain.
d. Mempersiapkan kehidupan baru.
e. Melakukan penyesuaian terhadap kehidupan sosial atau masyarakat.
f. Mempersiapkan diri untuk kematiannya dan kematian pasangannya (Maryam, 2008)
f. Masalah Kesehatan Pada Lansia
a. kurang bergerak : gangguan fisik, jiwa dan faktor lingkungan dapat menyebabkan lansia
kurang bergerak penyebab yang paling sering adalah gangguan tulang sendi dan otot
gangguan saraf dan penyakit jantung dan pembuluh darah.
b. Instabilitas penyebab terjatuh pada lansia dapat berupa faktor instrik (hal-hal yang berasal
dari tubuh) seperti obat-obatan tertentu dan faktor lingkungan.
c. Sering buang air kecil ( beser ) merupakan salah satu masalah yang sering didapati pada
lansia.
d. Gangguan intelektual : merupakan kumpulan gejala klinik yang meliputi gangguan fungsi
intelektual dan ingatan yang cukup berat sehingga menyebabkan terganggunya aktifitas
kehidupan sehari-hari
e. Infeksi : merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting pada lansia karena sering
didapati, juga gejala tidak khas bahkan asimtomatik yang menyebabkan keterlambatan
didalam diagnosis dan pengobatan serta resiko menjadi fatal atau meningkat
f. Gangguan panca indera, komunikasi, penyembuhan dan juga masalah kesehatan kulit
g. Sulit buang air besar ( konstipasi )
h. Depresi : perubahan status sosial, bertambahnya penyakit dan berkurangnya kemandirian
sosial serta perubahan akibat proses menua menjadi salah satu pemicu munculnya depresi
pada lansia.

2. Posyandu Lansia
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat
(UKBM) yang dikelola dari, oleh dan untuk bersama masyarakat guna memberdayakan
masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan
kesehatan dasar (Kemenkes RI, 2012). Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk
masyarakat usia lanjut disuatu wilayah tertentu yang sudah disepakati yang digerakan oleh
masyarakat dimana bisa mendapatkan pelayanan kesehatan posyandu (Fallen dan Budi, 2010).
a. Sasaran Posyandu lansia
a. Sasaran langsung
1. kelompok pra usia lanjut 45 -59 tahun.
2. kelompok usia lanjut 60-69 tahun.
3. kelompok usia lanjut beresiko tinggi 70 tahun ke atas.
b. Sasaran tidak langsung
1. keluarga dimana berada.
2. organisasi sosial yang bergerak dalam pembinaan usia lanjut.
3. Masyarakat.
b. Tujuan posyandu lansia
1. Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga terbentuk
pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia.
2. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam
pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut.
3. Meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai massa tua yang
bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan
eksistensinya di dalam masyarakat (Depkes RI dalam Maryam, 2008).
c. Mekanisme pelayanan posyandu lansia
1. Meja I : pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan dan tinggi badan.
2. Meja II : melakukan pencatatan barat badan, tinggi badan dan indeks masa Tubuh
(IMT). Pelayanan kesehatan yang lainnya seperti pengobatan sederhana dan rujukan
kasus juga dilakukan di meja ini.
3. Meja III : melakukan penyuluhan atau kegiatan konseling dan di meja III ini bisa
dilakukan untuk pojok gizi (Fallen dan Budi, 2010).
d. Kendala pelaksanaan posyandu lansia
Dengan usia semakin bertambah dan banyak mengalami penurunan pada seluruh
sistem organ pada tubuh maka lansia akan mengalami banyak kendala dalam dalam
mengikuti posyandu lansia ini antara lain :
1. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu lansia.
Dengan lansia mengetahui manfaat posyandu lansia dan hadir dalam mengikuti kegiatan
posyandu lansia akan mendapatkan penyuluhan kesehatan misalnya cara hidup sehat bagi
usia lanjut dan itu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dengan
mengetahui manfaat dalam mengikuti posyandu lansia ini dapat termotivasi untuk aktif
mengikuti kegiatan posyandu lansia dengan rutin.
2. Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang sulit dijangkau.
Jarak sangat berpengaruh bagi lansia dalam mengikuti posyandu lansia. Apabila jarak
rumah dengan pos posyandu tidak terlalu jauh, lansia dalam perjalanan menuju ke pos
posyandu tidak mengalami kelelahan atau kelemahan yang diakibatkan oleh jarak dari
rumah menuju pos posyandu. Dengan lansia tidak mengalami kelelahan dengan jauhnya
jarak maka akan lebih sering datang mengikuti kegiatan posyandu. Jarak juga
berpengaruh dengan keamanan para lansia karena di usia lanjut banyak mengalami
penurunan dan jika jaraknya jauh sangat berpotensi terjadinya resiko jatuh.
3. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk
datang ke posyandu.
4. Sikap petugas yang kurang baik terhadap lansia.
Sikap yang kurang baik petugas sangat mempengaruhi lansia karena lansia sangat peka
terhadap apa yang dihadapinya (Maryam, 2008)
e. Bentuk pelayanan Posyandu lansia
1. Pemeriksaan aktifitas kegiatan sehari-hari (activity daily life).
Pemeriksaaan ini meliputi kegiatan dasar yang dilakukan oleh lanjut lansia. Misalnya
berjalan, makan, mandi, ke toilet, naik dan turun kamar mandi serta melakukan aktivitas
sehari-hari.
2. Pemeriksaan status mental.
Pemeriksaan ini yang berhubungan dengan status mental emosional.
3. Pemeriksaan status gizi
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui status gizi pada lansia yaitu dengan cara
pengukuran tinggi badan dan penimbangan berat badan kemudian di catat pada grafik
indeks masa tubuh.
4. Pemeriksaan hemoglobin dengan menggunakan metode sahli, talquist atau cuprisufat.
5. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni.
Pemeriksaan ini sebagai awal dari deteksi dini adanya penyakit diabetes militus.
6. Pengukuran tekanan darah
Dengan pengukuran tekanan darah ini dapat mengetahui apabila lansia mengalami
tekanan darah tinggi atau hipertensi yang dapat menimbulkan resiko stroke.
7. Pemeriksaan adanya zat putih telur atau protein dalam air seni sebagai deteksi awal
adanya penyakit ginjal.
8. Pelaksanaan rujukan ke puskesmas
Apabila lansia memiliki keluhan atau kelainan yang harus diberikan perawatan lebih
dalam maka akan dirujuk ke puskesmas.
9. Melakukan penyuluhan pada lansia
Penyuluhan ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan tentang kesehatan yang
diperlukan oleh lansia. Penyuluhan dapat dilakukan didalam atau di luar kelompok dalam
rangka kunjungan rumah dan konseling sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh
individu ataupun kelompok usia lanjut.
10. Kunjungan kader disertai petugas kesehatan bagi kelompok usia lanjut yang tidak datang
untuk melakukan perawatan kesehatan masyarakat.
11. Adapun tambahan yang lain untuk gizi lansia yaitu dengan pemberian makanan
tambahan (PMT) (Fallen dan Budi, 2010).
\