Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saluran pencernaan memberi tubuh persediaan akan air,elektrolit,
dan zat makanan yang terus menerus. Untuk mencapai hal ini, dibutuhkan (1)
pergerakan makanan melalui saluran pencernaan, (2) sekresi getah
pencernaan dan pencernaan makanan, (3) absorpsi air berbagai elektrolit,
dan hasil pencernaan, (4) sirkulasi darah melalui organ-organ gastrointestinal
untuk membawa zat-zat yang diabsorbsi, dan (5) pengaturan semua fungsi
ini oleh sistem lokal, saraf, dan hormone. Setiap bagian dari saluran
pencernaan disesuaikan terhadap fungsi spesifiknya : beberapa untuk
pasase makanan yang sederhana, seperti esophagus; yang lain untuk
penyimpanan makanan sementara, seperti lambung; dan yang lain untuk
pencernaan dan absorpsi, seperti usus halus.
Agar makanan dapat dicerna secara optimal dalam saluran
pencernaan, waktu yang diperlukan makanan pada masing-masing bagian
saluran bersifat sangat penting. Selain itu, pencampuran yang tepat juga
harus dilakukan. Tetapi karena kebutuhan untuk pencampuran dan propulsi
(pendorongan) sangat berbeda pada tiap tingkat proses, berbagai
mekanisme umpan balik hormonal dan saraf otomatis akan mengontrol waktu
dari tiap aspek proses ini sehingga pencampuran dan pendorongan akan
terjadi secara optimal, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat.
Di sepanjang traktus gastrointestinal, kelenjar sekretoris mempunyai
dua fungsi utama : Pertama, enzim-enzim pencernaan disekresi pada
sebagian besar daerah saluran pencernaan, dari rongga mulut sampai ujung
distal ileum. Kedua, kelenjar mucus, dari rongga mulut sampai ke anus,
mengeluarkan mucus untuk melumaskan dan melindungi semua bagian
saluran pencernaan. Kebanyakan sekresi pencernaan terbentuk hanya
sebagai respons terhadap keberadaan makanan di dalam saluran
pencernaan, dan jumlah yang disekresi pada setiap segmen traktus hamper
sama dengan jumlah yang dibutuhkan untuk pencernaan yang sesuai.
Selanjutnya, pada beberapa bagian traktus gastrointestinal, bahkan jenis

1
2

enzim dan zat-zat lainnya dari sekresi bervariasi sesuai dengan tipe makanan
yang ada.
Bahan makanan utama yang diperlukan oleh tubuh yang hidup,
(selain jumlah kecil zat seperti vitamin dan mineral) dapat digolongkan
sebagai karbohidrat, lemak dan protein, bahan-bahan ini biasanya tidak
dapat diserap dalam bentuk alami melalui mukosa saluran pencernaan dan,
karena alasan ini bahan-bahan tersebut tidak berguna sebagai zat nutrisi
tanpa pencernaan awal. Dalam prosesnya yang berkangsung terus-menerus
bukan tidak mungkin saluran pencernaan mengalami gangguan atau bahkan
kelainan. Hal ini tentu saja akan mengganggu proses pencernaan.
Pengobatan yang efektif untuk kebanyakan gangguan gastrointestinal
bergantung pada pengetahuan dasar mengenai fisiologi gastrointestinal. Oleh
karena hal-hal di atas maka dalam makalah ini akan membahas prinsip-
prinsip umum fungsi gastrointestinal(Motilitas, pengaturan saraf dan sirkulasi
darah), propulsi dan pencampuran makanan dalam saluran pencernaan,
fungsi sekresi saluran pencernaan, pencernaan dan absorpsi dalam traktus
gastrointestinal serta fisiologi gangguan gastrointestinal.

B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui :
1. Prinsip-prinsip umum fungsi gastrointestinal(Motilitas, pengaturan saraf
dan sirkulasi darah).
2. Propulsi dan pencampuran makanan dalam saluran pencernaan.
3. Fungsi sekresi saluran pencernaan.
4. Pencernaan dan absorpsi dalam traktus gastrointestinal.
5. Fisiologi gangguan gastrointestinal.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Prinsip-prinsip Umum Fungsi Gastrointestinal – Motilitas, Pengaturan Saraf,


dan Sirkulasi Darah

Saluran Gastrointestinal mempunyai ciri khas dinding yang terdiri dari


beberapa lapisan Lapisan-lapisan tersebut dari luar ke dalam dapat disusun
sebagai berikut :
1. Lapisan serosa.
2. Lapisan otot longitudinal
3. Lapisan otot sirkular.
4. Lapisan submukosa.
5. Lapisan mukosa (pada bagian terdalam lapisan mukosa terdapat
lapisan muskularis mukosa).

1. Aktivitas Listrik Pada Otot Polos Gastrointestinal


Adapun aktifitas atau pergerakan otot polos tersebut dipengaruhi oleh
aktifitas potensial listrik yang telah teratur sedemikian rupa, sehingga tanpa
kita sadari system ini bekerja dengan sempurna. Aktifitas listrik tersebut
meliputi :
a. Faktor yang menimbulkan Depolarisasi membrane (membuat lebih
mudah dirangsang) :
1) Peregangan otot.
2) Perangsangan oleh asetilkolin.
3) Perangsangan oleh saraf parasimpatis yang mensekresi asetilkolin.
4) Perangsangan oleh hormone gastrointestinal spesifik.
b. Faktor yang menimbulkan Hiperpolarisasi membrane (membuat serat otot
kurang mudah dirangsang) :
1) Pengaruh norepinefrin / epinefrin pada membrane otot.
2) Perangsangan saraf-saraf simpatis yang mensekresi norepinefrin.

2. Pengaturan Hormonal Terhadap Motilitas Gastrointestinal

3
4

Traktus Gastrointestinal sebagaimana bagian lain dari tubuh


manusia juga memiliki sistem pengaturan dengan peranan sekresi
hormon. Hal ini terutama ditujukan pada pengaturan motilitas
gastrointestinal itu sendiri. Hormon-hormon yang terlibat di antaranya :
a. Kolesitokinin : disekresikan oleh sel I dalam mukosa duodenum dan
jejunum sebagai respon terhadap pemecahan produk lemak, asam
lemak dan monogliserid dalam usus. Efeknya: kontraksi kandung
empedu, menghambat motilitas lambung agar empedu
mengemulsikan lemak dan memberi cukup waktu untuk pencernaan
lemak di usus bagian atas.
b. Sekretin : disekresi oleh sel S dalam mukosa duodenum sebagai
respon terhadap asam lambung.Efeknya: penghambatan (ringan)
terhadap motilitas sebagian besar traktus gastrointestinal.
c. Peptida penghambat asam lambung : disekresikan oleh mukosa
usus halus bagian atas sebagai respon terhaadap asam lemak dan
asam amino dan sedikit pada karbohidrat. Efeknya: sedikit
menurunkan aktifitas motorik lambung, memperlambat
pengosongan isi lambung.

3. Gerakan-gerakan Fungsional Pada Traktus Gastrointestinal


Dalam proses memasukkan makanan, memproses hingga
mengeluarkan zat-zat sisa pada saluran pencernaan dibantu oleh
gerakan-gerakan yang secar fungsional mendukung proses tersebut.
Secara umum gerakan tersebut terbagi menjadi :
a. Gerakan Propulsif (Peristaltik)
1) Makanan bergerak maju sepanjang saluran dengan kecepatan yang
sesuai untuk terjadinya pencernaan dan absorbsi. Rangsangan yang
dapat menimbulkan gerakan peristaltik antara lain :
2) Peregangan usus, iritasi epitel pelapis usus, sinyal saraf ekstrinsik
terutama parasimpatis.
3) Reflek mienterikus / reflek peristaltik dan gerakan peristaltik ke arah
anus (“hukum dari usus”).
b. Gerakan mencampur
5

Yang menjaga agar isi usus tetap tercampur setiap waktu. Pada
beberapa tempat, gerakan peristaltik sendiri menimbulkan sebagian
besar pencampuran. Pada tempat lain, kontraksi konstriktif yang lebih
berperan dalam proses pencampuran, namun ada pula yang
melibatkan kedua proses tersebut.

4. Aliran Darah Gastrointestinal


Pembuluh darah system gastrointestinal disebut sirkulasi
splanknik. Sirkulasi ini meliputi aliran darah yang melalui usus sendiri
ditambah aliran darah melalui limpa, pancreas dan hepar. Sebelum
memasuki sirkulasi sistemik, darah disaring di hepar dari berbagai macam
bakteri dan bahan partikel lain (agen-agen berbahaya) dari traktus
gastrointestinal. Selain itu, sebagian besar (sekitar tiga perempat dari
total yang terserap) berupa zat nutrisi nonlemak dan larut air diserap dan
disimpan oleh sel-sel hati. Sedangkan zat nutrisi berdasar lemak tak larut
air diabsorbsi ke saluran limfatik usus yang kemudian dialirkan ke dalam
darah melalui duktus torasikus. Anatomi suplai darah gastrointestinal
adalah :
a. Dinding usus halus dan usus besar disuplai oleh arteri mesenterika
superior dan interior.
b. Lambung disuplai oleh arteri illiaka.

5. Pengontrolan Saraf Terhadap Aliran Darah Gastrointestinal


Rangsangan saraf parasimpatis terhadap lambung dan kolon
bagian bawah akan meningkatkan aliran darah setempat pada saat yang
bersamaan dengan peningkatan sekresi kelenjar. Penigkatan aliran darah
kemungkinan karena peningkatan aktifitas kelenjar.
Rangsangan saraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi yang
kuat pada arteriol sehingga dengan penurunan aliran darah yang besar
pada hampir seluruh traktus gastrointestinal, berfungsi untuk menutup
aliran darah gastrointestinal dan aliran darah splanknik lain agar dapat
memenuhi kebutuhan oragan vital saat kerja fisik yang hebat, serta
mempertahankan semua jaringan vital dari bahaya kematian seluler
akibat kekurangan perfusi terutama otak dan jantung. Dapat berlangsung
6

sekitar 1 jam. Setelah itu aliran sering kembali hampir normal melalui
mekanisme “autoregulasi escape” dengan tujuan mengembalikan aliran
darah yang membawa nutrisi ke kelenjar dan otot gastrointestinal.

6. Pengontrolan Saraf Terhadap Fungsi Gastrointestinal


Traktus gastrointestinal memiliki persarafan sendiri yang disebut
system saraf enteric. System ini terletak di dinding usus dan mengatur
pergerakan dan sekresi gastrointestinal. Sistem enteric terutama terdiri
dari dua pleksus:
a. Satu pleksus bagian luar yang terletak diantara lapisan otot longitudinal
dan sirkular, disebut pleksus minterikus atau pleksus auerbach
b. Satu pleksus bagian bagian dalam disebut pleksus submukosa atau
pleksus meissner, yang terletak didalam submukosa. Pleksus
mienterikus terutama mengatur pergerakan gastrointestinal, dan
pleksus submukosa terutama mengatur sekresi gastrointestinal dan
aliran darah lokal.
Selain system saraf diatas terdapat juga serat-serat saraf simpatis
dan parasimpatis yang berhubungan dengan kedua pleksus mienteretikus
dan submukosa, perangsangan oleh system simpatis dan parasimpatis
dapat mengaktifkan dan menghambat fungsi gastrointestinal. Ujung-ujung
sarafnya melepaskan neurotransmitter. Pengaturan anatomis system
saraf enteric serta hubunganya dengan system saraf simpatis dan
parasimpatis mendukung jenis reflek gastrointestinal salah satunya
refleks gastrokolik, reflek enterogastrik, sekresi gastrointestinal,
peristaltic, serta reflek berasal dari lambung, duodenum, refleks nyeri, dan
refleks defekasi. system simpatis dan parasimpatis dapat mengaktifkan
dan menghambat fungsi gastrointestinal. Ujung-ujung sarafnya
melepaskan neurotransmitter. Dalam usaha untuk lebih memahami
berbagai fungsi sistem saraf enterik gastrointestinal, para peneliti dari
seluruh dunia telah mengidentifikasikan selusin atau lebih zat-zat
neurontransmiter yang berbeda yang dilepaskan oleh ujung-ujung saraf
dari berbagai tipe neuron enterik. Dua dari neurontransmiter yang telah
kita kenal adalah (1) asetilkolin, dan (2) norepinefrin. Yang lain adalah (3)
adenosin trifosfat, (4) serotonin, (5) dopamin, (6) kolisistokinin, (7)
7

substansi P, (8) polipeptida intestinal vasoaktif, (9) somatostatin, (10) leu-


enkefalin, (11) metenkefalin, dan (12) bombesin.
Fungsi-fungsi khusus dari banyak neurontransmiter ini tidak terlalu
dikenal untuk dibahas disini, selain pembahasan hal berikut: Asetilkolin
paling sering merangsang aktivitas gastrointestinal. Norepinefrin, hampir
selalu menghambat aktivitas gastrointestinal. Hal ini juga berlaku pada
epinefrin, yang mencapai traktus gastrointestinal terutama lewat aliran
darah setelah disekresikan oleh medula adrenal ke dalam sirkulasi.
Substansi transmiter lain yang disebutkan tadi adalah gabungan dari
bahan-bahan eksitator dan inhibitor. Asetilkolin (Ach) merupakan
neurontransmiter yang dikeluarkan oleh semua serat praganglion otonom,
serat pascaganglion parasimpatis, dan neuron motorik. Epinefrin hormon
primer yang dikeluarkan oleh medula adrenal.

7. Pengaturan Otonom Traktus Gastrointestinal


Jalur saraf otonom terdiri dari suatu rantai dua neuron, dengan
neurotransmitter terakhir yang berbeda antara saraf simpatis dan
parasimpatis. Setiap jalur saraf otonom yang berjalan dari SSP ke suatu
organ terdiri dari SSP ke suatu organ terdiri dari suatu rantai yang terdiri
dari dua neuron. Badan sel neuron yang pertama di rantai tersebut
terletak di SSP. Aksonnya, serat preganglion, bersinaps dengan badan
sel neuron kedua, yang terdapat di dalam suatu ganglion di luar SSP.
Akson neuron kedua, serat pascaganglion, mempersarafi organ-organ
efektor. Sistem saraf otonom terdiri dari dua divisi-sistem simpatis dan
parasimpatis. Serat-serat saraf simpatis berasal dari daerah torakal dan
lumbal korda spinalis. Sebagian besar serat preganglion simpatis
berukuran sangat pendek, bersinaps dengan badan sel neuron
pascaganglion didalam ganglion yang terdapat di rantai ganglion simpatis
yang terletak di kedua sisi korda spinalis. Serat pascaganglion panjang
yang berasal dari rantai ganglion itu berakhir di organ-organ efektor.
Sebagian serat praganglion melewati rantai ganglion tanpa membentuk
sinaps dan kemudian berakhir di ganglion kolateral simpatis yang terletak
disekitar separuh jalan antara SSP dan organ-organ yang dipersarafi,
dengan serat pascaganglion menjalani jarak sisanya.
8

Serat-serat praganglion parasimpatis berasal dari daerah cranial


dan sacral SSP. Serat-serat ini berukuran lebih panjang dibandingkan
dengan serat praganglion simpatis karena serat-serat itu tidak terputus
sampai mencapai ganglion terminal yang terletak di dalam atau dekat
dengan organ efektor. Serat-serat pascaganglion yang sangat pendek
berakhir di sel-sel organ yang bersangkutan itu sendiri. Serat-serat
praganglion simpatis dan parasimpatis mengeluarkan neurotransmitter
yang sama, yaitu asetilkolin (Ach), tetapi ujung-ujung pasca ganglion
kedua system ini mengeluarkan neurotransmitter yang berlainan
(neurotransmitter yang mempengaruhi organ efektor). Serat-serat
pascaganglion parasimpatis mengeluarkan asetilkolin. Dengan demikian,
serat-serat itu bersama dengan semua serat praganglion otonom, disebut
serat kolinergik. Sebaliknya sebagian besar serat pascaganglion simpatis
disebut serat adrenergic, karena mengeluarkan noradrenalin, lebih umum
dikel sebagai norepinefrin. Baik asetilkolin maupun norepinefrin juga
berfungsi sebagai zat perantara kimiawi di bagian tubuh lainnya.

a. Persarafan Parasimpatis
Persarafan parasimpatis ke usus dibagi atas divisi kranial dan
divisi sakral. Kecuali untuk beberapa serabut parasimpatiske regio
mulut dan faring dari saluran pencernaan, serabut saraf parasimpatis
kranial hampir seluruhnya di dalam saraf vagus. serabut-serabut ini
memberi inervasi yang yang luas pada esofagus, lambung, pankreas,
dan sedikit usus sampai separuh bagian pertama usus besar.
Parasimpatis sakral bersal dari segmen sakral kedua, ketiga, dan
keempat dari medula spinalis serta berjalan melalui saraf pelvis ke
seluruh bagian distal usus besar dan sepanjang anus. Arean sigmoid,
rektum, dan anus diperkirakan mendapat persarafan parasimpatis
yang lebih baik daripada bagian usus yang lain. Fungsi serabut ini
terutama untuk menjalankan reflak defekasi. Neuron-neuron
postganglionik dari sistem parasimpatis gastrointestinal terletak
terutama di pleksus mienterikus dan pleksus submukosa.
Perangsangan saraf parasimpatis ini menimbulkan peningkatan
9

umum dari aktivitas seluruh sistem saraf enterik. Hal ini kemudian
akan memperkuat aktivitas sebagian besar fungsi gastrointestinal.

b. Persarafan Simpatis
Serabut-serabut simpatis yang berjalan ke traktus
gastrointestinal bersal dari medula spinalis antara segmen T-5 dan L-
2. Sebagian besar serabut preganglionik yang mempersarafi usus,
sesudah meninggalkan medula, memasuki rantai simpatis yang
terlatak di sisi lateral kolumna spinalis, dan banyak dari serabut ini
kemudian berjalan melalui rantai ke ganglia yang terletak jauh seperti
ganglion seliaka dan berbagai ganglion mesenterica. Kabanyakan
badan neuron simpatik postganglionik berada di ganglia ini, dan
serabut-serabut post ganglionik lalu menyebar melalui saraf simpatis
postganglionik ke semua bagian usus. Sistem simpatis pada dasarnya
menginervasi seluruh traktus gastrointestinal, tidak hanya meluas
dekat dengan rongga mulut dan anus, sebagaimana yang berlaku
pada sistem parasimpatis. Ujung-ujung saraf simpatis sebagian besar
menyekresikan norepinefrin dan juga epinefrin dalam jumlah sedikit.
Pada umumnya, perangsangan sistem saraf simpatis menghambat
aktivitas traktus gastrointestinal, menimbulkan banyak efek yang
berlawanan dengan yang ditimbulkan oleh sistem parasimpatis.
Sistem simpatis menghasilkan pengaruhnya melalui dua cara: (1)
pada tahap yang kecil melalui pengaruh langsung sekresi norepinefrin
untuk menghambat otot polos traktus intestinal (kecuali otot mukosa
yang tereksitasi oleh norepinefrin), dan (2) pada tahap yang besar
melalui pengaruh inhibisi dari norepinefrin pada neuron-neuron pada
seluruh sistem saraf enterik. Perangsangan yang kuat pada sistem
simpatis dapat menginhibisi peregerakan motor usus begitu hebat
sehingga dapat benar-benar menghentikan pergerakan makanan
melalui traktus gastrointestinal.

B. Propulsi dan Pencampuran Makanan Dalam Saluran Pencernaan


10

Agar makanan dapat dicerna secara optimal dalam saluran pencernaan,


waktu yang diperlukan pada masing-masing bagian saluran bersifat terbatas.
Selain itu pencampuran yang tepat juga harus dilakukan. Tetapi karena
kebutuhan untuk pencampuran dan pendorongan sangat berbeda pada tiap
tingkat proses, berbagai mekanisme umpan balik hormonal dan saraf otomatis
akan mengontrol tiap aspek dari proses ini.
1. Pengaturan Pencernaan Makanan
Mengunyah makanan bersifat penting untuk pencernaan semua
makanan, karena akan membantu pencernaan makanan untuk alasan
sederhana berikut : karena enzim-enzim pencernaan hanya bekerja pada
permukaan partikel makanan, kecepatan pencernaan sangat tergantung
pada total area permukaan yang terpapar dengam sekresi usus. Pada
umumnya otot- otot pengunyah dipersarafi oleh cabang motorik dari saraf
kranial kelima, dan proses mengunyah dikontrol oleh nukleus dalam
batang otak.
Menelan adalah suatu aksi fisiologis yang kompleks terutama
karena faring pada hampir setiap saat melakukan beberapa fungsi lain di
samping menelan dan hanya diubah dalam beberapa detik ke dalam
traktus untuk mendorong makanan. Yang terutama penting adalah bahwa
respirasi tidak terganggu akibat menelan. Pada umumnya menelan dapat
dibagi menjadi (1) tahap volunter, yang mencetuskan proses menelan, (2)
tahap faringeal, yang bersifat involunter dan membantu jalannya
makanan melalui faring ke dalam esofagus, dan (3) tahap esofageal, fase
involunter lain yang mempermudah jalannya makanan dari faring ke
lambung. Proses menelan secara otomatis diatur dalam urutan yang
teratur oleh daerah-daerah neuron di batang otak yang didistribusikan ke
seluruh substantia retikularis medula dan bagian bawah pons. Impuls
motorik dari pusat menelan ke faring dan esofagus bagian atas yang
menyebabkan penelanan dijalarkan oleh saraf kranial ke-5, ke-9, ke-10,
dan ke-12 serta bahkan beberapa saraf servikal superior, seperti tampak
pada. Ringkasnya, tahap faringeal dari penelanan pada dasarnya
merupakan suatu refleks. Sewaktu gelombang peristaltik esofagus
berjalan ke arah lambung, timbul suatu gelombang relaksasi, yang
dihantarkan melalui neuron peghambat mienterikus, mendahului
11

peristaltik, Selanjutnya seluruh lambung dan sedikit lebih luas, bahkan


duodenum menjadi terelaksasi sewaktu gelombang ini mencapai bagian
akhir esofagus dan dengan demikian mempersiapkan lebih awal untuk
menerima makanan yang didorong ke bawah esofagus selama proses
menelan.
2. Pengaturan Fungsi Motorik Lambung
Fungsi motorik dari lambung ada tiga : (1) penyimpanan sejumlah
besar makanan sampai makanan dapat diproses di dalam duodenum, (2)
pencampuran makanan ini dengan sekresi dari lambung sampai
membentuk suatu campuran setengah cair yang disebut kimus, dan (3)
pengosongan makanan dengan lambat dari lambung ke dalam usus halus
pada kecepatan yang sesuai untuk pencernaan dan absorpsi yang tepat
oleh usus halus. Saat lambung berisi makanan, gelombang konstriktor
peristaltik yang lemah (gelombang pencampur) mulai timbul dibagian
tengah dinding lambung dan bergerak ke arah antrum sepanjang dinding
lambung sekitar satu kali setiap 15 sampai 20 detik. Sewaktu gelombang
konstriktor berjalan dari korpus ke dalam antrum, gelombang menjadi
lebih kuat, beberapa menjadi sangat kuat dan menimbulkan cincin
konstriktor peristaltik yang kuat yang mendorong isi antrum di bawah
tekanan tinggi ke arah pilorus.
Pengosongan lambung ditimbulkan oleh kontraksi peristaltik yng
kuat pada antrum lambung. Kecepatan pengosongan lambung diatur
oleh sinyal dari lambung dan duodenum. Akan tetapi duodenum
memberi sinyal yang kebih kuat, selalu mengontrol pengosongan kimus
ke dalam duodenum pada kecepatan yang tidak melebihi kecepatan
kimus dicerna dan diabsorbsi dalam usus halus.

C. Fungsi Sekresi dari Saluran Pencernaan


Di sepanjang traktus gastrointestinal , kelenjar sekretoris mempunyai
dua fungsi utama. Pertama, enzim-enzim pencernaan disekresi pada
sebagian besar daerah rongga mulut sampai ujung distal ileum. Kedua,
kelenjer mukus, dari rongga mulut sampai ke anus, mengeluarkan mukus
untuk melumaskan dan melindungi semua bagian saluran pencernaan.
12

1. Mulut dan Esofagus


Di dalam mulut, melalui proses pengunyahan, makanan bercampur
dengan saliva dan didorong melalui proses menelan ke dalam esofagus .
Gelombang peristaltik di esofagus menggerakkan makanan ke dalam
lambung.
2. Lambung
Motilitas dan sekresi lambung diatur oleh mekanisme persarafan
dan humoral. Komponen saraf adalah refleks otonom lokal, yang
melibatkan neuron-neuron kolinergik, dan impuls-impuls dari SSP melalui
nervus vagus. Rangsang vagus meningkatkan sekresi gastrin melalui
pelepasan gastrin - releasing peptide. Serat-serat vagus lain melepaskan
asetilkolin, yang bekerja langsung pada sel-sel kelenjar di korpus dan
fundus untuk meningkatkan sekresi asam dan pepsin. Rangsang nervus
vagus di dada atau leher meningkatkan sekresi asam dan pepsin, tetapi
vagotomi tidak menghilangkan respons sekresi terhadap rangsang lokal.
Untuk memudahkan pengaturan fisiologik sekresi lambung biasanya
dibahas berdasarkan pengaruh otak ( sefalik ), lambung, dan usus.
Pengaruh / fase sefalik adalah respons yang diperantarai oleh nervus
vagus yang diinduksi oleh aktivitas di SSP. Pengaruh lambung terutama
adalah respons-respons refleks lokal dan respons terhadap gastrin.
Pengaruh usus adalah efek umpan balik hormonal dan refleks pada
sekresi lambung yang dicetuskan dari mukosa usus halus.
a. Pengaruh Sefalik
Adanya makanan dalam mulut secara refleks merangsang
sekresi lambung. Serat-serat eferen untuk refleks ini adalah nervus
vagus. Peningkatan sekresi lambung yang diperantarai oleh vagus
mudah dilatih. Pada manusia, sebagai contoh : melihat, mencium bau
dan memikirkan makanan akan meningkatkan sekresi lambung.
Peningkatan ini disebabkan oleh refleks bersyarat saluran cerna yang
telah berkembang sejak awal masa kehidupan. Rangsang
hipotalamus anterior dan bagian-bagian korteks frontalis orbital di
sekitarnya meningkatkan aktivitas eferen vagus dan sekresi lambung.
Pengaruh otak menentukan sepertiga sampai separuh dari asam
yang disekresikan sebagai respons terhadap makanan normal.
13

b. Respons Emosi
Keadaan kejiwaan memiliki pengaruh terhadap sekresi dan
motilitas lambung yang terutama diperantarai oleh nervus vagus.
Rasa cemas dan depresi menurunkan sekresi lambung dan aliran
darah serta menghambat motilitas lambung.
c. Pengaruh Lambung
Adanya makanan dalam lambung mempercepat peningkatan
sekresi lambung yang disebabkan oleh penglihatan atau bau
makanan dan adanya makanan di mulut.Reseptor di dinding lambung
dan mukosa berespons terhadap peregangan dan rangsang kimia,
terutama asam-asam amino dan produk pencernaan terkait lain.
Serat-serat dari reseptor masuk ke dalam pleksus submukosa,
tempat badan sel neuron reseptor berada. Serat-serat tersebut
bersinaps pada neuron parasimpatis postganglion yang berakhir di
sel-sel parietal dan merangsang sekresi asam. Neuron-neuron
postganglion dalam lengkung refleks lokal aalah neuron yang sama
dengan yang dipersarafi oleh neuron preganglion vagus desendens
dari otak yang memperantarai fase sefalik sekresi. Produk-produk
pencernaan protein juga menyebabkan peningkatan sekresi gastrin,
dan hal ini meningkatkan aliran asam.
d. Pengaruh Usus
Walaupun di mukosa usus halus dan lambung terdapat sel-sel
yang berisi gastrin, pemberian asam amino langsung ke dalam
duodenum tidak meningkatkan kadar gastrin dalam darah. Lemak,
karbohidrat, dan asam dalam duodenum menghambat sekresi asam
lambung dan pepsin serta motilitas lambung melalui mekanisme saraf
dan hormonal. Identitas enterogastron yakni sebagai hormon usus
berperan dalam inhibisi belum jelas diketahui. Sekresi asam lambung
meningkat setelah sebagian besar usus halus diangkat. Hipersekresi,
yang secara kasar setara dengan jumlah usus yang diangkat,
sebagian mungkin disebabkan oleh hilangnya sumber hormon-
hormon yang menghambat sekresi asam.
14

3. Usus Halus
Sejauh ini cara terpenting untuk mengatur sekresi usus halus
adalah dengan berbagai refleks saraf setempat terutama refleks yang
dimulai oleh rangsangan taktil dan iritasi serta oleh peningkatan aktifitas
saraf enterik yang berhubungan dengan gergerakan gastrointestinal. Oleh
karena itu dihampir semua tempat, sekresi pada usus halus terjadi hanya
sebagai respons terhadap keberadaan kimus dalam usus - semakin
banyak jumlah kimus semakin banyak sekresinya. Beberapa hormon
yang dapat merangsang sekresi didaerah manapun pada traktus
gastrointestinal juga dapat meningkatkan sekresi usus halus khususnya
sekretin dan kolesistokinin. Beberapa eksperimen menunjukkan bahwa
zat-zat hormonal yang diekstraks dari mukosa usus halus oleh kimus
mungkin membantu mengontrol sekresi. Pada umumnya mekanisme
refleks enterik setempat hampir selalu ikut memegang peranan yang
dominan.
4. Usus Besar
Mukosa usus besar, seperti pada usus halus mempunyai banyak
kriptus lieberkuhn, tetapi pada mukosa ini, berbeda dengan usus halus,
tidak memiliki vili. Sel-sel epitel hampir tidak mengandung enzim.
Sebaliknya sel ini terutama mengandung sel-sel mukus yang hanya
mensekresi mukus. Mukus dalam usus besar jelas melindungi dinding
usus terhadap ekskoriasi, tetapi selain itu, juga menghasilkan media yang
lengket untuk melekatkan bahan feses bersama- sama. Lebih lanjut
mukus melindungi dinding usus dari sejumlah besar aktifitas bakteri yang
berlangsung di dalam feses, dan menambah sifat basa dari sekresi ( pH
8,0 yang disebabkan oleh sejumlah besar natrium bikarbonat)
menyediakan suatu sawar untuk menjaga agar asam yang terbentuk
didalam tinja tidak menyerang dinding usus.
Apabila suatu segmen usus besar menjadi sangat teriritasi, seperti
yang terjadi bila infeksi bakteri berlangsung menyeluruh selama enteritis,
mukosa mensekresikan sejumlah besar air dan elekrolit selain sekresi
larutan mukus alkali yang kental dan normal. Sekresi ini berfungsi untuk
mengencerkan faktor pengiritasi dan menyebabkan pergerakan tinja yang
cepat menuju anus. Hal ini biasanya menyebabkan terjadinya diare,
15

disertai kehilangan sejumlah air dan elektrolit. Tetapi diare juga menyapu
bersih faktor iritan, yang menimbulkan pemulihan penyakit lebih cepat
daripada bila terjadi sebaliknya.

D. Pencernaan dan Absorbsi dalam Traktus Gastrointestinal

1. Pencernaan Berbagai Makanan Melalui Hidrolisis


a. Hidrolisis Karbohidrat
Bila karbohidrat dicernakan, karbohidrat diubah menjadi
monosakarida. Enzim khusus di dalam getah pencernaan pada
traktus gastrointestinal mengembalikan ion hidrogen dan hidroksil air
ke polisakarida dan dengan demikian memisahkan monosakarida
satu sama lain.
b. Hidrolisis Lemak
Hampir semua gugus lemak di dalam diet terdiri atas trigliserida
(lemak netral), yang merupakan gabungan dari tiga molekul asam
lemak yang berkondensasi dengan satu molekul gliserol. Selama
proses kondensasi, tiga molekul air dikeluarkan.
c. Hidrolisis Protein
Protein dibentuk dari beberapa asam amino yang saling
berikatan bersama-sama melalui ikatan peptida. Pada setiap ikatan,
satu ion hidroksil dipindahkan dari satu asam amino, dan satu ion
hidrogen dipindahkan dari asam amino berikutnya; jadi, asam amino
berturutan dalam rantai protein juga saling berikatan melalui proses
kondensasi dan pencernaan terjadi melalui efek pembalikan :
hidrolisis. Yaitu, enzim proteolitik mengembalikan ion hidrogen dan
ion hidroksil dari molekul air ke molekul protein untuk memecahnya
menjadi unsur-unsur pokok asam amino.

2. Prinsip-Prinsip Dasar Absorpsi Gastrointestinal


a. Dasar Anatomi Absorpsi
Jumlah cairan total yang harus diabsorpsi setiap hari oleh usus
sebanding dengan cairan yang dicerna (kira-kira 1,5 liter) ditambah
dengan cairan yang disekresikan oleh bermacam-macam sekresi
16

gastrointestinal (kira-kira 7 liter). Jadi, jumlah totalnya 8 sampai 9 liter.


Semua kecuali kira-kira 1,5 liter dari cairan ini diabsorpsi di usus
halus, dan menyisakan hanya 1,5 liter untuk melalui katup ileosekal
ke dalam kolon setiap harinya.
Lambung merupakan daerah saluran pencernaan yang
absorpsinya buruk karena tidak memiliki jenis vili yang khas dari
membran pengabsorpsi, dan juga karena taut antar sel-sel epitel
merupakan taut yang ketat. Hanya ada beberapa zat yang sangat
larut dalam lemak, seperti alkohol dan beberapa obat seperti aspirin,
dapat diabsorpsi dalam jumlah kecil.

3. Absorpsi dalam Usus Halus


Absorpsi dari usus halus setiap hari terdiri atas beberapa ratus gram
karbohidrat, 100 gram atau lebih lemak, 50 sampai 100 gram asam
amino, 50 sampai 100 gram ion, dn 7 sampai 8 liter air. Kapasitas
absorpsi normal usus halus jauh lebih besar dari nilai ini : sebanyak
beberapa kilogram karbohidrat per hari, 500 gram lemak per hari, 500
sampai 700 gram asam amino per hari, dan 20 liter air atau lebih per hari.

4. Absorpsi dalam Usus Besar : Pembentukan Feses


Kira-kira 1500 milimeter kimus secara normal melewati katup
ileosekal ke dalam usus besar setiap harinya. Sebagian besar air dan
elektrolit di dalam kimus ini diabsorpsi di dalam kolon, biasanya
meninggalkan kurang dari 100 milimeter cairan untuk diekskresikan dalam
feses. Juga,pada dasarnya semua ion diabsorpsi hanya meninggalkan 1
sampai 5 miliekuivalen dri masing-masing ion natrium dan klorida untuk
hilang dalam feses.
Sebagian besarr absorpsi dalam usus besar terjadi pada
pertengahan proksimal kolon, sehingga bagian ini dinamakan kolon
pengabsorpsi, sedangkan kolon bagian distal pada prinsipnya berfungsi
sebagai tempat penyimpanan feses sampai waktu yang tepat untuk
ekskresi feses dan oleh karena itu disebut kolon penyimpanan.
17

E. Fisiologi Gangguan Gastrointestinal

1. Gangguan Menelan dan Gangguan Esofagus


a. Paralisis Mekanisme Menelan
Kerusakan saraf otak V, IX atau X dapat menyebabkan paralisis
bagian yang bermakna dari mekanisme menelan. Juga, beberapa
penyakit seperti poliomyelitis atau ensefalitis, dapat menghalangi
proses menelan yang normal dengan merusak pusat menelan pada
batang otak. Akhirnya, kelumpuhan otot-otot menelan seperti yang
terjadi pada distrofi otot atau pada kegagalan transmisi neuromoskular
pada miastenia gravis atau botulisme, juga dapat menghalangi proses
menelan yang normal.
b. Akalasia dan Megaesofagus
Akalasia adalah keadaan sfingter esophagus inferior yang gagal
berelaksasi selama menelan. Sebagai akibatnya, makanan yang
ditelan ke dalam esophagus gagal untuk melewati esophagus masuk
ke dalam lambung. Penelitian patologi telah menunjukkan kerusakan
pada jaringan kerja saraf pleksus mienterikus pada dua pertiga bagian
bawah esophagus. Hasilnya perototan esophagus bagian bawah tetap
berkontraksi secara spastis, dan pleksus mienterikus kehilangan
kemampuannya untuk mentransmisikan sinyal yang menimbulkan
“relaksasi reseptif’ dari sfingter gastroesofageal ketika makanan
mencapai sfingter ini selama menelan.

2. Gangguan-Gangguan Lambung
a. Gastritis (Peradangan Mukosa Lambung)
Peradangan dari gastritis dapat hanya superficial dan oleh
karena itu tidak begitu berbahaya, atau dapat menembus secara
dalam ke dalam mukosa lambung, pada kasus-kasus yang
berlangsung lama, menyebabkan atrofi mukosa lambung hampir
lengkap. Pada beberapa kasus, gastritis dapat menjadi sangat akut
dan berat, dengan ekskoriasi ulserativa mukosa lambung oleh sekresi
peptic lambung sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa banyak
gastritis disebabkan oleh infeksi bacterial mukosa lambung yang
18

kronis. Gangguan ini dapat diobati sempurna dengan suatu rangkaian


pengobatan antibiotika yang intensif.
b. Ulkus Peptikum
Ulkus peptikum adalah suatu daerah ekskoriasi mukosa
lambung atau usus yang terutama disebabkan oleh kerja pencernaan
getah lambung atau sekresi usus halus bagian atas. Tempat yang
paling sering terkena adalah pada jarak beberapa sentimeter dari
pylorus. Sebagai tambahan, ulkus peptikum sering terjadi di
sepanjang kurvatura minor ujung antral lambung atau yang lebih
jarang pada ujung bawah esophagus tempat getah lambung sering
masuk kembali. Jenis ulkus peptikum yang disebut ulkus marginalis
juga sering terjadi jika suatu pembukaan melalui pembedahan seperti
gastro-yeyunostomi dibuat antara lambung dan yeyunum usus halus.
Penyebab umum dari ulserasi peptikum adalah ketidakseimbangan
antara kecepatan sekresi getah lambung dan derajat perlindungan
yang diberikan oleh (1) sawar mukosa gastroduodenal dan (2)
netralisasi asam lambung oleh getah duodenum.

3. Gangguan Pada Usus Halus


a. Pankreatitis
Pankreatitis berarti peradangan pancreas, dan ini dapat terjadi
baik dalam bentuk pancreatitis akut maupun pancreatitis kronis.
Penyebab yang paling umum dari pancreatitis adalah minum alcohol
berlebihan dan penyebab kedua yang paling umum adalah sumbatan
papilla Vateri oleh batu empedu; dua hal ini bersama-sama merupakan
lebih dari 90% penyebab dari semua kasus. Jika batu empedu
menghambat papilla Vateri, batu ini akan menghambat duktus
sekretorius utama dari pancreas dan duktus biliaris komunis. Enzim
pancreas kemudian terbendung di dalam duktus dan asinus pancreas.
Akhirnya, banyak tripsinogen yang tertumpuk sehingga menutupi
tripsin inhibitor pada sekresi, dan sejumlah kecil tripsinogen yang
teraktivasi membentuk tripsin.
b. Malabsorpsi Oleh Mukosa Usus Halus (Sprue)
1) Sprue Nontropis
19

Satu jenis sprue , disebut secara bervariasi dengan nama


sprue idiopatik, penyakit seliak (pada anak-anak) atau enteropati
gluten, terjadi akibat efek toksik dari gluten yang terdapat pada
beberapa tipe padi-padian tertentu, terutama gandum dan gandum
hitam. Hanya beberapa orang yang rentan terhadap efek ini, tetapi
pada orang-orang yang rentan, gluten mempunyai efek destruktif
langsung pada sel-sel enterosit usus.
2) Sprue Tropis
Tipe yang berbeda dari sprue, yang disebut sprue tropis,
terjadi pada daerah tropis dan sering dapat diterapi dengan agen-
agen antibakteri. Meskipun tidak ada bakteri spesifik yang
ditemukan sebagai penyebab, dianggap bahwa sprue jenis ini
sering disebabkan oleh peradangan mukosa usus akibat agen
infeksi yang belum dapat diidentifikasi.
3) Malabsorpsi Pada Sprue
Pada tahap awal sprue, absorpsi usus terhadap lemak
lebih terganggu daripada absorpsi produk pencernaan lainnya.
Lemak yang tampak pada tinja hampir seluruhnya dalam bentuk
garam asam lemak dan bukan bentuk lemak yang tak tercerna,
menggambarkan bahwa masalahnya adalah absorpsi dan
bukannya pencernaan. Sebenarnya kondisi tersebut seringkali
disebut steatore. Yang berarti lemak berlebihan dalam tinja. Pada
kasus sprue yang sangat berat, selain malabsorpsi lemak terdapat
pula gangguan absorpsi protein, karbohidrat, kalsium, vitamin K,
asam folat dan vitamin B12.

4. Gangguan Pada Usus Besar


a. Konstipasi
Konstipasi berarti pelannya pergerakan tinja melalui usus
besar, dan sering disebabkan sejumlah besar tinja yang kering dank
eras pada kolon descenden yang menumpuk karena absorpsi cairan
yang berlebihan. Kelainan patologi apapun pada usus yang
menghambat pergerakan isi usus, seperti tumor, perlekatan yang
menyempitkan usus, atau ulkus, dapat menyebabkan konstipasi.
20

Penyebab fungsional konstipasi yang sering adalah kebiasaan buang


air besar yang tidak teratur, yang berkembang selama kehidupan
akibat penghambatan refleks defekasi normal. Kadang seseorang
menderita konstipasi yang begitu parah sehingga pergerakan usus
hanya terjadi beberapa hari sekali atau kadang hanya sekali dalam
seminggu. Tampaknya ini menyebabkan sejumlah besar feses
menumpuk di kolon, kadang-kadang menyebabkan distensi kolon
dengan diameter 3 sampai 4 inchi. Keadaan ini disebut megakolon
atau penyakit Hirschsprung. Penyebabnya adalah tidak adanya atau
defisiensi sel-sel ganglion pada pleksus mienterikus dalam sebuah
segmen kolon sigmoid.
b. Diare
Diare terjadi akibat pergerakan yang cepat dari materi tinja
sepanjang usus besar. Beberapa penyebab diare dengan sekuele
fisiologis yang penting adalah sebagai berikut :
1) Enteritis
Enteritis merupakan peradangan yang biasanya disebabkan
baik oleh virus maupun oleh bakteri pada traktus intestinalis.
2) Diare psikogenik
Tipe diare ini disebut diare emosional psikogenik yang
disebabkan oleh stimulasi berlebihan dari sistem saraf parasimpatis.
3) Kolitis Ulserativa
Kolitis ulserativa adalah penyakit peradangan dan ulserasi
daerah yang luas dari usus besar. Motilitas dari kolon yang
mengalami ulserasi sering begitu besar sehingga perpindahan
massa terjadi seharian, dibandingkan dengan keadaan biasa yaitu
10 sampai 30 menit. Sekresi kolon juga meningkat. Akibatnya,
pasien mengalami gerakan usus bersifat diare yang berulang.

5. Gangguan Umum dari Traktus Gastrointestinal


a. Muntah
Muntah merupakan suatu cara traktus gastrointestinal
membersihkan dirinya sendiri dari isinya ketika hampir semua bagian
atas traktus gastrointestinal teriritasi secara luas, sangat mengembang,
21

atau bahkan terlalu terangsang. Distensi atau iritasi yang berlebihan


dari duodenum menyebabkan suatu rangsangan khusus yang kuat
untuk muntah.
b. Mual
Mual adalah pengenalan secara sadar terhadap eksitasi bawah
sadar pada daerah medulla yang secara erat berhubungan dengan
atau merupakan bagian dari pusat muntah, dan mual dapat
disebabkan oleh (1) Impuls iritatif yang datang dari traktus
gastrointestinal, (2) Impuls yang berasal dari otak bawah yang
berhubungan dengan motion sickness, atau (3) Impuls dari korteks
serebri untuk mencetuskan muntah. Muntah kadang terjadi tanpa
didahului perangsangan prodromal mual, yang menunjukkan bahwa
hanya bagian-bagian tertentu dari pusat muntah yang berhubungan
dengan perangsangan mual.
c. Obstruksi Gastroinestinal
Traktus gastrointestinabrl dapat mengalami obstruksi pada
hampir semua bagian sepanjang perjalanannya. Beberapa penyebab
umum obstruksi adalah (1) kanker, (2) konstriksi fibrotic yang
merupakan akibat dari ulserasi atau dari pelekatan peritoneum, (3)
spasme dari suatu segmen usus, dan (4) paralisis suatu segmen usus.

6. Gas dalam Traktus Gastrointestinal : “Flatus”


Gas yang disebut flatus dapat memasuki traktus gastrointestinal
dari tiga sumber yang berbeda : (1) udara yang ditelan, (2) gas yang
terbentuk di dalam perut sebagai hasil kerja bakteri, atau (3) gas yang
berdifusi dari darah ke dalam traktus gastrointestinal. Kebanyakan gas
dalam lambung adalah campuran nitrogen dan oksigen yang berasal dari
udara yang ditelan. Pada orang secara umum, kebanyakan gas ini
dikeluarkan lewat sendawa. Hanya sejumlah kecil gas yang umumnya
muncul dalam usus halus, dan banyak dari gas ini merupakan udara yang
berjalan dari lambung masuk ke dalam traktus intestinalis.
22

ASUHAN KEPERAWATAN GASTROINTESTINAL

A. Pengkajian
Perawatan mendapatkan riwayat diet dari pasien, yang
memfokuskan pada isu seperti masukan tinggi makanan asap atau
diasinkan dan masukan buah dan sayuran yang rendah. Apakah pasien
mengalami penurunan berat badan; bila demikian seberapa banyak?

Apakah pasien merokok? bila demikian, seberapa banyak seharinya


dan seberapa lama? Apakah mengeluh ketidaknyamanan lambung selama
atau setelah merokok? Apakah pasien minum alcohol? Bila demikian,
seberapa banyak?

Perawat menanyakan pasien bila ada riwayat keluarga tentang


kanker. Bila demikian, anggota keluarga dekat atau langsung atau kerabat
jauh yang terkena? Apakah status perkawinan pasien? Adakah seseorang
yang dapat memberikan dukungan emosional

Selama pemeriksaan fisik ini dimungkinkan untuk melakukan


palpasi massa. Perawat harus mengobservasi adanya asites. Organ lain
diperiksa untuk nyeri tekan atau massa. Nyeri biasanya merupakan gejala
lambat.

2. Diagnose keperawatan

a. Pemenuhan informasi b.d. adanya evaluasi diagnostic, intervensi


kemoterapi, radioterapi, rencana pembedahan (gastrektomi), dan
rencana perawatan rumah.
b. Risisko injuri b.d pascaprosedur bedah gastrektomi
c. Actual/risiko ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. kemampuanan
batuk menurun, nyeri pascabedah.
d. Actual /risiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan
tubuh b.d. intake makanan tidak adekuat.
e. Nyeri b.d. iritasi mukosa esophagus, respons pembedahan.
f. Risiko tinggi infeksi b.d. adanya port de entrée luka pascabedah.
23

g. Kecemasan b.d. prognosis penyakit, salah interpretasi mengenai


informasi, dan rencana pembedahan.

3. Intervensi
a. Pemenuhan informasi b.d. adanya evaluasi diagnostic, intervensi
kemoterapi, radioterapi, rencana pembedahan (gastrektomi), dan rencana
perawatan rumah.

Tujuan: dalam waktu 1×24 jam informasi kesehatan terpenuhi.

Kriteria evaluasi:

1) Pasien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang


diberikan.
2) Pasien termotivasi untuk melaksanakan penjelasan yang telah
diberikan.
Intervensi Rasional

Tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh


kondisi sosioekonomi pasien. Perawat
menggunakan pendekatan yang sesuai
dengan kondisi pasien, dengan mengetahui
tingkat ppengetahuan pasien, perawat
Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang prosedurdapat lebih terarah dalam memberikan
diagnostic, intervensi kemoterapi, radiasi,pendidikan yang sesuai dengan
pembedahan esophagus, dan rencana perwatanpengetahuan pasien secara efektif dan
rumah efisien.

Cari sumber yang meningkatkan penerimaanKeluarga terdekat pasien perlu dilibatkan


informasi dalam

Pemenuhan informasi untuk menurunkan


risiko kesalahan interprestasi terhadap
24

informasi yang diberikan.

Pemeriksaan radiografi dengan barium tidak


menyebabkan rasa sakit. Perawat
Jelaskan dan lakukan intervensi prosedurmenyiapkan informed concent setelah
diagnostic radiografi dengan barium. pasien mendapatkan penjelasan.

Sangat penting bagi pasien untuk


mengetahui bahwa pemeriksaan endoskopi
Jelaskan dan lakukan intervensi pada pasien yangdan biopsy sangat penting untuk
akan dilakukan penmeriksaan diagnostic dan terapimembedakan antara karsinoma epidermal
endoskopi. dan adenokarsinoma.

Pasien perlu mengetahui baahwa


kemoterpai diberikan sebagai pelengkap
Jelaskan tentang terapi degan prosedur kemoterapiterapi bedah dan terapi radiasi.

 Lakukan pendidikan kesehatan praoperatif

 Programkan penyuluhan yang didasarkan


pada kebutuhan individu, rencanakan, dan
25

implementasikan pada waktu yang tepat.


 Manfaat dari instruksi oraoperatif telah
diketahui sejak lama. Setiap pasien
diajarkan sebagai seorang individu dengan
mempertimbangkan segala keunikan,
tingkat ansietas, kebutuhan serta harapan-
harapan terhadap prosedur bedah yang
akan dijalani.
 Jika sesi penyuluhan dilakukan beberapa
hari sebelum pembedahan, pasien mungkin
tidak ingat tentang apa yang telah dikatakan
perawat
Pemberitahuan persiapan pembedahan.

 Persiapan intestinal.
 Pembersihan dengan enema atau
laksatif dapat dilakukan pada malam
sebelum operasi dan mungkin
diulang jika tidak efektif. Tindakan ini
dilakukan untuk untuk mencegah
defekasi selama anestesi atau untuk
mencegah trauma yang tidak
diinginkan pada intestinal selama
pembedaha abdomen.
 Tujuan dari persiapan kulit saat
praoperatif adalah untuk mengurangi
sumber bakteri tanpa mencederai
kulit.
 Pencukuran area operasi dilakukan
apbila protocol lembaga atau ahli
bedah mengahruskan tindakan
tersebut.
 Istirahat merupakan hal yang
 Persiapan kulit penting dalam proses penyembuhan
26

normal. Kecemasan karena rencana


prosedur pembedahan dapat
menggangu waktu istirahat atau tidur
pasien.
 Pasien sudah menyelesaikan
administrasi dan mengetahui
 Pencukuran area operasi mengenai biaya pembedahan.
Pasien sudah mendapat penjelasan
dan menandatangani onformed
concent.

 Persiapan istirahat dan tidur

 Persiapan administrasi dan informed


concent

Ajarkan aktivitas pada postoperatif


 Salah satu tujuan dari asuhan
 Latihan napas diafragma keperawatan praoperatif adalah
untuk mengajarkan pasien cara
untuk menigkatkan ventilasi paru
27

dan oksigenasi darah setelah


tindakan anestesi umum.
 Tujuan peningkatan pergerakan
tubuh secara hati-hati pada
pascaoperasi adalah untuk
memperbaiki sirkulasi, untuk
mencegah stasisi vena, dan untuk
menunjang fungsi pernapasan yang
 Latihan tungkai optimal.

Pasien akan mendapat manfaat bila


mengetahui kapn keluarganya dan
Beritahu pasien dan keluarganya kapan pasientemannya bisa berkunjung setelah
sudah bias dikunjungi. pembedahan.

Manajemen nyeri dilakukan untuk


Beri informasi tentang manajemen nyri. peningkatan control nyeri pada pasien.

Beritahu pasien dan keluarga dengan hati-hati,Perawat menjelaskan dengan hati-hati agar
bahwa pada fase awal pasca bedah pasien akantidak terjadi keputusan untuk membatalkan
mendapat perawatan intensif. intervensi bedah

Berikan informasi pada pasien yang akan


menjalami perawatan rumah, meliputi:

 Hindari merokok  Pasien yang terbiasa merokok


sebelum pembedahan, kemungkinan
akan mengulangi kebiasaan ini
setelah pulang kerumah.

 Hindari aktivitas berat pascaoperasi  Aktivitas berat diperbolehkan setelah


12 minggu tindakan pembedahan.
Untuk aktivitas ringan, pekerjaan
28

rutin ringan, dan hubungan seksual


dapat dilakukan apabila pasien
mampu dan dilakukan secara hati-
hati.
 Komponen ini dapat memperlambat
pengosongan lambung,
memperberat peristaltic , dan
meningkatkan iritasi pada
gastrointestinal.

 Hindari minum kopi, the, coklat, minum  Konsistensi yang lunak pada
kola, minum beralkohol, dan makanan yang makanan akan mempermudah
sulit dicerna. proses pencernaan oleh system
gastrointestinal.

Intervensi untuk mencegah terjadinya


refluks.

 Anjarkan pasien untuk minum setiap akan


menelan makanan.

Beberapa agen nyeri farmakologi biasanya


memberikan reaksi negative pada
Hindari makan tiga jam sebelum tidur.
gastrointestinal.

Anjurkan untuk semampunya melakukan


manajemen nyeri nonfarmakologi pada saat nyeri
muncul.

b. Risiko injuri b.d. pascaprosedur bedah gastrektomi

Tujuan: dalam waktu 2×24 jam pascaintervensi reseksi esophagus,


pasien tidak mengalami injuri.
29

Kriteria evaluasi:

1) TTV dalam batas normal


2) Kondisi kepatenan selang dada optimal
3) Tidak terjadi infeksi pada daerah insisi

Intevensi Rasional

Untuk menurunkan risiko injuri dan


memudahkan intervensi pasien selama 48 jam
Lakukan perawatan di ruangan intensif di ruang perawat.

Kaji factor-faktor yang meningkatkan risikoSaat kondisi pascabedah, akan terdapat


injuri. banyak drain pada tubuh pasien.

Pengkajian status neurologi dilakukan pada


setiap pergantian sif. Setiap perubahan status
Kaji status neurologi dan laporkan apabilahneurologi merupakan salah satu tanda terjadi
terdapat oerubahan status neurologi. komplikasi bedah.

Secara umum pasien pasca bedah


esofagektomi akan tidak terpasang selang
nasogastrik. Perawat berusaha untuk tidak
mengubah posisi, mengngkat, memanipulasi,
atau mengirigasi selang kecualimemang
Monitor kondisi selang nasogastrik. diperlukan untuk terapi.

Kebocoran merupakan salah satu komplikasi


tersering pada pascabedah gastrektomi. Tanda
Monitor adanya komplikasi kebocorandan gejala yang lazim didapatkamn meliputi
anastomosis pascabedah, dan dilakukanhipertermi, nyri inflamasi, takipnea, takikardi
intervensi untuk mencegah atau menurunkansecara tiba-tiba, hipoksemia, emfisema
kondisi tersebut. drainase.
30

Antibiotic menurunkan risiko infeksi yang akan


menimbulkan reaksi inflamasi local dan dapat
Kolaborasi untuk pemberian antibioticmemperlambat proses penyembuhan
pascabedah. pascafunduplikasi lambung.

c. Actual/risiko ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. kemampuan batuk


menurun, nyeri pascabedah.

Tujuan: dalam waktu 2×24 jam pascabedah garsektomi, kebersihan jalam


napas pasien tetap optimal.

Kriteria evaluasi:

1) Jalan napas bersih, tidak ada akumulasi daerah pada jalan napas.
2) Suara naps normal, tidak ada bunyi napas tambahan seperti stridor.
3) Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan
4) RR dalam batas normal 120-20x/mnt

Intervensi Rasional

Deteksi awal untuk interprestasi intervensi


selanjutnya. Salah satu cara untuk mengetahui
apakah pasien bernapas atau tidak adalah
dengan menempatkan telapak tangan diatas
hidung dan mulut pasien. Gerakan toraks dan
diafragma tidak selalu menandakan pasien
Kaji dan monitor jalan napas bernapas.

Pemberian oksigen dilakukan pada fase awal


pasca bedah. Pemenuhan oksigen dapat
Beri oksigen 3 liter/menit membantu meningkatkan PaO2 di cairan otak,
yanhg akan memengaruhi pengaturan
31

pernapasan.

Pada pasien pascabedah dengan tingkat


toleransi yang baik, pernapasan diafragma
dapat meningkatkan ekspansi paru. Berbagai
Instruksikan pasien untuk napas dalam dantindakan dilakukan untuk memperbesar
melakukan batuk efektif. ekspansi dada dan pertukaran gas.

Tujuan dari fisioterapi dada adalah


memfasilitasi bersihan jalan napas dari secret
yang tidak dapat dilakukan dengan batuk
efektif, meningkatkan pertukaran udara yang
adekuat, menurunkan frekuensi pernapasan
sertameningkatkan ventilasi dan pertukaran
udara.

 Petawat melakukan auskultasi agar


dapat menentukan area paru dengan
bunyi napas ronkh, sebagai dasar untuk
menentukan pengaturan posisi.
 Sebelum melakukan intervensi, perawat
mengkaji tingkat kemampuan dan kerja
Lakukan fisioterapi dada sama pasien. Apabila tingkat toleransi
dari pasien tidak optimal, perawat
 Tetapkan lokasi dari setiap segmen bertugas menjaga dan mencegah
paru. trauma sekunder dari intervensi seperti
 Jga posisi pasien jangan sampai jatuh, memasang pagar pengaman.
gunakan pagar pengaman yang ada  Apabila kemampuan toleransi pasien
pada sisi tempat tidur. baik maka penjelasan dan kerja sama
 Lakukan diskusi dengan pasien tentang pasien akan meningkatkan efisiensi dan
teknik penatalaksanaan, dan efektivitas tindakan.
demonstrasikan langkah demi langkah  Pemberian vibrasi dan perkusi sesuai
prosedur yang akan dilaksanakan. area penumpukan secret akan
 Lakukan vibrasi dan perkusi memobilisasi secret dari jalan napas
32

kecil ke jalan napas besar sehingga


akan mudah dibatukkan.
Nebulizer digunakan dengan cara meghirup
larutan obat yang telah diubah menjadi bentuk
kabut atau uap. Pengiriman obat nebulizer ke
jalan napas sangat cepat, sehingga aksinya
lebih cepat dalam mengencerkan secret jalan
Lakukan nebulizer napas.

Kesulitan bernapas dapat terjadi akibat sekresi


lender yang berlebihan. Mengganti posisi
Bersihkan secret pada jalan napas dan lakukanpasien dari satu sisi ke sisi lainnya
suctioning apabila kemampuan mengevakuasimemungkinkan cairan yang terkumpuluntuk
secret tidak efektif. keluar dari sisi mulut.

Apabila tingkat toleransi pasien tidak optimal,


lakukan kolaborasi dengan tim medic untuk
Evaluais dan monitor keberhasilan intervensisegera dilakukan terapi endoskopi aytau
pembersihan jalan napas. pemasangan tamponade balon.

d. Risiko tinggi keseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d


intake makanan tidak adekuat.

Tujuan: setelah 3×24 jam pada pasien nonbedah dan setelah 7×24 jam
pascabedah asupan nutrisi dapat optimal dilaksanakan.

Kriteria evaluasi:

1) Pasien dapat menunjukkan metode menelan makanan yang tepat .


2) Terjadi penurunan gejala refluks esophagus, meliputi odinofagia
berkurang, pirosis berkurang, RR dalam batas normal 12-20x/mnt.
3) Berat badan pada hari ke-7 pascabedah meningkat 0,5 kg.
33

Intervensi Rasional

 Agar makanan dapat lewat dengan


Intevensi nonbedah: mudah ke lambung.
 Beberapa pasien mungkin mengalami
 Anjurkan pasien makan dengan alergi terhadap beberapa komponen
perlahan dan mengunyah makanan makanan tertentu dan beberapa
dengan saksama. penyakit lain, seperti diabetes mellitus,
 Evaluasi adanya alergi makanan , dan hipertensi,gout dan lainnya memberikan
kontraindikasi terhadap makanan. manifestassi terhadap persiapan
 Sajikan makanan dengan cara yang komposisi makanan yang akan
menarik. diberikan.
 Fasilitasi pasien memperoleh diet biasa  Membantu merabgsang nafsu makan.
yang disukai pasien  Mempertimbangkan keinginan individu
 Pantau intake dan output, anjurkan dapat memperbaiki asupan nutrisi.
untuk timbang berat badan secara  Berguna mengukur keefektifan nutrisi
periodic dan dukungan cairan.
 Lakukan dan ajarkan perawatan mulut  Menurunkan rasa tidak enak karena
sebelum dan sesudah intervensi adanya sisa makanan dan bau obat
pemeriksaan peroral. yang dapat merangsang pusat muntah.
Intervensi pascabedah

 Kaji kondisi dan toleransi  Parameter penting adalah dengan


gastrointestinal pascagastrektomi. melakukan auskultasi bisisng usus.
 Lakukan perawatan mulut. Apabila didapatkan bising usus artinya
 Masukkan 10-20 ml cairan sodium fungsi gastrointestinal sudah pulih
klorida setiap sif melalui selang setelah anestesi umum.
nasogastrik.  Intervensi ini untuk menurunkan risiko
 Berikan nutrisi cairan melalui selang infeksi oral.
nasogastrik atau atas instruksi medis  Pembersihan ini selain untuk juga untuk
 Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai meningktkan penyembuhan pada area
jenis nutrisi yang akan digunakan pascagastrektomi.
34

pasien.  Pemberian nutrisi cair dilakukan untuk


 Hindari makan 3 jam sebelum tidur memenuhi asupan nutrisi melalui
gastrointestinal. Pemberian nutrisi
melalui nasogastrik harus
dikolaborasikan dengan tim medis yang
merawat pasien
 Ahli gizi harus terlibat dalam penentuan
komposisi dan jenis makanan yang akan
diberikan sesuai dengan kebutuhan
hidup
 Intervensi untuk mencegah terjadinya
refluks.

e. Nyeri b.d. iritasi mukosa lambung, respons pembedahan

Tujuan: dalam waktu 7X24 jam pascabedah, nyeri berkurag atau


beradaptasi

Kriteria evaluasi:

1) Secara subjektif menyatakan nyeri berkurang atau beradaptasi


2) Skala nyeri 0-1 (dari skala 0-4)
3) TTV dalam batas normal, wajah terlihat rileks.

Intervensi Rasional

Pendekatan dengan menggunakan relaksasi


Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakandan tetapi nonfarmakologi telah menunjukkan
pereda nyeri nonfarmakologi dan noninvasive keefektifan dalam mengurangi nyeri.

Lakukan manajemen nyeri.

 Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST  Pendekatan PQRST dapat secara


35

 Istirahatkan pasien pada saat nyeri komprehensif menggali kondisi nyeri


muncul. pasien. Apabila pasien mengalami
 Ajarkan teknik relaksasi napas dalam skala nyeri (dari skala 0-4) ini
pada saat nyeri muncul. merupakan peringatan yang perlu
 Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri. diwaspadai karena merupakan
 Rawat pasien i ruang intensif manifestasi klinik dari komplikasi
 Lakukan manajemen sentuhan pascabedah esofagektomi.
 Istiraha, secara fisiologis akan
menurunkan kebutuhan oksigen yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
metabolsme basal.
 Meningkatkaan asupn oksigen
sehingga akan menurunkan nyeri
sekunder dari iskemia intestinal.
 Distraksi (pengalihan perhatian) dapat
menurunkan internal.
 Untuk mengontrol nyeri pasien harus
dirawat di ruang intensif. Lingkungan
tenang akan menurunkan stimulus nyeri
eksternal. Pembatasan pengunjung
membantu meningkatkan kondisi
oksigen ruangan. Istrahat akan
menurunkan kebutuhan oksigen
jaringan peifer.
 Manajemen sentuhan pada saat nyeri
berupa sentuhan dukungan psikologis
dapat membantu menurunkan nyeri

Tingkatkan pengetahuan pasien mengenaiPengetahuan akan membantu mengurangi


sebab-sebab nyeri dan menghubungkan berapanyeri dan dapat membantu mengembangkan
lama nyeri akan berlangsung. kepatuhan pasien terhadap rencana terapi.
36

Analgetik diberikan untuk membantu


Tindakan kolaborasi: menghambat stimulus nyeri pusat persepsi
nyeri di korteks serebri sehingga nyeri dapat
Analgetik intravena berkurang.

f. Risiko tinggi infeksi b.d adanya port de entree luka pascabedah

Tujuan: dalam waktu 12X24 jam terjadi perbaikan pada integrasi jaringan
lunak dan tidak terjadi.

Kriteria evaluasi:

1) Jahitan dilepas pada hari ke-12 tanpa adanya tanda-tanda infeksi dan
peradangan pada area luka pembedahan.
2) Leukosit dalam batas normal.
3) TTV dalam batas normal.

Intervensi Rasional

Kaji jenis pembedahan, waktu pembedahan,Mengidentifikasikan kemajuan atau


dan bedah dalam melakukan perawatan luka. penyimpanan dari tujuan yang di harapkan

Kondisi bersih dan kering akan menghindari


Jaga kondisi balutan dalam keadaan bersih dankontaminasi komensal- yang akan
kering memyebabkan proses penyembuhan luka

Lakukan perawatan luka.

 Lakukan perawatan luka steril pada hari  Perawatan luka sebaiknya tdak
ke dua pascabedah dan di ulang setiap dilakukan setiap hari, untuk mengurangi
dua hari sekali pada luka abdomen. kontak dengan luka yang steril,
 Lakukan perawatan luka pada area sehingga mencegah kontaminasi kuman
37

sekitar drain. pada luka bedah.


 Bersihkan luka dan cairan dengan  Semua drain pascabedah gastrektomi
cairan antiseptik jenis iodine providum merupakan material yang menjadi jalan
dengan cara swabbing dari arah dalam masuk kuman. Perawat melakukan
ke luar. perawtatan luka setiap hari atau
 Bersihkan bekas sisa iodine providum disesuaikn dengan kondisi pembalut
dengan alkohol 70% atau normal salin drai, apabila kotor maka harus diganti.
dengan cara swabbing dari arah dalam  Pembersihan debris dan kuman sekitar
ke luar luka dengan mengoptimalkan kelebihan
 Tutup luka dengan kassa steril dan dari iodine providum sebagai antiseptik
tutup seluruh permukaan kassa dengan dan dengan arah dalam keluar dapat
plester adhesif. mencegah kontaminasi kuman ke
jaringan luka.
 Antiseptik iodine providum mempunyai
kelemahan dalam menurunkan proses
epitalisasi jaringan sehingga
memperlambat pertumbuhan luka, maka
harus dibersihkan dengan alkohol atau
normal salin.
 Penutupan scara menyeluruh dapat
menghindari kontaminasi dari benda
atau udara bersentuhan dengan luka
bedah.
Angkat drain pascabedah sesuai instruksiPengangkatan drain sesuai indikasi bertujuan
medis untuk menurunka risiko infeksi

Antibiotik injeksi diberikan selama tiga hari


pascabedah, kemudian dilanjutkan antibiotik
oral sampai jahitan dilepas. Perawat berperan
mengkaji adanya reaksi dan riwayat aleri sera
Kolaborasi peggunaan antibiotik memberikan antibiotik sesua instruksi dokter.

Kolaborasi penggunaan antibiotik. Antibiotik injeksi diberukan selama tiga hari


pascabedah, keudian dilanjutkan antibiotik oral
38

sampai jahitan dilepas. Perawat berperan


menkaji adanya reaksi dan riwayat alergi serta
memberikan antibiotik sesuai instruksi dokter.

g. Kecemasan b.d. prognosis penyakit, salah interpretasi mengenai


informasi.

Tujuan: dalam waktu 1X24 jam pasien secara subjektif melaporkan rasa
cemas berkurang.

Kriteria evaluasi:

1) Pasien mampu engungkapkan perasaannya kepada perawat.


2) Pasien dapat mendemonstrasikan keterampilan pemecahan
masalahnya dan perubahan koping yang digunakan sesuai situasi
yang dihadapi
3) Pasien dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakutan dibawah
standar.
4) Pasien dapat rileks dan tidur/istirahat dengan baik.

Intevensi Rasional

Monitor respon fisik seperti kelemahan,Digunakan dalam mengevaluasi derajat/tingkat


perubahan tanda vital, atau gerakan yangkesadaran/kosentrasi, khususnya ketika
berulang-ulang. melakukan komunikasi verbal.

Memberikan kesempatan untuk berkonsentrasi,


kejelasan dari rasa takut, dan mengurangi
Anjurkan pasien dan keluarga untukcemas yang berlebihan
mengungkapkan dan mengekspresikan rasa
takutnya.
39

Hubungan emosional yang baik antara perawat


dan pasien akan memengaruhi penerimaan
pasien terhadap tindakan pembedahan. Aktif
mendengar semua kekhawatiran dan
keprihatinan pasien adalah bagian penting dari
Beri dukungan pascabedah evaluasi praoperatif.

Memberikan waktu mengekspresikan perasaan,


menghilangkan cemas, dan peilaku adaptasi.
Adanya keluarga dan taman-teman yang dipilih
pasien dan akyivita pengalihan akan
Berikan privasi untuk pasien dan orang terdekat menurunkan perasaan terisolasi.

Pasien yang divonis mengalami kanker


lambung mempunyai tingkat penerimaan yang
bervariasi. Dengan pendekatan yang baik
sesuai dengan toleransi individu, maka
ungkapkan yang dikemukakan pasien dapat
Beri kesempatan kepada pasien untukmenghilangkan ketegangan terhadap
mengungkapkan ansietasnya. kekhawatiran yang tidak diekspresika.

4. Evaluasi
Kriteria evaluasi yang diharapkan pada pasien kanker lambung
setelah mendapat intervensi keperawatan adalah sebagai berikut:

a. Terpenuhinya informasi mengenai pemeriksaan diagnostik, intervensi


kemoterapi, radiasi, dan keadaab prabedah.
b. Tidak mengalami injuri dan komplikasi pascabedah.
c. Pasien tidak mengalami penurunan berat badan.
d. Terjadi penurunan respons nyeri
e. Tidak terjadi infeksi pascabedah.
f. Kecemasan pasien berkurang.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut


sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk
menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi,
menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian
makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut
dari tubuh.
Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring),
kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus.
Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran
pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.

B. Saran

Setelah mengetahui proses sistem pencernaan serta gangguan


yang diakibatkan jika kekurangan nutrisi diharapkan khususnya masyarakat
Indonesia dapat meminimalisir angka penurunan kesehatan.

40
41

DAFTAR PUSTAKA

https://harnianurse.wordpress.com/2012/12/12/asuhan-keperawatan-
gastrointestinal/ diakses pada tanggal 11 Desember 2017 jam 06.52
AM

http://kti-akbid.blogspot.co.id/2011/03/makalah-gastrointestinal.html diakses
pada tanggal 11 Desember 2017 jam 05.40 AM

https://www.scribd.com/doc/47310850/makalah-gastrointestinal diakses pada


tanggal 11 Desember 2017 jam 05.40 AM

Muttaqin, Arif & Sari, Kumala 2011. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi


Asuhan Keperawatn Medikal Bedah.Salemba Medika: Jakarta.

Price dan Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit


Volume 2 Edisi 6. EGC, Jakarta.

Sudoyo, Aru W., dkk, 2007, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV.
FKUI, Jakarta.

Suratun & Lusianah. 2010. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem


Gastrointestinal. Trans Info Media: Jakarta.