Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KASUS

TONSILOFARINGITIS FOLIKULAR KRONIS


EKSASERBASI AKUT

PEMBIMBING :
Prof. dr. Soepomo Soekardono, Sp. THT-KL (K)

OLEH :
Michael Carrey (2012-061-040)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN THT–KL


PERIODE 01 DESEMBER 2014 – 10 JANUARI 2015
UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA RUMAH
SAKIT PANTI RAPIH, JOGJAKARTA

0
BAB 1 STATUS PASIEN

1.1 Identitas Pasien


Nama : Nn. W.
Umur : 14 tahun.
Jenis Kelamin : Perempuan.
Pendidikan : SLTA.
Pekerjaan : Pelajar.
Alamat : Asrama putri stece 2 Trenggono Jl. dr. Sutomo No. 22
Baciro Gondokusuman, Jogjakarta.
Tanggal Pemeriksaan: 06 Desember 2014.

1.2 Anamnesis
Dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 06 Desember 2014.
Keluhan utama : Nyeri menelan sejak 2 hari yang lalu.
Keluhan tambahan : Demam, tenggorokan gatal, nyeri kepala dan
badan terasa lemas sejak 2 hari yang lalu.

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang ke poli THT dengan keluhan nyeri menelan sejak 2 hari yang
lalu, nyeri disertai dengan rasa mengganjal ketika menelan dan sulit untuk
makan. Keluhan ini pernah dirasakan sebelumnya. Selain itu, pasien juga
mengeluhkan adanya demam sejak 2 hari yang lalu, demam tidak diukur
suhunya dan dirasakan pada waktu siang – malam hari. Keluhan lainnya yaitu
tenggorokan terasa gatal, nyeri kepala dan badan terasa lemas sejak 2 hari
yang lalu. Keluhan ini dirasakan mengganggu aktivitas pasien sehari – hari.
Pasien tidak mengeluhkan adanya gangguan nafas, nyeri telinga, kekakuan
pada rahang, dan bau mulut. Keluarga pasien tidak mengeluhkan mendengkur
saat pasien tidur.

Riwayat penyakit dahulu :

1
• Riwayat penyakit yang sama sekitar 7 tahun yang lalu. Dahulu sudah
disarankan oleh spesialis THT untuk operasi amandel, namun pasien
menolak.
• Riwayat alergi disangkal (baik obat, makanan, maupun lainnya).
• Riwayat asma disangkal.
• Riwayat sakit gigi disangkal.
• Riwayat nyeri ulu hati disangkal.
• Riwayat operasi sebelumnya disangkal.

Riwayat penyakit keluarga :


• Riwayat penyakit serupa di keluarga disangkal.
• Riwayat alergi disangkal (baik obat, makanan, maupun lainnya).
• Riwayat asma disangkal.
• Riwayat keganasan disangkal.

Riwayat pengobatan :
Pasien telah berobat ke dokter umum di RS Panti Rapih dua hari yang lalu,
dan mendapat obat starcef 2 x 1, lemocin 5 x 1, dan ultracet 3 x 1/2. Akan
tetapi gejala yang dirasakan tidak kunjung membaik.

Riwayat kebiasaan :
Pasien suka mengkonsumsi es/air dingin dan gorengan.

1.2.1 Resume Anamnesis


Pasien perempuan, usia 14 tahun datang ke poli THT dengan
keluhan nyeri menelan sejak 2 hari yang lalu, nyeri disertai dengan
rasa mengganjal sewaktu menelan dan sulit untuk makan. Selain itu,
pasien juga mengeluhkan adanya demam, rasa gatal di tenggorokan,
nyeri kepala dan badan terasa lemas sejak 2 hari yang lalu.
Keluhan ini pernah dirasakan sekitar 7 tahun yang lalu, pasien
pernah di sarankan untuk operasi amandel oleh spesialis THT,
namun saat itu orang tua pasien menolak.

2
Pasien telah berobat ke dokter umum dan mendapat pengobatan,
namun tidak kunjung membaik. Pasien juga memiliki kebiasaan
mengkonsumsi es/air dingin dan gorengan.

1.3 Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum : Tampak tenang.
Kesadaran : Compos mentis.
Tanda – tanda vital :
Tekanan darah : 110/70 mmHg.
Laju nadi : 92 x/menit.
Laju pernafasan : 20 x/menit.
Suhu : 38,1oC.
Wajah : Adenoid face -.
Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,
pupil isokor Ø 3mm/3mm, refleks cahaya +/+.
Hidung :
Inspeksi : Tidak terlihat sekret, deformitas –.
Palpasi : Nyeri tekan –, deviasi septum nasi –,
krepitasi –.
Rinoskopi anterior : Mukosa hidung tidak hiperemis, massa –/–,
sekret –/–. deviasi septum nasi –, konka tidak
edema.
Rinoskopi posterior : Tidak dilakukan.

Telinga dekstra :
Inspeksi : Deformitas –, laserasi –, sekret –, serumen –.
Palpasi : Tragus pain –.

3
Otoskopi : Kanalis akustikus eksternus kedua telinga
tidak hiperemis, sekret –, serumen –, membran
timpani kedua telinga terlihat mengkilap dan
intak, cone of light +, hiperemis –,
retraksi/bulging –.
Telinga sinistra :
Inspeksi : Deformitas –, laserasi –, sekret –, serumen –.
Palpasi : Tragus pain –.
Otoskopi : Kanalis akustikus eksternus kedua telinga
tidak hiperemis, sekret –, serumen –, membran
timpani kedua telinga terlihat mengkilap dan
intak, cone of light +, hiperemis –,
retraksi/bulging –.

Mulut dan orofaring :


Mukosa bibir : Kering.
Rongga mulut : Stomatitis –, karies dentis –, halitosis –.
Uvula : Terletak di tengah.
Faring : Hiperemis +, edema +, pseudomembran –.
Tonsila palatina : Hiperemis +, edema +, ukuran T3/T3,
detritus +/+.
Lidah : Laserasi –, permukaan kasar dan kotor.

4
Leher :
Teraba pembesaran kelenjar getah bening, nyeri tekan KGB – dan tidak
ditemukan adanya massa.

1.3.1 Resume Pemeriksaan Fisik


Pasien perempuan, usia 14 tahun, dengan keadaan umum tampak
tenang, kesadaran kompos mentis, tanda – tanda vital dengan suhu
38,1oC dan lainnya dalam batas normal. Pada pemeriksaan mulut
dan orofaring didapatkan faring hiperemis dan edema. Tonsila
palatina tampak hiperemis, edema, ukuran T3/T3 dan detritus +/+.
Teraba pembesaran kelenjar getah bening di leher, nyeri tekan KGB
–. Pemeriksaan telinga dan hidung dalam batas normal, serta
pemeriksaan fisik lainnya juga dalam batas normal.

1.4 Tabel Tanda dan Gejala Penyakit Tenggorokan


1.4.1 Kongenital
Tanda dan Laringomalasia Atresia Laringocele Kasus
gejala laring
kongenital

Stridor + + - -
inspiratoar

Stridor - + - -
ekspiratoar

Distress nafas + + + -
Semakin

berat saat
menangis

Sulit minum + - - -
Gangguan + - - -
tumbuh
kembang

Afoni - + - -

5
Whispery - + - -
Suara serak - + - -
Serak - - + -
intermiten

Sinus - - + -
menggembung
saat inspirasi
dan ekspirasi

1.4.2 Inflamasi
Tanda dan Faringitis Laringitis Esofagitis Tonsilitis Kasus
gejala erosif

Demam + + - + +
Gatal di + + - + +
tenggorokan
Lesu + + - + +
Nyeri sendi + + - - -
Nyeri + + - + +
menelan

Tidak nafsu + + - + +
makan

Nyeri + + - + -
telinga

Serak - + - + -
(suara
berat)

Malaise - + - + +
Batuk kering - + - - -
dengan
dahak kental

6
Sukar - - + + +
menelan (jarang)
Obstruksi - - + + -
jalan nafas (kondisi
berat)

Gangguan - - + - -
asam basa

Trismus - - - + -
Lidah kotor - - - + +
Nyeri kepala - - - + +

Halitosis - - - + -
Pembesaran - - - + +
KGB
regional
Rasa panas - - - + +
dan sakit di
orofaring

1.4.3 Infeksi
Tanda dan Ludwig Tonsilitis Peritonsiler Kasus
gejala angina difteri abses

Demam + + + +
Nyeri + + + +
tenggorokan

Nyeri leher + - - -
Pembengkakan + - + -
submandibular Dan nyeri
tekan

Dasar mulut + - - -
bengkak

7
Lidah + - - -
terdorong
ke
atas
Sesak nafas + - - -
Nyeri kepala - + - +
Tidak nafsu - + - +
makan

Badan lemah - + - +
Mual muntah - + + -
Membran yang - + - -
mudah
berdarah
Otalgia - - + -
Trismus - - + -

Tanda dan Laringitis Abses Abses Laringitis Kasus


gejala TB retrofaring parafaring sifilis

Serak + + - + -
Batuk kering + - - - -
Nyeri telinga + - - - -
Nyeri menelan + + + - +
Afoni + - - + -
Dyspnea + + - + -
Demam - + + - +
Kaku leher - + - - -
Posisi kepala - + - - -
miring kearah
sehat
Leukositosis - - + - -
Trismus - - + - -

8
Pembengkakan - - + - -
sekitar angulus
mandibularis

1.4.4 Trauma
Tanda Granuloma Hematoma Ulkus Kasus
dan Singer’s kontak
node
Gejala
Serak + + + + -
(intermiten (setelah (serak (persisten)
atau trauma) mendadak
persisten) setelah
suara
keras)

Afoni + - - - -
Nada + - - - -
tinggi
sulit

Nyeri - - - + -
lokal

Referred - - - + -
pain

1.4.5 Korpus Alienum


Tanda dan Laring Trakea Bronkus Esofagus Kasus
gejala

Disfonia + - - - -
Stridor + - - - -
Retraksi + - - - -
suprasternal,
epigastrik,
sela iga,
klavikula

Sianosis + - - - -

9
Batuk - + + - -
Nafas berbunyi - + + - -
Sesak nafas - + + - -
Palpatory - + - - -
thud/audible
snap

Check/ball valve - - + - -
→ emfisema
Stop valve → - - + - -
atelektasis
pulmo

Nyeri menelan - - - + +
Sulit menelan - - - + -
Regurgitasi - - - + -
Hipersalivasi - - - + -
Hematemesis - - - + -
Nyeri - - - + -
dada/epigastrium

1.4.6 Keganasan
Tanda dan Ca Angiofibroma Tumor Tumor Kasus
gejala nasofaring nasofaring ganas ganas
belia laring esofagus

Epistaksis + + - - -
Berulang dan
masif

Pilek + + - - -
Hidung + + - - -
tersumbat Progresif
Tinitus + - - - -
Nyeri + + - - -
telinga

10
Diplopia + - - - -
Parestesia + - - - -
pipi

Neuralgia + - - - -
trigeminal

Parese + - - - -
arkus faring

Sering + - - - -
tersedak

Benjolan di + - - - +
leher (pembesaran
KGB)
Gangguan - + - - -
penghidu

Tuli - + - - -
Nyeri - + - - -
kepala hebat

Deformitas - + - - -
wajah

Serak - - + + (suara -
parau)

Batuk - - + + -
sampai (batuk
distress sampai
nafas sesak
nafas)

Hemoptisis - - + - -
Nyeri - - - + +
menelan

11
Sulit - + - + -
menelan
Regurgitasi - - - + -
disertai
bercak
darah

Penurunan - - - + -
berat
badan

Nyeri - - - + -
retrosternal

Stridor - - - + -
ekspirasi

1.4.7 Lain – Lain


Tanda dan Hiperplasia tonsil Hiperplasia Kasus
gejala faringeal/adenoid tonsil (bersama
hiperplasia
adenoid)

Obstruksi nasal + + -
Sulit makan + - +
Stridor + + -
Mendengkur + + -
Adenoid face + - -
Pembesaran + - -
limfonodus
submandibular

Rhinolalia clausa + - -
Obstruksi isthmus - + +
fauction (sulit
makan, sulit
menelan)

12
1.5 Diagnosa Kerja
Tonsilofaringitis folikularis kronis eksaserbasi akut.

1.6 Diagnosa Banding


Tonsilofaringitis akut.
Tonsilitis difteri.

1.7 Tatalaksana
1.7.1 Preventif
Menghindari makan gorengan, air dingin, soda, es dan makanan
manis (permen dan coklat).

1.7.2 Konservatif
• Kumur air garam hangat sehabis makan.
• Menjaga kebersihan rongga mulut.
• Banyak minum air putih minimal 8 gelas sehari.
• Istirahat (bed rest).

1.7.3 Medikamentosa
• Claneksi (Amoxicillin + Clavulanic acid) 2 dd 625mg.
• Kotrimoksazole (Trimethoprim + sulfamethoxazole) 2 dd
480mg.
• Cataflam (K – Diclofenac) 2 dd 25mg.
• Sanmol (Paracetamol) 2 dd 500mg.

1.7.4 Tindakan
• Pro – tonsilektomi (indikasi relatif).

1.8 Prognosis
• Quo ad vitam : bonam. Quo ad
functionam : bonam.
• Quo ad sanationam : dubia ad bonam (bila
tidak dilakukan

13
tonsilektomi).
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi
2.1.1 Tonsil1
Gabungan antara tonsil lingual anterior, tonsil palatina lateral, dan tonsil
faringeal (adenoid) posterosuperior membentuk cincin limfoid atau jaringan
adenoid disekitar ujung sisi atas dari faring, yang dikenal sebagai cincin
Waldeyer. Semua struktur cincin Waldeyer memiliki gambaran histologis
yang sama dan fungsi yang sama.

Gambar 2.1 Penampang dorsal lidah, tonsil lingual dan tonsil palatina
merupakan bagian dari cincin Waldeyer2

Gambar 2.2 Potongan sagital nasofaring2

14
Gambar 2.3 Cincin Waldeyer3

Tonsil palatina merupakan akumulasi terbesar dari jaringan limfoid yang


berada di cincin Waldeyer dan berbeda dengan tonsil lingual dan faringeal,
tonsil palatina memiliki ukuran yang lebih kokoh dengan kapsul tipis dan
permukaan yang dalam.
Fossa tonsiler terdiri dari tiga otot: otot palatoglossus, yang membentuk pilar
anterior; otot palatofaringeal, yang membentuk pilar posterior; dan otot
konstriktor superior dari faring, yang membentuk bagian terbesar dari
tonsillar bed. Dinding ototnya tipis, dan bagian luar dari dinding faring
merupakan saraf glosofaringeus.
Aliran darah arteri ke tonsil masuk terutama melewati kutub bawah, dengan
cabang – cabangnya juga melewati kutub atas. Terdapat tiga arteri yang
melewati kutub bawah yaitu: cabang dari arteri lingualis dorsalis anterior,
arteri palatina asenden posterior, dan cabang arteri fasialis. Di kutub atas,
arteri faringeal asenden masuk lewat posterior, dan sedikit dari arteri palatina
masuk melewati permukaan anterior. Cabang arteri fasialis merupakan yang
terbesar. Aliran darah vena melalui pleksus peritonsiler disekitar kapsul.
Pleksus mengarah ke vena lingual dan faringeal, yang akan dibawa ke vena
jugularis interna.

15
Gambar 2.4 Aliran darah tonsil palatina2

Persarafan regio tonsil melalui nervus glosofaringeus di bagian kutub bawah


dan sedikit melalui cabang desenden dari saraf palatina. Penyebab dari nyeri
telinga yang menjalar dengan tonsilitis melalui cabang saraf glosofaringeus.
Drainase limfatik eferen melalui nodus limfatikus servikal, terutama nodus
jugulodigastrik.

2.1.2 Faring4
Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang bentuknya seperti corong,
yang besar di bagian atas dan sempit di bagian bawah. Kantong ini mulai dari
dasar tengkorak terus menyambung ke esofagus setinggi vertebra servikalis
ke – 6. Ke atas, faring berhubungan dengan rongga hidung melalui koana, ke
depan berhubungan dengan rongga mulut melalui isthmus orofaring,
sedangkan dengan laring dibawah berhubungan melalui aditus laring dan ke
bawah berhubungan dengan esofagus. Panjang dinding posterior faring pada
orang dewasa kurang lebih 14 cm; bagian ini merupakan bagian dinding
faring yang terpanjang. Dinding faring dibentuk oleh (dari dalam keluar)
selaput lender, fasia faringobasiler, pembungkus otot dan sebagian fasia
bukofaringeal. Faring terbagi atas nasofaring, orofaring, dan laringofaring.
Unsur – unsur faring meliputi mukosa, palut lender (mucous blanket) dan otot.
Bentuk mukosa faring bervariasi, tergantung pada letaknya. Pada nasofaring
karena fungsinya untuk saluran respirasi, maka mukosanya bersilia, sedang
epitelnya torak berlapis yang mengandung sel goblet.

16
Dibagian bawahnya, yaitu orofaring dan laringofaring, karena fungsinya
untuk saluran cerna, epitelnya gepeng berlapis dan tidak bersilia.
Disepanjang faring dapat ditemukan banyak sel jaringan limfoid yang
terletak dalam rangkaian jaringan ikat yang termasuk dalam sistem
retikuloendotelial. Oleh karena itu faring dapat disebut juga daerah
pertahanan tubuh terdepan.
Daerah nasofaring dilalui oleh udara pernafasan yang diisap melalui hidung.
Dibagian atas, nasofaring ditutupi oleh palut lendir yang terletak diatas silia
dan bergerak sesuai dengan arah gerak silia ke belakang. Palut lendir ini
berfungsi untuk mengangkap partikel kotoran yang terbawa oleh udara yang
diisap. Palut lendir ini mengandung enzim lisozim yang penting untuk
proteksi.
Otot – otot faring tersusun dalam lapisan melingkar dan memanjang. Otot –
otot yang sirkuler terdiri dari muskulus konstriktor faring superior, media dan
inferior. Otot – otot ini terletak di sebelah luar. Otot – otot ini berbentuk kipas
dengan tiap bagian bawahnya menutup sebagian otot bagian atasnya dari
belakang. Disebelah depan, otot – otot ini bertemu satu sama lain dan di
belakang bertemu pada jaringan ikat yang disebut raphe faring. Kerja otot
konstriktor untuk mengecilkan lumen faring. Otot – otot ini dipersarafi oleh
nervus vagus.
Otot – otot longitudinal adalah muskulus stilofaring dan muskulus
palatofaring. Letak otot – otot ini disebelah dalam. Muskulus stilofaring
gunanya untuk melebarkan faring dan menarik faring, sedangkan muskulus
palatofaring mempertemukan isthmus orofaring dan menaikkan bagian
bawah faring dan laring. Jadi kedua otot ini bekerja sebagai elevator. Kerja
kedua otot itu penting pada waktu menelan. Muskulus stilofaring dipersarafi
oleh N. IX dan muskulus palatofaring dipersarafi oleh N. X.
Pada palatum mole terdapat lima pasang otot yang dijadikan satu
dalam satu sarung fasia dari mukosa yaitu muskulus levator veli palatine
muskulus tensor veli palatine, muskulus palatoglosus,
muskulus palatofaring, dan muskulus azigos uvula.

17
Muskulus levator veli palatine membentuk sebagian besar palatum mole dan
kerjanya untuk menyempitkan isthmus faring dan memperlebar ostium tuba
eustachius, Otot ini dipersarafi oleh N. X.
Muskulus tensor veli palatini membentuk tenda palatum mole dan kerjanya
untuk mengecangkan bagian anterior palatum mole dan membuka tuba
eustachius. Otot ini dipersarafi oleh N. X.
Muskulus palatoglosus membentuk arkus anterior faring dan kerjanya
menyempitkan isthmus faring, Otot ini dipersarafi oleh N. X.
Muskulus azigos uvula merupakan otot yang kecil, kerjanya memperpendek
dan menaikkan uvula ke belakang atas. Otot ini dipersarafi oleh N. X.
Faring mendapat darah dari beberapa sumber dan kadang – kadang tidak
beraturan Yang utama berasal dari cabang arteri karotis eksterna serta dari
cabang arteri maksila interna yakni cabang palatina superior.
Persarafan motorik dan sensorik daerah faring berasal dari pleksus faring
yang ekstensif. Pleksus ini dibentuk oleh cabang faring dari nervus vagus,
cabang dari nervus glosofaring dan serabut simpatis. Cabang faring dari
nervus vagus berisi serabut motorik. Dari pleksus faring yang ekstensif ini
keluar cabang – cabang untuk otot – otot faring kecuali muskulus stilofaring
yang dipersarafi langsung oleh cabang nervus glosofaringeus. Aliran limfe
dari dinding faring dapat melalui 3 saluran, yaitu superior, media, dan
inferior. Saluran limfe superior mengalir ke kelenjar getah bening retrofaring
dan kelenjar getah bening servikal dalam atas. Saluran limfa media mengalir
ke kelenjar getah bening jugulo – digastrik dan kelenjar servikal dalam atas,
sedangkan saluran limfa inferior mengalir ke kelenjar getah bening servikal
dalam bawah.

2.2 Definisi5
Tonsilitis merupakan peradangan/infeksi pada jaringan tonsil dan faringitis
merupakan peradangan pada mukosa faring.

2.3 Etiologi5
• Tonsilitis
o Infeksi berdiri sendiri.

18
o Bakteri: Streptococcus β-hemolyticus, Staphylococcus,
Pneumococcus, Haemophilus influenza, Escherichia coli.

o Campuran: virus (Coxsackie A) + bakteri saprofit


(Streptococcus viridans, Pneumococcus, Staphylococcus,
Fusiform bacteria, Leprotri, Neisseria, Lactobacteria,
Fungi).
• Faringitis o Kuman Streptococcus β – hemolyticus,
Streptococcus viridans, Streptococcus pyogenes dan virus.

2.4 Klasifikasi Tonsilitis5


• Tonsilitis o Tonsilitis akut: pada tahap awal tonsil dan jaringan
sekitarnya mengalami hiperemis, edema, tanpa eksudat.
Tonsilitis akut terdiri dari:
 Folikularis: bercak kuning (folikel limfatik).
 Lakunaris: bercak kuning pada muara kripta.
 Pneumokokus: membran (+). o Tonsilitis
kronis: Tonsilitis berulang (rekuren).
• Faringitis o Faringitis akut.
o Faringitis kronis (>8 minggu).

2.5 Patofisiologi Tonsilitis5


Tonsilitis akut:
o Penularan melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel →
epitel terkikis → jaringan limfoid superfisial bereaksi →
pembentukan radang dengan infiltrasi leukosit
polimorfonuklear.
• Tonsilitis kronis:
o Flora aerob dan anaerob, dominasi Streptococcus. o
Streptococcus β-hemolyticus grup A → infeksi lokal.
o Drainase kripta jelek → retensi debris sel.
o Abses kripta → tonsillitis parenkimatosa → fibrosis/atrofi.

19
• Faringitis:
Penularan terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan
epitel, kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid
superfisial bereaksi, terjadi pembendungan radang dan infiltrasi
leukosit polimorfonuklear.

2.6 Diagnosis Tonsilitis


• Tonsilitis akut:
o Anamnesis: febris tinggi, menggigil, rasa panas dan sakit di
orofaring, odinofagia, otalgia, trismus, lidah kotor, foetor ex
ore, cephalgia, malaise, suara berat, pembesaran
limfonodus regional.
o Pemeriksaan penunjang: pemeriksaan darah rutin →
leukosit, kardiovaskuler, urin, kultur dan uji sensitivitas, tes
darah.5
• Tonsilitis kronis:
o Anamnesis: tonsillitis berulang, sakit di leher dan disfagia
(jarang), halitosis dan rasa tidak enak di mulut, pembesaran
limfonodus jugulodigastrikus, daya tahan dan nafsu makan
menurun, kelelahan, febris tak beralasan, kedinginan.
o Pemeriksaan fisik: lokal: tonsil terfiksir, fisura, sikatrik,
penekanan kripta → pus debris, plika tonsil anterior
hiperemis.
o Pemeriksaan penunjang: pemeriksan darah (KED, ASTO),
kultur dan uji resistensi bila perlu.5
• Faringitis:
o Anamnesis: suhu tubuh naik, rasa
gatal/kering tenggorokan, lesu, nyeri sendi, odinofagia,
anoreksia, otalgia. Bila laring terkena, suara akan menjadi
serak.
o Pemeriksaan fisik: tampak mukosa faring hiperemis,
menebal, kering, dan mengkilat. Discharge mukus jernih

20
sampai dengan kekuningan, folikel soliter merah tua,
pembesaran limfonodus regional dan nyeri tekan.
o Pemeriksaan penunjang: kultur dan uji resistensi bila perlu.

Pemeriksaan fisik pasien dengan suspek penyakit tonsilitis seharusnya


melakukan pemeriksaan kepala dan leher untuk mengeliminasi manifestasi
hipertrofi tonsil kronis (obstruksi nasal kronis dengan gejala, bernafas dengan
mulut yang terbuka, muka memanjang, lingkaran hitam dibawah mata, dan
bukti adanya maloklusi gigi).1
Brodsky, dkk menggambarkan skala penilaian hipertrofi tonsil. Dalam skala
ini, angka 0 mengindikasikan tonsil tidak mengganggu jalan nafas, 1+
mengindikasikan obstruksi jalan nafas <25%, 2+ mengindikasikan obstruksi
jalan nafas 25 – 50%, 3+ mengindikasikan obstruksi jalan nafas 50
– 75%, 4+ mengindikasikan obstruksi jalan nafas >75%.1,6

Gambar 2.5 Sistem standarisasi ukuran tonsil

Pemeriksaan foto x – ray posisi lateral hanya dilakukan pada pasien dengan
pasien yang memiliki hipertrofi tonsil yang jelas dan gejala obstruktif,
kebanyakan diantaranya memerlukan intervensi pembedahan. Endoskopi
nasofaringoskop fleksibel membantu untuk menilai derajat hipertrofi tonsil

21
pada anak – anak. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan yaitu
polisomnografi, untuk menilai beratnya gangguan tidur.1

2.7 Diagnosis Banding5


• Tonsilitis o Difteri. o
Leukemia. o Mononukleosis
infeksiosa.
o Unilateral: tonsillitis ulseromembranosa,
abses peritonsiler, TBC, tumor tonsil.
• Faringitis o Tonsilitis difteri.
o Angina plaut Vincent.

Tabel 2.1 Diagnosa banding penyakit tonsilitis7


Infeksi dan/atau inflamasi Tonsilitis akut
Tonsilitis akut rekuren
Tonsilitis kronis
Tonsilolithiasis

Obstruksi Nasofaring
Orofaring
Nasofaring dan orofaring

Neoplasma Jinak
Limfoproliferatif
Limfoid hyperplasia
Keganasan

2.8 Tatalaksana5
• Tonsilitis akut: bed rest, diet, kompres es, analgetik (cuci mulut),
menjaga kebersihan mulut dan gigi, penisilin dosis tinggi (10 hari).
Tonsilitis kronis: operatif → tonsilektomi.
• Faringitis: antibiotik golongan penisilin atau sulfonamida selama 5
hari, antipiretik, obat kumur dan obat hisap dengan disinfektan.

22
• Pencegahan dengan menjaga kondisi imunitas
tubuh dan kebersihan serta kesehatan rongga mulut dan
hidung.

Indikasi Tonsilektomi8
Dulu tonsilektomi diindikasikan untuk terapi tonsilitis kronis dan berulang,
saat ini diindikasikan terutama pada obstruksi saluran nafas dan hipertrofi
tonsil. Untuk keadaan gawat darurat seperti adanya obstruksi saluran nafas,
indikasi tonsilektomi sudah tidak diperdebatkan lagi (indikasi absolut).
Namun, indikasi relatif tonsilektomi pada keadaan tidak gawat darurat dan
perlunya batasan usia pada keadaan ini masih menjadi perdebatan. Sebuah
kepustakaan menyebutkan bahwa usia tidak menentukan boleh tidaknya
dilakukan tonsilektomi.
Indikasi absolut: Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran
nafas, disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner, abses
peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase,
tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi
terutama untuk hipertrofi tonsil unilateral, tonsilitis kronik atau berulang
sebagai fokal infeksi untuk penyakit – penyakit lain.
Indikasi relatif: terjadi 7 episode atau lebih infeksi tonsil pada tahun
sebelumnya, atau 5 episode atau lebih infeksi tonsil tiap tahun pada 2 tahun
sebelumnya atau 3 episode atau lebih infeksi tonsil tiap tahun pada 3 tahun
sebelumnya dengan terapi antibiotik adekuat, kejang demam berulang yang
disertai tonsilitis, halitosis akibat tonsilitis kronis yang tidak membaik dengan
pemberian terapi medis, tonsilitis kronis atau berulang pada karier
Streptococcus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik
βlaktamase/resisten.

Tabel 2.2 Kriteria Paradise untuk tonsilektomi6


Kriteria Definisi

23
Frekuensi minimum 7 atau lebih episode dalam tahun sebelumnya, ATAU 5
episode radang atau lebih episode disetiap tahun dalam 2 tahun
tenggorokan sebelumnya, ATAU
3 atau lebih episode disetiap tahun dalam 3 tahun

sebelumnya

Gambaran klinis (radang Suhu > 38,3oC, ATAU


tenggorokan ditambah
Limfadenopati servikal (nodus limfatikus atau > 2cm),
adanya satu atau lebih
dalam satu episode) ATAU
Tonsilar eksudat, ATAU
Kultur positif dari streptococcus grup A β – haemolytic
streptococcus

Terapi Antibiotik diberikan dalam dosis konvensional yang


terbukti atau dicuriga episode streptokokus

Tabel 2.3 Ringkasan panduan klinis praktek tahun 20107


Pernyataan Ringkasan

1 Melakukan pemantauan pada kasus infeksi tenggorokan rekuren,


jika:
• <7 episode dalam satu tahun terakhir ATAU
• <5 episode dalam dua tahun terakhir ATAU
• <3 episode dalam tiga tahun terakhir

2 Tonsilektomi untuk infeksi direkomendasikan pada kondisi sebagai


berikut:
• <7 episode dalam satu tahun terakhir ATAU <5 episode dalam
dua tahun terakhir ATAU <3 episode dalam tiga tahun terakhir
• DENGAN riwayat medis pada setiap kali radang tenggorokan,
DAN satu atau lebih kriteria berikut:
o Suhu >38,3oC o Adenopati servikal o Tonsilar eksudat
o Tes positif pada group A β – hemolyticus streptococcus

24
3 Tonsilektomi dipertimbangkan pada anak – anak yang tidak
memenuhi kriteria pernyataan 2 – anak – anak dengan:
• Intoleransi antibiotik multipel/alergi
• PFAPA
• Riwayat PTA

4 Dipertimbangkan tonsilektomi pada gangguan nafas saat tidur,

perawat anak harus ditanyakan mengenai komorbiditas seperti


gagal tumbuh, prestasi sekolah yang buruk, enuresis, dan masalah
kebiasaan
5 Pada anak dengan abnormalitas polisomnografi dan hipertrofi
tonsil, tonsilektomi dapat meningkatkan kesehatan anak tersebut
6 Gangguan bernafas saat tidur setelah dilakukan tonsilektomi
memerlukan penanganan lebih lanjut
7 Dosis tunggal deksametason iv intraoperatif selama tonsilektomi
dapat mengurangi mual dan muntah post operatif
8 Anak – anak yang menjalani tonsilektomi tidak memerlukan
antibiotik perioperatif
9 Klinisi perlu menangani nyeri yang dialami pasien
10 Klinisi seharusnya mengevaluasi angka perdarahan post operatif
primer dan sekunder setiap tahunnya

Pembedahan Tonsil8
• Guillotine
Tonsilektomi cara guillotine dikerjakan secara luas sejak akhir abad
ke – 19, dan dikenal sebagai teknik yang cepat dan praktis untuk
mengangkat tonsil. Tonsilektomi pertama dilakukan oleh Celcus
pada abad ke – 1. Pada akhir abad ke – 19 dan awal abad ke – 20
Greenfield Sluder merupakan seorang ahli yang sangat
merekomendasikan teknik Guillotine dalam tonsilektomi. Beliau
mempopulerkan alat Sluder yang merupakan modifikasi alat
Guillotine. Hingga kini, di UK tonsilektomi cara guillotine masih

25
banyak digunakan. Teknik ini merupakan teknik tertua dan masih
aman untuk digunakan. Kepustakaan lama menyebutkan beberapa
keuntungan teknik ini yaitu cepat, komplikasi anestesi kecil, biaya
kecil.
• Diseksi
Kebanyakan tonsilektomi saat ini dilakukan dengan metode diseksi.
Teknik operasi meliputi: memegang tonsil, membawanya ke garis
tengah, insisi membran mukosa, mencari kapsul tonsil, mengangkat
dasar tonsil dan mengangkatnya dari fossa dengan manipulasi hati –
hati. Lalu dilakukan hemostasis dengan elektrokauter atau ikatan.
Selanjutnya dilakukan irigasi pada daerah tersebut dengan saline.
Berbagai teknik diseksi baru telah ditemukan dan
dikembangkan selain teknik diseksi standar, yaitu:
o Electrosurgery (bedah listrik)
Pada bedah listrik transfer energi berupa radiasi
elektromagnetik untuk menghasilkan efek pada jaringan.
Teknik bedah listrik merupakan satu – satunya teknik yang
dapat melakukan tindakan pemotongan dan hemostase
dalam satu prosedur.
o Coblation
Teknik ini menggunakan bipolar electrical probe untuk
menghasilkan listrik radiofrekuensi baru melalui larutan
natrium klorida. Keadaan ini akan menghasilkan aliran ion
sodium yang dapat merusak jaringan sekitar. National
Institute for clinical excellence menyatakan bahwa efikasi
teknik coblation sama dengan teknik tonsilektomi standar
tetapi teknik ini bermakna mengurangi rasa nyeri, tetapi
komplikasi utama adalah perdarahan.
o Intracapsular partial tonsillectomy
Tonsilektomi parsial yang dilakukan dengan menggunakan
mikrodebrider endoskopi. Meskipun mikrodebrider
endoskopi bukan merupakan peralatan ideal untuk tindakan
tonsilektomi, namun tidak ada alat lain yang dapat

26
menyamai ketepatan dan ketelitian alat ini dalam
membersihkan jaringan tonsil tanpa melukai kapsulnya.
Pada tonsilektomi intrakapsular, kapsul tonsil disisakan
untuk menghindari terlukanya otot – otot faring akibat
tindakan operasi dan memberikan lapisan “pelindung
biologis” bagi otot dari sekret. Hal ini akan mencegah
terjadinya perlukaan jaringan dan mencegah terjadinya
peradangan lokal yang menimbulkan nyeri, sehingga
mengurangi nyeri pasca operasi dan mempercepat waktu
pemulihan. Jaringan tonsil yang tersisa akan meningkatkan
insiden tonsillar regrowth.
Keuntungan teknik ini angka kejadian nyeri dan
perdarahan pasca operasi lebih rendah
dibanding tonsilektomi standar.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Flint PW, et al. Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. Ed ke–
5. USA: Mosby Elsevier; 2010.
2. Snow JB, Ballenger JJ. Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck
Surgery. Ed ke–16. USA: BC Decker; 2003.
3. Graham JM, Scadding GK, Bull PD, editor. Pediatric ENT. Jerman: Springer
Berlin Heidelberg New York; 2007.
4. Soepardi EA, Iskandar I, Bashiruddin J, Restuti RD, editor. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Jakarta: FKUI; 2010.
5. Soekardono S. Buku Ajar Ringkas Ilmu Kesehatan THT-KL. Jogjakarta: FK
UGM; 2013.
6. Baugh RF, et al. Clinical Practice Guideline: Tonsillectomy in Children.
Otolaryngology Head and Neck Surgery 2011; 144: S1.
7. Johnson JT, Rosen CA. Bailey’s Head and Neck Surgery – Otolarnygology.
Ed ke–5. USA: Lippincott Williams & Wilkins; 2014.
8. Hermani B, dkk. Tonsilektomi pada anak dan dewasa. HTA Indonesia 2004:
1-25.

28
29