Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Trafo arus digunakan untuk pengukuran arus yang besarnya ratusan
ampere dan arus yang rnengalir dalam jaringan tegangan tinggi. Jika arus yang
hendak diukui mengalir pada jaringan tegangan rendah dan besarnya di bawah
5 A, maka pengukuran dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan
suatu ammeter yang dihubungkan seri dengan jaringan. Tetapi jika arus yang
hendak diukur mengalir pada jaringan tegangan tinggi, meskipun besarnya di
bawah 5 A, maka pengukuran tidak dapat dilakukan secara langsung dengan
menggunakan suatu ammeter, karena cara yang demikian berbahaya bagi
operator. Cara itu juga berbahaya bagi ammeter yang digunakan karena isolasi
ammeter tidak dirancang untuk memikul tegangan tinggi. Jika arus yang
hendak diukur mengalir pada jaringan tegangan rendah dan besarnya lebih
dari 5 A, maka pengukuran tidak dapat dilakukan secara langsung dengan
menggunakan suatu ammeter. Karena pada umumnya, batas kemampuan
ammeter hanya mengukur arus di bawah 5 A.
Di samping untuk pengukuran arus, trafo arus juga dibutuhkan untuk
pengukuran daya dan energi, pengukuran jarak jauh dan rele proteksi.
Kumparan primer trafo arus dihubungkan seri dengan jaringan atau peralatan
yang akan diukur arusnya, sedang kumparan sekunder dihubungkan dengan
meter atau rele proteksi. Pada umumnya peralatan ukur dan rele membutuhkan
arus 1 atau 5 A.
Trafo arus bekerja sebagai trafo yang terhubung singkat. Kawasan kerja
trafo arus yang digunakan untuk pengukuran biasanya 0,05 sampai 1,2 kali
arus yang akan diukur Trafo arus untuk proteksi biasanya harus mampu
bekerja lebih dari 10 kali arus pengenalnya.

1
1.2 Rumusan Masalah
a Apakah trafo biasa dapat digunakan sebagai trafo instrument (CT,PT)?
b Berikan spesifikasi data pada CT (Metering dan relay) & jelaskan
maksudnya?
c Mengapa sekunder CT harus dalam keadaan short circuit?
d Mengapa sekunder CT tidak diperkenankan dipasang MCB atau fuse?
e Apa yang dimaksud dengan Burden & apa pengaruhnya pada CT ,
serta berikan contoh cara pemilihan CT dalam aplikasinya?
1.3 Tujuan Masalah
a. Mampu menjelaskan apakah trafo biasa dapat digunakan sebagai trafo
instrument (CT,PT).
b. Mampu menjelaskan spesifikasi data pada CT (Metering dan relay).
c. Mampu menjelaskan mengapa sekunder CT harus dalam keadaan short
circuit.
d. Mampu menjelaskan mengapa sekunder CT tidak diperkenankan
dipasang MCB atau fuse.
e. Mampu menjelaskan apakah yang dimaksud dengan Burden,
pengaruhnya pada CT , dan contoh cara pemilihan CT dalam
aplikasinya.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Trafo Biasa Digunakan Sebagai Trafo Instrument (CT)


Trafo biasa atau Trafo Daya tidak dapat digunakan sebagai Trafo
Instrumen atau Trafo Arus karena ada perbedaan di antara Trafo Biasa dengan
Trafo Instrument, Perbedaan Utama Trafo Arus dengan Trafo Daya :
 Jumlah belitan kumparan primer sedikit, tidak lebih dari lima
belitan.
 Arus primer tidak dipengaruhi beban yang terhubung pada
kumparan sekunder, karena arus primer ditentukan oleh arus pada
jaringan yang di ukur.
 Semua beban pada kumparan sekunder dihubungkan seri.
 Terminal sekunder trafo arus tidak boleh terbuka, oleh karena itu
terminal kumparan sekunder harus selalu dihubungkan dengan
beban atau hubung singkat jika bebannya belum dihubungkan

2.2 Spesifikasi Data Pada CT (Metering & Relay)


2.2.1 Spesifikasi Pada CT (Trafo Arus)

 Ratio CT, rasio CT merupakan spesifikasi dasar yang harus ada pada
CT, dimana representasi nilai arus yang ada di lapangan di hitung
dari besarnya rasio CT. Misal CT dengan rasio 2000/5A, nilai yang
terukur di skunder CT adalah 2.5A, maka nilai aktual arus yang
mengalir di penghantar adalah 1000A. Kesalahan rasio ataupun
besarnya presentasi error (%err.) dapat berdampak pada besarnya
kesalahan pembacaan di alat ukur, kesalahan penghitungan tarif, dan
kesalahan operasi sistem proteksi.

3
 Burden atau nilai maksimum daya (dalam satuan VA) yang mampu
dipikul oleh CT. Nilai daya ini harus lebih besar dari nilai yang
terukur dari terminal skunder CT sampai dengan koil relay proteksi
yang dikerjakan. Apabila lebih kecil, maka relay proteksi tidak akan
bekerja untuk mengetripkan CB/PMT apabila terjadi gangguan.
 Class, kelas CT menentukan untuk sistem proteksi jenis apakah core
CT tersebut. Misal untuk proteksi arus lebih digunakan kelas 5P20,
untuk kelas tarif metering digunakan kelas 0.2 atau 0.5, untuk sistem
proteksi busbar digunakan Class X atau PX.
 Kneepoint, adalah titik saturasi/jenuh saat CT melakukan excitasi
tegangan. Umumnya proteksi busbar menggunakan tegangan sebagai
penggerak koilnya. Tegangan dapat dihasilkan oleh CT ketika
skunder CT diberikan impedansi seperti yang tertera pada Hukum
Ohm. Kneepoint hanya terdapat pada CT dengan Class X atau PX.
Besarnya tegangan kneepoint bisa mencapai 2000Volt, dan tentu saja
besarnya kneepoint tergantung dari nilai atau desain yang
diinginkan.
 Secondary Winding Resistance (Rct), atau impedansi dalam CT.
Impedansi dalam CT pada umumnya sangat kecil, namun pada Class
X nilai ini ditentukan dan tidak boleh melebihi nilai yang tertera
disana. Misal: <2.5Ohm, maka impedansi CT pada Class X tidak
boleh lebih dari 2.5 Ohm atau CT tersebut dikembalikan ke pabrik
untuk dilakukan penggantian.

500/5A, 0.2FS5 20VA

Maka penjelasan dari spesifikasi tersebut adalah:

 500/5A menyatakan rasio pengenal (rated ratio) dari trafo arus. 500
menyatakan arus primer pengenal (Rated Primary Current) dan 5A
menyatakan arus sekunder pengenal (Rated Secondary Current).
Dalam kondisi ideal, jika pada sisi kumparan primer mengalir arus

4
sebesar 500A, maka arus sebesar 5A akan mengalir pada kumparan
sekunder.

 0.2 menyatakan batasan kesalahan tertinggi yang disebabkan oleh


proses transformasi sebuah trafo arus ketika arus primer yang
mengalir pada kumparan primer besarnya adalah 100% hingga 120%
dari arus primer pengenalnya, dalam hal ini adalah 500A.

 Jika arus yang mengalir pada kumparan primer sebesar 20% dari
arus primer pengenalnya, maka kesalahan trasnformasi yang
diijinkan harus lebih kecil dari 0.35% sebagaimana ditunjukan pada
tabel kesalahan rasio sebuah trafo arus untuk pengukuran.

 FS5 adalah besarnya perbandingan antara arus primer saat terjadinya


saturasi dengan arus primer pengenalnya. FS5 berarti arus
saturasinya adalah 5 kali arus pengenal, yaitu 5 * 500 = 2500A.

 20VA adalah beban pengenal (rated burden). Parameter ini


menjelaskan beban yang dihubungkan untuk menjamin kesalahan
rasio pada nilai yang telah ditentukan sesuai dengan tabel.

2.2.2 Transformator Arus Untuk Pengukuran Dan Proteksi


2.1 Untuk Pengukuran (Metering) :
 Teliti untuk daerah kerja 5 - 120 % In.
 Level kejenuhan rendah, untuk mengamankan meter pada saat
terjadi gangguan (cepat jenuh).
 Meter-meter / pengukuran yang menggunakan arus sekunder
transformator arus antara lain :
 Ampere meter  KWH meter
 MW meter  KVARH meter
 MVAR meter  Cos φ meter

5
Kelas ketelitian trafo arus untuk meter dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.
Tabel 1 Ketelitian transformator arus untuk pengukuran (SPLN 60-7:1992)
+/- Pergeseran Fase pada % dari
Klas +/- % Kesalahan Rasio Arus
Arus pengenal menit (1/60
Ketelitian pada % Arus pengenal
derajat)
10 12 10 12
5 20 0 0 5 20 0 0
0,1 0,4 0,2 0,1 0,1 15 8 5 5
0,2 0,75 0,35 0,2 0,2 30 15 10 10
0,5 1,5 0,75 0,5 0,5 90 45 30 30
1 3 1,5 1 1 180 90 60 60

6
2.2 Untuk Proteksi (Relay) :
 Klas ketelitiannya relatif rendah.
 Kejenuhannya tinggi (tidak cepat jenuh).
 Proteksi / pengaman yang menggunakan arus sekunder
transformator arus antara lain:
 Relai Jarak (Distance Relay)
 Relai Arus Lebih (Over Current Relay)
 Relai Berarah (Directional Relay)
 Relai Differensial (Differential Relay)
 Relai REF (Restricted Earth Fault)
 Relai SBEF (Standby Earth Fault)

Relai Beban Lebih (Over Load Relay) Nilai Batas Kesalahan CT


untuk Proteksi :

Tabel 2 Ketelitian transformator arus untuk proteksi (SPLN 60-7:1992)


Pada Arus Pengenal Kesalahan
komposit pada
Klas Ketelitian batas ketelitian
Kesalahan Rasio Kesalahan Sudut
Arus Primer
Pengenal
5P +/- 1 % +/- 60 5%
10P +/- 3 % 10 %

2.3 Penyebab Sisi Sekunder Pada CT Harus Dalam Keadaan Short Circuit
2.3.1 Pengujian Secondary Burden CT (VA)
Pengujian secondary burden CT merupakan pengujian untuk
mengetahui nilai aktual beban yang terpasang pada sisi sekunder CT,
mulai dari kabel sampai dengan panel proteksi dan metering. Pengujian
ini tidak bisa menentukan nilai burden nominal ataupun maksimal CT,

7
untuk melakukan hal ini harus menggunakan metode tegangan atau
dengan alat uji yang dikenal dengan nama CT Analyzer.

Mengetahui nilai burden pada sisi sekunder CT pada dasarnya


cukup sederhana, karena hanya menggunakan perhitungan Hukum Ohm.
Dimana VA = Arus x Tegangan.

Apabila CT mengeluarkan arus 1A nominal, maka kita bisa


memberikan arus sebesar 1A untuk sisi kabel yang terpasang pada CT.
Terminal sekunder CT tidak boleh ikut dialiri arus karena akan
berdampak timbulnya arus besar pada sisi primer.

Di dalam pengujian ini pada dasarnya kita hanya ingin mengetahui


berapa besarnya impedansi loop tertutup pada beban CT (kabel + relay +
metering + dst). Apabila nilai burden atau impedansi terukur pada arus
1A melebihi rating burden nominal CT (dalam satuan VA), maka harus
dilakukan penggantian kabel yang lebih besar atau penggantian relay
dengan burden yang lebih kecil.

2.4 Penyebab Sisi Sekunder CT Tidak Dipasang MCB / Fuse


Rangkaian sekunder tidak boleh terbuka

Gambar 12 Rangkaian sekunder tertutup


Fluks akan menjadi besar
- tegangan sekuder naik
- terjadi kejenuhan pada inti akan panas
Oleh karena itu rangkaian sekunder tidak boleh dipasang
fuse / MCB .

8
2.5 Burden
Istilah burden selalu muncul dalam pembahasan mengenai trafo
instrumentasi, baik itu trafo arus maupun trafo tegangan. Istilah ini juga
kadang-kadang selalu disamakan dengan istilah load. Karena pengertian dari
burden sangat penting dan berpengaruh signifikan kepada kelas akurasi
sebuah trafo arus dan trafo tegangan, maka kami coba menyajikannya secara
komprehensif untuk membantu praktisi yang bergerak dibidang control
tegangan menengah memahami lebih baik terkait pemahaman tentang burden.

2.5.1 Definisi Burden


Jika mengacu pada standar IEC 60044-1 tentang istilah burden,
berikut ini adalah kutipannya dalam bahasa inggris.
The impedance of the secondary circuit in ohms and power-factor.
The burden is usually expressed as the apparent power in voltamperes
absorbed at a specified power-factor and at the rated secondary current.
Berdasarkan definisi diatas, pengertian burden adalah impedansi
dari rangkaian sekunder di dalam satuan Ohm dan power factor.
Dengan demikian, sebuah burden dapat diekspresikan dalam 2
cara, yaitu:
a. Sebuah burden dinyatakan sebagai total impedans dari rangkaian
sekunder dalam satuan Ohms. Definisi ini biasa digunakan dalam
standard ANSI/IEEE. Table 1 menunjukan burden berdasarkan
ANSI.

9
Standar Burden Berdasarkan ANSI/IEEE C57.13

Contoh spesifikasi kelas akurasi dan burden berdasarkan


ANSI/IEEE untuk trafo pengukuran.
0.3B0.2
Dimana 0.3 adalah kelas akurasi dengan batas kesalahan
0.3% dan B0.2 adalah burden untuk trafo pengukuran dengan
nilai impedansi nya 0.2 Ohm
0.6B0.9
Dimana 0.6 adalah kelas akurasi dengan batas kesalahan 0.6% dan
B0.9 adalah burden untuk trafo pengukuran dengan nilai
impedansi nya 0.9 Ohm

b. Sebuah burden dinyatakan dalam bentuk daya nyata VoltAmpere


(Apparent power, VA) pada power faktor yang sudah ditentukan pada
arus sekunder pengenal (Rated Secondary Current). Definisi ini biasa
digunakan dalam standard IEC60044-1. Standar IEC 60044-1
mensyaratkan pabrikan untuk melakukan pengujian dengan
menggunakan burden pada nilai tertentu dan power factor 0.8 lagging
sebagaimana kutipan dibawah ini yang berdasarkan standar
IEC60044-1.

10
For testing purposes when determining current error and phase
displacement, the burden shall have a power-factor of 0.8 inductive
except that, where the burden is less than 5 VA, a power factor of 1.0
is permissible.

Catatan:
Kelas akurasi dan Burden adalah 2 hal yang saling terkait,
sehingga selalu didefinisikan bersamaan. Nilai akurasi akan
bergeser dari nilai yang sudah ditentukan apabila burden yang
digunakan lebih besar atau lebih kecil dari batasan burden yang
telah ditentukan.

Sedangkan kita tahu, definisi dari rangkaian sekunder adalah


rangkaian yang dihubungkan dengan kumparan sekunder dari trafo
arus. Rangkaian sekunder bisa meliputi kabel, ataupun peralatan ukur
maupun proteksi.
Jika di ilustrasikan dalam bentuk grafik, pengertian burden
ditunjukan pada gambar dibawah ini.

Dengan demikian, pengertian burden pada trafo arus meliputi


semua komponen yang terhubung dengan kumparan sekunder dari
trafo arus seperti peralatan meter atau proteksi, konektor, kabel,
lampu indicator dan lain sebagainya. Pada contoh diatas, burden
meliputi impedansi kabel penghubung dan peralatan ukur atau
proteksi.

11
Karena resistansi dari kabel penghubung antara terminal sekunder
trafo arus dengan peralatan ukur atau proteksi sangat berdampak
kepada kinerja dari sebuah trafo arus, maka beberapa hal dibawah ini
perlu diperhatikan.
c. Apabila peralatan ukur atau proteksi terletak jauh dari terminal
sekunder, maka sebaiknya digunakan trafo arus dengan keluaran arus
sekunder yang kecil, misalnya 1 ampere. Menggunakan trafo arus
dengan keluaran 5 ampere untuk alat ukur yang terletak jauh dari
terminal sekunder, akan menyebabkan VA yang diserap oleh kabel
jauh lebih besar.
d. Untuk memastikan nilai akurasi berada pada kisaran yang sesuai
dengan hasil dari pabrikan, maka nilai burden harus pada kisaran 25%
hingga 100% dari rated burdennya (untuk CT dengan standar
IEC60044-1) atau pada kisaran rated burdennya untuk standar
ANSI/IEEE C57.13
e. Penggunaan burden yang jauh lebih besar atau lebih kecil dari burden
pengenal (rated burden), akan menyebabkan kesalahan rasio (ratio
error dan pergeseran fasa) menjadi semakin besar.
f. Penggunaan burden yang tidak sesuai, juga akan mengakibatkan
pergeseran nilai FS atau ALF, sehingga bisa menyebabkan kerusakan
pada peralatan ukur atau CT menjadi lebih cepat saturasi.
Tabel dibawah ini adalah nilai relatif VA untuk beberapa alat ukur:

Instrument Type Approximate Burden


Ammeter 0.5 - 5VA
Voltmeter 2 - 5VA
Frequesncy Meter 1 - 5VA
Protection Relay 0.2 - 30VA

12
2.5.2 Memilih Trafo Arus
 Pemilihan tegangan tinggi peralatan, Tegangan per-alatan listrik
diberikan dalam “V” atau “kV” misal: 12 kV, 20 kV, 24 kV, 125 kV

 Pemilihan ratio transformator pengenal (selection of rated transformer


ratio)

 Pemilihan arus primer


Diperhitungkan dengan persamaan, sebagai berikut:
SN = √3 x U x I Dimana:
SN = daya dari pelanggan (kVA) U = tegangan fase –fase (kV)
I = arus masing-masing fase (Amp)

Contoh:
Daya pelanggan 630 kVA tarif TM/TM/TM te-gangan 20 kV,
pemilihan ratio CT adalah
630 𝑘𝑉𝐴
𝐼= = 18 𝐴
√3 𝑥 20
Maka dipilih ratio CT pada sisi primer sebesar 20 A, bila CT
dipergunakan untuk pengukuran dan proteksi dipilih ratio 20/5-5.

Daya pelanggan TR 197 kVA tarif TR/TR/TR te-gangan 380 volt,


pemilihan ratio CT, adalah
197 𝑘𝑉𝐴
𝐼= = 299 𝐴
√3 𝑥 380 𝑉
Maka dipilih ratio CT pada sisi primer sebesar 300 A atau 300/5.

Untuk memperoleh ratio CT dan klas proteksi yang tepat pada CT


yang terpasang pada outgoing feeder, yang pasokannya diperoleh dari
gardu Induk atau PLTD, diambil dari Kuat Hantar Arus (KHA) kawat.

13
Bila dipasang pada incoming feeder di gardu Induk atau di Pusat
Listrik, perlu dihitung kapasitas trans-formator tenaga.

 Pemilihan arus sekunder


Arus sekunder dalam ampere 1 A dan 5 A , secara umum arus
sekunder pengenal dipilih 5A, tetapi bila lokasi peralatan instrumen
jauh dari trafo arus dipilih 1 A. kalau beban sekunder diambil da-lam
impedansi (ohm) diperhitungkan dalam VA, sebagai berikut:

P(VA) = IS2 (A) x Z (ohm).


Bila IS = 5 A, P(VA) = 25 x Z.
Bila IS = 1 A, P(VA) = 1 x Z.

 Pemilihan burden
Beban yang akan dihubungkan ke sekunder trafo arus menentukan
daya aktif dan reaktif di terminal sekunder yang berhubungan dengan
burden trafo arus, nilai VA dari tiap beban yang akan disambung dapat
dilihat pada tabel 1 dibawah ini dan sebagai tam-bahan burden trafo
arus (VA) adalah pemakaian kabel yang menghubungkan trafo arus ke
alat ukur.
Tabel : Nilai VA dari tiap alat ukur dan proteksi
Ammeter dengan jarum besi 0,70 – 1,5 VA
Wattmeter 0,20 – 5,00 VA
Cos ∅ meter 2,00 – 6,00 VA
kWh meter : Mekanik 0,40 – 3,5 VA
: Elektronik 0,40 – 1,5 VA
KVAmeter : Mekanik 0,40 – 3,5 VA
: Elektronik 0,40 – 3,5 VA
Over Current Relay 0,20 – 8,00 VA
Ground Fault Relay 0,20 – 8,00 VA

14
Tabel : Nilai Tahanan dari Kabel
Φ (mm2) R (Ω/km)
4 x 1,5 14,47
4 x 2,5 8,71
4x4 5,45
4x6 3,62
4 x 10 2,16
4 x 16 1,36
4 x 25 0,863

Total kapasitas beban (VA) yang disambung ke CT tidak boleh


melebihi dari burden yang dipilih.
Contoh :
Beban yang akan disambung ke CT yang terpasang di Gardu Induk
sebagai berikut:
Perhitungan daya:
Alat ukur Jenis Jenis
mekanik elektronik
Ampere meter 1 VA 1 VA
kWh meter 3 VA 1 VA
KW meter 3 VA 1 VA
kVArh meter 3 VA 1 VA
Kabel 2 X 4 mm2 =
20 m 1,36 VA 1,36 VA
= 11,36 VA 5,36
Total daya VA
Kalau mempergunakan alat ukur jenis mekanik Burden dipilih 15
VA, kalau jenis elektronik dipilih 7,5 VA.
Beban terpasang di pelanggan > 200 kVA

15
Alat ukur Jenis Jenis
mekanik elektronik
kWh meter 3,5 VA 1,5 VA
kVArh meter 3,5 VA 1,5 VA
Kabel 2 X 4 mm2 = 10 m 0,68 VA 0,68 VA
Total daya = 7,68 VA 3,68 VA

Kalau mempergunakan alat ukur jenis mekanik Burden dipilih 10


VA, jenis elektronik dipilih 5,0 VA.atau 7,5 VA
Bagaimana kita menghitung kejenuhan CT untuk klas proteksi
dengan mempergunakan faktor keje-nuhan inti dan tegangan knee
(VK), dimana akurasi CT masih bisa dicapai?

Contoh:
Ratio CT 300/5 , 5P10, RCT = 0,07 ohm, burden 10VA. Burden
kenyataan 7,5 VA, untuk perhitungan diambil persamaan (10) diatas,
sebagai berikut:
10 + 52 𝑥 0,07
𝑛 = 10 = 12,7
7,5 + 52 𝑥 0,07
Artinya: Dengan klas proteksi 5P10 dan burden CT 7,5 VA, CT
tersebut akan jenuh pada arus 12,7 x arus pengenalnya = 12,7 x 5 =
63,5 A disisi sekunder, bagaimana kalau dilihat dari sisi primer (ICT).
(ICT) = 63,5 x 300/5 = 3810 A.
Bila kapasitas transformator tenaga 16issal: di gardu induk = 60
MVA dan XT = 12,6%., tegangan 20 kV maka arus maksimum yang
keluar dari sumber adalah
𝐸 𝑥 𝐼 𝑛𝑡 1 𝑥 60.000
𝐼𝑓 = = = 13.746,4 𝐴
𝑋𝑡 12,6% 𝑥 √3 𝑥 20
Dari perhitungan diatas bahwa If > ICT, maka CT tersebut akan
jenuh.

16
Bila kita ingin mengetahui kejenuhan CT dengan mempergunakan
tegangan knee (VK), dapat dije-laskan sebagai berikut:
VK = 22 volt, RCT = 0,07 ohm, klas 10 VA 5P10 ratio CT = 300/5.
Pemakaian (burden) = 7,5 VA
Rrelai + Rkawat = 7,5 VA/(5A)2 = 0,3 ohm.
𝑉𝑘 22
𝐼𝑓 = = = 59,45 𝐴
𝑅𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 (0,07 + 0,3)
Didasarkan pada VK yang diujikan, CT akan jenuh pada arus 59,45
A sisi sekunder atau 59,45 x 300/5 = 3567,57 A sisi primer.
Jadi permasalahan ini bisa dilihat kalau CT terpasang pada
outgoing feeder atau pada pelanggan TM terpasang dekat dari sumber,
harus dihitung terlebih dahulu besarnya arus gangguan dan kejenuhan
CT.

 Pemilihan Accuracy class


Untuk alat ukur kWhmeter dan kVArhmeter: dian-jurkan
mempergunakan CL0,2S
Klas proteksi: karena dibutuhkan ketelitian waktu yang akurat
dianjurkan mempergunakan klas 5P. Bila CT terpasang di outgoing
feeder, pemilihan klas proteksi dianjurkan mempergunakan klas 5P20
deng-an ratio disesuaikan dengan arus gangguan tersebut dan kapasitas
penghantar (KHA).

 Pemilihan Arus Thermal Pengenal (Ith)


Arus thermal pengenal diberikan 100, 200, 300 dst x arus pengenal
CT dalam “kA”, yang diambil dari arus gangguan hubung singkat di
sistem, bila diperhitungkan arus gangguan hubung singkat 10 kA, maka
arus thermal pengenal = 10 kA (Ith= 10 kA), arus primer pengenal
dimisalkan 100 A, maka dapat ditentukan arus thermal pengenal:
10.000 𝐴
𝐼𝑡ℎ =
100 𝑥 𝐼𝑛 100 𝐴

17
 Pemilihan arus dynamic pengenal (Idyn)
Arus dynamic pengenal diambil dari arus ther-mal pengenal,
sebagai berikut:
Idyn = 2,5 x Ith Dimisalkan Ith = 10 kA, maka
Idyn = 2,5 x 10 kA
= 25 kA.

18
BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
 Trafo Biasa atau Trafo Daya tidak dapat digunakan sebagai Trafo
Instrumen atau Trafo Arus karena ada perbedaan di antara keduanya
yaitu :
 Jumlah belitan kumparan primer sedikit, tidak lebih dari lima
belitan.
 Arus primer tidak dipengaruhi beban yang terhubung pada
kumparan sekunder, karena arus primer ditentukan oleh arus
pada jaringan yang di ukur.
 Semua beban pada kumparan sekunder dihubungkan seri.
 Terminal sekunder trafo arus tidak boleh terbuka,
 Spesifikasi Pada CT (Trafo Arus) yaitu Ratio CT, Burden atau nilai
maksimum daya (dalam satuan VA), kelas CT menentukan untuk sistem
proteksi, titik saturasi/jenuh saat CT melakukan excitasi tegangan,
impedansi dalam CT.
 Untuk Pengukuran (Metering) :
 Teliti untuk daerah kerja 5 - 120 % In.
 Level kejenuhan rendah, untuk mengamankan meter pada saat
terjadi gangguan (cepat jenuh).
 Meter-meter / pengukuran yang menggunakan arus sekunder
transformator arus
 Untuk Proteksi (Relay) :
 Klas ketelitiannya relatif rendah.
 Kejenuhannya tinggi (tidak cepat jenuh).
 Proteksi / pengaman yang menggunakan arus sekunder
transformator arus

19
 Penyebab Sisi Sekunder Pada CT Harus Dalam Keadaan Short Circuit
atau tidak boleh ikut dialiri arus karena akan berdampak timbulnya arus
besar pada sisi primer.
 Penyebab Sisi Sekunder CT Tidak Dipasang MCB / Fuse yaitu
rangkaian sekunder tidak boleh terbuka yang mengakibatkan Fluks akan
menjadi besar sehingga tegangan sekuder naik, terjadi kejenuhan
pada inti akan panas.
 Pengertian burden adalah impedansi dari rangkaian sekunder di dalam
satuan Ohm dan power factor.
Dalam Memilih Trafo Arus harus mencakup :
 Pemilihan tegangan tinggi peralatan atau Pemilihan ratio
transformator pengenal.
 Pemilihan arus primer.
 Pemilihan Arus sekunder dalam ampere 1 A dan 5 A.
 Pemilihan burden yaitu Beban yang akan dihubungkan ke
sekunder trafo arus menentukan daya aktif dan reaktif di
terminal sekunder yang berhubungan dengan burden trafo
arus.
 Pemilihan Accuracy class.
 Pemilihan Arus Thermal Pengenal (Ith) diberikan 100, 200,
300 dst x arus pengenal CT dalam “kA”, yang diambil dari
arus gangguan hubung singkat di system.
 Pemilihan arus dynamic pengenal (Idyn) diambil dari arus
ther-mal pengenal.

20

Anda mungkin juga menyukai