Anda di halaman 1dari 27

PT PETRA ENERGY INTERNATIONAL

PROFIL PERUSAHAAN

VISI
Menjadi Perusahaan Oil and Gas Kelas Dunia

MISI
Melaksanakan Pengusahaan sektor hulu minyak dan gas dengan berwawasan
lingkungan sehat, dan mengutamakan keselamatan serta keunggulan yang
memberikan nilai tambah bagi pemangku kepentingan dan masyarakat sekitar.

PT Petra Energy International adalah perusahaan yang menyelenggarakan


kegiatan usaha di sektor hulu bidang minyak dan gas bumi, meliputi eksplorasi
dan eksploitasi. Di samping itu, juga melaksanakan kegiatan usaha penunjang lain
yang secara langsung maupun tidak langsung mendukung bidang kegiatan usaha
utama.
SP Petra Lematang – Sumatera Selatan merupakan salah satu stasiun
pengumpul yang akan di operasikan oleh Petra Energy di Sumatera. Pada
Lapangan “Lematang” terdapat 5 Sumur gas yang siap untuk berproduksi dimana
pada lapangan tersebut terdapat cadangan terbukti sebesar 600 BSCF gas alam
dengan karakteristik 20% CO2. PT Petra Energy akan mendesain Lapangan
Lematang untuk dapat memproduksi 100 MMSCFD gas alam untuk memenuhi
GSA (gas sale agreement) kepada PLN (Perusahaan Listrik Negara) dengan
kontrak selama 10 tahun.
BAB I
LAPANGAN “LEMATANG”

1.1. Sejarah Lapangan “Lematang”


Lapangan “Lematang” merupakan lapangan yang berada di
Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Lapangan ini
merupakan lapangan baru yang belum pernah diproduksikan sehingga
tidak mempunyai production history. Pada lapangan gas “Lematang” telah
terdapat 5 sumur dimana telah menembus zona hidrokarbon. Kelima
sumur tersebut adalah sumur PTR-1, PTR-2, PTR-3, PTR-4, dan PTR-5
yang siap untuk produksi.
Source Rock pada lapangan ini adalah batuan shale pada Formasi
Lahat dengan TOC 1.7-8.5 wt% dan batupasir pada formasi Talang akar
dengan TOC 1.5-8 wt%. Reservoir rock adalah batugamping pada formasi
Batu Raja yang terdiri dari satu target lapisan reservoir yaitu BTL. Cap
Rock adalah shale pada Formasi Gumai dan Trap adalah struktural yaitu:
antiklin. Lingkungan pengendapannya berada di shallow marine.
Diketahui cadangan terbukti sebesar 600 BSCF.

1.2. Reservoir Produksi


Lapangan “Lematang” terletak di onshore. Untuk lapangan
“Lematang” merupakan sumur yang belum pernah diproduksikan. Pada
lapangan ini terdapat Pada lapangan gas “Lematang” telah terdapat 5
sumur pada formasi Batu Raja. Pada lapangan “Lematang” menembus
Sandstone, Lempung dan Shalestone. Tekanan awal lapisan BTL 2675
psia. Mekanisme pendorongan lapangan ini adalah Depletion Drive.
Perencaan produksi di lapangan pada tanggal 01 Januari 2021 sampai
dengan 31 Desember 2031.
1.3. Stratigrafi Regional
Urutan stratigrafi didalam Sub Cekungan Palembang Selatan telah
dilakukan oleh Tobler pada tahun 1908. Penelitian selanjutnya pada
pertengahan tahun dua - puluhan menentukan keberadaan unconformity
antara sedimen Tersier dan batuan Pra-Tersier yang berada di bawahnya.
Klasifikasi lebih detail kemudian dihasilkan oleh Spruyt pada tahun 1956
atas dasar sejumlah data yang diperoleh melalui pemboran intensif dan
aktivitas-aktivitas eksplorasi minyak di daerah ini. Pembagian
Lithostratigrafi Sub Cekung-an Palembang Selatan dimulai dengan sekuen
transgresi dengan diendapkannya en-dapan vulkanik non marine (Formasi
Lahat), endapan paralik (Formasi Talang Akar Ba-wah) yang sering disebut
sebagai GRM (Great sand member), endapan laut dangkal (Formasi Talang
Akar Atas atau sering disebut sebagai TRM/Transition Member dan
Formasi Baturaja), dan endapan laut dalam (Formasi Gumai). Sekuen
transgresi pada ba-gian atas diikuti oleh sekuen regresi dengan
diendapkannya Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim dan
Formasi Kasai. Keseluruhan sekuen sedimentasi secara umum dikenal
sebagai megacycle, dimana pada bagian bawah berupa fasies transgresi
(Telisa Group), yang terutama terdiri dari material klastik kasar, dan pada
bagian atas berupa fasies regresi (Palembang Group) terdiri atas material
klastik kasar (Gambar 2.7).
Gambar 1.1 Urutan Sedimentasi di Sub Cekungan Palembang Selatan.
(Bishop, 2000)

1.4. Formasi Baturaja (BRF)

Unit karbonat BRF mengindikasikan kondisi lingkungan laut di


Sub Cekungan Palembang Selatan. Unit ini berkembang sebagai coral
reef tebal pada struktur tinggian. Secara lateral pada daerah rendahan yang
merupakan bagian dari cekungan, lebih bersifat lempungan dan terdapat
sebagai fasies marly. Formasi Baturaja berumur Miosen Awal (N.5-N.8),
tetapi di Blok Lahat, berdasar contoh batuan permukaan mengindikasikan
BRF berumur Oligosen Akhir sampai Miosen Awal (Total, 1988).
BAB II
PROPERTIES

2.1. Karakteristik Gas

Tabel 2.1 Komposisi Gas Lapangan Gas “LEMATANG”


Komposisi Fluida Fraksi Mol
Carbon Dioxide 0.016
Methane 0.776
Ethane 0.075
Propane 0.059
Iso-Butane 0.009
Butane 0.017
Iso-Pentane 0.006
Pentane 0.006
Hexane 0.036

2.2. Karakteristik Reservoir


Tabel 2.2 Karakteristik Reservoir Lapangan Gas “Perkutut”
Parameter Satuan Lapisan BTL
Porositas % 18-25
Permeabilitas Md 40-70
0
Temperature F 250
Gas Gravity SG 0.724
Z-Factor 0.905
Salinity Ppm 1065
Pi Psia 2675
Bg Cuft/SCF 0.00820602
Viskositas Gas Cp 0.020
BAB III

FASILITAS PRODUKSI

3.1. Pendahuluan
Lapangan “Lematang” merupakan lapangan gas yang baru pertama
kali akan berproduksi, sehingga memerlukan pembangunan fasilitas
Produksi guna menampung fluida hasil produksi. Lokasinya terletak di
onshore. Secara geografis lapangan "Lematang" terletak di Kabupaten
Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan. Lapangan ini mempunyai 5
sumur yaitu PTR-1, PTR-2, PTR-3, PTR-4, dan PTR-5. Fluida hasil
produksi lapangan “Lematang” yang berupa gas dari kepala sumur perlu
dilakukan pengolahan sebelum di salurkan ke bagian penjualan. Dalam
rencana pengembangan lapangan diperlukan penunjang fasilitas – fasilitas
agar proses penyaluran fluida dari kepala sumur sampai tempat tujuan
dapat berjalan sesuai pengembangan lapangan yang diinginkan. Fasilitas
yang digunakan harus mampu mendukung rencana manajemen reservoir.
Biaya dan operasi didasarkan pada kebutuhan sesuai karakter fuida
produksi agar berbagai fasilitas yang akan digunakan efisien.
Pada lapangan “lematang” akan dibangun stasiun pengumpul milik
PT Petra Energy International pada wilayah kerja sumatera, Kecamatan
Lematang, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Panjang
Lahan 45 Km dan Lebar Lahan 20 Km, total luas lahan adalah 900 Km2
dengan jenis medan adalah berbukit.
Lapangan “Lematang” merupakan lapangan onshore yang berada
di Kecamatan Lematang, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera
selatan. Pada gambar 6.1 dibawah menunjukkan bahwa jarak pipa dari
stasiun pengumpul menuju sales point PLN (Perusahaan Listrik Negara)
berjarak 16 km.
Gambar 3.1. Rencana Pengembangan Pipa

3.2. Fasilitas Produksi di Permukaan Lapangan “Lematang”


Pada lapangan “Lematang” perlu dilakukan persiapan penambahan
fasilitas produksi yang mampu menampung fluida hasil produksi, sesuai
fungsi utama dari stasiun pengumpul yaitu mengumpulkan fluida
produksi, dan memisahkannya dari pengotor. Sehingga gas yang
terproduksi telah siap dikomersilkan.
Untuk mencapai tujuan diatas, maka fasilitas produksi akan di
desain sedemikian rupa sehingga mampu menopang seluruh proses yang
ada sesuai dengan kebutuhan agar memaksimalkan efisiensi dan
keekonomisan kerja di stasiun pengumpul.
Tabel 6.1 Surface Facilities Lapangan “Lematang”
No. Peralatan Utama Satuan Jumlah
1. Separator MBBLF 1
2. Scrubber MMSCF 1
3. CO2 Removal MMSCF 1
4. Water Treatment BBL 1
5. Power Plant KVA 1
6. Flare - 1
7. Manifold - 1
8. Metering - 4
9. Flare - 1
10. Water Tank - 1

Pada stasiun pengumpul, proses pemisahan fluida gas dan cairan


dilakukan dengan menggunakan unit separator dua fasa. Fluida yang
diproduksi akan di treatment sesuai dengan kebutuhan hingga nantinya
disalurkan ke pembeli dengan menggunakan pipeline, lalu gas yang keluar
digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Air yang telah
dipisahkan akan diolah di fasilitas water treatment terlebih dahulu hingga
sesuai dengan batas kelayakan hingga dapat digunakan maupun dialirkan
ke tempat pembuangan limbah.
Tipikal blok diagram fasilitas produksi permukaan dapat dilihat
padagambar 6.1

Gambar 3.2. Skema Fasilitas Produksi di Permukaan

3.3. CO2 Removal Plant


Pada Stasiun Pengumpul Petra Lematang akan dibangun CO2
Removal Plant yang mana berfungsi untuk menurunkan kandungan CO2
dalam gas. Adapun karakteristik kandungan CO2 dalam gas pada
lapangan “lematang” berkisar 20%. Kandungan CO2 ini akan diturunkan
dengan cara absorpsi secara kimia menggunakan larutan Amine.
Pemisahan CO2 dicapai dengan menggunakan larutan MDEA yaitu
methyl-diethanol amine dengan activator, dengan menggunakan senyawa
tersebut kandungan CO2 dapat diturunkan menjadi 5%.
CO2 Removal merupakan salah satu contoh proses pengolahan gas
dalam proses pemisahan gas pengotor (impurities) seperti CO2 dan H2S.
Target kemurnian sangat dipengaruhi oleh: target kemurnian gas yang
diinginkan, konsentrasi pengotor dalam gas yang diolah, jenis solvent yang
dipakai.
Tujuan penurunan kandungan CO2 ini pada dasarnya untuk
meningkatkan heating value pada gas yang mana menurut standar
konsumen kandungan CO2 dalam gas dibawah 10%. Gas alam dengan
larutan amine akan mengalami reaksi eksotermik reversible. Kandungan
CO2 dalam gas akan terikat dalam larutan amine. Larutan amine yang
akan digunakan di Stasiun Pengumpul-Petra Lematang adalah campuran
dari MDEA kedalam air dengan perbandingan volume 50%.

Gambar 3.3. Skema Siklus Amine Pada CO2 Removal Plant


3.3.1. Peralatan Di CO2 Plant
Untuk menunjang proses pemurnian gas pada CO2 Removal Plant,
maka dibutuhkan peralatan atau fasilitas produksi khusus. Adapun
peralatan yang di gunakan adalah sebagai berikut:

1. Absorber
Gas yang telah disaring solid particle & kotorannya di Scrubber
akan dialirkan ke Absorber melalui pipa inlet bawah dan akan keluar
menuju nozzle atas. Proses penyerapan CO2 dilakukan dalam Absorber
dengan cara mengalirkan gas dari bawah dan amine dari atas (counter
current). Pada saat gas melintasi Absorber dari bawah keatas, secara
bertahap CO2 pada gas akan terlarut ke dalam larutan lean amine. Gas
keluaran Absorber (treated gas) meninggalkan Absorber dengan
konsentrasi CO2 yang diinginkan. Rich amine (larutan MDEA yang
banyak mengandung CO2 ) meninggalkan Absorber pada bagian
bawah Absorber dan menuju Flash Drum.

2. Flash Drum
Rich amine keluaran Absorber akan menuju Flash Drum. Di Flash
Drum terjadi penurunan tekanan secara drastis dari sehingg senyawa
yang ikatanya lemah (heavy hydrocarbondan CO2) akan terlepas dari
larutan MDEA. Heavy hydrocarbon yang tertangkap akan dibuang ke
oil cather dan flash gasnya akan dialirkan ke CO2 stack. Flash Drum
akan mendorong rich amine sampai ke Stripper.

3. Lean / Rich Heat Exchanger


Rich amine dari Flash Drum akan mengalir menuju L/R Heat
Exchanger. Kegunaan dari L/R amine exchanger ini adalah untuk
effisiensi panas dimana rich amine yang menuju Stripper mengalami
pemanasan awal sedangkan lean amine yang menuju Absorber atau
Cooler mengalami pendinginan awal. Dengan demikian akan
mengurangi beban pemanasan di Stripper sekaligus mengurangi beban
pendinginan di Cooler.

4. Stripper
Stripper adalah tempat terjadinya proses regenerasi larutan rich
amine menjadi leanamine dengan cara memanasi larutan rich amine
tersebut hingga mencapai temperatur 250 F sehingga larutan amine
yang telah bersih dari kandungan CO2 dapat disirkulasikan kembali ke
Absorber sebagai lean amine untuk menyerap CO2. Larutan MDEA
dari L/R Heat Exchanger akan masuk pada bagian atas Stripper lalu
menuju Reboiler untuk mendapatkan panas dari hasil bersinggungan
dengan terminol yang bersuhu 270 F dan akan jatuh ke surge tank
stripper secara gravitasi. Dari panas itulah CO2 akan terlepas dari
larutan amine.

5. Amine Booster Pump


Lean amine yang berada di Stripper akan dihisap dan disalurkan
oleh Amine Booster Pump menuju L/R Heat Exchanger. Amine
Booster Pump dilengkapi suction strainer yang berfungsi untuk
menangkap kotoran-kotoran padat yang berada dalam lean amine.
Amine Booster Pump akan mati secara otomatis (trip) jika level
Stripper mencapai 0.1% untuk menjaga kavitasi pompa. Lean amine
selanjutnya akan dipompakan menuju L/R Heat Exchanger.

6. Lean Amine Cooler


Lean Amine Cooler adalah suatu alat yang berfungsi untuk
mendinginkan lean amine. Lean Amine Cooler akan bekerja secara
otomatis atau manual. Jika di setting otomatis maka speed dari motor
akan di atur oleh suatu alat yaitu variable speed control. Temperatur
lean amine mencapai 130F sangat penting karena jika temperature
lebih besar dari 130F, kemampuan absorbs kurang optimum dan jika
temperature lebih kecil dari 130F akan terjadi foaming yang
berlebihan.

7. Amine Filter
Lean amine sebelum masuk ke Absorber akan dilewatkan ke
MDEA filter yang terdiri dari Sock Filter dan Charcoal Filter sebesar
10 s/d 20% dari total flow lean amine ke Absorber. Jumlah lean amine
yang melawati filter dapat dilihat di indicator.
Filter merupakan komponen yang sangat penting dalam sistem
operasi CO2 Removal Plant. Filter berfungsi untuk menyaring scale,
produk korosi dan padatan-padatan lain yang terdapat dalam aliran gas
yang tidak terpisahkan dalam separator, yang dapat menyebabkan
terjadi foaming pada Absorber dan Stripper sehingga timbul kerusakan
pada peralatan. Untuk menghindari kerusakan pada sistem peralatan,
filter harus dirawat dengan teratur. Pengecekan dan pembacaan
pressure gauge yang benar memberikan indikasi bahwa filter dalam
kondisi baik. Jika filter sudah tersumbat dan memerlukan pembersihan
maka back pressure yang terbaca mulai naik.
Filter yang digunakan dalam proses ini ada 2 jenis yaitu:
 Solid filter dinamakan juga sock filter berfungsi untuk menyaring
partikel yang kasar seperti pasir dan lumpur yang terbawa oleh rich
amine.
 Carbon filter dinamakan juga charcoal filter menggunakan bahan
baku arang, arang kayu bakar, arang bakau dan lain sebagainya.
Berfungsi untuk menyerap mineral yang merugikan dalam larutan
amine seperti condensate, H2S dan lain sebagainya yang
terproduksi dari wet gas.
8. Amine Injection Pump
Lean amine yang telah diregenerasi, di dinginkan dan disaring
kotoran-kotoranya kemudian dihisap dan disalurkan ke Absorber oleh
Amine Injection Pump dengan tujuan untuk melakukan penyerapan
CO2 kembali di absorber.

3.4. Pengembangan Sistem


Penyediaan listrik pada fasilitas permukaan pengembangan
lapangan gas “Lematang” menggunakan bahan bakar gas. Gas tersebut
diambil dari produksi gas pada lapangan ini. Dengan memanfaatkan gas
maka akan dapat menekan biaya bahan bakar jika menggunakan sumber
lain sebagai pembangkit listrik.
Semua water yang terproduksikan akan di treatment setelah
melalui proses treatment di fasilitas produksi yang telah dikembangkan,
sehingga sesuai dengan batas kelayakan dan dapat digunakan maupun
dialirkan ke tempat pembuangan limbah.
BAB IV

AMENITIES

4.1. Fasilitas Penunjang Stasiun Pengumpul


Pada lapangan “lematang” akan dibangun stasiun pengumpul milik
PT Petra Energy International pada wilayah kerja sumatera, Kecamatan
Lematang, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Panjang
Lahan 45 Km dan Lebar Lahan 20 Km, total luas lahan adalah 900 Km2
dengan jenis medan adalah berbukit.
Stasiun Pengumpul yang akan dibangun bertujuan untuk mengolah
gas terproduksi dari 5 sumur gas yang ada di lapangan “Lematang”. Untuk
menunjang pelaksanaan staiun pengumpul maka akan dibangun daerah
perkantoran dan penunjang lainnya di sekitar stasiun pengumpul.
Pada lahan tersebut akan dibangun bagunan untuk menunjang
pelaksanaan stasiun pengumpul berupa:
 Pos Security
 Muster Point
 Parking Area
 Pantry
 K3 Building
 Lapangan Olahraga
 Aula Building
 Production Division Building
 Reservoir Division Building
 Maintenance Division Building
 Panel Room
Serta didalam area Stasiun Pengumpul akan dibangun Fasilitas
berupa:
 Stasiun Pengumpul Security Pos
 Stasiun Pengumpul Muster Point
 Operator Room
 Laboratorium
 Workshop Peralatan
 Fire Fighting System

Gambar 4.1. Denah Fasilitas Penunjang Statsiun Pengumpul


BAB V

JADWAL PROYEK

5.1. Tahap Pengerjaan


Pengerjaan proyek pembangunan Stasiun Pengumpul yang akan
dilakukan dibagi dalam beberapa tahap kegiatan sebagai berikut:

Tabel 5.1 Jenis Kegiatan

Stasiun Pengumpul Petra Lematang


Lama
No. Nama Kegiatan Pengerjaan
1 Lokasi 2 Bulan
2 Pembebasan Lahan 2 Bulan
3 Perijinan dan Amdal 4 Bulan
4 Land Clearing 2 Bulan
5 Pembangunan Fasilitas Penunjang 12 Bulan
6 Pembangunan Surface Facilities 18 Bulan
7 Tes Produksi 1 Bulan
8 Produksi 120 Bulan

Tabel 5.2. Guntt Chart Proyek Pembagunan Stasiun Pengumpul


BAB VI
HSE (HEALTH, SAFETY, AND ENVIRONMENT) & CSR
(CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY)

8.1 Tujuan
Menjaga keselamatan & kesehatan setiap pekerja & masyarakat
sekitar serta melindungi lingkungan hidup dari bahaya dan dampak negatif
yang mungkin timbul dari kegiatan perusahaan dan mitra usaha (zero
incident). Jika hal tersebut dapat tercipta maka akan terwujud lingkungan
kerja produktif, kondusif dan tidak dihantui kekhawatiran berlebih
terhadap terjadinya kecelakaan.
8.1.1 Prinsip Operasional
Prinsip dasar dalam operasionalnya HSE memiliki beberapa
prinsip prinsip dasar yaitu:
1. Semua kecelakaan, cedera, sakit akibat kerja dan pencemaran
lingkungan dapat dicegah
2. Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan( K3L) adalah
persyaratan kerja dari setiap karyawan.
3. Keselamatan, Kesehatan dan LingkunganKerja ( K3L) adalah
tanggung jawab setiap karyawan
4. Jajaran Manajemen bertanggung jawab dalam pelaksanaan Manajemen
K3L
5. Audit Manajemen K3L harus dilakukan secara berkala.
6. Setiap penyimpangan dalam pekerjaan harus segera diperbaiki.
7. Setiap kecelakaan harus diselidiki
8. Kepedulian K3L mempunyai dampak yang baik pada bisnis
perusahaan
9. Semua resiko dan paparan kerja harus dievaluasi secara sistematis dan
dilakukan tindakan pencegahan yang sesuai secara fisik dan
prosedural.
8.1.2 Komitmen
Manajemen, pekerja, & mitra usaha memprioritaskan aspek HSE
dengan cara sebagai berikut :
1. Mengintegrasikan dan mengimplementasikan aspek HSE dalam setiap
operasi sesuai best engineering practices.
2. Meningkatkan kompetensi pekerja akan aspek HSE melalui pelatihan.
3. Beroperasi dalam kondisi aman dan terkontrol, serta sesuai prosedur,
desain, dan batasan lingkungan.
4. Melakukan pemeliharan seluruh sistem yang digunakan dalam operasi.
5. Memastikan alat keselamatan tersedia dan berfungsi sebelum
beroperasi.
6. Tanggap terhadap masalah operasi dan penyelesaiannya secara efektif
dan efisien sehingga tercapai operasi yang handal, aman, & ramah
lingkungan.
7. Menerapkan upaya limbah minimal, produksi bersih, dan efisiensi
energi.
8. Memenuhi kebutuhan pelanggan serta memelihara hubungan harmonis
antar pekerja, mitra usaha, instansi pemerintahan, dan masyarakat
sekitar.
9. Menjadikan kinerja HSE sebagai penghargaan pekerja dan mitra usaha.
10. Mematuhi & melaksanakan peraturan, kebijakan, & standard HSE
serta melakukan evaluasi & penyempurnaan secara terus-menerus.

8.1.3 Pemantauan dan Penerapan HSE


Penerapan dalam HSE harus melindungi aspek kesehatan dan
keselamatan pekerja dan lingkungan, adapun aspeknya adalah:
1. Personal Protection Equipment (PPE) dan Standard Operating
Procedure (SOP)
PPE merupakan standard yang tidak boleh dilupakan pekerja saat
memsuki daerah operasi. PPE merupakan aspek utama dalam menjaga
kesehatan dan keselamatan pejerja selama berada di wilayah kerja.SOP
merupakan pedoman dalam pekerja sesuai dengan syarat yang berlaku
untuk menghindari terjadinya resiko yang menyebabkan kerugian baik
pekerja dan lingkungan.

2. Pemantauan Lingkungan
Usaha melestarikan lingkungan mengacu pada tabel 6.1
Tabel 6.1 Pemantauan Lingkungan

No. Aspek Pelaksanaan


1 Bahan Mutu Air Limbah Menjamin hasil treatment limbah 50%
dibawah BMAL yang ditetapkan
pemerintah dan melaporkan data kepada
instansi terkait.

2 Bahan Mutu Air Menjamin hasil treatment limbah 50%


dibawah BMAL atau sekurang kurangnya
10% dibawah BMAL yang ditetapkan
pemerintah dan melaporkan data kepada
instansi terkait.
3 Limbah Membuat tempat penampungan limbah
dan mensterilkan limbah tersebut dan
selalu mengecek limbah agar tidak
melawati batas maksimum.

4 Pencemaran Udara Menjaga emisi udara selalu < 50% BME


Menyediakan dan merawat alat kendali
pencemaran udara

5 Pencemaran Air Menjaga konsentrasi air limbah selalu <


50% BMAL

6 Penggunaan Sumber Daya Membuat sistem pengelolaan sumber


daya yang baik
Melakukan housekeeping dengan baik
Melakukan penggunaan energi & air
dengan efisien
Menggunakan bahan baku yang efisien
7 Sistem Management Mempunyai komitmen dan kebijakan
Lingkungan lingkungan yang kuat
Mempunyai organisasi pengelolaan
lingkungan yang layak
Mempunyai sistem tanggap darurat yang
baik
8 Partisipasi dan Hubungan Mempunyai organisasi yang bertanggung
Masyarakat jawab dalam kegiatan pengembangan &
partisipasi masyarakat
Berperan aktif dalam kegiatan masyarakat
sekitar
Membina hubungan baik dengan
masyarakat sekitar
Mengikutsertakan masyarakat dalam
pengambilan keputusan yang berdampak
pada masyarakat sekitar

3. Pengelolaan Lingkungan
Perusahaan menyadari bahwa pengelolaan aspek HSEsangat
penting karena bertujuan memperkecil bahaya dan resiko di tempat
kerja dan lingkungan sekitar sehingga kerugian dapat ditekan.
Pertimbangan pengelolalaan aspek HSE sebagai berikut:
a. Dari segi hukum, pengelolaan HSE adalah kewajiban perusahaan
dan diatur dalam perundang-undangan.
b. Dari segi ekonomi, pengelolaan HSE adalah bagian dari
peningkatan keuntungan perusahaan. Pengelolaan HSE yang lemah
merupakan celah terjadinya incident yang menimbulkan kerugian.
c. Dari segi moral, kegiatan operasional perusahaan harus dapat
menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja dan masyarakat
sekitar serta turut melestarikan lingkungan.
Kegiatan produksi pada lapangan Perkutut sendiri kian waktu
menimbulkan dampak, dampaknya bisa positif ataupun negatif.
Dampak tersebut dapat terjadi pada tahap prakontruksi, tahap
kontruksi, pada tahap eksploitasi serta pada waktu pemulihan kembali.
Berikut penjelasan dari tiap tahapnya:

1. Tahap Pra-Konstruksi
Tahap ini merupakan tahap sebelum kegiatan pembangunan
dilaksanakan. Tahap pra kontruksi ini adalah perizinan, survei
pendahuluan dan pembebasan lahan.

a. Perizinan
Sebelum melakukan eksploitasi sebelumnya diperlukan perizinan dari
berbagai instansi yang bersangkutan. Perizinan tersebut adalah:
 Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Ditijen Migas
 Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan
 Pemerintah Kabupaten Muara Enim

b. Survei Pendahuluan
Survei pendahuluan mengkaji terhadap kesesuaian pembangunan
dengan tata ruang wilayah, sehingga tidak menimbulkan pertentangan
dengan masyarakat dengan pemeritah, survei pendahuluan bertujuan
untuk mencari lokasi pembangunan fasilitas produksi.

2. Tahap Kontruksi
Kegiatan konstruksi meliputi mobilisasi tenaga kerja, bahan dan alat.
 Mobilisasi Alat dan Bahan
Kegiatan ini dapat membutuhkan waktu yang lama selama proses
mobilisasi alat dan bahan.
 Mobilisasi Tenaga kerja
Dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar
daerah yang akan menjadi daerah pengembangan.

3. Tahap Operasi
Berikut beberapa tahapan operasi yaitu:
 Kegiatan Produksi
 Perawatan Sumur dan Fasilitas Produksi
 Perawatan Bangunan Fasilitas Penunjang
 Perawatan Area Stasiun Pengumpul

4. Tahap Pasca Operasi


Pada tahapan ini yang dilakukan adalah:
 Penutupan Sumur dan Fasilitas produksi
 Penanganan Limbah
Limbah yang ada yakni limbah air, setelah melewati water
treatment dan tertampung di water storage dimanfaatkan untuk
hidran dan pengaliran pertanian.

4. Rencana – Rencana dalam Keadaan Darurat


Rencana tanggap darurat dan prosedur akan dikembangkan untuk
mendukung fungsi sistem di tempat yang meliputi:
 Sistem penghentian darurat
 Sistem firefighting
 Pertolongan pertama
 Sistem evakuasi darurat
 Personil terlatih dalam menghadapi keadaan darurat
8.1.4 Corporate Social Responsibility (CSR)
Perhatian HSE tidak hanya kepada aspek teknis dan ekonomis
dalam pengembangan lapangan, namun juga kepada aspek sosial. Oleh
sebab itu, berlandaskan UU No.22 Tahun 2001 tentang Undang-Undang
Minyak dan Gas Bumi Bab VIII pasal 40 ayat 3,4,5 dan 6 yang berisikan
Badan Usaha dan Bentuk Usaha Tetap yang melaksanakan kegiatan usaha
minyak dan gas bumi ikut bertanggung jawab dalam mengembangkan
lingkungan dan masyarakat setempat, terciptalah suatu Community
Development atau Pengembangan Masyarakat. Adapun program CSR
yang akan perusahaan kami lakukan:

1. Bidang Pendidikan
Dalam hal ini Perusahaan dan Pemerintah memiliki tujuan yang sama
yakni mencerdaskan bangsa. Berikut program yang akan Perusahaan
laksanakan dalam hal edukasi:
 Pelatihan peningkatan kualitas guru, pengenalan tumbuh kembang
dan komunikasi anak serta pengembangan Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD) di daerah lapangan produksi yakni di Kabupaten
Muara Enim, Provinsi Sumatra Selatan.
 Mendukung program Indonesia Mengajar, dengan membiayai
pengiriman tiga orang pengajar muda ke daerah pelosok di
Indonesia selama 12 bulan.
 Pemberian beasiswa bekerja sama dengan Yayasan Rumah Zakat
Indonesia kepada 50 siswa-siswi sekolah dasar yang berada di
sekitar wilayah kerja lapangan Perkutut.
 Memberikan bantuan komputer untuk laboratorium komputer
SMA.
2. Bidang Kesehatan
Dengan kesehatan kita dapat mengukur kesejahteraan masyarakat.
Untuk dapat meningkatkan standar kesehatan masyarakat ada beberapa
program yang diberikan perusahaan yaitu:
 Pelatihan kader kesehatan masyarakat, penyuluhan budaya hidup
sehat dan pelatihan budidaya serta pemanfaatan tanaman obat
keluarga di Kabupaten Muara Enim.
 Mengadakan imunisasi massal agar bayi-bayi tidak rentan terhadap
penyakit dan virus.
 Memberikan penyuluhan kepada ibu hamil bagaimana kiat kiat
menjaga kesehatan selama kehamilan sampai proses melahirkan.

3. Bidang Peningkatan Akses Terhadap Infrastruktur


Membantu kelancaran mobilisasi masyarakat Muara Enim
merupakan kewajiban Perusahaan sehingga tujuan berpartisipasi
membangun daerah tercapai. Program yang akan dilaksanakan
sebagai berikut :
 Memperbaiki jalan rusak yang menghambat roda
perekonomian masyarakat Muara Enim
 Membangun jembatan untuk mempermudah masyarakat
menyebrangi sungai

4. Peningkatan Ekonomi
Dalam usaha meningkatkan ekonomi, Perusahaan kami berupaya
mengembangkan potensi sumber daya manusia di daerah sekitar
lapangan produksi dengan program sebagai berikut:
 Pengenalan dan pelatihan teknologi budidaya padi dengan
metode SRI Organik.
 Pengenalan dan pelatihan teknologi budidaya karet organik
bekerjasama dengan Balai Penelitian Sembawa (BPS) dan
Dinas Perkebunan.
 Penguatan kohesi sosial melalui pelatihan dasar organisasi dan
memfasilitasi pembentukan kelompok jaringan petani
pembudidaya karet organik di Kabupaten Musi Rawas,
Provinsi Sumatra Selatan.
 Koperasi Keluarga Sejahtera sebagai wadah petani
pembudidaya padi dengan metode SRI organik dan Koperasi
Budidaya Tanaman Herbal di Kabupaten Banyuasin, Provinsi
Sumatra Selatan.
 Pelatihan kewirausahaan meliputi keterampilan mata
pencaharian dan peralatan, akses modal, serta peningkatan
mutu dan akses pasar.
 Bantuan modal bagi usaha mikro ibu rumah tangga yang
dikemas dalam bentuk Microfinance bekerja sama dengan
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri
Pedesaan (PNPM-Pedesaan) Kabupaten Musi Rawa, Provinsi
Sumatra Selatan melalui program Simpan Pinjam Perempuan
(SPP).