Anda di halaman 1dari 51

1

I. IDENTITAS MAHASISWA

1. Nama : Andi Caezar To Taddampare

2. Tempat Tanggal Lahir : Ujung Pandang, 24 Agustus 1994

3. NIM :1293142063

4. Program Studi : Manajemen

5. Konsentrasi : Sumber Daya Manusia (SDM)

6. Fakultas : Ekonomi

7. Alamat : Hati Gembira No. 27

II. JUDUL

“PENGARUH PROGRAM KESELAMATAN DAN KECELAKAAN

KERJA (K3) TERHADAP KINERJA PEKERJA BENGKEL

PENGECATAN MOBIL DI KOTA MAKASSAR”

III. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini, industri berkembang pesat dalam hal ragam maupun

jumlahnya di Indonesia. Kebutuhan masyarakat akan berbagai model barang

mendorong perkembangan yang sangat pesat dalam bidang industri. Salah satu

kebutuhan masyarakat yang saat ini telah menjadi kebutuhan utama adalah

kebutuhan akan adanya alat transportasi, baik itu berupa kendaraan roda dua

maupun roda empat. Hal ini mendorong industri yang bergerak dalam bidang

pembuatan kendaraan mengalami lonjakan kuantitas, dimana dalam prosesnya,


2

industri ini terdapat beberapa tahapan pekerjaan, dimulai dari perancangan model,

pembuatan model sampai kepada proses painting atau pengecatan, yang mana

pada tahap ini perlu mendapatkan perhatian khusus terkait masalah kesehatan dan

keselamatan pekerjanya.

Tenaga kerja sebagai sumber daya manusia, perlu mendapat perhatian

khusus baik kemampuan, keselamatan, maupun kesehatan kerjanya.Upaya

perlindungan tenaga kerja perlu diterapkan karena berhubungan dengan kesehatan

tenaga kerja.Resiko bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja adalah bahaya

kecelakaan dan penyakit akibat kerja, akibat kombinasi dari berbagai faktor yaitu

tenaga kerja dan lingkungan kerja (Suma‟mur, 2009). Tenaga kerja merupakan

factor strstegis dalam mendukung melesatnya perkembangan industry dan usaha

serta pembangunan secara menyeluruh.Interaksi antara tenaga kerja dengan

pekerjaan dan peralatan produksi yang semakin canggih meningkatkan pemaparan

terhadap risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir masih memiliki angka

kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Tercatat pada tahun 2011 terdapat 99.491

kasus atau rata-rata 414 kasus kecelakaan kerja per hari, sedangkan tahun

sebelumnya hanya 98.711 kasus kecelakaan kerja, 2009 terdapat 96.314 kasus,

2008 terdapat 94.736 kasus, dan 2007 terdapat 83.714 kasus (Jamsostek, 2012).

Berdasarkan data BPS, pada tahun 2015 status pekerjaan penduduk adalah

bekerja dengan status berusaha (46,79%), pekerja penerima upah (38,58%), dan

pekerja keluarga (9,83%). "Mereka tersebar di sektor formal maupun informal,"

katanya.
3

Sementara data dari Jamsostek menunjukkan, 9 orang meninggal akibat

kecelakaan kerja pada tahun 2013.Menurutnya, data tersebut hanya menunjukkan

pekerja yang aktif dan tercatat.Itu artinya, data tersebut hanya menunjukkan 10%

dari keseluruhan pekerja yang mengalami kecelakaan kerja aktual.

Sementara data dari ILO menunjukkan, rata-rata terdapat 99.000 kasus

kecelakaan kerja. Dari total jumlah itu, sekitar 70% berakibat fatal, yakni

kematian atau cacat seumur hidup, dalam lingkungan kerja, dia mengatakan,

pekerja rentan mengalami penyakit yang diakibatkan kebisingan, radiasi kimia-

biologi, sampai kecelakaan dalam pekerjaan konstruksi.

Angka kecelakaan kerja di dunia pun masih sangat tinggi, kondisi-kondisi

berbahaya seperti kondisi lingkungan, mesin-mesin dan peralatan, serta bahan-

bahan yang mudah meledak, mudah terbakar ataupun sifat berbahaya lainnya

sangat memungkinkan terjadinya kecelakaan kerja. Pada tahun 2012 di Cina, 26

pekerja tambang tewas akibat ledakan di salah satu tambang batubara (Anonim_2,

2012).

Pekerjaan sebagai pengecat mobil merupakan salah satu jenis pekerjaan

yang berisiko besar untuk terjadinya gangguan kesehatan, terutama berupa

gangguan kapasitas paru. Hal ini dikarenakan cat yang digunakan mengandung

beberapa bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan .Partikel cat dalam aktivitas

pengecatan seperti cadmium, chromium, plumbum, merkuri, acrylic resin,

isocyanate dan pelaruttoluene terbukti dapat mengakibatkan gangguan fungsi paru

apabila bahan-bahan tersebut masuk ke dalam saluran pernafasan. Hasil dari


4

survei pendahuluan menunjukkan prevalensi gangguan fungsi paru pada pekerja

pengecatan mobil cukup tinggi, yaitu mencapai 30% ( Budiono, 2007 ).

Pengecatan memiliki beberapa tahapan pekerjaan, mulai dari

pengamplasan, pendempulan, pengecatan dasar dan pengecatan warna dimana

dari masing-masing tahapan tersebut memiliki risiko terjadinya gangguan

kesehatan dan kecelakan kerja terhadap tenaga kerjanya. Agen-agen biologis

berupa bakteri, agen kimia, seprti bahan cat yang digunakan,agen fisika seperti

pencahayaan dantentunya kondisi lingkungan kerja yang tidak aman akan menjadi

factor penyebab terjadinya kecelakaan kerja. Kurangnya pencahayaan akan

menyebabkan kelelahan mata bagi pekerja pngecatan, sementara ventilasi yang

kurang dapat menimbulkan hawa panas dan potensi ledakan dari bahan-bahan

kimia (Maria Kuntani dkk, 2012).

M.Fathil (2008) dalam penelitiannya di salah satu industry pengecatan

mobil di Malaysia mengemukakan bahwa efek yang ditimbulkan dari pengecatan

mobil bersumber dari 4M, yaitu men (manusia), machine (mesin peralatan),

method’s (cara kerja), and materials (bahan). Selain beberapa factor tersebut di

atas, factor lain yang dapat menybabkan kecelakaan kerja adalah adanya limbah

B3 sisa hasil pengecatan, selain berbahaya bagi tenaga kerja, juga sangat

berbahaya bagi masyarakat sekitar, limbah B3 yang mengandung bahan-bahan

pencemar, seperti cadmium, chromium bahan-bahan pencemar lain, limbah ini

akan sangat berbahaya apabila tidak dilakukan penanganan yang baik dan tepat.

Penelitian yang dilakukan Ratman dan Syafruddin (2010) mengemukakan

proses pengelolaan limbah pada industry tersebut sudah bagus dan sesuai dengan
5

PP 18 tahun 1999 j.o PP No. 85 tahun 1999 dan ditunjang peraturan - peraturan

yang lain. Pengelolaan limbah B3 PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia

meliputi reduksi, reuse & recycle, pewadahan dan pengumpulan, pengangkutan

intern, inplant treatment, pemanfaatan, penyimpanan sementara, dan outplant

treatment.

Pemerintah pada tahun 2012 telah mengeluarkan Peraturan terbaru tentang

Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja yaitu PP No.50 Tahun

2012, di dalam peraturan ini ditekankan bahwa setiap perusahaan wajib

menerapkan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) di

perusahaan. SMK3 sendiri bertujuan untuk meningkatkan efektifitas perlindungan

keselamatan dan kesehatan kerja yang terencana, terukur, terstruktur dan

terintegrasi.Diharapkan dengan adanya peraturan tersebut dapat menekan angka

kejadian kecelakaan kerja di Indonesia.

Kecelakaan kerja dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti umur, lama kerja, masa

kerja, penggunaan alat pelindung diri dan lain-lain.

Penelitian dengan studi restropektif di Hongkong dengan 383 kasus

membuktikan bahwa kecelakaan akibat kerja karena mesin terutama terjadi pada

buruh yang mempunyai pengalaman kerja di bawah 1 tahun (Ong, Sg, 1982 dalam

Hernawati 2008, ). Pada penelitian Sukamto (2004) di PT. Elnusa Geosains bahwa

dari hasil analisis statistik menggunakan chi square menunjukkan bahwa ada

hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan kecelakaan kerja dimana

terlihat bahwa distribusi kecelakaan kerja banyak terjadi adalah pekerja yang

bekerja dengan masa kerja 1-6 bulan untuk 3 tahun terakhir yaitu pada tahun 2001
6

sejumlah 34 pekerja (68%), tahun 2002 sejumlah 42 pekerja (97,7%) dan pada

tahun 2003 sejumlah 71 pekerja (98,6%) (Hernawati, ).

Sedangkan data untuk hubungan lama kerja dengan kecelakaan kerja dapat

dilihat dalam penelitian Sukamto (2004) dalam Hernawati (2008) dalam di PT.

Elnusa Geosains memperlihatkan bahwa kecelakaan kerja banyak terjadi pada

pekerja yang bekerja > 8 jam seperti terlihat pada tahun 2001 terjadi kasus

kecelakan kerja sebanyak 39 pekerja, pada tahun 2002 sebanyak 28 pekerja dan

pada tahun 2003 sebanyak 39 pekerja.

Berdasarkan adanya beberapa potensi-potensi bahaya yang telah

dikemukakan di atas, didukung dengan beberapa data kecelakaan dan adanya

gangguan kesehatan terhapa pekerja pengecatan mobil, maka dirasa perlu untu

diadakannya penelitian tentang factor-faktor yang berhubungan dengan kejadian

kecelakaan kerja pada pekerja pengecatan mobil di Kota Makassar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan tinjauan akan dampak yang ditimbulkan oleh potensi bahaya

dalam proses pengecatan mobil dimana telah dikemukakan beberapa penelitian

terkait dampak dari hal tersebut, maka penelitian ini merumuskan masalah seperti,

Bagaimana pengaruh program keselamatan dan kecelakaan kerja (K3) terhadap

kinerja pekerja bengkel pengecatan mobil di Kota Makassar?

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh program keselamatan dan kecelakaan kerja

(K3) terhadap kinerja pekerja bengkel pengecatan mobil di Kota Makassar?


7

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Ilmiah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan bahan bacaan

bagi masyarakat dan peneliti khusunya terkait faktor-faktor yang berhubungan

dengan kejadian kecelakaan pada pengecatan mobil.

2. Manfaat Institusi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang dapat digunakan

sebagai pedoman dalam menambah pengetahuan serat praktik perlindungan diri

pekerja pengecatan mobil yang ada di kota Makassar.

3. Manfaat Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wawasan intelegensi bagi peneliti

terkait isu-isu yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan kerja, dan

dapat dijadikan dasar atau pedoman bagi penelitian selanjutnya.


8

IV. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Pengertian Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian tiba-tiba yang tidak diinginkan

yang mengakibatkan kematian, luka-luka, kerusakan harta benda atau

kerugian waktu .Kecelakaan Kerja menurut Suma‟mur (1996) adalah kejadian

atau peristiwa yang tidak terduga atau diharapkan.Tidak terduga karena

dibelakang kejadian atau peristiwa itu tidak terdapat unsure kesengajaan dan

tidak diharapkan karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian material

ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai kepada yang paling berat.

Colling (2007) mendefinisikan kecelakaan kerja sebagai kejadian tidak

terkontrol atau tak direncanakan yang disebabkan oleh faktor manusia, situasi

atau lingkungan yang membuat terganggunya prose kerja dengan atau tanpa

berakibat pada cidera, sakit, kematian atau kerusakan property kerja.WHO

mendefinisikan kecelakaan sebagai suatu kejadian yang tidak dapat

dipersiapkan penanggulangan sebelumnya, sehingga menghasilkan cidera

yang riil.

Berdasarkan Undang-Undang No.3 Tahun 1992, kecelakaan kerja

adalah kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja, sejak seseorang

meninggalkan rumah menuju ke tempat kerja kembali ke rumah menempuh

jalan yang biasa sehari-hari. Dengan demikian, jika merunut pada Undang-

Undang ini, kecelakaan kerja tidak hanya termasuk pada saat sedang
9

dilakukannya pekerjaan tersebut, akan tetapi juga termasuk kecelakaan yang

terjadi pada waktu berangkat ataupun pulang kerja.

Hasil dari suatu kecelakaan adalah kerugian. Menurut Suma‟mur,

suatu kecelakaan dapat menyebabkan 5 jenis kerugian, yaitu:

a. Kerusakan

b. Kekacauan organisasi

c. Keluhan

d. Kelainan dan cacat

e. Kematian.

Berdasarkan dari definisi kecelakaan kerja, maka lahirlah keselamatan

dan kesehatan kerja yang menyatakan bahwa cara menanggulangi kecelakaan

kerja adalah dengan meniadakan unsur penyebab kecelakaan dan atau

mengadakan pengawasan yang ketat. Kecelakaan kerja sangat bertalian

dengan kleselamtan dan kesehatan kerja.

Frank E. Bird Jr.(1990) dalam Kurniawan (2008) kecelakaan adalah

suatu kejadian yang tidak dikehendaki, dapat mengakibatkan kerugian jiwa

serta kerusakan harta benda dan biasanya terjadi sebagai akibat dari adanya

kontak dengan sumber energi yang melebihi ambang batas atau struktur.Ada 3

jenis tingkat kecelakaan kerja berdasarkan efek yang ditimbulkan (Bird Jr &

Germain, 1990 ) :

a. Accident

Kejadian yang tidak diinginkan yang menimbulkan kerugian baik bagi

manusia maupun terhadap harta benda.


10

b. Incident

Kejadian yang tidak diinginkan dan belum menimbulkan kerugian.

c. Near miss

Kejadian hampir celaka dengan kata lain kejadian ini hampir

menimbulkan kejadian incident dan accident.

Dari beberapa pengertian kecelakaan kerja menurut para ahli dan Undang-

Undang di atas, Budi Kurniawan (2008) menyatakan bahwa ada 3 aspek

utama yang terlihat dari kecelakaan kerja, yaitu :

a. Keadaan apapun yang membahayakan pada tempat kerja maupun di

lingkungan kerja. Hazard ini bagi manusia menyebabkan cedera

(injury) dan sakit (illness).

b. Cedera dan sakit adalah dampak dari kecelakaan akan tetapi

kecelakaan tidak hanya terbatas pada sakit dan cedera saja.

c. Jika dalam suatu kejadian menyebabkan kerusakan atau kerugian (loss)

tetapi tidak ada cedera pada manusia, hal ini termasuk juga kecelakaan.

Kecelakaan dapat menyebakan hazard pada orang, kerusakan pada

peralatan atau barang dan terhentinya proses pekerjaan.

2. Teori Penyebab Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja tidak terjadi begitu saja, ada hal-hal yang membuat

kecelakaan tersebut sangat berpotensi besar untuk terjadi.Beberapa ahli telah

mengemukakan teori-teori terkait penyebab dari kecelakaan kerja. Adapun

teori-teori penyebab kecelakaan kerja adalah sebagai berikut (Rosid, 2012):


11

a. Teori Heinrich (Teori Domino)

Teori ini mengatakan bahwa suatu kecelakaan terjadi dari suatu

rangkaian kejadian . Ada lima faktor yang terkait dalam rangkaian

kejadian tersebut yaitu : lingkungan, kesalahan manusia, perbuatan atau

kondisi yang tidak aman, kecelakaan, dan cedera atau kerugian. Kelima

factor ini layaknya kartu domino yang diberdirikan. Jika salah satu kartu

domino, maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga kelimanya akan

roboh secara bersama.

Gambar 1.Teori Domino Heinrich

b. Teori Multiple Causation

Teori ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kemungkinan ada

lebih dari satu penyebab terjadinya kecelakaan.Penyebab ini mewakili

perbuatan, kondisi atau situasi yang tidak aman.Kemungkinan-

kemungkinan penyebab terjadinya kecelakaan kerja tersebut perlu diteliti.


12

c. Teori Gordon

Kecelakaan merupakan akibat dari interaksi antara korban

kecelakaan, perantara terjadinya kecelakaan, dan lingkungan yang

kompleks, yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan mempertimbangkan

salah satu dari 3 faktor yang terlibat.Oleh karena itu, untuk lebih

memahami mengenai penyebab-penyebab terjadinya kecelakaan maka

karakteristik dari korban kecelakaan, perantara terjadinya kecelakaan, dan

lingkungan yang mendukung harus dapat diketahui secara detail.

d. Teori Domino terbaru

Setelah tahun 1969 sampai sekarang, telah berkembang suatu teori

yang mengatakan bahwa penyebab dasar terjadinya kecelakaan kerja

adalah ketimpangan manajemen.Widnerdan Bird dan Loftus

mengembangkan teori Domino Heinrich untuk memperlihatkan pengaruh

manajemen dalam mengakibatkan terjadinya kecelakaan.

e. Teori Reason

Reason (1995-1997) menggambarkan kecelakaan kerja terjadi

akibat terdapat “lubang” dalam sistem pertahanan.Sistem pertahanan ini

dapat berupa pelatihan-pelatihan, prosedur atau peraturan mengenai

keselamatan kerja.
13

f. Teori Frank E. Bird Petersen

Penelusuran sumber yang mengakibatkan kecelakaan.Bird

mengadakan modifikasi dengan teori domino Heinrich dengan

menggunakan teori manajemen, yang intinya sebagai berikut :

1) Manajemen kurang control

2) Sumber penyebab utama

3) Gejala penyebab langsung (praktek di bawah standar)

4) Kontak peristiwa ( kondisi di bawah standar )

5) Kerugian gangguan (tubuh maupun harta benda)

3. Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja adalah hal yang harus dapat dicegah secepat

mungkin mengingat dampak yang akan ditimbulkan, untuk mengetahui cara

pencegahannya maka terlebih dahulu harus diketahui apa saja faktor-faktor

penyebab terjadinya kecelakaan kerja.

Menurut Notoatmodjo (2003) dalam kecelakaan kerja disebabkan oleh

2 faktor utama, yaitu fisik dan manusia.Perilaku pekerja itu sendiri yang tidak

memenuhi keselamatan misalnya kelengahan, kecerobohan, ngantuk,

kelelahan dan sebagainya.

Menurut Suma‟mur (1980), kecelakaan kerja yang terjadi dapat

disebabkan oleh 2 faktor, yaitu :

a. Faktor manusia meliputi aturan kerja, kemampuan pekerja (usia, masa

kerja/pengalaman, kurangnya kecakupan dan lambatnya mengambil

keputusan), disiplin kerja, perbuatan-perbuatan yang mendatangkan


14

kecelakaan, ketidakcocokan fisik dan mental. Kesalahan-kesalahan yang

disebabkan oleh pekerja karena sikap tidak wajar seperti terlalu berani,

sembrono, tidak mengindahkan instruksi, kelelahan, melamun, tidak mau

bekerja sama, dan kurang sehat. Kekurangan kecakapan karena

mengerjakan sesuatau karena tidak mendapat pelajaran mengenai

pekerjaan. Kurang sehat fisik dan mental seperti adanya cacat, kelelahan

dan penyakit.

b. Faktor mekanik dan lingkungan. Keadaan dan alat-alat dapat

menyebabkan kecelakaan kerja.Kesehatan letak mesin, tidak dilengkapi

alat pelindung diri, alat pelindung diri tidak dipakai, alat-alat kerja yang

telah rusak. Lingkungan kerja yang penting dalam kecelakaan kerja terdiri

dari pemeliharaan rumah tangga (house keeping), kesalahan disini terletak

pada rencana tempat kerja, cara menyimpan bahan baku dan alat kerja

tidak pada tempatnya, lantai yang licin dan kotor.

Banyaknya kasus kecelakaan kerja pada perusahaan di Indonesia,

menurut Germain dan Clark (2007) dalam Hapsari Putri (2008)

dilatarbelakangi oleh adanya faktor penyebab kecelakaan kerja yang disebut

dengan Incident Causation Model yang terdiri dari:

1) Kurang kontrol

2) Sebab dasar, terdiri dari faktor manusia dan faktor pekerjaan

3) Sebab langsung

4) Kejadian

5) Kerugian
15

Menurut Husni (2005) dalam Jati Kusuma (2010), ada 4 faktor

penyebab kecelakaan kerja, yaitu :

1) Faktor Manusianya.

2) Faktor material, bahan, dan peralatan

3) Faktor bahaya/sumber bahaya

4) Faktor yang dihadapi (pemeliharaan/perawatan mesin-mesin).

Adapun faktor-faktor penyebab kecelakaan menurut Benny dan

Achmadi (1991) dalam Salawati (2009) dikelompokkan menjadi :

1) Faktor Lingkungan Kerja (Work Environment)

a) Faktor Kimia

Disebabkan oleh bahan baku yang diproduksi, proses produksi dan

hasil produksi suatu kegiatan usaha. Untuk golongan kimia dapat

digolongkan kepada benda-benda yang mudah meledak, mudah

terbakar dan lain-lainya.

b) Faktor Fisik

Misalnya penerangan di dalam ruangnan maupun di luar ruangan,

panas , kebisingan dan lainnya.

c) Faktor Biologis

Dapat berupa bakteri, jamur, mikroorganisme lain yang dihasilkan

dari bahan baku proses produksi dan proses penyimpanan

produksi, dapat juga berupa binatang-binatang pengganggu lainnya

pada saat berada di lapangan kebun.


16

d) Faktor Ergonomi

Pemakaian atau penyediaan alat-alat kerja, apakah sudah sesuai

dengan keselamatan kerja sehinga pekerja dapat merasakan

kenyamanan saat bekerja. Ergonomis terutama dikhususkan

sebagai perencanaan dari cara kerja yang baik meliputi tata cara

bekerja dan peralatan.

e) Faktor Psikologi

Perlunya dibina hubungan baik antara sesama pekerja dalam

lingkungan kerja, misalnya antara pimpinan dan bawahan.

2) Faktor Pekerjaan

a) Jam Kerja

Yang dimaksud dengan jam kerja adalah waktu bekerja termasuk

waktu istirahat dan lamanya bekerja sehingga dengan adanya

waktu istirahat ini dapat mengurangi kecelakaan dalam bekerja.

b) Pergeseran Waktu

Pergeseran waktu dari pagi, siang dan malam dapat mempengaruhi

terjadinya peningkatan kecelakaan akibat kerja.

3) Faktor Manusia

a) Umur pekerja

Penelitian dalam tes refleks memberikan kesimpulan bahwa umur

mempunyai pengaruh penting dalam menimbulkan kecelakaan

akibat kerja. Ternyata golongan umur muda mempunyai

kecenderungan untuk mendapatkan kecelakaan lebih rendah


17

dibandingkan usia tua, karena mempunyai kecepatan reaksi yang

lebih tinggi. Akan tetapi untuk jenis pekerjaan tertentu sering

merupakan golongan pekerja dengan kasus kecelakaan tertinggi,

mungkin hal ini disebabkan oleh karena kecerobohan atau

kelalaian mereka terhadap pekerjaan yang dihadapinya.

b) Pengalaman Bekerja

Pengalaman bekerja sangat ditentukan oleh lamanya seseorang

bekerja semakin lama dia bekerja maka semakin banyak

pengalaman dalam bekerja.Pengalaman kerja juga mempengaruhi

terjadinya kecelakaan kerja. Pengalaman kerja yang sedikit

terutama di perusahaan yang mempunyai resiko tinggi terhadap

terjadinya kecelakaan kerja akan mengakibatkan besarnya

kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.

c) Tingkat Pendidikan dan Keterampilan

Pendidikan seseorang mempengaruhi cara berpikir dalam

menghadapi pekerjaan, demikian juga dalam menerima latihan

kerja baik praktik maupun teori termasuk diantaranya cara

pencegahan ataupun cara menghindari terjadinya kecelakaan kerja.

d) Lama Bekerja

Lama bekerja juga mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Hal

ini didasarkan pada lamanya seseorang bekerja akan

mempengaruhi pengalaman kerjanya.


18

e) Kelelahan

Faktor kelelahan dapat mengakibatkan kecelakaan kerja atau

turunnya produktifitas kerja.Kelelahan adala fenomena kompleks

fisiologis maupun psikologis dimana ditandai dengan adanya

gejala perasaan lelah dan perubahan fisiologis dalam tubuh.

Kelelahan akan berakibat pada menurunnya kemampuan kerja dan

kemampuan tubuh para pekerja.

Kecelakaan kerja merupakan salah satu masalah yang besar di

perusahaan dan banyak menimbulkan kerugian.Menurut statistik 85%

penyebab kecelakaan adalah tindakan yang berbahaya (unsafe act) dan

15% disebabkan oleh kondisi yang berbahaya (unsafe condition). Secara

garis besar sebab-sebab kecelakaan adalah :

a. Kondisi yang berbahaya (unsafe condition) yaitu faktor-faktor

lingkungan fisik yang dapat menimbulkan kecelakaan seperti mesin

tanpa pengaman, penerangan yang kurang baik, Alat Pelindung Diri

(APD) tidak efektif, lantai yang berminyak, dan lain-lain.

b. Tindakan yang berbahaya (unsafe act) yaitu perilaku atau kesalahan-

kesalahan yang dapat menimbulkan kecelakaan seperti cerobah, tidak

memakai alat pelindung diri, dan lain-lain, hal ini disebabkan oleh

gangguan kesehatan, gangguan penglihatan, penyakit, cemas serta

kurangnya pengetahuan dalam proses kerja, cara kerja, dan lain-lain.


19

4. Klasifikasi Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja, selain mengetahui teori dan faktor penyebabnya,

juga harus diketahui klasifikasi dari kecelakaan kerja itu sendiri, karena

kecelakaan kerja sangat banyak jenisnya. Menurut Organisasi Perburuhan

Internasional (ILO) dalam Anonim (2010), kecelakaan akibat kerja ini

diklasifikasikan berdasarkan 4 macam penggolongan, yakni:

a. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan :

1) Terjatuh

2) Tertimpa benda

3) Tertumbuk atau terkena benda-benda

4) Terjepit oleh benda

5) Gerakan-gerakan melebihi kemampuan

6) Pengaruh suhu tinggi

7) Terkena arus listrik

8) Kontak bahan-bahan berbahaya atau radiasi.

b. Klasifikasi menurut penyebab :

1) Mesin, misalnya mesin pembangkit tenaga listrik.

2) Alat angkut: alat angkut darat, udara, dan air.

3) Peralatan lain misalnya dapur pembakar dan pemanas, instalasi

pendingin, alat-alat listrik, dan sebagainya.

4) Bahan-bahan,zat-zat dan radiasi, misalnya bahan peledak,gas, zat-

zat kimia, dan sebagainya.


20

5) Lingkungan kerja ( diluar bangunan, di dalam bangunan dan di

bawah tanah )

6) Penyebab lain yang belum masuk tersebut di atas.

c) Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan :

1) Patah tulang

2) Dislokasi ( keseleo )

3) Regang otot (urat)

d) Memar dan luka dalam yang lain

1) Amputasi

2) Luka di permukaan

3) Geger dan remuk

4) Luka bakar

5) Keracunan-keracunan mendadak

6) Pengaruh radiasi

e) Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh :

1) Kepala

2) Leher

3) Badan

4) Anggota atas

5) Anggota bawah

6) Banyak tempat

7) Letak lain yang tidak termasuk dalam klsifikasi tersebut.


21

Kecelakaan kerja juga dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis

kerugian yang dialami, Anugrah (2007) dalam Munira (2011)

mengkalsifikasikan kecelakaan kerja tersebut, yaitu :

a. Kecelakaan kerja yang tidak menimbulkan kerugian materi maupun

terjadinya cidera.

b. Kecelakaan yang menyebabkan kerugian materi tanpa didikuti cidera.

c. Kecelakaan kerja yang menyebabkan cidera tanpa didikuti kerugian

materi.

d. Kecelakaan yang menyebabkan cidera dan kerugian secara material.

5. Pencegahan Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja pada prinsipnya dapat dicegah dan pencegahan ini

menurut Bennet (1995) merupakan tanggung jawab manager lini, penyelia,

mandor kepala, dan juga kepala urusan. Tetapi yang tersirat dalam Undang-

Undang nomor 1 tahun 1970 pasal 10, bahwa tanggung jawab pencegahan

kecelakaan kerja, selain pihak perusahaan juga karyawan atau tenaga kerja,

dan pemerintah.

Pencegahan kecelakaan kerja menurut Bennet (1995) dilakukan

melalui dua aspek pendekatan, yaitu:

a. Aspek perangkat keras (hardware) seperti peralatan, perlengkapan

mesin, tata letak.

b. Aspek perangkat lunak (software) seperti manusia dan segala unsur

yang berkaitan.
22

Suatu pencegahan kecelakaan yang efektif memerlukan pelaksanaan

pekerjaan dengan baik oleh setiap orang di tempat kerja. Semua pekerja harus

mengetahui bahaya dari bahan dan peralatan yang mereka tangani, semua

bahaya dari operasi perusahaan serta cara pengendaliannya. Adapun

pencegahan kecelakaan kerja menurut Depnakertrans (2003) dalam Hernawati

(2008) , dapat dicegah melalui :

a. Penegakan peraturan perundangan, yaitu ketentuan yang

diwajibkan mengenai persyaratan kerja, syarat keselamatan kerja,

perencanaan, pemeliharaan, dan pengujian.

b. Standarisasi, yaitu penetapan dan mematuhi standar keselamatan

kerja, standar prosedur kerja, standar peralatan kerja dan

sebagainya.

c. Pengawasan yaitu melakukan pengawasan terhadap dipatuhinya

peraturan perundangan yang berlaku dan prosedur kerja.

d. Dengan penelitian antara lain penelitian penyelidikan atas kasus-

kasus kecelakaan yang terjadi, sehingga dapat diketahui penyebab

kecelakaan, dengan demikian kecelakaan yang serupa tidak

terulang kembali.

e. Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan terhadap pelatihan

keterampilan kerja maupun keselamatan kerja dan cara kerja yang

aman.

f. Pengendalian lingkungan kerja yaitu menciptakan kondisi

lingkungan kerja yang aman, nyaman, sehat dan selamat.


23

g. Penggunaan alat pelindung diri. Penggunaan alat pengaman/pagar

pengaman yang menggunakan mesin-mesin atau pekerjaan yang

mempunyai risiko bahaya tinggi

Penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja

sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.

05/Men/1996. Menurut Suma‟ur (1994), upaya pengendalian atau

pencegahan kecelakaan kerja adalah :

a. Pengendalian secara teknik

Mengendalikan potensi bahaya langsung pada sumbernya

(engineering control), yang meliputi:

1) Subtitusi, yaitu mengganti bahan yang berbahaya dengan bahan

yang kurang berbahaya atau tidak berbahaya sama sekali.

2) Ventilasi, yaitu pengaliran udara bersih untuk menggantikan

udara kotor dan lingkungan kerja

3) Isolasi, yaitu proses kerja yang berbahaya disendirikan/diisolir.

4) Mekanisasi, yaitu penggunaan tombol-tombol secara otomatis

dalam pengoperasian mesin.

5) Lubrikasi, yaitu penggunaan pelumas pada mesin

6) Peredam, yaitu penggunaan alat peredam pada mesin

b. Pengendalian secara administratif keselamatan kerja

Banyak situasi yang berbahaya dalam industri yang tak dapat

dikendalikan dengan menghilangkan, penggantian, atau

engineering.Bilamana metode-metode diatas tidaklah praktis, maka


24

harus diadopsi pengenalan policy atau kebijakan, prosedur, dan sistem

safety.

Pengendalian dengan administrasi merupakan prosedur yang

membatasi atau mengurangi melalui pengaturan atau perencanaan

kerja yang baik, antara lain :

1) Pendidikan dan pelatihan

Diperlukan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan

pekerja mengenai keselamatan dan kesehatan kerja dijadikan satu

dengan pelatihan lain .Penyelia atau manajer mempunyai peran

besar dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja, untuk itu perlu

diperhatikan khusus terhadap pelatihan keselamatan kerja bagi

penyelia atau manajer.

2) Pemberian label

3) Pengadaan MSDS (Material Safety Data Sheet)

4) Ketatarumahtanggan yang baik, terutama kebersihan tempat

kerja

5) Rotasi pekerjaan

Merupakan strategi pemberdayaan tenaga kerja di mana

tenaga kerja menempati posisi yang berbeda-beda dalam interval

dan durasi waktu tertentu secara rotatif dengan tujuan untuk

meratakan paparan pada peran dan fungsi yang berbeda.


25

6) Hygiene perseorangan

7) Monitor untuk memantau efektivitas dari pengalihan yang telah

dilakukan

8) Pemeriksaan kesehatan

6. Dampak Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja merupakan suatu hal yang bisa sangat merugikan,

tidak hanya bagi instansi, tetapi juga terhadap pekerja itu sendiri, bahkan bagi

masyarakat sekitar dan negara. Sutanto (2010) dalam penelitiannya

menemukakan bahwa dampak kecelakaan kerja di bagi menjadi 3 macam,

yakni :

a. Kerugian bagi instansi, yaitu :

1) Biaya pengangkutan korban kerumah sakit

2) Biaya pengobatan

3) Hilangnya waktu kerja

4) Mencari pengganti yang baru

5) Memperbaiki peralatan yang rusak

6) Kemunduran mental pekerja.

b. Kerugian bagi korban

Kerugian dari dampak kecelakaan kerja untuk para pekerja yang

mengalami kecelakan adalah cacat seumur hidup atau meninggal dunia.Atau

kehilangan mata pencaharian untuk keluarga di rumah.

c. Kerugian bagi masyarakat dan negara


26

Kerugian bagi masyarakat dan negara adalah beban biaya karena

akibat kecelakaan dibebankan sebagai biaya produksi, yang mengakibatkan

dinaikkannya harga produksi perusahaan dan merupakan pengaruh bagi harga

dipasaran.Penelitian lain menunjukkan bahwa kecelakaan kerja memberikan

dampak ekonomis dan dampak non ekonomis (Rajagukguk, 2009 ).

Cacat yang mengakibatkan penderita secara permanen tidak mampu

lagi sepenuhnya melakukan pekerjaan produktif karena kehilangan atau tidak

berfungsinya lagi bagian-bagian tubuh seperti: kedua mata, satu mata adan

satu tangan atau satu.

B. Tinjauan Umum tentang Pengecatan

1. Pengertian dan fungsi sistem pengecatan

Pengecatan (paniting) adalah suatu proses aplikasi cat dalam betuk

cair pada sebuah obyek, untuk membuat lapisan tipis yang kemudian untuk

memuat lapisan yang keras atau lapisan cat. Adapun fungsi dari pengecatan

itu sendiri dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu :

a. Aspek Ekonomis

Proses pengecatan dengan tujuan untuk melindungi metal atau body

yang dapat menurun kekuatannya dari terjadi korosi atau karat. Oleh karena

itu permukaan material dilindungi dengan cat, yang akan merintangi

kerusakan dari material dan akan meningkatkan penggunaannya dalam

waktu yang lebih lama.

b. Aspek Estetika dan Identifikasi


27

Cat memberikan warna dan kilapan pada suatu obyek dan

meningkatkan efek estetikanya, yang selanjutnya mempengaruhi daya tarik

dari suatu produk kendaraan. Identifikasi warna juga merupakan tujuan lain

dari pengecatan dimana mobil pemadam kebakaran, ambulans dan mobil

polisi dengan warna tersendiri untuk membedakannya dengan kendaraan

lainya, sekalipun ada berbagai cara untuk meningkatkan tampilan suatu

obyek, namun tidak ada yang lebih sederhana dan memberi hasil yang lebih

baik dari pengecatan.

c. Aspek Perlindungan Metal

Tujuan dari perlindungan material ini untuk melindungi metal/bodi

yang dapat atau rusak dengan mudah oleh terjadinya korosi atau karat dan

tidak menjamin kekuatan aslinya, tetapi permukaan material ini dapat

dilindungi dengan cat

2. Pembagian jenis dalam pengecatan

Pembagian jenis dalam pengecatan dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Proses pengecatan dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu

1) Pengecatan oven

Merupakan suatu proses pengecatan di dalam ruangan khusus

(tertutup) dengan pengeringan suhu 80o C.

2) Pengecatan non oven

Merupakan suatu proses pengecatan di dalam ruangan biasa

(tidak tertutup) dengan pengeringan dalam suhu udara luar ± 25o

–30o C.
28

3. Peralatan yang digunakan dalam pengecatan

Proses pengecatan memerlukan beberapa peralatan, seperti :

a. Spatula

Digunakan untuk mencampur dempul (putty) pada mixing plate dan

aplikasi dempul pada permukaan kerja. Bahan ini terbuat dari plastik, kayu

dan karet. Setelah penggunaannya spatula harus dibersihkan secara

menyeluruh dengan solvet .Apabila masih ada dempul yang tertinggal dan

mengering pada spatula, maka dempul akan mengeras dan membuat

spatula tidak dapat digunakan kembali.

b. Mixing plate

Digunakan untuk mencampur dempul yang terbuat dari mental, kayu, dan

plastik.

c. Air duster gun

Berfungsi untuk membersihkan panel dari debu dan air dengan meniupkan

udara bertekanan ke permukaan panel.

d. Masking paper

Adalah sebuah kertas isolasi yang digunkan untuk menutup area pada saat

melakukan pengecatan.

e. Air spray gun

Digunakan untuk mengaplikasikan cat yang diatomisasi pada permukaan

panel.Spray gun yang digunakan dalam pengecatan khususnya pengecatan

dalam bidang otomotif.


29

f. Amplas

Adalah untuk menghaluskan dan meratakan permukaan dempul, Surfacer

dan cat.

g. Block tangan

Digunakan untuk membantu proses pengampalasan agar hasil

pengamplasan rata.

h. Jidar

Berfungsi untuk meratakan yang telah dioleskan pada permukaan yang

lebar dan digunakan untuk memeriksa kerataan panel. Jidar terbuat dari

fiber, plastik atau plat besi

i. Wadah cat

Digunakan untuk mencampur cat dengan thiner atau hardener.Terbuat dari

plastik atau kaleng.

j. Pengaduk (Agitating rod)

Tongkat yang terbuiat dari metal atau palstik yang digunakan untuk

mencampur cat. Bahan ini terbuat dari mental dan plastik dan beberapa

diantaranya memiliki skala untuk mengukur hardener dan thiner.

k. Saringan (paint stainer)

Berguna untuk menyaring cat setelah dicampur pada wadah cat dan akan

dimasukkan ke spray gun, terbuat dari plastik atau kain kasa

4. Jenis cat yang digunakan

Dalam proses pengecatan, jenis cat dapat digolongkan menjadi

beberapa macam, yaitu :


30

a. Heat Polymerization (jenis bakar)

Heat Polymerization adalah tipe one component yang mengeras apabila

dipanaskan pada temperatur tinggi kira-kira 140o C (284o F).

b. Jenis Urethane (Jenis Two Component)

Cat ini disebut urethane karena alkhohol (OH) yang terkandung di dalam

komponen utama dan isocyanate yang terkandung di dalam Hardener

bereaksi membentuk struktur hubungan menyilang (cross lingking) yang

disebut tingkatan urethane. Cat ini menghasilkan kemampuan coating

yang baik termasuk ketahanan kilap, cuaca, solvent, serta tekstur yang

halus.

c. Jenis Lacquer (Solvent Evaporation)

Cat jenis ini mengering dengan cepat sehingga mudah penggunaannya,

tetapi tidak banyak digunakan sebanyak yang tersebut di atas, karena tidak

sekuat cat-cat jenis two component yang kini banyak digunakan.

5. Persiapan cat

Beberapa langkah yang harus dikerjakan sebelum pengulasan cat warna pada

benda kerja, yaitu teknik mencampur, mengaduk, dan menyaring cat.Sebelum

cat disemprotkan ke benda kerja harus diaduk terlebih dahulu agar

kekentalannya merata di semua bagian cat (homogen). Pengadukan harus

dilakukan karena dalam keadaan diam zat warna (pigmen) akan cenderung

mengendap (Wisudyoko , 2011 ).


31

a. Pencampuran pengeras cat (Hardener)

Dalam pencampuran cat dengan Hardener kadarnya harus tepat. Apabila

kadarnya kurang menyebabkan hasilnya pengecatan mudah retak, kurang

mengkilap, kekerasan kurang, daya tahan minyak krang bagus dan akan

mengkerut bila di cat ulang. Jika terlalu banyak menimbulkan

ketidaksempurnaan pengeringan, ketahanan air berkurang dan

menimbulkan blister (bintik air dalam lapisan cat).

b. Pencampuran pengencer cat (Thinner)

Pemakaian thiner yang salah menyebabkan sifat, mutu dan daya tahan

menjadi berubah atau bahkan tidak bisa digunakansama sekali.

Pengenceran akan merubah viskositas dan harus selalu dicek agar hasil

pengecatan maksimal. Jika pemilihan dan pengukuran viskositas cat salah

dapat menimbulkan problem, yaitu thinner yang terlalu cepat mengering

menyebabkan permukaan kasar, cat berlubang jarum atau berkulit jeruk.

Bila terlalu lambat kering cat akan meleleh, warna belang-belang, bekas

goresan amplas terlihat, cat tipis dan kering kurang sempurna. Untuk cat

yang terlalu kental, permukaan akan menjadi kasar, kering kurang, lubang

jarum, bekas goresan amplas terlihat, cat tipis dan penurunan daya kilap.

6. Proses persiapan permukaan

Persiapan permukaan merupakan tahap awal dalam proses pengecatan

. Adapun angkah-langkah persiapan permukaan, yaitu (Wisudyoko , 2011):

a. Mengelupas lapisan yang lama


32

Tujuan dilakukan body repair ádalah untuk mengembalikan ke bentuk

yang mendekati semula sehingga penggunaan dempul akan lebih

efisien.

b. Pendempulan

Tujuan pendempulan mengembalikan permukaan body yang tidak

rata karena kerusakan dengan menutup permukaan body dengan

menggunakan dempul. Langkah-langkah pendempulan :

1) Melakukan pengamplasan pada bagian yang akan dilakukan

pendempulan dengan amplas grit 800.

2) Membersihkan bagian tersebut dari debu dan kotoran minyak.

3) Mencampur dempul dengan Hardener.

4) Melakukan pendempulan sedikit demi sedikit dengan

menggunakan spatula. Apabila permukaannya luas maka

menggunakan jidar

5) Setelah selesai dilakukan pendempulan maka didiamkan 20-30

menit agar dempul kering.

6) Setelah dempul kering dilakukan pengamplasan dempul.

c. Masking

Pengertian masking adalah untuk menutup bagian panel yang tidak

mengalami pengecatan agar tidak terkena cat.


33

7. Proses Pengecatan

Pengertian proses pengecatan adalah suatu proses pemberian warna

yang sesuai dengan warna panel yang tidak mengalami kerusakan. Proses

pengecatan ada 2, yaitu proses pengecatan dasar dan pengecatan warna. Pada

pengecatan dasar Proses ini merupakan sebuah proses mengecat dengan cat

dasar agar warna cat nantinya benar-benar melekat dengan baik. Waktu yang

diperlukan untuk proses pengecatan dasar ini ± 12 jam. Pada tahap

penegcatan dasar biasanya dipilih cat yang berwarna putih atau silver, dan

pada tahap ini tidak di jumpai adanya limbah. Kemudian proses pengecatan

warna adalah kegiatan mengecat mobil dengan warna tertentu dan cat mobil

merk tertentu.

Proses pengecatan dilakukan 2-3 kali penyemprotan. Langkah-

langkahnya yaitu (Wisudyoko Aji, 2011) :

a. Menyemprotkan cat tipis-tipis dahulu tetapi rata kemudian tunggu

10-15 menit agar kering.

b. Kemudian pada penyemprotan kedua jumlah cat dikurangi kemudian

thiner ditambah sehingga campuran lebih encer dari yang pertama.

Proses pengecatan harus memperhatikan overlapping dan jarak

pengecatan agar hasil maksimal.

c. Setelah proses pengecatan selesai ditunggu beberapa menit agar cat

kering kemudian disemprotkan pernis agar cat lebih mengkilap.Untuk

penyemprotan pernis dilakukan secara bertahap biasanya 2 kali

penyemprotan yaitu tipis-tipis dahulu kemudian ditunggu 2-3 menit


34

kemudian dilakukan penyemprotan kedua dengan lapisan yang lebih

tebal.

d. Setelah mengering kemudian melepas masking paper dan kemudian

dikeringkan di bawah sinar matahari selama minimal 8 jam.

C. Tinjauan Umum tentang Variabel yang Diteliti

1. Tinjauan umum tentang umur

Umur identik dengan tingkat kemampuan fisik. Proses menjadi tua

akan disertai kurangnya kemampuan kerja oleh perubahan-perubahan pada

alat-alat tubuh, sistem kardiovaskuler dan hormonal (Suma‟mur, 1992).

Menurut Hunter (1975) dalam Toding Bua‟ (2007), golongan umur tua

mempunyai kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengalami kecelakaan

akibat kerja dibandingkan dengan golongan umur muda karena pekerja dengan

umur muda mempunyai reaksi dan kegesitan yang lebih tinggi. Beberapa

kapasitas fisik seperti penglihatan, pendengaran dan kecepatan reaksi menurun

sesudah usia 30 tahun atau lebih. Terdapat kecenderungan bahwa beberapa

jenis kecelakaan seperti terjatuh lebih sering terjadi pada tenaga kerja umur

tua dibanding tenaga kerja berusia muda. Tidak hanya peluang terjadi

kecelakaan yang lebih besar pada tenaga kerja usia tua, tetapi juga didikuti

dengan angka beratnya kecelakaan lebih meningkat mengikuti perkembangan

usia (Suma‟mur, 1996).

Dalam beberapa sumber lain disebutkan bahwa umur muda pun sering

mengalami kasus kecelakaan kerja, hal ini mungkin karena kecerobohan dan

sikap suka tergesa-gesa (Treaningsih 1991 dalam Arifin, 2004). Penelitian


35

oleh ILO (1989) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pekerja usia muda

lebih banyak mengalami kecelakaan dibandingkan pekerja usia tua, hal ini

dikarenakan pekerja usia muda biasanya kurang berpengalaman dalam

pekerjaannya.

2. Tinjauan Umum tentang Masa Kerja

Masih cukup sulit menarik kesimpulan yang jelas pengaruh masa kerja

dan pengalaman kerja terhadap tingkat kecelakaan karena berbagai faktor

yang menyebabkan kecelakaan saling mempengaruhi dan tidak dapat

dipisahkan. Perhatian pekerja yang belum terbiasa pada lingkungan pabrik

akan terpencar oleh banyak kesan baru dan ini bersama kurangnya

pengalaman dapat menjelaskan mengapa frekuensi kecelakaan relatif tinggi di

antara para pendatang baru.

Tenaga kerja yang baru umumnya belum mengetahui secara mendalam

seluk beluk pekerjaan.Sebaliknya dengan bertambahnya masa kerja seseorang

tenaga kerja maka bertambah pula pengetahuan dan keterampilan yang

dimiliki pekerja dan aspek keselamatan dari pekerjaan yang dilakukan

(Suma‟mur, 2009). Masa kerja berhubungan langsung dengan pengalaman

kerja, semakin lama masa kerja seseorang maka semakin tinggi pengalaman

dan jam terbang pekerja tersebut, sehingga pekerja akan mampu lebih

memahami tentang bagaimana bekerja dengan aman untuk menghindarkan

diri mereka dari kecelakaan kerja.

Beberapa penelitian mengatakan bahwa karyawan dengan masa kerja

yang kurang akan lebih banyak mengalami kecelakaan kerja dibanding mereka
36

dengan masa kerja yang lebih lama. Oleh sebab itu diasumsikan bahwa

kecelakaan kerja lebih sering terjadi pada tenaga kerja dengan masa relatif

singkat (Suma‟mur, 2009).

Akan tetapi masa kerja seseorang belum menjamin diri mereka

terhindar dari kecelakaan, hal ini dikarenakan biasanya pekerja yang telah

bekerja selama bertahun-tahun justru melakukan pekerjaannya tanpa

memperhatikan prosedur perlindungan diri yang ada, hal ini didasarkan karena

mereka merasa sudah lama melakukan pekerjaan tersebut dan tidak terjadi

apa-apa pada diri mereka. Selain itu, hal lain yang berpotensi menyebabkan

kecelakaan kerja bagi pekerja yang memiliki masa kerja yang cukup lama

adalah kenyataan bahwa mereka jg telah cukup lama terpapar bahaya yang

ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut, seperti paparan bahan kimia,

kebisingan dan lain-lain.

3. Tinjauan Umum tentang Unit Kerja

Unit kerja merupakan suatu bagian yang memiliki tugas spesifik dari

suatu organisasi yang lebih besar.Istilah ini biasanya digunakan untuk bagian

dari suatu perusahaan.Kaitan antara unit kerja dengan kecelakaan kerja lebih

terkait pada jenis pekerjaan, dimana jenis pekerjaan ini mempunyai resiko

yang besar untuk terjadi kecelakaan. Jumlah dan macam kecelakaan akibat

kerja berbeda-beda di berbagai kesatuan operasi dalam suatu proses

(Suma‟mur, 1996).

Bengkel pengecatn mobil sendiri terdiri dari 5 unit kerja, yaitu unit

bongkar pasang, unit las/ketok, unit pendempulan, unit pemolesan dan unit
37

paint shop. Tiap-tiap unit yang memiliki jenis pekerjaan yang berbeda, maka

berbeda pula risiko bahaya yang dihadapi.Pada umumnya, pekerja pengecatan

memiliki risiko kecelakaan kerja yang lebih besar pada unit pengecatan,

dimana risiko-risiko seperti kejatuhan body mobi, terpeleset atupun mata

tersemprot cat yang digunakan.

4. Tinjauan Umum tentang Lama Kerja

Lama kerja bagi seseorang menentukan efisiensi dan produktivitasnya.

Lamanya seseorang bekerja sehari pada umunya 6-8 jam. Dalam seminggu

orang hanya bisa bekerja dengan baik selama 40-50 jam, lebih dari itu

kecenderungan timbulnya hal-hal negatif akan semakin besar. Makin panjang

waktu mkerja makin besar kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak

diinginkan.

Ada beberap penelitian tentang perubahan 6 hari kerja menjadi 5 hari

kerja dalam seminggu. Dari data-data kantor perburuhan Amerika, ternyata

perubahan tersebut menyebabkan kenaikan persentase hasil kerja per jam yang

besarnya bervariasi dari 15%-16%, tetapi penurunan total yang bervariasi dari

3,6-15% (Munira, 2011).

5. Tinjauan Umum tentang Penggunaan Alat Pelindung Diri

Alat pelindung diri adalah suatu alat yang dipakai oleh tenaga kerja

dengan maksud menekan atau mengurangi penyakit dan kecelakaan kerja

(Munira, 2011). Perlindungan tenaga kerja melalui usaha-usaha teknik

pengamanan tempat, peralatan dan lingkungan kerja adalah sangat perlu

diutamakan.Namun kadang-kadang keadaaan bahaya masih belum dapat


38

dikendalikan sepenuhnya, sehingga digunakan alat pelindung diri (Suma‟mur,

1997).

Perlindungan tersebut dimaksudkan, agar tenaga kerja secara aman

melakukan pekerjaan sehari-hari untuk meningkatkan produksi dan

produktifitas nasional.Tenaga kerja harus memperoleh perlindungan dari

berbagai soal disekitarnya dan pada dirinya yang dapat menimpa dan

mengganggu dirinya serta pelaksanaan pekerjaannya (Munira, 2011).

Alat pelindung diri harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a. Memiliki cukup daya pencegah terhadap bahaya yang dihadapai oleh si

pemakai Konstruksi dan kemampuannya harus memenuhi standar yang

berlaku Ringan, efisien, dan nyaman dipakai

b. Tahan lama, pemeliharaan mudah, dan bagian-bagiannya dapat dengan

mudah diganti.

c. Tidak mengganggu gerak-gerakan yang diperlukan.

6. Tinjauan Umum tentang Tingkat Keparahan

Tingkat keparahan merupakan suatu gambaran seberapa besar dampak

cidera yang dialami seorang tenaga kerja akibat dari kecelakaan kerja yang

menimpanya. Berdasarkan PP No.11 tahun 1979 dalam Daswati (2008), sifat

keparahan cidera kecelakaan kerja dibagi menjadi empat yaitu :

a. Ringan, yaitu kecelakaan yang tidak menimbulkan kehilangan hari

kerja
39

b. Sedang, yaitu kecelakaan yang menimbulkan kehilangan hari kerja dan

diduga tidak akan menimbulkan cacat jasmani dan atau rohani yang

akan mengganggu tugas pekerjaannya

c. Mati, yaitu kecelakaan yang menimbulkan kematian segera atau dalam

jangka waktu 24 jam setelah terjadi kecelakaan.

d. Berat, yaitu kecelakaan yang menimbulkan kehilangan hari kerja dan

diduga akan menimbulkan cacat jasmani dan atau rohani yang akan

mengganggu tugas pekerjaannya.


40

V. KERANGKA PIKIR

A. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti

Kecelakaan kerja adalah kejadian atau peristiwa yang tidak terduga atau

diharapkan yang terjadi di tempat kerja ataupun dalam perjalanan pergi dan pulang

dari tempat kerja.Kecelakaan kerja dikatakan tidak terduga karena peristiwa

tersebut tidak dilatarbelakangi oleh unsur kesengajaan.Kecelakaan kerja

menimbulkan dampak yang merugikan, baik terhadap institusi, terhadap pekerja

maupun terhadap masyarakat di sekitar.

Kecelakaan kerja memiliki banyak faktor-faktor penyebab, ada 3 pokok

utama yang menjadi akar penyebab dari kecelakaan kerja, yaitu dari factor

pekerjaan, factor pekerja itu sendiri dan faktor lingkungan. Menurut hasil

penelitian, 85% kecelakaan terjadi karena faktor-faktor manusia.Suma‟mur (1980)

mengemukakan bahwa ada 2 faktor yang menjadi penyebab utama dari kecelakaan

kerja yaitu, karena factor manusia dan factor lingkungan. Sementara menurut

Benny dan Achmadi (1991), terdapat 3 faktor utama penyebab kecelakaan , yaitu

factor lingkungan kerja, yang meliputi factor, kimia, fisika, biologi, ergonomic dan

psikologi, kemudian factor pekerjaa seperti, jam kerja dan pergeseran waktu serta

karena factor manusia yang meliputi, umur, pengalaman, masa kerja, tingkat

keterampilan dan penggunaan alat pelindung diri.

Sejalan dengan kedua teori yang mengemukakan factor-faktor penyebab

kecelakaan kerja inilah, maka ditentukan beberapa variable yang akan digunakan

dalam penelitian ini, yaitu factor umur, lama kerja, masa kerja , unit kerja, jenis
41

pekerjaan dan penggunaan alat pelindung diri. Berikut uraian dari variable-variabel

tersebut :

1. Umur

Faktor umur besar hubungannya dengan kapasitas fisik seseorang. Beberapa

kemampuan fisik seperti penglihatan, pendengaran, kemampuan otot dan

kecepatan reaksi menurun sejalan dengan bertambahnya usia seseorang.

Dalam beberapa kasus, tenaga kerja berusia tua cenderung mengalami

kecelakaan kerja akibat dari penerunan kualitas fisik tersebut. Akan tetapi

dalam beberapa kasus juga dikemukakan bahwa tenaga kerja golongan usia

muda juga sering mengalami kecelakaan akibat dari kecerobohan dan

kurangnya pengalaman atau jam kerja yang dimilikinya.

2. Masa kerja

Masa kerja juga memiliki kaitan yang erat dengan timbulnya kecelakaan

kerja.Masa kerja berhubungan langsung dengan pengalaman kerja

seseorang.Semakin lama masa kerja seseorang, maka semakin tinggi

pengalaman kerjanya, baik berupa pengetahuan ataupun tindakan pencegahan

terhadap kecelakaan. Sementara pekerja yang baru memiliki jam terbang

sedikit dalam artian masa kerjanya masih sedikit, biasanya belum terlalu

mengetahui potensi-potensi bahaya yang ada di tempat kerjanya, sehingga

peluang untuk terjadiya gangguan kesehatan ataupun kecelakaan kerja akan

semakin besear. Akan tetapi, masa kerja yang tinggi tidak menjamin

seseorang aman dari kecelakaan, hal-hal seperti menyepelekan kondisi tidak


42

aman dan tindakan tidak aman serta paparan bahan toksik yang berlangsung

lama dapat berakibat fatal bagi pekerja itu sendiri.

3. Unit Kerja

Unit kerja ialah pembagian satuan kerja di area proses maupun non proses

yang masing-masing terdiri atas beberapa jenis pekerjaan .Unit kerja adalah

hal yang dapat mempengaruhi tejadinya kecelakaan kerja terhadap tenaga

kerja.Kaitan antara unit kerja dengan kecelakaan kerja lebih terkait pada jenis

pekerjaan, dimana jenis pekerjaan ini mempunyai resiko yang besar untuk

terjadi kecelakaan.

4. Lama Kerja

Seorang pekerja idealnya bekerja selama 8 jam sehari dan 40 jam seminggu,

hal ini juga didukung oleh Undang-Undang Ketenagakerjaan No.30 tahun

2003. Bekerja melebihi dari batas waktu yang ditoleransikan biasanya justru

akan menimbulkan dampak negative bagi pekerja, sehingga menurunkan

produktifitas kerja serta penurunan kekuatan fisik yang dapat menimbulkan

kecelakaan kerja.

5. Penggunaan alat pelindung diri

Penggunaan alat pelindung diri berhubungan erat dengan kedisiplinan pekerja

dalam memeikirkan kesehatan dan keselamatan kerja, alat pelindung diri

seperti pakaian khusus, safety helmet, safety shoes, sarung tangan dan lain

sebagainya dapat membantu pekerja terhindar dari potensi-potensi bahaya

yang ada di tempat kerja. Alat pelindung diri harus di desain senyaman

mungkin agar tidak mengganggu pekerjaan seseorang. Semakin tinggi


43

kesadaran pekerja akan pentingnya penggunaan alat pelindung diri, maka

akan semakin menurunkan peluang terjadinya kecelakaan kerja.

B. Kerangka Pikir

Berdasarkan dari kerangka pemikiran dia atas, maka dapat digambarkan

pengaruh antar variable sebagai berikut :

UMUR

MASA KERJA

KINERJA
UNIT KERJA

LAMA KERJA

ALAT PELINDUNG
DIRI

Gambar 4.Kerangka Konsep


44

C. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

1. Umur

Yang dimaksud dengan umur dalam penelitian adalah waktu yang dihabiskan

oleh responden sejak lahir sampai penelitian ini dilakukan yang diukur

berdasarkan ulang tahun terakhir responden dengan menggunakan satuan

ukur tahun.

2. Masa Kerja

Variabel masa kerja yang dimaksud adalah waktu mulai pekerja tercatat

sebagai pekerja di bengkel pengecatan sampai saat penelitian dilakukan yang

dihitung dalam 5 tahun.

3. Unit Kerja

Unit kerja yang dimaksud adalah spesialisasi pekerjaan tenaga kerja bengkel

pengecatan mobil, dimana terdapat 5 unit kerja yaitu :

a. Unit bongkar pasang

b. Unit las/ketok

c. Unit pendempulan

d. Unit pemolesan

e. Unit paint shop

4. Lama Kerja

Variabel lama kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lama kerja

selama seminggu yang dilakukan oleh pekerja pengecatan di kota Makassar.

5. Penggunaan Alat Pelindung Diri


45

Alat pelindung diri adalah alat yang digunakan sebagai pengaman untuk

melindungi diri saat bekerja yang disesuaikan dengan standar keamanan.

Kriteria Objektif :

a. Lengkap :bila responden menggunakan kacamata, sarung tangan,

masker dan pakaian khusus

b. Tidak lengkap : bila responden tidaka menggunakan salah satu dari

kelengkapan di atas.

6. Kecelakaan Kerja

Adalah kecelakaan kerja yang terjadi pada saat bekerja

a. Ada : bila kecelakaan terjadi pada saat tenaga kerja bekerja

b. Tidak ada : bila kecelakaan tidak terjadi pada saat tenaga kerja bekerja.

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan dugaan sementara mengenai hubungan antara

variable penelitian yang perlu dibuktikan berdasarkan kerangka berfikir di atas,

maka dapat ditarik dugaan sementar sebagai hipotesis yaitu :

1. Hipotesis Null (H0)

a. Tidak ada hubungan umur dengan kecelakaan kerja pada pekerja

pengecatan mobil di Kota Makassar.

b. Tidak ada hubungan masa kerja dengan kecelakaan kerja pada pekerja

pengecatan mobil di Kota Makassar

c. Tidak ada hubungan unit kerja dengan kecelakaan kerja pada pekerja

pengecatan mobil di Kota Makassar


46

d. Tidak ada hubungan lama kerja dengan kecelakaan kerja pada pekerja

pengecatan mobil di Kota Makassar

e. Tidak ada hubungan penggunaan alat pelindung diri dengan

kecelakaan kerja pada pekerja pengecatan mobil di Kota Makassar

2. Hipotesis Alternatif (Ha)

a. Ada hubungan umur dengan kecelakaan kerja pada pekerja pengeatan

mobil di Kota Makassar

b. Ada hubungan masa kerja dengan kecelakaan kerja pada pekerja

pengecatan mobil di Kota Makassar

c. Ada hubungan unit kerja dengan kecelakaan kerja pada pekerja

pengecatan mobil di Kota Makassar

d. Ada hubungan lama kerja dengan kecelakaan kerja pada pekerja

pengecatan mobil di Kota Makassar

e. Ada hubungan penggunaan alat pelindung diri dengan kecelakaan

kerja pada pekerja pengecatan mobil di Kota Makassar


47

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah survey analitik dengan rancangan

penelitian cross sectional study, yakni rancangan penelitian dimana pengamatan

antara variabel dependen dan variabel independen dilakukan pada waktu yang

sama. Pendekatan ini bertujuan untuk mengetetahui hubungan antara variabel

independen dengan variabel dependen sehingga diharapkan dapat diperoleh

gambaran hubungan mengenai faktor-faktor yang menyababkan kejadian

kecelakaan kerja pada bengkel pengecatan mobil se- kota Makassar tahun 2013.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Bengkel pengecatan mobil se-kota

Makassar tahun 2013.Adapun alasan pemilihan lokasi penelitian ini karena belum

adanya penelitian yang dilakukan sebelumnya mengenai masalah factor-faktor

yang berhubungan dengan kejadian kecelakaan kerja di lokasi tersebut.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 51 orang pekerja cat mobil dari 5

bengkel mobil di kota Makassar tahun 2013, dari total 69 sampel.

2. Pengambilan sampel pada penelitian ini diambil dengan teknik accidental

sampling yakni semua responden yang bisa ditemui di tempat kerja dan

mendapatkan rekomendasi dari perusahaan


48

D. Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh melalui wawancara

dengan responden dengan menggunakan kuesioner yang telah disediakan.

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan

Kota Makassar yaitu jumlah bengkel mobil yang terdaftar tahun 2011.

E. Pengolahan Data

Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah secara manual dan dengan

menggunakan program Computer Program SPSS (Statistical package for sosial

science), meliputi editing, coding, cleaning, entry data dan analysis data. Hasil

pengolahan data disajikan dalam bentuk tabel dan narasi yang meliputi :

1. Editing

Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan hasil pengambilan data yang telah

dilakukan yakni menyangkut kebenaran serta kelengkapan pengisian

kuesioner yang telah dibagikan kepada responden, memeriksa data yang telah

terkumpul, melakukan koreksi, dan melengkapi data yang belum terisi.

2. Coding

Tahap pengkodean ini dimulai dengan pembuatan daftar variabel, lalu

membuat daftar coding yang disesuaikan dengan daftar variabel, kemudian

memindahkan data pada daftar coding, dengan tujuan memudahkan

mengidentifikasi variabel penelitian.


49

3. Cleaning

Sebelum dilakukan entry data, maka langkah yang dilakukan adalah cleaning

data.Hal ini dimaksudkan agar pada saat entry data peneliti tidak melakukan

kesalahan dalam pengentrian data.

4. Entry

Pelaksanaan entry data dilakukan dengan terlebih dahulu membuat program

entry data pada program SPSS sesuai dengan variabel yang diteliti untuk

mempermudah proses analisis hasil penelitian, kemudian data-data yang telah

terkumpul dari hasil kuesioner dimasukkan (di-entry) ke dalam komputer

berdasarkan program entry data yang telah dibuat sebelumnya, untuk

dilakukan tahapan analisis.

5. Analisis Data.

6. Tabulasi data.

F. Analisis Data

Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan SPSS (Statistical

package for sosial science). Adapun model analisis data yang dilakukan adalah

sebagai berikut:

a. Analisis univariat

Analisis univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian dengan

menggunakan tabel distribusi frekuensi sehingga menghasilkan distribusi dan

persentase dari setiap variabel penelitian.


50

b. Analisis bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel dependen

dan independen dalam bentuk Uji Pearson untuk menguji variabel umur dan

masa kerja dengan rumus :

𝑟= (𝑥𝑖−𝑥𝑛𝑖=𝑙)(𝑦𝑖−𝑦 ) (𝑥𝑖−𝑥 )2𝑛𝑖=𝑙 (𝑦𝑖−𝑦 )2𝑛𝑖=𝑙

Keterangan :

r = koefisien korelasi pearson

Xi = nilai pengamatan X ke i

𝑋 = rata-rata X

Yi = nilai pengamatan Y ke i

𝑦 = rata-rata Y
51

Rante, Viktor. 2013. Hubungan Perilaku dengan Kejadian Keluhan Kesehatan


pada Operator Pengecatan Mobil di Kota Makassar Tahun 2013. Universitas
Hasanuddin, Makassar.

Ratman, Ray Cesar & Syafruddin. 2010. Penerapan pengelolaan limbah b3 di PT.
Toyota Motor Manufacturing Indonesia. Jurnal Presipitasi Vol.7 No.2.
Rosid, Abdul. 2012. Konsep Kecelakaan Kerja. (online).
http://abdulrosidsmkn1cipu.blogspot.com. Diakses tanggal 19 Maret 2013
Suma‟mur, P.K. 1989. Ergonomi Untuk Produktifitas Kerja. Jakarta : Yayasan
Swabhawa Kary
Suma‟mur. 1995. Kesehatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta : PT.
Gunung Agung.
Suma‟mur. P.K. 2009. Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta : PT.

Sagung Seto

Sutanto, Hadi. 2010. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja pada

Pembangunan Gedung Perkantoran dan Perkuliahan Tahap III. Universitas

Wijaya Kusuma Surabaya. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Institut

Teknologi Sepuluh Nopember.

Tarwaka, Bakri,S. & Sudiajeng, L. 2004. Ergonomi untuk Keselamatan,

Kesehatan, Kesehatan Kerja dan Produktifitas. Surakarta: UNIBA press.

Toding Bua‟, Glorius. 2007.Studi Kecelakaan Kerja pada Karyawan PT.Inco

Sorowako Periode Januari 2002- Desember 2006. Fakultas Kesehatan

Masyarakat. Universitas Hasanuddin : Makassar

Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13. Tahun 2013

Wahyu, Atjo. 2001. Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. CV. Haji

Masagung. Jakarta.

Wisudyoko Aji, Donny. 2011. Pengecatan Ulang Mobil Chevrolet Trooper

Bagian Bodi Kanan Proyek Akhir. Fakultas Teknik. Universitas Negeri

Yogyakarta.