Anda di halaman 1dari 30

Penerapan Norma Hukum Dalam Sistem Hukum Indonesia

“Penerapan Norma Hukum di Lembaga Peradilan”

Oleh: Jimmy Yansen, S.H.

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat dan

karunia-Nya Kami dapat berhasil menyusun makalah “Penerapan Norma Hukum Dalam

Sistem Hukum Indonesia ”. Makalah ini dibuat sebagai salah satu pemenuhan tugas Mata

Kuliah Teori-Teori Hukum.

Secara garis besar, makalah ini akan menguraikan dengan singkat pergulatan teori-

teori hukum dalam mempengaruhi sistem hukum di Indonesia dari berbagai aspek, baik itu dari

aspek sejarah, politik, sosiologi dan filsafat. Kemudian dalam makalah ini juga akan dibahas

bagaimana sistem hukum Indonesia jika dikaitkan dengan tiga komponen sistem hukum

menurut Lawrence M. Friedman khususnya dalam hal penerapan dan pelaksanaan norma

hukum oleh Lembaga Peradilan. Makalah ini diharapkan dapat memberikan tambahan

wawasan dalam cakrawala hukum di Indonesia.

Kami sadari dalam makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan.

Untuk itu Kami dalam kesempatan ini menyampaikan terima kasih atas kritik dan saran yang

konstruktif, dan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

2
DAFTAR ISI

Cover ............................................................................................................................ 1
Kata Pengantar ........................................................................................................... 2
Daftar Isi...................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 4

A. Latar Belakang ..................................................................................................... 4

B. Rumusan Masalah ................................................................................................. 7

BAB II PENGARUH TEORI HUKUM DALAM SISTEM HUKUM ................. 8

A. Sejarah Sistem Hukum Civil Law dan Common Law .......................................... 8

B. Teori-Teori Hukum Yang Mempengaruhi Civil law dan Common Law ..............10

C. Sistem Hukum Indonesia....................................................................................... 13

D. Pengaruh Beberapa Teori Hukum Dalam Sistem Hukum Indonesia.................... 16

BAB III PENERAPAN SISTEM HUKUM DI INDONESIA BERDASARKAN


TIGA KOMPONEN MENURUT LAWRENCE FRIEDMAN .............................. 19

A. Teori Sistem Hukum Menurut Lawrence Friedman..............................................19

B. Penerapan Norma dalam Sistem Hukum Indonesia di Lembaga Peradilan ..........22

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................................29

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................30

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hukum adalah seperangkat peraturan yang mengandung semacam kesatuan
yang kita pahami melalui sebuah sistem.1 Pemahaman yang umum mengenai sistem
mengatakan, bahwa suatu sistem adalah suatu kesatuan yang bersifat kompleks, yang
terdiri dari bagian-bagian yang berhubungan satu sama lain.2 Dalam pandangan Fuller,
untuk mengetahui akan keberadaan sistem hukum, maka harus diletakkan delapan asas
yang dinamakannya principles of legality, yaitu:3
1. Suatu sistem hukum harus mengandung peraturan-peraturan.
2. Peraturan-peraturan yang telah dibuat itu harus diumumkan.
3. Tidak boleh ada peraturan yang berlaku surut.
4. Peraturan-peraturan harus disusun dalam rumusan yang bisa dimengerti.
5. Suatu sistem tidak boleh mengandung peraturan-peraturan yang bertentangan satu
sama lain.
6. Peraturan-peraturan tidak boleh mengandung tuntutan yang melebihi apa yang
dapat dilakukan.
7. Tidak boleh ada kebiasaan untuk sering mengubah peraturan sehingga
menyebabkan orang akan kehilangan orientasi.
8. Harus ada kecocokan antara peraturan yang diundangkan dengan pelaksanaannya
sehari-hari.
Rumus sederhana untuk membatasi dengan tanpa mengurangi makna dari
hakikat sistem hukum itu sendiri, menurut hemat kami, bahwa pendapat Lawrence M.
Friedmen dapat menjadi rujukan. Friedman membagi sistem hukum menjadi tiga
bagian yaitu: struktur hukum (legal structure), substansi hukum (legal substance), dan
budaya hukum (legal culture).4 Struktur hukum adalah komponen struktural atau organ
yang bergerak didalam suatu mekanisme, baik dalam membuat peraturan, maupun
dalam menerapkan atau melaksanakan peraturan. Substansi hukum adalah produk dari
struktur hukum, baik peraturan yang dibuat melalui mekanisme struktur formal atau

1
Hans Kelsen, 2008, Teori Umum Tentang Hukum dan Negara, Bandung: Nusa Media, hlm. 3.
2
Satjipto Rahardjo, 2000, Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti, hlm. 48.
3
Ibid, hlm, 51.
4
Lawrence M. Friedman, 2009, Sistem Hukum ; Perspektif Ilmu Sosial (The Legal System ; A Social Science Perspective),
Bandung: Nusa Media, hlm. 33.

4
peraturan yang lahir dari kebiasaan. Sedangkan budaya hukum adalah nilai, pemikiran,
serta harapan atas kaedah atau norma dalam kehidupan sosial masyarakat.
Namun tentunya, sebelum membahas mengenai sistem hukum lebih jauh,
kiranya terlebih dahulu kita mengetahui asal usul dan mekanisme atau proses yang
membentuk sistem hukum itu sendiri. Tidak mungkin kita membahas sistem hukum
tanpa mengetahui proses terbentuknya. Tentu suatu sistem hukum tidak mungkin hadir
dan berwujud dari ruang yang hampa. Oleh karenanya mengingat hukum adalah produk
kenyataan kemasyarakatan, lalu bagaimana hal itu terbentuk, dengan kata lain
bagaimana caranya hubungan-hubungan perimbangan-perimbangan kemasyarakatan
tersebut menyebabkan terbentuknya norma-norma yang dianggap sebagai norma-
norma hukum.5
Kajian mengenai bagaimana hukum itu terbentuk telah melibatkan para pemikir
hukum dengan berbagai teori yang mendasarinya. Mazhab historis yang dimotori oleh
Von Savigny memandang bahwa hukum bertumbuh kembang dalam pengakuan setiap
bangsa dan membawa serta kepadanya ciri-ciri khas yang unik yaitu kesadaran nasional
bangsa atau yang ekspresikan sebagai Volksgeist (jiwa bangsa) yang muncul secara
alamiah ke permukaan di dalam hukum kebiasaan setiap bangsa.6 Von Savigny
menekankan bahwa hukum tidak berakar dan bersumber pada asas-asas yang serba
abstrak dengan dalil rasionalitas yang diwujudkan dalam bentuk kodifikasi-kodifikasi.
Berbeda dengan pandangan penganut mazhab hukum alam rasional yang
mendasari hukum pada rasional dan nurani manusia (human reason and conscience).
Pahaman ini dalam abad modern dimotori oleh Hugo Grotius. Penganut aliran ini
berpandangan bahwa keabsahan dari hukum positif harus diukur dengan kriteria bahwa
hukum positif tersebut harus sesuai dengan logika, sehingga apabila hukum sesuai
dengan logika maka dengan sendirinya hukum tersebut benar dan adil. 7 Lain halnya
dengan mazhab positivis yakni John Austin, yang menyatakan bahwa hukum
bersumber dari kekuasaan yang tertinggi dalam suatu Negara dan hukum adalah
perintah dari kekuasaan politik yang berdaulat dalam suatu Negara.8

5
Jhon Gilissen dan Frits Gorle, 2005, Sejarah Hukum Suatu Pengantar, Bandung: Refika Aditama, hlm. 23.
6
Ibid, hlm, 15.
7
Munir Fuady, 2013, Teori-teori Besar Dalam Hukum, Jakarta: kencana Prenadamedia Group, hlm. 48
8
Satjipto Rahardjo, 2000, Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti, hlm. 268-269

5
Berdasarkan hal tersebut diatas maka dapat disederhanakan, bahwa tatanan
hukum atau sistem hukum modern terbentuk dari proses yang didasarkan pada
kebiasaan, doktrin atau ajaran, serta perundang-undangan dan yurisprudensi.9
Hukum yang bersumber dari kebiasaan adalah hukum yang lahir dari proses
kenyataan masyarakat dari masa-kemasa yang melahirkan jiwa bangsa, oleh karenanya
hukum tidak akan terlepas dari perspektif sejarah masing masing bangsa. Hal ini
merupakan pedoman dasar bagi penganut mazhab historis. Begitu juga bagi penganut
mazhab hukum alam rasional yang mendalilkan bahwa hukum bersumber dari rasio dan
nurani masnusia. Apabila hukum bersumber dari rasio dan nurani manusia maka hukum
akan melahirkan keadilan. Konsep keadilan tentu sulit untuk dibatasi dalam konteks
sejarah yang melahirkan kebiasaan (waktu) dan konteks wilayah suatu bangsa (ruang).
Artinya keadilan sulit untuk dibantah maknanya dari masa-kemasa dan akan berbeda
makna sejatinya karena batasan wilayah. Contoh: “orang yang membunuh orang yang
benar harus dihukum”, maka penghukuman atas perbuatan tersebut adalah tindakan
yang harus dilakukan untuk mengakkan prinsip keadilan. Oleh karenanya
penghukuman atas tindakan tersebut tidak akan pernah berubah. Tidak mungkin di abad
sebelum masehi membenarkan tindakan membunuh orang yang benar, atau ada
sekelompok masyarkat di suatu wilayah lain dimuka bumi ini membenarkan tindakan
membunuh orang yang benar. Namun jika kita kaitkan peristiwa tersebut diatas dalam
konteks hukuman atau sanksi apa yang benar dan adil bagi tindakan membunuh orang
yang benar, maka terdapat perbedaan dalam mekanisme penerapan dan jenis sanksi atau
penghukumannya, baik dalam konteks periodesasi jaman atau dalam konteks wilayah
(masing-masing negara). Oleh karenanya sangat tepat jika mazhab hukum alam rasional
dianggap sebagai kajian yang abstrak, dan menjadi sumber hukum yang lazim disebut
sebagai ajaran atau doktrin dalam praktek hukum dewasa ini.
Hukum yang bersumber dari perundang-undangan dan yurisprudensi adalah
hukum yang terbentuk melalui mekanisme atau proses baik dalam konteks kebiasaan-
kebiasaan sebagai kenyataan masyarakat (mazhab historis) dan proses dialektis rasio
dalam mencari kebenaran yang bersumber pada akal dan hati nurani (mazhab hukum
alam rasional). Namun pengukuhan atas sumber hukum perundang-undangan dan
yurisprudensi terletak pada legitimasi dan validasi atas pengakuan keadulatan suatu

9
Jhon Gilissen dan Frits Gorle, 2005, Sejarah Hukum Suatu Pengantar, Bandung: Refika Aditama, hlm. 1.

6
Negara. dalam konteks ini maka sumber hukum sangat terbatas baik secara waktu dan
wilayah (ius constitutum dan ius constituendum).
Sumber-sumber hukum dengan proses dan mekanisme dalam uraian diatas,
secara sadar atau tidak disadari telah membentuk beberapa sistem hukum di dunia saat
ini, dan pada kenyataannya telah terbentuk dua sistem hukum besar yang
mempengaruhi tatanan hukum dunia, yaitu sistem hukum common law dan sistem
hukum civil law.
Indonesia dalam konteks ini memiliki kecenderungan menganut sistem hukum
civil law dengan percampuran sistem hukum lainnya. Tentu hal ini tidak terlepas dari
kajian sejarah hukum dan politik hukum dengan aspek-aspek lain yang
mempengaruhinya seperti aspek kultural. Oleh karena itu penulis mencoba dalam
makalah ini menguraikan dengan singkat pergulatan teori-teori hukum dalam
mempengaruhi sistem hukum di Indonesia dari berbagai aspek, baik itu dari aspek
sejarah, politik, sosiologi dan filsafat. Kemudian dalam makalah ini juga akan dibahas
bagaimana sistem hukum Indonesia jika dikaitkan dengan tiga komponen sistem hukum
menurut Lawrence M. Friedman khususnya dalam hal penerapan dan pelaksanaan
norma hukum oleh lembaga peradilan.
Atas hal tersebut diatas maka kami membuat makalah ini dengan judul
“Penerapan Norma Hukum dalam sistem hukum Indonesia ”.

B. Rumusan Masalah
Dalam rumusan masalah ini, kami membatasi makalah ini atas persoalan
sebagai berikut:
1. Bagaimana teori-teori hukum dalam mempengaruhi sistem hukum termasuk dalam
sistem hukum Indonesia ?
2. Bagaimana penerapan norma hukum di dalam sistem hukum Indonesia
berdasarkan tiga komponen menurut Lawrence Friedman di lembaga peradilan
Indonesia berdasarkan pertimbangan dan teori hukum yang dianut?

7
BAB II
PENGARUH TEORI HUKUM DALAM SISTEM HUKUM

A. Sejarah Sistem Hukum Civil Law dan Common Law


Bidang studi sejarah hukum adalah disiplin ilmu yang masih tergolong muda.
Sebagiamana dikatakan oleh Van Apeldorn, keberadaan suatu mazhab yang disebut
hukum alam yang rasionalah yang pada suatu periode tertentu menguasai pemikiran
hukum para pakar hukum yang melihat hukum itu bukan gejala sejarah, akan tetapi
merupakan suatu produk rasio atau akal.10 Disamping itu cara berpikir normatif yang
amat kuat dari kalangan ini yang melihat hukum itu sebagai ketentuan yang mengatur
tingkah laku manusia di kemudian hari menyebabkan tak perlu memperhatikan masa
lalu, adalah merupakan suatu pemikiran yang keliru.11
Henri De Page penulis sebuah karya penting perihal Traite Elementaire de Droit
Civil yang diterbitkan pada tahun-tahun 1930-1950, mengemukakan bahwa semakin ia
memperdalam studi hukum perdata, semakin ia berkeyakinan bahwa sejarah hukum
lebih dahulu daripada logika karena sejarah hukum mampu menjelaskan mengapa dan
bagaimana lembaga-lembaga hukum kita muncul ke permukaan seperti keberadaannya
saat ini.12 Hakim Amerika Serikat dan pakar sejarah Holmes mengutarakan bahwa
perjalanan yang ditempuh hukum bukanlah jalur dan ruas logika melainkan rel
pengalaman.13
Oleh karena itu pendapat para pemikir hukum tersebut diatas dapat menjadi
alasan mengapa kami mengambil perspektif sejarah sebagai langkah awal dalam
memahami dua sistem hukum besar dunia saat ini.

Sistem Hukum Civil Law


Civil Law adalah sistem hukum yang saat ini dianut oleh Negara-negara Eropa
Kontinental atas dasar resepsi corpus iuris civilis. Sistem hukum civil law merupakan
proses romanisasi hukum Romawi dalam rangka mengisi kekosongan-kekosongan
hukum dalam perundang-undangan dan kebiasaan-kebiasaan hukum pribumi di Eropa
Barat.14 Romanisasi hukum Romawi pada umumnya berlangsung dalam tempo yang

10
Jhon Gilissen dan Frits Gorle, 2005, Sejarah Hukum Suatu Pengantar, Bandung: Refika Aditama, hlm. ix
11
Ibid, hlm. ix.
12
Dikutip oleh Coing H., epochen der Rechtsgeschichte in Deutschland, Munchen, Beck, 1976.
13
Jhon Gilissen dan Frits Gorle, 2005, Sejarah Hukum Suatu Pengantar, Bandung: Refika Aditama, hlm. 3.
14
Ibid, hlm. 336.

8
lamban. Perembesan hukum Romawi tidak berlangsung dengan kekuatan yang sama,
dengan kata lain derajat Romanisasi bervariasi dari Negara ke Negara, dimana
Romanisasi yang lebih mendasar berlangsung di Italia, Jerman, dan Belanda, sedang
Perancis tidak terjadi resepsi secara resmi karena hukum Romawi diterima hanya
sebagai ratio scripta (akal tertulis)15, namun sebagian besar Code Civil tahun 1804
sesungguhnya dipengaruhi secara langsung oleh hukum Romawi. Berbeda dengan
Inggris hampir sama sekali tidak dipengaruhi oleh Romanisasi karena hukum pribumi
yakni common law telah berkembang sejak Negara tersebut ditaklukan oleh Willem
sang Penakluk tahun 1066.16
Meskipun proses Romanisasi tidak merata, namun pada akhir abad pertengahan
dan memasuki zaman-zaman modern unsur-unsur dan pemakaian terminologi hukum
bersama atas hukum Romawi telah ditafsirkan pada saat sekarang ini sebagai tatanan
hukum benua Eropa (continental / civil law).17
Karena proses Romanisasi tidak berlangsung secara merata di Negara-negara
Eropa Kontinental, maka sangat wajar bila hukum di benua Eropa Kontinental tidak
terselenggara suatu unifikasi hukum, kendatipun ilmu pengetahuan hukum di semua
Negara Eropa Kontinental mempergunakan pengertian-pengertian yang hampir sama,
namun hukum positif dari Negara yang satu dengan Negara yang lain menunjukkan
perbedaan-perbedaan yang mencolok sebagai akibat sejarah lahirnya sendiri dan
evolusi masing-masing.18

Sistem Hukum Common Law


Sistem hukum common law adalah sistem hukum yang berkembang di Negara
Persemakmuran Inggris (Amerika Utara, Kanada, Amerika Serikat). Pada awalnya
yakni abad I sampai dengan abad V, Inggris merupakan bagian dari Negara Romawi,
namun proses Romanisasi di dalam hukum dan institusi-institusi boleh dibilang tidak
meninggalkan bekas-bekasnya dalam periode-periode berikutnya.19
Setelah jatuhnya Negara Roma Suci Barat, di Inggris pun sejak abad VI, telah
terbentuk sejumlah kerajaan-kerajaan Germania, sebagai akibat penyerangan-
penyerangan kaum-kaum Angel-Sekson dan Denmark, sehingga pencatatan-pencatatan

15
Ibid, hlm. 301.
16
Ibid, hlm. 351.
17
Ibid, hlm. 304.
18
Ibid, hlm. 305.
19
Van Caenegem menamakan periode Romawi tersebut “halaman kosong” di dalam sejarah Inggris.

9
hukum dilakukan. Namun suatu perbedaan yang besar dengan Negara Eropa
Kontinental bahwa pencatatan hukum yang dilakukan di Inggris tidak dengan bahasa
latin, melainkan dengan bahasa rakyat setempat.20
Pada tahun 1066 Inggris ditaklukan oleh Hertog Normandia, William sang
Penakluk (1028-1087) dalam pertempuran di Hasting, dan dalam kemenangannya
William menyatakan tidak akan mengubah hukum dan kebiasaan penduduk pribumi,
namun memasukkan tatanan feodal yang lazim berlaku di Eropa Kontinental.21 Dalam
abad XII, kebiasaan tetap merupakan sumber satu-satunya hukum Inggris, kebiasaan-
kebiasaan lokal Angglo-sekson, kebiasaan-kebiasaan kota yang baru didirikan,
kebiasaan-kebiasaan kaum pedagang kota London tetap dipertahankan.22
Dari tahun 1485 sampai dengan 1832, berkembang suatu sistem kaedah lain
dalam sistem common law yaitu “kaedah equity”, kaedah equity berfungsi untuk
melengkapi dan kadang-kadang mengkoreksi common law yang dalam perjalanannya
telah menjadi kurang lengkap dan ketinggalan.23 Selain itu kekhususan sistem hukum
common law adalah terletak pada peranan penting yang dimainkan oleh juri di dalam
institusi peradilan, dan kaedah – kaedah yang dibuat oleh hakim (judge made law)
mengikat untuk umum.
Inggris adalah Negara tanpa undang-undang dasar dan tanpa kitab undang-
undang seperti Amerika Serikat dan banyak Negara-negara Eropa dan bukan Eropa.
Constitusional Law Inggris bertumpu pada kebiasaan dan pada preseden-preseden,
maupun pada beberapa naskah undang-undang seperti halnya beberapa ketentuan
Magna Charta tahun 1215, Bill of Rights tahun 1689 dan Acts of Union antara Inggris
dan Skotlandia (1707). 24

B. Teori-teori hukum yang mempengaruhi Civil Law dan Common Law.


Setelah mengurai secara singkat sistem hukum civil law dan sistem hukum
common law dari perspektif sejarah, ternyata dalam setiap periodesasi
perkembangannya, dua sistem hukum besar tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa
pemikir hukum dengan teori-teori hukum yang dianutnya. Perbedaan antara dua sistem
hukum tersebut pada periode ini seakan mulai mengabur dan mengalami percampuran

20
Jhon Gilissen dan Frits Gorle, 2005, Sejarah Hukum Suatu Pengantar, Bandung: Refika Aditama, hlm. 350.
21
Ibid, hlm. 351.
22
Ibid, hlm. 351.
23
Satjipto Rahardjo, 2000, Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti, hlm. 249.
24
Jhon Gilissen dan Frits Gorle, 2005, Sejarah Hukum Suatu Pengantar, Bandung: Refika Aditama, hlm.365.

10
(mixing). Oleh karenanya dalam sub judul ini kami mencoba menguraikan bias-bias
perbedaan dua sistem hukum tersebut dari perspektif teori hukum.

Civil Law
Teori hukum alam selalu mengisi sejarah perkembangan hukum dari jaman
kuno hingga jaman sekarang. Kritik tajam hingga mengalami kemunduran dan masa
kebangkitannya kembali, telah menunjukkan bahwa hukum alam adalah ruh atau tujuan
dari hukum itu sendiri yaitu keadilan. Rudolf Stammler mengatakan bahwa semua
hukum positif adalah suatu usaha untuk menuju kepada hukum yang adil. 25
Di negara-negara Eropa Kontinental seperti Italia, Perancis, Jerman, dan Austria
pengaruh hukum alam adalah sangat kental. Di Italia dikenal seorang pemikir
cemerlang yang mensintesiskan hukum alam dengan hukum positif yaitu Thomas
Aquinas. Di Perancis telah dikenal beberapa tokoh pemikir hukum yang
mempengaruhi meletusnya revolusi Perancis tahun 1789, seperti John Locke, J.J.
Rousseau dan Montesquie, dimana revolusi tersebut menjadi pedoman pelatakan
prinsip dasar Hak Asasi Manusia. Di Jerman terdapat pemikir hukum alam seperti
G.W.F Hegel, dan di Austria diketahui bahwa hukum alam telah mempengaruhi sistem
hukum meraka, hal ini didasarkan dalam Kitab Undang-Undang Austria tahun 1811
menyatakan bahwa:26
Jika suatu kasus tidak dapat diputuskan menurut kata-kata atau semangat yang terdapat
dalam Undang-Undang, maka pengadilan dapat mempertimbangkan pengaturan terhadap
kasus-kasus yang serupa, atau motif yang disarankan oleh hukum lain yang serupa. Akan
tetapi, jika masih terdapat keraguan tentang putusan terhadap kasus yang
bersangkutan, maka putusan harus dijatuhkan dengan berdasarkan kepada hukum
alam (the law of nature), dan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi di sekitar
kasus bersangkutan dan dengan mempertimbangkannya secara keseluruhan.

Namun dari pada itu, aliran pemikiran Positivisme juga mendapat tempat dalam
sistem hukum Eropa Kontinental bahkan sangat mempengaruhi. Tentu hal tersebut
tidak terlepas dari faktor sejarah sebagaimana telah dijelaskan dalam sub judul
sebelumnya dan juga pengaruh dari filsafat Positivisme Aguste Comte. Dalam
positivisme hukum dipostulatkan bahwa hukum harus terbebas dari anasir-anasir moral
dan etika termasuk juga politik dan ideologi. Hukum adalah perintah menurut
pandangan H.LA. Hart dan hukum adalah perintah dari kekuasaan politik yang
berdaulat dalam suatu Negara menurut Jhon Austin. Untuk mencapai tujuan hukum

25
Satjipto Rahardjo, 2000, Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti, hlm. 262.
26
Munir Fuady, 2013, Teori-teori Besar Dalam Hukum, Jakarta: kencana Prenadamedia Group, hlm. 25

11
maka perlu dilakukan kodifikasi agar terdapat kepastian hukum, oleh karenanya bagi
Negara-negara Eropa Kontinental menganggap Kodifikasi hukum adalah suatu
keharusan, dan Undang-Undang tertulis adalah norma-norma yang valid karena
dibentuk oleh penguasa yang berdaulat.
Di Jerman, hukum bukan hanya bersumber dari kodifikasi-kodifikasi rasional,
hukum kebiasaan lama Jerman juga diakui keberadaannya. Hal ini tidak terlepas dari
pengaruh pemikiran Von Savigny yang mengatakan bahwa hukum bertumbuh
kembang dalam pengakuan setiap bangsa dan membawa serta kepadanya ciri-ciri khas
yang unik adalah kesadaran nasional bangsa (jiwa bangsa), dimana jiwa bangsa ini
muncul secara alami kepermukaan di dalam hukum kebiasaan setiap bangsa.27
Akan tetapi dalam abad ke 20 pemikiran-pemikiran hukum alam kembali
menjadi perhatian, salah satu tokohnya adalah Lon L. Fuller. Fuller melihat ada
hubungan antara hukum dan moralitas, dan dia mendalilkan bahwa peraturan-peraturan
hukum itu perlu tunduk pada internal morality.28
Oleh karena itu maka prinsip utama atau prinsip dasar sistem hukum Civil Law
adalah, bahwa hukum itu memperoleh kekuatan mengikat karena berupa peraturan yang
berbentuk undang-undang yang tersusun secara sistematis dalam kodifikasi.29
Kepastian hukum dapat terwujud apabila segala tingkah laku manusia dalam pergaulan
hidup diatur dengan peraturan yang tertulis, maka adigium “tidak ada hukum selain
undang-undang” adalah adigium yang lazim disematkan dalam sistem hukum ini, yang
artinya bahwa hukum selalu diidentikan dengan undang-undang30. Hakim dalam hal ini
tidak bebas dalam menciptakan hukum baru, karena hakim hanya menerapkan dan
menafsirkan peraturan yang ada berdasarkan wewenang yang ada padanya. Putusan
hakim tidak mengikat umum tetapi hanya mengikat para pihak yang berperkara.31
Namun pendapat tersebut diatas tidak serta merta menegasikan teori hukum
lain, karena dalam sistem hukum civil law di beberapa Negara Eropa Kontinetal juga
mengadopsi paham hukum alam dan hukum kebiasaan dalam sistem hukumnya.

27
Jhon Gilissen dan Frits Gorle, 2005, Sejarah Hukum Suatu Pengantar, Bandung: Refika Aditama, hlm.15
28
Satjipto Rahardjo, 2000, Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti, hlm. 266.
29
J.B. Daliyo, 2001, Pengantar Hukum Indonesia, Jakarta: PT. Prenhallindo, hlm. 36.
30
Ibid, hlm. 36.
31
Ibid, hlm. 36.

12
Common Law
Hukum alam menjadi salah satu pondasi pelatakan sistem hukum common law,
sebagaimana diketahui bahwa sistem hukum tersebut berkembang pada awalnya di
Inggris. Magna Charta tahun 1215 dan Bill of Rights tahun 1689 adalah tonggak
perubahan sistem monarki menjadi sistem monarki konstitusional,32 dalam sistem
hukum Inggris. Hal ini tentu menjadi bukti nyata bahwa hukum alam telah diadopsi
dalam sistem hukum Inggris pada awal abad 13.
Sistem hukum common law juga bersumber dari kebiasaan-kebiasaan
masyarakat setempat, sebagaimana bukti sejarah yang menuliskan bahwa ketika
William sang Penakluk (1028-1087) menaklukan Inggris Ia menyatakan tidak akan
mengubah hukum dan kebiasaan penduduk pribumi. Hingga sekarang ini kebiasaan-
kebiasaan tersebut tetap diakui sebagai sumber hukum dan di jadikan azas hukum yaitu
doctrine of precedent, dan azas judge made rule.
Selain itu para pemikir positivis hukum seperti H.L.A Hart, John Austin, bahkan
Jeremy Bentham - yang seharusnya layak menyandang bapak ilmu hukum Inggris
karena dialah yang dengan gigih memperjuangkan untuk merombak hukum di Inggris
yang kacau menurutnya dengan melakukan kodifikasi33 - adalah pemikir positive
hukum yang berkebangsaan Inggris. Tokoh-tokoh pencetus aliran positivisme hukum
tersebut yang mempengaruhi dan membentuk sistem hukum civil law pada abad
modern di Eropa Kontinental. Namun gagasan mereka tidak diterapkan dalam sistem
hukum Inggris sebagaimana perjuangan Jeremy Bentham untuk melakukan kodifikasi
di Inggris mengalami kegagalan. Oleh karenanya, Inggris selain mengakui hukum
kebiasaan sebagai sumber hukum dalam sistem hukumnya, juga pula mengakui hukum
tertulis seperti Magna Charta, Bill of Rights, dan Acts of Union, walaupun pada
dasarnya Inggris tidak memiliki undang-undang yang terkodifikasi.

C. Sistem Hukum Indonesia


Sistem hukum Indonesia memiliki karakteristik yang unik, disamping memiliki
kencenderungan menganut sistem hukum civil law, sistem hukum adat pun tetap diakui
dalam pelaksanaanya. Oleh karena itu menurut hemat kami penting kiranya mengulas

32
Munir Fuady, 2013, Teori-teori Besar Dalam Hukum, Jakarta: kencana Prenadamedia Group, hlm. 51
33
Satjipto Rahardjo, 2000, Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti, hlm. 269.

13
secara singkat faktor-faktor yang mempengaruhi sistem hukum di Indonesia, yaitu
antara lain:

Faktor Sejarah (sejarah hukum)


Pada tahun 1602 – 1799 perusahaan dagang Belanda atau yang dikenal dengan
nama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) memiliki kewenangan lebih yang
diberikan oleh Pemerintahan Belanda atas wilayah daerah jajahannya. Kewenangan
tersebut salah satunya adalah menerapkan aturan-aturan yang dibawa dari negeri
asalnya untuk ditaati oleh orang-orang pribumi Nusantara, termasuk dalam hal
memutuskan perkara-perkara perdata dan pidana. Alhasil pada tahun 1766 VOC
mampu menyusun aturan-aturan secara sistemik yang dikenal dengan nama Satuta
Batavia Baru,34 yang kemudian dilakukan kodifikasi oleh Freijer dan menghasilkan
kitab hukum yang dinamakan Kompendium Freijer, akan tetapi hukum adat masing-
masing wilayah pribumi Nusantara masih tetap berlaku.35
Pada tahun 1838 Pemerintah Belanda telah berhasil mengkodifikasi hukum
perdatanya, atas dasar itu muncul gagasan dari komisi undang-undang bentukan
menteri jajahan di Belanda untuk mengkodifikasi peraturan di wilayah Hindia-Belanda.
Kodifikasi tersebut menghasilkan Peraturan Organisasi Pengadilan, Ketentuan-
Ketentuan Umum Tentang Perundang-Undangan, KUHPerdata, KUHD, dan Peraturan
tentang Hukum Acara Perdata, yang diundangkan pada tanggal 1 Mei 1848.36 Pada
masa itu tata hukum Hindia-Belanda terdiri dari perturan-peraturan tertulis yang
dikodifikasikan, peraturan-peraturan tertulis yang tidak dikodifikasikan, peraturan-
peraturan tidak tertulis (hukum adat) yang berlaku bagi orang bukan golongan Eropa.37
Selanjutnya pada tahun 1922 Pemerintahan Hindia-Belanda menetapkan bahwa
dalam menyelesaikan perkara perdata maka hakim diperintahkan untuk menggunakan
hukum perdata Eropa bagi golongan Eropa dan hukum perdata adat bagi orang bukan
Eropa,38 dan penerapan kebijakan tersebut tetap berlanjut hingga masa pendudukan
Jepang di Indonesia.
Dari uraian singkat tersebut diatas dapat diketahui bahwa selama periode
penjajahan Belanda dan Penjajahan Jepang sistem hukum Indonesia telah tersistemasi

34
J.B. Daliyo, 2001, Pengantar Hukum Indonesia, Jakarta: PT. Prenhallindo, hlm. 13
35
Ibid, hlm. 13
36
Ibid, hlm. 16.
37
Ibid, hlm. 16.
38
Ibid, hlm. 17.

14
dan terkodifikasi namun belum terjadi unifikasi hukum karena adanya golongan-
golangan dalam strata sosial kemasyarakatan. Selain itu sistem hukum adat yang
bersumber dari alkulturasi agama Islam (teori resepsi) dan kebiasaan masyarakat
pribumi di masing-masing wilayah di Indonesia pada saat itu juga masih diakui
keberadaannya.

Faktor Politik (politik hukum)


Lahirnya sistem hukum Indonesia tidak terlepas dari pernyataaan tegas di dalam
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang
berbunyi “kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia”,
dan di dalam Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan “...Kemudian daripada itu
disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang
Dasar Negara Indonesia…”. Menurut Drs. C.S.T. Kansil, S.H., pernyataan tersebut
diatas mengandung arti: pertama, menjadikan Indonesia suatu Negara yang merdeka
dan berdaulat. Kedua, pada saat itu juga menetapkan sistem hukum Indonesia, di dalam
Undang-Undang Dasar Negara yang tertulis.39
Konsekuensi logis dari berdaulatnya Negara Republik Indonesia maka harus
sesegera mungkin disusun suatu rencana dari tujuan Negara. Menurut Prof. DR. Moh.
Mahfud M.D, untuk mencapai tujuan Negara maka diperlukan politik hukum (legal
policy) dalam rangka menetapkan hukum yang akan diberlakukan atau tidak
diberlakukan. Hal senada juga dikemukakan oleh Sunaryati Hartono “hukum sebagai
alat” sehingga secara praktis politik hukum juga merupakan alat atau sarana dan
langkah yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk menciptakan sistem hukum
nasional guna mencapai cita-cita bangsa dan tujuan Negara.40
Berdasarkan Pasal II dan Aturan Peralihan UUD 1945 yang menyatakan bahwa
hukum yang lama “…masih langsung berlaku selama belum diadakan yang baru…”,
merupakan cerminan politik hukum Pemerintahan pertama Negara Republik Indonesia
dalam menetapkan sistem hukum yang berlaku bagi bangsa Indonesia pada saat itu.
Namun tentunya hal itu dimaksudkan untuk menghindari terjadinya kekosongan hukum
karena hukum-hukum baru yang sesuai dengan idealita dan realita belum sempat
dibuat, sehingga pemberlakuan produk hukum lama tidak dapat dipandang sebagai

39
C.S.T. Kansil, 1977, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, hlm. 169.
40
CFG.Sunaryati Hartono,1991, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, Bandung:Alumni, hlm. 1

15
politik hukum yang bermaksud melanjutkan kebijaksaan hukum Pemerintah Hindia
Belanda.41

D. Pengaruh Beberapa Teori Hukum dalam Sistem Hukum Indonesia


Faktor sejarah dan faktor politik sebagaimana tersebut diatas dapat dijadikan
landasan atas pembentukan sistem hukum Indonesia hingga sekarang ini. Kolonialisasi
dan teori resepsi (alkulturasi hukum islam dan hukum adat) tetap diakui dengan
dikukuhkannya azas konkordansi dalam politik hukum Pemerintah pada saat itu.
Teori hukum alam diadopsi dalam Undang-Undang No. 19 Tahun 1964
tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, Pasal 2 ayat 1 yang
berbunyi “Peradilan dilakukan Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa", Kata ‘demi’ dalam irah-irah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa, menurut Sudikno Mertokusumo, berarti “untuk kepentingan”, lebih tepat daripada
“atas nama”, karena tujuan peradilan adalah untuk mencapai keadilan. Pengakuan Hak
Asasi Manusia yang mana merupakan salah satu produk hukum alam juga diadopsi
dalam sistem hukum Indonesia, baik diatur dalam pasal-pasal di UUD 1945 dan diatur
juga di dalam KUHAP. KUHAP telah mengadopsi konsep hebeas corpus yang
merupakan konsep hukum dalam sistem hukum common law yaitu dengan dibentuknya
lembaga praperadilan.
Kemudian teori mahzab historis Von Sovigny dan teori Grundnorm Hans
Kelsen di adopsi ke dalam butir-butir Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar
1945 dan dikukuhkan dalam Undang-Undang nomor 48 tahun 2009 tentang fungsi
kekuasaan kehakiman “yang berdasar pada Pancasila sebagai jiwa bangsa”,
sebagaimana diatur dalam pasal 1 yang berbunyi “Kekuasaan kehakiman adalah
kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan
hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya negara Hukum
Republik Indonesia.”
Selain itu dalam sistem hukum Indonesia juga mengakui hukum kebiasaan yang
berkembang dimasyarakat sebagaimana dinyatakan dalam pasal 5 ayat (1) Undang-
Undang nomor 48 tahun 2009 yang berbunyi “Hakim dan hakim konstitusi wajib
menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup
dalam masyarakat.” Berpijak dari Undang-Undang tersebut diatas maka dalam

41
Moh. Mahfud MD, 2009, Politik Hukum di Indonesia, Jakarta: Rajagrafindo Persada, hlm. 18.

16
mengadili perkara-perkara yang dihadapinya maka hakim akan bertindak sebagai
berikut: 42
a. Dalam kasus yang hukumnya atau Undang-Undangnya sudah jelas tinggal
menerapkan saja hukumnya.
b. Dalam kasus dimana hukumnya tidak atau belum jelas maka hakim akan
menafsirkan hukum atau Undang-Undang melalui cara/metoda penafsiran yang
lazim berlaku dalam ilmu hukum.
c. Dalam kasus yang belum ada Undang-Undang/hukum tertulis yang mengaturnya,
maka hakim harus menemukan hukumnya dengan menggali dan mengikuti nilai-
nilai hukum yang hidup dalam masyarakat.
Namun disisi lain dalam hukum pidana Indonesia mengenal azas legalitas yang
diatur dalam pasal 1 ayat (1) KUHPidana yang berbunyi “tiada suatu perbuatan yang
boleh dihukum, melainkan atas ketentuan pidana dalam undang-undang yang ada
terlebih dahulu dari perbuatan itu. Artinya hukum Pidana Indonesia sejalan dengan
adigium “tidak ada hukum selain undang-undang” yang artinya bahwa hukum selalu
diidentikan dengan undang-undang. Hakim dalam hal ini tidak bebas dalam
menciptakan hukum baru, karena hakim hanya menerapkan dan menafsirkan peraturan
yang ada berdasarkan wewenang yang ada padanya.
Selain itu lahirlah juga lembaga peradilan baru yaitu Mahkamah Konstitusi RI
berdasarkan perubahan ke-3 UUD 1945 tanggal 9 November 2001 pasal 24 C yang
salah satu kewenangannya menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar
(judicial review). Dapat dikatakan bahwa Negara yang pertama kali Membentuk
Mahkamah Konstitusi adalah Austria pada tahun 1920, yang memiliki karakter sistem
hukum civil law. Namun demikian, jauh sebelum gagasan pembentukan lembaga
Mahkamah Konstitusi itu dikembangkan, sebenarnya ide constitutional review itu
sendiri sudah dipraktikkan oleh pengadilan Amerika Serikat sejak awal abad ke-19.
Tepatnya, dalam perkara Marbury versus Madison yang diputus oleh Mahkamah
Agung Amerika Serikat pada tahun 1803,43 yang memiliki karakter sistem hukum
common law. Saat ini model judicial review telah diterapkan di 78 negara diseluruh
dunia.44

42
Mahkamah Agung RI, Bina Yustisia, Jakarta, 1994.
43
Jimly Asshiddiqie, http://jimlyschool.com/read/analisis/276/sejarah-constitutional-review-gagasan-
pembentukan-mk/
44
Ibid.

17
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka sistem hukum Indonesia menganut
beberapa teori hukum yang pada prinsipnya juga diterapkan dalam sistem hukum
common law dan sistem hukum lainnya, artinya sistem hukum common law dan sistem
hukum civil law hampir tidak memiliki ciri atau karakter yang tegas dalam sistem
hukum di Indonesia. Lalu menjadi pertanyaan adalah, bagaimana dampak dari sistem
hukum Indonesia yang mencampurkan beberapa sistem hukum lain, bila dikaitkan
dengan tiga komponen sistem hukum menurut Lawrence Friedman khususnya dalam
penerapan norma hukum di Lembaga Peradilan di Indonesia? Untuk itu, maka akan
dibahas lebih lanjut di Bab III dalam makalah ini.

18
BAB III
PENERAPAN SISTEM HUKUM DI INDONESIA BERDASARKAN TIGA
KOMPONEN MENURUT LAWRENCE FRIEDMAN
“Penerapan Norma Hukum di Lembaga Peradilan”

A. Teori Sistem Hukum Menurut Lawrence Friedman.


Sebelum membahas lebih dalam mengenai teori sistem hukum menurut
Lawrence Friedman, ada baiknya terlebih dahulu mengetahui pendapat dari Hans
Kelsen tentang Sistem hukum. Kelsen mengatakan bahwa sistem hukum adalah suatu
sistem norma.45 Kemudian Kelsen menekankan bahwa suatu sistem norma dikatakan
valid jika diperoleh dari norma yang lebih tinggi diatasnya, yang selanjutnya sampai
pada tingkat dimana norma tersebut tidak dapat diperoleh dari norma lain yang lebih
tinggi, ini yang disebut sebagai norma dasar.46
Berdasarkan hakikat norma dasar tersebut Hans Kelsen membagi sistem norma
menjadi dua jenis yaitu sistem norma statis dan sistem norma dinamis. Sistem norma
statis hanya dapat ditemukan melalui tatanan kerja intelektual, yakni melalui
penyimpulan dari yang umum kepada yang khusus. Sedangkan sistem norma dinamis
merupakan norma yang diluarnya kita sudah tidak lagi dapat menemukan norma yang
lebih tinggi darinya, dan tidak dapat diperoleh melalui suatu tatanan kerja intelektual.47
dari pandangan Kelsen tersebut dapat disederhanakan bahwa sistem norma yang
disebut tatanan hukum adalah sistem dari jenis yang dinamis karena dalam sistem
norma dinamis, validitas norma diperoleh dari pendelegasian otoritas berdasarkan
sistem hukum Negara tersebut baik pembentukan norma oleh parlemen, atau lahir
karena kebiasaan atau ditetapkan oleh pengadilan.48
Pandangan Hans Kelsen mengenai sistem hukum tersebut diatas menurut hemat
kami ada benarnya, namun tentunya tidak mencakup secara menyeluruh dari apa yang
dimaksud dalam sistem hukum itu sendiri. Apakah hukum hanya terbatas dalam produk
yang dibuat atau dibentuk baik oleh Parlemen, kebiasaan atau putusan pengadilan? lalu
bagaimana dengan kejakasaan, kepolisian dan pengacara bukankah mereka juga bagian
dari penegak hukum? Lantas dimana posisi masyarakat sebagai pelakasana perintah

45
Hans Kelsen, 2008, Teori Umum Tentang Hukum dan Negara, Bandung: Nusa Media, hlm.159.
46
Ibid, hlm. 161.
47
Ibid, hlm. 163.
48
Ibid, hlm. 163.

19
norma dengan nilai-nilai dan harapan atas kondisi personal atau kelompok didalam
kehidupan sosialnya?
Tentu semua itu merupakan komponen-komponen yang tidak bisa berdiri
sendiri, ketika bagian-bagian itu tidak berjalan dengan maksimal maka kita berbicara
mengenai efektivitas. Namun dalam konteks penulisan makalah ini, kami
membatasinya dalam persoalan mengenai penerapan norma hukum dalam sistem
hukum berdasarkan pandangan Lawrence Friedman, sehingga persoalan efektiviatas
hukum yang juga memiliki keterkaitan tidak akan kami ulas karena ditakutkan terlalu
melebar dan terlalu luas. Oleh karena itu untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas
maka kami akan menjelaskan sistem hukum menurut Lawrence Friedman. Friedman
membagi sistem hukum dalam tiga (3) komponen yaitu:49
1. Substansi hukum( substance rule of the law), didalamnya melingkupi seluruh
aturan baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, baik yang hukum
material maupun hukum formal.
2. Struktur hukum (structure of the law), melingkupi Pranata hukum, Aparatur
hukum dan sistem penegakkan hukum. Struktur hukum erat kaitannya dengan
sistem peradilan yang dilaksanakan oleh aparat penegak hukum, dalam sistem
peradilan pidana, aplikasi penegakan hukum dilakukan oleh penyidik, penuntut,
hakim dan advokat.
3. Budaya hukum (legal culture), merupakan penekanan dari sisi budaya
secara umum, kebiasaan-kebiasaan, opini-opini, cara bertindak dan berpikir,
yang mengarahkan kekuatan sosial dalam masyarakat.
Tiga komponen dari sistem hukum menurut Lawrence Friedman tersebut diatas
merupakan jiwa atau ruh yang menggerakan hukum sebagai suatu sistem sosial yang
memiliki karakter dan teknik khusus dalam pengkajiannya. Friedman membedah sistem
hukum sebagai suatu proses yang diawali dengan sebuah input yang berupa bahan-
bahan mentah yaitu berupa lembaran-lembaran kertas dalam sebuah konsep gugatan
yang diajukan dalam suatu pengadilan, kemudian hakim mengelolah bahan-bahan
mentah tersebut hingga menghasilkan output berupa putusan.50
Input yang berupa konsep gugatan atau dakwaan dalam sebuah sistem adalah
elemen sikap dan nilai sosial atas tuntutan-tuntutan masyarakat yang menggerakkan

49
Lawrence M. Friedman; The Legal System; A Social Scince Prespective, Russel Sage Foundation, New York,
1975; hlm. 12 – 16.
50
Ibid, hlm. 13.

20
sistem hukum. Jika masyarakat tidak melakukan tuntutan atas nilai dan sikap yang
mereka anggap bertentangan dengan harapan mereka baik secara indvidu ataupun
kelompok, maka tidak akan ada konsep gugatan ataupun dakwaan yang masuk di
pengadilan. Jika tidak ada gugatan atau dakwaan sebagai input dalam sistem tersebut
maka pengadilan tidak akan bekerja dan tidak akan pernah ada.51 Oleh karenanya setiap
komponen dalam sistem hukum tersebut adalah bagian yang tidak dapat terpisahkan
jika salah satu komponen tidak bergerak maka tidak akan ada umpan balik yang
menggerakkan sistem tersebut.
Namun tentunya suatu sistem hukum bukanlah suatu mesin yang bekerja
dengan mekanisme dan proses yang pasti. Para ahli hukum dengan gagasan idealnya
menginginkan hukum bersifat pasti, bisa diprediksi, dan bebas dari hal yang subjektif
dengan kata lain hukum harus sangat terprogram, sehingga setiap input yang masuk dan
diolah akan menghasilkan output yang pasti dan bisa diprediksi. Oleh karenanya segala
sesuatu yang outputnya lain dari pada itu akan dipandang tidak adil.52
Gagasan ideal tersebut diatas adalah gagasan yang mustahil diwujudkan di
dalam sistem hukum common law ataupun sistem hukum civil law. Hal itu tidak terlepas
dari karakter unik dan khusus dari sistem hukum sebagai ilmu sosial yang spesifik.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Friedman bahwa yang memainkan peran penting
dalam suatu proses pengadilan adalah Hakim dan para pengacara. Para hakim dalam
memutus perkara yang ditenganinya tidak terlepas dari berbagai faktor, baik latar
belakang, sikap, nilai dan intuisi. Salah satu studi menunjukkan bahwa kalangan
Demokrat di Mahkamah Agung Michigan lebih peka dari pada kalangan Republik
terhadap tuntutan pengangguran.53 Stuart Negel mengukur peranan pengacara dalam
setiap proses peradilan berdasarkan pada latar belakang, keahlian, dan pengalaman para
pengacara terhadap keputusan-keuptusan. Alhasil ia mendapati bahwa para pengacara
yang lebih tua dan lebih kaya cenderung untuk memenangkan kasus-kasus.54
Dari gambaran tersebut diatas dapat diketahui bahwa sistem hukum yang
dimulai dari input lalu diproses dan menghasilkan ouput berupa putusan adalah
mekanisme yang tidak dapat dipastikan dan diprediksi. Kompleksitas yang
mempengaruhi sistem tersebut membuat penerapan hukum dalam konteks peradilan

51
Ibid, hlm. 13.
52
Ibid, hlm. 14.
53
Ibid, hlm. 228.
54
Ibid, hlm. 228.

21
menjadi sangat subyektif dan sangat tergantung pada perspektif hakim dan juga tidak
terlepas dari pengaruh para pengacara yang membuat argumentasi hukum dalam rangka
meyakinkan hakim dalam memutuskan. Hal tersebut juga dialami dalam sistem hukum
Indonesia sebagaimana teah dibahas dalam bab sebelumnya bahwasanya sistem hukum
Indonesia yang memadukan beberapa sistem hukum yang ada, termasuk mengadopsi
beberapa teori hukum dari sistem hukum common law. Konsekuensi logis atas
kompleksitas tersebut adalah bahwa setiap putusan dalam sistem peradilan Indonesia
tergantung dari mazhab pemikiran para hakim termasuk sikap, nilai dan intusi serta
latar belakangnya. Disamping itu juga dipengaruhi oleh para pengacara dalam
mempengaruhi dan meyakinkan hakim dengan argumentasi hukum yang dibangunnya.
Apabila hakim dinilai cenderung sangat positivism, maka pengacara harus mampu
membangun argumentasi hukum dengan dalil-dalil positivis untuk mempengaruhi dan
meyakinkan hakim. Begitu pula apabila hakim dinilai sangat responsif dan progresif
maka hakim dianggap mampu menerobos batas batas kekakuan hukum demi
kepentingan sosial masyarakat dalam rangka menciptakan keadilan, maka pengacara
harus menyiapkan argumentasi hukum yang menguatkan dalil tersebut. Karena
sesungguhnya pengadilan tidak pernah ada apabila tidak ada tuntutan atas nilai-nilai
dan harapan dalam bentuk input berupa lembaran-lembaran kertas gugatan dan
dakwaan, maka peranan pengacara dalam membangun budaya hukum masyarakat yang
dituangkan dalam konsep gugatan dan argumentasi hukum dalam pengadilan adalah
saling menguatkan. Lalu bagaimana dengan penerapan norma dalam sistem hukum
Indonesia di lembaga peradilan dengan berbagai contoh kasus yang dianggap
kontroversial? maka akan dibahas dalam sub judul selanjutnya.

B. Penerapan Norma dalam Sistem Hukum Indonesia di Lembaga Peradilan


Komponen struktur hukum dalam sistem hukum Indonesia dalam lingkup
penegakan hukum diatur dalam UU No. 8 Tahun 1981 yang meliputi; mulai dari
Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Badan Pelaksana Pidana (Lapas). Kewenangan
lembaga penegak hukum tersebut dijamin oleh undang-undang, oleh karenanya dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, para penegak hukum harus terlepas dari
intervensi lembaga eksekutif dan pengaruh eksternal lainnya. Terdapat adagium yang
menyatakan meskipun dunia ini runtuh hukum harus ditegakkan. Hukum tidak dapat
berjalan atau tegak bila tidak ada aparat penegak hukum yang kredibel, kompeten dan
independen. Seberapa bagusnya suatu peraturan perundang-undangan bila tidak

22
didukung dengan aparat penegak hukum yang baik maka keadilan hanya angan-angan.
Pengadilan dalam struktur hukum diantaranya menjalankan fungsi penegakan hukum.
Dalam menegakkan hukum ini ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu kepastian
hukum, kemanfaatan dan keadilan.55
Dalam berbagai kasus yang kami anggap kontroversial, keterkaitan komponen-
komponen dalam sistem hukum Indonesia khususnya penerapan norma di lembaga
peradilan adalah kajian yang sangat renyah untuk ditelaah sebagaimana yang akan kita
bahas sebagai berikut:

Putusan Kasus Terorisme Yang Melanggar Asas Legalitas.


Dalam teori dan praktek hukum pidana, dikenal adanya asas legalitas yang
salah satunya melarang pemberlakuan hukum pidana secara retroaktif. Hal ini tertuang
dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP yang pada intinya menyatakan bahwa tidak ada perbuatan
yang dapat dipidana kecuali atas aturan pidana dalam peraturan yang telah ada sebelum
perbuatan itu dilakukan. Sehingga konsekuensi dari ketentuan dari pasal tersebut
adalah larangan memberlakukan surut suatu perundang-undangan pidana atau yang
dikenal dengan istilah asas retroaktif.
Asas legalitas merupakan pilar utama bagi setiap negara untuk menghargai dan
mengedepankan hukum (supremacy of law). Menurut Bassiouni, tujuan dari adanya
asas legalitas diantaranya:56
1. To enhance the certainty of the law (menegakkan kepastian hukum);
2. Provide justice and fairness for the accused (memberikan proses yang adil dan
keadilan bagi terdakwa);
3. Achieve the effective fulfillment of deterrence function of the criminal sunction
(mencapai fungsi pencegahan yang efektif dari sanksi pidana);
4. Prevent abuse of power (mencegah penyalahgunaan kekuasaan); dan
5. Strengthen the application of the rule of law (memperkuat penerapan aturan
hukum).
Untuk beberapa hal, tujuan-tujuan asas legalitas sebagaimana disebutkan di
atas hanya dapat dicapai dengan pendekatan formalistik yang kaku yang terinspirasi
dari pemikiran legal positivis, sedangkan untuk tujuan substantif dari asas legalitas ini

55
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, Liberty: Yogyakarta, 1986, hal. 130.
56
Cherif Bassiouni, Crimes Against Humanity in International Criminal Law, 2nd revised edition, Kluwer Law
International, 1999, hlm. 124.

23
tidak harus mensyaratkan ketentuan formal yang kaku.57 Dapat dipahami bahwa pada
prinsipnya melarang berlakunya suatu aturan hukum secara surut (retroaktif) sebagai
hukum positif bukannya tanpa pengecualian. Bisa saja seseorang dikenakan aturan
hukum secara retroaktif tetapi bukan berdasarkan alasan bahwa secara moral perbuatan
seseorang tersebut adalah salah, melainkan harus ditentukan dalam aturan hukum yang
jelas bahwa atas suatu perbuatan seseorang dapat diberlakukan hukum secara retroaktif.
Berlawanan dengan asas legalitas, pendukung prinsip retroaktif beranggapan bahwa
aturan baru dapat diterapkan terhadap kasus-kasus yang sifatnya khusus untuk
mencapai keadilan.58
Menyimak Putusan Pengadilan terhadap kejahatan terorisme terhadap
kejadian bom Bali I. Putusan pidana yang dijatuhkan kepada para pelaku adalah
berdasarkan Perpu No. 1 Tahun 2002 dan Perpu No. 2 Tahun 2002 yang berlaku surut
dalam kasus Bom Bali I, karena jika dilihat dari kejadian pidana dan waktu penetapan
peraturan, pemerintah Indonesia mengeluarkan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang ditetapkan dan mulai diberlakukan pada
tanggal 18 Oktober 2002 yaitu 6 (enam) hari setelah terjadinya peristiwa Bom Bali I
pada tanggal 12 Oktober 2002.
Banyak pro kontra terhadap penerapan hukum atas kejadian tersebut, menurut
Yudha Bhakti59 asas legalitas pada intinya berisi asas “Lex Temporis Delicti” hanya
memberikan perlindungan kepada kelompok masyarakat yang menjadi korban tindak
pidana, sehingga akses untuk memperoleh keadilan bagi korban terutama korban
kolektif terhambat. Dengan dilandasi oleh prinsip keadilan untuk semuanya dalam arti
keadilan bagi pelaku tindak pidana maupun keadilan bagi korban tindak pidana, maka
pemberlakuan hukum pidana secara “retroaktif” penyeimbang asas legalitas yang
semata-mata berpatokan pada kepastian hukum dan asas keadilan untuk semua pihak.
Dalam keadaan tertentu seperti halnya kepentingan kolektif bagi kepentingan kolektif
baik masyarakat, bangsa, maupun negara yang selama ini kurang mendapat
perlindungan dari asas legalitas, maka pemberlakuan hukum pidana secara retroaktif
kiranya dapat diterima guna memenuhi tuntutan moral pembalasan masyarakat. Jika

57
Ibid, hlm. 125.
58
Joshua Dressler, Understanding Criminal Procedur, 2nd edition, by Matthew Bender & Company Incorporated,
USA, 1996, hlm. 50
59
Yudha Bhakti, dkk, Laporan Akhir Tim Kompilasi Bidang Hukum Tentang “Asas Retroaktif”, Pusat
Perencanaan Pembangunan Hukum Nasional Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Hukum dan HAM
RI, Tahun 2006, hlm. 17.

24
merujuk pada asas legalitas, maka dapat dikatakan bahwa pengenaan pidana terhadap
para pelaku bom Bali I melanggar asas legalitas, karena hukum yang menjadi dasar
dalam pengenaan pidana tersebut ada setelah tindakan pengeboman dilakukan oleh para
pelaku.
Namun demikian, penulis ingin memandang pro dan kontra penegakan hukum
atas asas legalitas dan retroaktif tersebut dari sudut pandang sistem hukum common law
dan civil law. Dasar hukum yang menjadikan para pelaku bom Bali I dihukum bila
dikaji telah menggunakan asas retroaktif, dimana asas retroaktif tersebut dilakukan
karena sampai saat kejadian (bom Bali I) tersebut belum ada hukum yang mengatur
teroris secara spesifik. Sehingga bila dikaji melalui sistem hukum common law yang
lebih mengedepankan keadilan, hal tersebut dapat dilakukan. Sifat penerapan hukum
tersebut telah menggeser paradigma bahwa Indonesia menggunakan sistem hukum civil
law yang menekankan pada kepastian hukum dari segi asas legalitas. Seperti yang telah
dibahas pada bab sebelumnya bahwa Indonesia menganut mixed legal system (sistem
hukum campuran), maka sangat dipahami pemberlakuan suatu hukum yang retroaktif
dapat dibenarkan jika yang diharapkan adalah keadilan, karena jika kepastian hukum
semata yang diterapkan (sistem hukum civil law) dan tidak mempertimbangkan
keadilannya, justru akan menyebabkan kekosongan hukum.

Praperadilan Budi Gunawan Yang Membentuk Norma Baru


Putusan Budi Gunawan dalam Praperadilan, amarnya menyatakan 1) Surat
Perintah Penyidikan Nomor. Sprin.Dik-03/01/01/2015 tanggal 12 Januari 2015 yang
menetapkan Pemohon sebagai tersangka adalah tidak sah dan tidak berdasarkan hukum
dan oleh karenanya penetapan a quo tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat; 2)
penyidikan yang dilakukan oleh Termohon terkait peristiwa yang disangkakan adalah
tidak sah dan tidak berdasar hukum dan oleh karenanya penyidikan a quo tidak
mempunyai kekuatan hukum mengikat; dan 3) penetapan tersangka atas diri Pemohon
yang dilakukan oleh Termohon adalah tidak sah.
Putusan tersebut menimbulkan reksi keras dari masyarakat, yang rata-rata
menilai bahwa hakim yang memutus perkara tersebut telah salah dalam menilai perkara
tersebut. Bahwa dalam putusan tersebut terdapat hal menarik, yaitu hakim mengakui
bahwa sangat jelas tentang penetapan Pemohon tidak diatur dalam pasal yang dirujuk
Pasal 77 KUHAP maupun dalam ketentuan peraturan perundang-undangan atau hukum
positif di Indonesia, dan hakim menyatakan bahwa metode penafsiran yang

25
digunakannya adalah penerapan penafsiran penghalusan hukum dan penafsiran secara
luas. Terhadap hal ini dapat dimengerti bahwa hal tersebut dianggap telah mengingkari
asas-asas hukum pidana dan hukum acara pidana bahwa penafsiran secara luas yang
tidak ada bedanya dengan penafsiran analogi adalah dilarang sama sekali, sama halnya
dengan asas legalitas yang terdapat dalam Pasal 1 ayat (1). Selanjutnya terhadap
putusan tersebut, terdapat dalam pertimbangan hukum yang menyatakan “melahirkan
kewenangan kepada hakim untuk menetapkan hukum yang semula dak ada menjadi
ada”. Terhadap hal tersebut, jika kita mengacu pada prinsip civil law maka menetapkan
hukum, yang kemudian menjadi hukum posif dan berlaku sebagai undang-undang,
bukanlah pekerjaan seorang hakim. Sebagaimana diatur dalam UUD 1945 menetapkan
suatu perbuatan atau keadaan menjadi perbuatan hukum, hanyalah kewenangan badan
pembuat undang-undang, yang dalam sistem ketatanegaraan di Indonesia dilakukan
oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama-sama dengan Presiden.
Jika terhadap hakim diberikan keleluasaan untuk menetapkan “suatu hukum
yang tidak ada menjadi ada” maka kemungkinan melakukan tirani hukum amat sangat
dimungkinkan dan karena menerapkan kewenangan yang terlampau luas maka keadilan
serta ketepatan hukum semakin menjauh. Hakim yang demikian adalah hakim yang
berpihak, tidak objektif, dan menumbuhkan tirani. Kembali kepada asas hukum pidana
dan hukum acara pidana, maka asas legalitas harus menjadi pegangan teguh para hakim
agar dak menjalankan kekuasaan dengan tirani.
Atas beberapa kajian terhadap putusan tersebut, bila kita melihat dari sudut
pandang sistem hukum maka hakim tersebut secara jelas menganut sistem hukum
common law, dimana hakim dalam hal tersebut menempatkan posisinya sebagai judge
made law, yang sama sekali mengesampingkan asas legalitas. Usaha keras seorang
hakim dalam memutus suatu perkara harus bertujuan untuk memenuhi rasa keadilan
dan objektif, dengan pedoman pada rambu-rambu asas-asas hukum.

Putusan Kasus Nenek Minah Yang Positivis


Nenek Minah di Banyumas Jawa Tengah, melihat pohon-pohon cokelat yang
banyak berbuah. Ia memetik tiga buah cokelat yang ada di kebun itu dan tidak ada
maksud padanya untuk menyembunyikannya, dan tidak pula ada maksud di benaknya
untuk membawanya pergi, kemudian perbuatannya diketahui mandor kebun. Sepekan
kemudian, Nenek Minah dipanggil dan diperiksa polisi di Polsek Ajibarang. Dari hasil
pemeriksaan, polisi menyimpulkan bahwa perbuatan Nenek Minah sepenuhnya

26
memenuhi unsur-unsur yang disebutkan dalam Pasal 362 KUHP yang secara legal-
formal disebut sebagai tindak pencurian. Akhirnya dia dalam pengadilan dianggap
terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. Dinyatakan bersalah, ia dipidana satu
bulan 15 hari, dengan masa percobaan tiga bulan. Putusan hakim lebih rendah dari
tuntutan jaksa yang mohon agar hakim memidana si nenek dengan pidana penjara enam
bulan. Nenek Minah menerima putusan hakim, bukan karena dia menganggap putusan
hakim itu adil atau tak adil, melainkan karena dia sudah lelah berurusan dengan hukum
yang berlaku di negeri ini.
Terhadap hal tersebut, dapat dikatakan bahwa Salah satu faktor yang
menyebabkan perlakuan yang tidak adil di bidang hukum di negeri ini disebabkan
berlakunya hukum positif yang dalam pengambilan keputusannya cenderung tekstual.
Hakim dalam putusan tersebut memposisikan sebagai corong undang-undang yang
bersifat positivistik.
Positivistik yang dimaksudkan untuk menjamin kepastian hukum dan dengan
demikian juga kepastian hak-hak warga negara, ini sesungguhnya merupakan bagian
dari suatu tuntutan politik yang menghendaki pembebasan setiap individu manusia dari
sembarang bentuk perhambaan dan dikenal dengan paham liberalisme. Konsep
keadilan memberikan titik tekan pada arti pentingnya individu sebagai manusia yang
memiliki kebebasan. Keadilan yang ditegakan adalah komutatif bukan distributif, yang
bermakna bahwa keadilan merupakan hasil suatu proses pertukaran antar individu,
untuk saling memberikan konsesi atas dasar kesepakatan yang berlangsung secara suka
dan rela.60 Pandangan-pandangan positivisme itulah yang kemudian pada ranah
pragmatis, menjadikan bekerjanya hukum positivis seperti praktiknya selama ini.
Keputusan-keputusan hukum yang tekstual, transaksional dan justru menjauh dari rasa
keadilan.
Terhadap keadaan yang positivistik tersebut, timbul sebuah permasalahan
dalam penegakan hukum khususnya dalam hakim memberikan vonis. Terhadap kasus
nenek Minah ternyata hakim lebih bersifat kontekstual yang berdasarkan mutlak dari
peraturan, dimana hal ini menunjukkan sebuah kepastian hukum yang sangat jelas
seperti yang terdapat dalam sistem hukum civil law, dimana dalam sitem hukum
tersebut lebih mengedepankan aspek kepastian hukum.

60
Soetandyo Wignyosobroto, dalam makalahnya Positivisme; Paradigma Ke Arah lahirnya Teori Sosial dan
Teori Hukum Modern Berikut Kritik-Kritiknya, hlm. 9.

27
Dari beberapa gambaran contoh kasus diatas, maka dapat dipahami bahwa
penerapan norma hukum di lembaga peradilan Indonesia memiliki kompleksitas yang
rumit. Sistem hukum Indonesia adalah perpaduan beberapa sistem hukum lain yang
dalam penerpannya melahirkan ketidakpastian dan ketidakkonsistenan. Tentu mamang
tujuan hukum bukan hanya kepastian, namun juga harus mengisyaratkan kemanfaatan
dan keadilan. Akan tetapi penerobosan hukum dengan melanggar azas-azas hukum
yang dianut disatu kasus dan menerapkan azas-azas hukum yang mutlak dikasus lain
mencerminkan bahwa sistem hukum di Indonesia sangat subjektif dan cenderung
memihak. Jika memang penerobosan hukum bisa dilakukan dalam kasus terorisme dan
praperadilan Budi Gunawan atas dasar teori hukum alam yaitu keadilan, lalu mengapa
dalam kasus Nenek Minah hukum seakan menjadi kaku dan tidak dapat diterobos
sehingga hukum ditempatkan pada posisi untuk kepastian. Maka oleh karena itu
kerumitan dan kompleksitas penerapan norma hukum di lembaga peradilan dalam
sistem hukum Indonesia menjadi suatu keniscayaan. Hal tersebut tentunya dapat
menjadi bahan renungan kita bersama sebagai calon-calon ahli hukum kedapan di
Negeri ini. Terimakasih.

28
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
1. Lembaga Peradilan adalah wujud konkret dari sistem hukum, karena di dalam
lembaga peradilan komponen-komponen dari sistem hukum baik struktur, substansi
dan kultur tidak akan mungkin terpisah atau dengan kata lain adalah satu kesatuan.
Jika terdapat pelanggaran norma atau peraturan yang kita namakan substansi
hukum, sebagai akibat dari dampak hukum karena kultur/kesadaran masyarakat
yang rendah atas hukum, maka struktur hukum akan menerapkan sanksi atas
pelanggaran norma tersebut dalam proses peradilan yang menghasilkan suatu
putusan pengadilan.
2. Sebagian pakar hukum mengatakan bahwa hukum adalah pengadilan, hal tersebut
dapat dibenarkan oleh penulis makalah ini, mengingat hukum adalah perintah
penguasa yang berwenang maka hukum identik dengan kepentingan penguasa.
Oleh karena itu gesekan kepentingan antara penguasa dan masyarakat tidak akan
mungkin dapat dihindarkan. Hal terebut sejalan dengan kesadaran masyarakat
(kultur hukum) atas nilai-nilai dan harapan yang tumbuh dan berkembang didalam
masyarakat. Karena hukum akan bekerja apabila ada input yang diproses dalam
pengadilan yang menghasilkan output, maka tidak akan ada hukum jika tidak ada
pengadilan atau sebaliknya.
3. Namun, lembaga peradilan dalam menerapkan sanksi atas pelanggaran
norma/peraturan melalui putusan pengadilan tidak terlepas dari berbagai macam
faktor. Dalam konteks sistem hukum di Indonesia, secara mendasar hal tersebut
dipengaruhi oleh faktor sejarah hukum dan faktor politik hukum, yang pada
kenyataannya telah memadukan beberapa sistem hukum (mixed legal system).
Sehingga ketika dihadapkan pada peristiwa hukum yang konkret, maka
subjektivitas hakim dan pengaruh para pengacara dalam membangun argumentasi
hukum untuk menyakinkan hakim menjadi sangat menentukan.
B. SARAN
1. Para calon ilmuwan hukum dalam komponen legal structure harus mewujudkan
dirinya sebagai pedoman atau panutan masyarakat. Karena apabila itu tidak
dilakukan maka orientasi hukum dalam sistem hukum Indonesia semakin
kehilangan arah.

29
DAFTAR PUSTAKA

Bassiouni, Cherif, Crimes Against Humanity in International Criminal Law, 2nd revised
edition, Kluwer Law International, 1999.
Bhakti, Yudha, dkk, Laporan Akhir Tim Kompilasi Bidang Hukum Tentang “Asas
Retroaktif”, Pusat Perencanaan Pembangunan Hukum Nasional Badan Pembinaan
Hukum Nasional Departemen Hukum dan HAM RI, Tahun 2006.
Daliyo, J.B., Pengantar Hukum Indonesia, Jakarta: PT. Prenhallindo, 2001.
Dressler, Joshua, Understanding Criminal Procedur, 2nd edition, by Matthew Bender &
Company Incorporated, USA, 1996.

Friedman, Lawrence M, Sistem Hukum ; Perspektif Ilmu Sosial (The Legal System ; A
Social Science Perspective), Bandung: Nusa Media, 2009.

Fuady, Munir, Teori-Teori Besar (grand theory) Dalam Hukum, Jakarta: Kencana
Prenadamedia Group, 2013.
Gilissen, Jhon, Sejarah Hukum Suatu Pengantar, Bandung: Refika Aditama, 2005.
Hartono, CFG.Sunaryati, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, Bandung:
Alumni, 1991.
Kansil, C.S.T, Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,
1977.
Kelsen, Hans, Teori Umum Tentang Hukum dan Negara, Bandung: Nusa Media, 2008.
Mahfud MD, Moh, Politik Hukum di Indonesia, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2009.
Mahkamah Agung RI, Bina Yustisia, Jakarta, 1994.
Rahardjo, Satjipto, Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000.
Mertokusumo, Sudikno, Mengenal Hukum, Liberty: Yogyakarta, 1986.
Wignyosobroto, Soetandyo, dalam makalahnya Positivisme; Paradigma Ke Arah lahirnya
Teori Sosial dan Teori Hukum Modern Berikut Kritik-Kritiknya.

Internet:
JimlyAsshiddiqie,http://jimlyschool.com/read/analisis/276/sejarah-constitutional-review-
gagasan-pembentukan-mk/

30