Anda di halaman 1dari 14

5 KEKUATAN ANALISIS STRATEGI KOMPETITIF

MENURUT MICHAEL PORTER

“PRODUK INDOMIE”

DISUSUN OLEH KELOMPOK 03:


ADJI SUKMANA (16.52.0882)
MIHUANDAYANI (16.52.0886)
FUAD HASAN (16.52.0864)
YAYAK KARTIKA SARI (16.52.0881)
AHMAD SARID EZRA FATHIN (16.52.0890)

PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Selain kebutuhan sandang dan papan, hal yang tidak kalah penting yang
dibutuhkan manusia adalah pangan. Kebutuhan akan pangan tak pernah ada habisnya
mengakibatkan penyedia bahan makanan harus mampu memenuhi kebutuhan.
Dewasa ini, makanan pokok tak hanya beras atau pun bahan yang lainnya. Salah satu
alternatif yang sangat digemari demi memenuhi kebutuhan makanan pokok adalah
tersedianya banyak makanan instan yang dengaan mudah didapatkan. Salah satunya
yang diterima dengan baik adalah mi instan.

Banyak produsen makanan di Indonesia berlomba-lomba membuat produk mi


instan. Salah satunya yang paling dikenali adalah mi instan buatan Indofood yaitu
Indomie. Sejak dulu hingga sekarang, Indomie masih menjadi primadona di pasaran
walau banyak sekali produsen yang muncul dan menyaingi. Dari strategi itulah,
penulis menganalisis tentang Indomie sesuai dengan Five Forces Porter.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

B. Pengertian Analisis Porter

Analisis ini dikemukan oleh Michael E. Porter. Five Forces Model Porter dari
Sekolah Bisnis Universitas Harvard pada tahun 1979, adalah strategi bisnis yang
digunakan untuk melakukan analisis dari sebuah struktur industri. Seperti namanya,
Porter’s Five Forces Analysis ini mengunakan 5 Kekuatan Industri untuk menentukan
intensitas persaingan dalam suatu industri. Berikut ini adalah kelima Kekuatan
menurut Michael Porter atau lebih dikenal dengan Porter’s Five Forces Analysis [1].

Gambar 2.1 Five Forces Analysis

1. Threat of new entrants (Hambatan bagi Pendatang Baru)

Kekuatan ini menentukan seberapa mudah (atau sulit) untuk masuk ke industri
tertentu. Jika Industri tersebut bisa mendapatkan profit yang tinggi dengan sedikit
hambatan maka pesaing akan segera bermunculan. Semakin banyak perusahaan
saingan (kompetitor) yang bersaing pada market yang sama maka profit atau laba
akan semakin menurun. Sebaliknya, semakin tinggi hambatan masuk bagi pendatang
baru maka posisi perusahaan kita yang bergerak di industri tersebut akan semakin
diuntungkan. Beberapa hambatan bagi para pendatang baru diantaranya adalah
seperti :
a. Memerlukan dana atau modal yang tinggi
b. Teknologi yang tinggi
c. Hak Paten, Merek dagang
d. Skala Ekonomi
e. Loyalitas Pelanggan
f. Peraturan Pemerintah
2. Bargaining power of suppliers (Daya Tawar Pemasok)

Daya tawar pemasok yang kuat memungkinkan pemasok untuk menjual bahan
baku pada harga yang tinggi ataupun menjual bahan baku yang berkualitas rendah
kepada pembelinya. Dengan demikian, keuntungan perusahaan akan menjadi rendah
karena memerlukan biaya yang tinggi untuk membeli bahan baku yang berkualitas
tinggi. Sebaliknya, semakin rendah daya tawar pemasok, semakin tinggi pula
keuntungan perusahaan kita. Daya tawar pemasok menjadi tinggi apabila hanya
sedikit pemasok yang menyediakan bahan baku yang diinginkan sedangkan banyak
pembeli yang ingin membelinya, hanya terdapat sedikit bahan baku pengganti
ataupun pemasok memonopoli bahan baku yang ada.

3. Bargaining power of buyers (Daya Tawar Pembeli)

Kekuatan ini menilai daya tawar atau kekuatan penawaran dari


pembeli/konsumen, semakin tinggi daya tawar pembeli dalam menuntut harga yang
lebih rendah ataupun kualitas produk yang lebih tinggi, semakin rendah profit atau
laba yang akan didapatkan oleh perusahaan produsen. Harga produk yang lebih
rendah berarti pendapatan bagi perusahaan juga semakin rendah. Di satu sisi,
Perusahaan memerlukan biaya yang tinggi dalam menghasilkan produk yang
berkualitas tinggi. Sebaliknya, semakin rendah daya tawar pembeli maka semakin
menguntungkan bagi perusahaan kita. Daya tawar pembeli tinggi apabila jumlah
produk pengganti yang banyak, banyak stok yang tersedia namun hanya sedikit
pembelinya.

4. Threat of substitutes (Hambatan bagi Produk Pengganti)

Hambatan atau ancaman ini terjadi apabila pembeli/konsumen mendapatkan


produk pengganti yang lebih murah atau produk pengganti yang memiliki kualitas
lebih baik dengan biaya pengalihan yang rendah. Semakin sedikit produk pengganti
yang tersedia di pasaran akan semakin menguntungkan perusahaan kita.

5. Rivalry among existing competitors (Tingkat Persaingan dengan


Kompetitor)

Kekuatan ini adalah penentu utama, perusahaan harus bersaing secara agresif
untuk mendapatkan pangsa pasar yang besar. Perusahaan kita akan semakin
diuntungkan apabila posisi perusahaan kita kuat dan tingkat persaingan pada pasar
(Market) yang sama tersebut yang rendah. Persaingan semakin ketat akan terjadi
apabila banyak pesaing yang merebut pangsa pasar yang sama, loyalitas pelanggan
yang rendah, produk dapat dengan cepat digantikan dan banyak kompetitor yang
memiliki kemampuan yang sama dalam menghadapi persaingan.
BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Sejarah Mie Instan

Mi instan adalah mi yang sudah dimasak terlebih dahulu dan dicampur dengan
minyak, dan bisa dipersiapkan untuk konsumsi hanya dengan menambahkan air panas
dan bumbu - bumbu yang sudah ada dalam paketnya.

Mi instan diciptakan oleh Momofuku Ando pada 1958, yang kemudian


mendirikan perusahaan Nissin dan memproduksi produk mi instan pertama di dunia
Chicken Ramen (ramen adalah sejenis mi Jepang) rasa ayam. Peristiwa penting
lainnya terjadi pada 1971 ketika Nissin memperkenalkan mi dalam gelas bermerek
Cup Noodle. Kemasan mi adalah wadah styrofoam tahan air yang bisa digunakan
untuk memasak mi tersebut. Inovasi berikutnya termasuk menambahkan sayuran
kering ke gelas, melengkapi hidangan mi tersebut. Menurut sebuah survei Jepang
pada tahun 2000, mi instan adalah ciptaan terbaik Jepang abad ke-20, (Karaoke di
urutan kedua dan CD hanya di urutan ketiga). Hingga 2002, setidaknya ada 55 juta
porsi mi instan dikonsumsi setiap tahunnya di seluruh dunia.

B. Sejarah Indomie

Ketika mi instan pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia di


tahun 1969, banyak yang meragukan bahwa mi instan dapat dijadikan sebagai salah
satu bahan pangan pokok. Akan tetapi, karena mi instan sendiri harganya relatif
terjangkau, mudah disajikan dan awet, Indomie berkembang pesat seiring dengan
diterimanya mi instan di Indonesia.

Indomie pertama kali dibuat oleh PT. Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd.
pada tahun 1972 dengan rasa sari ayam (sekarang rasa kaldu ayam) dan rasa sari
udang (sekarang rasa kaldu udang). Pada tahun 1982 Indomie varian rasa kari ayam
dan mi goreng diluncurkan. Pada tahun 1984 perusahaan tersebut dibeli oleh PT.
Sarimi Asli Jaya, yang memproduksi Sarimi.
Pada tahun 1990 PT. Panganjaya Intikusuma didirikan, yang kemudian menjadi
PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. pada tahun 1994, mengambil alih kedua
perusahaan tersebut (PT. Sarimi Asli Jaya dan PT. Sanmaru). Pada tahun 1991, Pop
Mie, mi instan dalam bentuk cup dari Indomie, diluncurkan untuk pertama kalinya
dengan rasa ayam dan rasa baso. Pada tahun 2005 setelah pergantian kemasan,
Indomie berhasil memecahkan rekor Guinness World Records sebagai bungkus mi
instan terbesar di dunia.

Pada tahun 2006 Indomie Goreng Kriuuk diluncurkan, dengan tiga pilihan
kriuuk, yaitu kriuuk ayam, bawang dan pedas. Pada tahun 2009 gambar foto ilustrasi
saran penyajian Indomie direvisi di Indomie Goreng Spesial, Rasa Ayam Bawang,
Rasa Ayam Spesial, Rasa Kaldu Ayam dan Rasa Soto Mie. Pada tanggal 3 Januari
2010 Indofood CBP memperkenalkan Indomie kemasan baru untuk semua varian rasa
goreng, kuah, Selera Nusantara dan JUMBO dengan tagline seleraku dalam pesona
baru.

Pada bulan Agustus 2010 Indomie Keriting hadir dengan tiga rasa baru yaitu
Goreng Rasa Ayam Cabe Rawit, Goreng Rasa Kornet dan Rasa Laksa Spesial serta
pergantian kemasan untuk varian Goreng Spesial dan Rasa Ayam Panggang. Pada
akhir 2011 Indomie Goreng Rendang diluncurkan, dengan daging sapi asli dipadu
dengan bumbu rendang asli, dengan tagline ini baru rendang.

Pada bulan Agustus 2012 Indomie menyelenggarakan program ulang tahun


yang ke-40 tahun, yang perayaannya diselenggarakan di Mal Taman Anggrek, Jakarta.
Pada bulan Desember 2012 diluncurkan varian baru Indomie Goreng Cabe Ijo,
dengan serpihan cabe hijau asli dan minyak bumbu cabe hijau yang diberi pewarna
hijau klorofil agar mi berwarna hijau. Slogan iklan Indomie Goreng Cabe Ijo yaitu ijo,
mantap, hot yang kemudian pada bulan April 2013 dengan slogan "Asli Cabe Ijo".
Pada bulan November 2013 diluncurkan varian baru Indomie Taste of Asia, yaitu rasa
Tom Yum, Bulgogi dan Laksa.

Pada bulan Januari 2014 diluncurkan varian baru Indomie Goreng Iga Penyet,
dengan bumbu iga penyet dengan slogan "Dahsyat Iga Penyetnya!" yang kemudian
pada bulan Maret 2014 dengan slogan "Dahsyat Rasanya!". Pada bulan September
2014 diluncurkan varian baru Indomie Kuliner Indonesia, yaitu Mi Goreng Rasa
Dendeng Balado dan Rasa Soto Lamongan.
Pada bulan September 2015 diluncurkan varian baru Indomie My Noodlez, mi
instan goreng pertama untuk anak-anak yang dibuat dengan rumput laut dan wortel
dengan taburan topping crunchy, yaitu rasa Pizza Cheese, Rumput Laut dan Salmon
Teriyaki. Sebelumnya varian Indomie My Noodlez sudah ada atau pernah diproduksi
di era 2000-an. Pada bulan Februari 2016 diluncurkan varian baru Mie Goreng Rasa
Kuah, yaitu Mi Goreng Rasa Soto dan Mi Goreng Rasa Ayam Bawang, serta
diluncurkan varian baru Indomie Real Meat, yaitu Mi Goreng Ayam Jamur. Pada
bulan Mei 2016 diluncurkan varian baru Indomie Real Meat, yaitu Mi Goreng
Rendang, serta diluncurkan Bite Mie, makanan ringan mi berbentuk bulat, yaitu rasa
BBQ Pizza, Udang Tempura dan Rumput Laut.

Pada bulan Desember 2016, diluncurkan varian baru Indomie Kuliner Indonesia,
yaitu Rasa Tengkleng (hanya bisa didapatkan di daerah Jawa Tengah saja) dan Mi
Goreng Rasa Tahu Tek (hanya bisa didapatkan di daerah Jawa Timur saja). Pada
bulan Februari 2017 diluncurkan varian baru Indomie Goreng Sambal Matah dan
Indomie Goreng Sambal Rica-Rica, serta diluncurkan varian baru Indomie Real Meat,
yaitu Mi Goreng Empal Goreng dan Mi Goreng Telur Balado.

C. Sejarah Supermi

Supermi adalah merek mi instan terpopuler ketiga di Indonesia, diproduksi oleh


PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Diluncurkan pada tahun 1968 oleh Sudono
Salim sebagai mi instan serbaguna, lalu pada tahun 1976 Supermi hadir dengan Rasa
Kaldu Ayam. Supermi merupakan mi instan yang diluncurkan sebelum Indomie untuk
mi instan serbaguna dan sesudah Indomie untuk mi instan dengan bumbu. Di
Indonesia, sebutan "Supermi" juga umum dijadikan istilah generik yang merujuk
kepada mi instan.

Pada tahun 1998 karena krisis moneter, PT. Supermi Indonesia diambil alih
oleh PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. (Indofood sendiri didirikan pada tahun 1990
dengan nama PT. Panganjaya Intikusuma, yang kemudian berganti nama menjadi PT.
Indofood Sukses Makmur Tbk. pada tahun 1994). Pada tahun 2007-2008, varian rasa
Supermi berkembang dengan bertambahnya varian rasa baru, seperti Super Rasa
Ayam Bawang, GoBang, GoKar dan GoSo.
Pada tahun 2009, Supermi meluncurkan kemasan baru yang lebih segar dari
sebelumnya. Pada tahun 2010 Supermi terpilih sebagai sponsor resmi ajang pencarian
bakat Indonesia Mencari Bakat yang ditayangkan di Trans TV.

Pada tahun 2010-2011, Supermi dipilih sebagai sponsor dalam ajang Indonesia
Mencari Bakat di Trans TV. Pada tahun 2013, Supermi meluncurkan rasa baru yaitu
Supermi Rasa Ayam Spesial dengan kaldu ayamnya lebih mantap lengkap dengan
bawang goreng dan saus cabe. Setelah Supermi Go dihentikan, diluncurkan varian
baru Indomie Mi Goreng Rasa Soto dan Mi Goreng Rasa Ayam Bawang.

Berikut ini merupakan grafik persaingan produksi mie instant di Indonesia:

Gambar 3.2 Grafik Persaingan Mie Instant

D. Analisis Porter
1. Ancaman Pendatang Baru (Threat of New Entrants)
Ancaman Pendatang baru indomie adalah mie sedaap yang diproduksi
oleh PT. Wings Food. Melihat momentum Indomie yang “sudah mapan” dan
malam berinovasi, Wings Food meluncurkan Mie Sedaap yang siap menggilas
kejayaan Indomie. Mie Sedaap dipilih masyarakat Indonesia karena Wings
Food pandai membuat masyarakat penasaran dengan memilih nama MIE
SEDAAP, membuat konsumen ingin memcoba apakah rasa mie tersebut
benar-benar Sedap.
Kedua, Indomie yang lengah berinovasi meluncurkan varian rasa baru
membuat masyarakat jenuh dengan pilihan rasa yang sedikit. Kemunculan Mie
Sedaap membuat masyarakat menemukan sesuatu yang baru dan berbeda dari
Indomie.
Ketiga, Mie Sedaap juga gencar beriklan di media. Saat itu, Mie Sedaap
yang sedang memasuki tahap perkenalan (introduction) menggunakan strategi
peluncuran cepat rapid skimming strategy). Wings Food meluncurkan produk
baru dengan harga yang hampir menyamapi harga Indomie, dengan tingkat
promosi yang tinggi.
Iklan pun dibuat sedemikian menarik, diluncurkan di berbagai media,
seperti media cetak dan elektronik. Pilihan rasa yang diberikan pun lebih
banyak, dengan kelebihan di pemberian “kriuk”, sesuai dengan lidah orang
Indonesia yang gemar dengan makanan pelengkap dengan tekstur agak keras
seperti kerupuk

2. Kekuatan Tawar Menawar Pemasok (Bargaining Power of Supplier)

Kekuatan tawar menawar pemasok indomie dibagi menjadi 2, yaitu salah satu
kunci sukses indomie terletak pada indofood yang juga mempunyai posisi kuat
pada merk tepung terigunya, yaitu Bogasari. Tepung terigu ini merupakan bahan
pokok dari proses pembuatan indomie. Dengan menguasai salah satu bahan pokok
indofood bisa lebih mudah menekan harga indomie, sekaligus meningkatkan
kualitas mie-nya. Inilah yang membuat para pesaing semakin sulit untuk
mengimbangi indomie.

Yang Kedua, Pangsa pasar indomie mampu menembus diberbagai penjuru


dunia (80 negara). Indomie dalam melakukan ekspansi, selain meekspor indomie
ke luar negeri indomie juga membangun pabrik diluar negeri, selain dinegara
tetangga seperti Malaysia Indomie juga membuka pabrik di benua afrika yaitu
afrika selatan, mesir, nigeria, dan kenya.

3. Ancaman Produk Pengganti (Threat Of Substitute Products)

Banyaknya produk pesaing Indomie yaitu Salamie, Mie ABC, Gaga Mie,
Alhamie, Santremie, Sarimi, Supermie dan Mie Sedaap. Pesaing Indomie
melakukan berbagai strategi untuk bisa menjadi mie yang terlaris, inilah yang
menjadi ancaman untuk menggantikan produk indomie. Namun, pada tahun 2008
indomie meluncurkan strategi yang lebih konferehensif dalam pemasaranya yaitu
dengan kampanye “Selera Nusantara” yang lebih modern. Indomie juga
menerapkan strategi 3A yaitu Acceptability, Availability, dan Affordability.
Strategi inilah yang menjadi kunci keberhasilan Indomie untuk bia menjadi urutan
teraatas Top Brand. Dengan nama besar dan prestasi-prestasi yang telah diraihnya,
indomie tidak mudah diganti dengan produk sejenis.

4. Kekuatan Tawar Menawar (Bargaining Power of Buyers)

Kekuatan tawar menawar pembeli sangat rendah sebab harga yang ditawarkan
perusahaan cukup terjangkau bagi konsumen. Perusahaan indofood mempunyai
sistem pemilihan bahan baku yang berkualitas dari produk hasil dari Indofood
dengan mengutamakan kualitas produk premium dengan harga yang terjangkau.
Indomie memberikan kepuasan pelanggan dengan cara membangun jaringan
produksi dibanyak tempat seperti membuat kerjasama dengan warung makan
seperti Burjo di wilayah tertentu untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

5. Persaingan Kompetitif Diantara Anggota Industri

Munculnya banyak produk sejenis dari berbagai perusahaan produksi mie


instant membuat persaingan industri mie semakin ketat. Hal ini disebabkan oleh
banyaknya varian yang harus menyesuaikan selera masyarakat atau pangsa pasar.
Untuk produk Indomie yang dipilih oleh pembeli berdasarkan selera yang sudah
melekat, sedangkan untuk harga tidak terlalu berbeda jauh sehingga bukan
merupakan faktor penentu. Contoh produksi mie Instant yang menjadi pesaing
Indomie diantaranya Sarimi, Supermie, Pop Mie, Salam mie, Mie ABC, Gaga Mie,
Alhamie, Santremie, Mie Sedap. Berikut merupakan grafik persentase persaingan
kompetitif produksi mie Instant di Indonesia.
E. Strategi Indomie

Keberhasilan Indomie terus bercokol di urutan teratas Top Brand adalah berkat
konsistensi Indomie dalam menjalankan strategi kunci 3A:

1. Acceptability, yaitu rasa Indomie yang sudah bisa diterima di lidah konsumen
(Product)

2. Avalaibility, produk Indomie mudah diperoleh dimana saja (Place)

3. Affordability, tercermin dari harga eceran Indomie yag terjangkau (Price)


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis strategi kompetitif 5 Porter dapat disimpulkan bahwa


Indomie menjadi produk mie yang paling tinggi dari segi produksi mie instant,
peminat dari rasa yang ditawarkaan menyesuaikan selera masyarakat dan pada
periode tertentu Indomie selalu memasarkan varian rasa yang baru dan berbeda.
Namun hal ini tidak menutup kemungkinan akan tergeser dari posisi teratas sebagai
produksi mie instant terbaik karena banyaknya pesaing produksi mie instant seperti
mie sedap dari perusahaan Wings yang mengunggulkan strategi pemasaran melalui
promosi besar-besaran. Oleh karena itu, Indomie tetap berupaya untuk
mengembangkaan potensi bisnisnya dengan strategi 3A yaitu Acceptability,
Affordability dan Availability.
DAFTAR PUSTAKA

[1] Source:The Five Competitive Forces that Shape Strategy (Michael E. Porter), Harvard
Business Review 2008