Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KOASISTENSI

PENYAKIT DALAM HEWAN BESAR

KASUS KONJUNGTIVITIS, ORF DAN MYASIS

OLEH

GABRYELLA F. AMALO, S. KH

1209011021

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2017
LEMBARAN PENGESAHAN

LAPORAN KOASISTENSI PENYAKIT DALAM HEWAN BESAR

“KASUS KONJUNGTIVITIS, ORF DAN MYASIS”

OLEH

GABRYELLA F. AMALO, S.KH

1209011021

Mengetahui

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

drh. Yohanes T. M. R. S. Simarmata, M. Sc Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M. Sc


NIP. 19800731 200801 008 NIP. 19650308 199003 013
Kasus 1

Konjungtivitis pada Babi

A. Hasil

 Data hewan

- Tanggal pemeriksaan : 04 Januari 2017

- Nama pemilik hewan : Nikolaus Nona Buka

- Alamat pemilik hewan :Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah

- Macam hewan : Babi

- Ras hewan : Peranakan Durog

- Umur : 4 bulan

- Jenis kelamin : Betina

 Anamnesa

Babi mengalami kemerahan pada mata dan sudah terjadi selama 1

bulan serta bengkak pada konjungtiva kedua mata sudah berlangsung

selama 1 minggu berikutnya.


Gambar 1. Kemerahan dan bengkak pada konjungtiva mata kiri babi

 Stasus Praesens

Keadaan umum : Nafsu makan baik

Frekuensi napas : 15 kali/menit

Frekuensi pulsus : 100 kali/menit

Suhu : 38,7 ºC

Kulit dan rambut : Normal

Selaput lendir : Bengkak dan kemerahan pada bagian

konjungtiva kedua mata

Kelenjar limfe : Normal


Alat pernapasan : Normal

Alat peredaran darah : Normal

Alat pencernaan : Normal

Alat perkencingan : Normal

Syaraf : Normal

Anggota-anggota gerak : Normal

Lain-lain : Epifora

Pemeriksaan laboratorium :-

 Diagnosa

Konjungtivitis

 Diagnosa banding

Pink eye

 Prognosa

Fausta

 Terapi

R/ Terramycin 1% tube No. I

s. ext. o. d. s. m. et. V
R/ Inj. Vitol-E 3ml

s. i. m. m

B. Pembahasan

Diagnosa yang dilakukan berdasarkan gejala klinis yang terlihat. Pada

kasus yang terjadi, gejala klinis yang terlihat pada babi adalah kemerahan dan

kebengkakan pada konjungtiva kdedua mata serta epifora. Dengan gejala klinis

tersebut, diagnosa untuk kasus yang terjadi adalah konjungtivitis.

Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva. Konjungtivitis

akut memiliki gejala klinis seperti kongesti pada pembuluh darah, edema

(chemosis), dan keluarnya air mata (epiphora) dan bisa sampai terjadi

discharge serous, mukoid, atau mukopurulenta. Konjungtivitis dapat

disebabkan oleh bakteri, virus maupun alergi. Viral konjungtivitis dapat terlihat

pada penyakit distemper pada anjing, FIV pada kucing serta IBR pada sapi.

Bakterial konjungtivitis merupakan penyakit umum pada berbagai hewan.

Walaupun berbagai jenis bakteri telah terisolasi dari konjungtiva hewan,

kebanyakan merupakan bakteri yang tidak patogen atau termasuk bakteri yang

dapat menyebabkan radang ringan (Kardena, 2017). Bakteri yang biasanya

ditemukan pada konjungtiva adalah alpha Streptococcus sp., Staphylococcus

epidermidis, Staphylococcus sp. dan Chlamydia sp. Keempat bakteri ini

merupakan flora normal pada konjungtiva babi (Davidson dkk, 1994).

Berdasarkan hal tersebut, karena tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium,

kasus yang terjadi merupakan bakterial konjungtivitis.


Diagnosa banding untuk konjungtivitis adalah pink eye. Pink eye dapat

disebabkan bakteri, virus dan riketsia. Gejala klinis yang terlihat adalah

kemerahan dan radang pada konjungtiva, kekeruhan pada kornea serta

fotofobia (Manual Penyakit Hewan Mamalia, 2014).

Prognosa untuk kasus ini adalah fausta. Hal ini dikarenakan bakterial

konjungtivitis merupakan infeksi ringan.

Terapi yang digunakan untuk konjungtivitis adalah sebagai berikut.

 Antibiotik Oxytetracycline 1% (Terramycin 1%)

Oxytetracycline digunakan sebagai antibiotik lokal dan merupakan

antibiotik topikal.

 Vitamin A (Vitol-E 3 ml)

Vitamin A digunakan sebagai terapi suportif khusus kesehatan mata.

Gambar 2. Keadaan pasien pasca 14 hari pengobatan


Kasus 2

Orf pada Kambing

A. Hasil

 Data hewan

- Tanggal pemeriksaan : 17 Januari 2017

- Nama pemilik hewan : Laboratorium Lahan Kering, Undana

- Alamat pemilik hewan : Penfui

- Macam hewan : Kambing

- Ras hewan : Peranakan Ettawa

- Umur : 1 tahun

- Jenis kelamin : Betina

 Anamnesa

Kambing mengalami turunnya nafsu makan. Kambing baru

didatangkan 1 bulan yang lalu. Ada beberapa kambing yang mengalami

penyakit ini.
Gambar 3. Lepuhan di sekitar mulut kambing

 Stasus Praesens

Keadaan umum : Nafsu makan menurun

Frekuensi napas : 24 kali/menit

Frekuensi pulsus : 90 kali/menit

Suhu : 39,3 ºC

Kulit dan rambut : Lepuhan di sekitar mulut

Selaput lendir : Normal

Kelenjar limfe : Normal

Alat pernapasan : Normal

Alat peredaran darah : Normal

Alat pencernaan : Normal


Alat perkencingan : Normal

Syaraf : Normal

Anggota-anggota gerak : Normal

Lain-lain :-

Pemeriksaan laboratorium :-

 Diagnosa

Orf

 Diagnosa banding

Cacar

 Prognosa

Dubius

 Terapi

R/ Larutan Iodine 3%

s. b. d. d

R/ Inj. Pen-Strep LA 2 ml

s. i. m. m

R/ Inj. Injectamin 1 ml

s. i. m. m
R/ Neurovit E tab No. X

s. s. d. d. p. r. n. d. t. d No. I

B. Pembahasan

Diagnosa yang dilakukan berdasarkan anamnesa dan gejala klinis yang

terlihat. Kambing ini merupakan kambing berumur muda dan baru didatangkan

1 bulan yang lalu. Pada kasus yang terjadi, gejala klinis yang terlihat pada

kambing adalah lepuhan di sekitar mulut. Dengan gejala klinis tersebut,

diagnosa untuk kasus yang terjadi adalah orf.

Orf atau Contagious ecthyma adalah suatu penyakit hewan menular pada

kambing dan domba yang ditandai dengan terbentuknya papula, vesikula dan

keropeng pada kulit di daerah bibir/di sekitar bibir. Penyakit ini pada umumnya

menyerang hewan muda umur 3-5 bulan, terkadang hewan dewasa dapat juga

ditulari, disamping itu dapat menulari pada manusia. Penyakit ini mempunyai

arti ekonomik yang cukup penting karena dapat mengakibatkan penurunan

berat badan dan kematian (Manual Penyakit Hewan Mamalia, 2014). Orf

bersifat zoonosis (Browning, 2008)

Orf disebabkan oleh virus Parapox. Orf hanya menyerang kambing dan

domba. Penyakit ini menimbulkan kekebalan berjangka panjang, oleh

karenanya pada wilayah enzootik penyakit ini ditemukan pada hewan-hewan

muda, sedang di daerah yang baru pertama kali diserang, penyakit ini

ditemukan pada hewan dari segala umur. Angka kesakitan penyakit ini dapat

mencapai 90% pada hewan muda tetapi angka kematian relatif rendah. Sifat
penyakit ini umumnya endemik dan penyakit banyak muncul pada kelompok

kambing yang baru datang pada suatu wilayah. Cara penularan terjadi melalui

kontak (luka kulit pada saat menyusui, kelamin dan bahan yang mengandung

virus). Masa inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih 2 hari (Manual

Penyakit Hewan Mamalia, 2014).

Pada hewan yang menderita penyakit ini gejala berupa peradangan pada

kulit sekitar mulut, kelopak mata, alat genital, ambing pada hewan yang sedang

menyusui dan medial kaki atau pada tempat yang jarang ditumbuhi bulu.

Selanjutnya peradangan berubah menjadi eritema, lepuh pipih yang

mengeluarkan cairan, membentuk kerak yang mengelupas setelah 1-2 minggu.

Pada selaput lendir yang terserang tidak terjadi pengerakan. Apabila lesi

tersebut hebat maka pada bibir yang terserang terdapat kelainan yang

menyerupai bunga kol. Apabila tidak terjadi infeksi sekunder maka lesi ini

biasanya akan sembuh setelah penyakit berlangsung 4 minggu dan sebaliknya

bila muncul infeksi sekunder akan meningkatkan derajat keparahan penyakit

(Manual Penyakit Hewan Mamalia, 2014).

Diagnosa banding untuk orf adalah cacar pada kambing. Penyakit cacar

mempunyai lesi pada kulit bagian luar dan dapat meluas ke seluruh tubuh

termasuk organ bagian dalam (Manual Penyakit Hewan Mamalia, 2014).

Prognosa untuk kasus ini adalah dubius. Hal ini dikarenakan orf

disebabkan oleh virus dan terapi antiviralnya belum ditemukan. Pengobatan

yang dilakukan hanya sebagai suportif dan mencegah infeksi sekunder. Selain
itu, karena penyakit ini menyerang mulut, maka kambing akan kesulitan saat

makan. Jika peternak tidak memperhatikan kambing secara intensif, maka

kambing akan mengalami kahexia, berlanjut menjadi anorexia dan akhirnya

mati.

Terapi yang digunakan untuk orf adalah sebagai berikut.

 Larutan Iodine 3%

Larutan Iodine digunakan sebagai antiseptik pada lepuhan.

 Antibiotik Kombinasi Procain Penicilin G dan Dihydrostreptomycin sulfat

(Pen-Strep LA 2 ml)

Antibiotik kombinasi ini merupakan antibiotik spektrum luas dan long

acting serta digunakan untuk mencegah infeksi sekunder.

 Vitamin B12 dan E (Injectamin 1 ml dan Neurovit E tab)

Vitamin B12 dan E digunakan sebagai terapi suportif. Vitamin B12

digunakan untuk menambah nafsu makan, sedangkan vitamin E digunakan

sebagai antioksidan dan kesehatan kulit.


Gambar 4. Keadaan pasien pasca 8 hari pengobatan
Kasus 3

Myasis pada Babi

A. Hasil

 Data hewan

- Tanggal pemeriksaan : 20 Januari 2017

- Nama pemilik hewan : Fakultas Kedokteran Hewan, Undana

- Alamat pemilik hewan : Penfui

- Macam hewan : Babi

- Ras hewan : Landrace

- Umur : 1 tahun

- Jenis kelamin : Jantan

 Anamnesa

Luka pada telinga babi bagian kiri dan terdapat larva lalat. Luka ini

sudah terjadi sekitar 2 minggu yang lalu. Selain itu, terdapat lalat pada

daerah luka.
Gambar 5. Luka pada telinga kiri babi

 Stasus Praesens

Keadaan umum : Nafsu makan baik

Frekuensi napas : 18 kali/menit

Frekuensi pulsus : 100 kali/menit

Suhu : 39,8 ºC

Kulit dan rambut : Luka pada telinga babi bagian kiri,

terdapat larva lalat

Selaput lendir : Normal

Kelenjar limfe : Normal

Alat pernapasan : Normal

Alat peredaran darah : Normal


Alat pencernaan : Normal

Alat perkencingan : Normal

Syaraf : Normal

Anggota-anggota gerak : Normal

Lain-lain :-

Pemeriksaan laboratorium :-

 Diagnosa

Myasis

 Diagnosa banding

 Prognosa

Fausta

 Terapi

R/ Dicodine 5 oz

s. b. d. d. s. u. e

R/ Terramycin 1% tube No. I

s. ext. m. et. v
B. Pembahasan

Diagnosa yang dilakukan berdasarkan gejala klinis yang terlihat. Babi

memiliki luka pada telinga bagian kiri dan dalam luka tersebut terdapat larva

lalat serta lalat pada daerah luka. Dengan gejala klinis tersebut, babi ini

didiagnosa mengalami myasis.

Myiasis atau belatungan adalah infestasi larva lalat pada jaringan tubuh

hewan hidup dan manusia. Larva atau biasa disebut dengan nama belatung ini

hidup dari makanan yang berupa jaringan hidup, jaringan nekrotik, atau bahan

makanan yang sedang dicerna di dalam saluran pencernaan induk semang pada

kasus myiasis saluran pencernaan. Dari banyak jenis lalat penyebab myiasis

terdapat beberapa diantaranya sebagai penyebab myiasis obligat atau myiasis

dimana belatungnya hanya dapat hidup di dalam jaringan induk semang yang

hidup saja. Larva atau belatung dari jenis ini dikenal dengan nama screwworm,

sedangkan lalatnya dikenal dengan nama lalat screwworm atau screwworm fly.

Ada dua kelompok besar lalat screwworm di dunia yang masing-masing

menempati belahan dunia yang berbeda ialah the new world screwworm fly

atau dikenal dengan nama spesiesnya sebagai Cochliomyia hominivorax yang

terdapat di benua Amerika dan the old world screwworm fly yang dikenal

dengan nama spesiesnya sebagai Chrysomya bezziana yang terdapat di Afrika

dan Asia termasuk di Malaysia, Indonesia, Philipina dan Papua New Guinea.

(Partoutomo, 2000). Kejadian myiasis pada ternak dapat diawali karena gigitan

caplak, gigitan lalat Tabanidae, akibat infestasi Sarcoptes scabiei, cacing


Strongyloides sp., pascapartus, luka umbilikus, luka traumatika karena

perkelahian, tergores duri atau benda lainnya (Wardhana, 2006).

Prognosa untuk kasus ini adalah fausta. Hal ini dikarenakan jika

dibersihkan lukanya dari larva lalat dan mengurangi vektor lalat dalam

kandang, maka akan mempercepat proses penyembuhan.

Terapi yang digunakan untuk myasis adalah sebagai berikut.

 Dichlofenthion 1% (Dicodine 5 oz)

Dichlofenthion 1% digunakan sebagai larvasidal dan insektisida.

 Antibiotik Oxytetracycline 1% (Terramycin 1%)

Oxytetracycline digunakan sebagai antibiotik lokal dan merupakan

antibiotik topikal.

Gambar 6. Keadaan pasien pasca 3 hari pengobatan


DAFTAR PUSTAKA

Browning, M. L. 2008. Contagious Ecthyma (Orf/Sore Mouth) in Sheep and


Goats. Extension Animal Scientist, Alabama A&M University

Davidson H. J., et al. 1994. Conjuctival microbial flora of clinically normal pigs.
American Journal of Veterinary Research. 55:949-951

Kardena, I. M. 2017. Patologi Veteriner : Sistem Mata dan Telinga. http://www.ac


ademia.edu/11315891/PATOLOGI_VETERINER_SISTEM_MATA_DAN
_TELINGA (Diakses pada tanggal 30 Januari 2017)

Manual Penyakit Hewan Mamalia. 2014. Kementerian Pertanian. Direktorat


Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Direktorat Kesehatan Hewan.
Cetakan ke-2. Jakarta.

Partoutomo, S. 2000. Epidemiologi dan Pengendalian Myasis di Indonesia.


Wartazoa. 10:20-27

Wardhana, A. H. 2006. Chrysomya bezziana Penyebab Myiasis pada Hewan dan


Manusia : Permasalahan dan Penanggulangannva. Wartazoa. 16:146-159