Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kromium ditemukan oleh Louis Nicholas Vauquelin saat bereksperimen dengan
bahan yang dikenal sebagai timbal merah Siberia, juga dikenal sebagai mineral
crocoite (PbCrO4), pada 1797. Dia menghasilkan kromium oksida (CrO3) dengan
mencampurkan crocoite dengan asam klorida (HCl). Meskipun ia percaya metode
untuk mengisolasi kromium belum ada, Vauquelin terkejut pada tahun 1798
menemukan bahwa ia mampu memperoleh logam kromium dengan hanya
memanaskan kromium oksida dalam oven arang.
Mineral kromit adalah salah satu bahan galian yang sangat dibutuhkan dalam
industri-industri stainless steel, gray cast iron, iron free high temperature alloys, dan
chromium plating untuk perlindungan permukaan. Potensi kromit di Indonesia cukup
besar, hal ini dikarenakan penyebaran ofiolit di Indonesia diperkirakan lebih dari 80
ribu km2.
Oleh karena itu, kita akan memperdalam lagi mengenai kromit agar kita lebih
mengetahui bagaimana kromit itu sendiri yang sering digunakan dalam dunia
industri.

1.2 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai
mineral kromit bagi pembaca, terutama pemanfaatanya dalam dunia industri.

1
BAB II
GENESA

2.1 Keterdapatan Kromit di Indonesia


Secara geologis, Indonesia Mempunyai sumber daya mineral, termasuk bahan
galian industri (salah satunya adalah Pasir Kromit), yang sangat besar. Pembentukan
pegunungan, aktivitas magma pada gunung-gunung api sertaproses sedimentasi yang
telah berjalan dalam periode waktu yang lama selalu disertai dengan proses evolusi
geologi yang mengakibatkan terjadinya prosespembentukan bahan galian. Berbagai
indikasi adanya proses tersebut banyak dijumpai di berbagai tempat di kepulauan
Indonesia. Selain karena prosesse bagaimana di atas, pasir kromit juga dapat dijumpai
pada lokasi-lokasi yang mengalami pelapukan dari batuan yang mempunyai potensi
pasir kromit yang sering kali masih berpotensi untuk ditambang.
Keterdapatan Kromit di Indonesia :
1. Kalimantan Selatan (G. Bobaris, G. Meratus, P. Laut dan P. Sebuku)
2. Sulawesi ( Barru, Malili, Pomalaa, Kabaena, Morowali).
3. Maluku Utara (P. Gebe, P. Halmahera)
4. Papua ( Peg. Siklopdan Peg. Maropeni).
5. Sulawesi Tengah (Bungku, Wosu)

2.2 Genesa Mineral Kromit

Kromit adalah suatu mineral oksida yang terbentuk akibat proses kristalisasi
magma. Kromit merupakan mineral oksida dari besi kromium dengan komposisi
kimia (FeCr2O4) dan bijih logam kromium. Mineral ini terdapat di dalam batuan beku
ultrabasa seperti peridotit, serta terdapat pula pada serpentin dan batuan metamorf
lainnya yang terbentuk dari alterasi batuan beku ultrabasa. Mineral ini terbentuk pada
temperatur yang sangat tinggi dan pada bagian bawah dari tubuh magma, dimana
proses kristalisasi terjadi.

2
Secara deskripsi, Mineral dengan komposisi kimia FeCr2O4 ini memiliki warna
hitam dan coklat kehitaman. Goresan dari mineral ini berwarna coklat gelap dengan
kilap logam. Mineral ini tidak berupa mineral transparan melainkan mineral opak
yang tidak memiliki belahan.

Gambar 2.1 mineral kromit pada batuan peridotit

Tipe Cebakan Kromit :


1. Cebakan Primer :
a. Cebakan Stratiform,

Cebakan Stratiform kromit terbentuk akibat proses kristalisasi pada ruang magma, dimana
bentuk cebakannya berupa lapisan kromit tipis dan memiliki sifat homogen. Kromit adalah
salah satu mineral pertama yang terbenam, berkerut dan mengkristal sebelum
mengendap dalam ruang-ruang magma. Keadaan ini yang menyebabkan terjadinya
lapisan-lapisan kromit yang tipis dan homogen, serta memperlihatkan batas yang
jelas antara lapisan bijih kromit dengan lapisan batuan induk.

3
Gambar 2.2 Prose terbentuknya mineral kromit pada cebakan statiform

Pada celah-celah antara lapisan dijumpai mineral-mineral silikat dalam jumlah


yang cukup besar dan secara nyata akan mempengaruhi kadar dan ukuran butir
kromit. Lapisan statiform ini berupa lapisan lateral yang menerus dan kaya akan
kromit. Ketebalan lapisan hanya beberapa millimeter hingga beberapa meter serta
keterdapatannya saling bergantian dengan lapisan silica. Lapisan silica ini berada di
dalam batuan mafik dan ultramafic seperti dunit, pedidotit, piroksenit, dan berbagai
jenis batuan mafik dan ultramafic lain yang tidak melebihi gabro. Pada umumnya
terdapat pada lapisan intrusi basaltic seperti yang terdapat di bushveld complex,
Afrika Selatan.

Kromit ditemukan dalam peridotit di mantel bumi dan juga pada lapisan
ultrabasa batuan intrusi. Selain pada batuan beku, kromit juga ditemukan pada batuan
memtamorf seperti beberapa jenis batuan serpentinities, hal ini berkaitan dengan
mineral-mineral olivine, magnetit, dan korundum.

4
Gambar 2.3 Lapisan kromit pada cebakan stratiform

b. Cebakan podiform
Cebakan podiform kromit merupakan cebakan berbentuk lensa-lensa dengan
ukuran yang bervariasi. Kebanyakan tipe cebakan podiform termasuk Al-rich
chromite. Tubuh massive dari kromit ini didominasi oleh dunit (kaya olivin) dan
berasosiasi dengan peridotit. Tipe cebakan ini banyak ditemukan di sepanjang zona
patahan dan lingkar pegunungan.

Endapan besar kromit terjadi sebagai lensa, atau lapisan dalam ophiolit batuan
ultrabasa. Secara tektonik, keberadaannya di bawah kerak dan mantel atas batuan
ultrabasa. Endapan tipe podiform ini juga terbentuk sebagai proses magmatik primer.
Umur mineralisasi dari kromit adalah pada Mesozoikum muda. Berasosiasi dengan
peridotit, harsburgit, dan dunit. Adapun gangue mineral dari endapan ini diantaranya
Olivin, Serpentin, Orthopiroksin, dan Magnetit.

Model genetic dari cebakan podiform ini berupa fraksi kristalisasi awal dimana
kromot berasal dari cairan basalt, baik tepat pada transisi bawah kerak mantel di saku
magma atau mungkin dalam sisa mantel harsburgit. Selain itu, bisa juga tepat di atas
transisi kerak mantel yang menyatukan lapisan dalam dunit di dasar ruang magma.

5
Gambar 2.4 proses pembentukan mineral kromit pada cebakan podiform

Cadangan bijih podiform sangat bervariasi tetapi sangat kecil dibandingkan


dengan cebakan statiform, yaitu dari beberapa ton hingga satuan juta ton. Lebih dari
setengah cadangan bijih podiform dunia dikelompokan sebagai kromit kaya
aluminium. Di Indonesia, endapan kromit termasuk tipe podiform, yang pada
umumnya tersebar di Indonesia bagian Timur. Bentuk endapan, berupa lapisan dan
lensa-lensa di dalam batuan piroksen-peridotit.

2. Cebakan Sekunder
Pembentukan endapan kromit memiliki perbedaan genesa dibandingkan
dengan mineralisasi logam lainnya. Endapan kromit sekunder terbentuk pada
lingkungan permukaan bumi yang melibatkan kegiatan erosi dan pelapukan, dimana
proses fisika dan kimiawi dari batuan yang menengah-basa atau batuan yang bersifat
andesitic hingga basaltic yang berlangsung secara bersamaan pada saat pelapukan.
Pengendapan kromit oleh arus gelombang laut masih jelas teramati berlangsung
hingga sekarang di bagian tertentu di dataran pantai. Sedangkan, untuk laterit kromit
di dapatkan di saat pelapukan batuan induk ultra mafik seperti peridotit dan ubahanya
seperti serpentinite yang Rich Al – Cromite terdapat di daerah tropis lapukan fisikawi
kuat dalam bentuk tanah.

6
Gambar2.5 cebakan kromit pada Endapan sekunder

7
BAB III
PENAMBANGAN

3.1 Eksplorasi Kromit


Seluruh kegiatan eksplorasi pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan
potensi sumber daya mineral (resources) yang terdapat dibumi menjadi cadangan
terukur yang siap untuk di tambang (miniable reserve). Tahapan eksplorasi ini
mencakup kegiatan untuk mencari dimana keterdapatan suatu endapan mineral,
menghitung berapa banyak dan bagaimana kondisinya, serta ikut memikirkan
bagaimana sistem pendayagunaannya.

1. Prospeksi atau Eksplorasi Pendahuluan


Secara umum aliran kegiatan/eksplorasi endapan bahan galian dimulai dengan
kegiatan prospeksi atau eksplorasi pendahuluan yang meliputi kegiatan Persiapan di
kantor (kompilasi survei geologi awal yang terdiri dari peninjauan lapangan,
pemetaan geologi regional, pengambilan contoh (scout sampling) serta memetakan
mineralisasi endapan untuk mengetahui apakah kegiatan eksplorasi ini bisa
dilanjutkan atau tidak.

2. Eksplorasi detail (rinci)


Dilakukan dengan metode pemboran untuk mengetahui kedalaman sedimen
dalam hal ini pasir sampai menembus batuan dasar. Titik bor ditentukan dengan cara
mengukur koordinat menggunakan GPS (Global Positioning System), tali dan
kompas. Contoh-contoh yang diperoleh kemudian dianalisis di laboratorium untuk
ditentukan kadar, sifat fisik lain yang menunjang kegiatan penambangan.

8
Perhitungan cadangan dilakukan dengan berbagai metode perhitungan yang
sesuai untuk jenis endapan tertentu, antara lain dengan cara area of influence,
triagular grouping, cara penampang, cara block system dan lain sebagainya. Secara
konvensional sampai kepada cara geostatistik (kriging).

Gambar 3.1 Pemboran

3.2 Penambangan

Teknologi penambangan endapan bijih kromit dapat dilakukan dengan tambang


dalam maupun tambang terbuka. Tambang terbuka yang biasa di terapkan yaitu
metode open pit. Adalah tambang terbuka yang diterapkan untuk menambang
endapan-endapan bijih (ore). Disebut open pit apabila penambangannya dilakukan
dari permukaan yang relatif mendatar menuju ke arah bawah dimana endapan bijih
tersebut berada

9
Gambar 3.2 metode penambangan open pit

Tahap-tahap penambangan adalah sebagai berikut :

1. Pembersihan Lahan (Land Clearing)


Pembersihan lahan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sebelum
pengupasan tanah penutup. Kegiatan ini dikerjakan bila pada suatu lahan yang akan
ditambang terdapat pohon-pohon besar atau semak-semak, sehingga jika tidak
dilakukan pembersihan lahan akan mengganggu kegiatan pengupasan lapisan tanah
penutup. Alat yang digunakan yaitu bulldozer.

Gambar 3.3 kegiatan land clearing

10
2. Pengupasan Tanah Penutup
Kegiatan yang dimaksudkan untuk mengupas lapisan tanah penutup sehingga
mineral kromit yang memenuhi syarat dapat ditambang dengan mudah. Lapisan
penutup ini dapat berupa tanah, batuan lapuk atau batuan yang menutupi bahan galian
yang akan ditambang. Alat yang digunakan yaitu Bulldozer.

Gambar 3.4 kegiatan striping top soil

3. Pembongkaran (Loosening)
Pembongkaran merupakan kegiatan untuk melepaskan material dari batuan
asalnya agar material dari batuan asalnya agar material tersebut dapat lepas atau
terbongkar sehingga mudah untuk dilakukan penanganan selanjutnya. Untuk mineral
kromit pada cebakan sekunder biasanya tidak perlu dilakukan pembongkaran karena
sudah berbentuk butiran yang biasanya berasosiasi dengan pasir. Alat yang digunakan
yaitu backhoe, namun jika material tidak memungkinkan menggunakal alat mekanis
maka pembongkaran dilakukan dengan peledakan.
Selanjutnya, jika mineral kromit sudah berhasil dibongkar, bisa dilakukan pemuatan
menuju ke stock pile.

11
Gambar 3.5 blasting

4. Pemuatan (Loading)
Pemuatan merupakan kegiatan memindahkan material hasil pembongkaran ke
alat angkut. Alat muat yang dapat digunakan antara lain backhoe dan wheel loader.
Hasil bongkaran biasanya dikumpulkan terlebih dahulu sebelum dimuat ke alat
angkut.

Gambar 3.6 Loading material

12
5. Pengangkutan
Alat angkut yang digunakan berupa dump truck, yang berfungsi mengangkut
material hasil bongkaran ke tempat penimbunan sementara sebelum dibawa ke
pengolahan.

Gambar 3.7 pengangkutan material

6. Pengolahan
Pengolahan bijih kromit bertujuan untuk memisahkan dengan mineral gangue.
Proses pengolahan dapat dilakukan baik cara basah maupun kering. Selain
memisahkan dengan mineral gangue, pengolahan juga berfungsi untuk meningkatkan
kadar.
Proses pengolahan biji kromit dibedakan menjadi 2 tahap, yaitu tahap feed
preparation dan concentration.
Pada tahap feed preparation digunakan chrusher, screens, dan grinding mills,
bertujuan memperkecil ukuran bahan mentah kromit dan memisahkan kromit dari
bahan lainnya sehingga mempermudah tahap concentration.
Pada tahap concentration digunakan hydrocyclones dan spiral untuk menghasilkan
konsentrat kromit. Sisa air pada tahap concentration selanjutnya dapat melalui tahap
penyaringan menggunakan tailing dams (bendungan) (CDE Global, 2013).

13
Gambar 3.8 Proses Pengolahan Kromit

14
BAB IV
PEMASARAN DAN REKLAMASI

4.1 Pemanfaatan
Penggunaan utama kromium adalah sebagai paduan logam seperti pada stainless
steel, chrome plating, dan keramik logam. Chrome plating digunakan untuk
memberikan lapisan keperakan seperti cermin pada baja. Kromium digunakan dalam
metalurgi sebagai anti korosi dan pemberi kesan mengkilap. Selain itu, logam ini juga
digunakan pada pewarna dan cat, untuk memproduksi batu rubi sintetis, dan sebagai
katalis dalam pencelupan dan penyamakan kulit. Pada logam platinum beserta bahan
campuran lain (nikel, palladium dll) yang di lapisi oleh crome menjadi “Emas
Putih”. Kromium (IV) oksida (CrO2) digunakan untuk pembuatan pita magnetik.

Proses Pembuatan Stainless


Anda tentu sudah mengenal apa itu stainless steel, ini adalah material yang terbuat
dari baja anti karat. Stainless steel ini mengandung unsur 11-30% kromium,
kandungan ini yang membuat proses korosi atau proses pengkaratan tidak berlaku
pada bahan logam yang satu ini. Stainless steel sendiri terdiri dari beberapa bahan
seperti besi 50%,, nikel 2- 7%, mangan 4-15%, nitrogen dan carbon yang kecil.

Untuk membuat stainless steel terdiri dari beberapa macam proses :


1. Pertama-tama bahan baku berupa besi, krom, silicon, nikel, karbon ditrogen dan
mangan akan dicairkan ke dalam tungku listrik, lama proses peleburan bahan-bahan
ini setidaknya 8 sampai 12 jam, dengan suhu panas yang konstan.
2. Setelah itu campuran yang sudah dileburkan akan dimasukkan/dicetak ke dalam
lempeng mekar atau dapat disebut dengan bilet. Proses ini dilakukan sebelum
mengambil bentuk semi padat. Setelah itu besi baja kemudian dibuat ke dalam
beberapa jenis, seperti pipa mapun lembaran / plat, bentuk siku dll.

15
Gambar 4.1 Diagram alir pembuatan Stainless
3. Pada kondisi seperti ini stainless akan menggunakan anil, untuk membuat logam
dapat diatur dengan tekanan internal dan dapat melunak kemudian dapat diperkuat.
Untuk membuat sebuah stainless steel ini diperlukan pemantauan yang berkala agar
proses pematangan atau pengerasan bahan logam ini baik. Proses pemanasan dan juga
proses pendinginan harus diperhatikan dengan baik, agar dapat menciptakan sebuah
logam yang berkualitas dan tentunya juga kuat. Sifat keras atau tidak logam tersebut
terbentuk dari suhu yang dibuatnya, seperti jika suhu pada proses pembuatan logam
rendah, tentunya akan menghasilkan bahan yang kuat namun cenderung patah.
Berbeda ketika mengunakan suhu yang tinggi maka akan menghasilkan bahan dengan
kualitas rendah namun cenderung kuat. Panas atau tidak suhu yang digunakan ketika
akan membuat bahan logam ini, akan membuat grade yang dihasilkan berbeda-beda.

4. De-scaling juga diperkenalkan dalam membuat stainless steel ini, ini adalah proses
produksi yang menggunakan waktu yang berbeda, dan juga tergantung pada baja
yang akan dihasilkan. Untuk membentuk bar dan kawat juga akan menggunakan
tambahan rolling panas, kemudian proses penempaan dan juga pengekstrusia. Setelah
melalui panas tertentu maka bahan lembaran dan juga kawat akan melalui proses anil.
Proses cutting juga sangat penting dalam proses pembuatan logam ini, terutama untuk
mendapatkan bentuk yang diinginkan.

16
5. Kemudan sampai pada proses pemotongan dengan menggunakan pisau yang
disebut dengan Guillotine dan juga bilah baja yang mempunyai kecepatan tinggi
untuk blanking, dan juga memotong serangkaian lubang dengan cara bertumpuk.
Stainless juga dapat dipotong dengan menggunakan metoda pemotongan api, ini
adalah sebuah proses pemotongan menggunakan api yang dihasilkan oleh oksigen,
propane dan bubuk besi. Jet pemotong plasma akan menggunakan kolom gas yang
telah terionisasi dan mencair setelah itu logam dapat dipotong.

6. Setelah tahap ini selesai, maka langkah terakhir yang akan dilakukan adalah proses
pembuatan stainless steel, untuk itu penting untuk membuat permukaan logam
menjadi halus dan juga reflektif. Pada tahap akhir ini akan membuat logam ini tahan
terhadap korosi, dan membuat bahan jadi, dan siap untuk digunakan dalam berbagai
macam sector industri.
Diagram alir pencetakan Stainless

Gambar 4.2 Diagram alir pencetakan stainless steel

17
Gambar 4.3 Stainless steel

Keuntungan menggunakan stainless steel :

1. Tahan terhadap korosi


Campuran berbagai macam bahan logam dan non logam yang baik, akan dapat
membuat logam satu ini menjadi tahan terhadap korosi, baik itu dari asam, larutan
alkaline,klorida, dan berbagai macam penghasil korosi lainnya.
2. Tahan terhadap suhu tinggi dan rendah
Logam ini juga dapat bertahan di dalam suhu yang rendah dan juga dapat bertahan
dalam suhu yang tinggi.
3. Proses pembuatan yang mudah
Proses pembuatan bahan ini tergolong lebih mudah.
4. Daya
Sifat baja ini memang keras namun sengaja dirancang untuk tidak tebal, agar dapat
mengurangi beban berat.
5. Estetika
Karena baja-baja ini dilapisi oleh krom maka permukaan logam ini menjadi lebih
mengkilap, dan tentunya akan mudah dan bagus untuk dilihat

18
4.2 Pemasaran
Harga mineral kromit di pasaran sekitar Rp.16.000/kg.
1. Harga Stainless Grade 304
Grade 304 adalah standar 18/8 stainless steel yang mengandung 18% chromium, 8%
nickel dengan maximum 0.08% carbon. 18/10 SS yang mengandung 18 chromium &
10% nickel juga dikenal sebagai grade 304.

2. Harga Stainless grade 316


SS-316 mengandung 16% chromium, 10% nickel and 2% molybdenum. Penambahan
molybdenum ini untuk membantu daya tahan korosi pada lingkungan khlorida (air
laut / air garam). Grade 316 diperlukan untuk keadaan khusus seperti resistensi tinggi
terhadap korosi pitting dan celah (pitting & crevice corrosion) dan juga pada
lingkungan khlorida.

19
3.3 Dampak Lingkungan

Krom di lingkungan paling sering ditemukan dalam bentuk Cr-III (ditemukan


dalam kromit) dan Cr-VI. Jumlah Cr-III yang terlalu banyak dapat bersifat toksik bagi
tumbuhan dan hewan. Kegiatan pertambangan kromit dan produksi ferokrom dapat
mengubah Cr-III menjadi Cr-VI yang juga bersifat toksik dan dapat menyebabkan
kanker. Proses perubahan Cr-III menjadi Cr-VI atau sebaliknya dipengaruhi oleh
kondisi kompleks yang melibatkan faktor biologi dan kimiawi seperti tipe tanah,
kandungan mineral, karakteristik air, dan interaksi biologi. Cr-VI lebih mudah
berpindah ke dalam sel tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme sehingga berpotensi
tinggi sebagai toksik (MiningWatch Canada, 2012).
Pertambangan kromit bertujuan memisahkan kromit untuk produksi ferokrom,
tetapi proses penambangan tidak berjalan secara 100% efisien. Proses penambangan
menghasilkan limbah seperti debu, sisa air, tailing, sisa batuan, dan terak yang masih
mengandung krom, termasuk Cr-VI. Selain itu, dimungkinkan pula adanya
kandungan logam berat dan senyawa kimia lainnya dalam limbah pertambangan
kromit sehingga berpotensi besar mencemari lingkungan (MiningWatch Canada,
2012).
Kandungan Cr-VI sebanyak 1-10 mg/kg dan Cr-II sebanyak 25-100 mg/kg
berdampak negatif pada kelangsungan hidup organisme tanah dan keseimbangan
ekosistem tanah. Tumbuhan yang hidup pada tanah yang mengandung krom sebagian
besar mengakumulasi krom dalam akar dan bagian tumbuhan lainnya seperti daun,
sehingga menjadi toksik apabila dikonsumsi. Tumbuhan memiliki tingkat toleransi
yang berbeda terhadap bahan pencemar, tubuhan dengan tingkat toleransi rendah
terhadap krom akan terhambat pertumbuhannya dan bahkan mati. Suatu studi
menemukan bahwa tumbuhan dan alga mengandung bentuk intermediet dari Cr-VI
yaitu Cr-V dan Cr-IV yang bersifat lebih toksik bagi manusia dan hewan, dan
menjadi ancaman bagi “kesehatan” ekologi.

20
Kandungan krom dalam air minum dan makanan dapat menyebabkan kanker,
gangguan organ reproduksi, perubahan perilaku, menghambat pertumbuhan, dan
meningkatkan risiko kematian (MiningWatch Canada, 2012). Krom dalam dosis
tinggi dapat menyebabkan kanker paru-paru, kerusakan hati (liver), dan ginjal. Selain
itu, kontak krom dengan kulit menyebabkan iritasi dan jika tertelan dapat
menyebabkan sakit perut dan muntah (Pellerin, 2006).

4.4 Reklamasi
1. Perencanaan Reklamasi
Reklamasi merupakan bagian tak terpisahkan dari setiap sekuen/tahapan
penambangan. Oleh karenanya, perencanaan reklamasi menjadi terintegrasi dengan
perencanaan tambang, baik jangka panjang maupun pendek. Perencanaan reklamasi
jangka panjang merupakan perencanaan sampai berakhirnya masa tambang (life of
mine). Masa tambang ini kemudian dijabarkan lebih terperinci ke dalam perencanaan
lima dan satu tahunan. Perencanaan lebih terperinci per area rehabilitasi dan akses
jalan ini dijabarkan dalam dump drainage rehabilitation (DDR).

Gambar 4.4 tahapan reklamasi

21
2. Survei Keanekaragaman Hayati
Prosedur pengelolaan keanekaragaman hayati telah disusun untuk menjamin
terlaksananya kegiatan ini. Tahapan ini mengharuskan dilaksanakannya survei flora
dan fauna pada daerah rencana penambangan lima tahun ke depan sebagai dasar
pengembangan jenis bibit di kebun pembibitan “nursery” dan pengembangan
arboretum. Arboretum ini telah dikembangkan sejak 2006 di suatu daerah reklamasi
bekas tambang di D2 Surya dengan luas 22 hektare.

3. Pengelolaan Tanah
a. Pengelolaan tanah sebelum penambangan. Ini dilakukan dengan menggunakan alat
dan kendaraan khusus untuk pemadatan agar benih-benih tanaman yang terdapat pada
tanah tersebut bisa tumbuh lagi di daerah penyebaran. Lalu, tanah dipindahkan dan
disebarkan kembali di daerah yang akan direhabilitasi atau disimpan untuk sementara.
b. Penimbunan sementara tanah. Penimbunan sementara ini dilakukan jika daerah
yang akan direhabilitasi belum siap. Untuk menjaga kualitas tanah di tempat
penimbunan, dilakukan penyebaran biji-biji tanaman.

4. Penyiapan Daerah Reklamasi


a. Pembangunan tempat penimbunan. Ini dilakukan di daerah bekas tambang atau
daerah-daerah lain untuk penimbunan dengan memperhatikan aspek geoteknik dan
lingkungan.
b. Penempatan batuan penutup di daerah bekas pit dan daerah penimbunan.

5. Pembentukan Lereng Bagian Luar


Pembentukan lereng bagian luar dengan menggunakan dozer. Penimbunan dilakukan
dengan tinggi tiap tingkatan mencapai 10 meter dengan sudut kemiringan lereng
maksimum 4 :1 dan panjang lereng 40 meter.

6. Penimbunan dan Penyebaran Topsoil


Topsoil sangat penting sebagai media tumbuh tanaman. Penyebaran topsoil pada
timbunan final dilakukan dengan ketebalan 1 meter atau ditentukan sesuai
persetujuan manager environment.

7. Penggaruan dan Pembuatan Saluran Air


Penggaruan dilakukan tegak lurus arah kemiringan lereng untuk mencegah timbulnya
erosi permukaan yang dapat melarutkan zat organik yang ada di dalam tanah

22
8. Penanaman dan Perawatan Tanaman
Kegiatan penanaman dan perawatan tanaman dilakukan oleh beberapa kontraktor
lokal di bawah pengawasan supervisor reklamasi.

9. Pemantauan Rehabilitasi dalam Keanekaragaman Hayati.


Kegiatan pemantauan tanaman meliputi:
 Pemantauan awal (initial monitoring): Dilakukan pada tanaman berumur 3, 6,
9, dan 12 bulan setelah penanaman.
 Pemantauan jangka panjang (long-term monitoring): Dilakukan pada tanaman
berumur 3, 6, dan 12 tahun setelah penanaman.

23
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
 Keterdapatan Kromit di Indonesia : Kalimantan Selatan, Sulawesi, Maluku Utara,
Papua, Sulawesi Tengah
 Mineral Kromit terbentuk pada temperatur yang sangat tinggi dan pada bagian
bawah dari tubuh magma, dimana proses kristalisasi terjadi.
 Tipe Cebakan Kromit :
a. Cebakan Primer : Cebakan Stratiform, Cebakan podiform
b. Cebakan Sekunder : laterit, placer
 Eksplorasi kromit meliputi eksplorasi pendahuluan dan ekplorasi detail
 Metode penambangan yang digunakan yaitu metode kuari dengan tipe pit yaitu
metode penambangan pada untuk endapan mineral industri dengan letak yang
relative mendatar
 Tahap penambangan meliputi : land clearing, stiping top soil, loosening, loading,
hauling, selanjutnya mineral tersebut diolah untuk dipisahkan dari material
pengotor.
 Pemanfaatan mineral kromit yaitu untuk bahan pembutan stainless steel. Kromit
memiliki fungsi untuk membuat besi tahan terhadap korosi.
 Pemasaran stainless steel dijual dengan harga yang cukup tinggi sesuai dengan
grade atau perbandingan kromit dengan nikel pada stainless steel tersebut.
 Dampak lingkungan yang ditimbulkan pada penambangan Kromit yaitu ketika
didapati kandungan Cr3 yang bersifat toksis bagi tumbuhan dan hewan serta dapat
menyebabkan kanker pada manusia.
 Teknis Reklamasi lahan bekas tambang dilakukan dengan 4 tahap yaitu : Penataan
lahan dan Kendali erosi, pengembalian top soil pada lahan bekas tambang, cover
cropping, Revegetasi.

24
5.2 Saran
Penambangan mineral kromit bisa mendatangkan keuntungan yang tinggi, dimana
fungsi dari mineral kromit sangat penting untuk industri stainless steel sebagai
pencegah korosi sehingga harganya cukup tinggi. Namun pada saat penambangan,
kita harus memperhatikan factor lingkungan agar tidak tercemar. Karene unsur Cr3
pada saat penambangan kromit sangat berbahaya bagi mahluk hidup, terutama pada
manusia yang dapat menyebabkan kanker bahkan fatalnya bisa mengalami kematian.

25
DAFTAR PUSTAKA
https://www.scribd.com/mineral.kromit , 2016

26