Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis
Dalam merancang sistem pendukung keputusan pemilihan mahasiswa
sebagai tempat penerima beasiswa diperlukan data dukungan antara lain:
1. Data Kriteria meliputi kode kriteria, nama kriteria dan jenis kriteria.
2. Data mahasiswa meliputi ID mahasiswa, nama mahasiswa, penghasilan
orangtua, IPK, semester, dan status penerima beasiswa.
Adapun kriteria yang digunakan dalam sistem pendukung keputusan
pemilihan mahasiswa sebagai penerima beasiswa antara lain:

Nama Status menerima IPK Penghasilan semester


beasiswa orangtua
Inayati Belum menerima 3.2 4.300.000 8
Riska Sudah menerima 3.05 1.100.000 6
Winda Belum menerima 3.26 2.000.000 4

4.2 Pembahasan
Berikut merupakan langkah-langkah penyelesaian metode analytical
hierarcy process (AHP) dalam pemilihan mahasiswa sebagai penerima
mahasiswa:
1. Melakukan sistesis bobot prioritas criteria
Sesuai dengan tabel diatas, criteria beasiswa PPA dan BBM ada empat hal.
Dari hasil wawancara dengan pengelola beasiswa di FMIPA mengenai
perbandingan bobot empat criteria untuk beasiswa BBM dan PPA,
diperlihatkan oleh tabel dibawah ini:
Criteria Penghasilan IPK Semester Status Bobot
BBM orangtua penerima criteria
beasiswa

29
30

Penghasilan 1 5 7 3 0.558
orangtua
IPK 1/5 1 3 1/3 0.122
Semester 1/7 1/3 1 1/5 0.057
Status 1/3 3 5 1 0.263
penerima
beasiswa
Jumlah 1.676 9.333 16 4.533

Sisntesis bobot kroteria beasiswa PPA


Criteria Penghasilan IPK Semester Status Bobot
PPA orangtua penerima criteria
beasiswa
Penghasilan 1 1/3 5 1/4 0.154
orangtua
IPK 3 1 6 2/3 0.335
Semester 1/5 1/6 1 1/7 0.050
Status 4 2/3 7 1 0.460
penerima
beasiswa
Jumlah 8.2 3 19 2.060

Dari tabel diatas , bobot prioritas (kolom paling kanan) menun jukan bobot
dari masing-masing criteria. Untuk beasiswa BBM, penghasilan orangtua
merupakan bobot tertinggi/terpenting menurut narasumber
kemahasiswaaan disusul status menerima beasiswa, IPK dan yang terakhir
adalah semester. Sedangkan untuk beasiswa PPA, status menerima
beasiswa merupakan bobot terpenting/tertinggi, disusul IPK, penghasilan
orangtua dan semester.
Penjelasan untuk mencari nilai didalam tabel seperti diatas adalah sebagai
berikut:
31

a. Untuk perbandingan antara masing-masing criteria berasal dari bobot


yang diberikan diawal.
b. Sedangkan untuk baris jumlah, merupakan hasil penjumlahan vertical
dari masing-masing criteria
c. Untuk bobot prioritas didapat dari hasil penjumlahan dari semua sel
disebelah kirinya (pada baris yang sama) setelah terlebih dahulu dibagi
dengan jumlah yang ada dibawahnya, kemudian hasil penjumlahan
tersebut dibagi dengan tiga (jumlah criteria)
2. Memberi skor pada criteria
Setiap alternative (calon penerima beasiswa) memiliki nilai dan kondisi
yang berbeda untuk setiap criteria. Maka dari itu dibutuhkan parameter
konversi nilai criteria pendaftar beasiswa untuk mendapatkan
perbandingan skor penilaian antar pilihan dalam criteria tertentu.
Konversi nilai criteria dalam penelitian ini ditunjukan dalam tabel 5
3. Menghitung bobot prioritas antar pilihan
Criteria Data awal Data
konversi
Jumlah a. >3 jt 3
penghasilan b. 1,5-3 jt 5
orangtua c. <1,5 jt 7
IPK a. 2,50-3,00 3
b. 3,01-3,50 5
c. 3,50-4,00 7
Semester a. <3 3
b. 3-6 5
c. 6>8 7
Status a. Pernah menerima beasiswa 3
peneriama periode sebelumnya
beasiswa b. Belum pernah menerima 7
beasiswa periode sebelumnya
32

Bobot perbandingan tiap alternative dengan criteria penghasilan orangtua


Penghasilan Inayati Riska Winda Bobot
orangtua normalisasi
Inayati 1 3/7 3/5 0.200
Riska 7/3 1 7/5 0.467
Winda 5/3 5/7 1 0.333
Jumlah 5 2.142 3
Eigen value: 3 CI: 0
RI (n=4) 0.58
CI/RI 0

Tabel bobot perbandingan tiap alternative dengan criteria IPK


IPK Inayati Riska Winda Bobot
alternatif
Inayati 1 1 1 0.333
Riska 1 1 1 0.333
Winda 1 1 1 0.333
Jumlah 3 3 3
Eigen value: 3 CI: 0
RI (n=4) 0.58
CI/RI 0

Tabel bobot perbandingan tiap alternative dengan criteria semester


IPK Inayati Riska Winda Bobot
alternatif
Inayati 1 5/7 5/7 0.263
Riska 7/5 1 1 0.368
Winda 7/5 1 1 0.368
Jumlah 3.8 2.714 2.714
Eigen value: 3 CI: 0
33

RI (n=4) 0.58
CI/RI 0

Tabel bobot perbandingan tiap alternative dengan criteria semester


Status Inayati Riska Winda Bobot
beasiswa alternatif
Inayati 1 7/3 1 0.412
Riska 3/7 1 3/7 0.176
Winda 1 7/3 1 0.412
Jumlah 2.428 5.667 2.428
Eigen value: 3.096 CI: 0.048
RI (n=4) 0.580
CI/RI 0.082

Langkah selanjutnya adalah melakukan pembobotan terhadap pilihan tiap


criteria dengan memperhatikan konversi nilai setiap pilihan. Pembobotan
antar pilihan tiap criteria dilakukan dengan membagi konversi nilai pilihan
A dengan konversi pilihan B. misalnya dari sisi IPK, apabila nilai A=2.80
(nilai konversinya 3) dan B= 3.11 (nilai konversi nya 5), maka bobot
perbandingan A terhadap B adalah 3/5. Adapun nilai masing-masing
pilihan terhadap criteria-kriteria yang ditentukan serta nilai konsistensi nya
ditunjukan oleh tabel 6- tabel 9
4. Menghitung bobot total
Tahapan akhir dalam metode AHP untuk menetukan prioritas yaitu dengan
mengkalkulasikan hasil bobot tiap pilihan (pendaftar beasiswa) dengan
bobot masing-masing criteria. Untuk beasiswa BBM, bobot perbandingan
total untuk ketiga alternative mahasiswa ditunjukan oleh tabel 10
Tabel bobot perbandingan total untuk beasiswa BBM
34

Perbandingan Bobot Inayati Riska Winda


beasiswa criteria
BBM
Penghasilan 0,558 0,2 0,467 0,333
orangtua
IPK 0,122 0,333 0,333 0,333
Semester 0,057 0,368 0,368 0,368
Status 0,263 0,176 0,412 0,412
penerima
beasiswa
Jumlah 0,2755 0,3684 0,3557
Pada tabel diatas terlihat bahwa prioritas penerima beasiswa BBM adalah riska
dengan bobot prioritas 0,3684 disusul winda dengan nilai 0,3557 dan Inayati
dengan nilai 0,2755
5. Pada tahap ini dilakukan penilaian perbandingan antara satu kriteria
dengan kriteria yang lain. Hasil penilaian bisa dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.5 Matriks Perbandingan Berpasangan


Bunga ATM Administrasi Pelayanan
Bunga 1 8 2 4
ATM 1/8 1 1/7 1/5
Administrasi 1/2 7 1 3
Pelayanan 1/4 5 1/3 1

6. Menghitung eigen vector x


Normalisasi nilai sel kolom dengan membagi setiap nilai sel pada kolom
dengan jumlah kolom tersebut dan hitung rata-rata setiap baris.
1 8 2 4 0,53 0,38 0,58 0,49
0,12 1 0,14 0,2 0,07 0,05 0,02 0,04
𝐴=[ ] [ ]
0,5 7 1 3 0,27 0,33 0,37 0,31
0,25 5 0,33 1 0,13 0,24 0,12 0,15
Column sums 1,875 21 3,48 8,2 1 1 1 1
35

0,49
0,05
𝑋 (𝑃𝑟𝑖𝑜𝑟𝑖𝑡𝑦 𝑉𝑒𝑐𝑡𝑜𝑟) = [ ]
0,31
0,15
Bobot kriteria dapat dilihat pada Gambar 4.1:
Pemilihan Bank

Bunga ATM Administrasi Pelayanan


0,49 0,05 0,31 0,15

Gambar 4.1 Bobot Kriteria


7. Perhitungan consistency ratio (CR)
Sebelum menghitung consistency ratio (CR), maka dihitung terlebih
dahulu max dengan formulasi:
[𝐴𝑥 = 𝑚𝑎𝑥 𝑥]
1 8 2 4 0,49 2,07 0,49
0,12 1 0,14 0,2 0,05 0,18 0,05
𝐴=[ ][ ]= [ ] = max[ ]
0,5 7 1 3 0,31 1,32 0,31
0,25 5 0,33 1 0,15 0,60 0,15
max = Rata-rata {2,07/0,49; 0,18/0,05; 1,32/0,31; 0,60/0,15}
= 4,12

Consistency Index (CI):


CI =(max-n)/(n-1)
=(4,12-4)/(4-1)
= 0,040
Berdasarkan nilai pada tabel Random Index (RI) dengan n sama dengan 4
yaitu 0,90, maka nilai Consistency Ratio (CR):
CR = CI/RI
= 0,040/0,90
= 0,0405 < 0,1, maka evaluasi konsisten

8. Perangkingan Alternatif
1. Bunga
36

PRIORITY
BRI BNI MANDIRI BCA BTN
VECTOR
BRI 1 1 1 3 1/5 0,15
BNI 1 1 1 1 1/5 0,11
MANDIRI 1 1 1 1 1/5 0,11
BCA 1/3 1 1 1 1/5 0,09
BTN 5 5 5 5 1 0,54

2. ATM
PRIORITY
BRI BNI MANDIRI BCA BTN
VECTOR
BRI 1 1/4 1 3 3 0,18
BNI 4 1 4 5 5 0,50
MANDIRI 1 1/4 1 3 3 0,18
BCA 1/3 1/5 1/3 1 1 0,07
BTN 1/3 1/5 1/3 1 1 0,07

3. Administrasi
PRIORITY
BRI BNI MANDIRI BCA BTN
VECTOR
BRI 1 3 3 5 3 0,44
BNI 1/3 1 1 3 1 0,17
MANDIRI 1/3 1 1 3 1 0,17
BCA 1/5 1/3 1/3 1 1/3 0,06
BTN 1/3 1 1 3 1 0,17

4. Pelayanan
PRIORITY
BRI BNI MANDIRI BCA BTN
VECTOR
BRI 1 1/3 1/3 1/5 1/2 0,06
BNI 3 1 1 1/3 2 0,18
MANDIRI 3 1 1 1/2 2 0,19
BCA 5 3 3 1 3 0,41
BTN 2 1/2 2 1/3 1 0,15
s
37

Pemilihan Bank

Bunga ATM Administrasi Pelayanan


0,49 0,05 0,31 0,15

BRI 0,15 BRI 0,18 BRI 0,44 BRI 0,06


BNI 0,11 BNI 0,50 BNI 0,17 BNI 0,18
MANDIRI 0,11 MANDIRI 0,18 MANDIRI 0,17 MANDIRI 0,19
BCA 0,09 BCA 0,07 BCA 0,06 BCA 0,41
BTN 0,54 BTN 0,07 BTN 0,17 BTN 0,15

Gambar 4.2 Bobot Alternatif

5. Perangkingan Alternatif
Bunga ATM Administrasi Pelayanan
0,23
BRI 0,15 0,18 0,44 0,06 0,49
0,16
BNI 0,11 0,50 0,17 0,18 0,05
x[ ]= 0,14
Mandiri 0,11 0,18 0,17 0,19 0,31
0,13
BCA 0,09 0,07 0,06 0,41 0,15
[0,34]
[ BTN 0,54 0,07 0,17 0,15 ]

6. Kesimpulan
Berdasarkan langkah-langkah diatas, maka dapat ditarik
kesimpulan alternatif pemilihan bank sebagai tempat menabung
adalah yang memiliki bobot paling tinggi 0,34 yaitu Bank
Tabungan Negara (BTN).