Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI MANUSIA

A. Judul : Analisis Semen


B. Tanggal : 05 Januari 2018
C. Tujuan :
1. Dapat melakukan pemeriksaan semen seorang pria
2. Menganalisis hasil pemeriksaan sperma
3. Menarik kesimpulan mengenai hasil pemeriksaan, apakah seseorang pria
fertile atau infertile.
D. Dasar Teori
1. Pengertian
Sperma atau disebut juga spermatozoa adalah sel gamet dari laki-
laki.Sel ini mempunyai ukuran panjang keseluruhan 50-60 mikrometer,
dimana terdiri tiga bagian yaitu bagian kepala, bagian tengah (leher) dan
ekor.Dimensi kepala dengan panjang 4 - 5 mikrometer, lebar 2.5 - 3.5
mikrometer, dengan rasio antara panjang dan lebar yaitu 1.50 -
1.75. Spermatozoa atau sperma dihasilkan oleh testis, sedangkan cairan
seminal diproduksi oleh kelenjar tambahan di sepanjang saluran
reproduksi pria, yaitu kelenjar vesikula seminalis, prostat, kelenjar bulbo
urethralis (Cowper’s) dan kelenjarurethra (Littre’s), (Anonim, 2009).
2. Struktur Sel Sperma
Spermatozoa merupakan sel yang sangat terspesialisasi dan padat
yang tidak lagi mengalami pembelahan atau pertumbuhan, berasal
dari gonosit yang menjadi spermatogonium, spermatosit primer dan
sekunder dan selanjutnya berubah menjadi spermatid dan akhirnya
berubah menjadi spermatozoa. Spermatozoa terdiri atas dua bagian
fungsional yang penting yaitu kepala dan ekor (Anonim, 2009).
Sperma dewasa terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, bagian tengah
dan ekor (flagellata). Kepala sperma mengandung nukleus.Bagian ujung
kepala ini mengandung akrosom yang menghasilkan enzim yang
berfungsi untuk menembus lapisan–lapisan sel telur pada waktu
fertilisasi.Bagian tengah sperma mengandung mitokondria yang
menghasilkan ATP sebagai sumber energi untuk pergerakan sperma.Ekor
sperma berfungsi sebagai alat gerak (Anonim, 2009).
Gambar 1. Struktur sel sperma
a. Kepala
Kepala spermatozoa bentuknya bulat telur dengan ukuran
panjang 5 mikron, diameter 3 mikron dan tebal 2 mikron yang terutama
dibentuk oleh nukleus berisi bahan-bahan sifat penurunan ayah.
Kepala sperma mengandung nukleus. Bagian ujung kepala atau pada
bagian anterior kepala spermatozoa terdapat akrosom, suatu struktur
yang berbentuk topi yang menutupi dua per tiga bagian anterior kepala
dan mengandung beberapa enzim hidrolitik antara lain: hyaluronidase,
proakrosin, akrosin, esterase, asam hidrolase dan Corona
Penetrating Enzim (CPE) yang semuanya penting untuk penembusan
ovum (sel telur) pada proses fertilisasi (Anonim, 2009).
Bahan kandungan akrosom adalah setengah padat yang
dikelilingi oleh membran akrosom yang terdiri dari dua lapis, yaitu
membran akrosom dalam (inner acrosomal membran) dan membran
akrosom luar (outer acrosomal membran). Secara molekuler susunan
kedua membran akrosom ini sangat berbeda, membran akrosom luar
bersatu dengan plasma membran (membran spermatozoa) pada waktu
terjadinya reaksi akrosom sedang membran akrosom dalam
menghilang. Bagian ekuatorial akrosom merupakan bagian penting
pada spermatozoa, hal ini karena bagian anterior pada akrosom ini
yang mengawali penggabungan dengan membran oosit pada proses
fertilisasi berubah menjadi spermatid dan akhirnya berubah menjadi
spermatozoa (Anonim, 2009).
b. Ekor
Ekor dari sel sperma dibedakan atas 3 bagian, yaitu sebagai berikut:
 Bagian tengah (midpiece)
 Bagian utama (principle piece)
 Bagian ujung (endpiece).
Panjang ekor seluruhnya sekitar 55 mikron dengan diameter
yang makin ke ujung makin kecil: di depan 1 mikron, di ujung 0,1
mikron. Panjang bagian tengah: 5-7 mikron, tebal 1 mikron; bagian
utama panjang 45 mikron, tebal 0,5 mikron dan bagian ujung panjang
4-5 mikron, tebal 0,3 mikron. Bagian ekor tidak bisa dibedakan dengan
mikroskop cahaya tetapi harus dengan mikroskop electron (Anonim,
2009).
Mitokondria sebagai pembangkit energi pada
spermatozoa. Principle piece dibungkus oleh sarung fibrous (fibrous
sheath) yang perbatasannya disebut anulus. Sarung fibrous
bentuknya terdiri dari kolom ventral dan dorsal yang masing-masing
melalui rusuk-rusuk. Ke arah sentral ada semacam tonjolan yang
memegangi cincin nomor 3, 8 dari aksonema. Keduanya (tahanan
rusuk dan pegangan cincin aksonema) memberikan gerak
tertentu (Anonim, 2009).
3. Spermatogenesis
Spermatogenesis terjadi didalam testis
terdapat tubulus seminiferus.Dinding tubulus seminiferus terdiri dari
jaringan epitel dan jaringan ikat, pada jaringan epithelium terdapat sel–sel
spermatogonia dan sel Sertoli yang berfungsi memberi nutrisi pada
spermatozoa. Selain itu pada tubulus seminiferus terdapat pula sel Leydig
yang mengsekresikan hormone testosteroneyang berperan pada proses
spermatogenesis (Anonim, 2009).
Sperma dihasilkan oleh tubulus seminiferus yang memiliki panjang 250
mdalam testes. Sel-sel yang berada di tubulus seminiferus berupa sel
germinal dengan bermacam-macam tahap perkembangan dan sel Sertoli
yang memberikan dukungan penting pada spermatogenesis.
Spermatogenesis adalah proses kompleks sel germinal prmordial
spermatogonia (46 kromosom) berproliferasi dan dikonversi menjadi
spermatozoa motil (23 kromosom). Prosesnya memerlukan waktu 64 hari
dengan 3 tahap: mitosis, meiosis, dan spermiogenesis (Anonim, 2011).
Proses spermatogenesis ini dapat terjadi karena dukungan dari sel
Sertoli.Fungsi penting sel Sertoli selama proses spermatogenesis antara
lain:
a. Sel Sertoli membentuk tight junction sebagai barrier spermatozoa deng
an arah sehingga dapat mencegah pembentukan antibodi yang dapat
menyerang sel spermatozoa (dianggap sebagai zat asing karena
haploid, sel tubuh bersifat diploid).
b. Memberikan makanan.
c. Sel Sertoli berfungsi untuk memfagosit sitoplasma dari spermatid yang
berubah menjadi spermatozoa dan menghancurkan sel germinal yang
rusak.
d. Sel Sertoli membentuk lumen cairan tubulus seminiferus sehingga
sperma dapat dilepaskan dari tubulus ke epididimis untuk disimpan
dan diproses lebih lanjut.
e. Sel Sertoli mensekresi androgen-binding protein (ABP). ABP berfungsi
untuk mempertahankan testosteron tetap berada dalam tubulus
seminiferus, karena testosteron berupa lipid yang mudah keluar dari
membran plasma dan meninggalkan lumen.
f. Menghasilkan hormon inhibin sebagai umpan balik negatif yang
mengontrol sekresi FSH (Anonim, 2011).
Sel sperma yang bersifat haploid (n) dibentuk di dalam testis
melewati sebuah proses kompleks yang disebut dengan
spermatogenesis. Secara simultan proses ini memproduksi sperma
matang di dalam tubulus seminiferus lewat langkah-langkah berikut ini:
a. Ketika seorang anak laki-laki mencapai pubertas pada usia 11 sampai
14 tahun, sel kelamin jantan primitif yang belum terspesialisasi dan
disebut dengan spermatogonium menjadi diaktifkan oleh sekresi
hormon testosteron.
b. Masing-masing spermatogonium membelah secara mitosis untuk
menghasilkan dua sel anak yang masing-masing berisi 46 kromosom
lengkap.
c. Dua sel anak yang dihasilkan tersebut masing - masing disebut sperma
togonium yang kembali melakukan pembelahan mitosis untuk
menghasilkan sel anak, dan satunya lagi disebut spermatosit primer
yang berukuran lebih besar dan bergerak ke dalam lumen tubulus
seminiferus.
d. Spermatosit primer melakukan meiosis untuk menhasilkan dua
spermatosit sekunder yang berukuran lebih kecil dari spermatosit
primer. Spermatosit sekunder ini masing-masing memiliki 23 kromosom
yang terdiri atas 22 kromosom tubuh dan satu kromosom kelamin (Y
atau X).
e. Kedua spermatosit sekunder tersebut melakukan mitosis untuk
menghasilkan empat sel lagi yang disebut spermatid yang tetap
memiliki 23 kromosom.
f. Spermatid kemudian berubah menjadi spermatozoa matang tanpa
mengalami pembelahan dan bersifat haploid (n) 23 kromosom.
Keseluruhan proses spermatogenesis ini menghabiskan waktu sekitar
64 hari (Anonim, 2011).
Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa disebut spermatog
Enesis. Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal melalui
proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang bertujuan untuk membentuk
sperma fungsional.
Pematangan sel terjadi ditubulus seminiferus yang kemudian disimpan
di epididimis.Dinding tubulus seminiferus tersusun dari jaringan ikat dan
jaringan epitelium germinal (jaringan epitelium benih) yang berfungsi pada
saat spermatogenesis.Pintalan-pintalan tubulus seminiferus terdapat di dalam
ruang-ruang testis (lobulus testis).Satu testis umumnya mengandung sekitar
250 lobulus testis. Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel
germinal (sel epitel benih) yang disebut spermatogonia(spermatogonium =
tunggal). Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel
tubulus seminiferus.Spermatogonia terus-menerus membelah untuk
memperbanyak diri, sebagian dari spermatogonia berdiferensiasi melalui
tahap-tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma (Anonim,
2009).
Pada tubulus seminiferus terdapat sel-sel induk spermatozoa atau
spermatogonium, sel Sertoli, dan sel Leydig. Sel Sertoli berfungsi memberi
makan spermatozoa sedangkan sel Leydigyang terdapat di antara tubulus
seminiferus berfungsi menghasilkan testosterone (Anonim, 2009).
Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa
hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis yaitu LH (Luteinizing
Hormone) merangsang sel Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron.
Pada masa pubertas, androgen / testosteron memacu tumbuhnya sifat
kelamin sekunder. FSH (Folicle Stimulating Hormone) merangsang sel Sertoli
untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu
spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis. Proses pemasakan
spermatosit menjadi spermatozoa disebutspermiogenesis. Spermiogenesis
terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan waktu selama 2 hari (Anonim,
2009).
Pada manusia proses spermatogenesis berlangsung setiap hari. Siklus
spermatogenesis berlangsung rata–rata 74 hari.Artinya, perkembangan sel
spermatogonia menjadi spermatozoa matang memerlukan waktu rata–rata 74
hari.Sementara itu pemasakan spermatosit menjadi sperma memerlukan
waktu dua hari. Proses pemasakan spermatosit menjadi sperma dinamakan
spermatogenesis dan terjadi di dalam epididimis (Anonim, 2009).
Pada pria dewasa normal, proses spermatogenesis terus berlangsung
sepanjang hidup, walaupun kualitas dan kauntitasnya makin menurun dengan
bertambahnya usia (Anonim, 2009).
4. Kelainan pada Sel Sperma
a. Jumlah Sperma
Cairan yang dikeluarkan pria pada saat ejakulasi sewaktu
senggama disebut cairan semen.Volume normal cairan semen sekitar 2-5
ml. Cairan semen ini berwarna putih mutiara dan berbau khas langu
dengan pH 7-8. Volume cairan semen dianggap rendah secara abnormal
jika kurang dari 1,5 ml. Volume semen melebihi 5 ml juga dianggap
abnormal. Dalam cairan semen inilah jumlah spermatozoa merupakan
penentu keberhasilan memperoleh keturunan. Yang normal, jumlah
spermatozoanya sekitar 20 juta/ml. Pada pria ditemukan kasus
spermatozoa yang kurang (oligozoospermia) atau bahkan tak ditemukan
sel sperma sama sekali (azoospermia), (Tri Bowo, 2011).
Kecuali sel-sel spermatozoa, dalam cairan semen ini terdapat zat-
zat lain yang berasal dari kelenjar-kelenjar sekitar reproduksi pria.Zat-zat
itu berfungsi menyuplai makanan dan mempertahankan kualitas
spermatozoa sehingga bisa bertahan hidup sampai masuk ke dalam
saluran reproduksi wanita, (Tri Bowo, 2011).
b. Kelainan Bentuk (Morfologi)
Sperma yang normal berbentuk seperti kecebong.Terdiri dari
kepala, tubuh, dan ekor. Kelainan seperti kepala kecil atau tak memiliki
ekor akan mempengaruhi pergerakan sperma. Ini tentu saja akan
mempersulit sel sperma mencapai sel telur (Tri Bowo, 2011).
c. Pergerakan Lemah
Untuk mencapai sel telur, sel sperma harus mampu melakukan
perjalanan panjang.Ini pun menjadi penentu terjadinya pembuahan.
Jumlah sel sperma yang cukup, jika tak dibarengi pergerakan yang
normal, membuat sel sperma tak akan mencapai sel telur. Sebaliknya,
kendati jumlahnya sedikit namun pergerakannya cepat, bisa mencapai sel
telur (Tri Bowo, 2011). Kasus lemahnya pergerakan sperma
(asthenozoospermia) kerap dijumpai, adakalanya spermatozoa mati
(necrozoospermia). Gerakan spermatozoa dibagi dalam 4 kategori, yaitu:
 Bergerak cepat dan maju lurus
 Bergerak lambat dan sulit maju lurus
 Tak bergerak maju (bergerak di tempat)
 Tak bergerak
Sperma dikatakan normal bila memiliki gerakan normal dengan
kategori a lebih besar atau sama dengan 25% atau kategori b lebih besar
atau sama dengan 50%. Spermatozoa yang normal satu sama lain
terpisah dan bergerak sesuai arahnya masing-masing. Dalam keadaan
tertentu, spermatozoa abnormal bergerombol, berikatan satu sama lain,
dan tak bergerak.Keadaan tersebut dikatakan terjadi aglutinasi. Aglutinasi.
dapat terjadi karena terjadi kelainan imunologis di mana sel telur menolak
sel sperma.
d. Cairan Semen Terlalu Kental
Cairan semen yang terlalu kental mengakibatkan sel sperma sulit
bergerak.Pembuahan pun jadi sulit karena sel sperma tak berhasil
mencapai sel telur. Pada kasus normal, saat diejakulasikan, cairan semen
dalam bentuk yang kental akan mencair (liquifaksi) antara 15-60 menit.
e. Saluran Tersumbat
Saat ejakulasi, sperma keluar dari testis menuju penis melalui
saluran yang sangat halus.Jika saluran-saluran itu tersumbat, maka
sperma tak bisa keluar.Umumnya hal ini disebabkan trauma pada
benturan.Bisa juga karena kurang menjaga kebersihan alat kelamin
sehingga menyuburkan kehidupan virus atau bakteri.
f. Kerusakan Testis
Testis dapat rusak karena virus dan berbagai infeksi, seperti
gondongan, gonorrhea,sifilis, dan sebagainya. Untuk diketahui, testis
merupakan pabrik sperma. Dengan demikian kesehatannya harus
dijaga karena testis yang sehat akan menghasilkan sperma yang baik
secara kualitas dan kuantitas. Testis ini sangat sensitif.Mudah sekali
dipengaruhi oleh faktor-faktor luar.Jika testis terganggu, produksi sperma
bisa terganggu.Mungkin saat berhubungan, pria tetap mengeluarkan
sperma.Hanya saja tanpa sel sperma (azoospermia), (Tri Bowo, 2011).
E. Alat, Bahan dan Cara Kerja
1. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan Analisis sperma yaitu :
NO Nama Alat Jumlah
1 Mikroskop 1 Unit
2 Kaca objek 4 Unit
3 Kaca penutup 2 Unit
4 Kamar hitung improved neubaur 1 Unit
5 Pipet leukosit 1 Unit
6 Karet pengisap 1 Unit
7 Spoit 1 Unit
8 Tusuk telinga 1 Unit
9 Botol penampung sperma 1 Unit

2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan analisis sperma yaitu :

No Nama Bahan Jumlah


1 Sperma -
2 Giemza -
3 Alkohol 96 % -
4 Aquadest -
5 Kertas PH 1 Lembar

3. Cara Kerja
a. Pemeriksaan makroskopik
1) Likuifaksi
Semen dianalisis setelah mengalami likuifaksi, biarkan
semen sekitar 20 menit atau maksimal 1 jam setelah ejakulasi
2) Warna semen
Warna semen diamati dengan mata telanjang
3) Bau semen
Dengan mencium secara langsung
4) pH
Setetes sperma disebarkan secara merata diatas kertas Ph (
kisaran Ph 6,4-8). Setelah 30 detik warna daerah yang dibasahi
akan merata dan kemudian dibandingkan dengan kertas kalibrasi
untuk di baca Ph nya.
5) Volume
Volume harus diukur dengan suatu gelas ukur, atau dengan
cara menyedot seluruh siapan ke dalam suatu semprit atau pipet
ukur.
6) Viskositas
Semen diaduk rata, lalu dihisap ke dalam pipet Pasteur 5ml.
Selanjutnya semen dibiarkan menetes keluar pipet sambil diamati
panjang benang dari tetesan semen.
b. Pemeriksaan Mikroskopik
1) Motilitas atau pergerakan spermatozoa dihitung dalam persentase.
Suatu volume semen tertentu diteteskan diatas kaca objek
yang bersih dan kemudian ditutup dengan kaca tutup. Motilitas
setiap sperma yang dijumpai dicatat. Biasanya diamati pada
beberapa lapang pandang terhadap 100 ekor spermatozoa ( jumlah
total presentase adalah 100%).
Motilitas digolongkan menjadi beberapa kriteria sbb :
 Progresif lurus : beregerak lurus kedepan lincah dan cepat
 Progresif lamabat : bergerak ke depan tetapi lambat.
 Gerak di tempat : gerakan tidak menunjukkan perpindahan
 tempat, biasanya bergetar di tempat, berputar atau melompat.
 Tidak bergerak : tidak ada gerakan sama sekali atau diam
ditempat.
2) Morfologi sperma normal
Untuk pemeriksaan morfologi sperma, dibuat sediaan apus
semen pada gelas objek, dikeringkan pada suhu kamar. Setelah
kering, difiksasi dengan methanol selama 5 menit, kemudian
diwarna dengan Giemsa selama 30 menit. Diamati dengan
mikroskop cahaya.
F. Hasil
Terlampir
G. Pembahasan
Percobaan Pemeriksaan sperma (analisis sperma) yang dilaksanakan
pada tanggal 05 Januari 2018 dilakukan beberapa percobaan secara
makroskopik dan mikroskopik. Pemeriksaan makroskopik yaitu warna, bau,
pH, viskositas dan liquifaksi. Sedangkan pemeriksaan secara mikroskopik
yaitu motilitas, jumlah spermatozoa dan morfologi.

No. Parameter pemeriksaan Kadar normal Hasil pemeriksaan


1. Warna Putih keabu-abuan Putih keabu-abuan
2. Volume 2 – 3 mL 2 mL
3. Bau Khas, tajam, tidak busuk Khas
4. Likuifaksi 15 – 20 menit 20 menit
5. Viskositas/kekentalan 3 – 5 cm 3 cm
6. pH 7,2 – 7,8 8
7. Motilitas 1 jam = >70% 73 %
8. Jumlah spermatozoa 70 – 100 juta/mL 76,4 juta/mL
9. Morfologi :
- Normal 60 – 70% 67 %
- Abnormal 30 – 40% 33 %
- Kepala Terlalu besar dan kecil
- Inti Tidak pecah
- Ekor Tidak ada

Semen yang normal dan telah mengalami proses liquefaction akan


bersifat homogen, berwarna putih abu-abu. Kemungkinan akan tampak lebih
bening (less opaque) bila konsentrasi sperma sangat rendah. Warna semen
yang merah kecoklatan menunjukan adanya sel darah (hemospermia).
Semen dapat berwarna kuning pada pria dengan sakit kuning (jaundice) atau
minum vitamin dan obat tertentu.
Pria subur rata-rata mengeluarkan 2 hingga 5 cc semen dalam satu
kali ejakulasi. Secara konsisten mengeluarkan kurang dari 1,5 cc
(hypospermia) atau lebih dari 5,5 cc (hyperspermia) dikatakan abnormal.
Volume yang didapatkan dari sampel pasien yaitu sebesar 3 ml, sesuai
dengan lama tidak berejakulasi yaitu abstinensia 7 hari dan termasuk kategori
normal.
Volume cairan ejakulat (semen) terutama berasal dari cairan vesikula
seminalis (60%) dan kelenjar prostat (15%), sebagian kecil dari kelenjar
bulbouretralis dan epididimidis. Volume semen yang normal minimal adalah
lebih dari 2 ml dengan rentang 2-5 ml. Volume semen yang rendah bisa
mengindikasikan sumbatan saluran ejakulasi, gangguan vesikula seminalis,
ejakulasi retrograde (retrograde ejaculation) atau kekurangan hormone
androgen. Volume semen yang terlalu banyak dapat menunjukan eksudasi
aktif yang terjadi pada kelenjar yang mengalami peradangan (inflamasi).
pH semen normal berada dalam kisar 7,2- 7,8. Jika Ph lebih besar dari
7,8 maka ada indiasi inf eksi. Sebaliknya, jika Ph kurang dari 7, pada
azoospermia perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan karena adanya
kemungkinan disgenesis vas deferens, vesica seminalis atau epididimis.
Pria subur memiliki konsentrasi sperma di atas 20 juta/ml atau 40 juta
secara keseluruhan. Jumlah di bawah 20 juta/cc dikatakan konsentrasi
sperma rendah dan di bawah 10 juta/cc digolongkan sangat rendah. Pada
pasien ini didapat konsentrasi sebesar 18,75 juta/ml. Istilah kedokteran untuk
konsentrasi sperma rendah adalah oligospermia. Bila sama sekali tidak ada
sperma disebut azoospermia. Semen pria yang tidak memiliki sperma secara
kasat mata terlihat sama dengan semen pria lainnya, hanya pengamatan
melalui mikroskoplah yang dapat membedakannya.
Dengan meneteskan satu tetes (10 µl) semen pada tiap kamar hitung
haemocytometer, lalu dihitung jumlah spermatozoa yang ada. Jika sampel
kurang dari 10 spermatozoa per lpb, maka menghitung seluruh kotak besar
yang berjumlah 25. Jika 10 - 40 spermatozoa terlihat per lpb, maka cukup
menghitung 10 kotak besar. Jika sampel > 40 spermatozoa terlihat per lpb,
maka cukup menghitung 5 kotak besar.
Selanjutnya bila telah menghitung 25, 10 atau 5 kotak besar pada
Haemocytometer maka dibagi dalam faktor konversi sesuai kotak besar yang
telah dihitung, yang hasilnya adalah konsentrasi spermatozoa dalam juta per
milliliter. Konsentrasi spermatozoa normal bila ≥ 20 juta/ml (WHO,1999).
WHO edisi 2010 konsentrasi spermatozoa normal bila ≥ 15 juta/ml.
Sperma normal memiliki bentuk kepala oval beraturan dengan ekor lurus
panjang di tengahnya. Sperma yang bentuknya tidak normal (disebut
teratozoospermia) seperti kepala bulat, kepala pipih, kepala terlalu besar,
kepala ganda, tidak berekor, dll, adalah sperma abnormal dan tidak dapat
membuahi telur. Hanya sperma yang bentuknya sempurna yang disebut
normal. Pria normal memproduksi paling tidak 30% sperma berbentuk normal.
Bentuk – bentuk morfologi abnormal adalah kepala makro, kepala mikro,
kepala taper, kepala piri, kepala double, kepala amorf, kepala round, kepala
pin, midpiece abnormal, sitoplasma droplet, ekor double, ekor koil, ekor bent.
Kriteria morfologi normal bila pada pemeriksaan didapatkan bentuk
spermatozoa normal ≥ 30 % (WHO,1999). WHO 1999 yang direvisi > 14 %
(kriteria ketat), dan terakhir morfologi normal WHO 2010 ≥ 4 %.
Bila tidak memenuhi kriteria persentase morfologi normal spermatozoa diatas
maka kategori diagnostik laboratoris adalah Teratozoospermia.
Semen Normal Menurut Standar WHO

Parameter Nilai Minimum

Volume (mL) 2.0


Konsentrasi (juta/mL) 20
Motilitas (%) 50
Kecepatan maju (0-4) 3
Morfologi normal (%) (WHO) 30
Morfologi normal (%) (Ketat) 14
Jumlah sperma (juta) 40
Total sperma bermotilitas (juta) 20
Total sperma fungsional (juta) 6

Sperma terdiri dari dua jenis, yaitu yang dapat berenang maju dan
yang tidak. Hanya sperma yang dapat berenang maju dengan cepatlah yang
dapat mencapai sel telur. Sperma yang tidak bergerak tidak ada gunanya.
Menurut WHO, motilitas sperma digolongkan dalam empat tingkatan:
a. Kelas a: sperma yang berenang maju dengan cepat dalam garis lurus
seperti peluru kendali.
b. Kelas b: sperma yang berenang maju tetapi dalam garis melengkung atau
bergelombang, atau dalam garis lurus tetapi lambat.
c. Kelas c: sperma yang menggerakkan ekornya tetapi tidak melaju.
d. Kelas d: sperma yang tidak bergerak sama sekali.
Sperma kelas c dan d adalah sperma yang buruk. Pria yang subur
memproduksi paling tidak 50% sperma kelas a dan b. Bila proporsinya kurang
dari itu, kemungkinan akan sulit memiliki anak. Motilitas sperma juga dapat
terkendala bila sperma saling berhimpitan secara kelompok sehinga
menyulitkan gerakan mereka menuju ke sel telur. Pada pemeriksaan pasien
dengan kategori a dan b memproduksi lebih dari 50 %.
Kesuburan pria ditentukan oleh kombinasi keempat kriteria di atas,
yaitu jumlah sperma berbentuk sempurna dalam semennya yang dapat
bergerak agresif. Misalnya, seorang pria yang memproduksi 20 juta sperma
per ml, 50% -nya bermotilitas bagus dan 60% -nya berbentuk sempurna,
maka dia dikatakan memiliki hitungan sperma 20 x 0,5 x 0,6 = 6 juta sperma
bagus per ml. Bila volume ejakulasinya adalah 2 ml, maka total sperma bagus
dalam sampelnya adalah 12 juta.
Hasil pemeriksaan analisis sperma yang telah dilakukan pada sampel
Mr.X umur 23 tahun, dapat disimpulkan dari jumlah sperma menunjukkan
hasil yang normal dan Fertil.
Penyakit mengenai sperma yang bisa dialami oleh seorang pria yaitu
salah satunya infertilitas. Infertilitas tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa
hal yaitu :
1. Produksi sperma yang tidak normal (sekitar 60 %), yang dapat disebabkan
karena kelainan genital, infeksi gondongan, faktor genetik, penyakit
sistemik, varikokel, temperatur, antibodi sperma, obat-obatan, bahan
toksik, radiasi, dll.
2. Adanya hambatan pada saluran sperma, sperma yang telah diproduksi
testis harus melewati epididymis dan vas deferens sebelum
diejakulasikan. Bila terjadi sumbatan konsentrasi sperma dapat menjadi
nol (azoospermia).
3. Disfungsi seksual (sekitar 5 %), terjadi disfungsi ereksi dan ejakulasi yang
disebabkan karena cidera sumsum tulang belakang, diabetes, pasca
operasi daerah pelvis, penggunaan obat anti depresan dan obat anti
hipertensi.
4. Gangguan hormonal.
5. Riwayat penyakit sistemik seperti penyakit diabetes dan neurologis yang
dapat menyebabkan impotensi dan gangguan ejakulasi. Penyakit
tuberculosis juga dapat menyebabkan epididymitis dan prostatis yang
berhubungan dengan gangguan transport semen.
6. Demam yang melebihi suhu 38oC dapat menekan spermatogenesis
sampai 6 bulan lamanya. Demam akan menekan fungsi testis sehingga
akan menurunkan kadar testosterone.
7. Pemberian obat – obatan, dimana beberapa obat – obatan dapat
menyebabkan kerusakan spermatogenesis dan gangguan fertilitas
lainnya.
8. Pekerja yang berhubungan dengan radioaktif.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Secara keseluruhan pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis
pada pasien ini kondisi sperma normal. Pemeriksaan semen dilakukan
untuk mengevaluasi spermatogenesis dan fertil atau infertilnya seorang
pria. Analisis semen pada kasus infertilitas pria tidak hanya untuk
diagnosis tetapi juga berguna bagi terapi dan prognosis.
2. Saran
Saat hendak melakukan percobaan diperhatikan hal – hal penting
dalam memperoleh semen sehingga hasil yang didapatkan nantinya
akurat. Faktor – factor yang mempengaruhi juga perlu diperhatikan dan
pemeriksaan dilakukan segera setelah sampel ditampung.
Daftar Pustaka
Anonim. 2009. Spermatogenesis. (Online). Tersedia http://sarmanpsg
ala.wordpress.com/2009/06/01/spermatogenesis-proses-
pembentukan-sperma/. Diakses tanggal 8 Januari 2018 .
Anonim. 2011. Bioteknologi pada Sistem Reproduksi. Tersedia http://E-
bookbioteknologipdsistemreproduksi.pdf. Diakses tanggal 8 Januari
2018 .
Bowo, Tri. 2011. Enam Masalah Pada Sperma
Pria. (Online). Tersedia http:// kesehatan. kompas. com /read/2010/05
/19/17145773/ Masalah. pada. Sperma Pria. Diakses tanggal 8
Januari 2018.
WHO., 1999. WHO Laboratory Manual for the Examination of Human Semen
and Sperm- Cervical Mucus Interaction. Fifth Edition. Cambridge
University Press.2010
LAMPIRAN GAMBAR
Morfologi
Normal Giant Head

Pin Head Tidak ada Ekor