Anda di halaman 1dari 4

PENGUNGKAPAN SOSIAL DAN LINGKUNGAN: PERSPEKTIF

TEORITIS

1. PERKEMBANGAN SOSIAL AND ENVIROMENTAL DISCLOSURE


Praktik pengungkapan sukarela berupa pengungkapan social dan lingkungan
(PSL) makin meningkat selama beberapa tahun terakhir. Berbagai hasil studi
telah dilakukan di berbagai Negara dan dimuat di berbagai jurnal internasional.
Studi tersebut tidak saja dilakukan dengan menggunakan pendekatan positive
tetapi juga interpretive dan critical theory (Deegan, 2002). Lebih dari itu, isu
berkaitan dengan PSL telah ditulis dalam beberapa buku teori akuntansi di bab
tersendiri misalnya Mathew dan Perera (1996) dan Deegan (2000)
A. Lingkup Pengungkapan Sosial dan Lingkungan
Apa yang dinamakan pengungkapan social dan lingkungan? Selama ini
belum ada definisi tunggal yang dapat digunakan untuk menunjukkan
pengungkapan social dan lingkungan. Hal ini dibebankan perkembangan
praktik PSL masih dalam tahap embrio jika dibandingkan perkembangan
praktik pelaporan keuangan (Deegan, 2002). Akibatnya sampai sekarang
masih terdapat perbedaan pendapat berkaitan dengan isi PSL. Misalnya,
masih terdapat perbedaan pandangan tentang tujuan pengungkapan, kualitas
dan jenis informasi yang diungkapan, audiencenya, cara pengungkapan
yang terbaik dan sebagainya.
Namun demikian, terminology pengungkapan social dan lingkungan
mungkin dapat dikaitkan dengan konsep “social audit “yang dikemukakan
Elkington (1997). Menurut Elkington (1997) social audit adalah proses
yang memungkinkan organisasi untuk menilai kinerjanya berdasarkan
harapan dan persyaratan yang ditentukan masyarakat. Atas dasar definisi ini
pengungkapan social dan lingkungan merupakan proses yang digunakan
oleh perusahaan untuk mengungkapan informasi berkaitan dengan kegiatan
perusahaan dan pengaruhnya terhadap kondisi social masyarakat dan
lingkungan. Sampai saat ini tidak ada konsensus berkaitan dengan informasi
apa saja yang dimasukkan dalam PSL. Konsekuensinya, untuk menentukan
apa yang seharusnya diungkapkan, penyusun laporan keuangan biasanya
dihadapkan pada masalah bagaimana mengukur dan mengklasifikasikan
informasi dalam PSL. Misalnya, comprehensive study yang dilakukan oleh
AICPA pada tahun 1977 menyimpulkan beberapa temuan yang berkaitan
pengukuran social sebagai berikut:
1) Meskipun ada gap yang luas, perusahaan memiliki sejumlah informasi
tentang kegiatan perusahaan dan konsekuensi sosialnya; yang
kebanyakan dinamakan “social condition” yang dapat mempengaruhi
kehidupan individu.
2) Di berbagai area, informasi yang tersedia tidak lengkap dan sering tidak
akurat; biasanya tidak mengukur atau tidak mampu mengukur dengan
baik dampak social yang ditimbulkan
3) Informasi makin lengkap dan akurat ketika informasi tersebut diminta
oleh hokum, peraturan atau perjanjian kontaktual
4) Informasi kebanyakan berkaitan dengan karyawan, informasi tambahan
yang bermanfaat lainnya dapat berupa karakteristik produk, dampak
lingkungan dan bidang lain yang dipandang penting terutama karena
adanya peraturan pemerintah.
5) Sebagian perusahaan telah menggunakan informasi social dalam
menentukan kebijakan, praktik, melakukan tindakan dan memonitor
hasilnya. Meskipun demikian, seberapa jauh hal ini dilakukan
beravariasi dengan persyaratan hukum dan dengan gaya serta tujuan
manajemen.
6) Meningkatnya jumlah perusahaan yang menyajikan laporan berkaitan
dengan aspek social cenderung untuk menarik perhatian publik; laporan
ini mungkin salah karena adanya usaha yang hanya menekankan pada
fakta yang menguntungkan, atau menggunakan bahasa berlebihan. Akan
tetapi beberapa usaha yag sungguh-sungguh dan bermanfaat memang
telah dilakukan. Meskipun tidak ada prinsip umum dalam
penyajiaannya, ada beberapa metode disclosure yang masuk akal.
7) Perusahaan tidak meminta atau menerima laporan audit pihak ketiga
atas informasi yang disajikan, meskipun beberapa pendekatan
ditemukan dalam laporan tertentu. Misalnya pernyataan tentang dampak
lingkungan, terutama ketika ahli independen digunakan.
Tidak berapa lama setelah itu, Ernst and Ernst (1978) melakukan
survey dan menemukan bahwa pengungkapan dikatakan berkaitan
dengan isu social (dan lingkungan) jika pengungkapan tersebut berisi
informasi yang dapat dikategorikan kedalam berikut ini (p.22-28):
a) Lingkungan
b) Energi
c) Praktik bisnis yang wajar (fair)
d) Sumber daya manusia
e) Keterlibatan masyarakat
f) Produk yang dihasilkan
g) Pengungkapan lainnya.
Sementara itu Ulmann (1985) yang melakukan penelitian di Jerman
mengatakan bahwa dari perpsektif serikat kerja, pengungkapan social
dan lingkungan antara lain mencakup item berikut ini:
a) Kondisi Pekerjaan
b) Penghasilan Karyawan
c) Jam Kerja
d) Pengaruh Teknologi
e) Kualifikasi dan Pelatihan
f) Subsidi yang diterima dari perusahaan
g) Polusi lingkungan
h) Kontribusi perusahaan pada tujuan social seperti pembanguunan
daerah, pengangguran dan lain-lain.
Serupa dengan kedua pendapat di atas Wiseman (1982) berpendapat
bahwa pengungkapan social dan lingkungan biasanya berinformasi
tentang:
a) Diskusi tentang regulasi dan persyarat tentang dampak lingkungan
b) Kebijakan lingkungan atas kepedulian perusahaan tentang
lingkungan
c) Konservasi sumber alam
d) Penghargaan atas kepedulian terhadap lingkungan
e) Usaha melakukan daur ulang
f) Pengeluaran yang dilakukan perusahaan berkaitan dengan
penanganan lingkungan
g) Aspek hukum (litigasi) atas kasus berkaitan dengan dampak
lingkungan yang disebabkan perusahaan.
Atas dasar berbagai hal tersebut, Tinker et al (1991) mengatakan bahwa
SPL pada dasarnya merupakan refleksi atas munculnya konflik social
kapitalis dengan kelompok lain (seperti pekerja, kelompok pencinta
lingkungan, konsumen, dan lainnya). Tinker dan Niemark (1984, p.84)
yakin bahwa:
...publik, secara umum, menjadi makin sadar atas konsekuensi negatif
dari pertumbuhan perusahaan… Publik menekan bisnis dan pemerintah
untuk mengeluarkan dana guna memperbaiki atau mencegah
lingkungan fisik, untuk menjamin kesehatan dan keselamatan
konsumen, pekerja dan mereka yang tinggal di lingkungan dimana
produk dibuat dan limbah dibuang, dan untuk bertanggung jawab
terhadap konsekuensinya timbul dari adanya penutupan pabrik dan
pengangguran karena teknologi.
Atas dasar konflik yang muncul

2. TEORI YANG MELANDASI