Anda di halaman 1dari 14

PROFI SHARING DAN APLIKASINYA

DALAM PERBANKAN SYARIAH

Disusun oleh
Nama : Nurrahmania
Nim : (160201157)
Semster : III/D Muamalah

Dosen Pembimbing : Fariz Al-Hasni, S.H.I., M.H

JURUSAN MUAMALAH
FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
MATARAM
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita berbagai
macam nikmat, sehingga aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu membawa
keberkahan, baik kehidupan di alam dunia ini, lebih-lebih lagi pada kehidupan akhirat kelak,
sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita capai menjadi lebih mudah dan penuh
manfaat.

Terima kasih sebelum dan sesudahnya saya ucapkan kepada Dosen serta teman-
teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moriil maupun materil, sehingga
makalah ini terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.

Saya menyadari sekali, di dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangnya, baik dari segi tata bahasa maupun
dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-teman sekalian, yang kadangkala
hanya menturuti egoisme pribadi, untuk itu besar harapan saya jika ada kritik dan saran
yang membangun untuk lebih menyempurnakan makalah-makalah saya di lain waktu.

Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudah-mudahan apa
yang saya susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta orang lain yang
ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil hikmah dari judul ini
(PROFITSHARING DAN APLIKASINYA DALAM PERBANKAN SYARIAH) sebagai
tambahan dalam menambah referensi yang telah ada.

Mataram, 19Oktober 2017

Penulis, Nurrahmania
DAFAR ISI
HALAMAN JUDUL ...........................................................................................
KATA PENGANTAR .........................................................................................
DAFTAR ISI........................................................................................................
BAB I : PENDAHULUAN .............................................................................
A. Latar Belakang Maslah .................................................................
B. Rumusan Masalah .........................................................................
C. Tujuan ...........................................................................................
BAB II : PEMBAHASAN ...............................................................................
A. Bagi hasil (profit-sharing) .............................................................
B. Perbedaan Profit Sharing Dan Bunga ...........................................
C. Jenis-jenis Akad Bagi Hasil ..........................................................
D. Prosedur Bagi Hasil ......................................................................
E. Faktor-Faktor Dalam Bagi Hasil ...................................................
F. Perhitungan Profit Sharing atau Bagi Hasil..................................
BAB III :PENUTUP ..........................................................................................
A. Kesimpulan .............................................................................
B. Saran .......................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan pemikiran ekonomi Islam dan praktiknya pada dewasa ini
memberikan spirit bagi ilmuwan melirik bahkan melakukan kajian kbenaran ilmu langit
itu. Ekonomi Islam memilih landasan yang terdiri atas lima komponen, yaitu: tauhid, adil,
nubuwwah, khilafah dan ma’ad atau return.1
Jika pada mekanisme ekonomi konvensional menggunakan instrumen bunga maka
dalam mekanisme ekonomi Islam menggunakan bagi hasil. Salah satu bentuk instrumen
kelembagaan bagi hasil adalah bisnis dalam kelembagaan perbankan syariah.Mekanisme
lembaga keuangan Islam dengan menggunakan system bagi hasil, tanpaknya menjadi satu
alternatif pilihan bagi masyarakat bisnis.2
Yang menjadi inti dari mekanisme bagi hasil pada dasarnya adalah terletak pada
kerjasama yang baik antara shahibul maal dengan mudharib.Kerjasama atau partnership
merupakan karakteristik dalam masyarakat ekonomi Islam. Kerjasama konomi harus
dilakukan dalam semua inti kegiatan ekonomi, yaitu: produksi, konsumsi, distribusi
barang maupun jasa. Salah satu bentuk kerja sama dalam bisnis adalah mudharabah.
Melalui mudharabah kedua belah pihak yang bermitra tidak akan mendapat bunga tetapi
mendapatkan bagi hasil atau profit sharing dari proyek ekonomi yang disepakati
bersama.3
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian profit sharing
2. Apa saja akad pada Bagi Hasil?
C. Tujuan pembahasan ini dilakukan untuk mempelajari dan menambah wawasan dalam
memahami Manajemen Bank syari’ah.Khususnya pembahasan mengenai Distribusi Bagi
Hasil yang ada dalam Bank Syari’ah.

1
Akhmad Mujahidin, Hukum Perbankan Syariah, cet. ke-1, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), hlm. 47-48
2
Ibid.
3
Ibid.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian profit sharing
Profit sharing (bagi laba) adalah pembagian laba yang diperoleh dari keuntungan
atau pendapatan yang dikurangi beban yang berkaitan dengan pengelolaan dana
mudharabah. Keuntungan yang diperoleh harus dibagi secara proporsional antara shahibul
maal dengan mudharib.Dengan demikian, semua pengeluaran rutin yang berkaitan
dengan bisnis mudharabah, bukan untuk kepentingan pribadi mudharib, dapat dimasukan
ke dalam biaya operasional.Keuntungan bersih harus dibagi antara shahibul maal dengan
mudharib sesuai dngan proporsi yang disepakati sebelumnya dan secara eksplisit
disebutkan dalam perjanjian awal.Tidak ada pembagian laba sampai semua kerugian telah
ditutup dan modal shahibul maal telah dibayarkan kembali. Jika ada pembagian
keuntungan sebelum habis masa perjanjian akan di anggap sebagai pembagian kuntungan
di muka.4
Dasar pijakannya adalah:
1. Doktrin dalam kerjasama ekonomi Islam dapat menciptakan kerja produktif sehari-
hari dari masyarakat.
2. Meningkatkan kesejahteraan dan mencegah kesensaraan sosial.
3. Mencegah penindasan ekonomi dan distribusi kekayaan yang tidak merata.
4. Melindungi kepentingan ekonomi lemah.
5. Membangun organisasi yang berprinsip syarikat, sehingga terjadi proses yang kuat
membantu yang lemah.5
6. Pembagian kerja atau spesialisasi berdasarkan saling ketergantungan serta pertukaran
barang dan jasa karena tidak mungkin berdiri sendiri.
Melalui kerjasama ekonomi akan terbangun pemerataan dan kebersamaan.
Fungsi-fungsi di atas menunjukan bahwa melalui profit sharing (bagi hasil) akan
menciptakan suatu tatanan ekonomi yang lebih merata.6
Bank syariah, seperti halnya bank modern, akan menggunakan sebagian total
depositonya yang ada pada bank itu menurut pertimbangan untuk diinvestasikan dengan
dasar profit sharing dan bukan dengan menggunakan bunga. Bank akan
menginvestasikan dana tersbut dengan jangka waktu pendek kepada industri, komersial,

4
Akhmad Mujahidin, Hukum Perbankan Syariah, cet. ke-1, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), hlm. 48
5
Ibid.
6
Ibid.,hlm. 49
dan sumber-sumber menguntungkan lainnya, tetapi pada usaha-usaha yang memberikan
jaminan, berdasarkan profit sharing.7
Kelemahan utama bank Islam yaitu:
1. terletak pada sistem profit sharing-nya yang berisiko tinggi dan rentang terhadap
kemungkinan terjadinya bahaya moral. Hal itu disebabkan karena system tersebut
mengasumsikan bahwa semua orang adalah jujur, sehingga diperlukan usaha ekstra
untuk meneliti calon nasabah dan mengawasi secara seksama terhadap nasabah yang
menerima pembiayaan.
2. Secara praktis, para otoritas moneter Islam lebih memfokuskan usaha-usahanya pada
produk-produk mark up, sehingga pada banyak bank Islam terjadi perbandingan yang
timpang antara mark up yang membengkak dengan mudharabah yang dilakukan
sangat selektif.8
3. System profit sharing-nya memerlukan perhitungan-perhitungan yang rumit dan harus
mempunyai tenaga professional yang betul-betul lebih handal daripada tenaga bank
konvensional.
B. Perbedaan Profit Sharing Dan Bunga
Masyarakat cenderung menggunakan sistem bunga yang bertujuan untuk
mengoptimalkan pemenuhan kepentingan pribadi, sehingga kurang mempertimbangkan
dampak sosial yang ditimbulkan.Berbeda dengan sistem bagi hasil (profit sharing), sistem
ini berorientasi pemenuhan kemaslahatan hidup manusia.9
Untuk lebih jelasnya, perbedaan antara profit sharing dan bunga adalah sebagai
berikut: 10
1. Bunga:
a. Penentuan bunga dibuat pada waktu akat dengan asumsi harus selalu untung;
b. Besarnya presentase dengan jumlah uang (modal) yang dipinjamkan;
c. Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah
proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi;
d. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat
atau keadaan ekonomi sedang booming;
e. Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh semua agama termasuk
Islam;
7
Ibid.
8
Ibid.
9
Ibid.,hlm. 50
10
Ibid.,hlm. 51
f. Pada bank bagi hasil, penyaluran dana lebih berdasarkan pada pertimbangan
profitabilitas suatu proyek yang hendak dibiayai. Sedangkan pada bank
konvnsional mementingkan jaminan pengembalian nilai nominal plus bunga,
sekalipun profitabilitas proyek kurang meyakinkan.
2. Profit Sharing:
a. Penentuan besarnya rasio/nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan
berpedoman pada kemungkinan untung rugi;
b. Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan jumlah keuntungan yang diperoleh;
c. Bagi hasil bergantung pada keuntungan proyek dijalankan. Bila usaha merugi,
kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak;
d. Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan;
e. Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil.
C. Jenis-jenis Akad Bagi Hasil
Bentuk-bentuk kontrak kerjasama bagi hasil dalam perbankan syariah secara
umum dapat dilakukan dalam empat akad, yaitu Musyarakah, Mudharabah, Muzara'ah
dan Musaqah.Namun, pada penerapannya prinsip yang digunakan pada sistem bagi hasil,
pada umumnya bank syariah menggunakan kontrak kerjasama pada akad Musyarakah
dan Mudharabah.11
1. Musyarakah (Joint Venture Profit & Loss Sharing)
Adalah mencampurkan salah satu dari macam harta dengan harta lainnya
sehingga tidak dapat dibedakan di antara keduanya.Dalam pengertian lain
musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha
tertentu di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (atau
amal/expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung
bersama sesuai dengan kesepakatan.
Penerapan yang dilakukan Bank Syariah, musyarakah adalah suatu kerjasama
antara bank dan nasabah dan bank setuju untuk membiayai usaha atau proyek secara
bersama-sama dengan nasabah sebagai inisiator proyek dengan suatu jumlah
berdasarkan prosentase tertentu dari jumlah total biaya proyek dengan dasar
pembagian keuntungan dari hasil yang diperoleh dari usaha atau proyek tersebut
berdasarkan prosentase bagi-hasil yang telah ditetapkan terlebih dahulu.

11
Bakhrul Muchtasib, “Konsep Bagi Hasil Dalam Perbankan Syariah”, diakses dari
http://ulohtengpay.blogspot.co.id/konsep-bagi-hasil-dalam-perbankan.html, pada tanggal 10 Desember 2017.
20.45
2. Mudharabah (Trustee Profit Sharing)
Adalah suatu pernyataan yang mengandung pengertian bahwa seseorang
memberi modal niaga kepada orang lain agar modal itu diniagakan dengan perjanjian
keuntungannya dibagi antara dua belah pihak sesuai perjanjian, sedang kerugian
ditanggung oleh pemilik modal.
Kontrak mudharabah dalam pelaksanaannya pada Bank Syariah nasabah
bertindak sebagai mudharib yang mendapat pembiayaan usaha atas modal kontrak
mudharabah.Mudharib menerima dukungan dana dari bank, yang dengan dana
tersebut mudharib dapat mulai menjalankan usaha dengan membelanjakan dalam
bentuk barang dagangan untuk dijual kepada pembeli, dengan tujuan agar
memperoleh keuntungan (profit).
D. Prosedur Bagi Hasil
Nisbah bagi hasil merupakan faktor penting dalam menentukan bagi hasil di bank
syari’ah.Sebab aspek nisbah merupakan aspek yang disepakati bersama antara kedua
belah pihak yang melakukan transaksi. Untuk menentukan nisbah bagi hasil, perlu
diperhatikan aspek-aspek berikut seperti : data usaha, kemampuan angsuran, hasil usaha
yang dijalankan, nisbah pembiayaan dan distribusi pembagian hasil.12
Adapun untuk menghitung pendapatan bagi hasil yang diterima oleh bank maupun
nasabah dimana bank sebagai mudharib sedangkan nasabah sebagai sahibul maal,
dilakukan beberapa tahapan yang dilakukan sebagai berikut :13
1. Menentukan prinsip perhitungan bagi hasil
2. Menghitung jumlah pendapatan yang akan didistribusikan untuk bagi hasil
3. Menentukan sumber pendanaan yang digunakan sebagai dasar perhitungan bagi hasil
4. Menentukan pendapatan bagi hasil untuk bank dan nasabah
E. Faktor-Faktor Dalam Bagi Hasil
1. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penetapan margin dan bagi hasil
antaralain :14
a. Komposisi pendanaan
Bagi bank syari’ah yang pendanaannya sebagian besar diperoleh dari dana giro
dan tabungan, yang notabene nisbah nasabah tidak setinggi pada deposan (apalagi

12
Retno Witaningyas., ”Manajemen Bank Syariah tentang Bagi Hasil”, diakses dari
https://www.kompasiana.com/manajemen-bank-syariah-tentang-bagi-hasil_57396ecbb17e612007357a34,
Pada tanggal 10 Desember 2017. 21.30
13
Ibid.
14
Ibid.
bonus/athaya untuk giro cukup rendah karena diserahkan sepenuhnya pada
kebijakan bankmsyari’ah yang bersangkutan), maka penentuan keuntungan
(margin atau bagi hasil bank) akan lebih kompetitif jika dibandingkan suatu bank
yang pendanaannya porsi terbesar berasal dari deposito.
b. Tingkat Persaingan
Jika tingkat kompetisi ketat, porsi keuntungan bank tipis, sedangkan pada tingkat
persaingan masih longgar bank dapat mengambil keuntungan lebih tinggi.
c. Risiko pembiayaan
Untuk pembiayaan pada sektor yang berisiko tinggi, bank dapat mengambil
keuntungan lebih tinggi dibandingkan yang berisiko sedang apalagi kecil.
d. Jenis nasabah
Yang dimaksudkan adalah nasabah prima dan nasabah biasa.Bagi nasabah prima,
misal usahanya besar dan kuat, bank cukup mengambil keuntungan tipis,
sedangkan untuk pembiayaan kepada para nasabah biasa diambil keuntungan yang
lebih tinggi.
e. Kondisi perekonomian
Siklus ekonomi meliputi kondisi : revival, boom/peak-puncak, resesi dan depresi.
Jika perekonomian secara umum berada pada dua kondisi pertama, dimana usaha
berjalan lancar, maka bank dapat mengambil kebijakan pengambilan keuntungan
yang lebih longgar.Namun pada kondisi lainnya (resesi dan depresi) bank tidak
merugi pun sudah bagus, keuntungan sangat tipis.
f. Tingkat keuntungan yang diharapkan bank
Secara kondisional, hak ini (spread bank) terkait dengan masalah keadaan
perekonomian pada umumnya dan juga risiko atas suatu sektor pembiayaan atau
pembiayaan pada debitur dimaksud.Namun demikian, apapun kondisinya serta
siapa pun debiturnya, bank dalam operasionalnya, setiap tahun tentu telah
menetapkan berapa besar keuntungan yang dianggarkan. Anggaran keuntungan
inilah yang akan berpengaruh pada kebijakan penentuan besarnya margin ataupu
nisbah bagi hasil untuk bank.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi bagi hasil yaitu sebagai berikut :
a. Invesment Rate yaitu merupakan persentase dana yang di investasikan kembali
oleh bank syari’ah baik ke dalam pembiayan maupun penyaluran dan lainnya.
Kebijakan ini diambil karena adanya ketentuan dari Bank Indonesia, bahwa
sejumlah persentase tertentu atas dana yang dihimpun dari masyarakat, tidak
boleh diinvestasikan, akan tetapi harus ditempatkan dalam giro wajib minimum
untuk menjaga likuiditas bank syari’ah. Giro wajib minimum (GWM) merupakan
dana yang wajib dicadangkan oleh setiap bank untuk mendukung likuiditas bank.
b. Total dana investasi yaitu total dana investasi yang diterima oleh bank syari’ah
akan mempengaruhi bagi hasil yang diterima oleh nasabah investor. Total dana
ynag berasal dari investasi mudharabah dapat dihitung menggunakan saldo
minimal bulanan atau saldo harian. Saldo minimal bulanan merupakan saldo
minimal yang pernah mengendap dalam satu bulan. Saldo minimal akan
digunakan sebagai dasar perhitungan bagi hasil. Saldo harian merupakan saldo
rata-rata pendapatan yang dihitung secara harian, kemudian niminal saldo harian
yang digunakan sebagai dasar perhitungan bagi hasil.
c. Jenis dana yaitu invetasi mudharabah dalam penghimpunan dana, dapat
ditawarkan dalam beberapa jenis yaitu: tabungan mudharabah, depositi
mudharabah, dan sertifikat investasi mudharabah antarbank syari’ah (SIMA).
Setiap jenis dana investasi memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga
akan berpengaruh pada besarnya bagi hasil.
d. Nisbah yaitu merupakan persentase tertentu yang disebutkan dalam akad kerja
sama usaha (mudharabah dan musyarakah) yang telah disepakati antara bank dan
nasabah investor. Karakteristik nisbah akan berbeda-beda dilihat dari beberapa
segi antara lain :
1) Persentase nisbah antarbank syari’ah akan berbeda, hal ini tergantung pada
kebijakan masing-masing bank syari’ah.
2) Persentase nisbah akan berbeda sesuai dengan jenis dana yang dihimpun.
Misalnya, nisbah antara tabungan dan deposito akan berbeda.
3) Jangka waktu investasi mudharabah akan berpengaruh pada besarnya
persentase nisbah bagi hasil. Misalnya, nisbah untuk deposito berjangka
dengan jangka waktu satu bulan akan berbeda dengan deposito berjangka
dengan jangka waktu tiga bulan dan seterusnya.15
e. Metode perhitungan bagi hasil yaitu bagi hasil akan berbeda tergantung pada
dasar perhitungan bagi hasil, artinya bagi hasil yang dihitung dengan
menggunakan konsep revenue sharing dan bagi hasil dengan menggunakan
profit/loss sharing. Bagi hasil yang menggunakan revenue sharing, dihitung dari

15
Ibid.
pendapatan kotor sebelum dikurangi dengan biaya. Bagi hasil dengan profit/loss
sharing dihitung berdasarkan persentase nisbah dikalikan dengan laba usaha
sebelum pajak.
F. Perhitungan Profit Sharing atau Bagi Hasil
1. Menentukan prinsip perhitungan bagi hasil
Prinsip perhitungan bagi hasil sangat penting ditentukan di awal dan diketahui
oleh kedua belah pihak yang akan melakukan kerjasama bisnis karena apabila hal ini
tidak dilakukan, maka akan terjadi ghoror, sehingga transaksi tidak sesuai dengan
prinsip syariah. Dewan Syariah Nasional dalam fatwanya dengan nomor 15 tahun
2000 menyatakan bank syariah boleh menggunakan prinsip bagi hasil (revenue
sharing) maupun bagi untung (profit sharing) sebagai dasar bagi hasil.16
Pada Profit Sharing (bagi laba), perhitungan bagi hasil berdasarkan pada laba,
yaitu pendapatan usaha dikurangi beban usaha. Misalnya, pendapatan usaha Rp
1.000,00 dan beban usaha Rp 700,00 maka laba yang akan dibagi adalah Rp 300,00
(Rp 1000- Rp 700).
Dalam hal ini, semua pihak yang terlibat dalam akad mendapat Bagi Hasil
dengan laba yang diperoleh bahkan tidak mendapat laba apabila pengelola laba
mengalami kerugian.Di sini unsur keadilan betul-betul diterapkan, sehingga apabila
laba besar maka pemilik juga mendapatkan bagian besar dan sebaliknya.
Sementara pada Revenue Sharing (bagi pendapatan), perhitungan bagi hasil
yang mendasarkan pada pendapatan usaha tanpa dikurangi beban usaha.
Pengelola dana harus menjalankan usahanya dengan penuh kehati-hatian
sehingga resiko kerugian dapat ditekan sekecil mungkin.
Dilihat dari segi kemashlahatan, saat ini pembagian hasil usaha sebaiknya
digunakan prinsip bagi hasil (revenue sharing), sesuai dengan fatwa Dewan Syariah
Nasional.
Bagi hasil dalam bank syariah menggunakan istilah nisbah bagi hasil, yaitu
proporsi bagi hasil antara nasabah dan bank syariah.Misalnya, jika bank syariah
menawarkan nisbah bagi hasil tabugan 65:35. Itu artinya nasabah bank syariah akan
memperoleh hasil sebesar 65% dari return investasi yang dihasilkan oleh bank
syariah. Sementara bank syariah akan mendapatkan porsi bagi hasil sebesar 35%.
2. Menghitung Bagi Hasil

16
Ibid.
Setelah menentukan prinsip perhitungan bagi hasil yang akan digunakan,
misalnya menggunakan Revenue Sharing. Tahap selanjutnya adalah menghitung
pendapatan yang akan didistribusikan sebagai pendapatan bagi hasil untuk bank dan
nasabah. Dalam perolehan pendapatan, terdapat dua variasi sumber dana untuk
memperoleh pendapatan yang diterima oleh bank, yaitu sebagai berikut:
a. Seluruh pendapatan berasal dari pembiayaan yang sumbernya dari dana nasabah.
b. Sebagian pendapatan berasal dari pembiayaan yang sumbernya dari dana nasabah
dan sebagian pendapatan dari modal bank.
Oleh karena adanya variasi tersebut, maka perlu dipisahkan mana yang
pendapatannya diterima dari sumber dana nasabah dan yang berasal dari bank. Hal ini
penting karena jika pendapatan diperoleh dari sumber dana yang dimiliki bank, maka
tidak ada distribusi bagi hasil untuk nasabah, artinya semua pendapatan menjadi hak
bank. apabila pendapatan berasal dari pembiayaan yang sumbernya dari dana nasabah.
Maka pendapatan tersebut, harus didistribusikan untuk nasabah dan bank.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sistem bagi hasil yang diterapkan di dalam perbankan syari'ah terbagi kepada dua
sistem, yaitu; pertama.Profit Sharing yaitu sistem bagi hasil yang didasarkan pada hasil
bersih dari pendapatan yang diterima atas kerjasama usaha, setelah dilakukan
pengurangan-pengurangan atas beban biaya selama proses usaha tersebut.
Kedua.Revenue Sharing adalah sistem bagi hasil yang didasarkan kepada total seluruh
pendapatan yang diterima sebelum dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan
untuk memperoleh pendapatan tersebut.
Di dalam perbankan syari'ah Indonesia sistem bagi hasil yang diberlakukan adalah
sistem bagi hasil dengan berlandaskan pada sistem revenue sharing. Bank syari'ah dapat
berperan sebagai pengelola maupun sebagai pemilik dana, ketika bank berperan sebagai
pengelola maka biaya tersebut akan ditanggung oleh bank, begitu pula sebaliknya jika
bank berperan sebagai pemilik dana akan membebankan biaya tersebut pada pihak
nasabah pengelola dana.
DAFTAR PUSTAKA