Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

JIWA SEHAT PADA USIA INFANT

OLEH:

FISKA YULIANI

070116B017

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Masa bayi merupakan masa awal kehidupan manusia. Perkembangan masa
bayi sangat mempengaruhi dasar dari perilaku individu di kehidupan selanjutnya.
Untuk itu sangat perlu diperhatikan, sehingga selain penulis menyampaikan tugas
yang menjadi amanah dosen, penulis berkesempatan untuk mengetahui
perkembangan sosio-emosional yang dalam hal ini sangat bermanfaat bagi kita
semua.
Perkembangan psikososial bayi dimulai pada usia 1-2 bulan memperlihatkan
rasa senang-nyaman berdekatan dengan orang yang dikenal, usia 4-7 bulan
memberikan respon emosional terhadap kontak sosial, dan usia 9-10 bulan mulai
lepas dari pengasuhnya karena sudah dapat merangkak atau meraih sesuatu. Usia 1
tahun tampak interaktif rasa aman dengan ibu atau pengasuhnya dan usia 2 tahun
mulai mengikuti perbuatan.
Adanya gangguan psikososial ini kemungkinan dapat memperkirakan apakah
anak akan cendrung menjadi pendiam atau hiperaktif. Adanya gangguan ini perlu
mendapatkan perhatian orang tua, karena biasanya berhubungan dengan gangguan
lainnya seperti hiperaktif dengan terlambat bicara.
Dalam perkembangan psikososial, khususnya pada masa bayi, memiliki
hubungan dengan perihal keterikatan (attachment), perkembangan psikososial,
temperamen, perkembangan rasa percaya, dan emosi.
BAB II

TINJUAN TEORI

A. TEORI PERKEMBANGAN USIA INFANT


1. Perkembangan Bayi
Masa bayi berlangsung pada usia 0-1 tahun pertama setelah priode bayi yang
baru lahir dua minggu. Meskipun masa bayi sering dianggap sebagai masa bayi baru
lahir, tetapi label masa bayi akan digunakan untuk membedakannya dengan priode
pascanatal yang ditandai dengan keadaan sangat tidak berbahaya. Selama beberapa
bulan masa bayi keadaan tidak berdaya itu secara berangsur-angsur agak menurun.
Akan tetapi tidak berarti bahwa keadaan tidak berdaya secara cepat menghilang dan
bayi menjadi mandiri, melainkan setiap hari setiap minggu dan setiap bulan bayi
semangkin mampu mandiri sehingga saat masa bayi berakhir pada ulang tahun ke-2
ia menjadi seseorang yang berbeda dengan awal masa bayi. Karena istilah bayi
banyak ditafsirkan sebagai individu yang tidak berdaya, maka semangkin umum
orang menamakan masa bayi selama dua tahun itu sebagai anak kecil yang baru
belajar berjalan. Anak kecil adalah anak bayi yang telah berhasil menguasai
tubuhnya sehingga relatif mandiri. (Hurlock, Elizabeth : 2002).
2. Ciri-Ciri Masa Bayi
Ciri-ciri tersebut membedakan masa bayi dari periode-periode sebelumnya dan
sesudahnya berikut ini adalah ciri-ciri yang penting.
a. Masa bayi adalah masa dasar yang sesungguhnya.
Meskipun seluruh masa anak-anak terutama tahun-tahun awal dianggap
sebagai masa dasar. Namun masa bayi adalah dasar priode kehidupan yang
sesungguhnya karena pada saat ini banyak pola prilaku, sikap dan pola ekspresi
emosi terbentuk.
b. Masa bayi adalah masa dimana pertumbuhan dan perubahan berjalan pesat.
Bayi berkembang pesat baik secara fisik maupun secara psikologis.
Dengan cepatnya pertumbuhan ini perubahan tidak hanya terjadi dalam
penampilan tetapi juga dalamkemampuan. Bayi lambat laun menjadi tidak
segrmuk seperti pada saat dilahirkan dan anggota-anggota tubuh berkembang
dalam perbandingan yang lebih baik terhadap kepala yang besar. Perubahan
dalam perbandingan tubuh disertai dengan pertumbuhan tinggi dan berat tubuh.
Meskipun pertumbuhan pesat terjadi pada seluruh periode bayi, namun yang
terpesat adalah dalam tahun pertama.
c. Masa bayi adalah masa berkurangnya ketergantungan.
Berkurangnya ketergantungan pada orang lain merupakan efek dari
pesatnya perkembangan pengendalian tubuh yang memungkinkan bayi duduk,
berdiri, berjalan dan menggerakan benda-benda. Gerakan-gerakan bayi yang acak
dan menyeluruh kembali menjadi gerakan yang terkoordinasi sehingga
memungkinkan bayi melakukan sendiri hal-hal sebelumnya harus dilakukan oleh
orang lain. Dengan berkurangnya ketergantungan bayi tidak senang diperlakukan
seperti bayi. Ia tidak lagi mau memberikan orang lain melakukan hal-hal yang
dapat dilakukan atau yang dianggapnya dapat dilakukan sendiri
d. Masa bayi adalah masa meningkatnya individualitas.
Hal yang terpenting dalam meningkatkan kemandirian adalah bahwa
kemungkinan ini memungkinkan bayi mengembangkan hal-hal yang sesuai
dengan minat dan kemampuannya, individualis yang tampak pada waktu lahir
semangkin menonjol pada saat menjelang akhir pada masa bayi. Individualis
tampak dalam penampilan dan pola-pola prilaku bahkan bayi kembarpun
menampakkan individualisnya.
Dengan meningkatnya individualis maka setiap bayi harus diperlukan sebagai
individu. Tidak dapat lagi semua bayi diharapkan tumbuh berdasarkan makanan
yang sama atau adanya jadwal makan dan tidur yang sama.
e. Masa bayi adalah masa menarik
Meskipun menurut orang dewasa bayi mempunyai bayi mempunyai
ukuran tubuh yang tidak wajar tetapi bayi menarik justru karena kepalanya
besar,perutnya buncit, anggota badannya kecil dan kurus, tangan dan kakinya
kurus, tangan dan kakinya kecil, kalau bayi memakai baju dan diselubungi
dengan selimut bayi, membuatnya semangkin menarik. (Hurlock, Elizabeth :
2002).
3. Perkembangan fisik
Pertumbuhan yang pesat selama rentang kehidupan terjadi pada masa bayi dan
pada periode pubertas. Selama eenam bulan pertama, pertumbuhan terus terjadi
dengan pesat seperti pada priode pranatal dan kemudian mulai menurun dalam kedua
tingkat pertumbuhan cepat menurun selama tahun pertama peningkatan berat tubuh
lebih besar dari pada peningkatan tinggi selama tahun ke-2 terjadi hal sebaliknya.
Kalau pertumbuhan pesat yang meruupakan ciri dari periode pranatal dari awal priode
pascanatal tidak berkurang setelah lahir, anak dapat tumbuh menjadi raksasa.
Meskipun pola umum dari pertumbuhan dan perkembangan sama bagi semua bayi,
tetapi tetap ada perbedaan dalam tinggi, berat, kemampuan sensorik, dan bidang
perkembangan fiisik lain. Beberapa bayi memulai kehidupan dengan badan yang lebih
kecil dan perkembangan yang kurang normal. Mungkin ini disebabkan karena belum
cukup umur atau kondisi fisik yang buruk akibat ibu kurang gizi, mengalami tekanan
atau kondisi kurang baik lainnya selama pranatal. Akibatnya bayi itu cendrung
ketinggalan dengan tema-teman sebayanya dalam tahun-tahun dimasa bayi. (Hurlock,
Elizabeth : 2002).
4. Perkembangan Psikososial Usia Bayi
a. Ciri-ciri Perkembangan Psikososial
1) Perkembangan psikososial bayi dimulai pada usia 1-2 bulan memperlihatkan
rasa senang-nyaman berdekatan dengan orang yang dikenal
2) Usia 4-7 bulan memberikan respon emosional terhadap kontak sosial
3) Usia 9-10 bulan mulai lepas dari pengasuhnya karena sudah dapat merangkak
atau meraih sesuatu.
4) Usia 1 tahun tampak interaktif rasa aman dengan ibu atau pengasuhnya dan
5) Usia 2 tahun mulai mengikuti perbuatan orang lain diluar ibu atau
pengasuhnya, bermain sendiri atau dengan orang lain. (Desmita : 2009).
b. Tahap Perkembangan Usia Bayi
Menurut Erik Erikson (1963) perkembangan psikososial terbagi menjadi
beberapa tahap. Masing-masing tahap psikososial memiliki dua komponen, yaitu
komponen yang baik (yang diharapkan) dan yang tidak baik (yang tidak
diharapkan). Perkembangan pada fase selanjutnya tergantung pada pemecahan
masalah pada tahap masa sebelumnya.
Dari pendapat Erik Erikson tadi maka tahap-tahap perkembangan psikososial yang
dilalui bayi hanya ada satu yaitu sebagai berikut :
1) Percaya Vs Tidak percaya ( 0-1 tahun )
Komponen awal yang sangat penting untuk berkembang adalah rasa percaya.
Membangun rasa percaya ini mendasari tahun pertama kehidupan. Begitu bayi
lahir dan kontak dengan dunia luar maka ia mutlak tergantung dengan orang
lain. Rasa aman dan rasa percaya pada lingkungan merupakan kebutuhan. Alat
yang digunakan bayi untuk berhubungan dengan dunia luar adalah mulut dan
panca indera, sedangkan perantara yang tepat antara bayi dengan lingkungan
adalah ibu.
c. Perkembangan Emosi
Emosi adalah perasaan atau afeksi yang melibatkan gejolak fisiologis dan
perilaku yang tampak sekaligus. Emosi pun diklasifikasi menjadi dua yaitu,
afektifitas positif (antusiasme, kegembiraan, kesabaran, dan ketenangan) dan
afektifitas negatif (kecemasan, kemarahan, rasa bersalah, dan kesedihan).
Sedangkan, yang dinamakan dengan emosionalitas pada perangai bayi adalah
kecenderungan untuk mengalami kesulitan (distressed). (Desmita : 2009).
Dalam perkembangan anak, emosi memiliki peranan-peranan tertentu,
seperti, media untuk penyesuaian diri dan mempertahankan kelangsungan
hidup (adaptation & survival). Emosi pun memiliki fungsi sebagai media
pengaturan diri (regulation).Dan juga berfungsi sebagai media komunikasi.
(Desmita : 2009).
Gejala awal perilaku emosional adalah keterangsangan umum terhadap
stimulus yang kuat. Keterangsangan berlebih-lebihan tampak dalam aktivitas yang
banyak pada bayi yang baru lahir. Meski begitu, reaksi emosional pada bayi yang
masih dalam periode neo natal, kurang spesifik, karena hanya menampakan reaksi
terhadap kesenangan dan ketidak senangan. Seiring pertambahan usianya, ekspresi
emosional bayi sekitar satu tahun, telah menyerupai ekspresi yang ditampakkan
oleh orang dewasa. (Desmita : 2009).
Biasanya, emosi pada bayi hanya ditunjukkan dengan menangis dan
tersenyum, karena kedua hal itu adalah mekanisme yang terpenting untuk
mengembangkan komunikasi bayi tersebut. (Desmita : 2009).

Perkembangan Emosi Bayi:

NO UMUR UMUR EKSPRESI EMOSI

1. 0 – 1 bulan Senyuman sosial


2. 3 bulan Senyuman kesenangan
3. 3 – 4 bulan Kehati-hatian
4. 4 bulan Kelurahan
5. 4 – 7 bulan Kegembiraan, kemarahan
6. 5 – 9 bulan Ketakutan
7. 18 bulan Malu

d. Perkembangan Temperamen
Temperamen merupakan sebuah aspek karakter yang menyelubungi
seseorang secara umum, yang dibentuk oleh kecenderungan-kecenderungan pola-
pola khusus reaksi emosional, perubahan suasana hati, dan tingkat kepekaan yang
dihasilkan rangsangan. Temperamen juga bisa dilihat sebagai reaksi seseorang
terhadap respon lingkungannya. Temperamen umumnya diperoleh seseorang
melalui orang tuanya dengan cara diturunkan, juga dipengaruhi lingkungan
sekitar. Perbedaan kualitas dan intensitas respons emosional serta pengaturan diri
yang memunculkan perilaku individual yang terlihat sejak lahir, yang relatif stabil
dan menetap dari waktu ke waktu dan pada semua situasi yang dipengaruhi oleh
interaksi antara pembawaan, kematangan, dan pengalaman. (Aziz Alimul
Hidayat : 2008).
Beberapa bayi sangat aktif menggerakkan tangan, kaki dan mulutnya tanpa
henti-hentinya, tetapi bayi lain terlihat sangat tenang. Sebagian bayi merespons
dengan hangat kepada orang lain cerewet, rewel dan susah diatur. Semua gaya
perilaku ini merupakan tempramen seorang bayi. (Aziz Alimul Hidayat : 2008).
e. Tahap Attachment
Attachment adalah sebuah istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh J.
Bowlby tahun 1958 untuk menggambarkan pertalian atau ikatan antara ibu dan
anak. Kebanyakan ahli psikologi perkembangan mempercayai
bahwa attachment pada bayi merupakan dasar utama bagi pembentukan
kehidupan sosial anak di kemudian hari. Menurut J. Bowlby,
pentingnya attachment dalam tahun pertama kehidupan bayi adalah karena bayi
dan ibunya secara naluriah memiliki keinginan untuk membentuk suatu
katerikatan. (Aziz Alimul Hidayat : 2008).
Ada 4 tahap perkembangan attachment pada bayi adalah sebagai berikut :
a) Tahap Indiscriminate Sosiability (0-2 bulan)
Bayi tidak membedakan antara orang- orang dan merasa senang dengan atau
menerima dengan senang orang yang dikenal dan yang tidak dikenal.
b) Tahap Attachment Is The Makin (2-7 bulan)
Bayi mulai mengakui dan menyukai orang-orang yang dikenal, tersenyum
pada orang yang lebih dikenal.
c) Tahap Specific, Clear-Cut Attachment (7-24 bulan),
Bayi telah mengembangkan keterikatan dengan ibu atau pengasuh pertama
lainnya dan akan berusaha untuk senantiasa dekat dengannya, akan menangis
ketika berpisah dengannya.
d) Tahap Goal-Coordination Partenerships (24- seterusnya)
Bayi merasa lebih aman dalam berhubungan dengan pengasuh pertama, bayi
tidak merasa sedih selama berpisah dengan ibunya atau pengasuh pertamanya
dalam jangka waktu yang lama. (Aziz Alimul Hidayat : 2008).
5. Perkembangan Rasa Percaya
Menurut Erik Erikson (1968), pada tahun pertama (bayi usia 1-2 bulan)
kehidupan ditandai dengan adanya tahap perkembangan rasa percaya dan rasa tidak
percaya. Erikson meyakini bayi dapat mempelajari rasa percaya apabila mereka
diasuh dengan cara yang konsisten. Rasa tidak percaya dapat muncul apabila bayi
tidak mendapatkan perlakuan yang baik. Gagasannya tersebut banyak persamaanya
dengan konsep Ainsworth tentang keterikatan yang aman (secure attachment).
Rasa percaya dan tidak percaya tidak muncul hanya pada tahun pertama
kehidupan saja. Tetapi rasa tersebut muncul lagi pada tahap perkembangan
selanjutnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat anak-anak memasuki
sekolah dengan rasa percaya dan tidak percaya dapat mempercayai guru tertentu yang
banyak memberikan waktu baginya sehingga membuatnya sebagai orang yang dapat
dipercayai. Pada kesempatan kedua ini, anak mengatasi rasa tidak percaya
sebalumnya. Sebaliknya, anak-anak yang meninggalkan masa bayi dengan rasa
percaya pasti pada tahap selanjutnya masih dapat memiliki rasa tidak percaya, yang
mungkin terjadi karena adanya konflik atau perceraian kedua orang tuanya. Erikson
menekankan bahwa tahun kedua kehidupan ditandai oleh tahap otonomi versus rasa
malu dan ragu-ragu. (Aziz Alimul Hidayat : 2008).
6. Tugas Perkembangan
Karena pola perkembangan dapat diramalkan meskipun bayi yang berbeda
mencapai hal-hal yang penting pada pola ini dalam usia yang agak berbeda, dapatlah
dibuat standar dari harapan-harapan sosial dalam bentuk tugas-tugas perkembangan.
Misalnya, semua bayi diharapkan belajar berjalan, memakan makanan padat, sedikit
mengendalikan alat-alat pembuangan, mencapai stabilitas fsiologis yang baik
(terutama dalam irama lapar dan tidur), mempelajari dasar-dasar berbicara, dan
berhubungan secara emosional dengan orang tua dan saudara-saudara kandung
sampai derajat tertentu dan tidak sepenuhnya tersendiri seperti pada saat dilahirkan.
(B. Hurlock, Elizabeth : 2002).
Masa bayi disebut juga sebagai periode vital, karena kondisi fisik dan mental
bayi menjadi fundasi kokoh bagi perkembangan dan pertumbuhan selanjut nya.
Karena itu peranannya sangat vital dan penting.Lagi pula,pada periode ini
berlangsung proses pertumbuhan yang cepat sekali. Bayi yang baru lahir dan
sehat,dengan cepat akan belajar menyesuaikan diri dengan alam lingkungan nya,dan
melalkukan tugas-tugas perkembangan tertentu.Ada tugas-tugas melakukan kegiatan
yang harus dilatihnya setiap waktu, agar bayi atau anak mampu melakukan adaptasi
sosial (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial), dan mampu mempertahan kan
kelangsungan hidupnya.Misal nya tugas pendisiplinan diri atau pembiasaaan diri,
makan dan tidur secara teratur, dan belajar patuh.(Aziz Alimul Hidayat : 2008).
STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN SEHAT MENTAL
PADA INFANT

.
B. Tahap Bayi (Basic Trust Vs Miss Trust)
1. Pengertian
Adalah tahap perkembangan bayi usia 0-18 bulan dimana pada usia ini bayi
belajar terhadap kepercayaan dan ketidakpercayaan. Masa ini merupakan krisis
pertama yang dihadapi oleh bayi.
2. Karakteristik Perilaku
 Karakteristik Normal
1) Menangis ketika ditinggalkan oleh ibunya
2) Menangis saat basah, lapar, haus, dingin, panas, sakit.
3) Menolak atau menangis saat digendong oleh orang yang tidak dikenalnya
4) Segera terdiam saat digendong, dipeluk atau dibuai
5) Saat menangis mudah dibujuk untuk diam kembali
6) Menyembunyikan wajah dan tidak langsung menangis saat bertemu dengan
orang yang tidak dikenalnya
7) Mendengarkan musik atau bernyanyi dengan senang
8) Menoleh mencari sumber suara saat namanya dipanggil
9) Saat diajak bermain memperlihatkan wajah senang
10) Saat diberikan mainan meraih mainan atau mendorong dan membantingnya.
Diagnosa keperawatan : Kesiapan peningkatan perkembangan infant
3. Intervensi
Intervensi Generalis
a. Segera menggendong, memeluk dan membuai bayi saat bayi menangis
b. Memenuhi kebutuhan dasar bayi (lapar, haus, basah, sakit)
c. Memberi selimut saat bayi kedingingan
d. Mengajak berbicara dengan bayi
e. Memanggil bayi sesuai dengan namanya
f. Mengajak bayi bermain (bersuara lucu, menggerakkan benda, memperlihatkan
benda berwarna menarik, benda berbunyi)
g. Keluarga bersabar dan tidak melampiaskan kekesalan atau kemarahan pada bayi
h. Segera membawa bayi kepada pusat layanan kesehatan bila bayi mengalami
masalah kesehatan atau sakit.

Intervensi Spesialis
 Terapi stimulasi perkembangan psikososial anak usia 0-18 bulan.
DAFTAR PUSTAKA

Potter, Patricia A. and Perry, Anee G. (1985). Fundamentals of Nursing concept, process, and
practice. St. Louis : The C.V. Mosby Company
Spesialis Jiwa FIK 2005-2007 dan tim pengajar spesialis jiwa (2008). Draft Standar Asuhan
Keperawatan Program Spesialis Jiwa. Jakarta : Progaram Magister Keperawatan Jiwa
FIK UI
Stolte, K. (2004), Diagnosa Keperawatan Sejahtera. Jakarta: EGC