Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

ECT (ELECTRO CONVULSIVE THERAPY)

Disusun Oleh:
FISKA YULIANI
070116B017

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
2017
A. Pengertian
ECT atau yang lebih dikenal dengan elektroshock atau terapi kejut listrik adalah
suatu terapi psikiatri yang menggunakan energi shock listrik dalam usaha pengobatannya.
Diperkirakan hampir 1 juta orang di dunia mendapat terapi ECT setiap tahunnya dengan
intensitas antara 2-3 kali seminggu. ECT efektif pada hampir 75% pasien yang menjalankan
prosedur dengan benar.
Terapi ECT adalah suatu pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mal secara
artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui electrode yang dipasang pada satu atau
dua temples. (Stuart Sundeen, 1998).
Electro Convulsive Therapy/ ECT merupakan suatu pengobatan untuk penyakit
psikiatri berat dimana pemberian arus listrik singkat pada kepala digunakan untuk kejang
tonik klonik umum. (Szuba and Doupe, 1997).
ECT bertujuan untuk menginduksi suatu kejang klonik yang dapat memberi efek
terapi (therapeutic clonic seizure) setidaknya selama 15 detik. Kejang yang dimaksud adalah
suatu kejang dimana seseorang kehilangan kesadarannya dan mengalami rejatan. Tentang
mekanisme pasti dari kerja ECT sampai saat ini masih belum dapat dijelaskan dengan
memuaskan. Namun beberapa penelitian menunjukkan kalau ECT dapat meningkatkan
kadar serum brain-derived neurotrophic factor (BDNF) pada pasien depresi yang tidak
responsif terhadap terapi farmakologis.
Terapi ini menghasilkan kejang-kejang karena pengaruh aliran listrik yang
diberikan pada pasien melalui elektroda-elektroda pada lobus frontalis. Dalam
electroconvulsive terapi, arus listrik dikirim melalui kulit kepala ke otak. Elektroda
ditempatkan pada kepala pasien dan dikendalikan, menyebabkan kejang-kejang singkat di
otak.
Pada saat terapi ini dijalankan, pasien akan kejang-kejang dan kehilangan
kesadaran, kemudian kejang-kejang lambat laun hilang. Sebelum ECT, pasien diberi
relaksan otot setelah anestesi umum. Bila ECT dilakukan dengan benar, akan menyebabkan
pasien kejang, dan relaksasi otot diberikan untuk membatasi respon otot selama episode.
Karena otot rileks, penyitaan biasanya akan terbatas pada gerakan kecil tangan dan kaki.
Pasien dimonitor secara hati-hati selama perawatan. Pasien terbangun beberapa menit
kemudian, tidak ingat kejadian seputar perlakuan atau perawatan, dan sering bingung.
B. Prinsip Terapi
Secara umum, diperlukan 2 atau 3 kali perawatan sebelum efek terlihat, dan 4-5 kali
pengobatan untuk perbaikan nyata. Kini, jumlah tindakan yang dilakukan merupakan
rangkaian yang bervariasi pada tiap pasien tergantung pada masalah pasien dan respons
terapeutik sesuai hasil pengkajian selama tindakan.
1. Biasanya diberikan satu terapi per hari berselang-seling.
2. Rentang jumlah yang paling umum dilakukan pada pasien dengan gangguan afektif atau
depresi antara 6 sampai 12 kali, mania dan katatonik membutuhkan 10-20 terapi,
sedangkan pada pasien skizofrenia biasanya diberikan sampai 30 kali.
ECT biasanya diberikan sampai tiga kali seminggu atau setiap beberapa hari, selama dua
hingga empat minggu. Jika efektif, perubahan perilaku sudah mulai terlihat setelah 2-6
terapi.
3. Antidepresan rumatan, antipsikotik dan lithium dilanjutkan sesudah ECT berhasil karena
dapat mencegah kekambuhan. Tanpa medikasi, angka kekambuhan tinggi.
4. ECT harus segera dihentikan setelah pasien pulih atau jika mereka mengatakan mereka
tidak ingin menjalaninya lagi.
C. Indikasi Pemberian ECT
ECT adalah suatu prosedur yang serius, gunakan hanya pada keadaan yang
direkomendasikan. Sangat tidak bijaksana jika kita melakukannya pada setiap pasien yang
tidak membaik.
Electroconvulsive terapi digunakan untuk mengobati :
1. Gangguan afek yang berat : pasien dengan penyakit depresi berat atau penyakit mental
lainnya dan gangguan bipolar (mania) yang tidak berespon terhadap obat anti depresan
atau pada pasien yang tidak dapat menggunakan obat karena cukup beresiko (terutama
pada orang tua yang memiliki kondisi medis).
ECT adalah salah satu cara tercepat untuk mengurangi gejala pada orang yang menderita
mania atau depresi berat. ECT umumnya digunakan sebagai langkah terakhir ketika
penyakit tidak merespon obat atau psikoterapi. Pasien dengan depresi menunjukkan
respons yang baik dengan ECT 80-90% dibandingkan dengan antidepresan 70% atau
lebih). Terapi ECT biasanya tidak efektif untuk mengobati depresi yang lebih ringan,
yaitu gangguan disritmik atau gangguan penyesuaian dengan perasaan alam depresi.
2. Gangguan skizofrenia (Katatonia, stupor, paranoid, kegaduhan akut) : skizofrenia
katatonik tipe stupor atau tipe excited memberika respon yang baik dengan ECT.
Cobalah anti psikotik terlebih dahulu, tetapi jika kondisinya mengancam kehidupan
(delirium hyperexcited), segera lakukan ECT. Pasien psikotik akut (terutama tipe
skizoafektif) yang tidak berespons pada medikasi saja mungkin akan membaik jika
ditambahkan ECT, tetapi pada sebagian besar skizofrenia kronis, ECT tidak terlalu
berguna/ tidak efektif.
3. Pasien dengan bunuh diri yang aktif dan tidak mungkin menunggu pengobatan untuk
dapat mencapai efek terapeutik. ECT juga digunakan ketika pasien parah menimbulkan
ancaman bagi diri mereka sendiri atau orang lain dan itu berbahaya bila menunggu
sampai obat-obatan berpengaruh.
4. Jika efek sampingan ECT yang diantisipasikan lebih rendah daripada efek terapi
pengobatan, seperti pada pasien lansia dengan blok jantung/ gangguan hantaran jantung
yang sudah ada sebelumnya dan selama masa kehamilan khususnya trimester pertama
(ECT lebih aman untuk kehamilan). Namun diperlukan pertimbangan khusus jika ingin
melakukan ECT bagi ibu hamil, anak-anak dan lansia karena terkait dengan efek
samping yang mungkin ditimbulkannya.
5. Pada pasien hypoaktivitas dan hiperaktivitas, kurang tidur, gangguan makan/minum dan
perilaku bunuh diri dan lain-lain.
D. Kontra Indikasi Pemberian ECT
Pasien dengan gangguan mental disertai adanya gangguan system kardiovaskuler dan
adanya tumor pada otak.
1. Resiko sangat tinggi
 Pasien dengan masalah pernapasan berat yang tidak mampu mentolerir efek anestesi
umum.
 Peningkatan tekanan intracranial (karena tumor otak, hematoma, stroke yang
berkembang, aneurisma yang besar, infeksi SSP), ECT dengan cepat meningkatkan
tekanan SSP dan resiko herniasi tentorium. Selalu periksa adanya papiledema
sebelum melakukan ECT.
 Infark Miokard baru atau penyakit miokard berat : ECT sering menyebabkan aritmia
(aritmia menimbulkan CVP pasca kejang atau kapan saja saat melakukan prosedur
ECT) berakibat fatal jika terdapat kerusakan otot jantung. Tunggu hingga enzim dan
EKG stabil.
2. Resiko sedang
 Osteoartritis berat, osteoporosis atau fraktur yang baru : siapkan selama terapi
(pelemas otot)
 Penyakit kardiovaskuler (misal hipertensi, angina aneurisma/ Angina tidak terkontrol,
aritmia, Gagal jantung kongestif), berikan premedikasi dengan hati-hati, dokter
spesialis jantung hendaknya berada di sana. ECT untuk sementara meningkatkan
tekanan darah, sehingga hipertensi primer berat harus terkontrol, paling tidak sebelum
setiap pengobatan.
 Infeksi berat, cedera serebrovaskular (Cerebrovascular accident/ CVA) baru,
kesulitan bernafas yang kronis, ulkus peptic yang akut, Osteoporosis berat, fraktur
tulang besar, glaukoma, retinal detachment.
E. Efek Samping dari Pemberian ECT
Efek samping ECT secara fisik hampir mirip dengan efek samping dari anesthesia
umum. Secara psikis efek samping yang paling sering muncul adalah kebingungan dan
memory loss (75% kasus) setelah beberapa jam kemudian (biasanya hilang satu minggu
sampai beberapa bulan setelah perawatan). Biasanya ECT akan menimbulkan amnesia
retrograde terhadap peristiwa tepat sebelum masing-masing pengobatan dan anterograde,
gangguan kemampuan untuk mempertahankan informasi baru. Beberapa ahli juga
menyebutkan bahwa ECT dapat merusak struktur otak. Namun hal ini masih diperdebatkan
karena masih belum terbukti secara pasti.
Efek samping khusus yang perlu diperhatikan:
a) Cardiovaskuler :
1) Segera : stimulasi parasimpatis (bradikardi, hipotensi)
2) Setelah 1 menit : Stimulasi simpatis (tachycardia, hipertensi, peningkatan konsumsi
oksigen otot jantung, dysrhythmia)
3) ECT dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, atau kematian (kasus yang
sangat jarang). Orang dengan masalah jantung tertentu biasanya tidak diindikasikan
untuk ECT.
b) Efek Cerebral :
1) Peningkatan konsumsi oksigen.
2) Peningkatan cerebral blood flow
3) Peningkatan tekanan intra cranial
4) Amnesia (retrograde dan anterograde) – bervariasi, dimulai setelah 3-4 terapi,
berakhir 2-3 bulan atau lebih. Lebih berat pada terapi dengan metode bilateral, jumlah
terapi yang semakin banyak, kekuatan listrik yang meningkat dan adanya organisitas
sebelumnya.
c) Efek lain :
1) Peningkatan tekanan intra okuler
2) Peningkatan tekanan intragastric
3) Kebingungan (biasanya hanya berlangsung selama jangka waktu yang singkat),
pusing.
4) Mual, Headache/sakit kepala, nyeri otot.
5) Fraktur vertebral dan ekstremitas dan Rahang sakit. Efek ini dapat berlangsung dari
beberapa jam sampai beberapa hari dan jarang terjadi bila relaksasi otot baik.
6) Resiko anestesi pada ECT.
7) Kematian dengan angka mortalitas 0,002%.
F. Perlengkapan Untuk Terapi ECT
1) Perlengkapan dan peralatan tindakan, termasuk perekat electrode dan gel, kasa, alcohol,
larutan garam (saline), electrode EEG, dan kertas grafik.
2) Perlengkapan untuk memantau, termasuk Elektro Kardio Graf (EKG) dan electrode
EKG.
3) Alat pengukur tekanan darah (2), stimulator saraf perifer dan oksimeter denyut nadi.
4) Stetoskop.
5) Palu reflex.
6) Peralatan untuk intravena.
7) Balok penggigit dengan tempatnya.
8) Alat pengikat dengan kasur yang keras dan berisi pengaman dengan tempat berbaring
yang dapat diangkat bagian kaki dan kepala.
9) Peralatan penghisap lendir (suction).
10) Perlengkapan ventilasi, termasuk selang, masker. Saluran udara oral, perlengkapan
intubasidengan system pemberian oksigen yang dapat memberikan tekanan oksigen
positif.
11) Obat-obat untuk keadaan darurat sebagaimana yang direkomendasikan oleh staf
anestesi.
12) Berbagai obat-obatan yang tidak disiapkan oleh staf anestesi untuk pengobatan medic
selama ECT seperti labetalol, emolol, glikopirolate, karein, kurare, midazolam,
diazepam, thiopental sodium (pentotal), metoheksital sodium (brevital) dan
suksinilkolin.
G. Persiapan ECT
1) Informed consent / izin tindakan
2) Pasien dipuasakan minimal 5 jam
3) Kandung kemih klien dikosongkan
4) Pemeriksaan fisik dan riwayat medis standar
5) Pemeriksaan laboratorium sesuai riwayat medis
6) Pemeriksaan EKG dan EEG
7) Evaluasi ahli anestesi akan resiko penggunaan anestesi
H. Prosedur Pelaksanaan E.C.T
1) Premedikasi dengan injeksi atropin 0,6 – 1,2 mg I.M atau S.C
2) Pemeriksaan gigi geligi dan pemasangan tounge spatel
3) Anestesi dengan tiopental / penthotal 3mg/kgbb I.V, ketamin 6-10 mg/kgbb i.M.
4) Diberi perelaksasi otot suksinil kholin (0,5-1,5 mg/kg)
I. Efek Samping ECT
1) Gangguan memori sementara
2) Sakit kepala
3) Nyeri otot
4) Peningkatan permiabilitas sawar otak (blood brain barrier)
5) Apnue
6) Cardiac Arrythmia
7) Sistem Kardiovaskuler
a. Efek parasimpatetik (stlh ECT) yaitu bradikardi sp asistole; pas >50 th-
supraventriculair ectopic at atrial fibrilasi (vagal)
b. Glandula suprarenal melepas katekolamin: HR, TD ↑, segera ↓ begitu jika sudah
tidak kejang. TD naik lagi 1 jam (50 th), 5 mnt HR ↓. 55% kel kardiovaskuler,
perubahan gelombang T dan ST depresi.
c. 90% pasien ECT aman, diberikan kepada pasien hipertensi pulmonalis, subakut
myocard infark, aneurisma aorta, Takatsubo’s syndrom. Pace maker , “device
abort aritmia” bukan kontra indikasi, transplantasi jantung juga aman.
8) Sistem Respirasi
a. Efek anestesi yaitu efek fisiologis
b. Muscle relaxan: henti nafas- oksigen
c. Penyakit paru: eksaserbasi asma, PPO
9) Gigi geligi
Gigi patah: menyumbat saluran nafas
10) Sistim Muskuloskeletal
a. Sebelum ada curare, succinil choline: fraktur tulang panjang dan tulang belakang.
b. Gangguan sendi temporomandibuler.
c. Setelah anestesi: mialgia karena fasikulas.
J. Pelaksanaan ECT
1. Setelah alat sudah disiapkan, pindahkan klien ke tempat dengan permukaan rata dan
cukup keras. Posisikan hiperektensi punggung tanpa bantal. Pakaian dikendorkan, seluruh
badan di tutup dengan selimut, kecuali bagian kepala.
2. Berikan natrium metoheksital (40-100 mg IV). Anestetik barbiturat ini dipakai untuk
menghasilkan koma ringan.
3. Berikan pelemas otot suksinikolin atau Anectine (30-80 mg IV) untuk menghindari
kemungkinan kejang umum.
4. Kepala bagian temporal (pelipis) dibersihkan dengan alkohol untuk tempat elektrode
menempel.
5. Kedua pelipis tempat elektroda menempel dilapisi dengan kasa yang dibasahi caira Nacl.
6. Klien diminta untuk membuka mulut dan masang spatel/karet yang dibungkus kain
dimasukkan dan klien diminta menggigit
7. Rahang bawah (dagu), ditahan supaya tidak membuka lebar saat kejang dengan dilapisi
kain.
8. Persendian (bahu, siku, pinggang, lutu) di tahan selama kejang dengan mengikuti gerak
kejang.
9. Pasang elektroda di pelipis kain kasa basah kemudia tekan tombol sampai timer berhenti
dan dilepas.
10. Menahan gerakan kejang sampai selesai kejang dengan mengikuti gerakan kejang
(menahan tidak boleh dengan kuat).
11. Bila berhenti nafas berikan bantuan nafas dengan rangsangan menekan diafragma.
12. Bila banyak lendir, dibersihkan dengan slim siger.
13. Kepala dimiringkan.
14. Observasi sampai klien sadar.
15. Dokumentasikan hasil di kartu ECT dan catatan keperawatan.
K. Setelah ECT
1. Observasi dan awasi tanda vital sampai kondisi klien stabil.
2. Jaga keamanan klien.
3. Bila klien sudah sadar bantu mengembalikan orientasi klien sesuai kebutuhan, biasanya
timbul kebingungan pasca kejang 15-30 menit.
DAFTAR PUSTAKA

Guze B, Richelmer S, Siegel DJ. : The Handbook of Psychiatry, California : UCLA


Neuropsychiatric Institute, Year Book Medical Publisher, 1990.
Sadock BJ, Sadock VA. : Pocket Handbook of Clinical Psychiatry, Fourth Edition, Baltimore :
Williams and Wilkins, 2005.
Waldinger R.J. : Psychiatry for medical student, Washington, DC : American Psychiatry Press,
1997
Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. : Kaplan and Sadock’s synopsis of psychiatry, Baltimore :
Williams and Wilkins, 1997.
Tomb David.A. : House Officer Series, Baltimore : Williams and Wilkins, 1999.