Anda di halaman 1dari 19

PENGGUNAAN RAGAM BAKU DAN KATA BAKU PADA PUISI

“KEPADA SENJA”, “BAWA SAJA AKU”, DAN “BERSAMA SYAIR


KENANGAN”

MAKALAH

diajukan untuk memenuhi tugas akhir Bahasa Indonesia

disusun oleh:

Asep Mi’rojul Mu’minin (10010114016)

Ilham Akbar Syarif (10010114013)

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM

FAKULTAS SYARI’AH

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

BANDUNG

2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur mari kita panjatkan kepada Allah SWT, shalawat dan juga
salam semoga tetap tercurah limpah kepada Nabi Muhammad Saw., beserta
keluarganya, shahabatnya, dan juga sampailah kepada kita selaku ummatnya,
mudah-mudahan kita termasuk kedalam ummat beliau yang mendapatkan syafaat
dan berkumpul dengannya kelak di Yaumul Akhir aamiin.

Makalah ini berisi tentang penelitian yang berkenaan dengan puisi dari buku
yang berjudul Meditasi Cahaya, didalam buku tersebut terdapat banyak puisi yang
jumlahnya sebanyak 156 puisi. Adapun yang kami teliti hanya tiga puisi yakni yang
berjudul “Kepada Senja”, “Hati Buatan”, dan “Bersama Syair Kenangan”.

Puisi pada umumnya dapat diartikan sederhana yaitu ungkapan seseorang


yang diungkapkan dalam sebuah tulisan, ragam bahasa yang digunakan bermacam-
macam jenisnya seperti ragam formal, semiformal, dan nonformal. Puisi yang kami
teliti ketiganya mengandung ragam bahasa semiformal. Kemudian dalam makalah
ini akan dibahas mengenai ragam bahasa puisi dan kata baku.

Adapun kata baku menjadi topik utama kami dalam melakukan penelitian.
Topik tersebut kami ambil karena jarang sekali kata baku tersebut tertuang dalam
sebuah puisi dikarenakan puisi pada umumnya hanya diungkapkan kepada orang
yang istimewa.

Kami ucapkan terimakasih dan penghargaan yang tinggi kepada dosen kami
yang telah membimbing dalam proses penelitian ini, dan juga teman-teman yang
selalu memberikan stimulus kepada kami. Jazaakumullaahhu khairan katsiiran.
Semoga Allah selalu memberikan kemudahan bagi kita semua.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca. Kami ucapkan terima
kasih dan kritik serta saran sangat kami harapkan dalam penelitian ini agar lebih
baik lagi.

Peneliti

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
A. Latar Belakang Penelitian ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 2
C. Tujuan Penelitian .................................................................................................... 2
D. Manfaat ................................................................................................................... 2
BAB II................................................................................................................................. 3
KAJIAN PUSTAKA ........................................................................................................... 3
BAB .................................................................................................................................... 7
III PEMBAHASAN ............................................................................................................ 7
BAB IV ............................................................................................................................. 11
PENUTUP ........................................................................................................................ 11
A. Simpulan ............................................................................................................... 11
B. Saran ..................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 13
LAMPIRAN...................................................................................................................... 14

ii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian


Materi secara umum, Puisi merupakan ungkapan hati seseorang yang
dituangkan dalam sebuah tulisan. Seorang penyair menggunakan perasaan ketika
meulis puisi, ketika penyair dalam keadaan sedih puisi yang dibuatnya
punbertemakan kesedihan,

Menurut H.B. Jassin, puisi adalah suatu pengucapan dengan sebuah


perasaan yang didalamnya mengandung suatu pikiran-pikiran dan sebuah
tanggapan-tanggapan. (Bitar, 2016)

Penyair dalam menulis puisi tidak hanya mengungkapkan perasaan dan


estetikanya saja akan tetapi penyair sangatlah cermat mengutamakan ragam bahasa
yang sesuai sehingga dapat digunakan oleh dirinya, pembaca, dan pendengar.
Intonasi yang disampaikan sangat hati-hati sehingga membuat pendengar maupun
pembaca menampilkan ekspresi yang berbeda-beda, seperti sedih, tawa, senang,
kesal, marah dll.

Dalam pemilihan kata puisi tidak akan lepas dari ragam bahasa karena setiap
orang yang berbicara akan memperhatikan kepada siapa puisi itu disampaikan atau
ditujukan, seorang penyair saat mengungkapkan isi hatinya pada seseorang melalui
karya puisinya akan memperhatikan kata-kata yang tepat agar sesuai dengan
objeknya. Seperti puisi penyair yang berjudul “Kepada Pimpinan” maka kata-kata
yang disajikan adalah kata yang sopan, penuh hormat, dan baku.

Oleh karena itu penyai dalam menyampaikan puisinya hendaklah


menggunakan ragam bahasa yang baik dan benar serta menggunakan kata yang
sesuai sehingga indah dan baik apabila dibaca oleh siapapun.

Dengan demikian, peneliti mencoba meneliti bebarapa puisi untuk


mengamati penggunaan kata baku pada puisi yang berjudul “Kepada Senja”, “Hati
Buatan”, Dan “Bersama Syair Kenangan”.

1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengunaan kata baku pada puisi yang berjudul “Kepada Senja”,
“Hati Buatan”, Dan “Bersama Syair Kenangan”?
2. Ada berapa kata baku dalam puisi yang berjudul “Kepada Senja”, “Hati
Buatan”, Dan “Bersama Syair Kenangan”. ?

C. Tujuan Penelitian
1. Mengidentifikasi penggunaan ragam baku dan kata baku pada puisi yang
berjudul “Kepada Senja”, “Hati Buatan”, Dan “Bersama Syair Kenangan”.
2. Mengidentifikasi jumlah kata baku pada puisi yang berjudul “Kepada
Senja”, “Hati Buatan”, Dan “Bersama Syair Kenangan”.

D. Manfaat
1. Memberikan pengetahuan mengenai ragam baku dan kata baku pada puisi
yang berjudul “Kepada Senja”, “Hati Buatan”, Dan “Bersama Syair
Kenangan”.
2. Membantu memahami makna yang terkandung dalam puisi yang berjudul
“Kepada Senja”, “Hati Buatan”, Dan “Bersama Syair Kenangan”.

2
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Puisi
Puisi merupakan sebuah karya yang bersal dari perasaan seseorang yang
diikuti dengan bahasa yang indah dengan disertai iramma, rima, bait, matra dan
berisikan makna
Didalam puisi juga berisi suatu ungkapan perasaan yang menggunakan
imajinasinya. Ungkapan perasaan tersebut disusun sedemikian rupa agar menarik
dan indah saat dilafalkan dengan menggunakan imajinasi yang sesuai dengan puisi
yang disampaikannya.
Keindahan pada puisi tergantung terhadap kualitas estetika yag sangat
indah, yaitu dengan cara mengutamakan bunyi dan makna yang terkandung
didalamnya.
B. Ragam bahasa

Dalam buku Bahasa Indonesia yang dikarang oleh Dosen Unisba, Ragam
Bahasa adalah variasi bahasa berdasarkan pemakaiannya, topik yang dibicarakan
hubungan pembicara dan rekan bicara, dan medium pembicaraannya (Dosen,
2017).

Pengertian ragam bahasa ini dalam berkomunikasi perlu memperhatikan


aspek:

1. Situasi yang dihadapi ;


2. Permasalahan yang henda disampaikan ;
3. Latar belakang pendengar atau pembaca yang dituju dan ;
4. Medium atau sarana bahasa yang digunakan.

Ragam bahasa berbeda dengan dialek. Dialek merupakan variasi sebuah


bahasa menurut pemakai. Variasi tersebut dapat berbentuk dialek, aksen, laras,
gaya, atau berbagai varisi sosiolinguistik lain, termasuk variasi bahasa baku. variasi
di tingkat leksikon, seperti sleng dan argot, sering dianggap terkait dengan tingkat
formalitas atau gaya tertentu, meskipun penggunaannya kadang doanggap sebagai
suatu variasi atau ragam tersendiri. Ragam bahasa yang kita digunakan untuk
berbicara dengan orang lain berbeda (Azariansyah, 2014). Contohnya jika kita

3
berbiacara dengan teman, kita menggunakan ragam bahasa bisa sedikit akrab, tetapi
sopan. Namun, apabila berbicara dengan orang yang lebih tua, seperti orang tua,
guru, dosen, kita menggunakan ragam bahsa yang sopan dan halus. Contoh:

1) Ragam formal (Saya, Anda, Bapak, Ibu, dan Saudara) (Dosen, 2017)
2) Ragam semiformal (Aku, Kamu, Bung, Mas, Dan Mbak)
3) Ragam nonformal (Ane, Gue, Lu, Neng, Dan Situ)
Ragam bahasa terdiri atas:
1) Ragam baku
Ragam baku adalah “ragam bahasa yang diakui dan dilembagakan oleh
sebagian besar masyarakat pemakainya sebagai kerangka rujukan norma
bahasa bahasa resmi dalam penggunaannya”. (Dosen, 2017) Ragam bahasa
baku memiliki sifat, yaitu: kemantapan dinamis, cendikia, dan seragam.
Kemantapan adalah kesesuaian dengan kaidah bahasa; dinamis adalah tidak
kaku; cendekia adalah ragam baku dipakai pada situasi resmi; dan seragam
adalah pembakuan bahasa agar dapat dipakai dan dimengerti oleh setiap
orang yang memakainya. Ragam baku terdiri atas:
a) Ragam baku tulis merupakan ragam yang dipakai dengan resmi dalam
buku-buku pelajaran dan karya ilmiah. Ragam baku tulis berpedoman
pada pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan,
pedoman umum pembentukan istilah, tata bahasa-bahasa Indonesia, dan
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
b) Ragam baku lisan merupakan ragam bahasa baku dala situasi lisan. Hal
yang menentukan baik tidaknya ragam baku lisan seseorang adalah
banyak sedikitnya pengaruh dialek atau logat bahasa daerah pembicara.
Jika bahasa yang digunakan atau logat yang digunakan masih sangat
menunjukkan bahasa atau logat bahasa daerah, dapat dikatakan bahsa
baku lisan pembicara tersebut masih kurang baik
2) Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh
ciri yang menyimpang dari norma ragam baku. contoh ragam bahasa yang
ada di Indonesia: bahasa sunda, betawi, dan jawa (Dosen, 2017).
a) Bahasa Sunda (Nami abdi teh Rosa, abdi teu boga imah)
b) Bahasa Betawi (Name aye Rosa, aye kagak punya rumah)

4
c) Bahasa Jawa (Jenengku Rosa, aku ora duwe rumah)

C. Kata Baku

Banyak sekali penggunaan kalimat yang kita gunakan tetapi kita tidak
menyadari jika penggunaan tersebut kurang tepat dan hal tersebut tanpa kita sadari
dapat merubah makna, penulisan serta pengucapannya.

Kata baku adalah kata yang cara penulisannya atau pengucapannya yang
sesuai dengan kaidah standar yang dibakukan. Sedangkan pengertian kata tidak
baku adalah ragam bahasa yang cara penulisannya atau pengucapannya tidak
memenuhi kaidah-kaidah standar kata baku tersebut.

Ciri-ciri Kata Baku, meliputi:

1) Tidak dipengaruhi bahasa daerah.


2) Tidak dipengaruhi bahasa asing.
3) Tidak mengandung pleonasme.
4) Tidak mengandung hipekorek.
5) Tidak terkontaminasi dan tidak rancu.
6) Bukan merupakan ragam bahasa percakapan.
7) Sesuai dengan konteks kalimat yang dipakai.
8) Pemakaian imbuhan secara eksplisit.

Ciri-ciri kata tidak baku, meliputi:

1) Bentuk kalimatnya singkat, sederhana, kurang lengkap dan jumlahnya tidak


banyak.
2) Menggunakan kata penghubung
3) Menggunakan lazim dan kata-kata yang biasa dipakai sehari-hari. Contoh:
bilang,bikin,pergi,biarin.

Syarat Kalimat Baku,meliputi:

1) Kesepadanan,yaitu keseimbangan antara gagasan dan struktur kalimat yang


dipakai.
2) Kesejajaran bentuk,yaitu menempatkan gagasan yang sama penting dan
sama fungsinya ke dalam struktur atau konstruksi gramatikal yang sama.

5
3) Ketegasan atau penekanan,yaitu penekanan atau penonjolan ide kalimat.
Penekanan dapat berupa penekanan subjek,predikat,atau keterangan .
4) Kevariasian, yaitu variasi dalam menggunakan kosakata dan pola kalimat
atau unsur-unsur penting dengan berbagai variasi .
5) Kecermatan adalah bahwa kalimat tersebut tidak menimbulkan tafsir ganda
dan tepat dalam pilihan kata. (Azizah, Kata Baku dan Tidak Baku, 2015)

Logis, yaitu makna kalimat dapat diterima oleh akal sehat manusia.

Hemat, yakni kalimat yang disusun tidak menggunakan kata yang berlebihan (tidak
diulang).

Padu, apabila hubungan antar unsur dalam kalimat tidak terganggu.

Subyek jelas.

Ciri-ciri bahasa Indonesia yang baku:

1. Fonografi (bersistem eja bunyi atau ejaan berdasarkan lafal)


2. Aglunatif (dalam pembentukan kata kejadian bersistem penempelan
imbuhan pada bentuk dasarnya).
3. Struktur kalimat bahasa Indonesia yang membayangkan pola: urutan kata,
makna kata, intonasi, dan situasi.

6
BAB
III PEMBAHASAN
Kepada senja (Isnaini, 2017)
Kepada Senja
kau adalah senja yang dikirimkan tuhan
termaktub pada jelajah pintu-pintu yang fana
senja itu tersimpan di saku kemeja
laki-laki penuh birahi memotongnya
membawanya dalam kerumunan gelap
pekat dan anyir bau selokan
Kau adalah senja yang ditakdirkan tuhan
bersama angin pantai dan Alina,
siapa pula perempuan itu?
Aku hanya mengharap
ada kartu pos datang
tanpa gambar jembatan Golden Gate, San Francisco
hanya senja

Pembahasan puisi akan diteliti bermula dari judul, lalu menuju baris demi
baris, hingga beranjak kepada bait selanjutnya, sampai bait yang paling akhir,
dalam hal ini akan diteliti mengenai ragam baku dan kata baku dari puisi tersebut.

Pada kalimat, “kau adalah senja yang dikirimkan tuhan” dilihat dari ragam
bahasanya kata kau adalah ragam bahasa semiformal dan merupakan kata ganti dari
“kamu”. Penggunaan kata kau pada kalimat tersebut sangatlah sesuai dan efektif
sesuai dengan nada dan ritmenya dan ragam bahasa yang digunakan, adapun kata
ganti “kau” banyak ragamnya yang maknanya sama, seperti: lu, kamu, anda, dan
sebagainya. Adapun penyair dalam penggunaan kata kau sangatlah puitis.
Kemudian berbicara mengenai kata baku, “kau” adalah kata tidak baku. kau
merupakan kata tidak baku karena berdasarkan penulisannya seharusnya adalah
engkau sebagaimana telah dijelaskan pada BAB II.

7
Kemudian kalimat “termaktub pada jelajah pintu-pintu yang fana”. Kata
termaktub merupakan serapan dari bahasa asing yaitu bahasa arab yang berasal dari
kata Kataba artinya menulis. Adapun kata termaktub artinya adalah “tertulis”
Dengan demikian, kata termaktub merupakan kata yang tidak baku, selain itu kata
termaktub sangat relatif karena dari segi ragam bahasanya tertulis maupun
termaktub cocok apabila digunakan pada kalimat tersebut. Kami melihat penyair
dalam menggunakan kata termaktub kemungkinannya makna yang terkandung
didalamnya jamak.

Jadi, pada puisi yang berjudul kepada senja terdapat dua kata yang tidak baku
yaitu kata “kau” dan “termaktub”.

Bawa Saja Aku (Isnaini, 2017)


Bawa saja aku, teriakmu pagi itu
Hujan tumpah di kebun belakang
kita sedang berduaan
melayangkan pandang
dari sebalik pagar
basah kuyup:hujan seperti mengamuk

Bawa saja aku, teriakmu kembali


Angin menusuki tulang-tulangku
Kau genggam erat keriputku
Seraya terkenang tulang rusukku yang hilang
Entah dimana

8
Puisi yang berjudul bawa saja aku memiliki ragam bahasa ragam semiformal
karena terdapat kata kau, aku, dan kita itu menunjukan bahwa puisi ini
diperuntukkan untuk kaum sebaya khususnya. Berbicara soal ragam baku, puisi
tersebut termasuk ke dalam ragam baku lisan. Penyair termasuk ke dalam ragam
baku lisan yang baik karena di dalamnya tidak ada dialeg bahasa daerah, seperti
bahasa sunda, betawi, jawa dan sebagai. penyajian kata begitu netral sehingga puisi
tersebut masuk ke dalam bahasa nasional. Adapun kata baku pada puisi tersebut
sedikit sekali ditemui kata yang tidak baku secara keseluruhan puisi yang berjudul
bawa saja aku mengandung kata baku.

Bersama Syair kenangan (Isnaini, 2017)

sebaris kenangan tergurat dikeningmu


sangat jelas: menjelma buah apel yang tejatuh
aku menemuimu di puncak Gunung Meru
mencari-cari pangeran yang dikutuk menjadi jelaga
permulaan kita adalah sebuah kata
menjelema rangkaian huruf yang dibawa Ajisaka
kau berpura-pura menjadi kalimat
aku bahkan tidak mengenalmu, waktu itu
kini, ada harapan dibawa matahari
tidak akan tenggelam bersama kartu pos
dalam saku kemeja laki-laki pencuri senja
berbarislah engkau bersama sepasukan Rama
menuju Alengka
menyebranglah dengan tongkat musa membelah
Laut Merah
aku akan menunggumu selepas kata
dalam sembahyangku yang temaram
tanpa suara dan gema

aku mengejarmu dalam jarak dan waktu

9
aku membawamu dalam pesona dan cahaya
semburat menjadikannya sempurna
dalam ufuk timur.
Puisi yang berjudul “bersama syair kenangan” memiliki ragam bahasa ragam
semiformal karena terdapat kata kau, aku, dan kita itu menunjukan bahwa puisi ini
diperuntukkan untuk kaum sebaya khususnya. Berbicara soal ragam baku, puisi
tersebut termasuk ke dalam ragam baku lisan. Penyair termasuk ke dalam ragam
baku lisan yang baik karena di dalamnya tidak ada dialeg bahasa daerah, seperti
bahasa sunda, betawi, jawa dan sebagai. penyajian kata begitu netral sehingga puisi
tersebut masuk ke dalam bahasa nasional. Adapun kata baku pada puisi tersebut
sedikit sekali ditemui kata yang tidak baku secara keseluruhan puisi yang berjudul
bawa saja aku mengandung kata baku.

10
BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Pada puisi yang berjudul kepada senja, sangat sedikit sekali jumlah kata
baku dikarenakan puisi tersebut memiliki ragam bahasa semiformal dan ragam
baku lisan. Begitu pula pada puisi yang lainnya yaitu puisi yang berjudul “bawa
saja aku”, “bersama syair kenangan” juga menggunakan ragam bahasa semi
formal, sedikit sekali ditemui kata baku pada puisi tersebut.

B. Saran
Bagi peneliti selajutnya bisa meneruskan dan melengkapi serta memberikan
masukan terhadap penelitian ini sehingga karya sastra puisi ini semakin baik dan
memiliki nilai estetika yang sangat baik.

11
DAFTAR PUSTAKA
Azariansyah. (2014, 11 2). Tugas Bahasa Indonesia 2 : Ragam Dan Laras Bahasa
Indonesia. Diambil kembali dari azariansyah.wordpress.com:
https://azariansyah.wordpress.com/2014/11/02/tugas-bahasa-indonesia-2-
ragam-dan-laras-bahasa-indonesia/

Azizah, S. N. (2018, Juni 15). Kata Baku dan Tidak baku. Diambil kembali dari
stnazizah.blogspot.co.id: http://stnazizah.blogspot.co.id/2015/06/kata-baku-
dan-tidak-baku.html

Bitar. (2016, Juni 1). Guru Pendidikan . Diambil kembali dari www.gurupendidikan.co.id:
http://www.gurupendidikan.co.id/14-pengertian-puisi-menurut-para-ahli-
terlengkap/

Cahayaku. (2018, 1 15). Pengertian Unsur dan Contoh Puisi. Diambil kembali dari
www.belajartanpaguru.com: http://www.belajartanpaguru.com/pengertian-
unsur-dan-contoh-puisi.html

Dosen, T. (2017). Buku Ajar Bahasa Indonesia. Bandung: LSIPK UNISBA.

Isnaini, H. (2017). Meditasi Cahaya (kumpulan Sajak). Bandung: PUSTAKA HUMANIORA.

Maghribi, A. M. (2017, Februari 7). Pengertian Puisi Lengkap Dengan Ciri-ciri, Jenis,
Unsur dan Struktur Puisi. Diambil kembali dari www.satujam.com:
http://www.satujam.com
LAMPIRAN

1. Puisi yang Diteliti


2. Biodata
Nama : Ilham Akbar Syarif
NPM : 10010114013
Prodi : Ahwal Syakhsiiyyah / Hukum Keluarga Islam
Fakultas : Syari’ah 2014
TTL : Palembang,10-12-1996
Alamat : jl.Parigilame Ciwaruga no.3 Kab.Bandung Barat
Hobi : Mengaji
Email : ilhamstd17@gmail.com

Nama : Asep Mi’rojul Mu’minin


NPM : 10010114016
Prodi : Ahwal Syakhsiiyyah / Hukum Keluarga Islam
Fakultas : Syari’ah 2014
TTL : Bandung, 27-11-1996
Alamat : Kp. Babakan rt 01 Rw 09 Desa Cikole Kecamatan
Lembang Kabupaten Bandung Barat 40391
Hobi : Mengaji
Email : ashhabul08kahfi@gmail.com