Anda di halaman 1dari 2

ANALISIS JURNAL

Jurnal pertama yang berjudul “Determinan Dividend Payout Ratio pada Emiten LQ-45 di Bursa
Efek Indonesia” membahas mengenai pembayaran dividen yang senantiasa menjadi perdebatan. Di
sini diidentifikasikan beberapa faktor yang mempengaruhi kebijakan deviden, yaitu:

a. Profitabilitas, faktor pertama yang menjadi pertimbangan direksi dalam membayarkan


dividen, semakin tinggi profitabilitas perusahaan, semakin besar arus kas dalam perusahaan, maka
diharapkan pembayaran dividen yang lebih tinggi.

b. Likuiditas, mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang segera


jatuh tempo. Rasio paling umum digunakan adalah current ratio dan cash ratio. Semakin besar kedua
ratio ini, semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam memenuhi jangka pendeknya.

c. Utang tinggi membuat perusahaan lebih memilih menahan laba dan menggunakannya untuk
melunasi utang, sehingga perusahaaan dengan utang yang tinggi cenderung membagikan dividen
dalam jumlah yang kecil. Artinya, tingkat utang berpengaruh negatif terhadap kebijakan dividen.

d. Ukuran perusahaan, perusahaan besar lebih memiliki sumber daya manusia yang tinggi dan
sumber dan akses informasi yang lebih variatif dibanding perusahaan kecil. Perusahaan besar yang
sudah mapan memiliki akses yang mudah menuju pasar modal, sementara perusahaan yang baru
dan yang masih kecil mengalami banyak kesulitan akses ke pasar modal. Kemudahan akses ke pasar
modal berimplikasi langsung perihal flesibiltas dan kemampuan perusahaan besar dalam
memperoleh dana yang yang lebih besar. Ekspektasinya, perusahaan besar dengan akses pasar yang
lebih baik seharusnya membayar dividen yang tinggi kepada pemegang sahamnya. Dengan
demikian, ukuran perusahaan dan pembayaran dividen memiliki hubungan yang positif.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa tingkat pengembalian investasi (ROI) berpengaruh positif
dan signifikan secara statistik terhadap kebijakan dividen. Tingkat perputaran aktiva (ATR)
berpengaruh negatif dan signifikan secara statistik terhadap dividend payout ratio. Ukuran
perusahaan ternyata berimplikasi negatif dan tidak berpengaruh signifikan secara statistik terhadap
dividend payout ratio. Secara simultan, seluruh variabel berpengaruh signifikan terhadap kebijakan
dividen. Adapun kemampuan cash ratio, return on investment, debt to equity ratio, debt to total
asset, asset turn over, dan size dalam menjelaskan variasi kebijakan dividen adalah sebesar 27,52%
sedang sisanya 72,48% adalah oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian.

Sedang pada jurnal kedua “Dinamika Bursa Saham Asing Dan Makroekonomi Terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia” menjelaskan tentang keterkaitan integritas
ekonomi internasional dengan indeks bursa saham Indonesia. Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi hal tersebut adalah suku bunga, tingkat inflasi, dan harga saham.

Stabilitas ekonomi makro dan perkembangan bursa asing merupakan hal yang perlu
mendapat perhatian investor karena memiliki pengaruh terhadap perkembangan Indeks Harga
Saham di Bursa Efek Jakarta. Dengan rendahnya tingkat suku bunga dan tingkat inflasi, nilai tukar
rupiah terhadap dolar AS yang stabil dan keseimbangan jumlah uang beredar (M2) dalam jangka
pendek maupun jangka panjang akan dapat meningkatkan minat investasi di pasar modal Indonesia.
Dalam jangka pendek, pemerintah dapat melakukan kebijakan penambahan jumlah uang beredar
dalam rangka meningkatkan IHSG. Akan tetapi dalam jangka panjang (dua bulan berikutnya)
pemerintah hendaknya mempertimbangkan dan memperhatikan gejolak harga sebagai dampak dari
melonjaknya jumlah uang beredar. Pelemahan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang hendaknya
perlu disikapi dengan kebijakan yang intervensif. Hal ini dikarenakan pelemahan nilai tukar rupiah
dalam jangka pendek dan jangka panjang dipastikan mendorong penurunan investasi pada pasar
modal. Oleh karena itu, penurunan IHSG sebagai dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah tidak
boleh dianggap hanya merupakan fenomena jangka pendek saja. Pemerintah dapat menjadikan
nilai tukar rupiah sebagai instrumen kebijakan yang dapat digunakan dalam menarik minat in-
vestor asing untuk masuk ke dalam negeri melalui pasar modal melalui penyesuaian kebijakan SBI
dan jumlah uang beredar yang ada.

Lebih lanjut pada jurnal ketiga “Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen Pada Konsumen
Perusahaan Sektor Baik Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2014” dijelaskan bahwa
kebijakan dividen adalah bagian mendasar dan sangat penting karena dividen yang memiliki daya
tarik tersendiri bagi investor. Manajemen perusahaan harus menentukan kebijakan dividen yang
optimal untuk menciptakan keseimbangan antara dividen saat ini dan pertumbuhan di masa depan.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat dibuat rekomendasi sebagai berikut: A. manajemen


Perusahaan harus selalu memperhatikan setiap keputusan strategis, khususnya keputusan yang
berkaitan dengan profitabilitas perusahaan, karena profitabilitas memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap kebijakan dividen perusahaan yang akan mempengaruhi minat investor untuk berinvestasi
di perusahaan. Semua keputusan strategis yang diharapkan dapat meningkatkan profitabilitas untuk
meningkatkan pembayaran dividen. B. Investor yang ingin dividen kembali harus perhatian ke
profitabilitas perusahaan, karena profitabilitas memiliki efek positif terhadap kebijakan dividen
perusahaan. Selain itu, investor harus memilih perusahaan pada tingkat risiko yang rendah karena
akan diikuti dengan pembayaran dividen yang lebih tinggi.

Adapun persamaan dari ketiga jurnal tersebut ialah sama-sama membahas terkait hal-hal yang
berkenaan dengan bursa efek Indonesia. Seperti pada jurnal pertama dan ketiga yang sama-sama
membahas mengenai faktor yang menjadi pengaruh dalam membuat kebijakan pembayaran dividen
peusahaan terkait bursa yang dimiliki. Kedua jurnal tersebut sama-sama memasukan profitabilitas
perusahaan dalam penentuan kebijakan dividen. Dimana apabila semakin tinggi profitabilitas
perusahaan, semakin besar arus kas dalam perusahaan, maka diharapkan pembayaran dividen yang
lebih tinggi, begitu juga sebaliknya. Sebagai tambahan pada jurnal pertama, adapun faktor yang
mempengaruhi kebijakan selain profitabilitas ialah likuiditas, utang, dan ukuran perusahaan. Kendati
demikian hasil penelitian membuktikan bahwa tingkat pengembalian investasi (ROI) berpengaruh
positif dan signifikan secara statistik terhadap kebijakan dividen. Tingkat perputaran aktiva (ATR)
berpengaruh negatif dan signifikan secara statistik terhadap dividend payout ratio. Ukuran
perusahaan ternyata berimplikasi negatif dan tidak berpengaruh signifikan secara statistik terhadap
dividend payout ratio. Ditambahkan juga melalu kesimpulan jurnal ketiga bahwa selain profitabilitas,
investor harus memilih perusahaan pada tingkat risiko yang rendah karena akan diikuti dengan
pembayaran dividen yang lebih tinggi.

Sedang secara langsung antara jurnal kedua dengan jurnal pertama dan ketiga tidak memiliki
keterkaitan khusus selain sama-sama membahas bursa efek Indonesia. Jurnal kedua secara khusus
membahas perihal hubungan stabilitas ekonomi makro dan perkembangan bursa asing terhadap
perkembangan Indeks Harga Saham di Bursa Efek Jakarta. Dimana di sini diketahui bahwa secara
jangka pendek, meningkatnya inflasi akan menyebabkan penurunan angka indeks harga saham
gabungan, namun dalam jangka panjang, justru kenaikan inflasi, akan meningkatkan indeks harga
saham gabungan. Secara parsial tingkat inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap indeks harga
saham gabungan baik dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Perubahan tingkat suku
bunga akan memberikan pengaruh bagi pasar modal dan pasar keuangan. Apabila tingkat suku
bunga naik maka meningkatkan beban bunga. Kenaikan tingkat bunga ini dapat mengurangi
profitabilitas perusahaan sehingga dapat memberikan pengaruh terhadap harga saham perusahaan
yang bersangkutan.