Anda di halaman 1dari 23

Makalah Compounding dan Dispensing

“Pendosisan Geriatri dan Penyesuaian Dosis”

APOTEKER ANGKATAN XXX

Dosen : Rahmi Hutabarat, M.Si, Apt

Disusun oleh :

1. Romauli Situmorang, S.Farm 15344025


2. Fiqih Adinda, S.Farm 15344027
3. Tatang Tafdila, S.Farm 15344028
4. Nurmiawati, S.Farm 15344029
5. Dini Ayu Lestari Pratiwi, S.Farm 15344030
6. Ikra Nurohman, S.Farm 15344031

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena atas
petunjuk-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Compounding dan Dispensing
dengan judul ini dengan tepat waktu dengan judul “ Pendosisan Geriatri dan
Penyesuaian Dosis”. Dalam penyusunannya kami memperoleh banyak bantuan
dari beberapa literatur yang kami dapat, dan kami mengucapkan trimakasih yang
sebesar-besarnya kepada dosen kami Rahmi Hutabarat, S.Si., M.Si., Apt.
Selaku dosen Compounding dan Dispensing yang telah memberikan kami waktu
untuk menyelesaikan makalah ini
Penulis menyadari bahwa dalam proses pembelajaran dan penulisan
makalah masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini,
terutama struktur bahasa. Oleh karena itu kami menharapkan pembaca untuk
memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu
pengetahuan ini

Jakarta, Desember 2015

Penulis
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1


I.1. Latar Belakang ...................................................................... 1
I.2. Tujuan ................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 5
II.1. Geriatri .................................................................................. 5
II.2. Dosis Obat .............................................................................. 14
II.3. Cara Perhitungan Dosis .......................................................... 15
BAB III PEMBAHASAN ............................................................................. 17
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG

Usia lanjut merupakan tahap lanjut dari suatu kehidupan yang


ditandai dengan menurunnya kemampuan tubuh untuk beradaptasi
terhadap tekanan, baik tekanan internal maupun eksternal. Beberapa ciri
khas dari pasien geriatri adalah jarang didiagnosis dengan hanya satu
penyakit saja, mempunyai penyakit kronis yang mudah menjadi akut, serta
timbulnya gejala klinis yang tidak sederhana.

Hasil penelitian menunjukkan 78% usia lanjut menderita tidak


kurang dari 4 macam penyakit, 38% menderita lebih dari 6 macam
penyakit, dan 13% menderita lebih dari 8 macam penyakit. Banyaknya
penyakit yang diderita ini sering menyulitkan seorang dokter membuat
diagnosis yang tepat dan memberi pengobatan yang rasional. Sehingga
sering dijumpai, dokter meresepkan obat secara berlebihan (over
prescribing) atau memberikan obat tidak tepat (incorrect prescribing) pada
penderita usia lanjut (1).

Salah satu tanggung jawab profesi seorang farmasis adalah


memberikan layanan kefarmasian yang berorientasi pada pasien, yang
disebut dengan pharmaceutical care (asuhan kefarmasian). Dalam terapi
obat pasien, seorang farmasis diharapkan dapat mengidentifikasi masalah-
masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat (Drug Related Problems)
baik yang telah terjadi atau yang berpotensi untuk terjadi, kemudian
mengupayakan penanganannya dan pencegahan terhadap masalah yang
teridentifikasi(2).

Penyakit pada usia lanjut sering terjadi pada banyak organ


sehingga pemberian obat sering terjadi polifarmasi. Polifarmasi berarti
pemakaian banyak obat sekaligus pada seorang pasien, lebih dari yang
dibutuhkan secara logis-rasional dihubungkan dengan diagnosis yang
diperkirakan. Diantara demikian banyak obat yang ditelan pasti terjadi
interaksi obat yang sebagian dapat bersifat serius dan sering menyebabkan
hospitalisasi atau kematian. Kejadian ini lebih sering terjadi pada pasien
yang sudah berusia lanjut yang biasanya menderita lebih dari satu
penyakit. Penyakit utama yang menyerang lansia ialah hipertensi, gagal
jantung dan infark serta gangguan ritme jantung, diabetes mellitus,
gangguan fungsi ginjal dan hati. Selain itu, juga terjadi keadaan yang
sering mengganggu lansia seperti gangguan fungsi kognitif, keseimbangan
badan, penglihatan dan pendengaran. Semua keadaan ini menyebabkan
lansia memperoleh pengobatan yang banyak jenisnya.(3)

Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-


lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Secara umum, memang
beberapa penyakit dapat dikendalikan, akan tetapi pada lansia hal ini
masih merupakan suatu masalah, karena berkaitan dengan menurunya
fungsi organ tubuh akibat proses menua. Bahkan diluar negeri yang
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak diragukan lagi, ternyata
angka kematian akibat beberapa penyakit pada lansia masih jauh lebih
tinggi dibandingkan pada usia muda, yang membuktikan bahwa
pengobatan yang tepat masih merupakan masalah penting pada lansia.(4)

I.2 TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk :
1. Mengetahui pengertian geriatri
2. Mengetahui bagaimana cara mendosiskan pada pasien geriatri
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 GERIATRI
Proses menjadi tua ini disebut senescence (dari kata Yunani yang
artinya menjadi tua) dan proses ini ditandai khas oleh penurunan fungsi
seluruh sistem tubuh yang berjalan secara bertahap; sistem kardiovascular,
pernafasan, kemih dan kelamin, endokrin dan sistem imun. Kepercayaan
yang timbul bahwa umur tua berhubungan dengan kelemahan fisik dan
intelektual yang mencolok hanyalah merupakan mitos. Kebanyakan orang
yang berumur tua dapat mempertahankan kemampuan kognitif dan
fisiknya sampai ke tahap yang mengagumkan. Gangguan fungsi kognitif
umum terjadi pada usia lanjut, oleh karenanya sangat penting untuk
memahami pengaruh dari menjadi tua secara normal terhadap penampilan
kognitif. Cara yang paling sering untuk mengetahui pengaruh proses
menjadi tua adalah membandingkan kelompok usia lanjut dengan
kelompok dewasa muda secara terpisah dengan penelitian secara kros
seksional. Karena perbedaan keturunan yang bercampur dengan umur bila
kedua kelompok tadi dibandingkan, maka penelitian kros seksional sering
memberikan perkiraan yang lebih besar dari pengaruh perubahan proses
menjadi tua yang sebenarnya.(8)
Pembagian terhadap populasi berdasarkan usia lanjut meliputi tiga
tingkatan (menurut WHO), yaitu :
1. Lansia (elderly) dengan kisaran umur 60-75 tahun,
2. Tua (old) dengan kisaran umur 75-90 tahun,
3. Sangat tua (very old) dengan kisaran umur > dari 90 tahun (Walker and
Edward, 2003).
Pasien geriatri (elderly) merupakan pasien dengan karakteristik
khusus karena terjadinya penurunan massa dan fungsi sel, jaringan, serta
organ. Hal ini menimbulkan perlu adanya perubahan gaya hidup,
perbaikan kesehatan, serta pemantauan pengobatan baik dari segi dosis
maupun efek samping yang mungkin ditimbulkan.(4)

prinsip umum penggunaan obat pada usia lanjut :

1. Berikan obat hanya yang betul-betul diperlukan artinya hanya bila ada
indikasi yang tepat. Bila diperlukan efek plasebo berikan plasebo yang
sesungguhnya
2. Pilihlah obat yang memberikan rasio manfaat yang paling
menguntungkandan tidak berinteraksi dengan obat yang lain atau
penyakit lainnya
3. Mulai pengobatan dengan dosis separuh lebih sedikit dari dosis yang
biasa diberikan pada orang dewasa yang masih muda.
4. Sesuaikan dosis obat berdasarkan dosis klinik pasien, dan bila perlu
dengan memonitor kadar plasma pasien. Dosis penuNjang yang tepat
umumnya lebih rendah.
5. Berikan regimen dosis yang sederhana dan sediaan obat yang mudah
ditelan untuk memelihara kepatuhan pasien
6. Periksa secara berkala semua obat yang dimakan pasien, dan hentikan
obat yang tidak diperlukan lagi.(8)

Pada sistem pencernaan para lansia, terjadi perubahan pada


peningkatan pH lambung. menurunnya aliran darah ke usus akibat
penurunan curah jantung dan perubahan waktu pengosongan lambung dan
gerak saluran cerna.(8)

Distribusi obat berhubungan dengan komposisi tubuh, ikatan


protein-plasma, dan aliran darah organ. Semua itu akan mengalami
perubahan denganbertambahnya usia, sehingga dosis antara pasien geriatri
dan pasien yang lebih muda akan berbeda. Pada geriatri, komposisi air
dalam tubuh akan berkurang sehingga menyebabkan penurunan volum
distribusi obat yang larut air. sehingga konsentrasi dalam plasma
meningkat, contoh: digoksin. namun pada usia lansia, terjadi peningkatan
total lemak dalam tubuh, sehingga meningkatkan Vd obat yang larut
dalam lemak namun konsntrasi obat dalam plasma menurun. pada geriatri,
jumlah albumin plasma berkurang sehingga mengakibatkan jumlah obat
yang diikat olih albumin menurun dan mengakibatkan obat tersebut berada
dalam tubuh dalam keadaan terikat.(8)

Ginjal berpengaruh besar pada eliminasi beberapa obat. Umumnya


obat diekskresi melalui filtrasi glomerolus yang sederhana dan kecepatan
ekskresinya berkaitan dengan kecepatan filtrasi glomerolus (oleh karena
itu berhubungan juga dengan bersihan kreatinin). Misalnya digoksin dan
antibiotik golongan aminoglikosida. (8)

Pada usia lanjut, fungsi ginjal berkurang, begitu juga dengan aliran
darah ke ginjal sehingga kecepatan filtrasi glomerolus berkurang sekitar 30
% dibandingkan pada orang muda. (8)

Fungsi Ginjal
Perubahan paling berarti pada geriatri ialah berkurangnya fungsi
ginjal dan menurunnya creatinine clearance, walaupun tidak terdapat
penyakit ginjal atau kadar kreatininnya normal. Hal ini menyebabkan
ekskresi obat sering berkurang, dengan akibat perpanjangan atau intensitas
kerjanya. Obat yang mempunyai waktu paruh panjang perlu diberi dalam
dosis lebih kecil bila efek sampingnya berbahaya. Dalam setiap keadaan
kita perlu memakai dosis lebih kecil bila dijumpai penurunan fungsi ginjal,
khususnya bila memberi obat yang mempunyai batas keamanan yang
sempit. Alopurinol dan petidin, dua obat yang sering digunakan pada
lansia memproduksi metabolit aktif, sehingga kedua obat ini juga perlu
diberi dalam dosis lebih kecil pada lansia. (6)

Fungsi Hati
Penurunan fungsi hati tidak sepenting penurunan fungsi ginjal. Hal
ini disebabkan karena hati memiliki kapasitas yang lebih besar, sehingga
penurunan fungsi hati tidak begitu berpengaruh. Kejenuhan metabolisme
oleh hati bisa terjadi bila diperlukan bantuan hati untuk metabolisme
dengan obat-obat tertentu. First-pass effect dan pengikatan obat oleh
protein (protein-binding) berpengaruh penting secara farmakokinetik. Obat
yang diberikan oral diserap oleh usus dan sebagian terbesar akan melalui
Vena porta dan langsung masuk ke hati sebelum memasuki sirkulasi
umum. Hati akan melakukan metabolisme obat yang disebut first-pass
effect dan mekanisme ini dapat mengurangi kadar plasma hingga 30% atau
lebih. Kadar yang kemudian ditemukan dalam plasma merupakan
bioavailability suatu produk yang dinyatakan dalam prosentase dari dosis
yang ditelan. Obat yang diberi secara intra-vena tidak akan melalui hati
dahulu tapi langsung masuk dalam sirkulasi umum. Protein-binding juga
dapat menimbulkan efek samping serius. Obat yang diikat banyak oleh
protein dapat digeser oleh obat lain yang berkompetisi untuk ikatan
dengan protein seperti aspirin, sehingga kadar aktif obat pertama meninggi
sekali dalam darah dan menimbulkan efek samping. Warfarin, misalnya,
diikat oleh protein (albumin) sebanyak 99% dan hanya 1% merupakan
bagian yang bebas dan aktif. Proses redistribusi menyebabkan 1% ini
dipertahankan selama obat bekerja. Bila kemudian diberi aspirin yang 80-
90% diikat oleh protein, aspirin menggeser ikatan warfarin kepada protein
sehingga kadar warfarin-bebas naik mendadak, yang akhirnya
menimbulkan efek samping perdarahan spontan. Aspirin sebagai
antiplatelet juga akan menambah intensitas perdarahan. Inipun bisa terjadi
dengan aspirin yang mempunyai waktu-paruh plasma hanya 15 menit.
Banyak obat geser-menggeser dalam proses protein-binding bila beberapa
obat diberi bersamaan. Sebagian besar mungkin tidak berpengaruh secara
klinis, tetapi untuk obat yang batas keamanannya sempit dapat
membahayakan penderita.
Pasien geriatri (elderly) merupakan pasien dengan karakteristik
khusus karena terjadinya penurunan massa dan fungsi sel, jaringan, serta
organ. Hal ini menimbulkan perlu adanya perubahan gaya hidup,
perbaikan kesehatan, serta pemantauan pengobatan baik dari segi dosis
maupun efek samping yang mungkin ditimbulkan).
Kimble, menyatakan bahwa geriatri juga telah mengalami
perubahan dalam hal farmakokinetik dan farmakodinamik obat. Perubahan
farmakokinetik yang terjadi karena adanya penurunan kemampuan
absorbsi yang disebabkan oleh perubahan dari saluran gastrointestinal,
perubahan distribusi terkait dengan penurunan cardiac output dan ikatan
protein-obat, perubahan metabolisme karena penurunan fungsi hati dan
atau ginjal, serta penurunan laju ekskresi karena terjadinya penurunan
fungsi ginjal. Obat harus berada pada tempat kerjanya dengan konsentrasi
yang tepat untuk mencapai efek terapetik yang didapatkan. Perubahan-
perubahan farmakokinetik pada pasien lanjut usia memiliki peranan
penting dalam bioavailabilitas obat tersebut. (5)

Proses-proses farmakokinetik obat pada usia lanjut dijelaskan pada


uraian di bawah ini :

a) Absorbsi
Penundaan pengosongan lambung, reduksi sekresi asam lambung dan
aliran darah organ absorbsi secara teoritis berpengaruh pada absorbs itu
sendiri. Namun pada kenyataannya perubahan yang terkait pada usia ini
tidak berpengaruh secara bermakna terhadap bioavailabilitas total obat
yang diabsorbsi. Beberapa pengecualian termasuk pada digoksin dan obat
dan substansi lain (misal thiamin, kalsium, besi dan beberapa jenis gula).

b) Distribusi
Farktor-faktor yang menentukan distribusi obat termasuk komposisi
tubuh, ikatan plasma-protein dan aliran darah organ dan lebih spesifik lagi
menuju jaringan, semuanya akan mengalami perubahan dengan
bertambahnya usia, akibatnya konsentrasi obat akan berbeda pada pasien
lanjut usia jika dibandingkan dengan pasien yang lebih muda pada
pemberian dosis obat yang sama.(5)
c) Komposisi Tubuh
Pertambahan usia dapat menyebabkan penurunan total air. Hal ini
menyebabkan terjadinya penurunan volume distribusi obat yang larut air
sehingga konsentrasi obat dalam plasma meningkat. Pertambahan usia
juga akan meningkatkan massa lemak tubuh. Hal ini akan menyebabkan
volume distribusi obat larut lemak meningkat dan konsentrasi obat dalam
plasma turun namun terjadi peningkatan durasi obat (missal golongan
benzodiazepin) dari durasi normalnya.(5)

d) Ikatan Plasma Protein


Seiring dengan pertambahan usia, albumin manusia juga akan turun.
Obat-obatan dengan sifat asam akan berikatan dengan protein albumin
sehingga menyebabkan obat bentuk bebas akan meningkat pada pasien
geriatric. Saat obat bentuk bebas berada dalam jumlah yang banyak maka
akan mengakibatkan peningkatan konsentrasi obat dalam plasma
meningkat. Hal ini menyebabkan kadar obat tersebut dapat melampaui
konsentrasi toksis minimum (terlebih untuk obat-obatan paten).(9)

e) Aliran Darah pada Organ


Penurunan aliran darah organ pada lansia akan mengakibatkan
penurunan perfusi darah. Pada pasien geriatri penurunan perfusi darah
terjadi sampai dengan 45%. Hal ini akan menyebabkan penurunan
distribusi obat ke jaringan sehingga efek obat akan menurun.(9)

f) Eliminasi
Metabolisme hati dan eskresi ginjal adalah mekanisme penting yang
terlibat dalam proses eliminasi. Efek dosis obat tunggal akan diperpanjang
dan pada keadaan steady state akan meningkat jika kedua mekanisme
menurun.(5)
 Metabolisme hati
Substansi yang larut lemak akan dimetabolisme secara ekstensif di
hati, sehingga mengakibatkan adanya penurunan bioavaibilitas sistemik.
Oleh karena itu adanya penurunan metabolism akan meningkatkan
bioavaibilitas obat. Pada pasien geriatri adanya gangguan first past
metabolism akan meningkatkan biovaibilitaas obat.(5)
 Eliminasi Ginjal
Penurunan aliran darah ginjal, ukuran organ, filtrasi glomerulus dan
fungsi tubuler merupakan perubahan yang terjadi dengan tingkat yang
berbeda pada pasien geriatri. Kecepatan filtrasi glomerolus menurun
kurang lebih 1 % per tahun dimulai pada usia 40 tahun. perubahan tesebut
mengakibatkan beberapa obat dieliminasi lebih lambat pada lanjut usia.
Beberapa kasus menunjukan bahwa konsentrasi obat dalam jaringan akan
meningkat sebanyak 50% akibat penurunan fungsi ginjal. Penurunan
klirens kreatinin terjadi pada dua pertiga populasi. Penting untuk diketahui
bahwa penuruna klirens kreatinin ini tidak dibarengi dengan peningkatan
kadar kreatinin yang setara dalam serum karena produksi kreatinin juga
menurun seiring berkurangnya massa tubuh dengan pertambahan usia.
Akibat yang segera ditimbulkan oleh perubahan ini adalah pemanjangan
waktu-paruh banyak obat dan kemungkinan akumulasinya dalam kadar
toksik jika dosis tidak diturunkan dalam hal ukuran atau frekuensi.
Rekomendasi pemberian obat untuk para lansia sering kali mencakup
batasan dosis untuk klirens ginjal yang menurun.(9)
Paru berperan penting pada ekskresi obat volatile. Akibat
berkurangnya kapasitas pernapasan dan peningkatan insidens penyakit
paru aktif pada lansia, anesthesia inhalasi menjadi lebih jarang digunakan
dan agen parenteral menjadi lebih sering digunakan pada kelompok usia
ini.(9)
FARMAKOKINETIK

Pada usia lanjut perubahan terjadi pada saluran cerna yang diduga
mengubah absorbsi obat, misalnya meningkatnya pH lambung,
menurunnya aliran darah ke usus akibat penurunan curah jantung dan
perubahan waktu pengosongan lambung dan gerak saluran cerna. Oleh
karena itu, kecepatan dan tingkat absorbsi obat tidak berubah pada usia
lanjut, kecuali pada beberapa obat seperti fenotain, barbiturat, dan
prozasin.(4)

Pada distribusi obat terdapat hubungan antara penyebaran obat dalam


cairan tubuh dan ikatannya dengan protein plasma (biasanya dengan
albumin, tetapi pada beberapa obat dengan protein lain seperti asam alfa 1
protein), dengan sel darah merah dan jaringan tubuh termasuk organ
target. Pada usia lanjut terdapat penurunan yang berarti pada massa tubuh
tanpa lemak dan cairan tubuh total, penambahan lemak tubuh dan
penurunan albumin plasma. Penurunan albumin sedikit sekali terjadi pada
lansia yang sehat dapat lebih menjadi berarti bila terjadi pada lansia yang
sakit, bergizi buruk atau sangat lemah. Selain itu juga dapat menyebabkan
meningkatnya fraksi obat bebas dan aktif pada beberapa obat dan kadang-
kadang membuat efek obat lebih nyata tetapi eliminasi lebih cepat.(4)

Munculnya efek obat sangat ditentukan oleh kecapatan penyerapan dan


cara penyebarannya. Durasi (lama berlangsungnya efek) lebih banyak
dipengaruhi oleh kecepatan ekskresi obat terutama oleh penguraian di hati
yang biasanya membuat obat menjadi lebih larut dalam air dan menjadi
metabolit yang kurang aktif atau dengan ekskresi metabolitnya oleh ginjal.
Sejumlah obat sangat mudah diekskresi oleh hati, antara lain melalui
ambilan (uptake) oleh reseptor dihati dan melalui metabolisme sehingga
bersihannya tergantung pada kecepatan pengiriman ke hati oleh darah.
Pada usia lanjut, penurunan aliran darah ke hati dan juga kemungkinan
pengurangan ekskresi obat yang tinggi terjadi pada labetolol, lidokain, dan
propanolol.(4)

Efek usia pada ginjal berpengaruh besar pada ekskresi beberapa obat.
Umumnya obat diekskresi melalui filtrasi glomerolus yang sederhana dan
kecepatan ekskresinya berkaitan dengan kecepatan filtrasi glomerolus
(oleh karena itu berhubungan juga dengan bersihan kreatinin). Misalnya
digoksin dan antibiotik golongan aminoglikosida. Pada usia lanjut, fungsi
ginjal berkurang, begitu juga dengan aliran darah ke ginjal sehingga
kecepatan filtrasi glomerolus berkurang sekitar 30 % dibandingkan pada
orang yang lebih muda. Akan tetapi, kisarannya cukup lebar dan banyak
lansia yang fungsi glomerolusnya tetap normal. Fungsi tubulus juga
memburuk akibat bertambahnya usia dan obat semacam penicilin dan
litium, yang secara aktif disekresi oleh tubulus ginjal, mengalami
penurunan faali glomerolus dan tubulus.(4)

INTERAKSI FARMAKOKINETIK

1. Fungsi Ginjal

Perubahan paling berarti saat memasuki usia lanjut ialah berkurangnya


fungsi ginjal dan menurunnya creatinine clearance, walaupun tidak
terdapat penyakit ginjal atau kadar kreatininnya normal. Hal ini
menyebabkan ekskresi obat sering berkurang, sehingga memperpanjang
intensitas kerjanya. Obat yang mempunyai half-life panjang perlu diberi
dalam dosis lebih kecil bila efek sampingnya berbahaya. Dua obat yang
sering diberikan kepada lansia ialah glibenklamid dan digoksin.
Glibenklamid, obat diabetes dengan masa kerja panjang (tergantung
besarnya dosis) misalnya, perlu diberikan dengan dosis terbagi yang lebih
kecil ketimbang dosis tunggal besar yang dianjurkan produsen. Digoksin
juga mempunyai waktu-paruh panjang dan merupakan obat lansia yang
menimbulkan efek samping terbanyak di Jerman karena dokter Jerman
memakainya berlebihan, walaupun sekarang digoksin sudah digantikan
dengan furosemid untuk mengobati payah jantung sebagai first-line
drug.(2)

Karena kreatinin tidak bisa dipakai sebagai kriteria fungsi ginjal, maka
harus digunakan nilai creatinine-clearance untuk memperkirakan dosis
obat yang renal-toxic, misalnya aminoglikoside seperti gentamisin.
Penyakit akut seperti infark miokard dan pielonefritis akut juga sering
menyebabkan penurunan fungsi ginjal dan ekskresi obat.(2)

Dosis yang lebih kecil diberikan bila terjadi penurunan fungsi ginjal,
khususnya bila memberi obat yang mempunyai batas keamanan yang
sempit. Alopurinol dan petidin, dua obat yang sering digunakan pada
lansia dapat memproduksi metabolit aktif, sehingga kedua obat ini juga
perlu diberi dalam dosis lebih kecil pada lansia.(2)

2. Fungsi Hati

Hati memiliki kapasitas yang lebih besar daripada ginjal, sehingga


penurunan fungsinya tidak begitu berpengaruh. Ini tentu terjadi hingga
suatu batas. Batas ini lebih sulit ditentukan karena peninggian nilai ALT
tidak seperti penurunan creatinine-clearance. ALT tidak mencerminkan
fungsi tetapi lebih merupakan marker kerusakan sel hati dan karena
kapasitas hati sangat besar, kerusakan sebagian sel dapat diambil alih oleh
sel-sel hati yang sehat. ALT juga tidak bisa dipakai sebagai parameter
kapan perlu membatasi obat tertentu. Hanya anjuran umum bisa
diberlakukan bila ALT melebihi 2-3 kali nilai normal sebaiknya mengganti
obat dengan yang tidak dimetabolisme oleh hati. Misalnya pemakaian
methylprednisolon, prednison dimetabolisme menjadi prednisolon oleh
hati. Hal ini tidak begitu perlu untuk dilakukan bila dosis prednison
normal atau bila hati berfungsi normal. Kejenuhan metabolisme oleh hati
bisa terjadi bila diperlukan bantuan hati untuk metabolisme dengan obat-
obat tertentu.(4)

First-pass effect dan pengikatan obat oleh protein (protein-binding)


berpengaruh penting secara farmakokinetik. Obat yang diberikan oral
diserap oleh usus dan sebagian terbesar akan melalui Vena porta dan
langsung masuk ke hati sebelum memasuki sirkulasi umum. Hati akan
melakukan metabolisme obat yang disebut first-pass effect dan mekanisme
ini dapat mengurangi kadar plasma hingga 30% atau lebih. Kadar yang
kemudian ditemukan dalam plasma merupakan bioavailability suatu
produk yang dinyatakan dalam prosentase dari dosis yang ditelan. Obat
yang diberikan secara intra-vena tidak akan melalui hati dahulu tapi
langsung masuk dalam sirkulasi umum. Karena itu untuk obat-obat
tertentu yang mengalami first-pass effect dosis IV sering jauh lebih kecil
daripada dosis oral.(4)

Protein-binding juga dapat menimbulkan efek samping serius. Obat yang


diikat banyak oleh protein dapat digeser oleh obat lain yang berkompetisi
untuk ikatan dengan protein seperti aspirin, sehingga kadar aktif obat
pertama meninggi sekali dalam darah dan menimbulkan efek samping.
Warfarin, misalnya, diikat oleh protein (albumin) sebanyak 99% dan
hanya 1% merupakan bagian yang bebas dan aktif. Proses redistribusi
menyebabkan 1% ini dipertahankan selama obat bekerja. Bila kemudian
diberi aspirin yang 80-90% diikat oleh protein, aspirin menggeser ikatan
warfarin kepada protein sehingga kadar warfarin-bebas naik mendadak,
yang akhirnya menimbulkan efek samping perdarahan spontan. Aspirin
sebagai antiplatelet juga akan menambah intensitas perdarahan. Hal ini
juga dapat terjadi pada aspirin yang mempunyai waktu-paruh plasma
hanya 15 menit. Sebagian besar mungkin tidak berpengaruh secara klinis,
tetapi untuk obat yang batas keamanannya sempit dapat membahayakan
penderita.(4)
FARMAKODINAMIK
Farmakodinamik adalah pengaruh obat terhadap tubuh. Respon seluler
pada lansia secara keseluruhan akan menurun. Penurunan ini sangat
menonjol pada respon homeostatik yang berlangsung secara fisiologis.
Pada umumnya obat-obat yang cara kerjanya merangsang proses biokimia
selular, intensitas pengaruhnya akan menurun misalnya agonis untuk
terapi asma bronkial diperlukan dosis yang lebih besar, padahal jika
dosisnya besar maka efek sampingnya akan besar juga sehingga index
terapi obat menurun. Sedangkan obat-obat yang kerjanya menghambat
proses biokimia seluler, pengaruhnya akan terlihat bila mekanisme
regulasi homeostatis melemah.(3)

II.2 DOSIS OBAT


Dosis atau takaran obat adalah banyaknya suatu obat yang dapat
dipergunakan atau diberikan kepada seorang penderita, baik untuk obat
dalam maupun obat luar. Kecuali dinyatakan lain, yang dimaksud adalah
dosis maksimum dewasa untuk pemakaian melalui mulut, injeksi subkutan
dan rectal. Selain itu dikenal juga istilah dosis lazim, Dosis obat yang
harus diberikan kepada pasien kepada pasien untuk menghasilkan efek
yang diharapkan tergantung banyak faktor antara lain umur, bobot badan,
luas permukaan tubuh, jenis kelamin, kondisi penyakit dan kondisi
penderita.(3)
Dengan dosis obat dimaksud jumlah obat yang diberikan kepada
penderita dalam satuan berat (gram, milligram,mikrogram) atau satuan isi
(liter, mililiter) atau unit-unit lainnya (Unit Internasional). Bila dosis obat
yang diberikan melebihi dosis terapeutik terutama obat yang tergolong
racun ada kemungkinan terjadi keracunan, dinyatakan sebagai dosis toxic.
Dosis toxic ini dapat sampai mengakibatkan kematian, disebut sebagai
dosis letal.(3)
II.3 CARA PERHITUNGAN DOSIS
Pemilihan dan penetapan dosis memang tidak mudah karena harus
memperhatikan beberapa faktor seperti yang telah disebutkan, karena
aturan pokok perhitungan dosis untuk anak tidak ada, para pakar mencoba
untuk membuat perhitungan berdasarkan umur, bobot badan dan luas
permukaan tubuh (body surface area). Berikut adalah beberapa rumus
perhitungan dosis(7)
1. Berdasarkan Berat Badan

Berdasarkan Berat Badan (BB)


 Rumus CLARK (Amerika) :
Berat badan anak dalam kg x dosis maksimal dewasa
150
 Rumus Thermich ( Jerman ) :
Berat Badan Anak dalam kg x dosis maksimal dewasa
70
2. Dosis obat berdasarkan umur pasien

 Rumus Young (untuk anak < 8 th)

Dosis = n(tahun)/n(tahun) +12 X dosis dewasa

 Rumus Fried

Dosis = n(bulan)/150 X dosis dewasa

 Rumus Gaubius (pecahan X dosis dwasa)

0 - 1th = 1/12 X dosis dewasa

1-2th = 1/8 X dosis dewasa

2-3th = 1/6 X dosis dewasa

3-4th = 1/4 X doisis dewasa

4-7th = 1/3 X dosis dewasa

7-14th = 1/2 X dosis dewasa

14-20th = 2/3 X doisis dewasa


21-60th = dosis dewasa

Dosis Maksimum
Kecuali dinyatakan lain, dosis maksimum adalah dosis maksimum dewasa
(20-60 tahun) untuk pemakaian melalui mulut, injeksi subkutan dan rektal.
Di F.I III daftar dosis maksimum ada di halaman 959-994.

Dosis Geriatri
Untuk orang lanjut usia karena keadaan fisik sudah mulai menurun.
Pemberian dosis harus lebih kecil dari dosis maksimum.

Menurut buku Obat-Obat penting .


- 65- 74 tahun, dosis biasa - 10%
- 75-84 tahun, dosis biasa - 20%
- Diatas 85 tahun, dosis biasa – 30%
Menurut buku ilmu resep
- 60 -70 tahun 4/5 dosis dewasa
- 70- 80 tahun 3/4 dosis dewasa
- 80-90 tahun 2/3 dosis dewasa
- 90 tahun ke atas ½ dosis dewasa.

Lanjut usia (lansia) pasti mengalami perubahan fisiologis dan biologis seperti
penurunan fungsi organ tubuh dan penurunan kecepatan metabolisme, serta
berkurangnya hormon maunpun perubahan keadaan enzim-enzim didalam
tubuh, sehingga perlu penyesuaian dosis untuk lansia yang dikonversi dari
dosis dewasa, konversi dosis sebagai berikut:
BAB III
PEMBAHASAN

III.1 Cara Menghitung Dosis Maksimum Obat Dalam Resep


1. Contoh perhitungan berdasarkan Usia

 Untuk umur di atas 8 tahun dengan rumus

(n/20) x DvgM dimana n = umur dalam tahun, contohnya :


R/ Ekstrak Belladonce 0.12
Antipyrin 1,5
Lactosa q.s
m.f.pulv.No. XII
s.t.d.d.p.l.
Pro Siti (15)
Dengan DM : 20mg/80mg maka DM:1/4
Penyelesaian :
i. DM untuk umur 15 th:

Extr. Bellad 1 x p =15/20 x 20mg =15mg


1 hari=15/20 x 80mg=60mg
Antipyrin 1 x p =15/20 x 1 =0,75g=750mg
1 hari=15/20 x 4=3g=3.000mg
ii. Setiap bungkus mengandung :

Extr. Bellad = 0,12/12 = 0,01 = 10mg


Antipyrin = 1,5/12 =0,125 =125mg
iii. Pemakaian menurut resep :

Extr. Bellad : 1 x p = 10mg<DM


1 hari = 3 x 10mg = 30mg<DM
Antipyrin : 1 x p = 125mg<DM
1 hari = 3 x 125mg=375mg<DM

2. Hitung dosis parasetamol untuk anak usia 4 tahun dengan BB 15 kg,


jika diketahui dosis dewasa untuk parasetamol 500 mg per pemakaian.
Jawab :

Dosis = n (tahun) / n tahun + 12 x 500 mg

= 4 / 4 + 12 x 500 mg

= 120 ,5 mg

3. Dosis dewasa parasetamol 500 mg untuk sekali pakai, berapa dosis


untuk lansian berumur 67 tahun.
Jawab :

Mengingat :

Umur (tahun) ---> Dosis


60-70 4/5 dosis dewasa
70-80 3/4 dosis dewasa
80-90 2/3 dosis dewasa
>90 ½ dosis dewasa

4/5 x 500 mg = 400 mg untuk sekali pakai lansia umur 67 tahun


(kisaran 60-70 tahun)
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1 KESIMPULAN

Salah satu hal yang menjadi fokus dalam keberhasilan


pengobatan adalah dapat menentukan dengan tepat jumlah dosis yang
akan diberikan pada pasien, khususnya pada pasien geriatri, Oleh
karena itu, tenaga kesehatan, harus dapat menguasai pengetahuan
tentang penentuan dosis obat sesuai dengan kebutuhan klien atau
pasien.

IV.2 SARAN

Kemampuan untuk menerapkan rumus perhitungan dosis


dalam memberikan dosis obat yang tepat dan akurat pada pasien
geriatri sangat bermanfaat, selain itu juga diperlukan memahami
kondisi mental dari pasien geriatri agar lebih mendorong pasien
bersemangat untuk terus patuh dalam pengobatan supaya tingkat
kesembuhan cepat diperoleh.
DAFTAR PUSTAKA

1. Rahmawati, Fitri, dkk. Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 4 No. 1 Januari


2008, Hal 23-29 : Problem Pemilihan Obat Pada Pasien Rawat Inap
Geriatri di RSUP DR. Sardjito Yogyakarta, Fakultas Farmasi UGM.
2. Chistiane, Merry, dkk. Jurnal Farmasi Indonesia Vol. V, No. 3 Desember
2008, 138-149 : Kejadian Reaksi Obat Yang Tidak Dikehendaki Yang
Menyebabkan Pasien Usia Lanjut Dirawat Di Ruang Perawatan Penyakit
Dalam Instalasi Rawat Inap B Rumah Sakit DR. Cipto Mangunkusumo,
Fakultas FMIPA jurusan Farmasi UI.
3. Anonim, 2004, Bagi Kaum Lansia Obat tidak Selalu Menjadi Sahabat
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0804/01/index.htm.. Diakses tanggal
14 Maret 2009
4. Darmansjah, Iwan, Prof. 1994. Jurnal Ilmiah : Polifarmasi pada Usia
Lanjut. Diakses tanggal 14 Maret 2009
5. Darmojo-Boedi, Martono Hadi (editor). 2006. Buku Ajar Geriatri. Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran UI. Jakarta
6. Bustami,Z.S. 2001. Obat Untuk Kaum Lansia. Edisi kedua. Penerbit ITB.
Bandung
7. Syamsuni, (2005) Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, Penerbit
Buku Kedokteran (EGC)
8. Craven, RF., Hirnle, CJ. (2000). Fundamental of Nursing : Human Health
and Function, 3rd Ed., New York : Lippincott Pub.
9. Supriati, Tati., Bahan Ajar Praktikum Farmasetika, Jurusan Farmasi
Poltekkes Jakarta II
10. Manjoer, Arif M, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, 12, Media
Aesculapius, Jakarta.
11. Anonim, 2006, Terapi pada Usia Lanjut (Geriatri),
http://pojokapoteker.blogspot.com/2008/12/terapi-pada-usia-lanjut-
geriatri.html diakses 14 Maret 2009