Anda di halaman 1dari 13

Tugas Keuangan Negara dan Daerah

Evaluasi Belanja (Expenditure Review)

Kelompok 1
Siska Dili Lorenza 1410531020
Sesty Regiani L 1410531030
Vanessa Thoyibah F 1410531031

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi


Universitas Andalas
2017
PENDAHULUAN

Keterbatasan anggaran pemerintah merupakan hal yang umum ditemui. Di sisi


lain, pemerintah dihadapkan pada berbagai alternatif program yang akan dilaksanakan. Hal
tersebut menyebabkan pemerintah harus jeli dalam menentukan program yang diprioritaskan.
Pemilihan prioritas suatu proyek tidak mudah. Dalam memutuskan kelayakan suatu proyek
yang berhubungan dengan sektor publik, pemerintah dihadapkan pada banyak pertimbangan
dan permasalahan. Dalam hal ini, prioritas yang dipilih harus mempertimbangkan
kepentingan publik atau masyarakat umum. Terkait dengan proses pengambilan keputusan
mengenai kelayakan suatu proyek atau program,pemerintah memerlukan suatu alat analisis
yang mampu digunakan dalam meminimalkan kesalahan dalam pemilihan keputusan. Salah
satu analisis yang dapat digunakan sebagai alatuntuk memilih program yang layak
diprioritaskan adalah dengan menggunakan analisis cost benefit.

Value for Money (VFM) adalah istilah yang digunakan untuk menilai apakah
organisasi telah memperoleh manfaat maksimal dari barang dan jasa yang baik memperoleh
dan memberikan, dalam sumber daya yang tersedia untuk itu. Beberapa elemen mungkin
subyektif, sulit diukur, tidak berwujud dan disalahpahami. Penghakiman Oleh karena itu
diperlukan ketika mempertimbangkan apakah VFM telah tercapai atau tidak
memuaskan. Tidak hanya mengukur biaya barang dan jasa, tetapi juga memperhitungkan
campuran kualitas, biaya, penggunaan sumber daya, kesesuaian untuk tujuan, ketepatan
waktu, dan kenyamanan untuk menilai apakah atau tidak, bersama-sama, mereka merupakan
nilai yang baik .

Dalam rangka pertanggungjawaban publik, pemerintah daerah diharapkan dapat


melakukan optimalisasi belanja yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Proses anggaran yang telah disepakati antara
pemerintah daerah dan DPRD merupakan amanat rakyat. Ini adalah tantangan untuk
menunjukkan bahwa sebagai pihak yang bertanggungjawab akan kepentingan rakyat
pemerintah daerah dan DPRD harus memposisikan dirinya pada posisi yang tepat. Selain itu,
hal tersebut adalah sebuah peluang untuk menunjukkan bahwa pemerintah daerah dan DPRD
bukan sebagai salah satu penikmat dana rakyat, akan tetapi dapat berbagi rasa dengan rakyat
dari dana yang tersedia bagi daerah.
PEMBAHASAN

1. COST BENEFIT ANALYSIS


Cost benefit analysis adalah pendekatan sistematis untuk mempertimbangkan
kelemahan biaya dan kekuatan manfaat biaya terhadap pilihan yang ada. Dengan kata lain
analisis manfaat biaya (cost benefit analysis) merupakan analisis yang digunakan untuk
mengetahui besaran keuntungan/kerugian serta kelayakan suatu proyek. Dalam
perhitungannya, analisis ini memperhitungkan biaya serta manfaat yang akan diperoleh dari
pelaksanaan suatu program. Dalam analisis benefit dan cost perhitungan manfaat serta biaya
ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Analisis ini mempunyai banyak
bidang penerapan. Salah satu bidang penerapan yang umum menggunakan rasio ini adalah
dalam bidang investasi. Sesuai dengan dengan makna ekstualnya yaitu benefit cost (manfaat-
biaya) maka analisis ini mempunyai penekanan dalam perhitungan tingkat
keuntungan/kerugian suatu program atau suatu rencana dengan mempertimbangkan biaya
yang akan dikeluarkan serta manfaat yang akan dicapai. Penerapan analisis ini banyak
digunakan oleh para investor dalam upaya mengembangkan bisnisnya. Terkait dengan hal ini
maka analisis manfaat dan biaya dalam pengembangan investasi hanya didasarkan pada rasio
tingkat keuntungan dan biaya yang akan dikeluarkan atau dalam kata lain penekanan yang
digunakan adalah pada rasio finansial atau keuangan.

Dibandingkan penerapannya dalam bidang investasi, penerapan Benefit Cost Ratio


(BCR) telah banyak mengalami perkembangan. Salah satu perkembangan analisis BCR
antara lain yaitu penerapannya dalam bidang pengembangan ekonomi daerah. Dalam bidang
pengembangan ekonomi daerah, analisis ini umum digunakan pemerintah daerah untuk
menentukan kelayakan pengembangan suatu proyek. Relatif berbeda dengan penerapan BCR
di bidang investasi, penerapan BCR dalam proses pemilihan suatu proyek terkait upaya
pengembangan ekonomi daerah relatif lebih sulit. Hal ini dikarenakan aplikasi BCR dalam
sektor publik harus mempertimbangkan beberapa aspek terkait social benefit (social welfare
function) dan lingkungan serta tak kalah penting adalah factor efisiensi. Faktor efisiensi
mutlak menjadi perhatian menimbang terbatasnya dana dan kemampuan pemerintah daerah
sendiri. Secara terinci aspek-aspek tersebut juga mempertimbangkan dampak penerapan suatu
program dalam masyarakat baik secara langsung (direct impact) maupun tidak langsung
(indirect impact) faktor eksternalitas, ketidakpastian (uncertainty), risiko (risk) serta shadow
price. Terkait perhitungan risiko dan ketidakpastian, hal ini dapat diatasi dengan
menggunakan asuransi dan melakukan lindung nilai (hedging). Efisiensi ekonomi merupakan
kontribusi murni suatu program dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sehingga yang
menjadi perhatian utama dalam penerapan BCR dalam suatu proyek pemerintah yang
berkaitan dengan sektor publik adalah redistribusi sumber daya.

Analisis biaya manfaat (CBA), kadang-kadang disebut analisis manfaat biaya


(BCA), adalah proses sistematis untuk menghitung dan membandingkan manfaat dan biaya
dari proyek untuk dua tujuan:
1. Untuk menentukan apakah itu adalah investasi yang sehat (pembenaran / kelayakan).
2. Untuk melihat bagaimana membandingkan dengan proyek-proyek alternatif
(peringkat / prioritas tugas). Ini melibatkan membandingkan biaya total diharapkan
setiap pilihan terhadap manfaat yang diharapkan total, untuk melihat apakah
manfaatnya lebih besar daripada biaya, dan seberapa banyak.

Dalam CBA, manfaat dan biaya yang dinyatakan dalam bentuk uang, dan disesuaikan
dengan nilai waktu dari uang, sehingga semua aliran arus manfaat dan biaya proyek dari
waktu ke waktu (yang cenderung terjadi pada titik-titik berbeda dalam waktu) disajikan pada
dasar umum dalam hal mereka "nilai sekarang".

 Konsep Dasar Analisis Cost Benefit Analysis


Keterbatasan anggaran pemerintah merupakan hal yang umum ditemui. Di sisi
lain, pemerintah dihadapkan pada berbagai alternatif program yang akan dilaksanakan. Hal
tersebut menyebabkan pemerintah harus jeli dalam menentukan program yang diprioritaskan.
Pemilihan prioritas suatu proyek tidak mudah. Dalam memutuskan kelayakan suatu proyek
yang berhubungan dengan sektor publik, pemerintah dihadapkan pada banyak pertimbangan
dan permasalahan. Dalam hal ini, prioritas yang dipilih harus mempertimbangkan
kepentingan publik atau masyarakat umum. Terkait dengan proses pengambilan keputusan
mengenai kelayakan suatu proyek atau program,pemerintah memerlukan suatu alat analisis
yang mampu digunakan dalam meminimalkan kesalahan dalam pemilihan keputusan. Salah
satu analisis yang dapat digunakan sebagai alatuntuk memilih program yang layak
diprioritaskan adalah dengan menggunakan analisis cost benefit.
 Manfaat Cost Benefit Analysis Ratio
Terkait dengan penerapan BCR dalam perekonomian suatu daerah, maka
sesuai dengan pedoman penyusunan anggaran berbasis kinerja, pemerintah harus menentukan
target kinerja. Target tersebut ditetapkan berdasarkan prioritas tertentu. Dalam hal ini, BCR
tidak hanya membantu pengambil kebijakan untuk memilih alternatif terbaik dari pilihan
yang ada, yang dalam hal ini pemilihan alternatif terbaik dilakukan berdasarkan alasan
perbandingan antara life cycle’s benefit dengan biaya yang dikeluarkan, melainkan juga dapat
membandingkan alternatif-alternatif tersebut. Analisis BCR masih dapat diterapkan ketika
suatu proyek telah diputuskan untuk dilakukan, sehingga manfaat yang kedua dari
dilakukannya analisis BCR adalah dapat mengontrol perkembangan dari proyek yang
bersangkutan pada tahun-tahun ke depan. Manfaat ketiga dari penerapan BCR adalah BCR
dapat digunakan untuk evaluasi suatu proyek yang telah selesai dikerjakan. Tujuan
dilakukannya evaluasi ini adalah untuk mengetahui kinerjasuatu proyek dan hasil analisis
yang telah dilakukan dapat digunakan untuk perbaikan program yang selanjutnya.

Berdasarkan hasil analisis ini, pemerintah dapat menentukan pilihan yang tepat
dan anggaran dapat dialokasikan secara efektif. Pemilihan alternatif dan penentuan prioritas
ini berkontribusi pada pencapaian anggaran berbasis kinerja, yang merupakan salah satu pilar
reformasi anggaran. Telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa landasan utama
penetapan suatu proyek dalam kapasitas pengembangan daerah tidak mutlak hanya dilakukan
berdasarkan variabel manfaat dan biaya.

Dalam pengembangan ekonomi suatu wilayah, analisis utama yang harus


dikedepankan oleh pemerintah daerah adalah sejauh mana kontribusi suatu proyek dalam
komunitas dan ekonomi lokal suatu wilayah. Secara umum, BCR dapat membantu
penggunanya untuk:
1. Membantu dalam proses pengambilan keputusan.
2. Menambah alternatif atau pilihan.
3. Mengurangi biaya alternatif yang tidak efektif.
 Kekuatan dan Keterbatasan Cost Benefit Analysis
Beberapa kekuatan analisis biaya manfaat adalah:
• Biaya dan manfaat diukur dengan nilai uang, sehingga memungkinkan analis untuk
mengurangi biaya dari manfaat.
• Analisis biaya manfaat memungkinkan analis melihat lebih luas dari kebijakan atau
program tertentu, dan mengaitkan manfaat terhadap pendapatan masyarakat secara
keseluruhan.
• Analisis biaya manfaat memungkinkan analis membandingkan program secara luas dalam
lapangan yang berbeda.

Beberapa keterbatasan analisis biaya manfaat adalah:


• Tekanan yang terlalu eksklusif pada efisiensi ekonomi, sehingga kriteria keadilan tidak
dapat diterapkan
• Nilai uang tidak cukup untuk mengukur daya tanggap (responsiveness) karena adanya
variasi pendapatan antar masyarakat.
• Ketika harga pasar tidak tersedia, analis harus membuat harya bayangan (shadow price)
yang subyektif sifatnya.
2. VALUE FOR MONEY
 Konsep Value For Money
Value for money merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang mendasarkan
pada tiga elemen utama dan dua elemen tambahan.
a. Elemen Utama :
1) Ekonomi, pemerolehan input dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada harga
terendah. Ekonomi merupakan perbandingan input dengan input value. Ekonomi terkait
dengan sejauh mana organisasi sektor publik dapat meminimalisir inputresources yang
digunakan yaitu dengan menghindari value yang dinyatakan dalam satuan moneter
pengeluaran yang boros dan tidak produktif.

2) Efisiensi, pencapaian output yang maksimum dengan input tertentu atau penggunaan
input terendah untuk mencapai output tertentu. Efisiensi merupakan
perbandingan output dengan input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang
telah ditetapkan.

3) Efektivitas, tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan. Efektivitas
merupakan perbandingan outcome dengan output.

b. Elemen Tambahan:
1) Keadilan, mengacu pada adanya kesempatan sosial (sosial opportunity) yang sama
untuk mendapatkan pelayanan publik berkualitas dan kesejahteraan ekonomi.
2) Pemerataan, penggunaan uang publik hendaknya tidak terkonsentrasi pada kelompok
tertentu saja, melainkan dilakukan secara merata.

 Input, Output, dan Outcome


a. Input, merupakan sumberdaya yang digunakan untuk pelaksanaan suatu kebijakan
program, dan aktivitas. Contoh input: dokter di rumah sakit, tanah untuk jalan baru, guru di
sekolah, dan sebagainya.
b. Output, merupakan hasil yang dicapai dari suatu program, aktivitas, dan kebijakan.
Contoh output yang dihasilkan polisi adalah tegaknya hukum dan peraturan atau rasa aman
masyarakat, ukuran output dapat diperkirakan oleh turnnya angka kriminalitas, tetapi hal
tersebut tidak sepenuhnya benar karena ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti
peran pendidikan, perbaikan ekonomi, dan sebagainya sedangkan aktivitas polisi hanyalah
salah satu faktor.
c. Outcome, merupakan dampak yang ditimbulkan dari suatu aktivitas tertentu. Sebagai
contoh, outcome yang diharapkan terjadi dari aktivitas pengumpulan sampah oleh dinas
kebersihan kota adalah terciptanya lingkungan kota yang bersih dan sehat.Outcome seringkali
dikaitkan dengan tujuan (objectives) atau target yang hendak dicapai.

 Manfaat Implementasi Konsep Value For Money


Manfaat implementasi konsep value for money pada organisasi publik:
a. Meningkatkan efektivitas pelayanan publik, dalam arti pelayanan yang diberikan tepat
sasaran.
b. Meningkatkan mutu pelayanan publik.
c. Menurunkan biaya pelayanan publik karena hilangnya inefisiensi dan terjadinya
penghematan dalam penggunaan input.
d. Alokasi belanja yang lebih berorientansi pada kepentingan publik.
e. Meningkatkan kesadaran akan uang publik (publik costs awareness) sebagai akar
pelaksanaan akuntabilitas publik.

 Pengukuran Kinerja Dengan Menggunakan Value For Money


Value for money merupakan inti pengukuran kinerja pada organisasi pemerintah dan
sektor publik. Kinerja pemerintah tidak dapat dinilai dari sisi output yang dihasilkan semata,
akan tetapi secara terintegrasi harus mempertimbangkan input, output, dan outcome secara
bersama-sama. Permasalahan yang sering muncul adalah sulitnya mengukur output karena
output yang dihasilkan pemerintah tidak selalu berupa output yang berwujud (tangible
output), tetapi kebanyakan juga bersifat output tidak berwujud (intangible output). Ukuran
kinerja pada dasarnya berbeda dengan indikator kinerja. Perbedaan antara ukuran kinerja
dengan indikator kinerja adalah:
· Ukuran kinerja, Umumnya mengacu pada penilaian kinerja secara langsung, misalnya:
laporan keuangan pemerintah.
· Indikator kinerja, Mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung, yaitu hal-hal
yang sifatnya hanya merupakan indikasi-indikasi kinerja.
Mekanisme penentuan indikator kinerja membutuhkan:
a. Sistem perencanaan dan pengendalian. Meliputi proses, prosedur, dan struktur
yang memberi jaminan bahwa tujuan organisasi telah dijelaskan dan
dikomunikasikan keseluruh bagian organisasi dengan menggunakan rantai
komando.
b. Spesifikasi teknis dan standarisasi. Spesifikasi ini digunakan sebagai ukuran
kinerja kegiatan, program dan organisasi.
c. Kompetensi teknis dan profesionalisme. Personil yang memiliki kompetensi dan
professionalmerupakan jaminan dukungan dalam pekerjaan.
d. Mekanisme ekonomi dan mekanisme pasar. Mekanisme ekonomi terkait dengan
pemberian reward dan punishment yang bersifat finansial.
e. Sedangkan mekanisme pasar terkait dengan penggunaan sumber daya. Mekanisme
ini digunakan untuk memperbaiki kinerja personil dan organisasi.

 Langkah-langkah Pengukuran Value For Money


1. Pengukuran Ekonomi,
Pengukuran ekonomi hanya mempertimbangkan masukan (input) yang gunakan.
Pertanyaan yang diajukan adalah:
· Apakah biaya organisasi lebih besar dari yang dianggarkan?
· Apakah biaya organisasi lebih besar dari pada biaya organisasi lain yang sejenis yang
dapat diperbandingkan?
· Apakah organisasi telah menggunakan sumber daya finansialnya secara optimal?

2. Pengukuran Efisiensi,
Efisiensi diukur dengan rasio antara output dengan input. Semakin besar output
dibanding input, maka semakin tinggi tingkat efisiensi suatu organisasi.
Cara perbaikan terhadap efisiensi adalah:
a. Meningkatkan output pada tingkat input yang sama,
b. Meningkatkan output dalam proporsi yang lebih besar daripada proporsi
peningkatan input.
c. Menurunkan input pada tingkatan output yang sama.
d. Menurunkan input dalam proporsi yang lebih besar daripada proporsi penurunan
output.
3. Pengukuran Efektifitas,
Efeketivitas adalah ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya.
Efektivitas tidak menyatakan tentang berapa besar biaya yang telah dikeluarkan untuk
mencapai tujuan tersebut.

4. Pengukuran Outcome,
Outcome adalah dampak suatu program atau kegiatan terhadap masyarakat atau
mengukur kualitas output terhadap dampak yang dihasilkan.
Pengukuran outcome memiliki 2 peran:
a. Peran Retrospektif, terkait dengan penilaian kinerja masa lalu.
b. Peran Prospektif, terkait dengan perencanaan kinerja di masa yang akan datang.
Dalam peran ini, pengukuran outcome digunakan untuk mengarahkan keputusan
alokasi sumber daya publik.

5. Estimasi Indikator Kinerja


Suatu unit organisasi perlu melakukan estimasi untuk menentukan target kinerja yang
ingin dicapai pada periode mendatang. Penentuan target tersebut didasarkan pada
perkembangan cakupan layanan atau indicator kinerja.
3. REVIEW KRITIKAL ATAS BELANJA PEMERINTAH PUSAT/DAERAH
Dengan diimplementasikannya otonomi daerah dan desentralisasi fiskal maka
tanggung jawab penyelenggaraan pemerintahan (penyediaan barang publik dan pembangunan
ekonomi) di tingkat daerah menjadi sangat besar. Secara umum diyakini desentralisasi fiskal
akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun kecenderungan kearah tersebut tidak
nampak karena hingga saat ini sebagian besar Pemerintah Daerah (Pemda dan DPRD) Kota
dan Kabupaten di Indonesia merespon desentralisasi fiskal dengan menggenjot kenaikan
PAD melalui pajak dan restribusi tanpa diimbangi peningkatan efektifitas pengeluaran
APBD.

Anggaran pada dasarnya terdiri dari dua sisi, yaitu sisi penerimaan dan sisi
pengeluaran. Sisi penerimaan atau perolehan biaya ditentukan oleh besarnya dana yang
diterima oleh lembaga dari setiap sumber dana. Misalkan pada bidang pendidikan.

Besarnya penerimaan dari masyarakat baik dari perorangan maupun lembaga,


yayasan, berupa uang tunai, barang, hadiah, atau pinjaman bergantung pada kemampuan
masyarakat setempat dalam memajukan dunia pendidikan. Besarnya dana yang diterima dari
orang tua siswa berupa iuran BP3 (Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan) dan SPP
(Sumbangan Pembinaan Pendidikan) yang langsung diterima sekolah didasarkan atas
kemampuan orang tua siswa dan ditentukan oleh pemerintah atau yayasan. Sedangkan
besarnya penerimaan dari sumber-sumber lain termasuk dalam golongan ini bantuan atau
pinjaman dari luar negeri yang diperuntukkan bagi pendidikan, seperti bantuan UNICEF atau
UNESCO. Sedangkan sisi pengeluaran terdiri dari alokasi biaya pendidikan untuk setiap
komponen yang harus dibiayai. Dari seluruh penerimaan biaya, sebagian dipergunakan untuk
membiayai kegiatan administrasi, ketatausahaan, sarana prasarana pendidikan; dan sebagian
diberikan kepada sekolah melalui beberapa saluran.
PENUTUP

Dalam rangka pertanggungjawaban publik, pemerintah daerah diharapkan dapat


melakukan optimalisasi belanja yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Proses anggaran yang telah disepakati antara
pemerintah daerah dan DPRD merupakan amanat rakyat. Ini adalah tantangan untuk
menunjukkan bahwa sebagai pihak yang bertanggungjawab akan kepentingan rakyat
pemerintah daerah dan DPRD harus memposisikan dirinya pada posisi yang tepat. Selain itu,
hal tersebut adalah sebuah peluang untuk menunjukkan bahwa pemerintah daerah dan DPRD
bukan sebagai salah satu penikmat dana rakyat, akan tetapi dapat berbagi rasa dengan rakyat
dari dana yang tersedia bagi daerah.
DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Analisis_biaya-manfaat
http://ilmuakuntansis.blogspot.co.id/2015/04/konsep-value-for-money.html