Anda di halaman 1dari 59

SIAPAKAH YANG LAYAK DIBERI AMANAH?

SIAPAKAH YANG LAYAK DIBERI AMANAH?


Oleh
Abu Abdillah Arief B. bin Usman Rozali
Betapa menyedihkan, tatkala sifat amanah ini telah hilang dari sebagian kaum Muslimin, apalagi
yang sudah “mengaji”.
Ketahuilah, wahai para pembaca budiman,
Sebagai seorang yang benar-benar mengaku beriman kepada Allah dan mengaku mengikuti
manhaj Salaf yang sempurna dan mulia ini, maka, perhatikanlah baik-baik!
Karena tidak jarang kita mendapatkan khabar tentang si Fulan yang tidak menepati janjinya …
berpura-pura lupa … Si Fulan sangat menggampangkan sesuatu yang berkaitan dengan
tugasnya … Bahkan … Si Fulan telah menipu rekan bisnisnya … Si Fulan berbohong dan tidak
amanah kepada atasannya … Si Fulan menipu ustadznya yang berbisnis dengannya …
Sungguh mengherankan, sekaligus memalukan! Wallahul Musta’an, wa laa haula wa laa
quwwata illa billah.
____________________________________________
Amanah adalah sifat mulia. Sehingga amat disayangkan jika kaum Muslimin kehilangan sifat
mulia ini. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
memerintahkan kepada setiap muslim untuk menunaikan amanah, menjelaskan akibat buruk
mengabaikan dan melalaikan amanah. Penyebab utama seseorang terjerumus ke dalam
kemaksiatan ini adalah karena kejahilan (kebodohan).[1]
Kebodohan seorang muslim terhadap pentingnya masalah amanah, telah membuatnya
meninggalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat agung ini, sekaligus telah
bermaksiat. Dan bahkan dapat menjadi dosa besar, jika seseorang yang telah mengetahui
hukumnya, tetapi justru menyia-nyiakan amanah.
Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, kita senantiasa berusaha keras dan sungguh-sungguh
membebaskan diri dari kejahilan, yakni dengan menuntut ilmu syar’i secara umum, dan
memahami urgensi amanah ini secara khusus, lalu mengamalkannya. Serta tetap terus
memohon dan berdoa kepada Allah Subhanahun wa Ta’ala agar kita senantisa diberi taufiq,
hidayah, dan segala kemudahan dalam menuntut ilmu syar’i, memahaminya, serta
merealisasikan syariat Islam yang sempurna dan mulia ini dalam keseharian.
MAKNA AMANAH
Al Imam Ibnu al Atsir rahimahullah berkata, amanah bisa bermakna ketaatan, ibadah, titipan,
kepercayaan, dan jaminan keamanan [2]. Begitu juga al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah
membawakan beberapa perkataan dari sahabat dan tabi’in tentang makna amanah ini. Ketika
menafsirkan surat al Ahzab ayat 72, al Hafizh Ibnu Katsir membawakan beberapa perkataan
sahabat dan tabi’in tentang makna amanah dengan menyatakan, makna amanah adalah
ketaatan, kewajiban-kewajiban, (perintah-perintah) agama, dan batasan-batasan hukum.[3]
Asy Syaikh al Mubarakfuri rahimahullah berkata,”(Amanah) adalah segala sesuatu yang
mewajibkan engkau untuk menunaikannya” [4]. Adapun menurut asy Syaikh Masyhur bin Hasan
Alu Salman -hafizhahullah-amanah adalah, kepercayaan orang berupa barang-barang titipan,
dan perintah Allah berupa shalat, puasa, zakat dan semisalnya, menjaga kemaluan dari hal-hal
haram, dan menjaga seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan dosa. [5]
Sedangkan asy Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali -hafizhahullah- menjelaskan, amanah adalah
sebuah perintah menyeluruh dan mencakup segala hal berkaitan dengan perkara-perkara, yang
dengannya, seseorang terbebani untuk menunaikannya, atau ia dipercaya dengannya. Sehingga
amanah ini mencakup seluruh hak-hak Allah atas seseorang, seperti perintah-perintahNya yang
wajib. Juga meliputi hak-hak orang lain, seperti barang-barang titipan (yang harus ditunaikan dan
disampaikan kepada si pemiliknya, Pen). Sehingga, sudah semestinya seseorang yang dibebani
amanah, ia menunaikannya dengan sebaik-baiknya dengan menyampaikan kepada pemiliknya.
Ia tidak boleh menyembunyikan, mengingkari, atau bahkan menggunakannya tanpa izin yang
syar’i.[6]
Asy Syaikh Husain bin Abdul Aziz Alu asy Syaikh -hafizhahullah- juga menjelaskan : “Para ulama
telah berkata, hal-hal yang termasuk amanah sangatlah banyak. Kaidah dan dasar hukumnya
adalah segala sesuatu yang seseorang terbebani dengannya, dan hak-hak yang telah
diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia memelihara dan menunaikannya, baik
berkaitan dengan agama, jiwa manusia, akal, harta, dan kehormatan harga diri”. [7]
DI ANTARA DALIL-DALIL AL QUR`AN YANG MENJELASKAN TENTANG AMANAH
1. Surat an Nisaa/4 ayat 58 :
ِ ‫إِن َّللاَ يَأ ْ ُم ُر ُك ْم أ َ ْن ت ُ َؤدُّوا ْاْل َ َمانَا‬
‫ت إِلَ ٰى أ َ ْه ِل َها‬
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya…”
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah di dalam Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (2/338-339) berkata : Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwa sesungguhnya Ia memerintahkan (kepada kita)
untuk menunaikan amanah kepada pemiliknya. Dalam sebuah hadits dari al Hasan, dari
Samurah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
َ‫ َوالَ ت َ ُخ ْن َم ْن خَانَك‬، َ‫أ َ ِد اْل َ َمانَةَ إِلَى َم ِن ائْـت َ َمنَك‬
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang engkau dipercaya (untuk menunaikan amanah
kepadanya), dan jangan khianati orang yang telah mengkhianatimu”. [Diriwayatkan oleh al Imam
Ahmad dan Ahlus Sunan].[8]
Ini mencakup seluruh jenis amanah yang wajib ditunaikan oleh seseorang yang dibebani
dengannya. Baik (amanah itu) berupa hak-hak Allah atas hambanya, seperti (menunaikan)
shalat, zakat, kaffarat, nadzar, puasa, dan lain-lainnya yang ia terbebani dengannya dan tidak
terlihat oleh hamba-hamba Allah lainnya. Ataupun berupa hak-hak sesama manusia, seperti
barang-barang titipan, dan yang semisalnya, yang mereka saling mempercayai satu orang
dengan yang lainnya tanpa ada bukti atasnya. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
memerintahkannya untuk menunaikannya. Barangsiapa yang tidak menunaikannya, akan
diambil darinya pada hari Kiamat kelak.[9]
2. Surat al Anfal/8 ayat 27 :
َ‫سو َل َوت َ ُخونُواْ أ َ َمانَا ِت ُك ْم َوأَنت ُ ْم ت َ ْعلَ ُمون‬ َ ْ‫يَا أَيُّ َها الذِينَ آ َمنُواْ الَ ت َ ُخونُوا‬
ُ ‫هللا َوالر‬
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan
(juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang
kamu mengetahui.”
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,”… Dan khianat, mencakup seluruh perbuatan dosa,
baik yang kecil maupun yang besar, baik (dosanya) terhadap dirinya sendiri maupun terhadap
orang lain. ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas, (tentang firmanNya) ‫ َوت َ ُخونُواْ أ َ َمانَاتِ ُك ْم‬,
amanah adalah seluruh perbuatan yang telah Allah bebankan kepada hamba-hambaNya (agar
mereka menunaikannya, Pen), yaitu (berupa) kewajiban-kewajiban. Dan maksud “janganlah
kamu mengkhianati amanat-amanat” adalah, janganlah kamu menggugurkannya. Dalam sebuah
riwayat, ‘Ibnu Abbas menjelaskan maksud firmanNya: ‫سو َل‬ َ ْ‫ الَ ت َ ُخونُوا‬, (janganlah kamu
ُ ‫هللا َوالر‬
mengkhianati Allah dan Rasul), dengan cara meninggalkan sunnah Nabi dan melakukan maksiat
kepada Nabi” [10]
3. Surat al Ahzab/33 ayat 72 :
ً ‫ظلُو ًما َج ُه‬
‫وال‬ َ َ‫سانُ ۖ ِإنهُ َكان‬ ِ ْ ‫ال فَأَبَيْنَ أ َ ْن يَحْ مِ ْلنَ َها َوأ َ ْشفَ ْقنَ مِ ْن َها َو َح َملَ َها‬
َ ‫ال ْن‬ ِ َ‫ض َو ْال ِجب‬
ِ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬ َ َ‫ضنَا ْاْل َ َمانَة‬
َ ‫علَى الس َم‬
ِ ‫اوا‬ ْ ‫ع َر‬
َ ‫ِإنا‬

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung,
maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya,
dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat
bodoh”.
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, setelah membawakan beberapa perkataan dari shahabat dan
tabi’in tentang makna amanah ini, beliau berkata: “Seluruh perkataan ini, tidak ada pertentangan
sesamanya. Bahkan seluruhnya bermakna sama dan kembali kepada satu makna, (yaitu)
pembebanan, penerimaan perintah-perintah dan larangan-larangan dengan syarat-syaratnya.
Dan hal ini, jika seseorang menunaikannya, maka ia akan diberi pahala. Namun, jika ia menyia-
nyiakannya, maka ia pun akan disiksa. Akhirnya, manusialah yang menerima amanah ini,
padahal ia lemah, bodoh, lagi berbuat zhalim. Kecuali orang yang diberi taufiq oleh Allah, dan
Allah-lah tempat memohon pertolongan”.[11]
4. Surat al Mu’minun/23 ayat 8, atau surat al Ma’arij/70 ayat 32:
َ ‫َوالذِينَ هُ ْم ِْل َ َمانَاتِ ِه ْم َو‬
َ‫ع ْه ِد ِه ْم َراعُون‬
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya”.
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (8/227) berkata: “Maksudnya,
apabila mereka dipercaya (dalam suatu urusan), mereka tidak berkhianat. Dan apabila mereka
mengadakan perjanjian, mereka tidak menyelisihinya. Demikianlah sifat orang-orang yang
beriman. Dan kebalikan dari ini, adalah sifat orang-orang munafik. Sebagaimana diterangkan
dalam hadits shahih, tanda orang munafiq ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila
berjanji ia menyelisihi janjinya, dan apabila diberi amanah (kepercayaan) ia berkhianat. Dalam
sebuah riwayat, apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyelisihi janjinya, dan
apabila bertengkar ia berbuat curang.[12]
5. Surat al Baqarah/2 ayat 283:

ِ ‫اؤْ تُمِ نَ أ َ َمانَتَهُ َو ْليَت‬


ُ‫ق َّللاَ َربه‬
“…Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah dia
bertakwa kepada Allah Tuhannya…”.
DI ANTARA DALIL-DALIL AS SUNNAH YANG BERKAITAN DENGAN AMANAH DAN
KETERANGAN WAJIBNYA MENUNAIKAN AMANAH, SERTA AKIBAT BURUK MENYIA-
NYIAKAN DAN MELALAIKANNYA
1. Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, yang menjelaskan wajibnya menunaikan amanah
kepada pemiliknya, ia berkata:
َ‫ َوالَ ت َـ ُخ ْن َم ْن خَانَك‬، َ‫ أ َ ِد اْل َ َمانَـةَ إِلَى َم ِن ائْـت َ َمنَك‬:‫سل َم‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ُ‫صلى هللا‬ ُ ‫ قَا َل َر‬.
ِ ‫س ْو ُل‬
َ ‫هللا‬
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikanlah amanah kepada orang yang
engkau dipercaya (untuk menunaikan amanah kepadanya), dan jangan khianati orang yang
telah mengkhianatimu”. [13]
Berkaitan dengan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini, asy Syaikh
al Mubarakfuri rahimahullah berkata : “Perintah (di dalam hadits ini) menunjukkan wajibnya hal
tersebut” [14]. Yakni, seseorang wajib menunaikan amanah. Sehingga Imam adz Dzahabi
rahimahullah telah mengkategorikan perbuatan khianat ini ke dalam perbuatan dosa besar.
Beliau berkata,”Khianat sangat buruk dalam segala hal, sebagiannya lebih buruk dari sebagian
yang lainnya. Tidaklah orang yang mengkhianatimu dengan sedikit uang, seperti orang yang
mengkhianatimu pada keluargamu, hartamu, dan ia pun melakukan dosa-dosa besar
(lainnya)”.[15]
2. Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, yang menjelaskan salah satu tanda hari Kiamat
adalah apabila amanah telah disia-siakan, ia berkata:
‫سل َم‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ُ‫صلى هللا‬ َ ‫هللا‬ ِ ‫ضى َرسُ ْو ُل‬ َ ‫عةُ؟ فَ َم‬ َ ‫ َمت َى السا‬:َ‫ فَقَال‬،‫ي‬ ٌّ ‫ َجا َءهُ أَع َْرا ِب‬،‫ِث القَ ْو َم‬ ُ ‫سل َم فِي َمجْ ل ٍِس يُ َحد‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ُ‫صلى هللا‬ َ ‫ي‬ ُّ ‫بَ ْينَ َما النـ ِب‬
‫ع ِن‬ َ ُ
‫ل‬ ‫ئ‬
ِ ‫ا‬ ‫الس‬ - ‫ه‬
ُ َ‫ا‬ ‫ر‬ ُ ‫أ‬- َ‫ْن‬‫ي‬ َ ‫أ‬ :َ
‫ل‬ ‫ا‬َ ‫ق‬ ،ُ ‫ه‬َ ‫ث‬‫ْـ‬
‫ي‬ ‫د‬
ِ ‫ح‬
َ َ ‫ى‬ ‫ض‬ َ ‫ق‬ ‫ا‬َ ‫ذ‬ ‫إ‬ ‫ى‬ ‫ت‬‫ح‬ ،‫ع‬
ِ َ ْ َ َ ْ َ ُْ ‫م‬ ‫س‬
ْ ‫ي‬ ‫م‬َ ‫ل‬ ْ
‫ل‬ ‫ب‬ : ‫م‬ ‫ه‬ ‫ض‬
ُ ‫ع‬
ْ َ ‫ب‬ ‫ل‬
َ ‫ا‬َ ‫ق‬ ‫و‬
َ ،َ‫ل‬ ‫ا‬َ ‫ق‬ ‫ا‬‫م‬َ َ ِ‫ه‬ ‫َر‬ ‫ك‬َ ‫ف‬ ‫ل‬
َ ‫ا‬َ ‫ق‬ ‫ا‬‫م‬ ‫ع‬ ِ‫م‬
َ َ َ ِْ ‫س‬ : ‫م‬ ‫و‬ َ ‫ق‬‫ال‬ ‫ض‬ ُ ‫ع‬
ْ َ ‫ فَقَا‬،‫ِث‬
‫ب‬ ‫ل‬
َ ُ ‫يُ َحد‬
‫غي ِْر‬ َ ‫ ِإذَا ُو ِس َد اْل َ ْم ُر ِإلَى‬:َ‫عت ُ َها؟ قَال‬ ‫ا‬‫ض‬
َ َ ِ َ ‫إ‬ ‫ْف‬ ‫ي‬ َ
‫ك‬ :َ
‫ل‬ ‫ا‬ َ ‫ق‬ ، َ ‫ة‬ ‫ع‬
َ ‫ا‬‫الس‬ ‫ر‬ ِ ِ‫ظ‬ َ ‫ت‬‫ـ‬‫ن‬ْ ‫ا‬َ ‫ف‬ ،ُ ‫ة‬ ‫َـ‬ ‫ن‬ ‫ا‬‫م‬َ َ ‫ْل‬ ‫ا‬ ‫ت‬
ِ ‫ع‬
َ ِ ‫ُـي‬ ‫ض‬ ‫ا‬َ ‫ذ‬ِ ‫إ‬َ ‫ف‬ :َ ‫ل‬ ‫ا‬َ ‫ق‬ ،ِ
‫هللا‬ ‫ل‬
َ ‫و‬ ‫س‬
ُ ‫ر‬
ْ َ َ ‫ا‬‫ي‬ ‫َا‬ ‫ن‬َ ‫أ‬ ‫َا‬
‫ه‬ :َ‫ل‬ ‫ا‬َ ‫ق‬ ، ‫ِ؟‬‫ة‬ ‫ع‬
َ ‫السا‬
َ‫عة‬ َ ‫ا‬‫الس‬ ‫ر‬ ِ ِ‫ظ‬َ ‫ت‬‫ـ‬ ْ
‫ن‬ ‫ا‬َ ‫ف‬ ،ِ‫ه‬ ‫ل‬
ِ ْ
‫ه‬ َ ‫أ‬ .
“Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam sebuah majelis (dan) berbicara dengan
sekelompok orang, datanglah kepadanya seorang sahabat (dari sebuah perkampungan) dan
berkata, “Kapankah hari kiamat?”. Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap
melanjutkan pembicaraannya, maka sebagian orang ada yang berkata, “Ia (Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) mendengar ucapannya, namun ia tidak menyukainya”. Dan
sebagian yang lain berkata: “Bahkan beliau tidak mendengarnya,” hingga akhirnya Rasulullah
selesai dari pembicaraannya, dan beliau pun bersabda, “Mana orang yang (tadi) bertanya?”
Orang itu berkata,”Inilah saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda,”Apabila amanah telah
disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat!” Orang itu kembali bertanya,”Bagaimanakah menyia-
nyiakan amanah itu?” Rasulullah bersabda,”Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang
yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat!” [16]
3. Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anha , yang menerangkan khianat adalah salah satu
tanda-tanda orang munafik, ia berkata:

َ َ‫ع َد أ َ ْخـل‬
َ‫ف؛ َوإِذَا اؤْ تُـمِ نَ خَان‬ َ ‫ب؛ َوإِذَا َو‬
َ َ‫ث َكذ‬
َ ‫ إِذَا َحد‬،‫ث‬ ِ ِ‫ آيـَةُ ال ُمـنَاف‬:َ‫ قَال‬،‫سل َم‬
ٌ َ‫ق ثَال‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ُ‫صلى هللا‬
َ ِ ‫ع ِن النبِي‬
َ .
“Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga :
apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyelisihi janjinya, dan apabila diberi amanah
(kepercayaan) ia berkhianat” [17].
4. Hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, yang menjelaskan amanah dan menepati janji
merupakan salah satu sifat orang beriman, ia berkata:
َ َ‫ َوالَ ِديْـنَ ِل َم ْن ال‬،ُ‫ الَ إِيْـ َمانَ ِل َم ْن الَ أ َ َمانَـةَ لَه‬:َ‫ إِال قَال‬،‫سل َم‬
ُ‫ع ْه َد لَـه‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ُ‫صلى هللا‬ ِ ‫ي‬
َ ‫هللا‬ َ ‫ َما َخ‬.
ُّ ِ‫طبَنَا نَب‬
“Tidaklah Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami, melainkan beliau
bersabda: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki (sifat) amanah, dan tidak ada agama
bagi orang yang tidak menepati janjinya”. [18]
Berkaitan dengan hadits ini, asy Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman -hafizhahullah- berkata,
“Maksud sabda beliau ( َ‫)الَ ِإيْـ َمان‬, dikatakan oleh as Sindi, ada yang mengatakan bahwa maksud
dari kedua penafian (peniadaan) dalam hadits ini adalah nafyul kamal (peniadaan kesempurnaan
iman dan agama). Ada yang mengatakan pula, maksudnya adalah, sama sekali tidak beriman
orang yang menganggap halal meninggalkan amanah, dan sama sekali tidak beragama
seseorang yang menganggap halal melanggar janjinya. Dan maksud dari sabda beliau ( ‫الَ ِديْـنَ ِل َم ْن‬
ُ‫ع ْه َد لَـه‬
َ َ‫ )ال‬adalah, barangsiapa yang mengadakan sebuah perjanjian dengan orang lain, lalu ia
sendiri yang melanggar dan tidak menepati janjinya tanpa ada ‘udzur (alasan) yang syar’i, maka
agamanya kurang. Adapun jika dengan ‘udzur (alasan yang syar’i) -seperti seorang Imam
(pemimpin) yang membatalkan perjanjian dengan seorang harbi (orang kafir yang diperangi), jika
ia melihat ada kemaslahatan padanya-, maka hal ini boleh. Wallahu Ta’ala a’lam”.[19]
5. Hadits Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash Radhiyallahu ‘anhuma , yang menerangkan salah satu
tanda hari kiamat adalah datangnya sebuah zaman, yang pada saat itu, orang yang amanah
(jujur) dianggap pengkhianat, dan pengkhianat dianggap orang yang amanah (jujur). Dia
mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ُ ْ‫ظ َه َر الفُح‬
‫ش‬ ْ َ‫ َحتى ي‬، ُ‫عةُ َحتى يُـخَونَ اْلَمِ ـيْنُ َويُؤْ ت َـ َمنَ الخَا ِئن‬ ُ ‫ِي نَ ْف‬
َ ‫ الَ ت َـقُ ْو ُم السا‬،ِ‫س ُم َحم ٍد ِبـيَ ِده‬ َ ْ‫ِض الفُح‬
َ ‫ش َوالتـفَح‬
ْ ‫ َوالذ‬،‫ُّش‬ ُ ‫هللا يُـ ْبغ‬
َ ‫ِإن‬
‫الج َو ِار‬
ِ ‫س ْو ُء‬ َ ُ َ
ُ ‫ُّش َوقطِ ـ ْيعَة اْل ْر َح ِام َو‬ َ
ُ ‫…والتـفح‬ َ .
“Sesungguhnya Allah membenci (sifat) keji dan kekejian. Dan demi (Dzat) yang jiwa Muhammad
berada di tangannya, tidak akan terjadi hari kiamat sampai orang yang amanah (jujur) dianggap
pengkhianat, dan seorang pengkhianat dipercaya, sampai muncul (sifat) keji dan kekejian,
pemutusan hubungan silaturahim (kerabat), dan buruk dalam bertetangga…”.[20]
SIAPAKAH YANG LAYAK DIBERI AMANAH?
Judul di atas memberikan pemahaman, tidak semua orang bisa diberi amanah kepercayan.
Maksudnya, ada orang yang memiliki sifat-sifat tertentu, yang dengannya ia sebagai orang yang
paling tepat dan paling berhak untuk dibebani amanah atau kepercayaan.
Asy Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbad al Badr -hafizhahullah- menjelaskan
permasalahan ini dan berkata:
Dasar untuk memilih seorang pegawai atau pekerja adalah ia seorang yang kuat dan amanah
(terpercaya). Karena dengan kekuatannya, ia mampu melakukan pekerjaan dengan baik. Dan
dengan sifat amanahnya, ia akan menempatkan pada tempatnya semua perkara yang berkaitan
dengan tugasnya. Dengan kekuatannya pula, ia sanggup menunaikan kewajiban yang telah
dibebani atasnya.
Allah telah mengkhabarkan tentang salah satu dari kedua anak perempuan seorang penduduk
Madyan, ia berkata kepada ayahnya tatkala Nabi Musa Alaihissallam mengambilkan minum
untuk hewan ternak kedua wanita tersebut:
ُّ ‫ت ا ْست َأ ْ ِج ْرهُ ۖ إِن َخي َْر َم ِن ا ْست َأ ْ َج ْرتَ ْالقَ ِو‬
ُ‫ي ْاْلَمِ ين‬ ِ َ‫ت إِحْ َداهُ َما يَا أَب‬
ْ َ‫قَال‬
“… Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya
orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi
dapat dipercaya”. [al Qashash/28 : 26].
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah mengkhabarkan tentang ‘Ifrit dari golongan jin, yang
memperlihatkan kesanggupannya kepada Nabi Sulaiman Alaihissallam untuk membawa
singgasana Balqis:
ٌ‫ي أَمِ ين‬
ٌّ ‫علَ ْي ِه لَقَ ِو‬ َ ُ‫أَنَا آتِيكَ بِ ِه قَ ْب َل أ َ ْن تَق‬
َ ‫وم مِ ْن َمقَامِ كَ ۖ َوإِنِي‬
“…Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu
berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi
dapat dipercaya”. [an Naml/27 : 39].
Maknanya, ia memiliki kemampuan untuk membawa dan mendatangkannya, sekaligus menjaga
apa yang terdapat di dalamnya.
Allah juga mengkhabarkan tentang Nabi Yusuf Alaihissallam , tatkala ia berkata kepada sang
raja:
‫علِي ٌم‬ ٌ ‫ض ۖ ِإنِي َحفِي‬
َ ‫ظ‬ َ ‫قَا َل اجْ عَ ْلنِي‬
ِ ‫علَ ٰى خَزَ ائ ِِن ْاْل َ ْر‬
“… Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai
menjaga lagi berpengetahuan”. [Yusuf/12 : 55].
Kemudian, lawan dari sifat kuat dan amanah adalah lemah dan khianat. Sehingga, inipun
menjadi dasar atas diri seseorang untuk tidak dipilih dan dibebani kepercayaan atau pekerjaan.
Bahkan, mengharuskan untuk menjauhkannya dari kepercayaan atau pekerjaan.
Tatkala Umar bin al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menjadikan Sa’ad bin Abi Waqqash
Radhiyallahu ‘anhu sebagai gubernur di Kufah, dan kemudian orang-orang dungu di Kufah
mencelanya dan membicarakan buruk padanya, maka Umar Radhiyallahu ‘anhu melihat adanya
kemaslahatan untuk menghentikan (Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu) dari jabatan
tersebut untuk menghindari fitnah. Selain itu juga, agar tidak ada orang yang berani berbuat
macam-macam padanya. Kendatipun demikian, Umar Radhiyallahu ‘anhu, menjelang wafatnya
memilih enam orang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar salah satu dari
mereka dijadikan sebagai khalifah sepeninggalnya. Salah satu dari mereka adalah Sa’ad bin Abi
Waqqash Radhiyallahu ‘anhu. Hal ini, karena Umar Radhiyallahu ‘anhu khawatir timbul
prasangka, bahwa penghentiannya atas Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu -dari
jabatan Gubernur- disebabkan ketidakmampuannya dalam memimpin sebuah wilayah. Dan
Umar Radhiyallahu ‘anhu ingin menghilangkan anggapan itu dengan berkata:
‫عجْ ٍـز َوالَ خِ يَانَ ٍة‬
َ ‫ع ْن‬ َ ‫ َو ِإال فَ ْلـيَسْـتَع ِْن بِ ِه أَيُّـ ُك ْم َما أ ُ ِم‬، َ‫س ْعدا ً فَ ُه َو ذَاك‬
َ ُ‫ فَإِنِي لَ ْم أ َ ْع ِـز ْله‬،‫ـر‬ َ ُ ‫ـرة‬
َ ‫ال ْم‬
ِ ‫ت‬ َ َ ‫فَإِ ْن أ‬
ْ َ‫صاب‬
“Jika kekuasaan ini terjatuh pada Sa’ad, maka itu memang haknya. Dan jika tidak, maka
hendaknya salah seorang dari kalian meminta bantuannya, kerena sesungguhnya aku tidak
menghentikannya dengan sebab kelemahan dan pengkhianatan”. [Diriwayatkan al Bukhari,
3700].
Dan terdapat di dalam Shahih Muslim (1825) dari Abu Dzar z , ia berkata:
‫ َوإِنـ َها يَ ْو َم القِـيَا َم ِة‬،ٌ‫ َوإِنـ َها أ َ َمانَـة‬،‫ْف‬ َ َ‫ إِنـك‬،‫ يَا أَبَا َذ ٍر‬:َ‫ ثُم قَال‬،‫علَى َم ْن ِكبِ ْي‬
ٌ ‫ضـ ِعي‬ َ ‫ب بِيَ ِد ِه‬ ُ ‫ يَا َر‬: ُ‫قُ ْلت‬
َ َ‫ ف‬:َ‫ أَالَ تَسْـت َـعْمِ لُنِي؟ قَال‬،ِ‫س ْو َل هللا‬
َ ‫ض َر‬
‫علَـ ْي ِه فِ ْي َها‬ َ َ ٌ
َ ‫ َوأدى الذِي‬،‫ إِال َم ْن أ َخذَهَا بِ َح ِـق َها‬،‫ي َونَ َدا َمة‬ ٌ ‫ خِ ْز‬.
“Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku (seorang pemimpin)?” Lalu Rasulullah
memukulkan tangannya di bahuku, dan bersabda,”Wahai, Abu Dzar. Sesungguhnya engkau
lemah, dan sesungguhnya hal ini adalah amanah, dan ia merupakan kehinaan dan penyesalan
pada hari kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya, dan menunaikannya
(dengan sebaik-baiknya)”.
Terdapat pula di dalam Shahih Muslim, 1826, dari Abu Dzar, sesungguhnya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‫ َوالَ ت ََولـيَن َما َل يَـتِـي ٍْم‬،‫علَى اثْـنَـي ِْن‬ ْ ‫ َوإِنِي أُحِ بُّ لَكَ َما أُحِ بُّ لِـنَـ ْفس‬،ً‫ضـعِـيْفا‬
َ ‫ الَ ت َـأَم‬،‫ِي‬
َ ‫ـرن‬ َ َ‫ إِنِي أ َ َراك‬،‫ يَا أَبَا ذَ ٍر‬.
“Wahai, Abu Dzar. Sesungguhnya aku memandangmu orang yang lemah, sedangkan aku
mencintai untukmu seperti aku mencintai untuk diriku. Janganlah kamu menjadi pemimpin
(walaupun terhadap) dua orang (saja), dan janganlah kamu mengatur harta (anak) yatim”.[21]
Mudah-mudahan Allah l senantiasa menjadikan kita sebagai orang-orang yang jujur, amanah,
dan menjauhkan kita semua dari kelemahan, kedustaan, dan khianat. Hanya Allah sajalah Maha
Pemberi taufiq. Wallahu a’lam bish shawab.
Maraji’ & Mashadir:
1. Al Qur`an dan Terjemahnya, Cetakan Mujamma’ Malik Fahd, Saudi Arabia.
2. Shahih al Bukhari, tahqiq Musthafa Dib al Bugha, Daar Ibni Katsir, al Yamamah, Beirut, Cet.
III, Th. 1407 H/1987 M.
3. Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Daar Ihya at Turats, Beirut.
4. Sunan Abi Daud, tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Daar al Fikr.
5. Jami’ at Tirmidzi, tahqiq Ahmad Muhammad Syakir dkk, Daar Ihya at Turats, Beirut.
6. Musnad al Imam Ahmad, Mu’assasah Qurthubah, Mesir.
7. An Nihayah Fi Gharib al Hadits wa al Atsar karya Ibnu al Atsir (544-606 H), tahqiq Khalil
Ma’mun Syiha, Daar al Ma’rifah, Beirut-Libanon, Cet. I, Th 1422 H/ 2001 M.
8. Al Kaba-ir, karya adz Dzahabi (673-748 H), tahqiq Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu
Salman, Maktabah al Furqan, ‘Ajman, Uni Emirat Arab, Cet. II, Th. 1424 H/ 2003 M.
9. Ighatsatul Lahfaan fi Mashayid asy Syaithan, karya Ibnul (691-751 H), takhrij Muhammad
Nashiruddin al Albani (1332-1420 H), tahqiq Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al
Atsari, Daar Ibn al Jauzi, Dammam, KSA, Cet. I, Th. 1424 H.
10. Fawa-id al Fawa-id, Syamsuddin Ibnu Qayyim al Jauziyah (751 H), tartib dan takhrij Ali bin
Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al Atsari, Daar Ibn al Jauzi, Dammam, KSA, Cet. V, Th.
1422 H.
11. Zaadul Ma’ad, karya Ibnul Qayyim, tahqiq Syu’aib Al Arna’uth dan Abdul Qadir Al Arna’uth,
Mu’assasah ar Risalah, Beirut, Libanon, cet III, th 1423 H/2002 M.
12. Tafsir Ibnu Katsir (Tasir Al Qur’an Al ‘Azhim), karya Ibnu Katsir (700-774 H), tahqiq Sami bin
Muhammad as Salamah, Daar ath Thayibah, Riyadh, Cet. I, Th. 1422 H/ 2002 M.
13. Jami’ al Ulum wa al Hikam fi Syarhi Khamsina Haditsan min Jawami’ al Kalim, karya Ibnu
Rajab al Hanbali (736-795 H), tahqiq Syu’aib Al Arna-uth dan Ibrahim Bajis, Mu’assasah ar
Risalah, Beirut, Libanon, Cet. VII, Th. 1422 H/ 2001 M.
14. Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan at Tirmidzi, karya al Mubarakfuri (1283-1353 H), Daar al
Kutub al Ilmiah, Beirut.
15. Shahih Sunan Abi Daud, karya al Albani (1332-1420 H), Maktabah Al Ma’arif, Riyadh.
16. Shahih Sunan at Tirmidzi, karya al Albani (1332-1420 H), Maktabah al Ma’arif, Riyadh.
17. Shahih al Jami’ ash Shaghir, karya al Albani (1332-1420 H), Al Maktab al Islami.
18. As Silsilah as Shahihah, karya al Albani (1332-1420 H), Maktabah al Ma’arif, Riyadh.
19. Irwa-ul Ghalil fi Takhriji Ahaditsi Manar as Sabil, karya al Albani (1332-1420 H), al Maktab al
Islami, Beirut, Cet. II, Th. 1405 H/ 1985 M.
20. Shahih at Targhib wa at Tarhib, karya al Albani (1332-1420 H), Maktabah al Ma’arif, Riyadh,
Cet. I, Th. 1421 H/ 2000 M.
21. Kaifa yu-addi al Muwazhzhaf al Amanah, Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbad al Badr, ad Daar
al Haditsah, Mesir, Cet. I. Th. 1425 H/ 2004 M.
22. Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadh ash Shalihin, Salim bin ‘Id al Hilali, Daar Ibn al Jauzi,
Dammam, KSA, Cet. VI, Th. 1422 H.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-
761016]
________
Footnote
[1]. Fawa-id al Fawa-id, hlm. 193-195, dan 215-231.
[2]. An Nihayah fi Gharib al Hadits wa al Atsar (1/80).
[3]. Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (6/488-489).
[4]. Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ at Tirmidzi (4/400).
[5]. Lihat ta’liq (komentar) beliau dalam kitab al Kabair, hlm. 282.
[6]. Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadh ash Shalihin (1/288).
[7]. Dari khuthbah Jum’at yang beliau sampaikan di Masjid Nabawi, al Madinah an Nabawiyah,
KSA, pada tanggal 13 Rabi’ul Awwal 1426 H, yang bertema ‘Izhamu Qadril Amanah (Agungnya
Kedudukan Amanah).
[8]. Berkaitan dengan hadits yang dibawakan oleh al Hafizh Ibnu Katsir t di dalam kitab tafsirnya
(2/339) ini, pentahqiq Sami bin Muhammad as Salamah berkata: “Saya tidak mendapatkan
hadits ini diriwayatkan dari jalan Samurah Radhiyallahu ‘anhu, akan tetapi hadits ini diriwayatkan
oleh:
1. Imam Ahmad di dalam Musnadnya (3/414), dari seseorang, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam .
2. At Tirmidzi di dalam Sunannya nomor (1264), dan Abu Dawud di dalam Sunannya nomor
(3535), dari jalan Thalq bin Ghannam, dari Syarik dan Qais, dari Abu Hushain, dari Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘anhu. Dan at Tirmidzi berkata,”Hadits hasan Gharib”. Dan Abu Hatim
berkata,”Hadits munkar, tidak ada yang meriwayatkan hadits ini melainkan Thalq saja”. (Lihat al
‘Ilal (1/375). Lebih lanjut lihat catatan kaki pentahqiq kitab tafsir Ibnu Katsir tersebut.
[9]. Lihat pula risalah Kaifa yu-addi al Muwazhzhaf al Amanah, hlm. 4-5.
[10]. Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (4/41).
[11]. Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (6/489).
[12]. Muttafaq ‘alaih, lihat takhrij ringkasnya pada footnote nomor 17.
[13]. HR Abu Dawud (3/290 no. 3535), at Tirmidzi (3/564 no. 1264), dan lain-lain. Hadits ini
dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani -rahimahullah- di dalam Shahih Sunan Abi Dawud, Shahih
Sunan at Tirmidzi, Shahih al Jami’ (240), as Silsilah ash Shahihah (1/783 no. 423-424), dan Irwa-
ul Ghalil (5/381 no. 1544).
[14]. Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ at Tirmidzi (4/400).
[15]. al Kabair, hlm. 282.
[16]. HR al Bukhari (1/33 no. 59) dan (5/2382 no. 6131), Ahmad (2/361 no. 8714), dan lain-lain.
[17]. HR al Bukhari (1/21 no. 33, 2/952 no. 2536, 3/1010 no. 2598, 5/2262 no. 5744), Muslim
(1/78 no. 59), dan lain-lain.
[18]. HR Ahmad (3/135, 154, 210, 251), dan lain-lain. Hadits ini dishahihkan oleh asy Syaikh al
Albani t di dalam Shahih al Jami’ (7179), Shahih at Targhib wa at Tarhib (3/156 no. 3004), dan
lain-lain. Lihat pula takhrij asy Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman -hafizhahullah- terhadap
hadits ini dalam kitab al Kabair, hlm. 280-282.
[19]. Lihat ta’liq (komentar) beliau terhadap hadits ini dalam kitab al Kabair, hlm. 282.
[20]. HR Ahmad (2/199 no. 6872), dan lain-lain. Hadits ini dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani t
di dalam as Silsilah ash Shahihah (5/360).
[21]. Lihat risalah beliau yang berjudul Kaifa yu-addi al Muwazhzhaf al Amanah, hlm. 13-15.

Sumber: https://almanhaj.or.id/2711-siapakah-yang-layak-diberi-amanah.html
Bendahara Yang Tidak Amanah
Seorang muslim yang berakhlak pada Allah dan manusia, wajib untuk menjaga
amanah yang telah diberikan. Jika amanah itu tidak ditunaikan, akan merusak
perkara akhirat dan agama seseorang, jadilah hal ini akan merugikan diri sendiri dan
orang lain
By Wiwit Hardi Priyanto 19 March 2015

4 3531 1

Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi gelar al-amin, artinya orang yang
dapat dipercaya. Beliau adalah orang yang sangat menunaikan amanah, bahkan orang kafir
quraisy pun mempercayakan harta bendanya untuk dititipkan kepada beliau tatkala mereka
pergi. Amanah terbesar yang beliau emban adalah amanah risalah, yaitu menyampaikan
wahyu Allah Ta’ala kepada umatnya.

Lawan dari amanah adalah khianat. Allah Ta’ala berfirman,

‫ياايها الذين امنوا ال تخونوا هللا والرسول وتخونوا امنتكم وانتم تعلمون‬

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan
janganlah kalian mengkhianati amanah kalian sedang kalian mengetahui” (QS: Al-Anfal:
27).

Model dari sikap khianat sangat banyak macamnya, salah satunya dalam hal pengelolaan
uang yang sering dikaitkan dengan tugas seorang bendahara.

Kriteria yang Harus Dimiliki oleh Pekerja


Allah Ta’ala berfirman,
ُّ ‫ت ا ْست َأ ْ ِج ْرهُ ۖ ِإ َّن َخي َْر َم ِن ا ْست َأ ْ َج ْرتَ ْالقَ ِو‬
ُ‫ي ْاْل َ ِمين‬ ِ ‫ت ِإحْ دَا ُه َما َيا أ َ َب‬
ْ َ‫قَال‬

“Seorang dari salah satu perempuan itu berkata: ‘Wahai Ayahku, jadikanlah dia sebagai
pekerja, sesungguhnya orang yang paling baik engkau ambil sebagai pekerja adalah orang
yang kuat (Al-Qawiy) dan orang yang dapat dipercaya (Al-Amin)’” (QS. Al Qashash: 26).

Allah Ta’ala juga berfirman,

ٌ ‫ي أَ ِم‬
‫ين‬ ٌّ ‫امكَ َو ِإ ِِّني َعلَ ْي ِه لَقَ ِو‬ َ ُ‫قَا َل ِع ْفريتٌ ِمنَ ْال ِج ِِّن أَنَا آتِيكَ ِب ِه قَ ْب َل أ َ ْن تَق‬
ِ َ‫وم ِم ْن َمق‬

“’Ifrit dari golongan Jin berkata: ‘Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum
engkau berdiri dari tempat dudukmu, dan sungguh aku adalah seorang kuat (qawiyyun) dan
dapat dipercaya (amiinun)’” (QS. An-Naml: 39)

Dari dua ayat di atas, para ulama menyimpulkan dua hal yang harus dimiliki seorang pekerja.
Yang pertama adalah al-qawiy, yaitu memiliki kekuatan dan yang kedua adalah al-amin,
yaitu dapat dipercaya.

1. Al-Qawiy

Syarat pertama adalah seorang itu harus memiliki kekuatan, yaitu kemampuan dalam
melakukan sesuatu. Hal ini berkaitan dengan urusan dunia. Misalnya seorang yang ingin
diangkat menjadi bendahara, maka dia harus memiliki kemampuan manajemen uang yang
bagus, mencatat uang masuk dan keluar secara rapi, mampu memilah dan memilih uang
mana saja yang berhak untuk digunakan.

2. Al-Amin

Syarat kedua adalah orang tersebut amanah, artinya dapat dipercaya dalam melakukan
tugasnya. Hal ini berkaitan dengan urusan akhirat. Seseorang yang memiliki kemampuan
manajemen yang baik, namun tidak amanah, maka bukanlah pekerja yang baik. Sebaliknya
jika ia amanah namun tak cakap dalam bidang kerjanya, maka tidak termasuk pekerja yang
baik pula.
Realitanya, menjumpai seseorang yang memiliki dua kriteria di atas pada zaman sekarang
adalah hal yang tak mudah. Jika tidak terkumpul kedua tersebut, maka pilihlah salah satu
yang dianggap paling mashlahat dan sesuai dengan tugasnya.

Sebagai contoh, seorang pemimpin perang lebih diutamakan orang yang memiliki kekuatan.
Imam Ahmad ditanya manakah yang lebih pantas jadi pemimpin perang, orang yang kuat
namun fajir, ataukah orang yang lemah namun shalih? Beliau menjawab, “orang yang kuat
namun fajir, karena kekuatan orang tersebut akan bermanfaat bagi orang banyak, sedangkan
kefajirannya hanya merugikan dirinya sendiri. Sebaliknya orang yang lemah namun shalih,
kelemahannya akan merugikan orang banyak saat berperang, adapun keshalihannya hanya
bermanfaat untuk dirinya sendiri” (Ta’liq Siyasah Syar’iyyah hal. 47-48, karya Syaikh Ibnu
Utsaimin).

Contoh lain adalah seorang bendahara, harus diutamakan orang yang memiliki sifat al-
amin meski kemampuan manajemen keuangannya rendah, karena untuk kemampuan
manajemen uang bisa dipelajari seiring berjalannya waktu. Namun tetap yang lebih baik
adalah jika terkumpul sifat al-qawiy dan al-amin.

Contoh Perbuatan Khianat Seorang Bendahara


1. Melakukan dusta

Seorang bendahara yang mencatat keluar masuknya uang, namun pencatatannya tidak sesuai
dengan realita, maka telah melakukan dusta terhadap laporan keuangannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ِ َّ‫ َوإِ َّن ْالفُ ُج ْو َر يَ ْهدِى إِلَى الن‬،‫ِب يَ ْهدِى إِلَى ْالفُ ُج ْو ِر‬
‫ار‬ َ ‫َوإِ َّن ْال َكذ‬

“Sesungguhnya kedustaan akan membimbing menuju kejahatan, dan kejahatan akan


membimbing menuju neraka” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

2. Memakai uang untuk keperluan pribadi


Hal ini jelas sebuah pelanggaran karena uang yang dipegang bendahara bukanlah uang
pribadi, melainkan uang orang banyak yang dikelola oleh bendahara sebagai pengemban
tugas.

3. Menyalurkan uang bukan pada haknya

Jika uang yang diberikan diamanahkan untuk kegiatan A, maka tidak boleh diselewengkan
umtuk kegiatan B. Ini bukanlah sikap yang amanah.

Allah Ta’ala berfirman,

ِ ‫َّللاَ يَأ ْ ُم ُر ُك ْم أ َ ْن ت ُ َؤدُّوا اْل َمانَا‬


‫ت ِإلَى أ َ ْه ِل َها‬ َّ ‫ِإ َّن‬

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah kepada yang


berhak menerimanya” (QS. An-Nisa: 58).

Ancaman Orang yang Berkhianat


1. Pembalasan di hari kiamat kelak

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫إذا ضيعت اْلمانة فانتظر الساعة‬

“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah sampai hari kiamat.” Ada yang bertanya,
‘apa contoh amanah yang telah di sia-siakan?’ Rasulullah menjawab, ‘Jika suatu urusan
diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah sampai kiamat terjadi’” (HR.
Al Bukhari). Orang yang bukan ahlinya termasuk orang yang tidak memilki dua persyaratan
pekerja yang telah disebutkan di atas.

2. Tergolong orang munafik

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


‫آية المنافق ثالث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان‬

“Tanda-tanda orang munafiq ada tiga, jika berbicara berdusta, bila berjanji tidak menepati
janjinya, dan apabila diberi amanah mengkhianatinya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Jika Terlanjur Mendapatkan Amanah


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abdurrahman bin Samurah,

ِ ‫ْط ْيت َ َها َع ْن َغي ِْر َم ْسأَلَ ٍة أ ُ ِع ْنتَ َعلَ ْي َها َو ِإ ْن أُع‬
َ‫ْط ْيت َ َها َع ْن َم ْسأَلَ ٍة ُو ِك ْلت‬ ِ ‫ فَإِنَّكَ ِإ ْن أُع‬،َ ‫ارة‬ ِ ْ ‫ الَ ت َ ْسأ َ ُل‬،َ ‫س ُم َرة‬
َ ‫اْل َم‬ َ َ‫الرحْ َم ِن بْن‬
َّ َ‫َيا َع ْبد‬
‫إِلَ ْي َها‬

“Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan, jika jabatan diberikan sedang
kamu tak memintanya, maka engkau akan ditolong. Tapi jika engkau diberi jabatan karena
memintanya, maka engkau tidak akan ditolong” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Seorang yang telah diberikan jabatan, maka dia wajib bertakwa kepada Allah, menunaikan
kewajibannya sesuai dengan kadar kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman,

َ َ‫َّللاَ َما ا ْست‬


‫ط ْعت ُ ْم‬ َّ ‫فَاتَّقُوا‬

“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kadar kemampuanmu” (QS. At Taghabun: 16).

Allah Ta’ala juga berfirman,

ً ‫َّللاُ نَ ْف‬
‫سا إِال ُو ْسعَ َها‬ َّ ‫ف‬ ُ ِّ‫ال يُ َك ِل‬

“Allah tidak akan membebani seseorang di luar dari kesanggupannya “ (QS. Al-Baqarah:
286).

Keutamaan Orang yang Amanah


1. Termasuk orang-orang yang beriman

Ingatlah janji Allah tentang sifat-sifat orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,
َ‫َوا َّلذِينَ ُه ْم ْل َمانَاتِ ِه ْم َو َع ْه ِد ِه ْم َراعُون‬

“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya” (QS.
Al-Mukminun: 8).

2. Termasuk orang-orang yang bersedekah

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

، ‫ فَيَدْفَعُهُ ِإلَى الَّذِى أ ُ ِم َر لَهُ ِب ِه‬، ُ‫سه‬ ِ ‫َازنُ ْال ُم ْس ِل ُم اْل َ ِمينُ الَّذِى يُ ْن ِفذ ُ – َو ُربَّ َما قَا َل يُ ْع ِطى – َما أ ُ ِم َر ِب ِه ك‬
َ ‫َامالً ُم َوفَّ ًرا‬
ُ ‫ط ِيِّبٌ ِب ِه نَ ْف‬ ِ ‫ْالخ‬
َ َ‫أ َ َحد ُ ْال ُمت‬
‫ص ِدِّقَي ِْن‬

”Bendahara muslim yang diberi amanah ketika memberi sesuai yang diperintahkan untuknya
secara sempurna dan berniat baik, lalu ia menyerahkan harta tersebut pada orang yang ia
ditunjuk menyerahkannya, maka keduanya (pemilik harta dan bendahara yang amanah tadi)
termasuk dalam orang yang bersedekah” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Penutup
Seorang muslim yang berakhlak pada Allah dan manusia, wajib untuk menjaga amanah yang
telah diberikan. Jika amanah itu tidak ditunaikan, akan merusak perkara akhirat dan agama
seseorang, jadilah hal ini akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Demikian pembahasan singkat yang dapat disampaian, semoga bermanfaat. Wallahul


Muwaffiq.

Sumber: https://muslim.or.id/24965-bendahara-yang-tidak-amanah.html
Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur
dan Amanah
Menuntut ilmu merupakan suatu pekerjaan yang tidak perlu lagi diragukan akan
keuntungan dan keutamaan yang akan diperoleh darinya. Menuntut ilmu merupakan
ciri khas umat terakhir yang menghuni bumi …
By Firman Hidayat 12 September 2014

3 5819 0
Menuntut ilmu merupakan suatu pekerjaan yang tidak perlu lagi diragukan akan keuntungan
dan keutamaan yang akan diperoleh darinya. Menuntut ilmu merupakan ciri khas umat
terakhir yang menghuni bumi ini, umat Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Betapa
banyak ayat dan hadits yang membicarakan keuntungan mempelajari syariat Islam. Bahkan
tidak ada seorang muslim pun yang berakal kecuali ia akan senantiasa berpesan kepada karib
kerabat dan sahabatnya agar tidak lengah dari mempelajari syariat. Hal itu karena begitu
besarnya keuntungan dalam aktifitas mempelajari syariat Islam.

Dalam Al-Quran, antara lain Allah pernah mengatakan,

ٌ ‫َّللاُ ِب َما تَ ْع َملُونَ َخ ِب‬


‫ير‬ ٍ ‫َّللاُ الَّذِينَ آ َمنُوا ِمن ُك ْم َوا َّلذِينَ أُوتُوا ْال ِع ْل َم دَ َر َجا‬
َّ ‫ت ۚ َو‬ َّ ِ‫َي ْرفَع‬

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS Al-Mujadilah: 11)

Ketinggian derajat di sini mencakup derajat di dunia seperti diberi kedudukan di tengah
masyarakat serta keharuman namanya maupun derajat di akhirat dengan diberikan kedudukan
tingga di Surga. (Fath Al-Bari I/141)

Allah juga berfirman,

ِ ‫يرا ۗ َو َما يَذَّ َّك ُر إِ َّال أُولُو ا ْْل َ ْلبَا‬


‫ب‬ ُ
َ ِ‫يُؤْ تِي ْال ِح ْك َمةَ َمن يَشَا ُء ۚ َو َمن يُؤْ تَ ْال ِح ْك َمةَ فَقَدْ أوت‬
ً ِ‫ي َخي ًْرا َكث‬

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As


Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia
benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang
berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS Al-Baqarah: 269)

Tentang al-hikmah di sini, Mujahid pernah mengatakan, “Maksudnya adalah ilmu dan fiqih.”
(Akhlaq Al-‘Ulama hlm. 9)
Di antara firman Allah yang menunjukkan besarnya keuntungan pada aktifitas belajar adalah
kewajiban memperdalam dan menambah ilmu, mengingat firman Allah Ta’ala yang berisi
perintah pada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam,

‫وقل رب زدني علما‬

“Katakanlah, ‘Wahai Rabb-ku, tambahkan ilmu padaku.” (QS Thaha: 114)

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah memerintahkan Nabi-nya meminta tambahan


sesuatu kecuali ilmu saja, tidak ada yang lain. Hal ini tentu karena Allah tahu bahwa ada
begitu keuntungan besar yang akan diperoleh dalam ilmu. Apalagi kalau bukan buah takut
pada Allah ‘Azza wa Jalla,

‫إنما يخشى هللا من عباده العلمؤا‬

“Di antara hamba-hamba Allah hanya para ulama lah yang takut pada-Nya.” (QS Fathir:
28)

Khasy-yah ini tujuan paling agung dalam menuntut ilmu, bukan untuk berlagak di hadapan
orang-orang dengan penuh kesombongan.

Ayat dapat difahami, khasy-yah seseorang kepada Allah berbanding lurus dengan ilmu yang
dimilikinya. Semakin ilmunya luas, rasa takutnya pada Allah pun semakin kuat pula. Jika
sama sekali tidak memeliki ilmu? Sama sekali tidak tahu mana yang halal dan mana yang
haram? Tentu saja segala tindakan dosa bakal mudah diterjangnya tanpa ada rasa khawatir
tertimpa azab dan siksa.

Ibaratnya suatu jalan yang kerap terjadi perampokkan dan penyamunan. Orang yang tidak
mengetahui bahwa di jalan tersebut ramai penyamun, ia akan biasa saja melewatinya, tanpa
ada sedikit pun rasa takut. Walaupun boleh jadi saat ia lewat sedang tidak ada penyamun
yang mangkal di situ. Di lain hari ia juga akan melewati jalan tersebut dengan perasaan yang
sama, aman dan tidak khawatir. Akan tetapi jika di suatu hari ada orang yang memberinya
tahu, bahwa ternyata jalan yang biasa dilaluinya itu banyak penyamun yang beropreasi di
sana, tentu sikapnya akan berobah derasti. Dari yang sebelumnya jalan biasa, kini mulai
waspada dan hati-hati.
Maka dengan bertambahnya ilmu, bertambahlah pula rasa takut pada Allah Ta’ala. Dan
Mahasuci Allah dari segala bentuk permisalan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kerap kali mendorong dan memotofasi umatnya agar
terus mempelajari syariatnya. Antara lain sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam, “Siapa
yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah pasti memberi salah satu jalan
menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat mendaratkan sayap-sayapnya untuk penuntut
ilmu. Sesungguhnya penduduk langit, bumi, dan ikan hiau yang berada di perut laut
senantiasa memintakan ampun bagi seorang ulama. Sejatinya keutamaan seorang yang
berilmu atas seorang yang ahli ibadah laksana keutamaan rembulan di bulan purnama atas
seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama merupakan pewaris para nabi. Dan
sesungguhnya nabi-nabi tidak pernah mewariskan dinar maupun dinar. Akan tetapi mereka
hanya mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, berati ia telah mengambil bagian
yang besar.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Shahabat Abu Ad-Darda’ –radhiyallahu
‘anhu-)

Masih banyak lagi nas-nas yang menyebutkan keutamaan ilmu. Kiranya bagi seorang Muslim
yang akalnya masih sehat dapatlah cukup hanya sekedar isyarat saja, tidak seperti orang
dungu yang meskipun dibacakan Al-Quran, Injil, Zabur, dan seluruh kitab Allah tidak akan
membuatnya tergugah.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa seorang pelajar yang berjalan dalam rangka menimba dan
mempelajari ilmu ada di sana rambu-rambu yang perlu diperhatikan. Agar apa yang selama
ini ia cari tidak berubah menjadi mala petaka bagi dirinya. Akhirnya sesuatu yang seharusnya
membuatnya mulia justru berubah menjadi bencana.

Salah satu adab yang kerap kali dilupakan para pelajar dan penuntut ilmu di zaman ini adalah
sikap jujur dan amanah dalam menuntut ilmu. Padahal dusta yang merupakan lawan dari
jujur, dan khianat yang tak lain lawan dari amanah, termasuk sifat yang paling buruk dan
bejat. Seorang mukmin yang Allah terangi hatinya dengan iman tidak mungkin memendam
kedua sifat buruk tersebut. Apatah lagi seorang penuntut ilmu syariat yang selalu dinaungi
sayap-sayap para Malaikat dan pemburu warisan para nabi dan rasul!!

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

َ‫سو َل َوت َ ُخونُوا أ َ َمانَا ِت ُك ْم َوأَنت ُ ْم تَ ْعلَ ُمون‬


ُ ‫الر‬ َّ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا َال ت َ ُخونُوا‬
َّ ‫َّللاَ َو‬
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan
kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal: 26)

Ilmu merupakan salah satu amanah yang benar-benar harus ditunaikan karena kelak akan
dimintai pertanggungjawaban. Oleh sebab itu sepantasnya bagi penuntu dan pengembannya
dapat mengemban dan menunaikannya dengan penuh kejujuran dan amanah serta diiringi
rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di samping itu ia juga harus selalu waspada
terjerumus pada menyandarkan sesuatu atas nama Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam secara zhalim dan tidak benar.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri sudah jauh-jauh hari mewanti-wanti dan


mengancam siapa saja yang berani berdusta atas namanya. Perkara yang semisal dengan
dusta atas nama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah terlau ceroboh membawakan
suatu riwayat dari beliau Shallallahu’alaihi Wasallam.

Al-Bukhari melaporkan dari ‘Ali bin Abu Thalib –radhiyallahu ‘anhu-, ujarnya,
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Kalian jangan berdusta atas namaku.
Karena sesungguhnya siapa yang berdusta atas namaku, sebaiknya ia masuk Neraka saja.”

Menurut satu riwayat lain disebutkan, “Hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya di


Neraka.”

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-, tuturnya,


Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

‫ و إن هللا سائلكم يوم القيامة‬، ‫ فإن خيانة أحدكم في علمه أشد خيانة في ماله‬، ‫تناصحوا في العلم‬

“Hendaknya kalian saling memberi nasehat tentang ilmu. Sesungguhnya khianat salah
seorang kalian terhadap ilmunya itu lebih besar daripada pengkhianatannya pada hartanya.
Dan sesungguhnya Allah pasti akan memintai kalian pertanggungjawaban pada hari kiamat.”
(Dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang diperbincangkan kepribadiannya)

Ada satu kebiasaan tercela di tengah penuntut ilmu dan masyarakat pada umumnya, yaitu
tindakan mereka yang terlalu bermudah-mudahan memberikan fatwa hanya karena pernah
mentelaah suatu permasalahan syariat. Sudah seperti itu, ia menyangka bahwa dirinya sudah
layak mengeluarkan fatwa dan mengkritisi pendapat-pendapat pakar fiqih.

Padahal jika kita melihat bagaimana sikap orang-orang terdahulu yang benar-benar sangat
hati-hati memberi fatwa meskipun keilmuan mereka tidak perlu diragukan lagi, tentu kita
akan merasa kerdil dan malu terhadap apa yang ada pada kita. Baru pernah menghadiri
beberapa daurah dan kajian ilmiah serta mengkhatamkan beberapa gelintir buku saja sudah
merasa seakan-akan mebawa lautan ilmu, gampang mengeluarkan fatwa, sembrono
menyalahkan orang lain, dan tindakan-tindakan rendahan lainnya.

Disebutkan dalam kitab Adab Al-Mufti wa Al-Mustafti karya Ibnu Ash-Shalah, bahwa pada
suatu ketika ada seseorang yang mendatangi Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-
Shiddiq –radhiyallahu ‘anhum– untuk mempertanyakan sesuatu. Maka Al-Qasim berkata,
“Aku bukan pakarnya.”

Orang yang tadi datang pun terus merayu, “Sesungguhnya aku didorong untuk bertanya
padamu. Aku tidak mengetahuinya selainmu.”

Al-Qasim menjawab, “Anda jangan melihat panjangnya janggutku dan padatnya orang di
sekelilingku. Demi Allah, aku bukan pakarnya.”

Kemudian beliau berkata pula, “Demi Allah, sekiranya lisanku dipotong itu lebih kusukai
daripada aku harus berbicara tanpa ilmu tentangnya.”

Sufyan bin ‘Uyainah dan Sahnun bin Sa’id pernah mengatakan, “Orang yang paling gampang
mengeluarkan fatwa adalah orang yang paling minim ilmunya.”

Al-Haitsam bin Jamil berkata, “Aku menyaksikan Malik bin Anas diberi pertanyaan
sebanyak 48 masalah. 32 masalah di antaranya beliau katakan, ‘Aku tidak tahu.’”

Berfatwa tanpa ilmu kerap kali menyebabkan lahirnya kesesatan dan kedustaan. Boleh jadi
menghalalkan yang seharusnya haram atau mengharamkan yang seharusnya halal.

Allah Ta’ala berfirman,


‫ِب َال‬ َ ‫َّللاِ ْال َكذ‬
َّ ‫ِب ۚ ِإ َّن ا َّلذِينَ َي ْفت َُرونَ َعلَى‬ َّ ‫ِب َٰ َهذَا َح َال ٌل َو َٰ َهذَا َح َرا ٌم ِلِّت َ ْفت َُروا َعلَى‬
َ ‫َّللاِ ْال َكذ‬ َ ‫ف أ َ ْل ِسنَت ُ ُك ُم ْال َكذ‬ ِ ‫َو َال تَقُولُوا ِل َما ت‬
ُ ‫َص‬
‫ع قَ ِلي ٌل َولَ ُه ْم َعذَابٌ أَ ِلي ٌم‬
ٌ ‫يُ ْف ِلحُونَ * َمت َا‬

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara
dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah
beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS
An-Nahl: 116-117)

Agar dapat menimimalisir berbicara tanpa ilmu atau berdusta atas nama seseorang adalah
dengan selalu memusatkan perhatian ketika menghadiri pengajian atau ketika pelajaran
tengah berlangsung. Bukan malah datang ke pengajian atau kelas hanya untuk kemudian
dijadikan sebagai ajang lomba tidur. Atau hal yang serupa adalah dengan banyak melakukan
hal sia-sia ketika pelajaran tengah berlangsung. Seperti misalnya banyak main HP, ngobrol
dengan sesama hadirin, banyak izin keluar kelas karena alasan yang tidak masuk akal, atau
bahkan hanya sekedar setor muka di hadapat sang guru. Tindakan-tindakan semacam ini
sangat tidak layak dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai penuntut ilmu.

Kemudian banyak melakukan hal sia-sia ketika pelajaran tengah berlangsung hanya akan
mengganggu konsenterasi memahami penjelasan sang guru. Apalagi permasalahan yang
sedang dibahas terhitung rumit dan sulit yang tidak hanya memerlukan kesadaran penuh,
namun juga konsenterasi dan berfungsinya akal pikiran secara sempurna. Bahkan jika perlu,
tidak hanya suara guru yang didengar, namun juga gerak-gerik bibir guru juga diperhatikan
agar tidak ada satu huruf pun yang salah terdengar. Karena biasanya satu kalimat saja luput
dari penangkapan indera, dapat mempengaruhi pemahaman seseorang. Apalagi mereka yang
pemahamannya standart. Yang seharusnya hukumnya A, malah difahami hukumnya B. Dan
demikianlah seterusnya.

Maka ketika sudah salah menangkap penjelasan sang guru, bisa jadi ketika keluar dari
pengajian dan kelas pelajaran, langsung menyampaikan apa yang ditangkapnya dari sang
guru. Hasilnya tidak dapat tidak, ia telah berkata dusta atas nama gurunya. Padahal sang guru
berlepas diri dari apa yang ditangkapnya itu.

Apalagi di zaman modert seperti saat ini. Ketika media-media informasi mudah didapat,
seperti facebook dan twitter. Berapa banyak Anda jumpai mereka yang baru saja keluar dari
pengajian atau daurah, langsung update di akun jejaringan sosial yang dimilikinya. Bahkan
penulis pernah menjumpai orang yang sudah terburu-buru update ketika pelajaran tengah
berlangsung. Iya kalau apa yang ia tangkap dari sang guru sesuai realita, jika ternyata
berbedar bagaimana?!

Dalam hal ini penulis tidak menyalahkan mereka yang menebar ilmu di jejaringan sosial,
akan tetapi alangkah baiknya jika apa yang ditulis itu benar-benar sesuai dengan keadaan
yang ada. Tidak ada penambahan ataupun pengurangan yang bersifat sia-sia, apalagi diotak-
atik seperti kebiasaan ahlul bida’ wal ahwa’ (baca: pelaku bid’ah dan pengekor hawa nafsu)
yang kerap mengotak-atik teks-teks Al-Quran dan hadits shahih.

Pernah suatu kali salah seorang dosen kami, Syaikh ‘Ali Hufaizh, menceritakan ketika beliau
tengah mengisi suatu pengajian di sebuah masjid. Karena suaranya yang tinggi, sehingga
orang-orang di luar masjid yang berlalu lalang pun dapat mendengarnya. Di kemudian hari
salah seorang yang mendengar suatu penjelasan beliau dari luar masjid menyampaikan
sesuatu pada orang lain. Satu permasalah penting. Ketika hal tersebut didengar oleh Syaikh,
ternyata beliau mengingkarinya. Bukan seperti itu penjelasan yang beliau pernah sampaikan
saat itu.

Hal lain yang perlu diperhatikan selain satu hal di atas adalah saat membaca buku. Membaca
buku juga sangat diperlukan sikap kehati-hatian. Sebaiknya seorang yang membaca buku
selau memusatkan perhatiannya pada apa yang tengah dibacanya. Bukan sekedar membaca
tanpa ada keseriusan. Oleh sebab itu, seyogyanya membaca buku bukan saja target cepat
selesai dan banyaknya buku yang dikhatamkan, namun juga target memahami buku yang
dibacanya hingga benar-benar faham. Jika ada hal-hal yang kiranya sulit difahami sendiri,
alangkah baiknya jika ia menanyakannya pada seorang yang ahli di bidangnya. Membaca
sedikit dengan disertai pemahaman yang benar itu lebih baik daripada banyak khatam kitab
namun salah tangkap.

Sungguh betapa indahnya syair yang mengatakan,

‫أقول زيدا فيسمعه عمروا *** و يكتبه بكرا و يقرؤه بدرا‬

Aku katakan Zaid, dia malah mendengarnya ‘Amr

Lalu ia menulisnya Bakr namun dibacanya Badr


Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla memberikan rizki pada kita semua berupa sikap
amanah, jujur, dan khasy-yah pada-Nya, serta memberikan kita kecintaan pada ilmu dan
mengamalkannya. Sesungguhnya hanya Dia jualah Dzat yang Mahamengabulkan doa. Tidak
ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Korupsi Waktu
Termasuk korupsi waktu adalah tidak bekerja di jam kerjanya tanpa izin yang jelas
atau menggunakan jam kerja untuk keperluan lain yang tidak berhubungan dengan
pekerjaan. Hal ini dilarang oleh syariat dan hendaknya ia menunaikan kewajibannya
By dr. Raehanul Bahraen 22 March 2015

65 9124 8

Termasuk yang diperhatikan dalam pembahasan korupsi adalah korupsi waktu. Di mana
seseorang lalai dengan amanah mengenai waktu yang telah dijanjikan atau disepakati
misalnya dalam hal pekerjaan atau sesuatu yang berkaitan dengan waktu. Contoh korupsi
waktu misalnya seorang pegawai atau PNS yang tidak amanah dalam waktu, masuk kerja
terlambat dan tanpa izin atau bahkan makan gaji buta tanpa kerja sama sekali.

Hendaknya seseorang menunaikan amanatnya


Bagi seorang pegawai yang telah berjanji akan melaksanakan amanahnya, yaitu bekerja
dengan waktu-waktu tertentu dan ia memang digaji untuk hal itu, hendaknya berusaha
menunaikan amanahnya sebaik mungkin, begitu juga dengan jam kerjanya, hendaknya ia
gunakan jam kerja yang telah disepakati untuk benar-benar bekerja sesuai dengan
amanahnya. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita agar menunaikan amanah dengan
profesional dan sebaik mungkin.

Allah Ta’ala berfirman,

ِ ‫َّللاَ يَأ ْ ُم ُر ُك ْم أ َ ْن ت ُ َؤدُّوا ْاْل َ َمانَا‬


‫ت إِلَى أَ ْه ِل َها‬ َّ ‫إِ َّن‬

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kalian untuk menunaikan amanat kepada yang
berhak” (An Nisaa’: 58).

Seorang muslim juga berusaha menunaikan dan melaksanakan persyaratan yang telah ia
setujui.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫وط ِه ْم‬ ُ ‫ال ُم ْس ِل ُم ْونَ َعلَى‬


ِ ‫ش ُر‬

“Umat Islam berkewajiban untuk senantiasa memenuhi persyaratan mereka” (HR. Muslim).

Termasuk ciri munafik (shugra/kecil) adalah tidak menepati janji atau persyaratan yang telah
ia setujui.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َ َ‫ َوإِذَا َو َعدَ أَ ْخل‬، ‫ب‬


َ‫ف َوإِذَا اؤْ ت ُ ِمنَ خَان‬ َ َ‫َّث َكذ‬
َ ‫ث إِذَا َحد‬ ِ ِ‫آيَةُ ْال ُمنَاف‬
ٌ َ‫ق ثَال‬

“Tiga tanda munafik ada tiga, jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari dan
ketika diberi amanat, maka ia berkhianat” (HR. Bukhari dan Muslim).

Seorang pegawai harus bekerja sesuai dengan jam kerjanya


Termasuk korupsi waktu adalah tidak bekerja di jam kerjanya tanpa izin yang jelas atau
menggunakan jam kerja untuk keperluan lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Hal
ini dilarang oleh syariat dan hendaknya ia menunaikan kewajibannya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ِ ‫ َو َمنَ َع َوهَا‬،ِ‫ َو َوأْدَ ْال َبنَات‬،ِ‫عقُ ْوقَ اْل ُ َّم َهات‬


‫ت‬ ُ ‫َّللاَ َح َّر َم َعلَ ْي ُك ْم‬
َّ ‫ِإ َّن‬

“Sesungguhnya Allah mengharamkan mendurhakai ibu, membunuh anak perempuan, dan


mana’a wahaat” (HR. Bukhari dan Muslim).

Arti dari (‫“ )منع وهات‬mana’a wahaat” adalah tidak mau melaksanakan kewajiban atau
menuntut apa yang bukan menjadi haknya.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata menjelaskan hadits,

‫أنه نهى أن يمنع الرجل ما توجه عليه من الحقوق أو يطلب ما ال يستحقه‬

“Rasulullah melarang seseorang tidak melaksakan kewajiban yang ada padanya atau
menuntut apa yang bukan menjadi haknya.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim)

Jadi, seorang muslim tidak boleh hanya menuntut haknya saja, menuntut dibayarkan gaji
bulanan secara rutin, sedangkan ia tidak menunaikan amanahnya dengan baik. Tidak masuk
kantor tepat waktu, itupun masuk kantor pada jam-jam tertentu saja dan sering bolos, keluar
tanpa izin, menggunakan waktu jam kantor untuk bermain game atau urusan yang tidak ada
hubungannya dengan pekerjaannya.

Bagaimana dengan beribadah ketika jam kerja


Beribadah di waktu jam kerja misalnya shalat dhuha atau mengaji perlu dirinci, jika ibadah
yang wajib seperti shalat dzuhur, maka saat itu pekerjaan wajib ditinggalkan dan seharusnya
atasan memberikan waktu untuk menunaikan shalat wajib. Akan tetapi untuk ibadah yang
sunnah misalnya shalat dhuha, maka sebaiknya jangan meninggalkan jam kerja untuk shalat
dhuha kecuali atasan telah memberi izin atau atasan telah memaklumi atau bisa juga
dilakukan di sela-sela waktu istirahat.

Berikut Fatwa dari Al-Lajnah Ad-Daimah (semacam MUI di Saudi) terkait hal ini.

Pertanyaan:
‫ خاصة إذا تزايد عدد المصلين إلى حد قد يؤدي إلى التأخير في‬، ‫هل يجوز أداء صالة الضحى خالل وقت الدوام الرسمي‬
‫خيرا‬
ً ‫ جزاكم هللا‬.‫ إنجاز العمل الرسمي؟ آملين أن تكون اْلجابة مكتوبة‬.

“Apakah diperbolehkan (bagi karyawan) untuk mengerjakan shalat dhuha selama jam kerja
resmi, terutama ketika bertambahnya orang yang shalat sehingga dapat menyebabkan
pekerjaan mereka tidak selesai pada waktunya? Kami harap anda bias memberikan jawaban
tertulis.”

Jawaban:

‫ وقوله صلى هللا‬، ‫ أفضل صالة المرء في بيته إال المكتوبة‬:‫ اْلصل أن النوافل في البيوت؟ لقوله صلى هللا عليه وسلم‬:‫ج‬
‫ وعلى هذا فال ينبغي للموظف أن يعطل العمل‬،‫قبورا متفق عليه‬ً ‫ اجعلوا من صالتكم في بيوتكم وال تتخذوها‬:‫عليه وسلم‬
‫ ويمكن للموظف أن يصلي الضحى‬،‫الذي هو واجب عليه ْلجل نافلة؛ ْلن صالة الضحى سنة فال يترك واجب ْلجل سنة‬
‫ ويقدر ذلك بعد شروق الشمس بربع‬،‫ أي بعد خروج وقت النهي‬،‫في بيته قبل أن يأتي للعمل بعد ارتفاع الشمس قدر رمح‬
‫ساعة تقريبًا‬.

Pada dasarnya, ibadah sunnah itu dikerjakan di rumah, karena beliau shallalahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:

‫أفضل صالة المرء في بيته إال المكتوبة‬

“Seutama-utamanya shalat seseorang yaitu di dalam rumahnya, kecuali shalat fardhu” (HR.
Bukhari & Muslim)

‫قبورا‬
ً ‫اجعلوا من صالتكم في بيوتكم وال تتخذوها‬

“Jadikanlah sebagian shalat kalian di dalam rumah, dan janganlah kalian menjadikan
rumah kalian sepeti kuburan” (HR. Bukhari & Muslim).

Seeorang karyawan seharusnya tidak menghentikan pekerjaannya yang menjadi


kewajibannya dengan melakukan ibadah sunnah. Seorang karyawan bisa melakukan shalat
dhuuha di rumah sebelum mereka berangkat bekerja sesaat setelah terbitnya matahari, yaitu
setelah waktu nahiy (Waktu dilarang untuk melakukan shalat yaitu setelah shalat subuh
hingga terbitnya fajar) sekitar 15 menit setelah matahari terbit.
Sumber: http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&PageID=9174&Page
No=1&BookID=3

Termasuk memakan harta dengan cara yang batil jika terus-menerus korupsi waktu
Jika korupsi waktu terus-menerus dilakukan oleh seorang pekerja, sementara ia terus
menerima gaji utuh, bisa jadi ia menerima gaji buta. Demikian ini termasuk memakan harta
dengan cara yang batil. Hartanya bisa jadi tidak berkah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Ustaimin rahimahullah menjelaskan,

‫ والتغيب عن‬،‫ فال ِغيبة فسق وموجودة بكثرة‬،‫ إال َم ْن شاء هللا‬،‫و نظرنا لمجتمعنا اليوم لم نجد أحدا ً يسلم من خصلة يفسق بها‬
‫ فاْلصرار‬،ً‫ ويخرج قبيل نهاية الدوام بساعة مثال‬،‫ وكونه ال يأتي إال بعد بداية الدوام بساعة‬،‫ واْلصرار على ذلك‬،‫العمل‬
‫ فهو من أكل المال‬،‫ وأك ٌل للمال بالباطل؛ ْلن كل راتب تأخذه في غير عمل‬،ٌ‫ وخيانة‬،‫على ذلك فسق؛ ْلنه ضد اْلمانة‬
‫بالباطل‬

“Jika kita melihat masyarakat kita sekarang, maka kita akan mendapati tidak ada (sedikit)
yang selamat dari sifat kefasiqan kecuali yang Allah kehendaki (selamat dari itu). Misalnya
seperti perbuatan ghibah yang termasuk perbuatan fasiq (dan banyak terjadi), bolos kerja
yang terus dilakukan, serta perbuatan pegawai yang terlambat masuk kerja (yang telah
dimulai satu jam sebelumnya) dan pulang kerja satu jam lebih cepat dari yang
seharusnya. Terus menerus melakukan hal itu adalah termasuk kefasiqan karena ini
termasuk berkhianat dan tidak sesuai amanah serta memakan harta dengan cara yang
batil. Karena setiap gaji yang anda terima tanpa diimbangi dengan pekerjaan maka ini
termasuk memakan harta dengan cara yang batil” (Asy-Syarh al-Mumti’ 15/278).

Oleh karena itu, mari kita tunaikan amanah yang kita pikul sebaik mungkin, sehingga harta
yang kita dapatkan dari bekerja bisa mendapatkan berkah dan kebaikan yang banyak.

Demikian semoga bermanfaat

Sumber: https://muslim.or.id/24995-korupsi-waktu.html
Perbuatan Curang, Faktor dan Dampaknya
Perbuatan curang dan khianat adalah fenomena negatif yang telah sangat akut dalam
perilaku masyarakat kita dewasa ini. Hingga bagi sebagian orang yang lemah jiwanya
dan ‘murah’ harga dirinya, …
By Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc. 10 September 2014

25 10555 1

Perbuatan curang dan khianat adalah fenomena negatif yang telah sangat akut
dalam perilaku masyarakat kita dewasa ini. Hingga bagi sebagian orang yang lemah jiwanya
dan ‘murah’ harga dirinya, perbuatan curang telah menjadi kebiasaan yang seolah bukan lagi
dianggap perbuatan dosa. Hampir dalam semua bentuk interaksi yang dilakukan oleh
mereka dengan orang lain, selalu saja dibumbui dengan kecurangan, kebohongan dan khianat.
Padahal, jangankan agama, seluruh manusia yang lurus fitrahnya pun, mengatakan bahwa
perbuatan itu jelas buruk dan tidak terpuji.

Perbuatan curang terjadi dalam banyak bidang dan dalam bentuk yang beragam. Diantaranya:

Pemimpin yang curang


Kemimpinan, jabatan dan kedudukan sering kali disalahgunakan untuk menipu rakyat atau
orang-orang yang berada dalam kepemimpinannya. Kecurangan dan sikap mensia-siakan
amanah pada sebagian para pejabat sudah menjadi rahasia umum. Kasus-kasus hukum yang
menimpa mereka, sudah menjadi menu informasi yang kita terima sehari-hari. Padahal
perbuatan yang demikian mendapat ancaman keras dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Ma’qil bin Yasar al Muzani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ما من عبد يسترعيه هللا رعية يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته إال حرم هللا عليه الجنة‬
“Tidaklah seorang hamba yang Allah berikan kepemimpinan atas orang lain, lalu ia mati
dalam keadaan berbuat curang terhadap orang-orang yang dipimpinnya, melainkan Allah
akan mengharamkan atasnya surga.” (HR Muslim)

Perbuatan curang dalam jual beli


Berbuat curang dalam jual beli berarti berbuat zalim kepada orang lain dalam urusan hartanya
dan memakan harta mereka dengan cara yang batil. Walau pun hanya sedikit, harta yang
didapatkan dengan jalan berbohong, menyembunyikan kecacatan, atau mengurangi
timbangan adalah harta yang haram. Sudah seharusnya kita menjauhkan diri kita dari harta-
harta semacam itu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama rombongan para sahabat ke pasar
untuk melakukan pengecekan barang-barang dagangan. Saat itu beliau melewati gundukan
makanan, kemudian beliau memasukkan tangannya dan mendapati bagian dalam dari
gundukan itu basah. Beliau berkata, “Apa ini wahai penjual makanan?” Ia berkata, “Bagian
ini terkena air hujan wahai Rasulullah.” beliau bersabda,

‫أفال جعلته فوق الطعام حتى يراه الناس! من غشنا فليس منا‬

“Mengapa engkau tidak meletakkannya di bagian atas, agar orang yang akan membeli dapat
melihatnya? Barangsiapa yang berbuat curang kepada kami, maka ia bukan bagian dari
golongan kami.” (HR Muslim)

Perbuatan curang dalam ilmu


Kecurangan dalam ilmu sangat berbahaya dan memiliki dampak negatif yang cukup besar.
Para ulama mengatakan, tatkala seseorang mendapatkan ijazah pendidikan dengan cara yang
tidak jujur, maka harta yang didapatkan dengan ijazah itu pun teranggap harta yang haram.
Praktek kecurangan dalam ujian, adalah petaka yang menyedihkan dalam dunia pendidikan
kita. Pendidikan yang seharusnya berada di garda depan dalam membentuk manusia-manusia
yang jujur dan memiliki integritas tinggi, acap kali justru diwarnai praktek-praktek tidak
terpuji seperti itu.

Perbuatan curang dalam perkataan


Perbuatan curang dalam perkataan sering terjadi dalam urusan persidangan, seperti memberi
kesaksian palsu, menyampaikan informasi-informasi yang tidak sesuai dengan fakta dan
hakikatnya di hadapan persidangan dengan maksud menzalimi dan merugikan orang lain.
Masih banyak wilayah dan bentuk perbuatan curang yang terjadi dalam masyarakat. Yang
telah disebutkan diatas hanya beberapa contohnya saja.

Faktor-faktor perbuatan curang


Perbuatan curang memang biasanya tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor dan pemicu
seseorang melakukan perbuatan tersebut. Diantaranya:

1. Lemahnya iman, sedikitnya rasa takut kepada Allah dan kurangnya kesadaran bahwa Allah
senantiasa mengawasi dan menyaksikan setiap perbuatannya sekecil apa pun.
2. Kebodohan sebagian orang tentang haramnya perbuatan curang, khususnya dalam bentuk-
bentuk tertentu dan saat perbuatan tersebut sudah menjadi sistem ilegal dalam sebuah
lembaga atau organisasi.
3. Ketiadaan ikhlas (niat karena Allah) dalam melakukan aktifitas, baik dalam menuntut ilmu,
berniaga dan yang lainnya.
4. Ambisi mengumpulkan pundi-pundi harta kekayaan dengan berbagai macam cara. Yang
penting untung besar, walaupun dengan menumpuk dosa-dosa yang kelak menuntut balas.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu
zaman dimana seseorang tidak lagi mempedulikan apa yang didapatkannya, dari yang halal
atau dari yang haram.” (HR Bukhari)
5. Lemahnya pengawasan orang-orang yang berwenang untuk melakukan pengawasan terhadap
orang-orang yang berada di bawah tanggungjawabnya.
6. Tidak adanya kesungguhan. Sebagian orang bermalas-malasan menyelesaikan tugas dan apa
yang menjadi kewajibannya, saat semua itu harus ia pertanggungjawabkan, maka ia pun
menutupinya dengan perbuatan curang. Seperti seorang murid yang malas belajar, saat datang
masa ujian, ia pun berusaha berbuat curang agar bisa lulus ujian.
7. Berteman dengan orang-orang yang suka berbuat curang dan selalu menuruti ajakan setan
untuk berbuat curang.
8. Lemahnya pendidikan yang ditanamkan sejak kecil di rumah atau di sekolah. Sering kali
orang tua atau guru tidak memberi tindakan yang tegas saat anak atau muridnya berbuat
curang, atau malah justru memberi contoh dengan melakukan kecurangan dihadapan anak
atau murid di sekolah.
9. Kurang percaya diri. Saat seseorang merasa dirinya tidak mampu bersaing dengan orang lain,
maka tidak jarang ia akan melakukan kecurangan untuk menutupi kekurangannya.
10. Sikap bergantung kepada orang lain dan malas menerima tanggung jawab.
11. Tidak qanaah dan ridho dengan pemberian Allah.
12. Tidak adanya sistem hukum yang efektif untuk membuat jera para pelaku kecurangan.
13. Lalai dari mengingat kematian. Ini adalah faktor penyebab seluruh perbuatan maksiat dan
terus-menerus dalam melakukannya.
Dampak negatif perbuatan curang
1. Orang yang melakukan kecurangan dan orang yang meridhainya akan mendapat dosa.
2. Nabi berlepas diri dari pelakunya, “Barangsiapa yang mencurangi kami, maka ia bukan
golongan kami.”
3. Manusia akan membenci orang yang suka berbuat curang dan tidak mau bergaul dengannya.
4. Perbuatan curang merupakan perbuatan khianat kepada umat dan sikap mensia-siakan
amanah.
5. Perbuatan curang termasuk salah satu sifat orang-orang munafik.
6. Perbuatan curang akan menghilangkan keberkahan.
7. Perbuatan curang akan melemahkan kepercayaan kaum muslimin.
8. Perbuatan curang akan menjadi faktor kegagalan masyarakat dalam semua bidang.
9. Zalim kepada orang lain.
10. Melemahkan pencapaian ilmu dan kemampuan
11. Menciptakan permusuhan dan kebencian antar kaum muslimin.
12. Mendapatkan harta haram dari cara-cara yang curang.
13. Terjerumus pada sikap meremehkan pengawasan Allah.
Kecurangan dapat diatasi jika dalam hati masyarakat sudah tertanam dengan kuat nilai-nilai
ketauhidan dan keimanan. Kesadaran selalu diawasi oleh Allah akan membuat seseorang
tidak akan berani melakukan perbuatan tersebut. Pun pemahaman terhadap akibat-akibat
buruk yang akan menimpa mereka kelak dari perbuatan curang harus terus ditingkatkan. Jika
kesadaran ini telah terkolektif, maka insya Allah praktek-praktek kecurangan dapat
dientaskan, atau sedikitnya diminimalisir.

Bagi kita yang telah menyadari perbuatan buruk tersebut, hendaknya menjauhi sahabat atau
teman yang suka berbuat curang, terus berdoa kepada Allah memohon taufiq, selalu
mengingat akhirat dan berusahalah melakukan amar makruf nahi munkar sesuai dengan
kemampuan dalam rangka merubah keadaan masyarakat menuju yang lebih baik.

Sumber: https://muslim.or.id/22590-perbuatan-curang-faktor-dan-dampaknya.html
Pejabat, karyawan, PNS atau profesi serupa lainnya sangat berkaitan dengan kontrak kerja
beserta “ongkos” atas tugas-tugasnya selama kontrak berlangsung. Pekerjaan-pekerjaan
tersebut banyak dikelilingi gulungan “proyek” yang terkadang dapat menggoyahkan
keimanaan

Amanah pekerjaan meliputi amanah harta amanah ilmiah amanah dalam melaksanakan tugas
sesuai job description dan amanah dalam dokumen.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat peduli terhadap penunjukan para pekerja dan
pegawai yang benar-benar amanah dalam menjalankan tugas mereka Beliau berkata kepada
penduduk Najran. “Aku akan mengutus kepada kalian orang terpercaya yang benar-benar
amanah.” ternyata Rasulullah mengutus Abu Ubaidah Bin al-Jarrah.

Alquran juga menjelaskan salah satu Kriteria seorang pejabat publik yang dapat
melaksanakan tugas dengan baik bagi kepentingan umum selain kemampuan adalah amanah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan dalam al-Quran.

“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja pada kita ialah
orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (Al Qashash: 26).
Amanah Keahlian atau Kemahiran (Itqan)
Itqan (keahlian, kemahiran) adalah kinerja yang baik dan benar sesuai ketentuan yang berlaku
dan sesuai ketentuan syariat. Islam sangat menekankan pentingnya penguasaan suatu bidang
sehingga Itqan merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari akhlak profesi.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Allah menyukai Apabila salah seorang dari kalian mengerjakan tugas dengan sempurna”
(HR. Baihaqi).
Disiplin Waktu
Pertama, mematuhi ketentuan waktu kehadiran dan kepulangan ketentuan jam kerja yang
telah disepakati antara pegawai dengan institusi. Tidak diperkenankan datang terlambat atau
pulang lebih cepat kecuali atas seizin atasan untuk suatu keperluan yang mendesak. Seorang
muslim harus mentaati syarat-syarat pekerjaan yang telah disepakati.
Kedua, mempergunakan waktu kerja sepenuhnya untuk melaksanakan tugas pekerjaan.
Ketiga, memenuhi waktu rapat atau pertemuan tertentu dan pertemuan-pertemuan lainnya
yang telah diatur oleh institusi.
Menjaga Reputasi dan Rahasia Pekerjaan
Menjaga rahasia merupakan fadhilah kebajikan sehingga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa
Sallam mengingatkan agar sebisa mungkin untuk menjaga rahasia. Beliau bersabda, “Kalian
harus mengupayakan untuk menjaga rahasia saat melaksanakan tujuan karena setiap nikmat
menimbulkan kedengkian.” (HR. Ath Thabrani).
Tidak Memanfaatkan Jabatan untuk Kepentingan Pribadi
Dalam konteks ini ada dua tipe pejabat. Pertama, tipe pejabat yang suka memanfaatkan
jabatannya untuk tujuan-tujuan pribadi. Kedua, pejabat yang suka mengorbankan tujuan-
tujuan pribadi yang tadinya didapat sebelum menjadi pejabat untuk kepentingan jabatan dan
tugas yang diamanahkan agar tidak tumpang tindih antara satu dengan yang lainnya.

Amanah Harta
Setiap orang yang mengambil harta orang lain seharusnya bertanya pada diri sendiri, apakah
pemilik suatu perusahaan mendapatkan harta tersebut dengan mudah? pasti jawabannya
adalah sebagian besar didapatkan setelah melalui perjuangan dan usaha yang berat.

Bagi pejabat dan PNS harus bertanya pada dirinya, apakah negara mendapatkan harta
kekayaan dengan mudah atau lewat usaha keras warga warga lainnya sesuai dengan profesi
masing-masing, maka Mengapa saya harus mendapatkannya dengan mudah (secara ilegal)
sementara harta itu didapatkan atas usaha keras warga warga yang lain?

Harta negara yang diamanahkan kepada seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya, baik
dalam kapasitas sebagai direktur, akuntan ataupun tugas lainnya merupakan titipan di tangan
mereka yang harus dipelihara. Tidak boleh dimanfaatkan kecuali untuk kepentingan tugas,
baik tugas tersebut dibebankan oleh pemerintah maupun tugas yang dibebankan oleh seorang
pemilik perusahaan apabila bekerja di sektor swasta.[kamil]
Pegawai yang Baik: Amanat dan Kapabel
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc December 1, 2014 Akhlaq Leave a comment 76 Views

Jika kita sebagai seorang majikan, direktur atau manager, bagaimanakah kita memilih pegawai yang
baik? Islam ternyata telah mengajarkannya. Pilihlah pegawai yang amanat dan kapabel. Dua sifat
itulah yang menjamin suatu pekerjaan bisa baik dan sempurna.

Allah Ta’ala berfirman,


ُ ‫ي ْاْل َ ِم‬
‫ين‬ َ ‫ت ا ْستَأ ْ ِج ْرهُ ِإ َّن َخي َْر َم ِن ا ْستَأ ْ َج ْر‬
ُّ ‫ت ْالقَ ِو‬ ِ َ‫ت ِإحْ دَا ُه َما يَا أَب‬
ْ َ‫قَال‬
“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja
(pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita)
ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al Qashshash: 26).
Nabi Yusuf ‘alaihis salam berkata,
‫ع ِلي ٌم‬ ٌ ‫ض ِإنِي َح ِفي‬
َ ‫ظ‬ َ ‫اجْ عَ ْلنِي‬
ِ ‫علَى خَزَ ائِ ِن ْاْل َ ْر‬
“Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai
menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55).
Syaikh As Sa’di rahimahullah telah menarik faedah menarik dari kedua ayat di atas. Beliau berkata,
“Dapat diambil dari kedua ayat di atas, hendaknya yang dipilih dalam mempekerjakaan dan
mengupahi seseorang (dalam transaksi ijaroh dan ji’alah), transaksi yang mementingkan sifat
amanah dan kekuasaan baik dalam ruang lingkup kecil atau besar yaitu orang yang memiliki dua
sifat:

1- Al qowiy, yaitu memiliki kapabilitas (kompentesi yang baik) dan pandai untuk menjaga amanat, dan
juga melakukan hal-hal yang mendukung sehingga pekerjaan bisa sempurna.
2- Al amanah, yaitu tahu akan kewajiban sebagai orang yang diserahi amanat.
Dengan sifat pertama, amalan jadi sempurna atau terselesaikan. Dengan sifat kedua, tahu akan
kewajiban. Jika terkumpul dua sifat tersebut secara sempurna pada seorang pekerja, maka ikatlah
kesetiaannya tersebut. Kalau tidak memperoleh yang sempurna, maka carilah yang semisal dan
semisal dengannya. Namun patut dipahami bahwa jika ada kecacatan atau ketidaksempurnaan
dalam pekerjaan, itu dikarenakan karena adanya ketidaksempurnaan dalam dua sifat di atas (al
qowiy dan al amanah).” (Taisir Al Lathifil Mannan, hal. 191).
Bagaimana jika kita berposisi sebagai pegawai? Milikilah dan jagalah dua sifat di atas.

Wallahu waliyyut taufiq.

Sumber : https://rumaysho.com/9696-pegawai-yang-baik-amanat-dan-kapabel.html
BAGAIMANA MENJADI PEGAWAI YANG
AMANAH ? MENJAGA JAM KERJA
UNTUK KEPENTINGAN PEKERJAAN
Oleh
Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abad

MUKADIMAH
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas penyempurna dan
pelengkap agama dan penghulu para rasul serta imam orang-orang yang bertaqwa nabi
kita, Muhammad dan atas keluarga serta shahabat-shahabatnya dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat. Amma ba’du

Ini adalah risalah singkat berupa nasihat untuk para pegawai dan karyawan dalam
menunaikan pekerjaan-pekerjaan yang diamanahkan kepada mereka. Aku menulisnya
dengan harapan agar mereka mendapat manfaat darinya, dan supaya mambantu mereka
untuk mengikhlaskan niat-niat mereka serta bersungguh-sungguh dalam bekerja dan
menjalankan kewajiban-kewajiban mereka. Aku memohon kepada Allah agar semua
mendapatkan taufik dan bimbingan-Nya.

[1]. AYAT-AYAT MENGENAI KEWAJIBAN MENUNAIKAN AMANAH


Diantara ayat-ayat mengenai kewajiban menunaikan amanah dan larangan berkhianat
adalah firman Allah Azza wa Jalla.

“Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara
manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat”. [An-Nisa : 58]

Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini, “Allah Ta’ala memberitakan bahwasanya Ia
memerintahkan untuk menunaikan amanah-amanah kepada ahlinya. Di dalam hadits yang
hasan dari Samurah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tunaikan amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah
kamu menghianati orang yang mengkhianatimu” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan
Ahlussunnan]

Dan ini mencakup semua bentuk amanah-amanah yang wajib atas manusia mulai dari hak-
hak Allah Azza wa Jalla atas hamba-hamba-Nya seperti : shalat, zakat, puasa, kaffarat,
nazar-nazar dan lain sebagainya. Dimana ia diamanahkan atasnya dan tidak seorang hamba
pun mengetahuinya, sampai kepada hak-hak sesama hamba, seperti ; titipan dan lain
sebagainya dari apa-apa yang mereka amanahkan tanpa mengetahui adanya bukti atas itu.
Maka Allah memerintahkan untuk menunaikannya, barangsiapa yang tidak menunaikannya
di dunia diambil darinya pada hari Kiamat”.

Dan firman-Nya.

“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan
kepadamu sedangkan kamu mengetahui” [Al-Anfal : 27]

Ibnu Katsir berkata, “Dan khianat mencakup dosa-dosa kecil dan besar yang lazim (yang
tidak terkait dengan orang lain) dan muta’addi (yang terkait dengan orang lain). Berkata Ali
bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas mengenai tafsir ayat ini, “Dan kalian mengkhianati
amanah-amanah kalian”. Amanah adalah ama-amal yang diamanahakn Allah kepada
hamba-hamba-Nya, yaitu faridhah ( yang wajib), Allah berfirman : “Janganlah kamu
mengkhianati” maksudnya : janganlah kamu merusaknya”. Dan dalam riwayat lain ia
berkata, “(Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul) Ibnu Abbas berkata, “(Yaitu)
dengan meninggalkan sunnahnya dan bermaksiat kepadanya”.

Dan firman-Nya.

“Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan
gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat
zalim dan amat bodoh” [Al-Ahzab : 72]

Ibnu Katsir berkata setelah menyebutkan pendapat-pendapat mengenai tafsir amanah,


diantaranya ketaatan, kewajiban, din (agama), dan hukum-hukum had, ia berkata, “Dan
semua pendapat ini tidak saling bertentangan, bahkan ia sesuai dan kembali kepada satu
makna, yaitu at-taklif serta menerima perintah dan larangan dengan syaratnya. Dan jika
melaksanakan ia mendapat pahala, jika meninggalkannya dihukum, maka manusia
menerimanya dengan kelemahan, kejahilan, dan kezalimannya kecuali orang-orang yang
diberi taufik oleh Allah, dan hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan”.

Firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janji-
janji” [Al-Mukminun : 8]

Ibnu Katsir berkata, “Yaitu, apabila mereka diberi kepercayaan mereka tidak berkhianat, dan
apabila berjanji mereka tidak mungkir, ini adalah sifat-sifat orang mukminin dan lawannya
adalah sifat-sifat munafikin, sebagaimana tercantum dalam hadis yang shahih.

“Tanda munafik ada tiga : apabila berbicara berdusta, apabaila berjanji ia mungkir dan
apabila diberi amanat dia berkhianat”.

Dalam riwayat lain.


“Apabila berbicara ia berdusta, dan apabila berjanji ia mungkir dan apabila bertengkar ia
berlaku keji”.

[2]. HADITS-HADITS TENTANG MENUNAIKAN AMANAH


Diantara hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kewajiban menjaga
amanah dan ancaman dari meninggalkannya adalah sebagai berikut.

Hadits Pertama.
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ketika Nabi di suatu majelis berbicara kepada orang-orang,
datanglah seorang Arab badui lantas berkata. ‘Kapan terjadinya Kiamat? Rasulullah terus
berbicara, sebagian orang berkata, ‘Beliau mendengar apa yang dikatakannya dan beliau
membencinya’, sebagian lain mengatakan, ‘Bahkan ia tidak mendengar’, sehingga tatkala
beliau menyelesaikan pembicaraannya beliau berkata, ‘Mana orang yang bertanya tentang
hari Kiamat?’ Ia berkata, ‘Ini aku wahai Rasulullah’, Rasul bersaba, ‘Apabila amanah telah
disia-siakan maka tunggulah hari Kiamat’. Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana menyia-
nyiakannya?’ Beliau menjawab, ‘Apabila diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya maka
tunggulah hari Kiamat” [Diriwayatkan Al-Bukhari]

Hadits Kedua
Dari Abu Hurairah, ia berkata, ‘Rasulullah telah bersabda, “Tunaikanlah amanah kepada
orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang
mengkhianatimu” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud 3535 dan At-Tirmidzi 1264, ia berkata,
“ini adalah hadits hasan gharib”. Lihatlah, As-Silsilah Ash-Shahihah oleh Al-Albani 424]

Hadits Ketiga
Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah amanah, dan yang terakhirnya adalah
shalat” [Diriwayatkan oleh Al-Khara-ithi dalam Makarimil Akhlak hal. 28. Lihat, As-Silsilah
Ash-Shahihah oleh Al-Albani 1739]

Hadits Keempat.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau
bersabda, “Tanda seorang munafik ada tiga : apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji
ia mungkir, dan apabila diberi amanah ia berkhianat” [Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim]

[3]. PEGAWAI YANG MENUNAIKAN PEKERJAANNYA DENGAN IKHLAS MENDAPAT BALASAN


DUNIA DAN AKHIRAT
Apabila seorang pegawai menunaikan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh
mengharapkan pahala dari Allah, maka ia telah menunaikan kewajibannya dan berhak
mendapatkan balasan atas pekerjaannya di dunia dan beruntung dengan pahala di kampung
akhirat. Telah datang nash-nash syar’iyah yang menunjukkan bahwasanya upah dan pahala
atas apa yang dikerjakan oleh seorang dari pekerjaan didapat dengan ikhlas dan
mengharapkan wajah Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.


“Artinya : Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-
bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau
mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian
karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepada-Nya pahala yang besar”
[An-Nisa : 114]

Imam Bukhari (55) dan Imam Muslim (1002) telah meriwayatkan dari Abu Mas’ud
bahwasanya Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Apabila seseorang menafkahkan untuk keluarganya dengan ikhlas maka itu
baginya adalah sedekah”.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqash
Radhiyallahu ‘anhu.

“Artinya : Dan tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah karena mengharapkan wajah Allah
melainkan engkau mendapatkan pahala dengannya hingga sesuap yang engkau suapkan di
mulu istrimu” [Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim]

Nash-nash ini menunjukkan bahwasanya seorang Muslim apabila ia menunaikan


kewajibannya terhadap sesama hamba lepaslah tanggung jawabnya, dan bahwasanya ia
hanya akan mendapatkan balasan dan pahala dengan ikhlas dan mengharapkan wajah Allah
Subhanahu wa Ta’ala.

[4]. MENJAGA JAM KERJA UNTUK KEPENTINGAN PEKERJAAN


Wajib atas setiap pegawai dan pekerja untuk menggunakan waktu yang telah dikhususkan
bekerja pada pekerjaan yang telah dikhususkan untuknya. Tidak boleh ia menggunakannya
pada perkara-perkara lain selain pekerjaan yang wajib ditunaikannya pada waktu tersebut.
Dan tidak boleh ia menggunakan waktu itu atau sebagian darinya untuk kepentingan
pribadinya, atau kepentingan orang lain apabila tidak ada kaitannya dengan pekerjaan ;
karena jam kerja bukanlah milik pegawai atau pekerja, akan tetapi untuk kepentingan
pekerjaan yang ia mengambil upah dengannya.

Syaikh Al-Mu’ammar bin Ali Al-Baghdadi (507H) telah menasihati Perdana Menteri Nizhamul
Muluk dengan nasihat yang dalam dan berfedah. Di antara yang dikatakannya diawal
nasihatnya itu.

“Suatu hal yang telah maklum hai Shodrul Islam! Bahwasanya setiap individu masyarakat
bebas untuk datang dan pergi, jika mereka menghendaki mereka bisa meneruskan dan
memutuskan. Adapun orang yang terpilih menjabat kepemimpinan maka dia tidak bebas
untuk bepergian, karena orang yang berada di atas pemerintahan adalah amir (pemimpin)
dan dia pada hakikatnya orang upahan, ia telah menjual waktunya dan mengambil gajinya.
Maka tidak tersisa dari siangnya yang dia gunakan sesuai keinginannya, dan dia tidak boleh
shalat sunat, serta I’tikaf… karena itu adalah keutamaan sedangkan ini adalah wajib”.
Di antara nasihatnya, “Maka hiudpkanlah kuburanmu sebagaimana engkau menghidupkan
istanamu” [1]

Dan sebagaimana seseorang ingin mengambil upahnya dengan sempurna serta tidak ingin
dikurangi bagiannya sedikitpun, maka hendaklah ia tidak mengurangi sedikitpun dari jam
kerjanya untuk sesuatu yang bukan kepentingan kerja. Allah telah mencela Al-Muthaffifin
(orang-orang yang curang) dalam timbangan, yang menuntut hak mereka dengan sempurna
dan mengurangi hak-hak orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orang yang
apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi. Dan apabila mereka
menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah oran-orang itu
yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. Yaitu
hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” [Al-Muthaffifin : 1-6]

[Disalin dari kitab Kaifa Yuaddi Al-Muwazhzhaf Al-Amanah, Penulis Syaikh Abdul Muhsin
bin Hamad Al-Abad, Penerjemah Agustimar Putra, Penerbit Darul Falah, Jakarta 2006]
_________
Foote Note
[1]. Dzailul Thabaqat Al-Hanabilah oleh Ibnu Rajab (1/107

Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/2216/slash/0

PEGAWAI MENDAHULUKAN YANG DULUAN DALAM BERURUSAN


Termasuk sikap adil dan insaf, hendaknya seorang pegawai tidak mengakhirkan orang yang duluan dari orang-
orang yang berurusan, atau mendahulukan orang yang belakangan. Namun ia mendahulukan orang yang
berurusan lebih dahulu. Karena perkara seperti ini akan memudahkan pegawai dan orang-orang yang berurusan.
Telah datang dalam sunnah Rasulullah dalil yang menunjukkan atas hal itu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
ia berkata, “Ketika Nabi shallallahu’alaihi wasallam di suatu majelis berbicara kepada orang-orang, datanglah
seorang Arab badui lantas berkata. ‘Kapan terjadinya Kiamat? Rasulullah terus berbicara, sebagian orang
berkata, ‘Beliau mendengar apa yang dikatakannya dan beliau membencinya’, sebagian lain mengatakan,
‘Bahkan beliau tidak mendengar’, sehingga tatkala beliau menyelesaikan pembicaraannya lalu beliau berkata,
‘Mana orang yang bertanya tentang hari Kiamat?’ Ia berkata, ‘Ini aku wahai Rasulullah’, Rasul bersabda, ‘Apabila
amanah telah disia-siakan maka tunggulah hari Kiamat’. Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana menyia-nyiakannya?’
Beliau menjawab, ‘Apabila diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah hari Kiamat”
[Diriwayatkan Al-Bukhari]
Hadits ini menunjukkan bahwasanya Rasulullah tidak menjawab si penanya tentang hari Kiamat melainkan
setelah ia selesai berbicara kepada orang-orang yang telah mendahuluinya. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam
uraiannya, “Disimpulkan darinya bahwa dalam hal memberi pelajaran berdasarkan yang duluan, dan begitu juga
dalam fatwa-fatwa, urusan pemerintahan dan lain sebagainya”.
Dan disebutkan dalam biografi Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari di kitab Lisanul Mizan karangan Al-
Hafizh Ibnu Hajar, “Dan Ibnu Asakir mengeluarkan dari jalan Abu Ma’bad Utsman bin Ahmad Ad-Dainuri ia
berkata, ‘Aku menghadiri majelis Muhammad bin Jarir dan hadir juga menteri Al-Fadhal bin Ja’far bin Al-Furat,
dan dia telah didahului oleh seseorang. Maka berkata Ath-Thabari kepada orang tersebut, ‘Tidakkah engkau
ingin membaca?’ Maka ia menunjuk kepada si menteri. Maka Ath-Thabari berkata, ‘Apabila giliran untukmu maka
janganlah engkau terganggu oleh Dajlah (nama sungai) atau Efrat (Al-Furat)’. Aku katakan, “Dan ini sebagian
dari keunikan dan kemahiran bahasanya serta tidak tertariknya ia pada anak-anak dunia”.
[9]. PEGAWAI HARUS MEMILIKI SIFAT IFFAH (MENJAGA KEHORMATAN) DAN BERSIH DARI MENERIMA
SOGOKAN/SUAP DAN HADIAH.
Setiap pegawai wajib menjadi seorang yang menjaga kehormatan dirinya, berjiwa mulia dan kaya hati. Jauh dari
memakan harta-harta manusia dengan batil, dari apa-apa yang diberikan kepadanya berupa suap walau
dinamakan dengan hadiah. Karena apabila dia mengambil harta manusia dengan tanpa hak berarti ia
memakannya dengan batil, dan memakan harta dengan cara batil merupakan salah satu sebab tidak
dikabulkannya do’a.
Al Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahih-nya (1015) dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah telah
bersabda,
“Sesungguhnya yang pertama busuk dari manusia adalah perutnya, maka barangsiapa yang sanggup untuk
tidak memakan melainkan yang baik maka lakukanlah, dan barangsiapa yang bisa untuk tidak dihalangi antara
dia dan surga walau dengan segenggam darah yang ditumpahkannya maka lakukanlah”
Dan yang juga diriwayatkannya (2083) dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sungguh akan datang pada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak peduli dengan cara apa dia
mengambil harta, apakah dari yang halal atau dari yang haram”.
Menurut orang-orang yang mengambil harta tanpa peduli ini, bahwasanya yang halal adalah yang berada di
tangan dan yang haram adalah yang tidak sampai ke tangan. Adapun yang halal dalam Islam adalah apa yang
telah dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan yang haram adalah yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-
Nya.
Telah datang dalam sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadits-hadits yang menunjukkan tentang
bagi para pekerja dan pegawai mengambil sesuatu dari harta walaupun dinamakan hadiah, diantaranya hadits
Abu Humaid As-Saidi, ia berkata.
“Rasulullah mempekerjakan seseorang dari suku Al-Asad, namanya Ibnul Latbiyyah untuk mengumpulkan zakat,
maka tatkala ia telah kembali ia berkata, ‘Ini untuk engkau dan ini untukku dihadiahkan untukku’. Ia (Abu
Humaid) berkata, ‘Maka Rasulullah berdiri di atas mimbar, lalu menyanjung dan memuji Allah Ta’ala dan
bersabda, “Kenapa petugas yang aku utus lalu ia mengatakan, “Ini adalah untuk kalian dan ini dihadiahkan
untukku?!” Kenapa dia tidak duduk di rumah bapaknya atau rumah ibunya sehingga dia melihat apakah
dihadiahkan kepadanya atau tidak?! Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya! Tidaklah seorangpun dari
kalian menerima sesuatu darinya melainkan ia datang pada hari Kiamat sambil membawanya di atas lehernya
onta yang bersuara, atau sapi yang melenguh atau kambing yang mengembik’, kemudian beliau mengangkat
kedua tangannya sampai kami melihat putih kedua ketiaknya, kemudian bersabda dua kali, ‘Ya Allah, apakah
aku telah menyampaikan?” (Diriwayatkan Al-Bukhari 7174 dan Muslim 1832 dan ini adalah lafazh darinya)
Dan di dalam Shahih Bukhari (3073) dan Shahih Muslim (1831) –dan dengan lafazh darinya- dari Abu Hurairah,
ia berkata :
“Rasulullah berbicara kepada kami pada suatu hari, maka beliau menyebutkan Ghulul [1] dan beliau
menganggapnya perkara yang besar, kemudian ia berkata, ‘Aku akan temui salah seorang kalian yang datang
pada hari Kiamat di atas lehernya ada onta yang bersuara, ia berkata, ‘Hai Rasulullah, tolonglah aku’, maka aku
(Rasulullah) mengatakan, ‘Aku tidak mampu berbuat apa-apa untukmu sedikitpun, sungguh aku telah
menyampaikan kepadamu’, Aku tidak temui salah seorang dari kalian datang pada hari Kiamat dengan kuda di
atas pundaknya yang memiliki hamhamah (suara), lantas ia berkata, ‘Hai Rasulullah! Bantulah aku’, maka aku
berkata, ‘Aku tidak bisa membantu sedikitpun, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu’, Aku tidak dapatkan
salah seorang darimu datang pada hari Kiamat dengan kambing yang mengembik diatas pundaknya seraya
berkata, ‘Hai Rasulullah! Tolonglah aku’, Maka aku menjawab, ‘Aku tidak mampu berbuat apa-apa untukmu, aku
telah menyampaikan kepadamu’, Aku akan dapatkan salah seorang dari kalian datang pada hari Kiamat dengan
membawa jiwa yang menjerit, lantas ia berkata, ‘Hai Rasulullah! Tolonglah aku’, Maka aku berkata, ‘Aku tidak
memiliki apa-apa untukmu, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu’, Aku akan mendapatkan salah
seorang dari kalian datang pada hari Kiamat dengan pakaian diatas pundaknya ada shamit (emas dan perak),
lalu ia berkata, ‘Hai Rasulullah! Tolonglah aku’, maka aku akan menjawab, ‘Aku tidak memiliki apa-apa untukmu,
sungguh aku telah menyampaikan kepadamu”.
Riqa di dalam hadits ini maksudnya adalah pakaian dan shamit adalah emas dan perak.
Diantaranya hadits Abu Humaid As-Sa’di, bahwasanya Rasulullah bersabda :
“Hadiah-hadiah para pekerja adalah ghulul (khianat)”.
Diriwayatkan oleh Ahmad (23601) dan lainnya, dan lihat takhrijnya di dalam kitab Irwa Al-Ghalil karya Al-Albani
(2622), dan ini semakna dengan hadits yang terdahulu dalam kisah Ibnu Al-Latbiyyah.
Diantaranya hadits Adi bin Umairah, ia berkata, “Aku mendengar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
“Barangsiapa diantara kalian yang kami pekerjakan atas suatu pekerjaan, lalu ia menyembunyikan dari kami satu
jarum atau yang lebih kecil, maka dia adalah ghulul dan ia akan datang dengannya pada hari Kiamat”.
[Dikeluarkan oleh Muslim]
Diantaranya hadits Buraidah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
“Barangsiapa yang kami pekerjakan atas suatu pekerjaan, lalu kami memberinya bagian, maka apa yang
diambilnya setelah itu adalah perbuatan khianat” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan isnad shahih, dan
dishahihkan oleh Al-Albani)
Dan dalam biografi Iyadh bin Ghanam dari kitab Shifatush Shafwah oleh Ibnul Jauzi (1/277), ketika itu statusnya
sebagai gubernur Himsh dalam pemerintahan Umar, bahwasanya ia berkata kepada sebagian kerabatnya dalam
sebuah kisah yang panjang, ‘Demi Allah! Jika aku digergaji lebih aku sukai daripada aku berkhianat seperak
uang atau aku melampaui batas!”.
Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar membimbing setiap pegawai dan karyawan dari kaum muslimin
untuk menunaikan pekerjaannya sesuai dengan yang diridhai Allah Tabaraka wa Ta’ala, dan ia mendapatkan
pahala serta akhir yang terpuji di dunia dan akhirat.
Dan semoga Allah bershalawat dan salam serta memberkahi hamba dan rasul-Nya, nabi kita Muhammad,
keluarga serta shahabat-shahabatnya.
Referensi : [Diterjemahkan dari kitab Kaifa Yuaddi Al-Muwazhzhaf Al-Amanah, Karya Asy Syaikh Abdul Muhsin
Al-Abad hafizhohullah]
http://atsarussalaf.wordpress.com/2010/04/07/bagaimana-menjadi-pegawai-yang-amanah/
Pilih Pekerja Profesional Atau Amanah?
Sep 16, 2013 Artikel, Tashfiyah 0

Dua karakter yang menentukan potensi etos kerja karyawan:


profesionalitas dan amanah dalam mengemban tugas. Jika dua hal ini tidak
bisa didapatkan bersamaan dalam diri seseorang, karyawan tipe apakah
yang harus Anda dahulukan?

Memiliki karyawan yang profesional dan


amanah adalah impian setiap pengusaha. Di atas pundak mereka, perusahaan
dapat maju pesat dan keuntungan berlipat. Demikianlah kriteria karyawan
yang seharusnya Anda rekrut, sebagaimana dituturkan oleh puteri Syu’aib
‘Alaihissalam berikut, dalam firman Allah, yang artinya,
“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat, lagi
dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashas: 26)
Namun fakta di lapangan tidak sesederhana dalam impian. Mendapatkan karyawan yang
profesional insya Allah
mudah, namun belum tentu amanah. Mendapatkan orang yang amanah juga
tidak begitu sulit. Sayangnya betapa sedikitnya dari mereka yang
profesional.
Mana yang Harus Anda Pilih
Sering
Anda terpaksa harus memilih: merekrut karyawan profesional namun tidak
amanah atau karyawan amanah namun tidak profesional? Kondisi ini
dipastikan membuat Anda pusing tujuh keliling. Terlebih Anda menyadari,
kesalahan memilih dapat mengancam kelangsungan usaha Anda.

“Bila
amanah (kepercayaan) telah disia-siakan, maka nantikanlah datangnya
Kiamat (kehancuran). Ada yang bertanya: Bagaimana wujud menyia-nyiakan
amanah? Beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab: Bila kepercayaan diberikan kepada orang yang
tidak layak, maka nantikanlah datangnya Kiamat (kehancuran). (HR. Bukhari)
Saudaraku! Sunnatullah
telah tetap, bahwa manusia sempurna sehingga profesional lagi amanah
adalah barang langka. Ibnu Taimiyah berkata: “Kemampuan dan amanah
jarang bersatu pada diri seseorang.” (As-Siyasah As-Syar’iyah, hlm. 15)
Ketahuilah
saudaraku, kondisi semacam ini bukanlah hal baru. Namun telah ada sejak
dahulu kala. Sampai-sampai Khalifah Umar bin Khatthab berkata: Ya
Allah, hanya kepada-Mu aku mengeluhkan, kegigihan orang jahat dan
kelemahan orang yang dapat dipercaya (amanah).

Karena itu Anda


harus cerdik guna meminimalkan kerugian dan memaksimalkan keuntungan
pada setiap jabatan atau pekerjaan yang akan Anda pikulkan kepada orang
lain.

Ibnu Taimiyyah menjelaskan, “Bila pada suatu jabatan terdapat dua pilihan orang:

– Lebih menonjol dalam hal amanah.


– Lebih menonjol dalam hal kemampuan (kekuatan).

Harus didahulukan orang yang paling berguna yang sesuai jabatan tersebut, dan paling sedikit
risikonya.
Misalnya, pimpinan perang diserahkan kepada orang yang kuat dan
pemberani, walaupun tingkat ketakwaanya lebih rendah dibanding orang
yang lemah dan penakut walau memiliki amanah yang tinggi.

Bila
suatu jabatan lebih membutuhkan kepercayaan, orang yang memiliki amanah
lebih didahulukan. Misal jabatan bendahara atau yang serupa. Ada pun
jabatan pemungut dan penjaga harta (semisal kasir), harus memenuhi dua
kriteria di atas. Yaitu kekuatan dan amanah. Dengan demikian karyawan
yang tangguh berbekal keberanian berhasil memungut harta, dan berbekal
amanah dan pengalaman mampu menjaga harta tersebut.” (As-Siyasah As-Syar’iyah, 15- 17)
Bangunlah Amanah dan Kehandalan Karyawan Anda
Meningkatkan
etos kerja karyawan adalah satu sikap bijak yang sepantasnya Anda
lakukan. Dengan cara demikian ini hasil kerja karyawan anda semakin
optimal dan keuntungan Andapun terus bertambah. Namun bagaimanakah kiat
meningkatkan produktiviitas atau kemampuan karyawan dalam hal produksi
dan amanahnya?

Bagi seorang pengusaha, kiat-kiat meningkatkan


produktifitas karyawan – saya yakin – bukanlah hal yang asing lagi.
Namun mungkin yang baru bagi anda ialah bagaimana kiat manjur dalam
membangun amanah pada karyawan?

Sobat, Imam Ibnu Taimiyah pernah


memberikan resep sederhana namun efektif guna membangun amanah karyawan
Anda. Beliau berkata: “Amanah terwujud berkat adanya tiga hal: (1) Rasa
takut kepada Allah; (2) Tidak menjual ayat-ayat Allah (kebenaran) dengan
harta; dan (3) Tidak takut kepada sesama manusia. Ketiga hal ini
merupakan syarat Allah yang dibebankan kepada setiap hakim yang
mengadili masyarakat. Allah nyatakan dalam Al-Quran, yang artinya, ”Karena
itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku.
Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.
Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah,
maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (As-Siyasah As-Syar’iyah, hlm. 13)
Dengan
mewujudkan ketiga hal yang dijelaskan oleh Syeikhul Islam Ibnu
Taimiyyah tersebut, artinya Anda mewujudkan kesadaran tinggi pada diri
karyawan Anda. Kesadaran tinggi yang bersumberkan keimanan kepada Allah
yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar seperti ini menjadikan karyawan
Anda merasa senantiasa diawasi walaupun dia sedang seorang diri jauh
dari pengawasan Anda.

Karyawan yang benar-benar mengaplikasikan


nilai-nilai imannya untuk selalu menyadari bahwa setiap perbuatanya
dicatat dan pasti dihisab di hadapan Allah. Sekecil apa pun
perbuatannya dan sepandai apa pun dirinya dalam menyembunyikan suatu
kecurangan, pastilah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena
itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan antara amanah dengan keimanan. “Tidak
dinyatakan beriman orang yang tidak dapat menunaikan amanah, dan tidak
dinyatakan beragama orang yang tidak menepati janji-janjinya.” (HR. Ahmad dan lainnya)
Sahabat
Umar bin Khatthab juga mengutarakan hal serupa: ”Janganlah engkau
terperdaya oleh sholat dan puasa seseorang. Siapa saja mau mendirikan
sholat atau puasa niscaya ia kuasa melakukannya. Namun ketahuilah bahwa
tidak dinyatakan beragama orang yang tidak dapat menunaikan amanah.”
(HR. Baihaqi dan lainnya)

Karena itu, sebagaimana Anda membuat


pelatihan kerja untuk para karyawan Anda, buatlah pelatihan-pelatihan
amanah untuk mereka. Harapannya, etos kerja karyawan Anda semakin
meningkat dan keuntungan andapun semakin berlipat.

TANGGUNGJAWAB MAJIKAN

Majikan dan pekerja adalah mereka yang berada di dalam satu organisasi tidak kira organisasi itu kecil
atau besar. Dalam Islam hubungan antara majikan dengan pekerja terikat dengan tanggungjawab
masing - masing.
1. Kewajipan menyediakan kerja yang tidak menyalahi agama atau syariat.

Setiap majikan hendaklah menyedari bahawa setiap kegiatan menjalankan kerja yang halal adalah
wajib baginya. Nabi S.A.W ada bersabda yang bermaksud :

“barangsiapa bekerja untuk anak isterinya melalui jalan yang halal, maka bagi mereka pahala seperti
orang yang berjihad di jalan Allah”

2. Memilih pekerja yang layak dengan kerja yang bakal dilakukan.


Majikan mempunyai hak untuk memilih mana – mana pekerja yang akan bekerja dibawahnya. Ini
bermakna pekerja yang dipilih hendaklah bersesuaian dengan pekerjaan yang akan dilakukannya.

3. Pemberian kerja yang berpadanan dengan kelayakan.

Menjadi kewajipan majikan untuk memberitahu pekerjannya tntang bentuk pekerjaan yang akan
dilakukan. Setiap pekerjaan mestilah bersesuaian dengan fitrah manusia.

4. Membayar upah atau ganjaran yang setimpal dengan kerja yang dilakukan.

Seseorang pekerja berhak mendapat upah yang setimpal dengan pekerjaan yang dilakukannya.
Pembayaran upah perlulah bepandukan polisi, peraturan dan keadaan organisasi, kesesuaian kerja
dan jaminan masa depan.

5. Melindungi hak dan kebajikan pekerja.


Majikan mestilah menjaga keperluan dan kepentigan pekerjanya. Tujuan Islam menjaga kebajikan
adalah untuk meningkatkan tekana ke atas pekerja dan menjaga hubungan sesama manusia.

6. Majikan tidak harus membebani pekerja dengan sesuatu kerja yang tidak mampu dilaksanakan .
Seseorang majikan idak harus membebani pekerjanya dengan sesuatu yang tidak mampu
dilaksanakannya, dengan mengambil kira keuntungan semata mata.

7. Hendaklah memperkerjakan seseorang yang kuat lagi terpercaya.

Memperkerjakan seseorang yang amanah, bagus agamanya, kuat dan layak. Sebab orang yang
memiliki sifat – sifat seperti ini akan mampu melaksanakan tugas dan lebih cemerlang dalam tugasnya.
Adapun orang yang hanya memiliki sebahagian sifat tersebut tidak akan sem[urna hasilnya
sebagaimana yang diharapkan.

8. Tidak boleh mempekerjakan seseorang untuk perkara yang haram.

Janganlah ia memperkerjakan seseorang untuk membantunya melakukan pekerjaan yag haram. Hal
demikian akan menambah dosa pada dosanya yang melakukan perbuatan haram.

TANGGUNGJAWAB PEKERJA
1. Mengikut arahan majikan dalam dan bekerja dengan tekun dan cekap.
Rasullah S.A.W, ada bersabda yang bermaksud:

“sesungguhnya Allah suka melihat hambanya-Nya yang melakuka pekerjaan dengan tekun
(teliti). “(Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari A’isyah r.a.)

“Allah sukakan hamba-Nya yang bekerja (secara professional). Barang siapa yang bertungkus lumus
mencari sara hidup keluarganya maka ia seperti seorang mujahid pada jalan Allah”.

2. Menyelesaikan kerja tepat pada waktunya.

Seseorang pekerja mestilah berusaha sedaya upaya untuk menyelesaikan tugas yang diberiakn tepat
pada masanya.

3. Berkhidmat kepada majikan dengan amanah.

Seseorang pekerja perlu mempunyai sikap amanah dalam pekerjaannya samaada yang melibatkan
urusan peribadi ataupun urusan kemasyarakatan. Setiap manusia hendaklah sedar bahawa menurut
Islam setiap kegiatan kita di dunia ini akan diperhitungkan di akhirat nanti.

4. Bersatu padu dan melaksanakan kerja dengan sempurna.


Setiap pekerja memerlukan sikap menyatupadukan usaha mereka supaya matlamat organisasi
tercapai. Dalam masa yang sama, melaksanakan kerja yang diamanahkan dengan sempurna.

5. Kebahagiaan manusia sejagat.

Setiap pekerja hendaklah memberi layanan dan khidmat yang sama kepada semua orang tanpa
mengira kaum.

6. Menyerahkan hasil keuntungan kepada majikan.

Seorang pekerja hendaklah menyerahkan keuntungan kepada majikannya kerana hal itu merupakan
bentuk penunaian amanah.

Tanya Jawab: Tanggung Jawab Karyawan


Dan Melaksanakan Amanat
Jun 05, 2008 Artikel, Tanya Jawab Syariah 0

Menyampaikan Kebaikan Dan Melaksanakan Amanat


Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Pertanyaan:
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Sebagian karyawan dan pekerja tidak memberikan
porsi yang cukup pada pekerjaan mereka. Di antara mereka ada yang sudah setahun bahkan lebih,
tidak pernah mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran serta sering terlambat bekerja
dengan mengatakan, “Saya telah diizinkan oleh atasan, jadi tidak apa-apa.” Untuk orang yang
semacam itu, apakah ia berdosa selama ia masih tetap begitu? Kami mohon fatwanya. Semoga Allah
membalas Syaikh dengan kebaikan

Jawaban
Pertama, yang disyari”atkan atas setiap muslim dan muslimah adalah menyampaikan apa-apa yang
bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala mendengar kebaikan, sebagaimana yang
ditunjukkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Allah mengelokkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu disampaikannya
sebagaimana yang ia dengar.”[1>
Dalam sabdanya yang lain disebutkan,

“Artinya : Sampaikanlah apa yang berasal dariku ivalaupun hanya satu ayat.”[2>
Apabila beliau menasehati dan mengingatkan manusia, beliau selalu berpesan,

“Artinya : Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Sebab, banyak yang menyampaikan
lebih sadar daripada yang hanya mendengar.”[3>
Karena itu, saya wasiatkan kepada anda semua untuk menyampaikan kebaikan yang anda dengar
berdasarkan ilmu dan kemantapan. Sebab, setiap yang mendengar suatu ilmu dan menguasainya,
hendaknya menyampaikannya kepada keluarganya, saudara-saudaranya dan teman-temannya
selama ia melihat adanya kebaikan dengan tetap memelihara kemurnian materinya dan tidak
berbicara tentang sesuatu yang tidak dikuasainya, sehingga dengan begitu ia termasuk orang-orang
yang saling berwasiat dengan kebenaran dan termasuk orang-orang yang mengajak kepada
kebaikan.

Melaksanakan Amanat
Kemudian tentang para karyawan yang tidak melaksanakan tugas mereka atau tidak saling
menasehati dalam hal tersebut, anda semua telah mendengar, bahwa di antara karakter keimanan
adalah melaksanakan amanat dan memeliharanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

“Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya
“ [An-Nisa”: 58>
Amanat merupakan karakter keimanan yang paling utama, sementara khianat merupakan karakter
kemunafikan, hal ini sebagaimana dinyatakan Allah saat menyebutkan sifat-sifat kaum mukminin,

“Artinya : Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” [Al-
Mu”minun: 8, Al-Ma”arij: 32>
Kemudian dalam ayat lainnya disebutkan,

“Artinya : Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga
janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” [Al-
Anfal : 27>
Karena itu, seorang karyawan wajib melaksanakan amanat dengan jujur dan ikhlas serta memelihara
waktu dengan baik sehingga terbebas dari beban tanggung jawab, dan dengan begitu
pencahariannya menjadi baik dan diridhai Allah. Di samping itu, berarti ia loyal terhadap negaranya
dalam hal ini, atau terhadap perusahaan atau lembaga tempatnya bekerja. Itulah yang wajib atas
seorang karyawan, yaitu hendaknya ia bertakwa kepada Allah dan melaksanakan amanat dengan
sungguh-sungguh dan loyal, yang dengan begitu ia mengharapkan pahala dari Allah dan takut
terhadap siksaNya. Hal ini sebagai pengamalan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

“Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya.” [An-Nisa” : 58>
Di antara karakter kaum munafikin adalah mengkhianati amanat, sebagaimana yang disabdakan oleh
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Tanda orang-orang munafik ada tiga; Apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan
apabila diberi amanat (dipercaya) ia berkhianat.”[4>
Seorang muslim tidak boleh menyerupai orang munafik, bahkan harus menjauhi sifat-sifatnya, tetap
memelihara amanat dan melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh serta memelihara waktu
dengan baik sekalipun ada toleransi dari atasannya, dan walaupun tidak diperintahkan oleh
atasannya. Hendaknya ia tidak mengabaikan tugas atau menyepelekannya, bahkan sebaliknya, ia
bersungguh-sungguh sehingga lebih baik daripada atasannya dalam melaksanakan tugas dan
loyalitasnya terhadap amanat, lalu menjadi teladan yang baik bagi karyawan lainnya.

[Majalah Al-Buhuts At-lslamiyyah, edisi 31, hal. 115-116, Syaikh Ibnu Baz>
[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-
Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerbit Darul Haq>
__________

Foote Note

[1>. Hadits Riwayat. At-Tirmidzi dalam Al-Ilm (2657), Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah (232).

[2>. Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Ahadits Al-Anbiya (3461).

[3>. Hadits Riwayat AI-Bukhari dalam Al-“Ilm(67), Muslim dalam Al-Qasamah (1679).

[4>. Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam al-Iman (33), Muslim dalam al-Iman(59).

Sumber : Almanhaj.or.id

Read more http://pengusahamuslim.com/198-tanya-jawab-tanggung-jawab-karyawan-dan-melaksanakan-


amanat.html
Baca Buku Agama Saat Jam Kerja
Nov 16, 2011 Artikel, Kontemporer, Tanya Jawab Syariah 0

Saat pekerjaan yang harus dikerjakan oleh seorang karyawan telah diselesaikan dengan baik,
bolehkan seorang karyawan menggunakan waktu yang tersisa untuk membaca al Qur’an, buku-buku
agama, majalah keislaman atau kegiatan semisal sampai jam kantor berakhir? Temukan jawaban
dalam tulisan berikut ini.

Menjadi kewajiban para pekerja, pegawai dan karyawan untuk bertakwa kepada Allah dengan
melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dan dengannya dia berhak mendapatkan
gaji atau upah.

Allah berfirman,

‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا أ َ ْوفُوا بِ ْالعُقُو ِد‬

Yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman laksanakanlah perjanjian-perjanjian kalian.” (QS. Al-
Maidah: 1).
Termasuk dalam ayat di atas, perjanjian atau kontrak kerja.

ِ ‫َّللاَ يَأ ْ ُم ُر ُك ْم أ َ ْن ت ُ َؤدُّوا ْاْل َ َمانَا‬


58/‫ت إِلَى أ َ ْه ِل َها ) النساء‬ َّ ‫ ( إِ َّن‬: ‫وقوله‬

Yang artinya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah.” (QS. An-Nisa: 58).
27/‫سو َل َوت َ ُخونُوا أ َ َمانَا ِت ُك ْم َوأ َ ْنت ُ ْم ت َ ْع َل ُمونَ ) اْلنفال‬
ُ ‫الر‬ َّ ‫ ( َيا أ َ ُّي َها َّالذِينَ آ َمنُوا ََل ت َ ُخونُوا‬: ‫وقوله‬
َّ ‫َّللاَ َو‬

Yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengkhianati Allah dan rasul dan
janganlah kalian mengkhianati amanah yang yang diberikan kepada kalian sedangkan kalian
mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal: 27).
Amanah pekerjaan itu termasuk dalam dalil-dalil di atas.

29/‫ ( َيا أَيُّ َها َّالذِينَ آ َمنُوا َل ت َأ ْ ُكلُوا أ َ ْم َوالَ ُك ْم َب ْينَ ُك ْم ِب ْالبَاطِ ِل ) النساء‬: ‫وقوله‬

Yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian memakan harta orang lain dengan cara
yang tidak benar.” (QS. An Nisa: 29)
Jika seorang karyawan telah menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dengan
baik boleh baginya untuk memanfaatkan waktu kosong yang tersedia dengan membaca al Qur’an,
buku atau pun majalah keislaman yang bermanfaat.

Syaikh Ibnu Utsaimin mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Jika seorang karyawan telah
melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya lalu dia ingin memanfaatkan jam kantor
yang tersisa dengan membaca al Qur’an atau membaca tulisan-tulisan yang bermanfaat atau pun
tertidur sejenak agar badan fresh apakah dia berdosa?”

Jawaban beliau, “Karyawan tersebut tidak berdosa jika dia telah menyelesaikan pekerjaan yang
menjadi tanggung jawabnya. Namun jika dia kerjanya asal selesai atau tidak maksimal dalam bekerja
maka ‘pemanfaatan jam kantor yang tersisa’ itu hukumnya tidak boleh dan haram. Sedangkan
ngantuk dalam kerja itu tidak mengapa karena seseorang itu tidak memiliki diri dan jiwanya oleh
karena itu terkadang seorang itu tertidur saat kerja tanpa dia sadari.” (Fatawa al Huquq yang
dikumpulkan oleh Khalid al Juraisi hal 59).
Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Syaikh Ibnu Baz dengan teks sebagai berikut, “Saya seorang
karyawan. Saat ada waktu longgar dalam jam kerja kumanfaatkan untuk membaca al Qur’an akan
tetapi pimpinan menegurku dengan mengatakan bahwa sekarang adalah jam kerja bukan waktu
untuk membaca al Qur’an. Apa hukum agama dalam kasus semacam ini?”
Jawaban beliau, “Jika pekerjaan anda memang benar-benar sudah tuntas maka tidak mengapa jika
anda manfatkan untuk membaca al Qur’an, membaca tasbih, tahlil atau pun kalimat dzikir lainnya.
Hal ini lebih baik dari pada bengong.

Akan tetapi jika kegiatan membaca al Qur’an dilakukan sebelum pekerjaan benar-benar tuntas maka
hal itu tidak diperbolehkan karena jam kerja diperuntukkan untuk kegiatan kerja. Sehingga saat jam
kerja anda tidak boleh memanfaatkannya dengan kegiatan yang menghalangi berjalannya pekerjaan
dengan baik.” (Fatawa Syaikh Ibnu Baz 8/361).
Meski memanfaatkan waktu kosong saat jam kerja dengan membaca al Qur’an atau buku agama itu
diperbolehkan akan tetapi yang lebih baik jika waktu kosong tersebut digunakan untuk kegiatan yang
menunjang pekerjaan misal pekerjaan mengharuskan karyawan memiliki kemampuan bahasa Inggris
yang baik maka yang lebih baik saat senggang dalam jam kerja adalah memanfaatkannya dengan
membaca buku yang bisa meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

Referensi:
http://www.alsalafway.com/cms/fatwa.php?action=fatwa&id=3669
Artikel www.PengusahaMuslim.com

Kewajiban Amanah Dalam Bekerja


March 04, 2017

0 Comments

Rasulullah bersabda,
‫خَانَكَ َم ْن ت َ ُخ ْن َو َل ائْت َ َمنَكَ َم ِن إِلَى ْاْل َ َم انَةَ أ َ ِد‬
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang telah menyerahkan amanah (kepercayaan)
kepadamu dan jangan engkau khianati orang yang telah mengkhianatimu.”(HR. Abu
Dawud no. 3068 dan at-Tirmidzi no. 1185 dari shahabat Abu Hurairah )
Para pembaca yang berbahagia, amanah (kepercayaan) yang diberikan kepada
seseorang merupakan suatu pemberian yang tidak ternilai harganya. Dengan amanah,
keberkahan (kebaikan yang banyak) dalam kehidupan seorang muslim dapat diraih.
Mari sejenak kita mengkaji kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad. Kala itu, seorang
saudagar wanita yang bernama Khadijah mempercayakan barang dagangannya kepada
beliau yang masih muda untuk diperdagangkan ke negeri Syam. Maka berangkatlah
beliau menjalankan amanah tersebut. Tak berapa lama, beliau kembali ke kota
Makkah dengan membawa keuntungan yang besar dari hasil dagangannya. Dari sini,
mulailah Khadijah tertarik dengan kepribadian beliau yang jujur dan penuh amanah
hingga akhirnya mengantarkan keduanya ke jenjang pernikahan. Sifat jujur dan penuh
amanah ini melekat pada pribadi beliau. Tak heran, bila penduduk Makkah menjuluki
beliau dengan al-Amin (yang terpercaya).
Dalam kisah ini dapat diambil pelajaran bahwa sifat amanah memegang peran kunci
dalam mengantarkan seorang pegawai atau pekerja menuju kesuksesan dunia dan
akhirat.
Seorang pegawai atau pekerja yang bekerja dengan amanah dan penuh keikhlasan
maka akan mendapatkan ganjaran di dunia dan di akhirat. Apabila seorang pegawai
atau pekerja telah bekerja dengan amanah dan diiringi dengan niat mengharap pahala
dari Allah berarti dia telah menunaikan kewajibannya sehingga berhak mendapatkan
gaji dari hasil pekerjaannya tersebut di dunia dan akan mendapatkan pahala di akhirat
kelak.
Adapun gambaran perwujudan amanah dalam bekerja antara lain:
1. Menjaga Kedisiplinan Jam Kerja
Kedisiplinan jam kerja disini tidak hanya tepat waktu pada saat kehadiran di tempat
kerja dan selesai kerja, namun benar-benar mengalokasikan jam kerja sesuai dengan
job (pekerjaan) yang menjadi bidang tugasnya, dan waktunya pun tidak digunakan
untuk kegiatan lain yang bukan bidang tugasnya.
Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad (mantan rektor Universitas Islam Madinah) berkata,
“Wajib bagi setiap pegawai atau pekerja untuk menyibukkan diri di saat jam kerja
dengan pekerjaan yang memang merupakan tugasnya. Tidak boleh menyibukkan diri
dengan tugas lain yang bukan pekerjaan yang wajib dia tunaikan.
Kemudian beliau melanjutkan, “Janganlah dia menyibukkan jam kerjanya atau
sebagian jam kerjanya untuk suatu kepentingan tertentu dan tidak pula kepentingan
yang lainnya apabila kepentingan tersebut tidak ada hubungannya dengan pekerjaan
atau tugasnya. Karena sesungguhnya jam kerja hakikatnya bukan milik pegawai atau
pekerja akan tetapi jam kerja adalah semata-mata untuk pekerjaan yang memang
menjadi bidang tugasnya yang dia diberi gaji sebagai bentuk imbalan atas pekerjaan
tersebut.” (Kaifa Yuaddi al-Muwazhzhaf al-Amanah, hlm. 11)
Lalu bagaimana dengan sebagian mereka yang sampai keluyuran (keluar dari tempat
kerja) menuju hotel, tempat-tempat hiburan, dan pusat perbelanjaan pada saat jam
kerja?!
Sebagaimana seorang pegawai atau pekerja ingin mendapatkan gaji yang penuh dan
tidak mau dipotong atau dikurangi sedikitpun dari gaji tersebut maka hendaknya
diapun tidak memotong atau mengurangi jam kerjanya dengan melakukan pekerjaan
lain selain bidang tugasnya.
2. Tidak Menerima Suap
Wajib atas setiap pegawai atau pekerja untuk memiliki sifat ta’affuf (menjaga harga
diri), kemuliaan jiwa, sifat qana’ah (merasa cukup) dan menjauhkan diri dari
perbuatan memakan harta orang lain dengan cara yang tidak sah seperti menerima
suap sekalipun diistilahkan dengan hadiah atau yang populer dengan sebutan
gratifikasi. Sebab dengan menerima suap atau hadiah atau gratifikasi akan
mendorongnya melakukan perbuatan-perbuatan yang cenderung tidak amanah.
Di dalam sunnah Rasulullah, ada beberapa hadits yang menunjukkan larangan bagi
pegawai atau pekerja untuk menerima suap atau hadiah atau gratifikasi. Disebutkan
oleh Abu Humaid as-Saidi bahwa dahulu Rasulullah mengangkat seorang dari bani Asad
yang bernama Ibnu Lutbiyah sebagai pegawai pengumpul zakat. Tatkala sampai
dihadapan Rasulullah untuk melaporkan hasil kerja, dia berkata, “Ini adalah harta
zakat, aku serahkan kepada engkau adapun ini adalah hadiah dari seseorang
untukku.”
Maka Rasulullah pun naik ke atas mimbar, memuji dan menyanjung Allah kemudian
bersabda, “Bagaimana keadaan orang yang aku utus untuk (mengumpulkan zakat)
dengan mengatakan, ‘Ini adalah harta zakat, aku serahkan kepada engkau adapun ini
adalah hadiah dari seseorang untukku’, Mengapa dia tidak duduk saja di rumah
ayahnya atau rumah ibunya sambil menunggu apakah ada orang yang memberikan
hadiah kepadanya ataukah tidak? Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-
Nya, tidaklah salah seorang di antara kalian menggelapkan sesuatu dari harta zakat
melainkan kelak akan datang pada hari kiamat dalam keadaan memikul unta yang
digelapkannya itu melenguh-lenguh di atas lehernya atau sapi yang melenguh atau
kambing yang mengembik.” (HR. Muslim no. 3413 dari shahabat Abu Humaid as-
Saidi)
3. Menyelesaikan Pekerjaan Dengan Tertib
Termasuk sikap adil dalam bekerja adalah menyelesaikan setiap pekerjaannya dengan
tertib dimulai dari pekerjaan yang awal kemudian berikutnya sampai yang terakhir.
Yang demikian ini akan memberikan kepuasan hati baik bagi si pegawai atau pekerja
maupun bagi orang yang memberikan pekerjaan tersebut. Jangan mendahulukan
pekerjaan yang terakhir atau mengakhirkan pekerjaan yang pertama.
Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa ketika Nabi sedang menceritakan suatu kaum
di sebuah majelis, datanglah seorang arab badui dan langsung berkata, “Kapan
datangnya hari kiamat?” Nabi tidak menjawab pertanyaan tersebut dan tetap
melanjutkan ceritanya. Sampai ada yang mengira bahwa beliau mendengar ucapannya
namun tidak menyukai ucapan tersebut atau beliau memang tidak mendengar
ucapannya. Tatkala beliau telah selesai bercerita barulah beliau menjawab
pertanyaan orang tadi. (HR. al-Bukhari no. 57 dari shahabat Abu Hurairah)
Sisi pendalilan dari hadits ini adalah Nabi tidak menjawab pertanyaan orang tersebut
melainkan setelah menyelesaikan cerita tentang suatu kaum, karena orang tersebut
datang belakangan.
Kriteria Memilih Pegawai Atau Pekerja
Adapun kriteria dasar yang patut diperhatikan dalam penerimaan pegawai atau
pekerja adalah hendaknya calon pegawai atau pekerja memiliki kemampuan dan sifat
amanah. Seorang pegawai atau pekerja yang memiliki kemampuan maka dia akan bisa
melaksanakan pekerjaan dengan baik sesuai yang dituntut darinya. Adapun dengan
sifat amanah maka seorang pegawai atau pekerja akan menunaikan pekerjaan
tersebut dengan penuh tanggung jawab dan akan menempatkan segala sesuatu pada
tempatnya.
Kriteria dasar yang demikian diambil dari firman Allah tatkala Allah mengisahkan
tentang salah satu dari dua wanita penduduk Madyan yaitu putri Nabi Syu’aib yang
mengatakan kepada sang ayah ketika dia dan saudarinya pernah ditolong oleh Nabi
Musa mengambilkan air minum untuk hewan ternaknya,
“ … Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang
yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat
dan amanah (dapat dipercaya).” (al-Qashash: 26)
Allah menceritakan tentang Ifrith dari kalangan jin yang menyatakan kesediaannya
kepada Nabi Sulaiman untuk mendatangkan istana Ratu Saba’(Bilqis).
“Ifrith dari golongan jin berkata, ‘Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum
engkau berdiri dari tempat dudukmu, dan sungguh aku kuat melakukannya dan dapat
dipercaya’.” (an-Naml: 39)
Allah juga menceritakan tentang kisah Nabi Yusuf, tatkala beliau mengatakan kepada
sang raja,
“Dia (Yusuf) berkata, ‘Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena
sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan’.” (Yusuf:
55)
Adapun lawan dari kemampuan dan amanah adalah lemah dan khianat (tidak
amanah). Maka orang yang tidak memiliki kemampuan/lemah serta suka khianat tidak
pantas dipilih sebagai pegawai atau pekerja.
Ketika khalifah Umar bin al-Khatthab mengangkat Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai
gubernur di kota Kufah, sebagian orang-orang bodoh dari kalangan penduduk Kufah
memfitnah sang gubernur dihadapan Umar bin Khattab. Maka Umar pun mengambil
keputusan demi kebaikan yang lebih besar dengan mencopot Sa’ad bin Abi Waqqash
dari jabatan sebagai gubernur Kufah yaitu untuk meredam gejolak fitnah dan agar
jangan sampai ada seorangpun menganiaya Sa’ad bin Abi Waqqash.
Akan tetapi Umar bin al-Khattab tatkala mengalami sakit menjelang kematiannya
menetapkan 6 orang dari shahabat Rasulullah sebagai bakal calon khalifah sepeninggal
beliau. Di antara 6 orang pilihan itu adalah Sa’ad bin Abi Waqqash. Hal ini beliau
lakukan karena kekhawatiran akan munculnya prasangka bahwa Umar mencopot Sa’ad
bin Abi Waqqash dari jabatan gubernur Kufah disebabkan Sa’ad tidak becus dalam
memimpin wilayah. Prasangka itupun hilang seiring dengan pernyataan Umar,
‫ت فَإ ِ ْن‬ َ َ ‫اإل ْم َر ة ُ أ‬
ِ َ‫صاب‬ َ ‫ذَاكَ فَ ُه َو‬، ‫أ ُ ِم َر َم ا أَيُّكُ ْم بِ ِه فَ ْلي َ ْستَع ِْن َوإِ َّل‬، ‫ع ْن أَع ِْز ْله ُ لَ ْم فَإِن ِي‬
ِ ‫س ْعدًا‬ َ ، َ‫خِ يَان َة ٍٍٍ َول‬
َ ‫عجْ ز‬
“Apabila kekuasaan ini jatuh pada Sa’ad maka dialah yang berhak, namun kalau
tidak, maka hendaklah kalian meminta bantuan kepada beliau siapa saja di antara
kalian yang memerintah. Sesungguhnya aku tidaklah mencopot Sa’ad disebabkan
ketidakmampuannya dan bukan karena khianat.” (HR. al-Bukhari no. 3424)
Penulis: Ustadz Abu Abdirrahman Muhammad Rifqi
artikel ini di salin dari webiste :
http://buletin-alilmu.net/2017/02/24/kewajiban-amanah-bekerja/
HADIS TENTANG AMANAH
Written By Ahmad Multazam on Tuesday, March 26, 2013 | 9:28 AM
‫الر ِحيم‬
َّ ‫الرحْ َم ِن‬
َّ ِ‫ْــــــــــــــــم اﷲ‬
ِ ‫ِبس‬

I. PENDAHULUAN

Amanah merupakan salah satu akhlak para rasul yang paling nampak. Nabi Nuh a.s., Nabi Hud a.s.,
Nabi Luth a.s., dan Nabi Syuaib a.s., sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT dalam surat Asy
Syu’ara ayat 107 bahwa:

Artinya: “ Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul yang memegang amanah (yang diutus)
kepada kalian. (QS. ASy Syu’ara/26: 107).

Adapun Rasulullah SAW memiliki sifat al Amin (memegang amanah, terpecaya) di tengah-tengah
kaumnya. Orang-orang memilih beliau sebagai pihak untuk dititipi berbagai barang. Saat beliau hijrah
beliau meminta Ali bin Abi Thalib supaya mengembalikan barang-barang titipan kepada mereka yang
menitipkannya.

Bagaimana kita bersikap amanah di zaman sekarang ini yang modern dan era globlalisasi meski
banyak tantangan yang harus dihadapi. Untuk itu pemakalah akan menjelaskan secara gamblang dan
sistematis tentang pengertian amanah, hakikat amanah, bentu-bentuk amanah, khianat dan cara
untuk menjadi pengemban amanah tanpa keluar dari koridor-koridor hukum syar’i dan hadis.
Sehingga bisa menjadi insan yang muttaqin.

II. HADIS AMANAH

Sahabat nabi Khudzaifah r.a. menerangkan dalam hadis yang berbunyi:

‫سلَّ َم َح ِد ْيثَي ِْن َرأَيْتُ ا َ َحدَ ُه َما َوأَنَا أ َ ْنت َ ِظ ُر‬ َ ‫ع َل ْي ِه َو‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬ َ ‫هللا‬ ِ ‫س ْو ُل‬ ُ ‫ع ْن ُحذَ ْي َفةَ َقا َل َحدَّثَنَا َر‬ َ
‫سنَّ ِة َو‬ ُّ ‫ع ِل ُم ْو ِامنَ ال‬ ُ
َ ‫آن ث َّم‬ ُ ْ
ِ ‫ع ِل ُم ْو ِامنَ الق ْر‬ ُ
َ ‫الر َجا ِل ث َّم‬ ِ ‫ب‬ ُ ُ ْ
ِ ‫ت فِ ْي َجذ ِر قل ْو‬ َ َ َ َ
ْ ‫ َحدَّثنَا أ َّن اْل َمانَة نَزَ ل‬.‫اَْلَخ ََر‬
ْ َ
‫ت ث ُ َّم‬ِ ‫ظ ُّل أَث َ ُرهَا ِمثْ َل اَث َ ِر ْال َو ْك‬ َ ‫ض اْْل َ َمانَةُ ِم ْن قَ ْلبِ ِه فَ َي‬ ُ ‫الر ُج ُل النَّ ْو َمةَ َفت ُ ْق َب‬َّ ‫ع ْن َر ْف ِع َها قَا َل يَنَا ُم‬ َ ‫َحدَّثَنَا‬
‫ْس‬ َ ‫ط فَت َ َراهُ ُم ْنتَ ِب ًر َاولَي‬
َ ‫لى ِر ْج ِل َك فَنَ ِف‬ َ ‫ع‬ َ ُ‫ض فَ َي ْبقَى اَث َ ُرهَا ِمثْ َل اْل َم ْج ِل َك َج ْم ِر دَ ْح َر ْجتَه‬ ُ َ‫يَنَا ُم النَّ ْو َمةَ فَت ُ ْقب‬
‫اس َيتَبَا َيعُ ْونَ فَالَ َي َكاد ُ أ َ َحد ٌ ي َُؤدِي اْْلَماَنَةَ فَيُقَا ُل إِ َّن فِ ْي َب ِن ْي فُالَ ٍن َر ُجالً أ َ ِم ْينًا‬ ُ َّ‫صبِ ُح الن‬
ْ ُ‫س ْي ٌء فَي‬ َ ‫فِ ْي ِه‬
‫ان َولَقَ ْد أَتَى‬ ْ ْ
ِ ‫لر ُج ِل ماَأ َ ْعقَلَهُ َوما َ ا َظ َرفَهُ َو َما ا َ ْجلَدَهُ َو َما ِف ْي قَل ِب ِه ِمثْقَا ُل َحبَّ ِة خ َْردَ ٍل ِم ْن اِ ْي َم‬ َّ ‫َويُقَّا ُل ِل‬
‫ي‬ َّ َ‫عل‬
َ ُ‫ص َرانِيًّا َردَّه‬ ْ َ‫ي اْ ِإل ْسالَ ُم َو ِإ ْن َكانَ ن‬ َّ َ‫عل‬ َ ُ‫ان َو َما أُبَا ِل ْي أَيَّ ُك ْم بَايَ ْعتُ لَئِ ْن َكانَ ُم ْس ِل ًما َردَّه‬ ٌ ‫ي زَ َم‬ َّ َ‫عل‬ َ
)‫اق‬ ْ َ‫الرق‬ِ ‫ب‬ ِ ‫ي فِ ْي ِكتَا‬ ُ
ُّ ‫ (ا َ ْخ َر َجهُ ْالبُخَا ِر‬.‫سا ِع ْي ِه فَأ َ َّما ْاليَ ْو َم فَ َما ُك ْنتُ أبَا يِ ُع ِإَلَّ فُالَنًا َوفُالَنًا‬ َ
Artinya: Dari Khudzaifah berkata, Rasulullah SAW menyampaikan kepadaku dua hadis, yang satu
telah saya ketahui dan yang satunya lagi masih saya tunggu. Beliau bersabda kepada kami bahwa
amanah itu diletakkan di lubuk hati manusia, lalu mereka mengetahuinya dari Al Qur’an kemudian
mereka ketahui dari al hadis (sunnah). Dan beliau juga menyampaikan kepada kami tentang akan
hilangnya amanah. Beliau bersabda: seseorang tidur lantas amanah dicabut dari hatinya hingga
tinggal bekasnya seperti bekas titik-titik. Kemudian ia tidur lagi, lalu amanah dicabut hingga tinggal
bekasnya seperti bekas yang terdapat di telapak tangan yang digunakan untuk bekerja, bagaikan bara
yang di letakkan di kakimu, lantas melepuh tetapi tidak berisi apa-apa. Kemudian mereka melakukan
jual beli/transaksi-transaksi tetapi hampir tidak ada orang yang menunaikan amanah maka orang-
orang pun berkata : sesungguhnya dikalangan Bani Fulan terdapat orang yang bisa dipercayai dan
adapula yang mengatakan kepada seseorang alangkah pandainya, alangkah cerdasnya, alangkah
tabahnya padahal pada hatinya tidak ada iman sedikitpun walaupun hanya sebiji sawi. Sungguh akan
datang padaku suatu zaman dan aku tidak memperdulikan lagi siapa diantara kamu yang aku baiat,
jika ia seorang muslim hendaklah dikembalikan kepada Islam yang sebenarnya dan juga ia seorang
nasrani maka dia akan dikembalikan kepadaku oleh orang-orang yang mengusahakannya. Adapun
pada hari ini aku tidak membaiat kecuali Fulan bin Fulan.(HR. Imam Bukhari)[1].

III. PEMBAHASAN

A. Pengertian Amanah

Amanah dalam bahasa arab berasal dari kata al Amaanah yang berarti segala yang diperintah
Allah SWT kepada hamba-hambanya[2]. Secara khusus amanah adalah sikap bertanggung jawab
orang yang dititipi barang, harta atau lainnya dengan mengembalikannya kepada orang yang
mempunyai barang atau harta tersebut.

Sedangkan secara umum amanah sangat luas sekali. Sehingga menyimpan rahasia, tulus
dalam memberikan masukan kepada orang yang meminta pendapat dan menyampaikan pesan
kepada pihak yang benar atau sesuai dengan permintaan orang yang berpesan juga termasuk
amanah. Maka sifat amanah baik secara umum maupun yang khusus sangat berhubungan erat
dengan sifat-sifat mulia lainnya seperti jujur, sabar, berani, menjaga kemuliaan diri, memenuhi janji
dan adil[3].

B. Hakikat Amanah

Hadis diatas menuturkan tentang diturunkannya dan diangkatnya amanah, salah satu dari
keduanya melihat bahwa sesungguhnya amanah itu kebalikan dari sifat khianat atau dengan kata lain
adalah suatu beban tanggung jawab. Amanah diturunkan dalam lubuk hati orang-orang, setelah itu
orang-orang mengetahui dari Al Qur’an kemudian dari Sunnah (Hadis) . Bahwasanya amanah itu
diberikan kepada orang-orang menurut fitrahnya, setelah itu dengan melalui usaha dari syariat.
Adapun secara lahir yang dimaksud dengan amanah adalah suatu tanggung jawab yang telah Allah
SWT bebankan kepada terhadap hamba-hambanya dan juga janji yang telah Allah SWT berikan kepada
hambanya, Pengarang kitab Tahrir mengatakan bahwa yang dikehendaki amanah di bab ini adalah
seperti yang terkandung dalam firman Allah SWT yang berbunyi:

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-
gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim
dan Amat bodoh. (QS. Al Ahzab/33: 72)
Bahwa tingkah laku atau kondisi manusia yang menyerupai ayat tadi yaitu suatu beban atau
tanggung jawab yang berupa ketaatan dengan tingkah laku yang ditawarkan. Apabila amanah itu
ditawarkan atau ditimpakan kepada langit, bumi dan gunung-gunung niscaya mereka enggan untuk
menanggungnya karena sangat agung dan beratnya sebuah amanah untuk menanggungnya. Akan
tetapi manusia dengan sifat lemah dan sedikit kemampuannya mau menanggung amanah tersebut.
Sesungguhnya manusia itu termasuk orang-orang yang mendzolimi dirinya dan amat bodoh
tingkahnya sekira dia mau mengemban beban suatu amanah.

Allah SWT menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunungnya maka Allah SWT berkata
kepada mereka, Apakah kalian mampu menanggung amanah dengan apa yang ada didalamnya? Allah
menjawab: Apabila kamu bisa mengemban dan menjaga baik amanah maka kalian akan memperoleh
balasan yang banyak. Dan ketika kalian mendurhakai suatu amanah maka kalian akan mendapat siksa
yang setimpal, lalu mereka menjawab: tidak ya Allah, tidak, kami tidak mengharapkan apapun dari
balasan ganjaran maupun siksa karena memuliakan dan takut kepada Agama Allah SWT[4].

Sejatinya kesanggupan untuk memikul tanggung jawab berat ini diatas pundak adalah tindakan
membahayakan diri sendiri. Karenanya manusia adalah makhluk yang mendzolimi dirinya sendiri dan
jahil, tidak tahu kemampuannya sendiri. Ini jika dibandingkan dengan besarnya penolakan nafsunya
untuk memikulnya. Namun demikian, jika dia bangkit dengan memikul tanggung jawab itu, saat dia
sampai kepada makrifah yang menyampaikannya kepada penciptaannya, ketika dia mengambil
petunjuk secara langsung dari syariat-Nya dan kala dia sangat patuh kepada kehendak Rabbnya,
petunjuk dan ketaatan yang dengan mudah dicapai oleh langit, bumi, dan gunung, makhluk-makhluk
yang bermakrifah dan taat kepada penciptaannya tanpa ada penghalang dari dirinya. Ketika manusia
telah sampai kepada derajat ini dan dia sadar,mengerti,beriradah, maka sungguh dia telah sampai di
kedudukan yang mulia, kedudukan istimewa diantara sekian makhluk Allah SWT[5].
C. Bentuk-Bentuk Amanah dalam kehidupan Sehari-hari

1. Memelihara titipan dan mengembalikannya seperti semula

Apabila seorang muslim dititipi oleh orang lain, misalnya barang berharga, karena yang
bersangkutan akan pergi jauh ke luar negeri maka titipan itu harus dipelihara dengan baik dan pada
saatnya dikembalikan kepada yang punya, utuh seperti semula. Diantara sebab-sebab kenapa Nabi
Muhammad SAW sejak mudanya di Mekah sudah terkenal dengan gelar al Amin adalah karena beliau
sangat dipercaya oleh penduduk Mekah untuk menyimpan dan memelihara barang titipan, kemudian
mengembalikannya seperti semula. Penduduk-penduduk Mekkah yang akan ke luar negeri merasa
aman dan tenang menitipkan barang-barang berharga kepada beliau.
2. Menjaga rahasia

Apabila seseorang dipercaya untuk menjaga rahasia, apakah rahasia pribadi, keluarga, organisasi,
atau lebih-lebih lagi rahasia negara dia wajib menjaganya supaya tidak bocor kepada orang lain yang
tidak berhak mengetahuinya. Apabila seseorang menyampaikan sesuatu yang penting dan rahasia
kepada kita itulah amanah yang harus dijaga.
3. Tidak menyalahgunakan jabatan

Jabatan adalah amanah yang wajib dijaga. Segala bentuk penyalahgunaan jabatan untuk
kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompoknya termasuk perbuatan tercela melanggar amanah.
Semua komisi yang diterima seorang petugas dalam rangka menjalankan tugasnya bukanlah menjadi
haknya. Misalnya seorang kepala bagian perlengkapan membeli barang-barang untuk keperluan
kantor, maka potongan harga yang diberikan pedagang bukanlah menjadi miliknya tetapi menjadi
milik kantor karena dia bukan pedagang perantara tetapi petugas yang digaji untuk pengadaan
barang-barang keperluan tersebut. Bentuk lain dari menyalahgunakan jabatan adalah mengangkat
orang-orang yang tidak mampu untuk menduduki jabatan tertentu hanya karena dia sanak saudara
atau kenalannya, padahal ada orang lain yang lebih mampu dan pantas menduduki jabatan tersebut.

4. Menunaikan kewajiban dengan baik

Allah SWT memikulkan ke atas pundak manusia tugas-tugas yang wajib dia laksanakan baik dalam
hubungannya dengan Allah SWT maupun dengan sesama makhluk lainnya. Tugas seperti itu
disebut takhlif manusia yang ditugasi disebut mukallaf dan amanahnya disebut
amanah takhlif. Amanah inilah yang secara metaforis digambarkan oleh Allah SWT tidak mampu
dipikul oleh langit, bumi dan gunung-gunung karena beratnya tetapi manusia bersedia memikulnya.

5. Memelihara Semua nikmat yang diberikan Allah SWT

Semua nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat manusia adalah amanah yang harus
dijaga dan dimanfaatkan dengan baik. Umur, kesehatan, harta benda, ilmu dan lain-lain sebagainya
termasuk anak-anak adalah amanah yang wajib dipelihara dan dipertanggungjawabkan. Harta benda
misalnya harus kita pergunakan untuk mencari keridhaan Allah SWT baik untuk memenuhi kebutuhan
sendiri keluarga maupun kepentingan umat[6].

6. Sikap Anak kepada orang tua

Diantara amanah yang lain adalah amanah anak-anak dalam bersikap di hadapan orang tuanya.
Jika anda mengambil uang milik orang tua tanpa seizin dari mereka berarti anda tidak menjaga
amanah seorang anak meskipun jumlah uang yang anda ambil sedikit jumlahnya. Ingatlah bahwa
amanah itu bersifat total tidak parsial. Namun yang disebut sebagai perbuatan amanah adalah anda
harus izin terlebih dahulu kepada orang tua Anda.

7. Amanah dalam menjaga agama


Jenis amanah yang terakhir dan merupakan amanah paling besar adalah amanah dalam menjaga
nilai-nilai agama dan menyiarkan kepada seluruh manusia. Sadarlah bahwa anda bertanggung jawab
atas agama ini dan anda akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT[7].
D. Khianat dan Cara Untuk Menjadi Pengemban Amanah

1). Hadis tentang Menyia-nyiakan Amanah

ُ‫ت اْْل َ َمانَة‬


ِ َ‫ضيِع‬ ُ ‫ إِذَا‬:‫سلَّ َم‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫س ْو ُل هللا‬ُ ‫ قَا َل َر‬:‫ي هللاُ َع ْنهُ قَا َل‬ ِ ‫ع ْن أَبِي ُه َر ي َْر ة َ َر‬
َ ‫ض‬ َ
َّ ‫لى َغي ِْر أ َ ْه ِل ِه فَا ْنت َ ِظ ِرال‬ ُ
‫سا‬ َ ِ‫ إِذَا أ ْسنِدَاْْل َ ْم ُر إ‬:‫س ْو َل هللاِ؟ قَا َل‬ َ َ‫عت ُ َها ي‬
ُ ‫ار‬ َ ‫ضا‬
َ ِ‫ْف إ‬َ ‫ َكي‬,َ‫عة‬ َ ‫سا‬ َّ ‫فَا ْنت َ ِظ ِرال‬
ِ ‫ِكتَا‬
‫ب‬ ‫فِ ْي‬ ‫ي‬
ُّ ‫ِر‬ ‫ْالبُخَا‬ ُ‫ (ا َ ْخ َر َجه‬.َ‫عة‬ َ
)‫اق‬ ْ َ‫الرق‬
ِ
Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: Apabila amanah disia-siakan
maka tunggulah saat kehancurannya. Salah seorang sahabat bertanya:”Bagaimanakah menyia-
nyiakannya, hai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab: “Apabila perkara itu diserahkan kepada
orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya (HR. Imam Bukhari)[8].

Nabi Muhammad SAW menyebutkan tentang salah satu pertanda akan datangnya hari kiamat
adalah bilamana amanah atau kepercayaan diserahkan bukan pada ahlinya. Manusia memiliki
keahlian yang berbeda-beda. Idealnya seorang manusia harus mengerjakan sesuatu sesuai dengan
kemampuannya. Kalau dia melakukan suatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan maka pekerjaan
tersebut akan berantakan. Kalau dia ahli pertanian janganlah disuruh memperbaiki mobil, untuk
sekedar bergaya montir dan membongkar mesin mungkin bisa, tetapi memperbaiki mesinnya tidak
akan bisa. Untuk itulah nabi melarang memberikan perkara kepada orang yang bukan ahlinya[9].

Sifat amanah memang lahir dari kekuatan iman. Semakin menipis keimanan seseorang semakin
pudar pula sifat amanah pada dirinya[10]. Berpadunya kekuatan dan amanah pada diri seorang
manusia sangat jarang terdapat. Maka bila ternyata ada dua orang laki-laki satu diantaranya lebih
besar amanah padanya dan yang satunya lebih besar kekuatan haruslah diutamakan mana yang lebih
bermanfaat bagi bidang jabatannya itu yang lebih sedikit resikonya.

Oleh karena itu didahulukanlah dalam jabatan pimpinan peperangan, orang yang kuat fisiknya lagi
berani sekalipun dia fasik daripada orang yang lemah dan tidak bersemangat sedangkan sekalipun dia
seorang yang kepercayaan sebagaimana pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang
dua orang laki-laki yang akan memimpin peperangan satu diantaranya kuat tetapi fasik, yang lain saleh
tetapi lemah, dibawah komando siapa dia akan berperang? Maka beliau menjawab: Adapun orang
fasik tetapi kuat, maka kekuatannya itu berguna bagi kaum Muslimin, sedang kefasikannya adalah atas
tanggungan dirinya sendiri dan orang saleh tetapi lemah maka kesalehannya berguna bagi diri sendiri
sedangkan kelemahannya menimbulkan hal yang tidak baik bagi kaum muslimin[11].

2). Khianat

Lawan dari amanah adalah khianat sebuah sifat yang sangat tercela. Sifat khianat adalah sifat
kaum munafik yang sangat dibenci oleh Allah SWT apalagi kalau yang dikhianatinya adalah Allah SWT
dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu Allah SWT melarang orang-orang yang beriman mengkhianati Allah
SWT, Rasul dan amanah mereka sendiri[12].

Firman Allah SWT dalam surat Al Anfal ayat 27 yang berbunyi:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan
kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al Anfal/8:27).

3). Cara untuk Menjadi Pengemban Amanah

1.Takwa kepada Allah SWT

Takwa sebagaimana didefinisikan oleh Ali bin Abi Thalib adalah takut kepada al Jalil (Yang Maha
Agung), beramal dengan At Tanzil (Al Qur’an), ridha terhadap yang sedikit, dan bersiap-siap untuk hari
akhir.

2.Tidak menaati orang-orang kafir dan orang-orang munafik

Allah SWT memerintahkan kita supaya hanya menaati perintah-perintah-Nya dan hanya
mengikuti Rasul-Nya.

3.Mengikuti apa yang diwahyukan dari Allah SWT

Bahwa ketaatan kepada manusia manapun di muka bumi ini terikat dengan dua
perkara: makruf dan istitha’ah. Sedangkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan yang
bersifat mutlak.

4.Bertawakal kepada Allah SWT

Bertawakal kepada Allah SWT adalah dengan cara mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-
sifat-Nya, beriman kepada takdir secara mantap, berusaha semampunya, menjaga hati dari
bergantung kepada selain Allah SWT[13].

[1] Syihabuddin Abil Abbas Ahmad bin Muhammad Asy Syafi’i al Qustholani, Irsyadus Syari Juz 13, (Beirut:
Darul Kutub al Ilmiyah, 1996) hlm. 494.

[2] Ahmad Warson Munawwir, Al Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif cetakan
ke 14, 1997) hlm.41.

[3] Abdul Mun’im al Hasyimi, Akhlak Rasul Menurut Bukhari dan Muslim, (Jakarta: Gema Insani, 2009) hlm.
266-267.

[4] Ibid hlm. 495-496.


[5] Abu ‘Amar Mahmud al Mishry, Manajemen Akhlak Salaf: Membentuk Akhlak Seorang Muslim dalam Hal
Amanah, Tawadhu’, dan Malu, (Solo: Pustaka Arafah, 2007) hlm. 87-88.

[6] Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, (Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam cetakan ke 9,
2007) hlm. 90-96.

[7] Amru Khalid, Berakhlak Seindah Rasulullah, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2007) hlm. 168-171.

[8] Syihabuddin Abil Abbas Ahmad bin Muhammad Asy Syafi’i al Qustholani… op.cit. hlm. 494.

[9] Buya H.M. Alfis Chaniago, Indeks Hadits dan Syarah, (Jakarta: Alfonso Pratama, 2008) hlm. 168.

[10] Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq… op.cit. hlm. 89.

[11] Ibnu Taimiyah, Pedoman Islam Bernegara, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989) hlm. 27-28.

[12] Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq… op.cit. hlm. 96.

[13] Abu ‘Amar Mahmud al Mishry… op.cit. hlm. 123-126.