Anda di halaman 1dari 17

Tugas Keuangan Negara dan Daerah

“Perencanaan dan Penyusunan APBN/APBD”

Kelompok 1

Siska Dili Lorenza 1410531020

Sesty Regiani L 1410531030

Vanessa Thoyibah F 1410531031

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi

Universitas Andalas

2017
Perencanaan dan Penyusunan APBN/APBD

PENDAHULUAN

1. KATA PENGANTAR

Tidak berbeda dengan sebuah rumah tangga, negara juga mempunyai berbagai pengeluaran
untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan rutin pemerintah dan pembangunan. Untuk membiayai
keperluan tersebut, negara memerlukan dana. Dana tersebut diperoleh dari berbagai sumber.
Dalam membahas anggaran negara pasti beruhubungan dengan APBN dan APBD.

Pada zaman Orde Baru (Orba), APBN dirancang dan dilaksanakan untuk satu tahun mulai 1
April - 31 Maret tahun berikutnya, misalnya mulai 1 April 1995 - 31 Maret 1996. Akan tetapi, sejak
tahun 2000 (Era Reformasi), APBN dirancang dan dilaksanakan untuk satu tahun mulai 1 Januari - 31
Desember tahun yang sama.

APBN disusun sebagai pedoman pendapatan dan belanja dalam melaksanakan kegiatan-
kegiatan negara. Dengan adanya APBN, pemerintah sudah mempunyai gambaran yang jelas
mengenai apa saja yang akan diterima sebagai pendapatan dan pengeluaran apa saja yang harus
dilakukan selama satu tahun. Dengan adanya APBN sebagai pedoman tersebut, diharapkan
kesalahan, pemborosan, dan penyelewengan yang merugikan dapat dihindari. Dan, apabila APBN
disusun dengan baik dan tepat, serta dilaksanakan sesuai aturan, maka akan mampu meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, dan kemakmuran bangsa.

APBD disusun sebagai pedoman pendapatan dan belanja dalam melaksanakan kegiatan
pemerintah daerah. Sehingga dengan adanya APBD, pemerintah daerah sudah memiliki gambaran
yang jelas tentang apa saja yang akan diterima sebagai pendapatan dan pengeluaran apa saja yang
harus dikeluarkan, selama satu tahun. Dengan adanya APBD sebagai pedoman, kesalahan,
pemborosan, dan penyelewengan yang merugikan dapat dihindari.

Oleh karena itu, melalui paper ini penulis mencoba membahas terkait APBN dan APBD
beserta perencanaan dan penyusunannya pada pembahasan di bawah ini.
PEMBAHASAN

Sub materi:

1. Overview APBN dan APBD


2. Tahapan perencanaan dan penyusunan dokumen APBD
3. Alur penyusunan APBD
4. Permendagri 31 Tahun 2016

1. Overview APBN dan APBD

APBN adalah singkatan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Sesuai dengan
kepanjangannya, APBN dapat diartikan sebagai suatu daftar yang memuat perincian sumber-sumber
pendapatan negara dan jenis-jenis pengeluaran negara dalam waktu satu tahun.

Pada zaman Orde Baru (Orba), APBN dirancang dan dilaksanakan untuk satu tahun mulai 1
April - 31 Maret tahun berikutnya, misalnya mulai 1 April 1995 - 31 Maret 1996. Akan tetapi, sejak
tahun 2000 (Era Reformasi), APBN dirancang dan dilaksanakan untuk satu tahun mulai 1 Januari - 31
Desember tahun yang sama.

APBN dirancang berdasarkan landasan hukum tertentu. Landasan hukum tersebut adalah
sebagai berikut.
1. UUD 1945 Pasal 23 (sesudah diamandemen) yang pada intinya berisi:
- APBN ditetapkan setiap tahun dengan Undang-Undang.
- Rancangan APBN dibahas di DPR dengan memerhatikan pendapat Dewan Perwakilan Daerah.
- Apabila DPR tidak menyetujui rancangan anggaran yang diusulkan pemerintah, maka
pemerintah memakai APBN tahun lalu.
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1994 tentang Pendapatan dan Belanja Negara.
3. Keppres Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN.

APBN disusun sebagai pedoman pendapatan dan belanja dalam melaksanakan kegiatan-
kegiatan negara. Dengan adanya APBN, pemerintah sudah mempunyai gambaran yang jelas
mengenai apa saja yang akan diterima sebagai pendapatan dan pengeluaran apa saja yang harus
dilakukan selama satu tahun. Dengan adanya APBN sebagai pedoman tersebut, diharapkan
kesalahan, pemborosan, dan penyelewengan yang merugikan dapat dihindari. Dan, apabila APBN
disusun dengan baik dan tepat, serta dilaksanakan sesuai aturan, maka akan mampu meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, dan kemakmuran bangsa.

Fungsi APBN meliputi:


1. Fungsi Alokasi
Dengan adanya APBN, pemerintah dapat mengalokasikan (membagikan) pendapatan yang
diterima sesuai dengan sasaran yang dituju. Misalnya, berapa besar untuk belanja (gaji)
pegawai, untuk belanja barang, dan berapa besar untuk proyek.
2. Fungsi Distribusi
Dengan adanya APBN, pemerintah dapat mendistribusikan pendapatan yang diterima secara
adil dan merata. Fungsi distribusi dilakukan untuk memperbaiki distribusi pendapatan di
masyarakat sehingga masyarakat miskin dapat dibantu. Caranya, antara lain dengan melakukan
kebijakan subsidi seperti subsidi BBM.
3. Fungsi Stabilisasi
Dengan adanya APBN, pemerintah dapat menstabilkan keadaan perekonomian untuk
mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, dalam keadaan inflasi (harga barang dan jasa
naik), pemerintah dapat menstabilkan perekonomian dengan cara menaikkan pajak. Dengan
menaikkan pajak, jumlah uang yang beredar dapat dikurangi sehingga harga-harga dapat
kembali turun.

APBD adalah singkatan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. APBD dapat diartikan
sebagai suatu daftar yang memuat perincian sumbersumber pendapatan daerah dan macam-macam
pengeluaran daerah dalam waktu satu tahun. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2003 mengartikan
APBD sebagai rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama
oleh pemerintah daerah dan DPRD dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda).

Adapun landasan hukum penyusunan APBD adalah:


1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2003 tentang Pemerintah Daerah pasal 25 yang berbunyi:
Kepala Daerah mempunyai tugas dan wewenang ..., menyusun dan mengajukan Rancangan
Perda tentang APBD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan bersama.
2. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2003 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat
dan Daerah pasal 4 yang berbunyi: Penyelenggaraan urusan Pemerintah Daerah dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi didanai APBD. APBD harus disusun Pemerintah Daerah setiap tahun,
yang dimaksud dengan Pemerintah Daerah adalah:
a. Gubernur dan perangkatnya yang memerintah daerah propinsi.
b. Walikota dan perangkatnya yang memerintah daerah kota (dulu disebut Kotamadya).
c. Bupati dan perangkatnya yang memerintah daerah kabupaten.
3. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan,
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah serta Tata Cara Pengawasan, Penyusunan, dan
Penghitungan APBD.

APBD disusun sebagai pedoman pendapatan dan belanja dalam melaksanakan kegiatan
pemerintah daerah. Sehingga dengan adanya APBD, pemerintah daerah sudah memiliki gambaran
yang jelas tentang apa saja yang akan diterima sebagai pendapatan dan pengeluaran apa saja yang
harus dikeluarkan, selama satu tahun. Dengan adanya APBD sebagai pedoman, kesalahan,
pemborosan, dan penyelewengan yang merugikan dapat dihindari.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2003, pasal 66, APBD memiliki fungsi sebagai
berikut:
1. Fungsi Otorisasi
Fungsi otorisasi berarti APBD menjadi dasar bagi Pemerintah Daerah untuk melaksanakan
pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan.
2. Fungsi Perencanaan
Fungsi perencanaan berarti APBD menjadi pedoman bagi pemerintah daerah untuk
merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
3. Fungsi Pengawasan
Fungsi pengawasan berarti APBD menjadi pedoman untuk menilai (mengawasi) apakah
kegiatan penyelenggaraan pemerintah daerah sudah sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan.
4. Fungsi Alokasi
Fungsi alokasi berarti APBD dalam pembagiannya harus diarahkan dengan tujuan untuk
mengurangi pengangguran, pemborosan sumber daya, serta meningkatkan efisiensi dan
efektivitas perekonomian.
5. Fungsi Distribusi
Fungsi distribusi berarti APBD dalam pendistribusiannya harus memerhatikan rasa keadilan dan
kepatutan.

2. Tahapan perencanaan dan penyusunan dokumen APBD

Tahap perencanaan pada Pemerintah Pusat dikoordinir oleh Bappenassedangkan tahap


penganggaran dipimpin oleh Kementerian Keuangan pada Pemerintah Pusat. Pada tahap ini diawali
dengan persiapan rancangan Undang-Undang APBN oleh pemerintah, yaitu pimpinan lembaga
selaku pengguna anggaran atau pengguna barang menyusun Rencana Kerja dan Anggaran
Kementerian Negara atau Lembaga (RKA-KL) tahun berikutnya. RKA-KL disusun berdasarkan prestasi
kerja yang akan dicapai, disertai dengan perkiraan belanja untuk tahun berikutnya setelah tahun
anggaran yang sedang disusun kemudian penentuan asumsi dasar APBN, perkiraan penerimaan dan
pengeluaran, skala prioritas dan penyusunan budget exercise oleh menteri atau pimpinan lembaga
selaku pengguna anggaran atau pengguna barang berdasarkan prestasi kerja yang akan
dicapainya. Pada tahapan ini juga diadakan rapat komisi antara masing-masing Komisi dengan mitra
kerjanya (departemen atau lembaga teknis).

Setelah persiapan RUU-APBN selesai dan adanya perkirakan terjadi defisit, maka ditetapkan
sumber-sumber pembiayaan untuk menutup defisit tersebut dalam UU-APBN dan apabila dalam hal
anggaran diperkirakan terjadinya surplus, pemerintah pusat dapat mengajukan rencana penggunaan
surplus anggaran kepada DPR. Pemerintah pusat menyampaikan pokok-pokok kebijakan fiskal dan
kerangka ekonomi makro tahun anggaran berikutnya kepada DPR selambat-lambatnya pertengahan
bulan Mei tahun berjalan, kemudian dilakukan pembahasan bersama antara Pemerintah Pusat
dengan DPR untuk membahas kebijakan umum dan prioritas anggaran untuk dijadikan acuan bagi
setiap kementerian negara atau lembaga dalam penyusunan anggaran.

Setelah Pemerintah Pusat mengajukan rancangan UU-APBN Nota Keuangan dan dokumen-
dokumen lengakap, terperinci dan pendukungnya kepada DPR biasanya penyampaian RUU APBN
dan nota keuangan dilakukan pada tanggal 16 bulan Agustus tahun sebelumnya. Maka DPR dapat
mengajukan usul yang mengakibatkan perubahan jumlah penerimaan dan pengeluaran dalam RUU-
APBN. Pembahasan RUU tentang APBN dilakukan sesuai dengan undang-undang yang mengatur
susunan dan kedudukan DPR. Pengambilan keputusan oleh DPR selambat-lambatnya 2 (dua) bulan
sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan. APBN yang disetujui oleh DPR terinci
sampai dengan unit organisasi, fungsi, program, kegiatan, dan jenis belanja dan apabiala danya
perubahan atau terdapat revisi yang berakibat perubahan harus mendapat persetujuan DPR.
Kemudian DPR akan menetapkan RUU-APBN yang telah di ajaukan oleh pemerintah pusat menjadi
UU-APBN yang siap akan di gunakan. Apabila DPR tidak menyutujui RUU-APBN, Pemerintah Pusat
dapat melakukan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBN tahun anggaran sebelumnya.
Dalam hal ini yang mempunyai kewenangan penuh untuk penentuan dan pengambil keputusan
APBN adalah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

 Perencanaan APBD

Perencanaan anggaran daerah secara keseluruhan mencakup penyusunan Kebijakan Umum


APBD sampai dengan disusunnya Rancangan APBD terdiri dari beberapa tahapan proses
perencanaan anggaran daerah (5).Berdasarkan Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 serta Undang-
Undang No. 32 dan 33 Tahun 2004, tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Pemerintah daerah menyampaikan kebijakan umum APBD tahun anggaran berikutnya sebagai
landasan penyusunan rancangan APBD paling lambat pada pertengahan bulan Juni tahun berjalan.
Kebijakan umum APBD tersebut berpedoman pada RKPD. Proses penyusunan RKPD tersebut
dilakukan antara lain dengan melaksanakan musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang)
yang selain diikuti oleh unsur-unsur pemerintahan juga mengikutsertakan dan/atau menyerap
aspirasi masyarakat terkait, antara lain asosiasi profesi, perguruan tinggi, lembaga swadaya
masyarakat (LSM), pemuka adat, pemuka agama, dan kalangan dunia usaha.
b. DPRD kemudian membahas kebijakan umum APBD yang disampaikan oleh pemerintah daerah
dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun anggaran berikutnya.
c. Berdasarkan Kebijakan Umum APBD yang telah disepakati dengan DPRD, pemerintah daerah
bersama DPRD membahas prioritas dan plafon anggaran sementara untuk dijadikan acuan bagi
setiap SKPD.
d. Kepala SKPD selaku pengguna anggaran menyusun RKA-SKPD tahun berikutnya dengan mengacu
pada prioritas dan plafon anggaran sementara yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah
bersama DPRD.
e. RKA-SKPD tersebut kemudian disampaikan kepada DPRD untuk dibahas dalam pembicaraan
pendahuluan RAPBD.
f. Hasil pembahasan RKA-SKPD disampaikan kepada pejabat pengelola keuangan daerah sebagai
bahan penyusunan rancangan perda tentang APBD tahun berikutnya.
g. Pemerintah daerah mengajukan rancangan perda tentang APBD disertai dengan penjelasan dan
dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD pada minggu pertama bulan Oktober tahun
sebelumnya.
h. Pengambilan keputusan oleh DPRD mengenai rancangan perda tentang APBD dilakukan selambat-
lambatnya satu bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan.
Berikut ini bagan Penyusunan Perencanaan Anggaran:

1. Rencana Kerja Pemerintahan Daerah

Penyusunan APBD berpedoman kepada Rencana Kerja Pemerintah Daerah. Karena itu
kegiatan pertama dalam penyusunan APBD adalah penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah
(RKPD). Pemerintah daerah menyusun RKPD yang merupakan penjabaran dari Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan menggunakan bahan dari Renja SKPD
untuk jangka waktu 1 (satu) tahun yang mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah Pusat.

RKPD tersebut memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan dan
kewajiban daerah, rencana kerja yang terukur dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung
oleh pemerintah, pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.
Secara khusus, kewajiban daerah mempertimbangkan prestasi capaian standar pelayanan minimal
yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. RKPD disusun untuk menjamin
keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan.

Penyusunan RKPD diselesaikan paling lambat akhir bulan Mei sebelum tahun anggaran
berkenaan. RKPD ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.

2. Kebijakan Umum APBD

Setelah Rencana Kerja Pemerintah Daerah ditetapkan, Pemerintah daerah perlu menyusun
Kebijakan Umum APBD (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang menjadi
acuan bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menyusun Rencana Kerja dan Anggaran
(RKA) SKPD.

Kepala daerah menyusun rancangan KUA berdasarkan RKPD dan pedoman penyusunan
APBD yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri setiap tahun. Pedoman penyusunan APBD yang
ditetapkan Menteri Dalam Negeri tersebut memuat antara lain:

a. pokok-pokok kebijakan yang memuat sinkronisasi kebijakan pemerintah dengan pemerintah


daerah;
b. prinsip dan kebijakan penyusunan APBD tahun anggaran berkenaan;
c. teknis penyusunan APBD; dan
d. hal-hal khusus lainnya.

Rancangan KUA memuat target pencapaian kinerja yang terukur dari program-program yang
akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk setiap urusan pemerintahan daerah yang disertai
dengan proyeksi pendapatan daerah, alokasi belanja daerah, sumber dan penggunaan pembiayaan
yang disertai dengan asumsi yang mendasarinya. Program-program diselaraskan dengan prioritas
pembangunan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Sedangkan asumsi yang mendasari adalah
pertimbangan atas perkembangan ekonomi makro dan perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal
yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.

Dalam menyusun rancangan KUA, kepala daerah dibantu oleh Tim Anggaran Pemerintah
Daerah (TAPD) yang dipimpin oleh sekretaris daerah. Rancangan KUA yang telah disusun,
disampaikan oleh sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah kepada kepala
daerah, paling lambat pada awal bulan Juni.

Rancangan KUA disampaikan kepala daerah kepada DPRD paling lambat pertengahan bulan
Juni tahun anggaran berjalan untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun
anggaranberikutnya. Pembahasan dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran DPRD. Rancangan
KUA yang telah dibahas selanjutnya disepakati menjadi KUA paling lambat minggu pertama bulan
Juli tahun anggaran berjalan.

3. Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara

Selanjutnya berdasarkan KUA yang telah disepakati, pemerintah daerah menyusun


rancangan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). Rancangan PPAS tersebut disusun
dengan tahapan sebagai berikut :
a. menentukan skala prioritas untuk urusan wajib dan urusan pilihan;
b. menentukan urutan program untuk masing-masing urusan; dan
c. menyusun plafon anggaran sementara untuk masing-masing program.

Kepala daerah menyampaikan rancangan PPAS yang telah disusun kepada DPRD untuk
dibahas paling lambat minggu kedua bulan Juli tahun anggaran berjalan. Pembahasan dilakukan oleh
TAPD bersama panitia anggaran DPRD. Rancangan PPAS yang telah dibahas selanjutnya disepakati
menjadi PPAS paling lambat akhir bulan Juli tahun anggaran berjalan.

KUA serta PPAS yang telah disepakati, masing-masing dituangkan ke dalam nota
kesepakatan yang ditandatangani bersama antara kepala daerah dengan pimpinan DPRD. Dalam hal
kepala daerah berhalangan, yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat yang diberi wewenang
untuk menandatangani nota kepakatan KUA dan PPAS. Dalam hal kepala daerah berhalangan tetap,
penandatanganan nota kepakatan KUA dan PPAS dilakukan oleh pejabat yang ditunjuk oleh pejabat
yang berwenang.

4. Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran SKPD

Berdasarkan nota kesepakatan yang berisi KUA dan PPAS, TAPD menyiapkan rancangan
surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA SKPD sebagai acuan kepala SKPD
dalam menyusun RKA-SKPD. Rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan
RKA-SKPD mencakup:

a. PPAS yang dialokasikan untuk setiap program SKPD berikut rencana pendapatan dan
pembiayaan;
b. sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD dengan kinerja SKPD berkenaan sesuai dengan
standar pelayanan minimal yang ditetapkan;
c. batas waktu penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD;
d. hal-hal lainnya yang perlu mendapatkan perhatian dari SKPD terkait dengan prinsip-prinsip
peningkatan efisiensi, efektifitas, tranparansi dan akuntabilitas penyusunan anggaran dalam rangka
pencapaian prestasi kerja; dan
e. dokumen sebagai lampiran meliputi KUA, PPA, kode rekening APBD, format RKASKPD, analisis
standar belanja dan standar satuan harga.

Surat edaran kepala daerah perihal pedoman penyusunan RKA¬SKPD diterbitkan paling
lambat awal bulan Agustus tahun anggaran berjalan. Berdasarkan pedoman penyusunan RKA-SKPD,
kepala SKPD menyusun RKA-SKPD.

RKA-SKPD disusun dengan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka


menengah daerah, penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja.
Pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah dilaksanakan dengan menyusun
prakiraan maju. Prakiraan maju tersebut berisi perkiraan kebutuhan anggaran untuk program dan
kegiatan yang direncanakan dalam tahun anggaran berikutnya dari tahun anggaran yang
direncanakan.
Pendekatan penganggaran terpadu dilakukan dengan memadukan seluruh proses
perencanaan dan penganggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan di lingkungan SKPD untuk
menghasilkan dokumen rencana kerja dan anggaran.

Pendekatan penganggaran berdasarkan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan


keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran yang diharapkan dari kegiatan dan hasil serta
manfaat yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran tersebut.

Untuk terlaksananya penyusunan RKA-SKPD berdasarkan pendekatan kerangka pengeluaran


jangka menengah daerah, penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja, dan
terciptanya kesinambungan RKA-SKPD, kepala SKPD mengevaluasi hasil pelaksanaan program dan
kegiatan 2 (dua) tahun anggaran sebelumnya sampai dengan semester pertama tahun anggaran
berjalan. Evaluasi tersebut bertujuan menilai program dan kegiatan yang belum dapat dilaksanakan
dan/atau belum diselesaikan tahun-tahun sebelumnya untuk dilaksanakan dan/atau diselesaikan
pada tahun yang direncanakan atau 1 (satu) tahun berikutnya dari tahun yang direncanakan. Dalam
hal suatu program dan kegiatan merupakan tahun terakhir untuk pencapaian prestasi kerja yang
ditetapkan, kebutuhan dananya harus dianggarkan pada tahun yang direncanakan.

Penyusunan RKA-SKPD berdasarkan prestasi kerja memperhatikan:

a. indikator kinerja. Indikator kinerja adalah ukuran keberhasilan yang akan dicapai dari program
dan kegiatan yang direncanakan.
b. capaian atau target kinerja. Capaian kinerja merupakan ukuran prestasi kerja yang akan dicapai
yang berwujud kualitas, kuantitas, efisiensi dan efektifitas pelaksanaan dari setiap program dan
kegiatan.
c. analisis standar belanja. Analisis standar belanja merupakan penilaian kewajaran atas beban
kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan.
d. standar satuan harga. Standar satuan harga merupakan harga satuan setiap unit barang/jasa
yang berlaku di suatu daerah yang ditetapkan dengan keputusan kepala daerah.
e. standar pelayanan minimal. Standar pelayanan minimal merupakan tolok ukur kinerja dalam
menentukan capaian jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah.

RKA-SKPD memuat rencana pendapatan, rencana belanja untuk masing-masing program dan
kegiatan, serta rencana pembiayaan untuk tahun yang direncanakan dirinci sampai dengan rincian
objek pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta prakiraan maju untuk tahun berikutnya. RKA-SKPD
juga memuat informasi tentang urusan pemerintahan daerah, organisasi, standar biaya, prestasi
kerja yang akan dicapai dari program dan kegiatan. RKA-SKPD yang telah disusun oleh SKPD
disampaikan kepada PPKD untuk dibahas lebih lanjut oleh TAPD.

5. Penyiapan Raperda APBD

Selanjutnya, berdasarkan RKA-SKPD yang telah disusun oleh SKPD dilakukan pembahasan
penyusunan Raperda oleh TAPD. Pembahasan oleh TAPD dilakukan untuk menelaah kesesuaian
antara RKA-SKPD dengan KUA, PPA, prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran
sebelumnya, dan dokumen perencanaan lainnya, serta capaian kinerja, indikator kinerja, kelompok
sasaran kegiatan, standar analisis belanja, standar satuan harga, standar pelayanan minimal, serta
sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD.
Dalam hal hasil pembahasan RKA-SKPD terdapat ketidaksesuaian, kepala SKPD melakukan
penyempurnaan. RKA-SKPD yang telah disempurnakan oleh kepala SKPD disampaikan kepada PPKD
sebagai bahan penyusunan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan
kepala daerah tentang penjabaran APBD.

Rancangan peraturan daerah tentang APBD dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari:

a. ringkasan APBD;
b. ringkasan APBD menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi;
c. rincian APBD menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, pendapatan, belanja dan
pembiayaan;
d. rekapitulasi belanja menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, program dan kegiatan;
e. rekapitulasi belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan daerah dan
fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan negara;
f. daftar jumlah pegawai per golongan dan per jabatan;
g. daftar piutang daerah;
h. daftar penyertaan modal (investasi) daerah;
i. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset tetap daerah;
j. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset lain-lain;
k. daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan dianggarkan
kembali dalam tahun anggaran ini;
l. daftar dana cadangan daerah; dan
m. daftar pinjaman daerah.

Bersamaan dengan penyusunan rancangan Perda APBD, disusun rancangan peraturan


kepala daerah tentang penjabaran APBD. Rancangan peraturan kepala daerah tersebut dilengkapi
dengan lampiran yang terdiri dari:

a. ringkasan penjabaran APBD;


b. penjabaran APBD menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, program, kegiatan,
kelompok, jenis, obyek, rincian obyek pendapatan, belanja dan pembiayaan.

Rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD wajib memuat penjelasan sebagai
berikut:

a. untuk pendapatan mencakup dasar hukum, target/volume yang direncanakan, tarif


pungutan/harga;
b. untuk belanja mencakup dasar hukum, satuan volume/tolok ukur, harga satuan, lokasi kegiatan
dan sumber pendanaan kegiatan;
c. untuk pembiayaan mencakup dasar hukum, sasaran, sumber penerimaan pembiayaan dan tujuan
pengeluaran pembiayaan.

Rancangan peraturan daerah tentang APBD yang telah disusun oleh PPKD disampaikan
kepada kepala daerah. Selanjutnya rancangan peraturan daerah tentang APBD sebelum disampaikan
kepada DPRD disosialisasikan kepada masyarakat. Sosialisasi rancangan peraturan daerah tentang
APBD tersebut bersifat memberikan informasi mengenai hak dan kewajiban pemerintah daerah
serta masyarakat dalam pelaksanaan APBD tahun anggaran yang direncanakan. Penyebarluasan
rancangan peraturan daerah tentang APBD dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah Selaku Koordinator
Pengelolaan Keuangan Daerah.

6. Penyampaian dan Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD

Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang APBD beserta


lampirannya kepada DPRD paling lambat pada minggu pertama bulan Oktober tahun anggaran
sebelumnya dari tahun yang direncanakan untuk mendapatkan persetujuan bersama. Pengambilan
keputusan bersama DPRD dan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD
dilakukan paling lama 1 (satu) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan.

Penyampaian rancangan peraturan daerah tersebut disertai dengan nota keuangan.


Penetapan agenda pembahasan rancangan peraturan daerah tentang APBD untuk mendapatkan
persetujuan bersama, disesuaikan dengan tata tertib DPRD masing-masing daerah. Pembahasan
rancangan peraturan daerah tersebut berpedoman pada KUA, serta PPA yang telah disepakati
bersama antara pemerintah daerah dan DPRD. Dalam hal DPRD memerlukan tambahan penjelasan
terkait dengan pembahasan program dan kegiatan tertentu, dapat meminta RKA-SKPD berkenaan
kepada kepala daerah.

Apabila DPRD sampai batas waktu 1 bulan sebelum tahun anggaran berkenaan, tidak
menetapkan persetujuan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah
tentang APBD, maka kepala daerah melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka
APBD tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan. Pengeluaran setinggi-
tingginya untuk keperluan setiap bulan tersebut, diprioritaskan untuk belanja yang bersifat mengikat
dan belanja yang bersifat wajib. Belanja yang bersifat mengikat merupakan belanja yang dibutuhkan
secara terus menerus dan harus dialokasikan oleh pemerintah daerah dengan jumlah yang cukup
untuk keperluan setiap bulan dalam tahun anggaran yang bersangkutan, seperti belanja pegawai,
belanja barang dan jasa. Sedangkan Belanja yang bersifat wajib adalah belanja untuk terjaminnya
kelangsungan pemenuhan pendanaan pelayanan dasar masyarakat antara lain pendidikan dan
kesehatan dan/atau melaksanakan kewajiban kepada fihak ketiga.

Atas dasar persetujuan bersama, kepala daerah menyiapkan rancangan peraturan kepala
daerah tentang penjabaran APBD. Rancangan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran APBD
tersebut dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari :

a. ringkasan APBD;
b. ringkasan APBD menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi;
c. rincian APBD menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, program, kegiatan, kelompok,
jenis, obyek, rincian obyek pendapatan, belanja dan pembiayaan;
d. rekapitulasi belanja menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, program dan kegiatan;
e. rekapitulasi belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan daerah dan
fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan negara;
f. daftar jumlah pegawai per golongan dan per jabatan;
g. daftar piutang daerah;
h. daftar penyertaan modal (investasi) daerah;
i. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset tetap daerah;
j. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset lain-lain;
k. daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan dianggarkan
kembali dalam tahun anggaran ini;
l. daftar dana cadangan daerah; dan
m. daftar pinjaman daerah.

Dalam hal kepala daerah dan/atau pimpinan DPRD berhalangan tetap, maka pejabat yang
ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang selaku penjabat/pelaksana tugas kepala
daerah dan/atau selaku pimpinan sementara DPRD yang menandatangani persetujuan bersama.

Rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD dapat dilaksanakan setelah memperoleh
pengesahan dari gubernur bagi kabupaten/kota. Sedangkan pengesahan rancangan peraturan
kepala daerah tentang APBD ditetapkan dengan keputusan gubernur bagi kabupaten/kota.

Penyampaian rancangan peraturan kepala daerah untuk memperoleh pengesahan paling


lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak DPRD tidak menetapkan keputusan bersama dengan
kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD.

Apabila dalam batas waktu 30 (tiga puluh) hari kerja gubernur tidak mengesahkan rancangan
peraturan kepala daerah tentang APBD, kepala daerah menetapkan rancangan peraturan kepala
daerah dimaksud menjadi peraturan kepala daerah.

Khusus untuk pengeluaran, diatur bahwa pelampauan batas tertinggi dari jumlah
pengeluaran, hanya diperkenankan apabila ada kebijakan pemerintah untuk kenaikan gaji
dan tunjangan pegawai negeri sipil serta penyediaan dana pendamping atas program dan kegiatan
yang ditetapkan oleh pemerintah serta bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah yang ditetapkan
dalam undang-undang.

7. Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah
tentang Penjabaran APBD

Rancangan peraturan daerah Kabupaten/Kota tentang APBD yang telah disetujui bersama
DPRD dan rancangan peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh
Bupati paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan terlebih dahulu kepada Gubernur untuk dievaluasi.

Penyampaian rancangan disertai dengan:

a. persetujuan bersama antara pemerintah daerah dan DPRD terhadap rancangan peraturan daerah
tentang APBD;
b. KUA dan PPA yang disepakati antara kepala daerah dan pimpinan DPRD;
c. risalah sidang jalannya pembahasan terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD; dan
d. nota keuangan dan pidato kepala daerah perihal penyampaian pengantar nota keuangan pada
sidang DPRD.

Evaluasi bertujuan untuk tercapainya keserasian antara kebijakan daerah dan kebijakan
nasional, keserasian antara kepentingan publik dan kepentingan aparatur serta untuk meneliti
sejauh mana APBD Kabupaten/Kota tidak bertentangan dengan kepentingan umum, peraturan yang
lebih tinggi dan/atau peraturan daerah lainnya yang ditetapkan oleh Kabupaten/Kota bersangkutan.
Untuk efektivitas pelaksanaan evaluasi, Gubernur dapat mengundang pejabat pemerintah daerah
Kabupaten/Kota yang terkait.

Hasil evaluasi dituangkan dalam keputusan Gubernur dan disampaikan kepada


Bupati/Walikota paling lama 15 (lima betas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan
dimaksud. Apabila Gubernur menyatakan hasil evaluasi atas rancangan peraturan daerah tentang
APBD dan rancangan peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan
kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, Bupati/Walikota
menetapkan rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah dan peraturan Bupati/Walikota.

Dalam hal Gubernur menyatakan bahwa hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang
APBD dan rancangan peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD bertentangan dengan
kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, Bupati/Walikota bersama
DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil
evaluasi. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota dan DPRD, dan
Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan
peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan
Bupati/Walikota, Gubernur membatalkan peraturan daerah dan peraturan Bupati/Walikota
dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya.

Pembatalan peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota dan pernyataan berlakunya


pagu APBD tahun sebelumnya ditetapkan dengan peraturan gubernur. Paling lama 7 (tujuh) hari
kerja setelah pembatalan, kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan peraturan daerah dan
selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut peraturan daerah dimaksud. Pencabutan
peraturan daerah tersebut dilakukan dengan peraturan daerah tentang pencabutan peraturan
daerah tentang APBD.

Pelaksanaan pengeluaran atas pagu APBD tahun sebelumnya, ditetapkan dengan peraturan
kepala daerah. Penyempurnaan hasil evaluasi dilakukan oleh kepala daerah bersama dengan Badan
anggaran DPRD. Hasil penyempurnaan ditetapkan oleh pimpinan DPRD. Keputusan pimpinan DPRD
dijadikan dasar penetapan peraturan daerah tentang APBD.

Keputusan pimpinan DPRD bersifat final dan dilaporkan pada sidang paripurna berikutnya.
Sidang paripurna berikutnya yakni setelah sidang paripurna pengambilan keputusan bersama
terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD.

Keputusan pimpinan DPRD disampaikan kepada kepada gubernur bagi APBD


kabupaten/kota paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah keputusan tersebut ditetapkan. Dalam hal
pimpinan DPRD berhalangan tetap, maka pejabat yang ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang
berwenang selaku pimpinan sementara DPRD yang menandatangani keputusan pimpinan DPRD.

Gubernur menyampaikan hasil evaluasi yang dilakukan atas rancangan peraturan daerah
kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD
kepada Menteri Dalam Negeri.

8. Penetapan Peraturan Daerah tentang APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran
APBD
Rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang
penjabaran APBD yang telah dievaluasi ditetapkan oleh kepala daerah menjadi peraturan daerah
tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. Penetapan rancangan
peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD tersebut
dilakukan paling lambat tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya.

Dalam hal kepala daerah berhalangan tetap, maka pejabat yang ditunjuk dan ditetapkan
oleh pejabat yang berwenang selaku penjabat/pelaksana tugas kepala daerah yang menetapkan
peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD.

Kepala daerah menyampaikan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah
tentang penjabaran APBD kepada gubernur bagi kabupaten/kota paling lama 7 (tujuh) hari kerja
setelah ditetapkan.

9. Perubahan APBD

Penyesuaian APBD dengan perkembangan dan/atau perubahan keadaan, dibahas bersama DPRD
dengan pemerintah daerah dalam rangka penyusunan prakiraan perubahan atas APBD tahun
anggaran yang bersangkutan, apabila terjadi:

a. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA;


b. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar
kegiatan, dan antar jenis belanja;
c. keadaan yang menyebabkan saldo anggaran Iebih tahun sebelumnya harus digunakan dalam
tahun berjalan;
d. keadaan darurat; dan
e. keadaan luar biasa.

Dalam keadaan darurat, pemerintah daerah dapat melakukan pengeluaran yang belum
tersedia anggarannya, yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan APBD, dan/atau
disampaikan dalam laporan realisasi anggaran. Keadaan darurat tersebut sekurang-kurangnya
memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. bukan merupakan kegiatan normal dari aktivitas pemerintah daerah dan tidak dapat diprediksikan
sebelumnya;
b. tidak diharapkan terjadi secara berulang;
c. berada di luar kendali dan pengaruh pemerintah daerah; dan
d. memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam rangka pemulihan yang disebabkan
oleh keadaan darurat.

Perubahan APBD hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun anggaran, kecuali
dalam keadaan luar biasa. Keadaan luar biasa tersebut adalah keadaan yang menyebabkan estimasi
penerimaan dan/atau pengeluaran dalam APBD mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar
dari 50% (lima puluh persen).

Pelaksanaan pengeluaran atas pendanaan keadaan darurat dan/atau keadaan luar biasa ditetapkan
dengan peraturan kepala daerah. Realisasi pengeluaran atas pendanaan keadaan darurat dan/atau
keadaan luar biasa tersebut dicantumkan dalam rancangan peraturan daerah tentang
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.

Pemerintah daerah mengajukan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD


tahun anggaran yang bersangkutan untuk mendapatkan persetujuan DPRD sebelum tahun anggaran
yang bersangkutan berakhir. Persetujuan DPRD terhadap rancangan peraturan daerah tersebut
selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya tahun anggaran.

Proses evaluasi dan penetapan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan
rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD menjadi peraturan daerah
dan peraturan kepala daerah berlaku ketentuan seperti halnya evaluasi dan penetapan rancangan
APBD. Apabila hasil evaluasi tersebut tidak ditindaklanjuti oleh kepala daerah dan DPRD, dan kepala
daerah tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan
peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD, peraturan daerah dan peraturan
kepala daerah dimaksud dibatalkan dan sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun berjalan
termasuk untuk pendanaan keadaan darurat.

Pembatalan peraturan daerah tentang perubahan APBD kabupaten/kota dan peraturan


bupati/walikota tentang penjabaran perubahan APBD dilakukan oleh Gubernur. Paling lama 7 (tujuh)
hari setelah keputusan tentang pembatalan, Kepala daerah wajib memberhentikan pelaksanaan
peraturan daerah tentang perubahan APBD dan selanjutnya kepala daerah bersama DPRD mencabut
peraturan daerah dimaksud. Pencabutan peraturan daerah tersebut dilakukan dengan peraturan
daerah tentang pencabutan peraturan daerah tentang perubahan APBD.

3. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 31 Tahun 2016 Tentang Pedoman Penyusunan
APBD TA 2017

Pada tanggal 07 Juni 2016, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Tjahjo Kumolo, telah
menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2016 Tentang
Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2017.

Sebagaimana permendagri pedoman APBD sebelumnya, Permendagri ini mengatur beberapa pokok,
meliputi:
a. Sinkronisasi kebijakan pemerintah daerah dengan kebijakan Pemerintah;
b. Prinsip Penyusunan APBD;
c. Kebijakan Penyusunan APBD;
d. Teknis Penyusunan APBD; dan
e. Hal-hal Khusus Lainnya.
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Pentingnya perumusan APBN dan APBD bagi suatu negara menyebabkan munculnya
gagasan untuk mempelajari bagaimana tata cara perumusan dan pengelolaan keuangan negara
tersebut. Dengan adanya makalah mengenai APBN dan APBD ini diharapkan pembaca dapat
mengetahui proses dan tata cara perumusan APBN dan APBD mulai dari tahap perumusan dan
pengajuan sampai tahap pengesahannya. Demikianlah makalah ini dibuat, semoga dapat menambah
pemahaman pembaca dan penulis dalam perumusan sampai pada tahap pelaksanaan APBN dan
APBD.
DAFTAR PUSTAKA

Nordiawan, Deddi, dkk.2012.Akuntansi Pemerintahan. Jakarta:Salemba Empat


www.wikipedia.com
http://www.zonasiswa.com/2014/12/apbn-apbd-pengertian-tujuan-fungsi.html