Anda di halaman 1dari 12

Tugas Keuangan Negara dan Daerah

“Privatisasi”

Kelompok 1
Siska Dili Lorenza 1410531020
Sesty Regiani L 1410531030
Vanessa Thoyibah F 1410531031

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi


Universitas Andalas
2017
PENDAHULUAN

Privatisasi sering diasosiasikan dengan perusahaan berorientasi jasa atau industri,


seperti pertambangan, manufaktur atau energi, meski dapat pula diterapkan pada aset apa
saja, seperti tanah, jalan, atau bahkan air.

Secara teori, privatisasi membantu terbentuknya pasar bebas, mengembangnya


kompetisi kapitalis, yang oleh para pendukungnya dianggap akan memberikan harga yang
lebih kompetitif kepada publik. Sebaliknya, para sosialis menganggap privatisasi sebagai hal
yang negatif, karena memberikan layanan penting untuk publik kepada sektor privat akan
menghilangkan kontrol publik dan mengakibatkan kualitas layanan yang buruk, akibat
penghematan-penghematan yang dilakukan oleh perusahaan dalam mendapatkan profit.
PEMBAHASAN

1. Definisi Privatisasi

Privatisasi menurut para ahli ialah:

1. Peacock (1930-an)

Privatisasi, pada umumnya diartikan sebagai pemindahan kepemilikan industri dari


pemerintah ke sektor swasta yang berimplikasi bahwa dominasi kepemilikan saham akan
berpindah ke pemegang swasta: “...Privatisasi mencakup perubahan “dari dalam ke luar”, di
mana terdapat kontrak dan jasa pemerintahan”.

2. Beesley dan Littlechild (1980-an)

Secara umum, “Privatisasi” diartikan sebagai “pembentukan perusahaan”. Sedangkan,


menurut Company Art, privatisasi diartikan sebagai penjualan yang berkelanjutan sekurang-
kurangnya sebesar 50 % dari saham milik pemerintah ke pemegang saham swasta. Jadi ide
privatisasi merupakan konsep pengembangan industri dengan meningkatkan peranan
kekuatan pasar.

3. Dunleavy (1980-an)

Privatisasi diartikan sebagai pemindahan permanen aktivitas produksi barang danjasa


yang dilakukan oleh perusahaan negara ke perusahaan swasta atau dalam bentuk organisasi
nonpublik, seperti lembaga swadaya masyarakat.

4. Pirie (1980-an)

Ide privatisasi melibatkan pemindahan produksi barang dan jasa sektor publik ke
sektor swasta. Pemindahan ini mengakibatkan perubahan manajemen perusahaan sektor
publik ke mekanisme swasta. Privatisasi lebih merupakan metode, bukan semata-mata
kebijakan final. Sebuah metode regulasi yang memiliki kecenderungan untuk mengatur
aktivitas ekonomi sesuai mekanisme pasar.

Istilah privatisasi sering diartikan sebagai pemindahan kepemilikan industri dari


pemerintah ke sektor swasta yang berimplikasi kepada dominasi kepemilikan saham akan
berpindah ke pemegang saham swasta. Privatisasi adalah suatu terminologi yang mencakup
perubahan hubungan antara pemerintah dengan sektor swasta, dimana perubahan yang paling
signifikan adalah adanya disnasionalisasi penjualan kepemilikan publik.

Dari berbagai definisi di atas, dapat diperoleh pengertian bahwa privatisasi adalah
pengalihan aset yang sebelumnya dikuasai oleh negara menjadi milik swasta. Pengertian ini
sesuai dengan yang termaktub dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang
BUMN, yaitu penjualan saham persero, baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain
dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara
dan masyarakat, serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat.

2. Metode Privarisasi

Ada beberapa metode yang digunakan oleh suatu negara untuk memprivatisasi
BUMN, diantaranya :

1. Penawaran saham BUMN kepada umum (public offering of shares). Penawaran ini dapat
dilakukan secara parsial maupun secara penuh. Di dalam transaksi ini, pemerintah
menjual sebagian atau seluruh saham kepemilikannya atas BUMN yang diasumsikan
akan tetap beroperasi dan menjadi perusahaan publik. Seandainya pemerintah hanya
menjual sebagian sahamnya, maka status BUMN itu berubah menjadi perusahaan
patungan pemerintah dan swasta. Pendekatan semacam ini dilakukan oleh pemerintah
agar mereka masih dapat mengawasi keadaan manajemen BUMN patungan tersebut
sebelum kelak diserahkan sepenuhnya kepada swasta.

2. Penjualan saham BUMN kepada pihak swasta tertentu (private sale of share). Di dalam
transaksi ini, pemerintah menjual seluruh ataupun sebagian saham kepemilikannya di
BUMN kepada pembeli tunggal yang telah diidentifikasikan atau kepada pembeli dalam
bentuk kelompok tertentu. Privatisasi dapat dilakukan penuh atau secara sebagian dengan
kepemilikan campuran. Transaksinya dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti
akuisisi langsung oleh perusahaan lain atau ditawarkan kepada kelompok tertentu. Cara
ini juga sering disebut sebagai penjualan strategis (strategic sale) dan pembelinya disebut
invenstor strategis.

3. Penjualan aktiva BUMN kepada swasta (sale of government organization state-owned


enterprise assets). Pada metode ini, pada dasarnya transaksi adalah penjualan aktiva,
bukan penjualan perusahaan dalam keadaan tetap beroperasi. Biasanya jika tujuannya
adalah untuk memisahkan aktiva untuk kegiatan tertentu, penjualan aktiva secara terpisah
hanya alat untuk penjualan perusahaan secara keseluruhan.

4. Penambahan investasi baru dari sektor swasta ke dalam BUMN (new private investment
in an state-owned enterprise assets). Pada metode ini, pemerintah dapat menambah modal
pada BUMN untuk keperluan rehabilitasi atau ekspansi dengan memberikan kesempatan
kepada sektor swasta untuk menambah modal. Dalam metode ini, pemerintah sama sekali
tidak melepas kepemilikannya, tetapi dengan tambahan modal swasta, maka kepemilikan
pemerintah mengalami dilusi (pengikisan). Dengan demikian, BUMN itu berubah
menjadi perusahaan patungan swasta dengan pemerintah. Apabila pemilik saham
mayoritasnya adalah swasta, maka BUMN itu telah berubah statusnya menjadi milik
swasta.

5. Pembelian BUMN oleh manajemen atau karyawan (management/employee buy


out). Metode ini dilakukan dengan memberikan hak kepada manajemen atau karyawan
perusahaan untuk mengambil alih kekuasaan atau pengendalian perusahaan. Keadaan ini
biasanya terkait dengan perusahaan yang semestinya dapat efektif dikelola oleh sebuah
manjemen, namun karena campur tangan pemerintah membuat kinerja tidak optimal.

Dari beberapa cara tersebut, UU Nomor 19 Tahun 2003 Tentang BUMN di dalam
pasal 78 hanya membolehkan tiga cara dalam privatisasi yakni :

a. Penjualan saham berdasarkan ketentuan pasar modal.

b. Penjualan saham langsung kepada investor.

c. Penjualan saham kepada manajemen dan/atau karyawan yang bersangkutan.


3. Tujuan Privatisasi

Dari segi keuangan:

privatisasi ditujukan untuk meningkatkan penghasilan pemerintah terutama berkaitan


dengan tingkat perpajakan dan pengeluaran publik; mendorong keuangan swasta untuk
ditempatkan dalam investasi publik dalam skema infrastruktur utama; menghapus jasa-jasa
dari kontrol keuangan sektor publik.

Dari segi pembenahan internal manajemen (jasa dan organisasi) :

1. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas;

2. Mengurangi peran negara dalam pembuatan keputusan;

3. Mendorong penetapan harga komersial, organisasi yang berorientasi pada keuntungan


dan perilaku bisnis yang menguntungkan;

4. Meningkatkan pilihan bagi konsumen.

Dari segi ekonomi :


1. Memperluas kekuatan pasar dan meningkatkan persaingan;

2. Mengurangi ukuran sektor publik dan membuka pasar baru untuk modal swasta.

Dari segi politik :

1. Mengendalikan kekuatan asosiasi/perkumpulan bidang usaha bisnis tertentu dan


memperbaiki pasar tenaga kerja agar lebih fleksibel;

2. Mendorong kepemilikan saham untuk individu dan karyawan serta memperluas


kepemilikan kekayaan;

3. Memperoleh dukungan politik dengan memenuhi permintaan industri dan menciptakan


kesempatan lebih banyak akumulasi modal spekulasi;

4. Meningkatkan kemandirian dan individualisme.

Adapun tujuan pelaksanaan privatisasi sebagaimana tercantum dalam Pasal 74


Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang BUMN adalah meningkatkan kinerja dan
nilai tambah perusahaan serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemilikan saham
Persero. Penerbitan peraturan perundangan tentang BUMN dimaksudkan untuk memperjelas
landasan hukum dan menjadi pedoman bagi berbagai pemangku kepentingan yang terkait
serta sekaligus merupakan upaya untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas BUMN.
Privatisasi bukan semata-mata kebijakan final, namun merupakan suatu metode regulasi
untuk mengatur aktivitas ekonomi sesuai mekanisme pasar. Kebijakan privatisasi dianggap
dapat membantu pemerintah dalam menopang penerimaan negara dan menutupi defisit
APBN sekaligus menjadikan BUMN lebih efisien dan profitable dengan melibatkan pihak
swasta di dalam pengelolaannya sehingga membuka pintu bagi persaingan yang sehat dalam
perekonomian.

4. Dampak Privatisasi terhadap Fiskal

Terkait dampak privatisasi terhadap fiskal, maka berdasarkan pembahasan


sebelumnya dapat kita cermati bahwa privatisasi membantu pemerintah memperoleh dana
pembangunan. Dengan melakukan privatisasi, perusahaan diharapkan akan memberikan
kontribusi yang lebih besar terhadap negara, baik dalam bentuk pajak dan dividen maupun
kontribusi lanansung terhadap APBN. Keterlibatan swasta dalam pembangunan infrastruktur
telekomunikasi memiliki kontribusi positif terhadap peningkatan pelayanan kepada publik.
Dengan melibatkan pihak swasta, dana pembangunan menjadi lebih besar sehingga dapat
mewujudkan perekonomian Indonesia yang lebih demokratis.

5. Privatisasi di Luar Negeri

Dua sudut berbeda yang dirasa cukup bertentangan muncul pada tahun 1989-an yaitu
di Inggris dan di A.S. Di Inggris sendiri bisnis merupkan bagian dari pemrintah tetapi di A.S.
berasumsi bahwa bisnis merupakan milik masayarakat sehingga pemerintah hanya sebagai
penyedia fasilitas.

Di tahun 90-an privatisasi mulai dikenal sebagai elemen fundamental perekonomian


konservatif global, dimana di seluruh negara, dari negara maju sampai ke negara sedang
berkembang mengembangkan kebijakan ini. Namun demikian, alasan penerapan kebijakan
privatisasi di setiap negara berbeda-beda. Misalnya, Inggris menerapkan privatisasi bagi
perusahaan milik negara agar hak-hak konsumen (baca: masyarakat) lebih terlindungi, setelah
selama ini hak mereka terbatas karena adanya monopoli oleh negara. Di Jepang privatisasi
perusahaan negara ditujukan untuk mengembangkan industri dalam negeri. Sedangkan alasan
privatisasi di negara sedang berkembang biasanya sangatlah sederhana, yakni untuk menutup
kekosongan kas negara atau mengurangi defisit anggaran belanja negara. Privatisasi di
Indonesia penyebab utama lemahnya kinerja BUMN adalah intervensi dari elit kekuasaan,
politik, dan birokrat yang membuat tata kelola BUMN tidak sesuai dengan tata kelola
korporasi yang semestinya, jadi bukan kepemilikan negara yang menjadi masalah, tapi justru
pengelolanya.

Privatisasi dapat diasumsikan dalam berbagai bentuk, akan tetapi terdapat tiga macam
yan paling umum, yaitu pertama, the sale of an existing state-owned enterprise. Bentuk ini
banyak terdapat di Eropa, di Negara-negara berkembang dan bentuk perencanaan di Negara-
negara Eropa Timur dan bekas Uni Soviet. Di Eropa Barat, privatisasi dilakukan terhadap
perusahaan Negara skala besar, seperti utilitas publik, transportasi dan industry berat. Di
Eropa Timur dan bekas Uni Soviet, privatisasi dilakukan terhadap perusahaan milik Negara
dari skala kecil sampai skala besar. Di antara Negara berkembang, juga ditemukan
perusahaan kecil dan besar milik Negara yang diprivatisasi. Kedua, use of private financing
and management rather than public for new insfrastructure development. Bentuk privatisasi ,
di mana kondisi perusahaan swasta di suatu Negara lebih baik dari perusahaan sector publik
tradisional dalam pengembangan infrastruktur. Situasi ini menjadikan privatisasi cepat
menjadi popular, setidak-tidaknya dalam experimental sense, hampir di setiap tempat. Ketiga,
outsourcing (contracting out to private vendor) yaitu bentuk privatisasi di mana terjadi
pelepasan fungsi sector publik konvensional seluruhnya dikontrakkan ke vendor swasta.

Privatisasi bukanlah hal baru dalam kebijakan publik. Perdana Menteri Inggris,
Margaret Thatcher, mengawali kebijakan privatisasi sektor publik pada 1979, yang dapat
dilihat sebagai respons atas pergeseran paradigma pengelolaan sektor publik sejak Drucker
meramalkan “kebangkrutan pemerintahan birokratis”.

Kebijakan privatisasi yang secara sederhana berarti pengurangan keterlibatan


pemerintah (sektor publik) dalam produksi atau penyediaan barang dan jasa semakin
berkembang dalam konsep small government drive yang diperkenalkan oleh Presiden Ronald
Reagan di Amerika Serikat pada periode 1981-1989. Privatisasi di Amerika Serikat juga
tercermin dalam kebijakan Presiden Bill Clinton dengan gagasan reinventing government
pada 1993, yang sebagaimana dijelaskan wakilnya, Al Gore, menekankan pada penciptaan
pemerintahan yang lebih baik dengan biaya murah.

 Privatisasi di Inggris

Pada tahun 1980-an perusahaan negara sangat dominan di Inggris. Memiliki lingkup
usaha yang bersifat monopolistik meliputi: listrik, distribusi gas, penyaluran air, transportasi
kreta api, perusahaan manufaktur bidang perkapalan, baja, komputer, chip silicon,
pengeboran lepas pantai, dsb.

Program divestasi di Inggris membawa momentum pada awal 1980, realisasi pada
tahun 1981 divestasi British Aerospace, divestasi British Telecom. Melalui privatisasi British
Telecom pemerintah Inggris menepis mitos bahwa ukuran perusahaan dan kekuatan
monopoli tidak menjadi halangan dalam privatisasi.

 Privatisasi di Malaysia

Pada kasus di Malaysia privatisasi juga terjadi namun secara garis besarnya penjualan
saham negara dibeli sendiri oleh masyarakat Malaysia. Tidak ada perubahan struktur maupun
struktur pasar yang monopoli, bisa dikatakan pemerintah dapat mengendalikan perusahaan
negara yang diprivatisasi secara tidak langsung.

 Privatisasi di Chili

Chili pada tahun 1973 memiliki perusahaan negara yang menyumbang GDP sebesar
39 % kemudian menjadi penurunan sehingga pada tahun 1989 menjadi 16%. Privatisasi
menjadikan perubahan ekonomi di Chili dan menjadikan negara paling terbuka di Amerika
Latin, tetapi peran regulasi dari pemerintah menjadi lebih kuat.
Privatisasi di Mexico

Program privatisasi di Mexico mengalami sukses besar. Prestasi yang diperoleh


pemerintah yaitu lebih dari 900 perusahaan publik telah mengalami privatisasi antara tahun
1982-1991. Program tersebut telah menghasilkan pendapatan yang substansial bagi
pemerintah mexico dengan adanya pemenuhan stabilitas ekonomi. Contohnya adalah
penerimaan pemerintah pada penjualan perusahaan negara berkisar antara US $ 14 billion.
Pasar modal Mexico mengalami booming dan dihubungkan dengan liberalisasi peraturan
kepemilikan saham untuk pihak asing telah mendorong masuknya modal.
PENUTUP

1. Kesimpulan

Privatisasi merupakan perubahan kepemilikan perusahaan Negara menjadi milik


swasta. Kebijakan privatisasi memberikan ruang lebih luas bagi swasta untuk mengelola
badan usaha milik Negara melalui mekanisme strategic sales (penjualan langsung) dan go
public (penjualan saham di Bursa Efek Indonesia/BEI). Kebijakan ekonomi politik Indonesia
dalam hubungannya dengan privatisasi, khususnya privatisasi Telkomsel dan Indosat masih
belum memihak kepada kepentingan dan kebutuhan publik. Hal ini disebabkan karena masih
lemahnya hukum dan perundangan yang berhubungan dengan kebijakan privatisasi yang
dilakukan pemerintah. Selain mendapat persetujuan Pemerintah dan DPR RI, kebijakan
privatisasi seharusnyanya melibatkan seluruh stackholders yang berhubungan dengan
perusahaan yang akan diprivatisasi. Privatisasi hendaknya melibatkan beberapa perusahaan
atau investor dan tidak ada perusahaan atau investor pembeli yang memiliki hak mayoritas
atas saham perusahaan yang diprivatisasi.
DAFTAR ISI

Bastian, Indra. 2002.Privatisasi di Indonesia: Teori dan Implementasi. Jakarta: Salemba


Empat.

https://id.wikipedia.org/wiki/Privatisasi